Anda di halaman 1dari 1

Georgius Patrik Demu

12/334474/HK/19280

Klasifikasi negara
Sejak timbulnya pemikiran tentang negara dan hukum, orang telah membicarakan kemungkinankemungkinan daripada bentuk negara, akan tetapi perlu diketahui bahwa hal ini sampai sekarang
belum mendapatkan kesatuan pendapat dari para ahli pemikir tersebut. Hal ini antara lain
disebabkan:
Negara merupakan proses yang setiap waktu dapat mengalami perubahan sesuai dengan
keadaan. Tidak ada satu bentuk negarapun yang bersifat kekal. Perubahan bentuk negara
berjalan sedemikian rupa, yang pada akhirnya kembali ke bentuk semula, seperti cyclus
theory.
Perubahan pengertian dalam ilmu negara disebabkan karena kurang cepatnya perubahan
istilah-istilah itu kalau dibandingkan dengan perubahan-perubahan pengertian.
Dalam mengklasifikasi bentuk negara, para sarjana mempergunakan kriteria atau ukuran
yang berbeda-beda.
Para pemikir tentang ilmu negara memberikan pengertian berbeda-beda, disebabkan sudut
pandangnya masing-masing dan menyesuaikan dengan keadaannya dan kebutuhan
zamannya.
Suatu istilah memberikan pengertian yang bermacam-macam.

1. Klasifikasi Negara Klasik-tradisional


Sejak timbulnya pemikiran tentang negara dan hukum, para pemikir memberikan pengertian
berbeda-beda. Ajaran-ajaran dari Plato, Aristoteles, Polybius, dan Thomas van Aquinas
mengklasifikasikan negara dalam 3 bentuk yaitu monarki, aristokrasi, dan demokrasi.
Kriterianya sebagai berikut:
Susunan dari pemerintahannya. Maksudnya jumlah orang yang memegang pemerintahan.
Sifat dari pemerintahannya. Artinya pemerintahan itu ditujukan untuk kepentingan umum
atau kepentingan golongan tertentu. Kemudian menimbulkan ekses-ekses, seperti ekses
dari monarki = tyrani, ekses dari aristokrasi = oligarki, dan ekses dari demokrasi = anarki.
Jadi, seolah-seolah ada 6 bentuk negara, tetapi sebenarnya ada 3, karena negara-negara buruk
itu merupakan ekses dari negara-negara baik dan bersifat sementara.