Anda di halaman 1dari 5

3.

BAB 1 PENDAHULUAN Fisika zat padat adalah ilmu yang mempelajari secara spesifik
mengenai Kristal danelektron di dalam kristal. Pengetahuan tentang kristal mulai ditekuni
pada Awal abad ke-19yang diikuti dengan ditemukannya difraksi sinar-X. Dengan
Menggunakan difraksi X dandilandasi oleh landasan teoritis yang memadai serta
dikemukakannya perhitungan yangsederhana dan perkiraan yang tepat dapat mempelajari
struktur kristal. Istilah "kristal" memiliki makna yang sudah ditentukan dalam ilmu material
dan fisikazat padat, dalam kehidupan sehari-hari "kristal" merujuk pada benda padat
yangmenunjukkan bentuk geometri tertentu. Berbagai bentuk kristal tersebut dapat ditemukan
dialam. Bentuk-bentuk kristal ini bergantung pada jenis ikatan molekuler antara atomatomuntuk menentukan strukturnya. Bunga salju, intan, dan garam dapur adalah contohcontohkristal. Kristal adalah suatu padatan yang atom, molekul, atau ion penyusunnya
terkemassecara teratur dan polanya berulang melebar secara tiga dimensi. Secara umum, zat
cairmembentuk kristal ketika mengalami proses pemadatan. Pada kondisi ideal, hasilnya
bisaberupa kristal tunggal, yang semua atom-atom dalam padatannya "terpasang" pada kisi
ataustruktur kristal yang sama, tapi, secara umum, kebanyakan kristal terbentuk secara
simultansehingga menghasilkan padatan polikristalin. Misalnya, kebanyakan logam yang kita
temuisehari-hari merupakan polikristal. Struktur kristal mana yang akan terbentuk dari suatu
cairantergantung pada kimia cairannya sendiri, kondisi ketika terjadi pemadatan, dan
tekananambien. Proses terbentuknya struktur kristalin dikenal sebagai kristalisasi. Kristal
logamkristal dengan kisi yang terdiri atas atom logam yang terikat melalui ikatan logam.
Atomlogam merupakan atom yang memiliki energi ionisasi kecil sehingga elektron
valensinyamudah lepas dan menyebabkan atom membentuk kation. Bila dua atom logam
salingmendekat, maka akan terjadi tumpah tindih antara orbital-orbitalnya sehingga
membentuksuatu orbital molekul. Semakin banyak atom logam yang saling berinteraksi,
maka akansemakin banyak terjadi tumpang tindih orbital sehingga membentuk suatu orbital
molekulbaru. Terjadinya tumpang tindih orbital yang berulang-ulang menyebabkan elektronelektronpada kulit terluar setiap atom dipengaruhi oleh atom lain sehingga dapat bergerak
bebas didalam kisi.

4. Salah satu sifat kristal logam adalah dapat ditempa. Sifat ini diperoleh dari ikatan logam
yangmembentuknya. Dalam ikatan logam, terjadi interaksi antara atom/ion dengan elektron
bebasdi sekitarnya sehingga dapat membuat logam mempertahankan strukturnya bila
diberikansuatu gaya yang kuat.

5. BAB II ELEKTRON DALAM LOGAM I (MODEL ELEKTRON BEBAS) Logam


memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, misalnya besi dalamproduksi
otomobil, tembaga untuk penghantar listrik dan lain-lain. Umumnya, logammemiliki sifat
kekuatan fisik tinggi, kerapatan tinggi, konduktivitas listrik dan termal baik,dan daya refleksi
tinggi. Sifat ini berkaitan dengan struktur mikroskopis bahan, yang dapatdiasumsikan bahwa
suatu logam mengandung elektron bebas, dengan konsentrasi besar, yangdapat bergerak
dalam keseluruhan volume kristal. Saat atom bebas membentuk logam, semua elektron
valensi menjadi elektronkonduksi dalam logam. Elektron konduksi bergerak bebas di antara
ion, sehinggakeadaannnya berubah tajam. Berbeda dengan elektron cores yang tetap
terlokalisasisehingga karakternya relatif tidak berubah. Dengan demikian, gambaran
sederhana tentangkristal logam adalah suatu kisi ion teratur dalam ruang, dan elektron bebas
bergerak di antaraion tersebut. Gambaran lebih lengkapnya, bahwa ion bergetar secara termal
di sekitar titiksetimbang, dan demikian pula elektron bebas bergerak termal di antara ion
kristal danmerubah arah geraknya setiap kali menumbuk ion (kemungkinan besar) atau
elektron lain(kemungkinan kecil). Dalam logam Na, proporsi volume yang terisi oleh ion
cores hanya sekitar 15%.Hal ini terjadi karena radius ion Na+ adalah 0,98 ; sedangkan
setengah jarak antartetanggaterdekat atom adalah 1,83 . Konsentrasi elektron konduksi
dapat dihitung dari valensi dankerapatan logam. Jika m dan Z, masing-masing adalah
kerapatan bahan dan valensi atom,maka konsentrasi elektronnya adalahdengan N adalah
bilangan Avogadro dan M adalah berat atom. Logam memiliki konsentrasielektron yang
besar, yakni n = 1029/m3. Misalnya, logam Na, K, Cu, Ag dan Au adalahmonovalen; dan
logam Be, Mg, Zn dan Cd adalah divalen. Bagian awal bab ini membahas perkembangan
model elektron bebas. Bahasankapasitas panas dan suseptibilitas magnetik dari sumbangan
elektron menunjukkan bahwa

6. yang sesuai dengan eksperimen adalah hanya jika elektron mengikuti prinsip eksklusi
Pauli.Kemudian, dikenalkan konsep tingkatan Fermi dan permukaan Fermi, yang dapat
digunakanuntuk memperjelas deskripsi konduktivitas listrik dalam logam. Dalam bab ini juga
dibahas pengaruh medan magnet terhadap gerakan elektron bebas,yakni efek Hall dan
resonansi siklotron. Bahasan kedua hal ini menghasilkan informasi yangmendasar tentang
logam. Dalam model elektron bebas ini elektron mengalami tumbukan dengan fonon
danketidakmurnian. Hal ini menghasilkan ungkapan hukum Matthiessen. Selain itu,
elektrondapat melepaskan diri dari permukaan logam sehingga terjadi emisi thermionik.

Akhirnya,bab ini ditutup dengan dikemukakannya beberapa kegagalan model elektron bebas
dalammembahas sifat logam.

7. MODEL ELEKTRON BEBAS KLASIK Teori Drude tentang Elektron dalam Logam
Drude (1900) mengandaikan bahwa dalam logam terdapat elektron bebas, yangmembentuk
sistem gas elektron klasik, yang bergerak acak dalam kristal dengan kecepatanrandom vo
karena energi termal dan berubah arah geraknya setelah bertumbukan dengan ionlogam.
Karena massanya yang jauh lebih besar, maka ion logam tidak terpengaruh dalamtumbukan
ini. Kehadiran medan listrik dalam logam hanya mempengaruhi gerak keseluruhanelectron
karena ion-ion tertata berjajar dan bervibrasi di sekitar titik kisi sehingga tidakmemiliki neto
gerak translasi. Misalnya, terdapat medan listrik dalam arah sumbu-X.Percepatan elektron
yang timbuldengan e dan m*, masing-masing adalah muatan dan massa efektif elektron. Jika
waktu rata-rata antara dua tumbukan elektron dan ion adalah , maka kecepatan hanyut dalam
selangwaktu tersebutOleh karena itu rapat arus yang terjadidimana penjumlahan dilakukan
terhadap semua elektron bebas setiap satuan volume.Elektron bergerak secara acak, sehingga
vo=0. Oleh sebab itu menjadiKarena hubungan Jx=, maka konduktivitas listrik
menjadiPengukuran menunjukkan bahwa nilai rata-rata logam sekitar 5.107(m)-1
denganmenganggap masa efektif m* sama dengan massa bebas mo=9,1.10-31kg, maka
didapatkannilai berorde 10-14 s. Contoh analisa lain adalah konduktivitas termal. Misalnya,
sepanjangsumbu- X terdapat gradien suhu T/x, maka akan terjadi aliran energi persatuan
luas

8. perdetik (arus kalor) Qe. Berdasarkan eksperimen arus kalor Qe tersebut sebanding
dengangradien suhu T/x Qe = -K T/xdengan K adalah konduktivitas termal. Dalam
isolator, panas dialirkan sepenuhnya olehfonon. Sedangkan dalam logam dialirkan oleh fonon
dan elektron. Tetapi karena konsentrasielektron dalam logam sangat besar, maka
konduktivitas termal fonon jauh lebih kecildaripada elektron, yakni Kfonon10-2K elektron,
sehingga konduktivitas fonon diabaikan.Dari pendekatan teori kinetik gas diperoleh ungkapan
konduktivitas termaldimana CV, v dan masing-masing adalah kapasitas panas elektron
persatuan volume,kecepatan partikel rata-rata dan lintas bebas rata-rata partikel. Karena CV
=(3/2)nk, (1/2)mv2=(3/2)kT dan =v , maka konduktivitas menjadiPerbandingan konduktivitas
termal dan listrik adalahHal ini sesuai dengan penemuan empirik oleh Wiedemann-Frans
(1853). Kadangkadangperbandingan di atas dinyatakan sebagai bilangan LorentzTernyata,
hukum Wiedemann-Frans sesuai dengan pengamatan untuk suhu tinggi (termasuksuhu kamar)

dan suhu sangat rendah (beberapa K). Tetapi, untuk suhu intermediate, K/Tbergantung
pada suhu.Dalam teori drude, lintas bebas rata-rata elektron bebas, = vo, tidak bergantung
suhu.Namun, karena vo~T1/2, maka keadaan mengharuskanHal ini didukung fakta
eksperimen bahwa ~T-1, sehingga dari ungkapan konduktivitas listrikdidapatkanUngkapan
terakhir ini menunjukkan bahwa bila T naik, maka n menurun. Hal ini tidak sesuaidengan
fakta, dan menyebabkan teori Drude tidak memadai.

9. Model Elektron Bebas Klasik Model elektron bebasa klasik tentang logam mengambil
andaian berikut. a. Kristal digambarkan sebagai superposisi dari jajaran gugus ion positip
(yang membentuk kisi kristal) dan elektron yang bebas bergerak dalam volume kristal. b.
Elektron bebas tersebut diperlakukan sebagai gas, yang masing-masing bergerak secara acak
dengan kecepatan termal (seperti molekul dalam gas ideal tidak ada tumbukan, kecuali
terhadap permukaan batas). c. Pengaruh medan potensial ion diabaikan, karena energi kinetik
elektron bebas sangat besar. d. Elektron hanya bergerak dalam kristal karena adanya
penghalang potensial di permukaan batas.Misalnya, setiap atom memberikan ZV elektron
bebas, maka jumlah total elektron tersebutperkilomolBila elektron berperilaku seperti dalam
gas ideal, maka energi kinetik totalnyasehingga kapasitas panas sumbangan elektron
bebasKapasitas panas total dalam logam, termasuk sumbangan oleh fonon, adalahJadi,
setidaknya kapasitas panas logam harus 50% lebih tinggi daripada isolator. Tetapi,eksperimen
menunjukkan bahwa untuk semua bahan padatan (logam dan isolator) nilai CVmendekati 3R
pada suhu tinggi. Pengukuran yang akurat menunjukkan bahwa sumbanganelektron bebas
terhadap kapasitas panas total adalah reduksi harga klasik (3/2)R oleh factor10-2. Oleh karena
itu model elektron bebas klasik tidak memberikan hasil ramalan Cv yangmemadai.
Suseptibilitas magnetik mengkaitkan momen magnetik M dan kuat medanmagnetik H
melalui ungkapan

10. Dalam hal ini hanya dibahas untuk bahan isotropik, sehingga skalar. Pengaruh
medanmagnet luar terhadap elektron bebas menyebabkan setiap momen dipol , yang
acakarahnya, memperoleh energi magnetikJika distribusi momen dipol elektron bebas
memenuhi statistik Maxwell-Boltzmann, maka momen dipol rata-rata dalam arah medan
memenuhiDimana adalah sudut antara dan H.dengan L(x)=coth x (1/x) = fungsi
LangevinDengan menggunakan deretmaka untuk medan H tidak kuat, yakni H<<kT momen
dipol rata-rata tersebut berhargaJika jumlah momen dipol magnet adalah N, maka
magnetisasinyaDengan membandingkan persamaan-persamaan diperoleh suseptibilitas

magnetikTetapi, eksperimen tidak menunjukkan adanya kebergantungan terhadap T. Hal ini


berartimodel elektron bebas klasik tidak dapat menerangkan tentang mengapa untuk
paramagnetelektron tidak bergantung pada T.

11. BAB III PENUTUPA. Kesimpulan Dari hasil yang dibahas diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa kristal adalah suatu padatan yang atom, molekul, atau ion penyusunnya
terkemas secara teratur dan polanya berulang melebar secara tiga dimensi. Secara umum, zat
cair membentuk kristal ketika mengalami proses pemadatan. Berbagai bentuk kristal tersebut
dapat ditemukan di alam. Bentuk-bentuk kristal ini bergantung pada jenis ikatan molekuler
antara atom-atom untuk menentukan strukturnya. Bunga salju, intan, dan garam dapur. Dalam
logam terdapat elektron bebas, yang membentuk sistem gas elektron klasik, yang bergerak
acak dalam kristal dengan kecepatan random vo karena energi termal dan berubah arah
geraknya setelah bertumbukan dengan ion logam. Karena massanya yang jauh lebih besar,
maka ion logam tidak terpengaruh dalam tumbukan ini. Hukum Wiedemann-Frans sesuai
dengan pengamatan untuk suhu tinggi (termasuk suhu kamar) dan suhu sangat rendah
(beberapa K). Tetapi, untuk suhu intermediate, K/T bergantung pada suhu.B. Saran Dari
kesimpulan diatas maka diharapkan para pembaca lebih mengetahui apa itu elktron dalam
logam, elektron bebas klasik dan hukum wiedemann. Namun wacana ini hanya sebagian kecil
dari materi zat padat. Jadi untuk lebih mengetahui dengan lanjut tentang materi fisika zat
padat, hendaknya membaca berbagai referensi agar lebih memahami.