Anda di halaman 1dari 14

PEWARNAAN ALIZARIN RED

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Andri Prajaka Santo


: B1J008082
: VII
:3
: Nur Fariza

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN II

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2009

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berbagai metode diterapkan untuk mengetahui bagaimana kita bisa
terbentuk, dari mana asal kita, bagaimana bentuk kita dulu waktu masih kecil.
Alizarin merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui atau
mendeteksi proses kalsifikasi pada tulang embrio. Tulang embrio yang telah
terwarnai oleh alizarin red akan terlihat berwarna merah. Warna merah timbul karena
kalsium telah diikat oleh matrik tulang embrio.
Mempelajari perkembangan embrio, digunakan telur ayam sebagai media
uji kali ini. Telur ayam juga mudah didapatkan dan harganya relatif murah. Telur
yang digunakan adalah telur ayam yang telah dierami atau diinkubasi selama 10-15
hari. Telur ayam termasuk tipe telolechital berat atau sering disebut megalechital dan
tipe pembelahannya adalah meroblastik. Bagian yang membelah berbentuk seperti
cawan atau diskus, maka tipe pembelahan pada telur ayam disebut meroblastik
diskoidal.
Telur ayam dilengkapi dengan yolk yang sangat banyak. Kandungan yolk
yang sangat besar ini kemungkinan untuk mengantisipasi kebutuhan bahan makanan
yang dibutuhkan embrio selama perkembangan dalam telur. Telur yang sudah
dibuahi, maka di dalamnya terdapat miniatur ayam yang nantinya akan keluar pada
saat penetasan. Ayam peliharaan atau sering disebut dengan ayam kampung
merupakan jenis unggas yang paling banyak di dunia, termasuk dalam genus Gallus
dan spesies Gallus domesticus. Nenek moyang ayam piaraan kemungkinan adalah
ayam hutan merah dengan nama Gallus gallus.

Proses penulangan pada ayam dimulai pada saat ayam dalam taraf
perkembangan dalam telur. Proses ini terjadi pada hari ke 9-14 dari masa
pengeraman atau diinkubasi.Tulang ayam terbentuk melalui dua cara, dimana
keduanya melibatkan transformasi jaringan masochism, cara pertama terbentuk
secara intra membran (membranous) dan cara kedua secara endokondral. Proses
penulangan ini sangat tergantung pada mineralisasi matrik eksternal, yaitu kalsium.
Sumber kalsium pada embrio ayam adalah kalsium fosfat dan kalsium karbonat yang
dari cangkang telur.
Perkembangan osifikasi dan kalsifikasi pada embrio ayam dapat dideteksi
dengan metode pewarnaan alizarin red yang digunakan untuk mendeteksi proses
kalsifikasi pada tulang embrio. Tulang yang diwarnai dengan alizarin red akan
berwarna merah tua apabila tulang tersebut telah mengalami kalsifikasi. Warna ini
muncul karena zat warna yang diberikan pada kalsium pada matrik tulang.
B. Tujuan
Praktikum kali ini bertujuan untuk mengerjakan prosedur pewarnaan
dengan menggunakan larutan alizarin red, mengamati, serta mengidentifikasi proses
kalsifikasi tulang pada embrio ayam.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Aves adalah anggota Vertebrata yang tubuhnya terbungkus oleh bulu.


Mempunyai sayap, sepasang kaki dengan masing-masing kaki berjari 4 buah yang
disesuaikan untuk berenang dan hinggap. Skeleton kecil dan baik, proses penulangan
sempurna, suhu tubuh tetap (homoithermis), dan fertilisasi terjadi di dalam tubuh
(Storer, 1988).
Telur aves bertipe megalechital. Yolk atau ovum bervariasi ukurannya.Yolk
dari telur ayam betina rata-rata berdiameter 40 mm dan berat 16-17 gram (Marshal,
1980). Berat telur 58 gram yang terdiri dari albumen 55,8%, yolk 31,9%, dan
kerabang 12,3%. Fungsi dari kerabang sebagai lalu lintas gas oksigen dan
karbondioksida dari proses penetasan (Rasyaf, 1984).
Tulang adalah jaringan ikat khusus. Hal ini matrik tulang dimineralisasi
oleh garam organik, terutama kalsium fosfat. Kalsium hidroksi apatite yang khusus
membentuk kekuatan tulang dan membuat tulang menjadi kokoh (Bajpai, 1991).
Komponen matrik eksternal utama yang berperan dalam proses pengerasan
tulang adalah garam kalsium. Proses pengendapan garam-garam kalsium terjadi
secara berangsur-angsur. Pembentukan sistem rangka pada embrio ayam dimulai
pada saat telah dierami selama 5 hari, yang ditandai dengan kondensasi mesenkim
prekartilago. Kondrifikasi dimulai pada hari ke-8, sedangkan osifikasi dimulai pada
hari ke-9. Proses ini dapat diamati dengan menggunakan metode pewarnaan alizarin
red (Jasin, 1989).
Menurut Yatim (1990), pertumbuhan secara endokhondral terdapat pada
tulang sebelah dalam tubuh, seperti vertebrae, costae, sternum, dan extremities.
Proses penulangan diawali dengan masuknya pembuluh darah yang membawa bahan
tulang (oscein dan mineral) ke jaringan. (Yatim, 1990).Perbedaan-perbedaan dalam
perkembangan terjadi karena dalam embrio, beberapa dari tulang-tulang itu

diendapkan dalam mesenkim yang belum terdiferensiasi, sedangkan di bagian-bagian


lain dari tubuh terjadi pembentukan tulang yang didahului oleh sistem tulang rawan
penumpu yang sementara dan osifikasi adalah sama dalam kedua hal tersebut
(Djuhanda, 1983).
Menurut Sukra (2000), teknik pewarnaan pada tulang dengan zat warna
alizarin red. Bagian dalam modifikasi yang berwarna merah, seperti tulang dahi
(frontal), tulang rahang, radius ulna, tulang ujung jari, scapula, tulang rusuk, femur,
tibia, serta fibula. Pertumbuhan embrio setelah mulai diinkubasi dapat digolongkan
menjadi tiga periode. Periode pertama, yaitu pertumbuhan organ-organ dalam.
Periode kedua pertumbuhan jaringan luar, dan periode ketiga pertumbuhan
membesar embrio (Sastroamidjojo, 1971). Sedangkan menurut Soeminto (2000),
pembentukan sistem rangka dimulai pada minggu ke-5, ditandai dengan kondensasi
mesenkim prekartilago. Kondrifikasi terjadi pada hari ke-8, sedangkan osifikasi
dimulai pada hari ke-9

III. MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alat bedah, tempat
spesimen, mangkok, hot plat, dan pipet tetes.
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah telur yang telah
diinkubasi selama 10-15 hari, larutan alkohol 96%, larutan pewarna alizarin red,
larutan penjernih A, B, C, larutan KOH 1%, larutan glycerin, dan akuades.
B. Metode
1. Telur ayam fertile yang telah dierami selama 10-15 hari, kemudian embrio
dikeluarkan dari dalam cangkang dan diletakkan dalam mangkok.
2. Embrio dibersihkan dari membran eksterna embrional serta bulunya dicabuti.
3. Embrio dimasukkan dalam botol yang berisi larutan alkohol 96% kira-kira 12
jam
4. Embrio dipindahkan dalam larutan KOH 1% kira-kira 3 jam.
5. Embrio dipindahkan ke dalam botol yang berisi larutan alizarin red selama
kurang lebih 3 jam.
6. Embrio dipindahkan dalam larutan KOH 2% kira-kira 3 jam.
7. Selanjutnya embrio dipindahkan ke dalam larutan penjernih A, B, C masingmasing selama 1 jam.
8. Terakhir embrio dipindahkan ke dalam botol yang berisi glycerin murni yang
telah diberi tymol.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Gambar 1. (A) Embrio Awal Sebelum Dimasukkan Alkohol 96%

Gambar 1. (B) Embrio Setelah Dimasukkan Alkohol 96%

Gambar 1. (C) Embrio Setelah Dimasukkan KOH 1%

Gambar 1. (D) Embrio Setelah Dimasukkan Alizarin Red

Gambar 1. (E) Embrio Setelah Dimasukkan KOH 2%

Gambar 1. (F) Embrio Setelah Dimasukkan Larutan Penjernih A

Gambar 1. (G) Embrio Setelah Dimasukkan Larutan Penjernih B

Gambar 1. (H) Embrio Setelah Dimasukkan Larutan Penjernih C

Gambar 1. (I) Tulang Yang Terwarnai (Skematis)


Tabel 1. Data Pengamatan Tulang Yang Terklasifikasi Rombongan VII
No Kelompok
Umur Inkubasi
Tulang Yang Terwarnai
1
1
10 Hari
Orbit, mandible, metacarpals, ulna, cervical
vertebrae, radius, humerus, tibio-tarsus,
tarso-metatrus, femur.
2
2
10 Hari
Orbit, ribs, cervical vertebrae, humerus,
ulna, radius, velvis, clavicula, mandibula,
maksila, metacarpal, scapula, femur, tibiotarsus, meta-tarsus, tarso-metatarsus, patela,
thoracic vertebrae, caudal vertebrae.
3
3
14 Hari
Orbit, mandible, metacarpal, radius, ulna,
velvis,
humerus,
tibio-tarsus,
tarsometatarsus, thoracic vertebrae, femur,
patela.
4
4
11 Hari
Orbit, mandible, metacarpal, cervical
vertebrae, humerus, ulna, radius, scapula,
thoracic vertebrae, caudal vertebrae, velvis,
coracoid, sternum, keel, femur, patella,
tibio-tarsus, tarso-metatarsus
5

12 Hari

Orbit, mandible,
cervical vertebrae,
metacarpals, ulna, radius, humerus, tibio
tarsus, tarso-metatarsus.

B. Pembahasan
Proses pembentukan tulang (osifikasi) yang terjadi pada embrio ayam
dimulai pada hari ke-14 dari masa inkubasi. Proses ini terjadi karena adanya
kondensasi jaringan mesenkim menjadi tulang. Selanjutnya tulang-tulang ini
mengalami kalsifikasi (proses pengikatan kalsium dalam tulang) sehingga
menyebabkan tulang menjadi kaku dan kokoh. Tulang yang terwarnai dalam
praktikum kali ini adalah orbit, mandible, metacarpal, radius, ulna, velvis, humerus,
tibio-tarsus, tarso-metatarsus, thoracic vertebrae, femur, dan patela. Alizarin red yang
digunakan untuk mewarnai tulang-tulang tersebut telah mengkontaminasi bagian otot
dari embrio sehingga embrio terlihat gelap kelam karena ototnya terwarnai oleh
alizarin red.
Menurut Bajpai (1991), tulang merupakan sebuah jaringan ikat yang
khusus, matrik tulang dimineralisasi oleh garam-garam organik, terutama kalsium
fosfat. Kalsium hidroksiapatite yang khusus membentuk kekakuan tulang dan
membuat tulang menjadi kokoh, tetapi tidak mempengaruhi fungsi dan suplai sel-sel
tulang yang terlibat. Penyusun utama tulang sesungguhnya adalah mineral tulang
yang mengandung kalsium (Ca), dan fosfor (P), serta protein yang disebut kolagen.
Srtuktur tulang mirip beton untuk bangunan atau jembatan. Komponen kalsium dan
fosfor membuat tulang keras dan kakumirip semen, sedangkan serat- serat kolagen
membuat tulang mirip kawat baja pada tembok (Daniel, 2007).
Alizarin red adalah suatu metode yang digunakan untuk mendeteksi proses
kalsifikasi pada tulang embrio. Pewarnaan alizarin red menggunakan beberapa
larutan, antara lain adalah larutan alkohol yang digunakan sebagai fiksatif, larutan
pewarna alizarin red yang digunakan untuk memberi warna pada jaringan tulang
yang sudah terbentuk, larutan KOH 1% yang digunakan untuk mentransparankan

warna otot agar skeletonnya terlihat jela, larutan penjernih A, B, C yang berfungsi
untuk mengurangi kelebihan warna yang masuk ke dalam jaringan otot agar warna
otot lebih transparan, serta larutan gliserin murni sebagai pengawet spesimen.
Salah satu sifat dari unsur kalsium adalah mampu menyerap warna merah
yang terdapat dalam alizarin red, sehingga untuk mendeteksi proses kalsifikasi pada
tulang digunakan larutan ini. Tulang yang telah terwarnai oleh larutan alizarin red
akan teridentifikasi dengan menunjukkan warna merah tua jika mengalami
kalsifikasi.
Alizarin Red-S sering disebut natrium alizarin sulfonat, dengan rumus
molekul C14H7O7SNa, yang merupakan golongan antraquinik dan banyak digunakan
dalam industri tekstil (Rusdiarso et al., 2008). Praktikum pewarnaan tulang embrio
ayam kampung menggunakan alizarin red karena mudah teradsorbsi oleh tulang.
Pewarnaan alizarin red digunakan untuk mendeteksi proses kalsifikasi pada tulang
embrio. Tulang yang pertama kali terwarnai pada praktikum kali ini adalah tulang
tengkorak (tulang kepala). Tulang tengkorak merupakan tulang yang dibentuk
dengan cara osifikasi intermembran. Proses ini berasal dari serat collagen dimasukan
zat ossein (protein tulang), lalu fibroblast mengalami transformasi menjadi osteoblast
dan osteoclast. Osteoblast pembentuk tulang, osteoclast peresap zat yang dirombak
menjadi tulang (Kalthoff, 1996).
Menurut Sukra (2000), tulang-tulang yang mengalami pewarnaan dengan
zat warna alizarin red adalah tulang dahi (frontal), tulang rahang (mandibula dan
maxilla), radius ulna, tulang ujung jari, scapula, tulang rusuk, femur, tibia, serta
fibula. Tulang-tulang tersebut bila telah mengalami kalsifikasi akan berwarna merah
tua. Teknik pewarnaan alizarin red dengan zat warna alizarin red, bagian dalam
proses osifikasi berwarna merah muda seperti tulang dahi (frontal), tulang rahang

(mandibula), tulang radius ulna dan tulang ujung jari, skapula, tulang rusuk, femur,
tibia fibula. Menurut Nishikawa et al. (2006), Calcein flourescens di tunjukkan
dengan warna hijau kekuningan, sedangkan alizarin red akan menunjukkan warna
merah. Warna merah ini karena adanya ikatan antara kalsium dalam tulang dengan
alizarin red.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang didapatkan pada praktikum kali ini adalah sebagai
berikut:
1. Pewarnaan alizarin red adalah teknik pewarnaan dengan menggunakan pewarna
alizarin red yang digunakan untuk mendeteksi proses kalsifikasi pada tulang
embrio dengan ditandai warna merah tua pada tulang yang mengalami kalsifikasi.
2. Hasil pewarnaan alizarin red pada embrio umur inkubasi 14 hari adalah tulang
mandible, metacarpus, cervical, vertebrae, ulna, radius, humerus, caudal
vertebrae, tibio tarsus, tarsio metatarsus.

B. Saran
Saran yang ingin saya berikan adalah lebih memperhatikan lagi ciri-ciri telur
ayam yang telah berumur antara 10-15 hari karena kejadian pada beberapa kelompok
yang telurnya ternyata belum mencapai umur yang ditentukan.

DAFTAR REFERENSI
Bajpai, R. N. 1991. Osteologi Tubuh Manusia. Binarupa, Jakarta

Daniel. 2007. Struktur dan Pertumbuhan Tulang Sampai Devisiensi Insulin Diabetes.
http://www.DanlWebsterlnn.com. Diakses tanggal 13 Oktober 2008
Djuhanda. 1983. Analisa Struktur Vertebrata Jilid 1. Armico, Bandung
Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan (Invertebrata dan Vertebrata). Sinar Wijaya,
Surabaya
Kalthoff, K. 1996. Analysis of Biological Development. McGraw-Hill Inc, New
York.
Marshall. 1980. Physiology of Reproduction. Long mans. Grenn and Co, New York
Nishikawa, T., Kazuya M., Masahiko M., Yasuhiro T., Kenji K., Akio T. 2006.
Calcification at The Interface Between Titanium Implants and Bone:
Observation With Confocal Laser Scanning Microscopy. Journal of Oral
Implantology Vol. XXXII/No. Five/2006, (213): 211-217.
Rasyaf, M. 1984. Pengelolaan Penetasan. Kanisius, Yogyakarta
Rusdiarso, B., Eko S., Saprini H. 2008. Sintesis Hibrida Metil Silika Mesopori untuk
Adsorpsi Zat Warna Alizarin Red-S. Laboratorium of Inorganic Chemistry,
Departement of Chemistry, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta :193-199.
Sastroamidjojo, S. 1971. Beternak Ayam. NV Masa Baru, Jakarta
Storer, T. I. 1988. General Zoology. McGraw-Hill Inc, New York
Sukra, Y. 2000. Wawasan Ilmu Pengetahuan Embrio Benih Masa Depan
Depdiknas, Jakarta
Yatim, W. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito, Bandung