Anda di halaman 1dari 47

1

TUGAS MATA KULIAH CRITICAL THINKING


PENERAPAN DAN ANALISIS PHYLOSOPHICAL THEORY
PATRICIA BANNER
Pembimbing: Rizky Fitriasari, M.Kep.,Ns.

OLEH:
KELOMPOK 4
Khoirul Latifin
Ni Putu Wulan Purnamasari
Innez Karunia Mustikarani
Taufik
Eka Santi
Maria Agustina Making
Suhartono
Edy Suprayitno

NIM. 131314153027
NIM. 131314153028
NIM. 131314153029
NIM. 131314153030
NIM. 131314153031
NIM. 131314153032
NIM. 131314153033
NIM. 131314153034

PROGRAM STUDI MEGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2013

DAFTAR ISI
Halaman Sampul Depan ................................................................................... i
Daftar Isi........................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Tujuan ....................................................................................................... 2
BAB 2 TINJAUAN TEORI
2.1 Latar Belakang Teori ................................................................................. 3
2.2 Definisi dan Konsep Mayor ...................................................................... 4
2.3 Penjelasan Model Konsep ......................................................................... 4
2.4 Asumsi Mayor ........................................................................................... 7
2.5 Paradigma Keperawatan ............................................................................ 10
2.6 Penerimaan Oleh Keperawatan ................................................................. 15
2.7 Kelemahan Teori ....................................................................................... 20
BAB 3 APLIKASI TEORI ............................................................................. 27
BAB 4 PEMBAHASAN ................................................................................. 38
BAB 5 PENUTUTP
5.1 Kesimpulan ............................................................................................... 42
5.2 Saran .......................................................................................................... 43
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 44

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat di Indonesia pada
pelaksanaannya mengacu pada pedoman standar praktek pelaksanaan
asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI. Adapun praktek pemberian
asuhan keperawatan terdiri dari promosi kesehatan, Pengkajian, Diagnosis
keperawatan, Perencanaan, Implementasi, dan Evaluasi serta komunikasi
dan hubungan terapeutik. Dalam pelayanan keperawatan yang dilakukan
harus berdasarkan kaidah ilmu keperawatan serta model konsep teori
keperawatan, yang mana merupakan pedoman dalam pemberian asuhan
keperawatan. Model konseptual disiplin perawat merupakan landasan untuk
mengembangkan sebuah teori dan nilai moral bagi perawat. Paradigma
pengembanagn teori model keperawatan, yaitu manusia, lingkungan,
keperawatan dan kesehatan.

Pada penerapannya, penekanan dari setiap

model keperawatan sangatlah bervariasi menyesuaikan dengan setiap


konsep yang ingin dikembangkan. Namun setiap teori yang dikembangkan
akan selalu menjelaskan hubungan antara konsep-konsep sentral tersebut.
Salah satu model konseptual yang akan dibahas dalam makalah ini
yaitu model teori yang dikembangkan oleh Patricia Benner. Dalam teori
benner dikemukan pandangan bahwa perawat yang memiliki keterampilan

baik apabila berfokus pada pengetahuan dan pengalaman praktek yang telah
digunakan untuk menuntun pengujian inovasi dan perubahan praktek
keperawatan sehingga tercipta kemajuan pengembangan karir dalam
keperawataan klinis. Benner memiliki model teori yaitu From Novice To
Expert yang dikembangkan oleh Patricia Benner diadaptasi dari Model
Dreyfus yang dikemukakan oleh Hubert Dreyfus dan Stuart Dreyfus.
Teori Benner dapat termasuk teori filosofis karena menekankan level
praktek keperawatan yang dimulai dari pemula (novice), pemula lanjutan
(advance beginner), kompeten (competent), asisten ahli (proficient) dan ahli
(Expert). Oleh karena itu pemahaman dan pengembangan teori keperawatan
sangat dibutuhkan sebagai upaya untuk meningkatkan profesionalisme
perawat.
Dari uraian diatas kelompok tertarik untuk mencoba membuat uraian
mengenai lebih jauh

mengenai Analisis dan Penerapan Teori Patrcia

Benner.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa memahami tentang teori Patricia Benner
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat menjelaskan Latar belakang, Pengertian dan
asumsi mayor, Skema / Bagan / Model Konsep, Penerimaan oleh
keperawatan (praktik, pendidikan, penelitian) teori Patricia
Benner
b. Mahasiswa dapat menguraikan aplikasi teori Patricia Benner

c. Mahasiswa dapat mendemonstrasikan aplikasi teori Patricia


Benner
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1 Latar Belakang Teori


Patricia Benner Lahir pada tahun 1942 di Hampton. Benner
memperoleh gelar sarjana keperawatan dari Pasadena College pada
tahun 1964, dan pada tahun 1970 mendapat gelar Masters in Nursing di
University of California, San Francisco (UCSF). Di University of
California Benner mendalami ilmu berfokus pada stres, mengatasi
kesehatan. Selama studinya dengan gelar doktor Benner bekerja sebagai
asisten penelitian untuk Lazarus, dikenal karena teorinya tentang stres
dan coping (Lazarus 1984). Benner memiliki latar belakang akademis
yang luas didasarkan pada fenomenologi. Benner telah menerbitkan
sebuah badan literatur dan menerima penghargaan dan pujian, namun
beliau paling dikenal karena teori kompetensi klinis yang diterbitkan
dalam buku: Dari Novice dua Ahli (1984). Benner juga menggambarkan
pentingnya peduli pada manusia untuk keperawatan dalam buku: The
Primacy of Caring yang dirilis pada tahun 1989. Benner & Wrubel
menggunakan beberapa teori keperawatan, berdasarkan pemikiran
fenomenologi Heidegger, di mana kekuatan utama adalah merawat
(caring) sebagai fondasi dasar bagi semua kehidupan manusia dan
sebagai landasan sebuah profesi. Patricia Benner juga memperkenalkan

konsep perawat ahli, mengembangkan keterampilan dan pemahaman


tentang perawatan pasien dari waktu ke waktu.
2.2 Definisi dan Konsep Mayor
Benner

mengeluarkan sebuah teori yang disebut Teori From

Novice To Expert yang artinya jenjang atau tahapan dalam sebuah


profesi. Konsep teori From Novice To Expert yang dikembangkan
oleh Patricia Benner diambil dari Model Dreyfus yang dikemukakan
oleh Hubert Dreyfus dan Stuart Dreyfus. Teori From Novice to Expert
menjelaskan 5 tingkat/tahap akuisisi peran dan perkembangan profesi
meliputi: (1) novice, (2) advance beginner, (3) competent, (4) proficient,
dan (5) expert.
2.3 Penjelasan Model Konsep
Teori From Novice to Expert yang diusung oleh Benner
menjelaskan 5 tingkat/tahap akuisisi peran dan perkembangan profesi.

Penjelasan dari ke lima tingkatan tersebut adalah sebagai berikut:


a. Novice
Tingkat Novice pada akuisisi peran pada Dreyfus Model, adalah
seseorang tanpa latar belakang pengalaman pada situasinya. Perintah
yang jelas dan atribut yang obyektif harus diberikan untuk memandu
penampilannya. Di sini sulit untuk melihat situasi yang relevan dan
irrelevan. Secara umum level ini diaplikasikan untuk mahasiswa
keperawatan, tetapi Benner bisa mengklasifikasikan perawat pada
level yang lebih tinggi ke novice jika ditempatkan pada area atau
situasi yang tidak familiar dengannya.
b. Advanced beginner
Advance Beginner dalam Model Dreyfus adalah ketika seseorang
menunjukkan penampilan mengatasi masalah yang dapat diterima
pada situasi nyata. Advance beginner mempunyai pengalaman yang
cukup untuk memegang suatu situasi. Kecuali atribut dan ciri-ciri,
aspek tidak dapat dilihat secara lengkap karena membutuhkan
pengalaman yang didasarkan pada pengakuan dalam konteks situasi.
Fungsi perawat pada situasi ini dipandu dengan aturan dan orientasi
pada penyelesaian tugas. Mereka akan kesulitan memegang pasien
tertentu pada situasi yang memerlukan perspektif lebih luas.
Situasi klinis ditunjukkan oleh perawat pada level advance beginner
sebagai ujian terhadap kemampuannya dan permintaan terhadap

situasi pada pasien yang membutuhkan dan responnya. Advance


beginner mempunyai responsibilitas yang lebih besar untuk
melakukan manajemen asuhan pada pasien, sebelumnya mereka
mempunyai lebih banyak pengalaman. Benner menempatkan
perawat yang baru lulus pada tahap ini.
c. Competent
Menyelesaikan pembelajaran dari situasi praktik aktual dengan
mengikuti kegiatan yang lain, advance beginner akan menjadi
competent. Tahap competent dari model Dreyfus ditandai dengan
kemampuan mempertimbangkan dan membuat perencanaan yang
diperlukan untuk suatu situasi dan sudah dapat dilepaskan.
Konsisten, kemampuan memprediksi, dan manajemen waktu adalah
penampilan pada tahap competent. Perawat competent dapat
menunjukkan reponsibilitas yang lebih pada respon pasien, lebih
realistik dan dapat menampilkan kemampuan kritis pada dirinya.
Tingkat

competent

adalah

tingkatan

yang

penting

dalam

pembelajaran klinis, karena pengajar harus mengembangkan pola


terhadap elemen atau situasi yang memerlukan perhatian yang dapat
diabaikan. Competent harus mengetahui alasan dalam pembuatan
perencanaan dan prosedur pada situasi klinis. Untuk dapat menjadi
proficient, competent harus diizinkan untuk memandu respon
terhadap situasi.

Point pembelajaran yang penting dari belajar mengajar aktif pada


tingkatan competent adalah untuk melatih perawat membuat transisi
dari competent ke proficient.

d. Proficient
Perawat pada tahap ini menunjukkan kemampuan baru untuk
melihat perubahan yang relevan pada situasi, meliputi pengakuan
dan mengimplementasikan respon keterampilan dari situasi yang
dikembangkan. Mereka akan mendemonstrasikan peningkatan
percaya diri pada pengetahuan dan keterampilannya. Pada tingkatan
ini mereka banyak terlibat dengan keluarga dan pasien.
e. Expert
Benner menjelaskan pada tingkatan ini perawat expert mempunyai
pegangan intuitif dari situasi yang terjadi sehingga mampu
mengidentifikasi area dari masalah tanpa kehilangan pertimbangan
waktu untuk membuat diagnosa alternatif dan penyelesaian.
Perubahan kualitatif pada pada expert adalah mengetahui pasien
yang berarti mengetahui tipe pola respon dan mengetahui pasien
sebagai manusia. Aspek kunci pada perawat expert adalah:
1) Menunjukkan pegangan klinis dan sumber praktis
2) Mewujudkan proses know-how
3) Melihat gambaran yang luas
4) Melihat yang tidak diharapkan
2.4 Asumsi Mayor

10

Asumsi teori benner mengadop dari disertasi Brykczynskis (1985).


Berikut penelitian yang mendukung teori Benner :
1. Tidak ada data yang dapat diintepretasikan. Ini terbebas dari segala
asumsi dari pengetahuan alami bahwa semua tergantung pada bentuk
atau konsep-konsep abstrak yang diintepretasikan (Taylor, 1982).
2. Pengertian-pengertian menanamkan skills, praktik-praktik, perhatian,
perkiraan dan hasil tindakan. Pemahaman-pemahaman tersebut akan
dapat berjalan dengan pengetahuan yang sering didapatkan.
3. Seseorang yang umumnya memberikan perawatan kepada orang lain
berdasarkan kebudayaan, bahasa akan dapat memberikan pengertian
dan intepretasi yang benar. Heidegger 1962 mengatakan bahwa yang
dapat memberikan pengertian dan pemahamana yang benar adalah
pengorganisasian kebudayaan dan pengertian/pemahaman terdahulu
serta pengembangan pemahaman individu.
4. Peningkatan skills, praktik, perhatian, perkiraan, dan hasil dari
tindakan tidak dapat dibentuk secara lengkap, namun bagaimanapun
juga kemampuan tersebut dapat diintepretasikan oleh orang yang
memberikan perawatan kepada orang yang meiliki bahasa, latar
belakang budaya yang sama. Manusia merupakan inteperatsi bagi
dirinya

sendiri

(Heidegger,

1962).

Hermeneutik

merupakan

intepretasi dari conteks budaya dan arti dari aksi manusia itu sendiri.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut Benner dan koleganya
membuat tema besar yaitu perawat, individu, situasi dan kesehatan.
1. Perawat

11

Perawat

didefinisikan

sebagai

hubungan perawatan (caring)

memungkinkan terjadinya konndisi yang penuh koneksi dan fokus.


Caring

merupakan

hal

mendasar

karena

caring

menyusun

kemungkinan-kemungkinan dalam pemberian dan penerimaan suatu


bantuan. Perawat sebagai pemberi caring berdasarkan etika, moral
dan tanggungjawab. Benner dan Wrubel (1989) memahami seorang
perawat sebagai pemberi perawatan dan belajar secara langsung
melalui pengalaman sehat, sakit dan penyakit serta hubungan tiga
elemen tersebut.
2. Individu
Benner dan Wrubel mendiskripsikan mengnai ndividu berdasarkan
teori penomenologi Heidegger. Benner dan Wrubel mendefinisikan
individu adalah menjadi intepretasi bagi dirinya sendiriri, ini
menunjukkan bahwa indivudu hadir di dunia untuk mendapatkan
pengalaman dari hidup selama ini. Benner dan Wrubel membuat 4
aspek individu untuk memudahkan memahami pengertian individu.
Aspek tersebut adalah: (a) Aspek situasi (b) aspek tubuh (body) (c)
aspek fokus personal dan (d) apsek duniawi. Benner dan Wrubel
mencoba mengerucutkan definisi dari tubuh (body) menjadi lima
komponen yaitu : (1) tidak dilahirkan secara kompleks, tidak
berbudaya, dan seorang bayi baru lahir (2) Skills yang komplit
dengan postur, gaya/sikap, kebiasaan budaya/sosial dan keterampilan
yang jelas (3) Proyeksi dari citra tubuh/body (4) kinestetik sensasi
(5) proyeksi dari situasi sekitar seperti menggunakan komputer.

12

3. Kesehatan
Kesehatan diartikan sebagai keadaan dimana saat dikaji dalam
keadaaan sehat secara keseluruhan. Keadaan sehat dan sakit
merupakan hal yang jelas terjadi dalam kehidupan. Sehat tidak hanya
sekedar bebas dari penyakit atau sakit tetapi juga (dalam perspektif
Kleinman, Eisenberg Good) seseorang mungkin memiliki penyakit
dan pengalaman sakit karena sakit merupakan pengelaman seseorang
yang mengakami kehilangan atau disfungsi mengingat penyakit
mempengaruhi tingkat kesehatan fisik.
4. Situasi
Benner dan Wrubel menggunakan kata situasi daripada lingkungan
karena situasi lebih mengarah pada lingkungan sosial dengan definisi
sosial. Mereka menggunakan pendekatan fenomenologi menjadi
situasi dan arti situasi diamana kalimat itu didefinisikan
berdasarkan interaksi intepretasi dan memahami situasi seseorang.
Ini berarti bahwa masa lalu, sekarang dan masa datang seseorang
tergabung dalam pemahaman (pemaknaan) pribadi, kebiasaan,
perspektif dan perkembangan situasi yang terjadi.
2.5 Paradigma Keperawatan
Benner mempelajari praktik keperawatan melalui percobaan untuk
menemukan

dan

menjelaskan

pengetahuan

dadalam

praktik

keperawatan. Dia mempertahankan pengetahuan yang terjadi sepanjang

13

waktu dalam praktik dan mengembangkannya berdasakan interaksi


situasional. Paradigma pertama Benner adalah membuat perbedaan yang
jelas antara praktik dan teori. Benner memulai dengan mendefinisikan
praktik yaitu Terdiri dari menrbarluaskan pengetahuan tahu bagaimana
(Know-How)

investigasi

berdasarkan

teori

dasar

dan

menghubungkannya dengan pemetaan Know-How pada pengalaman


praktik. Benner percaya bahwa perawat memeilki kelalaian dalam
melakukan pencatatan keperawatan selama pembelajaran praktik danini
merupakan keburukan dalam pemetaan prkatik kita dan menghilangkan
teori keperawatan.
Citing Khun, 1970 dan Polanyi, 1958 cit. Benner, 2009
menekankan perbedaan antara Knowing how Pengetahuan praktik yang
mungkin dapat menghindarkan kita dari pengetahuan abstrak dengan
tahu bahwa (Knowing that) yang diawali dengan penjelasan teori.
Knowing That adalah cara seseorang untuk mengetahui melalui
menentukan hubungan antara penyebab dengan kejadian. Knowing how
adalah

kemahiran

keterampilan/praktik

yang

mungkin

akan

bertentangan dengan teori yang ada.ini menunjukkan bahwa seseorang


mengetahui sesuatu bekerja sebelum teori berkembang. Situasi-situasi
klinik selalu bervariasi dan kompleks dibandingkan dengan teori oleh
karena itu, praktik klinik menjadi ladang penelitian dan pengembangan
pengetahuan. Melalui prakatik klinik, perawat dapat menerima
pengetahuan

baru.

Perawat

harus

mengembangan

pengetahuan

berdasarkan praktik (Know-How) dan melanjutkan dengan investigasi

14

dan pengamatan secara menyeluruh. Semua ini dimulai dari pencatatan


dan pengembangan Know-how tentang keahlian keterampilan.
Benner mengadop teori Dreyfus untuk praktik klinik keperawatan.
Dreyfus bersaudara mengembangakan model kemahiran keterampilan
dengen mempelajari kemampuan perawat gawat darurat. Meodel
inimencakup (1) Novice (2) Adnvanced Beginner (3) Competent (4)
Proficient (5) Expert. Pembagian kelompok tersebut berdasarkan 4
komponen yaitu (1) perubahan dari kepercayaan mengenai prinsip
abstrak dan aturan masa lalu menuju pengalaman yang konkrit (2)
perubahan dari kepercayaan dalam analisis dan berpikir (3) Perubahan
persepsi pembelajar (Lerners) dalam membaca situasi (4) perubahan
penerimaan dari pengamat, keluar dari situasi yang terjadi menuju
siatuasi yang tidak terlibat, fully engaged in the situastion.
Teori ini berdasarkan situasi dan bukan dari karakter, aplikasi ini
bukan berdasarkan karakteristik individual melainkan dari fungsi umum
perawat dengan kombinasi situasi khusus degan latar belakang
pendidikan. Pengaplikasian teori ini, Benner mencatat Pengalaman
berdasarkan kemahiran keterampilan lebih aman dan cepat bila disertai
dengan

pendidikan.

Benner

mendefinisikan

keterampilan

dan

keterampilan klinik yang dimaksudkan dalam implementasi asuhan


keperawatan dan justifikasinya dalam situasi klnik yang aktual. Kondisi
tanpa ada kondisi aktual tidak akan terjadi peningkatan keterampilan
klinik perawat.

15

Benner berusaha untuk menyoroti dari pengembangan ilmu


pengetahuan klinis daripada untuk menggambarkan keseharian dari
perawat. Penjelasan Benner praktik keperawatan melampaui penerapan
aturan yang kaku dan teori dan didasarkan pada "perilaku yang wajar
yang merespon tuntutan situasi tertentu". Keterampilan yang diperoleh
melalui pengalaman keperawatan dan kesadaran persepsi bahwa perawat
ahli berkembang sebagai pengambil keputusan dari "gestalt situasi"
memimpin perawat untuk mengikuti firasat saat perawat mencari bukti
untuk mengkonfirmasi perubahan halus yang perawat amati pada pasien.
Konsep bahwa pengalaman didefinisikan sebagai hasilnya ketika
negara-negara yang terbentuk sebelumnya ditantang, disempurnakan,
atau ditolak dalam situasi yang sebenarnya didasarkan pada karya-karya
Heidegger

(1962)

dan

Gadamer

(1970).

Keuntungan

perawat

pengalaman, pengetahuan klinis menjadi perpaduan pengetahuan praktis


dan teoritis. Keahlian berkembang sebagai tes klinis dan memodifikasi
harapan berbasis prinsip dalam situasi yang sebenarnya. Pengaruh
Heidegger bukti dalam hal ini dan dalam tulisan-tulisan berikutnya
Benner pada keunggulan dari perawat. Benner membantah deskripsi
dualistic dari Cartesian mind-body-person dan phenomeno-logis
Heidegger mengemban deskripsi manusia sebagai makhluk diri
ditafsirkan sebagai kekhawatiran, praktik, dan pengalaman hidup. Orang
selalu berada dalam sebuah situasi, yaitu, mereka terlibat bermakna
dalam konteks di mana mereka berada. Orang datang pada suatu tempat
dengan kesalahpemahaman diri di dunia. Heidegger (1962) menyebut

16

pengetahuan praktis sebagai jenis tahu yang terjadi ketika seseorang


terlibat dalam situasi tersebut.
Benner dan Wrubel (1989) menyatakan, "Kegiatan yang terampil,
yang dimungkinkan dengan kecerdasan kita diwujudkan, telah lama
dianggap sebagai hal yang lebih 'rendah' daripada intelektual, aktivitas
reflektif" tapi menyatakan bahwa intelektual, kapasitas reflektif
tergantung pada pewujudan dari apa yang diketahuinya. Pendekatan
Benner untuk perkembangan ilmu pengetahuan yang dimulai dengan
Novice to Expert merupakan awal dari tumbuhnya hidup/tradisi untuk
belajar dari praktik keperawatan klinis melalui pengumpulan dan
interpretasi eksemplar. Benner dan Benner memulai konsep tersebut
dengan ilustrasi sebagai berikut :
Pengiriman

efektif

pasien/keluarga

pasien

perawatan

membutuhkan perhatian bersama dan saling mendukung praktek yang


baik tertanam di komunitas moral praktisi berusaha untuk menciptakan
dan mempertahankan praktik yang baik. Visi praktek diambil dari tradisi
Aristotelian dalam etika (Aristoteles, 1985) dan artikulasi lebih baru dari
tradisi ini Alasdair MacIntyre Teluk (1981), di mana praktek
didefinisikan sebagai usaha kolektif yang memiliki pengelompokan baik
internal untuk praktek. Namun, upaya kolektif tersebut harus terdiri dari
individu praktisi yang terampil tahu bagaimana, kerajinan, ilmu
pengetahuan, dan imajinasi moral, yang terus membuat dan instantiate
praktik yang baik.

17

Benner mengungkapkan keperawatan yang merupakan paradoks


budaya dalam masyarakat yang sangat teknis yang lambat untuk di nilai
dan mengartikulasikan praktek peduli. Dia merasa bahwa nilai
individualisme

ekstrim

membuatnya

sulit

untuk

merasakan

kecemerlangan peduli dalam praktek keperawatan ahli. Benner (2003)


menyampaikan untuk etika relasional yang didasarkan pada praktek
untuk menyeimbangkan fokus dominan pada hak-hak dan keadilan.
2.6 Penerimaan oleh Keperawatan
2.5.1 Praktik
Pendekatan Pemikiran-tindakan ( Benner, Hooper-Kyriakidis,
& Stannard, 2000), ditemukan bahwa pekerjaan keselamatan pasien
adalah fokus utama pekerjaan perawat di ICU ( dan kami menduga
bahwa ini mirip di semua pengaturan perawatan kesehatan ).
Keselamatan kerja terpusat bersarang di tradisi praktik keperawatan
dengan kebiasaan dari " enam hak " checklist untuk administrasi
obat yang aman ( pasien, tepat obat yang tepat, tepat dosis, tepat
rute, untuk alasan yang tepat, dan pada waktu yang tepat ),
pencegahan bahaya imobilitas, pencegahan infeksi, pencegahan
jatuh pasien, penggunaan penghakiman keperawatan klinis dalam
mengevaluasi resep penyedia perawatan kesehatan untuk obat dan
intervensi, penilaian keperawatan tentang titrasi obat-obatan dan
terapi berdasarkan respon pasien, penilaian tentang pasien
pemantauan, terjemahan dan evaluasi yang cermat penyedia
layanan kesehatan ' instruksi tertulis dan lisan, penggunaan

18

memeriksa silang identifikasi obat dan identitas pasien dengan


produk darah dan terapi pasien berisiko tinggi lainnya, dan banyak
lagi. Hal ini bertujuan untuk mendokumentasikan tradisi panjang
keselamatan pasien dalam praktek keperawatan.
Sangatlah penting untuk tidak mengesampingkan praktekpraktek mapan sementara pelaksanaan sangat bermanfaat untuk
perubahan seluruh sistem untuk meningkatkan keselamatan pasien.
Sebagai salah satu laporan Institute of Medicine ( IOM ) ( Kohn ,
Corrigan , & Donaldson 1999) menyatakan, perawat menjadi ujung
tombak perawatan pasien, sering menjadi kemungkinan baris
terakhir pertahanan dalam mencegah kesalahan perawatan pasien.
Dalam studi baru keselamatan pasien oleh Dewan Nasional Dewan
Negara

Keperawatan,

Malloch,

Benner,

&

Weeks

mendefinisikan : breakdown Praktek, gangguan atau tidak adanya


salah satu aspek praktek yang baik terjadi ketika individu, tim
kesehatan atau sistem perawatan kesehatan tidak hadir untuk satu
atau lebih dari unsur-unsur berikut :
1) Administrasi pengobatan yang aman.
Perawat mengelola dosis yang tepat dari obat yang tepat
melalui rute yang tepat kepada pasien yang tepat pada waktu
yang tepat untuk alasan yang tepat
2) Dokumentasi

19

Dokumentasi keperawatan memberikan informasi yang relevan


tentang pasien dan tindakan yang dilakukan dalam menanggapi
kebutuhan mereka.
3) Perhatian / Surveillance.
Perawat memantau apa yang terjadi dengan pasien dan staf.
Perawat mengamati kondisi klinis pasien, jika perawat tidak
mengamati pasien, maka dia tidak bisa mengidentifikasi
perubahan jika mereka terjadi dan atau membuat discernments
berpengetahuan dan keputusan tentang pasien.
4) Penalaran klinis.
Perawat menafsirkan tanda-tanda, gejala, dan respon pasien
terhadap terapi. Perawat mengevaluasi relevansi perubahan
tanda pasien dan gejala dan memastikan bahwa penyedia
perawatan pasien akan diberitahu dan perawatan pasien
disesuaikan dengan tepat.
5) Pencegahan
Perawat memiliki langkah-langkah untuk mencegah risiko,
bahaya, atau komplikasi karena sakit atau rawat inap. Ini
termasuk tindakan pencegahan jatuh, mencegah bahaya
imobilitas, kontraktur, atau stasis pneumonia.
6) Intervensi.
Perawat melakukan tindakan keperawatan dengan benar.
Interpretasi dengan tepat. Perawat menafsirkan perintah
dengan tepat.

20

7) Profesional jawab / advokasi Pasien.


Perawat menunjukkan tanggung jawab profesional dan
memahami sifat dari hubungan perawat -pasien. Advokasi
mengacu pada ekspektasi bahwa perawat bertindak secara
bertanggung jawab dalam melindungi pasien dan kerentanan
keluarga dan menganjurkan untuk melihat bahwa kebutuhan
pasien atau masalah ditangani ( Benner Sheets, Uris, Malloch,
Schwed, & Jamison 2006).
2.5.2 Pendidikan
Benner menyarankan dua cara dimana perawat pendidik
dapat menjadi aspek yang signifikan dalam proses pendidikan
keperawatan dasar. Pertama, skema tugas (penugasan) yang bisa
membantu

mahasiswa

mempelajari

keterampilan

tentang

memperoleh dan menginterpretasikan etnografi klinis atau kasus


penyakit yang dapat menambah kekuatan mahasiswa untuk
mengerti dunia orang lain (pasien). Kedua, praktik sebaiknya
dilakukan oleh mahasiswa dan dosen, bercerita tentang situasi
klinis tertentu sepanjang waktu, mengkaji apa yang sudah dilihat
(diketahui)

dan

apa

yang

terlupa,

mendalami

bagaimana

pemahaman klinis dirubah ke situasi praktis, dan bagaimana respon


perawat dibentuk melalui perubahan pemahaman ini, serta
menyediakan kesempatan untuk mengartikulasi pembelajaran
pengalaman dan pengembangan pengetahuan klinis mengajarkan

21

mahasiswa untuk merefleksikan pengalaman praktik mereka


dengan tujuan meningkatkan kemampuannya.
2.5.3 Penelitian
Lima aspek umum yang dieksplorasi dalam penelitian Benner
adalah:
a. Situasi
Ini

meliputi

pemahaman

tentang

bagaimana

seseorang

dikondisikan, baik secara historis maupun saat ini. Pertanyaan


yang diberikan terkait dengan apakah

situasi itu dimengerti

sebagai salah satu dari fungsi sosial yang mulus atau apakah
situasi tersebut adalah kehancuran, hal yang baru, atau
kebingungan.
b. Perwujudan
Ini

meliputi

perwujudan

pengetahuan

yang

menekankan

komponen keterampilan dan respon persptual dan emosional.


Perwujudan pemahaman tentang situasi dieksplorasi seperti pada
perawat dengan kompetensi yang tinggi, respon demi yang
terbaik atau respon tubuh seperti pengenalan dini dari krisis
pasien yang tertunda sebagai akibat dari ketajaman perseptual dan
rekognisi pola atau pengalaman mual yang diantisipasi pada
pasien yang akan menerima kemoterapi.
c. Keduniawian
Pengalaman waktu hidup adalah cara seseorang memproyeksikan
dirinya ke masa depan dan mengerti seseorang di masa lalu.

22

Keduniawian lebih dari momen kesuksesan linier, namun meliputi


kualitas waktu hidup atau keabadian.
d. Perhatian
Perhatian adalah cara seseorang mengorientasikan diri secara
bermakan pada situasi tertentu. Perhatian akan mendiktekan apa
yang akan muncul sebagai hal penting dan dengan demikian apa
yang akan diketahui pada situasi tersebut.

Perhatian akan

menentukan apa saja hal yang dianggap penting bagi seseorang.


e. Makna umum
Ini adalah makna linguistik apa adanya dan makna kultural yang
membentuk apa yang diketahui, apa masalah yang mungkin
terjadi, dan apa yang mungkin disetujui atau tidak disetujui
diantara masyarakat. Sebagai contoh, situasi di dalam kelas
didasarkan pada makna tentang apa maksudnya menjadi seorang
dosen maupun menjadi mahasiswa. Walaupun ketidaksetujuan
tentang pemaknaan tersebut tergantung dari pemahaman yang
lebih baik yang membiarkan perbedaan dan ketidaksetujuan yang
berarti untuk dapat terjadi.
Pengkajian dari seluruh aspek di atas sangat penting untuk
memahami pengalaman orang lain dan belajar dari sebuah pengalaman
klinik.
2.7 Kelemahan Teori
Teori From Novice to Expert Patricia Benner secara umum
belum dapat diaplikasikan di Indonesia karena teori tersebut belum

23

sesuai dengan kondisi di Indonesia. Artinya, bahwa kewenangan dan


kompetensi perawat yang jelas sehingga pembagian tugasnya terlihat.
Pada dasarnya perawat yang masa kerja lama memiliki ketrampilan yang
lebih dibandingkan perawat yang baru bekerja, meskipun jenjang
pendidikannya dibawah perawat yang baru. Perawat yang memiliki
kepandaian lebih, tetapi baru memulai karir sebagai perawat juga akan
disebut sebagai perawat novice. Perawat expert pun apabila
dihadapakan pada situasi klinis yang baru juga akan kembali menjadi
Novice. Butuh waktu yang lama untuk menjadi seorang perawat
expert. Di Indonesia pembagian kewenangan antara perawat lama dan
baru belum terlihat jelas. Kritik terhadap teori Benner dapat dilihat dari
beberapa aspek, yaitu:
1.

Kesederhanaan
Benner telah mengembangkan laporan deskriptif interpretif tentang
praktik keperawatan klinis. Konsepnya adalah tingkatan ketrampilan
praktik dari model Dreyfus, meliputi novice, advance beginner,
competent, proficient, dan expert. Benner menggunakan lima konsep ini
untuk menjelaskan praktik keperawatan berdasarkan wawancara,
observasi, dan analisis tentang catatan keperawatan. Dari penjelasan
tersebut,

kompetensi

dikelompokkan

secara

perawat
induktif

dapat
dalam

diidentifikasi
tujuh

dan

domain

dapat
praktik

keperawatan sesuai dasar tujuan umum dan maksudnya (Benner,


1984a).

Benner,

dkk

(1996)

dalam

studi

keperawatan

kritis

mengeksplor perbedaan level praktik pada kedalaman dan diusulkan,

24

seperti dituliskan di awal, bahwa perawat pada level yang berbeda


hidup pada dunia yang berbeda dalam pengertian Heideggerian. Proyek
penelitian Benner yang terus menerus telah menghasilkan sembilan
domain dalam praktik keperawatan kritis (Benner et.al, 1999). Model
yang dipakai relatif sederhana dengan melihat pada lima tingkatan
ketrampilan, dan ini menyediakan perbandingan panduan untuk
mengidentifikasilevel praktik keperawatan dari deskripsi perawat secara
individu dan observasi praktik keperawatan yang sesungguhnya.
Interpretasi ini divalidasi dengan persetujuan umum (mufakat).
Derajat kerumitan dijumpai dalam sub konsep untuk pembedaan
diantara level kompetensi dan kebutuhan untuk mengidentifikasi
maksud dan tujuan. Pendekatan interpretif ini didesain untuk mengatasi
ketidakleluasaan pendekatan rasional-tehnis pada studi dan penjelasan
praktik.

Walaupun

penjelasan

yang

berkaitan

dengan

konsep

pelaksanaan level novice memungkinkan, sepertinya penjelasan


pelaksaan expert akan sulit, jika tidak memungkinkan, dan kegunaan
yang terbatas karena terbatasnya sikap obyektif. Dengan kata lain,
masalah filosofi tentang kemunduran yang tidak terbatas akan dijumpai
dalam usaha untuk menspesifikkan semua aspek tentang praktik ahli
(expert). Malahan, pemahaman holistik tentang situasi khusus
diperlukan untuk menjadi expert.
2.

Pernyataan umum
Model kemahiran ketrampilan from novice to expert mempunyai
karakteristik yang universal yang tidak dapat dibatasi dengan umur,

25

penyakit, kesehatan, atau lokasi praktik keperawatan. Bagaimanapun,


karakteristik teori yang universal menyatakan secara tidak langsung
properti operasionalisasi untuk prediksi adalah bukan bagian dari
perspektif ini. Tentu saja, fenomena perspektif ini mengkritisi
keterbatasan keuniversalan dalam mempelajari praktik terhadap
manusia. Model interpretif dalam praktik keperawatan mempunyai
kekuatan untuk mengaplikasikan secara universal sebagai suatu
kerangka kerja, tetapi penjelasannya dibatasi oleh ketergantungan
situasi klinik keperawatan sebenarnya yang diperoleh. Ini digunakan
tergantung pada pemahaman lima level kompetensi dan kemampuan
mengidentifikasi karakteristik maksud dan tujuan yang melekat pada
tiap level praktik.
Walaupun pengetahuan klinik berhubungan dan melibatkan isu
yang lokal, spesifik, dan historikal, ini dapat digeneralisasikan dalam
istilah penerjemahan maksud pada situasi yang sama (Guba&Lincoln,
1982). Untuk menangkap aspek praktis yang berhubunagn, Benner
menggunakan laporan narasi situasi klinik yang sebenarnya dan
menjaga pendekatan ini memudahkan pembaca mengenal maksud dan
tujuan yang sama, walaupun keadaan sekitar relatif berbeda, sebagai
contoh penggeneralisasian atau penggantian digunakan dalam hal
berikut: saat membaca atau mendengar sebuah narasi tentang seorang
perawat berhubungan dengan keluarga pasie yang anaknya meninggal,
perawat yang lain dapat menceritakan bahwa mereka mungkin telah

26

menemukan keluarga lain dengan pasien yang berbeda umur yang


meninggal.
3.

Ketepatan empiris
Model teori Benner telah diuji dengan metode kualitatif: 31
kompetensi, 7 domain praktik keperawatan, dan 9 domain praktik
keperawatan kritis diderivasi secara induktif. Penelitian-penelitian
berikutnya mengindikasikan bahwa model Benner dapat diaplikasikan
dan berguna untuk pengembangan berkelanjutan pemahaman ilmu
pengetahuan dalam praktik keperawatan. Pendekatan ini untuk
pengembangan ilmu pengetahuan menekankan pentingnya kepedulian
dan etika inti keperawatan serta tanggung jawab yang melekat pada
para ahli praktik keperawatan, yang tidak tampak bila kita hanya
menggunakan strategi ilmiah, teknis, dan kelembagaan untuk
melegitimasi ahli-ahli praktik keperawatan.
Penggunaan

proses

kualitatif

alternatif

untuk

menemukan

pengetahuan keperawatan menyulitkan rujukan teori Benner ke model


rasional-empirikal. Dimana biasanya peneliti positivistik menggunakan
metode kuantitatif untuk mencari teori yang bisa diaplikasikan dalam
praktik, sedangkan pendekatan interpretif kualitatif menjelaskan para
ahli dalam keperawatan dengan contoh-contoh. Teori Benner lebih
tampak sebagai pembangunan hipotesis daripada pengujian hipotesis.
Benner tidak menjelaskan tentang bagaimana cara untuk praktik
keperawatan, melainkan menyediakan metode untuk mengupas dan
memasuki situasi yang bermakna bagi para ahli keperawatan. Altmann

27

(2007) menyatakan bahwa kebanyakan kritik terhadap teori Benner


terjadi akibat kesalahan interpretasi filosofinya sebagai teori dan
evaluasi penelitian kualitatifnya dengan parameter kuantitatif.
4.

Konsekuensi yang bisa diderivasi


Walaupun banyak perawat klinik di seluruh dunia secara antusias
menerima teori From Novice to Expert, beberapa akademisi dan
administrator

awalnya

menginterpretasikan

teori

ini

sebagai

pengembangan tradisionalisme serta mengurangi makna pendidikan dan


teori-teori praktik keperawatan. Pendekatan interpretif kualitatif Benner
untuk menginterpretasi makna dan tingkatan praktik keperawatan
menciptakan keraguan pada para peneliti objektif yang mencari kontrol
dan ketepatan. Debat berkelanjutan berkembang dalam koridor
interpretasi kognitif dari konsep Benner tentang keahlian dan intuisi.
Hingga saat ini tidak pernah tersirat kalau konsep fenomenologikal ini
diobjektifkan dan dioperasionalisasikan.
Perspektif Benner adalah fenomenologikal, bukan kognitif. Dia
menyatakan Keputusan klinis dan praktik caring memerlukan interaksi
dengan klien sepanjang waktu, yang menuju pada kondisi perubahan
dan hal-hal baru yang dipelajari. Dalam pandangan keputusan klinis ini,
keterampilan tahu-bagaimana dan tindakan saling brhubungan.
Kekuatan

teori

Benner

adalah

penelitian

berbasis

data-data

berkontribusi pada keperawatan sebagai disiplin praktik. Signifikansi


temuan penelitian Benner terletak pada kesimpulannya bahwa
pengetahuan klinis seorang perawat relevan dengan seberapa jauh

28

manifestasi keterampilan perawat dapat memberi perubahan dan


dampak dalam perawatan pasien.
Generalisasi didekati melalui pemahaman makna yang biasa,
keterampilan, praktik, dan kapasitas yang melekat daripada melalui
hukum abstrak umum yang memprediksi dan menjelaskan. Makna,
keterampilan, dan praktik yang biasa seperti itu melekat secara sosial
dalam pendidkan tinggi keperawatan dan dalam praktik serta tradisi
keperawatan. Pngetahuan yang melekat pada praktik keperawatan klinis
seharusnya diperkenalkan kepada masyarakat sebagai pengetahuan
publik agar memunculakn pemahaman yng lebih baik tentang praktik
keperawatan. Benner yakin bahwa cakupan dan kompleksitas praktik
keperawatan terlalu luas bagi perawat untuk dapat bergantung pada
idealisme, pandangan dekontekstual dari eksperimen maupun praktik.

29

BAB 3
APLIKASI TEORI
A. Aktor:
Eka Santi

: Istri Pasien/Dokter.

Edy Suprayitno

: Perawat Advance Beginner/PA (Pegawai baru)

Khoirul Latifin

: Perawat Competent/PP (2 tahun pengalaman bekerja)

Ni Putu Wulan P

: Perawat Proficient/ Clinical Instructure (6 tahun kerja)

Suhartono

: Perawat Expert (10 tahun kerja)

Taufik

: Pasien

Innez Karunia M

: Narator

Maria Agustina M

: Perawat Novice (Mahasiswa)

B. Kasus
MRS hari pertama, hasil pengkajian oleh perawat Advance Beginner (Ns.
Edi) Tn. T usia 55 tahun di rawat di ruang Camelia RS Soetomo Surabaya, dengan
diagnose CHF. Keluhan pada saat dikaji, pasien sesak, batuk dan sangat lemas.

30

Pasien terpasang O2 2 lpm, IV line RL 7 tts/mnt, lasix 2 x 10 mg, captropil 2 x 5


mg per oral. Dari pemeriksaan fisik didapat TD: 180/100 mmHg, suhu: 367oC,
RR: 36 x/mnt, Nadi: 120 x/mnt, odem pada kaki +. Hasil pemeriksaan penunjang
didapatkan: Albumin 2,1 mg/dl, dan hasil EKG ditemukan Q Patologis pada lead
II, V5, V6 (OMI). Riwayat penyakit hipertensi selama 5 th, mengkonsumsi obat
anti hipertensi tidak teratur.
Hasil pengkajian PA melaporkan kepada PP, kemudian PP merencanakan
asuhan keperawatan dan berkolaborasi dengan medis.
C. Role Play
CERITA 1 (Novice)
Narator: Tampak Tn T (Taufik). berbaring dengan posisi semi fowler, terpasang
O2 nasal kanula 2 l/m. pasien Nampak gelisah.
Situasi pada babak ini menggambarkan bagaimana seorang perawat
dalam level Novice bekerja. Ani adalah mahasiswa profesi tanpa latar
belakang pengalaman pada situasinya. Perintah yang jelas dan atribut
yang obyektif harus diberikan untuk memandu penampilannya. Clinical
Instruktur (CI) adalah orang yang berperan dalam memberikan petunjuk
dan perintah tersebut.
Mahasiswa perawat (Ani) dengan Pembimbing klinik (CI) memasuki
ruang pasien, CI memberikan petunjuk cara perawatan pasien.
CI

: selamat pagi Tn Taufik. apa yang bapak rasakan hari ini? Bagaimana
tidurnya semalam bapak?

31

Taufik : perasaan saya tidak enak, semalam saya gak bisa tidur sus, karena
sesak.
CI

: Ani (Mahasiswa perawat) coba kamu ukur tanda-tanda vital nya Tn


Taufik dan ukur urinnya.

Ani

: baik Bu, (kemudian Ani mengukur tanda-tanda vital Tn Taufik,


mengamati urin yang ditampung sejak 3 jam sebelumnya. Hasil
pengukuran TD: 180/100 mmHg, RR: 24 x/mnt, urin output 40 ml dalam
waktu 3 jam).

CI

: Ani, tambahkan oksigen menjadi 4 lpm.

Ani

: Baik Bu

Narator : Kemudian mahasiswa Ani melaporkan hasilnya kepada CI.


CERITA 2 (Beginner dan Competent)
Narrator : pada cerita ini menggambarkan bagaimana perawat pada level Advance
Beginner, yang diperankan oleh perawat Edi. Perawat Advance Beginner
menunjukkan penampilan mengatasi masalah yang dapat diterima pada
situasi nyata. Banner menempatkan perawat yang baru lulus dalam level
ini. Peristiwa ini terjadi pada hari berikutnya. Tn Taufik sedang tiduran,
tetapi terlihat lebih lesu dari biasanya, dan tidur dengan memejamkan
mata. Perawat Beginner sedang memeriksa catatan medis laporan hari
sebelumnya.

32

Edi

: (Perawat Edi membaca catatan perkembangan Tn Taufik dengan


kondisi TD meningkat menjadi 190/100 mmHg, Tn T mengeluh sangat
pusing dan mata berkunang-kunang).

Edi

: (kening berkerut, tampak berfikir) kok perkembangan Tn T seperti ini?


Tekanan darah semakin menigkat (190/100 mmHg). Coba saya cek dulu.
(kemudian pergi ke ruang pasien). Bapakbgaimana keadaannya hari
ini?..saya akan melakukan pemeriksaan pada bapak?

Taufik : pusing dan berkuang-kunang.


Silahkan pak Edi
Edi

: (hasil yang di dapatkan sama, kemudian melanjutkan pemeriksaan fisik


dan mendapatkan hasil odem +, urin output 30 ml dalam 3 jam dan
berwarna sangat coklat).

Narrator : kemudian Ns Edi melaporkan kepada perawat competen.


Edi

: Ns Khoirul, saya lihat kondisi Tn T semakin memburuk, TD semakin


tinggi, urin out putnya hanya 30 ml dalam 3 jam, dan mengeluh kepala
pusing serta mata berkunang-kunang. Saya pikir, Tn T perlu penanganan
lebih lanjut lagi. Menurut saya Tn T perlu dilakukan pemeriksaan ulang
laboratorium protein urine, observasi secara ketat TD, urine output, dan
keadaan umum Tn T karena berdasarkan teori nanti berakibat buruk.

Khoirul : (mendengarkan Ns Edi dengan mangguk-mangguk, kemudian meminta


catatan medis yang di pegang Ns Edi). Coba saya lihat catatan medis dan
keperawatannya?

33

Baiklah Ns Edi, mari kita periksa bersama-sama ke ruang pasien Tn T.


Narrator : Ns Khoirul & Ns Edi menuju ke ruang perawatan Tn T.
Khoirul : Selamat pagi Tn T,
Taufik : selamat pagi juga perawat Khoirul. (sambil duduk ditepi tempat tidur,
kemudian memejamkan matanya sebentar).
Khoirul : (mengamati tingkah laku Tn T) bagaimana perasaannya pagi ini Pak?
Sepertinya ada yang mengganggu?
Taufik : (mengambil napas dalam, masih sambil memicingkan mata seperti
orang silau) Inikepala pusing terus. Kaki ini rasanya tambah besar saja
(sambil menunjuk kaki).
Khoirul : iyaaPak. Baik Tn T kita periksa dulu ya (sambil mengambil
tensimeter dan stetoskop)
Narrator : Ns Edi membantu memasangkan mansetnya. Sementara Ns Khoirul
melakukan pemeriksaan fisik pada kepala dan selanjutnya melakukan
pemeriksaan tekanan darah. Setelah melakukan pemeriksaan tekanan
darah, Ns Khoirul mengecek kantung urin yang ada. Setiap hal yang
berkaitan dengan peningkatan tekanan darah di tanyakan pada Tn T
dengan penuh perhatian.
Narrator : aktivitas yang dilakukan Ns Competen (Khoirul) menunjukkan
penguasannya pada kasus yang sedang dihadapi. Tahap competent dari
model Dreyfus ditandai dengan kemampuan mempertimbangkan dan

34

membuat perencanaan yang diperlukan untuk suatu situasi dan sudah


dapat dilepaskan.
Level

Advance

Beginner

akan

menjadi

Competent

dengan

menyelesaikan pembelajaran dari situasi praktik actual dengan mengikuti


kegiatan yang lain. Konsisten, kemampuan memprediksi, dan manajemen
waktu adalah penampilan pada tahap Competent. Perawat Competent
dapat menunjukkan responsibilitas yang lebih pada respon pasien, lebih
realistic dan dapat menampilkan kemampuan kritis pada dirinya.
CERITA 3 (Competent & Proficience)
Situasi berikut ini menggambarkan bahwa Ns Competence berkonsultasi dengan
Ns Proficinet sebagai penganggung jawab utama perawatan pasien atau perawat
primernya.
Narrator : perawat pada level proficient menunjukkan kemmapuan baru untuk
melihat perubahan yang relevan pada situasi, meliputi pengakuan dan
mengimplementasikan

respon

ketrampilan

dari

situasi

yang

dikembangkan. Mereka akan mendemonstrasikan peningkatan percaya


diri pada pengetahuan dan ketrampilannya. Pada tingkatan ini mereka
banyak terlibat dengan keluarga dan pasien.
At Nurse Station
Wulan : Ns Khoirul, pemeriksaan urin terahir Tn T sudah dilakukan?
Khoirul : 15 menit yang lalu, diperiksa protein ulang, tetapi hasilnya belum ada.

35

Wulan : coba kita telfon petugas lab, tanyakan langsung hasilnya. (hasil
pemeriksaan protein urin). Coba dilihat terpai diuretiknya. (Lasix 2 x 10
mg).
Khoirul : protein terukur 2,1 g/dl, dan diberikan lasix 2 x 10 mg IV.
Wulan : O yaboleh saya pinjam status pasiennya.
Narrator : kemudian Ns Wulan datang ke ruang rawat Tn T untuk
berinteraksi/berdialog dengan Tn T dan keluarganya.
Di Ruang Perawatan Tn T.
Wulan : selamat siang Tn T., Ibu, dan keluarga. Apa yang Tn T rasakan
sekarang?
Taufik : (lemah, lesu). Saya masih pusing suster dan rasanya sakit saya semakin
berat. Kaki saya bengkak-bengkaknya tidak berkurang Ners?
Wulan : ow.begitu ya Pak?. Memang kondisi Tn T masih sangat lemah,
karena tekanan darahnya masih tinggi, kemudian dari pemeriksaan
albumin masih 2,1, air kencing yang keluar juga masih sedikit ya Pak.
(kemudian Ns Wulan menjelaskan tentang proses penyakitnya kepada
pasien dan keluarganya).
Wulan : bagaimana dengan pola makan dalam keluraga Ibu, terutama bapak?,
apakah sering/senang mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung
garam atau lemak?
Taufik : saya suka makan soto, Ners

36

Istri

: suami saya sering makan soto kambing, dan sering melanggar dietnya
Budia itu susah untuk diberitahu kalau tu tidak boleh.

Wulan : apa ada anggota keluarga lain yang mempunyai penyakit jantung?
Taufik : bapak saya meninggal karena penyakit jantung.
Wulan : dan bgaimana dengan aktifitas bapak sehari-hari?
Taufik : saya sangat sibuk di kantor mulai pagi sampai sore dan saya jarang
berolahraga.
Narator : perawat dengan kemampuan proficient memerlukan pembelajaran terus
menerus dengan cara berdiskusi dengan para koleganya baik yang
setingkat maupun konsultasi dengan level expert.
Setelah itu Ns Competent dan Proficient kembali ke Ners station untuk
membahas kasus Tn. T.
Wulan : pasien kita ini sepertinya mengarah ke Odem paru. Apa bisa Ns Khoirul
ke dokter primernya untuk dilakukan pemeriksaan X Ray dada. Karena
saya melihat setelah O2 dinaikkanpun belum ada perbaikan.
Khoirul : iyaakan saya koordinasikan dengan dokter penanggungjawab.
CERITA 4
Cerita berikut ini akan menggambarkan bagaimana proses belajar seumur hidup
itu berjalan. Perawat level Proficient dan Competent berdiskusi dengan perawat
Expert. Perawat Expert dalam hal ini dapat berperan sebagai penyelia maupun
juga sebagai sejawat perawat Primer atau bisa juga pembimbing seniornya.

37

Perawat expert dalam hal ini memulai proses pembelajaran. Perawat Expert dalam
cerita ini adalah perawat senior di ruang rawat ini.

At Nurse Station
Narrator : Ns Competent berdialog dengan Ns Expert untuk membicarakan kasus
Tn T.
Hartono : Ns Khoirul, bagamiana perkembangan Tn T?
Khoirul : saat ini kondisi Tn T masih lemah sesuai dengan hasil pemeriksaan fisik
maupun laboratorium. Saya juga mendapatkan data bahwa Tn T memang
memiliki riwayat penyakit jantung dan mempunyai kebiasaan pola
makan yang banyak mengandung lemak dan garam. Keluraga juga ada
riwayat penyakit jantung.
Wulan : setelah saya validasi ke pasien, saya menemukan bahwa dau
permasalahan utama yang di hadapi Tn. Taufik untuk saat ini adalah
sesak nafas dan kaki bengkak. Bagaimana menurut Ns Hartono?
Hartono : Ohbegitu, berarti kita perlu menindak lanjuti kasus Tn T ini.
Narrator : kemudian Ns Hartono mengunjungi Tn T dan keluarnganya di ruang
rawat.
Di Ruang Rawat Tn T.

38

Hartono : selamat siang bapak dan ibu keluarga Tn T. tadi Ns Wulan sudah
banyak bertanya dan menjelaskan tentang kondisi Tn T., saya harap Tn T
dan keluarga dapat menerima situasi dan kondisi ini dengan terbuka,
ikhlas, dan lapang dada. Memang saat ini kondisi Tn T benar seperti apa
yang sudah dijelaskan oleh perawat teman kami.
Taufik : Iya Pak Hartonosaya pasrah. Saya hanya berfikir masih ada Allah
SWT, yang akan membantu saya.
Istri

: saya dan keluarga juga pasrah menyerahkan semua pada Yang Kuasa.

Hartono : iyaaibu, bagus. Segala sesuatu memang harus kita serahkan kepada
Allah SWT. Kami disini sebagai tim kesehatan akan berusaha sebaik
mungkin.
Selanjutnya kira-kira apa yang akan bapak lakukan terkait dengan
masalah yang bapak hadapi sekarang.?
Taufik : kami tidak tahu Pak hartono, sebaiknya bagaimana ya?
Hartono : baiklahsaya akan menjelaskan hal-hal yang sebaiknya bapak dan
keluarga bisa lakukan. Saya akan memberikan gambaran/alternative yang
dapat Tn T dan keluarga lakukan. Saya tidak akan memaksakan pilihan
Tn T dan keluarga.
Taufik : baik Pak, apa itu?
Hartono : Tn T sebaiknya berusaha untuk mulai melakukan pola hidup sehat
dengan cara mengurangi makanan berlemak seperti soto, kurangi juga

39

makanan yang banyak mengandung garam, olahraga ringan secara teratur


misalnya jalan pagi, hindari stress, jangan terlalu memforsir tenaga,
istirahat yang cukup dan melakukan kontrol secara teratur serta hal
paling penting adalah lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta Allah
SWT. Saya kira itu saja Tn T
Taufik : Terimaksih atas sarannya Pak Hartono
Hartono : baiklah PakSekarang bapak istirahat. Semoga besok kondisi bapak
akan lebih baik
Taufik : Iya Pakterimakasih.
Narrator : Ns Suhartono (Expert), Ns Khoirul dan Ns. Wulan (Proficient)
meninggalkan ruangan menuju Nurse Station.
Hartono : Ns khoirul & Ns Wulan.
Setelah kita amati bersama kondisi Pak Taufik, perlu kita tindak lanjuti
beberapa hal yang dapat kita lakukan antara lain: observasi kebutuhan
O2, elevasi, balance cairan, dan diitnya disesuaikan. Kemudian yang
tidak kalah penting itu motivasi.
Wulan : perlu untuk konsulkan lagi terapi medisnya?
Hartono : iya perlu itu
Ns Khoirul, tolong nanti di kolaborasi lagi tentang terapi medisnya.
Khoirul : baik, nanti saya lakukan.

40

Narrator :Demikian tadi cerita yang menggambarkan perkembangan kemampuan


perawat dari tingkat Novice-Expert yang merupakan Teori Patricia
Benner. Semoga gambaran tersebut mewakili pemahaman yang sesuai.
Wassalam.

BAB 4
PEMBAHASAN

Model teori yang dipublikasikan oleh Benner menunjukkan bahwa salah


satu paradigma keperawatan yaitu perawat juga merupakan bagian penting yang
tidak terlepas dari pelayanan keperawatan. Adapun pada teori Benner juga
memfokuskan

pada

pemahaman

ketajaman

persepsi,

penilaian

klinis,

keterampilan know-how, etika dan pengalaman belajar. Menurut Day dan Benner
(2002) perilaku profesional adalah hasil dari hubungan individu antara perawat
dengan pasien dalam situasi klinis dengan menerapkan kemampuan profesional
yang diwujudkan dalam pengalaman kliniknya di mana penilaian klinis dan etika
tidak dapat dipisahkan.
Latar belakang Benner sebagai seorang konsultan penelitian di bidang
aktivitas perawat khususnya di divisi sumber daya manusia yang mengamati dan
mengevaluasi kompetensi perawat sejak awal mereka bekerja. Patricia Benner
percaya bahwa pengalaman klinik merupakan inti dari keperawatan karena akan
meningkatkan pengetahuan dan kompetensi seorang perawat, hal tersebut yang
mengilhami Benner untuk melakukan observasi dan interview terhadap perawat
klinik pada tahun 1971 sampai dengan tahun 1978 melalui proyek AMICAE

41

(Achieving Methods of Intraprofessional Consensus, Assessment and Evaluation.


Hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada tahun 1984 melalui bukunya From
Novice to Expert Hasil penelitian tersebut menemukan 31 kompetensi dan 7
domain (ranah). Tujuh domain tersebut antara lain helping role, fungsi belajar
mengajar, fungsi diagnostik dan monitoring pasien, manajemen efektif pada
situasi yang cepat, menyusun dan melakukan monitoring intervensi terapeutik dan
tatalaksana., monitoring and ensuring the quality of healthcare practices and
organizational work role competencies. Berdasarkan hasil penelitian tersebut,
Benner kemudian membuat 5 tahapan kemampuan perawat berdasarkan model
Dreyfus, yaitu, novice, advanced beginners, competent, proficient dan expert.
Novice adalah seseorang yang belum mempunyai latar belakang pengalaman
sehingga harus diarahkan dalam melakukan asuhan keperawatan. Advanced
beginner

adalah

pengalaman

sudah

ada,

belum

ada

pengakuan

dari

lingkungannya, sudah mulai mandiri namun harus didampingi. Competent adalah


mampu mempertimbangkan dan membuat perencanaan yang diperlukan untuk
satu situasi dan dapat diberikan tanggung jawab tanpa pengawasan. Proficient
adalah menunjukkan peningkatan kemampuan dalam menghadapi perubahan yang
relevan dengan situasi yang terjadi. Expert merupakan tingkatan akhir yang
menunjukkan kemampuan perawat dalam menyelesaikan masalah dengan tepat
tanpa kehilangan waktu (Tomey & Alligood, 2010).
Teori ini mengungkapkan bahwa kualitas kompetensi keperawatan sangat
ditentukan oleh pengalaman klinik seorang perawat itu sendiri, artinya semakin
lama seorang perawat tersebut terpapar dengan pengetahuan dan kemampuan
melakukan asuhan keperawatan kepada klien maka akan semakin banyak

42

keterampilan atau kompetensi yang dimilikinya. Benner kemudian menganggap


ini adalah hal yang harus diamati dan dihargai. Penghargaan dapat diistilahkan
sebagai penjenjangan karir bagi perawat. Penjenjangan ini merupakan sebuah
upaya

yang dapat

meningkatkan produktivitas

dan kualitas pelayanan

keperawatan. Teori ini juga mengungkapkan bahwa pengembangan karir perawat


merupakan suatu perencanaan dan penerapan rencana karir yang dapat digunakan
untuk penempatan perawat pada jenjang yang sesuai dengan keahliannya serta
memberikan kesempatan yang lebih baik sesuai dengan kemampuan dan potensi
perawat.
Sistem pengembangan karir perawat klinik di Indonesia belum sepenuhnya
berbasis profesional, namun lebih meningkatkan pada peningkatan jabatan
struktural dan fungsional perawat. Sistem ini mengacu pada SK Menpan No.
94/KEP/ M.PAN/11/2001 tentang jabatan fungsional perawat termasuk angka
kreditnya. Departemen Kesehatan Republik Indonesia bersama pihak terkait dalam
hal ini PPNI telah mengeluarkan pedoman jenjang karir perawat, di dalamnya
mengatur empat jalur karir yang dapat ditempuh oleh perawat meliputi, perawat
klinik, perawat menajer, perawat pendidik dan perawat peneliti (Depkes, 2006).
Namun hingga saat ini, sistem jenjang karir perawat belum secara luas diterapkan di
rumah sakit di Indonesia karena sebagian besar perawat di Indonesia mempunyai
latar belakang pendidikan Diploma III Keperawatan.
Depkes RI mengatur jenjang karir profesional perawat klinik ke dalam lima
tingkatan,sebagai berikut:
1. Perawat Klinik I (PK I)

43

Perawat klinik I (Novice) adalah perawat lulusan D-III telah memiliki pengalaman
kerja 2 tahun atau Ners (lulusan S-1 Keperawatan plus pendidikan profesi) dengan
pengalaman kerja 0 tahun, dan mempunyai sertifikat PK-I.
2. Perawat Klinik II (PK II)
Perawat klinik II (Advance Beginner) adalah perawat lulusan D III Keperawatan
dengan pengalaman kerja 5 tahun atau Ners (lulusan S-1 Keperawatan plus
pendidikan profesi) dengan pengalaman kerja 3 tahun, dan mempunyai sertifikat
PK-II
3. Perawat Klinik III (PK III)
Perawat klinik III (competent) adalah perawat lulusan D III Keperawatan dengan
pengalaman kerja 9 tahun atau Ners (lulusan S-1 Keperawatan plus pendidikan
profesi) dengan pengalaman klinik 6 tahun atau Ners Spesialis dengan pengalaman
kerja 0 tahun, dan memiliki sertifikat PK-III. Bagi lulusan D-III keperawatan yang
tidak melanjutkan ke jenjang S-1 keperawatan tidak dapat melanjutkan ke jenjang
PK-IV dan seterusnya.
4. Perawat Klinik IV (PK IV)
Perawat klinik IV (Proficient) adalah Ners (lulusan S-1 Keperawatan plus
pendidikan profesi) dengan pengalaman kerja 9 tahun atau Ners Spesialis dengan
pengalaman kerja 2 tahun, dan memiliki sertifikat PK-IV, atau Ners Spesialis
Konsultan dengan pengalaman kerja 0 tahun.
5. Perawat Klinik V (PK V)
Perawat klinik V (Expert) adalah Ners Spesialis dengan pengalaman kerja 4 tahun
atau Ners Spesialis Konsultan dengan pengalaman kerja 1 tahun, dan memiliki
sertifikat PK-V.

44

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada teori Patricia Benner mengeluarkan sebuah teori yang disebut
Teori From Novice To Expert yang artinya jenjang atau tahapan dalam
sebuah profesi. Konsep teori menjelaskan 5 tingkat/ tahap akuisisi peran dan
perkembangan profesi meliputi: (1) novice, (2) advance beginner, (3)
competent, (4) proficient, dan (5) expert:
5.1.1

Novice

1. Seorang tanpa latang berakang pengalaman pada situasinya.


2. Perintah yang jelas dan atribut yang obyektif harus diberikan untuk
memandu penampilannya.
3. Secara umum diaplikasikan mahasiswa.
5.1.2

Advance beginner
Sebagai ujian terhadap kemampuannya dan permintaan terhadap
situasi pada pasien yang membutuhkan responnya dan mengalami
kesulitan dalam pasien tertentu pada situasi memelukan persepsi lebih
luas. Benner menempatkan perawat yang baru lulus pada tahap ini.

45

5.1.3

Competen
Model Dreyfus dengan kemampuan mempertimbangkan dan membuat
perencanaan yang diperlukan untuk suatu situasi sudah dapat
dilepaskan.
Konsisten, kemampuan memprediksi, dan manajemen waktu adalah
penampilan pada tahap competent.

5.1.4

Proficient
42
Menunjukkan kemampuan baru untuk melihat perubahan yang relevan
pada situasi, meliputi pengakuan dan mengimplementasikan respon
keterampilan dari situasi yang dikembangkan.

5.1.5

Expert
Aspek pada perawat expert adalah:
1. Menunjukkan pegangan klinis dan sumber praktis
2. Mewujudkan proses know-how
3. Melihat gambaran yang luas
4. Melihat yang tidak diharapkan

5.2 Saran
Bagi pelayanan kesehatan perlu meningkatkan tindakan keperawatan
dalam manajemen tahap akuisisi peran dan perkembangan profesi meliputi:
(1) novice, (2) advance beginner, (3) competent, (4) proficient, dan (5) expert.
Bagi pendidikan diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan
perseta didik yang lebih luas dan dapat dikembangkanlebih lanjut.

46

DAFTAR PUSTAKA

Benner, Patricia 1984, From Novice to Expert: Excellence and Power in Nursing
Practice, Addison-Wesley, Menlo Park, California.

Benner, P., 2013. From Novice To Expert. Nursing Journal, pp.-.


Dreyfus, S.E., Dreyfus, H.L. & Benner, P., 2009. Implications of The
Phenomenology of Erpertise for Teaching Ethical Component. In Benner,
P., Tanner, C. & Chesla, C. Expertise in Nursing Practice. New York:
Springer Publishing Company. pp.309-33.

Potter A Patricia, Perry G Anne 1992, Fundamentals Of Nursing-Concepts


Process & Practice 3rd ed, Mosby year Book, London.

Tomey, Ann Marriner & Alligood, Martha Raile 2010, Nursing Theorist and
Their Work Seventh Edition, Mosby Elsevier, Missouri.
Suroso J., 2011, Penataan Sistem Jenjang Karir Berdasarkan Kompetensi untuk
Meningkatkan Kepuasan Kerja dan Kinerja Perawat di Rumah Sakit, Jurnal
Eksplanasi, Volume 6 No 2 Tahun 2011. p 124-126.

47

Suroso, J., 2011, Hubungan Persepsi tentang jenjang karir dengan kepuasan kerja
dan kinerja perawat RSUD Banyumas, Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia, Depok: Tesis tidak dipublikasikan.