Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pinus merkusii (Pinus) adalah salah satu tanaman monokotil yang
mempunyai ciri khas dengan daunnya yang memipih seperti jarum dan
berkelompok atau berupa sisik. Strobilus jantan dan strobilus betina dalam satu
pohon, mempunyai ukuran strobilus jantan lebih kecil dibandingkan dengan
strobilus betina (berkayu), terletak aksilaris. Pohon berkayu (woods), strobilus
bentuk conus.
Tanaman Pinus merkusii secara morfologinya memiliki tujuh bagian, yaitu
mulai dari akar, batang, tangkai, daun, bunga, buah dan biji yang masing-masing
berciri khas serta mempunyai fungsi yang berbeda pula untuk tumbuhan itu
sendiri. Bentuk-bentuk dari bagian tanaman Pinus merkusii (morfologi) terbilang
cukup menarik untuk diamati, lihat saja pada bagian batangnya yang
memperlihatkan retak-retak, biasanya berwarna coklat. Kemudian yang akan
dibahas mengenai morfologi Pinus merkusii adalah mengenai bentuk luar dari
masing-masing bagian tanaman tadi, dan apa saja manfaat yang dapat diambil dari
tanaman ini untuk kita sebagai manusia.
Dalam hal ini, klasifikasi Pinus merkusii

juga cukup penting untuk

diketahui sebelum kita mengetahui bagaimana tentang morfologinya. Oleh karena


itu, dalam pembuatan makalah ini tidak hanya membahas bentuk-bentuk luar dari
bagian-bagian tanamannya, tetapi membahas juga mengenai klasifikasi, cara
penanaman dan perkembangbiakan, serta manfaat untuk kehidupan sehari-hari.
Hal itu dimaksudkan agar kita semua tahu keistimewaan Pinus merkusii, selain
buahnya yang menggiurkan. Dan tahu bagaimana cara menanam agar kelestarian
Pinus merkusii lebih terjaga.

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Seperti apa klasifikasi tanaman Pinus merkusii?

2. Bagaimana identifikasi tanaman Pinus merkusii mulai dari akar, batang, tangkai,
daun, bunga, buah dan biji dalam morfologi tumbuhan?
3. Bagaimana cara perkembangbiakan tanaman Pinus merkusii?
4. Dimana saja penyebaran Pinus merkusii?
5. Apa saja manfaat tanaman Pinus merkusii dalam kehidupan sehari-hari?

C. MANFAAT
Manfaat yang didapat dari makalah ini adalah kita menjadi tahu tentang
tanaman Pinus merkusii secara detail mulai dari klasifikasinya, identifikasi dari
masing-masing bagian tanaman, proses penanaman dan perkembangbiakannya,
serta manfaat-manfaat yang dapat diambil dari tanaman Pinus merkusii.

D. TUJUAN

Tujuan dalam pembuatan makalah identifikasi tanaman Pinus merkusii adalah:

1. Mengetahui klasifikasi tanaman Pinus merkusii.


2. Mengetahui identifikasi tanaman Pinus merkusii mulai dari akar, batang, tangkai,
daun, bunga, buah dan biji dalam morfologi tumbuhan.
3. Mengetahui cara perkembangbiakan dari tanaman Pinus merkusii.
4. Mengetahui penyebaran Pinus merkusii.
5.

Mengetahui manfaat-manfaat tanaman Pinus merkusii dalam kehidupan seharihari

BAB II
PEMBAHASAN
A. KLASIFIKASI Pinus merkusii
Di Indonesia Pinus mempunyai nama lain yaitu tusam. P. sumatrana
Jungh.; P. finlaysoniana Wallich; P. latteri Mason; P. merkiana Gordon. Nama
lokal; uyam (Aceh); son song bai (Thai);merkus pine (perdagangan); mindoro
pine (Philipina); tenasserim pine (Inggris).
Jenis ini secara alami tersebar dari garis Bujur Timur 9530 hingga
12130 dan garis Lintang Utara 22 hingga garis Lintang Selatan 2. Berdasarkan
klasifikasi timbuhan, pinus (P. merkusii) termasuk dalam famili Pinaceae. Satusatunya pinus yang penyebaran alaminya sampai di selatan khatulistiwa. Di Asia
Tenggara menyebar di Burma, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Indonesia
(Sumatra), dan Filipina (P. Luzon dan Mindoro). Tersebar 23OLU-2OLS. Di Pulau
Hainan (China) diperkirakan terdapat hasil penanaman. Di Jawa dan Sulawesi
Selatan (Indonesia) juga merupakan hasil penanaman. Tumbuh pada ketinggian
30-1.800 m dpl, pada berbagai tipe tanah dan iklim. Curah hujan tahunan rata-rata
3.800 mm di Filipina hingga 1.000-1.200 mm di Thailand dan Burma. Di tegakan
alam Sumatra (Aceh, Tapanuli dan Kerinci), tidak satu bulanpun curah hujan
kurang dari 50 mm, artinya tidak ada bulan kering. Suhu tahunan rata-rata 19-28O
C.
Adapun klasifikasinya mulai dari kingdom hingga spesies, yaitu:
-

Kingdom

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhanberpembuluh)

Divisi

Subdivisi

Kelas

Subkelas

Ordo

: Coniferales

Famili

: Pinaceae

Genus

: Pinus

: Plantae (Tumbuhan)

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)


: Gymnospermae
: Coniferinae
: Dillenidae

Spesies

: Pinus merkusii Jungh.& De Vr

B. IDENTIFIKASI Pinus merkusii


Pinus merkusii mempunyai tujuh bagian tanaman yang memiliki bentuk
dan funsinya masing-masing. Dibawah ini akan dibahas satu persatu bagiannya
secara morfologi, sebagai berikut:
1. AKAR (Radix)

Sistem akar pada Pinus merkusii adalah bersistem akar tunggang (Radix
Primaria), kuat, bercabang dan Biasanya berwarna coklat. Akar tunggang
memiliki ciri khas yaitu pada akar lembaga tumbuh terus menjadi akar pokok
yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yang lebih kecil, sehingga dapat
memberi kekuatan yang lebih besar kepada batang, dan juga daerah perakaran
menjadi luas hingga dapat menyerap air dan zat-zat makanan yang lebih banyak.
2. BATANG (Caulis)
Batang kayu pinus memiliki ciri warna teras yang sukar dibedakan dengan
gubalnya, kecuali pada pohon berumur tua, terasnya berwarna kuning kemerahan,
sedangkan gubalnya berwarna putih krem. Pinus merupakan pohon yang tidak
berpori namun mempunyai saluran damar aksial yang menyerupai pori dan tidak
mempunyai dinding sel yang jelas. Permukaan radial dan tangensial pinus
mempunyai corak yang disebabkan karena perbedaan struktur kayu awal dan kayu
akhirnya, sehingga terkesan ada pola dekoratif. Riap tumbuh pada pinus agak
jelas terutama pada pohon-pohon yang berumur tua, pada penampang lintang
kelihatan seperti lingkaran-lingkaran memusat. Sebagian besar batang pinus (
90-95%) terdiri atas sel trakeida yang berbentuk panjang dan langsing dengan
ujung-ujung yang tertutup serta mempunyai dinding sel yang tebal. Sel trakeida
mempunyai fungsi ganda yaitu sebagai saluran cairan pohon yang dihisap oleh
akar menuju daun, dan sebagai pemberi kekuatan mekanis agar batang pinus bisa
tegak dan dapat menahan tajuknya. Sementara sisanya (sebanyak 5 10%)
terdiri atas sel berdinding tipis yaitu sel parenkim aksial dan sel parenkim jari-jari.
Kedua macam sel ini berfungsi sebagai gudang bahan makanan cadangan (pati)
dan sekaligus mendistribusikannya kepada jaringan yang membutuhkannya. Bagi

kayu yang mempunyai saluran damar seperti pada kayu pinus, maka sebagian dari
sel-sel parenkim ini baik sel parenkim aksial maupun sel parenkim jari-jari yang
mengelilingi (membatasi) saluran damar tersebut dapat berdifferensiasi dan
menjadi sel epithel. Sel epithel berfungsi untuk menghasilkan getah (resin) yang
bersifat antiseptik bila terjadi pelukaan atau serangan hama atau penyakit pada
pohon pinus tersebut.
Pohon Pinus merkusii mempunyai batang yang dibagian bawahnya lebih
besar dan ke ujung semakin mengecil, jadi batangnya dapat dipandang sebagai
suatu kerucut atau limas yang memanjang.
Di lihat dari berbagai segi, batang pada Pinus merkusii berstruktur sebagai
berikut:
-

Bentuk Penampang Melintangnya


Di lihat penampang melintangnya, batang pada Pinus merkusii berbentuk bulat
(Teres). Tegakan masak dapat mencapai tinggi 30 m dengan diameter 60 80 cm.
Tegakan tua mencapai tinggi 45 m dengan diameter 140 cm. Tajuk pohon muda
berbentuk pyramid, setelah tua menjadi lebih rata dan tersebar.

Permukaan Batang
Permukaan pada batang Pinus merkusii adalah memperlihatkan retak-retak,
biasanya berwarna coklat. Kulit pohon muda abu-abu, sesudah tua berwarna
gelap, alur dalam. kulit berwarna coklat tua , kasar beralur dalam dan menyerpih
dalam kepingan panjang. Kayu bertekstur halus, bila diraba licin dan mengandung
damar (resin), permukaan mengkilap warna kuning muda, serat halus (Dirjen
Kehutanan 1976). Struktur kayu pinus tidak berpori dengan parenkim melingkari
saluran damar, memiliki berat jenis (BJ) rata-rata 0,55 (terendah 0,40 dan tertinggi
0,75) dengan kelas kuat II sampai III dan kelas awet IV. Kulit pohon berwarna
abu-abu muda, sesudah tua berwarna gelap, alur dalam. Terdapat 2 jarum dalam
satu ikatan dengan panjang 16-25 cm.

Arah Tumbuh Batang


Arah tumbuh batang ini adalah arah yang lazim pada tumbuhan lainnya yaitu
tumbuh tegak lurus ke atas (erectus).

Percabangan Batang

Batang Pinus merkusii, percabanan batangnya monopodial seperti pada gambar di


bawah ini:
Cara percabangan seperti atas adalah, bisa di lihat bahwa batang pokok
tampak lebih jelas (lebih cepat pertumbuhannya) daripada cabang-cabangnya.
3. TANGKAI (Petiolus)
Bentuk penampang melintang dari tangkai Pinus merkusii adalah bulat.
4. DAUN (Folium)
Daun Pinus merkusii mempunyai daun dengan sebagai berikut:
-

Warna daun
Warna daun Pinus merkusii bervariasi, ketika masih muda maka berwarna hijau
muda, namun ketika sudah tua akan berwarna hijau tua.

Circumscriptio
Daun Pinus merkusii berbentuk bangun acerocus (jarum), yaitu berupa bangun
paku, lebih kecil dan meruncing panjang. Daunnya tidak ada bagian yang terlebar
atau dari pangkal sampai ujung hampir sama lebar.

5. BUNGA (Floos)
Pohon pinus termasuk dalam tipe pohon berumah satu dengan bunga
berkelamin tunggal. Bunga jantan dan betina dalam satu tunas. Bunga jantan
berbentuk strobili dengan panjang 2-4 cm terletak terutama di bagian bawah tajuk,
sedangakan strobili betina banyak terdapat di sepertiga bagian atas tajuk terutama
di ujung dahan. Strobili jantan dan betina dapat ditemukan sepanjang tahun.
Puncak pembungaan di Indonesia Maret dan berakhir Juni. Penyerbukan oleh
angin. Perkembangan menjadi buah selama 11-15 bulan. Di Indonesia puncak
pembuahan bulan Mei-Juli, bervariasi menurut pohon maupun antar tegakan.
Pohon mulai menghasilkan benih setelah umur 10-15 tahun. Benih disebarkan
angin.
Pinus

merkusii merupakan

tumbuhan

berumah

satu

monoecus

unisexsualis), bunga berkelamin tungal. Bunga jantan dan betina dalam satu tunas.
Bunga Pinus merkusii terbagi menjadi strobilus jantan dan betina. Strobilus jantan
berbentuk silindris dengan panjang 2-4 cm, terutama di bagian bawah tajuk.
Sedangkan strobilus betina berbentuk kerucut, ujungnya runcing, bersisik dan

biasanya erwarna coklat, pada tiap bakal biji terdapat sayap. Bunga muda
berwarna kuning sedangkan bunga tua berwarna coklat. Strobili betina banyak
terdapat di sepertiga bagian atas tajuk terutama di ujung dahan.
Di bawah ini adalah gambar dari strobilus betina pinus:
Di bawah ini adalah gambar strobilus jantan pinus :
6. BUAH (Fructus)
Pinus merkusii memiliki buah berbentuk kerucut, silindris dengan panjang
5-10 cm dan lebar 2-4 cm. Lebar setelah terbuka lebih dari 10 cm berbentuk
kerucut, silindris, panjang 5 10 cm, lebar 2 4 cm. Lebar setelah terbuka lebih
dari 10 cm.
7. BIJI (Semen)
Bijinya berbentuk pipih dan bulat telur dilengkapi dengan sayap,
dihasilkan pada setiapdasar bunga atau sisik buah, setiap sisik menghasilkan dua
biji, biji biasanya berwarna putih kekuninga
Benih : bersayap, dihasilkan dari dasar setiap sisik buah. Setiap sisik
menghasilkan 2 benih. Panjang sayap 22 30 mm, lebar 5 8 mm. Sayap melekat
pada benih dengan penjepit yang berhubungan dengan jaringan higroskopis di
dasar sayap, sehingga benih tetap melekat saat disebar angin selama sayap kering,
tetapi segera lepas bila kelembaban benih meningkat. Umumnya terdapat 3540benih per kerucut dan 50.000-60.000 benih per kg. Penyerbukan dan
penyebaran biji dengan bantuan angin. Serbuk sari dengan dua gelembung udara.

C. PERKEMBANGBIAKAN Pinus merkusii


Pembungaan dan pembuahan
Strobili jantan dan betina dapat ditemukan sepanjang tahun. Puncak
pembungaan di Indonesia Maret dan berakhir Juni. Penyerbukan oleh angin.
Perkembangan menjadi buah selama 11-15 bulan. Di Indonesia puncak
pembuahan bulan Mei-Juli, bervariasi menurut pohon maupun antar tegakan.
Pohon mulai menghasilkan benih setelah umur 10-15 tahun. Benih disebarkan
angin.

Pemanenan benih
Waktu pemanenan benih ketika sebagian besar kerucut berubah hijau
kecoklatan. Kemasakan diperiksa dengan membelah benih. Benih tua bila
endosperm berwarna putih dan padat, serta memenuhi seluruh rongga benih.
Benih dikumpulkan dengan memanjat untuk memetik kerucut dengan galah
berkait yang dilengkapi pisau.
Penanganan dan pemrosesan buah dan benih
Kerucut hijau kecoklatan dipisahkan dari yang hijau, dan langsung dijemur.
Kerucut hijau diperam dengan cara dihamparkan hingga berwarna hijau
kecoklatan dalam bak yang alasnya terbuat dari ram kawat. Benih diekstraksi
dengan penjemuran kerucut. Ekstraksi dengan membelah akan menghasilkan
benih yang belum masak dan merusak benih sehingga menurunkan daya
kecambah. Benih kemudian dibersihkan dari sayap dengan cara manual, yaitu
digosok di atas ayakan atau secara mekanik dengan pengaduk semen yang diputar
10 15 menit. Untuk memudahkan pelepasan sayap, benih dibasahi dengan air (510%), kemudian digosok, atau masukkan ke dalam mesin lalu diputar 15 menit.
Selanjutnya, benih dipisahkan dari sayap, kemudian dikeringkan.
Penyimpanan dan viabilitas
Benih termasuk ortodoks, dan dapat disimpan selama 5 tahun pada kadar
air 6-8%, suhu 3-4oC dalam wadah kedap udara atau kantung plastik. Benih yang
disimpan pada suhu kamar (20-30oC), daya kecambahnya hanya dapat
dipertahankan selama 1 tahun.
Dormansi dan perlakuan pendahuluan
Tidak mengalami dormansi dan tidak perlu perlakuan khusus untuk
memulai perkecambahan. Merendam benih pada air dingin 24 jam sebelum
penaburan dapat mempercepat dan menyerempakkan perkecambahan.
Penaburan dan perkecambahan
Perkecambahan dimulai 7 hari setelah penaburan. Daya kecambah 80%
dapat dicapai dalam 12-15 hari. Benih dapat langsung ditabur pada kantung
plastik (1-2 butir per kantung) atau disebar dahulu lalu disapih ke kantung plastik
setelah panjang kecambah mencapai 3-4 cm. Media penyapihan bermikorhiza

yang terdiri dari campuran pasir dan tanah humus dari tegakan pinus
perbandingan 3:1. Bibit siap tanam setelah 9 10 bulan.

D. PENYEBARAN Pinus merkusii


Pinus merkusii tersebar di Asia Tenggara antara lain Burma, Thailand,
Vietnam, Laos, Kamboja, dan Filipina (Harahap dan Izudin, 2002). Pinus
merkusii atau tusam merupakan satu-satunya jenis pinus asli Indonesia. Di daerah
Sumatera, tegakan pinus alam dapat dibagi kedalam tiga strain, yaitu:
1. Strain Aceh, Penyebaranya dari pegunungan Selawah Agam sampai sekitar
Taman Nasional Gunung Leuser. Dari sini menyebar ke selatan mengikuti
pegunungan bukit barisan lebih kurang 300 km melalui Danau Laut Tawar, Uwar,
Blangkejeren sampai ke Kotacane. Di daerah ini tegakan pinus pada umumnya
terdapat pada 800-2000 mdpl.
2. Strain Tapanuli, Menyebar di daerah Tapanuli ke selatan Danau Toba. Tegakan
pinus alami yang umum terdapat di pegunungan Dolok Tusam dan Dolok
Pardomuan. Di pegunungan Dolok Saut, Pinus bercampur dengan jenis daun
lebar. Di daerah ini tegakan pinus tumbuh secara pada ketinggian 1000-1500
mdpl (Butar-Butar et al.,1998).
3. Strain Kerinci, Menyebar di sekitar pegunungan kerinci . tegakan pinus alami
yang luas terdapat di antara Bukit Tapan dan Sungai Penuh. Di daerah ini tegakan
pinus tumbuh secara alami umumnya pada ketinggian 1500-2000 mdpl. (ButarButar et al.,1998) dalam Sibarani, P.
Berdasarkan Pengamatan dilapangan yang dilaksanakan oleh Badan
Pengembangan dan penelitian Kehutanan Aek Nauli Pinus merkussi strain kerinci
telah mengalami penurunan jumlah populasi, dan spesies ini termasuk salah satu
spesies yang endemic di daerah sumatera/Indonesia. Pinus merkusii strain Kerinci
secara alami dapat dijumpai di wilayah kerja Taman Nasional Kerinci Seblat
(TNKS) dengan luas 1.375.934 hektar, yang memanjang hampir 350 km dengan
lebar sekitar 50 km dari barat laut ke tenggara meliputi empat provinsi, yaitu
Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Sebaran alam yang
"sangat sedikit" didapatkan untuk strain Kerinci.

E. MANFAAT Pinus merkusii


Pohon pinus memiliki berbagai manfaat yang besar baik hasil kayu
maupun non kayunya. Kayu pinus digunakan untuk berbagai keperluan seperti
konstruksi ringan, mebel, pulp, korek api dan sumpit (Hidayat dan Hansen 2001).
Hasil non kayunya berupa getah (resin) menghasilkan produk gondorukem dan
terpentin yang bernilai jual tinggi. Minyak terpentin yang mengandung senyawa
terpene yaitu salah satu isomer hidrokarbon tak jenuh dari C10 H163 terutama
monoterpene alfa-pinene dan beta-pinene, terpentin biasanya digunakan sebagai
pelarut untuk mengencerkan cat minyak,bahan campuran vernis yang biasa kita
gunakan untuk mengkilapkan permukaan kayu dan bisa untuk bahan baku kimia
lainnya. Aroma terpentin harum seperti minyak kayu putih, karena keharumannya
itu terpentin bisa digunakan untuk bahan pewangi lantai atau pembunuh kuman
yang biasa kita beli, tapi ada lagi kegunaan lain dari terpentin sebagai bahan baku
pembuat parfum, minyak esensial dari getah pinus ini diekstrak sehingga bisa
menghasilkan terpinol yaitu alfa-terpinol merupakan salah satu dari 3 jenis
alkohol isomer beraroma harum. Terpineol bisa bermanfaat untuk kesehatan yaitu
untuk relaksasi bila digunakan sebagai bahan campuran minyak pijat. Aromanya
yang harum dijadikan minyak pijat aromaterapi karena saat dioleskan kekulit akan
terasa relaksasinya bila digunakan dengan dosis sesuai aturan. Bisa digunakan
juga untuk bahan makanan tapi bukan dalam bentuk getahnya melainkan dari gum
rosin yang telah diesterfikasi dengan gliserol dibawah atmosfir nitrogen menjadi 9
gum rosin ester, salah satu bahan tambahan pembuatan permen karet sehingga
menjadi kenyal dan lentur.
Produk olahan dari getah atau resin pinus yang lain adalah gondorukem.
Gondorukem adalah getah dari pohon Pinus (P. merkusii) yang kemudian diolah
menjadi gondorukem. Kegunaan gondorukem adalah untuk bahan baku industry
kertas, keramik, plastik, cat, batik, sabun, tinta cetak, politur, farmasi, kosmetik
dll.
Gondorukem dari getah pinus

Produksi getah pinus bervariasi tergantung tingkat umur tanaman tersebut.


Pohon tua dapat menghasilkan 30-60 kg getah, 20-40 kg resin murni dan 7-14 kg
terpentin per tahun. Selain itu tanaman pinus sangat cocok untuk rehabilitasi lahan
kritis, tahan kebakaran dan dibudidayakan di tanah yang tidak subur (Hidayat dan
Hansen 2001).
Kayunya untuk berbagai keperluan, konstruksi ringan, mebel, pulp, korek
api, dan sumpit. Sering disadap getahnya. Pohon tua dapat menghasilkan 30-60 kg
getah, 20-40 kg resin murni dan 7-14 kg terpentin per tahun. Cocok untuk
rehabilitasi lahan kritis, tahan kebakaran dan tanah tidak subur.
Bagian kulitnya dapat dijadikan sebagai bahan bakar. Dan abunya dapat
dijadikan sebagai bahan campuran pembuatan pupuk karena mengandung kalium.
Secara Etnobotani Kerucut pinus (strobilus) oleh pengrajin dapat dijadikan
sebagai kerajinan tangan seperti aksesoris (gantungan kunci) dan sebagai hiasan
rumah.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pinus merkusii merupakan tanaman yang memilki morfologi (bentuk luar)
yang menarik mulai dari akar yang tunggang, dengan daunnya yang memipih
seperti

jarum

dan

berkelompok.

Memiliki

permukaan

batang

yang

memperlihatkan retak-retak, biasanya berwarna coklat. Strobilus jantan dan


strobilus betina dalam satu pohon, mempunyai ukuran strobilus jantan lebih kecil
dibandingkan dengan strobilus betina (berkayu), terletak aksilaris, serta memiliki
berbagai manfaat yang besar baik hasil kayu maupun non kayunya.

B. SARAN

Sebaiknya dalam pengamatan morfologi tanaman Pinus merkusii lebih mendetail


dengan dibandingkan bentuk dari masing-masing bagian tumbuhan.

Sebaiknya kita senantiasa menjaga kelestarian tanaman Pinus merkusii


mengingat manfaatnya yang tidak sedikit dan agar kelak anak cucu kita dapat
memanfaatkannya juga.

DAFTAR PUSTAKA
Butarbutar, T., R. M. S. Harahap, dan P. Murdiana. 1998. Evaluasi Pertumbuhan
Tanaman Pinus merkusii di Aceh Tengah. Buletin Penelitian Kehutanan Pematang
Siantar: Siantar.
Harahap, R. M. S. 2002. Keragaman Sifat dan Uji Asal Benih Pinus merkusii di
Sumatera. Buletin Penelitian Kehutanan Pematang Siantar: Siantar.
Hidayat

Jajat

&

Hansen.

http://bpthbalinusra.net/

2001.

Informasi

singkat

Benih

sbseedleaflet 105- tusam-pinus- merkusii-jungh.html.

Diakses tanggal 22 Juni 2013


Tjitrosoepomo, Gembong, 1985. Morfologi Tumbuhan. Gajah Mada University Press:
Yogyakarta.