Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar (milieu
exterior) dan sel-selnya pun hidup dalam milieu interior yang berupa darah dan cairan
tubuh lainnya. Cairan dalam tubuh, termasuk darah meliputi kurang lebih 60% dari
total berat badan laki-laki dewasa. Pada wanita dewasa, cairan tubuh meliputi 50% dari
total berat badan. Dalam cairan tubuh terlarut zat-zat makanan dan ion-ion yang
diperlukan oleh sel untuk hidup, berkembang, dan menjalankan tugasnya. Untuk dapat
menjalankan fungsinya dengan baik, sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya.
Cairan tubuh manusia terdiri dari air dan seluruh bahan yang terlarut di dalamnya,
baik unsur organik maupun unsur anorganik, seperti elektrolit, glukosa, protein, dan
urea. Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik
yang disebut ion jika berada dalam larutan. Elektrolit adalah substansi yang
berdiasosiasi (terpisah) di dalam larutan dan akan menghantarkan arus listrik. Elektrolit
berdisosiasi menjadi ion positif dan negatif dan diukur dengan kapasitasnya untuk
saling berikatan satu sama lain (miliekuivalen/ liter [mEq/L]) atau dengan berat
molekul dalam gram (milimol/ liter [mmol/L]) (Mima dan Pamela, 2001).
Cairan tubuh manusia dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu cairan intraseluler
dan cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler merupakan cairan yang terkandung di
dalam sel, sedangkan cairan ekstraseluler adalah cairan yang terkandung di luar sel,
yang terdiri atas cairan interstitial, cairan transeluler, dan cairan intravaskuler (Mima
dan Pamela, 2001). Elektrolit tubuh mencakup natrium (Na+), Kalium (K+), Kalsium
(Ca2+), Magnesium (Mg2+), Klorida (Cl-), Bikarbonat (HCO3-), Fosfat (HPO42-), Sulfat
(SO42-). Konsentrasi elektrolit dalam cairan tubuh bervariasi pada satu bagia dengan
bagian yang lainnya, tetapi meskipun konsentrasi ion pada tiap-tiap bagian berbeda,
hukum netralitas listrik menyatakan bahwa jumlah muatan-muatan negatif harus sama
dengan jumlah muatan-muatan positif.

Kalium dengan rumus kimia (K+) merupakan ion bermuatan positif (kation)
utama yang terdapat di dalam cairan intraselular (CIS). Konsentrasi total kalium di
dalam tubuh diperkirakan sebanyak 2 g/kg berat badan. Namun jumlah ini dapat
bervariasi bergantung terhadap beberapa faktor, seperti jenis kelamin, umur, dan massa
otot (muscle mass). Kebutuhan minimum Kalium diperkirakan sebesar 782 mg/ hari.
Kalium merupakan kation utama yang terdapat di dalam cairan intraseluler, (bersama
bikarbonat) berfungsi sebagai buffer utama. Hanya sekitar 10% dari total konsentrasi
kalium di dalam tubuh berada di ekstraseluler dan 50 mmol berada dalam cairan
intraseluler (Kemenkes RI, 2011).
Kalium dalam tubuh memiliki fungsi dalam menjaga keseimbangan cairan
elektrolit dan keseimbangan asam-basa. Selain itu, bersama dengan kalsium (Ca2+) dan
natrium (Na+), kalium akan berperan dalam transmisi saraf, pengaturan enzim dan
kontraksi otot. Hampir sama dengan natrium, kalium juga merupakan garam yang dapat
secara cepat diserap oleh tubuh. Setiap kelebihan kalium yang terdapat di dalam tubuh
akan dikeluarkan melalui urin serta keringat. Kandungan kalium dalam makanan dapat
ditemukan pada pisang, alpukat, jeruk, tomat, kentang, wortel, kubis, bawang, ikan
salmon, dan daging.
Penentuan kadar kalium dapat dilakukan dengan beberapa metode, diantaranya
titrasi, fotometrik, Flame fotometric, dan Ion Selective Elektrode (ISE). Dalam
penentuan konsentrasi kalium secara fotometrik, umumnya digunakan serum sebagai
spesimen.

Serum

darah

merupakan

komponen

cairan

darah

dimana

cara

mendapatkannya dengan mendiamkan tanpa antikoagulan apapun lalu dicentrifuge.


Selain menggunakan serum, penentuan kadar kalium juga dapat dilakukan dengan
menggunakan plasma sebagai spesimen. Plasma darah merupakan komponen cairan
darah dimana cara mendapatkannya adalah dengan mencentrifuge dengan antikoagulan.
Dari literatur pedoman interpretasi data klinik yang diterbitkan oleh Kementerian
Kesehatan RI, 2011 disebutkan bahwa konsentrasi kalium dalam serum darah sangat
kecil sehingga tidak memadai untuk mengukur kalium dalam serum. Berdasarkan latar
belakang di atas, akan dilakukan penelitian mengenai Perbandingan Hasil
Pemeriksaan Kadar Kalium dalam Serum Darah dan Plasma Darah pada Mahasiswa
Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Surabaya.

1.2. Rumusn Masalah


Bagaimana perbandingan hasil pemeriksaan kadar Kalium dalam serum darah
dan plasma darah pada mahasiswa Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Surabaya?

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan kadar Kalium dalam serum darah
dan plasma darah pada mahasiswa Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes
Surabaya.
1.3.2. Tujuan Khusus
Menganalisis seberapa besar perbedaan hasil pemeriksaan kadar Kalium
dalam serum darah dan plasma darah pada mahasiswa Analis Kesehatan
Poltekkes Kemenkes Surabaya.

1.4. Manfaat Penelitian


1. Sebagai tambahan ilmu pengetahuan dan wawasan bagi peneliti tentang spesimen
yang lebih cocok untuk digunakan dalam penentuan kadar elektrolit Kalium.
2. Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan serta sebagai referensi bagi mahasiswa
untuk dapat dikembangkan pada penelitian selanjutnya.