Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sinar x merupakan salah satu jenis radiasi pengion yang
banyak digunakan dalam dunia kedokteran. Sifat sinar-x yang mampu
menembus objek bermanfaat untuk mengetahui kelainan fisik dan
fungsi suatu organ yang tidak dapat dilihat dari luar. Kemampuan
sinar-x menembus objek dapat dipengaruhi oleh kerapatan jaringan,
ketebalan objek serta nomor atom objek yang difoto.Untuk organ yang
memiliki ketebalan jaringan dan kerapatan jaringan yang hampir
sama,

dalam

pemeriksaan

dengan

sinar-x

akan

sulit

dibedakan,seperti pemeriksaan organ-organ traktus urinaria. Maka


dari itu untuk mendapatkan gambaran yang baik dengan informasi
diagnostik yang optimal dapat dilakukan pemeriksaan dengan
menggunakan media kontras.
Traktus urinarius merupakan salah satu sistem tubuh yang
memiliki organ-organ kompleks yang rentan terhadap penyakit khususnya
pada organ Vesica urinaria yang menggunakan teknik pemeriksaan cystografi.
Definisi dari teknik cystografi adalah Teknik atau prosedur pemeriksaan urinary
bladder (blass) setelah memasukkan media kontras melalui kateter dengan
menggunakan sinar-x untuk menegakkan diagnosa. (merills 2009)
Terdapatnya kelainan pada suatu organ akan mengganggu
proses pembentukan dan pengeluaran dari urine. Salah satu
kelainan pada traktus urinarius adalah Retensi urin. Retensi urin
1

adalah suatu keadaan penumpukan urine di kandung kemih dan


tidak mempunyai kemampuan untuk mengosongkannya secara
sempurna. Retensi urine adalah kesulitan miksi karena kegagalan
urine dari vesika urinaria. (Kapita Selekta Kedokteran). Terdapatnya
suatu kelainan atau penyakit (sebab patologis) pada sistem urinaria
ini dapat didiagnosa melalui beberapa pemeriksaan. Salah satunya
pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan radiologi yang digunakan untuk
melihat adanya kelainan pada kandung kemih adalah pemeriksaan
cystography. Tujuan dari pemeriksaan cystography sendiri adalah
untuk memperlihatkan patologi ,struktur kandung kemih, struktur
infravesika, dan organ sekitarya.
Secara teori ada tiga proyeksi yang digunakan pada
pemeriksaan

cystography

yaitu

AP(Antero

Posterior)

Obliq(RPO/LPO) dan Lateral. (Bontrager, 2010). Di RSUD Kardinah


pemeriksaan cystography dilakukan dengan menggunakan proyeksi
dasar AP dan Obliq (RPO/LPO) saja. Namun pada proyeksi AP tidak
dilakukan adanya penyudutan arah sinar.
Adanya perbedaan antara teori dengan praktek kerja
lapangan yang dilakukan di Instalasi radiologi RSUD Kardinah , maka
penulis tertarik untuk membahasnya lebih lanjut dalam sebuah
laporan

kasus

yang

berjudul

TEKNIK

PEMERIKSAAN

CYSTOGRAPHY DENGAN INDIKASI CYSTITIS DI INSTALASI


RADIOLOGI RSUD KARDINAH

B.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis
merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana teknik pemeriksaan cystography dengan indikasi
cystysis di Instalasi Radiologi RSUD Kardinah?
2. Mengapa pemeriksaan cystography dengan indikasi cystysis
pada proyeksi AP arah sinar tidak disudutkan?

C.

Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan laporan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui teknik pemeriksaan cystography dengan
indikasi cystisis.
2. Untuk mengetahui alasan tidak dilakukannya penyudutan arah
sinar pada pemeriksaan cystografi dengan indikasi cystisis.
3. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktek Kerja
Lapangan II (PKL II) di RSUD Kardinah pada tanggal 9 Juni
2014 s.d. 19 Juli 2014.

D.

Sistematika Penulisan
Untuk memepermudah memahami tulisan ini, maka penuls
menyusun sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Berisi latar belakang, tujuan penulisan, rumusan masalah dan
sistematika penulisan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Berisi landasan teori meliputi anatomi

dan fisiologi,

tractus Urinarius, teknik pemeriksaan Cystography.


BAB III PEMBAHASAN
Berisi tentang paparan kasus, riwayat pasien
pembahasannya.
3

patologi

beserta

BAB IV PENUTUP
Berisi kesimpulan dan saran
Daftar Pustaka
Lampiran

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.

Anatomi dan Fisiologi Tractus Urinarius


Tractus urinarius adalah suatu sistem pembentukan urin
mulai dari ginjal sampai dengan uretra. Sistem Urinaria juga
merupakan suatu sistem dimana terjadi proses penyaringan darah
sehingga darah bersih dari zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh
dan menyerap zat zat yang masih diperlukan oleh tubuh.

Gambar 1..Sistem Urinaria (Bontrager, 2001)


Sistem urinaria terdiri dari :
1. Ginjal, yang menyaring sekret urine,
4

2. Ureter, yang menyalurkan urine dari ginjal ke kandung kencing,


3. Kandung kencing, yang bekerja sebagai penampung urine dan,
4. Uretra , yang mengeluarkan urine dari kandung kencing.

Gambar 2. Posisi ginjal dari sisi depan dan samping


a. Ginjal
Ginjal disebut juga dengan Ren/Kidney, terletak
disepertiga bagian belakang dari cavum abdominalis dan
melekat pada dinding belakang rongga abdomen. Bentuk
ginjal seperti biji kacang dengan margo lateral berbentuk
konvek dan margo medialnya berbentuk konkav. Dengan
jumlah 2 buah kanan dan kiri dimana ginjal bagian kanan
lebih rendah dari pada ginjal kiri karena adanya tekanan dari
hepar. Letak ginjal kanan setinggi lumbal satu sedangkan
letak dari ginjal kiri setinggi thorakal XI dan XII. Ginjal
panjangnya sekitar 12 sampai 13 cm dengan lebar 6 cm,
tebal 3,75 cm dan berat 120 150 gram.
Struktur ginjal dibungkus oleh selaput tipis yang
disebut kapsul renalis yang terdiri dari jaringan Fibrosa yang
berwarna ungu tua, pada lapisan luar terdapat lapisan
korteks dan lapisan sebelah dalam bagian medulla yang
berbentuk kerucut disebut renal piramid. Puncak kerucut
menghadap kaliks yang terdiri dari lubang lubang kecil
5

yang disebut papilla renalis. Tiap tiap renalis antara yang


satu dengan yang lainnya dilapisi oleh kolumna renalis,
jumlah renalis kurang lebih 15 16 buah. Garis garis yang
terlihat pada piramid disebut tubulus nefron yang merupakan
bagian terkecil dari ginjal yang terdiri dari glumerolus.
Tubulus proksimal, lengkung henle, tubulus distal dan
tubulus urinarius.

Gambar 3. Gambar Ginjal dan Sistem Kalisis


Struktur atau bagian-bagian ginjal:
1) Hilus (hilum) adalah tingkat kecekungan tepi media ginjal.
2) Sinus ginjal, adalah rongga yang berisi lemak yang
membuka

pada hilus. Sinus ini membentuk perlekatan

untuk jalan keluar dan masuk ureter, vena dan arteri


renalis, saraf dan limfatik.
3) Pelvis ginjal, adalah perluasan ujung proksimal ureter.
Ujung ini berlanjut menjadi dua sampai tiga kaliks mayor,
yaitu rongga yang mencapai glandular, bagian penghasil
urine pada ginjal. Setiap kaliks mayor bercabang menjadi
beberapa kaliks minor.

4) Parenkim ginjal, adalah jaringan ginjal yang menyelubungi


struktur sinus ginjal. Jaringan ini terbagi menjadi medulla
dalam dan korteks luar.
a) Medulla, terdiri dari massa-massa triangular yang
disebut piramida ginjal. Ujung yang sempit dari setiap
paramida, papilla, masuk dengan pas dalam kaliks
minor dan ditembus mulut duktus pengumpul urine.
b) Korteks, tersusun dari tubulus dan pembuluh darah
nefron yang merupakan unit struktural dan fungsional
ginjal. Korteks terletak didalam diantara piramidapiramida
membentuk

medulla

yang

bersebelahan

untuk

kolumna ginjal yang terdiri dari tubulus-

tubulus pengumpul yang mengalir ke dalam duktus


pengumpul.
5) Lobus ginjal, setiap lobus ginjal terdiri dari satu piramida
ginjal, kolumna yang saling berdekatan, dan jariingan
korteks yang melapisinya.
Jaringan ikat Pembungkus ginjal:
a) Fasia renal, adalah pembungkus terluar. Pembungkus
ini melabuhkan ginjal pada struktur disekitarnya dan
mempertahankan posisi organ.
b) Lemak parirenal, merupakan jaringan adiposa yang
terbungkus fasia ginjal. Jaringan ini membantali ginjal
dan membantu organ tetap pada posisinya.
c) Kapsul fibrosa, merupakan membran halus transparan
yang langsung membungkus dan dapat dengan
mudah dlepas.
Fungsi ginjal:
Pengeluaran zat sisa organik.

Memegang peranan penting dalam pengeluaran zat


zat toksin atau racun. Ginjal mengekskresi urea,
asam

urat,

kreatinin,

dan

produk

penguraian

hemoglobin dan hormon.


Pengaturan konsentrasi ion-ion penting.
Ginjal mengekskresi ion natrium, kalium, kalsium,
magnesium, sulfat, dan fosfat. Ekskresi ion-ion ini
seimbang dengan asupan dan ekskresinya melalui
rute lain, seperti pada saluran gastrointestinal dan
kulit.
Pengaturan keseimbangan asam basa tubuh.
Mempertahankan keseimbangan asam dan basa
dari cairan tubuh. Ginjal mengendalikan ekskresi
ion hidrogen, bikarbonat, dan amonium, serta
memproduksi urine asam atau basa, bergantung
pada kebutuhan tubuh.
Pengaturan sel produksi sel darah merah.
Ginjal melepas eritropoietin, yang mengatur
produksi sel darah merah dalam sumsum tulang.
Pengaturan tekanan darah.
Ginjal mengatur volume cairan yang esensial bagi
pengatuuan tekanan darah dan juga memproduksi
enzim renin. Renin merupakan komponen penting
dalam mekanisme renin-angiostensin-aldosteron,
yang meningkatkan tekanan darah dan retensi air.
Pengendalian terbatas terhadap konsentrasi
glukosa darah dan asam amino darah.

Ginjal melalui ekskresi glukosa dan asam amino


berlebih, bertanggung jawab atas konsentrasi
nutrien dalam darah.
Pengeluaran zat beracun.
Ginjal mengeluarkan polutan, zat tambahan
makanan, obat-obatan, atau zat kimia asing lain
dari tubuh.
Mengeluarkan sisa metabolism.
Hasil akhir dari protein ureum, berupa kreatinum
dan amoniak.
b. Ureter

Gambar.4.Ureter dengan 3 bagian penyempitan (Bontrager, 2001)


Ureter

adalah

lanjutan

dari

renal

pelvis

yang

panjangnya antara 10 sampai 12 inchi (25-30 cm), dan


diameternya sekitar 1 mm sampai 1 cm. Letaknya menurun
dari

ginjal

sepanjang

bagian

belakang

dari

rongga

peritoneum dan di depan dari muskulus psoas dan prosesus


transversus dari vertebrae lumbal dan berjalan menuju dan
belakang serta di depan dari sayap os sakral, kemudian

melengkung pada bagian anterior dan medialnya dan


selanjutnya masuk ke kandung kemih melalui bagian
posterior lateral. Ureter dapat dibagi menjadi tiga bagian
yaitu :
1)

Uretropelvic

junction, yaitu ureter bagian proksimal mulai dari renal


pelvis sampai bagian ureter yang mengecil.
2)

Pelvic Brim,
yaitu

ureter

yang

bermula

dari

sisi

pelvis

yang

berpotongan antara pembuluh darah iliaka dengan


uterus.
3)

Uretrovesica
l junction, yaitu ujung ureter dan masuk ke dalam vesika
urinaria.
Fungsi ureter :
a) Membawa urine dari ginjal (renal pelvis ginjal) ke
kandumg kemih secara gerakan ritmik atau
peristaltik.
b) Lapisan otot ureter memiliki aktivitas peristaltik
intrinsik yang dapat mengalirkan urine dari
kandung kemih keluar tubuh.

c. Kandung Kemih

Gambar 5

vesica

urinary dari

sisi lateral

10

Gambar 6 vesica urinary dari sisi depan


Kandung kemih adalah muskulus membran yang
berbentuk kantong yang merupakan tempat penampungan
dari urine yang dihasilkan oleh ginjal. Letaknya sekitar
bagian posterior dan superior dari simpisis pubis. Bagian
fundus (bagian inferoposterior dari viskus) berhubungan
dengan rektal ampula pada laki-laki, serta uterus bagian atas
dari kanalis vagina pada wanita. Kandung kemih bervariasi
dalam bentuk, ukuran dan posisi, tergantung dari volume
urine yang ada di dalamnya. Secara umum volume dari
vesika urinaria adalah 350-500 ml.
Letaknya sekitar bagian posterior dan superior dari simpisis
pubis. Bagian bagian dari vesika urinaria:
1)
Fundus, yaitu bagian yang menghadap
kearah belakang dan bawah, bagian ini terpisah dari
rektum oleh spatiom rectovesicale yang terisi oleh
jaringan ikat ductus different vesica seminalis dan
prostat
11

2)

Corpus, yaitu bagian antara vertex dan


fundus

3)

Vertex, yaitu bagian yang meruncing kearah


muka dan berhubungan dengan ligamentum vesico
umbilicalis.
Dinding Vesica Urinaria terdiri dari lapisan sebelah luar
yaitu peritonium, tunika muskularis (lapisan otot), tunika
submukosa dan lapisan bagian dalam yaitu lapisan
mukosa. VU bervariasi dalam bentuk, ukuran dan
posisinya. Volume dari urin adalah 300 500 ml.
Fungsi dari VU adalah sebagai reservoa atau tempat
penampungan sementara sebelum dikeluarkan melalui
uretra.
Struktur kandung kemih:
a) Dinding, terdiri dari 4 lapisan.
Serosa, adalah lapisan terluar.

Lapisan

ini

merupakan perpanjangan lapisan peritoneal rongga


abdominopelvis dan hanya ada dibagian atas
pelvis.
Otot detrusor, adalah lapisan tengah. Lapisan ini
tersusun dari berkas-berkas otot polos yang satu
sama lain saling membentuk sudut, ini untuk
menandakan bahwa selama urinasi kandung kemih
akan berkontraksi dengan serempak kesegala
arah.
Submukosa, adalah lapisan jaringan ikat yang
terletak dibawah mukosa dan menghubungkannya
dengan muskularis.
12

Mukosa, adalah lapisan terdalam. Lapisan ini


merupakan lapisan epitel yang tersusun dari
epitelium tradisional. Pada kandung kemih yang
relaks, mukosa membentuk rugae (lipatan-lipatan),
yang akan memipih dan mengembang saat urine
berakumulasi dibagian dalam kandung kemih.
b) Trigonum, adalah area halus, triangular, dan relatif
tidak dapat berkembang yang terletak secara
internal dibagian dasar kandung kemih.
Fungsi kandung kemih:
Sebagai reservoir atau tempat penampungan
sementara dari urine sebelum dibuang melalui
uretra.
Dibantu

uretra,

kandung

kemih

berfungsi

mendorong kemih keluar tubuh.


d. Uretrha
Adalah saluran sempit yang terdiri dari membrana
mukosa dengan muskulus yang berbentuk spinter pada
bagian bawah dari VU. Letaknya agak ke atas orivisium
internal dari uretra pada VU, yang terbentang sepanjang 1,5
inchi (3,75 cm) pada wanita dan 7 8 inchi (18,75 cm) pada
pria.
1) Ujung penis dibagi atas:
a) Pars Prostatika , panjangnya 2,5cm bermuladari VU
sampai dasar pelvis dan diselubungi oleh prostat.
b) Pars Membrana berupa saluran berjalan melalui dasar
pelvis dan panjangnya 0,5 inchi (1,25 cm)
c) Pars Kavernosa berjalan melalui pertengahan pelvis dan
terbentang menuju bagian orivisium uretra.
13

Pars membran dan pars kavernosa pada uretra laki-laki


juga berfungsi sebagai saluran ekskresi dari sistem
reproduksi.
2) Urethra Pada Laki-laki.
Uretra membawa cairan semen dan urine, tetapi tidak
pada waktu yang bersamaan. Uretra laki-laki panjangnya
mencapai 20 cm dan melalui kelenjar prostat dan penis.
Uretra pada laki-laki terdiri dari:
a) Uretra prostatik.
Dikelilingi oleh kelenjar prostat. Uretra ini menerima 2
duktus ejakulator yang masing-masing terbentuk dari
penyatuan duktus deferen dan duktus kelenjar vesikal
semina, serta menjadi tempat bermuara sejumlah duktus
dari kelenjar prostat.
b) Uretra membranosa.
Merupakan bagian yang terpendek (1 sampai 2 cm).
Bagian ini berdinding tipis dan dikelilingi otot rangka
sfingter uretra eksternal.
c) Uretra kavernous.
Merupakan bagian yang terpanjang, Bagian ini duktus
kelenjar bulbouretra dan merentang

sampai orifisium

uretra eksternal pada ujung penis. Tepat sebelum mulut


penis, uretra membesar membentuk suatu dilatasi kecil.
Uretra kavernous dikelilingi korpus spongiosum, yaitu
suatu kerangka vena yang besar.
3) Uretra pada perempuan.
Berukuran pendek (3,75 cm). Saluran ini membuka
keluar tubuh melalui orifisium uretra eksternal yang terletak
dalam vestibulum antara klitoris dan mulut vagina. Kelenjar

14

uretra yang homolog dengan kelenjar prostat pada laki-laki,


bermura kedalam uretra.
Panjangnya uretra laki-laki cenderung menghambat invasi
bakteri ke kandung kemih (sistitis) yang lebih sering terjadi
pada perempuan.
4) Fungsi uretra:
untuk transport urine dari kandung kemih ke meatus
eksterna, uretra merupakan sebuah saluran yang berjalan
dari leher kandung kemih hingga lubang air.
e. Perkemihan (urinasi)
Ginjal memproduksi urine yang mengandung zat sisa
metabolik dan mengatur komposisi cairan tubuh melalui tiga
proses utama, yaitu:
1) Filtrasi gromerular
Adalah perpindahan zat cairan dan terlarut dari kapiler
gromelural, dalam gradien tekanan tertentu ke dalam
kapsul bowman. Filtrasi ini dipengaruhi oleh faktor
berikut:
a) Membran

kapiler

gromelural

lebih

permeabel,

sehingga filtrasi berjalan dengan cepat.


b) Tekanan darah dalam gromerular lebih tinggi.
2) Reabsorbsi Tubulus
Sebagian filtrat secara selektif direabsorpsi dalam
tubulus ginjal melalui difus pasif gradien kimia atau listrik,
transport aktif terhadap gradien aktif tersebut, atau difusi
terfasilitasi. Sekitar 85% natrium klorida dan air serta
semua glukosa asam amino pada filtrat glomelurus
diabsorosi dalam tubulus kontortus proksimal.
3) Sekresi Tubular

15

Adalah proses aktif yang memindahkan zat keluar dari


darah dalam kapiler peritubular melewati sel-sel tubular
menuju cairan tubular untuk dikeluarkan dalam urine.
B.

Patologi Cystisis
Sistitis merupakan inflamasi kandung kemih. Inflamasi
tersebut dapat disebabkan oleh infeksi bakteri yang menyebar dari
uretra atau karena respons alergik atau akibat iritasi mekanis
kandung kemih.
1. Patogenesis Sistitis:
Infeksi saluran kemih disebabkan mikroorganisme saluran cerna
(enterobacteriaceae) yang berkembang biak di daerah introitus
vaginae dan urethra anterior dan masuk kedalam kandung kemih
selama miksi. Infeksi saluran kemih lebih sering terjadi pada wanita
dari pada laki-laki, karena mempunyai hubungan dengan faktor
prepitasi dengan faktor lokal.
a. Faktor Prepitasi
1) Urethra lebih pendek.
2) Trauma pada daerah urethra anterior selama partus dan
senggama.
3) Kontaminasi transperineal dari rektum (anus).
4) Pengaruh progestoran selama kehamilan dan pemakaian
kontrasepsi menyebabkan hidroureter dan hidropelvis.
b. Faktor Lokal
1) Jumlah minum dan miksi.
2) Mekanisme pertahanan epitel kandung kemih.
3) Mekanisme humeral kandung kemih.
4) Wanita tidak punya cairan prostat yang besifat bakteriostatik.
5) iralensi mikroorganisme.
2. Etimology (Sebab) Cystisis
1) Bakteri dari vagina bisa berpindah dari urethra ke kandung
kemih. Wanita sering menderita infeksi kandung kemih setelah
melakukan hubungan seksual, kemungkinan karena urethra
16

mengalami cedera pada saat melakukan hubungan seksual.


Kadang infeksi kandung kemih berulang pada wanita terjadi
karena adanya hubungan abnormal antara kandung kemih
dan vagina (fistula vesikovaginal).
2) Infeksi kandung kemih jarang terjadi pada pria dan biasanya
erawal sebagai infeksi urethra yang bergerak menuju prostat
kemudian ke kandung kemih. Selain itu infeksi kadung kemih
bisa terjadi akibat pemasagan kateter atau alat yang
digunakan selama pembedahan.
3) Penyebab tersering dari infeksi kandung kemih berlangsung
ada pria adalah infeksi prostat karena bakteri yang bersifat
menetap. Antibiotik dengan segera akan melenyapkan bakteri
air kemih didalam kandung kemih, tetapi antibiotik tidak dapat
menembus prostat dengan baik sehingga tidak dapat
meredakan infeksi didalam prostat. Karena itu jika pemakaian
antibiotik dihentikan, maka bakteri yang ada didalam prostat
akan cenderung kembali menginfeksi kandung kemih.
4) Hubungan abormal antara kandung kemih dan usus (fistula
vesikoentrik) kadang menyebabkan bakteri pembentuk gas
masuk dan tumbuh didalam kandung kemih, infeksi ini bisa
menyebabkan

timbulnya

gelembung-gelembung

udara

didalam air kemih (pneumaturia).


3. Gejala Cystisis
a. Sering berkemih dan nyeri (disuria) yang disertai darah
b.
c.
d.
e.

dalam urine (hematuria).


Desakan untuk berkemih
Nyeri pada saat melakukan hubungan seksual (dispareunia).
Nokturia (sering berkemih dimalam hari).
Timbul rasa sakit saat buang air kecil.

17

C.

Teknik Pemeriksaan Cystography


1. Pengertian
Pemeriksaan
cystography

adalah

pemeriksaan

radiodiagnostik pada kandung kemih dengan menggunakan media


kontras positif yang dimasukan ke dalam kandung kemih untuk
melihat anatomi, fisiologi dan kelainan-kelainanya.
2. Tujuan
Untuk menampilkan struktur kandung kemih, struktur infra
vesika, dan organ-organ sekitarnya
3. Indikasi dan kontra indikasi
a. Indikasi
1) Tumor vesika urinaria.
Merupakan tumor di vesika urinaria.
2) Retensi urine suatu keadaan penumpukan urine di kandung
kemih

dan

tidak

mempunyai

kemampuan

untuk

mengosongkannya secara sempurna. Retensio urine adalah


kesulitan

miksi

karena

kegagalan

urine

dari

fesika

urinaria. (Kapita Selekta Kedokteran).


3) Divertikel
Pada tempat dimana ureter menembus lapisan otot vesika
urnaria, dapat terjadi divertikel, berupa lekukan ke arah luar,
dikenal sebagai divertikel parostium. Awalnya dari sakula yang
tidak tertangani dan membesar
4) Hipertrofi Prostat
Merupakan pembesarankelenjar prostat
5) Cystsis
Merupakan peradangan atau inflamasi pada kandung kemih
6) Tumor-tumor sekitar Vesica Urinaria
b. Kontra Indikasi
1) Infeksi akut saluran kemih
2) Kehamilan
4. Prosedur pemeriksaan Cystography
a. Persiapan Pasien
Tidak ada persiapan khusus yang dilakukan, hanya saja
beberapa

menit

sebelum

dilakukan

pemeriksaan

pasien

diintruksikan kekamar mandi untuk mengosongkan kandung


18

kemih/buang air kecil. Kemudian pasien/keluarga pasien mengisi


lembar inform consent sebagai tanda persetujuan dilakukannya
pemeriksaan.
b. Persiapan Alat dan Bahan
1) Pesawat sinar X.
2) Kaset ukuran 24 cm x 30 cm
3) Grid dan marker.
4) Media kontras, menggunakan kontras dengan kepekatan
15% sampai 20% dalam larutan NaCl fisiologis sebanyak 150
sampai 250 cc dengan perbandingan media kontras : NaCl
yaitu 1 : 4 atau 1 : 5.
5) Kateter
6) Jelly
7) Sarung tangan
8) Mangkok steril
9) Spuit glass
10)klem
c. Teknik atau tata Laksana Pemeriksaan Cystography
1) Pasien tidur telentang di atas meja pemeriksaan
2) Masukan media kontras yang telah dicampur dengan larutan
fisiologis dengan menggunakan spuit glass melalui kateter
yang sudah terpasang.
3) Selanjutnya dilanjutkan

pemrotetan

dengan

beberapa

proyeksi.
d. Proyeksi Pemotretan
1) Proyeksi AP (Antero Posterior)
a) Posisi pasien
Supine diatas meja pemeriksaan.
Midsagitalplane berada pada pertengahan meja.
Tangan ekstensi berada pada samping tubuh.
b) Posisi Objek
Midsagitalplane pada pertengahan kaset atau meja.
Pastikan tidak ada rotasi pada pelvis
c) Pengaturan sinar
Sinar menyudut 100 sampai 15 caudad.
Central point (CP) 5 cm diatas symphysis pubis..
d) Ekspose
Ekspirasi tahan nafas

19


Gambar 7 Proyeksi AP (Antero Posterior)

Gambar 8. Radiograf proyeksi AP post contrast

e) Kriteria Radiograf
Nampak ureter bagian distal, kandung kemih, dan
proximal urethra.
Kandung kemih tidak superposisi dengan tulang pubis.
Kandung kemih terisi kontras.
2) Proyeksi Obliq (RPO dan LPO)
a) Posisi Pasien
Pasien supine diatas meja pemeriksaan
b) Posisi objek
Daerah pelvis dan urethra ditempatkan diatas kaset,
kemudian pasien dimiringkan 30-40, sehingga super
posisi dengan soft tissue otot paha.

20

Lutut

yang

ada

disebelah

atas

difleksikan

untuk

kenyamanan pasien.
c) Pengaturan sinar
Sinar tegak lurus, 2,5 cm dibawah spina iliaca superior
inferior (SIAS).
d) Eksposi
Ekspirasi tahan nafas.

Gambar 9. Proyeksi Oblique

Gambar 10.Radiograf proyeksi oblik post kontras


e) Kriteria Radiograf
Kandung kemih tidak superposisi dengan soft tissue

otot paha.
Kontras mengisi kandung kemih

3) Proyeksi Lateral
a) Posisi Pasien
21


Tidur miring pada salh satu sisi
b) Posisi Objek

Knee fleksi

Midcoronalplane tegak lurus kaset

Pastikan tidak ada rotasi pada pelvis


c) CR (Central Ray) atau arah sinar
Sinar tegak lurus 5cm superior dan

posterior

symphysis phubis
d) Eksposi

Ekspirasi tahan nafas


Gambar.11.proyeksi lateral
Gambar 12. Radiograf proyeksi lateral
e)
e)
e)
e)
e)
e)
e)
Kriteria Radiograf

Tampak media kontras mengisi vesica urinaria

Keuda Hips dan femur tampak superposisi

BAB III
PROFIL KASUS DAN PEMBAHASAN
A. Profil Kasus
22

Pada hari senin, tanggal 30 Juni 2014 penderita datang


kebagian radiologi sekitar pukul 09.00 pagi, dengan membawa lembar
permintaan rontgen ke bagian radiologi dengan identitas pasien
sebagai berikut:
Nama
: Tn. M
Umur
: 75 th
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Alamat
: Mangkukusuma
No. RM
: 647xxx
No. Foto
: 81xx
Pemerikasaan
: Cystography
Diagnosis sementara
: Cystitis
Dari lembar permintaan pemeriksaan radiologi, diperoleh
permintaan pemeriksaan Cystography atas nama pasien tersebut.
Diagnosis dokter pengirim adalah cysstitis. Keadaan umum pasien
baik dan sadar.
B. Prosedur Pemeriksan
1. Persiapan Pasien
Sebelum pemeriksaan dilakukan pasien/keluarga pasien
mengisi lembar inform consent sebagai tanda persetujuan
dilakukannya pemeriksaan. Untuk pemeriksaannya tidak ada
persiapan khusus yang dilakukan. Hanya saja pasien diinstruksikan
untuk melepas benda disekitar tubuh yang dapat mengganggu
gambaran radiograf.
2. Persiapan Alat dan Bahan
a. Pesawat sinar-X
1) Merek
2) Tipe
3) No. Seri
4) Tahun Pembuatan
5) Kapasitas Pesawat

: Siemens
: Ergophos 4
: 19.1.05
: 1987
: Kv min
: 42
: Kv max
: 125
: mAs min
:8
: mAs max : 1200
b. Kaset konvesional ukuran 24x30 sebanyak 3 buah.
c. Marker
d. Spuit
23

e. Klem
f. Kateter
g. Media kontras water soluble iodin(urografin) dan Nacl (1:4)
dengan total volume 150 ml

3. Teknik Pemeriksaan
a. Plain foto/foto polos proyeksi AP
1) Posisi pasien
Supine atau tidur telentang diatas meja pemeriksaan. MSP
2)

3)

4)
5)
6)

pada pertengahan meja.


Posisi Objek
a) Midsagitalplane pada pertengahan meja pemeriksaan
b) Tangan ekstensi pada samping tubuh
c) Daerah pelvis masuk dan pada pertengahn kaset
Pengaturan sinar
a) CR tegak lurus pertengahan kaset
b) CP 5 cm diatas symphysis phubis
c) FFD 100cm
Ukuran kaset
: 24x30cm
Factor eksposi
: Kv 70 mAs 30
Kriteria radiograf
a) Tampak kandung kemih
b) Tampak symphysis phubis
c) Tamapk soft tissue organ penis

Gambar 13. Radiograf proyeksi AP polos

24

Setelah dilakukan plainfoto, kemudian membuat


larutan media kontras , yaitu urografin sebanyak 20cc
dicampur dengan larutan fisiologis Nacl sebanyak 80 cc
glass spuit sehingga total volume menjadi 100cc.
Kemudian media kontras dimasukan kedalam
kandung kemih/VU secara retrograde dari urethra melalui
kateter

yang

sudah

terpasang,

balon

dikempeskan

kemudian dilanjutkan foto AP dan Obliq(RPO)


b. Proyeksi AP
1) Posisi pasien
Supine diatas meja pemeriksaan dan berada pada
2)

3)

4)
5)
6)

pertengahan meja
Posisi objek
a) MSP berada pada pertenhan meja pemeriksaan
b) Tangan ekstensi pada samping tubuh
c) Daerah pelvis masuk dalam kaset
Pengaturan sinar
a) CR tegak lurus pada pertengahan kaset
b) CP 5cm ditas symphysis phubis
c) FFD 100cm
Ukuran kaset
: 24x30cm
Factor eksposi
: Kv 70 Mas 30
Kriteria Radiograf
a) Tampak daerah pelvis
b) Tampak kontras mengisi kandung kemih dengan gambaran
melebar
c) Tampak urethra dan kontras yang mengisi kateter

25

Gambar 14. Radiograf proyeksi AP post contras


c. Proyeksi Obliq RPO
1) Posisi pasien
Pasien supine diatas meja pemeriksaan
2) Posisi objek
a) Daerah pelvis dan urethra ditempatkan diatas kaset,
kemudian pasien dimiringkan 30-40 kekanan(sisi kanan
tubuh menempel meja pemeriksaan)
b) Lutut kiri/yang ada disebelah atas difleksikan untuk
kenyamanan pasien
3) Pengaturan sinar
a) CR tegak lurus kaset
b) CP 2,5cm Dibawah SIAS
c) FFD 100cm
4) Ukuran kaset
: 24X30cm
5) Factor eksposi
: Kv 75 mAs 30
6) Kriteria radiograf
a) Tulang pelvis tampak obliq
b) Tampak media kontras mengisi VU
c) Tamapk VU obliq kebagian kanan dan terisi media kontras
d) Tampak urethra dan kateter terisi kontras
e) Tampak soft tissue dari penis

26

Gambar 15. Radiograf proyeksi RPO post kontras


Setelah pemeriksaan selesai kemudian klem kateter dilepas ,
sehingga kontras akan keluar dari VU menuju urin bag. Setelah kira-kira
VU kosong dari kontras,kemudian dilanjutkan dengan foto post miks
(PM).
d. Proyeksi AP Post Mixsi (PM)
1) Posisi Pasien
Supine atau tidur telentang diatas meja pemeriksaan pada
pertengahan meja pemeriksaan
2) Posisi objek
a) MSP tegak lurus pada pertengahn meja pemeriksaan
b) Tangan ekstensi pada samping tubuh
c) Derah pelvis masuk dan pada pertengahan kaset
3) Pengaturan sinar
a) CR tegak lurus pada pertengahan kaset
b) CP 5cm diatas symphysis phubis
c) FFD 100cm
4) Ukuran kaset
: 24x30cm
5) Factor eksposi
: kV 70 mAs 30
6) Kriteria radiograf
a) Tampak sisa media kontras pad VU
b) Tampak tulang phubis
c) Urethra tampak bersih dari media kontras

27

7)

Gambar.16.
radiograf
proyeksi AP
post miksi (PM)
C. Hasil Pemeriksaan
Dari hasil pebacaan radiograf oleh dokter radiolog pada
pemeriksaan cystography yang dilakukan diistalasi radiologi RSUD
Kardinah terhadap pasien Tn.M adalah sebagai berikut:
1. Tampak kontras mengisi vesica urinaria
2. Dinding irregular, trabeculated (-)
3. Filling defect (-)
Kesan : Cystisis
D. Pembahasan
Setelah penulis

melakukan

pengamatan

terhadap

jalannnya

pemeriksaan, dalam pembahasan ini akan penulis bahas hal-hal yang


berkaitan dengan latar belakang teknik dan hasil dari teknik pemeriksaan
cystography.
1. Pemeriksaan cystography dengan indikasi cystisis di RSUD
Kardinah dilakukan dengan 4 kali foto, yaitu : Plain foto/foto polos ,
foto post kontras AP dan oblik(RPO) serta foto post miksi (PM).
Pada foto polos menggunakan proyeksi AP supine dan
langsung di foto, sebelumnya pasien tidak diintruksikan untuk
buang air kecil(miksi) untuk mengosngkan VU dari urin karena
kondisi pasien memang sudah terpasang kateter,sehingga urin

28

akan keluar dengan sendirinya menuju urine bag. Namun pada


radiograf foto polos menunjukan masih terdapatnya gambaran urin
pada VU pasien, hal ini menunjukan bahwa VU belum benar-benar
kosong,padahal dengan

kosongnya VU dari urin maka media

kontras dapat dimasukan secara optimal. Selain itu gambaran


radiograf yang dihasilkan akan tampak lebih jelas karena
terjaganya kosentrasi media kontras. Konsentrasi media kontras
tetap terjaga karena tidak bercampur dengan urin.
Berbeda jika kandung kemih masih terisi oleh urin, maka
media kontras akan bercampur dengan urin yang menyebabkna
konsentrasi media konras berkurang sehingga akan mengurangi
ketajaman pada radiograf yang dihasilkan.
Pada foto post AP terdapat perbedaan dengan teori, yaitu
tidak dilakukan adanya penyudutan arah sinar. Pada teori
disebutkan bahwa pada proyeksi AP post contrast dilakukan
penyudutan 10-15 kearah caudad.. Seperti yang kita ketahui
bahwa bentuk anatomis dari kandung kemih/VU adalah bulat
dengan bagian anterior sedikit menonjol kearah depan. Sehingga
dilakukan penyudutan arah sinar yang bertujuan agar gambaran
symphysis phubis terlempar sehingga mengurangi superposisi
dengan kandung kemih/VU, selain itu posisi ini juga akan
memeperkecil kemungkinan terpotongnya area kandung kemih/VU.
Gambaran dari kandung kemih/VU juga akan tampak lebih
membulat, tidak melebar hal ini dapat dapat digunakan untuk
mengetahui lebih jelas seberapa sisa volume media kontras yang
ada pada VU pada foto PM.
29

Pada kasus lain, penggunaan penyudutan arah sinar dapat


disesuaikan. Misalnya pada pasien yang memiliki kelainan lordosis
(tulang punggung membengkok kedepan), diperlukan adanya
pengurangan penyudutan, karena pada kelainan lordosis daerah
pelvis dan VU juga sudah mengalami kemiringan. Sehingga hanya
diperlukan penyudutan arah sinar yang kecil saja untuk dapat
menampakan daerah VU secara optimal.
Namun dengan tidak dilakuknanya penyudutan arah sinar
pun gambaran yang dihasilkan masih dapat dinilai dengan baik dan
hal ini tidak menjadi masalah yang besar, karena pada proyeksi
oblik juga sudah dapat digunakan untuk membantu memberikan
informasi yang optimal.
Untuk proyeksi oblik post kontras dan AP post miksi(PM)
sama dengan teori. Untuk proyeksi obik dilakukan dengan posisi
RPO (Right Posterior Obliq).

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dalam laporan ini dapat diambil kesimpulan bahwa ;
30

1. Pada pemeriksaan cystography dengan indikasi cystitis di instalasi


radiologi RSUD Kardinah dilakukan 4 kali foto, yaitu : proyeksi AP
palin foto/foto polos , AP post kontras , obliq(RPO) dan AP post
miksi.
2. Pada proyeksi AP foto polos, AP post kontras dan AP post
miksi(PM) tidak dilakukan penyudutan arah sinar. Namun dari
radiograf

yang

diperoleh

sudah

dapat

digunakan

untuk

mendiagnosa dengan baik.


B. Saran
Dalam laporan ini penulis dapat memberikan saran sebagai berikut:
1. Sebaiknya foto post kontras dilakukan pada saat kandung
kemih/VU pasien benar-benar kosong, agar kontras tidak akan
bercampur dengan urin sehingga radiograf yang dihasilkan akan
tampak lebih jelas. Selain itu agar pasien merasa lebih nyaman.
2. Jika diketahui pasien memiliki kelainan lordosis sebaiknya
digunakan penyudutan arah sinar yang lebih minim.
3. Pemberian informasi yang lebih jelas kepada pasien mengenai
pemeriksaan agar pasien lebih mudah bekerja sama sehingga hasil
radiograf lebih optimal.
4. Sebaiknya penggunaan imobilisasi dioptimalkan sehingga akan
lebih mempermudah jalannya pemeriksaan.

31

DAFTAR PUSTAKA
Bontrager, Kenneth L. 2001. Textbook of Radiographic Positioning and
Related Anatomy. Missouri : Mosby, Inc.
Rasaad, S. dkk. 1990 Radiologi Diagnostik. Jakarta : Buku Penerbit FKUI.
Pearce, Evelyn. C. 1989. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta
: Penerbit PT. Gramedia.

LAMPIRAN

32