Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sering di temukannya ruang auditorium yang tidak memenuhi fungsi dan
tujuannya. Akibat dari kualitas akustik gedung yang buruk sehingga fungsi dari gedung itu
sendiri dalam penerapannya sangat kurang. Gedung Auditorium yang tidak memenuhi fungsi
sebagai mana mestinya , biasanya apabila ada suatu kegiatan di dalam gedung tersebut para
pendengar sebagian besar tidak dapat menangkap apa yang di sampaikan oleh pembawa acara
atau penyaji dalam acara tersebut. Hal ini di sebabkan kualitas penyebaran suara yang tidak
merata dan suara yang bercampur antara suara dari panggung dan suara para audience itu
sendiri.

1.2. Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan bagi
mahasiswa khususnya jurusan Teknik Sipil dalam pemahaman tentang aplikasi bunyi terhadap
bangunan (Auditorium). Sehingga dapat memahami syarat-syarat material, tata ruang dan letak
dari mebel dalam ruang Auditorium. Dan diharapkan bermanfaat bagi kita semua.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Bunyi
A. Definisi Bunyi
Definisi bunyi adalah gelombang longitudinal hasil dari suatu getaran yang dapat
merangsang indra pendengaran. Dalam perambatannya bunyi memerlukan medium. Energi bunyi
tersebut berasal dari benda yang bergetar, getaran yang merambat disebut gelombang. Bunyi
merupakan gelombang longitudinal. Mengapa bunyi dapat kita dengar ? Kita dapat mendengar
bunyi karena bunyi tersebut merambat dari sumber bunyi sampai telinga kita. Sumber bunyi yang
bergetar akan menggetarkan udara disekitarnya, selanjutnya molekul udara yang bergetar akan
menjalar sampai telinga kita. Getaran molekul udara membentuk rapatan dan regangan.
Ketika beduk dipukul, atau gitar di petik, senar gitar atau beduk tampak bergetar waktu
dibunyikan. Saat senar bergetar terdengarlah bunyi. Bunyi gitar akan melemah jika getarannya
melemah, akhirnya bunyi pun menghilang. Bunyi dapat terdengar bila :
1. ada benda yang bergetar ( sumber bunyi )
2. ada medium yang merambatkan bunyi, dan
3. ada penerima yang berada dalam jangkauan sumber bunyi

B. Pemantulan Bunyi
Bunyi termasuk gelombang dan salah satu sifat gelombang adalah dapat dipantulkan. Ketika
berteriak di dalam ruangan atau di depan tebing suara yang kita ucapkan akan terdengar kembali
meskipun lebih lemah daripada ucapan aslinya. Mengapa demikian ? Ketika berteriak di dalam
ruangan atau di depan tebing, bunyi yang merambat ketika sampai ke dinding mengalami
pemantulan sehingga berbalik ke arah kita. Pemantulan bunyi banyak manfaatnya dalam
kehidupan sehari hari seperti mengukur kedalaman laut, mengetahui kandungan ikan di bawah
laut, mengukur panjang lorong gua, atau menyelidiki kerusakan logam.

Jenis-Jenis Bunyi Pantul Terdapat beberapa jenis bunyi pantul yaitu, gaung, dan gema Gaung
adalah bunyi pantulan yang sebagian terdengar bersamaan dengan bunyi asli sehingga bunyi asli
menjadi tidak jelas. Sebagai contoh apabila kita mengucapkan kata fisika, kadang-kadang kita
mengengar bunyi pantulan sebelum seluruh suku kata selesai kita ucapkan. Dalam hal ini kita
mendengar dua macam suara yaitu suara asli dan suara pantulan.
C. Medium Rambat
Bunyi Dalam perambatannya bunyi memerlukan medium, jika kita berbicara dan orang lain dapat
mendengar, itu terjadi karena bunyi merambat melalui udara. Bunyi tidak dapat merambat di
ruang hampa. Oleh karena itu jika kita berada di bulan, kita tidak dapat mendengar bunyi dengan
jelas, dikarenakan tidak ada udara sebagai medium dalam perambatan bunyi. Gambar di samping
adalah sebuah percobaan tentang perambatan bunyi, bel yang dibunyikan tidak akan terdengar,
hal ini dikarenakan udara yang seharusnya sebagai media untuk merambatnya bunyi telah di
pompakan keluar, sehingga menjadi ruang hampa. Bunyi juga dapat merambat di benda padat
dan cair.
D. Cepat Rambat Bunyi
Untuk sampai ke telinga kita, bunyi memerlukan waktu, seberapa cepat sampainya bunyi
bergantung pada cepat rambat bunyi. Bunyi memiliki cepat rambat yang terbatas. Bunyi
memerlukan waktu untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Cepat rambat bunyi jauh
lebih kecil dibandingkan dengan kecepatan cahaya, hal ini dapat kita amati pada saat mendung
atau turun hujan. Pada saat terjadi petir kita melihat kilatan cahaya petir muncul terlebih dahulu
kemudian disusul bunyi gemuruh .Sebenarnya kilatan dan bunyi petir terjadi secara bersamaan,
tetapi karena cahaya meranbat jauh lebih besar dibandingkan bunyi maka cahaya sampai dikita
lebih dahulu dibandingakan bunyi
E. Tinggi Rendah Bunyi
Bunyi yang dihasilkan dari sumber bunyi menghasilkan frekuensi atau banyaknya getaran tiap
detik . Frekuensi yang dihasilkan sumber bunyi dapat berbeda, ada yang menghasilkan frekuensi
tinggi, ada juga yang menghasilkan frekuensi rendah. Makin tinggi frekuensi sumber bunyi maka
semakin tinggi bunyi yang dihasilkan, begitu pula sebaliknya. Bunyi yang sangat nyaring dapat
menyebabkan telinga terasa sakit, yang disebabkan gendang telinga kita bergetar lebih cepat,
akibatnya telinga terasa nyeri. Suara wanita terdiri dari kumpulan gelombang bunyi dengan
frekuensi tinggi, sehingga sering disebut suara wanita tinggi dan sebaliknya untuk pria yang
memiliki suara yang rendah karena mengandung kumpulan frekuensi yang rendah. Suara alat
musik bass memiliki frekuensi yang sangat rendah, suara yang rendah dapat menyebabkan
jantung berdetak lebih kencang.

F. Kuat Lemah Bunyi


Kuat lemah bunyi bergantung pada amplitudo bunyi . Amplitudo adalah simpangan maksimum
suatu gelombang.Makin besar amplitudo bunyi semakin kuat bunyi yang terdengar, demikian
pula sebaliknya. Hal ini dapat dibuktikan pada sebuah garpu tala yang digetarkan secara perlahan
atau dengan kuat, frekuensi yang dihasilkan akan sama walaupun terdengar keras jika digetarkan
dengan kuat dan terdengar lemah jika getarannya lemah.

G. Bunyi pada ruang Auditorium


Yang kita bahas kali ini adalah hubangan bunyi dengan ruang Auditorium. Terkadang kita tidak
sadar bahwa di lingkungan kita terdapat banyak bunyi. Ada bunyi yang enak di dengar, dan
adapula bunyi yang tidak enak didengar. Bahnkan membuat kita merasa bising. Dalam kehidupan
kita, kita dapat mendengar, melihat, mencium, merasa, dan meraba sesuai dengan keinginan kita.
Karena dalam tubuh kita dilengkapi dengan alat indera. Kita di beri dua buah mata agar kita dapat
melihat sesuatu. Apabila kita tidak ingin melihatnya, kita bias menutup mata kita. Apabila kita
mencium bau yang tidak kita inginkan, kita bias menutup hidung kita dengan tangan kita. Namun
hal ini tidak berlaku pada bunyi-bunyian/suara yang dapat di dengar oleh telinga kita. Kita tidak
dapat menghalangi dan memisah-misahkan bunyi yang kita inginkan dengan bunyi yang tidak
kita inginkan. Dalam duatu ruang auditorium, bila hal ini terjadi maka akan merusak fungsi dari
ruang auditorium itu sendiri. Bunyi/suara yang hendak kita dengarkan di ruang auditorium itu
adalah bunyi yang bersumber dari panggung auditorium. Apabila audience dalam auditorium ikut
bicara. Apabila penataan letak obyek, pemilihan material untuk plafond dan dinding serta lantai
tidak di atur dan di sesuaikan dengan kebutuhan sedemikian rupa. Maka acara atau kegiatan yang
diselenggarakan pada ruang auditorium tersebut akan gagal karena apa yang di sampaikan oleh
penyaji di atas panggung tidak tersampaikan kepada para pandengar.

2.2. Ruang Auditorium


A. Definisi
Ruang Auditorium merupakan ruang multi-fungsi karena mempunyai fungsi sebagai
ruang pertemuan dan pertunjukan seni, misalnya untuk pertunjukan theater atau music. Terkait
dengan itu maka persyaratan ruang harus dipenuhi sesuai dengan fungsinya, agar pesan yang
diungkapkan penyaji seni dapat tertangkap dengan baik sehingga tercapai kualitas pertunjukan
yang optimal serta kepuasan bagi penikmatnya mengingat penonton yang memasuki sebuah
Auditorium memiliki hak untuk mendapatkan kenyamanan, keamanan, penerangan yang cukup,
pemandangan (viewing) yang menyenangkan dan kualitas bunyi yang baik selain kualitas
acaranya itu sendiri. Sesuai dengan fungsi utamanya yaitu sebagai Auditorium, salah satu
persyaratan yang seharusnya dipenuhi selain tata cahaya adalah penataan akustik atau tata suara.
Pengolahan tata suara yang baik akan mempertinggi kualitas tampilan pertunjukan dan
menciptakan kenyamanan bagi penikmatnya.

Dalam sebuah pertemuan dan pertunjukan dibutuhkan tingkat kejelasan suara yang tinggi
agar para pengguna dapat menerima secara utuh dan benar informasi yang disampaikan. Banyak
faktor yang harus dipertimbangkan dalam perancangan akustik interior Auditorium yang harus
dipenuhi sesuai dengan fungsinya, agar pesan yang diungkapkan penyaji seni dapat tertangkap
dengan baik sehingga tercapai kualitas pertunjukan yang optimal serta kepuasan bagi
penikmatnya. Persyaratan utama yang harus dipenuhi dalam perancangan tata akustik Auditorium
adalah: kekerasan (loudness) yang cukup dengan cara memperpendek jarak penonton dengan
sumber bunyi, penaikan sumber bunyi, pemiringan lantai, sumber bunyi harus dikelilingi lapisan
pemantul suara, kesesuaian luas lantai dengan volume ruang, menghindari pemantul bunyi
paralel yang saling berhadapan dan penempatan penonton di area yang menguntungkan.
Persyaratan lainnya adalah bentuk ruang yang tepat, distribusi energi bunyi yang merata
dalam ruang, bebas dari cacat-cacat akustik dan pengolahan bentuk elemen pembentuk ruangnya
(lantai, dinding dan plafond) serta pelapisan dengan bahan penyerap bunyi dan bahan yang
berfungsi akustik maupun bahan-bahan lunak yang berpori lainnya. Pertimbangan finansial
biasanya merupakan pembatas langkah-langkah perbaikan akustik, karena untuk menghasilkan
kualitas akustik yang baik memerlukan biaya tinggi.
B. Perilaku Bunyi di Ruang Auditorium
Berdasarkan sumber yang didapat dari http://Acoustics.com bunyi di dalam ruang
tertutup (enclosed space) memiliki perilaku (behaviour) tertentu jika menumbuk dinding-dinding
dari ruang tertutup tersebut yakni energinya akan dipantulkan (reflected), diserap (absorbed),
disebarkan (diffused), atau dibelokkan (diffracted) tergantung pada sifat akustik dindingnya.

1. Refleksi Bunyi (Pemantulan Bunyi)


Bunyi akan memantul apabila menabrak beberapa permukaan sebelum sampai ke
pendengar sebagaimana pendapat Mills : Pemantulan dapat diakibatkan oleh bentuk ruang
maupun bahan pelapis permukaannya. Permukaan pemantul yang cembung akan menyebarkan
gelombang bunyi sebaliknya permukaan yang cekung seperti bentuk dome (kubah) dan
permukaan yang lengkung menyebabkan pemantulan bunyi yang mengumpul dan tidak
menyebar sehingga terjadi pemusatan bunyi.

Permukaan cembung

Permukaan cekunga

Sumber
bunyi

Gambar 1. Pemantulan suara ke langit-langit


Permukaan penyerap bunyi dapat membantu menghilangkan permasalahan gema maupun
pemantulan yang berlebihan.
2. Absorbsi Bunyi (Penyerapan Bunyi)
Saat bunyi menabrak permukaan yang lembut dan berpori maka bunyi akan terserap
olehnya sehingga permukaan tersebut disebut penyerap bunyi. Bahan-bahan tersebut menyerap
bunyi sampai batas tertentu, tapi pengendalian akustik yang baik membutuhkan penyerapan
bunyi yang tinggi. Adapun yang menunjang penyerapan bunyi adalah lapisan permukaan dinding,
lantai, langit-langit, isi ruang seperti penonton dan bahan tirai, tempat duduk dengan lapisan
lunak, karpet serta udara dalam ruang.
3. Diffusi Bunyi (Penyebaran Bunyi)
Bunyi dapat menyebar menyebar ke atas, ke bawah maupun ke sekeliling ruangan. Suara
juga dapat berjalan menembus saluran, pipa atau koridor.ke semua arah di dalam ruang tertutup.

4. Difraksi Bunyi (Pembelokan Bunyi)


Difraksi bunyi merupakan gejala akustik yang menyebabkan gelombang bunyi dibelokkan
atau dihamburkan di sekitar penghalang seperti sudut (corner), kolom, tembok dan balok.

2.3. Masalah Penyampaian Bunyi dalam Ruang Auditorium


Dalam ruang Auditorium, banyak masalah yang bisa terjadi. Hal ini di karenakan
kurangnya pengetahuan dalam bidang pembangunan suatu Auditorium yang memiliki kualitas
akustik yang baik dan kurangnya perhatian terhadap suara-suara yang tidak perlu di dalam suatu
ruangan. Suara-suara yang tidak perlu itu misalnya suara-suara yang tidak berssumber dari
panggung utama.
Kualitas suara dari sumber suara yang terlalu keras juga akan menimbulkan suatu
ketidaknyamanan bagi pendengar. Pemilihan material dalam pembangunan sangat di perlukan.
Khususnya dalam ruang Auditorium. Pemilihan jenis dan bentuk plafond dan dinding akan sangat
mempengaruhi kualitas akustik dalam ruang Auditorium. Sebuah ruangan yang didesain untuk
suatu fungsi tertentu, baik yang mempertimbangkan aspek akustik maupun yang tidak, seringkali
dihadapkan pada problem-problem berikut:
1. Pemusatan Suara :
Masalah ini biasanya terjadi apabila ada permukaan cekung (concave) yang bersifat reflektif, baik
di daerah panggung, dinding belakang ruangan, maupun di langit-langit (kubah atau jejaring
kubah). Bila anda mendesain ruangan dan aspek desain mengharuskan ada elemen cekung/kubah,
ada baiknya anda melakukan treatment akustik pada bidang tersebut, bisa dengan cara membuat
permukaannya absorptif (mis. menggunakan acoustics spray) atau membuat permukaannya
bersifat diffuse.
2. Pantulan berulang dan kuat:
Problem ini seringkali dibahasakan sebagai gema, Gema adalah bunyi pantul yang muncul
setelah bunyi asli selesai. Gema dapat terjadi di alam terbuka seperti di lembah atau jurang.
Terjadinya gema hampir sama dengan gaung yaitu terjadi karena pantulan bunyi. Namun, gema
hanya terjadi bila sumber bunyi dan dinding pemantul jaraknya jauh, lebih jauh daripada jarak
sumber bunyi dan pemantul pada gaung. Tidak seperti pemantulan pada gaung, pemantulan pada
gema terjadi setelah bunyi misalnya jika kita berteriak di daerah pegunungan, setelah beberapa
saat, terdengar kembali teriakanmu berteriak. Bunyi tersebut sebetulnya adalah bunyi pantul yang
baru sampai di telinga kita. Echoe disebabkan oleh permukaan datar yang sangat reflektif atau
permukaan hyperbolic reflektif (terutama pada dinding yang terletak jauh dari sumber). Pantulan
yang diakibatkan oleh permukaan-permukaan tersebut bersifat spekular dan memiliki energi yang
masih besar, sehingga (bersama dengan delay time yang lama) akan mengganggu suara langsung.
Problem akan menjadi lebih parah, apabila ada permukaan reflektif sejajar di hadapannya.

Permukaan reflektif sejajar bisa menyebabkan pantulan yang berulang-ulang (flutter echoe) dan
juga gelombang berdiri. Flutter echoe ini bisa terjadi pada arah horisontal (akibat dinding sejajar)
maupun arah vertikal (lantai dan langit-langit sejajar dan keduanya reflektif).
3. Gaung :
adalah bunyi pantul yang datang sebelum bunyi asli selesai dikirim. Contoh gaung adalah ketika
kamu berada di ruangan yang sempit. Apa yang kamu ucapkan tidak terdengar jelas karena
terganggu bunyi pantul. Ketika kamu berbicara di dalam sebuah gedung yang besar, dinding
gedung ini akan memantulkan suaramu. Biasanya, selang waktu antara bunyi asli dan
pantulannya di dalam gedung sangat kecil. Sehingga bunyi pantulan ini bersifat merugikan
karena dapat menggangu kejelasan bunyi asli. Pemantulan bunyi yang seperti ini- dinamakan
gaung. Untuk menghindari peristiwa ini, gedung-gedung yang mempunyai ruangan besar seperti
aula telah dirancang supaya gaung tersebut tidak terjadi. Upaya ini dapat dilakukan dengan
melapisi dinding dengan bahan yang bersifat tidak memantulkan bunyi atau dilapisi oleh zat
kedap (peredam) suara. Contoh bahan peredam bunyi adalah gabus, kapas, dan wool. Ruangan
yang tidak menghasilkan gaung sering disebut ruangan yang mempunyai akustik bagus. Selain
melapisi dinding dengan zat kedap suara, struktur bangunannya pun dibuat khusus. Perhatikan
langit-langit dan dinding auditorium, dinding dan langit-langit ini tidak dibuat rata, pasti ada
bagian yang cembung. Hal ini dimaksudkan agar bunyi yang mengenai dinding tersebut
dipantulkan tidak teratur sehingga pada akhirnya gelombang pantul ini tidak dapat terdengar.
4. Resonance (Resonansi):
Seperti halnya echoe problem ini juga diakibatkan oleh dinding paralel, terutama pada ruangan
yang berbentuk persegi panjang atau kotak. Contoh yang paling mudah bisa ditemukan di ruang
kamar mandi yang dindingnya (sebagian besar atau seluruhnya) dilapisi keramik. Resonansi,
selain membawa manfaat juga menimbulkan kerugian. Kerugian akibat resonansi antara lain
adalah ketika terjadi gempa, bumi bergetar dan getaran ini diteruskan ke segala arah. Getaran
bumi dapat diakibatkan oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di perut bumi, misalnya terjadinya
dislokasi di dalam perut bumi sehingga bumi bergetar yang dapat kita rasakan sebagai gempa.
Jika getaran gempa ini sampai ke permukaan dan sampai di pemukiman, gedung-gedung yang
ada di permukaan bumi akan bergetar. Jika frekuensi getaran gempa sangat besar dan getaran
gedung-gedung ini melebihi frekuensi alamiahnya, gedung-gedung ini akan roboh. Suatu benda,
misalnya gelas, mengeluarkan nada musik jika diketuk sebab ia memiliki frekuensi getaran alami
sendiri. Jika kita menyanyikan nada musik berfrekuensi sama dengan suatu benda, benda itu akan
bergetar. Peristiwa ini dinamakan resonansi. Bunyi yang sangat keras dapat mengakibatkan gelas
beresonansi begitu kuatnya sehingga pecah.

5. External Noise (Bising):


Problem ini dihadapi oleh hampir seluruh ruangan yang ada di dunia ini, karena pada umumnya
ruangan dibangun di sekitar sistem-sistem yang lain. Misalnya, sebuah ruang konser berada pada
bangunan yang berada di tepi jalan raya dan jalan kereta api atau ruang konser yang bersebelahan
dengan ruang latihan atau ruangan kelas yang bersebelahan. Bising dapat menjalar menembus
sistem dinding, langit-langit dan lantai, disamping menjalar langsung melewati hubungan udara
dari luar ruangan ke dalam ruangan (lewat jendela, pintu, saluran AC, ventilasi, dsb). Konsep
pengendaliannya berkaitan dengan desain insulasi (sistem kedap suara). Pada ruangan-ruangan
yang critical fungsi akustiknya, biasanya secara struktur ruangan dipisahkan dari ruangan
disekelilingnya, atau biasa disebut box within a box concept.
6. Doubled RT (Waktu dengung ganda):
Problem ini biasanya terjadi pada ruangan yang memiliki koridor terbuka/ruang samping atau
pada ruangan playback yang memiliki waktu dengung yang cukup panjang.
Itulah beberapa problem yang umumnya muncul dalam ruangan yang memerlukan kinerja
akustik. Kesemuanya dapat diminimumkan apabila sudah dipertimbangkan dengan seksama pada
saat ruangan tersebut didesain. Apabila ruangan sudah telanjur jadi, maka solusi yang biasanya
diambil adalah mengubah karakteristik permukaan dalam ruangan, misalnya dari yang semula
reflektif menjadi absorptif ataupun difusif. Solusi tersebut biasanya melibatkan biaya yang tidak
sedikit (karena ruangan sudah telanjur jadi). Oleh sebab itu, sangat disarankan untuk
mempertimbangkan problem-problem tersebut pada tahap desain. Saat ini sudah banyak
perangkat lunak yang dapat digunakan untuk memprediksi kinerja akustik suatu ruangan,
meskipun ruangan tersebut belum dibangun, cukup dengan menginputkan geometri ruangan dan
karakteristik permukaannya. Perangkat yang biasa digunakan para perancang akustik adalah
ODEON, CATT Acoustics, RAMSETE, dan EASE.

2.4. Penyelesaian Penyampaian Bunyi dalam Ruang Auditorium dari Sudut


Pemilihan Material Bahan Bangunan
Dalam permasalahan yang kita hadapi diatas, bagaimanakah solusi dan jalan keluar dari
masalah tersebut? Kita sebagai mahasiswa Teknik Sipil baiknya mengerti dan memaahami
tentang penyebaran suara di ruang Auditorium. Bagian mana sajakah yang berhak
mendapapatkan perlakuan khusus di Ruang Auditorium ini? Berikut ulasan kami.

A. Persyaratan Akustik Perancangan Ruang Auditorium


Secara garis besar Auditorium harus memenuhi syarat : kekerasan (loudness) yang cukup,
bentuk ruang yang tepat, distribusi energi bunyi yang merata dalam ruang, dan ruang harus bebas
dari cacat-cacat akustik.
1. Kekerasan (Loudness) yang Cukup
Kekerasan yang kurang terutama pada AUDITORIUM ukuran besar disebabkan oleh
energi yang hilang pada perambatan gelombang bunyi karena jarak tempuh bunyi terlalu panjang,
dan penyerapan suara oleh penonton dan isi ruang (kursi yang empuk, karpet, tirai ).
Hilangnya energi bunyi dapat dikurangi agar tercapai kekerasan/loudness yang cukup. Dalam
hal ini Doelle (1990:54) mengemukakan persyaratan yang perlu diperhatikan untuk mencapainya,
yaitu dengan cara memperpendek jarak penonton dengan sumber bunyi, penaikan sumber bunyi,
pemiringan lantai, sumber bunyi harus dikelilingi lapisan pemantul suara, luas lantai harus sesuai
dengan volume AUDITORIUM, menghindari pemantul bunyi paralel yang saling berhadapan,
dan penempatan penonton di area yang menguntungkan.

2. Memperpendek Jarak Penonton dengan Sumber Bunyi.


Mills mengemukakan pendapat mengenai persyaratan jarak penonton dengan sumber
bunyi untuk mendapatkan kepuasan dalam mendengar dan melihat pertunjukan: .Jarak tempat
duduk penonton tidak boleh lebih dari 20 meter dari panggung agar penyaji pertunjukan dapat
terlihat dan terdengar dengan jelas.
Akan tetapi untuk mendapatkan kekerasan yang cukup saja (tanpa harus melihat penyaji
dengan jelas), misalnya pada pementasan orkestra atau konser musik, toleransi jarak penonton
dengan penyaji dapat lebih jauh hingga jarak maksimum dengan pendengar yang terjauh adalah
40m, sebagaimana yang dikemukakan Mills. Jarak pendengar dan orkestra di dalam ruang
auditorium sekitar 40 meter.
3. Penaikan Sumber Bunyi
Sumber bunyi harus dinaikkan agar sebanyak mungkin dapat dilihat oleh penonton,
sehingga menjamin gelombang bunyi langsung yang bebas (gelombang yang merambat secara
langsung tanpa pemantulan) ke setiap pendengar.

10

4. Pemiringan Lantai
Lantai di area penonton harus dibuat miring karena bunyi lebih mudah diserap bila
merambat melewati penonton dengan sinar datang miring (grazing incidence). Aturan gradien
kemiringan lantai yang ditetapkan tidak boleh lebih dari 1:8 atau 30 dengan pertimbangan
keamanan dan keselamatan. Kemiringan lebih dari itu menjadikan lantai terlalu curam dan
membahayakan.

Area tempat duduk penonton

30

Gambar 2. Penaikan sumber bunyi dan pemiringan lantai area penonton


Sumber: Doelle (1990)

Gambar di atas menjelaskan pemiringan lantai dan peninggian sumber bunyi. Bila sumber
bunyi ditinggikan dan area tempat penonton dimiringkan 30 maka pendengar akan menerima
lebih banyak bunyi langsung yang menguntungkan kekerasan suara .
5. Sumber bunyi harus dikelilingi lapisan pemantul suara
Untuk mencegah berkurangnya energi suara, sumber bunyi harus dikelilingi oleh
permukaan-permukaan pemantul bunyi seperti gypsum board, plywood, flexyglass dan
sebagainya dalam jumlah yang cukup banyak dan besar untuk memberikan energi bunyi pantul
tambahan pada tiap bagian daerah penonton, terutama pada tempat-tempat duduk yang jauh
.Langit-langit dan dinding samping auditorium merupakan

permukaan yang tepat untuk

memantulkan bunyi.

11

Jadi salah satu cara untuk memperkuat bunyi dari panggung adalah dengan menyediakan
pemantul di atas bagian depan auditorium untuk memantulkan bunyi secara langsung ke tempat
duduk bagian belakang, dimana bunyi langsung (direct sound) terdengar paling lemah.
Permukaan-permukaan pemantul bunyi (acoustical board, plywood, gypsum board dan
lain-lain) yang memadai akan memberikan energi pantul tambahan pada tiap-tiap bagian daerah
penonton, terutama pada bagian yang jauh.Ukuran permukaan pemantul harus cukup besar
dibandingkan dengan dengan panjang gelombang bunyi yang akan dipantulkan. Sudut-sudut
permukaan pemantul harus ditetapkan dengan hukum pemantulan bunyi dan langit-langit serta
permukaan dinding perlu dimanfaatkan dengan baik agar diperoleh pemantulan-pemantulan
bunyi singkat yang tertunda dalam jumlah yang terbanyak.

Gambar 3. Penempatan langit-langit pemantul


Sumber: Doelle (1990)

Gambar di atas menjelaskan bahwa ketepatan dalam meletakkan langit-langit pemantul


dengan

pemantulan bunyi yang makin banyak ke tempat duduk yang jauh, secara efektif

menyumbang kekerasan yang cukup. Langit-langit dan bagian depan dinding-dinding samping
auditorium merupakan permukaan yang cocok untuk digunakan sebagai pemantul bunyi.

12

6. Kesesuaian luas lantai dengan volume ruang


Terkait dengan kapasitas tempat duduk, The Association of British Theatre Technicians
dalam Mills mengklasifikasikan AUDITORIUM dari yang berukuran kecil hingga sangat besar
yakni: ukuran sangat besar berkapasitas 1500 atau lebih tempat duduk, ukuran besar 900-1500
tempat duduk, ukuran sedang 500 900 tempat duduk dan ukuran kecil kurang dari 500 tempat
duduk.
Doelle

menyebutkan bahwa nilai volume per tempat duduk penonton yang

direkomendasikan untuk AUDITORIUM serbaguna minimal 5.1 m (m cubic), optimal 7.1 m


dan maksimal 8.5 m. Dari perbandingan tersebut dapat diperoleh standar ukuran volume yang
dipersyaratkan untuk gedung ukuran tertentu sehingga kelebihan ataupun kekurangan kapasitas
ruang dapat dihindari .
7. Menghindari pemantul bunyi paralel yang saling berhadapan
Bentuk plafond paralel secara horisontal seperti gambar di bawah ini tidak dianjurkan.

pemantulan yang berguna

Arah bunyi
Area tempat duduk
penonton
Sumber bunyi

panggung

30

Gambar 4.Bentuk plafond paralel yang tidak dianjurkan


Sumber: Doelle (1990)

13

Pada gambar di atas terjadi pemantulan kembali sebagian besar bunyi langsung (direct
sound) ke sumber bunyi, dan sebagian lagi dipantulkan ke langit-langit dengan waktu tunda
singkat yang terbatas baru kemudian disebarkan ke arah penonton sehingga bunyi langsung yang
diterima penonton lebih sedikit sehingga kekerasan sangat berkurang.
Disarankan bentuk permukaan pemantul bunyi yang miring dengan permukaan yang tidak
beraturan, terutama daerah plafond di atas sumber bunyi, agar sebagian besar bunyi langsung
(direct sound) menyebar ke arah penonton dengan waktu tunda yang panjang sehingga bunyi
langsung dapat diterima sebagian besar penonton hingga ke tempat duduk terjauh.

Gambar 5. Pemantulan yang dianjurkan


Sumber: Doelle (1990)

14

8. Penempatan penonton di area yang menguntungkan


Penonton harus berada di daerah yang menguntungkan, baik saat menonton maupun
melihat pertunjukan, yakni berada pada area sumbu longitudinal.

stage
45

Area tempat
duduk terbaik

Sumber bunyi

Gambar 6. Area sumbu longitudinal/ Sumber: Doelle (1990)


Area sumbu longitudinal merupakan area untuk pendengaran dan penglihatan terbaik,
sehingga harus diefektifkan untuk tempat duduk. Harus dihindari perletakan lorong sirkulasi di
area ini .
Selain ditinjau dari kualitas mendengar dan melihat dari segi penontonnya, juga harus
dilihat dari segi kenyamanan pemainnya. Agar pemain masih bisa leluasa dalam melakukan aksi
panggungnya, maka rentang sudut yang masih bisa ditolerir 135 dari sumber bunyi seperti yang
dijelaskan oleh Mills (1976:37) :
Lingkar

area tempat duduk penonton yang lebih besar merupakan hal yang

menguntungkan karena lebih banyak penonton yang mendapatkan jarak mendengar dan melihat
yang baik secara akustik maupun visual, tapi dalam beberapa hal cenderung

tidak

menguntungkan bagi penonton yang berada di sisi panggung yang lain. Lagipula, tidak mungkin
bagi pemain untuk menghadap ke arah penonton yang berada di dua arah yang berlawanan dalam
waktu yang bersamaan.

15

aktor
135

Batas area akting (act


of commands)

audience

Gambar 7. Limit Lingkar area penonton yang dapat dijangkau pemain (act of command)
Sumber: Doelle (1990)

Lingkar dengan sudut 135 merupakan batas maksimal, karena lebih dari itu akan
menambah ketidakleluasaan penampilan pemain saat melakukan pertunjukan.
9. Bentuk plafon yang baik akustiknya
1.BentukCekung
Bentuk cekung untuk bangunan auditorium membawa efek pada bentuk eksterior, kemudian
bentuk cekung juga menimbulkan efek focal point atau sebagai pusat arah pantulan suara, disebut
whispering gallery atau gema yang merambat. Bentuk cekung tersebut bila diolah menurut
rambatan suara akan lebih mendukung kondisi akustik.

2. Bentuk Cembung
Permukaan langit-langit yang melengkung cembung dengan penyusunan seperti gambar akan
dapat memantulkan bunyi secara merata, memenuhi ruangan dan bagus untuk musik.

Selain dari bentuk langit-langit yang mendukung, hal yang harus diperhatikan lagi adalah
penataan kursi penonton. Pada auditorium selalu memanfaatkan posisi kemiringan lantai pada
posisi duduk penonton, agar semua penonton dapat menerima pantulan bunyi secara merata dan
dapat menyaksikan pertunjukkan yang disajikan. Dalam penggabungannya sekaligus,

16

penggunaan sistem langit-langit dan kursi penonton memilki hubungan terkait dalam rangka
merambatkan bunyi. Hubungan antara penggunaan bentuk ceiling dan pengaturan kursi disebut
metode geometri. Penggunaan metode geometri tersebut ditujukan untuk merefleksikan suara
pada auditorium besar. Berikut adalah hubungan antara penerapan bentuk ceiling dan pengaturan
kursi audience ( Metode Geometri ). Untuk dinding, digunakan bentuk-bentuk akustik yang bisa
berfungsi sebagai reflektor. Tidak hanya hal-hal di atas, tetapi posisi penyaji terutama orkestra
memilki ketentuan khusus (menyebar). Bentuk menyebar tersebut dimanfaatkan karena di dalam
orkestra terdapat berbagai macam alat musik yang digunakan dengan intensitas suara yang
berbeda-beda. Dengan komposisi yang sedemikian rupa, maka harmonisnya suatu alunan
orkestra dapat tercipta dengan baik dan menjadi satu kesatuan bunyi yang enak untuk
didengarkan.

B. Pemilihan Bentuk Ruang yang Tepat


Doelle (1995:95) menyebutkan bahwa bentuk ruang juga mempengaruhi kualitas bunyi.
Ada beberapa bentuk ruang pertunjukan yang lazim digunakan , yaitu: bentuk empat persegi
(rectangular shape), bentuk kipas (fan shape), bentuk tapal kuda (horse-shoe shape) dan bentuk
hexagonal (hexagonal shape).
1.

Bentuk Ruang Empat Persegi (rectangular shape) merupakan bentuk tradisional yang

paling umum digunakan Ruang-ruang konser dari abad ke- 19 dan awal abad ke-20 seperti
The Grosser Musikvereinsaal, Vienna, Andrews Hall Glasgow, The Concertgebouw
Amsterdam, The Stadt Casino Basel dan Symphony Hall Boston, semuanya mempunyai bentuk
lantai empat persegi. Keuntungan dari bentuk ruang ini dijelaskan Mills sebagai berikut:
Keuntungan dari bentuk ini adalah tingkat tinggi keseragaman dan dalam keseimbangan energi
baik awal dan akhir. Besar kecilnya suara untuk sejumlah besar suara lateral yang awal,
ditingkatkan oleh kontribusi tambahan dari beberapa refleksi antara dinding-dinding samping.

Jadi bentuk ruang empat persegi panjang (rectangular shape) memiliki tingkat keseragaman
suara yang tinggi sehingga terjadi keseimbangan antara suara awal dan suara akhir. Sisi lebar
yang lebih kecil dapat merespon bunyi lateral /bunyi samping, diperkuat dengan pantulan yang

17

berulang-ulang antar dinding samping menyebabkan bertambahnya kepenuhan nada, suatu segi
akustik ruang yang sangat diinginkan pada ruang pertunjukan.

stage

Gambar 8. Bentuk lantai empat persegi (Rectangular shape)


Sumber: Doelle (1990)

Kelemahan dari bentuk ini adalah pada bagian sisi panjangnya, karena menjadikan jarak
antara penonton dengan panggung terlalu jauh.Solusi untuk permasalahan ini adalah dengan
mempersempit area panggung dan memperlebar sisi depannya.
2. Lantai bentuk Kipas (Fan Shape) membawa penonton dekat dengan sumber bunyi
karena memungkinkan adanya konstruksi balkon. Keuntungan lain dari bentuk ini menurut Mills
(1986: 29):
Bentuk kipas mengandung jumlah maksimum orang di tiap sudut yang diberikan untuk
karakteristik sumber maksimun penerima ditentukan oleh jarak. Hal ini berguna untuk
penghematan biaya serta memungkinkan ruang untuk memenuhi persyaratan gedung
Auditorium.
Jadi keuntungan ruang bentuk kipas, dapat menampung penonton dalam jumlah banyak,
disamping itu juga menyediakan sudut pandang yang maksimum bagi penonton.

18

Dinding
belakang

stage

Gambar 9. Denah AUDITORIUM dengan bentuk kipas


Sumber: Doelle (1990)

Akan tetapi disisi lain, banyak pula kekurangan dari bentuk ini memiliki kekurangan yang
membuat reputasi akustiknya kurang baik, karena bentuk dinding samping yang melebar ke
belakang menyebabkan pemantulan yang terlalu cepat ke dinding belakang yang dilengkungkan
sehingga menciptakan gema dan pemusatan bunyi sehingga ruang ini cenderung memiliki akustik
yang tidak seragam, dengan kondisi area duduk penonton bagian tengah yang kurang baik.
3. Ruang Bentuk Tapal Kuda (Horse-shoe shape) merupakan bentuk yang memiliki
keistimewaan karakteristik yakni adanya kotak-kotak yang berhubungan (rings of boxes) yang
satu di atas yang lain.Walaupun tanpa lapisan permukaan penyerap bunyi pada interiornya,
kotak-kotak ini berperan secara efisien pada penyerapan bunyi dan menyediakan waktu dengung
yang pendek.Disamping itu bentuk dindingnya membuat jarak penonton dengan pemain menjadi
lebih dekat. (Doelle:1990).

Area penonton
Audience

stage

Stage/panggung

Gambar 10. Ruang berbentuk Tapal Kuda (Horse-shoe Shape)


Sumber: Doelle (1990)

19

Akan tetapi disisi lain terdapat kekurangan yaitu permukaan dinding bagian belakang yang
cekung merupakan bentuk yang tidak dianjurkan karena akan terjadi penyerapan suara yang
terlalu tinggi di bagian belakang.
Bentuk Lantai Hexagonal (Hexagonal Shape) di di bawah ini dapat membawa penonton
sangat dekat dengan sumber bunyi, keakraban akustik dan ketegasan, karena permukaanpermukaan yang digunakan untuk menghasilkan pemantulan-pemantulan dengan waktu tunda
singkat dapat dipadukan dengan mudah ke dalam keseluruhan rancangan arsitektur.

stage
audience

Gambar 11. Bentuk Lantai Hexagonal (Hexagonal Shape)


Sumber: Doelle (1990)
C. Distribusi Bunyi yang Merata
Energi bunyi dari sumber bunyi harus terdistribusi secara merata ke setiap bagian ruang,
baik yang dekat maupun yang jauh dari sumber bunyi. Untuk mencapai keadaan tersebut
menurut Doelle (1990:60) perlu diusahakan pengolahan pada elemen pembentuk ruangnya, yakni
unsur langit-langit, lantai dan dinding, dengan cara membuat permukaan yang tidak teratur,
penonjolan elemen bangunan, langit-langit yang ditutup, kotak-kotak yang menonjol, dekorasi
pada permukaan dinding yang dipahat, bukaan jendela yang dalam dan sebagainya.
Pengolahan bentuk permukaan elemen pembentuk ruang terutama dibagian dinding dan
langit-langit dengan susunan yang tidak teratur dan dalam jumlah dan ukuran yang cukup akan
banyak memperbaiki kondisi dengar, terutama pada ruang dengan waktu dengung yang cukup
panjang.
Cacat akustik merupakan kekurangan-kekurangan yang terdapat
pada pengolahan elemen pembentuk ruang AUDITORIUM yang menimbulkan permasalahan
akustik. Pemilihan material yang baik untuk ruang Auditorium akan di jelaskan di bawah ini.

20

1. Penggunaan Bahan Penyerap Bunyi


Pemilihan bahan penyerap bunyi yang tepat untuk melapisi elemen pembentuk ruang
AUDITORIUM sangat dipersyaratkan untuk menghasilkan kualitas suara yang memuaskan.
Doelle (1990:33) menjelaskan mengenai bahan-bahan penyerap bunyi yang digunakan dalam
perancangan akustik yang dipakai sebagai pengendali bunyi dalam ruang-ruang bising dan dapat
dipasang pada dinding ruang atau di gantung sebagai penyerap ruang yakni yang berjenis bahan
berpori dan panel penyerap (panel absorber) serta karpet.
Bahan interior yang mendukung akustik

Bahan berpori
Panel absorber
Karpet
Gypsum
Kalsiboard
Polyster
Jerami
Tempat telur
Core limbah kayu sengon laut
Styrofoam

a. Bahan Berpori
Bahan berpori merupakan suatu jaringan selular dengan pori-pori yang saling
berhubungan. Bahan akustik yang termasuk kategori ini adalah papan serat (fiber board),
plesteran lembut (soft plasters), mineral wools dan selimut isolasi.
Karakteristik dasar dari semua bahan berpori seperti ini adalah mengubah energi bunyi
yang datang menjadi energi panas dalam pori-pori dan diserap, sementara sisanya yang telah
berkurang energinya dipantulkan oleh permukaan bahan.Bahan akustik berpori dapat dibagi
menjadi 2 kategori, yakni: unit akustik siap pakai, dan bahan yang disemprotkan.

Gambar 12. Unit akustik siap pakai yang berlubang dan bercelah

21

Unit akustik siap pakai meliputi bermacam-macam jenis ubin selulosa dan serat mineral
yang berlubang, bercelah, bertekstur, panel penyisip dan lembaran logam berlubang dengan
bantalan penyerap.Jenis-jenis ini dapat dipasang dengan berbagai cara, sesuai dengan petunjuk
pabrik seperti disemen pada permukaan yang padat, dipaku, dibor pada kerangka kayu atau
dipasang pada sistem langit-langit gantung. Unit akustik siap pakai khusus seperti acoustical
board untuk pelapis dinding dan Geocoustic board dipasang pada langit-langit dalam susunan
dengan jarak tertentu dalam potongan-potongan kecil.

Penggunaan bahan akustik siap pakai ini juga menguntungkan ditinjau dari daya serap
bunyinya yang dijamin oleh pabrik, pemasangan dan perawatannya mudah, dapat dihias tanpa
mempengaruhi jumlah penyerapan, penggunaannya dalam sistem langit-kangit dapat disatukan
secara fungsional dan visual dengan instalasi penerangan, pemanasan dan pengkondisian udara.
Apabila dipasang dengan tepat maka penyerapannya dapat bertambah.
Bahan yang disemprotkan digunakan terutama untuk tujuan reduksi/pengurangan bising .
Bahan ini berbentuk semiplastik, diterapkan dengan cara disemprotkan melalui pistol penyemprot
/sprayer gun. Kelebihan dari bahan akustik jenis ini adalah fleksibilitasnya karena berbentuk
cairan yang disemprotkan ke permukaan sehingga dapat diterapkan pada bentuk penampang
apapun. Biasanya diterapkan pada ruang dalam auditorium dimana upaya pengolahan akustik lain
tidak dapat dilakukan karena bentuk permukaan yang melengkung atau tidak teratur.Efisiensi
akustiknya biasanya cukup baik apabila dikerjakan dengan cermat, tepat dalam penentuan
komposisi plesteran, jumlah perekat, serta keadaan lapisan dasar yang digunakan.
b. Penyerap Panel
Penyerap panel merupakan bahan kedap yang dipasang pada lapisan penunjang yang
padat (solid baking) tetapi terpisah oleh suatu rongga.

Gambar 13. Panel Penyerap (Panel Absorber) siap pakai yang bertekstur

22

Bahan ini berfungsi sebagai penyerap panel dan akan bergetar bila tertumbuk oleh
gelombang bunyi. Getaran lentur dari panel akan menyerap sejumlah energi bunyi yang datang
dan mengubahnya menjadi energi panas. Cara pemasangan sesuai dengan di semen pada
permukaan yang padat, dipaku, dibor pada kerangka kayu atau dipasang pada sistem langit-langit
gantung.

Gambar 14. Penerapan Panel Penyerap pada plafond dan dinding

Kelebihan dari bahan ini adalah kemudahannya untuk disusun sesuai desain yang
diinginkan karena tersedia dalam ukuran-ukuran yang bervariasi, mudah dalam pemasangannya
serta ekonomis dan merupakan penyerap bunyi yang efisien karena menyebabkan karakteristik
dengung yang merata pada seluruh jangkauan frekuensi (tinggi maupun rendah karena berfungis
untuk mengimbangi penyerapan suara yang agak berlebihan oleh bahan penyerap berpori dan isi
ruang.Jenis bahan yang termasuk penyerap panel antara lain: panel kayu, hardboard, gypsum
board dan panel kayu yang digantung di langit-langit.
c. Karpet
Karpet selain digunakan sebagai penutup lantai, juga digunakan sebagai bahan akustik
karena kemampuannya mereduksi dan bahkan meniadakan bising benturan dari atas atau dari
permukaan seperti suara seretan kaki, bunyi langkah kaki, pemindahan perabot rumah dan
sebagainya. Karpet juga dapat diterapkan sebagai bahan pelapis dinding, untuk memberikan
peredaman suara yang lebih optimal. Makin tebal dan berat karpet maka makin besar pula daya
serap dan kemampuannya dalam mereduksi bising

Gambar 15. Bahan akustik dari Karpet


23

d. Gypsum
Bahan papan gypsum standar (plasterboard) relatif lunak sehingga bahan gypsum relatif
bisa menyerap suara dengan baik daripada dinding bata. Papan gypsum cocok digunakan untuk
ruang-ruang yang memerlukan peredaman suara. Pemakaian papan gypsum sebagai pelapis
dinding dapat membantu meredam gema yang ditimbulkan akibat pantulan balik suara, karena
sifat peredaman gypsum yang baik inilah maka beberapa produsen mengeluarkan panel peredam
suara yang lebih baik dengan berbahan dasar gypsum.
e. Kalsiboard
Papan Kalsi merupakan papan bangunan rata teknologi khusus dr Etex Group - Belgia.
Kalsi terbuat dr semen, bahan organik, serta bahan penguat dan perekat alami. Kalsi 100% bebas
asbes, tahan air, tahan rayap. Kalsi sangatlah menguntungkan. mudah, cepat, ringkas dlm
pengerjaannya; biaya relatif murah; bersih serta kering dlm pelaksanaannya.
f. Polyster
Polyester fiber, adalah serat sintetik yang terbuat dari hasil polimerisasi etilen glikol
dengan asam tereptalat melalui proses polimerisasi kondensasi. Hasil polimerisasi berupa chip
atapun polimer leleh, yang kemudian di lakukan proses spinning untuk membentuk fiber.
g. Jerami
Jerami merupakan salah satu alat penyerap bunyi yang ekonomis. Cara pemakaiannya
jerami dikeringkan terlebih dahulu. Setelah kering, jerami tersebut dipotong menjadi bagianbagian kecil. Selanjutnya, jerami dicampur dengan bahan perekat, ada juga yang dicampur
dengan kanji yang dicampur air, ada pula yang dicampur dengan resin yang sudah dicampur
dengan kloroform.
h. Tempat Telur
Tempat telur memiliki bentuk yang tidak merata dan berpori. Terbuat dari serbuk kertas
dan bahan-bahan lain. Oleh karena itu mampu menyerap hasil pemantulan bunyi yang tidak
berfungsi seperti gema.

24

25

BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas maka kita dapat menyimpulkan bahwa suatu ruang Auditorium
sangat berpengaruh oleh bentuk, jenis, dan struktur dari bahan dinding, plafond dan lapisan
lantainya. Karena suara/bunyi terhadap material bangunan memiliki sifat pemantulan suara,
penyerapan bunyi, penyebaran bunyi, pembelokan bunyi. Oleh karena itu dapat di simpulkan
bahwa persyaratan khusus dalam membangun Auditorium sebagai berikut:

Auditorium harus mempunyai bentuk sedemikian rupa sehingga penonton dapat


sedekat mungkin dengan sumber suara.
Setiap penonton selain menerima suara refleksi juga harus menerima suara
langsung.
Khusus untuk pertunjukkan musik, harus memiliki rasio bass yang cukup tinggi
untuk memberi kesan kehangatan, serta menghindari penggunaan panil-panil tipis
misalnya papan kayu ' yang akan meredam bunyi frekuensi rendah.
Menghindari permukaan-permukaan yang menyebabkan gema (echo), lecutan (
seperti lecutan akibat pantulan yang cepat), rayapab ( bunyi yang merambat di
permukaan kubah).
Kepadatan tempat duduk 0,6-0,8m2
Untuk ruangan berbentuk persegi panjang dengan panggung depan, volume ruang
per orang adalah 8 m2. Untuk penggung tengah volume ruang per orang adalah 13
m2.
Permukaan pemantul bunyi di dekat panggung harus dapat memantulkan bunyi
kembali ke panggung sehingga pemain dapat merasakan respon ruangan yang
memadai.
Permukaan dinding samping langit-langit, dinding balkon dan dinding panggung
harus dapat memantulkan bunyi secara baur , dan hindari bentuk-bentuk rata.

26

Nama Kelompok 1 :

1. Septiana Posmarito Sianipar (115724001)

7. Onny Liangsari (115724007)

2. Great Florentino Mikno (115724002)

8. Hastawa Putra Utama (115724008)

3. Irma Nur Fajar Wati (115724003)

9. Akbar Setyo Romadhoni (115724009)

4. Abdul Muiz (115724004)

10. Farichah (115724010)

5. Hehen Suhendi (115724005)

11. Andy Dzikril Chakim (115724011)

6. Rizky Astri Widyawati (115724006)

12. Priestianti Diandra (115724012)

27