Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN LEARNING ISSUE KELOMPOK

SKENARIO B BLOK 22

Disusun Oleh:
KELOMPOK 4
Widya Sistha Yuliasmi
Rafenia Nayani
Siti Rahma Anissya Kinanti
Novalia Arisandy
Putri Septi Ramasari
Nia Fitriyanti
Ratri Shintya Dewi
Elmo Saviro Herprananda
Rika Dayanti
Norfaridzuan Bin Abdul Nain
Asyriva Yossadania
Shobana An Agustin

04121401003
04121401024
04121401031
04121401042
04121401060
04121401079
04121401095
04121401097
04121401100
04121401102
04121901001
04111401101

Tutor : dr. Hj. Aisyah Ghanie


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2014

Thalasemia
a. Definisi dan Etiologi
Thalassemia berasal dari kata Yunani, yaitu talassa yang berarti laut,
dan anemia, yang berarti berhubungan dengan darah. Yang dimaksud dengan

laut tersebut ialah Laut Tengah, oleh karena penyakit ini pertama kali dikenal
di daerah sekitar Laut Tengah. Penyakit ini pertama sekali ditemukan oleh
seorang dokter di Detroit USA yang bernama Thomas B. Cooley pada tahun
1925.
Thalassemia adalah penyakit yang diturunkan secara autosomal
resesif akibat dari berkurangnya pembuatan salah satu dari rantai asam amino
yang membentuk hemoglobin. Yaitu ditandai dengan ditandai dengan
penurunan sintesis rantai atau rantai dari globin. Yang normalnya adalah 2
rantai- dan 2 rantai-.
Kelainan gen ini akan mengakibatkan berkurang atau tidak
terbentuknya rantai globin pembentuk hemoglobin, sehingga hemoglobin
tidak terbentuk sempurna.

mengakibatkan sel darah merah mudah lisis.

Karena butir darah merah lisis, seseorang mengalami anemia hemolitik


sehingga biasanya ditandai dengan anemia hipokrom mikrositik herediter.
2. Klasifikasi Thalassemia
Thalassemia merupakan penyakit yang timbul karena penderitanya
tidak memiliki cukup rantai dalam hemoglobinnya, dimana produksi rantai
dalam hemoglobin diatur oleh autosom 16 dan terdiri dari 2 gen globin
(terdiri dari 4 lokus). Thalassemia dapat dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu: tipe delesi dan tipe nondelesi
1) Thalassemia Tipe Delesi,Ditandai oleh delesi pada lokus yang
berada pada gen globin . . Karena terdapat empat gen -globin
fungsionalmaka klasifikasinya adalah :
a) Delesi pada 1 lokus / (silent carriers), tidak ada gejala
b) Delesi pada 2 lokus /- (trait thalassemia), gambaran klinis
mirip dengan thalassemia minor mengalami anemia ringan, dengan
sel darah merah pucat (hipokrom) dan lebih kecil (mikrositik)
c) Delesi pada 3 lokus -/- terdapat Hb H dan hanya terdapat 1 gen
globin yang normal dan disertai anemia sedang sampai berat dan
splenomegali, kadar Hb 8-10gr%

36

d) Delesi pada 4 lokus -/- (hydrops fetalis), ditemukan adanya Hb Barts


(tetramer gama) sehingga memiliki afinitas yang tinggi terhadap
oksigen dan tidak ada oksigen pada jaringan dan fetus mengalami
anemia pada awal kehamilan dan membengkak karena mengalami
kelebihan

cairan

disertai

hepatosplenomegaly

dan

biasanya

keguguran atau meninggal setelah dilahirkan (minggu 36-40)


2) Thalassemia Tipe Nondelesi
Pada bentuk ini tidak dijumpai delesi gen , namun terjadi mutasi pada
gen tersebut sehingga menyebabkan gangguan pada rantai globin .
Pada -thalassemia sintesis tantai berkurang atau tidak ada sama
sekali, karena terdapat gangguan pada mRNA.
Thalasemia merupakan penyakit thalasemia yang timbul karena
penderitanya tidak cukup memiliki rantai dalam Hbnya ( gen pengkode
rantai globin terletak pada kromosom 11)5.
1) Thalasemia mayor 0 / 0(Cooleys Anemia)
a) Pada kondisi ini rantai globin tidak diproduksi sama sekali.
Biasanya gejala muncul pada bayi ketika berumur 3 bulan berupa
anemia yang berat.
b) Bentuk homozigot merupakan anemia hipokrom mikrositik yang
berat dengan hemolisis di dalam sumsum tulang dimulai pada
tahun pertama kehidupan dan kedua orang tua merupakan carier.
Gejala gejala bersifat sekunder akibat anemia dan meliputi pucat,
wajah yang karakteristik akibat pelebaran tulang pada kranium,
ikterus dengan derajat yang bervariasi, dan hepatosplenomegali.
Kadar Hb 3-6gr% dan butuh transfusi secara berkala
2) Thalasemia intermedia 0 /
a) Penderita ini secara genetik bersifat heterogen.
b) Penyakit ini berat tetapi tidak perlu transfusi darah terarur. (derajat
anemia bergantung pada derajat mutasi gen yang terjadi
3) Thalasemia minor/trait + /
a) Adanya 1 gen normal pad individu heterozigot memungkinkan
sintesis rantai -globin yang memadai sehingga penderita biasanya
asimtomatik dengan anemia ringan (kadar Hb 7-10gr%)

36

b) Apusan darah tepi yakni abnormalitas minor termasuk hipokromia,


mikrositosis, basophilic strippling, dan sel target
c) Tanda khasnya ialah meningkatnya HbA2 sebesar 4-8% dari Hb
total.
Keterangan :
0 : sintesis rantai terhenti sama sekali
+ : masih ada sintesis rantai
3. Epidemiologi
Gen thalassemia sangat luas tersebar, dan kelainan ini diyakini merupakan
penyakit genetik manusia yang paling prevalen. Distribusi utama meliputi
daerah-daerah perbatasan Laut Mediterania, sebagian besar Afrika, Timur Tegah,
sub benua India dan Asia Tenggara.

Gambar 6.Sabuk/ikat pinggang Thalassemia


Di beberapa daerah Asia Tenggara sebanyak 40% dari populasi
mempunyai satu atau lebih gen thalassemia. di IndonesiaTalasemia
merupakan salah satu jenis anemia hemolitik dan merupakan penyakit
keturunan yang diturunkan secara autosomal yang paling banyak dijumpai.
Enam sampai sepuluh dari setiap 100 orang Indonesia membawa gen penyakit
ini
Khusus untuk prevalensi etnik melayu di Palembang:
1) Thalasemia : 13,4 % ( liliani, 2004)
2) Thalasemia : 8,0 % ( safyudin, 2003)
Pada kasus ini, kayu agung merupakan daerah endemik malaria.
Daerah geografi di mana thalssemia merupakan prevalen yang sangat paralel

36

dengan daerah di mana Plasmodium falciparum dulunya merupakan endemik.


Resistensi terhadap infeksi malaria yang mematikan pada pembawa gen
thalassemia agaknya menggambarkan kekuatan selektif yang kuat untuk
menolong ketahanan hidupnya pada daerha endemik penyakit ini.
4. Patofisiologi
Mekanisme ekspresi gen globin terdiri dari beberapa tahap, mulai dari
transkripsi, proses RNA, seleksi mRNA untuk translasi dan degradasi mRNA.
Ekspresi setiap gen pada kelompok gen -like globin dikontrol melalui kompleks
interaksi antara sekuens regulator lokal (regio promoter) pada masing-masing gen like globin dan regio kontrol lokus- (-LCR) melalui competitive fashion. -LCR
merupakan suatu serial situs hipersensitif DNAase yang berlokasi pada 6-18kb
upstream dari gen globin dan berfungsi sebagai elemen regulator utama dalam
pengaturan transkripsi gen -like globin.
Terdapat lebih dari 210 mutasi thalassemia- yang meliputi substitusi basa
tunggal, delesi 1 hingga beberapa nukleotida, delesi besar, insersi kecil, inversi dan
rearrangement sekuens DNA. Mutasi ini menyebabkan menurunnya produksi rantai
globin (pada thalassemia-+) atau tidak ada sama sekali(pada thalassemia-0) dan
semua tergantung pengaruhnya terhadap tingkat fungsi gen globin (tergantung tahap
pengaruhnya).
Dari pengklasifikasian tipe thalassemia dapat dilihat bahwa rantai globin
dewasa yang terbentuk adalah tidak stabil dan larut seperti dengan adanya tetramer 4
(berkurangnya sintesis rantai globin ) maupun yang lainnya. Sehingga dengan
adanya rantai globin yang bebas ini akan membentuk presipitat intraseluler
(menumpuk) baik pada eritrosit muda maupun eritrosit matur, yang dapat terlihat
berupa sel target, mengakibatkan ketidakefektifan eritropoiesis (pembentukan SDM)
di sumsum tulang (mempengaruhi maturasi eritroblast pada sumsum tulang dan
bertanggung jawab terhadap kerusakan intramedula dari prekursor SDM) serta
menyebabkan kerapuhan pada SDM ini sehingga dapat terjadi hemolisi prematur di

36

sirkulasi perifer (terutama saat SDM yang mengandung bahan inklusi melewati
mikrosirkulasi dan trabekula pulpa merah di limpa) yang nantinya akan berakibat
pada :
a.

Dibentuknya banyak SDM yang belum matur yang nanti bersirkulasi di


darah dan memiliki afinitas terhadap O2 yang lebih rendah juga. Sehingga

b.

penderita biasanya mengalami anemia dengan ciri-ciri kulit yang pucat.


Dengan terjadinya anemia hemolitik ( penghancuran SDM melebihi
pembentukannya) yang parah, akan semakin membendung di limpa
sehingga kerja limpa memberat dan membesar (splenomegaly).Selain itu,
dengan ketidakstabilan rantai Hb yang membuat eritrosit rapuh dan
kehilangan sifat fleksibelnya semakin menambah hemolisis. Sebab di
trabekula ukurannya hanya 3 mikrometer yang harusnya dapat dilewati

c.

eritrosit yang berukuran 8 mikrometer.6


Dengan kondisi anemia hemolitik ini, maka eritrosit yang dirombak oleh
hati akan semakin banyak. Saat dirombak, Hb dikeluarkan dari eritrosit
dan dipecah menjadi heme dan globin. Heme dipecah menjadi Fe untuk
disimpan di hati dan digunakan kembali, dan protoporfirin. Dimana
protoporfirin ini akan diubah menjadi pirol yang akan diubah menjadi
biliverdin dan direduksi menjadi bilirubin bebas. (sehingga biasanya
penderita mengalami peningkatan bilirubin dengan manifes fesesnya
berwarna kehijauan). Peningkatan bilirubin bisa berakibat terjadi ikterus
hemolitik dan perubahan warna kulit menjadi kekuningan.(indirect
bilirubin tidak larut dalam air tetapi larut dalam lemak dan dibawah kulit

d.

banyak terdapat lemak6


Selain itu hati juga berfungsi membantu pembentukan eritrosit yang juga
memperberat kerja & kerusakan hati. Sehingga lama-lama membesar

e.

(hepatomegaly)
Hiperplasia dari sumsum tulang maupun tulang kranium karena berperan
dalam eritropoiesis (perubahan struktur tulang muka)

5. Teori Genetik (Penurunan)

36

Thalassemia diturunkan secara kodominan autosomal ,artinya bentuk


thalassemia heterozigot (thalassemia minor / sifat thalassemia) mungkin
asimptomatik (bergejala ringan), bentuk thalassemia homozigot / thalassemia
mayor berkaitan dengan hemolitik yang berat. Serta digolongkan pada penyakit
anemia hemolitik bawaan yang ditandai oleh anemia mikrositik hipokromik.
Homozigot dominan ThTh berfenotip thalassemia mayor, sedangkan heterozigot
Thth berfenotip thalassemia minor, dan resesif thth bararti normal.

Gambar 7. Skema Penurunan Gen Thalassemia Menurut Hukum Mendel.


Pada kasus ini, karena pada Anamnesis tidak disebutkan bahwa Ayah
atau Ibunya mengalami yang sama dengan dia atau tidak, maka diduga Ayah dan
Ibunya adalah Carrier (pembawa) / Heterozigot. Adik laki-lakinya (3 tahun)
kemungkinan Normal atau juga seorang Carrier. Pamannya yang meninggal pada
usia 17 tahun dengan gejala yang sama dengannya juga kemungkinan merupakan
penderita Homozigot
6. Manifestasi Klinis
Gejala thalassemia beta sangat bervariasi, tergantung keparahan atau
kerusakan gen yang terjadi, mulai dari tanpa gejala (seakan normal) hingga yang
butuh transfusi darah seumur hidup.
a. Thalassemia Mayor
Thalassemia mayor menjadi bergejala sebagai anemia hemolitik kronis
yang progresif selama 6 bulan kedua kehidupan anak. Transfusi darah reguler

36

diperlukan pada penderita ini untuk mencegah kelemahan yang amat sangat
dan gagal jantung yang disebabkan oleh anemia. Tanpa transfusi harapan
hidup penderita tidak lebih dari beberapa tahun.7
Pada kasus yang tidak diterapi atau pada penderita yang jarang
menerima transfusi pada waktu anemia berat, terjadi hipertrofi jaringan
erotropoetik di sumsum tulang maupun diluar sumsum tulang. Warna merah
dari darah manusia disebabkan oleh hemoglobin yang terdapat di dalam darah
merah.

Hemoglobin terdiri atas zat besi

dan protein yang dibentuk oleh rantai globin alfa dan rantai globin beta. Pada
penderita thalassemia beta, produksi rantai globin beta tidak ada atau
berkurang. Sehingga hemoglobin yang dibentuk berkurang. Selain itu
berkurangnya produksi rantai globin beta mengakibatkan rantai globin alfa
relatif berlebihan dan akan saling mengikat membentuk suatu benda yang
menyebabkan sel darah merah mudah rusak. Berkurangnya produksi
hemoglobin dan mudah rusaknya sel darah merah mengakibatkan penderita
menjadi pucat atau anemia atau kadar Hbnya rendah.8
Anemia berat menjadi nyata pada usia 3-6 bulan setelah kelahiran
ketika seharusnya terjadi pergantian dari produksi rantai ke rantai .
Tabel 1. Gambaran Hematologi Thalassemia Mayor4,13
Thalassemia
mayor
Homozigot 0

Homozigot

Gambaran hematologis
Anemiaberat,

Heterozigot 0

Anemia Cooley

Heterozigot

Temuan
Hemoglobin
Hb F > 90% Tidak

normoblatemia

ada Hb A Hb A2

Anisositosis,poikilositosis, Talasemia

meningkat
Hb A 20-40%

anemia sedang berat


intermedia
Mikrositosis, hipokromia, Mungkin

Hb F 60-80%
Peningkatan Hb

anemia

A2 dan Hb F

ringan

sampai menderita

sedang
+

Ekspresi klinis

splenomegali,

ikterus
Mikrositosis, hipokromia, Normal

36

Peningkatan Hb

anemia ringan
Normal

Penyandang

A2 dan Hb F
Normal

Normal

tenang
heterozigot
Heterozigot

Heterozigot

Mikrositosis, hipokromia, Biasanya normal

Hb F 5-20%

anemia ringan

Hb A2 normal

atau rendah
Bayi baru lahir : anemia Bayi baru lahir : Normal
hemolitik,

mikrositik anemia hemolitik

normoblastemia
Dewasa

hipokromia,

dengan

Mikrositosis, splenomegali
anemia Dewasa

ringan
Biasanya normal
Tulang-tulang menjadi tipis dan fraktur patologis mungkin terjadi.
Ekspansi masif dari sumsum tulang maupun di muka dan tengkorak
menghasilkan wajah yang khas. Muka pucat, hemosiderosis, dan ikterus
bersama-sama membentuk kesan coklat-kuning. Limfa dan hati membesar
karena hematopoesis ekstramedular dan hemosiderosis.
Sumsum tulang pipih adalah tempat memproduksi sel darah. Tulang
muka adalah salah satu tulang pipih, Pada thalassemia karena tubuh selalu
kekurangan darah, maka pabrik sel darah daiam hal ini sumsum tulang pipih
akan berusaha memproduksi sel darah merah sebanyak-banyaknya. Karena
pekerjaannya yang meningkat maka sumsum tulang ini akan membesar, pada
tulang muka pembesaran ini dapat dilihat dengan jelas dengan adanya
penonjolan dahi, jarak antara kedua mata menjadi jauh, tulang pipi menonjol.8

36

Gambar 8. Thalassemic facies


Penipisan korteks di banyak tulang, dengan suatu kecenderumgan
terjadinya fraktur dan penonjolan tengkorak dengan suatu gambaran rambut
berdiri (hair on end) pada foto Rontgen.9

Gambar 9. Hhair-on-end akibat ekspansi sumsum tulang ke dalam tulang


kortikal
Pada penderita yang lebih tua, pembesaran limfa menimbulkan rasa
ketidaknyamanan mekanis dan hipersplenisme sekunder. Limpa berfungsi
membersihkan sel darah yang sudah rusak. Selain itu limpa juga berfungsi

36

membentuk sel darah pada masa janin. Pada penderita thalassemia, sel darah
merah yang rusak sangat berlebihan sehingga kerja limpa sangat berat.
Akibatnya limpa menjadi membengkak. Selain itu tugas limpa lebih
diperberat untuk memproduksi sel darah merah lebih banyak.10

Gambar 10. hepatosplenomegali pada Thalassemia


Pertumbuhan terganggu pada anak yang lebih tua,. pubertas terlambat
atau tidak terjadi karena kelainan endokrin sekunder. Diabetes melitus yang
disebabkan siderosis pankreas mungkin terjadi.Pada kasus ini, adik pasien
lebih tinggi darinya kemungkina karena pertumbuhan pasien yang terhambat.
Pertumbuhan terhambat terjadi akibat:
a.

Pada pasien thalasemia, terjadi destruksi dini eritrosit sehingga sumsum


tulang merah berkompensasi dengan cara meningkatkan eritropoiesis.
Sumsum tulang merah terdapat di tulang pipih seperti os maxilla, os
frontal, dan os parietal. Hal ini mengakibatkan tulang-tulang tersebut
mengalami penonjolan dan pelebaran. Namun, destruksi dini sel darah
merah terus berlanjut sehingga sumsum tulang putih yang normalnya
berfungsi untuk membangun bentuk tubuh dan pertumbuhan berubah
fungsi menjadi sumsum tulang merah yang menghasilkan eritrosit.
Sumsum tulang putih terdapat pada tulang-tulang panjang seperti os
tibia, os fibula, os femur, os radius, dan os ulna. Perubahan fungsi
tulang-tulang ini dari pembangun tubuh menjadi pembentuk eritrosit
mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan pasien.

36

b.

Massa jaringan eritropetik yang membesar tetapi inefektif bisa


menghabiskan nutrient sehingga menyebabkan retardasi pertumbuhan12

c.

Penimbunan besi pada pasien thalassemia dapat merusak organ


endokrin sehingga terjadi kegagalan pertumbuhan dan gangguan
pubertas.

b. Thalassemia Intermedia
Merupakan kondisi antara mayor dan minor, dapat mengakibatkan
anemia berat dan masalah lain seperti deformitas tulang dan pembengkakan
limpa. Rentang keparahan klinis pada thalassemia intermedia ini cukup lebar,
dan batasnya dengan kelompok thalassemia mayor tidak terlalu jelas
sehingga, keduanya dibedakan berdasarkan ketergantungan sang penderita
pada tranfusi darah.12

Thalasemia intermedia jarang dijumpai.

Pada varian yang lebih berat didapatkan gangguan gangguan pertumbuhan,


perubahan tulang dan gagal tumbuh sejak awal, penatalaksaannya tidak
dibedakan dengan thalassemia yang tergantung transfuse. Pada kasus lain
didapatkan pasien dengan tumbuh kembang yang baik, keadaan yang hamper
stabil dan splenomegali ringan maupun sedang. Pada pasien ini komplikasi
bisa timbul dengan bertambahnya umur. Termasuk perubahan tulang,
osteoporosis progresif sampai fraktur spontan, luka di kaki, defisiensi folat,
hipersplenisme, anemia progresif, dan efek penimbunan zat besi karena
peningkatan absorpsi di saluran cerna. Sering dijumpai gene yang bervariasi,
dapat homozygote untuk thalassemia F atau A2F, atau heterozygote campuran
A2F dengan Hb lepore.13
c. Thalassemia Minor
Kerusakan gen yang terjadi umumnya ringan. Penderitanya hanya
menjadi pembawa gen thalas-semia, dan umumnya tidak mengalami masalah
kesehatan, kecuali gejala anemia ringan yang ditandai dengan lesu, kurang
nafsu makan, sering terkena infeksi dan sebagainya. Kondisi ini sering disalah
artikan sebagai anemia karena defisiensi (kekurangan) zat besi.13

36

Orang dengan talasemia minor telah (paling) anemia ringan (dengan


sedikit menurunkan tingkat hemoglobin dalam darah). Situasi ini dapat sangat
erat menyerupai dengan anemia kekurangan zat besi ringan. Namun, orang
dengan talasemia minor memiliki kadar besi normal (kecuali mereka memiliki
kekurangan besi untuk alasan lain). Tidak ada perawatan diperlukan untuk
talasemia minor. Secara khusus, besi tidak perlu dan tidak dianjurkan.
7. Cara diagnosis
a. Anamnesis:
1) Keluhan:
Pucat (Biasanya sejak lahir / usia bayi / usia anak-anak) ->
Herediter
Perut membesar akibat hepatosplenomegali
Mudah letih / lemas
Pertumbuhannya lambat
Mudah terkena infeksi
2) Riwayat:
Tinggal di daerah Endemik Thalassemia- (contoh: Sumsel)
Ada salah satu atau lebih keluarga yang juga menderita penyakit
yang sama
Riwayat pucat yang berlangsung kronis
Pernah / sering menerima transfusi darah
b. Pemeriksaan Fisik:
Pucat / anemia
Facies Cooley pada anak yang lebih besar
Hepatosplenomegali tanpa limfadenopati
Gizi kurang /buruk
Gangguan pertumbuhan
Hiperpigmentasi kulit
Pubertas terlambat
Ikterik ringan
c. Pemeriksaan penunjang
1) Darah tepi :

36

Gambar 11. Hapusan Darah Thalassemia


Pada talasemia mayor hasil pemeriksaan darah tepi sebagai berikut:

Eritrosit terlihat hipokrom dengan berbagai bentuk dan ukuran,


beberapa makrosit yang hipokromik, mikrosit dan fragmentosit.
Didapatkan basophilic stippling, anisositosis, target sel (akan meninggi

36

setelah splenektomi), cabot ring cell, Howell-Jolli bodies, SDM


berinti.

Anemia sangat berat dengan RBC kurang dari 2 juta/m3

Hb berkisar 2-8 gram%

MCV, MCH turun, MCT (mean cell thickmess) turun, MCD (Mean
Corpus Diameter) normal

Pada thalassemia intermedia hasil pemeriksaan darah tepi sebagai


berikut:

Gambaran darah lebih nyata daripada thalassemia minor, tetapi lebih


ringan daripada thalassemia mayor

Hb antara 7-10 gram%

Retikulosit 2-10%

Pada thalassemia minor hasil pemeriksaan darah tepi sebagai berikut:

Eritrosit hipokrom, mikrositik, polikromasi, basophillic stippling,


anisositosis, poikilositosis ringan, target sel

Retikulosit naik sedikit atau normal

MCV, MCH, dan hematokrit turun

Serum Fe dan IBC normal atau naik sedikit

Kenaikan kadar Hb F ringan 2-6%, Hb A2 naik 3-7%

Hb normal atau turun sedikit

2) Sumsum tulang (tidak menentukan diagnosis) :

Hiperplasi sistem eritropoesis dengan normoblas terbanyak dari


jenis asidofil.

Granula Fe (dengan pengecatan Prussian biru) meningkat

rasio M : E terbalik

kadar besi serum normal atau meninggi

kadar bilirubin serum meninggi

SGOT SGPT dapat meninggi

36

Asam urat darah meninggi

d. Pemeriksaan khusus :

Hb F meningkat : 20%-90% Hb total

Elektroforesis Hb : hemoglobinopati lain dan mengukur kadar Hb F.

Pemeriksaan pedigree: kedua orangtua pasien talasemia mayor


merupakan trait(carrier) dengan Hb A2 meningkat (> 3,5% dari Hb
total).

e. Pemeriksaan lain :
1) Foto Ro tulang kepala :
Gambaran hair on end, korteks menipis, diploe melebar dengan
trabekula tegak lurus pada korteks.Pada kranium ditandai dengan
pelebaran ruang diploe dan garis-garis vertikal trabekula akan memberi
gambaran hair on end. Abnormalitas gambaran radiologik lainnya
pada kranium yaitu sinus paranasalis tampak tidak berekmbang
sempurna, terutama sinus maksilaris.17 Hal ini disebabkan karena
penebalan dari tulang sinus akibat hyperplasia yang akan memberi
gambaran thalassemia facies dengan maloklusi. Korpus vertebra
mengalami deminerlisasi yang ditandai dengan trabekulasi yang kasar
disekelilingnya. Pada stadium lanjut, tepi superior dan inferior corpus
vertebra berbentuk bikonkaf atau dapat terjadi fraktur kompresi.
Kadang

pula

massa

hemopoesis

ekstramedulla

tampak

pada

mediastinum memberi gambaran bayangan jaringan lunak di antara


kosta depan dan belakang pada posisi posteroanterior. Jantung tampak
pula mengalami pembesaran. Pada kosta tampak bayangan densitas
radiopak didalam kosta (a rib within a rib appearance).14

36

Gambar 12.Foto Polos Kepala posisi anteroposterior dan lateral14


2) Foto tulang pipih dan ujung tulang panjang :
Perluasan sumsum tulang sehingga trabekula tampak jelas.
Pada tulang-tulang pendek tangan dan kaki terbentuk trabekulasi kasar,
tulang menjadi berbetuk pipa serta tampak adanya abnormalitas kistik.
Pelebaran kavitas medull pada metacarpal, metatarsal dan phalanges
memberi gambaran bentuk rectangular dengan konkavitas normal
menghilang. Pada tulang panjang dan ekstremitas memperlihatkan
korteks yang menipis dan dilatasi kavitas medulla sehingga
mengakibatkan tulang-tulang tersebut sangat rapuh dan mudah
mengalami fraktur patologik.

Gambar 13.Foto polos tangan & kaki posisi anteroposterior


8. Penatalaksanaan
a. Transfusi darah :
Hb penderita dipertahankan antara 8 g/dl sampai 9,5 g/dl. Dengan kedaan
ini akan memberikan supresi sumsum tulang yang adekuat, menurunkan
tingkat akumulasi besi, dan dapat mempertahankan pertumbuhan dan

36

perkembangan penderita. Pemberian darah dalam bentuk PRC (packed red


cell), 3 ml/kg BB untuk setiap kenaikan Hb 1 g/dl.
b. Medikamentosa
1) Vitamin E 200-400 IU setiap hari sebagai antioksidan dapat
memperpanjang umur sel darah merah.
2) Asam folat 2-5 mg/hari untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat.
3) Vitamin C 100-250 mg/hari selama pemberian kelasi besi, untuk
meningkatkan efek kelasi besi.
4) Bila kadar ferritin serum atau serum iron meningkat:
Pemberian iron chelating agent (desferoxamine): diberikan setelah
kadar feritin serum sudah mencapai 1000 mg/l atau saturasi transferin
lebih 50%, atau sekitar 10-20 kali transfusi darah.Desferoxamine,
dosis 25-50 mg/kg berat badan/hari subkutan melalui pompa infus
dalam waktu 8-12 jam dengan minimal selama 5 hari berturut setiap
selesai transfusi darah. Atau desferopron oral.

Gambar 14. Lokasi untuk menggunakan pompa portable deferoksamin


c. Bedah
Splenektomi merupakan prosedur pembedahan utama yang digunakan
pada pasien dengan thalassemia. Limpa diketahui mengandung sejumlah besar
besi nontoksik (yaitu, fungsi penyimpanan). Limpa juga meningkatkan
perusakan sel darah merah dan distribusi besi. Fakta-fakta ini harus selalu
dipertimbangkan sebelum memutuskan melakukan splenektomi.. Limpa
berfungsi sebagai penyimpanan untuk besi nontoksik, sehingga melindungi
seluruh tubuh dari besi tersebut. Pengangkatan limpa yang terlalu dini dapat
membahayakan.

36

Sebaliknya, splenektomi dibenarkan apabila limpa menjadi hiperaktif,


menyebabkan penghancuran sel darah merah yang berlebihan dan dengan
demikian meningkatkan kebutuhan transfusi darah, menghasilkan lebih
banyak akumulasi besi. Imunisasi pada penderita ini dengan vaksin hepatitis
B, vaksin H.Influenzae tipe B, dan vaksin polisakarida pneumokokus
diharapkan, dan terapi profilaksis penisilin juga dianjutkan.
Splenektomi, dengan indikasi:

Anak usia >6 tahun


Limpa yang terlalu besar, sehingga membatasi gerak penderita,
menimbulkan peningkatan

tekanan intraabdominal dan bahaya

terjadinya ruptur. Hipersplenisme ditandai dengan peningkatan


kebutuhan transfusi darah atau kebutuhan suspensi eritrosit (PRC)
melebihi 250 ml/kg berat badan dalam 1 tahun.
d. Transplantasi sumsum tulang (TST)
Pengobatan thalassemia yang berat dengan transplantasi sumsum
tulang allogenik pertama kali dilaporkan lebih dari satu dekade yang lalu,
sebagai alternatif dari pelaksanaan klinis standar dan saat ini diterima dalam
pengobatan thalassemia . Keberhasilan trasplantasi allogenik pada pasien
thalassemia membebaskan pasien dari transfusi kronis, namun tidak
menghilangkan kebutuhan terapi pengikat besi pada semua kasus.
Pengurangan konsentrasi besi hati hanya ditemukan pada pasien muda dengan
beban besi tubuh yang rendah sebelum transplantasi, kelebihan besi pada
parenkim hati bertahan sampai 6 tahun setelah transplantasi sumsum tulang,
pada kebanyakan pasien yang tidak mendapat terapi deferoksamin setelah
transplantasi.

Prognosis yang buruk pasca TST berhubungan dengan

adanya hepatomegali, fibrosis portal, dan terapi khelasi yang inefektif


sebelum transplantasi dilakukan. Prognosis bagi penderita yang memiliki
ketiga karakteristik ini adalah 59%, sedangkan pada penderita yang tidak
memiliki ketiganya adalah 90%. Meskipun transfusi darah tidak diperlukan
setelah transplantasi sukses dilakukan, individu tertentu perlu terus mendapat

36

terapi khelasi untuk menghilangkan zat besi yang berlebihan. Waktu yang
optimal untuk memulai pengobatan tersebut adalah setahun setelah TST.
e. Supportif
1) Thalassaemia Diet
Diet Talasemia disiapkan oleh Departemen diit, Di
Rumah sakit umum Sarawak pasien dinasehati untuk menghindari
makanan yang kaya akan zat besi, seperti daging berwarna merah,
hati, ginjal, sayur-mayur bewarna hijau, sebagian dari sarapan yang
mengandung gandum, semua bentuk roti dan alkohol.
Tabel 2. Daftar makanan dan kandungan zat besi
FOOD TO AVOID
Foods with high content of Iron
Organ meat (liver, kidney, spleen)
Beef
Chicken gizzard and liver
Ikan pusu (with head and entrails)
Cockles (kerang)
Hen eggs
Duck eggs
Dried prunes / raisins, Peanuts (without shell), other
nuts
Dried beans (red, green, black, chickpeas, dhal)
Baked beans
Dried seaweed
Dark green leafy vegetables bayam, spinach,
kailan, cangkok manis, kangkung, sweet potato
shoots, ulam leaves, soya bean sprouts, bitter gourd,
paku, midi, parsley,
Food Allowed
Foods with moderate content of Iron
Chicken, pork
Soya bean curd (towkwa, towhoo,
hookee)
Light coloured vegetables (sawi,
cabbage, long beans and other beans,
ketola, ladys fingers)
Ikan pusu
Onions
Oats

Iron Content
5 14 mg / 100 g
2.2 mg / 100 g
2 10mg / 100 g
5.3 mg / 100 g
13.2 mg / 100 g
2.4 mg / whole egg
3.7 mg / whole egg
2.9 mg / 100 g
4 8 mg / 100 g
1.9 mg / 100 g
21.7 mg / 100 g
> 3 mg 1 100 g

allow one small serving a day (= 2


matchbox size)
allow one serving only (= one piece)
1 -2 servings a day (= 1/2 cup)
head and entrails removed
use moderately

36

Foods with small amount of Iron


Rice and Noodles
Bread, biscuits
Starchy Root vegetables ( carrot,
tapioca, pumpkin, bangkwang, lobak)
Fish (all varieties)
Fruits (all varieties except dried fruits)
Milk, cheese
Oils and Fats

yam,

f. Monitoring
1) Terapi
Pemeriksaan kadar feritin setiap 1-3 bulan, karena kecenderungan
kelebihan besi sebagai akibat absorbsi besi meningkat dan transfusi
darah berulang.Efek samping kelasi besi yang dipantau: demam, sakit
perut, sakit kepala, gatal, sukar bernapas. Bila hal ini terjadi kelasi besi
dihentikan
2) Tumbuh Kembang
Anemia kronis memberikan dampak pada proses tumbuh kembang,
karenanya diperlukan perhatian dan pemantauan tumbuh kembang
penderita.
3) Gangguan jantung, hepar dan endokrin
Anemia kronis dan kelebihan zat besi dapat menimbulkan gangguan
fungsi jantung (gagal jantung), hepar (gagal hepar), gangguan endokrin
(diabetes melitus, hipoparatiroid) dan fraktur patologis.
Kontrol rutin setiap 3 bulan :

Tes fungsi hati


Tes fungsi ginjal
kadar ferritin

Pada penderita > 10 tahun evaluasi setiap 6 bulan :

Pantau pertumbuhan dan perkembangan


Pemeriksaan status pubertas
Tes fungsi jantung / echocardiogram
Tes fungsi paru

36

Tes fungsi endokrin


Skrining hepatitis dan HIV
g. Lain-lain (rujukan subspesialis, rujukan spesialisasi lainnya dll)
Bila perlu, rujuk ke divisi Tumbuh kembang, kardiologi, gizi,
endokrinologi, radiologi, dan dokter gigi.
9. Komplikasi
Komplikasi jantung, termasuk aritmia yang membandel dan gagal jantung
kongestif kronis yang disebabkan oleh siderosis miokardium, sering merupakan
kejadian terminal. Dengan regimen modern dalam penanganan komprehensif
untuk penderita ini, banyak dari komplikasi ini dapat dicegah dan yang lainnya
diperbaiki dan ditunda awitannya. 10
Terjadi kerusakan gen yang berat, sehingga jantung penderita mudah
berdebar-debar. Berkurangnya hemoglobin berakibat pada kurangnya oksigen
yang dibawa, sehingga jantungnya terpaksa bekerja lebih keras. Selain itu, sel
darah merahnya cepat rusak sehingga harus senantiasa dibantu suplai dari luar
melalui transfusi.13
Transfusi yang berulang mengakibatkan penumpukan besi pada organorgan tubuh. Yang terlihat dari luar kulit menjadi kehitaman , sementara
penumpukan besi di dalam tubuh umumnya terjadi pada jantung, kelenjar
endokrin, sehingga dapat megakibatkan gagal jantung, pubertas terlambat, tidak
menstruasi, pertumbuhan pendek, bahkan tidak dapat mempunyai keturunan.7
Pada thalassemia mayor komplikasi lebih sering didapatkan daripada
thalassemia intermedia. Komplikasi neuromuskular tidak jarang terjadi. Biasanya
penderita baru bisa berjalan setelah usia 18 tahun. Sindrom miopati terjadi
dengan kelemahan otot-otot proksimal, terutama ekstremitas bawah. Akibat
iskemia serebral dapat timbul episode kelainan neurologik fokal ringan.
Gangguan pendengaran mungkin pula terjadi seperti pada kebanyakan
anemia hemolitik atau diseritropoetik lain ada peningkatan kecenderungan untuk
terbentuknya batu pigmen dalam kandung empedu.

36

Serangan pirai sekunder dapat timbul akibat cepatnya turn over sel dalam
sumsum tulang. Hemosiderosis akibat transfusi darah yang berulang-ulang atau
salah pemberian obat-obat yang mengandung besi. Pencegahan untuk ini adalah
desferal (chelating agent).Dapat terjadi tukak menahun pada kaki, deformitas otot
skelet, tulang dan sendi, mungkin pula terjadi deformitas pada muka, kadangkadang begitu berat sehingga memberikan gambaran yang menakutkan dan
memerlukan operasi untuk mengoreksinya.

10. Prognosis
Prognosis thalassemia tergantung pada tipe dan derajat keparahan
thalassemia. Perjalanan klinis thalassemia sangat bervariasi mulai dari yang
ringan atau terkadang asimptomatik sampai keadaan yang berat dan mengancam
jiwa.
Thalassemia beta homozigot umumnya meninggal pada usia muda dan
jarang mencapai usia dekade ke 3, walaupun digunakan antibiotik untuk
mencegah

infeksi

dan

pemberian

chelating

agent

untuk

mengurangi

hemosiderosis.
11. Pencegahan
Kelahiran penderita thalassemia dapat dicegah dengan 2 cara. Pertama
adalah mencegah perkawinan antara 2 orang pembawa sifat thalassemia. Kedua
adalah memeriksa janin yang dikandung oleh pasangan pembawa sifat, dan
menghentikan kehamilan bila janin dinyatakan sebagai penderita thalassemia
(mendapat kedua gen thalassemia dari ayah dan ibunya).VSebaiknya semua
orang Indonesia dalam masa usia subur diperiksa kemungkinan membawa sifat
thalassemia beta. Karena frekuensi pembawa sifat thalassemia beta di Indonesia
berkisar antara 6-10%, artinya setiap 100 orang ada 6 sampai 10 orang pembawa

36

sifat thalassemia beta. Terlebih lagi apabila ada riwayat seperti di bawah ini,
pemeriksaan pembawa sifat thalassemia sangat dianjurkan: Ada saudara sedarah
yang menderita thalassemia beta.Kadar hemoglobin relatif rendah antara 10-12
g/dl, walaupun sudah minum obat penambah darah seperti zat besi. Ukuran sel
darah merah lebih kecil dari normal walaupun keadaan Hb normal.
Diagnosis prenatal melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah
pemeriksaan ibu janin yang meliputi pemeriksaan darah tepi lengkap dan analisis
hemoglobin. Bila ibu dinyatakan pembawa sifat thalassemia beta maka
pemeriksaan dilanjutkan ke tahap kedua yaitu suami diperiksa darah tepi lengkap
dan analisis hemoglobin. Bila suami juga membawa sifat thalassemia maka
suami-isteri ini diperiksa DNAnya untuk menentukan jenis kelainann pada gen
globin beta. Selanjutnya diambil jaringan janin (villi choriales atau jaringan ariari) pada saat janin berumur 10-12 minggu untuk diperiksa DNAnya. Bila janin
ternyata hanya membawa satu belah gen globin beta yang mengalami kelainan
(gen thalassemia beta) atau sama sekali tidak membawa gen thalassemia beta
maka kehamilan dapat diteruskan dengan aman. Tetapi bila janin ternyata
membawa kedua belah gen thalassemia yang artinya janin akan menderita
thalassemia beta maka penghentian kehamilan dapat menjadi pilihan.
Pengambilan jaringan janin dari ari-ari dilakukan dengan menusukkan
jarum melalui jalan lahir atau dinding perut ke dalam alat kandungan clan
menembus ke ari-ari, kemudian pada daerah ari-ari yang disebut villi choriales
diambil dengan cara aspirasi sejumlah jaringan tersebut untuk bahan pemeriksaan
DNA.

36

Gambar 15. Chorionic Villi Sampling


Prosedur ini dilakukan oleh dokter ahli kandungan yang sudah berpengalaman
melakukan tindakan ini. Prosedur ini dilakukan pada kehamilan 11 minggu. Tindakan
ini mempunyai risiko keguguran sebesar 2-3%. Cara lain untuk mendapat sel dari
janin adalah dengan pengambilan cairan amnion yang baru dapat dilakukan pada
kehamilan 15 minggu. Risiko abortus pada prosedur ini adalah 1%.

Indikasi transfuse
Transfusi darah adalah pemindahan darah atau suatu komponen darah dari seseorang
(donor) kepada orang lain (resipien).
Indikasi transfusi darah dan komponen-komponennya adalah :
1. Anemia pada perdarahan akut setelah didahului penggantian volume dengan
cairan.
2. Anemia kronis jika Hb tidak dapat ditingkatkan dengan cara lain.
3. Gangguan pembekuan darah karena defisiensi komponen.
4. Plasma loss atau hipoalbuminemia jika tidak dapat lagi diberikan plasma
subtitute atau larutan albumin.
5. Penurunan kadar Hb disertai gangguan hemodinamik

Metabolisme Hemoglobin

36

Struktur dan bentuk


Sel darah merah normal, berbentuk lempeng bikonkaf dengan diameter rata-rata kirakira 7,8 mikrometer dan ketebalan 2,5 mikrometer pada bagian yang paling tebal
serta 1 mikrometer di bagian tengahnya. Volume rata-rata sel darah merah adalah 90
sampai 95 mikrometer kubik.
Pada pria normal, jumlah rata-rata sel darah merah per milimeter kubik adalah
5.200.000 ( 300.000) dan pada wanita normal, 4.700.000 ( 300.000).
Sel darah merah terdiri dari komponen berupa membran, sistem enzim, dan
hemoglobin. Hemoglobin inilah yang berperan dalam pengangkutan oksigen dari
paru-paru ke jaringan. Hemoglobin tersusun atas heme (gugus nitrogenosa non
protein-Fe) dan globin (protein dengan empat rantai polipeptida). Dengan struktur
tersebut, hemoglobin dapat mengangkut empat molekul oksigen. (Guyton, et.al,
2007)

b.

Peranan besi dalam pembentukan sel darah merah (eritropoiesis)

Pembentukan sel darah merah (eritropoiesis) terjadi di susmsum tulang dada, iga,
panggul, pangkal tulang paha, dan lengan atas. Mekanisme ringkasnya sebagai
berikut:
Sel stem hematopoietik pluripoten commited stem cell (disebut juga CFU-E)
diatur penginduksi pertumbuhan, misal IL-3 memicu pertumbuhan
penginduksi diferensiasi, misal oksigen eritrosit.
Sedangkan perkembangan sel dari proeritroblas adalah sebagai berikut:
Proeritroblas eritroblas basofil eritroblas polikromatofil eritroblas
ortokromatik retikulosit eritrosit.
Besi merupakan salah satu elemen penting dalam metabolisme tubuh, terutama dalam
pembentukan sel darah merah (eritropoiesis). Selain itu juga terlibat dalam berbagai
proses di dalam sel (intraseluler) pada semua jaringan tubuh. Mitokondria

36

mengandung suatu sistem pengangkutan elektron dari substrat dalam sel ke mol O 2
bersamaan dengan pembentukan ATP.
Jumlah besi di dalam tubuh seseorang yang normal berkisar antara 3 5 g tergantung
dari jenis kelamin, berat badan dan hemoglobin. Besi di dalam tubuh terdapat dalam
hemoglobin sebanyak 1,5 3 g dan sisa lainnya terdapat di dalam plasma dan
jaringan. Di dalam plasma besi terikat dengan protein yang disebut transferin
sebanyak 3 4 g. Sedangkan di dalam jaringan berada dalam status esensial
(nonavailable) dan bukan esensial (available).
Jumlah besi yang dibutuhkan setiap hari juga tergantung dari umur, jenis kelamin,
dan berat badan. Laki-laki dewasa normal memerlukan 1 2 mg besi setiap hari,
sedangkan anak dalam masa pertumbuhan dan wanita dalam masa menstruasi perlu
penambahan 0,5 1 mg dari kebutuhan normal lelaki dewasa. Wanita hamil dan
menyusui memerlukan rata-rata 3 4 mg besi setiap hari. (Bakta, et. al, 2006)

a.

Pembentukan hemoglobin

Sintesis hemoglobin mulai dalam eritroblast dan terus berlangsung sampai tingkat
normoblast.
2-ketoglutaric acid + glisin pirol
4 pirol

b.

protoporfirin

Protoporfirin+Fe

heme

4 heme +globin

hemoglobin (Guyton, et. al, 2007).

Oksigenasi jaringan

Setiap keadaan yang menyebabkan penurunan transportasi jaringan biasanya akan


meningkatkan eritropoiesis. Jadi, bila seseorang menjadi begitu anemis akibat adanya

36

perdarahan atau kondisi lainnya, sehingga menurunya oksigenasijaringan maka


sumsum tulang akan segera memulai produksi eritrosit.
Oksigenasi jaringan yang menurun disebabkan karena volume darah yang menurun,
anemia, hemoglobin yang menurun, penurunan kecepatan aliran darah, dan penyakit
paru-paru. (Guyton, et. al, 2007).

Sel darah merah atau lebih dikenal sebagai eritrosit memiliki fungsi utama untuk
mengangkut hemoglobin, dan seterusnya membawa oksigen dari paru-paru menuju
jaringan. Jika hemoglobin ini bebas dalam plasma, kurang lebih 3 persennya bocor
melalui membran kapiler masuk ke dalam ruang jaringan atau melalui membran
glomerolus pada ginjal terus masuk dalam saringan glomerolus setiap kali darah
melewati kapiler. Oleh karena itu, agar hemoglobin tetap berada dalam aliran darah,
maka ia harus tetap berada dalam sel darah merah. Dalam minggu-minggu pertama
kehidupan embrio, sel-sel darah merah primitif yang berinti diproduksi dalam yolk
sac. Selama pertengahan trimester masa gestasi, hepar dianggap sebagai organ utama
untuk memproduksi eritrosit, walaupun terdapat juga eritrosit dalam jumlah cukup
banyak dalam limpa dan limfonodus. Lalu selama bulan terakhir kehamilan dan
sesudah lahir, sel-sel darah merah hanya diproduksi sumsum tulang.
Pada sumsum tulang terdapat sel-sel yang disebut sel stem hemopoietik pluripoten,
yang merupakan asal dari seluruh sel-sel dalam darah sirkulasi. Sel pertama yang
dapat dikenali dari rangkaian sel darah merah adalah proeritroblas. Kemudian setelah
membelah beberapa kali, sel ini menjadi basofilik eritroblas pada saat ini sel
mengumpulkan sedikit sekali hemoglobin. Pada tahap selanjutnya hemoglobin
menekan nukleus sehingga menjadi kecil, tetapi masih memiliki sedikit bahan
basofilik, disebut retikulosit. Kemudian setelah bahan basofilik ini benar-benar
hilang, maka terbentuklah eritrosit matur (Guyton&Hall Fisiologi Kedokteran Edisi
9:529).
Hemoglobin terdiri dari 4 rantai polpeptida globin yang berikatan secara nonkovalen, yang masing-masing mengandung sebuah grup heme (molekul yang
mengandung Fe) dan sebuah oxygen binding site. Dua pasang rantai globin yg

36

berbeda membtk struktur tetramerik dengan sebuah heme moiety di pusat (center).
Molekul heme penting bagi RBC untuk menangkap O2 diparu-paru dan
membawanya keseluruh tubuh. Protein Hb lengkap dapat membawa 4 molekul O2
sekaligus. O2 yang berikatan dengan Hb memberi warna darah merah cerah.
Konsentrasi sel-sel darah merah dalam darah pada pria normal 4,6-6,2 juta/mm3,
pada perempuan 4,2-5,4 juta/mm3, pada anak-anak 4,5-5,1 juta/mm3. Dan
konsentrasi hemoglobin pada pria normal 13-18 g/dL, pada perempuan 12-16 g/dL,
pada anak-anak 11,2-16,5 g/dL (Kamus Kedokteran Dorland, edisi 29).
Dalam keadaan normal, sel darah merah atau eritrosit mempunyai waktu hidup 120
hari didalam sirkulasi darah, Jika menjadi tua, sel darah merah akan mudah sekali
hancur atau robek sewaktu sel ini melalui kapiler terutama sewaktu melalui limpa.
penghancuran sel darah merah bisa dipengaruhi oleh faktor intrinsik seperti :genetik,
kelainan membran, glikolisis, enzim, dan hemoglobinopati, sedangkan faktot
ekstrinsik : gangguan sistem imun, keracunan obat, infeksi seperti akibat plasmodium
Jika suatu penyakit menghancurkan sel darah merah sebelum waktunya (hemolisis),
sumsum tulang berusaha menggantinya dengan mempercepat pembentukan sel darah
merah yang baru, sampai 10 kali kecepatan normal. Jika penghancuran sel darah
merah melebihi pembentukannya, maka akan terjadi anemia hemolitik.
Hematopoiesis pada anak umur 9 tahun

36

Hematopoiesis adalah proses pembentukan sel darah. Hematopoiesis = proses produksi dan
perkembangan sel darah. Induk sel darah = stem sel Hematopoitik steam sel. Fungsi :
memproduksi

sel

darah

untuk

mengganti

sel

yang

rusak/mati.

TEORI PEMBENTUKAN

1. TEORI MONOFILATIK
Di mana sel darah berasal dari satu sel induk. Dimana sel-sel mesenkim berubah menjadi
hemohistioblast bergranula (hemahitioblast myeloid) : mieloblast, eritroblast, megakarioblast.

36

Tidak bergranula (hemohistioblast limfoid) : limfoblast, monoblast. Neomonofilaktik


(monofiletik yang baru); Oleh Dounrey, dimana sel mesenkim Mieloblast, megakarioblast,
promegakariosit, limfoblast, pronormobast.

2.

POIFILEKTIK
Masing-masing sel darah mempunyai induk steam sel yang tertentu dan terpisah satu

sama lain. Sel2 mesenkim itu masing-masing : mieloblast, proeritrosit, eritroblast,


megakarioblast, RES (Retikulo Endotelial Sytem)

3.

TEORI KOMBINASI ANTARA MONOFILEKTIK DAN POLIFILEKTIK


a. Duofilektik (oleh Erlich) : Sel Mesenkim mieloblast dan limfoblast
b. Triofilektik (Nargali) : Sel Mesenkim mieloblast, pronormoblast, limfoblast.

Masing-masing dari ketiga teori di atas, steam sel mengalami regulasi (pengaturan)
dengan proliferasi dan deferensiasi menjadi Eritropoietin, Lekopoietein, Trombipoietin.

TEMPAT PEMBUATAN

Janin

0-2 bulan (kantung kuning telur)


2-7 bulan (hati dan limpa)
5-9 bulan (sumsum tulang)

Bayi

Sumsum tulang (pada semua tulang)

36

Dewasa

Vertebra, tulang iga, sternum, tulang tengkorak, sacrum dan pelvis,


ujung proximal femur

HEMOPOIESIS PRENATAL
1. Stadium Mesoblastik.
Tampak kelompok2 pada yolk sac dan jaringan mesenkim embrional smpai
minggu ke 10 kehamilan. Bagian dalam mengalami hematogen, eritrosit yang awal sekali
(eritrosit primitif). Bagian luar mengalami maturasi (pematangan sel-sel eritrosit)
minggu ke 3-10

2. Stadium Hepatik. Merupakan kelanjutan dari ibu hamil 1,5 bulan.

36

Keterangan:
Minggu

ke

Mesenkim

>>> parenkim

kasar,

dst

sampai

bayi

lahir.

Pada bulan ke 4, lien, hepar, kelenjar limfe & sumsum tulang sudah memproduksi darah
Ketika sudah dilahirkan, yang berperan dalam pembentukan darah : kelenjar limfe, sumsum
tulang.

HEMATOPOIESIS POSTNATAL

36

Hematopoiesis moduler, dimulai dari kelahiran normal sumsum tulang aktif membentuk sel.
Organ yang Berperan :
1.

Sumsum Tulang (Born Marrow)


a.

Sumsum merah, aktif hematopoiesis

b.

Kuning

aktif (Sel endotel, retikulum, lemak)

2.

Kelenjar Getah Bening (Nodulus Limfaticus) Jarinagn Limfa Limfosit

3.

Lien, fungsi :

4.

a.

Proliferasi Limfosit

b.

Destruksi limfosit yag tak terpakai

Gaster / Lambung

Menyediakan faktor-faktor intrinsik (Vit. B12) membantu pematangan sel darah. Asam
lambung mempermudah absorbsi Fe di dalam darah.
5.

Hepar

Perombakan pigmen empedu

Depo Vit. B12

Detosifikasi

Proses Pembentukan Darah

6.

Enteropoietin

Hormon yang terdapat di dalam ginjal sehingga segala penyakit ginjal terlebih yang berat
akan berpengaruh terhadap hormon enteropoietin. Bila hormon ini berkurang, eritrosit juga
berkurang meskipun di temapt-tempat produksi yang lain masih baik, tapi karena hormon
tersebut diproduksi di ginjal jadi tetap akan berkurang.
7.

Kelenjar Endokrin

36

Mampu mempengaruhi perkembangan & pertumb. eritrosit

Menstimulasi eritropoiesis : tipoid

Hormon Esterogen : bersifat menghambat. Makin banyak jumlahnya dalam darah makin

berkurang proses pembentukan eritrosit


8.

Nutrisi

Makanan (KH, protein, lemak, vitamin, mineral, molekul, as. folat, dll) untuk
maturasi/pematangan sel
9.

RES (Retikulo Endotelia System).

Daftar Pustaka

36

Bakta, I Made. 2006. Hematologi Klinik Ringkas. EGC: Jakarta.


Hoffbrand, A. V. , J.E. Pettit, P. A. H. Moss. Kapita Selekta Hematologi. 2005. Jakarta: EGC
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak. 2005. Jakarta: Badan
Penerbit IDAI
Ilmu Penyakit dalam Jakarta: Penerbit Buku Univertas Indonesia
Jones, C.Hughes dkk. Catatan Kuliah Hematologi Edisi 5. EGC: Jakarta.
Robbins, Kumar Cotran. Buku Ajar Patologi Vol.2. 2005. Jakarta: EGC
Sutedjo, AY. Buku Saku Mengenal Penyakit Melalaui Hasil Pemeriksaan Lab.
Wahab, A. Samik (editor). IKA Nelson Vol. 2 Ed. 15. 1999. Jakarta: EGC

36