Anda di halaman 1dari 201

ANALISIS KAPASITAS PERIKANAN

PELAGIS DI PERAIRAN PESISIR


PROVINSI SUMATERA BARAT

DESNIARTI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2007

ABSTRAK
DESNIARTI, Analisis Kapasitas Perikanan Pelagis di Perairan Pesisir Propinsi
Sumatera Barat: Dibimbing oleh AKHMAD FAUZI, DANIEL MONINTJA dan
MENNOFATRIA BOER
Pemanfaatan sumberdaya ikan telah memberikan manfaat secara ekonomi
kepada pelaku usaha akan tetapi pemanfaatan sumberdaya ikan ini juga
memberikan dampak eksternalitas. Sumberdaya ikan bersifat renewable resources
(sumberdaya yang dapat pulih) tetapi bukan berarti tak terbatas sehingga apabila
tidak dikelola secara hati-hati, akan memberikan dampak negatif terhadap
ketersediaan sumberdaya ikan dan lingkungan. Salah satu permasalahan dalam
perikanan tangkap adalah terjadinya kelebihan kapasitas tangkap (overcapacity)
yang mendorong terjadinya kelebihan tangkap (overfishing).
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pemanfaatan
dan merekomendasikan kebijakan pengembangan perikanan tangkap yang
berkelanjutan di Propinsi Sumatera Barat. Secara khusus penelitian ini bertujuan
untuk: 1) Melakukan analisis komparatif pemanfaatan sumberdaya ikan secara
bioekonomi dan empiris (aktual), 2) Menentukan tingkat degradasi dan depresiasi
sumberdaya ikan dalam kaitannya dengan kapasitas perikanan, 3) Menganalisis
dampak kapasitas perikanan terhadap kesejahteraan masyarakat khususnys pelaku
usaha perikanan, 4) Menganalisis kapasitas perikanan baik antar waktu maupun
antar alat tangkap dan dampaknya terhadap pengelolaan perikanan yang
berkelanjutan. Pendekatan analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
analisis bioekonomi dan data envelopment analysis (DEA).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Pemanfaatan sumberdaya ikan
pelagis kecil telah mengarah kelebihan tangkap (overfishing), sedangkan untuk
sumberdaya ikan pelagis besar masih dapat ditingkatkan tetapi perlu kehati-hatian
dalam pengelolaannya, 2) Telah terjadi degradasi sumberdaya ikan pelagis di lokasi
penelitian, dimana rata-rata per tahun 25% untuk ikan pelagis besar dan 26% untuk
ikan pelagis kecil, 3) Telah terjadi depresiasi sumberdaya ikan dengan nilai
berkisar antara Rp 56.95 milyar dan Rp 150.94 milyar untuk ikan pelagis besar dan
antara Rp 52.63 milyar dan Rp 150.94 milyar untuk ikan pelagis kecil, masingmasing untuk discount rate 15% dan 5.66%, 4) Rata-rata nilai surplus produsen per
tahun untuk ikan pelagis besar adalah Rp 144.92 milyar dan untuk ikan pelagis kecil
Rp 170.16 milyar, 5) Tingkat efisiensi perikanan tangkap dari waktu ke waktu
mengalami penurunan dan pada akhir periode
pengamatan mengalami
peningkatan, efisiensi untuk ikan pelagis besar rata-rata 85% sedangkan untuk ikan
pelagis kecil rata-rata 89%, 6) Bila dibandingkan tingkat efisiensi dari empat alat
tangkap maka yang paling efisien adalah alat tangkap pukat cincin kemudian diikuti
oleh tonda, payang dan bagan, 7). Secara rata-rata selama tahun pengamatan
kondisi perikanan tangkap di perairan pesisir Sumatera Barat sudah mengarah
kepada kelebihan kapasitas (overcapacity) yang membutuhkan adanya
pengurangan kapasitas.
Kata kunci: kapasitas perikanan, efisiensi, degradasi, depresiasi, analisis
bioekonomi, data envelopment analysis, Sumatera Barat

ABSTRACT
DESNIARTI. Analysis of Capacity For Pelagic Fisheries In Coastal Area of
West Sumatera. Under Supervision of: AKHMAD FAUZI, DANIEL MONINTJA
dan MENNOFATRIA BOER.

Extraction of fishery resources has benefited both fishing industries and


society. However, there is externalities associated with such an extraction. Fish is
renewable resource, neverthelless, exploitation of the resource above and beyond
its maximum capacity will have negative impacts biologically, economically and
socially. Overcapacity seems to be the major problems faced by fishing industry
nowadays.
This study attemps to analysis the policy of fisheries capture in West
Sumatera Province. Specifically, the objectives are: 1) to identify current level of
exploitation compared with its sustainable level, 2) to determine the degradation and
depreciation level in fishery, 3) to determine welfare effect of fisheries capacity and
4) to analyse policy implication due to fisheries capacity across time and among
gears. Analysis were conducted using bioeconomic modeling and data envelopment
analysis.
Result indicate that: 1) Utilization of small pelagic fishing in West Sumatera
tends to be in overfishing state for small pelagic, while there is still room for
exploitation for big pelagic, 2) Pelagic fishery resources have been degraded at
average of 25% per year for big pelagic and 26% per year for small pelagic 3)
Fishery resources have been depreciated. These depreciation values were
estimated between 56.95 billion rupiah (15% discount rate) to 150.94 billion rupiah
(5.66% discount rate) for big pelagic and between 52.63 billion rupiah (15% discount
rate) to 139.49 billion rupiah (5.66% discount rate) for small pelagic, 4) Fishing
efficiency rate of big pelagic average of 85% per year and 89% per year for small
pelagic, 5) Producers surplus values at average 144.92 billion rupiah per year for
big pelagis and 170.16 billion rupiah per year for small pelagic, 6) In terms of
efficiency only two fishing gears (purse seine and troll line) are economically efficient
even through there are same variations among gears and across time, 4) In overall
however, fishery is in overcapacity situation and calls for reduction in fishing
capacity

Keywords: fisheries capacity, efficiency , degradation, depreciation, bioeconomic


Analysis, data envelopment analysis, west Sumatera

ANALISIS KAPASITAS PERIKANAN PELAGIS


DI PERAIRAN PESISIR PROVINSI SUMATERA BARAT

DESNIARTI

Disertasi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor pada
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2007

Judul Disertasi
Nama
Nrp

: Analisis Kapasitas Perikanan Pelagis di Perairan


Pesisir Provinsi Sumatera Barat
: Desniarti
: C261020081

Disetujui
Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Akhmad Fauzi, M.Sc.


Ketua

Prof. Dr. Daniel R. Monintja, M.Sc.


Anggota

Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA


Anggota

Diketahui
Ketua Departemen Manajemen
Sumberdaya Perairan

Dr. Ir. Sulistiono, M.Sc.

Tanggal Ujian: 29 Januari 2007

Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr.Ir. Khairil Anwar Notodiputro,MS

Tanggal Lulus:

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya
sehingga disertasi ini berhasil diselesaikan.

Penelitian dilakukan di sepanjang

perairan pesisir Propinsi Sumatera Barat yang dilakukan sejak bulan Agustus 2004
sampai dengan bulan Januari 2005. Judul disertasi ini adalah Analisis Kapasitas
Perikanan Pelagis di Perairan Pesisir Provinsi Sumatera Barat.
Dalam usaha perikanan tangkap, salah satu permasalahan yang sering terjadi
adalah tingkat penangkapan ikan di suatu wilayah yang melebihi potensi lestarinya
sehingga terjadi fenomena tangkap lebih yang berakibat pada penurunan hasil
tangkapan persatuan upaya yang pada gilirannya mengakibatkan penurunan
pendapatan nelayan. Salah satu penyebab timbulnya permasalahan tangkap lebih
adalah terjadinya kelebihan kapasitas tangkap (overcapacity).

Berdasarkan hal

tersebut maka pengukuran tentang kapasitas perikanan tangkap merupakan suatu


yang penting dilakukan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam
penyusunan kebijakan perikanan tangkap di wilayah penelitian.
Terima kasih dan penghargaan yang tak ternilai penulis sampaikan kepada
Bapak Dr. Ir. Akhmad Fauzi, M.Sc selaku ketua komisi pembimbing, Bapak Prof. Dr.
Daniel R Monintja, M.Sc. dan Bapak Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA selaku anggota
komisi pembimbing yang telah banyak memberikan arahan, bimbingan, petunjuk
dan saran serta meluangkan waktu dengan penuh kesabaran. Terima kasih juga
disampaikan kepada Pemda Provinsi Sumatera Barat, Kepala Dinas Kelautan dan
Perikanan Provinsi Sumatera Barat beserta staf, Dekan Sekolah Pascasarjana IPB,
Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Ketua Departemen Manajemen
Sumberdaya Perairan serta Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir
dan Lautan, para Dosen dan Staf pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya
Pesisir dan Lautan.
Penulis juga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Orangtua,
Mertua, Suami, anak-anak, kakak-kakak dan adik-adik yang selalu memberikan
perhatian, doa, motivasi, pengertian dan kasih sayangnya. Terima kasih juga
kepada teman-teman penulis satu angkatan di SPL terutama teman-teman satu
bimbingan Dr. Suzy Anna, Dr. Sofyan, Dr. Toni, Dr. Georgina, Dr. Parwinia dan
Indra, juga kepada Ir. Afridawati yang menemani dalam pengumpulan data serta

pihak-pihak lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu
dalam penyelesaian disertasi ini.
Semoga hasil penelitian ini bermanfaat.

Bogor, Januari 2007


Desniarti

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Pematang Panjang Sijunjung Provinsi Sumatera Barat
pada tanggal 24 Agustus 1965 dari Ayah yang bernama Ishak Aman, BA dan Ibu
Rosni. Penulis merupakan anak ke dua dari enam bersaudara.
Pada tahun 1978, penulis lulus Sekolah Dasar Negeri 2 Air Bangis Kabupaten
Pasaman, tahun 1981 lulus Sekolah Menengah Pertama Negeri I Payakumbuh dan
tahun 1984 lulus Sekolah menengah Atas Negeri I Payakumbuh.

Selanjutnya

penulis menyelesaikan pendidikan sarjana jurusan Pengolahan Hasil Perikanan


Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor pada tahun 1989. Pada tahun 1990
penulis diterima sebagai pegawai negeri sipil (PNS) pada Pemda Popinsi Sumatera
Barat dan ditempatkan pada Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat sampai
sekarang. Pada Bulan Oktober tahun 2000 penulis diberi kesempatan untuk tugas
belajar pada program Magister Manajemen Agribisnis (MMA) Institut Pertanian
Bogor dan selesai pada bulan Juni tahun 2002. Selanjutnya tahun 2002 tepatnya
bulan September penulis mendapat kesempatan lagi untuk melanjutkan studi
program doktor (S3) pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan
Lautan IPB Bogor. Artikel yang berjudul Analisis Kapasitas Perikanan Pelagis di
Perairan Pesisir Provinsi Sumatera Barat dimuat dalam Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan
dan Perikanan Indonesia edisi Desember 2006 Volume XII Nomor 2. Artikel tersebut
merupakan bagian dari Disertasi penulis.
Penulis menikah pada tanggal 13 Agustus 1987 dengan Prof. Dr. Ir. Fauzan
Azima, MS di Payakumbuh dan dikaruniai 3 orang anak yaitu Syifa Mardhatillah
Syafitri (18 Mei 1988) dan anak kembar laki-laki Ulul Azmi Kamili dan Ulil Amri
Kamili (12 Juni 1990).

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN


SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Analisis Kapasitas Perikanan
Pelagis di Perairan Pesisir Provinsi Sumatera Barat adalah karya saya sendiri
dengan arahan Komisi Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun
kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip
dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
disertasi ini.

Bogor, Januari 2007

Desniarti
Nrp. C261020081

Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2007


Hak cipta dilindungi
Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertullis dari
Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam
Bentuk apa pun, baik cetak, fotokopi, mikrofilm, dan sebagainya

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ..........................................................................................................
DAFTAR TABEL .................................................................................................
DAFTAR GAMBAR ...............................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................

i
iii
v
ix

I1 PENDAHULUAN .............................................................................................
1.1 Latar Belakang ..........................................................................................
1.2 Perumusan Masalah ............
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Hipotesis Penelitian
1.5 Kegunaan Penelitian .
1.6 Kerangka Pemikiran ..

1
1
2
4
4
5
5

I2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sumberdaya Perikanan Laut ...
2.2 Usaha Perikanan Tangkap
2.3 Sumberdaya Ikan Pelagis .........................................................................
2.4 Perikanan yang Berkelanjutan ....
2.5 Kapasitas Perikanan ............
2.6 Data Envelopment Analysis (DEA) ............
2.7 Optimasi Pengelolaan Sumberdaya Perikanan ..

8
8
11
12
19
22
25
28

I3 METODOLOGI PENELITIAN .
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian .
3.2 Teknik Pengumpulan Data ..
3.3 Standardisasi Alat Tangkap .
3.4 Analisis Data .
3.4.1 Model bioekonomi sumberdaya perikanan ...........
3.4.2 Estimasi discount rate .........
3.4.3 Analisis laju degradasi dan depresiasi SDI ..........
3.4.4 Pengelolaan sumberdaya secara optimal ....................................
3.4.5 Rezim pengelolaan sumberdaya perikanan ....
3.4.6 Analisis kesejahteraan produsen ....................................................
3.4.7 Analisis kapasitas perikanan tangkap ..........
3.5 Pemetaan Proses Penelitian ..

35
35
35
36
37
37
40
41
42
44
45
46
50

4 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN .


4.1 Karakteristik Geofisik ................................................................................
4.2 Keragaan Potensi Sumberdaya Ikan .......................................................
4.3 Perkembangan Perikanan di Provinsi Sumatera Barat ............................
4.4 Sumbangan Sub Sektor Perikanan terhadap PDRB ................................

52
53
51
54
64

5 HASIL DAN PEMBAHASAN ...


5.1 Standardisasi Alat Tangkap ...........
5.2. Estimasi Parameter Biologi ............
5.3 Estimasi Sustainable Yield ...
5.4 Estimasi Parameter Ekonomi ......
5.5 Pengelolaan Sumberdaya Perikanan yang Optimal...............................
5.6 Degradasi Sumberdaya Ikan .....................

67
67
72
72
79
81
90

ii

5.7 Depresiasi Sumberdaya Ikan ................


5.8 Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan ..........................................
5.9 Aspek Kesejahteraan Produsen ..............................................................
5.10 Kapasitas Perikanan Tangkap .........
5.10.1 Efisiensi perikanan tangkap .......................................................
5.10.2 Efisiensi alat tangkap .................................................................
5.10.2.1 Pukat cincin ...................................................................
5.10.2.2 Tonda .............................................................................
5.10.2.3 Payang ...........................................................................
5.10.2.4 Bagan ............................................................................
5.11 Implikasi Kebijakan .................................................................................

93
98
102
104
104
113
113
117
120
122
124

6 KESIMPULAN DAN SARAN .........


6.1 Kesimpulan ............
6.2 Saran ..

128
128
129

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN ...

131
137

iii

DAFTAR TABEL
Halaman
1

Potensi lestari sumberdaya ikan dan tingkat pemanfaatannya


di Samudera Hindia ................

Panjang garis pantai dan jumlah pulau kecil per kab/kota di Provinsi
Sumatera Barat .

54

Perkembangan hasil tangkapan ikan di Provinsi Sumatera Barat tahun


1984-2004 .......................................................................................................

55

Jumlah nelayan di wilayah kabupaten/kota Provinsi Sumatera Barat tahun


2004 .........................

56

Perkembangan jumlah nelayan perikanan tangkap Provinsi Sumatera Barat


1995 2004 ....................

57

Keragaan alokasi jumlah dan jenis armada kapal perikanan Sumatera


Barat selama 10 tahun (1995-2004) ...............................................................

58

Keragaan alokasi komposisi jumlah unit penangkapan ikan di Provinsi


Sumatera Barat dari tahun 1995 2004 ..

59

Jenis dan nilai investasi yang digunakan untuk penangkapan ikan


menggunakan alat tangkap bagan ..................................................................

63

Rata-rata biaya operasional menurut alat tangkap ...........

64

10 Kontribusi PDRB perikanan terhadap PDRB Sumatera Barat


Selama 5 tahun (2000 2004) ..

65

11 Hasil tangkapan ikan pelagis besar oleh alat tangkap tonda dan pukat
cincin .............................................................................................................

69

12 Produksi ikan pelagis kecil oleh alat tangkap yang dianalisis .......................

70

13 Parameter biologi perikanan pelagis di Propinsi Sumatera Barat ...................

72

14 Fungsi produksi lestari Gompertz ...................................................................

72

15 Keragaan effort, hasil tangkapan aktual dan hasil tangkapan lestari


Gompertz untuk ikan pelagis besar ...............................................................

73

16 Keragaan effort, hasil tangkapan aktual dan hasil tangkapan lestari


Gompertz untuk ikan pelagis kecil ................................................................

77

17 Rata-rata biaya riil operasional penangkapan ikan per trip menurut


alat tangkap yang dijadikan baseline ............................................................

80

iv

18 Nilai optimal biomas, hasil tangkapan dan effort pada discount rate 15% dan
5.66% untuk ikan pelagis besar ......................................................................

82

19 Perbandingan hasil tangkapan aktual, lestari dan optimal ikan pelagis besar

83

20 Nilai optimal biomas, hasil tangkapan dan effort pada discount rate 15% dan
5.66% untuk ikan pelagis kecil .......................................................................

85

21 Perbandingan hasil tangkapan aktual, lestari dan optimal ikan pelagis kecil

86

22 Rente optimal sumberdaya ikan pelagis besar (Rp juta) .................................

88

23 Rente optimal sumberdaya ikan pelagis kecil (Rp juta) .................................

89

24 Perkembangan tingkat degradasi sumberdaya ikan pelagis besar dan


kecil ................................................................................................................

90

25 Perubahan depresiasi sumberdaya ikan pelagis besar ......


26 Perubahan depresiasi sumberdaya ikan pelagis kecil ........
27 Perbandingan rezim pengelolaan MSY, MEY dan open access dengan
kondisi aktual dan rata-rata ikan pelagis besar ...............................................

94
96
100

28 Perbandingan rezim pengelolaan MSY, MEY dan open access dengan


kondisi aktual dan rata-rata ikan pelagis kecil ................................................

102

29 Nilai surplus produsen untuk sumberdaya ikan pelagis besar & kecil ........

103

30 Skor efisiensi unit fisik DEA untuk ikan pelagis besar ...................................

105

31 Skor efisiensi unit fisik DEA untuk ikan pelagis kecil ......................................

107

32 Opportunity cost dari kelebihan kapasitas input ..............................................

110

33 Efisiensi teknis pendekatan input kapal pukat cincin .....................................

114

34 Efisiensi teknis pendekatan output kapal pukat cincin ....................................

115

35 Kapasitas kapal pukat cincin ..........................................................................

116

36 Efisiensi kapal pukat cincin dengan memasukkan nilai moneter ....................

117

37 Efisiensi teknis pendekatan input kapal tonda ...............................................

118

38 Efisiensi teknis pendekatan output kapal tonda .............................................

118

39 Efisiensi teknis pendekatan input perahu motor tempel payang .....................

120

40 Efisiensi teknis pendekatan output perahu motor tempel payang .................

120

41 Efisiensi teknis pendekatan input kapal bagan ...............................................

122

42 Efisiensi teknis pendekatan output kapal bagan .............................................

123

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1

Kerangka pemikiran

Jumlah perahu/kapal perikanan laut di Indonesia Tahun 2004 ............

12

Tiga dimensi keberlanjutan

21

Solusi Maximum Sustainable Yield (MSY)

30

Solusi Open Acces Equiblirium (OAE)

31

Solusi Maximum Economic Yield (MEY)

32

7 Peta lokasi penelitian .......................................................................................

35

Pemetaan proses penelitian .........................................................................

51

Perkembangan hasil tangkapan ikan laut di Provinsi Sumatera Barat tahun


1984 2004 ....................................................................................................

56

10 Perkembangan nelayan perikanan tangkap tahun 1995 2004 ....................

57

11 Perkembangan armada perikanan tangkap dari tahun 1995 2004 .............

58

12 Perkembangan hasil tangkapan ikan oleh beberapa jenis alat tangkap ........

60

13 Perkembangan PDRB total, PDRB pertanian dan PDRB


perikanan Provinsi Sumatera Barat .............................................................

66

14 Kontribusi PDRB Perikanan terhadap PDRB Provinsi Sumatera


Barat .............................................................................................................

66

15 Perkembangan effort yang telah distandardisasi untuk penangkapan


ikan pelagis besar dan pelagis kecil .............................................................

68

16 Perkembangan hasil tangkapan perikanan menurut jenis ikan pelagis besar

68

17 Perkembangan effort dan hasil tangkapan ikan pelagis besar ........................

69

18 Perkembangan hasil tangkapan ikan pelagis kecil .......................................

70

19 Perkembangan effort dan hasil tangkapan ikan pelagis kecil ........................

71

20 Hasil tangkapan aktual dan produksi lestari Gompertz ikan pelagis besar .....

74

21 Kurva lestari Gompertz dan produksi aktual ikan pelagis besar .....................

75

22 Copes Eye Ball Loop untuk fungsi Gompertz ikan pelagis besar ...................

76

vi

23 Hasil tangkapan aktual dan produksi lestari Gompertz ikan pelagis kecil ......

77

24 Kurva lestari Gompertz dan produksi aktual ikan pelagis kecil ......................

78

25 Copes Eye Ball Loop untuk fungsi Gompertz ikan pelagis kecil ....................

79

26 Perkembangan biaya penangkapan per trip untuk alat tangkap tonda


dan pukat cincin ............................................................................................

80

27 Biomas dan hasil tangkapan optimal ikan pelagis besar pada discount rate
15% dan 5.66 %...............................................................................................

82

28 Perbandingan hasil tangkapan ikan pelagis besar pada kondisi aktual,


lestari dan optimal ..........................................................................................

84

29 Biomas dan hasil tangkapan optimal ikan pelagis kecil pada discount rate
15% dan 5.66 %...............................................................................................

85

30 Perbandingan hasil tangkapan ikan pelagis kecil pada kondisi aktual, lestari
dan optimal .....................................................................................................

87

31 Rente optimal untuk pengelolaan sumberdaya ikan pelagis besar..................

87

32 Rente optimal untuk pengelolaan sumberdaya ikan pelagis kecil....................

89

33 Perkembangan nilai koefisien degradasi sumberdaya ikan pelagis besar dan


pelagis kecil......................................................................................................

91

34 Perbandingan laju degradasi dengan hasil tangkapan aktual ikan pelagis


besar..............................

91

35 Perbandingan laju degradasi dengan hasil tangkapan aktual ikan pelagis


kecil......................................

92

36 Perbandingan laju degradasi dengan effort ikan pelagis besar......................

92

37 Perbandingan laju degradasi dengan effort ikan pelagis kecil......................

93

38 Perkembangan nilai depresiasi dan effort sumberdaya ikan pelagis besar


pada discount rate 15% dan 5.66%......................

94

39 Perkembangan nilai depresiasi dan effort sumberdaya ikan pelagis besar


pada discount rate 15%....................................................................................

95

40 Perkembangan nilai depresiasi dan effort sumberdaya ikan pelagis besar


pada discount rate 5.66%.................................................................................

95

41 Perkembangan nilai depresiasi dan effort sumberdaya ikan pelagis besar


pada discount rate 15% dan 5.66%.................................................................

97

vii

42 Perkembangan nilai depresiasi dan effort sumberdaya ikan pelagis kecil


pada discount rate 15%....................................................................................

97

43 Perkembangan nilai depresiasi dan effort sumberdaya ikan pelagis kecil


pada discount rate 5.66%.................................................................................

98

44 Rezim pengelolaan biomas ikan pelagis besar........................... ....................

99

45 Rezim pengelolaan hasil tangkapan, effort dan rente ekonomi ikan pelagis
besar........................................................................................... ....................

99

46 Rezim pengelolaan biomas ikan pelagis kecil........................... ....................

101

47 Rezim pengelolaan hasil tangkapan, effort dan rente ekonomi ikan pelagis
kecil..................................................................................................................

101

48 Perkembangan surplus produsen untuk pemanfaatan sumberdaya ikan


pelagis besar dan kecil.....................................................................................

103

49 Perbandingan surplus produsen dan rente aktual pelagis besar.....................

104

50 Perbandingan surplus produsen dan rente aktual pelagis kecil.......................

104

51 Trajektori skor efisiensi DEA ikan pelagis besar .............................................

106

52 Trajektori skor efisiensi DEA ikan pelagis kecil .............................................

106

53 Perbandingan kapasitas pelagis besar pada kondisi aktual dan optimal ........

108

54 Perbandingan kapasitas pelagis kecil pada kondisi aktual dan optimal ........

108

55 Hubungan efisiensi dengan kelebihan kapasitas input ikan pelagis besar......

109

56 Hubungan efisiensi dengan kelebihan kapasitas input ikan pelagis kecil ......

109

57 Nilai kelebihan kapasitas sepanjang periode pengamatan dibandingkan


dengan rata-rata nilai kelebihan kapasitas untuk ikan pelagis besar...............

111

58 Nilai kelebihan kapasitas sepanjang periode pengamatan dibandingkan


dengan rata-rata nilai kelebihan kapasitas untuk ikan pelagis kecil...............

111

59 Trajektori skor efisiensi moneter ikan pelagis besar ......................................

112

60 Trajektori skor efisiensi moneter ikan pelagis kecil .......................................

113

61 Distribusi efisiensi kapal pukat cincin ............................................................

114

62 Potensi perbaikan efisiensi kapal pukat cincin ..............................................

115

63 Distribusi efisiensi kapal tonda .......................................................................

119

64 Potensi perbaikan efisiensi kapal tonda ........................................................

119

viii

65 Distribusi efisiensi perahu motor tempel payang

121

66 Potensi perbaikan efisiensi perahu motor tempel payang ..............................

121

67 Distribusi efisiensi kapal bagan .

123

68 Potensi perbaikan efisiensi kapal bagan .........................................................

123

69 Pengaruh pajak per unit upaya terhadap keseimbangan akses terbuka.......

127

ix

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1

Disagregasi hasil tangkapan ikan pelagis besar ...................

137

Standardisasi effort (trip) penangkapan ikan pelagis besar .....................

139

Disagregasi hasil tangkapan ikan pelagis kecil

131

Analisis CYP ikan pelagis besar

146

Analisis CYP ikan pelagis kecil ...............

148

Output Maple untuk pengelolaan sumberdaya ikan pelagis besar ................

152

Rezim pengelolaan sumberdaya ikan pelagis kecil .....................................

153

Potensi perbaikan efisiensi fisik dari DMU penangkapan pelagis besar .....

156

Potensi perbaikan efisiensi fisik dari DMU penangkapan pelagis kecil ........

158

10

Potensi perbaikan efisiensi moneter dari DMU penangkapan pelagis besar

160

11

Potensi perbaikan efisiensi moneter dari DMU penangkapan pelagis kecil

161

12

Efisiensi teknis pendekatan input kapal tonda .............................................

162

13

Ukuran kapasitas dan kapasitas optimal kapal tonda ..................................

164

14

Efisiensi kapal tonda dengan memasukkan nilai moneter ...........................

166

15

Efisiensi teknis pendekatan input perahu motor tempel payang ....................

168

16

Efisiensi perahu motor tempel payang dengan memasukkan nilai moneter ..

170

17

Efisiensi teknis pendekatan input kapal motor bagan ..................................

172

18

GAMS output untuk analisis DEA perikanan pelagis besar .....................

174

19

GAMS Output untuk efisiensi teknis input kapal pukat cincin ........

178

20

Output Maple untuk perhitungan surplus produsen ..

180

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Potensi sumberdaya kelautan di Indonesia selama ini telah dimanfaatkan
dalam berbagai aktivitas perekonomian, dimana salah satunya adalah dalam
usaha perikanan tangkap. Perikanan tangkap itu sendiri merupakan aktivitas
perekonomian yang unik bila dibandingkan dengan aktivitas lainnya. Hal ini
berkaitan dengan kondisi sumberdaya laut dan ikan itu sendiri yang sering
dianggap sebagai sumberdaya milik umum (common property resources).
Pemanfaatan sumberdaya ikan telah memberikan manfaat secara ekonomi
kepada pelaku usaha akan tetapi pemanfaatan sumberdaya ikan ini juga
memberikan dampak eksternalitas baik positif maupun negatif. Sumberdaya
ikan bersifat renewable resources (sumberdaya yang dapat pulih) tetapi bukan
berarti tak terbatas sehingga

apabila tidak dikelola secara hati-hati, akan

memberikan dampak negatif terhadap ketersediaan sumberdaya ikan dan


lingkungan.
Program

pembangunan

perikanan

yang

dilaksanakan

pada

tahap

pembangunan sebelumnya hanya mengejar keuntungan ekonomi semata dan


mengabaikan kelestarian lingkungan sehingga menyebabkan berbagai dampak
negatif terhadap sumberdaya alam dan lingkungan pesisir dan lautan seperti:
degradasi lingkungan, pencemaran, kelangkaan sumberdaya, tangkap lebih
(overfishing) dan sebagainya. Dalam rangka mengurangi dampak negatif dari
kegiatan pembangunan maka pembangunan yang dilakukan saat ini adalah
pembangunan yang berkelanjutan yaitu pembangunan yang secara ekologis
lestari (ramah lingkungan), secara teknologi tepat guna, secara ekonomi efisien
dan layak, secara sosial bisa diterima/berkeadilan sehingga kebutuhan generasi
mendatang tetap dapat dipertahankan (Dahuri 2003).

Akan tetapi dalam

pelaksanaannya masih banyak ditemui aktivitas pemanfaatan yang bertentangan


dengan prinsip berkelanjutan.
Dalam usaha perikanan tangkap, permasalahan yang sering terjadi adalah
tingkat penangkapan ikan di suatu wilayah yang melebihi potensi lestarinya
(maximum sustainable yield/MSY) sehingga terjadi fenomena tangkap lebih
(overfishing) yang berakibat pada penurunan hasil tangkapan persatuan upaya
(catch per unit of effort) yang pada gilirannya mengakibatkan penurunan
pendapatan nelayan.

Menurut laporan FAO (2000) bahwa 47% sumberdaya

ikan di dunia sudah dimanfaatkan secara penuh (fully exploited), 19%


dieksploitasi secara berlebihan (overexploited) dan 9% diantaranya sudah
terkuras (depleted).
dalam kondisi kritis.

Dengan demikian, 75% sumberdaya ikan global sudah


Mace (1996) mengidentifikasi bahwa kapasitas lebih

(overcapacity) merupakan problem kunci yang menyebabkan permasalahan


dalam perikanan tangkap.
Konsep kapasitas perikanan merupakan suatu ukuran untuk mengetahui
apakah perikanan dalam kondisi efisien atau tidak. Definisi umum dari kapasitas
perikanan adalah stok kapital maksimum yang ada dalam perikanan yang dapat
dipergunakan secara penuh pada kondisi efisien maksimum secara teknis pada
waktu dan kondisi pasar tertentu (Kirkley & Squires 1998). Sedangkan Johansen
(1968) mendefinisikan kapasitas dari sudut pandang ekonomi dan teknologi
sebagai jumlah maksimum yang dapat diproduksi per unit waktu dengan lahan
dan peralatan yang ada, dimana keberadaan dari berbagai faktor produksi
variabel tidak dibatasi.

1.2 Perumusan Masalah


Propinsi Sumatera Barat merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang
memiliki potensi sumberdaya pesisir dan lautan yang cukup besar, memiliki garis
pantai sepanjang 375 km mulai dari Kabupaten Pasaman sampai ke Pesisir
Selatan dan bila dimasukkan garis pantai di Kabupaten Kepulauan Mentawai
maka panjang garis pantainya mencapai 2 420 km, sedangkan luas laut
termasuk ZEE adalah seluas 186 580 km2. Kawasan perairan pantai Sumatera
Barat meliputi 7 (tujuh) daerah kabupaten dan Kota yaitu Pasaman Barat, Agam,
Pariaman, Padang Pariaman, Padang dan Pesisir Selatan serta Kepulauan
Mentawai.
Salah satu potensi sumberdaya pesisir dan lautan yang paling potensial
dan selama ini telah menopang perekonomian masyarakat adalah perikanan
laut. Potensi ikan di perairan laut Sumatera Barat diperkirakan sebesar 289 936
ton sedangkan produksi ikan laut pada tahun 2004 baru mencapai 102 368.0 ton
atau sekitar 35% dari potensi yang ada sehingga masih memiliki peluang yang
besar bagi peningkatan produksi dan peningkatan pendapatan para nelayan.
Rendahnya tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan ini dapat dilihat dari
sumbangan sektor perikanan terhadap pendapatan domestik regional bruto
(PDRB) yang masih berada di bawah 5%. Jumlah nelayan yang ada tercatat

sebanyak 34 020 orang yang terdiri atas 24 287 orang (74%) nelayan tetap dan
sisanya sebanyak 9 733 orang sebagai nelayan musiman.

Jumlah perahu

penangkapan ikan sebanyak 6 897 unit terdiri atas 4 005 unit (57%) perahu
tanpa motor, 1 551 unit (24.30%) perahu motor tempel dan 1 341 unit (17.90%)
kapal motor (DKP Sumbar 2005).
Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan antara lain: jaring
insang (gillnet) pukat kantong (purse seine), bagan dan pancing tonda. Jenis
ikan laut yang tertangkap didominasi oleh ikan pelagis (90%) seperti:

tuna,

cakalang, tongkol, layang, selar, teri, tembang, kembung, tenggiri, serta


beberapa jenis ikan demersal dan ikan karang seperti: ikan kuwe, kerapu, kakap
bawal serta udang seperti: lobster, udang kelong dan udang windu.
Walaupun tingkat penangkapan masih berada di bawah potensi lestari
yang ada, untuk beberapa jenis ikan tingkat penangkapannya hampir mendekati
potensi lestari seperti ikan pelagis kecil dan beberapa jenis ikan karang (Diskan
Sumbar 1999).

Hasil penelitian Puslitbang Perikanan Universitas Bung Hatta

tahun 1995 menyatakan bahwa ikan teri yang tertangkap ukurannya semakin
kecil dan hasil tangkapan per unit upaya juga semakin kecil. Begitu juga dengan
penelitian yang dilakukan oleh Merta et al. (1998) yang menyatakan bahwa
perikanan pelagis kecil di Sumatera Barat sudah mengalami kelebihan tangkap.
Selanjutnya apabila dilihat secara parsial menurut wilayah atau jenis ikan tertentu
ternyata ada wilayah penangkapan yang telah mengalami kelebihan tangkap
(overfishing) dan kelebihan kapasitas (overcapacity).

Hal ini terutama terjadi

pada wilayah penangkapan sekitar pantai.


Berdasarkan alat tangkap yang dimiliki oleh nelayan yang didominasi oleh
perahu tanpa motor dan motor tempel maka aktivitas penangkapan ikan banyak
dilakukan di perairan dekat pantai dan ikan yang banyak tertangkap adalah ikan
pelagis kecil. Sedangkan ikan pelagis besar yang memiliki potensi yang cukup
besar tingkat pemanfaatannya masih belum optimal dikarenakan terbatasnya
kemampuan nelayan untuk menangkap ikan jenis pelagis besar ini. Sehingga
menyebabkan terjadinya ketimpangan pemanfaatan potensi dimana sebagian
wilayah penangkapan mengalami overcapacity yang menyebabkan terjadinya
overeksploitasi dan akhirnya menyebabkan produktivitas nelayan menjadi
rendah, sedangkan wilayah lainnya berada dalam kondisi under capacity.
Kondisi ini menuntut adanya kebijakan pengaturan wilayah pengembangan
perikanan tangkap sehingga dapat memberikan manfaat yang optimal kepada

nelayan dan pembangunan yang berkelanjutan tetap dapat diwujudkan.


Berdasarkan kondisi di atas timbul beberapa pertanyaan sebagai berikut:
1) Bagaimana kondisi

sumberdaya

perikanan pada wilayah penelitian

ditinjau dari sisi biologi dan ekonomi (bioekonomi)?


2) Sejauhmana tingkat efisiensi di wilayah penelitian?
3) Seberapa

besar

ekstraksi

sumberdaya

ikan

memberikan

dapak

kesejahteraan kepada pelaku usaha perikanan?


4) Bagaimana kebijakan pengelolaan perikanan tangkap yang menjamin
keberlanjutan usaha perikanan tangkap?

1.3 Tujuan Penelitian


Secara

umum

penelitian

ini

bertujuan

untuk

menganalisis

pola

pemanfaatan dan merekomendasikan kebijakan perikanan tangkap yang


berkelanjutan pada wilayah penelitian.
secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:
1) Melakukan analisis komparatif pemanfaatan sumberdaya ikan secara
bioekonomi dan empiris (aktual).
2) Menentukan tingkat degradasi dan depresiasi sumberdaya ikan dalam
kaitannya dengan kapasitas perikanan.
3) Menganalisis dampak kapasitas perikanan terhadap kesejahteraan
masyarakat nelayan.
4) Menganalisis kapasitas perikanan baik antar waktu maupun antar alat
tangkap

dan

dampaknya

terhadap

pengelolaan

perikanan

yang

berkelanjutan.

1.4 Hipotesis Penelitian


1) Ekstraksi sumberdaya perikanan pelagis tidak efisien secara bioekonomi.
2) Telah

terjadi

degradasi

dan

depresiasi

akibat

adanya

ekstraksi

sumberdaya ikan.
3) Kapasitas penangkapan tidak sesuai dengan kapasitas perikanan yang
seharusnya.

1.5 Kegunaan Penelitian


1) Diperolehnya informasi tentang kondisi perikanan tangkap di Propinsi
Sumatera Barat.
2) Sebagai salah satu bahan acuan bagi Pemerintah Daerah Propinsi
Sumatera Barat dalam merumuskan kebijakan pengembangan perikanan
tangkap secara berkelanjutan.

1.6 Kerangka Pemikiran


Pemanfaatan sumberdaya ikan telah memberikan manfaat bagi bangsa
Indonesia, sebagai sumber utama pangan, penyedia lapangan kerja, sumber
penerimaan dan devisa negara serta manfaat ekonomi bagi pelaku usaha
perikanan.
dampak

Akan tetapi dengan adanya pemanfaatan ini juga memberikan

negatif

terhadap

keberadaan

sumberdaya

ikan,

telah

terjadi

kecenderungan penurunan stok sumberdaya ikan yang dicirikan dengan


turunnya produksi per unit input.
Sumberdaya perikanan bersifat quasi open access yang menyebabkan
sulitnya pengendalian input. Akses terhadap sumberdaya yang tidak dibatasi
mendorong terjadinya eksploitasi yang berlebihan dan penggunaan sumberdaya
yang tidak efisien serta berdampak negatif terhadap lingkungan.

Hal ini dapat

dilihat dari berbagai permasalahan yang terjadi terhadap sumberdaya ikan


seperti kelebihan tangkap (overfishing), overcapacity, kepunahan, depresiasi dan
degradasi. Berbagai permasalahan yang terjadi terhadap sumberdaya ikan pada
akhirnya juga akan berdampak terhadap tingkat kesejahteraan pelaku usaha
perikanan sebagai akibat biaya eksploitasi yang semakin meningkat, produksi
yang semakin menurun dan pada akhirnya menurunnya manfaat/keuntungan
dari kegiatan penangkapan ikan.
Terjadinya dampak negatif dari pemanfaatan sumberdaya ikan juga
disebabkan tidak meratanya pemanfaatan wilayah penangkapan ikan, dimana
ada suatu wilayah dengan tingkat pemanfaatan yang tinggi (input yang
berlebihan) dan wilayah penangkapan lainnya tingkat pemanfaatannya masih
rendah. Hal ini juga didukung dengan belum adanya data atau ukuran seberapa
besar sumberdaya dapat dimanfaatkan dan berapa besar tingkat upaya atau
kapasitas yang optimal. Sehingga ada suatu wilayah yang mengalami kelebihan
kapasitas dan wilayah lainnya yang berada di bawah kapasitas (under capacity).

Untuk itu dalam penelitian ini dilakukan analisis tentang tingkat pemanfaatan dan
kapasitas perikanan tangkap sehingga dapat diketahui kondisi perikanan apakah
sudah optimal dan efisien. Diharapkan dengan mengetahui tingkat pemanfaatan
dan kapasitas perikanan dapat dirumuskan kebijakan pengelolaan
tangkap yang berkelanjutan.
dapat dilihat pada Gambar 1.

perikanan

Gambaran lengkap dari kerangan pemikiran ini

Gambar 1 Kerangka pemikiran.

2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sumberdaya Perikanan laut
Indonesia memiliki potensi sumberdaya perikanan laut yang cukup besar
baik dari segi kuantitas maupun keragamannya. Menurut Puslitbang Oseanologi
LIPI (2001) potensi lestari sumberdaya perikanan laut Indonesia adalah sebesar
6.41 juta ton per tahun yang antara terdiri dari ikan pelagis 4.77 juta ton, ikan
demersal 1.37 juta ton, ikan karang konsumsi 145 ribu ton, udang penaeid 94.80
ribu ton, lobster 4.80 ribu ton, dan cumi-cumi 28.25 ribu ton. Berdasarkan data
dari Direktorat Jenderal Perikanan tangkap Tahun 2005, produksi perikanan laut
Indonesia tahun 2004 adalah sebesar 4 506 060 ton, bila dibandingkan dengan
potensi lestari yang ada ternyata tingkat pemanfaatannya masih di bawahnya
yaitu sebesar 70.36%. Perairan Laut Sumatera Barat merupakan bagian dari
wilayah Pengelolaan Samudera Hindia dimana potensi, produksi dan tingkat
pemanfaatan sumberdaya ikan di Samudera Hindia seperti pada Tabel 1.
Tingkat pemanfaatan ikan di Samudera Hindia ini secara keseluruhan masih
berada di bawah potensi lestari tetapi ada beberapa sumberdaya ikan yang
sudah melebihi potensi lestari yaitu ikan karang dan cumi-cumi.
Tabel 1 Potensi lestari sumberdaya ikan dan tingkat
pemanfaatan di Samudera Hindia
No.

Sumberdaya ikan

Potensi
(103ton/tahun)

Produksi
(103ton/tahun)

Tingkat
Pemanfaatan
(%)

1.

Ikan pelagis besar

386.26

188.28

48.74

2.

Ikan pelagis kecil

526.57

264.56

50.21

3.

Ikan demersal

135.13

134.83

99.78

4.

Ikan karang

12.88

19.42

>100

5.

Udang penaeid

10.70

10.24

95.70

6.

Lobster

1.60

0.16

10.00

7.

Cumi-cumi

3.75

6.29

>100

1.076.80

623.78

57.92

Jumlah

Sumber: Puslitbang Oseanologi LIPI (2001)

Walaupun secara keseluruhan tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan di


perairan Indonesia masih berada di bawah potensi lestari yang ada, akan tetapi
pada beberapa wilayah telah mengalami tangkap lebih (overfishing), seperti
untuk jenis ikan karang dan udang penaeid. Berdasarkan penyebaran daerah
penangkapan ikan, potensi produksi perikanan tangkap di perairan laut Indonesia
dibagi berdasarkan 9 wilayah pengelolaan perikanan yaitu: wilayah I

Selat

Malaka, wilayah II Laut Cina Selatan, wilayah III Laut Jawa, wilayah IV Selat
Makassar dan Laut Flores, wilayah V Laut Banda, wilayah VI

Laut Seram

sampai Teluk Tomini, wilayah VII Laut Sulawesi dan Samudera Fasifik, wilayah
VIII Laut Arafura dan wilayah IX Samudera Hindia. Dari 9 wilayah pengelolaan
perikanan ini daerah yang telah mengalami tangkap lebih adalah: Laut Jawa,
perairan Selat Malaka, perairan Selat Makassar, sedangkan perairan Laut Cina
Selatan, Laut Banda, Laut Seram dan Teluk Tomini masih memiliki potensi yang
tinggi dengan tingkat pemanfaatan yang masih rendah (Aziz et al. 1998)
Menurut Dahuri (2003) terjadinya fenomena tangkap lebih disebabkan oleh
persepsi keliru tentang sumberdaya ikan laut yang selama ini dimiliki oleh
kebanyakan para nelayan, pengusaha perikanan, dan pejabat pemerintah.
Kekeliruan pertama adalah mereka menganggap bahwa karena ikan adalah
sumberdaya dapat pulih (renewable resources), sehingga dapat dieksploitasi
secara tak terbatas (infinite). Selain itu, sumberdaya ikan laut dianggap sebagai
sumberdaya milik umum (common property resources), sehingga berlaku rejim
open access dalam pemanfaatannya dengan pengertian bahwa siapa saja,
kapan saja dapat mengeksploitasi sumberdaya ikan sebanyak-banyaknya. Oleh
karena itu, untuk mewujudkan perikanan tangkap berkelanjutan (sustainable
fisheries), maka rejim (pola) pemanfaatannya harus segera diubah dari rejim
open access menjadi perikanan tangkap yang bertanggung jawab seperti yang
dianjurkan oleh Kode Etik Perikanan yang bertanggung jawab atau Code
Conduct of Responsible Fisheries.
Salah satu unsur dari kode etik ini adalah praktek perikanan tangkap yang
terkendali, yang secara garis besar dapat dilakukan melalui dua pendekatan
yaitu: 1) pengendalian penangkapan ikan oleh pemerintah (public authorities);
dan 2) pemberian hak pengusahaan perikanan (fishery rights) kepada individu,
kelompok masyarakat atau perusahaan perikanan. Hanneson (2000) yang diacu
dalam Dahuri (2003) mengatakan bahwa pengendalian penangkapan ikan oleh
pemerintah

dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu: 1) pengendalian

10

penangkapan (control of the catch) yang salah satu tekniknya adalah dengan
menerapkan kuota penangkapan ikan sesuai dengan potensi lestari stok ikan
dalam suatu wilayah perikanan, 2) pengendalian upaya tangkap dan kapasitas
penangkapan (control of fishing capacity and fishing effort), dan 3) pengendalian
secara tidak langsung melalui pengenaan pajak terhadap upaya tangkap atau
hasil tangkapan.
Selanjutnya Dahuri (2003) menyatakan bahwa pengendalian upaya
tangkap dan kapasitas penangkapan dapat dilakukan dengan cara memberikan
izin penangkapan ikan (fishing licence) pada setiap kapal ikan.

Izin

penangkapan ikan diberikan untuk jangka pendek (satu tahun) dan jangka
panjang (selama umur teknis/pakai kapal ikan).

Pelaku usaha perikanan

cenderung untuk memaksimalkan hasil tangkapannya untuk memperoleh rente


yang sebesar-besarnya karena mereka tidak perlu membayar untuk menangkap
ikan, dengan pengenaan pajak terhadap usaha penangkapan ikan secara tidak
langsung akan mengendalikan tingkat upaya ikan agar tidak melebihi potensi
lestarinya.
Fauzi (2002) menyatakan bahwa

alternatif lain selain ketiga kebijakan

konvensional di atas yang dalam penerapannya memiliki kelebihan dan


kelemahan terutama pada perikanan yang bersifat multi spesies dan multi gear
adalah dengan penerapan user fee atau fishing fee. Ada beberapa hal yang
menjadikan user fee ini lebih menguntungkan (favourable) yaitu: Pertama, prinsip
netralitas yang didasarkan pada pemikiran bahwa resource rent tax atau pajak
rente sumberdaya tidak mempengaruhi penggunaan faktor produksi, user fee ini
tidak akan membuat distorsi pada pasar karena fishing fee yang didasarkan dari
perhitungan

resource

rent

tax

sudah

memperhitungkan

seluruh

aspek

sumberdaya baik biologi maupun ekonomi dari pelaku perikanan. Kedua, aspek
kesetaraan (equity) dan keadilan (fairness), dimana fishing fee merupakan
kontrak sosial antara pelaku perikanan dengan pemerintah sebagai wakil publik
atas kepemilikan sumberdaya dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan dan
juga merupakan penjabaran lebih nyata dari user fee principle atau prinsip biaya
pengguna. Prinsip ini menyatakan bahwa mereka yang memperoleh manfaat
atas pemanfaatan sumberdaya perikanan (pelaku perikanan) membayar biaya
(fee) yang mencerminkan nilai dari fishing privilege. Ketiga, fleksibilitas dimana
biaya sosial untuk merevisi fishing fee jauh lebih kecil dibanding biaya sosial
yang harus ditanggung untuk merevisi kuota atau limited entry, jika terjadi

11

perubahan dalam teknologi atau sistem pengelolaan perikanan maka fishing fee
jauh lebih adaptable dibanding kuota. Keempat, aspek co-existence yakni share
atas pemanfaatan sumberdaya ikan dengan pihak ketiga (kapal dari daerah lain
atau kapal asing).

2.2 Usaha Perikanan tangkap


Dalam pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan laut sebagian besar
dilakukan melalui usaha perikanan tangkap. Perikanan tangkap merupakan
suatu kegiatan ekonomi dalam bidang penangkapan atau pengumpulan hewan
atau tanaman air yang hidup di laut atau perairan umum secara bebas (Monintja
1994). Menurut UU No.9 tahun 1985 penangkapan ikan adalah kegiatan yang
bertujuan untuk memperoleh ikan pada perairan yang dalam keadaan tidak
dibudidayakan dengan alat tangkap atau cara apapun, termasuk kegiatan yang
menggunakan

kapal

untuk

menampung,

mengangkut,

menyimpan,

mendinginkan, mengolah dan mengawetkan.


Dalam melakukan usaha perikanan tangkap diperlukan beberapa sarana
penangkapan berupa input atau dalam perikanan disebut effort yang terdiri dari
alat tangkap, tenaga kerja, kapal dan lain-lain. Berdasarkan skala usaha yang
ada atau

investasi yang dibutuhkan, perikanan tangkap di Indonesia dibagi

menjadi 3 yaitu skala kecil, menengah dan skala besar. Perikanan tangkap
skala kecil adalah perikanan yang dalam usaha penangkapan ikan tidak
menggunakan perahu, perahu tanpa motor dan perahu yang memiliki mesin
diluar (outboard) atau perahu motor tempel.

Perikanan skala menengah

menggunakan kapal motor (inboard engine) dan kapal yang berukuran


menengah, sedangkan usaha perikanan tangkap skala besar diusahakan oleh
perusahaan, memiliki fasilitas penangkapan yang lengkap, kapal motor dengan
mesin yang memiliki daya yang besar serta ukuran kapal yang besar. Pada
usaha perikanan tangkap skala besar ini, pemilik usaha juga melengkapinya
dengan berbagai fasilitas penanganan, pengolahan dan pemasaran ikan (Bailey
et al. 1987).
Berdasarkan data yang diperoleh dari Ditjenkan Tangkap DKP (2005)
sampai saat ini usaha perikanan tangkap di Indonesia masih didominasi oleh
usaha perikanan skala kecil dan menengah, hal ini terlihat dari data jumlah
perahu/kapal perikanan tangkap di Indonesia pada tahun 2004 yang masih
didominasi oleh perahu tanpa motor sebesar 200 000 buah (42.58%), perahu

12

motor tempel sebanyak 146 270 buah (31.14%) dan kapal motor sebanyak 123
440 buah (26.28%) seperti terlihat pada Gambar 2 di bawah ini. Selanjutnya
dari 123 440 buah (26.28%) kapal motor sebagian besar masih didominasi oleh
perahu/kapal motor di bawah 5 GT dan antara 5 10 GT yaitu masing-masing
sebanyak 79 180 buah (64.14%) dan 24.060 buah (19.49%) yang dapat
dikatagorikan ke dalam usaha skala menengah, sedangkan kapal yang
berukuran di atas 200 GT hanya sebanyak 670 buah (0.54%).

kapal motor
26.28%

perahu tanpa
motor
42.58%

perahu motor
tempel
31.14%

Gambar 2 Jumlah Perahu/Kapal Perikanan Laut di Indonesia


tahun 2004.
(Sumber: Ditjenkan Tangkap DKP 2005)
2.3 Sumberdaya Ikan Pelagis
Ikan pelagis merupakan ikan yang hidup di lapisan permukaan perairan
sampai tengah (mid layer).

Ikan pelagis umumnya senang bergerombol baik

dengan kelompoknya maupun jenis ikan lain.

Ikan-ikan ini bersifat fototaxis

positif dan tertarik pada benda-benda terapung. Bentuk tubuh ikan menyerutu
(stream line), perenang cepat dan mempunyai sifat hidup yang bergerombol.
Direktorat Jenderal Perikanan (1998) yang diacu dalam Bakosurtanal
(1998), mengelompokkan ikan pelagis berdasarkan ukurannya menjadi dua
kelompok yaitu: 1) Ikan pelagis besar yaitu ikan pelagis yang mempunyai ukuran
100 250 cm (ukuran dewasa) antara lain: tuna (Thunnus spp.), cakalang
(Katsuwonus pelamis), tenggiri (Scomberomorus spp.), tongkol (Euthynnus spp.),
setuhuk (Xiphias spp.) dan lemadang (Coryphaena spp.). Umumnya ikan pelagis

13

besar adalah ikan peruaya dan perenang cepat, 2) Ikan pelagis kecil yaitu ikan
pelagis yang mempunyai ukuran 5 50 cm (ukuran dewasa), terdiri dari 16
kelompok dimana produksinya didominasi oleh 6 kelompok besar yang masingmasing mencapai lebih dari 100 000 ton.

Kelompok ikan tersebut adalah

kembung (Rastrelliger sp.), layang (Decapterus sp.), jenis-jenis selar (Selaroides


sp. dan Atale sp.), lemuru (Sardinella sp.) dan teri (Stolephorus sp.).

2.3.1

Ikan pelagis besar


Beberapa jenis ikan pelagis besar yang secara ekonomi dimanfaatkan

antara lain adalah:


Ikan tuna (Thunnus albacares)
Klasifikasi ikan tuna menurut Saanin (1984) adalah:
Phylum: Chordata
Kelas: Pisces
Ordo: Percomorphi
Famili: Scombridae
Genus: Auxis, Thunnus, Katsuwonus, Euthynnus
Ada 4 jenis ikan tuna yang banyak ditemukan di perairan Indonesia yaitu
madidihang (Thunnus albacares), tuna mata besar (Thunnus obesus), albakora
(Thunnus alalunga) dan tuna sirip biru selatan (Thunnus maccoyii). Ikan
madidihang mendominasi di semua perairan Indonesia kecuali di Selatan Jawa,
Selatan Bali dan Nusa Tenggara. Ikan madidihang bersifat epipelagis dan
oseanis yang menyukai perairan di atas dan di bawah lapisan termoklin. Suhu
air yang sesuai bagi madidihang berkisar antara 18 - 310C. Tuna mata besar
banyak terdapat di Selatan Jawa, Selatan Bali-Nusa Tenggara dan Barat
Sumatera serta laut Banda dan Arafuru.

Sifat hidup tuna mata besar ini

berhubungan erat dengan lapisan termoklin atau daerah renangnya berada pada
lapisan tersebut. Tuna mata besar bersifat epipelagis, mesopelagis dan oseanis,
terdapat pada kedalaman laut mulai dari permukaan hingga 250 meter (Uktolseja
et al. 1998). Suhu dan kedalaman lapisan termoklin merupakan faktor lingkungan
utama yang mempengaruhi sebarannya, baik vertikal maupun horisontal.
Kisaran suhu air dimana ditemukan tuna mata besar berkisar antara 13 - 290C
dengan suhu optimumnya antara 17 - 220C (Colette dan Nauen 1983 yang diacu
dalam Uktolseja et al. 1998).

14

Ikan albakora banyak ditemukan pada perairan yang suhu airnya dingin
dan berkisar antara 15.6 19.40C, akan tetapi ukuran albakora yang besar
kisaran suhu air yang dissukai antara 13.5 25.20C. Albakora dapat tertangkap
di perairan Indonesia terutama dimana terdapat massa air karena sifatnya
beruaya bersama atau di dalam massa air tersebut.

Lebih besar pengaruh

massa air terhadap ruayanya dibandingkan dengan pengaruh suhu atau kadar
oksigen

perairan.

Selain

itu

sesuai

dengan

kisaran

suhu

perairan

keberadaannya, maka albakora juga dapat tertangkap di air lapisan termoklin. Di


perairan Indonesia paling banyak ditemukan di perairan Selatan BaliNusatenggara, Laut Flores-Selat Makasar dan Selatan Jawa. Selanjutnya tuna
sirip biru selatan hanya tertangkap di perairan Selatan jawa dan Selatan Bali
Nusa Tenggara (Uktolseja et al. 1998).

Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis)


Klasifikasi ikan cakalang menurut Saanin (1984) adalah:
Phylum: Chordata
Kelas: Pisces
Ordo: Perciformes
Famili: Scombridae
Genus: Katsuwonus
Ikan Cakalang bersifat epipelagis dan oseanis, peruaya jarak jauh, dan
suhu air yang disenanginya berkisar antara 14.7 300 C. Cakalang menyenangi
daerah dimana terjadi pertemuan arus atau air yang umumnya terdapat banyak
pulau.

Selain itu Cakalang juga menyukai batas perairan dimana terjadi

pertemuan antara masa air panas dan dingin, penaikan air dan parameter
hidrografi dimana terdapat percampuran yang tidak tetap. Penyebaran vertikal,
mulai dari permukaan sampai kedalaman 260 meter pada siang hari, sedangkan
pada malam hari akan menuju permukaan. Sebaran geografis terutama pada
perairan tropis dan perairan panas di daerah lintang selatan. Cakalang selalu
terdapat dalam kelompok/gerombolan yang besar. Di Indonesia penyebaran ikan
Cakalang hampir di semua wilayah perairan Indonesia dimana potensi tertinggi
terdapat di Laut Sulawesi-Utara Irian Jaya dan Barat Sumatera (Uktoselja et al.
1998).

15

Ikan Tongkol (Euthynnus affinis)


Klasifikasi ikan tongkol menurut Saanin (1984) adalah:
Phylum: Chordata
Kelas: Pisces
Ordo: Percomorphi
Famili: Scombridae
Genus: Auxis, Euthynnus
Ikan tongkol termasuk golongan ikan epipelagik dengan kisaran suhu 18
0

31 C. Ikan tongkol ini ditemui hampir di seluluh perairan Indonesia. Untuk


Samudera Pasifik potensi tertinggi terdapat di laut Sulawesi-Utara Irian Jaya
sedangkan untuk Samudera Hindia potensi tertinggi terdapat di Barat Sumatera
dan Selatan Bali-Nusatenggara. Umumnya tingkat pengusahaan ikan tongkol
baik di Samudera Pasifik maupun di Samudera Hindia telah berada pada tahap
berkembang sebesar 52.50% dan 58.10% (Uktolseja et al. 1998).

Ikan Tenggiri (Scomberomorus commerson)


Klasifikasi ikan tenggiri menurut Saanin (1984) adalah:
Phylum: Chordata
Kelas: Pisces
Ordo: Percomorphi
Famili: Scombridae
Genus: Scomberomorus
Genus: Scomberomorus commerson
Scomberomorus guttatus
Scomberomorus lineolatus

Ada tiga jenis ikan tenggiri yaitu tenggiri Scomberomorus commerson,


tenggiri papan Scomberomorus gutatus, terdapat di semua perairan Indonesia,
sedangkan Scomberomorus lineolatus hanya terdapat di perairan Indonesia
Barat, jenis ini merupakan ikan peruaya lokal sesuai dengan sifatnya yang
neuritis, lebih menyukai perairan yang lebih keruh dan salinitas rendah. Ikan
tenggiri Scomberomorus commerson daerah penyebarannya sangat luas,
bersifat epipelagis dan neritis.

Tenggiri papan bersifat epipelagis dan neritis

juga, menyukai perairan yang keruh dengan salinitas rendah, itulah sebabnya
banyak tertangkap di perairan laut Jawa, Selatan Sumatera dan Selat Malaka

16

(Uktolseja et al. 1998). Penyebaran ikan tenggiri cukup luas mencakup seluruh
wilayah Indo-Pasifik Barat dan Afrika Utara dan Laut Merah sampai ke perairan
Indonesia, perairan Australia dan perairan Fiji ke utara sampai ke perairan China
dan Jepang.

2.3.2 Ikan pelagis kecil


Sumberdaya perikanan pelagis kecil merupakan sumberdaya yang poorly
behaved, karena makanan utamanya adalah plankton sehingga kelimpahannya
sangat tergantung kepada faktor-faktor lingkungan. Oleh karena itu kelimpahan
sumberdaya ini sangat berfluktuasi dan tergantung kepada lingkungan
perairannya (Merta et al. 1998).
Beberapa jenis ikan pelagis kecil yang banyak ditangkap di perairan
Indonesia termasuk perairan Sumatera Barat antara lain adalah:
Ikan kembung (Rastrelliger spp.)
Klasifikasi ikan kembung menurut Saanin (1984) adalah:
Phylum: Chordata
Kelas: Pisces
Ordo: Percomorphi
Famili: Scombridae
Genus: Rastrelliger
Spesies: Rastrelliger brachysoma (Bleeker)
Rastrelliger kanagurta

Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) biasanya ditemukan di


perairan yang jernih dan agak jauh dari pantai dengan kadar garam lebih dari
320/00, sedangkan kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma) dijumpai
dekat pantai dengan kadar garam lebih rendah (Nontji 1993).

Daerah

penyebaran ikan kembung mulai dari pulau Sumatera bagian barat dan timur,
pulau Jawa bagian utara dan selatan, Nusa Tenggara, perairan barat, timur dan
selatan kalimantan, Malaka, Sulawesi bagian utara dan selatan, Maluku dan
Irian Jaya (Ditjenkan Deptan 1997).

17

Ikan Layang (Decapterus spp.)


Klasifikasi ikan layang menurut Saanin (1984) adalah:
Phylum: Chordata
Kelas: Pisces
Ordo: Percomorphi
Famili: Carangidae
Genus: Decapterus
Spesies: Decapterus russeli (Ruppell)
Decapterus maerosoma (Bleeker)
Decapterus maruadsi (Tamminck dan Sengel)

Ikan layang (Decapterus spp.) hidup pada perairan dengan variasi salinitas
yang sempit (stenohaline) dengan salinitas berkisar antara 31 330/00. Makanan
utamanya adalah zooplankton, meskipun kadang-kadang juga makan ikan kecil
seperti teri (Stolephorus spp.) dan japuh (Dussumteria acuta).

Ada lima jenis

ikan layang yang umum ditemukan di perairan Indonesia yakni Decapterus


russeli, Decapterus maerosoma, Decapterus maruadsi, Decapterus lajang dan
Decapterus kurroides. Akan tetapi dari kelima jenis yang ada, hanya Decapterus
russeli yang mempunyai daerah penyebaran yang luas di Indonesia mulai dari
Kepulauan Seribu hingga pulau Bawean dan pulau Masalembo. Decapterus
maerosoma banyak dijumpai di selat Bali, Labuhan dan Pelabuhan Ratu.
Decapterus lajang menyukai perairan yang dangkal seperti di Laut Jawa
(termasuk selat Sunda, selat Madura dan selat Bali), selat Makassar, Ambon dan
Ternate. Decapterus maruadsi termasuk ikan yang berukuran besar, hidup di
laut dalam seperti di Laut Banda. Ikan ini dapat tertangkap pada kedalaman
1000 meter atau lebih (Nontji 1993).
Ikan Selar (Selaroides spp.)
Klasifikasi ikan selar menurut Saanin (1984) adalah:
Phylum: Chordata
Kelas: Pisces
Ordo: Percomorphi
Famili: Carangidae
Genus: Caranx
Spesies: Selar crumenophthalmus
Selaroides leptolepsis

18

Jenis ikan selar (Selaroides spp.) yang tertangkap di perairan Indonesia


dan tercatat di dalam data statistik perikanan Indonesia adalah selar bentong
(Selar crumenophthalmus) dan selar kuning (Selaroides leptolepsis) (Nontji
1993). Kedua jenis ikan ini memakan ikan-ikan kecil dan udang kecil, hidup
secara bergerombol, dan umumnya di sekitar perairan pantai yang dangkal,
khusus untuk selar bentong (Selar crumenophthalmus) hidup sampai kedalaman
80 meter.
Ikan Tembang (Sardinella sp.)
Daerah penyebaran ikan tembang meliputi seluruh perairan pantai
Indonesia, ke utara sampai ke Taiwan dan ke selatan sampai ke ujung utara
Australia dan ke barat sampai laut Merah (Ditjenkan Deptan 1997).
Klasifikasi ikan tembang menurut Saanin (1984) adalah:
Phylum: Chordata
Kelas: Pisces
Ordo: Malocopterigii
Famili: Clupeidae
Genus: Sardinella
Spesies: Sardinella fibriata (V)

Ikan Teri (Stolephorus spp.)


Klasifikasi ikan teri menurut Saanin (1984) adalah:
Phylum: Chordata
Kelas: Pisces
Ordo: Malocopterigii
Famili: Clupeidae
Genus: Stolephorus
Spesies: Stolephorus spp.
Ikan teri (Stolephorus spp.) terdapat di seluruh perairan pantai Indonesia
terutama di perairan Barat Sumatera, selat Malaka, selatan dan utara Sulawesi
dan timur Sumatera. Ikan teri termasuk ikan pelagis yang menghuni perairan
pesisir dan estuari, tetapi beberapa jenis dapat hidup pada salinitas antara 10
15 0/00. Pada umumnya hidup bergerombol sampai ratusan atau ribuan individu,
terutama untuk jenis-jenis ukuran kecil.

Sebaliknya yang berukuran besar

cenderung untuk hidup soliter, hanya pada bulan-bulan tertentu mereka dapat
tertangkap dalam gerombolan kecil sekitar 100 200 ekor.

Teri banyak

19

memakan berbagai jenis plankton, walaupun komposisinya tidak selalu sama


untuk setiap spesies. Pada ukuran 40 mm, ikan ini umumnya memanfaatkan
fitoplankton dan zooplankton berukuran kecil, sedangkan teri yang berukuran
lebih dari 40 mm, banyak memanfaatkan zooplankton yang berukuran besar
(Nontji 1993).

Ikan Lemuru (Sardinella longiceps).


Klasifikasi ikan lemuru menurut Saanin (1984) adalah:
Phylum: Chordata
Kelas: Pisces
Ordo: Malocopterigii
Famili: Clupeidae
Genus: Sardinella
Spesies: Sardinella longiceps
Ikan-ikan lemuru yang tertangkap di perairan Indonesia terdiri dari
beberapa jenis yang di dalam Statistik Perikanan Indonesia digabung menjadi
satu

dengan

nama

longiceps/sardinella

lemuru.

lemuru,

Sardinellla elupeoides.

Jenis-jenis

Sardinella

aurita,

tersebut

adalah

Sardinella

Sardinella

leoigaster

dan

Sebaran geografik ikan lemuru mulai dari utara

Kalimantan sampai Filipina, India sampai ke pantai timur Afrika. Lemuru juga
terdapat di Thailand, Malaysia, Kamboja, Vietnam dan Australia. Di Indonesia
didapat dalam jumlah besar di selat Bali sampai Nusa Tenggara Timur.
Gerombolan lemuru pada siang hari berada pada lapisan kedalaman 40m 80m,
dan berenang ke atas saat malam hari sampai saat matahari akan terbit lagi.
Pada saat bulan purnama terlihat bahwa gerombolan ikan lemuru terpencar di
permukaan atau berada tetap di bawah (Dwiponggo 1982).

2.4 Perikanan yang berkelanjutan (Sustainable fisheries)


Sumberdaya ikan bersifat dapat pulih/diperbaharui (renewable resources),
dimana dia memiliki kemampuan regenerasi secara biologis, akan tetapi apabila
tidak dikelola secara hati-hati dan menyeluruh akan mengarah kepada
pengurasan sumberdaya ikan dan mengancam keberlanjutan sumberdaya.
Untuk itu dalam pengelolaan sumberdaya perikanan rente ekonomi yang
sebesar-besarnya hendaknya diperoleh tanpa melakukan pengurasan terhadap

20

sumberdaya ikan itu sendiri.

Prinsip pembangunan yang berkelanjutan

hendaknya diterapkan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan.


Perhatian pembangunan perikanan yang berkelanjutan dimulai pada awal
tahun 1990-an yang merupakan proses dari terjadinya beberapa perubahan yang
menyangkut (Fauzi & Anna 2002a):
1) Meningkatnya perhatian terhadap lingkungan dari para stakeholder
sebagai akibat Rio Summit yang menyerukan diperlukannya perbaikan
secara global terhadap pengelolaan sumberdaya perikanan dan
kelautan.
2) Terjadinya collapse dari beberapa perikanan dunia seperti anchovy,
tuna dan salmon yang menyadarkan orang tentang konsekwensi yang
ditimbulkan tidak hanya ekologi, namun juga konsekwensi sosial dan
ekonomi.
3) Pemberdayaan para stakeholder yang menuntut diperlukan pandangan
yang lebih luas (holistik) mengenai pengelolaan perikanan.
The World Commission on Environment and Development (WCED) (1987)
mendefinisikan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah
pembangunan untuk memenuhi kebutuhan umat manusia saat ini, tanpa
menurunkan atau menghancurkan kemampuan generasi mendatang dalam
memenuhi kebutuhannya.

Menurut Monintja (1997) perikanan tangkap yang

berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai usaha penangkapan ikan yang perlu


memiliki beberapa persyaratan khusus antara lain:
1) Produk-produk dapat diterima oleh masyarakat konsumen (marketable).
2) Usaha penangkapan menunjukkan keragaman yang

menguntungkan

(profitable).
3) Usaha penangkapan tidak mengganggu habitat serta kegiatan-kegiatan
sub sektor lainnya (environmental friendly).
4) Usaha

penangkapan akan

dapat

berjalan terus

menerus

tanpa

mengganggu kelestarian spesies sasaran (sustainable).


Keberlanjutan (sustainability) hendaknya dijadikan salah satu tujuan
dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir dan lautan karena hal ini telah
diamanatkan dalam Deklarasi yang dihasilkan oleh United Nations Conference
on Environment and Development yang diselenggarakan di Rio de Janeiro,
Brasil, pada tahun 1992 dimana Indonesia merupakan salah satu peserta.
Pembangunan berkelanjutan mensyaratkan keserasian antara laju kegiatan

21

pembangunan dengan daya dukung (carrying capacity) lingkungan alam untuk


menjamin tersedianya aset sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan
(environmental services) yang minimal sama untuk generasi mendatang.
Pembangunan berkelanjutan mengandung tiga dimensi utama yang
meliputi dimensi ekonomi, ekologi dan sosial, jadi suatu kegiatan pembangunan
dinyatakan berkelanjutan, apabila kegiatan pembangunan secara ekonomis,
ekologis, dan sosial politik bersifat berkelanjutan (Gambar 3). Berkelanjutan
secara ekonomis berarti bahwa suatu kegiatan pembangunan harus dapat
membuahkan

pertumbuhan

ekonomi,

pemeliharaan

kapital

(capital

maintenance), dan penggunaan sumberdaya serta investasi secara efisien.


Berkelanjutan secara ekologis mengandung arti, bahwa kegiatan dimaksud
harus dapat mempertahankan integritas ekosistem, memelihara daya dukung
lingkungan, dan konservasi sumberdaya alam termasuk keanekaragaman
hayati (biodiversity), sehingga diharapkan pemanfaatan sumberdaya dapat
berkelanjutan. Sementara itu, berkelanjutan secara sosial politik mensyaratkan
bahwa

suatu

pemerataan

kegiatan

hasil-hasil

pembangunan
pembangunan,

hendaknya
mobilitas

dapat

sosial,

menciptakan

kohesi

sosial,

partisipasi masyarakat, pemberdayaan masyarakat, identitas sosial, dan


pengembangan

kelembagaan. Dengan

demikian

jelas

bahwa

konsep

pembangunan berkelanjutan hanya bisa dilaksanakan apabila pembangunan


harus berorientasi pada kepentingan dan mendapatkan dukungan dari
masyarakat yang terkena dampaknya.
Sustainability Triangle

Ecological
Integrity

Economic
Stability

Careful
Development
Use Evaluation
Education
Communities
Social Fairness

Gambar 3 Tiga Dimensi Keberlanjutan (Doring 2001).

22

Selanjutnya Charles (2001) menyatakan keberlanjutan selain terdiri dari aspek


ekologi, dan sosial ekonomi juga ada aspek masyarakat dan kelembagaan
dengan rincian sebagai berikut:
1) Ecologicall sustainability (keberlanjutan ekologi). Dalam pandangan ini
memelihara keberlanjutan stok/biomass sehingga tidak melewati daya
dukungnya, serta meningkatkan kapasitas dan kualitas dari ekosistem
menjadi konsern utama.
2) Socioeconomic sustainability (keberlanjutan sosio-ekonomi). Konsep ini
mengandung

makna

bahwa

pembangunan

perikanan

harus

memperhatikan keberlanjutan dari kesejahteraan pelaku perikanan baik


pada tingkat individu . Dengan kata lain mempertahankan atau mencapai
tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi merupakan konsern
dalam kerangka keberlanjutan.
3) Community sustainability, mengandung makna bahwa keberlanjutan
kesejahteraan dari sisi komunitas atau masyarakat haruslah menjadi
perhatian pembangunan perikanan yang berkelanjutan.
4) Institutional sustainability (keberlanjutan kelembagaan). Dalam kerangka
ini keberlanjutan kelembagaan yang menyangkut memelihara aspek
finansial dan administrasi yang sehat merupakan prasyarat dari ketiga
pembangunan berkelanjutan di atas.
Dengan demikian jika setiap komponen dilihat sebagai komponen yang
penting untuk menunjang keseluruhan proses pembangunan berkesinambungan,
maka kebijakan pembangunan perikanan yang berkesinambungan haruslah
mampu memelihara tingkat yang reasonable dari setiap komponen sustainable
tersebut. Dengan kata lain keberlanjutan sistem akan menurun melalui kebijakan
yang ditujukan hanya untuk mencapai satu elemen keberlanjutan saja (Fauzi &
Anna 2002a).
2.5 Kapasitas Perikanan
Konsep kapasitas dalam perikanan tangkap dapat didefinisikan dan diukur
baik dengan pendekatan teknologi-ekonomi atau secara eksplisit dinyatakan
dalam optimisasi berdasarkan teori mikroekonomi (Morrison 1993).

Banyak

definisi dari kapasitas baik dari perspektif teknologi maupun perspektif ekonomi.
Menurut Johansen (1968), kapasitas merupakan jumlah maksimum yang dapat
diproduksi per unit waktu dengan lahan dan peralatan yang ada, dimana

23

keberadaan dari berbagai faktor produksi variabel tidak dibatasi. Salz (1994)
yang diacu dalam Fauzi dan Anna (2002c) menyatakan bahwa kapasitas
perikanan adalah sejumlah ikan yang dapat ditangkap oleh kapal tertentu atau
alat tangkap tertentu per tahun, tergantung dari produktivitas per unit waktu
tangkap (misalnya CPUE per jam) dan jumlah unit waktu tangkap (misalnya jam
melaut per tahun). Menurut FAO (1998) kapasitas perikanan merupakan jumlah
maksimum ikan pada periode waktu tertentu (tahun, musim) yang dapat
diproduksi oleh armada perikanan jika digunakan secara penuh dengan
biomassa tertentu.

Selanjutnya Kirkley dan Squires (1998) mendefinisikan

kapasitas perikanan sebagai stok kapital maksimum yang ada dalam perikanan
yang dapat dipergunakan secara penuh pada kondisi efisien maksimum secara
teknis pada waktu dan kondisi pasar tertentu.
Stok kapital itu sendiri pada dasarnya dapat berupa kapital itu sendiri
maupun sumberdaya manusia.

Pada perikanan tangkap kapital merupakan

fungsi dari spesifikasi kapal, alat tangkap dan lain-lain sedangkan sumberdaya
manusia dapat berupa jumlah awak kapal dan kemampuan/keahlian. Stok kapital
ini merupakan manifestasi dari upaya (effort) yang diukur dari jumlah melaut (trip)
atau jumlah hari melaut (day fished). Jadi lebih lanjut Kirkley dan Squires (1999)
juga mendefinisikan kapasitas perikanan tangkap sebagai tingkat upaya yang
memungkinkan, kapasitas upaya, upaya potensial maksimum dan kapasitas
potensial perikanan.
Kapasitas perikanan telah menjadi pembicaraan utama pada masyarakat
perikanan internasional.

Hal ini disebabkan banyaknya terjadi kelebihan

kapasitas (overcapacity) pada perikanan dunia yang dapat mengancam


keberlanjutan sumberdaya perikanan atau krisis perikanan global. Untuk itu FAO
Code of Conduct for Responsible Fisheries menyatakan bahwa negara
seharusnya mencegah overfishing dan kelebihan kapasitas perikanan serta
mengimplementasikan ukuran manajemen untuk menjamin upaya perikanan
yang setara dengan kapasitas produktif dari sumberdaya perikanan dan
keberlajutan pemanfatannya. Pada tempat yang telah terjadi kelebihan
kapasitas, hendaknya dilakukan mekanisme untuk mengurangi kapasitas pada
tingkat

yang

setara

dengan

penggunaan

sumberdaya

perikanan

yang

berkelanjutan seperti menjamin bahwa nelayan beroperasi di bawah kondisi


ekonomi yang mendukung perikanan yang bertanggung jawab. Mekanisme
tersebut meliputi monitoring kapasitas armada perikanan (Ward

2000).

24

Mengingat sangat krusialnya masalah kelebihan kapasitas FAO pada tahun 1999
mengeluarkan Internasional Plan of Action for the management of fishing
capacity (IPAMF). Mandat yang dikeluarkan oleh IPAMF adalah menyerukan
kepada seluruh negara untuk mencapai pengelolaan kapasitas perikanan yang
efisien, equitable, transparan pada tahun 2005 (Fauzi 2005).
Menurut Fauzi (2005), kelebihan kapasitas di sektor perikanan akan
menimbulkan berbagai masalah. Pertama, adalah tidak sehatnya kinerja sektor
perikanan sehingga permasalahan kemiskinan dan degradasi sumberdaya dan
lingkungan menjadi lebih persisten.

Kedua, kelebihan kapasitas juga akan

menimbulkan tekanan yang intens untuk mengeksploitasi sumberdaya ikan


melewati titik lestarinya agar armada yang ada terus beroperasi, dan pada saat
keuntungan usaha semakin menipis dan tersebar pada jumlah armada yang
begitu banyak, maka pengurangan armada akan sulit dilakukan secara politis
maupun sosial. Ketiga, kelebihan kapasitas juga akan menimbulkan inefisiensi
dan memicu economic waste sumberdaya yang ada disamping menimbulkan
komplikasi dalam pengelolaan perikanan, terutama dalam situasi akses yang
bersifat terbuka (open acsess).
Ward et al. (2004) menyatakan bahwa untuk mengatasi terjadinya
kelebihan kapasitas diperlukan instrumen pengelolaan yaitu incentive blocking
instruments yang merupakan solusi jangka pendek
instrumens
instruments

yang

merupakan

solusi

jangka

dan incentive adjusting

panjang.

incentive

blocking

sesuai namanya adalah kebijakan untuk mengatasi kelebihan

kapasitas melalui pembatasan kegiatan dalam berbagai bentuk seperti program


pembatasan masuk (limeted entry programmes), program pembelian kembali
oleh pemerintah (buy back programmes), pembatasan kapal dan alat tangkap
(gear and vessel restrictions), pemberlakuan kuota secara agregat (aggregate
quotas), pembatasan hasil tangkapan per kapal tanpa dapat di pindah tangankan
(non-transferable vessel catch limits) dan pemberian kuota upaya kepada
individu (individual effort quotas).

Sedangkan incentive adjusting instrumens

didesain untuk mengurangi kelebihan kapasitas dengan pendekatan kepada hak


kepemilikan sumberdaya (property rights) dimana nantinya pengurangan
kapasitas diserahkan kepada mekanisme pasar, kebijakannya antara lain:
pemberlakuan kuota kepada individu yang dapat dipindahtangankan (individual
transferable quotas/individual fishing rights), pemberlakuan pajak dan royalti
(taxes and royalties), pemberian hak kepada kelompok masyarakat dalam

25

pengelolaan perikanan (group fishing rights) dan pemberian hak teritorial


(territorial use rights).
Kelebihan kapasitas terjadi ketika kapasitas output melebihi yang
diinginkan atau tingkat target dari output pada tingkat industri. Perbedaan antara
output observasi dan kapasitas output memberikan kelebihan kapasitas pada
stok sumberdaya. Tingkat target dari output yang merupakan target kapasitas
perikanan adalah jumlah maksimum dari ikan pada periode waktu tertentu
(tahun, musim) yang dapat diproduksi oleh armada perikanan jika digunakan
secara penuh (Kirkley & Squires 1998).
Melalui pengukuran kapasitas akan diketahui tingkat kapasitas yang
digunakan (capacity utilization/CU) yang merepresentasikan proporsi dari
kapasitas yang tersedia yang telah digunakan. Dalam pendekatan teknologiekonomi yang telah diadopsi oleh FAO, apabila nilai CU sama dengan 1
mengindikasikan bahwa produksi telah full capacity atau tidak dapat ditingkatkan
lagi sedangkan apabila nilai CU kurang dari 1 mengindikasikan bahwa
perusahaan/unit usaha memiliki potensi untuk meningkatkan produksi tanpa
memerlukan pengeluaran untuk pengadaan kapital dan peralatan baru. CU
pada umumnya mengacu kepada proporsi dari kapasitas potensial yang
digunakan dan diukur sebagai rasio antara output aktual dengan kapasitas
output (Kirkley & Squires 1999). Menurut Fare et al. (1989), CU diukur sebagai
rasio output technical efficiency (TE)

dengan kapasitas output.

Rasio ini

mengoreksi bias yang dapat muncul karena output aktual kemungkinan


diproduksi secara inefisien.

2.6. Data Envelopment Analysis (DEA)


Ada beberapa metode yang digunakan untuk menganalisis kapasitas
perikanan tangkap antara lain: metode peak to peak yang diperkenalkan oleh
Klein (1960), metode ini cocok digunakan pada data yang bersifat ekstrim,
misalnya pada kondisi data yang tersedia hanya data produksi dan jumlah kapal.
Selanjutnya frontier approach yang terdiri dari nonparametric frontier dan
stochastic frontier.

Metode yang ketiga adalah Data Envelopment Analysis

(DEA), yang merupakan metode yang berorientasi pada input dan output yang
pertama kali dikembangkan oleh Charnes et al. (1978), Fare et al.(1994), dan
disarankan untuk digunakan dalam perikanan oleh Kirkley dan Squires (1998).
Masing-masing metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada penelitian

26

ini yang akan digunakan adalah metode DEA sehingga yang akan dibicarakan
lebih lanjut adalah Metode DEA.
Penggunaan DEA sebagai alat yang layak (possible) untuk mengukur
kapasitas perikanan di dunia telah direkomendasikan oleh Food and Agricultural
Organization of the United Nations (FAO) dan International Plan of Action for the
Management of Fishing Capacity (Lindebo et al. 2002). DEA merupakan suatu
pendekatan matematis yang bersifat non parametrik yang dapat digunakan untuk
mengestimasi technical efficiency (TE) relatif, capacity, dan capacity utilization
(CU) dari aktivitas produksi. DEA dapat menentukan solusi optimal (optimisasi)
dari sebuah tujuan dengan serangkaian kendala yang ada. Untuk analisis
kapasitas perikanan, DEA memiliki kelebihan antara lain: 1) DEA memiliki
kemampuan untuk mengestimasi kapasitas di bawah kendala penerapan
kebijakan tertentu seperti: jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB), pajak,
distribusi regional atau ukuran kapal, pelarangan penangkapan ikan pada waktu
tertentu dan kendala sosial ekonomi lainnya, 2) DEA memiliki kemampuan
mengakomodasi multiple outputs dan multiple inputs, serta tingkat input dan
output yang diskret maupun non diskret, 3) DEA dapat menentukan kombinasi
dari

input

variabel,

output,

faktor

tetap

dan

karakteristik

kapal

yang

memaksimumkan output, meminimumkan input atau penerimaan, biaya dan


keuntungan relatif yang optimal (Kirkley & Squires 1998).
Terdapat dua orientasi utama pendekatan DEA yaitu input dan output.
Pengukuran yang berdasarkan input dimaksudkan untuk menggambarkan tingkat
input relatif yang dapat dikurangi pada tingkat output tertentu seperti jumlah
tangkapan yang diperbolehkan (JTB). Pendekatan yang berdasarkan output
mengindikasikan bagaimana output dapat ditingkatkan untuk mencapai tingkat
fisik maksimal pada tingkat input yang telah ditentukan. Pengukuran yang
berdasarkan pendekatan input dan output ini memberikan informasi untuk
menilai kapasitas (Kirkley & Squires 1998).
Kemampuan DEA untuk mengakomodasi multiple input dan output pertama
diajukan oleh Charnes et al. (1978) dengan cara memasukkan faktor
pembobotan dari setiap input dan output yang digunakan seperti persamaan
berikut:

27

Max ho (u , v ) =

uy
vx
r

ro

io

u,v
dengan kendala:

uy
vx
r

rj

ij

1,

untuk j = 0,1, ,n,

ur
,
i vi xio

untuk r = 1, ...,s, dan

vi
,
i vi xio

untuk i = 1, ..., m

keterangan:

y rj = jumlah output r yang diproduksi oleh DMU j,


x ij = jumlah input i yang diproduksi oleh DMU j,

u r = bobot dari output r,


vi = bobot dari input i,
Estimasi rasio memberikan sebuah ukuran efisiensi teknis dari masingmasing desicion making unit (DMU).

Akan tetapi terdapat kendala dalam

pemecahan persamaan di atas karena berbentuk fraksional sehingga sulit untuk


dipecahkan melalui program linear.

Dengan cara melalui linearisasi maka

persamaan di atas dapat diubah menjadi persamaan linear sehingga dapat


dipecahkan melalui linear programming yang menghasilkan persamaan seperti di
bawah ini:
Max wo =

y ro

u,v
dengan kendala:

v x
i

u
r

io

= 1,

y rj vi xij 0,

u r , dan
vi ,

28

Selanjutnya Fare et al. (1994) melakukan variasi pengembangan dari


pendekatan linear programming untuk model efisiensi, produktivitas dan
kapasitas. Model yang dikembangkan oleh Fare et al. antara lain input-oriented
technical efficiency, output oriented technical efficiency, dan output oriented
capacity.
Golany dan Roll (1989) yang diacu dalam Anna (2003), menyatakan bahwa
proses untuk mengaplikasikan model DEA terdiri dari tiga tahapan yaitu:
pertama, mendefinisikan dan menyeleksi DMU yang akan dianalisis yaitu seluruh
unit yang menjadi bahan pertimbangan harus mewakili tugas sama dengan
tujuan yang sama, dan berada pada set kondisi pasar yang sama serta harus
menggunakan input yang sama untuk memproduksi jenis output yang sama;
kedua, menentukan variabel input dan output yang akan digunakan dalam
menganalisis efisiensi relatif dari DMU yang terpilih; dan ketiga, mengaplikasikan
salah satu model DEA dan menganalisis hasilnya.

2.7 Optimasi Pengelolaan Sumberdaya Perikanan


Pada mulanya pengelolaan sumberdaya ikan banyak didasarkan pada
faktor biologis semata dengan pendekatan yang disebut Maximum Sustainable
Yield (MSY) yaitu tangkapan maksimum yang lestari. Inti pendekatan ini adalah
bahwa setiap spesies ikan memiliki kemampuan untuk berproduksi yang melebihi
kapasitas produksi (surplus), sehingga apabila surplus ini dipanen (tidak lebih
dan

tidak

kurang),

maka

stok

ikan

akan

mampu

bertahan

secara

berkesinambungan. Akan tetapi, pendekatan pengelolaan dengan konsep ini


belakangan banyak dikritik oleh berbagai pihak sebagai pendekatan yang terlalu
sederhana dan tidak mencukupi. Kritik yang paling mendasar diantaranya adalah
karena pendekatan MSY tidak mempertimbangkan sama sekali aspek sosial
ekonomi pengelolaan sumberdaya alam (Fauzi 2000a).
Pengelolaan perikanan merupakan sebuah proses yang kompleks yang
membutuhkan integrasi antara ekologi dan biologi sumberdaya dengan sosial
ekonomi dan faktor institusi yang mempengaruhi perilaku nelayan dan pembuat
keputusan. Tujuan dari bidang yang multidisiplin ini adalah untuk membantu
pengambil keputusan untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan dari
aktivitas perikanan sehingga generasi yang akan datang juga memperoleh
manfaat dari sumberdaya ( Seijo et al. 1998).

29

Teori bioekonomi untuk perikanan komersial menyatakan bahwa tingkat


optimal secara sosial dari effort dan panen ditentukan oleh dinamika biologi dari
stok dan ekonomi dari industri (seperti biaya input dan harga output). Hal ini
karena masyarakat telah tertarik dalam konservasi stok dan keuntungan dari
industri.

Tanpa pembatasan masuk atau effort, pemanenan akan berlanjut

sampai break event point yaitu suatu tingkat upaya dimana total penerimaan
hanya mampu menutupi total biaya dan dikenal sebagai open access equilibrium
(OAE). Pada kondisi seperti ini secara sosial tidak efisien karena effort terlalu
tinggi (Gordon 1954).
Optimasi sumberdaya

perikanan dapat dilakukan secara statis dan

dinamik:
2.7.1 Optimasi statis
Kondisi yang digunakan untuk menentukan solusi keseimbangan optimal
yaitu tingkat effort dan hasil tangkapan yang tepat pada model statis tergantung
kepada tujuan dari manajemen antara lain: memaksimumkan hasil tangkapan
yang lestari (maximum sustainable yield), open access equilibrium dan maximum
economic yield (MEY).
Hasil tangkapan maksimum yang lestari dapat diestimasi menggunakan
model-model produksi surplus seperti model logistik dari Schaefer (Sparre &
Venema 1992). Secara matematik, MSY untuk model Schaefer adalah sebagai
berikut:
Hubungan hasil tangkap (catch) dengan upaya tangkap adalah:

h = aE bE 2

(1)

dalam hal ini h = hasil tangkapan, E = effort, sedangkan a dan b adalah


parameter yang dapat diestimasi menggunakan historik data tahunan. Dengan
menurunkan persamaan (1) terhadap upaya tangkap (effort)

h
= a 2 E , a 2bE = 0, a = 2bE
E
maka diperoleh upaya tangkap dan hasil tangkapan maksimal yang lestari yaitu:

E MSY =

a
2b

dan hMSY =

a2
, secara lebih jelas solusi MSY seperti terlihat pada
4b

pada Gambar 4.
Selanjutnya pada sumberdaya perikanan dengan kondisi open access , dimana
tidak seorangpun nelayan dapat mencegah nelayan lainnya untuk menggunakan
dan mengeksploitasi sumberdaya. Entry akan selalu terjadi selama keuntungan

30

dapat diperoleh.

Oleh sebab itu tanpa adanya pembatasan entry atau effort

maka keseimbangan akan diperoleh pada saat total penerimaan (TR) sama
dengan total biaya (TC) atau zero profits. Dengan menggunakan curva seperti
Gambar 4, yaitu dengan mengalikan masing-masing titik pada kurva MSY
dengan harga (p) dengan asumsi bahwa p konstan maka diperoleh kurva total
revenue yang bentuknya sama dengan kurva MSY.

harvest
(ton)

MSY

h= aE-bE2

EMSY

Effort (trip)

Gambar 4 Solusi Maximum Sustainable Yield (MSY).


Peningkatan

effort

akan

meningkatkan

biaya,

ini

beralasan

untuk

mengasumsikan bahwa setiap tambahan unit effort akan terjadi peningkatan


yang sama dalam biaya. Diasumsikan bahwa peningkatan biaya dalam proporsi
langsung terhadap effort menghasilkan fungsi total biaya yang linear (TC = cE).
Total penerimaan (TR) di set sama dengan total cost untuk memperoleh tingkat
effort yang optimal pada perikanan open access.
Secara matematis, solusi open access equilibrium (OAE) adalah sebagai berikut:

TR = TC p(aE bE 2 ) = cE E OAE =

pa c
pb

Secara grafis solusi open access equilibrium seperti terlihat pada Gambar 5.
OAE merupakan keseimbangan bioekonomi dimana tingkat effort dan hasil
tangkapan tidak akan berubah jika tidak ada komponen underlying yang
merubah model (seperti harga pasar, biaya operasional dan daya dukung stok).
Akan tetapi sumberdaya yang digunakan dalam kondisi open access tidak akan

31

bisa mencapai suatu alokasi yang efisien dan rente yang maksimal (Milon et al.
1999).

Rp

TC=cE
TR*=TC*

OAE

EOA

Effort

Gambar 5 Solusi Open Access Equilibrium (OAE).


Pengelolaan perikanan yang optimal akan diperoleh melalui pendekatan
maximum economic yield (MEY). MEY merupakan total rente yang diperoleh
dari pengurangan total penerimaan dengan total biaya yaitu:

( E ) = p(aE bE 2 ) cE
Pada Gambar 6 rente lestari diperoleh pada titik EMEY dimana jarak antara total
penerimaan dan total biaya terbesar. Keseimbangan diperoleh pada persamaan
marginal revenue (MR) dengan marginal cost (MC) atau MR=MC.

Secara

matematis solusi maximum economic yield (MEY) adalah sebagai berikut:

MR = MC

TR TC
pa c
=
p(a 2bE ) = c E MEY =
E
E
2 pb

Dengan MEY maka tingkat effort yang optimal dicapai lebih kecil dibandingkan
effort pada maximum sustainable yield, sehingga optimasi ekonomi lebih bersifat
konservasi daripada perikanan yang berdasarkan hasil tangkapan lestari (Milon
et al. 1999).

32

Rp
MEY

slope TR= p(a-2bE)

TR*

max

Slope TC= cE

TC*
E MEY

EOAE

Effort

Gambar 6 Solusi Maximum Economic Yield (MEY).

2.7.2 Optimasi dinamik


Keseimbangan MEY statis menggambarkan rente maksimum lestari
tahunan dari perikanan.

Akan tetapi solusi optimal tidak menggambarkan

perbedaan antar waktu dalam nilai uang. Untuk sumberdaya terbarukan seperti
ikan, tidak dimasukkannya faktor waktu ini bisa menyebabkan akibat yang serius
dalam pengelolaan sumberdaya ikan (Cunningham 1981).

Hal ini karena

sumberdaya ikan memerlukan waktu untuk bereaksi terhadap setiap perubahanperubahan eksternal yang terjadi (Fauzi 2004). Solusi MEY statis akan optimal
dalam jangka panjang jika nilai uang hari ini sama dengan waktu yang akan
datang (discount rate=0). Dengan suatu non-zero discount rate, bagaimanapun,
masyarakat menghadapi suatu trade-off antar waktu. Sebagai contoh, dengan
suatu tingkat suku bunga yang positif, suatu satuan dari uang hari ini lebih
berharga dibandingkan satu nilai yang sama pada waktu yang akan datang. Hal
ini karena satu satuan uang hari ini akan sama dengan satuan uang ditambah
dengan bunga yang diterima pada masa yang akan datang. Prinsip yang sama
diaplikasikan pada keputusan untuk memanen ikan. Sejumlah ikan yang dipanen

33

hari ini, akan menghasilkan keuntungan yang dapat diinvestasikan dan akan
dihargai lebih pada masa yang akan datang.

Bagaimanapun, jika ikan telah

dipanen hari ini maka biaya akan lebih tinggi dan ukuran stok akan berkurang,
yang mana memiliki konsekwensi biologi dan ekonomi pada masa yang akan
datang (Milon et al. 1999).
Selanjutnya diasumsikan tujuan manajemen sumberdaya adalah untuk
memaksimalkan keuntungan disamping melestarikan stok, model yang tepat
untuk menemukan tingkat effort yang optimal secara ekonomi (solusi MEY). Hal
ini disempurnakan dengan memaksimalkan net present value dari pemanenan
yang berdasarkan kurva hasil tangkapan lestari.

Solusi jangka panjang

digambarkan dengan tambahan cost yaitu marginal user cost dari peningkatan
effort pada periode sekarang. Marginal user cost merupakan present value dari
penurunan panen di masa yang akan datang. Dengan suatu discount rate yang
positif, tingkat optimum dari effort akan berada antara EMEY dan EOAE (Milon et al.
1999).

2.7.3 Keterkaitan model dinamik dengan model statik


Menurut Fauzi (2004) terdapat keterkaitan antara model dinamik dengan
model statik. Secara matematis keterkaitan kedua pendekatan tersebut bisa
dilihat dari persamaan Golden Rule yaitu:

1
, dimana jika nilai sangat
=
x h

tinggi dan mendekati tak hingga ( = ) , komponen sebelah kanan dari


persamaan di atas akan menjadi nol, hal ini berarti net price atau rente
sumberdaya sama dengan nol, yang identik dengan konsep pengelolaan dalam
kondisi akses terbuka (open access), sebaliknya jika nilai = 0 maka persamaan
di atas akan menghasilkan (

) = 0 yang identik dengan maksimisasi rente


x

sumberdaya dalam kondisi sole owner (MEY).


Dalam konteks dinamik, perikanan yang open access dapat dilihat sebagai
kasus dimana discount rate tak terhingga. Dengan demikian, meski rente positif
dapat diperoleh dengan menekan tingkat upaya, namun pelaku ekonomi tidak
ada yang mau melakukan hal tersebut, karena jika melakukannya, pihak lain
akan mendapatkan keuntungan tanpa mengurangi terhadap keuntungan saat ini

34

(current revenue). Akibatnya, kembali akan memicu entry ke industri yang pada
gilirannya menihilkan setiap manfaat yang diperoleh dari pengurangan upaya.
Dengan kata lain, dalam perikanan dengan akses terbuka, dampak positif masa
depan dari pengurangan upaya saat ini diabaikan, seolah-olah manfaat positif
tersebut didiskon dengan discount rate yang sangat tinggi (infinite). Dengan
logika yang sama, pengelolaan optimal dalam kondisi statik (MEY) dapat dilihat
dalam konteks dinamik sebagai kasus dengan discount rate nol. Jika discount
rate sama dengan nol, maka manfaat di masa mendatang sama bobotnya
dengan manfaat yang kita peroleh saat ini. Dengan kata lain, dalam kondisi
discount rate nol, manfaat ekonomi yang diperoleh dari sumberdaya ikan tidak
dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh dari aset finansial lainnya,
sehingga keputusan yang terbaik adalah melakukan pemanenan pada saat rente
yang diperoleh adalah yang terbesar, yakni pada tingkat upaya sebesar E0 (Fauzi
2004).
Untuk tingkat discount rate yang positif dan terbatas (finite), Sebagaimana
yang ditampilkan pada Gambar 6, maka tingkat optimal upaya pada model
dinamik berada di antara dua keseimbangan ekstrem tersebut ( E MEY dan EOA ).
Posisi yang pasti dari tingkat optimal E akan sangat tergantung dari nilai
discount rate itu sendiri dan fungsi biaya. Nilai discount rate yang tinggi akan
menyebabkan tingkat upaya yang optimal mendekati keseimbangan open
access. Selanjutnya semakin meningkat nilai discount rate , semakin berkurang
keseimbangan biomas, sehingga dapat disimpulkan bahwa keseimbangan
biomas yang optimal dalam kondisi dinamik akan berada antara open access
dan sole owner atau x x x0 (Fauzi 2004).

35

3 METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di perairan Pesisir Propinsi Sumatera Barat selama tujuh
bulan dari bulan Juli 2004 sampai dengan bulan Januari 2005 (Gambar 7).

Gambar 7 Peta lokasi penelitian.

3.2 Teknik Pengumpulan Data


Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer
yaitu data yang dikumpulkan langsung di lapangan yang terdiri dari: data
spesifikasi kapal, pola usaha perikanan serta struktur pembiayaan dari usaha
perikanan tangkap yang terdiri dari biaya per trip dan biaya per kilogram output.
Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data
produksi dan input yang digunakan (effort) serta data penunjang lainnya. Data
sekunder ini kebanyakan merupakan data urut waktu (time series) yang

36

diperoleh dari Dinas/ Instansi terkait seperti Dinas Kelautan dan Perikanan
Propinsi Sumatera Barat, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota, Pusat

Pendaratan Ikan (PPI) dan sumber lainnya. Data sekunder yang diperoleh dari
Dinas Perikanan Propinsi merupakan data yang sudah direkapitulasi dari daerah
Kabupaten dan Kota, sedangkan data yang ada di kabupaten dan Kota sendiri
berasal dari laporan dari petugas statistik perikanan yang ada di kecamatan/desa
Jumlah sampel yang diambil didasarkan pada penentuan formula
sebagaimana dijelaskan dalam Fauzi (2001a) yaitu:

NZ 2 (0.25)
n= 2
d ( N 1) + Z 2 (0.25)

] [

Keterangan:
n = jumlah sampel yang diambil
N = Jumlah populasi
Z = Jumlah standar deviasi (dari tabel statistik)
d = tingkat ketelitian yang diinginkan ( 5 atau 10%).

3.3 Standardisasi Alat Tangkap


Alat tangkap yang digunakan untuk melakukan usaha penangkapan ikan di
perairan pesisir Sumatera Barat terdiri dari beberapa jenis.

Untuk itu guna

mengukur dengan satuan yang setara, dilakukan standardisasi effort antar alat
dengan teknik standardisasi mengikuti yang dilakukan oleh King (1995) yaitu:

E jt = jt D jt
dengan

jt =

U jt
U st

Keterangan:
Ejt = effort dari alat tangkap j pada waktu t yang distandardisasi
Djt = jumlah hari melaut (fishing days) dari alat tangkap j pada waktu t
jt = nilai fishing power dari alat tangkap j pada periode t
Ujt = catch per unit effort (CPUE) dari alat tangkap j pada waktu t
Ust = catch per unit effort (CPUE) dari alat tangkap yang dijadikan basis
standardisasi

37

3.4 Analisis Data


3.4.1 Model bioekonomi sumberdaya perikanan
Menurut Kirkey dan Squires (1998) kapasitas perikanan dapat diukur baik
berdasarkan ketersediaan sumberdaya (stok) maupun tidak berdasarkan
ketersediaan sumberdaya. Pada penelitian ini akan dilakukan pengukuran
kapasitas dengan dan tanpa ketersediaan stok.

Menurut Fauzi dan Anna

(2002b), untuk melakukan penilaian sumberdaya perikanan, perlu dilakukan


estimasi hasil tangkapan lestari maksimum (maximum sustainable yield) yang
idealnya dilakukan pada setiap spesies ikan. Akan tetapi karena keterbatasan
data, estimasi tangkapan lestari hanya dilakukan pada beberapa spesies ikan
yang cukup dominan pada wilayah studi.

Untuk mengetahui nilai estimasi

tangkapan lestari, terlebih dahulu perlu diketahui produktivitas dari stok ikan,
yang bisanya diestimasi dengan model kuantitatif yaitu model surplus produksi.
Model ini mengasumsikan stok ikan sebagai penjumlahan biomass dengan
persamaan:

x
= F ( xt )
t

(3.1)

F ( xt ) merupakan laju pertumbuhan alami atau laju penambahan asset biomass,

ht

merupakan laju penangkapan.

Ada dua bentuk fungsional untuk

menggambarkan stok biomass, yaitu bentuk Logistik dan bentuk Gompertz,


sebagaimana persamaan di bawah ini:

Bentuk Logistik:

xt
x
= rxt (1 t )
t
K

(3.2)

K
xt
= rxt ln
t
xt

(3.3)

Bentuk Gompertz:

38

r merupakan laju pertumbuhan intrinsic sedangkan

K adalah daya dukung

populasi yang dapat didukung oleh lingkungan. Bentuk fungsional logistik adalah
simetris sedangkan Gompertz tidak.

Selanjutnya diasumsikan bahwa laju

penangkapan linear terhadap biomass dan effort seperti ditulis di bawah ini:

ht = qEtxt
Dalam hal ini
merupakan

(3.4)

q merupakan koefisien kemampuan penangkapan dan Et

upaya

penangkapan.

Dengan

mengasumsikan

kondisi

keseimbangan (equilibrium) maka kurva tangkapan-upaya lestari (yield-effort


curve) dari kedua fungsi di atas adalah seperti di bawah ini:

q2K 2
E
r

Logistik: ht = qKEt

Gompertz: ht = qKEt exp

qE
r

(3.5)

(3.6)

Estimasi parameter r, q dan K untuk persamaan upaya lestari dari kedua model
di atas melibatkan teknik non linear. Akan tetapi dengan menuliskan Ut = ht / Et,
persamaan ( 3.5 dan 3.6) dapat ditransformasikan menjadi persamaan linear
sehingga metode regresi biasa dapat digunakan untuk mengestimasi parameter
biologi dari fungsi di atas. Dalam penelitian ini teknik estimasi parameter yang
dikembangkan oleh Clarke, Yoshimoto dan Pooley (1992) atau sering dikenal
sebagai metode CYP digunakan untuk menduga parameter r, q dan K melalui
persamaan:

ln (U t +1 ) =

Apabila

2r
(2 r )
q
ln (qK ) +
ln(U t )
( Et + Et +1 )
(2 + r )
(2 + r )
(2 + r )
(3.7)

2r
(2 r )
q
=a ,
= b, dan
=c
(2 + r )
(2 + r )
(2 + r )

Maka persamaan (3.7) dapat ditulis dalam bentuk:

ln(U t +1) = a ln( qK ) + b ln(U t ) c ( E t + E t +1 )

(3.8)

Data produksi dan upaya yang digunakan merupakan data time series
selama dua puluh satu tahun. Menurut Fauzi (2001a) agar hasil analisa dapat

39

dipercaya dan bermanfaat untuk penggunaan data time series perlu dilakukan
terlebih dahulu tes stationarity. Salah satu metoda untuk menguji apakah data
dalam kondisi stationary adalah uji Dickey Fuller dengan persamaan sebagai
berikut:
yt = o + yt-1 + t

(3.9)

nilai-nilai saat ini untuk variabel yt tergantung pada nilai periode terakhir, yt+1 dan
disturbance term ut. Variabel yt akan bersifat stationary jika || < 1 dan akan
bersifat non stationary jika = 1 . Dengan mengurangi kedua sisi persamaan di
atas dengan yt+1 akan dihasilkan persamaan berikut:
yt yt+1 = o + (-1)yt-1 + t

(3.10)

Persamaan di atas akan menghasilkan persamaan regresi Dickey-Fuller sebagai


berikut:
yt = o + yt-1 + t

(3.11)

yt = o + yt-1 + 2t + t

(3.12)

dimana = -1. Persamaan (3.11) merupakan suatu persamaan regresi dengan


sebuah konstanta dan tidak ada kecenderungan waktu, sedangkan persamaan
(3.12) konstan dan kecenderungan waktu linier. Parameter penting dalam uji
Dickey-Fuller adalah . Bila = 0 maka variabel series yt akan mengandung
suatu unit akar atau bersifat non-stationary. Hipotesis null dalam uji DickeyFuller adalah = 0. Bila nilai absolut dari statistik-t untuk lebih kecil daripada
nilai-nilai kritisnya, maka hipotesis null nya tidak dapat ditolak , dimana time
seriesnya bersifat non-stationary. Sebaliknya, jika nilai absolut lebih besar
daripada nilai kritis maka hipotesis null ditolak dan time series bersifat stationary.
Dalam kondisi dimana data time series yang ada menunjukkan adanya
gejala non-stationarity, akan menimbulkan beberapa masalah ekonometrik.
Pertama asumsi stationarity yang merupakan dasar untuk melakukan regresi
time series, menjadi tidak dapat dilakukan.

Kedua estimasi parameter yang

dihasilkan dari OLS menjadi tidak ada artinya (Dickey et al. 1994).

Ada

beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi masalah non-stationarity


ini.

Salah satunya adalah

differencing.

Metode ini bagaimanapun tidaklah

merupakan solusi yang sempurna, karena menurut Gujarati (1995), dengan


melakukan differencing maka kemungkinan kita akan kehilangan hubungan longterm yang penting diantara variabel. Sebagai contoh dalam model hubungan

40

antara CPUE dan effort, hubungan dibangun dalam bentuk tingkat yang bukan
bentuk difference pertama atau kedua. Metode lain yang dapat digunakan untuk
mengatasi masalah variabel non-stationarity adalah dengan menggunakan teknik
modern yang disebut cointegration. Konsep cointegration ini secara sederhana
dapat dijelaskan sebagai berikut : Jika pada data time series ditemukan adanya
variabel yang akan digunakan untuk regresi ternyata non-stationarity, maka
mungkin saja kombinasi linear dari variabel-variabel ini dapat stationer. Dengan
demikian variabel ini mungkin saja cointegrated. Variabel-variabel ini menjadi
tidak terlalu jauh satu sama lainnya. Dalam kondisi ini hasil yang diturunkan dari
estimasi OLS dapat menjadi berarti. Dalam menggunakan metode cointegration
ini, variabel yang diuji harus berada dalam order integrasi yang sama, misalnya
keduanya harus non-stationarity (Enders, 1995).
Guna menghitung rente ekonomi, diperlukan data ekonomi berupa
informasi biaya dan harga per satuan unit ikan yang didaratkan yang diperoleh
melalui survei.

Seluruh data ekonomi dikonversi ke nilai riil dengan

menyesuaikan nilai nominal ke indeks harga konsumen (consumers price index).

3.4.2 Estimasi discount rate


Nilai discount rate eksploitasi sumberdaya ikan dalam penelitian ini
menggunakan real discount rate dengan pendekatan Ramsey.

Teknik yang

digunakan untuk menentukan real discount rate ini adalah teknik yang
dikembangkan oleh Kulla (1984) dan telah dilakukan oleh Anna (2003). Dimana
pada dasarnya teknik yang dikembangkan oleh Kulla ini menggunakan formula
yang sama dengan formula yang digunakan Ramsey.
Real discount rate (r) Kulla didefinisikan sebagai berikut:

r = g

(3.13)

keterangan:
r

pure time preference konsumsi sumberdaya alam yang didasarkan pada


nominal discount rate

elastisitas pendapatan terhadap konsumsi sumberdaya ikan

g =

laju pertumbuhan ekonomi karena ekstraksi sumberdaya alam

Kemudian laju pertumbuhan ekonomi yang diakibatkan oleh ekstraksi


sumberdaya ikan dihitung melalui laju konsumsi sumberdaya ikan yang didekati

41

melalui PDRB perikanan. Nilai tersebut diperoleh melalui perhitungan dengan


persamaan:
ln Ct = a0 + at ln t

(3.14)

keterangan:
Ct = PDRB perikanan Propinsi Sumatera Barat pada tahun ke t
Sehingga dari penurunan persamaan di atas dapat diperoleh nilai elastisitas
konsumsi sumberdaya ikan, yaitu:

at =

ln Ct
ln t

(3.15)

dimana dengan penyederhanaan matematis dapat ditulis sebagai berikut:

C
C

t
=g
t

(3.16)

Selanjutnya dengan mengikuti teknik yang dilakukan Brent yang diacu dalam
Anna (2003), dengan menggunakan standar elastisitas pendapatan terhadap
konsumsi sumberdaya alam sebesar 1, dan menggunakan nilai market
discount rate dari Ramsey sebesar 15% maka diperoleh nilai real discount rate
sebagai berikut:
r = market discount rate 1 (g)

(3.17)

3.4.3 Analisis laju degradasi dan depresiasi sumberdaya ikan


Ekstraksi sumberdaya ikan akan menyebabkan terjadinya degradasi dan
penurunan kualitas dan kuantitas dari sumberdaya ikan tersebut.

Dengan

diperolehnya hasil tangkapan aktual dan lestari dapat diketahui laju degradasi
sumberdaya ikan sesuai dengan perhitungan yang telah dilakukan oleh Anna
(2003) dengan rumus:

1
1 + e

hs
ha

(3.18)

keterangan:
= laju degradasi
ha = hasil tangkapan aktual
hs = hasil tangkapan lestari
Selanjutnya untuk mengetahui nilai moneter dari penurunan kualitas
sumberdaya ikan dilakukan penilaian depresiasi dengan metode present value,

42

dimana seluruh rente yang akan datang yang diharapkan dihasilkan dari
sumberdaya ikan dihitung dengan nilai masa sekarang.

Jika diansumsikan

bahwa kurva permintaan bersifat elastis, maka rente sumberdaya ikan dihitung
berdasarkan persamaan berikut (Fauzi & Anna 2005):

t = (a bht )ht cEt = U (ht ) cEt

(3.19)

keterangan:
t = rente sumberdaya ikan
t = tingkat upaya
ct = biaya per unit upaya
t = periode waktu
U(h) = utilitas (manfaat) yang dihasilkan dari sumberdaya perikanan
ht = tangkapan lestari
Selanjutnya jika diansumsikan bahwa per unit input adalah konstan, present
value dari rente perikanan pada periode tidak terbatas (t=0 sampai tak terhingga)
adalah sebagai berikut:

Vt =

(3.20)

= nilai discount rate, dimana dalam penelitian ini digunakan dua discount rate
yaitu real discount rate dan market discount rate.
Perubahan present value dari sumberdaya antara periode (t-1) dan (t), Vt Vt-1,
menyebabkan nilai bersih perubahan dalam stok sumberdaya terdepresiasi
sebagai berikut:

(Vt Vt 1 ) =

( t t 1

(3.21)

dimana:

Vt = V ( H t , t ( H t ), E t , ct ,

dan

Vt 1 = V ( H t 1 , t 1 ( H t 1 ), ( Et 1 , ct 1 , )
3.4.4 Pengelolaan sumberdaya Secara Optimal
Sumberdaya ikan akan tetap lestari apabila eksploitasinya dilakukan pada
tiingkat yang optimal. Eksploitasi optimal dari sumberdaya perikanan sepanjang
waktu dapat diketahui melalui pendekatan teori kapital ekonomi sumberdaya

43

yang dikembangkan oleh Clark dan Munro (1975) yang diacu dalam Fauzi dan
Anna (2005), dimana manfaat sumberdaya perikanan sepanjang waktu adalah
sebagai berikut:

max (ht , xt )e t dt

(3.22)

t =0

dengan kendala:

x .
= x = F ( xt ) ht ( Et . xt )
t

0 ht hmax
0 Et E max
Kemudian

dengan

memberlakukan

Pontryagin

Maximum

Priciple

dan

mendefinisikan current value Hamiltonian sebagai:

H = ( x, h) + ( F ( x ) h( x, E ))
dimana = e t

(3.23)

adalah current value shadow price, akan diperoleh Modified

Golden Rule sebagai berikut:

F ( x, h) / x
+
=
x ( x, h) / h

(3.24)

keterangan:

F ( x) = pertumbuhan alami dari stok ikan

( x, h)
= rente marjinal akibat perubahan biomas
x
( x, h)
h

= rente marjinal akibat perubahan produksi

Dengan memasukkan fungsi biologi Gompertz, diperoleh nilai optimal dari


sumberdaya perikanan melalui persamaan berikut:

r ln(k / x) r +

cx ln(k / x)
= 0
x( pqx c)

(3.25)

Hasil persamaan di atas menghasilkan tingkat biomas atau x yang optimal


sehingga dapat diketahui tingkat tangkapan dan upaya yang optimal. Sehingga
dapat diketahui rente sumberdaya perikanan yang merupakan hasil dari

44

perkalian antara harga produk ikan dengan tangkapan optimal dikurangi biaya
dari tingkat upaya yang optimal atau:

t = pt ( H t ) H t cEt

(3.26)

3.4.5 Rezim pengelolaan sumberdaya perikanan


Untuk mengetahui keseimbangan dalam akses terbuka (open access)
dan terkendali dilakukan dengan pendekatan bioekonomi statik yang pendekatan
analitiknya diacu dari Fauzi (2004), dengan menggunakan parameter biologi r,q,
K dan parameter ekonomi yang telah diperoleh sebelumnya.
Dengan asumsi sistem dalam kondisi keseimbangan dimana h = F ( x ) , maka
rente ekonomi lestari didefinisikan sebagai fungsi dari biomas dalam bentuk:

( x) = F ( x)

cF ( x)
c
= p F ( x)
qx
qx

(3.27)

dengan menggunakan model pertumbuhan logistik, rente ekonomi lestari dapat


ditulis menjadi:

( x) = p

c
x
rx1
qx K

(3.28)

sehingga maksimasi keuntungan statik diperoleh dengan menurunkan


persamaan di atas terhadap x, sehingga diperoleh:

( x)
2 x cr
=0
= pr 1 +
x
K qK

(3.29)

persamaan di atas dapat dipecahkan untuk menentukan tingkat biomas yang


optimal, yaitu:

x =

K
c
1 +

2
pqK

(3.30)

dengan mengetahui nilai biomas optimal tersebut dapat diperoleh hasil


tangkapan dan upaya yang optimal yaitu:

h =

rK
c
c
1 +
1

4
pqK
pqK

E =

r
c
1

2q
pqK

(3.31)

(3.32)

45

c
pq

xoa =

(3.34)

hasil tangkapan dan upaya yang optimal pada kondisi akses terbuka adalah:

c
xoa rc
1

hoa = F ( xoa) = rxoa1


=
K pq
pqK

Eoa =

(3.35)

r
c
1

q
pqK

(3.36)

Selanjutnya untuk hasil tangkapan, upaya dan biomas serta rente yang optimal
pada rezim Maximum Sustainable Yield (MSY) berdasarkan rumus dari Tinungki
(2005) yaitu:

hMSY =

rK
4

(3.37)

EMSY =

r
2q

(3.38)

xMSY =

h
qK

(3.39)

MSY = p * hMSY c * EMSY

(3.40)

3.4.5 Analisis kesejahteraan produsen


Eksploitasi sumberdaya ikan diharapkan memberikan dampak yang positif
untuk

meningkatkan

sumberdaya.

kesejahteraan

para

pelaku

usaha

dan

pengelola

Untuk melihat sampai sejauhmana dampak kegiatan usaha

penangkapan terhadap kesejahteraan para pelaku usaha (nelayan) maka


dilakukan perhitungan surplus produsen.
Metode Analisis surplus produsen mengikuti seperti yang dilakukan oleh
Fauzi dan Anna (2005). Dimana dengan pendekatan numerik memerlukan kurva
suplai dari sumberdaya perikanan dilakukan dengan persamaan suplai perikanan
sebagai berikut:

S=

2c

4h + 2

(3.41)

46

keterangan: c = biaya per unit effort, h = hasil tangkapan lestari, dan adalah
koefisien biofisik. Dengan mengetahui kurva penawaran tersebut di atas, surplus
produsen didefinisikan sebagai berikut:
h0

PS = p 0 h0

2c

4h + 2
0 +

dh

(3.42)

Integral dari persamaan di atas menghasilkan bilangan yang kompleks,


pemecahan integral dilakukan secara analitik dengan program MAPLE. Hasil
integrasi dari persamaan di atas menghasilkan surplus produsen yang eksplisit
sebagai berikut:

1 c ln(h) c 4 + 2
PS = p0 h0
+
2

2
1 c ln( + 4 h +
2

1
c ln( 4 h + 2 )
h
0 +2
0

h0
0

(3.43)

h0
0

3.4.6 Analisis kapasitas perikanan tangkap


Kapasitas perikanan tangkap dianalisis dengan menggunakan alat analisis
Data Envelopment Analysis (DEA). Pendekatan yang berorientasi pada output
dan input yang pertama kali dikembangkan oleh Charnes et al. (1978) atau
dikenal sebagai CCR. Selanjutnya dikembangkan oleh Kirkley et al. (1998,
2003), Fare et al. (2000) dan Lindebo et al. (2002). Model yang digunakan
dalam penelitian ini mengikuti model yang dikembangkan oleh Fare et al. (2000)
dan Lindebo et al. (2002) serta Kirkley et al.(2003).
Mengukur teknik efisiensi (Technical Efficiency)
Input Oriented Technical Efficiency
Pengukuran efisiensi dapat dilakukan berdasarkan pendekatan input
dan output.
Model DEA untuk input-oriented technical efficiency adalah:
Min
,z

47

u jm z j u jm , m = 1,2,..., M
J =1

z
j =1

x jn x jn , n = 1,2,..., N

z j 0, j = 1,2,..., J
keterangan:

= ukuran efisiensi yang dihitung untuk masing-masing DMU j

ujm = jumlah output m yang diproduksi oleh untuk masing- masing DMU j
xjn = jumlah input n yang digunakan oleh DMU j
zj = variabel intensitas untuk DMU j
Nilai =1.0 berarti bahwa suatu perusahaan atau unit usaha digambarkan efisien,
pada saat < 1.0 berarti suatu unit usaha tidak efisien, contohnya bila = 0.8
berarti bahwa unit usaha dapat mengurangi inputnya sebesar 20% untuk
memproduksi tingkat output yang sama (Walden & Kirkley 2000a)
Output Oriented Technical Efficiency
Model DEA untuk Output Oriented Technical Efficiency
Max
,z
dengan kendala:
J

u jm z j u jm , m = 1,2,..., M
j =1

z
j =1

x jn x jn , n = 1,2,..., N

z j 0, j 1,2,..., J
keterangan:

= ukuran output TE

ujm = jumlah output m yang diproduksi oleh DMU j


xjn = Jumlah input yang digunakan oleh DMU j
zj = intensitas variabel untuk DMU j
Apabila nilai = 1.0 berarti bahwa DMU efisien, bila nilai >1.0 diindikasikan
bahwa DMU tidak efisien, contohnya bila = 1.25 berarti DMU masih

48

memungkinkan untuk meningkatkan output sebesar 25% dengan tingkat input


yang sama (Walden & Kirkley 2000a).
Mengukur kapasitas
Pengukuran kapasitas dengan orientasi output menggunakan model
matematika dari Fare et al. (1994) sebagai berikut:
Max
,z,
dengan kendala:
J

u jm z j u jm , m = 1,2,..., M ,
j =1

z
j =1

x jn x jn , n Fx ,

x jn = jn x jn , n V x ,

z
j =1

z j 0, j = 1,2,..., J

jn 0, n V x
keterangan:

= ukuran kapasitas

u jm = jumlah output m yang diproduksi oleh DMU j


x jn = jumlah input n yang digunakan oleh DMU j

n Fx = input faktor tetap


n V x = input faktor tidak tetap (variabel)

jn

= tingkat penggunaan input dari input variabel n oleh


DMU j

zj

= intensitas variabel untuk DMU j

Input tetap (fixed input) terdiri dari ukuran fisik/spesifikasi dari kapal seperti
berat kapal (tonnage), panjang kapal ( length) dan kekuatan mesin (engine
power) sedangkan input tidak tetap (variable inputs) terdiri dari jumlah awak
kapal (crew) dan jumlah melaut (trip) atau jumlah hari melaut (day at sea).
Kapasitas output ditentukan dengan mengalikan efisiensi yang diukur () dengan
output observasi.

Selanjutnya untuk kapasitas yang digunakan (capacity

49

utilization) pada umumnya mengacu kepada proporsi dari kapasitas potensial


yang digunakan dan diukur sebagai rasio antara output aktual dengan kapasitas
output (Kirkley & Squires 1999). Menurut Fare et al. (1989), CU diukur sebagai
rasio output TE dengan kapasitas output. Rasio ini mengoreksi bias yang dapat
muncul karena output aktual kemungkinan diproduksi secara inefisien.

3.4.6.3 Modifikasi DEA


Formulasi DEA di atas merupakan pengukuran dari aspek teknis atau
ukuran non moneter dari efisiensi dan kapasitas. Dengan melakukan modifikasi
terhadap DEA yaitu dengan menggabungkan antara DEA dengan cost benefit
analysis (CBA) yang dikenal dengan model DEA-CBA dapat diukur efisiensi
moneter, sebagaimana model yang dikembangkan oleh: Cooper et al. (1999)
yang diacu Fauzi dan Anna (2003). Dengan data harga dan biaya , model DEACBA dapat ditulis sebagai:
s

r =1

i =1

max p r s r+ + ci si

dengan kendala:
n

y ro = y rj j s r+

r = 1,..., s

j =1

xio = xij j + si

i = 1,...m

0 j , s r+ , si

i , j , r

j =1

dengan mendefinisikan:

s r+ = y r y ro
si = xio xi
maka persamaan di atas dapat dimodifikasi sebagai:
m
m

s
s
max p r y r ci xi p r y ro ci xio
i =1
i =1

r =1
r =1

dengan kendala:

50

y ro = y rj j s r+

r = 1,..., s

j =1
n

xio = xij j + si

i = 1,...m

0 j , s r+ , si

i , j , r

j =1

3.5 Pemetaaan Proses Penelitian


Seluruh

proses

penelitian

dapat

dipetakan

dalam

suatu

diagram

sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 8. Penelitian ini dilakukan berdasarkan


prinsip-prinsip input, proses dan output.

Input penelitian berupa tujuan yang

diuraikan dalam beberapa tujuan khusus dan kaitannya dengan data yang
dibutuhkan. Data yang dibutuhkan berupa data urut waktu (time series), cross
section, dan data yang bersifat endogenous yang merupakan interaksi antara
data urut waktu dan cross section. Data diperoleh melalui instansi terkait dan
wawancara langsung di lapangan dengan responden yang terkait. Selanjutnya
dilakukan proses analisis data dengan beberapa pendekatan seperti produksi
surplus, CYP, cope eye ball dan data envelopment analysis. Masing-masing
metode ini akan menghasilkan beberapa kajian seperti estimasi parameter,
tingkat produksi lestari dan optimal, laju degradasi dan depresiasi, efisiensi,
kapasitas optimal dan lain-lain.

51

TUJUAN
UMUM

TUJUAN
KHUSUS
Melakukan analisis
komparatif
pemanfaatan
sumberdaya ikan
secara bioekonomi
dan empiris (aktual)

Menganalisis
dan
merekomen
dasikan
kebijakan
pengelolaan
perikanan
tangkap yang
berkelanjutan

Menentukan tingkat
degradasi dan
depresiasi
sumberdaya ikan

JENIS
DATA

METODE

Time series
catch, effort,
biaya,harga,IHK
,PDRB

Produksi
surplus,CYP,
copes eye
ball

Endogenous,
biaya,
harga,discount
rate

Analisis
degradasi
dan
depresiasi

Menganalisis
dampak kapasitas
perikanan terhadap
kesejahteraan
nelayan

endogenous

Menganalisis
kapasitas perikanan
antar waktu dan antar
alat tangkap dan
dampaknya terhadap
pengelolaan
perikanan yang
berkelanjutan

Endogenous,
spesifikasi
teknis alat
tangkap,
catch, effort

Surplus
produsen

Data
Data
envelopment
envelopment
analysis
analysis
(DEA)
(DEA)

Gambar 8 Pemetaan proses penelitian.

KELUARAN

Diperolehnya
suatu hasil
analisis
tentang
pengelolaan
perikanan
tangkap yang
dapat dijadikan
acuan untuk
kebijakan
perikanan
tangkap yang
berkelanjutan

52

4 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN


4.1 Karakteristik Geofisik
Provinsi Sumatera Barat terletak antara 054 LU dan 330 LS serta
9836 - 10153 BT memiliki luas daerah sekitar 42 200 km2 atau setara dengan
2,17% dari luas Republik Indonesia. Berdasarkan letak geografis tersebut ada
suatu daerah tepat dilalui garis khatulistiwa yakni di Kecamatan Bonjol
Kabupaten Pasaman. Karena pengaruh letak tersebut Provinsi Sumatera Barat
tergolong beriklim tropis dengan suhu udara dan kelembaban yang tinggi.
Dampaknya terjadi 2 musim yaitu musim penghujan sekitar bulan November
sampai Maret dan musim kemarau pada bulan Juni sampai September. Provinsi
Sumatera

Barat terletak diantara pebukitan dan daerah perairan Samudera

Hindia dengan kelembaban yang tinggi yang menyebabkan tidak adanya suhu
yang ekstrim.

Berdasarkan data terakhir (2004) suhu

maksimum mencapai

32oC dan suhu terendah 22oC. Berdasarkan data kelembaban selama 5 tahun
terakhir (2000 - 2004) yang berasal dari BMG Tabing, Sumbar, diketahui
kelembaban udara tertinggi 85%.
Iklim di pesisir pantai barat Sumatera Barat sangat dipengaruhi oleh
Samudera Hindia yang dicirikan oleh adanya angin muson dan curah hujan yang
tinggi, sekitar 2 800 4 480 mm/tahun (BMG, 1999-2001). Gelombang dan arus
dari Samudera Hindia mempengaruhi pantai Sumatera Barat mengakibatkan
beberapa daerah di pesisir terkena abrasi. Di perairan Barat Sumatera termasuk
pantai Sumatera Barat tipe pasang surut yang ditemui mirip dengan tipe pasang
surut Samudera Hindia, yaitu tipe campuran yang didominasi pasang surut
Ganda (Pariwono 1985).

Pengaruh pasang surut dari Lautan Hindia ini

diperkirakan menyusup memasuki perairan teritorial Barat Sumatera

melalui

Kepulauan Mentawai. Karena kondisi geografis perairan Sumatera Barat yang


mempunyai kedalaman dengan gradien perubahan yang curam maka pasang
surut yang merambat sangat didominasi oleh pasang surut tipe ganda. Keadaan
ini berbeda dengan keadaan di perairan nusantara lainnya

yang umumnya

bersifat ganda dan tunggal.


Angin musim barat dan timur di perairan Sumatera Barat berkekuatan ratarata 9-11 knot bertiup ke arah tenggara (hampir sejajar dengan garis pantai

53

Padang) dan rata-rata 8 knot dengan pola berubah-ubah namun arah


dominannya hampir tegak lurus garis pantai. Lemahnya kecepatan angin timur
disebabkan karena arah angin musim timur telah mengalami pembelokan arah
akibat gaya coriolis pada saat ITCZ (Inter Tropical Convergence Zone) yang
berada di bagian selatan khatulistiwa.
Sebagaimana halnya suatu daerah dengan iklim tropis basah dan memiliki
bulan kering yang sangat pendek Sumatera Barat memiliki intensitas curah hujan
selama lima tahun terakhir (1998-2002), berkisar antara 3 821.0 mm sampai 5
723.0 mm dengan curah hujan rata-rata per tahun 376.14 mm. Jika mengacu
klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson serta Mahr, maka iklim Sumatera Barat
secara keseluruhan adalah Tipe A dan WB dengan jumlah bulan basah lebih dari
9 bulan.

4.2. Keragaan Potensi Sumberdaya Ikan


Dari 17 Kabupaten/Kota di Sumatera Barat, ada dua kota dan lima
Kabupaten yang mempunyai wilayah pesisir dan laut, masing-masing daerah
tersebut adalah : Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Padang
Pariaman, Kota Pariaman, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman Barat dan
Kabupaten Mentawai.

Total luas perairan

laut Sumatera Barat adalah 186

580.00 Km dengan luas perairan teritorial 57 880.00 Km2, 128 700.00 Km2
perairan ZEE serta memiliki panjang garis pantai 2 420.38 Km dengan rincian
sepanjang 375 km merupakan panjang garis pantai dari Air Bangis Kabupaten
Pasaman Barat sampai ke daerah Silaut Kabupaten Pesisir Selatan dan
selebihnya adalah garis pantai di Kabupaten Kepulauan Mentawai.
perairan laut

Luas

Sumatera Barat melebihi dua pertiga dari luas daratan yang

dimiliki.
Potensi sumberdaya kelautan dan pesisir di Sumatera Barat sangat kaya
dan beragam. Sumberdaya tersebut ada yang dapat diperbaharui (renewable
resources) seperti sumberdaya perikanan (perikanan tangkap, budidaya, industri
pengolahan dan bioteknologi, mangrove), energi gelombang, pasang surut, angin
dan OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion); dan ada juga yang tidak dapat
diperbaharui (non-renewable resources) seperti sumberdaya minyak dan gas
bumi dan berbagai jenis mineral. Selain dua jenis sumberdaya tersebut, juga
terdapat berbagai jasa lingkungan kelautan yang dapat dikembangkan untuk
pembangunan pariwisata bahari, industri maritim, jasa angkutan dan sebagainya.

54

Tabel 2 Panjang garis pantai dan jumlah pulau kecil per


Kabupaten/Kota di Sumatera Barat
No
Kab/Kota

Daratan
Sumatera

1
Pasaman
2
Agam
3
Pd Pariaman
4
Padang
5
Pesisir Selatan
6
Mentawai
Jumlah

135.40
36.97
58.19
76.05
234.20
540.81

Pulau-Pulau Kecil
Garis Pantai
Jumlah
(Km)
7.55
5
1.49
2
4.14
6
23.58
19
44.00
20
1 798.80
323
1 879.57
375

Total garis
pantai(Km)
142.95
38.47
62.33
99.63
278.20
1 798.80
2 420.38

Sumber CRITC Sumatera Barat ( 2000)

Berdasarkan hasil konvensi dari evaluasi potensi sumberdaya ikan laut


tahun 1997 yang dilaksanakan oleh Komisi Nasional Pengkajian Stok
Sumberdaya Ikan, maka potensi lestari (MSY) perikanan laut Sumatera Barat +
289 936 ton/tahun (Propeda Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sumatera
Barat Tahun 2001 2005) yang tersebar di perairan pantai sampai

Zona

Ekonomi Ekslusif (ZEE).

4.3. Perkembangan Perikanan Tangkap di Propinsi Sumatera Barat


Produksi perikanan tangkap di propinsi Sumatera Barat terdiri dari ikan
pelagis kecil seperti kembung (Rastrelliger sp.), layang (Decapterus sp.), selar
(selar sp.), lemuru (Sardinella longiceps), tetengkek (Megalaspis cordyla),
layaran

(Istiopurus

plepterus),

tembang

(Sardinella

fimbriata)

dan

teri

(Stolephorus sp.), ikan pelagis besar terdiri dari ikan tuna (Thunnus sp.),
cakalang

(Katsuwonus

pelamis),

tongkol

(Auxis

thazard)

dan

tenggiri

(Scomberomurus sp.) serta ikan-ikan demersal dan ikan karang seperti kakap
merah (Lates calcariper),

kerapu (Ephynephelus sp.), kuwe (Caranx sp.),

manyung (Tachysurus sp.) , bambangan (Lutjanus sp.), gerot-gerot (Pomadasys


sp.), kurisi (Nemipterus spp.), beloso (Synodontidae), layur (Trichioridae), ikan
sebelah (Psettodidae), lidah (Cynoglossus spp.), peperek (Leiognathidae),
swangi (Priacanthus spp.), pari (Trigonidae), bawal hitam (Formio niger) dan
bawal putih (Pampus argenteus), serta jenis udang-udangan seperti udang putih
(Penaeus merguiensis), udang windu (Penaeus monodon), udang dogol
(Metapenaeus spp.), udang lobster/barong (Panulirus sp.). Sebagai gambaran,
musim penangkapan yang terbanyak terjadi pada bulan Januari dan April-Mei

55

serta puncak musim penangkapan terjadi pada bulan Nopember Desember


(Merta et al., 1998).
Dari keseluruhan hasil tangkapan ikan, yang paling banyak didominasi oleh
ikan pelagis terutama pelagis kecil. Hal ini disebabkan sebagian besar nelayan
yang berada di Sumatera Barat melakukan penangkapan di perairan dekat
pantai, dimana kecenderungan ikan pelagis kecil umumnya berada di perairan
pantai.

Perkembangan hasil tangkapan ikan dari tahun 1984 s/d 2004 dapat

dilihat pada Tabel 3 dan Gambar 9.


Tabel 3 Perkembangan hasil tangkapan ikan di Provinsi
Sumatera Barat tahun 1984 2004
Tahun
Pelagis
kecil
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

9 784.60
9 965.30
13 249.30
16 847.90
18 416.20
23 106.30
24 439.35
26 447.50
23 869.60
19 793.40
27 214.30
26 194.10
26 532.00
30 085.80
31 535.80
33 831.60
33 284.80
32 993.40
24 672.50
30 162.00
28 660.79

Hasil tangkapan ikan (ton)


Pelagis
Demersal
Udang
+karang
besar
+bin.lunak
14 878.74
14 931.40
16 475.06
17 216.38
23 504.00
19 575.86
20 690.47
22 064.42
25 679.44
30 964.60
35 722.48
34 454.90
40 467.90
43 750.31
50 514.30
45 413.70
48 862.78
49 126.86
45 876.30
39 791.70
34 716.84

4 293.56
2 817.60
4 476.74
4 360.62
1 561.20
5 882.24
6 211.81
5 915.78
9 142.36
13 657.20
6 310.82
10 103.40
10 682.70
11 981.89
11 689.50
9 908.21
10 116.92
11 834.94
11 334.40
18 373.50
30 610.78

Sumber: Diskan/DKP Sumbar (1985-2005)

540.50
563.90
703.50
820.20
1 209.80
1 647.10
1 687.73
984.20
1 098.20
1 239.20
1 605.30
3 025.00
2 501.40
2 652.00
2 834.00
2 972.00
3 315.80
6 924.40
3 861.80
5 585.30
8 379.60

Jumlah

29 497.40
28 278.20
34 904.60
39 245.10
44 691.20
50 211.50
53 029.36
55 411.90
59 789.60
65 658.70
70 852.90
73 777.40
80 184.00
88 470.10
96 573.60
92 125.60
95 580.30
100 879.60
85 745.00
98 441.00
102 368.00

56

Hasil tangkapan (ton)

120000
100000
80000
60000
40000
20000

04
20

02
20

00
20

19

98

96
19

94
19

92
19

90
19

19

86
19

84
19

88

Tahun
Pel.besar

Pel.kecil

demersal+karang

udang+bin.lunak

Prod.total

Gambar 9 Perkembangan hasil tangkapan ikan laut di perairan


Sumatera Barat tahun 1984 2004.
Nelayan yang menangkap ikan terdiri dari nelayan penuh dan sambilan
utama, jumlah nelayan cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Jumlah nelayan menurut wilayah kabupaten dan kota keadaan tahun 2004
seperti pada Tabel 4. Sedangkan perkembangan jumlah nelayan selama 10
tahun terakhir seperti pada Tabel 5 dan Gambar 10.
Tabel 4 Jumlah nelayan di wilayah Kabupaten/Kota Pesisir
Provinsi Sumatera Barat tahun 2004
Nelayan
No.

Kabupaten/Kota

Penuh

Jumlah

Sambilan

1.

Pasaman Barat

3 662

1 775

5 437

2.

Agam

2 176

714

2 890

3.

Padang Pariaman

5 305

2 160

7 465

4.

Pariaman

700

293

993

5.

Padang

4 887

1 669

6 556

6.

Pesisir Selatan

6 332

2 020

8 352

7.

Kepulauan Mentawai

1 225

1 102

2 327

24 287

9 733

34.020

Jumlah
Sumber : BPS Sumbar (2004)

57

Tabel 5 Perkembangan jumlah nelayan perikanan tangkap


tahun 1995 2004
Jumlah Nelayan (orang)
Penuh
Sambilan utama

Tahun

8 579
8 114
8 591
8 575
8 052
7 994
6 549
8 389
7 937
9 733

23 316
24 606
24 249
24 106
24 283
24 373
25 843
23 258
24 284
24 287

1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

Jumlah

31 895
32 720
32 840
32 681
32 335
32 367
32 392
31 647
32 221
34 020

Sumber: Diskan/DKP Sumbar (1985-2005)

jumlah nelayan (orang)

40000
35000
30000
25000
20000
15000
10000
5000
0
1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004
Tahun
Nelayan Penuh

Sambilan Utama

total nelayan

Gambar 10 Perkembangan nelayan perikanan tangkap tahun 1995-2004.

4.4. Armada dan Alat Tangkap yang digunakan

Armada penangkapan yang digunakan oleh nelayan di Provinsi


Sumatera Barat terdiri dari perahu tanpa motor, perahu motor tempel dan
kapal motor. Alat tangkap pancing tonda, pancing rawai. Pukat cincin
pada umumnya menggunakan kapal motor, sedangkan untuk alat tangkap
jenis jaring masih banyak yang menggunakan perahu tanpa motor dan
motor tempel. Keragaan armada penangkapan ikan di Provinsi Sumatera

58

Barat selama 10 (sepuluh) tahun dari tahun 1995 -2004

seperti pada

Tabel 6 dan Gambar 11.


Tabel 6 Keragaan alokasi jumlah dan jenis armada kapal perikanan
Sumatera Barat selama 10 tahun 1995 2004
ALOKASI JUMLAH ARMADA PERIKANAN DALAM TAHUN

Kategori
perahu/
kapal

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

Perahu Tanpa
Motor

3 733

4 253

4 290

4 294

4 388

4 399

5 132

4 718

4 448

4 005

Motor Tempel

1 474

1 425

1 625

1 754

1 736

1 696

1 657

1 363

1 671

1 551

Kapal Motor

1 033

1 118

1 302

1 291

1 397

1 431

1 577

1 542

1 406

1 341

< 5 GT

777

867

640

547

672

540

392

619

421

389

5 10 GT

159

176

352

545

523

786

917

311

878

781

10 20 Gt

69

68

110

190

169

99

268

287

107

110

20 30 GT

10

31

30 50 GT

10

> 50 GT
Jumlah

6 220

6 796

7 217

7 339

7 521

7 526

8 366

61

7 623

7 525

Jumlah Armada (unit)

Sumber: Diskan/DKP Sumbar (1996-2005)

9000
8000
7000
6000
5000
4000
3000
2000
1000
0
1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004
Tahun
P.tanpa motor

Perahu Motor tempel

Kapal Motor

Jumlah

Gambar 11 Perkembangan armada perikanan tangkap dari


tahun 1995 s/d 2004.
Dilihat dari jenis dan ukuran armada perikanan yang digunakan oleh pelaku
usaha perikanan pada umumnya masih didominasi oleh perahu tanpa motor
59.65%, setelah itu perahu motor tempel 20.20% dan kapal motor 20.15%. Alat
tangkap yang digunakan oleh para nelayan di Sumatera Barat beraneka ragam

6 897

59

sesuai dengan jenis ikan yang dijadikan sasaran penangkapannya. Jenis alat
tangkap antara lain: pancing tonda (troll line), pancing rawai (set long line),
pancing ulur (hand line), pukat pantai/tepi (beach seine), dogol (danish seine),
payang (seine net), pukat cincin (purse seine), jaring insang hanyut (drift gillnet),
jaring insang tetap (fixed gillnet), trammel net, jaring klitik (shrimp gillnet), jaring
insang lingkar (encircling gillnet), bagan perahu (boat lift net), serok (scoop nets)
dan lain-lain. Di antara alat tangkap yang ada yang memiliki produktivitas lebih
tinggi adalah pukat cincin (purse seine). Sesuai dengan sifat perairan tropis
yang memiliki beraneka jenis ikan (multi species) hampir semua jenis ikan dapat
ditangkap oleh jenis alat tangkap yang ada, akan tetapi terdapat jenis ikan
tertentu yang menjadi target utama masing-masing alat tangkap. Ikan pelagis
kecil pada umumnya ditangkap menggunakan alat tangkap bagan, serok,
payang, jaring insang hanyut dan pukat cincin. Sedangkan sumberdaya pelagis
besar ditangkap menggunakan alat tangkap pancing tonda, pancing rawai dan
pukat cincin. Untuk menangkap ikan demersal dan ikan karang pada umumnya
menggunakan pancing rawai, trammel net dan jaring insang tetap.

Udang-

udangan menggunakan pukat udang, trammel net, dogol dan jaring klitik.
Perkembangan jumlah alat tangkap selama 10 tahun terakhir (1995 s/d 2004)
seperti pada Tabel 7.
Tabel 7 Keragaan alokasi komposisi jumlah unit penangkapan ikan
Sumatera Barat dari Tahun 1995 2004
Jenis dan
Ukuran Kapal
Perikanan
Payang

ALOKASI JUMLAH KOMPOSISI UNIT PENANGKAPAN IKAN PER TAHUN


1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
928

926

884

726

711

922

1 725

1 825

1 007

1 062

Dogol
Pukat Pantai

1.074
348

972
390

974
448

866
628

742
453

630
491

265
376

464
466

326
489

444
505

Pukat Cincin

18

18

22

22

15

15

13

15

15

15

Jaring Insang
Jaring Lingkar

886
251

766
111

675
262

986
386

1 439
102

1.518
215

1 080
425

1 233
244

1 826
244

1 154
244

Jaring Klitik
Jaring Insang
Tetap

595
480

422
376

307
276

868
514

411
684

407
792

31
2 626

117
1 359

1 222

1 293

Bagan Perahu
Rakit

929

1 014

1 181

872

868

931

1 117

977

828

836

Serok

73

106

122

117

121

107

416

424

65

65

Rawai Tetap
Tonda

223
1 205

152
1 087

98
1 333

158
875

41
1 062

104
972

34
1 403

184
1 111

142
601

268
602

Pancing Ulur

1 201

1 015

990

1 187

1 500

1 452

2 893

2 986

2 786

3 653

Sumber: Diskan/DKP Sumbar (1996-2005)

Dari beberapa jenis alat tangkap yang digunakan oleh nelayan di Provinsi
Sumatera Barat, yang dikaji lebih lanjut dalam penelitian ini adalah alat tangkap

60

payang, bagan, pancing tonda dan pukat cincin (mini purse seine), hal ini dengan
pertimbangan bahwa alat tangkap tersebut banyak digunakan oleh para nelayan
dan memberikan kontribusi yang besar terhadap hasil tangkapan nelayan, hal ini
dapat dilihat pada Gambar 12 baik kontribusinya terhadap hasil tangkapan ikan
pelagis maupun hasil tangkapan total.

120000
Produksi (ton)

100000
80000
60000
40000
20000

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

19
84

Tahun
payang

pukat cincin

bagan

tonda

pelagis

total produksi

Gambar 12 Perkembangan hasil tangkapan ikan oleh beberapa


jenis alat tangkap.
4.4.1. Pancing tonda
Tonda merupakan alat tangkap jenis pancing, armada panangkapan yang
digunakan merupakan kapal motor dengan menggunakan mesin berkekuatan 16
45 pk, dan panjang kapal berkisar antara 9 13 meter. Tenaga kerja atau
anak buah kapal yang dibutuhkan untuk 1 unit kapal tonda sebanyak 3 5 orang.
Daerah pengoperasian untuk pancing tonda adalah di atas 12 mil laut, 1 trip
penangkapan ikan membutuhkan waktu 7 15 hari, sehingga jumlah trip
penangkapan untuk pancing tonda setiap bulannya adalah 2 4 kali. Rata-rata
hasil tangkapan dengan pancing tonda adalah 1 ton per trip dengan jenis ikan
antara lain: cakalang, tuna, tongkol, tenggiri, lemadang dan sunglir.
Biaya operasional yang dibutuhkan per trip berkisar antara Rp. 1 juta Rp.
3 juta tergantung lamanya hari trip,

lokasi penangkapan dan daya mesin

penggerak yang digunakan serta jumlah anak buah kapal (ABK).

Hasil

61

tangkapan dari alat tangkap pancing tonda di daratkan dan dijual di tempattempat pendaratan ikan.

4.4.2 Alat tangkap payang


Payang termasuk jenis alat tangkap pukat kantong. Bentuk alat tangkap ini
menyerupai trawl, memiliki sepasang sayap dan bagian yang berbentuk kantong
dioperasikan di permukaan maupun dasar perairan untuk menangkap jenis-jenis
ikan pelagis dan demersal. Prinsip dasar pengoperasiannya adalah ikan
tangkapan yang terkumpul di dalam kantong ditarik ke arah perahu. Ukuran ikan
yang tertangkap oleh pukat kantong sangat bervariasi mulai dari ikan yang
berukuran kecil hingga besar. Selektivitas alat tangkap ini sangat tergantung dari
ukuran mata jaring yang digunakan pada bagian sayap maupun pada bagian
kantong jaring.

Alat tangkap payang

ini digunakan oleh nelayan hampir di

sepanjang wilayah pesisir Provinsi Sumatera Barat.


Alat tangkap payang dioperasikan menggunakan perahu motor tempel
dengan mesin 40 PK berukuran 2 3 GT dengan panjang perahu rata-rata 12
meter.

Operasi penangkapan bersifat harian (1 trip = 1 hari), operasi

penangkapan dilakukan mulai jam 6 pagi sampai jam 12 siang. Jumlah trip per
bulan rata-rata 24 kali karena pada umumnya hari Jumat nelayan tidak melaut.
Satu unit armada payang membutuhkan anak buah kapal (ABK) sebanyak 10
12 orang.
Jenis ikan yang tertangkap menggunakan alat tangkap payang antara lain:
Tongkol, bawal, cakalang, kembung dan teri.

Jumlah ikan yang tertangkap

setiap melakukan operasi penangkapan ikan berkisar antara 50 kg 1000 kg


dan rata-rata 300 kg/trip. Biaya operasional yang dibutuhkan untuk satu trip
penangkapan ikan rata-rata Rp. 220.000,-.

4.4.3 Alat tangkap bagan


Bagan merupakan alat tangkap yang termasuk jenis jaring angkat (lift net).
Prinsip dasar dari alat tangkap ini adalah memikat ikan dengan bantuan cahaya
sehingga ikan-ikan tertarik dan berkumpul di atas wilayah cakupan jaring. Ikanikan yang telah terkumpul di atas jaring akan tertangkap pada saat jaring di
angkat dari kolom air ke atas permukaan air.
Alat tangkap bagan pada umumnya dioperasikan menggunakan

kapal

motor, dengan tonnase berkisar antara 5 30 GT, menggunakan mesin

62

penggerak dengan kekuatan 33 120 PK. Satu unit armada penangkapan ikan
membutuhkan anak buah kapal (ABK) sebanyak 8 12 orang. Adapun jenis
jenis ikan yang menjadi target penangkapan adalah ikan-ikan pelagis kecil yang
memiliki sifat pototaxis.

Alat tangkap bagan hampir terdapat di sepanjang

wilayah pesisir mulai dari kabupaten Pesisir Selatan sampai ke Air Bangis
Kabupaten Pasaman Barat. Hasil tangkapan per trip 5 50 keranjang, dimana
berat ikan per keranjangnya 25 kg. 1 trip membutuhkan waktu 1 hari dan jumlah
trip dalam 1 bulan 22 hari. Hal ini disebabkan pada hari terang bulan, nelayan
tidak melaut.
Pada umumnya penangkapan ikan dengan kapal bagan dilakukan di
daerah pantai sampai sejauh 4 mil laut. Tetapi akhir-akhir ini dengan telah
semakin berkembangnya bagan dan digunakannya mesin penggerak yang lebih
besar, maka nelayan telah melakukan operasi penangkapan jauh ke tengah,
yaitu mencapai 15 km ke tengah lautan ( 8 mil), bahkan beberapa bagan sudah
ada yang beroperasi sampai ke Perairan Kepulauan Mentawai. Kapal motor
bagan yang pengoperasiannya sampai ke Mentawai memiliki ukuran dan
tonnase yang lebih besar serta teknologi penangkapan yang lebih maju serta
waktu penangkapan yang lebih lama yaitu 4 7 hari/trip, dengan hasil per trip 2
3 ton.
Bekal yang dibutuhkan setiap kali melakukan operasi penangkapan ikan
menggunakan alat tangkap bagan antara lain: bahan bakar minyak berupa solar,
minyak tanah dan oli untuk mesin, bekal makanan atau ransum, es dan garam.
Garam digunakan untuk mengawetkan ikan-ikan yang akan dijadikan ikan olahan
seperti teri, sedangkan es untuk mengawetkan ikan-ikan yang akan dijual segar.
Kebutuhan akan bahan bakar tergantung kepada lamanya waktu untuk 1 trip
penangkapan ikan dan ukuran kapal.

Untuk 1 hari trip penangkapan ikan

dibutuhkan bahan bakar solar 30 - 200 liter, minyak tanah 5 liter, dan es 5 10
batang, garam 50 kilogram, sedangkan untuk 1 trip penangkapan yang
membutuhkan waktu 3-4 hari dibutuhkan 3 4 drum (1 drum=200 liter) solar, 30
liter minyak tanah, 40-50 batang es dan garam 50 100 kilogram. Jenis dan
nilai investasi yang dibutuhkan untuk penangkapan ikan menggunakan alat
tangkap bagan dapat dilihat pada Tabel 8.

63

Tabel 8 Jenis dan nilai investasi yang digunakan untuk


penangkapan ikan menggunakan alat tangkap bagan
No

Nilai (Rp)

Umur Ekonomis
(tahun)

Kapal
- ukuran 0 - 15 GT
- diatas 15 GT

30-125 juta
150-500 juta

15 - 20

2.

Mesin

7 - 100 juta

8 -10

3.

Alat tangkap

5 juta

1.

Jenis Investasi

4.4.4 Alat tangkap pukat cincin


Pukat cincin merupakan alat tangkap yang telah menerapkan teknologi
maju sehingga sangat efektif untuk menangkap jenis-jenis ikan pelagis dalam
jumlah besar. Pukat cincin yang dimiliki oleh nelayan di Sumatera Barat masih
tergolong kepada mini purse seine.

Prinsip dasar pengoperasian dari purse

seine adalah melingkari kawanan ikan, kemudian ikan yang telah terkurung di
dalam lingkungan jaring terkumpul dan tertangkap pada bagian yang berbentuk
kantong setelah dilakukan proses pengerucutan jaring (pursing) dan hauling.
Pada saat ini pukat cincin diusahakan oleh nelayan di Sasak Kecamatan Ranah
Pesisir Kabupaten Pasaman Barat dan Kota Padang. Jenis ikan yang tertangkap
dengan pukat cincin antara lain: tenggiri, tuna, tongkol, kakap merah, alualu/tete, layur, tongkol, tetengkek, cumi-cumi, kuwe, bawal dan lain-lain.
Alat tangkap pukat cincin dioperasikan dengan menggunakan kapal motor
dengan panjang berkisar antara 17 - 22 meter, tonnase antara 25 30 GT,
dengan mesin penggerak berkekuatan antara 90 160 PK. Satu unit kapal
membutuhkan anak buah kapal (ABK) sebanyak 13 - 19 orang. Hasil tangkapan
dari alat tangkap pukat cincin berkisar antara 300 kilogram 3000 kg per trip
atau rata-rata 600 kilogram per trip. 1 kali trip penangkapan ikan membutuhkan
waktu 2 -3 hari jadi rata-rata trip per bulannya sebanyak 10 11 kali, dengan
biaya operasional berkisar antara Rp. 900 000 Rp. 1 500 000 per trip.
Bekal atau input yang dibutuhkan setiap kali melakukan operasi
penangkapan ikan menggunakan alat tangkap pukat cincin antara lain: bahan
bakar minyak berupa solar, minyak tanah dan oli untuk mesin, es dan bekal
makanan. 1 trip penangkapan ikan membutuhkan bahan bakar berupa solar

64

sebanyak 200 300 liter, minyak tanah 5 liter, dan es 5 10 batang, ransum
rata-rata Rp.10 000 per orang per hari, dengan ABK sebanyak 15 orang berarti
dibutuhkan ransum (15 x 10 000 x 3 = Rp. 450 000,-).
Investasi yang dibutuhkan untuk 1 unit pukat cincin antara lain: 1 unit kapal
yang biasanya terbuat dari kayu dengan panjang antara 17 22 meter, lebar
kapal rata-rata 4.5 meter, tinggi 1.3 meter dengan tonnase 25 30 GT dan
tenaga mesin rata-rata 190 PK dengan harga sekitar Rp 500 000 000,-, alat
tangkap pukat cincin berupa jaring dengan ukuran 400 x 45 meter. Rata-rata
biaya per trip untuk ke empat jenis alat tangkap yaitu pukat cincin, pancing
tonda, bagan dan payang seperti pada Tabel 9.

Tabel 9 Rata-Rata biaya per trip menurut


jenis alat tangkap
No

Alat tangkap

Biaya rata-rata
(Rp/trip)

Pukat cincin

1 366 832.62

Pancing tonda

2 469 086.49

Bagan

512 114.68

Payang

219 705.66

4.5. Sumbangan sektor Perikanan terhadap PDRB


Struktur perekonomian di Provinsi Sumatera Barat masih didominasi oleh
sektor pertanian, dimana dari PDRB atas dasar harga berlaku terlihat bahwa
sumbangan sektor ini tahun 2001 sebesar 23.26 %, disusul sektor perdagangan,
hotel dan restoran sebesar 17.72 %. Urutan ke tiga ditempati oleh sektor jasajasa sebesar 18.40 % dan sektor angkutan dan komunikasi berada pada urutan
ke empat menggeser keberadaan sektor industri pengolahan turun ke urutan ke
lima sejak tahun 1999. Sedangkan sumbangan empat sektor lainnya angkanya
masih kurang dari 5 %.
PDRB Provinsi Sumatera Barat yang dihitung berdasarkan harga berlaku
dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun pada tahun yang sama,
diperoleh PDRB perkapita penduduk. Pada tahun 2001 PDRB per kapita

65

penduduk tercatat sebesar 5.90 juta rupiah/tahun, angka ini mengalami kenaikan
sebesar 608 000 rupiah dibandingkan tahun 2000.
Dalam perhitungan PDRB Sumatera Barat, sub sektor Perikanan masih
dimasukkan ke dalam sektor pertanian, dimana sebagai salah satu propinsi
agraris peranan sektor pertanian dari tahun ke tahun terhadap PDRB Sumatera
paling besar dibandingkan sektor lainnya

yaitu sekitar 23.50 % per tahun,

dimana sumbangan terbesar berasal dari sub sektor tanaman pangan dan
hortikultura (12.50%). Sedangkan sub sektor perikanan setiap tahunnya hanya
sekitar 2.70 %.
Tabel 10 Kontribusi PDRB Perikanan terhadap PDRB Sumatera Barat
selama 5 tahun (2000 - 2004)
Tahun

Atas dasar harga berlaku


Rp (juta)
%

Atas dasar harga konstan (2000)


Rp (juta)
%

2000

646 242.48

2.82

646 242.48

2.82

2001

757 307.79

2.90

672 803.05

2.84

2002

786 136.25

2.63

673 812.25

2.71

2003

898 168.11

2.71

723 332.45

2.77

2004

1 006 839.41

2.71

761 891.34

2.76

Sumber: BPS Sumbar (2005)

Tabel 10 memperlihatkan kontribusi PDRB Perikanan terhadap PDRB Sumatera


Barat selama 5 tahun terakhir baik berdasarkan harga berlaku maupun
berdasarkan harga konstan tahun 2000. Berdasarkan harga berlaku pada tahun
2000 PDRB Perikanan sebesar Rp 646 242.48 juta dan pada tahun 2004
meningkat menjadi Rp 1 006 839.41 juta sedangkan berdasarkan harga konstan
tahun 2000 maka pada tahun 2000 PDRB Perikanan adalah sebesar Rp 646
242.48 juta dan tahun 2004 meningkat menjadi Rp 761 891.34 juta.
Gambar 13 dan 14 memperlihatkan kontribusi sektor pertanian dan
perikanan terhadap PDRB Sumatera Barat, dimana setiap tahunnya cenderung
mengalami peningkatan, akan tetapi secara keseluruhan kontribusi sub sektor
perikanan terhadap PDRB Sumatera Barat masih di bawah 5% (rata-rata 2.70 %
per tahun).

66

PDRB (Rp milyar)

30000
25000
20000
15000
10000
5000
0
2000

2001

2002

2003

2004

Tahun
PDRB Sumbar

PDRB Perikanan

PDRB Pertanian

Gambar 13 Perkembangan PDRB total, PDRB Pertanian dan


PDRB Perikanan Provinsi Sumatera Barat.

PDRB total
/Propinsi(milyar rupiah)

35000

1000

30000
800

25000

600

20000
15000

400

10000
200

5000
0

PDRB Perikanan (milyar


rupiah)

1200

40000

0
2000

2001

2002

2003

2004

Tahun
PDRB Sumbar

PDRB Perikanan

Gambar 14 Kontribusi PDRB Perikanan terhadap PDRB total


Provinsi Sumatera Barat.

67

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Standardisasi Alat Tangkap


Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis bermacammacam, untuk itu dalam menganalisis perikanan tangkap terlebih dahulu perlu
dilakukan standardisasi alat tangkap sehingga dapat dijumlahkan total effort dari
perikanan tangkap yang dianalisis. Dalam penelitian ini penentuan standardisasi
effort dilakukan dengan menggunakan jumlah trip per tahun dari alat tangkap
bagan, payang, jaring insang hanyut, pukat cincin dan tonda. Ada beberapa
jenis alat tangkap yang digunakan dalam menangkap ikan pelagis kecil dan
besar tetapi dalam penelitian ini pengkajian tidak dilakukan terhadap seluruh alat
tangkap yang digunakan akan tetapi dipilih beberapa alat tangkap yang dominan
menangkap ikan pelagis. Analisis juga dipisahkan antara ikan pelagis besar dan
pelagis kecil, dengan pertimbangan ikan pelagis kecil lebih banyak ditangkap di
perairan sekitar pantai sedangkan ikan pelagis besar lebih banyak di tangkap di
laut lepas.
Untuk ikan pelagis kecil alat tangkap yang digunakan sebagai baseline
adalah bagan dengan pertimbangan alat tangkap bagan

ini paling dominan

digunakan dan memberikan kontribusi yang paling besar terhadap hasil


tangkapan ikan pelagis kecil, sedangkan untuk ikan pelagis besar yang dijadikan
baseline adalah alat tangkap pancing tonda karena hasil tangkapan dari alat
tangkap pancing tonda ini yang paling besar kontribusinya terhadap hasil
tangkapan ikan pelagis besar di propinsi Sumatera Barat. Khusus untuk ikan
pelagis besar alat tangkap yang dianalisis hanya 2 yaitu alat tangkap pancing
tonda dan pukat cincin, dengan pertimbangan 2 jenis alat tangkap ini yang
memiliki operasi penangkapan ikan jauh dari perairan pantai dengan lama hari
upaya penangkapan lebih dari 1 hari. Selanjutnya dari keseluruhan jenis ikan
pelagis besar yang ada, dipilih empat jenis ikan yang dominan yaitu ikan tenggiri,
tongkol, tuna dan cakalang. Hasil tangkapan dari ke empat jenis ikan pelagis
besar ini oleh alat tangkap tonda dan pukat cincin seperti pada Tabel 11 dan
Gambar 16.
Perkembangan effort dari alat tangkap setelah distandardisasi selama 21
tahun seperti terlihat pada Gambar 15. Pada gambar terlihat bahwa effort dari
alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis besar dan pelagis

68

kecil pada awal-awal periode pengamatan memiliki kecendrungan meningkat


setiap tahunnya selanjutnya berfluktuasi naik turun dan pada akhir pengamatan

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

165000
145000
125000
105000
85000
65000
45000
25000
5000
19
84

Effort (trip)

mengalami penurunan.

Tahun
Std Effort Pel kecil

Std Effort Pel besar

Gambar 15 Perkembangan effort yang telah distandardisasi untuk


penangkapan ikan pelagis besar dan pelagis kecil.
Pada Tabel 11 terlihat bahwa dari ke empat jenis ikan pelagis besar, yang
paling banyak hasil tangkapannya adalah cakalang, kemudian diikuti oleh
tongkol, tuna dan tenggiri. Hampir sama dengan effort, secara keseluruhan hasil
tangkapan ikan pelagis besar juga mengalami fluktuasi, pada tahun awal
pengamatan hasil tangkapan cenderung meningkat, kemudian turun naik dan
pada akhir tahun pengamatan cenderung menurun, perkembangan hasil
tangkapan ikan pelagis besar seperti pada Gambar 16, sedangkan trajektori
perkembangan hasil tangkapan dan effort ikan pelagis besar dapat dilihat pada

10000
8000
6000
4000
2000

Tahun
tenggiri

tuna

cakalang

tongkol

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

19
84

Hasil tangkapan (ton)

Gambar 17.

69

Gambar 16 Perkembangan hasil tangkapan menurut jenis ikan pelagis besar.

Tabel 11 Hasil tangkapan ikan pelagis besar oleh alat tangkap tonda
dan pukat cincin
Tahun
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

Hasil tangkapan menurut jenis ikan (ton)


Tenggiri
Tuna
Cakalang
Tongkol
119.70
785.00
2 713.40
2 537.70
35.30
908.90
3 448.10
2 652.00
112.20
1 017.70
4 047.30
3 043.40
96.90
1 455.60
3 809.70
3 391.60
88.50
2 086.80
5 070.40
3 984.10
214.80
2 610.70
6 597.80
5 012.00
227.02
2 759.53
6 973.90
5 297.67
373.20
1 954.60
5 632.30
6 930.00
294.30
3 371.00
4 079.40
4 428.80
238.90
2 541.30
3 463.70
3 569.50
296.60
3 383.40
6 390.20
3 814.90
353.10
3 231.50
6 913.80
3 034.00
445.70
4 479.20
5 647.30
4 068.60
258.50
5 881.10
5 779.40
3 511.10
535.00
6 763.00
6 486.90
3 660.10
467.90
3 526.00
9 438.20
6 906.50
417.40
4 789.00
8 749.40
4 212.00
488.30
3 777.60
7 232.10
7 048.30
537.80
3 455.20
3 445.20
2 890.20
927.40
2 139.90
2 925.30
2 755.30
732.40
2 938.10
2 228.30
3 801.40

6 155.80
7 044.30
8 220.60
8 753.80
11 229.80
14 435.30
15 258.12
14 890.10
12 173.50
9 813.40
12 885.10
13 532.40
14 640.80
15 430.10
17 445.00
20 338.60
18 167.80
18 546.30
10 328.40
8 747.90
9 702.50

30

21
25

19
17

20

15
13

15

11
9

Effort (ribu trip)

Hasil tangkapan (ribu ton)

23

Jumlah

10

7
5

19
8
19 4
8
19 5
8
19 6
8
19 7
8
19 8
8
19 9
9
19 0
9
19 1
9
19 2
9
19 3
94
19
9
19 5
9
19 6
9
19 7
98
19
9
20 9
0
20 0
0
20 1
02
20
0
20 3
04

Tahun
Hasil tangkapan

effort

Gambar 17 Perkembangan effort dan hasil tangkapan ikan pelagis besar.

70

Untuk ikan pelagis kecil, jenis ikan yang dipilih adalah ikan layang, selar, teri,
tembang, lemuru dan kembung dengan alat tangkap payang, pukat pantai, pukat
cincin dan jaring insang hanyut serta bagan. Hasil tangkapan ikan pelagis kecil
oleh ke lima alat tangkap dapat dilihat pada Tabel 12 dan Gambar 18.

Tabel 12 Hasil tangkapan ikan pelagis kecil oleh alat tangkap yang dianalisis
Tahun

Jumlah
lemuru
356.60
242.40
222.80
294.50
280.00
300.30
285.35
205.80
271.60
300.80
475.20
533.70
706.00
872.90
933.40
1 511.30
1 253.60
1 209.20
651.00
627.00
734.50

04
20

02
20

00
20

98
19

96
19

94
19

92
19

90
19

88
19

86
19

84

20000
18000
16000
14000
12000
10000
8000
6000
4000
2000
0

19

Hasil tangkapan (ton)

1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

Hasil tangkapan per jenis ikan (ton)


Selar
teri
tembang kembung
684.20
3 691.40
1 503.20 2 179.90
763.80
3 094.80
1 297.70 2 200.50
890.70
3 980.50
1 480.40 2 558.70
1 058.70
4 624.20
1 540.50 3 275.70
1 370.30
5 499.80
1 956.40 3 386.10
1 013.90
5 171.70
2 807.50 2 865.60
1 071.72
5 466.47
2 967.51 3 028.91
995.30
7 803.30
2 584.80 1 790.30
1 819.60
9 884.20
2 481.70 3 305.70
3 083.90
9 635.40
2 925.10 3 054.60
2 099.10 11 472.80 3 801.00 2 356.40
1 585.00 13 213.80 2 887.00 3 114.20
1 751.90 14 909.90 3 832.20 3 296.50
1 991.30 17 885.40 3 453.80 3 377.70
2 122.50 17 865.90 3 838.40 3 355.90
2 343.20 17 148.50 7 675.50 3 319.00
2 545.50 16 671.90 6 276.20 3 401.10
3 307.00 15.684.50 6 850.10 4 437.20
2 241.40
7 016.60
2 910.00 3 593.20
3 018.10
8 931.30
3 709.80 4 675.60
2 632.00
4 772.00
2 586.90 4 021.20

layang
981.80
1 165.70
1 262.70
1 007.50
1 067.60
1 416.30
1 497.17
1 359.90
1 573.20
2 580.40
2 361.60
1 690.30
1 865.80
2 128.01
1 812.40
1 836.00
1 942.20
2 124.00
1 110.60
1 044.00
1 242.00

Tahun
layang

selar

teri

tembang

kembung

Lemuru

Gambar 18 Perkembangan hasil tangkapan ikan pelagis kecil.

9 937.10
8 764.90
10 395.80
11 801.10
13 280.20
13 575.30
14 317.13
14 739.40
19 336.00
21 580.20
22 566.10
23 024.00
26 362.30
29 709.11
29 928.50
33 833.50
32 090.50
33 612.00
17 522.80
22 005.80
15 988.60

71

Tabel 12 dan Gambar 17 memperlihatkan bahwa hasil tangkapan ikan pelagis


kecil yang terbesar adalah ikan teri, kemudian diikuti oleh tembang, kembung,
selar, layang dan lemuru.

Dari tahun 1984 sampai dengan tahun 2000, hasil

tangkapan ikan teri selalu mengalami peningkatan, bahkan merupakan tujuan


tangkap utama dari alat tangkap bagan, hal ini juga dapat dilihat dari banyaknya
unit-unit pengolahan ikan tradisional yang mengolah ikan teri menjadi ikan teri
rebus kering, akan tetapi mulai tahun 2000, hasil tangkapan ikan teri mulai
mengalami penurunan, unit-unit pengolahan teri juga sudah mulai berkurang,
dan ikan teri bukan lagi menjadi hasil tangkapan utama dari alat tangkap bagan
dan kondisi ini juga mendorong beberapa pemilik bagan untuk memperluas
daerah penangkapannya. Gambar 19 memperlihatkan perkembangan effort dan
produksi ikan pelagis kecil, hasil tangkapan ikan pelagis kecil dari tahun 1984
sampai dengan 2001 mengalami peningkatan setiap tahunnya dan mulai tahun
2002 mulai mengalami penurunan, sedangkan untuk effort dari tahun 1984
sampai dengan 1993 mengalami peningkatan, kemudian berfluktuasi sampai
tahun 2001 dan sama halnya dengan produksi mulai tahun 2002 mengalami

165
145
125
105
85
65
45
25
5

35
30
25
20
15
10
5

Effort (ribu trip)

40

19
8
19 4
8
19 5
8
19 6
8
19 7
8
19 8
8
19 9
9
19 0
9
19 1
9
19 2
9
19 3
9
19 4
9
19 5
9
19 6
9
19 7
9
19 8
9
20 9
0
20 0
0
20 1
0
20 2
0
20 3
04

Hasil tangkapan (ribu ton)

penurunan.

Tahun
Hasil tangkapan

Effort

Gambar 19 Perkembangan effort dan hasil tangkapan ikan pelagis kecil.

72

5.2 Estimasi Parameter Biologi


Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan data time series,
untuk itu terlebih dahulu perlu dilakukan uji apakah data yang digunakan
stationary atan non stationary.

Hasil uji stationary mengindikasikan bahwa

variabel logaritma dari catch per unit effort (CPUE) dan variabel effort
menunjukkan adanya gejala non stationary

(trending) .

Hal ini ditunjukkan

dengan besaran nilai kritis dari Dickey-Fuller test yang lebih kecil dari nilai
absolute 2.57 sebagaimana dapat dilihat pada Lampiran 4 dan 5. Selanjutnya
untuk melakukan analisis bioekonomi perlu dilakukan estimasi parameter biologi
yang terdiri dari parameter pertumbuhan intrisik (r), koefisien daya tangkap (q)
dan daya dukung/ carrying capacity (K). Ketiga parameter tersebut diestimasi
dengan menggunakan metode CYP.
Hasil estimasi menggunakan data time series yang sebelumnya telah dilakukan
uji stationary adalah seperti pada Tabel 13.

Tabel 13 Parameter biologi perikanan pelagis di Provinsi Sumatera Barat


Sumberdaya
Pertumbuhan
intrinsik (r)

Parameter Biologi
Koefisien daya
tangkap (q)

Carrying Capacity
(K)(ton)

Pelagis besar

0.88865

0.0000242

46 018.44

Pelagis kecil

0.67055

0.00000338

92 986.64

5.3. Estimasi Sustainable Yield


Berdasarkan hasil perhitungan parameter biologi yang telah diperoleh
maka selanjutnya dilakukan pendugaan fungsi produksi tangkap lestari seperti
terlihat pada Tabel 14.
Tabel 14 Fungsi produksi lestari Gompertz
No

Sumberdaya Ikan

Persamaan Gompertz

Pelagis Besar

ht=1.11410580Etexp(-0,000027243579Et)

Pelagis Kecil

ht=0.31429484Etexp(-0,000005040638Et)

73

Tabel 14 di atas memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan nilai persamaan


fungsi lestari Gompertz antara sumberdaya pelagis besar dan pelagis kecil. Hal
ini disebabkan karena terdapat perbedaan pengusahaan antara ikan pelagis
besar dan pelagis kecil.

Dengan menggunakan persamaan yang ada pada

Tabel 14 maka dapat diperoleh nilai Sustainable yield dari ikan pelagis besar
dan pelagis kecil. Keragaan effort, hasil tangkapan aktual dan lestari Gompertz
untuk ikan pelagis besar seperti pada Tabel 15 sedangkan untuk ikan pelagis
kecil pada Tabel 16.
Tabel 15 dan Gambar 20 memperlihatkan bahwa nilai hasil tangkapan
lestari ikan pelagis besar pada awal periode pengamatan berada di atas hasil
tangkapan aktual, kecuali pada tahun 1990, 1991 dan 1995 sampai dengan
2001, hasil tangkapan lestari berada di bawah hasil tangkapan aktual, dan tahun
2002 sampai dengan 2004 kembali berada di atas hasil tangkapan aktual.

Tabel 15 Keragaan effort, hasil tangkapan aktual dan hasil tangkapan


lestari Gompertz untuk ikan pelagis besar
Tahun

Effort

1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
Rataan

15 551.77
16 506.70
21 437.29
21 842.77
25 968.85
28 758.25
24 260.33
25 989.80
21 702.25
22 567.17
24 619.39
21 898.34
22 327.76
27 378.11
21 386.49
24 847.36
23 266.32
25 794.07
23 462.51
13 386.47
13 603.42
22 216.93

hasil tangkapan
aktual
(ton)
6 155.80
7 044.30
8 220.60
8 753.80
11 229.80
14 435.30
15 258.12
14 890.10
12 173.50
9 813.40
12 885.10
13 532.40
14 640.80
16 855.20
17 445.00
20 338.60
18 167.80
18 546.30
10 328.40
8 747.90
9 702.50
12 817.37

hasil tangkapan
lestari
(ton)
11 341.01
11 728.32
13 317.41
13 420.26
14 259.27
14 635.58
13 955.71
14 262.63
13 385.06
13 594.44
14 024.22
13 343.06
13 538.21
14 466.96
13 304.06
14 066.67
13 751.22
14 230.88
13 793.27
10 355.05
10 460.87
13 301.22

74

Hasil tangkapan (ton)

25000
20000
15000
10000
5000

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

19
84

Tahun
aktual

lestari

Gambar 20 Hasil tangkapan aktual dan hasil tangkapan lestari


Gompertz ikan pelagis besar.
Pada Gambar 21, kurva dengan garis hitam melengkung menunjukkan
kurva hasil tangkapan lestari (sustainable yield), sedangkan kurva dengan garis
putus-putus merupakan trajektori hasil tangkapan aktual dari ikan pelagis besar.
Jika hasil tangkapan aktual diplot terhadap hasil tangkapan lestari, maka terlihat
adanya pola ekspansi dan kontraksi.

Pada awal-awal periode pengamatan

terjadi ekspansi ke arah titik maksimum sustainable yield, kemudian bergerak


menjauhi titik keseimbangan, dan pada tahun 2002 terjadi konstraksi kembali ke
titik keseimbangan.

75

25000

yr99

20000

Produksi (ton)

yr01
yr00
yr98
yr97

15000

10000

yr04
yr03

yr90
yr96yr91
yr89
yr95
yr94
yr92
yr88
yr02
yr93
yr87
yr86

yr85
yr84

5000

0
0

10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 80000


Effort

.
Gambar 21 Kurva Lestari Gompertz dan hasil tangkapan
aktual pelagis besar
Selanjutnya untuk melihat trajektori atau loop ekspansi dan kontraksi dari effort
dilakukan analisis dengan metode copes eye ball

dengan cara melakukan

overlay antara hasil tangkapan aktual dan lestari. Dari Gambar 22 terlihat bahwa
ada 2 loop ekspansi dan 1 loop konstraksi.

Loop ekspansi pertama adalah

ekspansi yang menuju titik keseimbangan, sedangkan loop ekspansi ke dua


adalah loop yang menjauhi titik keseimbangan, mendekati akhir tahun
pengamatan terdapat loop konstraksi yang kembali menuju titik keseimbangan.

76

H
a
s
i
l
t
a
n
g
k
a
p
a
n

konstraksi

ekspansi

Effort
Gambar 22 Copes Eye Ball Loop untuk Fungsi Gompertz
ikan pelagis besar.
Tabel 16 dan Gambar 23 memperlihatkan bahwa nilai hasil tangkapan
lestari ikan pelagis kecil pada awal periode pengamatan berada di atas hasil
tangkapan aktual, kecuali pada tahun 1990, 1991 dan 1995 sampai dengan
2001, hasil tangkapan lestari berada di bawah hasil tangkapan aktual, dan tahun
2002 sampai dengan 2004 kembali berada di atas hasil tangkapan aktual.

77

Tabel 16 Keragaan effort, hasil tangkapan aktual dan lestari Gompertz


untuk ikan pelagis kecil
Tahun

Effort

1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
Rataan

67 274.74
67 784.96
81 547.63
94 948.09
111 039.67
114 820.99
116 416.99
118 146.60
132 925.32
116 492.46
104 048.30
98 424.58
107 492.70
115 066.10
126 375.21
137 553.65
120 188.19
141 395.42
102 745.80
83 801.61
71 243.13
106 177.72

Hasil tangkapan
aktual
(ton)
9 397.10
8 764.90
10 395.80
11 801.10
13 560.20
13 575.30
14 317.13
14 739.40
19 336.00
21 580.20
22 566.10
23 024.00
26 362.30
29 709.11
29 928.50
33 833.50
32 090.50
33 612.00
17 522.80
22 005.80
15 988.60
20 195.73

Hasil tangkapan
lestari
(ton)
15 067.43
15 142.69
16 995.73
18 495.53
19 944.23
20 233.87
20 350.67
20 473.67
21 380.40
20 356.11
19 359.12
18 839.55
19 655.59
20 252.02
21 009.47
21 614.13
20 614.13
21 791.81
19 242.75
17 268.10
15 640.08
19 225.11

35000
30000
25000
20000
15000
10000
5000

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

0
19
84

Hasil tangkapan (ton)

40000

Tahun
aktual

lestari

Gambar 23 Hasil tangkapan aktual dan lestari Gompertz


ikan pelagis kecil.

78

Pada Gambar 24, kurva dengan garis hitam melengkung menunjukkan


kurva hasil tangkapan lestari (sustainable yield), sedangkan kurva dengan garis
putus-putus merupakan trajektori hasil tangkapan aktual dari ikan pelagis kecil.
Jika hasil tangkapan aktual diplot terhadap hasil tangkapan lestari, maka terlihat
adanya pola ekspansi dan kontraksi.

Pada awal-awal periode pengamatan

terjadi ekspansi ke arah titik maksimum sustainable yield, kemudian bergerak


menjauhi titik keseimbangan, dan pada tahun 2002 terjadi konstraksi kembali
mengarah mendekati titik keseimbangan.

39000
36000
yr99
yr01
yr00

33000
30000

yr98
yr97

Produksi (ton)

27000

yr96

24000

yr95
yr03yr94
yr93

21000

yr92

18000

yr02
yr04

15000

yr91
yr90
yr89
yr88
yr87
yr86
yr84
yr85

12000
9000
6000
3000
0
0

1e+5

2e+5

3e+5

4e+5

Effort

Gambar 24 Kurva lestari Gompertz dan hasil tangkapan


aktual pelagis kecil.
Dari Gambar 25 terlihat bahwa ada 2 loop ekspansi dan 1 loop konstraksi,
loop ekspansi pertama adalah ekspansi yang menuju titik keseimbangan,
sedangkan loop ekspansi ke dua adalah loop yang menjauhi titik keseimbangan,
mendekati akhir tahun pengamatan terdapat loop konstraksi yang kembali
mengarah mendekati titik keseimbangan.

79

H
a
s
i
l
t
a
n
g
k
a
p
a
n

konstraksi

Ekspansi

Effort

Gambar 25 Copes Eye Ball Loop untuk fungsi Gompertz ikan


pelagis kecil.
5.4. Estimasi Parameter Ekonomi
Parameter ekonomi yang diperlukan dalam penelitian ini terdiri dari biaya
operasional, harga dan discount rate. Biaya operasional dan harga output/kg
diperoleh dari hasil survey. Selanjutnya untuk memperoleh data time series dari
biaya dan harga disesuaikan dengan indeks harga konsumen, sehingga
diperoleh nilai riil setiap tahunnya. Rata-rata biaya riil penangkapan ikan per trip
per tahunnya seperti pada Tabel 17.
Untuk lebih jelas lagi perkembangan biaya yang digunakan per trip dari alat
tangkap standar untuk penangkapan ikan pelagis besar (tonda) dan ikan pelagis
kecil (bagan) dapat dilihat pada Gambar 26.
kecendrungan meningkat setiap tahunnya.

dimana biaya memiliki

80

Tabel 17 Rata-rata biaya riil penangkapan ikan per trip menurut


alat tangkap yang dijadikan baseline (Rp per trip)
Alat tangkap
Pancing tonda
206 793.29
241 656.09
268 016.63
265 799.17
294 068.86
265 146.97
324 387.36
339 767.17
313 565.63
340 972.85
472 950.95
452 101.47
447 072.89
320 976.17
1 114 731.55
2 012 588.05
2 149 884.13
2 290 890.92
2 289 370.88
2 323 348.42
2 469 086.49

Tahun
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

Bagan
42 891.12
50 122.03
55 589.49
55 129.56
60 993.00
54 994.29
67 281.37
70 471.31
65 036.83
70 721.38
98 095.04
93 770.63
92 727.65
66 573.86
231 207.13
417 432.07
445 908.73
475 155.04
474 839.76
481 887.06
512 114.68

2500
2000
1500
1000
500

Tahun
tonda

bagan

Gambar 26 Perkembangan biaya per trip untuk alat


tangkap tonda dan bagan.

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

0
19
84

Biaya (Rp 000)

3000

81

Sebagaimana dijelaskan dalam metodologi, bahwa dalam penelitian ini


digunakan 2 discount rate yaitu market discount rate sebesar 15% dan real
discount rate dengan menggunakan pendekatan Ramsey yang diacu dalam
Anna (2003).

Dari hasil perhitungan discount rate dengan teknik Kula ini

diperoleh laju pertumbuhan dari PDRB Sumatera Barat sebagai

g=0.093408

(9.34%). Dengan menggunakan standar elastisitas pendapatan terhadap


konsumsi sumberdaya alam sebesar 1 dan menggunakan market discount rate
sebesar 15%, maka diperoleh nilai real discount rate sebesar 5.66%.

5.5 Pengelolaan Sumberdaya Perikanan yang Optimal


Sumberdaya

perikanan

merupakan

aset

kapital

yang

dalam

pengelolaannya secara optimal juga memerlukan pendekatan kapital. Sehingga


dibutuhkan

perhitungan

aspek

intertemporal

dalam

analisisnya.

Pada

pendekatan kapital, biaya korbanan (opportunity cost) untuk mengeksploitasi


sumberdaya pada saat ini diperhitungkan melalui perhitungan rente ekonomi
optimal yang seharusnya didapat dari sumberdaya perikanan, jika sumberdaya
tersebut dikelola secara optimal.
Hasil analisis optimal dengan menggunakan discount rate 15% dan kula
5.66% sehingga diperoleh nilai biomas, produksi dan effort yang optimal untuk
ikan pelagis besar seperti pada Tabel 18. Langkah-langkah perhitungannnya
dapat dilihat pada Lampiran 6. Rata-rata nilai biomas, hasil tangkapan dan effort
yang diperoleh pada discount rate 15% berturut-turut adalah: 24 186.3 ton, 13
825.6 ton dan 23 611.7 trip. Sedangkan dengan discount rate 5.66% nilai
biomas, hasil tangkapan dan effort optimal berturut-turut adalah: 25 074.9 ton, 13
529.7 ton dan 22 287.4 trip.

Dari hasil tersebut terlihat bahwa dengan

menggunakan discount rate yang lebih rendah/konservatif akan menghasilkan


nilai biomas yang lebih tinggi dan effort yang lebih rendah dibandingkan dengan
menggunakan market discount rate. Perbedaan biomas dan hasil tangkapan
untuk kedua discount rate seperti pada Gambar 27.

Selanjutnya

dengan

diperolehnya nilai optimal dari ke tiga variabel tersebut maka dapat dilakukan
perbandingan pengelolaan sumberdaya ikan pelagis besar pada kondisi aktual,
optimal dan lestari.

82

Tabel 18 Nilai optimal biomas, hasil tangkapan dan effort pada


discount rate 15% dan 5.66% untuk ikan pelagis besar
Discount rate 5.66%
Biomas
hasil
Effort
optimal
tangkapan optimal
(trip)
(ton)
optimal
(ton)
25 074.6 13 529.7
22 287.4
25 074.8 13 529.6
22 287.1
25 083.3 13 526.6
22 274.7
25 074.6 13 529.6
22 287.3
25 074.2 13 529.5
22 286.5
25 074.6 13 529.3
22 285.9
25 074.7 13 529.6
22 287.2
25 074.7 13 529.6
22 287.2
25 074.7 13 529.6
22 287.1
25 074.6 13 529.6
22 287.4
25 074.6 13 529.6
22 287.3
25 074.6 13 529.6
22 287.3
25 075.5 13 529.3
22 287.0
25 068.3 13 529.6
22 287.5
25 074.6 13 529.8
22 287.3
25 075.8 13 529.2
22 287.6
25 075.7 13 529.3
22 287.7
25 075.6 13 529.3
22 287.8
25 074.6 13 529.6
22 287.3
25 071.7 13 530.7
22 291.6
25 074.7 13 529.6
22 287.2
25 074.9 13 529.7
22 287.4

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

26
24
22
20
18
16
14
12
10

19
84

1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
Rataan

Discount rate 15%


Biomas
Hasil
Effort
optimal
tangkapan optimal
(trip)
(ton)
optimal
(ton)
24 185.7 13 825.8
23 612.2
24 185.9 13 825.7
23 612.9
24 194.9 13 822.9
23 598.2
24 185.8 13 825.8
23 612.1
24 186.3 13 825.6
23 611.2
24 186.7 13 825.4
23 610.6
24 185.8 13 825.7
23 612.0
24 185.8 13 825.7
23 612.0
24 185.9 13 825.7
23 611.9
24 185.7 13 825.8
23 612.2
24 185.8 13 825.8
23 612.7
24 185.8 13 825.8
23 612.7
24 185.7 13 825.8
23 612.7
24 185.7 13 825.5
23 612.2
24 185.8 13 825.9
23 612.1
24 185.0 13 825.8
23 612.2
24 186.9 13 825.4
23 612.4
24 186.8 13 825.4
23 612.5
24 185.8 13 825.8
23 612.1
24 182.8 13 825.8
23 612.9
24 185.8 13 825.8
23 612.1
24 186.3 13 825.6
23 611.7
Biomas dan Hasil tangkapan
(ribu ton)

Tahun

Tahun
biomas opt. i=15%

hsl tgkpn opt. i=15%

biomas opt. i=5.66%

hsl tgkpn opt. i=5.66%

83

Gambar 27 Biomas dan hasil tangkapan optimal ikan pelagis besar


pada discount rate 15% dan 5.66%
Hasil tangkapan lestari merupakan tingkat produksi yang hanya memasukkan
parameter biologi saja, akan tetapi karena eksploitasi sumberdaya ikan juga
bertujuan untuk menghasilkan pendapatan bagi pelaku usahanya perlu diketahui
hasil tangkapan yang optimal dengan memasukkan parameter biologi dan
ekonomi.

Perbandingan hasil tangkapan aktual, lestari dan optimal untuk ikan

pelagis besar dapat dilihat pada Tabel 19 dan Gambar 28.


Tabel 19 Perbandingan hasil tangkapan aktual, lestari dan
optimal untuk ikan pelagis besar
Tahun
Aktual
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
Rataan

6 155.80
7 044.30
8 220.60
8 753.80
11 229.80
14 435.30
15 258.12
14 890.10
12 173.50
9 813.40
12 885.10
13 532.40
14 640.80
16 855.20
17 445.00
20 338.60
18 167.80
18 546.30
10 328.40
8 747.90
9 702.50
12 817.37

Hasil tangkapan (ton)


Lestari
Optimal
(DR 15%)
11 341.01
13 825.8
11 728.32
13 825.7
13 317.41
13 822.9
13 420.26
13 825.8
14 259.27
13 825.6
14 635.58
13 825.4
13 955.71
13 825.7
14 262.63
13 825.7
13 385.06
13 825.7
13 594.44
13 825.8
14 024.22
13 825.8
13 343.06
13 825.8
13 538.21
13 825.8
14 466.96
13 825.5
13 304.06
13 825.9
14 066.67
13 825.8
13 751.22
13 825.4
14 230.88
13 825.4
13 793.27
13 825.8
10 355.05
13 825.8
10 460.87
13 825.8
13 301.22
13 825.6

Optimal
(DR 5.66%)
13 529.7
13 529.6
13 526.6
13 529.6
13 529.5
13 529.3
13 529.6
13 529.6
13 529.6
13 529.6
13 529.6
13 529.6
13 529.3
13 529.6
13 529.8
13 529.2
13 529.3
13 529.3
13 529.6
13 530.7
13 529.6
13 529.7

Gambar 28 memperlihatkan perbandingan hasil tangkapan ikan pelagis


besar pada kondisi aktual, lestari dan optimal. Pada tahun 1984 sampai dengan
1988 produksi aktual masih berada di bawah hasil tangkapan lestari dan optimal,
kemudian tahun 1989 sampai dengan 1991 hasil tangkapan aktual telah
melewati hasil tangkapan lestari dan optimal, tahun 1992 sampai dengan 1994
produksi aktual kembali berada di bawah hasil tangkapan lestari dan optimal,

84

selanjutnya tahun 1995 sampai dengan 2001 terjadi peningkatan hasil tangkapan
yang cukup signifikan sehingga hasil tangkapan aktual menjauhi hasil tangkapan
lestari dan optimal, dan terakhir tahun 2002 sampai dengan 2004 hasil
tangkapan kembali berada di bawah hasil tangkapan lestari dan optimal. Secara
rata-rata hasil tangkapan aktual ikan pelagis besar masih berada di bawah hasil
tangkapan lestari dan optimal. Apabila sumberdaya perikanan pelagis besar
dikelola secara optimal maka hasil tangkapan harus mengikuti trajektori optimal,
yaitu sebesar 13 825.6 ton untuk discount rate 15% dan 13 529.7 ton untuk
discount rate 5.66%. Sementara input yang harus digunakan mengikuti trajektori
optimal untuk masing-masing discount rate berturut-turut adalah pada tingkat

25
20
15
10
5

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

0
19
84

Hasil tangkapan (ribu ton)

upaya sebesar 23 611.7 trip dan 22 287.4 trip.

Tahun
lestari

aktual

optimal i=5.66%

optimal i=15%

Gambar 28 Perbandingan hasil tangkapan ikan pelagis besar


pada kondisi aktual, lestari dan optimal.
Tabel 20 memperlihatkan hasil perhitungan optimal untuk pengelolaan ikan
pelagis kecil. Dengan discount rate 15% berturut-turut diperoleh rata-rata nilai
biomas, hasil tangkapan dan effort yang optimal adalah : 44 203.46 ton, 22
042.37 ton dan 147 531.45 trip. Sedangkan untuk discount rate 5.66% berturutturut diperoleh rata-rata nilai biomas, hasil tangkapan dan effort yang optimal
sebesar 46 294.06 ton, 21 650.26 ton dan 138 863.29 trip.

85

Tabel 20 Nilai optimal biomas, hasil tangkapan dan effort pada discount rate
15% dan 5.66% untuk ikan pelagis kecil
Tahun
Biomas
optimal
(ton)
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
Rataan

Discount Rate 15%


Hasil
Effort
tangkapan optimal
optimal
(trip)

44 203.47
44 203.13
44 204.01
44 203.90
44 202.98
44 204.83
44 203.45
44 203.51
44 204.54
44 207.52
44 204.50
44 203.73
44 204.14
44 205.05
44 203.95
44 203.67
44 203.82
44 190.97
44 203.78
44 203.88
44 203.93
44 203.46

(ton)

22 042.33
22 042.39
22 042.24
22 042.26
22 042.42
22 042.10
22 042.34
22 042.33
22 042.15
22 041.64
22 042.16
22 042.99
22 042.22
22 042.06
22 042.25
22 042.30
22 042.28
22 044.48
22 042.28
22 042.27
22 042.26
22.042.37

147 531.41
147 532.96
147 529.01
147 529.49
147 533.61
147 525.31
147 531.24
147 526.64
147 529.01
147 513.26
147 526.78
147 530.27
147 528.41
147 524.35
147 529.25
147 530.54
147 529.86
147 537.55
147 530.02
147 529.61
147 529.38
147 531.45

Discount Rate 5,66%


Hasil
Biomas
Effort
tangkapan optimal
optimal
optimal
(ton)
(trip)
(ton)

46 294.21
46 293.90
46 294.69
46 294.60
46 293.77
46 295.44
46 294.20
46 294.25
46 295.17
46 297.86
46 295.14
46 294.44
46 294.82
46 295.63
46 294.65
46 291.39
46 294.52
46 282.95
46 294.49
46 293.58
46 294.62
46 294.06

21 650.31
21 650.37
21 650.21
21 650.23
21 650.40
21 650.06
21 650.31
21 650.30
21 650.11
21 649.57
21 649.12
21 650.26
21 650.18
21 650.02
21 650.22
21 650.27
21 650.24
21 652.59
21 650.25
21 650.23
21 650.22
21.650.26

138 363.20
138 364.54
138 361.14
138 362.55
138 365.10
138 357.96
138 363.28
138 363.06
138 359.16
138 347.59
138 359.22
138 362.22
138 360.63
138 357.13
138 361.35
138 362.46
138 361.87
138 411.49
138 362.01
138 361.65
138 361.46
138 363.29

55
45
35
25

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

15

19
84

Biomas dan Hasil tangkapan


(ribu ton)

86

Tahun
biomas opt. i=15%

hsl tgkpn opt. i=15%

biomas opt. i=5.66%

hsl tgkpn opt. i=5.66%

Gambar 29 Biomas dan hasil tangkapan optimal ikan pelagis kecil pada
discount rate 15% dan 5.66%.
Perbandingan hasil tangkapan aktual, lestari dan optimal untuk ikan pelagis
kecil dapat dilihat pada Tabel 21 dan Gambar 30. Pada Gambar 30 terlihat
bahwa pada tahun 1984 sampai dengan 1992 hasil tangkapan aktual masih
berada di bawah hasil tangkapan lestari dan optimal, kemudian tahun 1993
sampai dengan 2001 terjadi peningkatan hasil tangkapan aktual sehingga
melewati hasil tangkapan lestari dan optimal, selanjutnya tahun 2002 terjadi
penurunan hasil tangkapan sehingga kembali berada di bawah hasil tangkapan
lestari dan optimal, tahun 2003 hasil tangkapan aktual berada di atas hasil
tangkapan lestari tetapi hampir sama dengan hasil tangkapan optimal. Terakhir
tahun

2004 hasil tangkapan berada di bawah hasil tangkapan optimal dan

hampir sama dengan hasil tangkapan lestari. Secara rata-rata hasil tangkapan
aktual dari ikan pelagis kecil telah berada di atas hasil tangkapan lestari akan
tetapi masih berada di bawah hasil tangkapan yang optimal.
Tabel 21 Perbandingan hasil tangkapan aktual, lestari dan optimal untuk
Ikan pelagis kecil
Tahun
Aktual
1984
1985
1986
1987
1988
1989

9 397.10
8 764.90
10 395.80
11 801.10
13 560.20
13 575.30

Hasil tangkapan (ton)


Lestari
Optimal
(DR 15%)
15 067.43
22 042.33
15 142.69
22 042.39
16 995.73
22 042.24
18 495.53
22 042.26
19 944.23
22 042.42
20 233.87
22 042.10

Optimal
(DR 5.66%)
21 650.31
21 650.37
21 650.21
21 650.23
21 650.40
21 650.06

87

14 317.13
14 739.40
19 336.00
21 580.20
22 566.10
23 024.00
26 362.30
29 709.11
29 928.50
33 833.50
32 090.50
33 612.00
17 522.80
22 005.80
15 988.60
20 195.73

20 350.67
20 473.67
21 380.40
20 356.11
19 359.12
18 839.55
19 655.59
20 252.02
21 009.47
21 614.13
20 614.13
21 791.81
19 242.75
17 268.10
15 640.08
19 225.11

22 042.34
22 042.33
22 042.15
22 041.64
22 042.16
22 042.99
22 042.22
22 042.06
22 042.25
22 042.30
22 042.28
22 044.48
22 042.28
22 042.27
22 042.26
22.042.37

21 650.31
21 650.30
21 650.11
21 649.57
21 649.12
21 650.26
21 650.18
21 650.02
21 650.22
21 650.27
21 650.24
21 652.59
21 650.25
21 650.23
21 650.22
21.650.26

40
35
30
25
20
15
10

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

19
84

Hasil tangkapan (ribu ton)

1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
Rataan

Tahun
optimal i=15%

optimal i=5.66%

aktual

lestari

Gambar 30 Perbandingan hasil tangkapan ikan pelagis kecil


pada kondisi aktual, lestari dan optimal.
Apabila sumberdaya perikanan pelagis kecil dikelola secara optimal maka
hasil tangkapan harus mengikuti trajektori optimal (Gambar 30), yaitu sebesar
22 042.37 ton untuk discount rate 15% dan 21 650.26 ton untuk discount rate
5.66%. Sementara input yang harus digunakan mengikuti trajektori optimal untuk
masing-masing discount rate berturut-turut adalah pada tingkat 147 531.45 trip
dan 138 863.29 trip.
Rente optimal pengelolaan sumberdaya pelagis besar dapat dilihat pada
Tabel 22. Selama periode pengamatan rente optimal pelagis besar baik dengan
menggunakan discount rate 15% maupun 5.66% memperlihatkan trend yang

88

meningkat (Gambar 31). Rata-rata nilai rente optimal adalah sebesar Rp 21.38

70
60
50
40
30
20

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

10
0
19
84

Rente (Rp milyar)

milyar untuk discount rate 15% dan Rp 21.71 milyar untuk discount rate 5.66%.

Tahun
Rentopt i=15%

Rentopt i=5.66%

Gambar 31 Rente optimal untuk pengelolaan sumberdaya


ikan pelagis besar.
Tabel 22 Rente optimal sumberdaya ikan pelagis besar (Rp juta)
Tahun

1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

Discount Rate 15%


Discount Rate 5.66%
Rente optimal PV
Rente Rente optimal PV
Rente
Optimal
Optimal
4 835.28
32 235.21
4 908.55
83 148.81
5 650.36
37 669.05
5 735.98
97 167.18
6 267.36
41 784.34
6 362.19
107 709.16
6 214.83
41 432.18
6 309.02
106 876.11
6 875.71
45.838.05
6 979.90
118 242.02
6 199.73
41 331.51
6 293.64
106 606.93
7 584.77
50 565.15
7 699.72
130 432.95
7 944.42
52 962.78
8 064.81
136.616.24
7 331.77
48 878.44
7 442.93
126 080.86
7 972.58
53 150.53
8 093.38
137 102.23
11 058.55
73 723.70
11 226.14
190 167.65
10 570.99
70 473.28
10 730.71
181 785.29
10 454.13
69 694.17
10 615.85
179 751.90
7 501.51
50 010.04
7 618.08
129 112.44
26 064.94
173 766.24
26 457.96
448 222.92
47 061.85
313 745.65
47 772.04
809 182.36
50 269.38
335 129.23
51 030.49
864 388.26
53 566.43
357 109.54
54 380.49
921 084.67
53 529.85
356 865.63
54 349.27
920 532.16
54 321.44
362 142.92
55 137.65
934 368.23
57 731.96
384 879.75
58 606.82
992 793.07

89

Rente optimal untuk pengelolaan pelagis kecil dapat dilihat pada Tabel 23.
Sama halnya dengan sumberdaya pelagis besar, rente optimal untuk
sumberdaya pelagis kecil sepanjang kurun waktu pengamatan juga memiliki
kecendrungan meningkat baik untuk discount rate 15% maupun 5.66% (Gambar
32). Nilai rente optimal rata-rata untuk discount rate 15% adalah sebesar Rp
24.14 milyar dan Rp 24.95 milyar untuk discount rate 5.66%. Nilai rente optimal
yang cukup besar ini baik untuk sumberdaya pelagis besar maupun pelagis kecil
seharusnya dapat diterima oleh pemerintah selaku pengelola sumberdaya
tentunya akan memberikan manfaat bagi pembangunan perikanan, karena rente
tersebut dapat dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarna
perikanan maupun untuk dikembalikan untuk pemulihan/perbaikan sumberdaya
perikanan.

Tabel 23 Rente optimal sumberdaya ikan pelagis kecil (Rp juta)


Tahun

1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

Discount Rate 15%


Discount Rate 5.66%
Rente optimal PV
Rente Rente optimal PV
Rente
Optimal
Optimal
5 459.63
36 397.51
5 643.22
99 703.61
6 380.01
42 533.42
6 594.57
116 511.88
7 076.08
47 173.86
7 314.01
129 222.71
7 017.52
46 783.47
7 253.43
128 152.44
7 763.76
51 758.38
8 024.86
141 781.94
7 000.42
46 669.48
7 235.77
127 840.40
8 564.27
57 095.16
8 852.27
156 400.48
8 970.33
59 802.21
9 271.98
163 815.84
8 278.73
55 191.52
8 557.06
151 184.75
9 002.83
60 018.85
9 305.33
164 405.10
12 486.80
83.245.34
12 905.39
228 010.42
11 936.98
79 579.86
12 337.52
217 977.43
11 803.49
78 689.93
12 200.35
215 553.91
8 474.46
56 496.38
8 759.35
154 758.78
29 430.71
196 204.76
30 420.30
537 461.20
53 135.30
354 235.31
54 922.02
970 353.80
56 760.31
378 402.05
58 668.83
1 036 551.75
60 468.73
403 402.05
62 507.15
1 104 366.61
60 442.90
402 952.67
62 475.32
1 103 804.19
61 340.10
408 933.98
63 402.59
1 120 187.16
65 187.87
434 585.79
67 379.72
1 190 454.41

04
20

20

02

00
20

98
19

96
19

94
19

92
19

88

90
19

19

19

19

86

80
70
60
50
40
30
20
10
0
84

Rente optimal (Rp milyar)

90

Tahun
Rent optimal i=15%

Rent optimal i=5.66%

Gambar 32 Rente optimal untuk pengelolaan sumberdaya ikan pelagis kecil

5.6. Degradasi Sumberdaya Ikan


Laju degradasi sumberdaya ikan pelagis besar dan pelagis kecil dapat
dilihat pada Tabel 24 dan Gambar 33. Laju degradasi sumberdaya ikan pada
awal-awal periode pengamatan masih rendah akan tetapi dengan meningkatnya
eksploitasi sumberdaya ikan maka laju degradasi juga semakin meningkat. Hal
ini dapat dilihat pada Gambar 34, 35, 36 dan 37. Laju degradasi memiliki pola
yang hampir sama dengan produksi dan effort, laju degradasi akan meningkat
apabila hasil tangkapan dan effort meningkat begitu juga sebaliknya laju
degradasi akan menurun apabila hasil tangkapan dan effort menurun.

Tabel 24 Perkembangan tingkat degradasi sumberdaya


ikan pelagis besar dan ikan pelagis kecil
Tahun
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991

Sumberdaya Ikan
Pelagis Besar
Pelagis kecil
0.14
0.17
0.16
0.15
0.17
0.16
0.18
0.17
0.22
0.19
0.27
0.18
0.29
0.19
0.28
0.20

91

1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
Rataan

0.25
0.20
0.25
0.27
0.28
0.30
0.32
0.33
0.32
0.32
0.21
0.23
0.25
0.25

0.25
0.28
0.30
0.31
0.32
0.34
0.33
0.35
0.35
0.34
0.25
0.31
0.27
0.26

Koefisien degradasi

0.40
0.35
0.30
0.25
0.20
0.15
0.10
0.05

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

19
84

0.00

Tahun
pelagis besar

pelagis kecil

Gambar 33 Perkembangan nilai koefisien degradasi sumberdaya


ikan pelagis besar dan pelagis kecil.

20
15
10
5
0

Hasil tangkapan (ribu ton)

25

0,40
0,35
0,30
0,25
0,20
0,15
0,10
0,05
0,00
19
19 84
19 85
19 86
19 87
19 88
19 89
19 90
19 91
19 92
19 93
19 94
19 95
19 96
19 97
19 98
20 99
20 00
20 01
20 02
20 03
04

Koefisien Degradasi

92

Tahun
Koefisien Degradasi

hasil tangkapan aktual

40
35
30
25
20
15
10
5
0

Hasil tangkapan (ribu ton)

0,40
0,35
0,30
0,25
0,20
0,15
0,10
0,05
0,00
19
19 84
19 85
19 86
19 87
19 88
19 89
19 90
19 91
19 92
19 93
19 94
19 95
19 96
19 97
19 98
20 99
20 00
20 01
20 02
20 03
04

Koefisien degradasi

Gambar 34 Perbandingan laju degradasi dengan hasil tangkapan


aktual ikan pelagis besar.

Tahun
Koef degradasi

Hasil tangkapan aktual

Gambar 35 Perbandingan laju degradasi dengan hasil tangkapan aktual


ikan pelagis kecil.

30
25
20
15
10

Effort (ribu trip)

35

0,40
0,35
0,30
0,25
0,20
0,15
0,10
0,05
0,00

5
0

19
19 84
19 85
19 86
19 87
19 88
19 89
19 90
19 91
19 92
19 93
19 94
19 95
19 96
19 97
19 98
20 99
20 00
20 01
20 02
20 03
04

Koefisien Degradasi

93

Tahun
Koefisien Degradasi

Effort

160
140
120
100
80
60
40
20
0

Effort (ribu trip)

0,40
0,35
0,30
0,25
0,20
0,15
0,10
0,05
0,00
19
19 84
19 85
19 86
19 87
19 88
19 89
19 90
19 91
19 92
19 93
19 94
19 95
19 96
19 97
19 98
20 99
20 00
20 01
20 02
20 03
04

Koefisien degradasi

Gambar 36 Perbandingan laju degradasi dengan effort


ikan pelagis besar.

Tahun
Koef degradasi

Effort

Gambar 37 Perbandingan laju degradasi dengan effort ikan


pelagis kecil.
5.7. Depresiasi Sumberdaya Ikan
Hasil perhitungan depresiasi sumberdaya ikan pelagis besar dapat dilihat
pada Tabel 25.

Dari 21 tahun pengamatan,

depresiasi terjadi dalam kurun

waktu 7 tahun yaitu pada tahun 1987, 1989, 1992, 1995, 1996, 1997 dan 2003
dengan nilai berkisar antara Rp

451.83 juta sampai Rp 24.32 milyar atau

94

diperkirakan sebesar 56.95 milyar untuk market discount rate 15% dan antara
1.20 milyar sampai 64.47 milyar atau sebesar 150.94 milyar untuk perhitungan
menggunakan real discount rate sebesar 5.66%. Rata-rata present value untuk
kedua tingkat suku bunga berturut-turut adalah 142.22 milyar dan 376.91 milyar.
Depresiasi terendah terjadi tahun 1987 dan tertinggi terjadi pada tahun 1997
(Gambar 38). Bila dilihat nilai depresiasi di atas merupakan kehilangan yang
cukup besar dan cukup signifikan untuk mengurangi rente sumberdaya.
Perhitungan present value dan depresiasi menggunakan discount rate dari kulla
yang lebih konservatif memberikan nilai yang lebih tinggi bila dibandingkan
dengan market discount rate. Perbandingan laju depresiasi sumberdaya ikan
pelagis besar sesuai dengan perkembangan effort seperti pada Gambar 39 dan
40.

Tabel 25 Perubahan depresiasi sumberdaya ikan pelagis besar


Tahun

1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

Rente
Lestari
(Rp juta)

4 843.42
5 750.84
6 520.28
6 452.51
6 773.29
5 710.43
7 687.45
7 822.67
7 618.21
8 234.50
11 150.03
10 971.47
10 817.48
7 169.80
27 125.29
47 281.02
51 575.01
52 943.10
54 802.92
51 575.04
55 172.45

PV
Rente
Lestari 15%
(Rp juta)

PV
Rente
Lestari 15%
(Rp juta)

PV
Rente
Lestari 5,56%
(Rp juta)

PV Rente
Lestari
5,56% (Rp
juta)

32 289.44
38 338.91
43 468.55
43 016.72
45 155.30
38 069.51
51 249.67
52 151.15
50 788.07
54 896.69
74 333.53
73 143.11
72 116.50
47 798.70
180 835.28
315 206.80
343 833.42
352 953.99
365 352.80
343 833.60
367 816.35

32 289.44
6 049.47
5 129.64
-451.83
2 138.57
-7 085.78
13 180.16
901.48
-1 363.08
4 108.62
19 436.84
-1 190 42
-1 026.61
-24 317.81
133 036.58
134 371.52
28 626.62
9 120.58
12 398.80
-21 519.20
23 982.75

85 572.73
101 604.89
115 199.35
114 001.92
119 669.51
100 890.93
135 820.69
138 209.76
134 597.36
145 485.92
196 996.98
193 842.17
191 121.48
126 674.99
479 245.44
835 353.71
911 219.32
935 390.46
968 249.46
911 219.79
974 778.31

85 572.73
16 032.16
13 594.46
-1 197.43
5 667.59
-18 778.58
34 929.75
2 389.07
-3 612.40
10 888.56
51 511.06
-3 154.81
-2 720.69
-64 446.48
352 570.45
356 108.28
75 865.60
24 171.14
32 859.01
-57 029.67
63 558.52

95

400
300
250
200
150
100
50
2004

2002

2000

1998

1996

1994

1992

1990

-100

1988

-50

1986

0
1984

Depresiasi (Rp milyar)

350

Tahun
Depresiasi i=15%

Depresiasi i=5.66%

35
30
25
20
15
10

Effort (ribu trip)

160
140
120
100
80
60
40
20
0
-20
-40

1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

Depresiasi (Rp milyar)

Gambar 38 Perkembangan nilai depresiasi sumberdaya ikan pelagis


besar pada discount rate 15% dan 5.66%.

5
0

Tahun
Depresiasi i=15%

effort

Gambar 39 Perkembangan nilai depresiasi dan effort sumberdaya ikan


pelagis besar pada discount rate 15%.

96

35

25
200

20

100

15
10

0
-100

Effort (ribu trip)

30

300

1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

Depresiasi (Rp milyar)

400

5
0

Tahun
Depresiasi i=5.66%

effort

Gambar 40 Perkembangan nilai depresiasi dan effort sumberdaya ikan


pelagis besar pada discount rate 5.66%
Tabel 26 dan Gambar 41 memperlihatkan perkembangan perubahan
depresiasi sumberdaya ikan pelagis kecil, dimana dari 21 tahun pengamatan,
depresiasi sumberdaya ikan pelagis kecil terjadi selama kurun waktu 6 tahun
yaitu pada tahun 1989, 1992, 1995, 1996, 1997 dan tahun 2003, dengan nilai
berkisar antara 265.02 juta sampai 24.05 milyar atau diperkirakan sebesar 52.63
milyar untuk market discount rate 15% dan antara 702.34 juta sampai 63.73
milyar atau sebesar 139.49 milyar untuk discount rate 5.66%. Rata-rata present
value untuk kedua discount rate berturut-turut adalah: 167.89 milyar dan 444.88
milyar. Berdasarkan hasil tersebut, dengan menggunakan discount rate yang
lebih rendah menghasilkan rata-rata present value dan nilai depresiasi yang lebih
tinggi.

Perbandingan laju depresiasi sumberdaya ikan pelagis besar sesuai

dengan perkembangan effort seperti pada Gambar 42 dan 43.

Tabel 26 Perubahan depresiasi sumberdaya ikan pelagis kecil


Tahun

1984
1985
1986
1987

Rente
Lestari
(Rp juta)

5 172.01
6 065.40
7 246.29
7 478.47

PV
Rente
Lestari 15%
(Rp juta)

PV Rente
Lestari 15%
(Rp juta)

PV
Rente
Lestari 5.66%
(Rp juta)

PV Rente
Lestari
5.66% (Rp
juta)

34 480.06
40 436.03
48 308.61
49 856.45

34 480.06
5 955.97
7 872.58
1 547.83

91 378.25
107 162.63
128 026.36
132 128.40

91 378.25
15 784.38
20 863.73
4 102.03

97

8 394.05
7 559 14
9 238.63
9 662.63
8 691.75
9 710.45
13 470.36
12 796.43
12 755.68
9 149.53
31 344.51
55 073.12
61 012.31
61 914.08
65 134.31
63 365.98
63 545.81

55 960.33
50 394.24
61 590.87
64 418.87
57 945.01
64 736.35
89 802.38
85 309.53
85 044.51
60 996.84
208 963.42
367 154.12
406 748.76
412 760.53
434 228.73
422 439.89
423 638.76

6 103.88
-5 566.09
11 196.63
2 828.01
-6 473.86
6 791.33
25 066.03
-4 492.85
-265.02
-24 047.67
147 966.57
158 190.71
39 594.64
6 011.77
21 468.20
-11 788.84
1 198.87

148 304.75
133 553.64
163 226.68
170 721.39
153 564.52
171 562.75
237 992.18
226 085.33
225.382.99
161 652.41
553 789.97
973 023.30
1 077 956.08
1 093 888.33
1 150 782.86
1 119 540.35
1 122 717.57

16 176.35
-14 751.11
29 673.05
7 494.71
-17 156.87
17 998.23
66 429.42
-11 906.84
-702 35
-63 730.57
392 137.55
419 233.33
104 932.78
15 932.25
56 894.53
-31 242.51
3 177.23

500
400
300
200
100

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

-100

19
86

0
19
84

Nilai Depresiasi (Rp milyar)

1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

Tahun
Depresiasi i=15%

Depresiasi i=5.66%

Gambar 41 Perkembangan nilai depresiasi sumberdaya ikan pelagis


kecil pada discount rate 15% dan 5.66%.

98

160
120
100

100

80
50

60
40

0
-50

Effort (ribu trip)

140
150

1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

Depresiasi (Rp milyar)

200

20
0

Tahun
Depresiasi i=15%

effort

Gambar 42 Perkembangan nilai depresiasi dan effort sumberdaya ikan


pelagis kecil pada discount rate 15%

160
120

300

100

200

80
60

100

40
0
-100

Effort (ribu trip)

140

400

1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

Depresiasi (Rp milyar)

500

20
0

Tahun
Depresiasi i=5.66%

effort

Gambar 43 Perkembangan nilai depresiasi dan effort sumberdaya


ikan pelagis kecil pada discount rate 5.66%.
5.8 Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan
Rezim

pengelolaan

sumberdaya

perikanan

yang

berbeda

akan

menghasilkan produksi, effort, biomas dan rente ekonomi yang berbeda pula.
Hal ini dapat dilihat dari hasil perbandingan rezim pengelolaan pada kondisi
maximum economic yield (MEY), maximum sustainable yield (MSY), dan open
access (OA) menggunakan fungsi produksi Gompertz. Hasil perbandingan ke
tiga rezim ini untuk biomas, produksi, effort dan rente ekonomi sumberdaya ikan

99

pelagis besar dapat dilihat pada Gambar 44 dan 45. Biomas tertinggi terdapat
pada kondisi MEY yaitu sebesar 26 599.61 ton, kemudian pada kondisi MSY
sebesar 16 929.23 ton dan terendah pada kondisi OA sebesar 12 019.17 ton.
Untuk produksi tertinggi terdapat pada kondisi MSY sebesar 15 044.16 ton,
kemudian pada kondisi OA sebesar 14 339.43 ton dan terendah pada kondisi
MEY sebesar 12 956.61 ton, sedangkan untuk effort tertinggi terdapat pada
kondisi OA sebesar 49 279.09 trip, selanjutnya pada kondisi MSY sebesar 36
705.90 trip dan terendah pada kondisi MEY sebanyak 20 120.15 trip. Untuk
rente ekonomi tertinggi terdapat pada kondisi MEY sebesar Rp. 60.26 milyar,
kemudian pada kondisi MSY sebesar Rp 37.02 milyar dan pada kondisi OA tidak
diperoleh rente ekonomi (0).

30000

Biomas (ton)

25000
20000
15000
10000
5000
0
MEY

MSY

Open acces

Rezim pengelolaan

Gambar 44 Rezim pengelolaan biomas ikan pelagis besar.

60000

70000

50000

60000

40000

50000

30000

40000
30000

20000

20000

10000

10000

0
MEY

MSY

Open
acces

aktual
(2004)

rente ekonomi (Rp Juta)

Hasil tangkapan (ton),


effort (trip)

100

rata-rata

Rezim Pengelolaan Pelagis Besar


hasil tangkapan

effort

rente ekonomi

Gambar 45 Rezim pengelolaan hasil tangkapan, effort dan rente ekonomi


ikan pelagis besar.

Bila dibandingkan dengan kondisi aktual tahun 2004, untuk hasil tangkapan
dan effort berada di bawah rezim MEY dan MSY sedangkan untuk rente ekonomi
lebih tinggi dibandingkan rezim MSY tetapi di bawah MEY, sedangkan untuk
rata-rata sepanjang tahun pengamatan, hasil tangkapan berada di bawah ke tiga
rezim, untuk effort berada antara MEY dan MSY dengan rente ekonomi yang
lebih rendah dari ke dua rezim tersebut.

Untuk lebih jelasnya perbandingan

antara ke tiga rezim dengan kondisi aktual dan rata-rata ikan pelagis besar dapat
dilihat pada Tabel 27.
Tabel 27 Perbandingan rezim pengelolaan MSY, MEY dan
open access dengan kondisi aktual dan rata-rata
ikan pelagis besar
Effort
(trip)

Nilai Rente
(Rp milyar)

MSY

Hasil
tangkapan
(ton)
15 044.16

36 705.90

37.02

MEY

12 956.91

20 120.15

60.26

Open Access

14 339.43

49 279.09

Aktual (2004)

9 702.50

13 603.42

48.74

Rata-rata

12 827.37

22 216.93

24.13

Rezim
Pengelolaan

101

Selanjutnya perbandingan rezim pengelolaan pada kondisi maximum


economic yield (MEY), maximum sustainable yield (MSY), dan open acces (OA)
untuk biomas, produksi, effort dan rente ekonomi sumberdaya ikan pelagis kecil
dapat dilihat pada Gambar 46 dan 47. Biomas tertinggi terdapat pada kondisi
MEY yaitu sebesar 53 360.06 ton, kemudian pada kondisi MSY sebesar 34
207.87 ton dan terendah pada kondisi OA sebesar 23 724.24 ton.

Untuk

produksi tertinggi terdapat pada kondisi MSY sebesar 22 938.09 ton, kemudian
pada kondisi OA sebesar 21 730.06 ton dan terendah pada kondisi MEY sebesar
19 872.30 ton, sedangkan untuk effort tertinggi terdapat pada kondisi OA
sebanyak 270 989.17 trip, selanjutnya pada kondisi MSY sebanyak 198 387.57
trip dan terendah pada kondisi MEY sebanyak 110 183.12 trip. Untuk rente
ekonomi tertinggi terdapat pada kondisi MEY sebesar Rp. 70.47 milyar,
kemudian pada kondisi MSY sebesar Rp 44.89 milyar dan pada kondisi OA tidak
diperoleh rente ekonomi (0).

60000

Biomas (ton)

50000
40000
30000
20000
10000
0
MEY

MSY

Open acces

Rezim pengelolaan

Gambar 46 Rezim pengelolaan biomas ikan pelagis kecil.

Hasil tangkapan (ton),


effort (trip)

300000

80000
70000
60000
50000
40000
30000
20000
10000
0

250000
200000
150000
100000
50000
0
MEY

MSY

Open
acces

aktual
(2004)

rente ekonomi (Rp juta)

102

rata-rata

Rezim pengelolaan pelagis kecil


hasil tangkapan

effort

rente ekonomi

Gambar 47 Rezim pengelolaan hasil tangkapan, effort dan rente ekonomi


ikan pelagis kecil
Bila dibandingkan dengan kondisi aktual tahun 2004, untuk tingkat hasil
tangkapan dan effort berada di bawah ketiga rezim, untuk rente ekonomi berada
antara MSY dan MEY, selanjutnya untuk rata-rata sepanjang tahun pengamatan,
hasil tangkapan dan effort berada di antara rezim MEY dan MSY dengan rente
ekonomi yang lebih rendah dari ke dua rezim tersebut. Untuk lebih jelasnya
perbandingan antara ke tiga rezim dengan kondisi aktual dan rata-rata ikan
pelagis kecil dapat dilihat pada Tabel 28.

Tabel 28 Perbandingan rezim pengelolaan MSY, MEY dan


open access dengan kondisi aktual dan rata-rata
ikan pelagis kecil
Rezim
Pengelolaan
MSY

Hasil tangkapan
(ton)
22 938.09

Effort
(trip)
198 387.57

Nilai Rente
(Rp milyar)
44.89

MEY

19 872.30

110 183.12

70.47

Open Access

21 730.06

270 989.17

Aktual (2004)

15 988.6

71 682.64

65.60

Rata-rata

20 195.73

106 177.72

36.21

103

Berdasarkan hasil perbandingan ketiga rezim pengelolaan di atas, untuk


mencapai pengelolaan yang optimal, maka rezim yang paling tepat digunakan
adalah rezim maximum economic yield (MEY)

dimana dengan effort yang

rendah, produksi yang lebih rendah dibandingkan MSY diperoleh rente ekonomi
yang tertinggi. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Millon et al. 1995,
bahwa rezim MEY lebih konservatif dibandingkan rezim MSY dan Open access.

5.9. Aspek Kesejahteraan Produsen


Dengan menggunakan parameter biofisik dan ekonomi yang ada, sesuai
dengan metode yang diuraikan sebelumnya maka diperoleh surplus produsen
untuk setiap tahunnya baik untuk pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis besar
maupun pelagis kecil, seperti pada Tabel 29.

Surplus yang seharusnya dapat

diterima nelayan setiap tahunnya untuk pemanfaatan sumberdaya pelagis besar


berkisar antara Rp 32.72 milyar sampai dengan Rp 396.55 milyar atau rata-rata
sebesar Rp 144.92 milyar, sedangkan untuk sumberdaya ikan pelagis kecil
berkisar antara Rp 38.43 milyar sampai dengan Rp 458.85 milyar atau rata-rata
sebesar Rp 170.16 milyar. Surplus produsen untuk pemanfaatan sumberdaya
ikan pelagis besar dan kecil memiliki kecenderungan mengalami peningkatan
setiap tahunnya, akan tetapi terjadinya peningkatan yang cukup besar antara
tahun 1997 dengan tahun 1998 disebabkan karena terjadinya krisis moneter
yang menyebabkan turunnya nilai rupiah terhadap dollar Amerika (Gambar 48).

Tabel 29 Nilai Surplus Produsen untuk sumberdaya ikan pelagis


besar dan pelagis kecil
Tahun
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992

Surplus Produsen (Rp juta)


Pelagis Besar
Pelagis Kecil
32 716.65
38 430.09
38 223.84
44 909.00
42 392.17
49 807.33
42 040.10
49 394.42
46 511.74
54 646.63
41 937.35
49 271.68
51 307.57
60 280.10
53 739.91
63 156.07
49 596.67
58 258.08

104

53 946.21
74 804.67
71 509.18
70 711.89
50 767.81
176 314.60
318 323.40
340 039.76
362 340.06
362 102.19
367 496.98
396 548.77
144 922.45

63 366.63
87 888.70
84 014.11
83 079.82
59 646.73
207 207.99
373 991.36
399 508.99
425 835.64
429 926.55
431 861.96
458 849.45
170 158.63

500000
400000
300000
200000
100000

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

0
19
84

Surplus produsen (Rp juta)

1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
Rata-rata

Tahun
pelagis besar

pelagis kecil

Gambar 48 Perkembangan Surplus Produsen untuk pemanfaatan


sumberdaya ikan pelagis besar dan kecil.
Surplus produsen merupakan surplus yang diterima oleh produsen yang
merupakan selisih antara penerimaan dengan biaya yang digunakan dalam
kegiatan

perikanan.

Surplus

produsen

juga

menggambarkan

tingkat

kesejahteraan nelayan dengan adanya pemanfaatan sumberdaya ikan melalui


kegiatan penangkapan. Dengan kecenderungan terjadinya peningkatan surplus
produsen setiap tahunnya hal ini juga menggambarkan terjadinya peningkatan
kesejahteraan nelayan dari tahun ke tahun. Akan tetapi bila dilihat kenyataan di
lapangan tingkat kesejahteraan nelayan masih memprihatinkan dan tidak terjadi
perbaikan yang signifikan setiap tahunnya. Hal ini karena surplus produsen itu
sendiri baru akan diperoleh oleh produsen apabila pengelolaan sumberdaya

105

dilakukan secara optimal. Hal ini juga dapat dilihat dari perbandingan antara
surplus produsen dengan rente aktual/penerimaan bersih yang diterima oleh
produsen, dimana rente aktual jauh lebih kecil dibandingkan dengan surplus
produsen (Gambar 49 dan 50).

Hal ini juga dapat dilihat dari nilai rata-rata

surplus produsen dengan penerimaan riil yang diperoleh produsen saat ini
dimana nilai surplus produsen lebih besar karena untuk pelagis besar rata-rata
penerimaan bersih adalah sebesar Rp 24.13 milyar sedangkan untuk ikan

500000

500000

400000

400000

300000

300000

R p ju ta

R p ju t a

pelagis kecil penerimaan sebesar Rp 36.21 milyar.

200000
100000

200000
100000

Tahun
surplus produsen

02

00

98

04
20

20

20

96
19

19

92

94
19

19

90

88
19

19

84

86
19

19

02

00

98

96

94

92

90

88

04
20

20

20

19

19

19

19

19

19

84
19

19

86

Tahun

rente aktual

Gambar 49
Perbandingan surplus produsen
dan rente aktual pelagis besar.

surplus produsen

rente aktual

Gambar 50
Perbandingan surplus produsen
dan rente aktual pelagis kecil.

5.10 Kapasitas Perikanan Tangkap


5.10.1 Efisiensi perikanan tangkap
Pengukuran efisiensi perikanan tangkap dilakukan dengan menggunakan
data sekunder (time series) dan data primer.

Hasil analisis unit fisik

menggunakan software GAMS dan DEA Solver untuk sumberdaya ikan pelagis
besar disajikan pada Tabel 30 dan Gambar 51.

Analisis dilakukan dengan

menggunakan time reference terdiri dari tiga saat pengamatan yaitu di awal
tahun pengamatan (1984), periode pertengahan tahun (1994) dan akhir periode
pengamatan (2004). Dalam analisis ini sebagai output adalah produksi aktual
dan lestari sedangkan sebagai input adalah effort per tahun.

Tabel 29

memperlihatkan, dengan time reference awal tahun pengamatan (1984),


efisiensi tertinggi terjadi awal dan akhir periode pengamatan (1984, 2003 dan
2004) dan terendah terjadi pada tahun 1989. Pada periode setelah 1984 terjadi
penurunan efisiensi hal ini disebabkan terjadinya peningkatan input. Selanjutnya
pada tahun 2003 terjadi kembali peningkatan efisiensi hal ini disebabkan oleh

106

terjadinya penurunan input dan yang diikuti juga dengan penurunan produksi
akan tetapi dengan catch per unit effort (CPUE) yang lebih tinggi.

Tabel 30 Skor efisiensi unit fisik DEA untuk ikan pelagis besar
Tahun
1984
0.94
0.89
0.80
0.79
0.71
0.66
0.75
0.71
0.75
0.72
0.70
0.80
0.79
0.69
0.81
0.74
0.77
0.72
0.76
1.00
1.00

1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

1994
0.72
0.73
0.66
0.67
0.65
0.69
0.82
0.76
0.74
0.66
0.72
0.84
0.86
0.79
1.00
0.97
0.96
0.88
0.68
0.96
1.00

Skor DEA
2004
Min
0.92
0.73
0.88
0.73
0.79
0.66
0.78
0.67
0.71
0.65
0.67
0.66
0.76
0.75
0.72
0.71
0.76
0.74
0.72
0.66
0.71
0.70
0.80
0.80
0.80
0.79
0.70
0.69
0.83
0.81
0.76
0.74
0.79
0.77
0.74
0.72
0.76
0.68
1.00
0.96
1.00
1.00

Max
0.94
0.89
0.80
0.79
0.71
0.69
0.82
0.77
0.76
0.72
0.72
0.84
0.86
0.79
1.00
1.00
1.00
0.88
0.76
1.00
1.00

1.00
0.90
0.80
0.70
0.60

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

0.50
19
84

Skor Efisiensi DMU

1.10

Tahun

Gambar 51 Trajektori Skor Efisiensi DEA ikan Pelagis Besar

Avg
0.86
0.83
0.75
0.75
0.69
0.67
0.78
0.73
0.75
0.70
0.71
0.81
0.82
0.72
0.88
0.82
0.84
0.78
0.73
1.00
1.00

107

Untuk mencapai tingkat efisiensi perlu dilakukan upaya perbaikan efisiensi.


Potensi perbaikan efisiensi penangkapan pelagis besar ini adalah dengan
menurunkan effort dan meningkatkan produksi aktual (Lampiran 19). Sepanjang
periode pengamatan potensi perbaikan effort berkisar antara 0% sampai dengan
31.42%. Dengan perbaikan effort ini akan dapat meningkatkan produksi aktual
berkisar antara 0% sampai dengan 55.64%.

Hasil penilaian efisiensi untuk

sumberdaya pelagis kecil disajikan pada Tabel 31 dan Gambar 52. Efisiensi
yang tinggi terjadi pada awal periode pengamatan (1984,1985,1986) kemudian
berfluktuasi naik turun sampai terjadi efisiensi terendah pada tahun 2001,
selanjutnya pada tahun 2003 dan 2004 terjadi lagi peningkatan efisiensi yang
disebabkan terjadinya penurunan input yang diikuti juga dengan penurunan
produksi akan tetapi dengan catch per unit effort (CPUE) yang lebih tinggi.

Skor Efisiensi DMU

1.10
1.00
0.90
0.80
0.70
0.60

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

19
84

0.50

Tahun

Gambar 52 Trajektori skor efisiensi DEA ikan pelagis kecil


Tabel 31 Skor efisiensi unit fisik DEA untuk ikan pelagis kecil
Tahun
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997

1984
1.00
1.00
0.93
0.87
0.81
0.79
0.78
0.78
0.73
0.80
0.86
0.88
0.85
0.82

1994
0.92
0.91
0.86
0.81
0.75
0.74
0.74
0.73
0.71
0.81
0.88
0.92
0.90
0.89

Skor DEA
2004
Min
0.92
0.92
0.91
0.91
0.86
0.86
0.81
0.81
0.75
0.75
0.74
0.74
0.74
0.74
0.73
0.73
0.71
0.71
0.81
0.80
0.88
0.86
0.92
0.88
0.90
0.85
0.89
0.82

Max
1.00
1.00
0.93
0.87
0.81
0.79
0.78
0.78
0.73
0.81
0.88
0.92
0.90
0.89

Avg
0.95
0.94
0.88
0.83
0.77
0.75
0.75
0.75
0.72
0.80
0.87
0.91
0.88
0.87

108

1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

0.78
0.74
0.81
0.72
0.85
0.95
1.00

0.84
0.81
0.89
0.79
0.83
1.00
1.00

0.84
0.81
0.89
0.79
0.83
1.00
1.00

0.78
0.74
0.81
0.72
0.83
0.95
1.00

0.84
0.81
0.89
0.79
0.85
1.00
1.00

0.82
0.79
0.86
0.77
0.84
0.99
1.00

Untuk mencapai tingkat efisiensi perlu dilakukan upaya perbaikan efisiensi.


Potensi perbaikan efisiensi penangkapan pelagis kecil ini adalah dengan
menurunkan effort (Lampiran 8). Sepanjang periode pengamatan

potensi

perbaikan effort berkisar antara 0% sampai dengan 27.04%. Dengan perbaikan


effort ini akan dapat meningkatkan produksi aktual berkisar antara 0% sampai
dengan 7.75%. Bila dibandingkan potensi perbaikan antara ikan pelagis besar
dan pelagis kecil, ternyata prosentase potensi perbaikan lebih besar untuk ikan
pelagis besar.
Berdasarkan hasil perhitungan efisiensi relatif pelagis besar dapat diketahui
bagaimana kondisi kapasitas penangkapan ikan pelagis besar yaitu dengan cara
mengalikan antara effort aktual atau kapasitas input yang digunakan dengan
efisiensi relatif sehingga diperoleh kapasitas yang optimal.

Dari awal

pengamatan telah terjadi inefisiensi input sehingga terjadi kelebihan kapasitas


tangkap untuk menghasilkan output yang sama, selanjutnya pada akhir tahun
pengamatan (2004) terjadi peningkatan efisiensi sehingga kapasitas tangkap
aktual/kapasitas yang digunakan sama dengan kapasitas tangkap yang optimal
(Gambar 53).

109

35000

Effort (trip)

30000
25000
20000
15000
10000
5000

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

19
84

tahun
E rata

Effort akt

Eff effort

EE rata

Gambar 53 Perbandingan kapasitas pelagis besar pada kondisi


aktual dan optimal.
Untuk perikanan pelagis kecil telah terjadi kelebihan kapasitas perikanan
tangkap sejak awal periode pengamatan, karena seharusnya dengan input yang
lebih rendah akan dapat dihasilkan output yang sama, kapasitas yang sesuai
dengan kapasitas yang lestari baru terjadi pada akhir tahun pengamatan (2004)
dimana dengan nilai efisiensi relatif sama dengan 1 maka output yang dihasilkan

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

160000
140000
120000
100000
80000
60000
40000
20000
0
19
84

Effort (trip)

sebanding dengan input yang digunakan (Gambar 54).

Tahun
Effort

Eff effort

E rata

EE rata

Gambar 54 Perbandingan kapasitas pelagis kecil pada kondisi aktual


dan optimal.
Kelebihan kapasitas input setiap tahunnya untuk penangkapan ikan pelagis
sangat ditentukan oleh skor efisiensinya apabila efisiensi tinggi berarti kelebihan

110

input berkurang atau lebih sedikit (Gambar 55 dan 56). Kelebihan input ini
setiap tahunnya apabila dikonversikan ke dalam unit moneter untuk pelagis
besar rata-rata mencapai 3.52 milyar per tahun sedangkan untuk pelagis kecil

1.20

8000

1.00
0.80

6000

0.60
4000

0.40

2000

0.20

0.00

Skor Efisiensi

10000

19
19 84
19 85
19 86
19 87
19 88
19 89
19 90
19 91
19 92
19 93
19 94
19 95
19 96
19 97
19 98
20 99
20 00
20 01
20 02
20 03
04

Kapasitas input (trip)

rata-rata sebesar Rp 3.29 milyar (Tabel 32).

Tahun
kelebihan kapasitas

efisiensi

40000

1.20

35000

1.00

30000
0.80

25000
20000

0.60

15000

0.40

10000

Skor Efisiensi

Kapasitas input (trip)

Gambar 55 Hubungan efisiensi dengan kelebihan kapasitas input untuk


penangkapan ikan pelagis besar.

0.20

5000

0.00

19
8
19 4
1985
8
19 6
87
19
1988
8
19 9
9
19 0
1991
9
19 2
93
19
1994
9
19 5
9
19 6
9
19 7
9
19 8
9
20 9
0
20 0
0
20 1
0
20 2
2003
04

Tahun
kelebihan kap

efisiensi

Gambar 56 Hubungan efisiensi dengan kelebihan kapasitas input untuk


penangkapan ikan pelagis kecil
Perhitungan opportunity cost pada Tabel 32, dihitung dari biaya riil yang
digunakan setiap kali operasi penangkapan ikan (biaya per trip). Bila kelebihan

111

kapasitas

input

dikonversikan

kepada

jumlah

unit

kapal,

maka

untuk

penangkapan ikan pelagis besar yang menggunakan kapal motor tonda


kelebihan kapasitas input rata-rata sebesar 4 935.74 trip setara dengan 188 unit
kapal motor tonda, bila untuk investasi kapal tonda diperlukan dana sebesar
Rp 75 000 000,- maka akan diperoleh opportunity cost yang dapat diinvestasikan
kepada alat tangkap lain yang lebih efisien sebesar Rp 14,1 milyar, demikian
juga untuk penangkapan ikan pelagis kecil menggunakan kapal motor bagan,
dengan kelebihan kapasitas sebesar 17 869.58 setara dengan 196 unit kapal
bagan, bila untuk investasi kapal bagan diperlukan dana sebesar Rp 110 000
000,-maka akan menghasilkan nilai investasi sebesar Rp 21.56 milyar.

Bila

dibandingkan dengan kontribusi sub sektor perikanan terhadap PDRB pada


tahun 2004 dengan harga konstan (2000) mencapai 5.57%.
Tabel 32 Opportunity cost dari kelebihan kapasitas input
Tahun

1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
Rata-rata

Kelebihan
Nilai (Rp juta)
kapasitas
pelagis besar
(trip)
2 177.25
450.24
2 806.14
678.12
5 359.32
1 436.39
5 460.69
1 451.45
8 050.34
2 367.36
9 490.22
2 516.30
5 337.27
1 731.34
7 017.25
2 384.23
5 425.56
1 701.27
6 770.15
2 308.44
7 139.62
3 376.69
4 160.68
1 881.05
4 019.00
1 796.78
7 665.87
2 460.56
2 556.38
2 860.82
4 472.53
9 001.35
3 772.61
8 003.18
5 674.70
13 000.11
6 334.88
14 502.88
0
0
0
0
4 935.74
3 519.46

Kelebihan
Nilai (Rp juta)
kapasitas
pelagis kecil
(trip)
3 363.74
144.25
4 067.10
203.85
9 785.72
543.98
16 141.18
889.86
25 539.12
1 557.71
28 705.25
1 578.62
29 104.15
1 958.17
29 536.65
2 081.49
37 219.09
2 420.61
23 298.49
1 647.70
13 526.28
1 326.86
8 958.21
830.64
12 899.12
1 196.11
14 958.59
995.85
22 747.54
5 259.39
28 886.27
12 058.05
16 826.35
7 503.01
32 520.95
15 452.49
16 439.33
7 806.05
838.02
403.83
0
0
17 869.58
3 292.93

Apabila nilai kelebihan kapasitas perikanan setiap tahunnya dibandingkan


dengan rata-rata nilai kelebihan baik untuk ikan pelagis besar maupun untuk ikan

112

pelagis kecil (Gambar 57 dan 58) terlihat bahwa pada awal-awal periode
pengamatan nilainya masih di bawah rata-rata akan tetapi setelah tahun 1998
nilai kelebihan ini sudah di atas rata-rata yang menunjukkan bahwa telah tejadi
overkapasitas dan baru terjadi perbaikan kembali pada akhir periode

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

16000
14000
12000
10000
8000
6000
4000
2000
0

19
84

nilai kelebihan kapasitas (Rp juta)

pengamatan.

Tahun
trajektori per tahun

rata-rata

Tahun

trajektori per tahun

rata-rata

Gambar 58 Nilai kelebihan kapasitas sepanjang periode


pengamatan dibandingkan dengan rata-rata nilai
kelebihan kapasitas untuk ikan pelagis kecil

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

18000
16000
14000
12000
10000
8000
6000
4000
2000
0

19
84

Nilai kelebihan kapasitas (Rp juta)

Gambar 57 Nilai kelebihan kapasitas sepanjang periode


pengamatan dibandingkan dengan rata-rata nilai
kelebihan kapasitas untuk ikan pelagis besar

113

Selanjutnya penilaian efisiensi juga dilakukan untuk unit moneter.


Referensi output yang digunakan adalah rente lestari sedangkan referensi untuk
input adalah cost per unit effort (biaya per trip). Trajektori efisiensi unit moneter
untuk ikan pelagis besar dan pelagis kecil dapat dilihat pada Gambar 59 dan 60.
Hasil analisis efisiensi moneter menunjukkan bahwa untuk ikan pelagis besar
efisiensi tertinggi terjadi pada tahun 1999 dan 2004 dan efisiensi terendah terjadi
tahun 1984 dan 1986. Sedangkan untuk ikan pelagis kecil efisiensi tertinggi
terjadi pada tahun 2000, 2003 dan 2004 dan terendah pada tahun 1988 dan
1989. Bila dibandingkan dengan efisiensi fisik, rata-rata efisiensi fisik lebih tinggi
dibandingkan dengan efisiensi moneter, hal ini kemungkinan disebabkan karena
referensi input dan output yang digunakan berbeda dan biaya operasional yang
digunakan terlalu tinggi. Dari potensi perbaikan efisiensi yang dapat dilihat pada
lampiran 10 dan 11, untuk mencapai efisiensi ikan pelagis besar harus
menurunkan biaya per trip yang berkisar antara 0 51.64% atau rata-rata
sebesar 27.27%, sedangkan untuk ikan pelagis kecil biaya per unit effort yang

1.10
1.00
0.90
0.80
0.70
0.60
0.50

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

0.40
0.30
0.20

19
84

Skor Efisiensi

harus diturunkan berkisar antara 0 55.72% atau rata-rata sebesar 28.43%.

Tahun

Gambar 59 Trajektori efisiensi DMU moneter ikan pelagis besar

1.10
1.00
0.90
0.80
0.70
0.60
0.50

20
04

20
02

20
00

19
98

19
96

19
94

19
92

19
90

19
88

19
86

0.40
0.30
0.20

19
84

Skor Efisiensi DEA_CBA

114

Tahun

Gambar 60 Trajektori efisiensi DMU moneter ikan pelagis kecil.

5.10.2 Efisiensi alat tangkap


5.10.2.1 Pukat cincin
Pengukuran efisiensi dan kapasitas kapal dilakukan dengan metode Data
Envelopment Analysis (DEA). Efisiensi teknis input dan output menggunakan
data fisik dan produksi kapal pukat cincin dengan menggunakan data primer
yang dikumpulkan pertengahan tahun 2004 selama 6 bulan dengan hasil seperti
pada Tabel 33.
Dari 13 kapal pukat cincin yang ada yang memiliki efisiensi teknik = 1.00
yang berarti bahwa input yang digunakan sudah efisien sebanyak 5 kapal (38%),
efisiensi di atas 0.90 sebanyak 5 kapal (38%) dan di bawah 0.90 sebanyak 3
kapal (24%). Menurut Fare et al. (2000) apabila efisiensi input kecil dari 1 berarti
input yang digunakan tidak efisien dan dapat dikurangi sebesar 1 dikurangi nilai
efisiensi input, seperti untuk kapal yang pertama efisiensi input = 0.98 berarti
input dapat dikurangi sebesar 2% untuk menghasilkan output yang sama.
Secara keseluruhan dari hasil efisiensi teknis input kapal pukat cincin tingkat
efisiensinya cukup tinggi karena ke 13 kapal mempunyai efisiensi di atas 80%
atau efisiensi teknis rata-rata adalah 95% (Gambar 61). Kapal-kapal yang
memiliki efisiensi di bawah 1 dapat meningkatkan efisiensinya dengan
memperbaiki variabel input dan output yang ada (Gambar 62).

115

Tabel 33 Efisiensi teknis pendekatan input kapal pukat cincin


Kapal

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Output (kg)
Produksi Produksi
pelagis
pelagis
kecil
besar

11 612.9
20 633.7
16 639.9
18 430.2
8 551.5
8 646.9
9 375.0
20 376.4
19 374.0
17 935.2
11 623.2
12 119.7
17 416.4

27 950.6
19 642.9
12 448.9
18 318.2
32 948.9
35 036.2
22 847.0
17 657.8
12 056.3
13 088.2
22 009.9
25 497.5
15 754.1

Tonna Panse
jang
kapal kapal
(GT)
25
30
23
27
25
26
24
25
26
25
26
25
25

21
22
17
22
20
21
19
20
21
20
21
20
20

input
Daya
mesin
(pk)

Upaya
/trip

ABK
(org)

Efisien
si
teknis
input

120
120
100
160
100
160
160
120
120
120
120
120
120

51
45
56
56
46
49
47
51
47
68
69
62
55

15
15
13
14
15
19
14
14
14
13
14
13
14

0.98
1.00
0.99
0.96
1.00
1.00
0.84
1.00
0.98
0.95
0.85
1.00
0.87

Gambar 61 Distribusi efisiensi kapal pukat cincin.

116

Gambar 62 Potensi perbaikan efisiensi kapal pukat cincin.

Tabel 34 Efisiensi teknis pendekatan output kapal pukat cincin


Kapal

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Output (kg)
Produksi Produksi
pelagis
pelagis
kecil
besar

11 612.9
20 633.7
16 639.9
18 430.2
8 551.5
8 646.9
9 375.0
20 376.4
19 374.0
17 935.2
11 623.2
12 119.7
17 416.4

27 950.6
19 642.9
12 448.6
18 318.2
32 948.9
35 036.2
22 847.0
17 657.8
12 056.3
13 088.2
22 009.9
25 497.5
15 754.1

Tonna
se
kapal
(GT)

Panjang
kapal

Input
Daya
mesin
(pk)

25
30
23
27
25
26
24
25
26
25
26
25
25

21
22
17
22
20
21
19
20
21
20
21
20
20

120
120
100
160
100
160
160
120
120
120
120
120
120

Upaya
/trip

ABK
(org)

Efisien
si
teknis
output

51
45
56
56
46
49
47
51
47
68
69
62
55

15
15
13
14
15
19
14
14
14
13
14
13
14

1.03
1.00
1.02
1.05
1.00
1.00
1.20
1.00
1.02
1.06
1.18
1.00
1.15

Kapal yang efisien pada pendekatan input akan efisien juga pada
pengukuran efisiensi dengan pendekatan output begitu juga sebaliknya kapalkapal yang inputnya tidak efisien dengan pendekatan output juga tidak efisien.
Nilai efisiensi output mengindikasikan seberapa banyak masing-masing kapal
dapat meningkatkan produksinya dengan input yang ada.

Kapal-kapal yang

mempunyai nilai efisiensi teknis output sama dengan 1 berarti efisien yaitu

117

jumlah produksi yang dihasilkan sesuai dengan input yang digunakan,


sedangkan kapal-kapal yang memiliki nilai efisiensi teknis output lebih besar dari
1 berarti kapal tersebut seharusnya masih dapat meningkatkan outputnya
sebesar selisih antara nilai efisiensi yang ada dikurangi 1, contohnya untuk kapal
1 yang memiliki efisiensi teknis output 1.03 berarti masih dapat meningkatkan
produksi sebanyak 3%, jika penggunaan inputnya lebih efisien seperti kapal 2.
Kapasitas tangkap kapal pukat cincin di peroleh dari hasil perkalian ukuran
kapasitas dengan produksi aktual. Rata-rata ukuran kapasitas kapal pukat cincin
adalah 1.08 sehingga diperoleh kapasitas optimal untuk kapal pukat cincin
sebesar 38 634 kg per kapal selama 6 bulan pengamatan atau sebanyak 796.54
kg/trip (Tabel 35).

Tabel 35 Kapasitas kapal pukat cincin


Ka
pal

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Output (kg)
Produksi
Produksi
pelagis kecil
pelagis
besar
11 612.90
20 633.65
16 639.92
18 430.23
8 551.47
8 646.86
9 374.97
20 376.37
19 374.02
17 935.21
11 623.17
12 119.72
17 416.41

27 950.60
19 642.85
12 448.58
18 318.17
32 948.90
35 036.24
22 847.03
17 657.83
12 056.28
13 088.16
22 009.93
25 497.48
15 754.09

Ukuran
kapasitas
()

1.03
1.00
1.02
1.13
1.00
1.00
1.20
1.00
1.05
1.14
1.24
1.07
1.15

Kapasitas
(kg)

40 631.70
40 276.50
29 757.50
41 488.90
41 512.00
43 671.00
38 537.50
38 034.20
33 127.50
35 242.50
41 604.10
40 212.80
38 146.10

upaya
(trip)

51
45
56
56
46
49
47
51
47
68
69
62
55

Input variabel
ABK
Upaya
(org)
optimal
(trip)
15
15
13
14
15
19
14
14
14
13
14
13
14

47.74
45.00
41.50
54.71
46.00
49.00
45.54
51.00
49.82
51.00
50.30
48.05
50.88

ABK
optimal
(org)
15.57
15.00
11.83
15.54
15.00
19.00
16.04
14.00
14.20
14.00
15.54
15.35
14.07

Pengukuran efisiensi dengan memasukkan nilai moneter menunjukkan


bahwa rata-rata efisiensi kapal pukat cincin adalah 0.82 (Tabel 35).

Bila

dibandingkan dengan efisiensi teknis, rata-rata efisiensi moneter ini lebih rendah.
Hal ini memerlukan adanya perbaikan dalam biaya operasional per unit upaya.
Potensi perbaikan biaya per unit upaya ini berkisar antara 0% sampai dengan
49.44% atau rata-rata sebesar 24.19%

118

Tabel 36 Efisiensi kapal pukat cincin dengan memasukkan nilai


moneter (DEA-CBA)
Kapal

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Output
Produksi
Penerimaan
(RP)
(kg)

39 564
40 277
29 089
36 748
41 512
43 671
32 222
38 034
31 430
31 023
33 633
37 617
33 171

254 605 228,299 120 750,201 301 058


249 329 200,325 917 900,289 014 400,190 996 700,254 661 725,203 004 850,207 044 696,246 510 750,239 996 450,205 102 700,-

Input
Upaya
(trip)

Biaya
operasional
(Rp)

51
45
56
56
46
49
47
51
47
68
69
62
55

63 915 000,58 230 000,89 342 000,50 847 000,64 519 500,64 908 000,61 860 000,47 728 000,55 594 500,71 854 500,70 576 000,66 949 500,52 792.500,-

Efisiensi

0.88
1.00
0.58
0.92
1.00
0.99
0.77
1.00
0.79
0.57
0.66
0.75
0.80

5.10.2.2 Pancing tonda


Salah satu jenis alat tangkap di Propinsi Sumatera Barat yang digunakan
untuk menangkap ikan pelagis besar dengan daerah tangkapan di laut lepas di
atas 12 mil dari pantai adalah alat tangkap pancing tonda yang dioperasikan
dengan menggunakan kapal motor. Hasil perhitungan efisiensi input alat tangkap
pancing tonda dengan menggunakan sampel sebanyak 82 kapal motor adalah
seperti pada Tabel 37. Dari 82 kapal yang ada, sebanyak 18 kapal (21.95%)
memiliki efisiensi 1, 16 kapal (20.73%) skor efisiensi antara 0.90-0.99, 17 kapal
(19.51%) skor efisiensi antara 0.80 0.89, 18 kapal (21.95%) efisiensi berada
antara 0.70-0.79 sedangkan sebanyak 13 kapal (15.85%) skor efisiensinya di
bawah 0.70 (Gambar 63).
Secara keseluruhan kapal tonda ini cukup efisien karena memiliki efisiensi
rata-rata 82% atau sebanyak 51 kapal (63.19%) efisiensinya di atas 80%, akan
tetapi perlu ditingkatkan lagi, dimana potensi perbaikannya untuk masing-masing
variabel input ditunjukkan pada Gambar 64.

Besarnya input yang harus

dikurangi untuk masing-masing variabel adalah: GT sebesar 22.02%, panjang


kapal 18.03%, mesin 18.63%, upaya penangkapan (trip) sebesar 21.34% dan
ABK sebanyak 17.06%.

Dengan adanya

meningkatkan output sebesar 2.90%.

pengurangan input tersebut akan

119

Tabel 37 Efisiensi teknis pendekatan input kapal


tonda
Efisiensi
Input

Jumlah kapal

Prosentase (%)

1.00
0.90 0.99
0.80 0.89
0.70 0.79
< 0.70

18
16
17
18
13

21.95
20.73
19.51
21.95
15.85

Jumlah

82

100

Tabel 38 Efisiensi teknis pendekatan output kapal


tonda
Efisiensi
Output

Jumlah kapal

Prosentase (%)

1.00
1.01-1.10
1.11 1.20
1.21 1.30
1.31 - 1.40
> 1.40

17
15
9
14
10
17

20.73
18.29
10.98
17.07
12.20
20.73

Jumlah

82

100

Hasil penilaian efisiensi dengan pendekatan output untuk kapal tonda


disajikan pada Tabel 38. Kapal-kapal yang penggunaan inputnya efisien akan
sama

dengan pendekatan output juga efisien.

Efisiensi output kapal motor

tonda berkisar antara 1 1.68 atau rata-rata sebesar 1.22 yang berarti dengan
menggunakan input yang sama masih dapat ditingkatkan output atau produksi
sebesar 22% . Kapasitas tangkap kapal tonda diperoleh dari hasil perkalian
ukuran kapasitas dengan produksi aktual.

Rata-rata ukuran kapasitas kapal

tonda adalah 1.30 sehingga diperoleh kapasitas optimal untuk kapal motor tonda
sebesar 15 900.18 kg per kapal selama 6 bulan pengamatan atau sebanyak
1 014.64 kg/trip (Lampiran 13).

120

Gambar 63 Distribusi efisiensi kapal motor tonda.

Gambar 64 Potensi perbaikan efisiensi kapal motor tonda

Penilaian

efisiensi

dengan

pendekatan

moneter

menghasilkan nilai efisiensi moneter rata-rata sebesar 0.70.

(Lampiran

14)

Hasil ini lebih

rendah dibandingkan efisiensi teknis dengan pendekatan input. Faktor penentu


rendahnya efisiensi moneter ini adalah karena tingginya biaya operasional per
trip.

Untuk memperbaiki efisiensi moneter maka biaya operasionalnya perlu

diturunkan sebesar 0 52.60% atau rata-rata sebesar 29.80%.

121

5.10.2.3 Pukat payang


Pengoperasian pukat payang menggunakan perahu motor tempel, dengan
mesin penggerak berkekuatan rata-rata 40 PK, panjang kapal rata-rata 12 meter
dan tonnase 2 GT. Hasil perhitungan efisiensi teknis input untuk alat tangkap
payang menunjukkan bahwa yang memiliki efisiensi input 1 sebanyak 13.10%,
efisiensi 0.90 0.99 sebanyak 8.33%, efisiensi antara 0.80 0.89% sebanyak
19.05%, efisiensi antara 0.70 0.79 sebanyak 28.57% dan efisiensi di bawah
0.70 sebanyak 30.95% secara keseluruhan rata-rata efisiensi teknis alat tangkap
payang adalah 78.90% (Tabel 39 dan Gambar 65).

Tabel 39 Efisiensi teknis pendekatan input


perahu motor tempel payang
Efisiensi
Input
1.00

Jumlah kapal

Prosentase (%)

11

13.10

0.90 0.99

8.33

0.80 0.89

16

19.05

0.70 0.79

24

28.57

< 0.70

26

30.95

Jumlah

84

100

Tabel 40 Efisiensi teknis pendekatan output perahu


motor tempel payang
Efisiensi
Output
1.00

Jumlah kapal

Prosentase (%)

11

13.10

1.01-1.10

8.33

1.11 1.20

12

14.29

1.21 1.30

10

11.90

1.31 1.40

14

16.67

>1.40

30

35.71

122

Jumlah

84

100

Gambar 65 Distribusi efisiensi perahu motor tempel payang.

Potensi perbaikan efisiensi alat tangkap payang dapat dilakukan dengan


mengurangi input dan meningkatkan output.

Besarnya input yang harus

dikurangi untuk masing-masing variabel adalah: GT sebesar 22.29%, panjang


kapal 18.79%, mesin 18.63%, upaya penangkapan (trip) sebesar 18.23% dan
ABK sebanyak 18.30%.

Dengan adanya

pengurangan input tersebut akan

meningkatkan output sebesar 3.75% (Gambar 66).

Gambar 66 Potensi perbaikan efisiensi teknis perahu motor tempel


payang.
Hasil penilaian efisiensi dengan pendekatan output untuk payang disajikan
pada Tabel 40. Efisiensi output perahu motor tempel payang berkisar antara 1
1.65 atau rata-rata sebesar 1.30 yang berarti dengan menggunakan input yang
sama masih dapat ditingkatkan output atau produksi sebesar 30% .

123

Kapasitas tangkap perahu motor payang di peroleh dari hasil perkalian


ukuran kapasitas dengan produksi aktual. Rata-rata ukuran kapasitas perahu
motor payang adalah 1.46 sehingga diperoleh kapasitas optimal untuk perahu
motor payang sebesar 31 403.65 kg per kapal selama 6 bulan pengamatan atau
rata-rata sebesar 260.90 kg/trip.
Hasil penilaian efisiensi moneter untuk alat tangkap payang diperoleh nilai
rata-rata efisiensi sebesar 0.59 (59%).

Hasil ini lebih rendah dibandingkan

dengan efisiensi teknis. Untuk memperbaiki efisiensi moneter ini perlu dilakukan
pengurangan biaya operasional yang berkisar antara 0 64 % atau rata-rata
sebesar 41%.

5.10.2.4 Bagan
Rata-rata efisiensi teknis kapal bagan adalah 0.50 (50%), rendahnya ratarata efisiensi ini disebabkan karena sebanyak 85.42% kapal bagan memiliki skor
efisiensi di bawah 0.70 (Tabel 41 dan Gambar 67 ). Gambar 63 menunjukkan
potensi perbaikan untuk bagan, dimana untuk output tidak ada lagi potensi untuk
peningkatan sedangkan untuk mencapai efisiensi perlu dilakukan pengurangan
input yang besarnya untuk setiap variabel adalah: tonnase kapal (GT) sebesar
21.29%, panjang sebesar 19.92%, mesin sebesar 20.15%, upaya penangkapan
(trip) sebesar 20.05% dan ABK sebanyak 18.59%.

Tabel 41 Efisiensi teknis pendekatan input


kapal motor bagan
Efisiensi
Input

Jumlah kapal

Prosentase (%)

1.00
0.90 0.99
0.80 0.89
0.70 0.79
< 0.70

2
5
3
4
82

2.08
5.21
3.13
4.17
85.42

Jumlah

96

100

124

Gambar 67 Distribusi efisiensi kapal motor bagan.

Gambar 68 Potensi perbaikan efisiensi kapal motor bagan.

Hasil penilaian efisiensi dengan pendekatan output untuk kapal motor


bagan disajikan pada Tabel 42. Efisiensi output kapal motor bagan berkisar
antara 1 4.61 atau rata-rata sebesar 2.25 yang berarti dengan menggunakan
input yang sama masih dapat ditingkatkan output atau produksi sebesar 125% .

Tabel 42 Efisiensi teknis pendekatan output kapal


motor bagan
Efisiensi
Output

Jumlah kapal

Prosentase (%)

1.00
1.01-1.10
1.11 1.20
1.21 1.30
1.31 1.40
>1.40

2
6
4
2
82

2.08
6.25
4.17
2.08
85.42

Jumlah

96

100

125

Kapasitas tangkap kapal motor bagan di peroleh dari hasil perkalian ukuran
kapasitas dengan produksi aktual.

Rata-rata ukuran kapasitas kapal motor

bagan adalah 2.74 sehingga diperoleh kapasitas optimal untuk kapal motor
bagan sebesar 93 384.41 kg per kapal selama 6 bulan pengamatan atau ratarata sebesar 1 085.60 kg/trip. Hasil penilaian efisiensi moneter untuk kapal
bagan memberikan hasil rata-rata 0.52 (51.50%), nilai efisiensi moneter ini
hampir sama dengan nilai efisiensi teknis. Untuk memperbaiki efisiensi moneter
ini perlu dilakukan pengurangan biaya per unit effort yang berkisar antara 0
68% atau rata-rata sebesar 48.50%.
Berdasarkan hasil perhitungan efisiensi input untuk ke empat alat tangkap,
diketahui bahwa yang memiliki efisiensi input tertinggi adalah kapal pukat cincin
dengan rata-rata 0.95 (95%) dan yang paling rendah adalah bagan dengan ratarata efisiensi 0.50 (50%). Begitu juga dengan efisiensi pendekatan output yang
paling efisien adalah pukat cincin dengan efisiensi output rata-rata 1.05 dan yang
memiliki efisiensi output paling rendah adalah kapal motor bagan dengan
efisiensi rata-rata 2.25. Selanjutnya untuk efisiensi moneter alat tangkap yang
paling efisien juga pukat cincin dengan efisiensi rata-rata sebesar 82% kemudian
diikuti oleh tonda sebesar 70%, payang 59% dan alat tangkap yang paling tidak
efisien secara moneter adalah bagan 51.50%.

5.11 Implikasi Kebijakan


Berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh dari berbagai analisis yang
telah dilakukan, agar memberikan manfaat bagi keberlajutan usaha perikanan
tangkap di propinsi Sumatera Barat khususnya untuk sumberdaya ikan pelagis
besar dan kecil perlu dijabarkan dalam berbagai implikasi kebijakan, antara lain:
Pertama,

dari

analisis

bioekonomi,

menunjukkan

bahwa

pemanfaatan

sumberdaya pelagis kecil telah mendekati overfishing, dimana secara rata-rata


produksi aktual telah melebihi produksi lestari, walaupun masih berada di bawah
produksi optimal.

Sesuai dengan alat tangkap yang digunakan, bahwa

penangkapan ikan pelagis kecil banyak dilakukan di daerah sekitar pantai,


sehingga selain faktor kelebihan input (overcapacity) juga disebabkan oleh faktor
lingkungan lainnya, yang ditunjukkan dengan laju degradasi yang lebih tinggi
dibandingkan sumberdaya pelagis besar, maka kebijakan yang dapat dilakukan
adalah meningkatkan efisiensi input, mengurangi jumlah alat tangkap yang

126

kurang efisien dimana dalam kajian ini alat tangkap bagan merupakan alat
tangkap yang paling tidak efisien, memperluas daerah jangkauan penangkapan,
pengalihan kepada bidang usaha lain yang masih berkaitan dengan kegiatan
perikanan seperti budidaya rumput laut dan ikan karang serta perbaikan
ekosistem yang mempengaruhi perairan sekitar pantai seperti ekosistem
mangrove dan terumbu karang.
Kedua, Pemanfaatan sumberdaya pelagis besar, yang wilayah penangkapannya
lebih jauh dari pantai, secara rata-rata tingkat pemanfaatannya masih berada
dibawah produksi lestari dan optimal, akan tetapi dilihat dari segi input secara
rata-rata telah terjadi kelebihan kapasitas hal ini disebabkan karena kurang
efisiennya penggunaan input baik fisik maupun moneter. Maka kebijakan yang
dapat dilakukan adalah memperbaiki efisiensi input seperti mengurangi jumlah
hari melaut, memperluas daerah jangkauan penangkapan, meningkatkan
kualitas hasil tangkapan sehingga memberikan harga jual dan penerimaan yang
lebih tinggi yang dapat mengimbangi biaya yang tinggi, serta melakukan
investasi untuk alat tangkap pukat cincin yang lebih efisien dibandingkan dengan
alat tangkap tonda.
Ketiga, Berdasarkan hasil perhitungan depresiasi sumberdaya ikan pelagis besar
dan kecil ternyata menunjukkan nilai kehilangan yang cukup besar, untuk itu
perlu pengelolaan sumberdaya perikanan secara lebih hati-hati, dan kaitannya
dengan kontribusi perikanan yang rendah terhadap PDRB, hendaknya nilai
depresiasi ini diperhitungkan dalam statistik pendapatan sub sektor perikanan.
Keempat, Berdasarkan hasil kajian efisiensi alat tangkap baik dari pendekatan
input, output maupun moneter, maka alat tangkap yang paling efisien adalah
pukat cincin. Dalam pengembangan alat tangkap ke depan hendaknya alat
tangkap pukat cincin ini lebih ditingkatkan jumlahnya
dampak

yang

positif

baik

bagi

kelestarian

kesejahteraan para pelaku usahanya.

sehingga memberikan

sumberdaya

ikan

maupun

Investasi yang dibutuhkan untuk alat

tangkap pukat cincin ini cukup tinggi maka langkah-langkah yang dapat
dilakukan adalah: kerjasama antara pengusaha perikanan yang memiliki modal
yang kuat dengan para nelayan, subsidi dari pemerintah, melakukan sosialisasi
agar alat tangkap ini dapat lebih diterima oleh masyarakat (nelayan) dan
meningkatkan kemampuan para nelayan dalam mengoperasikan alat tangkap
pukat cincin, selanjutnya mengalihkan investasi dari alat tangkap yang kurang
efisien kepada alat tangkap yang efisien. Hal ini sesuai dengan hasil analisis

127

kapasitas dimana dengan adanya kelebihan kapasitas input maka terdapat


oppurtunity cost rata-rata sebesar 42,47 milyar rupiah, sehingga nilai yang cukup
besar ini dapat dialihkan kepada investasi yang lebih efisien seperti pukat cincin.
Kelima, Dalam rangka meningkatkan tingkat kesejahteraan nelayan/pelaku
usaha perikanan, maka kebijakan yang dapat dilakukan antara lain adalah:
meningkatkan nilai tambah (value added) dari hasil tangkapan seperti dengan
cara meningkatkan mutu hasil tangkapan dan diversifikasi pengolahan hasil
perikanan, selanjutnya meningkatkan ketrampilan dan kemampuan para nelayan
baik dalam penguasaan teknologi penangkapan dan penanganan ikan maupun
dalam manajemen usaha.
Keenam, Salah satu upaya untuk melestarikan sumberdaya ikan adalah melalui
koservasi untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang kemungkinan penerapan
marine protected area (MPA) pada lokasi-lokasi yang memungkinkan sehingga
sumberdaya perikanan akan mengalami apresiasi yang pada akhirnya akan
memberikan manfaat terhadap kesejahteraan masyarakat perikanan secara
keseluruhan. Pengembangan MPA dilakukan dengan mempertimbangkan secara
seksama faktor sosial ekonomi, karena tanpa mempertimbangkan kedua faktor
tersebut pengembangan MPA tidak akan berhasil (Fauzi, 2000b).
Ketujuh, Kebijakan lainnya yang dapat diterapkan dalam rangka pengurangan
kapasitas input atau peningkatan efisiensi input adalah dengan menerapkan
instrumen ekonomi seperti penetapan pajak pada input, dengan penerapan pajak
pada input akan menyebabkan peningkatan biaya per unit upaya, sehingga akan
mengurangi jumlah effort. Dalam jangka panjang dengan pengenaan pajak input
akan tejadi pengendalian upaya penangkapan karena dengan terjadinya
peningkatan biaya akan mendorong pelaku usaha untuk keluar dari perikanan
sampai terjadinya titik keseimbangan. Sebagai contoh pada rezim open access
untuk ikan pelagis kecil dengan pengenaan pajak input sebesar 5% akan
menyebabkan pengurangan effort dari 147 771.75 trip menjadi 145 201.42 trip.
Secara teoritis pengenaan pajak input dapat dilhat pada Gambar 69.

128

TC2
Rp

TC1

TR

E2

EMSY

E1

Upaya/Effort

Gambar 69 Pengaruh pajak per unit upaya terhadap keseimbangan


akses terbuka (Fauzi, 2004).
Dari Gambar 69 dapat dijelaskan bahwa dengan pengenaan pajak per satuan
upaya maka kurva total biaya (TC) bergeser dari TC1 menjadi TC2 dan
mengurangi jumlah upaya (effort) dari tingkat upaya sebesar E1 ke tingkat upaya
sebesar E2.

129

6 KESIMPULAN DAN SARAN


6.1 Kesimpulan
1) Pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis kecil secara rata-rata telah berada di
atas produksi lestari tetapi masih berada di bawah produksi optimal,
sedangkan untuk sumberdaya ikan pelagis besar rata-rata produksi aktualnya
masih berada di bawah produksi lestari dan optimal, akan tetapi tetap
diperlukan kehati-hatian dalam pengelolaannya.
2) Telah terjadi degradasi sumberdaya ikan, dimana untuk sumberdaya ikan
pelagis kecil rata-rata tingkat degradasi setiap tahunnya sebesar 26%
sedangkan untuk ikan pelagis besar sebesar 25%. Laju degradasi memiliki
pola yang hampir sama dengan effort, laju degradasi akan meningkat apabila
effort meningkat begitu juga sebaliknya laju degradasi akan menurun apabila
effort menurun, dengan demikian terjadinya kelebihan kapasitas tangkap
akan meningkatkan laju degradasi sumberdaya ikan.
3) Depresiasi sumberdaya ikan pelagis besar berkisar antara Rp 451.83 juta
rupiah sampai Rp 24.32 milyar rupiah atau diperkirakan sebesar 56.95 milyar
rupiah untuk market discount rate 15% dan antara 1.20 milyar rupiah sampai
64.47 milyar rupiah atau sebesar 150.94 milyar rupiah untuk perhitungan
menggunakan real discount rate sebesar 5.66%.

Sedangkan untuk

sumberdaya pelagis kecil dengan nilai berkisar antara 265.02 juta rupiah
sampai 24.05 milyar rupiah atau diperkirakan sebesar 52.63 milyar rupiah
untuk market discount rate 15% dan antara 702.34 juta rupiah sampai 63.73
milyar rupiah atau sebesar 139.49 milyar rupiah untuk discount rate 5,66%.
Nilai depresiasi ini merupakan kehilangan yang cukup besar yang dapat
mengurangi manfaat secara ekonomi dari pemanfaatan sumberdaya ikan.
4) Rata-rata nilai surplus produsen per tahun untuk ikan pelagis besar adalah
Rp 144.92 milyar dan untuk ikan pelagis kecil Rp 170.16 milyar.
5) Secara rata-rata selama tahun pengamatan kondisi perikanan tangkap di
perairan pesisir Sumatera Barat sudah mengarah kepada kelebihan tangkap
(overcapacity), dimana untuk sumberdaya perikanan pelagis besar rata-rata
kelebihan kapasitas adalah 4 935.74 trip pertahun atau setara dengan nilai
moneter sebesar 17.62 milyar rupiah dan untuk pelagis kecil 17 869.58 atau
setara dengan nilai moneter sebesar 24.85 milyar rupiah

130

6) Tingkat efisiensi perikanan tangkap dari waktu ke waktu


penurunan dan pada akhir periode

mengalami

pengamatan mengalami peningkatan,

efisiensi untuk ikan pelagis besar rata-rata 85% sedangkan untuk ikan
pelagis kecil rata-rata 89%.
7) Berdasarkan hasil analisis efisiensi alat tangkap, baik efisiensi teknis input
dan output, maupun efisiensi moneter, diketahui alat tangkap yang paling
efisien adalah pukat cincin kemudian diikuti oleh tonda, payang dan terakhir
yang paling tidak efisien alat tangkap bagan.

6.2 Saran
1) Dalam mewujudkan pengelolaan perikanan tangkap yang berkelanjutan di
Propinsi Sumatera Barat, hendaknya Pemda menjadikan kapasitas perikanan
sebagai acuan dalam penyusunan kebijakan.
2) Dalam rangka meningkatkan tingkat kesejahteraan nelayan/pelaku usaha
perikanan,

maka

hendaknya

dilakukan

beberapa

upaya

seperti

meningkatkan nilai tambah (value added) dari hasil tangkapan seperti dengan
cara meningkatkan mutu hasil tangkapan dan diversifikasi pengolahan hasil
perikanan, selanjutnya

meningkatkan ketrampilan dan kemampuan para

nelayan baik dalam penguasaan teknologi penangkapan dan penanganan


ikan maupun dalam manajemen usaha.
3) Dalam rangka meningkatkan efisiensi perlu dilakukan perbaikan-perbaikan
baik dalam hal pengurangan input, peningkatan kemampuan ABK dan
peningkatan spesifikasi teknis kapal. Salah satu cara untuk meningkatkan
efisiensi melalui pengurangan input adalah dengan penetapan pajak pada
input, dengan penerapan pajak pada input akan menyebabkan peningkatan
biaya per unit upaya, sehingga akan mengurangi jumlah effort. Dalam jangka
panjang dengan pengenaan pajak input akan tejadi pengendalian upaya
penangkapan karena dengan terjadinya peningkatan biaya akan mendorong
pelaku

usaha

untuk

keluar

dari

perikanan

sampai

terjadinya

titik

keseimbangan. Cara lainnya yang dapat dilakukan untuk pengurangan effort


adalah dengan pembatasan masuk (limited entry) melalui izin usaha
penangkapan ikan. Alternatif lainnya adalah dengan memberlakukan kuota
yaitu dengan membatasi jumlah produksi sesuai dengan produksi lestari akan
tetapi untuk penerapannya diperlukan kajian lebih lanjut.

131

4) Dalam pengembangan alat tangkap hendaknya Pemda memilih alat tangkap


yang lebih efisien salah satunya sesuai dengan hasil penelitian ini adalah alat
tangkap pukat cincin.
5) Salah satu upaya untuk melestarikan sumberdaya ikan adalah melalui
koservasi untuk itu perlu dilakukan penelitian
penerapan

marine

protected

area

(MPA)

tentang kemungkinan

pada

lokasi-lokasi

yang

memungkinkan sehingga sumberdaya perikanan akan mengalami apresiasi


yang pada akhirnya akan memberikan manfaat terhadap kesejahteraan
masyarakat perikanan secara keseluruhan.
6) Perlu dilakukan penelitian lanjutan seperti analisis kapasitas per wilayah
kabupaten/kota, kapasitas menurut alat tangkap dan
memperhitungkan faktor musim penangkapan.

jenis ikan serta

132

DAFTAR PUSTAKA
Anna S. 2003. Model Embedded Dinamik Ekonomi Interaksi PerikananPencemaran [disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian
Bogor.
Aziz KA et al. 1998. Potensi Pemanfaatan dan Peluang Pengembangan
Komisi Nasional
Sumberdaya Ikan Laut di Perairan Indonesia.
Pengkajian Sumberdaya Perikanan Laut, Jakarta.
Bailey C, Dwiponggo A, Marahudin F. 1987. Indonesian Marine Capture
Fisheries. ICLARM Studies and Reviews 10, International Center for
Living Aquatic Resources Management, Manila, Philippines; Directorate
General of Fisheries and Marine Fisheries Research Institute, Ministry of
Agriculture, Jakarta, Indonesia.
[BPS Sumbar] Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. 2005. Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera Barat menurut lapangan
usaha 2000-2004. Padang.
[Bakosurtanal] Badan Koordinasi Survey dan Pemetaaan Nasional. 1998.
Indonesia Atlas Sumberdaya Kelautan. Bogor.
Charles AT. 2001. Sustainable Fishery Systems. Blackwell Science.
Charnes A, Cooper WW, Rhodes E. 1978. Measuring the Efficiency of Decision
Making Units. Eur Journal. Opl. Res 2:429-444.
Clarke RP, Yoshimoto SS, Pooley SG. 1992. A Bioeconomic Analysis of the
Northwestern Hawaiian Islands Lobster Fishery. Marine Resources
Economics: 2:115-140.
Cunningham S. 1981. The Evolution of the Objective of Fisheries Management
During 1970s. Ocean Management.
Dahuri R. 2003. Paradigma Baru Pembangunan Indonesia Berbasis
Kelautan Orasi Ilmiah: Guru Besar Tetap Bidang Pengelolaan
Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Institut Pertanian Bogor.
Dickey DA, Jensen DW, Thornton DL. 1994. A Primer on Cointegration with an
Application to Money and Income. Di dalam: Rao BB, editor Cointegration
for the Applied Economist , New York. St. Martins Press, Inc, hlm 9-45.
[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 1985.
Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 1984.

Statistik

[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 1986.


Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 1985
.
[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 1987.
Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 1986

Statistik

Statistik

133

.
[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 1988.
Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 1987.
.
[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 1989.
Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 1988.

Statistik

Statistik

[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 1990.


Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 1989.

Statistik

[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 1991.


Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 1990.

Statistik

[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 1992.


Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 1991.

Statistik

[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 1993.


Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 1992.

Statistik

[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 1994.


Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 1993.

Statistik

[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 1995.


Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 1994.

Statistik

[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 1996.


Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 1995.

Statistik

[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 1997.


Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 1996.

Statistik

[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 1998.


Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 1997.
.
[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 1999.
Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 1998.

Statistik

Statistik

[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 1999. Peluang


Pengembangan Investasi Perikanan di Propinsi Sumatera Barat.
[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 2000.
Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 1999.

Statistik

[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 2001.


Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 2000.

Statistik

[Diskan Sumbar] Dinas Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 2002.


Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 2001.

Statistik

[DKP Sumbar] Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 2003.
Statistik Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 2002.

134

[DKP Sumbar] Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 2004.
Statistik Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 2003.
[DKP Sumbar] Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sumatera Barat. 2005.
Statistik Perikanan Propinsi Sumatera Barat tahun 2004.
[Ditjenkan Deptan] Direktorat Jenderal Perikanan Departemen Pertanian. 1997.
Potensi dan Penyebaran Ikan Laut di Perairan Indonesia. Jakarta.
[Ditjenkan Tangkap DKP] Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Departemen
Kelautan dan Perikanan. 2005. Perkembangan Perikanan Tangkap
tahun 2004.
Doring R. 2001. Concept of Sustainable Fisheries. Paper. Botanical Institute
University of Greifswald, Greifswald.
Dwiponggo. A. 1982. Beberapa aspek biologi ikan lemuru, Sardinella spp. Di
dalam: Prosiding Seminar Perikanan Lemuru. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Perikanan, Jakarta.
Enders W. 1995. Applied Econometrics Time Series, New York, John Wiley and
Son Inc.
[FAO] Food and Agriculture Organization. 1998. Report of the FAO Technical
Working Group on the Management of Fishing. FAO Fisheries Report No.
615. Rome.
[FAO] Food and Agriculture Organization. 2000. The State of World Fisheries
and Aquaculture 2000. Rome.
Fare R, Grosskopf S, Kokkenlenberg E. 1989. Measuring plant capacity
utilization and technical change: a non parametric approach.
Int.Econ.Rev.30.
Fare R, Grosskopf S, Lovell C. 1994. Production Frontier. New York, NY.
Cambridge University Press.
Fare R, Grosskopf S, Kirkley JE, Squires D. 2000. Data Envelopment Analysis
(DEA): A Framework for Assessing Capacity in Fisheries When Data are
Limited, presented at the International Institute Of Fisheries Conference
IIFET X 2000, July.
Fauzi A. 2000a. Teori Ekonomi Sumberdaya Perikanan. Working Paper.
Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan, IPB, Bogor
Fauzi A. 2000b. An overview of Sosioeconomic Aspect of Indonesian Marine
Protected Area: A Perspective from Kepulauan Seribu Marine Park.
Paper presented at the International Conference on Economics of Marine
Protected Area (MPA) Vancouver, Canada, July.2000.

135

Fauzi A. 2001a. Prinsip-prinsip Penelitian Sosial Ekonomi: Panduan Singkat


Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan dan Kelautan, Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Fauzi A. 2001b. An Econometric Analysis of the Surplus Production Function:
An Application for Indonesian Small Pelagic Fishery.
Fauzi A. 2002. Menggagas Penerimaan Negara Melalui Fishing (User) Fee.
Warta Pesisir 04/III/2002.ISSN:1410-9514.
Fauzi A. 2004. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan, teori dan aplikasi,
Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama.
Fauzi A. 2005. Kebijakan Perikanan dan Kelautan, Isu, Sintesis dan Gagasan,
Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama.
Fauzi A, Anna S. 2002a.
Evaluasi Status Keberlanjutan Pembangunan
Perikanan: Aplikasi Pendekatan Rapfish (Studi Kasus Perairan Pesisir
DKI Jakarta). Jurnal Pesisir dan Lautan.
Fauzi A, Anna S. 2002b. Penilaian Depresiasi Sumberdaya Perikanan sebagai
Bahan Pertimbangan Penentuan Kebijakan Pembangunan Perikanan.
Jurnal Pesisir dan lautan,Volume 4 No.2.
Data Envelopment Analysis (DEA) Kapasitas
Fauzi A, Anna S. 2002c.
Perikanan di Perairan Pesisir DKI Jakarta, Working Paper Jurusan
Sosial Ekonomi.
Fauzi A, Anna S. 2003. Assessment of Sustainability of Integrated Coastal
Management Projects: A CBA-DEA Approach. Journal of Coastal and
Marine Resources. Special Issue.
Fauzi A, Anna S. 2005. Pemodelan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan untuk
Analisis Kebijakan. Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama.
Gordon HS. 1954. The Economic Theory of a Common Property Resource: The
Fishery. Journal of Political Economy 62:124-142.
Gujarati DN. 1995. Basic Econometrics: Ed ke-3. New York. Mc Graw-Hill, Inc.
Johansen L. 1968. Production Functions and the Concept of Capacity. In:
Recent Research on the Function of Production, Namur France: Namur
University Center for Study and Research.
King. M. 1995. Fisheries Biology, Assesment and Management. Fishing News
Book. Great Britain.
Kirkley JE, Squires D. 1998. Measuring Capacity and Capacity Utilization in
Fisheries. Backgound paper prepared for FAO Technical Working Group
on the Management of Fishing Capacity, La Jolla, USA, 15- 18 April
1998, 160 pp. Forthcoming, FAO Fisheries Report.

136

Kirkley JE, Squires D. 1999. Capacity and Capacity Utilization in Fishing


Industries. Discussion Paper, University of California, Departemen of
economics. San Diego.
Kirkley JE, Squires D, Alam MF, Ishak HO. 2003. Excess Capacity and
Asymmetric Information in Developing Country Fisheries: The Malaysian
Purse Seine Fishery. American Agricultural Economics Association, 85:3.
Klein LR. 1960. Some Theoretical Issues in the Measurement of Capacity.
Econometrica, 28.
Kula E. 1984. Derivation of Social Time Preference Rates for the US and
Canada. Quarterly Journal of Economics, 99: 873-882.
Lindebo E, Hoff A, Vestergaard N. 2002. Economic and Physical Measures of
Capacity: A Comparative Analysis of Danish Trawlers.
Mace PM. 1996. Developing and Sustaining World Fisheries Resources: The
State of the Science and Management. Keynote Presentation, World
Fisheries Congress, Sidney, Australia. National Marine Fisheries Service,
Silver Spring, Maryland.
Merta IGS. 1992. Dinamika Populasi Ikan Lemuru. Sardinella lemuru Bleeker
1853 di Perairan Selat Bali dan alternatif Pengelolaannya [disertasi].
Bogor: Program Pascasarjana IPB.
Merta IGS, Nurhakim S, Widodo J. 1998. Sumberdaya Perikanan Pelagis Kecil.
Potensi dan Penyebaran Sumberdaya Ikan Laut di Perairan Indonesia.
Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumberdaya Ikan Laut, Jakarta.
Milon JW, Larkin SL, Ehrhardt NM. 1999. Bioeconomic Models of the Florida
Commercial Spiny Lobster Fishery. Sea Grant Report Number 177.
Florida Sea Grant College Program University of Florida, Gainesville,
Florida.
Monintja DR. 1994. Pengembangan Perikanan Tangkap Berwawasan
Lingkungan. Makalah disampaikan pada Seminar Pengembangan
Agribisnis Perikanan Berwawasan Lingkungan pada Sekolah Tinggi
Perikanan Jakarta, Agustus 1994, Jakarta.
Monintja DR. 1997. Pengembangan Perikanan Tangkap yang Berkelanjutan:
Catatan tentang Usaha Penangkapan Cakalang. Bahan Pelatihan
Perencanaan Pengembangan dan Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara
Terpadu. PK-SPL IPB-Ditjen Bangda. November-Desember 1997.
Morrison CJ. 1993. A Microeconomic Approach to the Measurement of Economic
Performance: Productivity Growth, Capacity Utilization, and Performance
Indicators. Berlin: Springer-Verlag.
Nontji. A. 1993. Laut Nusantara, Jakarta, Djambatan.

137

Nybakken JW. 1988. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis, Jakarta, PT


Gramedia Pustaka Utama.
Pariwono JI. 1985. Tides and Tidal Phenomena in Asean Region, Australian
Cooperative Programmes in Marine Sciences. Prelim. Rep. FIAM, South
Australia.
[Puslitbang Oseanologi LIPI] Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2001. Potensi, Pemanfaatan dan
Peluang Pengembangan Sumberdaya Ikan Laut di Perairan Indonesia.
Jakarta.
Saanin H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Volume I dan II, Jakarta,
Bina Cipta.
Seijo JC, Defeo O, Salas S. 1998. Fisheries Bioeconomics Theory, Modelling
and Management. FAO Fisheries Technical Paper 368.
Sparre P, Venema SC. 1999. Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis. Buku 1:
Manual. Kerjasama Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan
Bangsa-Bangsa dengan Badan Penelitian Pengembangan Perikanan,
Badan Penelitian Pengembangan Pertanian, Jakarta, Indonesia.
Tinungki GM. 2005. Evaluasi Model Produksi Surplus dalam Menduga Hasil
Tangkapan Maksimum Lestari untuk Menunjang Pengelolaan Perikanan
Lemuru di Selat Bali [disertasi] Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor.
Uktolseja JCB. et al. 1998. Sumberdaya Ikan Pelagis Besar. Potensi dan
Penyebaran Sumberdaya Ikan Laut di Perairan Indonesia. Komisi
Nasional Pengkajian Stok Sumberdaya Ikan Laut Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
Walden JB, Kirkley JE. 2000a. Measuring Technical Efficiency and Capacity in
Fisheries by Data Envelopment Analysis Using the General Algebraic
Modeling system (GAMS): A Workbook. NOAA Technical Memorandum
NMFS-Ne-160.
Walden JB, and Kirkley JE. 2000b. Measuring Capacity of the New England Otter
Trawl Fleet. IIFET 2000 Proceedings, Oregon State University.
Ward J. 2000. Capacity, Excess Capacity and Fisheries Management. IIFET
2000 Proceedings, Oregon State University.
Ward JM, Kirkley JE, Metzner R, Pascoe S. 2004. Measuring and Assessing
Capacity in Fisheries, Basic Concept and Management Options. FAO
Fisheries Technical Paper. 4331:1. Rome.
WCED. 1987. Our Common Future, New York. Oxford Univ. Press

137

Lampiran 1. Disagregasi hasil tangkapan perikanan pelagis besar


Tahun
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

tenggiri
1 007.40
393.20
613.80
526.30
637.70
1 021.30
1 079.46
1 434.90
3 471.80
4 606.30
2 376.20
2 947.40
2 274.40
1 760.60
1 669.30
1 539.80
1 541.20
2 056.90
1 547.80
3 626.70
2 963.30

Produksi (ton)
tuna
cakalang
1 281.20
3 602.30
1 208.50
3 881.80
1 404.70
4 500.50
2 160.50
4 636.40
2 669.90
5 428.60
3 700.80
7 101.40
3 911.74
7 507.23
3 341.40
8 941.10
5 488.30
5 898.00
4 134.90
4 698.50
5 094.60
6 719.00
6 816.30
7 421.10
6 322.90
8 157.20
8 664.30
9 118.40
8 843.80
9 392.20
6 702.80
11 017.30
5 715.80
10 157.50
5 226.70
9 319.70
4 336.60
4 689.70
3 802.60
8 876.40
3 266.00
9 293.10

tongkol
3 150.80
3 595.70
4 696.70
5 148.00
5 544.60
7 355.50
7 774.76
9 533.20
6 395.70
5 032.40
6 025.60
6 587.00
7 209.70
7 996.20
8 903.20
11 301.40
9 864.20
12 601.00
4 778.40
12 088.30
8 736.40

Hasil tangkapan total alat tangkap Pukat Cincin dan Pancing Tonda
Tahun
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

Produksi total per alat tangkap(ton)


Jumlah
Pukat cincin
Pancing Tonda
990.20
6.251.80
7 242.00
870.70
7.305.60
8 176.30
1 188.50
8.347.80
9 536.30
1 930.10
8.967.50
10 897.60
2 271.50
11 645.00
13 916.50
3 399.20
14 442.20
17 841.40
3 579.40
15 207.60
18 787.00
3 795.90
14 604.90
18 400.80
4 998.30
11 633.40
16 631.70
3 564.50
10 063.80
13 628.30
4 511.30
13 044.00
17 555.30
4 476.30
13 267.70
17 744.00
5 021.80
14 686.20
19 708.00
6 456.60
15 889.80
22 346.40
6 479.80
20 192.70
26 672.50
4 197.70
21 742.10
25 939.80
5 037.30
21 360.50
26 397.80
4 402.70
19 939.70
24 342.40
3 588.40
10 459.80
14 048.20
2 729.70
8 726.70
11 456.40
2 500.70
10 382.90
12 883.60

138

139

140

Lampiran 3. Disagregasi hasil tangkapan ikan pelagis kecil


Tahun
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

layang
1 301.30
1 624.30
1 699.40
1 274.90
1 585.80
1 614.60
1 706.74
1 588.70
1 781.30
2 696.30
2 526.60
1 812.90
2 032.20
2 273.01
1 903.70
1 918.20
2 029.10
2 305.30
1 215.40
1 072.80
1 404.90

Produksi per jenis ikan (ton)


selar
teri
tembang kembung
932.50
4 075.60 1 820.70
3 983.90
1 114.00
3 477.50 1 658.20
3 823.20
1 479.30
4 543.10 1 858.30
4 320.90
1 889.30
4 992.10 1 837.00
4 637.70
2 338.00
5 873.10 2 288.30
5 003.90
1 653.20
5 627.70 3 138.60
4 164.20
1 747.43
5 948.47 3 317.45
4 401.55
1 110.30
8 993.50 2 954.20
4 206.80
2 160.70 10 631.20 2 517.90
4 022.30
3 354.90 10 367.70 3 034.50
3 640.90
2 605.90 13 406.80 3 821.10
3 877.20
1 914.70 14 355.90 3 252.00
3 759.30
2 167.90 16 361.90 3 852.50
4 356.00
2 456.50 19 839.60 3 472.20
4 330.10
2 371.40 20 470.30 3 877.50
4 199.90
2 513.70 19 838.30 7 769.60
3 543.90
2 673.70 21 207.10 6 456.90
4 179.30
3 472.60 19 897.90 7 619.40
5 047.80
2 382.10
7 766.20 3 071.40 10 158.60
4 219.60 11 814.30 4 477.60
8 742.10
3 019.90
4 772.00 2 985.30
6 849.50

lemuru
401.40
283.50
380.00
434.80
357.40
348.20
338.04
236.40
270.90
291.30
454.50
511.10
683.70
850.20
906.00
1 490.10
1 233.90
1 233.90
673.40
1 192.00
1 141.20

Hasil tangkapan ikan pelagis kecil per alat tangkap (ton)


Tahun
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

Payang
2 620.90
2 974.50
4 385.10
4 413.90
4 827.60
5 480.30
5 770.80
6 710.30
10 042.80
10 816.40
9 057.70
5 926.80
8 718.90
9 283.30
8 474.40
10 150.90
10 910.20
13 348.10
6 847.10
11 388.80
8 261.90

Produksi per alat tangkap (ton)


Pkt.pantai Pkt.cincin J.i.hanyut
3 148.80
990.20
1 852.20
2 477.50
870.70
1 332.80
3 090.10
1 188.50
1 373.30
3 045.40
1 930.10
2 451.40
3 352.10
2 271.50
2 057.90
3 073.40
3 399.20
1 874.30
3 236.30
3 579.40
1 973.60
3 746.90
3 795.90
2 067.80
2 869.40
4 998.30
2 021.70
3 817.20
3 564.50
3 105.40
3 875.40
4 511.30
2 057.70
4 549.10
4 476.30
2 046.40
4 124.40
5 021.80
2 251.60
4 445.00
6 456.60
2 046.40
4 761.60
6 479.80
2 251.60
3 767.00
4 197.70
2 398.40
3 368.30
5 037.30
2 526.80
4 079.30
4 402.70
2 613.20
2 548.80
3 588.40
4 295.50
6 667.10
2 729.70
4 083.80
6 590.90
2 500.70
2 257.90

Jumlah
Bagan
6 325.10
5 757.80
6 161.30
6 687.30
7 630.20
7 894.90
8 313.30
9 477.90
10 739.40
16 766.40
18 432.50
21 365.10
24 232.40
26 857.10
22 260.80
26 016.30
27 566.90
27 691.10
17 857.00
27 576.10
21 591.40

14 937.20
13 413.30
16 198.30
18 528.10
20 139.30
21 722.10
22 873.40
25 798.80
30 671.60
38 114.90
37 934.60
38 363.70
44 349.10
49 440.40
44 503.60
46 745.10
51 178.20
53 605.00
33 099.20
52 584.10
42 164.00

140

Lampiran 3. lanjutan

Tahun
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

layang
selar
278.4
186.0
374.1
235.5
624.7
390.8
598.5
340.1
705.8
467.8
915.4
284.4
967.6
300.6
694.0
341.6
849.8
917.6
1 271.3 1 168.9
957.8
754.8
370.3
348.3
432.3
307.7
369.1
318.10
320.8
275.4
116.0
613.1
103.3
633.8
115.0
874.4
84.8
466.6
115.2
803.4
103.6
405.4

Share oleh payang


Share oleh pukat pantai
teri
tembang kembung lemuru
layang
selar
teri
tembang kembung lemuru
24.4
234.0
537.1
143.7
12.9
299.7
765.1
127.2
121.7
52.7
38.6
292.6
578.1
131.2
13.3
301.2
523.5
103.3
92.7
17.3
74.4
457.6
847.7
92.9
20.2
322.1
707.2
110.0
206.2
9.4
133.4
455.4
771.1
104.6
34.5
587.1
809.6
96.5
196.6
32.5
238.3
592.2
819.0
15.0
54.2
667.8
912.7
154.8
162.5
41.1
332.7
711.5
523.7
78.4
43.7
451.0
865.7
173.9
139.4
25.5
351.7
752.1
553.6
82.7
46.2
476.7
915.0
183.8
147.3
27.0
516.6
307.7
447.8
35.1
71.9
288.1 1 715.1
225.7
68.3
4.9
518.7
625.4
977.5
36.2
52.3
99.9 1 999.2
62.2
65.8
3.6
638.9
1 016.3
920.0
43.8
57.8
114.7 1 472.9
77.3
75.7
4.0
639.6
1 016.0
1 482.0
157.2
101.0
146.6
992.4
85.1
144.4
6.2
915.9
379.9
1 053.6
262.2
104.5
120.8
994.0
88.2
168.2
7.7
1 070.0
478.8
1 379.4
163.0
71.8
113.2 1 199.8
107.7
208.1
8.1
683.9
255.7
1 447.6
231.3
27.1
69.9 1 528.2
106.2
145.5
13.3
562.0
214.9
1 073.0
228.5
17.9
61.8 1 397.5
124.7
165.1
31.5
731.2
2 559.2
879.3
874.9
12.3
16.2 1 557.8
88.6
99.6
18.3
435.1
1 592.6
872.4
598.5
20.3
26.6 1 032.9
100.8
142
150.3
558.1
2 038.1
1 715.8
508.4
34.2
20.5
825.3
80.6
165.7
27.5
362.1
706.4
1 087.9
234.0
41.9
15.1
562.6
70.3
164.9
27.6
561.1
418.1
643.7
230.0
31.4
23.5 1 462.6
173.1
125.6
15.7
423.1
244.8
743.7
253.0
29.6
34.6
590.2
178.2
116.7
21.6

141

Lampiran 3. lanjutan

Tahun
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

layang
81.3
15.6
18.6
22.0
25.4
35.7
37.9
58.7
72.8
86.1
116.7
137.5
145.6
449.5
164.6
137.2
212.4
197.2
73.8
103.0
195.5

Share oleh pukat cincin


Share oleh jaring insang hanyut
selar
teri
tembang kembung lemuru
layang
selar
teri
tembang kembung lemuru
47.7
0.0
56.2
478.8
69.5
21.4
63.3
0.0
161.6
378.3
45.1
40.7
0.0
25.4
519.1
35.0
25.9
38.6
0.0
117.0
307.5
24.4
10.8
0.0
39.3
451.9
76.2
32.7
61.6
0.0
114.6
537.5
16.5
19.0
0.0
63.7
658.2
104.3
33.3
39.8
0.0
26.1
1 095.1
17.1
27.3
0.0
132.6
618.6
97.0
133.2
146.2
0.0
18.2
966.5
27.4
38.9
0.0
167.4
826.1
135.6
387.1
132.4
0.0
7.6
694.2
29.2
41.2
0.0
176.9
873.2
113.3
409.2
139.9
0.0
8.0
733.8
28.8
57.2
0.0
192.8
184.6
140.6
435.6
76.4
0.0
11.6
453.7
18.3
77.2
0.0
229.3
1 064.6
198.4
355.8
534.4
0.0
5.2
544.0
22.9
89.4
0.0
239.4
832.9
207.4
576.2
969.9
0.0
31.3
456.4
33.5
127.7
0.0
312.8
346.3
263.4
265.1
512.4
0.0
9.3
242.4
38.1
156.9
0.0
382.2
730.0
211.0
117.5
283.2
0.0
19.4
438.7
40.7
212.0
0.0
389.3
404.7
453.3
135.7
348.0
0.0
28.3
136.5
39.2
451.6
0.0
314.1
458.8
476.3
168.2
348.4
0.0
123.7
144.9
35.3
270.8
0.0
479.7
455.1
524.1
152.6
331.0
0.0
30.2
137.0
32.1
223.0
0.0
358.0
375.8
437.5
121.9
386.3
0.0
244.0
466.6
28.9
250.0
0.0
259.9
327.8
366.4
158.6
421.3
0.0
261.3
180.8
31.3
306.4
0.0
224.2
445.4
353.3
281.5
457.1
0.0
345.3
374.9
29.2
169.7
0.0
53.3
615.8
168.2
413.0
280.3
0.0
198.9
181.2
19.9
337.3
0.0
24.5
1 252.0
113.2
224.3
375.5
0.0
70.2
279.1
11.3
200.5
0.0
32.8
1 027.6
115.1
225.2
759.2
0.0
90.2
195.5
19.8

142

Lampiran 3. lanjutan

Tahun
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

layang
selar
587.8
87.5
736.8
147.8
566.5
105.4
319.2
72.7
149.0
61.2
34.4
107.2
36.4
113.3
99.7
232.0
242.5
190.5
589.0
741.0
921.0
557.6
960.5
675.8
1 080.4
771.0
1 114.1
803.3
1 156.5 1 183.5
1 448.6 1 104.6
1 447.6 1 213.8
1 496.1 1 648.6
497.1 1 309.7
570.1 1 478.4
688.1 1 232.3

Share oleh bagan


teri
tembang
kembung
lemuru
2 901.9
924.2
664.0
45.6
2 532.7
759.4
703.1
34.5
3 198.9
758.9
515.4
27.8
3 681.2
898.8
554.7
36.0
4 348.8
1 058.6
819.5
31.6
3 973.3
1 747.1
682.2
31.6
4 199.8
1 846.7
721.1
33.4
5 571.6
1 847.0
635.9
6.9
7 366.3
1 559.6
653.8
10.5
7 523.6
1 560.8
769.6
12.1
9 840.8
2 850.9
141.3
10.3
11 303.9
2 017.3
723.7
12.1
12 640.1
2 828.1
1 167.8
42.4
15 673.3
2 654.1
1 180.9
116.7
15 906.4
2 988.9
1 525.7
117.2
14 859.5
4 425.7
1 497.7
151.7
15 203.9
4 061.6
1 878.1
107.1
14 301.1
4 161.9
1 735.4
290.8
6 091.9
1 881.1
1 543.4
201.3
6 907.6
3 023.9
2 375.2
256.8
3 758.7
2 040.9
1 937.7
325.0

Jumlah
9 397.1
8 764.9
10 395.8
11 801.1
13 280.2
13 575.3
14 317.1
14 739.4
19 336.0
21 580.2
22 566.1
23 024.0
26 362.3
29 709.1
29 928.5
33 833.5
32 090.5
33 612.0
17 522.8
22 005.8
15 988.6

143

Standarisasi Effort untuk penangkapan ikan pelagis besar


Tahun
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

payang
29 304.8
33 845.2
37 821.1
40 803.0
51 201.5
45 479.5
50 945.3
34 301.1
37 610.8
45 363.9
45 893.7
48 901.1
41 887.6
34 938.6
29 676.4
46 271.4
36 624.4
42 052.8
39 658.9
24 716.6
32 156.1

pk.pti
31 011.5
38 050.9
51 163.2
54 785.5
55 032.2
49 687.3
45 813.4
51 591.4
58 539.8
38 791.4
28 071.6
24 930.0
30 096.6
30 763.4
27 752.9
32 275.6
28 105.0
18 044.9
24 215.5
22 953.5
12 108.4

Effort
pk.ccn
1 413.4
1 409.3
1 120.8
1 243.7
1 635.0
1 929.6
1 901.9
1 018.8
2 094.6
1 381.9
1 118.7
1 461.7
1 460.5
1 731.5
1 533.3
1 449.5
1 211.4
1 218.0
1 127.9
2 274.8
2 092.7

j.i.hanyut
21 927.4
27 233.5
31 227.6
29 705.8
47 221.7
47 161.7
48 450.6
34 540.3
51 002.2
49 882.4
36 220.7
31 855.2
20 827.7
21 225.8
18 461.9
32 202.3
23 874.6
33 603.3
43 039.3
22 146.5
37 471.7

bagan
37 306.1
38 005.7
40 577.7
44 755.0
52 969.9
55 274.1
56 517.5
67 276.6
68 904.5
60 904.5
66 035.7
67 086.8
75 555.6
83 435.7
96 604.8
95 492.1
89 557.7
99 420.6
67 574.5
55 644.8
44 756.0

payang
0.048
0.049
0.066
0.059
0.057
0.063
0.059
0.068
0.104
0.112
0.099
0.068
0.091
0.095
0.090
0.125
0.116
0.138
0.074
0.112
0.068

pk.pti
0.044
0.028
0.027
0.032
0.036
0.034
0.039
0.046
0.039
0.046
0.053
0.068
0.091
0.095
0.090
0.125
0.116
0.138
0.074
0.112
0.068

CPUE
pk.ccn j.i.hanyut
0.519
0.031
0.451
0.019
0.532
0.024
0.697
0.041
0.562
0.027
0.624
0.027
0.653
0.027
0.622
0.029
0.784
0.029
1.053
0.041
1.043
0.029
1.107
0.028
1.099
0.033
1.242
0.039
1.235
0.037
1.057
0.039
1.169
0.044
1.253
0.044
0.958
0.025
0.804
0.043
0.751
0.034

bagan
0.140
0.129
0.127
0.124
0.122
0.119
0.123
0.125
0.145
0.185
0.217
0.234
0.245
0.258
0.237
0.246
0.267
0.238
0.171
0.263
0.223

payang
0.343
0.377
0.516
0.474
0.466
0.526
0.480
0.547
0.717
0.602
0.456
0.291
0.373
0.366
0.381
0.507
0.433
0.581
0.435
0.427
0.303

pk.pti
0.318
0.214
0.211
0.258
0.293
0.287
0.319
0.369
0.268
0.251
0.242
0.254
0.231
0.238
0.274
0.226
0.196
0.269
0.214
0.304
0.359

Indeks
pk.ccn j.i.hanyut
3.715
0.219
3.489
0.146
4.177
0.192
5.610
0.328
4.600
0.224
5.244
0.223
5.312
0.221
4.987
0.231
5.390
0.197
5.684
0.224
4.809
0.136
4.731
0.121
4.481
0.135
4.810
0.150
5.217
0.156
4.296
0.158
4.379
0.165
5.272
0.186
5.619
0.149
3.064
0.165
3.367
0.154

bagan
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000

144

lanjutan
Tahun
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

payang
10 048.5
12 761.4
19 517.4
19 334.6
23 860.1
26 933.3
24 461.4
18 779.2
26 983.8
27 310.2
20 906.9
14 236.2
15 621.8
12 803.3
11 293.7
23 473.6
15 863.9
24 440.1
17 249.4
10 554.3
9 685.0

pk.pti
9 874.5
8 130.4
10 786.7
14 134.7
16 113.6
15 819.4
14 604.1
19 029.3
15 694.5
9 729.6
6 804.2
6 341.3
6 967.3
7 321.0
7 594.3
7 288.8
5 516.4
4 853.7
5 174.0
6 976.2
4 326.2

Standarisasi Effort
pk.ccn
5 251.2
4 917.1
4 681.5
6 977.2
7 520.5
8 573.6
10 103.2
5 081.2
11 290.0
7 855.3
5 380.4
6 915.0
6 544.1
8 328.3
7 998.8
6 226.5
5 305.2
6 421.5
6 337.3
6 968.9
7 002.4

j.i.hanyut
4 794.5
3 970.5
5 984.4
9 746.6
10 575.6
10 524.8
10 730.8
7 980.4
10 052.6
11 159.5
4 921.1
3 845.3
2 804.1
3 177.9
2 883.6
5 072.7
3 944.9
6 529.6
6 410.6
3 657.4
5 747.6

bagan
37 306.1
38 005.7
40 577.7
44 755.0
52 969.9
55 274.1
56 517.5
67 276.6
68 904.5
60 904.5
66 035.7
67 086.8
75 555.6
83 435.7
96 604.8
95 492.1
89 557.7
99 420.6
67 574.5
55 644.8
44 481.6

Total standarisasi
effort
67 274.7
67 785.0
81 547.6
94 948.1
111 039.7
114 821.0
116 417.0
118 146.6
132 925.3
116 492.5
104 048.3
98 424.6
107 492.7
115 066.1
126 375.2
137 553.6
120 188.2
141 395.4
102 745.8
83 801.6
71 243.1

145

Lampiran 4. Analisis CYP Pelagis Besar


Data:
E
15551.77
16506.70
21437.29
21842.77
25968.85
28758.25
24260.33
25989.80
21702.25
22567.17
24619.39
21898.34
22327.76
27378.11
21386.49
24847.36
23266.32
25794.07
23462.51
13386.47

E2

32058.47
37944.00
43280.06
47811.62
54727.11
53018.58
50250.13
47692.05
44269.42
47186.56
46517.73
44226.11
49705.87
48764.60
46233.85
48113.68
49060.39
49256.57
36848.97
26989.89

LNU
0.3958263
0.4267539
0.3834719
0.4007642
0.4324334
0.5019533
0.6289330
0.5729209
0.5609327
0.4348529
0.5233720
0.6179646
0.6557217
0.6156451
0.8157019
0.8185415
0.7808627
0.7190141
0.4402087
0.6534882

LNU1
-0.9267797
-0.8515478
-0.9584889
-0.9143820
-0.8383269
-0.6892482
-0.4637305
-0.5570076
-0.5781544
-0.8327475
-0.6474628
-0.4813241
-0.4220187
-0.4850846
-0.2037063
-0.2002312
-0.2473559
-0.3298743
-0.8205062
-0.4254308

-0.8515478
-0.9584889
-0.9143820
-0.8383269
-0.6892482
-0.4637305
-0.5570076
-0.5781544
-0.8327475
-0.6474628
-0.4813241
-0.4220187
-0.4850846
-0.2037063
-0.2002312
-0.2473559
-0.3298743
-0.8205062
-0.4254308
-0.3379380

Hasil
VARIABLE ESTIMATED STANDARD T-RATIO PARTIAL STANDARDIZED ELASTICITY
NAME COEFFICIENT ERROR
17 DF P-VALUE CORR. COEFFICIENT AT MEANS
LNU
0.71268 0.1660
4.293 0.000 0.721 0.7323 0.7499
E2
-0.99193E-06 0.6117E-05 -0.1622 0.873-0.039 -0.0281 0.0795
CONSTANT -0.96389E-01 0.3167 -0.3043 0.765-0.074 0.0000 0.1708
DURBIN-WATSON = 1.9898 VON NEUMANN RATIO = 2.0945 RHO = -0.00906
RESIDUAL SUM = -0.49613E-02 RESIDUAL VARIANCE = 0.34454E-01
SUM OF ABSOLUTE ERRORS= 2.6315
R-SQUARE BETWEEN OBSERVED AND PREDICTED = 0.4808
RUNS TEST: 8 RUNS, 10 POS, 0 ZERO, 10 NEG NORMAL STATISTIC = -1.3784
VARIABLE : LNU1
DICKEY-FULLER TESTS - NO.LAGS = 0 NO.OBS = 19
NULL
TEST
ASY. CRITICAL
HYPOTHESIS
STATISTIC
VALUE 10%
--------------------------------------------------------------------------CONSTANT, NO TREND
A(1)=0 Z-TEST
-6.6104
-11.2
A(1)=0 T-TEST
-1.9448
-2.57
A(0)=A(1)=0
2.0930
3.78
AIC = -3.271
SC = -3.172
--------------------------------------------------------------------------CONSTANT, TREND
A(1)=0 Z-TEST
-11.839
-18.2
A(1)=0 T-TEST
-2.6837
-3.13
A(0)=A(1)=A(2)=0
2.5582
4.03

146

A(1)=A(2)=0

3.6117

5.34

AIC = -3.337
SC = -3.188
--------------------------------------------------------------------------VARIABLE : LNU
DICKEY-FULLER TESTS - NO.LAGS = 0 NO.OBS = 19
NULL
TEST
ASY. CRITICAL
HYPOTHESIS
STATISTIC VALUE 10%
--------------------------------------------------------------------------CONSTANT, NO TREND
A(1)=0 Z-TEST
-6.5460
-11.2
A(1)=0 T-TEST
-2.0182
-2.57
A(0)=A(1)=0
2.2320
3.78
AIC = -3.287
SC = -3.187
--------------------------------------------------------------------------CONSTANT, TREND
A(1)=0 Z-TEST
-11.857
-18.2
A(1)=0 T-TEST
-2.6504
-3.13
A(0)=A(1)=A(2)=0 2.5365
4.03
A(1)=A(2)=0
3.5897
5.34
AIC = -3.337
SC = -3.188
--------------------------------------------------------------------------VARIABLE : E2
DICKEY-FULLER TESTS - NO.LAGS = 0 NO.OBS = 19
NULL
TEST
ASY. CRITICAL
HYPOTHESIS
STATISTIC
VALUE 10%
--------------------------------------------------------------------------CONSTANT, NO TREND
A(1)=0 Z-TEST
-5.1317
-11.2
A(1)=0 T-TEST
-1.2695
-2.57
A(0)=A(1)=0
0.83276
3.78
AIC = 17.135
SC = 17.235
--------------------------------------------------------------------------CONSTANT, TREND
A(1)=0 Z-TEST
-3.1745
-18.2
A(1)=0 T-TEST
-0.92308
-3.13
A(0)=A(1)=A(2)=0
3.6070
4.03
A(1)=A(2)=0
5.3717
5.34
AIC = 16.818
SC = 16.967
---------------------------------------------------------------------------

147

Lampiran 5. Analisis CYP Pelagis Kecil


Data
E
67274.74
67784.96
81547.63
94948.09
111039.7
114821.0
116417.0
118146.6
132925.3
116492.5
104048.3
98424.58
107492.7
115066.1
126375.2
137553.6
120188.2
141395.4
102745.8
83801.61

E2

135059.7
149332.6
176495.7
205987.8
225860.7
231238.0
234563.6
251071.9
249417.8
220540.8
202472.9
205917.3
222558.8
241441.3
263928.9
257741.8
261583.6
244141.2
186547.4
155044.7

LNU

LNU1

0.1396800
0.1293000
0.1274800
0.1242900
0.1221200
0.1182300
0.1229800
0.1247600
0.1454700
0.1852500
0.2168800
0.2339300
0.2452500
0.2581900
0.2368200
0.2459700
0.2670000
0.2377200
0.1705500
0.2625900

-1.968380
-2.045590
-2.059790
-2.085140
-2.102750
-2.135120
-2.095720
-2.081400
-1.927820
-1.686050
-1.528410
-1.452750
-1.405490
-1.354050
-1.440440
-1.402560
-1.320500
-1.436680
-1.768760
-1.337150

-2.045590
-2.059790
-2.085140
-2.102750
-2.135120
-2.095720
-2.081400
-1.927820
-1.686050
-1.528410
-1.452750
-1.405490
-1.354050
-1.440440
-1.402560
-1.320500
-1.436680
-1.768760
-1.337150
-1.494220

VARIABLE ESTIMATED STANDARD T-RATIO


PARTIAL STANDARDIZED ELASTICITY
NAME COEFFICIENT ERROR
17 DF P-VALUE CORR. COEFFICIENT AT MEANS
LNU
0.90180
0.9882E-01 9.125
0.000 0.911 0.9043
0.9143
E2
0.48097E-06 0.8514E-06 0.5649 0.580 0.136 0.0579 -0.0608
CONSTANT -0.24853 0.2869
-0.8661 0.398-0.206 0.0000 0.1455
DURBIN-WATSON = 1.9904 VON NEUMANN RATIO = 2.0951 RHO = -0.00524
RESIDUAL SUM = -0.18125E-01 RESIDUAL VARIANCE = 0.24374E-01
SUM OF ABSOLUTE ERRORS= 2.2055
R-SQUARE BETWEEN OBSERVED AND PREDICTED = 0.7872
RUNS TEST: 7 RUNS, 8 POS, 0 ZERO, 12 NEG NORMAL STATISTIC = -1.7270
DURBIN H STATISTIC (ASYMPTOTIC NORMAL) = -0.11238
MODIFIED FOR AUTO ORDER=1
VARIABLE : LNU1
DICKEY-FULLER TESTS - NO.LAGS = 0 NO.OBS = 19
NULL
TEST
ASY. CRITICAL
HYPOTHESIS
STATISTIC VALUE 10%
--------------------------------------------------------------------------CONSTANT, NO TREND
A(1)=0 Z-TEST
-2.6404
-11.2
A(1)=0 T-TEST
-1.2194
-2.57
A(0)=A(1)=0
1.0680
3.78
AIC =
SC =
--------------------------------------------------------------------------CONSTANT, TREND
A(1)=0 Z-TEST
-6.9846
-18.2
A(1)=0 T-TEST
-1.7799
-3.13
A(0)=A(1)=A(2)=0
1.3195
4.03

-3.603
-3.504

148

A(1)=A(2)=0

1.6408

5.34

AIC =
SC =
---------------------------------------------------------------------------

-3.601
-3.452

VARIABLE : LNU
DICKEY-FULLER TESTS - NO.LAGS = 0 NO.OBS = 19
NULL
TEST
ASY. CRITICAL
HYPOTHESIS
STATISTIC
VALUE 10%
--------------------------------------------------------------------------CONSTANT, NO TREND
A(1)=0 Z-TEST
-1.7332
-11.2
A(1)=0 T-TEST
-0.77980
-2.57
A(0)=A(1)=0
0.73129
3.78
AIC =
SC =
--------------------------------------------------------------------------CONSTANT, TREND
A(1)=0 Z-TEST
-7.4927
-18.2
A(1)=0 T-TEST
-2.1088
-3.13
A(0)=A(1)=A(2)=0
1.8862
4.03
A(1)=A(2)=0
2.3281
5.34
AIC =
SC =
---------------------------------------------------------------------------

-3.608
-3.509

-3.723
-3.574

VARIABLE : E2
DICKEY-FULLER TESTS - NO.LAGS = 1 NO.OBS = 18
NULL
TEST
ASY. CRITICAL
HYPOTHESIS
STATISTIC
VALUE 10%
--------------------------------------------------------------------------CONSTANT, NO TREND
A(1)=0 T-TEST
-3.0178
-2.57
A(0)=A(1)=0
4.6664
3.78
AIC = 19.353
SC = 19.501
--------------------------------------------------------------------------CONSTANT, TREND
A(1)=0 T-TEST
-2.2422
-3.13
A(0)=A(1)=A(2)=0 2.9036
4.03
A(1)=A(2)=0
4.2502
5.34
AIC = 19.464
SC = 19.662
--------------------------------------------------------------------------Hasil setelah dilakukan uji Sationary
VARIABLE ESTIMATED STANDARD T-RATIO PARTIAL STANDARDIZED ELASTICITY
NAME COEFFICIENT ERROR
15 DF P-VALUE CORR. COEFFICIENT AT MEANS
LNU
0.49782 0.2206
2.256 0.039 0.503 0.5041 0.4996
E2
-0.12662E-06 0.1876E-05 -0.6748 0.510-0.172 -0.1458 0.1641
CONSTANT -0.58102 0.5903 -0.9842 0.341-0.246 0.0000 0.3406
DURBIN-WATSON = 1.8293 VON NEUMANN RATIO = 1.9369 RHO = - 0.03471
RESIDUAL SUM = 0.91214E-01 RESIDUAL VARIANCE = 0.28976E-01
SUM OF ABSOLUTE ERRORS= 2.4032
R-SQUARE BETWEEN OBSERVED AND PREDICTED = 0.7510

149

RUNS TEST: 12 RUNS, 8 POS, 0 ZERO, 10 NEG NORMAL STATISTIC = 1.0395


DURBIN H STATISTIC (ASYMPTOTIC NORMAL) = -0.23133
MODIFIED FOR AUTO ORDER=1
|_coint LnU1 LnU E2
...NOTE..SAMPLE RANGE SET TO:

1,

18

REQUIRED MEMORY IS PAR= 4 CURRENT PAR= 500


...NOTE..TEST LAG ORDER AUTOMATICALLY SET
TOTAL NUMBER OF OBSERVATIONS = 18
VARIABLE : LNU1
DICKEY-FULLER TESTS - NO.LAGS = 0 NO.OBS = 17
NULL
TEST
ASY. CRITICAL
HYPOTHESIS
STATISTIC VALUE 10%
--------------------------------------------------------------------------CONSTANT, NO TREND
A(1)=0 Z-TEST
-2.6554
-11.2
A(1)=0 T-TEST
-1.1332
-2.57
A(0)=A(1)=0
0.64222
3.78
AIC = -3.312
SC = -3.214
--------------------------------------------------------------------------CONSTANT, TREND
A(1)=0 Z-TEST
-2.3238 -18.2
A(1)=0 T-TEST
-0.80899 -3.13
A(0)=A(1)=A(2)=0 0.41627
4.03
A(1)=A(2)=0
0.62421
5.34
AIC = -3.198
SC = -3.051
--------------------------------------------------------------------------VARIABLE : LNU
DICKEY-FULLER TESTS - NO.LAGS = 0 NO.OBS = 17
NULL
TEST
ASY. CRITICAL
HYPOTHESIS
STATISTIC VALUE 10%
--------------------------------------------------------------------------CONSTANT, NO TREND
A(1)=0 Z-TEST -2.1128 -11.2
A(1)=0 T-TEST -0.90616 -2.57
A(0)=A(1)=0
0.42431
3.78
AIC = -3.370
SC = -3.272
--------------------------------------------------------------------------CONSTANT, TREND
A(1)=0 Z-TEST
1.9013 -18.2
A(1)=0 T-TEST
0.53944 -3.13
A(0)=A(1)=A(2)=0 1.0326
4.03
A(1)=A(2)=0
1.5340
5.34
AIC = -3.397
SC = -3.250
---------------------------------------------------------------------------

150

VARIABLE : E2
DICKEY-FULLER TESTS - NO.LAGS = 1 NO.OBS = 16
NULL
TEST
ASY. CRITICAL
HYPOTHESIS
STATISTIC VALUE 10%
--------------------------------------------------------------------------CONSTANT, NO TREND
A(1)=0 T-TEST
-3.3775 -2.57
A(0)=A(1)=0
5.7937
3.78
AIC = 18.834
SC = 18.979
--------------------------------------------------------------------------CONSTANT, TREND
A(1)=0 T-TEST
-3.3748 -3.13
A(0)=A(1)=A(2)=0
4.6070
4.03
A(1)=A(2)=0
6.8160
5.34
AIC = 18.830
SC = 19.023
--------------------------------------------------------------------------|_stop
TYPE COMMAND

151

Lampiran 6. Output Maple untuk pengelolaan sumberdaya ikan pelagis besar

TAHUN 2004
> r:=0.888649773; k:=46018.414; q:=0.00002421; p:=8485; c:=2469.09; i:=0.15;
r := 0.888649773
k := 46018.414
q := 0.00002421
p := 8485
c := 2469.09
i := 0.15

> f(x):=r*ln(k/x)-r+(c*r*ln(k/x)/(x*(p*q*x-c)))=i;
f(x) := 0.888649773 ln

46018.414
2194.156268 ln

x
46018.414

= 0.15
- 0.888649773 +
x
x (0.20542185 x - 2469.09)

> solve(f(x),x);
14305.95041

> g(x):=ln(k/x)-1-(i/r)+(c*r)/(p*q*x)+(c*i)/(p*q*r*x)=0;
46018.414
12710.07597
=0
g(x) := ln
- 1.168795407 +
x
x

> a:=fsolve(g(x),x);
a := 24185.77848

> optx:=a;
optx := 24185.77848

> h:=r*optx*ln(k/optx);
h := 13825.74720

> E:=h/(q*optx);
E := 23612.05311

> Go(y):=q*k*y*exp((-q/r)*y);
Go(y) := 1.114105803 y e

(-0.00002724357867 y)

152

Lampiran 7. Rezim pengelolaan sumberdaya ikan pelagis kecil


> r:=0.67055; K:=92986.64; q:=0.00000338; p:=6.385; c:=0.512; i:=0.15;
r := 0.67055
K := 92986.64
q := 0.00000338
p := 6.385
c := 0.512
i := 0.15

> hs:=q*K*E*exp((-q/r)*E);
hs := 0.3142948432 E e

(-0.000005040638282 E)

> Emax:=diff(hs,E);
Emax := 0.3142948432 e

(-0.000005040638282 E)

- 0.000001584246618 E e

(-0.000005040638282 E)

> Esus:=solve(Emax=0,E);
Esus := 1.983875740 105

> hsus:=q*K*Esus*exp((-q/r)*Esus);
hsus := 22938.08935

> Xsus:=(hsus/(q*Esus));
Xsus := 34207.87316

> pisus:=p*hsus-c*Esus;
pisus := 44885.2626

> pi:=p*hs-c*E;
:= 2.006772574 E e

(-0.000005040638282 E)

- 0.512 E

> Eoa:=solve(pi=0,E);
Eoa := 0., 2.709891733 105

> Xoa:=(c/(p*q));
Xoa := 23724.24275

> hoa:=(Eoa*q*Xoa);
hoa := 0., 21730.06370

> Eopt:=diff(pi,E);
Eopt := 2.006772574 e

(-0.000005040638282 E)

- 0.00001011541466 E e

(-0.000005040638282 E)

- 0.512

153

> Eopt:=solve(Eopt=0,E);
Eopt := 1.101831229 105

> TR:=p*hs;
TR := 2.006772574 E e

(-0.000005040638282 E)

> TC:=c*E;
TC := 0.512 E

> plot({TC,TR},E=0..500000);

> plot(hs,E=0..500000);

154

> hopt:=q*K*Eopt*exp((-q/r)*Eopt);
hopt := 19872.29847

> Xopt:=(hopt/(q*Eopt));
Xopt := 53360.06179

> phiopt:=hopt*p-c*Eopt;
phiopt := 70470.86678

>

155

Lampiran 8. Potensi Perbaikan Efisiensi Fisik dari DMU Penangkapan ikan Pelagis
Besar
DMU
1984

1985

1986

1987

1988

1989

1990

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

Parameter
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual

Skor Data
15 551.77
6 155.80
11 341.01
16 506.70
7 044.30
11 728.32
21 437.29
8 220.60
13 317.41
21 842.77
8 753.80
13 420.26
25 968.85
11 229.80
14 259.27
28 758.25
14 435.30
14 635.58
24 260.33
15 258.12
13 955.71
25 989.80
14 890.10
14 262.63
21 702.25
12 173.50
13 385.06
22 567.17
9 813.40
13 594.44
24 619.39
12 885.10
14 024.42
21 898.34
13 532.40
13 434.06
22 327.76
14 640.80
13 538.21
27 378.11
16 855.20
14 466.96
21 386.49
17 445.00
13 304.25
24 847.36
20 338.60

Proyeksi
14 661.70
9 580.84
11 341.01
15 161.77
9 908.04
12 111.42
17 216.06
11 250.49
13 317.41
17 349.02
11 337.38
13 420.26
18 433.64
12 046.17
14 259.27
19 721.07
14 435.30
14 635.58
20 000.05
15 258.12
13 955.71
19 876.86
14 890.10
14 262.63
17 383.73
12 173.50
13 385.06
17 574.19
11 484.52
13 594.44
18 226.15
12 885.10
14 024.42
18 327.87
13 532.40
13 434.06
19 273.01
14 640.80
13 538.21
21 563.49
16 855.20
14 466.96
21 386.49
17 445.00
13 304.25
24 847.36
20 338.60

Perbedaan
-890.70
3 425.04
0.00
-1 344.93
2 863.74
0.00
-4 221.23
3 029.89
0.00
-4 493.75
2 583.58
0.00
-7 535.21
816.37
0.00
-9 037.18
0.00
0.00
-4 260.27
0.00
0.00
-6 112.94
0.00
0.00
-4 318.52
0.0
0.00
-4 992.99
1 671.12
0.00
-6 393.25
0.00
0.00
-3 570.47
0.00
0.00
-3.054.76
0.00
0.00
-5 814.62
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

Persen (%)
-5.73
55.64
0.00
-8.15
40.65
0.00
-19.69
36.86
0.00
-20.57
29.51
0.00
-29.02
7.27
0.00
-31.42
0.00
0.00
-17.56
0.00
0.00
-23.52
0.00
0.00
-19.90
0.00
0.00
-22.12
17.03
0.00
-25.97
0.00
0.00
-16.30
0.00
0.00
-13.68
0.00
0.00
-21.24
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

156

Produksi Lestari
2000 Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
2001 Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
2002 Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
2003 Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
2004 Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari

14 066.67
23 266.32
18 167.80
13 751.22
25 794.07
18 546.30
14 230.88
23 462.51
10 328.40
13 793.27
13 386.47
8 747.90
10 355.05
13 603.42
9 702.50
10 460.87

14 066.67
22 266.35
18 167.80
13 751.22
22 785.03
18 546.30
14 230.88
17 831.23
11 652.50
13 793.27
13 386.47
8 747.90
10 355.05
13 603.42
9 702.50
10 460.87

0.00
-999 96
0.00
0.00
-3 009.04
0.00
0.00
-5 631.28
1 324 .10
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

0.00
-4.30
0.00
0.00
-11.67
0.00
0.00
-24.00
12.82
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

157

Lampiran 9. Potensi Perbaikan Efisiensi Fisik dari DMU Penangkapan ikan Pelagis
Kecil
DMU
1984

Parameter

Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
1985
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
1986
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
1987
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
1988
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
1989 Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
1990 Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
1991
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
1992
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
1993
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
1994
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
1995
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
1996
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
1997
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
1998
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
1999
Effort

Skor Data
67 274.74
9 397.10
15 067.43
67 784.96
8 764.90
15 142.69
81 547.63
10 395.80
16 995.73
94 948.09
11 801.10
18 495.53
111 039.70
13 560.20
19 944.23
114 821.00
13 575.30
20 233.87
116 417.00
14 317.13
20 350.67
118 146.60
14 739.40
20 473.67
132 925.30
19 336.00
21 380.40
116.492.50
21 580.20
20 356.11
104 048.30
22 566.10
19 359.12
98 424.58
23 024.00
18 839.55
107 492.70
26 362.30
19 655.59
115 066.10
29 709.11
20 252.02
126 375.20
29 928.50
21 009.47
137 553.60

Proyeksi
67 274.74
9 397.10
15 067.43
67 610.78
9 444.04
15 142.69
75 884.45
10 599.72
16 995.73
82 648.58
11 801.10
18 495.53
89 334.46
13.560.20
19.944.23
90.585.60
13.575.30
20.233.87
91.277.24
14.317.13
20.350.67
91.914.29
14.739.40
20.473.67
96.987.98
19,336.00
21.380.40
93.888.53
21.580.20
20.356.11
91.585.09
22.566.10
19.359.12
90.321.90
23.024.00
18.839.55
99.936.40
26.362.30
19.655.59
111.785.00
29.709.11
20.252.02
112.879.00
29.928.50
21.009.47
126.716.20

Perbedaan
0.00
0.00
0.00
-174.18
679.14
0.00
-5 663.18
203.92
0.00
-12 299.50
0.00
0.00
-21 705.20
0.00
0.00
-24 235.40
0.00
0.00
-25 139.70
0.00
0.00
-26 232.30
0.00
0.00
-35 937.30
0.00
0.00
-22 603.90
0.00
0.00
-12 463.20
0.00
0.00
-8.102,68
0
0
-7.556.30
0.00
0.00
-3 281.13
0.00
0.00
-13 496.20
0.00
0.00
-10.837.40

Persen
(%)
0.00
0.00
0.00
-0.26
7.75
0.00
-6.94
1.96
0.00
-12.95
0.00
0.00
-19.55
0.00
0.00
-21.11
0.00
0.00
-21.59
0.00
0.00
-22.20
0.00
0.00
-27.04
0.00
0.00
-19.40
0.00
0.00
-11.98
0.00
0.00
-8.23
0.00
0.00
-7.03
0.00
0.00
-2.85
0.00
0.00
-10.68
0.00
0.00
-7.88

158

2000

2001

2002

2003

2004

Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari
Effort
Produksi Aktual
Produksi Lestari

33 833.50
21 614.43
120 188.20
32 090.50
20 614.13
141 395.40
33 612.00
21 791.81
102 745.80
17 522.80
19 242.75
83 801.61
22 005.80
17 268.10
71 682.64
15 988.60
15 701.73

33 833.50
21 733.79
120 188.20
32 090.50
20 614.13
125 975.10
33 612.00
21 791.81
87 321.52
17 522.80
19 242.75
83 801.61
22 005.80
17 268.10
71 682.64
15 988.60
15 701.73

0.00
119 357.10
0.00
0.00
0.00
-15 420.30
0.00
0.00
-15 424.30
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

0.00
0.55
0.00
0.00
0.00
-10.91
0.00
0.00
-15.01
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

159

Lampiran 10. Potensi Perbaikan Efisiensi moneter dari DMU Penangkapan ikan
Pelagis Besar

DMU

Parameter

1984 Biaya
Rente
Biaya
1985 Rente
1986 Biaya
Rente
1987 Biaya
Rente
1988 Biaya
Rente
Biaya
1989 Rente
1990 Biaya
Rente
Biaya
1991 Rente
1992 Biaya
Rente
Biaya
1993 Rente
1994 Biaya
Rente
Biaya
1995 Rente
1996 Biaya
Rente
Biaya
1997 Rente
1998 Biaya
Rente
1999 Biaya
Rente
2000 Biaya
Rente
2001 Biaya
Rente
2002 Biaya
Rente
2003 Biaya
Rente
2004 Biaya
Rente

Skor Data

Proyeksi

3 085 750 969


1 288 830 389
3 827 389 870
2 022 546 355
5 512 851 824
2 058 628 642
5 570 650 599
2 425 220 460
4 021 110 435
7 327 341 150
7 316 338 632
5 836 758 647
7 551 012 398
9 458 054 852
8 472 839 052
8 912 956 377
6 529 467 691
6 588 285 542
7 383 147 916
4 115 713 551
11 172 182 971
9 769 879 119
9 499 303 460
11 525 226 286
9 577 853 111
12 915 732 550
8 431 811 341
10 160 022 857
22 874 647 960
43 953 097 838
47 982 165 092
92 684 595 990
47 994 040 381
86 230 813 019
56 698 148 462
89 310 047 742
51 538 900 516
29 718 840 792
29 841 799 054
40 002 939 511
32 227 689 993
50 098 022 507

1 492 192 493


28 052 463 591
1 995 443 725
32 101 427 804
2 582 671 435
37 461 919 198
2 727 433 277
39 891 753 433
51 175 079 703
3 871 015 962
4 486 590 011
65 782 794 710
5 801 881 458
69 532 450 010
5 930 385 402
67 855 353 994
4 474 533 972
55 475 594 647
3 922 321 556
44 720 433 771
7 143 446 489
58 718 411 680
7 171 576 636
61 668 208 568
7 672 679 263
66 719 274 334
6 341 771 510
76 810 468 878
22 795 292 270
79 498 233 755
47 982 165 092
92 684 595 990
47 686 442 635
86 230 813 019
52 628 637 112
89 310 047 742
27 717 438 920
47 067 329 178
23 906 920 569
40 002 939 511
31 818 102 535
50 098 022 507

Perbedaan
-1 593 558 476
26 763 633 202
-1 831 946 145
30 078 881 449
-2 930 180 389
35 403 290 556
-2 843 217 321
37 466 532 973
47 153 969 268
-3 456 325 188
-2 829 748 621
59 946 036 063
-1 749 130 940
60 074 395 157
-2 542 453 650
58 942 397 618
-2 054 933 719
48 887 309 105
-3 460 826 359
40 604 720 220
-4 028 736 482
48 948 532 561
-2 327 726 824
50 142 982 282
-1 905 173 848
53 803 541 784
-2 090 039 831
66 650 446 021
-79 355 690
35 545 135 917
0.00
0.00
-307 597 746
0.0
-4 069 511 350
0.00
-23 821 461 595
17 348 488 386
-5 934 878 485
0.00
-409 587 458
0.00

Persen
(%)
-51.64
999.99
-47.86
999.99
-53.15
999.99
-51.04
999.99
999.99
-47.17
-38.68
999.99
-23.16
635.17
-30.01
661.31
-31.47
742.03
-46.87
986.58
-36.06
501.01
-24.50
435.07
-19.89
416.57
-24.79
656.01
-0.35
80.87
0.00
0.00
-0.64
0.00
-7.18
0.00
-46.22
58.38
-19.89
0.00
-1.27
0.00

160

Lampiran 11. Potensi Perbaikan Efisiensi Moneter dari DMU Penangkapan ikan
Pelagis Kecil

DMU
1984

1985
1986

1987
1988

1989
1990

1991
1992

1993
1994

1995
1996

1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

Parame
ter
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente
Biaya
Rente

Skor Data

Proyeksi

Perbedaan

2 748 084 812


2 277 133 111
3 235 733 186
2 241 601 878
4 317 324 707
2 887 845 759
4 985 187 445
3 126 303 871
6 450 135 159
3 861 789 647
6 013 808 426
3 294 284 469
7 459 709 525
4 550 331 625
7 929 472 103
5 021 006 260
8 233 373 206
7 445 674 772
7 846 197 487
11 182 096 855
9 720 592 046
17 878 653 655
8 789 842 971
18 128 064 492
9 492 900 809
20 985 083 134
7 295 612 942
17 364 043 646
27 827 474 459
58 446 507 623
54 685 051 629
121 401591 590
51 040 917 030
127 367 827 383
63 985 471 332
135 138 417 336
46 464 563 905
57 274 961 361
38 459 914 398
93 753 677 108
34 747 287 539
67 339 923 461

1 437 663 450


37 297 275 228
1 567 009 540
34 788 060 960
2 061 325 577
41 261 135 224
2 320 614 702
46 838 798 639
2 950 136 217
53 820 701 232
2 662 950 175
53 880 633 430
3 435 949 936
56 824 971 330
3 704 999 404
58 500 969 288
4.485 615 263
76 744 965 341
5 443 800 392
85 652 239 401
7 895 861 913
89 565 295 945
7 700 938 011
91 382 710 075
8 719 439 480
104 632 000 000
7 054 875 533
117 916 000000
24 682 103 872
118 787 000 000
50 376 587 628
134 286 000 000
51 040 917 030
127 368 000 000
57 136 393 223
135 138 417 332
29 678 817 141
69 548 338 782
38 459 914 398
93 753 677 108
29 614 507 018
67 339 923 461

-1 310 421 362


35 020 142 117
-1 668 723 646
32 546 459 082
-2 255 999 130
38 373 289 465
-2 664 572 743
43 712 494 768
-3 499 998 941
49 958 911 585
-3 350 858 251
50 586 348 961
-4 023 759 590
52 274 639 705
-4 224 472 700
53 479 963 028
-3 747 757 943
69 299 290 569
-2 402 397 096
74 470 142 546
-1 824 730.133
71 686 642.290
-1 088 904.960
73 254 645.583
-773 461.329
83 647 405.479
-240 737.408
100 552 000 000
-3 145 370 587
60 340 299 121
-4 308 464 000
12 884 237 169
0.00
0.00
-6 849 078 109
0.00
-16 785 746 764
12 273 377 420
0 00
0 00
-5 132 780 521
0.00

Persen
(%)
-47.68
999.99
-51.57
999.99
-52.25
999.99
-53.45
999.99
-54.26
999.99
-55.72
999.99
-53.94
999.99
-53.28
999.99
-45.52
930.73
-30.62
665.98
-18.77
400.96
-12.39
404.10
-8.15
398.60
-3.30
579.08
-11.30
103.24
-7.88
10.61
0.00
0.00
-10.70
0.00
-36.13
21.43
0.00
0.00
-14.77
0.00

161

Lampiran 12. Efisiensi Teknis Input Kapal Motor Tonda


Kapal

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44

output

Input

Produksi
pelagis
besar

Produksi
ikan
lainnya

8 436
7 950
7 045
7 608
7 803
9 604
7 138
8 011
8 917
8 320
9 574
8 994
7 914
7 829
8 774
7 438
7 668
8 742
9 224
15 472
13 254
13 451
14 637
11 984
10 378
10 491
9 665
9 473
10 123
9 554
10 736
9 079
10 188
9 897
9 995
10 670
11 729
9 426
7 625
7 586
12 392
10 645
8 489
9 288

2 812
2 650
2 348
2 536
2 601
5 171
3 844
2 003
1 957
1 826
2 102
1 974
1 737
1 718
1 926
2 892
2 982
2 466
2 602
1 719
2 339
2 374
3 213
2 631
1 831
1 851
1 444
1 415
1 513
1 428
1 604
1 357
1 522
1 479
1 493
1 595
1 753
1 663
2 151
2 140
1 690
1 452
1.158
1.267

Tonnase Panjang Kekuatan Upaya ABK


/trip
(org)
kapal
kapal
mesin
(pk)
(GT)
10.6
8.8
6.0
7.0
9.0
12.6
10.0
8.0
9.0
7.0
10.0
8.0
7.0
7.0
8.0
8.0
7.5
7.4
8.0
10.0
9.0
8.0
8.0
9.0
10.0
9.0
8.0
8.5
9.0
11.5
10.0
8.3
8.2
9.0
10.0
10.0
6.8
4.5
5.0
7.0
11.4
4.0
4.3
1.6

13.0
12.0
12.5
11.5
12.0
17.0
13.0
11.0
12.0
11.0
13.0
11.0
11.0
11.0
12.0
11.0
11.0
11.0
11.0
15.0
14.0
16.2
13.0
14.0
13.5
15.2
14.0
15.0
15.1
14.8
13.0
11.7
12.0
13.0
14.0
14.0
15.0
10.0
10.0
12.0
13.0
10.0
10.0
8.0

33
22
16
16
22
40
40
33
33
33
33
33
22
33
33
16
16
16
22
22
16
16
33
33
24
16
16
22
24
33
33
22
22
22
33
33
16
12
23
23
16
22
23
14

12
12
12
12
12
22
17
18
18
18
18
18
18
18
18
18
18
18
17
15
14
14
14
14
14
13
12
13
12
13
15
13
12
13
22
22
23
22
18
18
18
18
18
18

3
3
3
3
3
5
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
3
3
3
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
3
4
3
3
3

Efisien
si
teknis
input

1.00
0.98
1.00
1.00
0.96
1.00
0.97
0.71
0.66
0.67
0.65
0.73
0.69
0.63
0.65
0.97
1.00
0.97
0.97
1.00
1.00
1.00
1.00
0.82
0.72
0.82
0.80
0.66
0.72
0.64
0.73
0.70
0.78
0.71
0.66
0.71
0.90
1.00
0.95
0.80
0.96
1.00
0.79
1.00

162

45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82

10 842
9 023
7 523
7 873
8 393
7 979
9 333
11 388
9 995
8 838
10 798
10 480
10 441
12 947
10 008
11 464
14 988
11 863
12 610
9 854
11 917
10 749
11 629
12 321
12 199
12 929
13 458
13 066
17 768
16 620
15 520
12 214
12 931
8 804
8 977
14 291
11 474
8 998

1.479
1.592
2.376
2.486
2.650
2.520
1.647
2.010
1.764
1.560
1.906
1.849
1.843
2.205
1.629
1.866
2.440
1.931
2.053
1.604
2.103
1.897
2.052
2.174
2.153
2.282
2.375
2.306
3.136
2.266
2.116
2.155
2.281
1.554
2.681
2.522
2.025
2.250

10.3
5.0
8.1
11.7
11.7
8.1
8.3
14.8
10.1
10.2
9.1
10.0
9.8
6.6
10.2
6.1
10.1
10.1
12.4
10.6
11.5
11.5
12.4
12.6
12.8
13.3
12.7
5.9
11.8
11.3
9.2
12.6
7.7
8.9
9.1
9.5
9.3
5.6

14.7
11.0
12.7
16.2
16.2
12.8
12.0
12.0
12.9
13.0
11.7
12.8
12.5
12.6
13.5
12.8
14.1
13.9
15.6
14.0
16.0
14.8
15.5
16.0
16.2
16.3
15.8
11.0
15.0
15.5
14.5
15.8
13.1
12.4
13.8
14.7
13.7
10.5

33
16
22
33
33
22
22
33
22
22
16
22
16
16
33
33
22
22
33
16
40
22
33
33
33
33
33
33
37
37
33
33
26
22
33
33
23.4
22

14
18
18
18
18
18
13
13
13
12
12
12
12
22
22
22
15
12
12
18
22
12
12
14
12
12
12
23
12
12
12
12
22
12
16
12
12
18

5
3
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
4
4
4
4
4
4
3
4
4
4
4
4
4
4
4
5
5
5
4
4
3
4
4
4
3

0.64
0.88
0.74
0.67
0.72
0.78
0.72
0.80
0.73
0.65
1.00
0.93
0.96
1.00
0.67
0.81
1.00
0.87
0.86
0.89
0.80
0.78
0.80
0.83
0.84
0.89
0.92
1.00
1.00
0.96
1.00
0.84
0.90
0.79
0.75
0.98
0.82
0.95

163

Lampiran 13. Ukuran kapasitas dan kapasitas optimal kapal motor tonda

Kapal

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
41
43
44
45

Output (kg)
Produksi Produksi
pelagis
ikan
besar
lainnya

Ukuran
kapasitas
(Theta)

kapasitas

2 812
2 650
2 348
2 536
2 601
4 579
3 494
2 003
1 957
1 826
2 102
1 974
1 737
1 718
1 926
2 892
2 982
2 466
2 602
1 719
2 339
2 374
3 213
2 631
1 831
1 851
1 444
1 415
1 513
1 428
1 604
1 357
1 522
1 479
1 493
1 595
1 753
1 663
2 151
2 140
1 690
1 452
1 038
1 147
1 358

1.28
1.21
1.10
1.11
1.23
1.00
1.03
1.41
1.52
1.53
1.38
1.44
1.58
1.54
1.54
1.03
1.00
1.05
1.09
1.05
1.00
1.00
1.00
1.28
1.42
1.27
1.37
1.71
1.66
1.82
1.44
1.49
1.35
1.48
1.65
1.55
1.11
1.00
1.11
1.39
1.05
1.10
1.38
1.00
1.60

14 408.69
12 836.60
10 304.12
11 219.26
12 838.54
14 775.00
11 300.48
14 139.77
16 474.11
15 107.39
17 851.08
15 102.94
13 926.39
15 103.35
16 478.00
10 650.23
10 650.00
11 812.18
12 913.99
18 033.36
15 593.00
15 825.00
17 850.00
18 720.53
17 336.78
15 723.71
15 163.79
18 663.75
19 290.83
20 020.19
17 707.90
15 548.15
15 548.15
16 847.86
22 309.15
20 671.41
14 965.02
11 089.00
10 840.48
13 546.93
14 814.26
13 317.70
13 350.06
10 555,00
19 662.72

8 436
7 950
7 045
7 608
7 803
8 504
6 488
8 011
8 917
8 320
9 574
8 994
7 914
7 829
8 774
7 438
7 668
8 742
9 224
15 472
13 254
13 451
14 637
11 984
10 378
10 491
9 665
9 473
10 123
9 554
10 736
9 079
10 188
9 897
9 995
10 670
11 729
9 426
7 625
7 586
12 392
10 645
7 609
8 408
9 962

Input variabel
upaya ABK Upaya
ABK
optimal optimal

12
12
12
12
12
22
17
18
18
18
18
18
18
18
18
18
18
18
17
15
14
14
14
14
14
13
12
13
12
13
15
13
12
13
22
22
23
22
18
18
18
18
18
18
14

3
3
3
3
3
5
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
3
3
3
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
3
4
3
3
3
5

15.48
17.42
18.68
19.49
17.42
22.00
16.83
12.26
12.92
11.84
14.00
11.84
14.96
11.84
12.92
18.00
18.00
18.05
14.91
29.30
14.00
14.00
14.00
16.41
22.57
14.00
16.63
29.29
30.86
18.94
12.66
24.01
24.70
26.65
14.30
14.30
20.86
22.00
17.05
18.65
19.71
19.21
18.97
18.00
18.35

3.91
3.41
3.11
3.30
3.41
5.00
3.82
3.36
3.69
3.38
4.00
3.38
3.37
3.38
3.69
3.00
3.00
3.20
3.20
5.12
4.00
4.00
4.00
4.30
4.44
4.00
4.00
5.12
5.32
5.14
4.39
4.26
4.35
4.64
4.76
4.76
4.00
4.00
3.30
3.65
4.00
3.64
3.63
3.00
5.09

164

46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82

9 023
7 523
7 873
8 393
7 979
9 333
11 388
9 995
8 838
10 798
10 480
10 441
10 797
10 008
9 744
14 988
11 863
12 610
9 854
10 217
10 749
11 629
12 321
12 199
12 929
13 458
13 066
17 768
16 620
15 520
12 214
12 931
8 804
8 977
14 291
11 474
8 998

1 592
2 376
2 486
2 650
2 520
1 647
2 010
1 764
1 560
1 906
1 849
1 843
1 905
1 629
1 586
2 440
1 931
2 053
1 604
1 803
1 897
2 052
2 174
2 153
2 282
2 375
2 306
3 136
2 266
2 116
2 155
2 281
1 554
2 681
2 522
2 025
2 250

1.26
1.37
1.74
1.63
1.31
1.41
1.25
1.40
1.59
1.12
1.32
1.22
1.00
1.60
1.32
1.02
1.27
1.44
1.35
1.59
1.45
1.52
1.47
1.50
1.42
1.34
1.00
1.00
1.10
1.10
1.47
1.14
1.54
1.38
1.19
1.29
1.11

13 364.29
13 718.63
18 024.66
18 033.22
13 774.69
15 525.72
16 747.50
16 403.81
16 501.63
14 177.66
16 311.27
14 923.85
14 702.00
20 181.29
17 555.61
17 758.52
17 559.76
21 099.05
15 411.01
22 235.72
18 273.47
20 837.69
21 322.15
21 526.20
21 628.62
21 136.25
15 371.00
20 904.00
20.812.37
19.417.24
21.136.80
17.281.97
15.920.25
16.076.38
20.007.47
17.427.21
12.462.78

18
18
18
18
18
13
13
13
12
12
12
12
22
22
22
15
12
12
18
22
12
12
14
12
12
12
23
12
12
12
12
22
12
16
12
12
18

3
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
4
4
4
4
4
4
3
4
4
4
4
4
4
4
4
5
5
5
4
4
3
4
4
4
3

20.38
19.58
21.96
21.96
19.98
20.07
17.84
21.57
21.73
19.82
21.40
21.76
22.00
12.01
25.08
26.15
25.79
24.61
14.01
16.70
24.71
25.97
26.80
27.12
27.29
26.46
23.00
12.00
14.89
17.20
26.45
21.93
20.74
16.66
20.40
22.90
16.27

3.61
3.65
4.70
4.70
3.69
3.98
4.19
4.21
4.24
3.70
4.19
3.95
4.00
4.53
4.64
4.74
4.69
5.46
4.00
5.41
4.72
5.30
5.43
5.48
5.51
5.38
4.00
5.00
5.24
5.00
5.38
4.41
4.08
4.16
4.98
4.48
3.34

165

Lampiran 14. Efisiensi kapal motor tonda dengan memasukkan nilai


moneter (penerimaan dan biaya operasional)
Kapal

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
41
43
44
45

Output
Produksi
Penerimaan
(RP)
(kg)

11 248
10 600
9 393
10 144
10 404
14 775
10 982
10 014
10 874
10 146
11 675
10 968
9 651
9 547
10 700
10 330
10 650
11 207
11 826
17 191
15 593
15 825
17 850
14 614
12 209
12 342
11 109
10 889
11 635
10 982
12 340
10 435
11 710
11 376
13 488
13 345
13 482
11 089
9 775
9 725
14 082
12 096
9 646
10 555
12 320

96 048 000
91 094 500
75 731 150
83 551 000
85 662 000
118 108 500
91 584 500
77 719 750
84 012 500
78 406 500
91 475 850
86 731 500
76 545 965
75 222 282
84 868 125
91 903 050
81 577 125
85 196 925
94 037 840
136 450 800
125 232 860
121 837 800
142 127 050
115 525 475
96 127 260
95 816 300
86 882 500
87 710 200
91 163 900
88 229 375
96 275 000
84 470 000
92 651 000
89 288 750
103 515 850
107 882 750
103 848 000
88 563 200
78 105 650
75 275 350
110 266 460
96 396 900
75 362 525
83 880 900
97 130 550

Input
Upaya
(trip)

Efisiensi

Biaya
operasional
(Rp)
12
12
12
12
12
22
17
18
18
18
18
18
18
18
18
18
18
18
17
15
14
14
14
14
14
13
12
13
12
13
15
13
12
13
22
22
23
22
18
18
18
18
18
18
14

32 715 000
33 150 000
31 424 000
31 545 000
32 226 000
49 082 000
39 410 000
25 756 000
25 748 500
26 347 500
25 909 000
24 166 000
24 079 450
24 859 500
27 406 500
30 994 500
28 487 500
27 271 500
27 779 500
50 238 000
56 956 500
49 158 000
54 078 000
48 600 500
42 195 500
40 979 500
41 234 000
42 871 000
43 971 000
45 877 000
46 398 500
42 669 000
41 768 150
41 425 000
38 263 000
38 999 000
34 830 500
36 454 500
28 387 000
27 690 000
50 842 500
32 699 000
31 724 000
29 226 000
32 781 000

0.78
0.73
0.63
0.69
0.70
0.53
0.53
0.68
0.74
0.67
0.78
0.79
0.70
0.67
0.68
0.65
0.65
0.72
0.74
0.80
0.69
0.77
0.82
0.72
0.65
0.69
0.64
0.59
0.64
0.57
0.60
0.57
0.67
0.63
0.52
0.55
0.67
0.53
0.60
0.61
0.60
0.65
0.47
0.58
0.69

166

46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82

10 615
9 898
10 359
11 043
10 499
10 980
13 398
11 759
10 398
12 704
12 329
12 283
14 702
11 637
13 330
17 428
13 794
14 662
11 458
14 020
12 646
13 682
14 495
14 351
15 210
15 832
15 371
20 904
18 886
17 636
14 369
15 123
10 358
11 658
16 813
13 499
11 248

82 863 350
78 639 325
80 874 500
86 022 875
81 212 750
86 860 000
106 372 250
95 675 000
84 720 750
100 625 000
96 990 000
97 140 000
112 200 000
92 065 500
95 101 225
144 196 950
109 451 700
114 348 454
96 645 590
111 642 350
100 317 860
106 998 125
118 165 050
112 869 100
119 519 875
127 490 048
125 552 000
172 318 000
150 107 000
142 973 250
114 226 717
118 405 022
83 257 430
89 632 730
134 446 872
106 161 429
89 881 298

18
18
18
18
18
13
13
13
12
12
12
12
22
22
22
15
12
12
18
22
12
12
14
12
12
12
23
12
12
12
12
22
12
16
12
12
18

21 192 000
23 611 500
24 339 500
24 499 500
23 599 500
24 517 500
23 321 500
32 141 000
31 412 000
32 131 000
33 056 000
31 877 000
38 862 500
33 116 500
39 996 000
51 187 000
49 356 000
48 377 000
36 198 000
39 115 500
38 222 500
38 968 020
51 084 000
48 852 000
47 358 000
44 712 000
45 320 000
54 863 000
51 894 000
51 147 000
44 766 195
37 314 757
32 212 000
28 274 000
52 116 875
43 021 461
33 428 083

0.87
0.73
0.74
0.79
0.77
0.80
1.00
0.76
0.71
0.84
0.81
0.82
0.57
0.61
0.50
0.82
0.71
0.76
0.62
0.54
0.76
0.81
0.69
0.74
0.80
0.87
0.64
1.00
0.94
0.88
0.78
0.71
0.69
0.72
0.83
0.76
0.60

167

Lampiran 15. Efisiensi Teknis Input Perahu Motor Tempel

Kapal

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
41
43
44

output
Produksi
pelagis
besar

Produksi
ikan
lainnya

9 609.78
6 714.99
5 774.25
6 488.75
9 450.78
5 271.50
6 450.75
7 060.75
7 599.38
11 196.06
7 277.75
5 921.40
11 665.10
10 805.40
10 686.50
9 833.90
8 966.80
6 038.08
5 102.70
6 439.95
9 036.50
11 425.42
11 123.52
8 568.83
11 901.76
10 804.04
11 899.68
10 999.56
12 232.48
10 760.88
10 936.12
10 968.88
9 522.24
10 127.52
9 824.36
8 470.28
9 265.36
9 361.04
15 191.37
10 974.06
9 955.35
10 380.24
11 941.48
8 321.76

22 422.82
15 668.31
17 322.75
19 466.25
28 352.35
15 814.50
19 352.25
21 182.25
22 798.13
26 124.14
21 833.25
13 816.60
17 497.65
7 824.60
7 738.50
7 121.10
6 493.20
20 214,43
20 410.80
17 411.72
10 190.10
12 883.98
12 050.48
9 282.90
10 986.24
9 972.96
10 984.32
10 153.44
11 291.52
9 933.12
10 094.88
10 125.12
8 789.76
9 348.48
9 068.64
7 818.72
8 552.64
8 640.96
2 893.59
5 909.11
9 189.55
5 589.36
8 647.28
9 015.24

Input
Tonnase Panjang Kekuatan Upaya ABK
/trip
(org)
kapal
kapal
mesin
(pk)
(GT)
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
3
3
3
3
3
3
3
2
2
3
3
2
3
2
4
2
3
3
2
3
3
3
3
2
2
2
2

10
11
10
11
11
11
11
11
11
11
11
10
10
8
10
9
10
12
12
12
12
12
12
12
10
8
12
12
8
12
10
14
11
13
13
11
12
12
12
12
11
11
10
10

40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
15
15
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40

99
101
103
109
104
94
96
110
116
110
115
85
108
87
101
97
98
123
125
108
126
121
122
122
143
143
147
140
138
135
142
136
138
133
128
135
138
136
125
129
119
129
120
112

10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
12
12
12
12
12
12
12
9
10
10
11
11
12
10
11
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
12

Efisien
si
teknis
input

0.85
0.65
0.67
0.69
1.00
0.62
0.74
0.75
0.81
1.00
0.77
0.68
1.00
1.00
0.94
0.88
0.80
0.71
0.72
0.63
0.66
0.84
0.81
0.63
1.00
1.00
0.88
0.76
1.00
0.74
1.91
0.67
0.79
0.75
0.73
0.71
0.68
0.69
1.00
0.76
0.84
0.87
1.00
0.71

168

45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84

9 255.36
10 534.80
7 834.40
8 079.07
13 353.80
12 002.07
9 693.00
8 411.20
7 853.40
10 567.15
11 608.30
9 843.65
12 376.10
9 955.00
12 834.25
11 970.75
11 133.00
10 318.00
11 048.40
11 548.74
9 193.38
9 997.68
7 821.66
8 617.98
8 539.02
9 244.62
8 267.70
8 505.42
8 670.48
9 182.88
8 541,12
10 670.92
10 722.92
11 035.50
8 649.06
10 289.40
9 778.60
7 531.80
9 833.72
13 503.00

10 026.64
15 802.20
11 751.60
12 118.60
8 902.53
18 003.10
14 539.50
12 616.80
11 780.10
8 465.85
9 497.70
7 759.35
10 125.90
8 145.00
10 500.75
9 794.25
9 108.90
8 442.00
9 039.60
15 948.26
12 695.62
13 806.32
10 801.34
11 901.02
11 791.98
12 766.38
11 417.30
11 745.58
11 973.52
12 681.12
11 794.88
9 850.08
9 898.08
15 239.50
11 943.94
8 418.60
9 026.40
17 154.20
9 077.28
9 002.40

2
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
3
3
3
2
2
2
2
3
3
3
3
3
3

11
12
12
12
12
12
12
12
12
11
11
12
11
11
11
11
11
11
12
10
11
12
12
13
11
10
12
12
12
12
10
10
10
11
11
11
12
12
12
12

40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40

119
110
100
100
99
102
110
107
104
134
132
130
137
126
136
133
128
123
126
133
138
132
114
127
126
120
111
118
129
124
130
144
133
104
112
120
135
118
121
120

12
11
11
11
11
12
10
11
11
10
10
10
10
10
10
10
12
12
10
12
12
12
12
12
12
10
12
12
12
12
10
10
11
10
11
12
10
12
12
11

0.78
0.84
0.67
0.69
1.00
1.00
0.80
0.68
0.65
0.88
0.87
0.69
0.92
0.74
0.96
0.89
0.80
0.76
0.80
0.92
0.69
0.73
0.61
0.63
0.66
0.79
0.65
0.65
0.64
0.69
0.73
0.89
0.88
0.96
0.70
0.76
0.72
0,64
0.71
0.95

169

Lampiran 16.

Efisiensi Perahu Motor Tempel Payang dengan memasukkan


nilai moneter (penerimaan dan Biaya Operasional)

No.
Produksi
(kg)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
41
43
44

32 033
22 383
23 097
25 955
37 803
21 086
25 803
28 243
30 398
37 320
29 111
19 738
29 163
18 630
18 425
16 695
15 460
26 253
25 514
23 852
19 277
24 309
23 174
17 852
22 888
20 277
22 884
21 153
23 424
20 694
21 031
21 094
18 312
19 476
18 893
16 289
17 818
18 002
18 085
16 883
19 145
15 970
20 589
17 377

Output
Penerimaan
(RP)

146 587 675


95 300 200
118 952 050
127 109 000
121 156 150
86 220 400
155 237 500
141 074 500
168 311 500
175 203 950
119 872 650
129 305 750
173 169 000
79 625 000
77 330 000
75 525 000
72 575 000
95 880 000
90 055 000
82 665 833
87 179 000
111 098 650
107 967 375
86 528 935
79 057 510
78 661 950
86 868 500
78 760 165
84 122 618
73 487 573
80 674 171
79 351 903
65 813 489
73 437 725
69 347 418
63 223 920
65 271 169
65 192 000
102 173 750
81 833 743
121 283 350
73 876 667
114 119 623
76 290 450

Input
Upaya
(trip)

Biaya
operasional
(Rp)

99
101
103
109
104
94
96
110
116
110
115
85
108
87
101
97
98
123
125
108
126
121
122
122
143
143
147
140
138
135
142
136
138
133
128
135
138
136
125
129
119
129
120
112

22 537 500
22 982 500
23 530 500
24 794 500
23 763 000
21 595 500
21 920 000
25 140 000
26 390 000
25 480 000
26 162 500
19 337 500
24 570 000
21 522 500
24 660 000
23 776 000
24 100 500
27 973 500
28 403 500
24 570 000
28 764 000
27 529 500
27 573 000
27 765 000
33 367 500
33 267 500
34 152 500
32 624 000
17 940 000
27 075 000
21 425 000
17 000 000
24 403 500
23 529 000
22 747 500
19 195 000
20 345 000
20 722 500
29 107 500
30 047 500
27 682 500
30 017 500
28 075 000
26 030 000

Efisiensi

0.96
0.65
0.73
0.74
1.00
0.65
1.00
0.81
0.91
1.00
0.74
0.94
0.98
0.62
0.53
0.51
0.47
0.61
0.58
0.62
0.45
0.60
0.57
0.45
0.45
0.41
0.44
0.43
0.84
0.49
0.64
0.81
0.48
0.54
0.54
0.55
0.57
0.56
0.51
0.40
0.63
0.36
0.59
0.45

170

45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
..

19 282
26 337
19 586
20 198
22 256
30 005
24 233
21 028
19 634
19 213
21 106
17 243
22 502
18 100
23 335
21 765
20 242
18 760
20 088
27 497
21 889
23 804
18 623
20 519
20 331
22 011
19 685
20 251
20 644
21 864
20 336
20 521
20 621
26 275
20 593
18 708
18 805
24 506
18 911
22 506

75 541 700
145 743 374
92 686 500
96 630 667
119 417 500
118 337 313
112 520 867
85 186 100
80 408 250
77 892 614
86 399 712
65 006 491
89 026 655
69 351 625
81 893 625
80 461 075
75 401 020
79 532 615
73 659 500
97 196 463
81 904 162
89 337 504
78 724 371
83 971 184
81 378 552
77 808 500
77 990 316
75 818 716
92 645 461
82 218 071
75 732 500
74 012 031
74 587 016
125 249 322
86 776 017
68 783 914
66 608 904
94 769 028
74 868 141
114 491 510

119
110
100
100
99
102
110
107
104
134
132
130
137
126
136
133
128
123
126
133
138
132
114
127
126
120
111
118
129
124
130
144
133
104
112
120
135
118
121
120

27 697 500
25 635 000
23 260 000
23 315 000
23 037 500
23 795 000
25 590 000
24 837 500
24 135 000
23 831 000
23 454 000
23 162 500
31 847 500
29 345 000
31 590 000
30 952 500
22 803 000
21 882 000
22 413 000
35 077 500
36 255 000
35 772 000
32 168 000
34 336 500
34 773 000
21 370 000
31 017 500
32 712 000
35 487 500
34 187 000
23 042 500
33 352 875
21 086 750
23 707 962
25 193 571
25 609 731
21 993 750
26 982 333
33 351 000
27 807 000
.

0.46
0.82
0.58
0.61
0.75
0.84
0.65
0.56
0.54
0.53
0.60
0.48
0.47
0.41
0.48
0.46
0.58
0.57
0.58
0.58
0.45
0.51
0.47
0.46
0.46
0.66
0.51
0.48
0.47
0.50
0.57
0.40
0.63
0.76
0.54
0.47
0.55
0.59
0.45
0.60

171

Lampiran 17. Efisensi Teknis Input Kapal Motor Bagan


Kapal

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
41
43
44
45

output

Input

Produksi
pelagis
besar

Produksi
ikan
lainnya

35 575
16 228
30 615
23 172
18 233
19 278
15 553
20 227
19 520
21 133
32 471
54 608
48 014
30 831
15 451
41 772
35 540
28 192
27 931
25 298
22 722
22 484
10 677
22 360
23 729
25 727
12 421
25 589
17 554
15 794
18 959
21 185
12 916
15 183
19 645
20 268
18 529
20 848
20 596
22 441
23 498
34 975
34 160
30 617
19 462

13 835
6 311
11 906
9 011
7 091
7 497
6 049
7 866
7 591
8 218
12 627
21 237
18 672
11 990
6 009
16 245
13 821
10 964
10 862
9 838
8 836
8 744
4 152
8 696
9 228
10 005
4 831
9 951
6 827
6 142
7 373
8 239
5 023
5 905
7 640
7 882
7 206
8 107
8 009
8 727
9 138
13 601
13 285
11 907
7 568

Tonnase Panjang Kekuatan Upaya ABK


kapal
kapal
mesin
/trip
(org)
(pk)
(GT)
16
16
14
21
18
16
19
21
21
21
18
30
29
24
15
16
25
22
13
25
17
15
16
23
15
19
19
21
22
12
15
19
14
15
13
14
16
12
12
18
12
29
19
19
12

40
33
40
120
33
120
33
120
120
120
100
120
120
120
100
100
190
190
120
160
100
100
90
120
80
33
100
120
190
100
100
45
33
33
16
40
80
33
33
33
33
40
90
40
40

18
18
16
21
17
18
21
20
20
20
20
21
21
24
17
19
21
22
15
21
16
16
18
22
18
18
20
20
20
16
17
18
17
17
17
17
18
16
16
17
16
21
19
19
16

69
74
98
48
98
91
77
74
84
100
71
58
62
86
69
56
32
39
62
36
25
28
32
95
40
118
30
42
53
82
94
116
45
51
117
101
105
109
115
108
121
105
69
89
90

8
8
8
9
7
8
8
8
8
8
8
16
16
10
10
10
12
12
10
12
10
10
8
8
8
7
8
12
12
8
8
9
8
8
8
8
9
8
8
8
8
10
10
10
8

Efisien
si
teknis
input

0.78
0.41
0.66
0.35
0.47
0.32
0.39
0.34
0.32
0.36
0.54
0.69
0.57
0.41
0.22
0.54
0.81
0.53
0.45
0.51
0.66
0.59
0.24
0.37
0.43
0.66
0.30
0.45
0.24
0.28
0.32
0.41
0.36
0.41
0.98
0.44
0.27
0.50
0.50
0.54
0.57
0.47
0.45
0.41
0.42

172

46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96

41 485
22 263
21 138
31 688
37 951
92 468
87 171
88 861
83 700
90 313
60 409
45 651
18 723
17 893
21 487
21 066
24 301
18 643
21 188
13 791
24 101
22 893
23 111
40 404
31 144
18 532
25 073
26 354
23 186
18 667
24 182
19 244
21 479
22 483
22 294
27 321
22 233
22 890
24 184
25 054
25 622
22 738
24 756
26 472
27 017
72 356
20 869
22 587
19 500
23 671
25 024
.

16 133
8 658
8 220
12 323
14 759
35 960
33 900
34 557
32 550
35 122
23 493
17 753
7 281
6 958
8 356
8 192
9 450
7 250
8 240
5 363
9 373
8 903
8 988
15 713
12 112
7 207
9 751
10 249
9 017
7 260
9 404
7 484
8 353
8 743
8 670
10 625
8 646
8 902
9 405
9 743
9 964
8 843
9 628
10 294
10 507
28 138
8 116
6 371
5 500
5 918
5 493

12
12
12
13
20
29
29
19
22
19
19
21
18
13
15
12
18
19
26
15
14
16
14
15
12
12
17
17
17
15
18
14
16
15
18
18
28
20
20
19
16
20
15
18
13
24
17
18
18
15
14

33
33
33
33
33
120
120
90
120
90
90
90
33
33
90
33
190
100
100
33
33
100
33
100
33
33
33
33
33
120
100
33
100
33
100
160
160
120
120
160
33
45
100
100
40
100
90
90
45
45
70

16
16
16
16
18
21
21
19
20
19
19
20
19
14
17
16
19
16
18
14
17
18
17
17
16
17
19
19
17
17
18
17
18
18
18
19
21
19
19
19
17
17
16
16
16
20
17
18
19
17
17

85
84
71
90
125
90
78
84
78
66
54
60
73
90
123
123
93
97
122
51
123
123
126
121
71
83
88
84
118
85
95
96
109
119
122
98
102
119
120
120
121
121
103
96
103
70
67
93
85
91
85

8
8
8
8
11
16
16
12
12
12
12
10
8
6
10
7
12
8
8
6
8
8
6
10
8
8
8
8
10
8
10
8
8
8
8
12
10
8
8
11
10
10
10
10
10
14
9
8
8
8
8

1.00
0.54
0.53
0.76
0.92
0.93
0.87
0.98
0.93
1.00
0.82
0.61
0.47
0.49
0.30
0.54
0.28
0.31
0.35
0.38
0.58
0.38
0.63
0.57
0.79
0.45
0.60
0.64
0.56
0.31
0.32
0.46
0.36
0.54
0.37
0.32
0.30
0.38
0.40
0.30
0.62
0.44
0.35
0.35
0.57
0.76
0.31
0.38
0.38
0.39
0.48

173

Lampiran 18. GAMS Output untuk Analisis DEA Perikanan Pelagis Besar
GAMS Rev 128 Windows NT/95/98
07/13/06 12:18:31 PAGE
Data Envelopment Analysis - DEA (DEA,SEQ=192)
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56

sets i units
is(i) selected unit
j inputs and outputs
ji(j) inputs
jo(j)
outputs
Parameter data(i,j) unit input output
vlo
v lower bound
ulo
u lower bound
norm
normalizing constant
Variables v(ji) input weights
u(jo) output weights
eff efficiency
var dual convexicty
lam(i) dual weights
vs(ji) input duals
us(jo) output duals
Z
positive variables u,v,vs,us,lam;
Equations defe(i) efficiency definition - weighted output
denom(i) weighted input
lime(i) 'output / input < 1'
dii(i,ji) input duals
dio(i,jo) output dual
defvar variable return to scale
dobj
dual objective;
* primal model
defe(is).. eff =e= sum(jo, u(jo)*data(is,jo)) - 1*var;
denom(is).. sum(ji, v(ji)*data(is,ji)) =e= norm;
lime(i)..

sum(jo, u(jo)*data(i,jo)) =l= sum(ji, v(ji)*data(i,ji)) +


var;

57
GAMS Rev 128 Windows NT/95/98
07/13/06 12:18:31 PAGE
Data Envelopment Analysis - DEA (DEA,SEQ=192)

58 * dual model
59
60 dii(is,ji).. sum(i, lam(i)*data(i,ji)) + vs(ji) =e= z*data(is,ji);
61

174

62 dio(is,jo).. sum(i, lam(i)*data(i,jo)) - us(jo) =e= data(is,jo);


63
64 defvar.. sum(i, lam(i)) =e= 1;
65
66 dobj.. eff =e= norm*z - vlo*sum(ji, vs(ji)) - ulo*sum(jo, us(jo));
67
68
69
70
71
72 model deap primal / defe, denom,lime /
73
deadc dual with CRS / dobj, dii, dio /
74
deadv dual with VRS / dobj, dii, dio, defvar /
75
76 sets i units /1984*2004 /
77
j inputs and outputs /effort, prodact, prodsust /
78
ji(j) inputs
/ effort /
79
jo(j)
outputs /prodact, prodsust /
80
81
82 Table data(i,j)
83
effort
Prodact
Prodsust
84 1984 15551.8
6155.80
11341.01
85 1985 17525.6
7479.10
12111.42
86 1986 21437.3
8220.60
13317.41
87 1987 21842.8
8753.80
13420.26
88 1988 25968.9
11229.80
14259.27
89 1989 28758.3
14435.30
14635.58
90 1990 24260.3
15258.12
13955.71
91 1991 25989.8
14890.10
14262.63
92 1992 23785.3
12173.50
13860.63
93 1993 25382.6
11037.70
14161.70
94 1994 26519.2
13879.40
14344.80
95 1995 21898.3
13532.40
13434.06
96 1996 22327.8
14640.80
13538.21
97 1997 27378.1
16855.20
14466.96
98 1998 21386.5
17445.00
13304.25
99 1999 24847.4
20338.60
14066.67
100 2000 23266.3
18167.80
13751.22
101 2001 25794.1
18546.30
14230.88
102 2002 23462.5
10328.40
13793.27
103 2003 13386.5
8747.90
10355.05
104 2004 13603.4
9702.50
10460.87
105
106
107
109 option limcol=0
// no column listing
110
limrow=0
// no row listing
111
solveopt=replace; // don't keep old var and equ values
112
113

175

GAMS Rev 128 Windows NT/95/98


07/13/06 12:18:31 PAGE
Data Envelopment Analysis - DEA (DEA,SEQ=192)
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150

var.fx = 0;
// to run CRS with the primal model
*var.lo = -inf; // to run VRS with the primal model
*var.up = +inf; // to run VRS with the primal model
vlo=1e-4;
ulo=1e-4;
norm=100;
v.lo(ji) = vlo;
u.lo(jo) = ulo;
*deadc.solprint=2;
*deadv.solprint=2;
*deap.solprint=2;
set ii(i) set of units to analyze / 1984,1994,2004 /;
*ii(i) = yes;
is(i) = no;

// use to run all depots

parameter rep summary report;


loop(ii,
is(ii) = yes;
solve deap us lp max eff;
rep(i,ii) = sum(jo, u.l(jo)*data(i,jo))/sum(ji, v.l(ji)*data(i,ji));
rep('MStat-p',ii) = deap.modelstat;
solve deadc us lp min eff ;
rep('MStat-d',ii) = deadc.modelstat;
rep('obj-check',ii) = deadc.objval - deap.objval;
is(ii) = no);
rep(i,'Min') = smin(ii, rep(i,ii));
rep(i,'Max') = smax(ii, rep(i,ii));
rep(i,'Avg') = sum(ii, rep(i,ii))/card(ii);
display rep;

GAMS Rev 128 Windows NT/95/98


07/13/06 12:18:31 PAGE
Data Envelopment Analysis - DEA (DEA,SEQ=192)
Execution

----

150 PARAMETER rep summary report


1984

1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990

0.939
0.891
0.801
0.792
0.709
0.659
0.746

1994
0.724
0.727
0.654
0.664
0.653
0.686
0.824

2004
0.922
0.879
0.790
0.783
0.707
0.665
0.757

Min
0.724
0.727
0.654
0.664
0.653
0.659
0.746

Max
0.939
0.891
0.801
0.792
0.709
0.686
0.824

22

176

1991
0.711
0.765
1992
0.754
0.735
1993
0.721
0.659
1994
0.700
0.721
1995
0.795
0.837
1996
0.786
0.863
1997
0.686
0.788
1998
0.809
1.000
1999
0.737
0.971
2000
0.768
0.955
2001
0.717
0.883
2002
0.759
0.680
2003
1.000
0.955
2004
0.995
1.000
MStat-p
1.000
1.000
MStat-d
1.000
1.000
obj-check 2.84217E-14
+
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004

0.720
0.755
0.718
0.705
0.802
0.797
0.699
0.831
0.763
0.790
0.737
0.755
1.000
1.000
1.000
1.000

0.711
0.735
0.659
0.700
0.795
0.786
0.686
0.809
0.737
0.768
0.717
0.680
0.955
0.995

0.765
0.755
0.721
0.721
0.837
0.863
0.788
1.000
0.971
0.955
0.883
0.759
1.000
1.000

Avg
0.862
0.832
0.748
0.746
0.690
0.670
0.776
0.732
0.748
0.699
0.709
0.811
0.815
0.724
0.880
0.824
0.838
0.779
0.731
0.985
0.998

EXECUTION TIME
=
0.030 SECONDS 1.4 Mb
WIN202-128
GAMS Rev 128 Windows NT/95/98
07/13/06 12:18:31 PAGE
Data Envelopment Analysis - DEA (DEA,SEQ=192)

23

177

Lampiran 19. GAMS Output untuk Efisiensi Teknis Input Pukat Cincin

GAMS Rev 128 Windows NT/95/98


07/13/06 12:29:38 PAGE
General Algebraic Modeling System
Compilation

1 Sets inout/spec1,spec2,fix1,fix2,fix3,var1,var2/
2 Output(inout)/spec1,spec2/
3 Input(inout)/fix1,fix2,fix3,var1,var2/
4 Obs/1*15/
5 Subobs(obs)/1*13/
6 Actobs(obs);
7 Alias (subobs,subobs1);
8 Table act(obs,inout) input output table
9
10
spec1
spec2
fix1 fix2 fix3 var1 var2
11 1 11612.9 27950.6 25 21 120 51
15
12 2 20633.65 19642.85 30 22 120 45
15
13 3 16639.92 12448.58 23 17 100 56
13
14 4 18430.23 18318.17 27 22 160 56
14
15 5 8551.47 32948.90 25 20 100 46
15
16 6 8646.86 35036.24 26 21 160 49
19
17 7 9374.97 22847.03 24 19 160 47
14
18 8 20376.37 17657.83 25 20 120 51
14
19 9 19374.02 12056.28 26 21 120 47
14
20 10 17935.21 13088.16 25 20 120 68
13
21 11 11623.17 22009.93 26 21 120 69
14
22 12 12119.72 25497.48 25 20 120 62
13
23 13 17416.41 15754.09 25 20 120 55
14
24
25 ;
26 Variables
27 Lambda efficiency score
28 Weight(obs) intensity variable;
29 Positive variable weight;
30 Equations
31 Constr1(output,obs) DEA constraint for each output
32 Constr2(input,obs) DEA constraint for each input;
33 Constr1(output,actobs)..sum(subobs,weight(subobs)*act(subobs,output))=G=
34 act(actobs,output);
35 Constr2(input,actobs)..sum(subobs,weight(subobs)*act(subobs,input))=L=
36 lambda*act(actobs,input);
37 Parameter
38 Score1(obs) efficiency scores;
39 Model tedea/constr1,constr2/;
40 Loop(subobs1,
41 Actobs(obs)=no;
42 Actobs(subobs1)=yes;
43 Option LP=OSL;
44 Solve tedea minimizing lambda using LP;
45 Score1(subobs1)=lambda.l;
46 );
47 Display score1;

178

GAMS Rev 128 Windows NT/95/98


07/13/06 12:29:38 PAGE
General Algebraic Modeling System
Execution

----

80

47 PARAMETER Score1 efficiency scores

1 0.976,
7 0.836,
13 0.871

2 1.000,
8 1.000,

EXECUTION TIME

3 0.977,
9 0.980,

4 0.957, 5 1.000, 6 1.000


10 0.948, 11 0.849, 12 1.000

0.030 SECONDS

1.4 Mb

WIN202-128

USER: GAMS Development Corporation, Washington, DC G871201:0000XX-XXX


Free Demo, 202-342-0180, sales@gams.com, www.gams.com DC9999
**** FILE SUMMARY
INPUT
C:\WINDOWS\GAMSDIR\INPUTTEPKTCINCIN2.GMS
OUTPUT C:\WINDOWS\GAMSDIR\INPUTTEPKTCINCIN2.LST

179

Lampiran 20. Output Maple untuk perhitungan Surplus Produsen


Pelagis Besar

> AC:=2*c/(alpha+sqrt(-4*beta*h+alpha^2));
2c

AC :=
+

-4 h +

> A:=int(AC,h);
c ln(h) c
A :=
2

-4 h +

c ln

-4 h +

c ln +

2
-4 h +

> PS:=p0*h0-A;
PS := p0 h0 -

c ln(h)
2

-4 h +

c ln

-4 h +

c ln +

2
-4 h +

> restart;
> alpha:=1.1138270; beta:=0.000030340; p0:=8486;
c:=2469.09; h:=10.461;
:= 1.1138270
:= 0.000030340

p0 := 8486
c := 2469.09
h := 10.461

> AC:=2*c/(alpha+sqrt(-4*beta*h+alpha^2));
AC := 2217.329974

> A:=1/2*c/beta*alpha*ln(h)-c/beta*(4*beta*h+alpha^2)^(1/2)-1/2*c/beta*alpha*ln(alpha-sqrt(4*beta*h+alpha^2))+1/2*c/beta*alpha*ln(alpha+sqrt(4*beta*h+alpha^2));
A := 3.906375434 108

> PS:=abs(p0*h-A);
PS := 3.905487714 108

Pelagis Kecil

> restart;
> alpha:=0.314429467; beta:=0.000001586; p0:=6385;
c:=512.115; h:=15.640;

180

:= 0.314429467
:= 0.000001586

p0 := 6385
c := 512.115
h := 15.640

> AC:=2*c/(alpha+sqrt(-4*beta*h+alpha^2));
AC := 1629.120696

> A:=1/2*c/beta*alpha*ln(h)-c/beta*(4*beta*h+alpha^2)^(1/2)-1/2*c/beta*alpha*ln(alpha-sqrt(4*beta*h+alpha^2))+1/2*c/beta*alpha*ln(alpha+sqrt(4*beta*h+alpha^2));
A := 4.589493085 108

> PS:=abs(p0*h-A);
PS := 4.588494471 108