Anda di halaman 1dari 21

PENERIMAAN TERAPI

PERILAKU UNTUK INSOMNIA


Daniel Bluestein, MD, MS, CMD, AGSF, Amanda C. Healey, PhD, LPC-MHSP, NCC, and
Carolyn M. Rutledge, PhD, FNP-BC

Dibawakan oleh :
Putu Bagus Anggaraditya (1002005129)
Pembimbing :

dr. Wayan Westa, Sp.KJ (K)

LATAR BELAKANG
Diperkirakan sekitar 40-70 juta orang di Amerika
terkena insomnia secara intermiten, 10-20% memiliki
insomnia kronis

Biaya mencapai $42 milyar tiap tahun

INSOMNIA menjadi perhatian penting pada pelayanan


kesehatan primer

LATAR BELAKANG
Gangguan mood
penurunan daya ingat
kelelahan siang hari
kesulitan interpersonal
Kesulitan pekerjaan
penurunan status kesehatan
kecelakaan.

Insomnia

Kekhawatiran tentang terapi obat intervensi perilaku untuk


insomnia.

LATAR BELAKANG

Pendekatan perilaku mengarahkan pada keuntungan


berkelanjutan mengatasi perilaku dan kepercayaan terus
menerus, tidak ada efek samping

LATAR BELAKANG
Terapi perilaku juga membutuhkan usaha dan
motivasi pasien
Beberapa variabel klinis dan psikososial dapat
mempengaruhi motivasi ini

Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi demografis


individu dan klinis/psikososial berkorelasi pada
penerimaan terapi perilaku insomnia

METODE PENELITIAN
Penelitian cross-sectional menilai hubungan
antara kemauan untuk terlibat dalam
intervensi perilaku untuk pengobatan
insomnia dengan faktor demografis,
penerimaan obat, status kesehatan, depresi,
efektivitas diri selama tidur, keyakinan yang
salah tentang tidur, dan beratnya insomnia

METODE PENELITIAN

Peserta direkrut dari usia 18 tahun pada 3 tempat


pelayanan kesehatan.
Kriteria eksklusi : usia < 18, buta huruf, atau kapasitas
kognitif yang kurang.
Kriteria inklusi : usia 18 dan memiliki insomnia yang
signifikan secara klinis, dengan skor 8 pada Indeks
Keparahan Insomnia (ISI).
Survei mengambil antara 20-30 menit. Peserta menerima
honor uang tunai $10 setelah selesai.

METODE PENELITIAN
Preferensi pengobatan diukur dengan menggunakan Insomnia Treatment
Acceptability Scale (ITAS)
- Pertama adalah metode pengobatan tanpa obat [ITAS-B].
- Kedua adalah pengobatan obat baru (tidak ada nama obat) [ITAS-M].

Responden menilai setiap perlakuan pada perkataan yang


identik, 8 item subskala (perilaku dan obat).
- Usia diukur sebagai data tingkat rasio (berkelanjutan).
- Seks, ras, status perkawinan, dan tingkat pendidikan adalah
pasti.
- Status kesehatan diukur 8 pokok formulir singkat (SF-8);
gejala depresi diukur CES-D; efektivitas diri diukur dengan SES; keyakinan yang tidak berguna tentang tidur diukur dengan
DBAS; dan keparahan insomnia diukur dengan ISI.

Ada 236 peserta:


- 163 dari tempat 1
- 56 dari tempat 2
- 17 dari tempat 3

Nilai rata-rata usia adalah 45 tahun


(rentang, 19-91 tahun), dengan
laporan 221 peserta.

Hasil
Peserta adalah
74% perempuan (n = 236)
74% orang Afrika Amerika (n =
160)
36% menikah (n = 236)

Dari 235 peserta melaporkan


tingkat pendidikan
64% melaporkan pendidikan
sekolah tinggi, 17% adalah lulusan
perguruan tinggi
dan 19% melaporkan pendidikan
pascasarjana.

Hasil

Hasil
Tidak ada hubungan yang signifikan antara kemampuan
menerima terapi perilaku dengan status sosiodemografi
Hanya skor penggunaan obat (r = 0.259) dan keyakinan
yang tidak berguna (r = 0.234) yang memiliki korelasi
bivariat signifikan dengan skor ITAS-B (P < 0.001).
Keparahan insomnia juga secara signifikan berhubungan
dengan penerimaan terapi perilaku pada suatu tingkat
signifikan P<0.05
Penggunaan obat, keyakinan yang tidak berguna, dan
efektivitas diri berjumlah 12,45% dari variasi ITAS-B pada
regresi linier

Hasil

Hasil

DISKUSI
Tidak ditemukan asosiasi demografi dengan terapi
perilaku
Penerimaan obat muncul sebagai prediktor terkuat.
Keparahan insomnia, gejala depresi, dan
bersamaan dengan status kesehatan yang buruk
ternyata tidak prediktif.
Kehadiran efektivitas diri yang tinggi untuk
mendorong perilaku tidur dan keyakinan yang tidak
berguna dan sikap tentang tidur adalah prediktor
signifikan dari penerimaan terapi perilaku.

DISKUSI
Kurangnya
asosiasi
demografis

Tidak ada kebutuhan yang signifikan


untuk menargetkan kelompok yang
tidak tertarik tehadap edukasi
manfaat terapi perilaku

Kurangnya
asosiasi
demografis

Tidak hanya pendidikan dan ras


yang memiliki asosiasi dengan
penerimaan terapi perilaku

DISKUSI
Penggunaan
obat prediktor
terkuat

Lebih banyak pasien terbuka


memilih obat sebagai bantuan
tercepat untuk mengatasai
kurang tidur

Penggunaan
obat prediktor
terkuat

Mencerminkan karakteristik
pasien bahwa solusi medis dan
obat merupakan solusi untuk
mengatasi banyak masalah

DISKUSI
Depresi bersaamaan dengan status kesehatan yang
buruk tidak memprediksi penerimaan terapi perilaku
Penilaian kontributor depresi dan pengobatan medis
tetap menjadi bagian penting dari pemilaian dan
diagnosis insomnia

TETAPI

Berdasarkan hasil ini, tidak boleh digunakan untuk


menilai penerimaan pasien dari rekomendasi terapi

DISKUSI

Efektifitas diri harus ditingkatkan jika terapi perilaku


diterima secra sukses
Efektifitas diri harus ditingkatkan selama perjalanan
mengembangkan rrencana pengobatan insomnia, jika
perlu, menggunakan teknik wawancara motivasional

KESIMPULAN
Skrining keyakinan yang tidak berguna
tentang tidur mengidentifikasikan minat pasien
pada pendekatan perilaku.
Peningkatan efektivitas diri untuk tidur
meningkatkan penerimaan terapi perilaku
untuk insomnia.
Minat pada terapi pengobatan dan perilaku ini
tidak saling eksklusif.