Anda di halaman 1dari 2

Kekurangan

Pada sebuah industri pasti terdapat kekuatan dan kelemahan baik yang disembunyikan
atau yang sudah jelas diketahui masyarakat. Begitu juga yang terjadi pada sebuah industri
sebesar PT. Sido Muncul. Menjadi produsen jamu terbesar di Indonesia dengan begitu banyak
kelebihan, ternyata terdapat beberapa kelemahan yang masih ditemukan.
Dari segi lingkungan perusahaan, pada tempat penyimpanan gudang simplisia kebersihan
masih kurang mendetail misalnya, adanya sarang laba-laba dan ibu-ibu pekerja yang mensortir
alang-alang duduk di lantai. Terdapat devisi yang masih tergolong kawasan kotor. Memang
bagus adanya perlombaan untuk menentukan mana kawasan yang bersih dan kotor, namun
sebaiknya semua kawasan dapat bersih seluruhnya.
Dari segi rantai pemasok bahan baku juga masih tergolong sangat panjang dan tidak
efisien. Boros waktu dan dapat menurunkan mutu bahan baku itu sendiri. Oleh karena itu, perlu
adanya pemutusan rantai pasokan agar perusahaan langsung mendapat bahan baku dari
petaninya. Di samping memangkas biaya dapat pula mengontrol mutu dan keamanan bahan
pangan. Karena produk yang layak dikonsumsi bermula dari bahan baku yang layak diproduksi.
Citra produk jamu selama ini masih dikonotasikan sebagai produk kuno yang hanya
dinikmati oleh orang tua. Kekurangan dari segi produk, terdapat pada macam produk yang
dilepas di pasaran. Memang lahirnya sebuah produk bermula dari keluhan konsumen untuk dapat
mengkonsumsi jamu yang praktis, tidak pahit, beragam rasa, beragam bentuk dan berkhasiat.
Jawaban atas keluhan konsumen mampu ditanggapi dengan munculnya produk yang terusmenerus mengikuti permintaan konsumen dan semakin meluaskan sasaran penjualan. Namun
masih belum bisa seutuhnya memasuki konsumsen kalangan muda contohnya hanya produk

tolak angin cair dan permen tolak angin yang dapat diterima baik oleh kalangan muda. Produk
dari jamu belum bisa mengubah pola pikir dan gaya hidup kaum muda. Produk jamu belum bisa
membuat inovasi produk pangan yang lebih bersifat kekinian dari segi rasa, bentuk, dan
kemasan. Karena mayoritas masyarakat Indonesia adalah kaum muda yang dapat merubah tren
dengan cepat dan lebih efektif.
Tidak banyak persaingan di dalam negeri antar produsen jamu, justru persaingan berat
ada pada pesaing dari luar negeri. Industri jamu lebih mengutamakan untuk meningkatkan
kepercayaan konsumen akan jamu sebagai obat herbal yang minim efek samping dibandingkan
dengan obat-obatan kimia yang diimpor, apalagi dengan adanya ACFTA (perjanjian perdagangan
bebas ASEAN-China).

Dalam kompetisi ini harus ditanggapi dengan perbaikan kondisi

eksternal dan internal perusahaan dengan rumusan strategi yang tepat untuk dapat terus bertahan
menjadi market leader.