Anda di halaman 1dari 12

Indra Suryadibrata

0661 12 066
Farmakologi II

Radionuklida atau radioisotop adalah isotop dari zat


radioaktif. Radionuklida mampu memancarkan radiasi.
Radionuklida dapat terjadi secara alamiah atau sengaja dibuat
oleh manusia dalam reaktor penelitian. Produksi radionuklida
dengan proses aktivasi dilakukan dengan cara menembaki isotop
stabil dengan neutron di dalam teras reaktor. Proses ini lazim
disebut irradiasi neutron, sedangkan bahan yang disinari disebut
target atau sasaran. Neutron yang ditembakkan akan masuk ke
dalam inti atom target sehingga jumlah neutron dalam inti target
tersebut bertambah. Peristiwa ini dapat mengakibatkan
ketidakstabilan inti atom sehingga berubah sifat menjadi
radioaktif.
Banyak isotop buatan yang dapat dimanfaatkan antara lain Na24, P-32, Cr-51, Tc-99, dan I-131.

1. Radiodiagnostik
Radiodiagnostik adalah kegiatan penunjang
diagnostik menggunakan perangkat radiasi sinar
pengion (sinar x), untuk melihat fungsi tubuh secara
anatomi. Ahli dalam bidang ini dikenal sebagai
radiolog. Salah satu contoh radiodiagnostik adalah
rontgen. Radiodiagnostik dilakukan sebelum
melakukan radioterapi.

2. Radioterapi
Radioterapi adalah tindakan medis
menggunakan radiasi pengion untuk mematikan sel
kanker sebanyak mungkin, dengan kerusakan pada sel
normal sekecil mungkin. Tindakan terapi ini
menggunakan sumber radiasi tertutup pemancar
radiasi gamma atau pesawat sinar-x dan berkas
elektron. Baik sel-sel normal maupun sel-sel kanker
bisa dipengaruhi oleh radiasi ini. Radiasi akan
merusak sel-sel kanker sehingga proses multiplikasi
ataupun pembelahan sel-sel kanker akan
terhambat. Sekitar 50 60% penderita kanker
memerlukan radioterapi.

3. PET
PET merupakan salah satu hasil di garis depan
pengembanganradioisotop untuk dunia kedokteran. PET
adalah metode visualisasi fungsi tubuhmenggunakan
radioisotop pemancar positron.Oleh karena itu, citra
(image) yang diperoleh adalah citra yang menggambarkan
fungsi organ tubuh. Kelainan dan ketidaknormalan fungsi atau
metabolisme di dalam tubuh dapat diketahui dengan
metode pencitraan (imaging) ini. Hal ini berbeda dengan
metode visualisasi tubuh yang lain, seperti MRI (magnetic
resonance imaging) dan CT (computed tomography). MRI dan
CT scans adalah visualisasi anatomi tubuh yang
menggambarkan bentuk organ tubuh. Dengan kedua metode
ini, yang terdeteksi adalah kelainan dan ketidaknormalan
bentuk organ.

1. Mekanisme kerja Radiodiagnostik


I-131 digunakan sebagai terapi pengobatan untuk
kondisi tiroid yang over aktif atau kita sebut hipertiroid. I131 ini sendiri adalah suatu isotop yang terbuat dari iodin
yang selalu memancarkan sinar radiasi. Jika I-131 ini
dimasukkan kedalam tubuh dalam dosis yang kecil, maka
I-131 ini akan masuk ke dalam pembuluh darah traktus
gastrointestinalis. I-131 dan akan melewati kelenjar
tiroid yang kemudian akan menghancurkan sel-sel
glandula tersebut. Hal ini akan memperlambat aktifitas
dari kelenjar tiroid dan dalam beberapa kasus dapat
merubah kondisi tiroid.

2. Radioterapi
Bila jaringan terkena radiasi penyinaran, maka
jaringan akan menyerap energi radiasi dan akan
menimbulkan ionisasi atom-atom. Ionisasi tersebut
dapat menimbulkan perubahan kimia dan biokimia
yang pada akhirnya akan menimbulkan kerusakan
biologik. Kerusakan sel yang terjadi dapat berupa
kerusakan kromosom, mutasi, perlambatan
pembelahan sel dan kehilangan kemampuan untuk
berproduksi.

Radiasi pengion adalah berkas pancaran energi atau


partikel yang bila mengenai sebuah atom akan
menyebabkan terpentalnya elektron keluar dari orbit
elektron tersebut. Pancaran energi dapat berupa
gelombang elektromagnetik, yang dapat berupa sinar
gamma dan sinar X. Pancaran partikel dapat berupa
pancaran elektron (sinar beta) atau pancaran partikel
netron, alfa, proton.Dengan pemberian setiap terapi,
maka akan semakin banyak sel-sel kanker yang mati dan
tumor akan mengecil. Sel-sel yang mati akan hancur,
dibawa oleh darah dan diekskresi keluar dari tubuh.
Sebagian besar sel-sel sehat akan bisa pulih kembai dari
pengaruh radiasi. Tetapi bagaimanapun juga,
kerusakan yang terjadi pada sel-sel sehat merupakan
penyebab terjadinya efek samping radiasi.

Mengobati : banyak kanker yang dapat disembuhkan dengan radioterapi,

baik
dengan atau tanpa dikombinasikan dengan pengobatan lain seperti
pembedahan dan kemoterapi.
Mengontrol : Jika tidak memungkinkan lagi adanya
penyembuhan, radioterapi berguna untuk mengontrol pertumbuhan sel kanker
dengan membuat sel kanker menjadi lebih kecil dan berhenti menyebar.
Mengurangi gejala : Selain untuk mengontrol kanker, radioterapi dapat
mengurangi gejala yang biasa timbul pada penderita kanker seperti rasa nyeri
dan juga membuat hidup penderita lebih nyaman.
Membantu pengobatan lainnya : terutama post operasi dan kemoterapi
yang
sering disebut sebagai adjuvant therapy atau terapi tambahan dengan tujuan
agar terapi bedah dan kemoterapi yang diberikan lebih efektif.

I-131 Terapi penyembuhan kanker Tiroid, mendeteksi kerusakan pada

kelenjar gondok, hati dan otak.


Pu-238 energi listrik dari alat pacu jantung.
Tc-99 & Ti-201 Mendeteksi kerusakan jantung.
Na-24 Mendeteksi gangguan peredaran darah.
Xe-133 Mendeteksi Penyakit paru-paru.
P-32 Penyakit mata, tumor dan hati.
Fe-59 Mempelajari pembentukan sel darah merah.
Cr-51 Mendeteksi kerusakan limpa.
Se-75 Mendeteksi kerusakan Pankreas.
Tc-99 Mendeteksi kerusakan tulang dan paru-paru.
Ga-67 Memeriksa kerusakan getah bening.
C-14 Mendeteksi diabetes dan anemia.
Co-60 Membunuh sel-sel kanker.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Darah dan Sumsum Tulang Merah


Saluran Pencernaan Makanan
Organ Reproduksi
Sistem Syaraf
Mata
Kulit
Tulang
Kelenjar Gondok
Paru-paru