Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Sebagai salah satu metode dalam geofisika, metode seismik banyak digunakan
dalam eksplorasi, terutama eksplorasi hidrokarbon. Keunggulan dari metode ini
dibanding dengan metode geofisika lain adalah tingkat akurasi, resolusi dan penetrasi
yang lebih tinggi. Metode ini sangat berkembang pesat disertai dengan teknologi tinggi
dalam hal akuisisi data, pemrosesan data seismik, sampai dengan interpretasi data
seismik.
Eksplorasi dengan menggunakan metode seismik ini sangat populer di dunia
industri perminyakan dikarenakan data hasil interpretasinya bersifat akurat, juga dapat
mendeskripsikan secara geologi tentang kondisi bawah permukaan bumi.
Secara umum ada tiga Metode seismik yang digunakan dalam eksplorasi
kegiatan besar dalam metode seismik agar dapat menghasilkan suatu informasi yang
benar benar bisa akurat dan bernilai ekonomis, yaitu :
1. Akuisisi Data Seismik
Akuisisi data merupakan pekerjaan bagian terdepan dari suatu
eksplorasi. Persiapan awal yang harus dilakukan adalah menentukan
parameter parameter lapangan yang cocok, dari suatu daerah yang hendak
disurvey. Penentuan parameter parameter ini sangat penting karena akan
menentukan kualitas data yang akan diperoleh. Maksud dari penentuan
parameter lapangan ini adalah untuk menetapkan parameter awal dalam
suatu rancangan survey (akuisisi data) yang dipilih sedemikian rupa
sehingga dalam pelaksanaan akan diperoleh informasi target selengkap
mungkin dengan noise serendah mungkin.
2. Pengolahan Data Seismik
Data seismik direkam ke dalam pita magnetik di lapangan. Setelah
itu data tersebut diproses di pusat pengolahan data seismik. Tujuan dari
pengolahan data seismik adalah menghasilkan penampang seismik dengan
S/N (signal to noise ratio) yang baik tanpa mengubah bentuk kenampakankenampakan refleksi, sehingga dapat diinterpretasikan keadaan dan bentuk
dari perlapisan di bawah permukaan bumi seperti apa adanya. Dengan

demikian mengolah data seismik merupakan pekerjaan untuk meredam noise


dan/atau memperkuat sinyal.
3. Interpretasi Data Seismik
Interpretasi data seismik secara geologi merupakan tujuan dan
produk akhir dari pekerjaan seismik. Interpretasi yang dimaksud adalah
menentukan atau memperkirakan arti geologis data data seismik. Kadang
kala, interpretasi juga termasuk reduksi data, pemilihan event event
tertentu dan lokalisasi reflector atau target yang akan dicari. Dari hasil
interpretasi kemudian diuji dengan data data yang lain.
Dari ketiga rangkaian kegiatan dalam metode seismik ini maka tujuan akhir dari
suatu pekerjaan eksplorasi bisa didapatkan hasilnya, yaitu berupa informasi geologis
dari daerah survei yang untuk kemudian bisa ditindaklanjuti dengan kegiatan yang lain
di dalam perusahaan, yang berkelanjutan.
Pada perekaman data seismik di lapangan akan didapatkan dua tipe gelombang
seismik yaitu gelombang refleksi dan gelombang refraksi yang mempunyai sifat-sifat
fisik yang berbeda. Dua tipe gelombang inilah yang akan dijadikan acuan dalam
memperoleh informasi geologi bawah permukaan.
Tahapan selanjutnya merupakan tahap pengolahan dimana data gelombang
seismik yang terekam akan diproses untuk menampilkan peta seismik yang
mencerminkan kondisi geologi dengan S/N tinggi.
Tahapan terakhir adalah proses interpretasi data seismik yang telah diolah. Hal
ini termasuk mencocokkan (tying) antara data seismik dan data pada well. Interpertasi
seismik akan memberikan informasi yang akurat mengenai geologi bawah permukaan
baik stratigrafi maupun struktur.
Interpretasi data sesmik secara geologi merupakan tujuan dan produk akhir dari
pekerjaan seismik. Interpretasi yang dimaksud adalah menentukan atau memperkirakan
arti geologis data data seismik.
Oleh karena itu untuk lebih megetahui tentang tahapan tahapan dalam
interpretasi data seismik, penulis bermaksud untuk mengikuti Kerja Praktek di PT.
CALTEX PASIFIK INDONESIA. Selain itu nantinya akan berguna dan bermanfaat
dalam dunia kerja.

BAB III
METODE INTERPRETASI SEISMIK REFLEKSI
Metode Seismik refleksi merupakan jenis dari analisa gelombang seismik untuk
keperluan eksplorasi bawah permukaan secara dangkal

III.1. Penyiapan Data


Pada proses pendahuluan interpretasi seismik data yang sebelumnya disiapkan
meliputi penampang seismik 3-D (termigrasi), data rekaman sumur, dan informasi
geologi daerah setempat. Pada penelitian dilakukan interpretasi pada daerah seluas 42
km2 dengan 11 lintasan seismik berarah baratlaut-tenggara. Pada lapangan X terdapat
14 sumur eksplorasi yang masing-masing sumur mempunyai rekaman data yang
berbeda. Tidak seluruh sumur eksplorasi yang tersedia mempunyai data yang digunakan
dalam interpretasi seismik.

III.1.1. Peta Dasar


Peta dasar yang digunakan adalah peta skala bar yang terdiri dari line
penembakan seismik dalam arah utara-selatan dan barat-timur sebagai lintasan
pengontrol dan arah tenggara-barat laut sebagai lintasan yang tegak lurus dengan jurus
umum dari struktur pada daerah penelitian.
III.1.2. Penampang Seismik
Penampang seismik yang digunakan berupa penampang seismik 3-D yang sudah
termigrasi pada pengolahan data sesimik yang telah dilakukan.
Polaritas sinyal wavelet yang digunakan berupa reverse SEG atau normal
polarity dimana untuk impedansi akustik formasi batuan di bawah lebih besar daripada
formasi di atasnya akan mempunyai koefesien refleksi positif (+) dan ditunjukkan
dengan seismic amplitude peak, dan sebaliknya untuk impedansi akustik formasi di
bawah lebih kecil daripada formasi di atasnya akan mempunyai koefesien refleksi
negatif (-) dan ditunjukkan dengan seismic amplitude trough.

Untuk pemilihan penampang seismik yang digunakan dalam interpretasi


didasarkan atas informasi data geologi dan geofisika yang menyatakan struktur umum
lokasi, kualitas data seismik yang terekam, serta kerapatan dari line penembakan
seismik. Hal tersebut mempermudah interpretasi terutama dalam penentuan lapisan
batuan yang diinginkan.
Diagram Alir Interpretasi Seismik

Well Log Data


(Density log, Velocity Log)

Migrated Seismic Section

General Analysis
Wavelet Modeling
(Band Pass Filter)

Seismic Section on
Well Trace

Reflection
Coefficient

Synthetic Seismogram

Tying
Defined Seismic Section

Structural
Identification
Picking
Horizon
Trace
Posting

Mapping
Map Interpretation

III.1.3. Data Sumur dan Seismogram Sintetik


Dalam pengikatan penampang seismik dengan kondisi geologi sebenarnya (wellseismic tye) maka keberadaan data sumur diperlukan sebagai korelasi. Untuk itulah
diperlukan parameter berupa wavelet sebagai respon terhadap penampang seismik yang
menghasilkan sintetik seismogram, dibuat dari data logging sumur tersebut, seperti
gamma ray log, velocity log, density log, neutron log, dan lain-lain. Sintetik
seismogram akan digunakan untuk mengikat data seismik (time section) sehingga
diketahui litologi batuan yang dicerminkan dalam horison seismik.
III.2.1. Interpretasi Geologi
Pada tahapan ini seluruh data seismik dianalisa secara terpadu. Elemen utama
struktur seperti kecenderungan kemiringan lapisan, sesar, horst, grabens, sumbu
cekungan, pelengkungan dan lain-lain, dicatat pada peta dasar yang digunakan.
Pengelompokan daerah dibagai menjadi dua, yaitu pengelompokkan studi ke arah
vertikal untuk mengetahui interval stratigrafi dan studi ke arah lateral untuk analisa
struktural misalnya cekungan, tinggian, dan sebagainya. Masing-masing sekuen seismik
membentuk suatu satuan koheren yang berasosiasi dengan sekuen pengendapan tertentu
dan dibatasi oleh ketidakselarasan.

BAB II
MAKSUD DAN TUJUAN
I.2. Maksud dan Tujuan
Tujuan dan ruang lingkup pekerjaan interpretasi seismik refleksi sangat
bervariasi dari interpretasi regional daerah sampai pada detail informasi dalam studi
reservoir. Adapun tujuan dari pelaksanaan kerja praktek ini adalah interpretasi lokal
pada lapangan X yang meliputi stratigrafi, dan identifikasi struktur dari horison
Basement dan unit Lower Zelda dalam daerah konsesi CNOOC SES B. V. Interpretasi
ini berdasarkan hasil analisa seluruh data yang tersedia.
Maksud dan tujuan dari kerja praktek ini adalah :
1. Mengenal, memahami dan mempraktekan tentang pengolahan data seismik.
2. Memberi pengalaman kerja yang sesungguhnya pada mahasiswa sebagai bekal
untuk terjun ke dunia kerja nanti.

3. Memenuhi salah satu mata kuliah wajib Program Studi Geofisika Jurusan Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada.

BAB III
DASAR TEORI
III.1. TAHAPAN INTERPRETASI
a. Asumsi Geofisis Dasar
Interpretasi seismik umumnya menganggap bahwa :
1. Event event koheren pada rekaman seismik merupakan pantulan gelombang
seismik dari kontras impedansi akustik medium.
2. Kontras

impedansi

tersebut

diasosiasikan

sebagai

perlapisan

yang

menggambarkan struktur geologi.


3. Detil sinyal seismik ( seperti bentuk gelombang, amplitudo, frekuensi )
berkaitan erat dengan detil geologinya, seperti stratigrafi, kandungan fluida,
porositas batuan dan lain sebagainya.
b. Interpretasi Data Seismik
Pekerjaan Interpretasi melibatkan banyak faktor meliputi kemampuan imaginasi,
pegetahuan geologi, ketelitian pembahasan, analisis yang nalar, dan sebagainya.
Pada umumnya langkah atau tahapan yang sederhana dalam mengerjakan interpretasi
suatu daerah adalah sebagai berikut :
1. Meneliti data ( evaluasi data ) yang jelek dan data yang harus dibuang.
2. Membandingkan data dari survey yang berbeda.
3. Menentukan reflektor yang harus di piek.
4. Memilih anomali yang menarik.
5. Melakukan studi komprehensip / analisis terhadap anomali tersebut.
6. Menyusun rekomendasi atau laporan.
Tahapan pertama yaitu mengevaluasi data merupakan pekerjaan paling depan.
Pada umumnya data yang baik, gambaran strukturnya jelas dan informasi kelengkapan
datanya baik. Membandingkan data data yang akan diinterpretasi dengan data dari
survey yang berbeda perlu dilakukan untuk mengontrol dan menjaga konsistensi
interpretasi yang dilakukan.

Sebelum melakukan picking ( penentuan reflektor yang akan dibaca waktu


rambatnya ) perlu dilakukan pemilihan horizon horizon mana yang prospek sebagai
jebakan hidrokarbon. Setelah dipilih telusuri segala arah penyebaran horizon tersebut,
kenali perbedaan interval antara horizon yang satu dengan yang lainnya. Apabila ada
informasi data sumur ( melalui sintetik seismogram maupun vertikal Seismik
Profilling ) korelasikan reflektor dengan data sumur tersebut.
Pemilihan anomali yang menarik merupakan awal dari suatu penggambaran
atau imaginasi daerah prospek. Langkah selanjutnya adalah melakukan pewarnaan
( colouring ), kemudian picking atau timing, lalu korelasi dengan struktur yang ada,
misal pola pola bidang sesar, tren struktur dan lain sebagainya, baru tahap selanjutnya
adalah mapping di atas basemap.
Dari gambaran struktur anomali atau peta kontur pada basemap kita perlu melakukan
studi komprehensip / analisis terhadap anomali tersebut dengan menambah informasi
dari stratigrafi, data log, data sejarah geologi, dan informasi lainnya, sedemikian rupa
sehingga dapat ditentukan jebakan jebakan yang kemungkinan besar mengandung
hidrokarbon.
Tahap terakhir adalah membuat rekomendasi dari hasil analisis pada daerah
tersebut.
1. IDENTIFIKASI PERUBAHAN AMPLITUDO
a. Amplitudo dan Sinyal
Sinyal pantul terjadi karena adanya pulsa yang masuk kedalam medium yang
mempunyai impedansi berbeda. Jika perubahan amplitudo sepanjang lintasan terjadi
secara tiba tiba, kemungkinan besar gejala tersebut diakibatkan oleh adanya sesar,
tetapi bila perubahan tersebut terjadi secara gradual sampai hilang sama sekali,
kemungkinan telah terjadi perubahan lithologi ( pinch out ).
Perubahan amplitudo dan polaritas terkadang juga memberikan informasi
penting mengenai keberadaan batuan batuan reservoar yang potensial seperti litholog,
porositas dan kandungan zatcair ( fluida ).
b. Brightspot dan Dimspot
Pola data seismik yang terdapat sinyal pantul ( even ) dari lapisan pasir yang
mengandung gas cenderung lebih kuat atau brighter dari pada pantulan
pantulan lapisan yang sama tetapi berisi air asin. Brightspot dan Dimspot dapat
terjadi karena air asin yang berada pada batu pasir marine tersebut berfungsi

sebagai zat cair normal dalam lingkungan itu. Air asin ini mengisi porositas batu
pasir, kemudian sebagian air asin digantikan tempatnya oleh gas, sehingga
kecepatan ( densitas ) atau akustik impedansinya menjadi berkurang. Jika
impedansi akustik batu lempung yang berada diatas batu pasir sudah lebih besar
dari pada keadaan normalnya ( batu pasir + air asin ), maka pada saat batu pasir
terisi gas impedansi akustiknya semakin bertambah besar.
c. Lapisan Karbonat
Pada umumnya, batuan karbonat berasosiasi dengan batu pasir dan atau batu
lempung. Biasanya ditemukan batuan karbonat mempunyai impedansi alamiah
yang lebih besar daripada lapisan lainnya. Koefisien pantulan pada lapisan
karbonat atas normalnya kuat dan positip, sering juga ditemukan bahwa batuan
karbonat cenderung kurang porus daripada batupasir dan batu lempung.
d. Kontak Zatcair
Kenampakan data seismik nonstruktural lainnya adalah batas kontak antara
akumulasi gas minyak atau minyak air. Kontak antara akumulasi gas dengan
zat cair di bawahnya secara normal akan nampak datar ( flat ). Zat cair ini
biasanya minyak dan air garam. Batas kontak pantulannya mempunyai polaritas
selalu positip.
e. Keterbatasan
Ketebalan lapisan tertentu akan mengalami interaksi antara dua pemantul,
terutama bila tebal lapisan disekitar panjang gelombangya, sehingga dua
sinyal pantulan seismik bergabung menyatu hingga saling memperkuat yang
tampak seperti brightspot, dua hal ini sering disebut sebagai tuning effect.
f. Efek Multiple
Multiple adalah even yang mengalami pemantulan lebih dari satu kali ( berulang
ulang ) sebelum kembali ke permukaan. Ciri dari even multiple mempunyai
periode waktu yang tetap, amplitudo mengecil, kandungan frekuensi relatif
sama, pada umumnya terjadi pembalikan phase dari even sebelumnya, dan
mempunyai slope yang lebih tajam dari pada even primernya. Multiple
tergolong noise di dalam seismik refleksi, sehingga ia harus di hilangkan dengan
filter filter tertentu yang tepat desainnya untuk jenis multiple tersebut.
g. Efek Difraksi
Efek difraksi muncul akibat adanya suatu perubahan permukaan subsurface yang
cukup tajam seperti sesar, dan pembajian. Ujung permukaan yang relatif tajam

tersebut akan berfungsi sebagai pembangkit sumber gelombang baru.


Gelombang baru ini menjalar ke segala arah dan berinterferensi dengan sumber
gelombang primer dari permukaan. Hasil interferensi tersebut membentuk suatu
bentuk rekaman seismik yang khas di permukaan.

2. IDENTIFIKASI STRUKTUR
Suatu wilayah yang mengalami tegasan atau tekanan ( stress ) dapat
diidentifikasi tipe dan orientasi strukturnya dari kenampakan struktur yang ada, yang
dikenal sebagai structural style. Medan tegasan tersebut dapat berubah dari waktu ke
waktu sehingga dari satu tempat ke tempat lain, akan terjadi perbedaan structural style,
atau saling tumpang tindih satu sama lain.
Structural style tergantung pada kedudukan tektonik, khususnya pada daerah daerah
batas lempengan dan tipe batasnya.
3. SEISMIK STRATIGRAFI
Di dalam melakukan interpretasi seismik seseorang sering menggunakan
konsep seismik stratigrafi ( strata atau perlapisan berdasarkan sifat gelombang seismik ).
Konsep ini merupakan disiplin ilmu yang berkaitan dengan penentuan hubungan
hubungan lithologi dan stratigrafi bawah permukaan dengan menggunakan data seismik
refleksi. Sedangkan litho dan stratigrafi atau lithostratigrafi adalah stratigrafi fisis yang
melulu berdasarkan pada tipe batuan, bukan pada fosil atau paleomagnetik ataupun pada
penentuan umur dan sesungguhnya.
Sekuen stratigrafi merupakan suatu strategi yang berorientasi proses yang
menggunakan proses proses pengendapan untuk menjelaskan atau memprediksi
kejadian ( occurance ), penyebaran ( extent ), dan geometri sedimentasi fasies.
4. GARIS KONTUR
Interpretasi struktur dalam irisan data seismik melibatkan interpolasi tiga
dimensi data sepanjang lintasan pada setiap bidang luasan daerah eksplorasi. Hasilnya
berupa luasan permukaan yang disebut horizon . Pada umumnya horizon ditampilkan
dengan menggunakan peta kontur. Peta kontur yang disajikan biasanya berupa peta
struktur daerah prospek dan peta ketebalan. Horizon dapat pula disajikan dalam bentuk
penampang geologi atau diagram fence.

III. DASAR TEORI


Data lapangan merupakan data mentah yang berisi segala informasi baik yang
berupa dikehendaki maupun yang tidak. Dalam pengolahan data, informasi yang tidak
diharapkan ini direduksi bahkan kalau mungkin dihilangkan sama sekali, sehingga
diperoleh kualitas data seismik yang benar-benar menggambarkan penampang bumi.
Harus diingat bahwa metode seismik disusun berdasarkan pendekatan dengan asumsiasumsi untuk keadaan ideal.
Pengolahan data dibagi 2 tahap. Pertama mengeliminasi informasi yang tidak
diharapkan yang dikenal dengan langkah pre processing dan yang kedua adalah
membawa data bebas noise tersebut agar mendekati kondisi alam yang sebenarnya
yang disebut dengan post processing. Selain itu pengolahan data seismik juga bisa
dikelompokkan dalam 2 kelompok yaitu pengolahan standar dan pengolahan non
standar. Langkah-langkah pada pengolahan data standar selalu dilakukan untuk segala
macam jenis kasus data, sedang pengolahan data non standar hanya dilakukan untuk
kasus data tertentu sebagai tambahan dari pengolahan data standar.

III.1. Pengaturan Rutinitas Data


Dalam pengolahan data standar, data dari lapangan akan melalui beberapa proses
awal termasuk demultiplexing, pelabelan dan trace gathering.

III.1.1. Demultipexing
Apabila pada perekaman di lapangan data tersimpan secara multiplex, maka
untuk pengolahan selanjutnya data perlu diurutkan kembali berdasarkan urutan data dari
stasiun penerimanya (trace). Pengurutan data menjadi berdasarkan stasiun penerima ini
disebut sebagai demultiplexing.
Gelombang seismik yang terpantul besarta noise dan gelombang lainnya
diterima oleh geophone masih berupa analog. data tersebut dapat direkam pada pita
magnetik seperti catridge, exabyte, tape, dan piringan pita. Gelombang analog ini

dicuplik menjadi digital dengan menggunakan multipxer pada interval tertentu saat
perekaman.
Setiap sampel, setelah dikonversikan menjadi bilangan-bilangan, ditulis pada
pita magnetik tanpa diatur kembali menurut data aslinya. Dapat dikatakan bahwa data
seismik pada pita magnetik dari lapangan ditulis menurut kelompok sampel, bukan
menurut kelompok kanal atau trace. Oleh sebab itulah perlu dilakukan demultiplexing,
yaitu mengatur kembali urutan sampel tersebut berdasarkan kelompok kanal atau tracenya, dan mengubah multiplexed trace menjadi seismic trace dalam deret waktu. Saat ini
telah terdapat proses perekaman data seismik dalam bentuk demultiplex yang lebih
mudah dan lebih hemat dari segi biaya pada waktu pengambilan data seismik refleksi.

III.1.2. Geometri dan Perlabelan


Secara umum geometri adalah proses untuk memasukkan parameter-parameter
lapangan untuk mendapatkan model yang ideal sesuai dengan parameter geometrinya
dan juga untuk mengetahui hubungan antara shot point dan penerima yang akan
dipergunakan dalam koreksi statik.
Geometri merupakan proses pendefinisian identitas setiap trace yang
berhubungan dengan shot point, posisinya di permukaan (end off spread atau split
spread), jarak (offset) terhadap shotpoint-nya, kumpulan CDP, kedalam suatu koordinat
tertentu. Data yang digunakan sebagai data masukkan adalah observer report.
Adapun pelabelan merupakan proses pencocokan nomor perekaman dengan
nomor shotpoint. hasil pelabelan berisi informasi, nomor lokasi shoot, nomor record,
nomor CDP, nomor trace, nomor offset, dan sebagainya.

III.1.3.Trace Gathering
Untuk memudahkan analisis dan mempercepat pemrosesan data seismik maka
dilakukan trace gathering. Trace Gathering yaitu proses penggabungan atau
pengelompokan berdasarkan beberapa kesamaan dari masing-masing trace yang berupa
Comon Source Point (CSP), Common Depth Point (CDP), Common Offset (CO),
Common Receiver (CR) disebut trace gathering.

III.1.4. Gain Recovery

Fungsi gain recovery diterapkan pada data untuk mengkoreksi efek divergensi
amplitudo wavefront (spherical). Dalam penerapan spreading geometri, yang tergantung
pada travel time dan rerata primary velocity yang tergabung dengan refleksi di dalam
areal survey. Sebagai tambahan exponential gain fucntion mungkin digunakan untuk
menkompensasi atenuasi. Lebih baik apabila dilakukan filter data dengan band-pass
filter yang lebar sebelum dekonvolusi.
Gain (penguatan) yang dikenakan pada trace seismik di lapangan berbentuk
suatu fungsi yang tidak smooth, karena harganya bisa naik atau turun secara otomatis
(instanteneous floating point) maka mengakibatkan distorsi. tetapi fungsi gain tersebut
ikut terekam di dalam pita magnetik. Saat pengolahan data, fungsi gain tadi ditiadakan
dengan cara mengalikan harga-harga trace seismik dengan kebalikan dari fungsi gain,
kemudian dihitung harga rata-rata amplitudo trace seismik tersebut menurut fungsi
waktu. Dari sini bisa ditentukan parameter-parameter fungsi gain yang baru sedemikian
rupa sehingga fungsi gain yang dipergunakan menjadi smooth. Fungsi gain yang benar
akan menghasilkan trace seismik dengan perbandingan amplitudo-amplitudo sesuai
dengan perbandingan dari masing-masing koefisien refleksinya.

III.2 Koreksi Akibat Geometri

III.2.1. Koreksi Statik


Kedudukan sumber seismik dan receiver di permukaan bumi, pada
kenyataannya sangat bervariasi ketinggiannya. Sehingga gelombang seismik yang
merambat akan melalui lapisan lapuk yang bervariasi ketebalannya akan mengakibatkan
adanya perbedaan waktu tempuh terhadap suatu datum referensi. Hal ini diperlukan agar
perubahan waktu reflektor dalam penampang rekaman dapat dianggap seluruhnya
berasal dari subsurface dan agar pada masing-masing trace dalam CDP gather dapat
disesuaikan untuk menjaga sinyal agar tetap maksimal saat distack. Ketelitian koreksi
statik akan mempengaruhi kualitas penampang seismik pada kontinyuitas refleksi,
struktur geometri, resolusi dan keakuratan analisa kecepatan.

III.2.1.1. Koreksi lapisan lapuk

Koreksi lapisan lapuk pada dasarnya menggantikan waktu rambat yang


sebenarnya saat melalui lapisan lapuk dengan waktu rambat yang dihitung.Waktu
rambat yang dihitung diperoleh dari perhitungan waktu rambat di lapisan lapuk yang
telah diganti pada tebal yang sama oleh lapisan di bawahnya ( lapisan yang tidak lapuk
dengan kecepatan yang lebih tinggi. Tebal lapisan lapuk diperoleh dari satu atau lebih
survey Up Hole

III.2.1.2.Koreksi Ketinggian
Efek topografi terhadap waktu rambat gelombang refleksi dapat dihilangkan
dengan koreksi elevasinya, yaitu dengan membawa (seolah-olah) sumber dan geophone
kepada datum (E=0)

III.2.2. Analisa Kecepatan


Untuk memperbaiki rasio S/N , multifold dicover dengan informasi lapangan
non-zero offset sekitarsubsurface. Analisa kecepatan dikerjakan pada CMP gather
terseleksi atau group gather. Output dari suatu tipe analisa kecepatan adalah tabel nomor
sebagai fungsi kecepatan vs two way zero-offset time (velocity spectrum)). Nomornomor tersebut mewakili beberapa pengukuran sinyal koheren sepanjang trayektori
hiperbolik yang diatur oleh velocity, offset dan travel time.
Pasangan velocity terseleksi dari spektra ini didasarkan pada puncak koheren
maksimum. Dalam area spektrum yang komplek, spectra velocity sering tidak akurat.
Bila dijumpai kasus ini, data distack dengan range velocity yang konstan, dan velocity
stack yang konstan itu sendiri digunakan dalam picking velocities.

III.2.3. Koreksi NMO


Koreksi NMO diperlukan karena untuk satu titik di subsurface akan terekam
oleh sejumlah geophone sebagai garis melengkung (hiperbola). Distorsi frekuensi
meningkat saat yang pendek dan offset yang besar. Untuk mencegah gradasi khususnya
kejadian dangkal, zona distorsi dihapus (muted) sebelum stacking. Di dalam CDP gather
koreksi NMO diperlukan untuk mengoreksi masing-masing CDP-nya agar garis
lengkung tersebut menjadi lurus, sehingga pada saat stack diperoleh sinyal yang paling

maksimal. Akhirnya CMP stack didapat dengan menjumlah offset. Koreksi NMO
disebut juga koreksi dinamik (non-statik).

III.2.5. Koreksi Migrasi


Event kedalaman yang kemudian pindah kepada posisi subsurface yang
sebenarnya dan difraksi dengan memigrasi stacked section menggunakan velocity
medium. Migrasi dilakukan pada kawasan CDP gather dengan tujuan untuk
memfokuskan reflektor dan menggeser posisi reflektor ke posisi yang sebenarnya.
proses migrasi diperlukan karena rumusan pemantulan pada CMP yang diturunkan
berasumsi pada model lapisan datar, apabila lapisannya miring, maka letak titik CMP
atau reflektornya akan bergeser. Untuk mengembalikan titik reflektor tersebut ke posisi
sebenarnya disebut koreksi migrasi atau migrasi saja.
III.3. Penguatan Data
Penguatan data bertujuan meningkatkan kualitas data (S/N ratio tinggi). Proses
yang termasuk penguatan data adalah koreksi statik residual, stacking dan filtering.

III.3.1. Koreksi Statik Residu


Untuk memperbaiki kualitas stacking, koherensi statik residu dilakukan pada
moveout terkoreksi CMP gather. Hal ini dilakukan ragam surface-consistent, time shift
tergantung hanya pada lokasi shot dan receiver.
Perkiraan koherensi residual diterapkan pada CMP gather observasi tanpa
koreksi NMO. Analisa kecepatan sering diulang untuk memperbaiki velocity pick.
Dengan perbaikan tersebut, CMP gather menjadi NMO terkoreksi.

III.3.2. Stacking Diagram dan CDP Gather


Trace-trace penyusun CDP dari data seismik refleksi pada metode multiple
coverage terekam dalam sejumlah p record. Penggabungan trace-trace tersebut akan
manghasilkan sebuah trace baru yang menggambarkan satu CDP dengan kualitas data
yang lebih baik yaitu amplitudo random noisenya akan tereduksi. Sebelum dilakukan
penggabungan trace-trace yang melalui satu CDP, perlu dilakukan penyortiran record-

record yang penyusun CDP tersebut. Penyortiran trace-trace ini disebut dengan CDP
gathering dan hasilnya disebut dengan CDP gather atau CMP gather.
Untuk memperoleh CDP gather yang benar kita harus mengetahui trace-trace
yang menyusun suatu CDP tertentu, yang dapat diketahui dari stacking diagram.
stacking diagram bisa dibuat berdasarkan parameter lapangan yang biasanya dicatat
pada kertas dan sebagian dimasukkan pada header data pada tape. Parameter lapangan
ini adalah bentuk spread, interval shot point, interval receiver, coverage, perpindahan
shot point (spread roll-up), elevasi station, kedalaman sumber, uphole time dan yang
penting juga diperhatikan adalah satuan yang dipakai apakah dalam meter atau feet.

III.3.3. Pre Stack Time Migration (PSTM)


Pre Stack Time Migration dilakukan pada kawasan dengan dip yang bisa dirubah
misalnya pada Common Offset domain. Hal ini merupakan proses migrasi yang
dilakukan sebelum proses stacking. Proses ini dilakukan untuk mendapatkan hasil yang
lebih baik dan akurat.
III.3.4. Filtering
Data seismik mengandung informasi sinyal yang harus terjaga selama dalam
pemrosesan, tetapi dta tersebut juga mengandung noise yang harus dihilangkan. Dalam
survey seismik pantul, noise yang masuk dapat bersifat koheren atau random. Noise
koheren seperti gelombang permukaan, gelombang langsung, gelombang bias, multiple
dan lain-lain. Sedangkan noise random sumber dan letaknya tidak jelas, namun
demikian dapat dimatikan atau diredam.
Ada dua jenis filter :
1. Filter frekuensi (satu dimensi)
Hanya meredam frekuensi tertentu yang tidak diinginkan. Tipe filter ini berupa
low pass filter, high pass filter, band pass filter, dan notch filter. Filter di dalam
pengolahan data pada umumnya bersifat zero phase, sehingga tidak menggeser
phase data.
2. Filter F-K (dua dimensi)

Digunakan untuk meredam noise yang memiliki frekuensi sama dengan


frekuensi sinyal tetapi bilangan gelombangnya berbeda. Ada dua jenis filter F-K,
yaitu notch dan band pass filter.

III.3.5. Equalization
Adalah proses untuk menaikkan atau menurunkan harga amplitudo tanpa
merubah perbandingan amplitudo refleksi-refleksinya. Dalam hal ini digunakan window
yang panjang,

setelah

harga rata-rata diperoleh

dalam window

tersebut lalu

dicari faktor
skalanya atau faktor pengali sedemikian rupa sehingga harga rata-rata itu menjadi
suatu
harga yang dikehendaki (2). Faktor skala yang diperoleh, dipergunakan untuk
mengalikan semua amplitudo trade tersebut. Bila digunakan banyak window
(overlap/baku tindih 50 %) maka faktor skala setiap window dikalikan pada amplitudo
trace di windownya masing-masing. Pada daerah baku tindih dilakukan interpolasi.

III.3.6. Plotting
Pengolahan data dianggap selesai kalau hasil pengolahan telah diplot pada film.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada plot film adalah :
a. Skala horizontal (trace/mm atau trace/inch) dan skala vertikal (detik/cm)
b. Bias, dinyatakan dalam % yaitu tebal garis trace terhadap jarak antara dua trace
c. Display mode, bisa wiggle saja, wiggle variable area atau wiggle variable saja
d. Polaritas (normal/reverse) dan garis waktu (timing line)
e. Informasi pada film (titik perpotongan lintasan, sumur, dll)
f. Arah plot, harus sesuai dengan arah penembakan lintasan
Gain, fokus, sambungan film (bila perlu penyambungan) harus sama densitasnya

IV. RENCANA KERJA PRAKTEK


IV.1.Bidang studi
Bidang studi yang akan dipelajari pada kerja praktek ini meliputi interpretasi
data seismik dengan menggunakan fasilitas yang telah disediakan PPT MIGAS Cepu.

IV.2. Waktu dan tempat pelaksanaan


Kerja praktek ini diharapkan dapat terlaksana pada :
Tanggal : 07 Oktober 2002 - sampai selesai
Tempat : PPT MIGAS CEPU, Jawa Tengah
V. PENUTUP
Demikian proposal ini kami buat dengan harapan rencana kerja praktek ini dapat
diterima.

LEMBAR PENGESAHAN

Yogyakarta, 05 September 2002

Penyusun

Arisman
98 / 120735 / PA / 07421

Ketua Program Studi Geofisika

Dosen Pembimbing

FMIPA UGM

Dr. Waluyo

Dr. Waluyo

NIP : 130515737

NIP : 130515737