Anda di halaman 1dari 23

PERENCANAAN GEOMETRIK

JALAN
DRAINASE

DRAINASE JALAN
a. Definisi: adalah bangunan pelengkap jalan yang
dibangun untuk menanggulangi kelebihan air yang
terjadi, baik air permukaan maupun air bawah tanah.
b. Jenis konstruksi:

selokan samping,
bak penampungan air permukaan,
gorong-gorong, dan
lainnya.

c. Drainase jalan merupakan bagian yang sangat penting,


khususnya pada daerah padat dengan tingkat
penyerapan air yang rendah.
d. Seringkali kerusakan jalan terjadi disebabkan bukan oleh
beban lalu lintas, tetapi oleh kondisi drainase jalan.

Analisis Hidrologi
Untuk menentukan besarnya aliran air, aliran air permukaan
ataupun pembuangan yang harus ditampung.
Data hidrologi mencakup antara lain luas daerah drainase, besar
dan frekuensi dari banjir rencana serta tinggi muka airnya.
Ukuran dari daerah aliran sungai akan mempengaruhi aliran
permukaan sedangkan batas daerah air dapat ditentukan dari
peta-peta ataupun foto udara.
Pola penggunaan tanah dan jenis tanah akan menentukan
besarnya penyerapan air oleh tanah.
Di daerah pemukiman dimana tanah tertutup, penyerapan akan
kecil, sedangkan didaerah hutan penyerapan lebih besar.
Pada waktu perencanaan tidak hanya dilihat penggunaan tanah
pada saat itu, tetapi harus juga diramalkan penggunaan tanah
dimasa mendatang.
Perubahan menjadi daerah pemukiman bisa menaikkan besarnya
banjir puncak beberapa kali lipat.

Drainase Permukaan Jalan


a. Kemiringan Melintang (Cross Slope)
Kemiringan Melintang Permukaan Jalan
Perkerasan aspal umumnya diberi kemiringan sebesar 2%
Penetrasi MacAdam dapat digunakan sampai 4%.
Semakin kasar bentuk permukaan maka kemiringan yang diberikan
semakin besar.
Dengan batasan keamanan serta kenyamanan, kemringan melintang
tersebut umumnya tidak dibuat melebihi 4%.

Kemiringan Melintang. Untuk kemudahan praktis dan


pertimbangan keamanan dan kenyamanan, maka besaran
kemiringan tidak dibuat lebih dari 6%.
Kemiringan Melintang Trotoar. Kemiringan melintang trotoar
berkisar antara 1,5% sampai 4,0%, namun umumnya dibuat
sekitar 2% agar tidak terdapat kemiringan melintang yang
terlalu besar sehingga menyebabkan permukaan trotoar
menjadi licin atau ketidaknyamanan lain bagi pengguna trotoar.

Drainase Permukaan Jalan


b. Kemiringan Memanjang
Kemiringan memanjang tidak hanya berpengaruh besar terhadap waktu
konsentrasi (yang menentukan besarnya nilai intensitas hujan) tetapi
juga mempengaruhi persentase besarnya aliran air (inflow) yang dapat
dialirkan melalui bak penangkap air permukaan (catch basin) yang
kemudian dialirkan ke saluran drainase.
Selain itu juga berpengaruh kepada tingkat penggerusan air permukaan
terhadap permukaan jalan, maupun permukaan saluran drainase.
Semakin besar kemiringan memanjang, akan mengurangi waktu
konsentrasi, yang menyebabkan intensitas hujan rencana yang lebih
tinggi sehingga memerlukan dimensi saluran drainase yang lebih besar.
Pada kemiringan memanjang yang tinggi juga akan mengakibatkan air
hujan (limpasan) cenderung untuk mengalir di permukaan jalan.
Pada kemiringan memanjang yang lebih besar dari 4%, aliran superkritis akan terjadi pada saluran samping dan persentase pengaliran air
yang dapat dialirkan melalui bak penangkap air permukaan (untuk jenis
tertentu) akan berkurang hingga dibawah 50%-nya.

Selokan Samping
Selokan samping merupakan konstruksi drainase yang sangat baik. Fungsi
utamanya adalah menampung air hujan yang jatuh diatas permukaan jalan, untuk
dialirkan. Selain selokan samping menjaga agar badan jalan tetap kering karena air
dari bawah permukaan jalan mengalir kedalamnya. Air dari luar daerah jalan juga
tidak bisa mencapai jalan karena tertampung oleh selokan samping.
Ditinjau dari segi pengemudi, maka adakalanya selokan disamping jalan akan
memberi kesan luas asal saja bentuk dari bentuk selokan samping tidak
membahayakan keselamatan lalu lintas. Air yang berada dalam selokan samping
harus dialirkan kesaluran air yang lebih besar seperti sungai. Melalui perhitunganperhitungan hidrologi dan hidrolika ukuran dari selokan samping bisa ditentukan.
Arah mengalirnya air biasanya disamakan dengan kelandaian jalan karena elevasi
dasar selokan samping dibuat dibawah elevasi sumbu jalan setinggi kira-kira satu
meter. Pada lembah-lembah air dari selokan samping dialirkan keluar dan biasanya
memang ada saluran alamiah disana.
Adakala air ingin disalurkan dari selokan samping disuatu tepi keselokan samping
ditepi lainnya. Penyeberangan air menembus badan jalan ini dilakukan melalui
gorong-gorong. Sebagian air yang tertampung dalam selokan samping akan
meresap kedalam tanah, bila memungkinkan, dan sebagian lagi akan menguap.
Selanjutnya, selokan samping ini harus dipelihara terus menerus agar dapat
berfungsi terus

Penampang Parabolis

Secara hidraulis adalah paling efisien dan


paling tahan terhadap erosi.
Lapisan pelindung dapat berupa lapisan
rumput atau lapisan pasangan batu.

Penampang Trapesium

Penampang ini mudah dibuat dan merupakan saluran


yang cocok dan stabil untuk berbagai lokasi.
Lebih umum dipakai, dibandingkan dengan profil parabolis
atau segitiga.
Untuk saluran tanah, kemiringan dinding saluran harus
landai, misalnya menggunakan kemiringan (V:H) 1:2
sampai 1:4 serta sudut-sudutnya dibulatkan untuk
memudahkan pertumbuhan rumput.
Lebar dasar saluran antara 0,30 1,20 m; tergantung
pada debit aliran, panjang dan kemiringan saluran

Penampang Segitiga

Umumnya, penampang jenis ini mudah


tersumbat oleh sampah dan mudah terkena
erosi.
Tidak dianjurkan untuk saluran dengan bahan
tanah, kecuali bila tanah dasarnya kuat (batuan
keras) dan lahan yang tersedia sempit

Penampang 4 Persegi Panjang

Dibuat dengan lapisan pelindung kuat dari


pasangan batu dan beton, dan apabila
lahan yang tersedia sempit.

Bak Penampung Air Permukaan (Catch Basin)


Penempatan Catch Basin

Gutter Inlet
Kapasitas drainase dari gutter inlet
bergantung pada bentuk penutup gutter inlet,
yang terdiri dari beberapa type sebagai
berikut :
-

Type sekat vertikal


Type sekat horizontal
Type sekat campuran, dan
Type sekat berkisi (jeruji).

Jenis-jenis Gutter Inlet

Pipa Samping dan Storm Drain

Drainase Melintang
Saluran alam (sungai) atau saluran buatan (irigasi dan lain-lain)
yang melintasi alinemen jalan harus dibuat bangunan untuk
drainase melintang jalan.
Apabila alinemen jalan menyimpang dari garis punggungan,
maka air permukaan di daerah antara punggungan dan
alinemen jalan harus dialirkan ke daerah yang lebih rendah
melalui suatu bangunan drainase melintang.
Bangunan drainase melintang umumnya adalah gorong-gorong
(culvert) atau jembatan kecil, untuk bentang antara kepala
jembatan 6 meter. Bila panjang bentang > 6 meter, di buat
jembatan (jembatan biasa/panjang).
Perbedaan utama antara gorong-gorong dan jembatan adalah
bahwa umumnya gorong-gorong berada di bawah timbunan
(tanggul) dan sekitar keliling luarnya dilindungi oleh bahan
bangunan yang diperlukan. Selain itu gorong-gorong dapat
menambah kapasitas hidraulisnya dengan inlet dan outlet
berada dalam kondisi tenggelam.

Jenis Lingkaran/Pipa

Dapat berupa satu atau beberapa batang pipa.


Umumnya digunakan untuk debit pengaliran yang rendah dan
timbunan yang tinggi.
Material pipa dapat berupa batu, beton, beton bertulang atau
pipa logam.
Untuk perletakan pipa, biasanya digunakan alas beton setebal
15 cm.
Pada dasar sungai berpasir/tanah liat, perlu dilapisi terlebih
dahulu dengan lantai batu pecah.

Jenis Plat (Slab)

Jenis ini merupakan jembatan kecil, dengan


panjang bentang sampai 6 meter.
Kepala jembatan dapat berupa pasangan batu atau
beton, sedangkan plat jembatan dapat dibuat dari
batu maupun beton, tergantung kepada panjang
bentangnya

Jenis Kotak (Box)

Jenis ini dibuat khususnya untuk lokasi yang sifat


tanah dasarnya tidak layak untuk pondasi setempat
/ tapak.
Bangunan gorong-gorong kotak berbentuk persegi
panjang dengan ukuran minimum 60 x 60 cm untuk
memudahkan pemeriksaan atau pembersihan
kotoran/runtuhan batu.

Jenis Busur (Arch)

Umumnya dibuat untuk bentang 3 meter dan


beban urugan diatasnya cukup tinggi.
Busur dapat dibuat dari bata merah, batu atau
beton.

Jenis Portal

Terutama pada lokasi yang tanah dasar salurannya


cukup baik dan dapat dibuat fundasi tapak /
setempat.

Pengaliran Air Dari Bawah Permukaan Jalan


Pondasi jalan bisa direncanakan kedap air atau tembus air.

Bila direncanakan kedap air, yaitu tanpa rongga-rongga kosong (soil


cement) maka pondasi jalan tidak perlu diberi drainase.
Bila direncanakan tembus air maka harus diberi drainase, dan ini yang
biasa ditemui dalam praktek.

Pondasi yang tembus air harus dilanjutkan kesamping sampai ke selokan


samping dan arah lapisan pondasi harus miring ke selokan samping agar
drainase dapat berlangsung baik.
Muka air tanah mengikuti bentuk permukaan tanah dan kadang-kadang
naik akibat hujan.
Sehubungan dengan ini jalan dapat dibuat diatas timbunan sampai
ketinggiannya berada diatas muka air tanah.
Bila jalannya tidak dibuat diatas timbunan, maka bisa dibuat suatu
sistem drainase untuk menurunkan muka air tanah setempat dan
mengalirkan air ini dengan baik. Hal ini terjadi juga pada daerah galian
dimana permukaan galian berada dibawah muka air tanah.

Erosi
Erosi oleh air terutama terjadi karena jatuhnya butir-butir
hujan keatas tanah, khususnya di daerah tropis dimana
curah hujannya cukup besar.
Erosi pada tebing galian dapat diatasi dengan cara:
Membuat saluran penangkal sepanjang tepi atas tebing (6
meter dari tepi tebing) untuk menangkal aliran permukaan
agar tidak mengikis tebing.
Membuat tebing galian bertangga.

Erosi pada tebing timbunan terjadi karena air dari


permukaan jalan mengalir lewat bahu melalui tebing
timbunan.
Membuat selokan samping untuk menampung air dari
permukaan jalan dan menyalurkannya pada tempat-tempat
tertentu melalui konstruksi saluran, menuruni tebing.
Tebing timbunan dapat juga dibuat bertangga untuk
mematahkan kecepatan dari air yang menuruni tebing.

Drainase Alamiah
Drainase jalan harus disesuaikan dengan drainase alamiah ini sehingga
pola pengaliran tidak sampai berubah.
Aliran yang besar diseberangi dengan jembatan, aliran yang kecil
dengan gorong-gorong, aliran permukaan ditampung dalam selokan
samping dan aliran selokan samping dibawa ke aliran alamiah.
Pada prinsipnya setiap pembangunan jalan tidak dibenarkan merubah
atau merusak atau bahkan menghilangkan sistem drainase alamiah.
Suatu aliran sungai yang melintang jalan, misalnya, walaupun sempat
sudah mati saat jalan dibangun, tetap perlu disediakan pelimpasan,
seperti gorong-gorong.
Hal ini juga perlu dilakukan pada waktu membangun jalan di atau
melalui daerah rawa-rawa. Jalan perlu dilindungi dari pengaruh rawarawa tetapi rawa-rawa itu harus tetap dipertahankan dan tidak
dikeringkan.
Jalan yang dibangun jangan sampai menciptakan bendungan di tengah
rawa. Air rawa adalah merupakan air yang mengalir yang bergerak
sangat lambat. Dengan demikian pada badan jalan perlu dipasang
banyak gorong-gorng agar aliran air rawa antara kiri dan kanan jalan
menjadi seimbang.