Anda di halaman 1dari 88

PENDIDIKAN KELUARGA SAKINAH

MENURUT SYAIKH NAWAWI DALAM KITAB


UQUDULLIJAIN
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat
Guna Memperoleh Gelar SarjanaPendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh
Sutoyo
NIM 111 08 002
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
SALATIGA
2013

KEMENTERIAN AGAMA RI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
Jl. Stadion 03 telp. (0298) 323706, 323433 Salatiga 50721
Website: www.Stainsalatiga.ac.idE-mail:administrasi@stainsalatiga.ac.id

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Setelahdikoreksidandiperbaiki, makaskripsisaudara:
Nama

: Sutoyo

Nim

: 111 08 002

Jurusan

: Tarbiyah

Program Studi

: Pendidikan Agama Islam

Judul

:Pendidikan Keluarga SakinahMenurut Syaikh


Nawawi Dalam Kitab Uqudullijain

Telah kami setujuiuntukdimunaqosahkan.

Salatiga, 15 April 2013


Pembimbing

AchmadMaimun, M. Ag.
NIP. 19700510199803 1 003

KEMENTERIAN AGAMA RI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
Jl. Stadion 03 telp. (0298) 323706, 323433 Salatiga 50721
Website: www.Stainsalatiga.ac.idE-mail:administrasi@stainsalatiga.ac.id

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN


Saya yang bertandatangan di bawahini:
Nama

: Sutoyo

NIM

: 111 08 002

Jurusan

: Tarbiyah

Program Studi

: PendidikanAgamaIslam

Menyatakandengansebenarnyabahwaskripsi

yang

sayatulis,

benar-

benarmerupakanhasilkaryasendiri,
bukanmerupakanpengambialihantulisanataukarya
sayaakuisebagaihasiltulisanataukaryasendiri,
terdapatdalamreferensi

yang

orang

lain

kecualiinformasi

dijadikanbahanrujukan.Apabila

yang
yang
di

kemudianhariterbuktiskripsiinihasiljiplakan,
makasayabersediamempertanggungjawabkankemabalikeaslianskripsiini
hadapan siding munaqosahskripsi.
Salatiga, 15 April 2013
Yang membuatpernyataan

Sutoyo
NIM: 111 08 002

di

MOTTO

Teman-temanakrabpadahariitusebagiannyamenjadimusuhbagisebagian yang
lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS Az-Zukhruf: 67).

PERSEMBAHAN

Dengan penuh rasa syukur dan terimakasih, skripsi ini penulis persembahkan
kepada:
1. Kepada ibu tercinta (ibu Siti Kalijah), yang selalu mendukung baik moril
maupun materi dengan penuh kasih sayangnya.
2. Kepada para masayikh dan guru-guru pembimbing spiritual (abah) yang
selalu mendoaakan sepanjang waktu khususnya ustadz Sabiqun. Berkat
barokah doa beliau menjadikan penulis mampu menghadapi semua
tantangan dan rintangan hidup.
3. Kepada keluarga yang tercinta kakak dan adik (mas Sulistiyo, mas
Sunariyo, mbak Tatik, adik Giarto), yang selalu memberikan motivasi.
4. Kepada semua teman seperjuangan (khusus PAI A 2008) yang
memberikan pahit manis pelajaran kehidupan.
5. Kepada seseorang yang mengisi kehidupanku, yang insya Allah kelak juga
menjadi pendamping dalam kehidupanku.

KATA PENGANTAR

Pujisyukursenantiasapenulispanjatkanpada

Allah

SWT,

yang

tanpalelahnyamelimpahkanrahmatkasihsayangya.Sehinggapenulisdapatmenyelesa
ikanpenulisanini.SholawatsertasalampenulishaturkankepadajunjunganNabiAgung
Muhammad SAW, yang telahberjuang agar umatnyamendapatkemuliaan di
duniadanakhirat.Dalampenulisaninibanyakpihak

yang

penulislibatkan,

olehkarenaitupenulismengucapkanbanyak-banyakterimakasih, khususnyakepada:
1. Bapak

Dr.

Imam

Sutomo,

M.Ag.selakuketua

STAIN

yang

telahmenyetujuipenelitianskripsiini.
2. BapakDr. RahmatHariyadi, M.Pd. selakuketuajurusanTarbiyah yang
telahmemberikankemudahanbagipenulisdalamperijinanpenelitian.
3. IbuDra. SitiAsdiqoh, M.Si, selakuketua program studiPendidikan Agama
Islam
4. BapakAchmadMaimun,

M.Ag.selakudosenpembimbing

yang

telahmemberikanbimbingandanpengarahandenganpenuhkeikhlasandansab
armencurahkanpikirandantenaganya,
sertapengorbananwaktunyadalammembimbingpenyelesaianpenulisanskrip
siini.
5. UstadzSabiqun yang telahmembantubaiksecaramorilmaupunmateri.
6. Semuapihakyangtidakdapatpenulissebutkansatupersatu,

yang

telahmembantubaiksecaramorilmaupunmateri, gunaselesainyaskripsiini

Semogaamalbaikmerekadicatatoleh
sertamendapatkanbalasan

Allah

yang

SWT
berlipatganda

,Amin.Penulismenyadaridanmengakuibahwapenulisanskripsiinimasihjauh
dariharapan, semuaitudikarenakankefaqiranpenulis, keterbatasanwaktu,
biayadantenaga.OlehKarenaitukritikdan

saran

yang

sifatnyamembangunsangatpenulisharapkandalammemperbaikiskripsiini.D
anakhirnyapenulisberharapsemogaskripsiinidapatbermanfaatbagipenuliskh
ususnyadanumumnyabagisemuapihak yangmembutuhkannya.

Salatiga, 15 April 2013

Penulis

ABSTRAK
Sutoyo. 2013. Pendidikan Keluarga Sakinah Menurut Syaikh Nawawi Dalam
Kitab Uqudullijain. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga.
Pembimbing: Achmad Maimun, M.Ag.
Kata Kunci:Pendidikan Keluarga Sakinah.
Latar belakang penelitian ini mengajak model pendidikan keluarga
Rasulullah. Subjek penelitian ini adalah kitab Uqudullijain. Rumusan masalah
yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui pendidikan
keluarga sakinah dalam kitab Uqudullijain, (2) Untuk mengetahui konteks sosial
penulisan kitab Uqudullijain, (3) Untuk mengetahui relevansinya pemikiran.
Syaikh Nawawi dalam konteks pendidikan keluarga sakinah di Indonesia. Dari
penelitian ini diharapkan akan mendapat berbagai manfaat yaitu:(1) Manfaat
teoritis, yaitu didapatnya suatu konsep pendidikan berkeluarga menurut tradisi
Rasulullah SAW., (2) Manfaat praktis, yaitu memberikan manfaat pada suami istri
agar dapat menciptakan keharmonisan dalam berumah tangga yang sesuai ajaran
Rasulullah SAW. Jenis penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada relevansi pemikiran
Syaikh Nawawi dalam kitab Uqudullijain dalam pendidikan keluarga sakinah di
Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode analisis data. Subjek penelitian
kitab Uqudullijain karangan Syaikh Nawawi.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pendidikan keluarga sakinah dalam
kitab Uqudullijain karangan Syaikh Nawawi berpengaruh besar dalam
membentuk keluarga sakinah, sebagaimana kehidupan keluarga pada zaman
Rasulullah SAW.

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL .........................................................................

PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................................

ii

SUSUNAN PANITIA PENGUJI ........................................................

iii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ...........................................

iv

MOTTO ................................................................................................

PERSEMBAHAN ................................................................................

vi

KATA PENGANTAR ..........................................................................

vii

ABSTRAK ............................................................................................

ix

DAFTAR ISI .........................................................................................

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................

xv

BAB I. PENDAHULUAN ....................................................................

A. Latar Belakang Masalah........................................................

B. Rumusan Masalah .................................................................

C. Tujuan Penelitian ..................................................................

D. Kegunaan Penelitian .............................................................

E. Metode Penelitian .................................................................

F. Penegasan Istilah ...................................................................

G. Sistematika Penulisan ...........................................................

BAB II. BIOGRAFI PENGARANG ...................................................

10

A. Riwayat Hidup ......................................................................

10

B. Riwayat Pendidikan ..............................................................

13

C. Silsilah...................................................................................

15

D. Karya-Karya ..........................................................................

18

BAB III. DESKRIPSI PEMIKIRAN SYAIKH MUHAMMAD


NAWAWI .............................................................................

20

A. Sekilas Tentang Kitab Uqudullijain.....................................

20

B. Hak-hak Istri Atas Suami ......................................................

22

C. Hak Suami Atas Istri .............................................................

38

D. Keutamaan Shalat Wanita di Rumahnya ..............................

54

E. Larangan Melihat Lawan Jenis .............................................

59

BAB IV. PEMBAHASAN ....................................................................

64

A. Tinjauan Pendidikan Islam ...................................................

64

B. Konteks sosial syaikh nawawi ketika menulis kitab


Udullijain .............................................................................

65

C. Analisis konsep pendidikan keluarga sakinah menurut


Syaikh Nawawi dalam kitab Uqudullijain ...........................
D. Relevansi

pendapat

Syaikh

Nawawi

dalam

66

kitab

Uqudullijain dengan realitas keluarga muslim sekarang di


Indonesia ..............................................................................

77

BAB V. PENUTUP................................................................................

78

A. Kesimpulan ...........................................................................

78

B. Saran ....................................................................................

79

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1.1 Daftar Riwayat Hidup ......................................................................
1.2 Nilai SKK ........................................................................................
1.3 Lembar Konsultasi Skripsi ...............................................................
1.4 Nota Pembimbing.............................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Rumah tangga merupakan markas atau pusat pergaulan dan susunan
kehidupan yang mengekalkan keturunan. Rumah tangga adalah alam
pergaulan manusia yang sudah diperkecil. Di dalam rumah tangga lahir dan
tumbuh apa yang disebut dengan kekuasaan, agama, pendidikan, hukum, dan
perusahaan. Keluarga adalah jamaah yang bulat, teratur, dan sempurna
(Leter, 1985:2).
Keluarga merupakan pondasi awal dari bangunan masyarakat dan
bangsa. Keselamatan dan kemurnian rumah tangga adalah faktor penentu
bagi keselamatan dan kemurnian masyarakat. Rumah tangga juga sebagai
penentu kekuatan, kekokohan, dan keselamatan dari bangunan negara. Jadi,
apabila bangunan sebuah rumah tangga hancur maka sebagai konsekuensinya
masyarakat serta negara dapat diperkirakan akan hancur juga.
Dalam keluarga banyak terjadi permasalah-permasalahn yang muncul.
Hal ini apabila tidak segera teratasi maka akan terjadi percerain. Kasus
perceraian pada tahun 2013 di Indonesia cukup tinggi. Tingginya kasus
perceraian dibuktikan dengan banyak kasus perceraian yang terjadi tahun
2012, yakni sebanyak 285.184 kasus. Data yang dirilis Dirjen Bimas Islam
Kementerian Agama RI, tahun 2013, jumlah penduduk Indonesia yang

menikah sebanyak 2 juta orang, sementara 285.284 perkara perceraian.

Maka, dalam keluarga seharusnya dibutuhkan adanya seorang


pemimpin yang tegas. Pemimpin yang dapat mendidik, mengarahkan, dan
mencukupi baik kebutuhan dhohiriyah dan bathiniyah. Sudah barang tentu,
keluarga akan menjadi sakinah, mawaddah wa rahmah. Di dalam al-Quran,
yang menjadi pemimpin keluarga adalah suami.
Seperti yang tertuang dalam QS.An-Nisa: 34:

Artinya: kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena
Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang
lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian
dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada
Allah lagi memelihara diri, ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah
telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan
nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat
tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu,
maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.
Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Keluarga adalah amanah ilahi yang harus dipelihara dan dibina dengan
baik sebagai tiang kehidupan masyarakat dan bangsa dalam menyiapkan

generasi penerus, karena itu agama Islam menitik beratkan pada mutu
kualitas suatu keluarga, sehingga akan terbentuk rumah tangga yang utuh,
kuat, berbadan sehat, dan berfikir jernih, mampu menghadapi tantangan
kehidupan (Leter, 1985:45).
Untuk itu sebagai umat Islam hendaknya kembali tradisi Rasulullah
SAW dalam membina rumah tangga, seperti yang tertuang dalam kitab
Uqudullijain yaitu karangan Syekh Muhammad Nawawi. Di dalam kitab
tersebut termuat tata cara berkeluarga yang baik sesuai ajaran Rasulullah
SAW.
Dalam penelitian ini penulis ingin menunjukkan bagaimanakah etika
yang baik dalam kehidupan berkeluarga sesuai kitab Uqudullijain. Penulis
berharap penelitian ini bisa menjadi acuan dalam membina rumah tangga
yang sakinah, mawwadah wa rahmah sesuai ajaran Rasulullah. Penulis
berharap semoga kehidupan rumah tangga muslim bisa berjalan sesuai
norma-norma agama. Jadi, untuk tujuan ini penulis tertarik memberi judul
penelitian ini PENDIDIKAN KELUARGA SAKINAH MENURUT
SYAIKH NAWAWI DALAM KITAB UQUDUL LIJAIN.

B. Rumusan Masalah
1.

Bagaimana pendidikan keluarga sakinah


Uqudullijain?

yang ada dalam kitab

2.

Bagaimana konteks sosial Syaikh Nawawi ketika menulis kitab


Uqudullijain?

3.

Sejauhmana relevansi pemikiran Syaikh Nawawi dalam konteks


pendidikan keluarga sakinah di Indonesia?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk

mengetahui

pendidikan

keluarga

sakinah

dalam

kitab

Uqudullijain.
2. Untuk mengetahui konteks sosial Syaikh Nawawi ketika menulis kitab
Uqudullijain.
3. Untuk mengetahui relevansinya pemikiran Syaikh Nawawi dalam
konteks pendidikan keluarga sakinah di Indonesia.
D. Kegunaan Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan akan mendapat berbagai manfaat yaitu:
1. Manfaat teoritis, maka akan didapat suatu konsep pendidikan berkeluarga
menurut tradisi Rasulullah SAW.
2. Manfaat praktis, dapat memberikan manfaat pada suami istri agar dapat
menciptakan keharmonisan dalam berumah tangga yang sesuai ajaran
Rasulullah SAW.
E. Metode Penelitian

Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai


berikut:
1. Jenis dan sifat penelitian
Melalui riset perpustakaan untuk mengkaji sumber-sumber tertulis
yang telah dipublikasikan atau belum (Arikunta, 1980:10).
Adapun sumber data dalam penelitian ini dapat digolongkan menjadi
dua, yaitu:
a. Sumber Data Primer
Yaitu sumber data yang langsung berkaitan dengan objek riset.
Dalam penelitian ini

sumber primernya adalah kitab Uqudullijain

(Dhahara, 1980:60).
b. Sumber Data Sekunder
Yaitu sumber data yang mengandung dan melengkapi sumber
data primer. Adapun sumber data sekunder dalam penelitian ini
adalah buku-buku atau karya-karya lain yang isinya dapat melengkapi
data penelitian yang penulis teliti, seperti diantaranya terjemahan
Uqudullijain.
2. Metode analisis data
Yaitu cara penanganan tertentu dengan cara memilah-milah
pengertian yang satu dengan yang lain. Dengan menggunakan metode ini

tidaklah dimaksudkan untuk pengertian yang baru, akan tetapi hanya ingin
mendapatkan kejelasan atau penjelasan suatu pengertian tertentu dari
penelaahan obyek penelitian.
Untuk lebih memahami penelitian ini, maka penulis memilih metode
analisis sebagai berikut:
a. Interpretasi
Isi buku diselami untuk dapat setepat mungkin menangkap arti dan
nuansa uraian yang disajikan (Soemargono, 1983:21).
Karena dalam penelitian ini objeknya adalah kitab Uqudullijain,
maka penulis akan menyelami isi kitab tersebut sebagai obyek
penelitian.
Disamping itu juga penulis pilih sumber-sumber lain yamg penulis
anggap representif terhadap penelitian ini.

b. Metode induksi
Yaitu metode yang berangkat dari fakta-fakta khusus, peristiwaperistiwa konkret, kemudian dari fakta-fakta dan peristiwa yang
konkret tersebut ditarik dalam generalisasi yang bersifat umum (Hadi,
1990: 26).

F. Penegasan Istilah
Istilah banyak menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda, maka
penulis perlu menjelaskan beberapa istilah yang dipakai dalam penelitian ini.
Hal ini penulis maksudkan untuk menghindari terjadinya kesalah pahaman
dalam penafsiran terhadap istilah istilah-istilah yang perlu dijelaskan sebagai
berikut:
1.

Pendidikan
Pendidikan adalah bimbingan dan pimpinan secara sadar oleh si
pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si pendidik untuk
menuju terbentuknya kepribadian yang utama (Marimba, 1960: 19).

2.

Keluarga
Keluarga adalah sanak saudara, kaum kerabat. Dapat pula berarti
sekumpulan orang yang hidup dalam tempat tinggal bersama masingmasing anggota merasakan ada pertalian batin, sehingga saling
mempengaruhi, menyerahkan diri, melengkapi, dan menyempurnakan
(KBBI, 1989: 234).

3.

Kitab Uqudullijain
Yaitu kitab tentang etika rumah tangga karya Syekh Muhammad
Nawawi. Adapun isi kitab meliputi hak-hak istri atas suami, hak suami

istri, keutamaan wanita shalat di rumahnya, dan larangan melihat lawan


jenis.
G. Sistematika Penulisan Skripsi
1. Bagian awal ini memuat bagian awal skripsi yang memuat halaman judul,
notasi Dinas, halaman pengesahan, halaman pernyataan keaslian tulisan,
halaman motto, halaman persembahan, halaman pengantar, halaman
abstrak, dan daftar isi.
2. Bagian utama
Pada bagian ini terdiri dari lima bab, yaitu:
Bab I Pendahuluan berisi tentang uraian latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, metode
penelitian, pegasan istilah, dan sistematika pembahasan.
Bab II

Bab ini meliputi: riwayat hidup, riwayat pendidikan,

sisilah, dan karya-karya Syekh Muhammad Nawawi.


Bab III adalah isi pokok pemikiran Syaikh Nawawi dalam kitab
Uqudullijain, meliputi:
1.

Sekilas gambaran tentang kitab Uqullijain.

2.

Pemikiran Syekh Muhammad Nawawi dalam kitab Uqudullijain,


meliputi:
a.

Hak-hak istri atas suami

b.

Hak-hak suami terhadap istri

c.

Keutamaan shalat wanita di rumahnya

d.

Larangan melihat lawan jenis

Bab IV adalah relevansi pendidikan berrumah tangga menurut


Syekh Nawawi dalam kitab Uqudullijain dengan pendidikan keluarga
sakinah Islam di Indonesia, meliputi:
1.

Tinjauan pendidikan Islam.

2.

Relevansi pendapat Syekh Nawawi dalam kitab Uqudullijain


dengan realitas keluarga muslim sekarang di Indonesia.
Bab V merupakan penutup atau bagian akhir penulisan yang

mencakup kesimpulan dan saran-saran.


3. Bagian akhir skripsi ini berisi tentang daftar pustaka, lampiran-lampiran,
dan daftar riwayat hidup penulis.

BAB II
BIOGRAFI PENGARANG
1. Riwayat Hidup Syaikh Muhammad Nawawi

Syaikh Muhammad Nawawi, lahir di Banten, pada tahun 1230


H/1813 M. Nama aslinya adalah Muhammad Nawawi bin Umar Arabi. Ia
disebut juga Nawawi Al-Bantani. Di kalangan keluarganya, Syaikh
Nawawi Al-Jawi dikenal dengan sebutan Abdul Muti. Ayahnya bernama
K.H. Umar bin Arabi, seorang ulama dan pengulu di Tanara Banten.
Ibunya bernama Jubaidah, penduduk asli Tanara. Dari silsilah keturunan
ayahnya, Syaikh Nawawi merupakan salah satu keturunan Maulana
Hasannudin (Sulthan Hasanuddin), putera Maulana Syarif Hidayatullah
(Depag, 1992:422).
Syaikh Nawawi merupakan salah seorang ulama besar di kalangan
umat islam internasional. Ia dikenal melalui karya-karya tulisnya yang
sangat banyak. Beberapa julukan kehormatan dari Arab Saudi, Mesir, dan
Suriah diberikan kepadanya, seperti Sayyid Ulama Al-Hijaz, Mufti, dan
Fakih. Dalam kehidupan sehari-hari ia tampil dengan sangat sederhana.
Sejak kecil Syaikh Nawawi telah mendapat pendidikan agama dari
orang tuanya. Mata pelajaran yang diterimanya antara lain bahasa arab,
fikih, dan ilmu tafsir. Selain itu ia belajar pada Kyai Yusuf di Purwakarta.
Pada usia 15 tahun ia pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah dan
bermukim di sana selama 3 bulan. Di Makkah ia belajar pada beberapa
orang Syaikh yang bertempat tinggal di Masjidil Haram, seperti Syaikh
Ahmad Nawawi, Syaikh Ahmad Dimyati, dan Syaikh Ahmad Zaini
Dahlan. Ia juga pernah belajar di Madinah di bawah bimbingan Syaikh
Muhammad Khatib Al- Hanbali.
Sekitar tahun 1248 H/1831 M, ia kembali ke Indonesia. Di tempat
kelahiranya ia membina pesantren peninggalan orang tuanya. Karena
situasi politik yang tidak menguntungkan, ia kembali ke Makkah setelah
3 tahun berada di Tanara dan meneruskan belajarnya di sana. Sejak
keberangkatanya yang kedua kalinya, Syaikh Nawawi tidak pernah
kembali di Indonesia.Ia menetap disana hingga akhir hayatnya. Ia
meninggal pada tanggal 25 Syawal 1314 H atau tahun 1897 M. Ia wafat
dalam usianya yang ke-84 tahun di tempat kediamanya yang terakhir
yaitu kampung Syiib Ali Makkah (Depag, 1992:423).

Jenazahnya di kuburkan di pekuburan Mala, Makkah, berdekatan


dengan kuburan Ibnu Hajar Siti Asma binti Abu Bakar Shiddiq. Ia wafat
pada saat sedang menyusun sebuah tulisan yang menguraikan Minhaj
Ath-Thalibin-nya Aman Yahya bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin
Jamaah bin Hujam An-Nawawi (Hasan, 1987:39).
Menurut catatan sejarah di Makkah, ia berupaya mendalami ilmuilmu agama dari para gurunya, seperti Syaikh Muhammad Khatib bin
Sambas, Syaikh Abdul Ghani Bima, Syaikh Yusuf Sumulaweni dan
Syaikh Abdul Hamid Dagastani. Dengan bekal pengetahuan agama yang
telah ditekuninya selama lebih kurang 30 tahun, Syaikh Nawawi setiap
hari mengajar di Masjidil Haram.Murid- muridnya berasal dari berbagai
penjuru dunia. Ada yang berasal dari Negara Indonesia, seperti K.H.
Kholil (Bangkalan, Madura), K.H. Asyari (Jombang, Jawa Timur). Ada
pula yang dari Negara Malaysia, seperti K.H. Dawud (Perak).
Ia mengajarkan pengetahuan agama secara mendalam kepada
murid-muridnya, yang meliputi hampir seluruh bidang. Di samping
membina pengajian, melalui murid-muridnya, Syaikh Nawawi memantau
perkembangan politik di Tanah Air dan menyumbangkan ide-ide dan
pemikiranya untuk kemajuan masyarakat Indonesia.
Di Makkah ia aktif membina suatu perkumpulan yang disebut
Koloni Jawa, yang menghimpun masyarakat Indonesia yang berada di
sana. Aktivitas koloni jawa ini mendapat perhatian dan pengawasan
khusus dari pemerintahan Kolonial Belanda. Syaikh Nawawi memiliki
beberapa pandangan dan pendirian yang khas. Diantaranya, dalam
mengahadapi Kolonial Belanda, ia tidak agresif atau reaksioner.
Ia juga sangat anti bekerjasama dengan pihak kolonial dalam
bentuk apapun. Ia lebih suka mengarahkan perhatiannya pada pendidikan,
membekali murid-murid dengan jiwa keagamaan dan semangat untuk
menegakkan kebenaran. Adapun terhadap orang kafir yang tidak
menjajah, ia membolehkan umat islam berhubungan dengan mereka
untuk tujuan kebaikan dunia. Ia memandang semua manusia adalah
saudara, sekalipun dengan orang kafir. Ia juga menganggap bahwa
pembaharuan dalam pemahaman agama perlu dilakukan untuk terus
menggali hakikat kebenaran.
Dalam mengahadapi tantangan zaman, ia memandang umat islam
perlu mengusai berbagai bidang keterampilan atau keahlian. Ia
memahami perbedaan umat adalah rahmat dalam konteks keragaman

kemampuan dan persaingan untuk kemajuan umat islam. Dalam bidang


syariat, mendasarkan pandanganya pada al- quraan, hadits, ijma, dan
qiyas. Ini sesuai dengan dasar-dasar syariat yang dipakai oleh Imam
Syafii. Mengenai ijtihad dan taqlid, ia berpendapat bahwa yang
termasuk mujtahid (ahli ijtihad) mutlak adalah Imam Syafii, Imam
Hanafi, Imam Malik, Dan Imam Hambali. Bagi mereka haram taklid,
sedang orang-orang selain mereka, baik mujtahid Fi-Al-Mazhab,
mujtahid Al-Mufti, maupun orang-orang awam/masyarakat biasa, wajib
taklid kepada salah satu mazhab dari mujtahid mutlak (Aziz, 1994:23).
2. Riwayat Pendidikan Syaikh Muhammad Nawawi
Syaikh Nawawi hidup di kalangan ulama. Pada masa kanak-kanak,
ia belajar agama bersama saudara-saudaranya dari ayahnya sendiri. Ilmuilmu yang dipelajari meliputi pengetahuan tentang bahasa , fikih, dan
tafsir. Dari pengetahuan dasar itu, mendorong ia untuk meneruskan
pelajarannya ke beberapa pesantren di pulau Jawa. Pendidikan
Syaikh
Nawawi sebenarnya dilatar belakangi oleh minat dan semangat dari Imam
Syafii yaitu imam besar yang wafat pada tahun 204 H. Ia mempunyai
makalah yang tertulis sebagaimana pertanyaan di bawah ini untuk
mencari ilmu tinggalkanlah negerimu, berkelanalah, engkau pasti akan
menemukan pengganti orang-orang yang kamu cintai, bersusah payahlah
karena sesungguhnya ketinggian derajat dan kehidupan biasa dicapai
dengan kesusah payahan (Hasan., 1987:40).
Pemikiran di atas nampaknya memacu Syaikh Nawawi untuk
selalu mengembara meninggalkan tanah airnya. Dalam mendalami
berbagai ilmu pengetahuan, terutama ilmu agama islam, Syaikh Nawawi
menjadi terkenal di Indonesia. Bukan hanya itu saja, ia juga pandai
menerangkan kata-kata bahasa arab yang artinya tidak jelas dan sulit.
Sebagaimana yang tertulis dalam syair keagamaan.

Karyanya ternyata banyak yang beredar di Negara Arab. Namun


sebagian besar faham ia perpijak pada mazhab Syafiiyah. Di Kairo

misalnya, ia terkenal pada tafsiranya, sehingga ia dijuluki dengan sebutan


Sayyid Ulama Hijaz. Secara kronologis, pedidikan Syaikh Nawawi dari
berbagai sumber tidak dijelaskan secara rinci. Hanya saja ada sebagian
besar yang mengatakan bahwa cara belajar ia berpindah-pindah dari guru
ke guru yang lain.

Guru-guru yang terkenal adalah Sayyid Ahmad Nahrawi, Sayyid


Ahmad Dinyati, dan Ahmad Zaini Dahlan. Ketiga guru ia ini yang berada
di Makkah. Sedangkan di Madinah ia belajar dengan Muhammad Khatib
Al Hanbali. Dan selanjutnya ia melenjutkan pelajarannya pada ulamaulama besar di Mesir dan Syam (Syiria) (Hasan, 1987:41).

3. Silsilah Syaikh Nawawi


Syaikh Nawawi mempunyai garis keturunan ayah dan ibu. Adapun
garis keturunan ayah adalah sebagai berikut: Kyai Umar bin Kyai Ali bin
Ki Jamat bin Ki Janta bin Mas Bugil bin Ki Maskun bin Ki Masnun bin Ki
Wasmi bin Tajul Arusy Tanara bin Maulana Hasanuddin bin Maulana
Syari Hidayatullah Cirebon Abdullah bin Ali bin Raja Amatuddin
Abdullah bin Ali Nuruddin bin Malik bin Sayyid Muhammad bin Shahib
Mirabath bin Sayyid Qoli Qosim bin sayyid Ali bin Imam Ubaidilah bin
Imam Isa Naqib bin Imam Ali Al Ridhi bin Imam Jafar Al Shadiq bin
Imam Ali Al Baqir bin Imam Ali Zainal Abiding bin Sayyiduna Fatimah
Zahra binti Muhammad SAW.
Adapun silsilah ibu dari sebagai berikut: Imam Nawawi bin Nyi
Zubaidah binti Muhammad Singaraja bin Kyai Ali bin Ki Jamad bin Ki
Janta Bin Ki Masyarakat Bugil bin Ki Masnun bin Maulana Hasanuddin
Banten bin Maulana Syarif Hidayatullah Cirebon bin Raja amatuddin
Abdullah bin Ali Nuruddin bin Maulana Jamaluddin Akbar Husain bin
Imam Amir Abdullah Malik bin Sayyid Alwi bin Sayyid Muhammad
Shahib Mirbath bin Sayyid Ali Khaliqosim bin Sayyid Ali Alwi Bin
Imam Ubaidillah binMuhammad Muhajid Ilallah bin Imam Isa Al Naqib

bin Imam Muhammad Naqib bin Imam Ali Al Ridhi bin Imam Jafar Al
Shadiq bin Imam Muhammad Al Baqli bin Sayyiduna Husain bin
Sayyiduna Fatimah Zahra binti Muhammad SAW.
Untuk lebih jelasnya tentang silsilah Syaikh Nawawi dapat dilihat
dari skema berikut:

Muhammad Saw
Sayyidatina Fatimah Zahra
Sayyiduna Husain
Imam Ali Zainal Abidin
Imam Muhammas Al Baqir

Imam Muhammad Naqib


Imam Jafar As-Shadiq
Imam Ali Al Ridha

Ahmad Muhajir Ilallahi


Imam Ubaidillah
Sayyid Alwi
Amir Abdullah Malik

Abdullah Ahmad Khan


Imam Sayyid Ahmad Syah Jabbal
Maulana Jamaluddin Akbar Husain
Ali Nuruddin
Raja Aminuddin Abdullah
Maulana Syarif Hidayatullah (Cirebon)
Maulana Hasanuddin Banten
Ki Tajul Arrusy Tanara
Ki Masywi
Ki Masnun
Ki Mas Bugil
Ki Janta
Ki Jamad
Kyai Ali
Muhammad Singaraja

Kyai Umar
Syaikh Muhammad Nawawi

Nyi Zubaidah

Syaikh Nawawi merupakan keturunan yang ke-12 dari Maulana


Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari
putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten) yang bernama Sunyaras (Tajul
Arusy) (Ensyklopedi Islam Indonesia, 1992).
4. Karya-Karya Syaikh Muhammad Nawawi
Sebagai seorang Syaikh, ia menguasai hampir seluruh cabang ilmu
agama, seperti ilmu tafsir, Ilmu tauhid, ilmu fiqih, akhlaq, tarikh, dan
bahasa arab. Pendiri-penderinya, khususnya dalam bidang ilmu kalam dan
fiqih, bercorak Ahlusunnah Waljamaah. Keahlianya dalam bidang-bidang
ilmu tersebut dapat dilihat melalui karya-karya tulisnya yang cukup
banyak. Menurut suatu sumber, ia mengarang kitab sekitar 115 buah,
menurut sumber lain sekitar 99 buah, yang terdiri dari berbagai ilmu
agama.
Di antara karangannya, dalam bidang tafsir ia menyusun kitab
Tafsir Al Munir (yang memberi sinar). Dalam bidang hadits, kitab Tankih
Al Qoul/meluruskan pendapat (Syarah Lubab Al Hadits, As-Suyuti).
Dalam bidang tauhid, diantaranya kitab Al Fath Al-Majid/pembuka bagi
yang mulia (Syarah Ad-Dur Al- Farid Fi Al-Tauhid, Al Bajuri) yang berisi
penjelasan tentang masalah tauhid. Dalam bidang fiqih, diantaranya kitab
Sulam Al Munajah/tangga untuk mencapai keselamatan (Syarah Safinah
As-Salam), At-Tausyih (Syarah) Al Qorib Al-Mujib, Ibnu Qosun Al-Gazi
yang menguraikan masalah-masalah fiqih Adab Nihayah Az-Zen,\. Dalam
bidang politik atau tasawuf, diantanya kitab Salim Al-Fudhola/tangga
bagi para ulama terpandang (Syarah Manzumah Hidayah Al-Askiya)
Misbah Az-Zalam (penerangan kegelapan), Bidayah Al-Hidayah. Dalam
bidang tarikh, diantaranya kitab Al-Ibriz Ad-Dani (emas yang dekat),
Bugyah Al-Awam (kezaliman orang awam), dan Fathu As-Samad (kunci
untuk mencapai yang Maha Pemberi). Dalam bidang bahasa dan
kesustraan, diantara Fathu Gafir Al-Khatiyyah (kunci untuk mencapai
pengampunan kesalahan).
Beberapa keistimewaan dari karya-karyanya telah ditemukan oleh
peneliti, diantaranya kemampuan untuk menghidupkan isi karangan
sehingga dapat dijiwai oleh pembaca, pemakaian bahasa yang mudah
dipahami sehingga mampu menjelaskan istilah-istilah yang sulit dan
keluasan isi karangannya. Buku-buku karangannya juga banyak digunakan
di Timur Tengah (Aziz, 1994:23-25).

BAB III
DISKRIPSI PEMIKIRAN SYAIKH MUHAMMAD NAWAWI DALAM
KITAB UQUDULLIJAIN
A. Sekilas Tentang Kitab Uqudullijain
Kitab Uqudullijain merupakan salah satu karangan Syaikh Nawawi
dari beberapa kitab yang dikarangnya. Kitab Uqudullijain ini sudah
sangat terkenal, khususnya di kalangan pesantren salafi yang akrab dengan
sebutan kitab kuning atau kitab gundulan. Kitab ini merupakan kitab yang
diajarkan di pondok pesantren salafi. Syaikh Muhammad adalah salah
satu tokoh ulama besar yang ada di Indonesia yaitu di daerah Banten.
Beliau salah seorang warga negara yang bermukim di Arab.
Kitab Uqudullijain ini ditulis tahun 1294 H. Dalam kitabnya, Beliau
mengatakan bahwa kitab kecil ini penting bagi seseorang yang
menginginkan kelurga yang sakinah berdasarkan Al-Quran, hadits, dan
sejarah para tokoh terdahulu dan juga pendapat-pendapat pribadi yang
terperinci dalam empat bahasan, yaitu:
1. Hak Istri Atas Suami
Dalam pembahasan ini terdapat tinjauan penting antara lain
adalah perlakuan baik oleh suami terhadap istri baik mengenai
masalah ibadah wajib maupun sunah. Namun apabila dalam tatacara
beribadah
tersebut belum tahu, maka suami harus mengajarkannya kepada istri.
Suami harus mengajarkan tentang pentingnya ketaatan istri terhadap
perintah suami selagi perintah itu tidak berbau maksiat.
2. Hak Suami Atas Istri
Pembahahasan ini terkait dalam masalah ketaatan istri kepada
suami di luar kemaksiatan,penyerahan diri istri terhadap suami,
perlakuan baik istri terhadap suami, menjaga diri dari perbuatan
mesum. Pembahasan mengenai menutup aurat, kewajaran permintaan,
dan berpenampilan bersih atau suci serta kejujuran mengenai haid
maupun ketiadaanya.
3. Keutamaan Wanita Shalat di Rumah

Pembahasan ini mengenai seorang wanita, termasuk di dalamnya


membahas tentang shalat wanita di kamar, di luar rumah, dan di masjid
beserta nabi Muhammad Saw. Disamping itu juga menyinggung halhal pengaruh setan terhadap wanita, dan anjuran nabi Muhammad Saw
terkait dengan masalah pengaruh setan. Selain itu juga menyinggung
tentang peringatan nabi Muhammad Saw terhadap wanita,
pandanganhukum terhadap tindakan wanita dan hal-hal yang sangat
berguna bagi wanita.
4. Larangan Bagi Laki-Laki Melihat Wanita Lain Dan Sabaliknya.
Dalam pembahasan ini, pembahasan diarahkan pada laki-laki dan
wanita terutama menyangkut hal-hal yang diharamkan, seperti laki-laki
melihat wanita yang bukan muhrimnya atau sebaliknya. Demikian pula
halnya laki-laki yang sudah beristri atau sebaliknya. Di luar itu
terdapat hal-hal seperti analogi hukum bagi remaja sehubungan
larangan di atas, dan masalah berjabat tangan, berdua di tempat yang
sepi serta masalah-masalah lain yang tidak dibenarkan dalam agama
(Busthomi, 2000: 8-9).
B. Hak-Hak Istri Terhadap Suami
Ada beberapa pokok pembahasan yang penulis sajikan berbagai
macam etika dalam membina rumah tangga menurut syaikh Muhammad
Nawawi dalam salah satu karyanya yaitu kitab Uqudullijain. Syaikh
Nawawi menjabarkan tugas-tugas seorang suami yang wajib dilakukan
terhadap seorang istri demi mewujudkan keluarga yang harmonis serta
penuh kasih sayang dan cinta antara lain yaitu:
1. Perlakuan Baik Terhadap Istri
Syaikh Nawawi mengatakan dalam kitabnya menjelaskan bahwa
hendaknya seorang suami mempergauli seorang istri dengan baik
sesuai firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa:19:

Atinya: Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu


mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu
menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian
dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka
melakukan pekerjaan keji yang nyatadan bergaullah dengan mereka
secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka
bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal
Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

Dalam QS.al-Baqarah: 228, Allah Swt juga berfirman:



Artinya: Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan
kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. akan tetapi Para suami,
mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.
Yang dimaksud kata patut dalam ayat di atas yaitu pertama
bijaksana. Maksudnya bahwa laki-laki harus bijaksana dalam mengatur
waktu untuk istri. Demikian pula dalam hal menafkahi istri merupakan
bagian dari hak istri. Hal lain yang terkait dengan masalah kepatutan
disini adalah kehalusan dalam berbicara (Busthomi,2000: 11-12).
Ayat di atas memberikan penjelasan bahwa wanita tetap
mendapatkan hak-haknya meskipun suami dalam keadaan marah
kepada istri. Ayat tersebut juga merangkan agar suami koreksi diri atas
perlakuannya terhadap istri. Apakah perlakuannya terhadap istri
tersebut disebabkan ketidak senangan, dan barangkali di dalam diri

istrinya terdapat kebaikan yang tidak dapat diketahui oleh dirinya


karena keterbatasan kemampuan yang dimilikinya. Al-Quran
menganjurkan kepada suami agar tetap mempergauli istrinya dengan
cara yang layak meskipun tidaksenang padanya.
Mengenai masalah kesimbangan antara hak dan kewajiban
wanita, firman Allah SWT yang kedua itu menunjukkan bahwa lakilaki dan wanita mempunyai hak yang sama dalam menuntut kewajiban
terhadap yang lain sebagai suami istri, bukan masalah kelamin. Dalam
hubungan ini, hak mereka berbeda. Karena laki-laki berhak untuk
berpoligami. Adapun yang dimaksud dengan cara yang maruf ialah
cara yang baik menurut pandangan agama, seperti bersopan santun,
tidak melakukan hal-hal yang dapat melukai perasaan, baik bagi suami
maupun istri. Bahkan sampai pada batas berdandan. Sebab, hal itu
merupakan suatu cara yang maruf (Busthomi, 2000: 11).
Islam telah menetapkan ketentuan yang seimbang antara hak dan
kewajiban, bukan hanya dalam rumah tangga, tetapi dalam setiap
permasalahan dan ketentuan yang ada. Hanya dalam Islamlah yang
mampu mengatur hukum yang bekenaan dengan umatnya pada
penempatan masalah secara adil dan proposional, tidak ditambah atau
dikurangi. Karena, setiap hamba mempunyai hak dan kewajiban yang
sama.
Suami tidak sekedar mengurusi istrinya agar tidak berbuat
kejelekan atau menghargai pendapatnya dan mempergaulinya dengan
cara yang baik atau mengambil tindakan yang perlu untuk member
peringatan kepada istrinya. Seperti: memisahkan tempat tidur,
melimpahkan penyelesaian perselisihan dengan pengangkatan penegak
yang adil, dan seimbang apabila ia tidak dapat menyelesaikannya
secara intern. Suami juga dianjurkan dalam hadits yang suci untuk
berusaha dengan segala dengan kemampuannya demi memuaskan
istrinya, seperti halnya dirinya menginginkan agar istrinya berusaha
dengan kemampuanya memuaskan suaminya.
Selain itu, ada hal lain yang perlu disebutkan disini, yaitu
maksud ayat yang menyatakan bahwa laki-laki, yakni suami
mempunyai tingkat kelebihan dari pada istri. Hal ini terkait dengan hak
suami yang diperolehnya atas tanggung jawab terhadap istri itu sendiri
dalam memberikan maskawin atau nafkah bagi istri. Dalam hubungan
ini, suami berhak memperoleh ketaatan istri. Dengan demikian, maka
istri wajib taat kepada suami sehubungan dengan tanggung jawabnya

dalam mewujudkan dan memelihara kemasalahatan istri, disamping di


dalam kesejahteraan hidupnya ditanggung suami (Busthomi, 2000:
12).
2. Bersikap lembut terhadap istri
Syaikh Nawawi menjelaskan tentang isi dalam hadits di atas
Nabi Muhammad SAW bermaksud memberikan perhatian kepada
kaum muslimin agar mendengarkan apa yang diwasiatkan kepada
mereka dan selanjutkan melaksanakan wasiat itu. Dalam hal ini beliau
menganjurkan agar kaum muslimin berhati lembut terhadap istri serta
menunjukkan perilaku yang baik dalam bergaul dengan mereka. Itulah
yang dimaksud dengan melakukan hal yang terbaik bagi wanita.
Sebab, wasiat Nabi Muhammad SAWdalam hadits diatas sudah
barang tentu muncul karena faktor lemahnya wanita, termasuk di
dalamnya kebutuhan wanita itu sendiri terhadap keluhuran budi suami
sebagai seorang yang menyediakan hal-hal yang menjadi keperluan
mereka (Busthomi, 2000: 13-14).
Rasullah yang mulia telah mempergauli istri-istrinya dengan
baik.Secara sukarela, beliau membantu mereka menyelesaikan
pekerjaan dan kewajiban mereka sehari-hari. Aisyah mengatakan :
Rasulullah dahulu sering membantu pekerjaan keluarganya. Beliau
keluar hanya untuk shalat, jika waktu shalat telah datang (Mahmud,
1991: 144).
Disampinng mempergauli istri dengan baik, suami juga wajib
menjaga martabat dan kehormatan istrinya, mencegah istrinya jangan
sampai hina, jangan sampai istrinya berkata jelek. Inilah kecemberuan
yang disukai Allah SWT. Bersabda:

Artinya: Allah cemburu dan manusia cemburu, kecemburuan


Allah adalah apabila ada hamba-Nya yang melanggar larangan-Nya.
(HR. Bukhori,t.t juz. 3: 264) (Said, 2002: 163).
3. Hak materi dan nusyuz

Mengenai kewajiban seorang suami dalam memenuhi hak


berupa materi terhadap istri telah diatur dalam Islam, yaitu suami
memberi nafkah kepada istri, sebagai ganti ketidak bebasan istri
karenanya, ketaatan padanya, mengurus urusan rumah tangga dan
suaminya. Setiap mereka mempunyai hak dan kewajiban. Seperti
firman Allah SWT pada QS.Al- Baqarah :228:


Artinya: Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan
kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. akan tetapi Para suami,
mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.
Perlu disebutkan di sini suatu riwayat lain yang berkaitan dengan
apa yang yang dinyatakan Nabi Muhammad SAW dalam hadits di
atas. Dalam riwayat itu beliau menyatakan hal-hal mengenai hak-hak
istri memperolehpelajaran dari suami tatkala melakukan nusyuz.
Dalam hungan ini beliau bersabda:

Artinya: Hak wanita atas suaminya ialah bahwa suami memeberikan


konsumsi pangan kepada istri apabila mengkonsumsi bahan pangan.
Disamping itu, memberikan sandang kepadanya apabila dia
berpakain.Dan janganlah suami itu memukul bagian wajah istri,
mengumpatnya serta menghindarinya kacuali di dalam rumah.(HR.
Abu Dawud, t.t, juz. 2: 244-245).
Salah satu hak yang wajib dipenuhi oleh suami terhadap istrinya
adalah bertanggung jawab sepenuhnya untuk memberikan nafkahnya.
Hal ini telah ditetapkan oleh Al-Quran, hadits, dan ijma. Nafkah ini
bermacam-macam sesuai kebutuhan wanita: bisa berupa makanan,
tempat tinggal, pelayanan (perhatian), pengobatan, dan pakaian
meskipun wanita itu kaya (Hamid, 1996: 128).
Istri berhak minta nafkahnya kepada sang suami, jika sang suami
akan bepergian jauh. Hal yang menggugurkan hak nafkah istri adalah
menggugurkan hak nafkah wanita dalam iddah rajiyah, misalnya
berbuat nusyuz (Asad, 1979: 198).

Nusyuz adalah sikap istri yang durhaka serta angkuh atas perintah
Allah SWT agar mentaati suaminya.Ada pula yang berpendapat bahwa
nusyuz itu saling membenci antara suami istri (Sufyan, 2007: 6).
Nusyuz terjadi dengan istri menolak suami melakukan tamattu
walaupun dalam bentuk semacam memegang atau pada anggota tubuh
yang dipilih suami (Asad, 1979: 6).
Dalam kasus tertentu, yaitu ketika istri melakukan nusyuz, suami
boleh memukul pada bagian badan di luar wajah istri. Sebab, hal ini
merupakan hak istri itu sendiri manakala ia melakukan kesalahan. Dan
itu telah dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW kendati pun harus
dilakukan setelah upaya menghindar. Hal lain yang harus
diperhatikan suami ialah bahwa istri tidak berhak mendapat
penghinaan dari suami. Sebab, Nabi Muhammad SAW dengan tegas
melarangnya mengumpat istri, yaitu dengan melontarkan kata-kata
yang tidak disukainya, seperti mengatakan dasar wanita jelek.
Kemudian masalah menghindar seperti yang telah dimaklumi,
Nabi Muhammad SAW melarang suami menghindar dari istri kecuali
di dalam rumah , yakni di tempat peraduan. Inilah ketentuan yang
boleh dilakukan oleh suami manakala istri melakukan nusyuz. Adapun
hal lain di luar itu, seperti menghindar dalam konteks komunikasi
secara lisan, tidak disyaratkan di dalam hadits. Dengan demikian,
suami tidak boleh membungkam atau membisu dalam kasus
ini.Apabila hal itu dilakukan, berarti suami telah berbuat dosa, karena
tindakan itu haram, kecuali karena uzur (Busthomi, 2000: 16).
4. Pendidikan terhadap Istri
Sebagai seorang suami, laki-laki wajib memperhatikan ajaranajaran yang terkait dengan segala sesuatu yang harus dilakukan
terhadap

istrinya.Sebab,

Nabi

Muhammad

SAW

memberikan

peringatan serius mengenai kewajiban dalam merealisasikan hak-hak


wanita yang diperistikannya (Busthomi, 2000: 17).
Dalam hadis lain Nabi Muhammad SAW memberikan petunjuk
yang harus dilakukan oleh seorang laki-laki dalam memberikan segala

sesuatu yang merupakan hak-hak seorang istri. Hal ini tercermin dalam
suatu hadis yang menyatakan :

Artinya: Rasulullah SAW. Bersabda: Sesungguhnya orang-orang


mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling
baik akhlaknya dan paling lembut sikapnya kepada keluarganya.
(HR. Turmudzi, 1384, juz. 2: 315).

Akhlak dalam hadis tersebut adalah budi pekerti yang luhur.


Semua itu tentunya dimaksudkan sebagai realisasi dari kewajiban
suami dalam mengejawantahkan hak-hak istri kendatipun hal ini
merupakan konsep yang lebih khusus. Dengan demikian, walaupun
kata keluarga di sini memberikan pengertian yang luas karena
melibatkan banyak unsur termasuk di dalamnya anak-anak, suami, dan
kerabat dekatnya, istri sudah barang tentu mendapatkan prioritas
khusus. Sebab, dialah yang berfungsi sebagai pendukung utama bagi
terciptanya sebuah keluarga. Oleh sebab itu, kondisi etik yang positif
sebagaimana telah disinyalir di dalam hadist tadi perlu mendapatkan
penekanan khusus dalam pembicaraan mengenai kewajiban suami
untuk mewujudkan hak-hak istri sehubungan dengan fungsi itu sendiri
seperti tersebut di atas.
Dalam hadits lain Nabi Muhammad cukup tegas dalam
menganjurkan kewajiban etik seorang suami terhadap istri:

Artinya: orang yang terbaik di antara kamu sekalian adalah mereka


yang paling baik terhadap istri, dan aku sendiri lebih baik dari pada
kamu sekalian atas (kebaikanku) terhadap istriku. (HR. Tirmidzi,
1384, juz. 2: 45).
5. Sabar terhadap Istri
Dalam hal ini Syaikh Nawawi menjelaskan dalam menerapkan
norma-norma akhlak di dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami
harus memiliki pedoman moral yang strategis. Untuk itu, Nabi
Muhammad SAW.memberikan petunjuk agar seorang suami bersabar
hati dalam menghadapi cobaan istri. Dengan demikian, suami dapat
melaksanakan kewajibannya secara baik sesuai dengan ajaran agama
untuk memahami cobaan dari istri (Busthomi, 2000: 19).
Hendaklah engkau selalu sabar, karena sabar adalah sendi dasar
yang harus kau miliki selama kamu hidup di dunia ini. Ia pun termasuk
akhlak yang mulia dan keutamaan-keutamaan yang agung. Allah
berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 153 :



Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat
sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
sabar (Munawwir, 2007: 203).
6. Pemukulan terhadap Istri

Syaikh Nawawi menjelaskan tentang beberapa hal yang dimana


suami diperbolehkan memukul istri:
a. Suami boleh memukul istri karena suami menghendaki istri berhias
dan bersolek, sedangkan istri tidak mengindahkan kehendak suami
itu. Juga karena istri menolak ajakan ke tempat tidur.
b. Suami boleh memukul istri karena keluar dari rumah tanpa izin,
memukul anaknya menangis, menyobek-nyobek pakain suami,
atau karena memegang jenggot suami seraya berkata, Hai keledai,
hai goblok, sekalipun suami memaki istri terlebih dahulu.
c. Suami boleh memukul istri karena membuka mukanya dengan
lelaki bukan muhrimnya, berincang-bincang dengan lelaki lain,
bicara dengan suami agar orang lain mendengar suaranya,
memberikan sesuatu dari rumah istri yang tidak wajar diberikan,
atau karena tidak mandi haid.
Dalam hal ini memukul istri karena meninggalkan shalat ada
dua pendapat. Yang lebih baik, sebaiknya suami memukul istri
karena meninggalkan shalat, jika tidak mau melaksanakan shalat
karena diperintah (Busthomi, 2000: 24-25).
7. Pesan-Pesan terhadap Seorang Laki-laki
Ketahuilah, sebaiknya suami itu melakukan hal-hal berikut kepada
istri:
a. Memberikan

wasiat,

menyenangkan hati istri.

memerintahkan,

mengingatkan,

dan

b. Hendaknya

suami

memberikan

nafkah

istrinya

sesuai

kemampuannya, usaha dan kekuatannya.


c. Suami hendaknya dapat menahan diri, tidak mudah marah apabila
istri menyakiti hatinya.
d. Suami hendaknya menundukkan dan menyenankan hati istri
dengan menuruti kehendaknya dengan kebaikan. Sebab, umumnya
wanita itu kurang sempurna akal dan agamanya.
e. Suami hendaknya menyuruh istrinya melakukan perbuatan yang
baik.
Syeikh Ramli mengatakan dalam kitab Umdatur Rabih, Suami
tidak boleh memukul istri karena meninggalkan salat maksudnya
cukup memerintahkan salat.
f. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Athiyah, Suami hendaknya
mengajar istrinya apa yang menjadi kebutuhan agamanya, dari
hukum-hukum bersuci seperti mandi haid, janabat, wudlu dan
tayammum.
g. Suami harus mengajar berbagai macam ibadah kepada istri. Baik
ibadah fardlu maupun sunat, seperti salat, zakat, puasa dan haji.
Jika suaminya dapat mengajar sendiri, maka istri tidak boleh keluar
rumah untuk bertanya kepada orang-orang alim atau ulama atau
pergi ke tempat majlis talim atau pengajian kecuali izin suaminya.
Jika suami tidak dapat mengajar sendiri karena kebodohannya
maka sebagai gantinya dialah yang harus bertanya kepada ulama,

lalu menerangkan jawabannya kepada sang istri. Jika suami tidak


mampu keluar maka istri boleh keluar untuk bertanya, bahkan
wajib keluar, dan suami berdosa melarangnya. Allah SWT.
berfirman dalam Q.S. At-Tahrim: 6:




Artinya :Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah mansuai
dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

h. Suami hendaknya mengajar budi pekerti yang baik kepada


keluarganya. Sebab, manusia yang sangat berat siksanya pada hari
kiamat adalah orang di mana keluarganya bodoh-bodoh dalam
agama Islam.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a. dari Nabi Muhammad
SAW. Beliau bersabda:

Artinya:Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dipertanggung


jawabkan atas kepemimpinannya. Seorang suami menjadi
pemimpin
keluarganya
dan
dipertangungjawabkan
kepemimpinannya.Seorang istri menjadi pemimpin di rumah
suaminya
dan
dipertanggung
jawabkan
atas
kepemimpinannya.Seorang pelayan adalah pemimpin harta
tuannya dan dipertanggung jawabkan dari kepemimpinannya.
Seorang anak menjadi pemimpin harta orang tuanya dan
dipertanggungjawabkan dari kepemimpinannya. Maka setiap kamu
adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.
(HR. Bukhori, t.t, juz. 2: 257).

8. Tanggung Jawab Seorang Pemimpin


Syaikh

Nawawi

menerangkan

dalam

kitabnya

mengenai

tanggungjawab sebagai seorang pemimpin bahwa Penguasa agung atau


penggantinya adalah orang yang memimpin dan menjaga serta
menguasai rakyatnya. Ia akan diminta tanggung jawab dalam
memimpin rakyatnya, atuakah sudah menjaga hak-hak rakyatnya atau
belum (Busthomi, 2000 : 28).
Apabila kaum laki-laki mengabaikan apa yang telah menjadi
tugas dan kewajibannya, sedang kaum wanitanya telah melampaui
batas kodratnya atau justru tidak melakukan tanggungjawabnya, maka
keharmonisan dalam rumah tangga menjadi berantakan (Said, 1421:
277).
Seorang suami menjadi pemimpin keluarga, istri dan anakanaknya. Ia akan dimintai tanggung jawab atas keluarganya, apakah

sudah memenuhi hak-hak mereka atau belum, seperti memberi


pakaian, memelihara, mengasuh, mendidik, dan yang lain seperti
bergaul dengan baik kepada mereka atau tidak. Seorang istri menjadi
pemimpin di rumah suaminya. Ia harus dapat mengatur penghidupan
dengan baik, harus bersikap baik terhadap suami, serta memelihara
harta suami dan anak-anaknya. Istri juga akan dimintai pertanggungan
jawab atas kepemimpinannya, apakah sudah melaksanakan apa yang
menjadi kewajibannya atau belum (Busthomi, 2000: 28-29).
Istri juga harus mengatur pengeluarannya selama masih dalam
batas

ketaatan

kepada

suaminya.

Istri

tidak

diperkenankan

membelanjakan ssesuatu atau memberi seseorang dari harta suaminya


kecuali dengan izin suaminya dan yakin bahwa ia rela untuk urusan itu
(Mahmud, 1991 : 151).
Seorang pelayan harus menjaga harta tuannya dan menata apa
yang menjadi kebaikannya. Pelayan juga akan dimintai tanggung
jawabnya atas apa yang dikuasainya, apakah ia telah memenuhi
kewajibannya atau belum. Seorang anak harus menjaga harta ayahnya
dan mengaturnya dengan baik. Anak juga dimintai pertanggungan
jawab atas apa yang dikuasainya, apakah sudah memenuhi atau belum.
Jadi, setiap kamu adalah pemimpin, dan akan dipertanggungjawabkan
kepemimpinannya. Fa dari kata Fakullukun menjadi jawab syarat
yang terbuang.Kata itu bersifat umum.Ia dapat memasukkan seseorang
yang hidup sendirian, belum beristri dan tidak punya pelayan. Sebab,

orang seperti ini dapat dikategorikan sebagai pemimpin.Maksudnya,


orang yang menjaga anggota tubuhnya sehingga mau melakukan
kewajiban yang diperintahkan dan menjauhi segala larangan.
Sementara itu, ulama mengatakan bahwa orang yang pertama
kali mengganduli seorang lelaki di hari kiamat adalah keluarga dan
anak-anaknya, mereka seraya berkata, wahai Tuhan kami! Ambillah
hak kami pada orang ini, karena ia tidak mengajarkan urusan agama
kepada kami. Dan memberi makan kami dari yang haram, sedangkan
kami tidak tahu. Orang itu lalu dipukul, kemudian dibawa ke neraka.
Demikianlah sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Jawahir karya
Imam Abu Laits As-Samarqandi (Busthomi, 2000:29-31).
C. Hak Suami Istri
1. Kepemimpinan Laki-laki
Syaikh Nawawi mendasarkan dalam hal ini sesuai firman Allah Taala
dalam QS. An-Nisa: 34:



Artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh
karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas
sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (lakk-laki) telah
menafkahkan sebagian dari harta mereka, sebab itu maka wanita yang
saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika
suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka),
wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah
mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah
mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, Maka janganlah kamu
mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.Sesungguhnya Allah Maha
Tinggi lagi Maha besar.
Hukum Allah telah menetapkan, bahwa dalam setiap bentuk
makhluk yang diciptakan Allah, pasti ada yang memimpin dan ada
yang dipimpin.Ada yang mengatur dan ada yang diatur. Hal itu agar
pemikiran-pemikiran tidak tumpang tindih dan keinginan-keinginan
tidak bersimpang siur, yang mengakibatkan keretakan kerukunan,
putus tali kasih sayang, pudar persatuan dan perselisihan (Fadlil, 1421
: 149).
Kaum laki-laki sebagai pemimpin bagi kaum wanita maksudnya
bahwa kaum laki-laki harus menguasai dan mengurus keperluan istri
termasuk mendidik budi pekerti mereka.Allah melebihkan kaum lakilaki atas kaum wanita karena laki-laki (suami) memberikan harta
kepada kaum wanita (istri) dalam pernikahan, seperti maskawin dan
nafkah.

Di antara sebab utama mengapa laki-laki diserahi tanggung


jawab sebagai pemimpin adalah karena kekuatan fisiknya, kemampuan
melindungi dari serangan musuh, dan mampu mencari nafkah,
tanggung jawab mencari nafkah untuk memenuhi segala apa yang
dibutuhkan oleh istrinya, anak-anaknya, dan segenap keluarganya
(Hamid, 1996 : 160).
2. Ketaatan Istri terhadap Suami
Selanjutnya wanita-wanita yang saleh dalam ayat tersebut adalah
wanita-wanita yang taat kepada Allah dan suaminya.Wanita-wanita itu
memelihara hak suaminya, menjaga farjinya, serta memelihara rahasia dan
barang-barang

suaminya,

karena

Allah

telah

memelihara

mereka.Maksudnya, Allah menjaga dan memberikan pertolongan kepada


wanita-wanita. Atau, Allah telah berpesan dan melarang wanita-wanita
agar tidak berselisih (Busthomi, 2000 : 34-35).
Hak pertama atas suami atas isterinya adalah ketaatan. Allah telah
mempercayakan kepemimpinan keluarga kepadanya, dan semua anggota
keluarganya wajib menaatinya, sehingga ia dapat melaksanakan tugas
kepemimpinan itu dengan mudah dan gampang tanpa menemui hambatan
(Mahmud, 1991 : 148).
Seorang istri wajib taat kepada seorang suaminya, begitu juga tinggal
di rumah suaminya, mengelola dan mengatur rumahnya serta menjaga dan
mendidik anak-anaknya.Nabi bersabda Seorang suami adalah pemimpin
di rumahnya maka ia pun harus bertanggung jawab atas apa yang

dipimpinnya.Sedangkan seorang istri juga pemimpin di rumah suaminya,


dan ia harus bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.(Hamid,
1996: 135).
Wanita-wanita yang kamu khawatiri musyuznya, maka nasehatilah
mereka. Maksudnya, wanita-wanita yang kamu sangka meninggalkan
kewajiban bersuami istri, seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya
dan menentang kamu dengan sombong, nasehatilah mereka dengan
menakut-nakuti akan siksaan Allah. Memberikan nasehat di sini
hukumnya sunah. Seperti seorang suami berkata kepada istrinya,
Takutlah kamu kepada Allah atas hak yang wajib kamu penuhi kepadaku,
dan takutlah kamu akan siksaan Allah.
Suami juga hendaknya menjelaskan kepada istri bahwa perbuatan
nusyuz itu dapat menggugurkan nafkah dan giliran. Nasehat itu tidak boleh
disertai dengan mendiamkan dan memukul istri. Kalau istri menampakkan
uzumnya atau bertobat dan apa yang telah diperbuatnya tanpa uzur, maka
suami disunatkan mengingatkan istri tentang hadis Bukhari dan Muslim
bahwa Nabi SAW, bersabda:

Artinya: Jika istri itu bermalam meninggalkan tempat tidur suaminbya,


maka para malaikat mengutuknya hingga pagi. (HR. Bukhori, t.t, juz. 3:
260).

Demikian sebagaimana disebutkan di dalam syarah Nihayahala


Ghayah. Maksud Dan pisahkanlah diri dari tempat tidur mereka adalah
bahwa para suami diperintahkan meninggal para istri dari tempat tidurnya,
bukan mendiamkan bicara dan memukul, sebab memisahkan diri dari
tempat tidur itu memberikan dampak yang jelas dalam mendidik para
wanita. Kata Dan pukullah mereka, maksudnya adalah bahwa wanitawanita yang nusyuz itu boleh dipukul dengan pukulan yang tidak
menyakitkan tubuh. Hal itu dilakukan kalau memang membawa faedah.
Jika tidak, maka tidak perlu melakukan pemukulan. Jika akan memukul,
tidak boleh sampai memukul muka dan anggota tubuh yang dapat
menjadikan kerusakan tubuh. Tetapi memukul yang wajar saja.Bahkan
yang lebih baik hendaknya suami memaafkan.Berbeda dengan wali anak
kecil, itu lebih baik tidak memaafkan. Sebab, wali yang memukul anaknya
yang masih kecil itu justru membawa kemaslahatan untuk mendidik anak.
Sedangkan pukulan suami terhadap istri, kemaslahatannya untuk dirinya
sendiri. Menurut Imam Rafii, istri itu boleh dipukul kalau berkali-kali
musyuz. Tetapi menurut Imam Nawawi, istri itu boleh dipukul meskipun
tidak berulang kali nusyuzi, jika memang dapat memberikan faedah.
Tafsir ayat ini menurut Nawawi demikian, Wanita-wanita yang
kalau kamu khawatiri nusyuznya, maka jika mereka ternyata nusyuz,
pisahkanlah diri dari tempat tidur mereka dan pukullah mereka.Maka
Takhaafuuna (yang kamu khawatiri) di sini adalah Taalamuuna (kamu
ketahui), yakni kamu melihat nusyuz istri itu, mengecualikan ketika

terdapat tanda-tanda nusyuzi dengan sebab ucapan. Seprti istri menjawab


suaminya dengan perkataan yang kasar setelah bicara yang halus. Atau
sebab perbuatan, seperti suami melihat istri berpaling dan cemberut setelah
ia menghadapkan muka dengan bermuka manis. Jika hal ini terdapat
tanda-tanda

nusyuz,

maka

suami

agar

menasehatinya.

Jangan

meninggalkan dan jangan memukul (Busthomi, 2000: 35-36).


3. Pahala Laki-laki dan Wanita
Syaikh Nawawi mendasarkan hal ini sesuai firman Allah dalam QS.
An-Nisa: 32:

Artinya: Bagi orang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka
usahakan dan bagi para wanita ada bagian dariapa yang mereka
usahakan.
Maksudnya, bagi para lelaki itu memperoleh pahala dari amal
jihad yang dilakukannya, bagi para wanita juga punya hak memperoleh
pahala dari apa yang diperbuatnya, yaitu menjaga farjinya, serta taat
kepada Allah dan suaminya. Jadi para laki-laki dan wanita, dalam
urusan pahala di akhirat memperoleh hak yang sama. Hal itu karena
pahala satu kebaikan dilipatkan sepuluh kali, itu berlaku bagi para lakilaki dan perempuan, kelebihan para laki-laki mengalahkan dan
menguasai wanita itu hanya di dunia. Demikian menurut Syaikh
Sarbini dalam Tafsirnya (Busthomi, 2000: 39-40).

Sang istri juga mendapatkan pahala seperti pahala seorang lakilaki yang berjihad, dengan cara berlaku baik kepada suami dan
membina keluarganya. Suami bisa menjadi sebab datangnya pahala
tersebut jika dia meniatkannya (Malik, 2010: 19).
4. Harta Suami
Bahasan selanjutnya, para wanita sebaiknya mengetahui bahwa
dirinya seperti sahaya yang dimiliki suami dan tawanan yang lemah tak
berdaya

dalam

kekuasaan

suami,

maka

wanita

tidak

boleh

membelanjakan suami untuk apa saja kecuali dengan izinnya. Bahkan


mayoritas ulama mengatakan istri itu mendapatkan izin suami, karena
istri itu seperti orang yang tertahan perbelanjaannya karena suami
(Busthomi, 2000: 41).
Diantara hak suami dari isterinya adalah penjagaan isteri atas
kekayaan suaminya. Ia juga harus mengatur pengeluarannya selama
masih dalam batas ketaatan kepada suaminya. Isteri tidak diperkenankan
membelanjakan sesuatu atau memberi seseorang dari harta suaminya
kecuali dengan izin suaminya dan yakin bahwa ia rela untuk urusan itu
(Mahmud, 1991: 151).
5. Istri dan Rasa Malu
Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa istri wajib merasa malu
terhadap suami, tidak berani menentang, menundukkan muka dan
pandangannya dihadapan suami, taat kepada suami ketika diperintah apa
saja kecuali maksiat, diam ketika suami berbicara, menjemput

kedatangan suami ketika keluar rumah, menampakkan cintanya kepada


suami ketika suami mendekatinya, menyenangkan suami ketika akan
tidur, mengenakan harum-haruman, membiasakan merawat mulut dari
bau yang tidak menyenangkan dengan misik dan harum-haruman,
membersihkan pakaian, membiasakan berhias diri dihadapan suami dan
tidak boleh berhias bila ditinggal suami (Busthomi, 2000:41).
6. Pemberian kepada Orang Lain
Kitab tersebut juga menyebutkan bahwa istri hendaknya tidak
berhianat pada suami ketika suami sedang pergi dari tempat tidurnya,
istri tidak boleh menyelewengkan harta suami.
Rasulullah SAW, bersabda :

Artinya :Istri tidak boleh memberi makan orang lain dari rumah
suaminya tanpa izinnya, kecuali makanan basah-basah yang
dikhawatirkan basi. Jika ia memberi makan dari izin suaminya, maka ia
memperoleh pahala seperti pahala suaminya, dan jika ia memberi
makan tanpa seizin suaminya, maka suaminya mendapat pahala,
sedangkan istri mendapat dosa.(HR Abu Dawud, t.t., juz. 2:131)
7. Memuliakan Keluarga Suami
Selanjutnya istri hendaknya memuliakan keluarga suami dan
famili-familinya sekalipun berupa ucapan yang baik. Istri juga harus
memandang pemberian sedikit dari suami sebagai hal yang banyak,
menerima perbuatan suami, memandang utama dan bersyukur atas sikap

suami, dan tidak boleh menolak permintaan sekalipun dipunggung unta


(Bustomi, 2000 : 12).
8. Adab Persetubuh
Menurut Syaikh Nawawi seorang suami tidak boleh menyetubuhi
istri dihadapan lelaki atau wanita lain. Pada waktu suami ingin
mengumpuli istri disunahkan memulai dengan membaca basmalah, surat
ikhlash, kalimat terakhir dan tahlil serta membaca doa sesuai sabda Nabi
Muhammad SAW.

Artinya : sesungguhnya kalau seorang dari kamu mendatangi istrinya,


hendaklah ia membaca Allahuma jannihnisy, syaithaana wa jannibisy
syaithanna maa razaqtanaa (Ya Allah, jauhkanlah diriku dari syaitan
dan jauhkanlah setan dari apa yang telah engkau rezekikan kepada
kami) maka jika dari keduanya melahirkan anak, setan tidak dapat
berbuat bahaya. (HR. Muslim, t.t., juz 1:606)
Jika anda telah mendekati organisme, maka bacalah doa dalam
hati dengan menggerakkan bibir anda :

Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dari
air, lalu dijadikan manusia itu punya keturunan dan mushaharah dan
Tuhanmu adalah maha Esa.

Suami istri yang melakukan persetubuhan tidak boleh menghadap


kiblat.Jangan bersenggama menghadap kiblat, karena memuliakan

kiblat.Ketika bersenggama hendaknya menutupi tubuhnya dan tubuh


istrinya dengan selimut (Busthomi, 2000: 44).
Beberapa adab bercampur dalam Islam:
1. Suami dilarang membayangkan orang lain ketika bercampur dengan
istrinya, karena hal itu termasuk zina, begitu pula larangan ini
berlaku untuk isteri. Para ulama berpendapat: Barang siapa
mengambil segelas air putih lalu meminumnya dan pada saat yang
sama ia membayangkan air putih tersebut adalah khamr, maka air
yang ia minum itu haram baginya.
2. Percampuran itu boleh dilakukan setiap bulan, setiap waktu, atau
setiap hari, atau pada setiap siang dan malam, kecuali waktu haid,
nifas, puasa, dan ihram. Sedangkan mandi jumat adalah sunah
muakkad, meskipun tidak didahului dengan percampuran.
3. Suami dilarang memegang penisnya dengan tangan kanan, dan
dilarang mendatangi isterinya setelah ia bermimpi (bercampur)
dengan orang lain, kecuali setelah ia mandi, mencuci penisnya atau
berusaha kencing agar air mani bekas mimpinya bersih.
4. Pengantin laki-laki diperkenankan membayar sesuatu kepada
pasanganya sebagai imbalan agar ia melepas bajunya. Ia juga tidak
diperkenankan membayar sesuatu agar isterinya mau bercampur
dengannya. Sebab itu adalah zina.
5. Sangat dianjurkan kepada pasangan suamiistri untuk menggosok
gigi dan membersihkan mulut mereka, kemudian memakai

wewangian yang khusus digunakan untuk mengharumkan mulut,


karena hal itu akan lebih melekatkan hubungan mereka berdua, dan
menambah rasa cinta.
6. Jika suami mendatangi istrinya, kemudian ingin mengulanginya lagi,
maka hendaklah ia berwudlu.
7. Jika suami istri ingin tidur, tapi mereka dalam keadaan junub, maka
keduanya diperintahkan berwudlu juga.
8. Diwajibkan mandi setelah bercampur, jika hendak melakukan salat,
dan mandi sebelum tidur itu lebih utama.
9. Pasangan pengantin itu boleh mandi berdua bersama pada satu
tempat (Mahmud, 1991: 90-92).

9. Istri dan Puasa


Selanjutnya seorang istri hendaknya tidak berpuasa sunat, selain
puasa arafah dan asyura kalau tidak mendapat izin suaminya, kalau
ternyata istri berpuasa, maka ia hanya mendapat letih dan dahaga,
sedangkan puasanya tidak akan diterima (Busthomi, 2000:44).
Istri tidak boleh melakukan puasa sunah kecuali atas izin suaminya
dan tidak boleh memberi izin seseorang untuk memasukki rumahnya
kecuali atas izinnya. Laki-laki punya hak agar istri tidak berpuasa
kecuali atas izinnya, dan isteri tidak boleh memberikan izin suaminya
(Mahmud, 1991:154)

Salah satu ketaatan istri pada suami adalah hendaknya sang istri
tidak melakukan puasa sunah kecuali dengan izin suaminya, tidak pergi
haji sunah kecuali dengan izin suaminya, tidak keluar rumah kecuali
dengan izin suaminya (Hamid, 1996:169).
10. Perizinan Suami
Istri hendaknya tidak bepergian dari rumah keuali mendapat izin
dari suaminya. Jika keluar tanpa izim suaminya, maka ia mendapat
kutukan dari malaikat rahmat dan adzab, hingga ia kerumahnya
sekalipun suaminya itu zalim. Karena melarang keluarnya istri .Kalau
keluar rumah dengan izin suami, hendaknya dengan menyamar dan
mengenakan pakaian yang tidak baik.Carilah tempat yang sepi. Bukan
jalan umum atau pasar. Juga menjaga dirinya jangan sampai orang lain
mendengar suaranya atau melihat postur tubuhnya. Dan tidak boleh
memperlihatkan dirinya pada keluarga dan famili suaminya (Busthomi,
2000: 44).
Hendaknya seorang istri tidak keluar rumah kecuali dengan izin
suaminya. Apabila istri melakukannya, maka Allah dan malaikatmalaikat-Nya melaknati sang istri sampai ia bertobat dan kembali
kepada suaminya meskipun suami berbuat aniaya. Dan hendaknya istri
tidak memasukkan sesorang yang tidak disukai suaminya kecuali dengan
izin suaminya (Hamid, 1966: 170).
11. Terhapusnya Amal Seorang Istri

Maksudnya wanita itu mengingkari suaminya sehingga segala amal


kebaikanya dilenyapkan oleh Allah, dan rusaknya amal itu sebagai
balasan kepada istri. Artinya, pahala Allah itu terhalang. Kecuali ketika
ia kembali mengikuti kebaikan suaminya. Demikian kalau memang
ucapanya itu benar.Istri tidak boleh disela sebagaimana ucapan bidak
kepada tuanya.
Rasulullah SAW. Bersabda:

Artinya: Wanita yang meminta suaminya menolak tanpa ada alasan


yang mendesak, maka haram baginya bau surga. (HR.Abu Dawud, t.t,
juz. 2: 268).
Ibnu Ruslan berkata, andaikan suami takut bahwa itu tidak dapat
melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum Allah yang sesuai dengan
kewajibannya, seperti baiknya mempergauli, karena istri benci kepada
suami atau karena sumai membahayakannya, maka wanita itu terhalang,
tidak dapat memperoleh bau surga.Kalau wanita itu sangat sengsara
karena benci kepada suaminya, sebab suaminya tidak pernah
mengurusnya, maka yang demikian itu tidak haram istri minta cerai.
(Busthomi. 2000: 50-52).
12. Wanita-Wanita Ahli Surga
Menurut Ssyaikh Nawawi diantara wanita yang ada di surga nanti
adalah wanita yang mempunyai sifat malu, kalu ditinggal pergi
suaminya, ia menjaga diri dan harta suaminya. Termasuk wanita yang di

surga adalah wanita yang ditinggal mati suaminya dengan meninggalkan


anak-anaknya yang masih kecil sebagai anak yatim. Lalu wanita itu
memelihara, mangasuh dan mendidik mereka dengan baik. Ia pun selalu
bersikap baik kepada anak-anaknya dan tidak akan kawin lagi kaena
hawatir menyia-nyiakan anaknya (Busthomi, 2000: 57-58).
13. Wanita-Wanita Ahli Neraka
Selanjutnya, Syaikh Nawawi menjelaskan didalam kitabnya
wanita-wanita yang masuk neraka, diantaranya adalah:
a. Wanita yang lancang mulutnya terhadap suamin, dan jika suami
pergi ia tidak menjaga dirinya, sedangkan jika suami sirumah ia
selalu menyakiti hatinya.
b. Wanita yang memaksa-maksa menuntut suaminya yang ia tidak
mampu memenuhinya.
c. Eanita yang tidak menutupi dirinya denga lelaki lain dan ia keluar
dari rumahnya dengan berhias dan bersolek serta menampakkan
kecantikannya kepada lelaki lain (Busthomi, 2000:59-60).
14. Kewajiban Istri terhadap Suami
Dalam kitab tersebut Rasululah SAW bersabda, sesungguhnya
sebagian hak-hak suami kepada istri adalah:
a. Apabila suami membutuhkan diri istrinya sekalipun istri sedang
berada di punggung unta, ia tidak boleh menolak.

b. Istri tidak boleh memberikan apa saja dari rumah suaminya jika tidak
mendapat izin suaminya. Kalau istri memberikan sesuatu tanpa
izinnya, maka istri berdosa dan suami mendapatkan pahala.
c. Istri tidak boleh berpuasa jika tidak mendapatkan izin suaminya,
karena ia hanya akan merasakan letih dan dahaga, sedangkan
puasanya tidak akan diterima Allah.
d. Jika istri keluar dari rumah tanpa izin suaminya, maka ia mendapat
laknat dari para malaikat hingga ia kembali kerumahnya dan
bertaubat (Busthomi, 2000: 61).
15. Siksaan Wanita di Neraka
Sayidina Ali karramallaahu wajhah datang kepada Nabi SAW.
Bersama Fatimah. Tiba-tiba mereka menjumpai beliau sedang menangis
dengan tangisan yang sangat. Ali pun bertanya kepada beliau, Ayah dan
ibuku menjadi tebusan wahai Rasulullah. Maksudnya, kesusahan dan
tangisanmu akan saya tebus dengan ayah dan ibu saya, karena saya
sangat mencintaimu. Apa yang menjadikan engkau menangis?
Rasulullah bersabda, Wahai Ali, ketika diperjalanan ke langit, aku
melihat para wanita dari umatku di siksa di neraka jahanam dengan
berbagai macam siksaan.Maka saya menangis karena melihat bertanya
siksaan mereka itu.
Kemudian
sabdanya:

beliau

menjelaskan

secara

keseluruhan

dengan

a. Aku melihat seorang wanita yang digantung dengan rambut dan


otaknya mendidih.
b. Aku melihat seorang wanita yang digantung dengan lidahnya, lalu
air mendidih yang sangat panas dituangkan pada tenggorokannya.
c. Aku melihat wanita yang digantung dengan puting susunya, dan
kedua tanganya diikat pada ubun-ubunnya, lalu Allah menguasakan
padanya ular-ular dan kalajengking (untuk menyiksanya).
d. Aku melihat wanita dimana kepalanya seperti kepala babi dan
tubuhnya seperti tubuh keledai, dan ia dihadapkan beribu-ribu
siksaan.
e. Aku melihat seorang wanita dengan bentuk rupa anjing, sedangkan
api masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya, lalu para
malaikat memukuli kepalanya dengan palu-palu dari api.
Ringkasnya, suami terhadap istri dalam rumah tangga adalah ibarat
orang tua terhadap anaknya.Karena ketaatan anak kepada orang tua dan
mencari kedidhaannya adalah wajib, dan yang demikian itu tidak wajib
bagi suami (Busthomi, 2000: 61-62).
D. Keutamaan Shalat Wanita di Rumahnya
1. Shalat di Masjid dan di Rumah
Syaikh Nawawi mendasarkan pada suatu hadis pada masalah
sholat di masjid dan di rumah bagi wanita, Rasulullah SAW
bersabda:

Artinya: Shalat wanita di rumahnya lebih utama dari shalat


diruangan rumahnya, dan shalatnya dikamar lebih utama daripada
shalatnya di rumahnya. (HR. Abu Dawud, t.t,juz. 1: 156).

2. Penampilan Wanita
Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa pada suatu hari
Rasulullah SAW. Duduk di masjid, kemudian ada seorang wanita
dari dusun Muzirah masuk masjid dengan memanjangkan pakainya
dan menpakkan perhiasannya. Maka Nabi SAW bersabda:

Artinya: Wahai sekalian manusia, laranglah wanita-wanita berhias


dan bergaya di masjid, karena Bani Israil itu tidak dikutuk
melainkan mereka memperhias wanita-wanitanya dan berjalan
dengan bergaya di masjid (HR. Ibnu Majah).

Wanita masuk neraka itu sebagian besar karena sedikitnya


ketaatan mereka kepada Allah, rasul dan Suaminya. Mereka juga
memperlihatkan perhiasanya, mengingkari suaminya.Dan tidak mau
bersabda dalam menghadapai berbagai cobaan.
Perempuan menaggalkan pakaian, menampakkan kecantikanya
berarti mengalahkan sifat khususnya perempuan, yaitu malu dan
terhormat, berarti menghancurkan sifat kemanusiaannya yang luhur.

Tidak ada yang membersihkan kotoran yang melekat pada diri


perempuan yang tidak punya rasa sifat malu ini selain neraka
jahannam (Said, 2002: 198).

3. Aurat Wanita
Yang dimaksud menampakkan perhiasanya adalah bahwa
wanita itu keluar dari rumahnya dengan mengenakan pakaian yang
indah-indah bersolek mempercantik diri, dan keluar dengan
membuat fitnah morang lain dengan menarik perhatian dan memikat
orang lain, sehingga ia jatuh cinta pada dirinya. Kalau diri wanita itu
selamat dan aman, namun lelaki lain justru tidak selamat dari fitnah,
oleh karenanya Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: Wanita adalah aurat, maka jika ia keluar dari rumahnya,


ia diawasisetan, dan wanita yang paling dekat kepada Allah adalah
apabila wanita itu berada dalam rumahnya. (HR.Tirmidzi,
1384,juz. 2: 319).
Hadis tersebut menjelaskan bahwa wanita adalah aurat, karena
termasuk kotor jika menampakkan diri pada lelaki lain, jika ia keluar
dari rumahnya diintai setan, akan disesatkan lalu dijerumuskan, dan
jatuh ke hurang fitnah, sekalipun setan itu berupa manusia karena
serupa dengan ketakutanya. Sedangkan wanita yang paling dekat
kepada Allah adalah apabila ia berada di rumahnya.

Dalam berpakaian disunahkan berniat untuk menutupi aurat.


Karena Allah memerintahkan untuk menutupi aurat.Janganlah
berpakaian dengan pakaian yang terlalu bagus atau terlalu buruk.
Berpakaianlah dengan pakaian yang bernilai sedang (Said, 2002:
94).
4. Larangan Berhias Wanita ketika Keluar Rumah
Hatim Al-Asham berkata, wanita shalehah menjadi tiang
agama dan kemakmuran rumah tangga serta dapat membantu
ketaatan terhadap suaminya. Apabila wanita yang ingkar terhadap
aturan hidupnya, dapat membuat hancur hati suami, sedang ia sendiri
tertawa.
Abdullah bin Umae juga berkata: Tanda wanita ahli neraka
adalah

tertawa

jika

berhadapan

dengan

suaminya

dan

mengkhianatinya apabila suami membelakangi.


Hatim Al-Asham berkata bahwa diantara tanda-tanda wanita
salehah adalah:
1. Mencintai suaminya karena takut kepada Allah
2. Merasa cukup dan menerima pemberian Allah
3. Perhiasannya berupa sifat sosial dan pemurah atas harta yang
dimiliki.
4. Ibadahnya berbuat baik dan berkhidmat kepada suami.
5. Cita-citannya bersiap-siap menghadapi mati.

Termasuk dosa besar adalah keluarnya wanita yang telah


bersuami tanpa seizin suaminya, sekalipun karena matinya salah
seorang dari kedua orang tuanya untuk menghormati jenazahnya
(Busthomi, 2000: 75-76).
5. Pesan-Pesan bagi Wanita
Ada seorang wanita menyampaikan beberapa pesan kepada
putrinya, Peliharalah sepuluh perkara ini, dan menjadi tabungan
kekayaan yang akan bermanfaat bagimu:
a. Hendaknya bersifat qanaah, merasa cukup atas pemberian Allah.
b. Hendaknya selalu memperhatikan dengan baik dan menaati
suaminya.
c. Meneliti jatuhnya pandangan suami, maksudnya jangan sampai
suamimu melihatmu sedang berbuat kejahatan.
d. Meneliti jatuhnya hidung suamimu mencimum bau, artinya jangan
sampai suamimu mencium bau yang tidak enak dari tubuhmu.
e. Meneliti waktu makannya sumai, karena rasa sangat lapar itu
menjadikan berkobarnya hati.
f. Meneliti waktu tidurnya suami,

karena sulitnya tirud dapat

menjadikan marah-marah.
g. Menjaga harta suami
h. Menjaga hubungan baik dengan keluarga dan famili suami.
i. Jangan mengingkari dan mendurhakai perintah suami, karena jika
kamu mendurhakai dan mendurhakai perintah suami, karena jika kau

mendurhakai perintah suamimu, niscaya dapat menyempitkan hati


suami.
j. Jangan menmyiarkan rahasia suami. Sebab, jika kamu menyiarkan
rahasia suami maka kamu pasti tidak aman dari mengkhianati suami.
Kemudian berhati-hatilah jangan sampai kamu bersenang-senang
dihadapan sumai yang sedang duka hatinya, dan kamu tida boleh
menampakkan kesusahan dihadapan suami yang sedang merasa
senang (Busthomi, 2000: 76-77).
Ketahuilah bahwa pelantara lahirnya anak itu merupakan satu
kebaktian berdasarkan empat alasan:
1. Sesuai yang dicintai Allah, yaitu menghasilkan anak, untuk
mengekalkan jenis manusia.
2. Mencari kecintaan Rasul SAW. dengan memperbanyak orang
yang dibanggakanya pada hari kiamat.
3. Mencari keberkahan Allah sebab doa anak saleh sesudah
ditinggal mati.
4. Mencari syafaat karena matinya anak kecil, kia ia mati sebelum
orang taunya (Busthomi, 2000: 79-80).
E. Larangan Melihat Lawan jenis
1. Pandangan antara Laki-Laki dan Wanita
Allah SWT. berfirmandalam QS. Al-Ahzab: 53:


Artinya: Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada
mereka (Isteri-isteri nabi. Maka mintalah belakang tabir.

Dan juga dalam QS. An-Nur: 30-31:

Artinya: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman :


Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara
kemaulannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.
Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaknya mereka
menahan pandangannya, dan kemaluannya.

Hendaklah para istri merasa malu memandangi lelaki lain dan


menunduk bila berpapasan di jalan. Begitu pula para suami yang suka
memandang perempuan lain, semisal ia suka melirik kanan-kiri hingga
terkadang jatuh karena tidak melihat jalan. Ini merupakan ujian Allah
SWT (Sufyan. 2007: 68).
Lelaki tidak boleh memandang wanita, dan wanita tidak boleh
memandang lelaki. Dimana lelaki wajib memejamkan matanya, yaitu
memelihara matanya dari memandang wanita, sebagaimana disebutkan
Imam Ibnu Hajar dalam kitab Az-Zawajir. Lelaki dan perempuan tidak
boleh saling berjabat tangan dan saling menyentuh antara kedua dan
yang semacamnya. Sebab yang haram dipandang itu juga haram
disentuh, karena menyentuh itu lebih kuat dan menimbulkan rasa
wanita lalu mengeluarkan sperma, mala batallah puasanya. Demikian
disebutkan dalam kitab Nihayah penjelasan kitab Ghayah.

Berjabat tangna dengan lain jenis dengan dapat menggetarkan


birahi. Dan ketika dirasakan adanya sentuhan kenikmatan, tentu bisa
mempunyai kebiasaan suka mengintai wanita, hendaklah dinasehati
(Iqbal, 2003: 129).
2. Tabarruj
Ketahulilah di zaman sekarang ini banyak para wanita yang
menampakkan perhiasannya, mereka berhias diri dan bersolek serta
memperlihatkan kecantikannya kepada para lelaki, mereka hampir
tidak mempunyai rasa malu, mereka berjalan diantara para lelaki,
mereka hampir tidak mempunyai rasa malu, mereka berjalan diantara
para lelaki. Itulah yang dinamakan tabarruj. Sebagaimana dikatakan
para Mujahid. Wanita-wanita sekarang berjalan dengan bergaya
lengak-lenggok seperti yang dikemukakan Imam Mujahid dan Qatadah
dalam menjelaskan pengerian Tabrruj. Mereka secara terang-terangan
berjalan diantara lelaki di pasar-pasar, di masjid-masijd diantara
barisan-barisan shalat, terutama disiang hari. Di malam hari, mereka
mendekati

tempat-tempat

yang

terang

untuk

memperlihatkan

perhiasannya pada orang banyak.


Sementara ulama berkata, kalau wanita telah melakukan tiga
perkara ini, maka ia disebut qahbah, artinya wanita yang menjadi
penyanyi, wanita fasik dan pezina.Ketiga perkara itu sebagai berikut:
a. Keluar disiang hari dengan bersolek menampakkan perhiasan dan
kecantikannya serta berjalan diantara lelaki.

b. Memandangnya wanita kepada lelaki lain.


c. Mengeraskan suaranya hingga terdengar lelaki lain, sekalipun ia
wanita salehah, karena menyerupakan dirinya dengan wanita jelek
(khabitsah).
Kata jelek disini tidak memandang pengertian memaki.Karena
kata khabitsah wanite jelek dijadikan seperti alam laqab (Busthomi,
2000: 88-89).
Islam mengharamkan tabarruj karena teramsuk perbuatan
jahiliyyah.Islam

menggantinya

dengan

pakaian

yang

sopan,

sebagaimana yang ditetapkan Allah dalam QS. Al-Ahzab: 59:




Artinya: Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak
perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: hendaklah mereka
mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu
supaya mereka lebih muedah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak
diganggu. Dan Allah adalah Maha Pegnempun lagi Maha
Penyayang. (Said, 2002: 195).
3. Diperbolehkannya Wanita Keluar Rumah

Rasulullah mengizinkan para wanita keluar dari rumah


khususnya pada waktu shalat hari raya. Dibolehkan keluar bagi wanita
yang dapat memelihara diri dan diizinkan suami.
Wanita itu sebaiknya tidak keluar jika tidak ada keperluan yang
amat penting. Jika ia keluar sebaiknya memejamkan pandangannya
terhadap lelaki lain. Kami tidak mengatakan kalau muka lelaki, tetapi
muka lelalaki itu bagi wanita sebagaimana muka wanita bagi lelaki,
tetapi muka lelaki itu bagi wanita bagai muka anak kecil yang tampan.
Maka haram melihat jika takut menimbulkan fitnah. Apabila tidak
menimbuulkan fitnah, maka tidak haram. Sebab sejak zaman dahulu
para lelaki itu terbuka mukanya, sedangkan para wanita tetap mnutup
mukanya. Kalau muka lelaki itu merupakan aurat bagi wanita, tentu
diperintah menutup mukanya, atau dilarang kecuali karena darurat
(Bushtomi, 2000: 90).

BAB IV
PEMBAHASAN

C. Tinjauan Pendidikan Islam


1. Definisi Pendidikan Islam
Menurut kamus bahasa Arab, lafadz at-Tayibah berasal dari tiga
kata:
Pertama: raba yarbu yang berarti: bertambah dan tumbuh
Kedua: rabiya yarba yang berarti: menjadi besar.
Ketiga : rabba yarubbu yang brarti: memperbaiki, menguasai urusan,
menuntun, menjaga dan memelihara (Abdurrahman, 1996: 30-31).
2. Hakikat Pendidikan
Hekikat pendidikan adalah usaha orang dewasa secara sadar
untuk

membimbing

dan

mengembangkan

kepribadian

serta

kemampuan dasar anak didik baik dalam bentuk formil dan nonformil.
Jadi dengan kata lain, pendidikan pada hakikatnya adalah ikhtiar
manusia untuk membantu dan mengarahkan fitrah manusia supaya
berkembang sampai kepada titik maksimal yang adapat dicapai sesuai
dengan tujuan yang dicita-citakan (Arifin, 1977: 12).
3. Hubungan antara Islam dengan Pendidikan
Agama Islam adalah agama yang di dalamnya terdapat syariat
Allah yang diturunkan kepada umat manusia agar mereka beribadah

kepada-Nya di muka bumi. Pelaksanaan syariat ini menuntut adanya


pendidikan pada manusia, sehingga dia pantas untuk memikul amanat
dan menjalankan khilafah. Pendidikan yang dimaksud adalah
pendidikan Islam.
Syariat Islam hanya dapat dilaksanakan dengan mendidik diri,
gengerasi dan masyarakat supaya beriman dan tunduk kepada Allah
semata serta selalu mengingat-Nya. Oleh sebab itu, pendidikan Islam
menjadi kewajiban orang tua dan guru disamping menjadi amanat
yang harus dipikul oleh satu generasi untuk disampaikan kepada
generasi berikutnya dan dijalankan oleh para pendidik dalam mendidik
anak-anak. Barang siapa menghianati amanat ini, menyimpang dari
tujuannya, menyalah tafsirkannya, atau mengubah kandunganya, maka
nerakalah baginya (Abdurrahman, 1996: 37-38).
D. Konteks Sosial Syaikh Nawawi Ketika Menulis Kitab Uqudullijain
Pada usia 15 tahun Syaikh Nawawi pergi menunaikan ibadah haji
ke Makkah dan bermukim di sana selama 3 bulan. Di Makkah ia
belajar pada beberapa orang Syaikh yang bertempat tinggal di Masjidil
Haram, seperti Syaikh Ahmad Nawawi, Syaikh Ahmad Dimyati, dan
Syaikh Ahmad Zaini Dahlan. Ia juga pernah belajar di Madinah di
bawah bimbingan Syaikh Muhammad Khatib Al- Hanbali.
Sekitar tahun 1248 H/1831 M, ia kembali ke Indonesia. Di
tempat kelahiranya ia membina pesantren peninggalan orang tuanya.

Karena situasi politik yang tidak menguntungkan, ia kembali ke


Makkah setelah 3 tahun berada di Tanara dan meneruskan belajarnya
di sana. Sejak keberangkatanya yang kedua kalinya, Syaikh Nawawi
tidak pernah kembali di Indonesia.Ia menetap disana hingga akhir
hayatnya. Ia meninggal pada tanggal 25 Syawal 1314 H atau tahun
1897 M. Ia wafat dalam usianya yang ke-84 tahun di tempat
kediamanya yang terakhir yaitu kampung Syiib Ali Makkah (Depag,
1992:423)
Dari sejarah perjalanan hidup beliau ketika pemberangkatan
keduakalinya beliau di makkah dan selama itu juga tidak kembali ke
Indonesia lagi sampai akhir hayat beliau. Beliau berangkat yang kedua
pada tahun 1834 M sedangkan penulisan kitab Uqudullijain tahun
1894 M menegaskan bahwa kitab ini tidak di tulis di Indonesia tetapi
ditulis di Makkah.
Keadaan sosial ketika Syaikh Nawawi

menulis kitab

Uqudullijain berkembang dalam segi keilmuan islam. Ini terbukti


dengan sibuknya Syaikh Nawawi dalam mengajar mirid-murid beliau
dari berbagai negara, dan kitab-kitab karya beliau yang sangat banyak.
E. Analisis Konsep Pendidikan Keluarga Sakinah Tangga menurut
Syaikh Nawawi dalam Kitab Uqudullijain
Analisis di sini sama sekali tidak dimaksudkan sebagai koreksi atau
pemberintakan terhadap siapapun. Kehadirannya didasari pada kontek

zaman bahwa kebenaran pada suatu pemikiran akan diperoleh jika


senantiasa dihadapkan dengan realitas kehidupan sosial khususnya di
Indonesia. Kita tidak akan tahu apakah kebenaran tersebut dapat
diterapkan untuk rentang waktu lama dan mampu menjawab persoalanpersoalan yang muncul. Analisis yang pertama dimulai dari bagian
pertama yang telah disebutkan dalam bab tiga yaitu tentang kedudukan
seorang istri di mata suami.
Menurut Syaikh Nawawi kedudukan seorang istri dimata suami itu
sedikit lebih rendah, dengan alasan karena kaum laki-laki sebagai
pemimpin bagi kaum wanita. Maksudnya, bahwa kaum laki-laki harus
menguasai dan mengurus keperluan istri termasuk mendidik budi pekerti
mereka. Allah melebihkan kaum laki-laki atas kaum wanita karena
tanggung jawab laki-laki (suami) memberikan harta kepada kaum wanita
(isteri) dalam pernikahan, seperti maskawin dan nafkah.
Syaikh Nawawi mendasarkan hal itu dengan firman Allah dalam QS. AlBaqarah: 228:


Artinya: Dan mereka mempunyai hak yang seimbang dengan
kewajibannya menurut cara yang maruf. Akan tetapi Para suami,
mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.

Pendapat Syaikh Muhammad Nawawi tersebut dapat dianalisis


dengan pendapat para ulama Indonesia sekarang bahwa wanita dalam
Islam mendapat tempat yang mulia tidak seperti dituduhkan oleh

sebagian masyarakat, bahwa Islam tidak menempatkan wanita sebagai


subordinat dalam tatanan kehidupan masyarakat. Kedudukan mulai kaum
wanita itu ditegaskan dalam banyak hadist, Rasulullah SAW. bersabda
yang artinya: Surga berada di bawah telapak kaki ibu.
Dari kutipan sebuah hadist diatas terbukti bahwa seorang ibu
ternyata juga mempunyai tanggung jawab besar terhadap keluarganya,
dimulai dari mengurus keluarga, melayani suami, mengandung seorang
anak, melahirkan seorang anak yang itu membutuhkan tenaga besar
bahkan

sampai

nyawa

taruhannya,

menyusui,

mendidik,

dan

membesarkan anaknya. Sementara suami hanya mencanari nafkah saja.


Bahkan di zaman sekarang tidak sedikit wanita yang rela mengucurkan
keringatnya untuk bekerja demi keluarganya, sampai-sampai banyak
wanita yang rela bekerja ke luar negeri semata-mata ingin anaknya
sekolah dan tercukupi kebutuhan keluarganya sehari-hari, karena hasil
pencarian nafkah suami dirasakan kurang mencukupi kebutuhan keluarga,
bahkan untuk kebutuhan makan sehari-hari saja kurang cukup.
Islam memberikan hak yang sama dengan laki-laki untuk
memberikan pengabdian yang sama kepada agama, nusa, bangsa dan
negara. Ini ditegaskan firman Allah dalam QS. Ali Imran: 195:

Artinya: Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan


berfirman): Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang
yang beramal diantara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena)
sebagaian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.

Maksudnya sebagaimana laki-laki berasal dari laki-laki dan


perempuan, Maka demikian pula halnya perempuan berasal dari laki-laki
dan perempuan. Keduanya sama-sama manusia, tak ada kelebihan yang
satu dari yang lain tentang penilaian iman dan amalnya (Djamaluddin,
2004: 624-625).
Dari ayat diatas adalah sebuah realita pengakuan Islam terhadap
hak-hak wanita secara umum dan anugerah kemuliaan dari Allah SWT.
Persoalan yang muncul kemudian bahwa sekalipun Islam telah mendasari
penyadaran integratif tentang wanita tidak berbeda dalam beberapa hal
dengan laki-laki, pada kenyataannya prinsi-prinsip Islam tentang wanita
tersebut telah mengalami distorsi. Kita tidak bisa menutup mata bahwa
masih banyak manusia yang mencoba mengingkari kelebihan yang
dianugerahkan Allah SWT. kepada wanita (Djamaluddin, 2004: 626).
Dari situlah tampak jelas bahwa kedudukan wanita tiada bedanya,
suami istri sama-sama mempunyai tanggung jawab besar dalam keluarga
sesuai penuturan ayat Al-Quran dan hadis di atas, tapi Syaikh Nawawi
tetap menggunakan dalil QS. Al-Baqarah ayat 228, yang memposisikan
iteri lebih rendah dari suami.
Pembahasan selanjutnya mengenai pendapat Syaikh Nawawi
tentang ketaatan isteri terhadap suami yang mengibarakan seperti

ketaatan seorang anak terhadap orang tuanya yang telah disebutkan dalam
bab tiga. Suami merupakan penjaga, penanggung jawab, pemimpin, dan
pendidik kaum perempuan tentu mendapatkan hak untuk ditaati segala
perintahnya kecuali kemaksiatan. Padahal pendapat yang bercorak
demikian pada dasarnya berhubungan dengan situasi sisio-kultural waktu
Nawawi mengarang kitab Uqudullijain sangat merendahkan kedudukan
kaum perempuan. Dalam hal ini Nawawi mengambil dalil dari firman
Allah SWT. QS. An-Nisa: 34:







Artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita,oleh
Karena Allah Telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas
sebagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah
menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang
saleh, ialah yang taat kepada Alah lagi memelihara diri ketika suaminya
tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (meraka), wanita-wanita
yangn kamu khawatrikan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan
pisahkanlah mereka di tempat tidu mereka, dan pukullah mereka.
Kemudian jika mereka mentaatimul, maka janganlah kami mencanri-cari

jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi


Maha Besar.

Pendapat Nawawi tersebut dapat kita cermati dengan pendapat


beberapa Ulama bahwa dalam menafsirkan ayat Qowwamuna berbeda
dengan penafsiran Nawawi, antara lain:
1. Menurut Fazlur Rohman, laki-laki adalah bertanggung jawab atas
perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian
yang lain karena mereka (laki-laki) memberi nafkah atas sebagian
hartanya, bukanlah hakiki melainkan fungsional, artinya jika seorang istri
dibidang ekonomi dapat berdiri sendiri dan memberikan sumbangan bagi
kepentingan keluarga, maka keunggulan suaminya akan berkurang.
2. Aminah Wadud Muhsin yang sejalan dengan Fazlur Rahman menyatakan
bahwa, superioritas itu melekat pada setiap laki-laki Qowwamuna atas
perempuan, tidak dimaksudkan superior itu secara otomatis melekat pada
setiap laki-laki, sebab hal itu hanya terjadi secara fungsional yaitu selama
yang bersangkutan memenuhi kriteria Al-Quran yaitu memiliki
kelebihan dan memberikan nafkah. Ayat tersebut tidak menyebut semua
laki-laki otomatis lebih utama dari perempuan.
3. Ashgar Ali Engineer berpendapat bahwa Qowwamuna disebutkan sebagai
pengakuan bahwa, dalam realitas sejarah kaum perempuan pada masa itu
sangat rendah dan pekerjaan domestik dianggap sebagai kewajiban,
sementara laki-laki menganggap dirinya unggul karena kekuasaan dan
kemampuan

mencari

dan

memberikannya

kepada

perempuan.

Qowwamuna merupakan pernyataan kontekstual bukan normatif.


Seandainya Al-Quran menghendaki laki-laki sebagai qowwamuna
redaksinya akan menggunakan pernyataan normatif dan pasti mengikat
semua

perempuan

dan

semua

keadaan,

tetapi

Al-Quran

tidak

menghendaki seperti itu.


Demikianlah diantara berbagai penafsiran tekstual dan penafsir
kontemporer terhadap QS. An-Nisa: 34. Sehingga kalau dihadapkan
dengan realitas yang ada, maka terlihat sekarang posisi kaum laki-laki
atas perempuan bersifat relatif tergantung pada kualitas masing-masing
individu. Jadi ketaan istri terhadap suami bukan merupakan keharusan,
tergantung pada kenyataan dan kebutuhan yang ada dalam keluarga
(Istibsyaroh, 2004: 1909-110).
Bahasan selanjutnya mengenai pendapat Nawawi tentang kebebasan
wantia keluar dari rumahnya. Menurut pendapat Nawawi bahwa seorang
wanita itu dilarang kelaur rumah tanpa seizin suaminya karena
dikhawatirkan menimbulkan fitnah, bahkan shalat wanita pun harus di
rumah dengan alasan menimbulkan fitnah. Nawawi mendasarkan
pendapat ini dengan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW. yang artinya
artinya: Wanita adalah aurat, maka jika ia keluar dari rumahnya, ia
diawasi setan, dan wanita yang paling dekat kepada Allah adalah
apabila wanita itu berada dalam rumahnya. (HR. Tirmidzi, 1381, juz
2:319).

Pendapat tersebut dapat kita teliti dengan realita zaman sekarang.


Dimana sudah tidak jarang lagi di zaman sekarang wanita-wanita
menyibukkan diri di luar rumah entah itu bekerja, berlibur, berbelanja ke
toko-toko besar atau untuk mencari ilmu pendidikan umum dan agama di
pondok pesantren, madrasah, sekolah umum, maupun ditempat pengajian.
Perintah menuntut ilmu pengetahuan atau belajar tidak hanya
kepada kaum laki-laki tetapi kepada kaum perempuan. Masing-masing
berhak memperoleh berbagai ilmu, memperoleh ilmu pengetahuan
merupakan elemen esensial untuk meningkatan martabat perempuan
sehingga ia dapat menyempurnakan dirinya sendiri, kemudian dapat
mengembangkan potensi kemanusiannya (Istibsyaroh, 2004: 81).
Kepergian wantia untuk menuntut ilmu, Rasululah SAW besabda
yang artinya: menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim
Hadis di atas itu sahih, tanpa ada kata wamuslimatin. Tetapi
meskipun kata muslimah tidka disebutkan termasuk juga di dalamnya
muslimah atau perempuan Islam. Apabila menuntut ilmu itu wajib bagi
laki-laki, maka wajib pula bagi kaum perempuan, maksudnya ilmu-ilmu
yang wajib diketahui oleh kaum perempuan. Ilmu apa saja, para Fuqaha
mengatakan: Apabila ilmu itu wajib diketahui oleh kaum perempuan,
maka suami berkewajiban mengajarnya. Kalau tidak dapat, maka istri
berkewajiban mencari ilmu agama ke majelis-majelis talim meskipun
tanpa izin suaminya (Agus, 200 : 191-192).

Islam juga mengizinkan wanita keluar rumah, turut berjihat


dimedan perang memerangi musuh, merawat yang cidera, serta
memberikan pelayanan makan dan minum. Imam Bukhari dan Ahmad
mengetengahkan sebuah hadis yang diriwayatkan dari Rabi binti Masud
yang mengatakan : Kami turut berperang bersama Rasulullah,
mmberikan minum dan membawa para korban yang cedera menuju
Madinah. (Iqbal, 2004: 111).
Pekerjaan yang ada sekarang tidak semua terdapat pada masa Nabi.
Namun sebagian ulama menyimpulkan bahwa Islam membenarkan
perempuan aktif dalam berbagai kegiatan atau secara mandiri atau
bersama orang lain selama pekerjaan tersebut dilakukan dalam suasana
terhormat, sopan seta dapat memelihara agamanya dan dapat pula
menghilangkan dampak negatif pekerjaan tersebut terhadap diri dan
lingkungannya. Atau dengan perkataan lain, yaitu perempuan mempunyai
hak untuk bekerja selama ia membutuhkannya dan selama norma-norma
agama dan susila tetap terpelihara. QS. An-Nisa: 32:

Artinya: Dan janganlahkamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan


Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.
)Karena) bagi orang laki-laki ada bagiandari pada apa yang mereka
usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagiand ari apa yang mereka
usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.
Sesungguhnya Allah Maga Mengetahui segala sesuatu.
Al-Syarawi menegaskan: Apabila seorang istri berkeinginan
mengangkat derajat kehidupan keluarga, dibolehkan bekerja dengan
syarat pekerjaan yang diambil tidak melalaikan tugas domestik sebagai
istri dan ibu, dan juga pekerjaan ini tidak diklaim sebagai peran dominan
bagi seorang istri (Istibsyaroh, 2004: 161-164).
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, Al-Syarawi tidak
melarang perempuan bekerja di luar rumah. Tetapi tugas utama
perempuan adalah pekerjaan di rumah, mendidik anak, serta menjadi
tempat berteduh suami di rumah.
Menurut penulis, pekerjaan di rumah tidak hanya tugas perempuan
atau istri, tetapi dijalankan bersama-sama antara istri dan suami. Apalagi
masalah mendidik anak, karena anak tidak hanya mengharapkan uluran
tangan dari ibu saja, juga dari bapak. Demikian juga ketenangan dalam
keluarga tercipta kalau suami-istri saling mengerti dan memahami, bukan
hanya dibebankan kepada istri.
Jadi keluarnya istri untuk memenuhi kebutuhan tidak ada larangan
baik itu untuk mencari ilmu, bekerja, ke Masjid sekalipun itu waktu
malam, karena berdasar hadist Nabi Muhammad SAW. yang artinya:

Janganlah kamu semua melarang perempuan keluar untuk ke masjid di


waktu malam hari (HR. Muslim,: t, juz. 1:187).
Pembahasan berikutnya mengenai Syaikh Nawawi dalam kitabnya
menyuruh menjaga pandangan terhadap lawan jenis karena dari
pandangan dapat menimbulkan birahi sehingga terjadi fitnah karena
anggota badan wanita merupakan aurat. Nawawi mendasarkan hal itu
dengan QS. Al-Ahzab: 53:


Artinya: Apabila kamu meminta sesuai (keperluan) kepada mereka
(isteri-isteri Nabi). Maka mintalah dari belakang tabir.

Dan juga pada firman Allah QS. An-Nur: 30-31:

Artinya: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah


mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang
demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, sesungguhya Allah Maha
Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang
beriman: Hendaklah merka manahan pandangannya, dan
kemaluannya.

F. Relevansi pendapat Syaikh Nawawi dalam kitab Uqudullijain dengan


realitas keluarga muslim sekarang di Indonesia.
Setelah kita mengetahui pendidikan keluarga sakinah yang ditawarkan
Syaikh Nawawi tertentu kita dapat menyimpulkan bagaimana apabila kita
terapkan saat sekarang ini, penelitian ini tidak dimaksudkan sebagai
koreksi terhadap pendapat siapapun. Kahadirannya didasari pada
pemahaman bahwa setiap pemikiran memiliki kebenaran relatif sesuai
dengan realitas konteks zamannya. Kitab Uqudullijain karya Syaikh
Nawawi barang kali mempunyai relevansi secara penuh pada zamannya.
Namun seiring dengan perkembangan zamannnya. Namun seiring
perkembangan zaman, kebenaran relatif yang memiliki relevansi pada
zamannya, harus dilakukan penyesuaian agar tidak ketinggalan zaman
dan tetap relevan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah selesainya penelitian dan analisis ini penulis dapat menyimpulkan
sebagai berikut:
1. Pemikiran Syaikh Nawawi yang tertuang dalam kitab Uqudullijain
dikatakan

sangat

memperhatikan

pentingnya

mengetahui

dan

melaksanakan hak-hak suami istri dalam lingkup keluarga. Dengan


demikian masing-masing pribadi baik istri maupun suami akan sadar
terhadap apa yang sepatutnya dilaksanakan dalam kekeluargaan. Hal ini
dapat mengurangi tingkat permasalahan dalam keluarga supaya tidak
sampai pada perceraian.
2. Kontek sosial ketika Syaikh Nawawi menulis kitab Uqudullijain ini
dibidang keilmuan islam sangatlah berkembang. Hal terlihat akan macammacam keilmuan islam waktu itu, seperti tauhid, fikih, hadits, dan tafsir.
3. Bicara masalah relevansi maka suatu karya ilmiah apapun pasti
mempunyai relevansi, kitab uqudullijain penting untuk diajarkan zaman
sekarang karena di dalamnya terdapat aturan-aturan berkeluarga yang
penting, seperti mengenalkan akan hak-hak antara suami istri. Hal itu akan
dapat mempengaruhi akan apa yang sebaiknya dilakukan oleh masingmasing pihak. Aturan-aturan ini tidak main-main, karena aturan ini

langsung dirujuk dari dasar Al-Quran, hadits,

dan pendapat ulama.

Penulis yakini bahwa dasar itu sudah cukup jelas antara yang hak dan yang
batil. Dengan demikian umat islam dapat kembali pada ajran-ajaran Nabi
Muhammad SAW.
B. Saran-Saran
Berdasarkan penelitian ini, ada beberapa saran yang dikemukakan dalam
penelitian skripsi ini:
1. Perkembangan pikiran didalam Islam adalah merupakan suatu fenomena
wajar. Oleh sebab itu para Ulama intelektual dan cendekiawan Islam perlu
untuk membuka cakrawala pemikiran terhadap ide dan gagasan baru
dalam upaya untuk mengkaji kembali ajaran-ajaran Islam, sehingga
terdapat compabilitas antara Islam dan realitas kehidupan kekinian.
2. Penelitian ini masih tahap awal, sehinga diperlukan usaha lanjutan untuk
lebih memperkuat bangunan pemikiran Islam yang baru. Masih banyak
aspek penelitian yang diperlukan dalam mengkaji pemikiran tentang
wanita Islam. Seperti kajian gender dengan berbagai pendekatan yang
mungkin untuk dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Bukhori, Abi Abdillah Muhammad Bin Ismail. Matan Masykul Al-Bukhori.


Asia T.t: Syirkatun-Nur.
Ali, Mukti, dkk. 1988. Ensiklopedi Islam Di Indonesia. Jakarta: Depag RI.
Al-Mahalli, Abu Iqbal. 2003. Muslimah Modern. Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Al-Qosim, Abdul Malik. 2010. Istri
Tibyan.

Solehah

Anugrah Terindah. Solo: At-

An-Nawawi, Muhammad Bin Umar. Syarh Uqudullijain Fii Bayani Huquqiz


Zaujain, Maktbah Muhammad Bin Ahmad Nabhan. PT. Toha Putra.
An-Nawawi, Muhammad Bin Umar.Terjemah Syarah Uqudullijain Etika
Berumah Tangga, Terj. Drs. Afif Busthomi Dan Masyhuri Ikhwan.
Jakarta: Pustaka Amani.
Arikunto, Suharsini. 1980. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis.
Jakarta: BinaAksara.
Asad, Aliy. 1979. Terjemah Fathul Muin. Kudus: Menara Kudus.
At-Tirmidhi, Al-Imam Al-Hafidh Abi Isa Muhammadbin Isa Bin Sauroh. 1384 H.
Sunan At-Tirmidhi. Semarang: Thoha Putra
Depag RI. 1992. Al-Quran Dan Terjemahnya. Semarang: CV Asy-Syifa.
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: BalaiPustaka.
Dharara, Talizidulum. 1980. Research Teory, Metodologi Administrasi. Jakarta:
Bina Aksara.
Dhofier, Zamakhsyari. 1989. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup
Kyai. Jakarta: LP3ES
Hadi, Sutrisno. 1990. Metodologi Pesearch. Yogyakarta: Andi Offset.
http://www.jualdisurabaya.com/angka-penceraian-di-indonesia-naik-70-apasebabnya.html: Angka Perceraian di Indonesia.
Istibsyarah. 2004. Hak-Hak Perempuan Relasi Jender Menurut Tafsir
Syarofi. PT Mizan Publika.

Al-

Kisyik, Abdul Hamid. 1996. Bimbingan Islam Untuk Mencapai Keluarga


Sakinah. Bandung: Al-Bayan.

Leter, M. 1985. Rumah Tangga Muslim Dan Keluarga Berencana. Padang:


IKAPI.
Marimba, Ahmad . 1960. PengantarFilsafat Islam. Bandung: Al-Maafit .
Musthofa, Misbah. 1417 H. Terjemah Qurotul Uyun. Rembang: Al-Balagh.
Salim, Agus. 2002. Terjemah Risaltun Nikah. Jakarta: Pustaka Amani.
Soemargo, Soegono. 1983. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Nur Cahyo.
Soemargono, Soegiono.1983. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: NurCahya.
Sufyan, Ummu. 2007. Senerai Konflik Rumah Tangga. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

CURICULUM VITAE

Nama

: Sutoyo

Tempat Lahir : Kab. Semarang


Tanggal Lahir : 26 November 1987
Alamat

: Ds, jembrak ,Kec.Pabelan, Kab. Semarang

Motto

: Selalu berfikir positif, agar mendapat hasil yang positif

Pendidikan

:
1.

SDN 1 Jembrak Pabelan

2.

SLTPN 2 Pabelan

3.

MAN I Salatiga

4.

Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam


Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Salatiga