Anda di halaman 1dari 18

Kelompok 9 ( II.

c )
Andi kurniawan
Fauzul azmi
Nurhidayati
Wahyu ardhani putra

A. Definisi
Sistem muskuloskeletal adalah suatu sistem yang
terdiri dari tulang, otot, kartilago, ligamen, tendon,
fascia, bursae, dan persendian (Depkes, 1995: 3).
Trauma adalah suatu keadaan ketika seseorang
mengalami cedera karena salah satu sebab. Penyebab
trauma adalah kecelakaan lalu lintas, industri,
olahraga, dan rumah tangga.

B. Dampak Terjadinya Trauma Sistem


Muskuluskeletal
Akibat trauma pada tulang bergantung pada jenis
trauma, kekuatan, dan arahnya. Trauma tajam atau
trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang
patah dengan luka terbuka sampai ke tulang yang
disebut patah tulang terbuka. Patah tulang di dekat
sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai
luksasi sendi yang disebut fraktur dislokasi.

C. Etiologi
Menurut Apley & Solomon (1995: 239), etiologi yang
menyebabkan fraktur adalah sebagai berikut:
1. Traumatik
2. Kelelahan atau tekanan yang berulang-ulang
3. Kelemahan dan abnormal pada tulang (patologis)

D. Prinsip Penanggulangan
Ada enam prinsip umum penanggulangan trauma
sistem muskuluskeletal menurut pusponegoro
A.J.(2007),yaitu sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pertolongan yang aman bagi pasien


Pengobatan berdasarkan diagnosis yang tepat
Pengobatan yang terarah
Perhatikan Laws of Nature
Realistik
Pertimbangan kasus per kasus

E.

Komplikasi

Komplikasi menurut Henderson (1997), Bruner dan Suddarths


(1995) adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Syok
Infeksi
Nekrosis vaskuler
Malonian
Non Union
Delayed union
Kerusakan arteri
Sindroma kompartemem
Sindroma emboli lemak

F.

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostik yang di lakukan pada


pasien trauma sistem muskuloskeletal adalah foto
ronsen. Jenis dan saat pemeriksaan ronsen dilakukan,
ditentukan oleh hasil pemeriksaan, tanda klinis,
keadaan hemodinamik serta mekanisme trauma.

G. Panatalaksanaan
Tujuan pengobatan fraktur adalah untuk
menempatkan ujung-ujung dari patah tulang supaya
satu sama lain saling berdekatan, selain itu menjaga
agar tulang tetap menempel sebagaimana mestinya.
Proses penyembuhan memerlukan waktu minimal 4
minggu, tetapi pada usia lanjut biasanya memerlukan
waktu yang lebih lama. Setelah sembuh, tulang
biasanya kuat dan kembali berfungsi (Corwin, 2010).

Lanjutan . . .
Bila keadaan penderita stabil dan luka telah diatasi,
fraktur dapat dimobilisasi dengan salah satu cara
dibawah ini:
1. Traksi
2. Fiksasi Internal
3. Pembidaian
4. Pemasangan Gips
5. Penyembuhan Fraktur

H. penanggulangan trauma sistem


muskuluskletal pada penderita fraktur di luar RS
Jalan nafas
2. Perdarahan atau luka
3. Syok
4. Fraktur dan dislokasi
1.

ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
3. RENCANA KEPERAWATAN
1.

A. PENGKAJIAN
Pengkajian
2. Keluhan utama
3. Riwayat penyakit
4. Pemeriksaan fisik
1.

B. Diagnosa keperawatan
1.

Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan


trauma jaringan sekunder terhadap pembedahan.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan
nyeri.

C. Rencana keperawatan
1.

Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan


trauma jaringan sekunder terhadap pembedahan.

Tujuan

: Kebutuhan rasa nyaman terpenuhi.


Kriteria Hasil : Nyeri hilang atau berkurang

Intervensi
1.

2.

3.

Evaluasi keluhan nyeri, lokasi,


karakteristik dan intensitas
nyeri

Rasional
1.

Untuk mengetahui tingkat nyeri


yang dirasakan pasien

2.

Agar membantu pasien untuk


merasakan kenyamanan dan
mempercepat proses penyembuhan
pasien.

3.

Untuk membantu pasien


menghilangkan cemas dan takut
yang dirasakan pasien.

4.

Membantu pasien menghilangkan


rasa nyeri yang dirasakan.

Memberikan posisi senyaman


mungkin pada pasien
Mengajarkan teknik relaksasi
nafas dalam.

4. Kolaborasi pemberian
analgesik.

2.

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan


nyeri.

Tujuan

: Klien dapat melakukan gerak dan

ambulasi.
Kriteria Hasil : Meningkatkan / mempertahankan /
mamperhatikan morilisasi pada tingkat paling tinggi.

Intervensi
1.

Observasi tingkat mobilisasi.

2.

Membantu/intruksikan klien
untuk latihan gerak aktif pasif
pada ekstremitas yang sakit
maupun yang tidak sakit.

3.

4.

Mendekatkan alat-alat yang


dibutuhkan klien..
Kolaborasi dengan ahli
fisioterapi dalam pemberian
terapi.

Rasional
1.

Untuk mengetahui rentang gerak


yang dapat dilakukan oleh pasien.

2.

Meningkatkan dan
mempertahankan kekuatan otot dan
rentang gerak pasien.

3.

Membantu pasien dalam


pemenuhan aktifitasnya.

4.

Membantu pasien dalam melakukan


rentang gerak untuk pemenuhan
aktifitas dan imobilisasi.

Arigato , , ,
ganbate kawanddd, , ,
ada pertanyaan , . . ???