Anda di halaman 1dari 4

SISTEM KONTROL ALARM KEBAKARAN DENGAN SMOKE DETECTOR

SMOKE DETECTOR
Semakin berkembangnya zaman, kemajuan teknologi semakin berkembang pesat pula. B
erkembangnya kemajuan teknologi sekarang semakin memberikan kemudahan bagi kita
untuk melakukan sesuatu aktifitas tertentu. Salah satu kemajuan teknologi yang b
erkembang sangat pesat pada zaman sekarang ini adalah pada bidang eletronika, ya
itu berupa rancang bangun sistem kontrol.
Sistem kontrol merupakan suatu sistem yang bertujuan untuk mengendalikan suatu p
roses agar output yang dihasilkan dapat dikontrol sehingga tidak terjadi kesalah
an (Setiawan, 2006). Dalam sistem kontrol terdapat dua jenis yaitu sistem kendal
i loop terbuka dan loop tertutup :
a. Open Loop (Loop Terbuka)
Suatu sistem kontrol yang keluarannya tidak berpengaruh terhadap aksi pengontro
lan. Dengan demikian pada sistem kontrol ini, nilai keluaran tidak di umpan-bali
kkan ke parameter pengendalian.
Gambar 1. Diagram Blok Sistem Pengendalian Loop Terbuka
b. Close Loop (Loop Tertutup)
Suatu sistem kontrol yang sinyal keluarannya memiliki pengaruh langsung terhadap
aksi pengendalian yang dilakukan. Sinyal error yang merupakan selisih dari si
nyal masukan dan sinyal umpan balik (feedback), lalu diumpankan pada komponen pe
ngendalian (controller) untuk memperkecil kesalahan sehingga nilai keluaran sist
em semakin mendekati harga yang diinginkan. Keuntungan sistem loop tertutup adal
ah adanya pemanfaatan nilai umpan balik yang dapat membuat respon sistem kurang
peka terhadap gangguan eksternal dan perubahan internal pada parameter sistem. K
erugiannya adalah tidak dapat mengambil aksi perbaikan terhadap suatu gangguan s
ebelum gangguan tersebut mempengaruhi nilai prosesnya.
Gambar 2. Diagram Blok Sistem Kontrol Tertutup
Ada banyak proses yang harus dilakukan untuk menghasilkan suatu produk sesuai st
andar, sehingga terdapat parameter yang harus dikontrol atau di kendalikan antar
a lain tekanan (pressure), aliran (flow), suhu (temperature), ketinggian (level)
, kerapatan (intensity), dan lain-lain. Gabungan kerja dari berbagai alat-alat
kontrol dalam proses produksi dinamakan sistem pengontrolan proses (process cont
rol system). Sedangkan semua peralatan yang membentuk sistem pengontrolan disebu
t pengontrolan instrumentasi proses (process control instrumentation).
Pada paper ini akan dibahas mengenai sistem kendali pada alat pendeteksi kebakar
an tipe smoke detector. Bekerja pada lingkungan kelistrikan sangat rawan terhada
p bahayakebakaran, baik karena listrik statis maupun karena listrik dinamis. Keb
akaran listrik sebenarnya tidak perlu terjadi jika syarat-syarat pemasangan dan
keamanannya terpenuhi. Pada sistem jaringan lama, untuk sampai pada pemakai dipe
rgunakan sistem pengaman bertingkat, sehingga kemungkinan kebakaran sebagai akib
at timbulnya panas yang berlebih sangat kecil. Kebakaran terjadi karena tindakan
dari para pemakai daya listrik sendiri yang tidak paham tentang bahaya listrik.
Sebagai contoh, saat terjadi hubungan singkat yang mengakibatkan sekering putus
, kemudian kita menyambung kawat sekering dengan kawat berdiameter lebih besar (
tanpa memperhitungkan arus yang lewat), sehingga arus yang lewat kawat menjadi l
ebih besar (tidak sesuai dengan ketentuan keamanan). Hal ini menyebabkan panas y
ang berlebih pada penghantar meleleh dan timbullah hubung singkat yang disertai
dengan bunga api, bunga api inilah yang sering menyebabkan terjadinya kebakaran.
Kebakaran yang terjadi pada sistem jaringan terjadi akibat dari bersinggunganny
a dua hantaran, kadang-kadang terjadi ledakan ringan yang mengakibatkan putusnya
ikatan penghantar. Disinilah banyak terjadi kecelakaan karena sistem proteksi p
utus hantaran tidak berfungsi. Apabila terjadi ledakan pada reaktornya, semata-m
ata karena sistem proteksi yang berada dalam tabung reaktor bekerja. Hal ini ter
jadi bila batas beban lebih dilampaui atau terjadi hubung singkat pada sistem (W
idodo, 2005).
Asap adalah keseluruhan partikel yang melayang-layang baik kelihatan maupun tida
k kelihatan hasil dari suatu pembakaran. Dikarenakan asap bersifat naik ke atas,
umumnya pendeteksi asap (Gambar 3) dipasang di langit-langit, atau di dinding d
ekat langit- langit. Untuk mempertinggi tingkat kemungkinan membangunkan penghun

i yang sedang tidur, biasanya pendeteksi asap dipasang di dekat kamar tidur. Ide
alnya di ruang terbuka, atau paling baik di dalam kamar tidur itu sendiri (SNI 0
3-6571-2001).
Gambar 3. Alat Pendeteksi Asap
Pendeteksi asap secara umum jauh lebih cepat mendeteksi kebakaran dari pada pend
eteksi panas. Umumnya pendeteksi asap bekerja menggunakan prinsip Optical Detect
ion atau Ionization. Tetapi dapat juga digunakan secara bersamaan untuk memperti
nggi sensitifitasnya sebagai pendeteksi asap. Pendeteksi ini dapat beroperasi se
ndiri, dihubungkan satu sama lainnya untuk membuat pendeteksi-pendeteksi di satu
area menyalakan alarm jika salah satu pendeteksi terpicu, atau diintegrasikan k
e Sistem Alarm Kebakaran atau sistem pengamanan.
Kematian dari kebanyakan orang disebabkan oleh gumpalan padat asap tebal dimana
biasanya menjadi masalah yang lebih besar dari pada terbakar. Untuk alasan ini p
endeteksi asap fotoelektrik biasa digunakan pada jalan keluar seperti koridor da
n tangga. Dan pendeteksi asap ionisasi biasa digunakan dalam ruangan kantor dan
tempat-tempat umum lainnya.
Secara umum jenis detector ini dibagi menjadi 3 macam yaitu ionization smoke det
ector, photoelectric smoke detector, dan air sampling smoke detector. Perbedaan
dari ketiga jenis smoke detector tersebut hanya pada metode deteksinya.
Smoke Detector adalah detektor yang berkerjanya berdasarkan batas konsistensi as
ap tertentu, detektor asap dapat berupa :
Detektor Asap optik (Photo Electric Smoke Detector) adalah alat yang mendeteksi
adanya asap yang berkerja dengan prinsip berkurangnya cahaya oleh asap oleh kos
entrasi tertentu.
Pendeteksi jenis ini bekerja berdasarkan prinsip pembuyaran dan pemantulan cahay
a. Pendeteksi jenis ini sensitif terhadap asap dengan partikel besar dan tidak s
ensitif terhadap asap dengan partikel kecil.
Gambar 4. Prinsip Pembuyaran Cahaya
Prinsip pembuyaran (Gambar 4) menggunakan sumber cahaya langsung dari sumber ke
penerimanya. Ketika asap melintasi di depan sumber cahaya, sejumlah cahaya dibuy
arkan yang menyebabkan sedikit cahaya terdeteksi oleh penerima cahaya. Penurunan
jumlah cahaya ini memicu alarm.
Sedangkan prinsip pemantulan cahaya menggunakan LED dan sebuah fotodioda atau se
nsor fotoelektrik lainnya terletak di sebelah pembatas sebagai pendeteksi cahaya
. Jika tidak ada asap, cahaya melewati secara garis lurus di depan pendeteksi. K
etika asap memasuki ruang deteksi, sejumlah cahaya dipantulkan oleh partikel asa
p ke foto dioda. Penambahan cahaya yang masuk ke fotodioda memicu alarm. Gambar
5 memperlihatkan prinsip kerja pemantulan cahaya dari pendeteksi optik.
Gambar 5. Prinsip kerja pemantulan cahaya pendeteksi optik
Detektor Asap Ionisasi (Ionization Smoke Detector) adalah alat yang berkerja de
ngan prinsip berkurangnya arus ionisasi oleh asap pada kosentrasi tertentu.
Pendeteksi jenis ini lebih murah dibandingkan dengan pendeteksi jenis optik, tet
api terkadang pendeteksi ini ditolak karena alasan lingkungan. Pendeteksi ini me
nggunakan ruang ionisasi dan sumber radiasi ionisasi untuk mendeteksi asap. Di d
alam pendeteksi ionisasi ini terdapat sejumlah kecil (sekitar 1/5000 gram) zat r
adioaktif americium-241. Unsur dari radioaktif ini merupakan sumber partikel alp
ha yang baik. Ruang ionisasi terdiri dari dua lempengan logam yang terpisah seki
tar satu sentimeter. Sumber tegangan arus searah diberikan ke lempengan yang mem
buat lempengan bermuatan.
Prinsip keja dari detektor asap ionisasi adalah partikel alpha yang dihasilkan o
leh americium mengionisasi atom oksigen dan nitrogen dari udara yang terdapat di
dalam ruang ionisasi. Ketika elektron terlepas dari sebuah atom, maka akan meng
hasilkan sebuah elektron bebas (bermuatan negatif) dan sebuah atom yang kehilang
an satu elektron (bermuatan positif). Elektron negatif ditarik oleh lempengan ya
ng bertegangan positif dan atom positif ditarik oleh lempengan yang bertegangan
negatif (persis seperti magnet) dan menghasilkan sejumlah kecil arus listrik aki
bat pergerakan elektron dari atom ini melalui lempengan-lempengan bertegangan ta
di.
Ketika asap memasuki ruangan ionisasi, asap mengganggu aliran arus dimana partik
el asap menyatu terhadap ion dan menetralkannya, sehingga terjadi penurunan juml

ah arus yang mengalir di antara lempengan dan mengaktifkan alarm. Pendeteksi jen
is ini sangat sensitif terhadap asap dengan partikel kecil yang diproduksi oleh
kebanyakan nyala api. Tetapi menjadi tidak sensitif terhadap asap
dengan partikel besar, seperti asap yang dihasilkan dari pembakaran plastik.
Fire alarm protection (alarm kebakaran) merupakan salah satu alat pemadam kebaka
ran yang akan berbunyi ketika terjadi kebakaran. Semua komponen dari alarm keba
karan harus diperiksa secara teratu untuk memastikan bahwa peralatan tersebut be
kerja dengan baik. Bagian-bagian yang terdapat pada alarm kebakaran, antara lai
n :
1) Pendeteksi (detector)
2) Bel dan suara/sirine
3) Lampu tanda (healthy indicator and fire indicator)
4) Sinyal pengendali (remote signalling)
5) Tombol reset
6) Name plate berisi spesifikasi dari alarm kebakaran tersebut
Pada sistem kontrol alarm kebakaran ini yang menjadi variabel inputnya adalah as
ap dan suhu tinggi. Sedangkan yang menjadi variabel outunya adalah bunyi alarm d
an nyala lampu LED. Suatu detektor asap akan mendeteksi kebakaran jauh lebih cep
at dibanding detektor panas. Detektor asap dikenali dari prinsip operasinya, yak
ni: sensor ionisasi dan fotoelektrik. Pada paper ini tipe smoke detector yang di
bahas adalah tipe ionisasi. Di dalam detektor asap sensor fotoelektrik, suatu su
mber cahaya dan sensor cahaya diatur sedemikian sehingga sinar dari sumber cahay
a tidak menumbuk sensor cahaya. Ketika partikel asap masuk alur cahaya, sebagian
dari cahaya menyebar dan mengarah ke sensor, menyebabkan detektor untuk mengakt
ifkan suatu bunyi alarm. Detektor asap sensor ionisasi berisi sejumlah kecil bah
an radioaktif americium yang dilekatkan pada suatu lembaran matriks emas di dala
m suatu kamar ionisasi. Americium pada detektor asap akan mengionisasikan udara
di dalam kamar (chamber) pengindera, memberikan daya konduksi dan suatu aliran a
rus melalui udara antara dua muatan elektroda. Hal ini memberi kamar pengindera
suatu efek aliran listrik. Apabila partikel asap masuk daerah ionisasi, maka asa
p tesebut akan mengurangi aliran listrik udara dengan menempelkan diri pada ion,
yang menyebabkan pengurangan gerak ion. Ketika arus listrik kurang dari tingkat
yang ditetapkan, maka detektor akan merespon (Anonim, 1989).
Detektor/sensor mendeteksi indikasi adanya kebakaran seperti asap da
n suhu yang tinggi dan mengirimkan sinyal kebakaran/api ke fire control panel (F
CP) untuk diolah. Selain melalui detektor, FCP juga menerima sinyal dari manual
call point (break glass) yang berupa penekanan tombol darurat oleh manusia yang
melihat adanya kebakaran. Sinyal tersebut diolah oleh FCP dan kemudian dilakukan
aksi berupa pemberian peringatan.
Sistem alarm kebakaran disini terdiri dari 2 FCP. Tiap Panel terdiri dari 2 cont
roller. FCP 1 terdiri dari controller 1 dan controller 2, sedangkan FCP 2 terdir
i dari controller 3 dan controller 4. Masing-masing controller menerima input da
ri detektor atau manual call point dengan zona yang berbeda. Controller 1 meneri
ma input dari zona 1-30, controller 2 dari zona 31-60, controller 3 dari zona
61-90 dan controller 4 dari zona 91-120. Output controller 1 terhubung dengan ke
tiga annunciator yang merepresentasikan aktivasi zona 1-30, output controller 2
untuk zona 31-60, output controller 3 untuk zona 61-90, output controller 4 un
tuk zona 90-120. Annunciator mempunyai lampu-lampu LED indikator yang masing-mas
ing merepresentasikan tiap zona dan buzzer yang akan selalu berbunyi dimana zon
a terjadi kebakaran. Jika detektor mendeteksi adanya kebakaran, maka detektor a
kan mengirimkan sinyal ke controller sesuai dengan dimana detektor tersebut terh
ubung. Selain itu bell/horn juga berbunyi sesuai dengan controller aktif yang t
erhubung. Misalkan terjadi kebakaran di zona 20, detektor akan mengirimkan sinya
l ke controller 1 dan output controller 1 akan menyalakan lampu LED indikator ya
ng merepresentasikan zona 20 di ketiga annunciator dan bell/horn akan berbunyi.
Controller adalah bagian terpenting sistem yang merupakan pusat segala pengolaha
n sinyal dan aksi atau perilaku dari sistem alarm (Anonim, 1992).
Gambar6. Koneksi pin pada controller
Controller mendapatkan tegangan dari power supply circuit yang sekaligus berfung
si untuk mengisi power supply cadangan (battery) dan melakukan pemindahan power

supply dari main power ke power supply cadangan atau sebaliknya. Koneksi pin da
pat dilihat di gambar 3. Pada gambar 3, BC dan BF menunjukkan local alarm, PU da
n PV menunjukkan pilot lamp, T menunjukkan telepon, A menunjukkan manual alarm,
I-, B+ dan I1-I menunjukkan annunciator, dan C dan L1-L30 menujukkan ke tiap zo
na 1
30 (Anonim, 1985).
Gambar7. Skema sistem alarm kebakaran di IRM
Hasil pengolahan sinyal indikasi adanya kebakaran oleh controller, kemudian diki
rim ke annunciator yang berfungsi sebagai alat berupa display panel yang memberi
kan informasi zona dimana terjadinya kebakaran. Informasi terjadinya kebakaran b
erupa bunyi (buzzer), serta lampu LED indikator yang menunjukan zona terjadinya
kebakaran. Sinyal kebakaran tersebut juga dikoneksikan ke horn pada combination
panel untuk membunyikan alarm. Pada combination panel terdapat juga tombol (man
ual call point) yang dapat ditekan (push) bila seseorang melihat adanya kebakara
n, selain itu terdapat juga socket telepon untuk berkomunikasi dengan telepon ya
ng ada pada fire control panel. Disamping itu juga pada combination panel terdap
at lampu yang menyala untuk menandakan fire control panel dalam keadaan beropera
si (Anonim, 1985).
DAFTAR PUSTAKA
[Anonim]. 1985. Fire Protection Handbook, fifteenth edition. National fire prote
ction association Quincy, Massachusetts.
[Anonim]. 1992. Fire Protection in Nuclear Plants. International Atomic Energy A
gency, Vienna.
[Anonim]. 1989. An Introduction to Fire Detection, Alarm, and Automatic Fire Spr
inklers. Fire Safety Network, Middlebury, Vermont.
Setiawan, Iwan. 2006. Programmable Logic Controller dan Teknik Perancangan Siste
m Kontrol. ANDI, Yogyakarta.
Standar Nasional Indonesia. Sistem Pengendali Asap Kebakaran pada Bangunan Gedun
g. SNI 03-6571-2001.
Widodo, Budiharto. 2005. Perancangan Sistem dan Aplikasi Mikrokontroler. Elex Me
dia Komputindo, Jakarta.