Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

TRICHINELLA SPIRALIS

A. Definisi dan Morfologi


1. Definisi
Trichinella spiralis merupakan salah satu jenis nematoda atau cacing giling (tri
a & widya d, 2009).
2. Morfologi
Cacing jantan dewasa berukuran 1,4-1,6 mm 0,006 mm. Sedangkan cacing
betina berukuran lebih panjang, dapat mencapai 4 mm. Pada ujung posterio
cacing jantan terdapat 2 buah papil yang menbedakan bentuknya dengan caccing
betina. Cacing betina tidak bertelur melainkan melahirkan larvva (vivipar). Larva
cacing berukuran sampai 100 l, namun dalam otot hospes ummunya larva
terdapat dalam bentuk kista (tri a & widya d, 2009).

B. Epidemiologi
Cacing ini tersebar di seluruh dunia (kosmopolit), kecuali di kepulauan pasifik
dan australia. Frekuensi trichinosis pada manusia ditentukan oleh temuan larva dalam
kista di mayat atau melalui tes intrakutan. Frekuensi ini banyak ditemukan di negara
yang penduduknya gemar makan daging babi. Di daerah tropis dan subtropis
frekuensi trikinosis sedikit (tri a & widya d, 2009).
infeksi pada manusia tergantung pada hilang atau tidak hilangnya penyakit ini
dari babi. Larva dapat dimatikan pada suhu 60-70 derajat celcius, larva tidak mati
pada daging yang diasap dan diasin(tri a & widya d, 2009).

Parasit ini pertma kali ditemukan dalam jaringan manusia sewaktu otopsi pada
permulaan tahun 1800-an, baru pada tahun 1860 freidrich von zenker menyimpulkan
bahwa infeksi disebabkan karena makan sosis mentah. Beberapa tahun kemudian,
dibuktikan seccara eksperimental bahwa trichinosis secara pasti diketahui merupakan
mesalah kesehatan masyarakat (Tri A & Widya D, 2009).

C. Siklus hidup

Infeksi pada manusia dimulai dengan memakan daging babi, beruang, singa
laut (walrus) atau daging mamalia lainnya (karnivora dan omnivora), baik yang
mentah atau dimasak secarra tidak sempurna. Daging tersebut mengandung kista
berisi larva infektif yang masih hidup. Setelah kista masuk kedalam lambung, terjadi
ekskistasi dan larva yang keluar kemudian masuk kedalam mukosa usus menjadi
dewasa. Pada hari keenam setelah infeksi, cacing betina mulai mengeluarkan larva
motil. Pengeluaran larva ini berlangsung terus hingga sekitar 4 minggu. Jumlah larva
yang dihasilkan dapat mencapai 1350-1500 ekor. Larva-larva ini kemudian bergerak
ke pembuluh darah, mengikuti aliran darah dan limfe menuju jantung dan paru-paru,
akhirnya menembus otot. Otot-otot yang sangat aktif akan terinvasi, termasuk
diafragma, otot laring, rahang, leher dan tulang rusuk, biceps, gastrocnemius, dan
lain-lain (Tri A & Widya D, 2009).

D. Patofisiologi
Gejala trichinosis tergantung pada beratnya infeksi disebabkan oleh cacing
stadium dewasa dan stadium larva. Pada saat cacing dewasa mengadakan invasi ke
mukosa usus, timbul gejal usus sepertiskit perut diare, mual dan muntah. Masa tunas
gejala usus ini kira-kira 1-2 hari sesudah infeksi (Tri A & Widya D, 2009).
Larva tersebar di otot kira-kira 7-28 hari sesudah infeksi. Pada saat ini timbul
gejala nyeri otot (mialgia) dan randang otot (miositis) yang disertai demem,
eusinofilia dan hipereosinofilia (Tri A & Widya D, 2009).
Gejala yang disebakan oleh stadium larva tergantung juga pada alat yang
dihinggapi misalnya, dapat menyebabkan sembab sekitar mata, sakit persendian,
gejala pernafasan dan kelemahan umum. Dapat juga menyebabkan gejala akibat
kelainan jantung dan susunan saraf pusat bila larva t.spiralis tersebar di alat-alat
tersebut. Bila masa akut telah lalu, biasanya penderita sembuh secara perlahan-lahan
bersamaan dengan dibentuknya kista dalam otot (Tri A & Widya D, 2009).
Pada infeksi berat (kira-kira 5.000 ekor larva/kg berat badan) penderita
mungkin meninggal dalam waktu 2-3 minggu, tetapi biasanya kematian terjadi dalam
waktu 4-8 minggu sebagai akibat kelainan paru, kelainan otak, atau kelainan jantung
(Tri A & Widya D, 2009).
E. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan serologis dilakukan dengan teknik bentonite flocculation test
(btf) dan elisa. Pada pemeriksaan hematologis, eosinofilia darah tepi minimal
mencapai 20%. Pemeriksaan radiologik juga dapat membantu menunjukkan adanya
kista pada jaringan atau organ penderita (Tri A & Widya D, 2009).
F. Penatalaksanaan
Sampai sekarang obat yang digunakan dan paling efektif adalah thiabendazole.
Corticosteroid dan analgesik bisa juga diberikan untuk meringankan gejala (Tri A &
Widya D, 2009).
G. Pencegahan
Daging yang hendak dikonsumsi sebaiknya selalu diperiksa lebih dahulu,
terutama daging babi. Dan masak daging baik-baik sebelum dihidangkan untuk
dimakan (Tri A & Widya D, 2009).

Sumber : tri a & widya d, 2009, trichinella spiralis cacing yang menginfeksi otot, staf
loka litbang p2b2 banjarnegara, balaba, vol 5, no 01, jun 2009 : 24-25. Di akses pada
tanggal 21 desember 2014
<http://www.comed.uobaghdad.edu.iq/uploads/lectures/microbiology/dr.suha/trichinel
la%20spiralis%20(dr.suha).pdf >