Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN

PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK


PEMBUATAN SABUN DARI SHORTENING

Disusun oleh :
Asyraq Fahruzzaman

1113102000034

Selvy Nurkhayati

1113102000035

Badriyatun Nimah

1113102000075

Tiara Puspitasari

1113102000013

Sri Komalasari

1113102000057

Haka Asada

1113102000074

Kelompok 2 C

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
NOVEMBER 2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sabun merupakan suatu kebutuhan pokok manusia yang selalu digunakan seharihari. Fungsi utama dari sabun adalah membersihkan. Di lingkungan sekitar, banyak
macam wujud sabun yang dapat ditemui, baik yang dalam bentuk cair, lunak, krim,
maupun yang padat. Kegunaannya pun beragam, ada yang sebagai sabun mandi, sabun
cuci

sabun

tangan,

sabun

cuci

peralatan

rumah

tangga

dan

lain

sebagainya (Herbamart,2011).
Sabun dibuat dari proses saponifikasi lemak hewan (tallow) dan dari minyak.
Gugus induk lemak disebut fatty acids yang terdiri dari rantai hidrokarbon panjang
(C12 sampai C18) yang berikatan membentuk gugus karboksil. Asam lemak rantai
pendek jarang digunakan karena menghasilkan sedikit busa. Reaksi saponifikasi tidak
lain adalah hidrolisis basa suatu ester dengan alkali (NaOH/KOH). Range atom C diatas
mempengaruhi sifat-sifat sabun seperti kelarutan, proses emulsi dan pembasahan. Sabun
murni terdiri dari 95% sabun aktif dan sisanya adalah air, gliserin, garam
dan kemurnian lainnya. Semua minyak atau lemak pada dasarnya dapat digunakan untuk
membuat sabun. Lemak merupakan campuran ester yang dibuat dari alkohol dan asam
karboksilat seperti asam stearat, asam oleat dan asam palmitat. Lemak padat mengandung
ester dari gliserol dan asam palmitat, sedangkan minyak, seperti minyak zaitun
mengandung ester dari gliserol asam oleat (Fessenden, 1982).
Sabun termasuk salah satu jenis surfaktan yang terbuat dari minyak atau lemak
alami. Surfaktan mempunyai struktur bipolar. Bagian kepala bersifat hidrofilik dan
bagian ekor bersifat hidrofobik. Karena sifat inilah sabun mampu mengangkat kotoran
(biasanya lemak) dari badan dan pakaian. Selain itu, pada larutan, surfaktan akan
menggerombol membentuk misel setelah melewati konsentrasi tertentu yang disebut
konsentrasi kritik misel. Sabun juga mengandung sekitar 25% gliserin. Gliserin bisa
melembabkan dan melembutkan kulit, menyejukan dan meminyaki sel-sel kulit juga.
Oleh karena itu dilakukan percobaan pembuatan sabun dan pengujian terhadap sifat-sifat
sabun, sehingga akan didapat sabun yang berkualitas (Levenspiel, 1972).

Molekul sabun mempunyai rantai hidrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai


ekor yang bersifat hidrofobik (tidak suka ait) dan larut dalam zat organik sedangkan
COONa+ sebagai kepala yang bersifat hidrofilik (suka air) dan larut dalam air. Dalam
proses pencucian, lapisan minyak sebagai pengotor akan tertarik oleh ujung lipofilik
sabun, kemudian kotoran yang telah terikat dalam sabun serta membuat sabun dalam
skala laboratorium. Selain itu, kita juga dapat mengetahui beberapa sifat sabun yang telah
dihasilkan dari percobaan (Irdoni dan Nirwana, 2013).air pencuci karena ujung yang lain
(hidrofilik) dari sabun larut dalam air (Herbamart, 2011).
Melalui praktikum ini, kita dapat mengetahui dan mempelajari bagaimana reaksi
saponifikasi/penyabunan pada proses pembuatan

B. Tujuan Praktikum
Mahasiswa diharapkan mampu mengamati reaksi hidrolisis ester yang dikatalis
oleh basa.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sabun
2.1.1 Sejarah Sabun
Sejarah sabun mandi pertama diketahui sejak abad ke 12 dan mulai dikembangkan pada
abad ke 17 oleh orang-orang Inggris menggunakan soda abu, pada awalnya orang mengenal
bahan pembersih alami yang ada disekitar tempat tinggal seperti air, lumpur, abu, batu apung dan
lain-lain dengan kemampuan yang tidak maksimal untuk membersihkan kotoran karena hanya
bisa menghilangkan kotoran diluar (Herbamart, 2011).
Di beberapa Negara seperti Maroko penggunaan lumpur untuk membersihkan badan
sudah menjadi sebuah tradisi dikalangan bangsawan untuk merawat kesehatan dan kehalusan
kulit serta menjaga kulit tetap kencang dan awet muda, salah satu produk ini masih digunakan
dan beredar diklinik-klinik perawatan kecantikan dengan nama ghassoul sebagai masker dan
lulur mandi serta rambut lumpur. Orang Yunani kuno menggunakan lilin untuk membersihkan
tubuh dan mengolesi minyak serta mencuci pakaian mereka hanya cukup dengan air di sungai
tanpa sabun (Herbamart, 2011).
Di kalangan masyarakat Indonesia sendiri nenek moyang kita sudah menggunakan sabun
alami untuk membersihkan badan dan pakaian menggunakan produk nabati dari cairan buah
klerak dan sudah tak praktekan sendiri memang bisa membersihkan kotoran untuk mandi
(Herbamart, 2011).
Sebagaimana dalam sejarah perkembangannya sabun mulai diproduksi secara besarbesaran sekitar tahun 1622, di amerika produk sabun mulai memasyarakat sejak kedatangan
pendatang dari inggris yang bisa membuat sabun dan pada masa sebelum itu sabun merupakan
produk mewah yang menghasilkan pajak bagi pemerintah inggris pada masa pemerintahan raja
james 1 pada abad ke 19 dan setelah pajak dihapuskan, sabun menjadi lebih banyak digunakan
masyarakat kelas bawah (Herbamart, 2011).

Produksi sabun skala komersial terjadi pada tahun 1791 sejak kimiawan dari Prancis
mematenkan produk soda abu sebagai bahan baku utama sabun mandi. Saat ini banyak produk
sabun yang beredar di pasaran yang masih menggunakan soda abu dan beberapa produsen
menggunakan bahanalternative selain soda abu untuk menghemat biaya dan ramah lingkungan
serta aman bagi kulit seperti KOH, SLS, ABS, dan lain-lain (Herbamart, 2011).
Produk-produk tambahan dalam sabun tersebut ada yang sudah dilarang penggunaanya di
luar negeri seperti ABS yang tidak mudah terurai oleh bakteri pengurai, sebagian produsen sabun
juga masih menggunakan soda abu atau soda api/kaustik soda untuk menghemat biaya akan
tetapi produk ini menyebabkan kulit menjadi mengelupas dan perih jika mengenai kulit yang
sensitive, untuk mengujinya Anda bisa mengusapkan ke wajah dan biarkan beberapa menit, jika
merasa perih bisa jadi bahan baku sabun tersebut menggunakan kaustik soda, hal ini jarang
terjadi terhadap produk sabun herbal karena sabun herbal selain menggunakan bahan pilihan juga
banyak mengandung herbal yang mampu merawat kulit dan memberi kelembaban seperti
minyak zaitun dan lain-lain (Herbamart, 2011).
2.1.2. Pengertian Sabun
Sabun adalah senyawa kimia yang dihasilkan dari reaksi lemak atau minyak dengan
Alkali. Sabun juga merupakan garam-garam Monofalen dari Asam Karboksilat dengan rumus
umumnya RCOOM, R adalah rantai lurus (alifatik) panjang dengan jumlah atom C bervariasi,
yaitu antara C12-C18 dan M adalah kation dari kelompok alkali atau ion ammonium (Diah
Pramushinta, 2011).
Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan.
Sabun biasanya berbentuk padatantercetak yang disebut batang karena sejarah dan bentuk
umumnya. Penggunaan sabun cair juga telah telah meluas, terutama pada sarana-sarana publik.
Jika diterapkan pada suatu permukaan, air bersabun secara efektif mengikat partikel
dalam suspensi mudah dibawa oleh air bersih. Di negara berkembang, deterjen sintetik telah
menggantikan sabun sebagai alat bantu mencuci atau membersihkan (Anonim,2013).
Banyak sabun merupakan campuran garam natrium atau kalium dari asam lemak yang
dapat

diturunkan

dari

minyak

atau

lemak

dengan

direaksikan

dengan alkali (seperti natrium atau kalium hidroksida) pada suhu 80100 C melalui suatu proses

yang dikenal dengan saponifikasi. Lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan
sabun mentah. Secara tradisional, alkali yang digunakan adalah kalium yang dihasilkan dari
pembakaran tumbuhan, atau dari arang kayu. Sabun dapat dibuat pula dari minyak tumbuhan,
seperti minyak zaitun (Ralph J. Fessenden, 1992).
Sifat sifat fisik sabun yang perlu diketahui oleh design engineer dan kimiawi adalah
sebagai berikut menurut (Diah Pramushinta, 2011) :
1.Viskositas
Setelah minyak atau lemak disaponifikasi dengan alkali, maka akan dihasilkan sabun yang
memiliki viskositas yang lebih besar dari pada minyak atau alkali. Pada suhu di atas 75oC
viskositas sabun tidak dapat meningkat secara signifikan, tapi di bawah suhu 75oC viskositasnya
dapat meningkatkan secara cepat. Viskositas sabun tergantung pada temperature sabun dan
komposisi lemak atau minyak yang dicampurkan.
2. Panas Jenis
Panas jenis sabun adalah 0,56 Kal/g.
3.Densitas
Densitas sabun murni berada pada range 0,96g/ml 0,99g/ml.
2.2 Sifat Sifat Sabun
Sabun bersifat basa. Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku tinggi sehingga
akan dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu larutan sabun dalam air bersifat basa.
CH3(CH2)16COONa + H2O CH3(CH2)16COOH + NaOH
Sabun menghasilkan buih atau busa. Jika larutan sabun dalam air diaduk maka akan
menghasilkan buih, peristiwa ini tidak akan terjadi pada air sadah. Dalam hal ini sabun dapat
menghasilkan buih setelah garam-garam Mg atau Ca dalam air mengendap.
CH3(CH2)16COONa + CaSO4 Na2SO4 + Ca(CH3(CH2)16COO)2

Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses kimia koloid, sabun
(garam natrium dari asam lemak) digunakan untuk mencuci kotoran yang bersifat polar maupun
non polar, karena sabun mempunyai gugus polar dan non polar. Molekul sabun mempunyai
rantai hydrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai ekor yang bersifat hidrofobik (tidak suka
air) dan larut dalam zat organic sedangkan COONa+ sebagai kepala yang bersifat hidrofilik
(suka air) dan larut dalam air (Vii afida, 2012).
Berikut merupakan proses penghilangan kotoran menurut (Vii afida, 2012):
1.

Sabun didalam air menghasilkan busa yang akan menurunkan tegangan permukaan

sehingga aii kain sehingga kain menjadi bersih. meresap lebih cepat ke permukaan kain.
2.

Molekul sabun akan mengelilingi kotoran dengan ekornya dan mengikat molekul kotoran.

Proses ini disebut emulsifikasi karena antara molekul kotoran dan molekul sabun membentuk
suatu emulsi.
3.

Sedangkan bagian kepala molekul sabun didalam air pada saat pembilasan menarik

molekul kotoran keluar dari kain sehingga kain menjadi bersih.

Gambar 2.1 Pengangkatan Kotoran (Vii afida, 2012)


2.3 Bahan Dasar Pembuatan Sabun
Secara teoritis semua minyak atau lemak dapat digunakan untuk membuat sabun.
Meskipun demikian, ada beberapa faktor yang dipertimbangkan dalam memilih bahan mentah
untuk membuat sabun. Beberapa bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan sabun antara
lain (Diah Pramushinta, 2011) :

2.3.1 Minyak atau Lemak


Minyak atau lemak merupakan senyawa lipid yang memiliki struktur berupa ester dari
gliserol. Pada proses pembuatan sabun, jenis minyak atau lemak yang digunakan adalah minyak
nabati atau lemak hewan. Perbedaan antara minyak dan lemak adalah wujud keduanya dalam
keadaan ruang. Minyak akan berwujud cair pada temperatur ruang ( 28C), sedangkan lemak
akan berwujud padat (Vii afida, 2012).
Jumlah minyak atau lemak yang digunakan dalam proses pembuatan sabun harus dibatasi
karena berbagai alasan, seperti : kelayakan ekonomi, spesifikasi produk (sabun tidak mudah
teroksidasi, mudah berbusa, dan mudah larut), dan lain-lain. Beberapa jenis minyak atau lemak
yang biasa dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya (Irdoni dan Nirwana, 2013) :
1.

Tallow ( Lemak Sapi )


Tallow adalah lemak sapi atau domba yang dihasilkan oleh industri pengolahan

daging sebagai hasil samping. Tallow dengan kualitas baik biasanya digunakan dalam
pembuatan sabun mandi dan tallow dengan kualitas rendah digunakan dalam pembuatan sabun
cuci. Oleat dan stearat adalah asam lemak yang paling banyak terdapat dalam tallow. Jumlah
FFA dari tallow berkisar antara 0,75-7,0 %. Titer point pada tallow umumnya di atas 40C.
Tallow dengan titer point di bawah 40C dikenal dengan nama grease. Kandungan utama dari
tallow yaitu : asam oleat 40-45%, asam palmitat 24-37%, asam stearat 14-19%, asam miristat 28%, asam linoleat 3-4%, dan asam laurat 0,2%.
2.

Lard ( Lemak Babi )


Lard merupakan minyak babi yang masih banyak mengandung asam lemak tak jenuh

seperti asam oleat (60-65%) dan asam lemak jenuh seperti asam stearat (35-40%). Jika
digunakan sebagai pengganti tallow, lard harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu untuk
mengurangi ketidakjenuhannya. Sabun yang dihasilkan dari lard berwarna putih dan mudah
berbusa.

3. Palm Oil ( Minyak Sawit )


Minyak sawit berwarna jingga kemerahan karena adanya kandungan zat warna
karotenoid sehingga jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun harus dipucatkan
terlebih dahulu. Sabun yang terbuat dari 100% minyak sawit akan bersifat keras dan sulit
berbusa. Maka dari itu, jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun, minyak sawit
harus dicampur dengan bahan lainnya. Kandungan asam lemaknya yaitu asam palmitat 42-44%,
asam oleat 35-40%, asam linoleat 10%, asam linolenat 0,3%, asam arachidonat 0,3%, asam
laurat 0,3%, dan asam miristat 0,5-1%.
4.Coconut Oil ( Minyak Kelapa )
Minyak kelapa merupakan minyak nabati yang sering digunakan dalam industri
pembuatan sabun. Minyak kelapa berwarna kuning pucat dan diperoleh melalui ekstraksi daging
buah yang dikeringkan (kopra). Minyak kelapa memiliki kandungan asam lemak jenuh yang
tinggi, terutama asam laurat sekitar 44-52%, sehingga minyak kelapa tahan terhadap oksidasi
yang menimbulkan bau tengik.
5. Palm Kernel Oil ( Minyak Inti Sawit )
Minyak inti sawit diperoleh dari biji buah sawit. Minyak inti sawit memiliki kandungan
asam lemak yang mirip dengan minyak kelapa sehingga dapat digunakan sebagai pengganti
minyak kelapa. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak tak jenuh lebih tinggi dan
asam lemak rantai pendek lebih rendah daripada minyak kelapa. Kandungan asam lemak yang
terdapat pada palm kernel oil yaitu : asam laurat 40-52%, asam miristat 14-18%, asam oleat 1119%, asam palmitat 7-9%, asam kaprat 3-7%, asam kaprilat 3-5%, asam stearat 1-3%, dan asam
linoleat 2%.
6. Palm Oil Stearine ( Minyak Sawit Stearin )
Minyak sawit stearin adalah minyak yang dihasilkan dari ekstraksi asam-asam lemak dari
minyak sawit dengan pelarut aseton dan heksana. Kandungan asam lemak terbesar dalam minyak
ini adalah asam palmitat 52-58% dan asam oleat 27-32%. Selain itu juga terdapat asam linoleat
6,6-8,2%, asam stearat 4,8-5,3%, asam miristat 1,2-1,3%, asam laurat 0,1- 0,4%

7. Marine Oil
Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut. Marine oil memiliki kandungan
asam lemak tak jenuh (asam oleat) yang cukup tinggi, sehingga harus dihidrogenasi parsial
terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan baku.
8. Castor Oil ( Minyak Jarak )
Minyak jarak berwarna bening dan dapat dimanfaatkan sebagai kosmetika, bahan baku
pembuatan biodisel dan sabun. Minyak jarak mempunyai massa jenis 0,957-0,963 kg/liter,
bilangan iodium 82-88 g I2/100 g, bilangan penyabunan 176-181 mg KOH/g. Minyak jarak
mengandung komponen gliserida atau dikenal sebagai senyawa ester. Komposisi asam lemak
minyak jarak terdiri dari asam riccinoleat sebanyak 86%, asam oleat 8,5%, asam linoleat 3,5%,
asam stearat 0,5-2,0%, asam dihidroksi stearat 1-2% (G. Brown, 1973).
9. Olive Oil ( Minyak Zaitun )
Minyak zaitun berasal dari ekstraksi buah zaitun. Minyak zaitun dengan kualitas tinggi
memiliki warna kekuningan. Sabun yang berasal dari minyak zaitun memiliki sifat yang keras
tapi lembut bagi kulit. Zaitun secara alami mengandung beberapa senyawa yang tak tersabunkan
seperti fenol, tokoferol, sterol, pigmen, dan squalen. Minyak zaitun juga mengandung triasil
gliserol yang sebagian besar di antaranya berupa asam lemak tidak jenuh tunggal jenis oleat.
Kandungan asam oleat tersebut dapat mencapai 55-83 persen dari total asam lemak dalam
minyak zaitun.
10. Campuran Minyak dan Lemak
Industri pembuat sabun umumnya membuat sabun yang berasal dari campuran minyak
dan lemak yang berbeda. Minyak kelapa sering dicampur dengan tallow karena memiliki sifat
yang saling melengkapi. Minyak kelapa memiliki kandungan asam laurat dan miristat yang
tinggi dan dapat membuat sabun mudah larut dan berbusa. Kandungan stearat dan dan palmitat
yang tinggi dari tallowakan memperkeras struktur sabun.

2.3.2 Alkali
Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH, KOH,
Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines (sinonim: 2-Aminoethanol, monoethanolamine, dengan
rumus kimia C2H7NO, dan formulasi kimia NH2CH2CH2OH). NaOH, atau yang biasa dikenal
dengan soda kaustik dalam industri sabun, merupakan alkali yang paling banyak digunakan
dalam pembuatan sabun keras. KOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun cair karena
sifatnya yang mudah larut dalam air. Na2CO3 (abu soda/natrium karbonat) merupakan alkali
yang murah dan dapat menyabunkan asam lemak, tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida
dari minyak atau lemak (Ketaren, 1986).
2.4 Bahan Pendukung
Bahan baku pendukung digunakan untuk membantu proses penyempurnaan sabun hasil
saponifikasi (pegendapan sabun dan pengambilan gliserin) sampai sabun menjadi produk yang
siap dipasarkan. Bahan-bahan tersebut adalah NaCl (garam) dan bahan-bahan aditif (Rudianto,
2007).
1.

Garam ( NaCl )
NaCl merupakan komponen kunci dalam proses pembuatan sabun. Kandungan NaCl

pada produk akhir sangat kecil karena kandungan NaCl yang terlalu tinggi di dalam sabun dapat
memperkeras struktur sabun. NaCl yang digunakan umumnya berbentuk air garam (brine) atau
padatan (kristal). NaCl digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin. Gliserin tidak
mengalami pengendapan dalam brine karena kelarutannya yang tinggi, sedangkan sabun akan
mengendap. NaCl harus bebas dari besi, kalsium, dan magnesium agar diperoleh sabun yang
berkualitas (Rudianto, 2007)
2.

Bahan Aditif
Bahan aditif merupakan bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sabun yang bertujuan

untuk mempertinggi kualitas produk sabun sehingga menarik konsumen. Bahan-bahan aditif
tersebut antara lain: builders, fillers inert, antioksidan, pewarna,dan parfum.

a. Builders (Bahan Pembentuk / Penguat)


Builders digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara mengikat mineral mineral
yang terlarut pada air, sehingga bahan bahan lain yang berfungsi untuk mengikat lemak dan
membasahi permukaan dapat berkonsentrasi pada fungsi utamanya. Builder juga membantu
menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung lebih baik
serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah lepas (Rudianto, 2007).
b. Filler (Bahan Pengisi)
Filler (bahan pengisi) ini berfungsi sebagai pengisi dari seluruh campuran bahan baku.
Pemberian bahan ini berguna untuk memperbanyak atau memperbesar volume. Keberadaan
bahan ini dalam campuran bahan baku sabun semata mata ditinjau dari aspekekonomis. Pada
umumnya, sebagai bahan pengisi sabun digunakan sodium sulfat. Bahan lain yang sering
digunakan sebagai bahan pengisi, yaitu tetra sodium pyrophosphate dan sodium sitrat. Bahan
pengisi ini berwarna putih, berbentuk bubuk, dan mudah larut dalam air (Rudianto, 2007).
c. Bahan Antioksidan
Bahan antioksidan pada sabun juga dapat menstabilkan sabun terutama pada bau tengik
atau rancid. Natrium Silikat, natrium hiposulfid, dan natrium tiosulfat diketahui dapat digunakan
sebagai antioksidan. Stanous klorida juga merupakan antioksidan yang sangat kuat dan juga
dapat memutihkan sabun atau sebagai bleaching agent (Perdana, F.K, 2009).
d. Bahan Pewarna (Coloring Agent)
Bahan ini berfungsi untuk memberikan warna kepada sabun. Ini ditujukan agar
memberikan efek yang menarik bagi konsumen untuk mencoba sabun ataupun membeli sabun
dengan warna yang menarik. Biasanya warna warna sabun itu terdiri dari warna merah, putih,
hijau maupun orange (Rudianto, 2007).
e. Bahan Pewangi (fragrances)
Parfum termasuk bahan pendukung. Keberadaaan parfum memegang peranan besar
dalam hal keterkaitan konsumen akan produk sabun. Artinya, walaupun secara kualitas sabun
yang ditawarkan bagus, tetapi bila salah memberi parfum akan berakibat fatal. Beberapa nama

parfum

yang

digunakan

dalam

pembuatan

sabun

diantaranya bouquct

deep

water,

alpine, dan spring flower. (Rudianto,2007).


2.5

Karakteristik Bahan Baku Pembuatan Sabun

Ada beberapa karakteristik yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan dasar pembuatan
sabun, diantaranya (Diah Pramushinta, 2011) :
a.

Warna
Lemak dan minyak yang berwarna terang merupakan minyak yang bagus untuk

digunakan sebagai bahan pembuatan sabun.


b. Angka Penyabunan
Angka Saponifikasi adalah angka yang terdapat pada milligram kalium hidroksida yang
digunakan dalam proses saponifikasi sempurna pada satu gram minyak. Angka saponifikasi
digunakan untuk menghitung alkali yang dibutuhkan dalam saponifikasi secara sempurna pada
lemak atau minyak.
c.

Bilangan Iod

Bilangan iod digunakan untuk menghitung ketidakjenuhan minyak atau lemak, semakin besar
angka iod, maka asam lemak tersebut semakin tidak jenuh. Dalam pencampurannya, bilangan
iod menjadi sangat penting yaitu untuk mengidentifikasi ketahanan sabun pada suhu tertentu.
2.6 Surfaktan
Surfaktan adalah senyawa yang molekul-molekulnya mempunyai dua ujung yang
berbeda interaksinya dengan air, yakni ujung satu (biasa disebut kepala) yang suka air dan ujung
satunya (yang disebut ekor) yang tidak suka air (Rieger, 2010).
Keberadaan kedua gugus dalam struktur surfaktan biasa diistilahkan kepala dan ekor.
Gugus polar biasa disebut kepala dan ekornya adalah gugus non polar. Filosofinya karena gugus
non polarnya berupa rantai panjang sehingga biasa diibaratkan ekor. Sedangkan gugus polarnya
hanya gugus karboksilat sehingga diibaratkan kepala (Rieger, 2010).

Gambar 2.2 Bentuk Surfaktan (Rieger, 2010).


Surfaktan dapat digolongkan menjadi dua golongan besar berdasarkan kelarutannya, yaitu
surfaktan yang larut dalam minyak dan surfaktan yang larut dalam air (Rieger, 2010).
1. Surfaktan yang larut dalam minyak
Ada tiga yang termasuk dalam golongan ini, yaitu senyawa polar berantai panjang, senyawa
fluorokarbon, dan senyawa silikon.
2. Surfaktan yang larut dalam air
Golongan ini banyak digunakan antara lain sebagai zat pembasah, zat pembusa, zat
pengemulsi, zat anti busa, detergen, zat flotasi, pencegah korosi, dan lain-lain. Ada empat yang
termasuk dalam golongan ini, yaitu surfaktan anion yang bermuatan negatif, surfaktan yang
bermuatan positif, surfaktan nonion yang tak terionisasi dalam larutan, dan surfaktan amfoter
yang bermuatan negatif dan positif bergantung pada pH-nya.
Berdasarkan muatannya terdapat empat kategori surfaktan yaitu (Vii afida, 2012) :
a. Surfaktan Anionik
Surfaktan anionik merupakan surfaktan yang dapat membentuk ion negatif atau
anion. Contohnya adalah Alkyl Benzene Sulfonate (ABS), Linier Alkyl Benzene Sulfonate
(LAS), Alpha Olein Sulfonate (AOS).
b. Surfaktan Kationik
Surfaktan kationik merupakan surfaktan yang dapat membentuk ion positif atau kation.
Contohnya adalah garam amonium.

c. Surfaktan Non ionic


Surfaktan non ionik merupakan surfaktan yang tidak membentuk ion negatif maupun
positif sehingga bersifat netral. Contohnya adalah Nonyl Phenol Polyethoxyle.
d. Amfoter
Surfaktan amfoter merupakan surfaktan yang dapat membentuk ion positif maupun
negatif. Contohnya adalah Acyl Ethylenediamines.
Berdasarkan struktur kimianya, surfaktan dapat dibagi sebagai berikut (Vii afida, 2012) :
a. Sabun, contohnya adalah Na-laurat, Na-palmitat, Na-stearat, Na-oleat, dsb.
b. Minyak-minyak yang disulfatkan/disulfonkan, contohnya adalah minyak jarak yang
disulfatkan (TRO).
c. Parafin atau olefin yang disulfurkan, contohnya adalah senyawa sulfochlorida yang
disabunkan, olefin yang disulfatkan .
d. Aralkil sulfonat, contohnya adalah alkil benzo sulfonat, naftalin sulfonat seperti 1-iso propil
natalin 2-sulfonat-Na , dsb.
e. Alkil sulfat, contohnya adalah Alkil sulfat primer/ dari alkil alkohol primer seperti asam
malonat anhidrat + alkohol dengan Na-bisulfit , Alkil sulfat sekunder/ dari alkil alkohol
sekunder.
f. Kondensat asam lemak, contohnya adalah kondensat dengan gugus amino, kondensat
mengandung gugus oksi , kondensat dengan gugus inti aromatik .
g. Persenyawaan polietilenaoksida (poliglikoeter), contohnya adalah Alkil amin poliglikol eter,
Dispersol E.
Surfaktan memiliki beberapa sifat, diantaranya adalah sebagai berikut (Vii afida, 2012) :
1. Sebagai larutan koloid

Pada konsentrasi tinggi partikel koloid akan saling menggumpal, gumpalan ini disebut
misel atau agregat baik berbentuk sferik (daya hantar listriknya tinggi) atau lamelar (daya hantar
listriknya kecil disebut juga koloid netral) dan ada dalam kesetimbangan dengan sekitarnya
(pelarut atau dispersi larutan). Kesetimbangan ini akan mencapai konsentrasi kritik misel.
2. Adsorpsi
Apabila larutan mempunyai tegangan permukaan lebih kecil daripada pelarut murni, zat
terlarut akan terkonsentrasi pada permukaan dan terjadi adsorpsi positif. Sebaliknya adsorpsi
negatif menunjukkan bahwa molekul-molekul zat terlarut lebih banyak terdapat dalam rongga
larutan daripada di permukaan. Hubungan antara derajat penyerapan dan penurunan tegangan
permukaan dinyatakan dalam persamaan Gibbs.
3. Kelarutan dan daya melarutkan
Partikel-partikel tunggal dari surfaktan relatif tidak larut, sedangkan misel mempunyai
kelarutan tinggi. Makin panjang rantai hidrokarbonnya, makin tinggi temperatur kritik larutan.
4. Pembasahan
Perubahan dalam tegangan permukaan yang menyertai proses pembasahan dinyatakan
oleh Hukum Dupre.
5. Daya Busa
Busa ialah dispersi gas dalam cairan dan zat aktif permukaan memperkecil tegangan
antarmuka, sehingga busa akan stabil, jadi surfaktan mempunyai daya busa.
6. Daya Emulsi
Emulsi adalah suspensi partikel cairan dalam fasa cairan yang lain, yang tidak saling
melarutkan. Surfaktan akan menurunkan tegangan antarmuka, sehingga terjadi emulsi yang
stabil. Surfaktan dapat menyebabkan permukaan kulit kasar, hilangnya kelembaban alami yang
ada pada permukan kulit dan meningkatkan permeabilitas permukaan luar. Hasil pengujian
memperlihatkan bahwa kulit manusia hanya mampu memiliki toleransi kontak dengan bahan
kima dengan kandungan 1 % LAS dan AOS dengan akibat iritasi sedang pada kulit.

2.7 Perbedaan Sabun Dan Deterjen


Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan.
Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebutbatang karena sejarah dan bentuk
umumnya. Penggunaan sabun cair juga telah telah meluas, terutama pada sarana-sarana publik.
Jika diterapkan pada suatu permukaan, air bersabun secara efektif mengikat partikel
dalam suspensi mudah dibawa oleh air bersih. Di negara berkembang, detergen sintetik telah
menggantikan sabun sebagai alat bantu mencuci (Diah Pramushinta, 2011).

Gambar 2.3 Deterjen (Diah Pramushinta, 2011)


Banyak sabun merupakan campuran garam natrium atau kalium dari asam lemak yang
dapat

diturunkan

dari

minyak

atau

lemak

dengan

direaksikan

dengan alkali (seperti natrium atau kalium hidroksida) pada suhu 80100 C melalui suatu proses
yang dikenal dengan saponifikasi. Lemak akan terhidrolisisoleh basa, menghasilkan gliserol dan
sabun mentah. Secara tradisional, alkali yang digunakan adalah kalium yang dihasilkan dari
pembakaran tumbuhan, atau dari arang kayu. Sabun dapat dibuat pula dari minyak tumbuhan,
seperti minyak zaitun (Diah Pramushinta, 2011).
Beda sabun dan deterjen yaitu deterjen tidak terbuat dari garam karboksilat sementara
sabun terbuat dari garam karboksilat. Deterjen terbuat dari bahan-bahan yang sukar diuraikan
mikroorganisme sementara sabun dapat diuraikan mikro-organisme (Diah Pramushinta, 2011).

2.8 Macam-Macam Sabun


Ada beberapa macam sabun, diantaranya (Diah Pramushinta, 2011) :

1.

Shaving Cream
Shaving Cream disebut juga dengan sabun kalium. Bahan dasarnya adalah campuran

minyak kelapa dengan asam stearat dengan perbandingan 2:1.


2.

Sabun Cair
Sabun cair dibuat melalui proses saponifikasi dengan menggunakan minyak jarak serta

menggunakan alkali (KOH). Untuk meningkatkan kejernihan sabun, dapat ditambahkan gliserin
atau alkohol
3.

Sabun Kesehatan
Sabun kesehatan pada dasarnya merupakan sabun mandi dengan kadar parfum yang

rendah, tetapi mengandung bahan-bahan antiseptik dan bebas dari bakteri adiktif. Bahan-bahan
yang digunakan dalam sabun ini adalah tri-salisil anilida, tri-klor carbanilyda, irgassan Dp300
dan sulfur.
4.

Sabun Chip
Pembutan sabun chip tergantung pada tujuan konsumen dalam menggunakan sabun yaitu

sebagai sabun cuci atau sabun mandi dengan beberapa pilihan komposisi tertentu.
Sabun chip dapat dibuat dengan berbagai cara yaitu melalui pengeringan, atau menggiling atau
menghancurkan sabun yang berbentuk batangan.
5.

Sabun Bubuk untuk mencuci


Sabun bubuk dapat diproduksi melalui dry-mixing. Sabun bubuk mengandung

bermacam-macam komponen seperti sabun, sodium metaksilat, sodium karbonat, sodium sulfat,
dan lain-lain.
2.9 Teknologi Pembuatan Sabun
Sabun dapat dibuat melalui 2 metode yaitu; proses batch dan kontinu. Hal ini dilakukan untuk
menghasilkan sabun yang berkualitas(Yuda Prawira, 2008) :

1. Proses Batch
Pada proses batch, lemak atau minyak dipanaskan dengan alkali (NaOH atau KOH)
berlebih dalam sebuah ketel. Jika penyabunan telah selesai, garam-garam ditambahkan untuk
mengendapkan sabun. Lapisan air yang mengandung garam, gliserol dan kelebihan alkali
dikeluarkan dan gliserol diperoleh lagi dari proses penyulingan. Endapan sabun gubal yang
bercampur dengan garam, alkali dan gliserol kemudian dimurnikan dengan air dan diendapkan
dengan garam berkali-kali. Akhirnya endapan direbus dengan air secukupnya untuk
mendapatkan campuran halus yang lama-kelamaan membentuk lapisan yang homogen dan
mengapung. Sabun ini dapat dijual langsung tanpa pengolahan lebih. lanjut, yaitu sebagai sabun
industri yang murah. Beberapa bahan pengisi ditambahkan, seperti pasir atau batu apung dalam
pembuatan sabun gosok. Beberapa perlakuan diperlukan untuk mengubah sabun gubal menjadi
sabun mandi, sabun bubuk, sabun obat, sabun wangi, sabun cuci, sabun cair dan sabun apung
(dengan melarutkan udara di dalamnya).
2. Proses Kontinu
Pada proses kontinu, yaitu yang biasa dilakukan sekarang, lemak atau minyak hidrolisis
dengan air pada suhu dan tekanan tinggi, dibantu dengan katalis seperti sabun seng. Lemak atau
minyak dimasukkan secara kontinu dari salah satu ujung reaktor besar. Asam lemak dan gliserol
yang terbentuk dikeluarkan dari ujung yang berlawanan dengan cara penyulingan. Asam-asam
ini kemudian dinetralkan dengan alkali untuk menjadi sabun.
Pada umumnya, alkali yang digunakn dalam pembuatan sabun hanya NaOH dan KOH, namun
kadang juga menggunakan NH4OH. Sabun yang dibuat dengan NaOH lebih lambat larut dalam
air dibandingkan dengan sabun yang dibuat dengan KOH.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi penyabunan (Luis Spitz, 1996) antara lain:
1. Konsentrasi larutan KOH/NaOH
Konsentrasi basa yang digunakan dihitung berdasarkan stokiometri reaksinya, dimana
penambahan basa harus sedikit berlebih dari minyak agar tersabunnya sempurna. Jika basa yang
digunakan terlalu pekat akan menyebabkan terpecahnya emulsi pada larutan sehingga fasenya

tidak homogen., sedangkan jika basa yang digunakan terlalu encer, maka reaksi akan
membutuhkan waktu yang lebih lama.
2. Suhu (T)
Ditinjau dari segi thermodinamikanya, kenaikan suhu akan menurunkan hasil, hal ini
dapat dilihat dari persamaan Van`t Hoff :
Karena reaksi penyabunan merupakan reaksi eksotermis (H negatif), maka dengan
kenaikan suhu akan dapat memperkecil harga K (konstanta keseimbangan), tetapi jika ditinjau
dari segi kinetika, kenaikan suhu akan menaikan kecepatan reaksi. Hal ini dapat dilihat dari
persamaan Arhenius berikut ini (Smith 1987) :
Dalam hubungan ini, k adalah konstanta kecepatan reaksi, A adalah faktor tumbukan, E adalah
energi aktivasi (cal/grmol), T adalah suhu (K), dan R adalah tetapan gas ideal (cal/grmol.K).
Berdasarkan persamaan tersebut maka dengan adanya kenaikan suhu berarti harga k
(konstanta kecepatan reaksi) bertambah besar. Jadi pada kisaran suhu tertentu, kenaikan suhu
akan mempercepat reaksi, yang artinya menaikan hasil dalam waktu yang lebih cepat. Tetapi jika
kenaikan suhu telah melebihi suhu optimumnya maka akan menyebabkan pengurangan hasil
karena harga konstanta keseimbangan reaksi K akan turun yang berarti reaksi bergeser ke arah
pereaksi atau dengan kata lain hasilnya akan menurun. Turunnya harga konstanta keseimbangan
reaksi oleh naiknya suhu merupakan akibat dari reaksi penyabunan yang bersifat eksotermis
(Levenspiel, 1972).
3. Pengadukan
Pengadukan dilakukan untuk memperbesar probabilitas tumbukan molekul-molekul reaktan
yang bereaksi. Jika tumbukan antar molekul reaktan semakin besar, maka kemungkinan
terjadinya reaksi semakin besar pula. Hal ini sesuai dengan persamaan Arhenius dimana
konstanta kecepatan reaksi k akan semakin besar dengan semakin sering terjadinya tumbukan
yang disimbolkan dengan konstanta A (Levenspiel, 1987).

4. Waktu
Semakin lama waktu reaksi menyebabkan semakin banyak pula minyak yang dapat
tersabunkan, berarti hasil yang didapat juga semakin tinggi, tetapi jika reaksi telah mencapai
kondisi setimbangnya, penambahan waktu tidak akan meningkatkan jumlah minyak yang
tersabunkan (Perdana F.K, 2009).
2.9 Kesadahan Air
Air sadah adalah air yang mengandung ion Ca2+ dan Mg2+. Air sadah menyebabkan sabun
sukar berbuih, karena ion-ion Ca2+/Mg2+ mengendapkan sabun.
Ca2+(aq) + 2 CH3(CH2)16COO-(aq)

Ion stearat dari sabun

Ca(CH3(CH2)16COO)2 (s)

endapan sabun

Kesadahan air dibedakan atas (Vii afida, 2012) :


a) Kesadahan sementara
Yaitu kesadahan yang disebabkan oleh garam-garam hidrogen karbonat yaitu
Ca(HCO3)2 atau Mg(HCO3)2. Kesadahan ini dapat dihilangkan dengan cara pemanasan
(mendidihkan air).
Ca(HCO3)2(aq)

CaCO3(s) + H2O(l) + CO2(g)

Apabila CaCO3 sudah berikatan dengan ion hydrogen karbonat maka ion Ca2+ tidak ada yang
berkeliaran sehingga kesadahan bisa dihilangkan.
b) Kesadahan Tetap
Yaitu kesadahan yang disebabkan oleh garam-garam selain garam hidrogen karbonat
seperti; CaSO4, MgSO4, CaCl2, MgCl2. Kesadahan tetap ini sulit dihilangkan , bahkan tidak

hilang walaupun dididihkan, namun ada beberapa cara untuk mengurangi kesadahan air,
diantaranya; (Vii afida, 2012)
Proses Soda Kapur (mengendapkan Ca2+ dan Mg2+)
Air sadah direaksikan dengan soda Na2CO3 dan kapur Ca(OH)2.

MgSO4(aq) + Ca(OH)2(aq)

CaSO4(aq) + Na2CO3(aq)

MgCl2(aq) + Na2CO3(aq)

Mg(OH)2 + CaSO4
CaCO3(s) + Na2SO4(aq)
MgCO3(s) + 2NaCl(aq)

Endapan yang terbentuk dipisahkan dengan cara penyaringan.


Proses Zeolit (Na Zeolit dalam bentuk endapan)
Air sadah dialirkan melalui Natrium Zeolit, sehingga ion Ca2+ dan Mg2+ akan diikat oleh zeolit
menggantikan ion Na+membentuk kalsium/magnesium zeolit.
Kerugian yang ditimbulkan air sadah diantaranya (Vii afida, 2012) :
a. Memboroskan sabun
Air sadah menyebabkan sabun sukar berbuih sebelum semua ion Ca2+ dan
Mg2+ mengendap, sehingga dapat mengurangi daya pembersih pada sabun.
b. Menimbulkan Batu Ketel
Batu ketel adalah sejenis karang yang terbentuk pada dasar ketel. Batu ketel ini
mengakibatkan penghantaran panas dari ketel ke air berkurang.

2.10 Metode Pembuatan Sabun


Berdasarkan reaksi yang terjadi, ada 4 metode proses pembuatan sabun yaitu sebagai berikut
(Y.H.Hui, 1996) :

1.Proses pendidihan penuh


Proses pendidihan penuh pada dasarnya sama dengan proses batch yaitu minyak/lemak
dipanaskan didalam ketel dengan menambahkan NaOH yang telah dipanaskan, selanjutnya
campuran tersebut dipanaskan sampai terbentuk pasta kira-kira setelah 4 jam pemanasan. Setelah
terbentuk pasta ditambahkan NaCl (10-12%) untuk mengendapan sabun. Endapan sabun
dipisahkan dengan menggunakan air panas dan terbentuklah produk utama sabun dan produk
samping gliserin.
2.Proses semi pendidihan
Pada proses semi pendidihan, semua bahan yaitu minyak/lemak dan alkali langsung
dicampur kemudian dipanaskan secara bersamaaan. Terjadilah reaksi saponifikasi. Setelah reaksi
sempurna ditambah sodium silikat dan sabun yang dihasilkan berwarna gelap.
3.Proses dingin
Pada proses dingin semua bahan yaitu minyak, alkali, dan alkohol dibiarkan didalam suatu
tempat/bejana tanpa dipanaskan (temperatur kamar,25oC). Raksi antara NaOH dan uap air
(H2O) merupakan reaksi eksoterm sehingga dapat menghasilkan panas. Panas tersebut kemudian
digunakan untuk mereaksikan minyak/lemak dan NaOH/alkohol. Proses ini memerlukan waktu
untuk reaksi sempurna selama 24 jam dan dihasilkan sabun berkualitas tinggi.
Adapun syarat-syarat terjadinya proses dingin adalah sebagai berikut :
Minyak/lemak yang digunakan harus murni
Konsentrasi NaOH harus terukur dengan teliti
Temperatur harus terkontrol dengan baik
4.Proses netral
Prinsip dasar dari proses netral adalah minyak/lemak ditambah NaOH sehingga terjadi
reaksi saponifikasi dan dihasilkan sabun dan gliserin. Sabun yang dihasilkan tidak bersifat netral
sehingga tidak dapat menghasilkan busa yang banyak.Oleh karena itu, perlu dilakukan
penetralan dengan menambahkan Na2CO3.

2.11 Kegunaan Sabun


Sabun berkemampuan untuk mengemulsi kotoran berminyak sehingga dapat dibuang
dengan pembilasan. Kemampuan ini disebabkan oleh dua sifat sabun :
1. Rantai hidrokarbon sebuah molekul sabun bersifat nonpolar sehingga larut dalam zat non
polar, seperti tetesan-tetesan minyak.
2. Ujung anion molekul sabun, yang tertarik dari air, ditolak oleh ujung anion molekulmolekul sabun yang menyembul dari tetesan minyak lain. Karena tolak menolak antara
tetes sabun-minyak, maka minyak itu tidak dapat saling bergabung tetapi tersuspensi
(Ralph J. Fessenden, 1992).

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

A. WAKTU PRAKTIKUM
Praktikum Kimia Organik (Pembuatan Sabun dari Shortening) dilakukan pada :
Hari, Tanggal

: Kamis, 27 November 2014

Waktu

: Pukul 09.30 11.30

Tempat

: Laboratorium FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

B. ALAT DAN BAHAN


1.

2.

Alat-alat
a.

Alat gelas standar lab

b.

Ice bath

c.

Hot plate dan Magnetic stirrer

d.

Timbangan digital

e.

Pompa vaccum

f.

Beaker glass

g.

Batang pengaduk

h.

Spatula

i.

Kaca Arloji

j.

Indikator pH

k.

Cetakan agar

Bahan
a.

Shortening (Crisco)

b.

NaOH

c.

NaCl

d.

Aquadest

e.

Etanol

f.

Air es

g.

Pewarna

C. CARA KERJA
I. Pembuatan Sabun
II. Pengujian Sabun
III. Pengujian Deterjen

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. HASIL
A. Pembuatan Sabun
Kasih gambar sabun yang udah jadi, sabun dalam cetakan.
B. Pengujian Sabun
Sampel

Gambar

Keterangan

0.3 gr sabun + 20 ml aquadest

Ada busa

0.3 gr sabun + 20 ml aquadest

Busa hilang

+ MgSO4
0.3 gr sabun + 20 ml aquadest
+ MgSO4 + Na3PO4

C. Pengujian Deterjen
Sampel

Gambar

Keterangan

0.3 gr deterjen + 20 ml
aquadest
0.3 gr deterjen + 20 ml

Ada busa (cukup banyak)

aquadest + MgSO4

2. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan sabun dari shortening. Dalam
praktikum ini yang diamati adalah reaksi hidrolisis ester yang dikatalis oleh basa. Bahan
yang digunakan adalah bahan yang mengandung minyak yaitu solid shortening ( mentega ).
Didalam solid shortening ini mengandung asam palmitat, asam stearat, dan asam oleat yang
merupakan trigliserida ( tri ester dari gliserol ).
Pada awalnya solid shortening ini dilelehkan dengan menggunakan etanol
(alkohol sederhana berantai panjang ) sehingga membentuk senyawa ester. Pemberian

alkohol pada reaksi esterifikasi ini berguna untuk mempercepat laju reaksi. Karena secara
umum laju reaksi esterifikasi mempunyai sifat sebagai berikut:
1. Alkohol primer bereaksi paling cepat, disusul alkohol sekunder, dan paling lambat
alkohol tersier.
2. Ikatan rangkap memperlambat reaksi.
3. Asam aromatik (benzoat dan p-toluat) bereaksi lambat, tetapi mempunyai batas konversi
yang tinggi.
4. Makin panjang rantai alkohol, cenderung mempercepat reaksi atau tidak terlalu
berpengaruh terhadap laju reaksi.
Selanjutnya larutan etanol direaksikan dengan NaOH yang telah dilarutkan dengan
air. NaOH adalah logam alkali kuat yang biasa digunakan dalam pembuatan sabun, sabun
yang dibuat dengan logam alkali ini akan memiliki PH yang berkisar antara 9,0 sampai 10,8.
Lalu larutan etanol dan larutan NaOH ini dibiarkan bercampur selama 30 menit di stirer dan
di panaskan agar larutan bercampur sempurna.
Saat melakukan praktikum masalah yang didapati adalah saat melakukan penstireran
larutan etanol dan larutan NaOH, stirer yang dipakai tidak mampu untuk melakukan
pengadukan secara sempurna sehingga larutan kurang bercampur, dikarenakan stirer yang
digunakan terlalu kecil kurang optimal dalam melakukan pengadukan pada larutan yang
cukup banyak dan memiliki tingkat viskositas yang cukup besar. Sehingga yang didapat
terjadi pembekuan pada sabun.
Jika proses penyabunan telah selesai maka ditambahkan garam-garam dalam hal ini
ditambahkan garam NaCl yang berguna untuk mengendapkan sabun. Sabun yang membeku
kemudian ditambahkan NaCl yang telah didinginkan dan dilarutkan kembali dengan
sabunnya. Terdapat kesulitan saat proses pengadukan yang disebabkan karena campuran
etanol dan NaOH yang membeku. Setelah bercampur dilakukan proses penyaringan.
Lapisan air yang mengandung garam, gliserol dan kelebihan alkali dikeluarkan, dan
gliserol diperoleh lagi dari proses penyulingan yaitu dimurnikan dengan air es, di stirer dan
diendapkan berkali-kali hingga didapat sabun. Namun, saat pemberian air jangan
ditambahkan terlalu banyak untuk mencegah larutnya sabun didalam air karena pada
molekul sabun terdapat bagian hidrofil yang dapat larut dengan air. Saat proses penyulingan

digunakan filtrasi vakum untuk memisahkan produk dari garam, kelebihan alkali dan
gliserol.
Dan jika telah disaring, sabun dikeringkan dan di pres dengan cetakan menjadi
lempengan. Penambahan zat-zat pada sabun seperti Essensial dan Fragrance Oils :
sebagai pengharum, Pewarna : untuk mewarnai sabun Bisa juga memakai pewarna
makanan, Zat aditif : rempah, herbal, talk, tepung kanji atau maizena, dsb bisa
ditambahkan saat proses penyaringan.
Pada praktikum yang telah dilakukan ditambahkan zat pengharum pada sabun
(Essential oils), kesalahan yang terjadi adalah penambahan zat pengharum
ditambahkan saat setelah melakukan penyaringan dan tidak diratakan lagi sehingga
didapat warna sabun yang tidak merata atau kurang menarik.
Mengenai hasil fisik dari praktikum yang dilakukan, didapat bahwa permukaan dari sabun yang
dibuat terlihat kurang merata. Hal ini diindikasikan terjadi karena kurang sempurnanya
pelaksanaan tahap pendidihan (homogenisasi) sabun dengan air dan juga tahapan pengendapan
kembali dengan garam yang seharusnya dilakukan beberapa kali pada praktikum ini hanya
dilakukan sekali.

Didalam proses pembuatan sabun terjadi reaksi saponifikasi yang dapat digambarkan dalam
struktur berikut :

Dari reaksi tersebut terbentuklah molekul sabun yang terdiri atas rantai seperti hidrokarbon
yang panjang di salah satu ujung yang bersifat lipofilik yaitu pada bagian (3 CH3(CH2)16)
(tertarik pada atau larut dalam lemak dan minyak), dan pada ujung lainnya terdiri atas atom
karbon dengan gugus yang sangat polar atau ionik yang bersifat hidrofilik yaitu pada bagian

(CO2- Na+) (tertarik pada atau larut dalam air). Karena adanya rantai hidrokarbon, sebuah
molekul sabun secara keseluruhan tidaklah benar-benar larut dalam air
O
CH3 CH2CH2CH2CH2CH2CH2CH2CH2CH2CH2CH2CH2CH2CH2CH2CH2 C
O-Na+
Nonpolar , lipofilik

Polar , hidrofilik

Ekor lipofilik

kepala hidrofilik

Dalam kerjanya untuk menyingkirkan kotoran, molekul sabun mengelilingi dan


mengemulsi butiran lemak atau minyak. Ekor lipofilik dari milekul sabun melarutkan minyak.
Ujung hidrofilik dari butiran minyak menjulur kearah air. Dengan cara tersebut butiran minyak
terstabilkan dalam larutan air sebab muatan permukaan yang negatif dari butiran minyak
mencegah penggabungan (koalesensia)
Sifat menonjol lain dari larutan sabun ialah tegangan permukaan yang sangat rendah,
yang menjadikan larutan sabun lebih memiliki daya pembasahan dibandingkan air saja. Oleh
karenanya sabun juga termasuk pada golongan surfaktan. Gabungan dari daya pengemulsi dan
kerja permukaaan dari larutan sabun memungkinkannya untuk melepas kotoran, lemak, dan
partikel minyak dari permukaan yang sedang dibersihkan dan mengemusikannya sehingga
kotoran itu tercuci bersama air. Dengan demikian tercapailah tujuan dari pemanfaatan
mekanisme kerja sabun.

Permukaan air

BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum yang kami peroleh maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Sabun adalah garam logam alkali dari suatu asam lemak.
2. Reaksi dalam proses pembuatan sabun melibatkan reaksi hidrolisis ester yang dikatalis
oleh basa dengan gliserol sebagai hasil sampingannya.
3. Sabun termasuk dalam kelas umum senyawa yang disebut surfaktan, yakni senyawa yang
dapat menurunkan tegangan permukaan air.
4. Sabun dari hasil praktikum sudah cukup efektif.

BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

Fessenden & Fessenden.1986. Kimia Organik Edisi kedua.


Penerbit Erlangga : Jakarta.
Fessenden & Fessenden.1992. Kimia Organik Edisi ketiga.
Penerbit Erlangga : Jakarta.
Riawan, S. 2009. Kimia Organik.
Bina Rupa Aksara : Tangerang.
Hart, Harold. Leslie, David J. 2003. Kimia Organik.
Penerbit Erlangga : Jakarta.
Achmad, H. 2001. Kimia Unsur dan Radiokimia.
PT. Citra Aditya Bakti: Bandung
Vii afida. 2012. Pembuatan Sabun Cair dari Minyak Jarak dan Soda Q Sebagai Upaya
Meningkatkan Pangsa Pasar Soda Q,
http://eprints.undip.ac.id . Diakses pada 2 Mei 2013
Herbamart.2011, Hui, Y. H, 1996, Baileys Industrial Oil and Fat Products, fifth edition, New
York, Jhon Willey & Sons Inc
http://www.alcasoft.com/soapfact/history.html . Diakses pada 14 Mei 2013