Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

ENERGI DAN LINGKUNGAN

PENCAIRAN BATUBARA (COAL LIQEUFACTION)

Oleh :
1. NIKO LASTARDA
(1406584076)
2. DIMAS
()
3. RICHARD
()

MANAJEMEN KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
JAKARTA
2014

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan yang Maha Esa yang telah
meberikan kekuatan kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dalam waktu
yang telah direncanakan.
Makalah yang berjudul Pencairan Batubara (Coal Liqeufaction) ini disusun sebagai
tugas untuk mata kuliah Energi dan Lingkungan pada program S2 Manajemen Ketenaga
Listrikan dan Energi.
Selama dalam Penyusunan makalah ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dari
pihak terkait dengan data-data yang dibutuhkan. Oleh karena itu, penulis ingin meyampaikan
ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan sehingga makalah
ini dapat diselesaikan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan karena keterbatasan
pengetahuan dan kemampuan penulis. Harapan penulis, makalah ini menjadi lebih
bermamfaat.

Jakarta, Nopember 2014

Penulis

ii

DAFTAR ISI
JUDUL
KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

DAFTAR GAMBAR

iv

DAFTAR TABEL

iv

BAB. I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

1.2. Sasaran Kegiatan

1.3. Permasalahan

1.4. Alternatif Cara Pencapaian Sasaran

BAB. II DASAR TEORI

2.1. Chorination Plant

BAB. III BIDANG PENGAMATAN DAN DATA PENDUKUNG


3.1. Permasalahan Hypochoite Plant
BAB. IV ANALISIS DAN PENJELASAN

5
5
7

4.1. Analisis Finansial

4.2. Kajian Resiko

BAB. V KESIMPULAN DAN PENUTUP

17

DAFTAR PUSTAKA

iii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1.

Reaksi kimia dalam Electrolyzer

Gambar 2.2.

Chorine Plant

Gambar 3.1.

Lubang pada plat cell Hypochlorite Plant

DAFTAR TABEL
Tabel 3.1.

Data Performance Hypochlorite

Tabel 4.1.

Identifikasi Resiko

Tabel 4.2.

Tabel Penetapan Akibat

Tabel 4.3.

Tabel kriteria Peningkatan Kemungkinan

10

Tabel 4.4.

Matrik Resiko

10

Tabel 4.5

Analisis dan Efaluasi Resiko

11

Tabel 4.6

Rencana Mitigasi Resiko

13

Tabel 4.7

Evaluasi Resiko

16

iv

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Sejarah Perkembangan Batubara
Batubara merupakan salah satu sumber energi primer yang memiliki riwayat
pemanfaatan yang sangat panjang. Beberapa ahli sejarah yakin bahwa batubara pertama kali
digunakan secara komersial di Cina. Ada laporan yang menyatakan bahwa suatu tambang di
timur laut Cina menyediakan batu bara untuk mencairkan tembaga dan untuk mencetak uang
logam sekitar tahun 1000 SM. Bahkan petunjuk paling awal tentang batubara ternyata berasal
dari filsuf dan ilmuwan Yunani yaitu Aristoteles, yang menyebutkan adanya arang seperti
batu. Abu batu bara yang ditemukan di reruntuhan bangunan bangsa Romawi di Inggris juga
menunjukkan bahwa batubara telah digunakan oleh bangsa Romawi pada tahun 400 SM.
Catatan sejarah dari Abad Pertengahan memberikan bukti pertama penambangan batu
bara di Eropa, bahkan suatu perdagangan internasional batu bara laut dari lapisan batu bara
yang tersingkap di pantai Inggris dikumpulkan dan diekspor ke Belgia. Selama Revolusi
Industri pada abad 18 dan 19, kebutuhan akan batubara amat mendesak. Penemuan
revolusional mesin uap oleh James Watt, yang dipatenkan pada tahun 1769, sangat berperan
dalam pertumbuhan penggunaan batu bara. Oleh karena itu, riwayat penambangan dan
penggunaan batu bara tidak dapat dilepaskan dari sejarah Revolusi Industri, terutama terkait
dengan produksi besi dan baja, transportasi kereta api dan kapal uap.
Namun tingkat penggunaan batubara sebagai sumber energi primer mulai berkurang
seiring dengan semakin meningkatnya pemakaian minyak. Dan akhirnya, sejak tahun 1960
minyak menempati posisi paling atas sebagai sumber energi primer menggantikan batubara.
Meskipun demikian, bukan berarti bahwa batubara akhirnya tidak berperan sama sekali
sebagai salah satu sumber energi primer.
Krisis minyak pada tahun 1973 menyadarkan banyak pihak bahwa ketergantungan yang
berlebihan pada salah satu sumber energi primer, dalam hal ini minyak, akan menyulitkan
upaya pemenuhan pasokan energi yang kontinyu. Selain itu, labilnya kondisi keamanan di
Timur Tengah yang merupakan produsen minyak terbesar juga sangat berpengaruh pada
fluktuasi harga maupun stabilitas pasokan. Keadaan inilah yang kemudian mengembalikan
pamor batubara sebagai alternatif sumber energi primer, disamping faktor - faktor berikut ini:

1. Cadangan batubara sangat banyak dan tersebar luas.


Diperkirakan terdapat lebih dari 984 milyar ton cadangan batubara terbukti (proven
coal reserves) di seluruh dunia yang tersebar di lebih dari 70 negara. Dengan asumsi
tingkat produksi pada tahun 2004 yaitu sekitar 4.63 milyar ton per tahun untuk
produksi batubara keras (hard coal) dan 879 juta ton per tahun untuk batubara muda
(brown coal), maka cadangan batubara diperkirakan dapat bertahan hingga 164 tahun.
Sebaliknya, dengan tingkat produksi pada saat ini, minyak diperkirakan akan habis
dalam waktu 41 tahun, sedangkan gas adalah 67 tahun. Disamping itu, sebaran
cadangannya pun terbatas, dimana 68% cadangan minyak dan 67% cadangan gas
dunia terkonsentrasi di Timur Tengah dan Rusia.
2. Negara-negara maju dan negara-negara berkembang terkemuka memiliki banyak
cadangan batubara. Berdasarkan data dari BP Statistical Review of Energy 2004, pada
tahun 2003, 8 besar negara - negara dengan cadangan batubara terbanyak adalah
Amerika Serikat, Rusia, China, India, Australia, Jerman, Afrika Selatan, dan Ukraina.
3. Batubara dapat diperoleh dari banyak sumber di pasar dunia dengan pasokan yang
stabil.
4. Harga batubara yang murah dibandingkan dengan minyak dan gas.
5. Batubara aman untuk ditransportasikan dan disimpan.
6. Batubara dapat ditumpuk di sekitar tambang, pembangkit listrik, atau lokasi
sementara.
7. Teknologi pembangkit listrik tenaga uap batubara sudah teruji dan handal.
8. Kualitas batubara tidak banyak terpengaruh oleh cuaca maupun hujan.
9. Pengaruh pemanfaatan batubara terhadap perubahan lingkungan sudah dipahami dan
dipelajari secara luas, sehingga teknologi batubara bersih (clean coal technology)
dapat dikembangkan dan diaplikasikan.

1.2 Sasaran Kegiatan


Tujuan pembutan makalah tentang Pencairan Batu Bara adalah untuk mahasiswa
mengetahui tentang pemamfaatan batu bara dengan proses pencairan,

BAB II
PENCAIRAN BATU BARA
Pencairan batubara (Coal Liqeufaction) adalah proses mengubah wujud batubara dari
padat menjadi cair. Proses pencairan batubara dapat dilakukan dengan dua metode yaitu
metode langsung dan metode tidak langsung. Pada proses tidak langsung batubara
difragmentasi menjadi CO, CO2, H2, dan CH4 yang kemudian direkombinasikan
menghasilkan produk cair, prosesnya melalui gasifikasi dan kondensasi.

Gambar 2.1 Proses Pemamfaatan Batubara


Pada proses langsung batubara cair diproduksi dengan melarutkan dalam suatu pelarut
organik lalu dilanjutkan dengan proses hidrogenasi pada suhu dan tekanan tinggi. Proses
pencairan batubara sercara langsung dapat dilakukan melalui pirolisis, ekstraksi pelarut dan
hidrogenasi katalitik. Pencairan batubara merupakan teknologi yang menguntungkan untuk
ketersedian energi di masa akan datang karena memiliki kelebihan, antara lain:
Biaya produksi rendah, pencairan batubara hanya membutuhkan biaya produksi US$
15 per barrel.

Solusi untuk pemanfaatan batubara peringkat rendah dengan nilai kalor < 5100
kg/gr.

Produk minyak yang dihasilkan cukup menjanjikan, dimana 1 ton batubara akan
menghasilkan 6.2 barrel sintetis oil.
Teknologi pencairan batubara lebih ramah lingkungan. Dari pasca produksinya tidak
ada proses pembakaran, dan tidak dihasilkan gas CO2. Kalaupun menghasilkan limbah
(debu dan unsur sisa produksi lainnya), masih dapat dimanfaatkan untuk bahan baku
campuran pembuatan aspal
Secara intuitiv aspek yang penting dalam pengolahan batubara menjadi bahan bakar
minyak sintetik adalah: efisiensi proses yang mencakup keseimbangan energi dan masa, nilai
investasi, kemudian apakah prosesnya ramah lingkungan sehubungan dengan emisi gas
buang, karena ini akan mempengaruhi nilai insentiv menyangkut tema tentang lingkungan.
Efisiensi pencairan batubara menjadi BBM sintetik adalah 1-2 barrel/ton batubara.
Jika diasumsikan hanya 10% dari deposit batubara dunia dapat dikonversikan menjadi BBM
sintetik, maka produksi minyak dunia dari batubara maksimal adalah beberapa juta
barrel/hari. Hal ini jelas tidak dapat menjadikan batubara sebagai sumber energi alternativ
bagi seluruh konsumsi minyak dunia. Walaupun faktanya demikian, bukan berarti batubara
tidak bisa menjadi jawaban alternativ energi untuk kebutuhan domestik suatu negara. Faktor
yang menjadi penentu adalah: apakah negara itu mempunyai cadangan yang cukup dan
teknologi yang dibutuhkan untuk meng-konversi-kannya. Jika diversivikasi sumber energi
menjadi strategi energi suatu negara, pastinya batubara menjadi satu potensi yang layak untuk
dikaji menjadi salah satu sumber energi, selain sumber energi terbarukan (angin, solar cell,
geothermal, biomass). Tetapi perlu kita ingat bahwa waktu yang dibutuhkan untuk
mempertimbangkannya tidaklah tanpa batas, karena sementara Negara-Negara lain sudah
melakukan kebijakan-kebijakan konkret domestik maupun luar negeri untuk mengukuhkan
strategi energi untuk kepentingan negaranya.
2.1

Perkembangan Teknologi Pencairan Batu Bara


Pengembangan produksi bahan bakar sintetis berbasis batu bara pertama kali dilakukan

di Jerman tahun 1900-an dengan menggunakan proses sintesis Fischer-Tropsch yang


dikembangkan Franz Fisher dan Hans Tropsch. Pada 1930, disamping menggunakan metode
4

proses sintesis Fischer-Tropsch, mulai dikembangkan pula proses Bergius untuk


memproduksi bahan bakar sintesis. Sementara itu, Jepang juga melakukan inisiatif
pengembangan teknologi pencairan batubara melalui proyek Sunshine tahun 1974 sebagai
pengembangan alternatif energi pengganti minyak bumi.
Pada 1983, NEDO (the New Energy Development Organization), organisasi yang
memfokuskan diri dalam pengembangan teknologi untuk menghasilkan energi baru juga
berhasil

mengembangkan

suatu

teknologi

pencairan

batubara

bituminous

dengan

menggunakan tiga proses, yaitu solvolysis system, solvent extraction system dan direct
hydrogenation to liquefy bituminous coal.Cadangan batubara di dunia pada umumnya tidak
berkualitas baik, bahkan setengahnya merupakan batubara dengan kualitas rendah, seperti:
sub-bituminous coal dan brown coal. Kedua jenis batubara tersebut lebih banyak didominasi
oleh kandungan air. Peneliti Jepang kemudian mulai mengembangkan teknologi untuk
menjawab tantangan ini agar kelangsungan energi di Jepang tetap terjamin, yaitu dengan
mengubah kualitas batubara yang rendah menjadi produk yang berguna secara ekonomis dan
dapat menghasilkan bahan bakar berkualitas serta ramah lingkungan. Dikembangkanlah
proses pencairan batubara dengan nama Brown Coal Liquefaction Technology (BCL).
2.2

Macam Macam Proses Pencairan Batubara


Secara umum proses pencairan (liquefaction) ini dibedakan antara proses yang indirect

coal liquefaction (tidak langsung) dan direct coal liquefaction (langsung). Berikut adalah
macam-macam proses pencairan (likuifikasi) Batubara secara khusus.
2.2.1

Fisher Tropsch
Proses Fisher Tropsch adalah sintesis CO/H2 menjadi produk hidrokarbon atau disebut

senyawa hidrokarbon sintetik/ sintetik oil. Sintetik oil banyak digunakan sebagai bahan bakar
mesin industri/transportasi atau kebutuhan produk pelumas (lubricating oil).
(2n+1)H2 + nCO CnH(2n+2) + nH2O
2.2.2

Bergius Proses
Bergius Process merupakan pencairan batubara metode langsung atau dikenal dengan

Direct Coal Liquefaction-DCL. DCL adalah proses hydro- craacking dengan bantuan
5

katalisator. Prinsip dasar dari DCL adalah meng-introduksi-an gas hydrogen kedalam struktur
batubara agar rasio perbandingan antara C/H menjadi kecil sehingga terbentuk senyawasenyawa hidrokarbon rantai pendek berbentuk cair. Proses ini telah mencapai rasio konversi
70% batubara (berat kering) menjadi sintetik cair.
2.2.3

Brown Coal Liquefaction Technology (BCL)


Teknologi yang mengubah kualitas batubara yang rendah menjadi produk yang

berguna secara ekonomis dan dapat menghasilkan bahan bakar berkualitas serta ramah
lingkungan.Langkah pertama adalah memisahkan air secara efisien dari batubara yang
berkualitas rendah. Langkah kedua melakukan proses pencairan di mana hasil produksi
minyak yang dicairkan ditingkatkan dengan menggunakan katalisator, kemudian dilanjutkan
dengan proses hidrogenasi di mana heteroatom (campuran sulfur-laden, campuran nitrogenladen, dan lain lain) pada minyak batubara cair dipisahkan untuk memperoleh bahan bakar
bermutu tinggi, kerosin, dan bahan bakar lainnya. Kemudian sisa dari proses tersebut (debu
dan unsur sisa produksi lainnya) dikeluarkan.

Tahap Proses Pencairan batubara muda (Brown coal Liquefaction) :

Gambar 2.1 Brown Coal Liquefaction Proses


a. Pengeringan/penurunan kadar air secara efficient
b. Reaksi pencairan dengan limonite katalisator
c. Tahapan hidrogenasi untuk menghasilkan produk oil mentah
d. Deashing Coal Liquid Bottom/heavy oil (CLB)
e. Fraksinasi/pemurnian light oil (desulfurisasi,pemurnian gas,destilasi produk)
Landasan dalam mengembangkan ujicoba produksi (pilot scale) proses pencairan batubara
adalah:

Produk liquid oil yang dihasilkan harus mencapai lebih dari 50%

Proses pengoperasian harus berjalan dengan kontinuitas lebih daripada 1500 jam.

Tahapan proses deashing harus mencapai kadar ash (abu) < 500 ppm.

Optimalisasi/pengembangan proses pengeringan (dewatering) baru

2.2.4

Pencairan batubara metode langsung (DCL)


Pencairan batubara metode langsung atau dikenal dengan Direct Coal Liquefaction-

DCL,dikembangkan cukup banyak oleh negara Jerman dalam menyediakan bahan bakar
pesawat terbang. Proses ini dikenal dengan Bergius Process, baru mengalami perkembangan
lanjutan setelah perang dunia kedua.DCL adalah proses hydro-craacking dengan bantuan
katalisator.

Gambar 2.2 Direct Coal Conversion to Liquid Fuels


7

Prinsip dasar dari DCL adalah meng-introduksi-an gas hydrogen kedalam struktur
batubara agar rasio perbandingan antara C/H menjadi kecil sehingga terbentuk senyawasenyawa hidrokarbon rantai pendek berbentuk cair. Proses ini telah mencapai rasio konversi
70% batubara (berat kering) menjadi sintetik cair. Pada tahun 1994 proses DCL kembali
dikembangkan sebagai komplementasi dari proses ICL terbesar setelah dikomersialisasikan
oleh Sasol Corp.Tahun 2004 kerjasama pengembangan teknologi upgrade (antara China
Shenhua Coal Liquefaction Co. Ltd. dengan West Virginia University) untuk komersialisasi
DCL rampung, untuk kemudian pembangunan pabrik DCL kapasitas dunia di Inner Mongolia.
Dalam Phase pertama pabrik ini akan dihasilkan lebih dari 800.000 ton bahan bakar cair
pertahunnya.
Berikut adalah kapasitas produksi Shenhua DCL Plant, Inner Mongolia :
Tabel 2.1 produksi Shenhua DCL Plant
Phase I
Plant Cost Estimate
Coal Input estimate
Yield of oil products
Estimate production cost

800 mio. USD


2,1 mio. MT/a
845.300 MT/a
USD 24/bbl

Komposisi oil products yang dihasilkan adalah sebagai berikut:


Tabel 2.2 Komposisi oil products
Phase I
Disel
Napatha
LPG
Liquid Ammonia
Total

591.900
174.500
70.500
8.300
845.300

(MT/a)
(MT/a)
(MT/a)
(MT/a)
(MT/a)

Dari table di atas dapat dilihat bahwa perkiraan harga produksi tiap-tiap produk BBM
sintetik adalah sebesar USD 24 per barrel, jauh lebih rendah dibandingkan harga minyak
mentah dunia saat ini yang berkisar di atas USD 60/barrel. Dengan beberapa data penunjang
saja, maka break event point-nya sudah dapat dihitung.Yang menjadikan proses DCL sangat
bervariasi adalah beberapa faktor dibawah:
Pencapaian dari sebuah proses DCL sangat tergantung daripada jenis feedstock /
(spesifikasi batubara) yang dipergunakan, sehingga tidak ada sebuah sistem yang bisa
optimal untuk digunakan bagi segala jenis batubara.
8

Jenis batubara tertentu mempunyai kecenderungan membentuk lelehan (caking


perform), sehingga menjadi bongkahan besar yang dapat membuat reaktor kehilangan
tekanan dan gradient panas terlokalisasi (hotspot). Hal ini biasanya diatasi dengan
mencampur komposisi batubara, sehingga pembentukan lelehan dapat dihindari
Batubara dengan kadar ash yang tinggi lebih cocok untuk proses gasifikasi terlebih
dahulu, sehingga tidak terlalu mempengaruhi berjalannya proses
Termal frakmentasi merupakan phenomena yang terjadi dimana serpihan batubara
mengalami defrakmentasi ukuran hingga berubah menjadi partikel-partikel kecil yang
menyumbat jalannya aliran gas sehingga menggangu jalannya keseluruhan proses. Hal
ini dapat diatasi dengan proses pengeringan batubara terlebih dahulu sebelum proses
konversi pada reaktor utama (Lihat skema Brown Coal Liquefaction di bawah).
Spesifikasi batubara yang dipergunakan, sehingga tidak ada sebuah sistem yang bisa
optimal untuk digunakan bagi segala jenis batubara.
Jenis batubara tertentu mempunyai kecenderungan membentuk lelehan (caking
perform), sehingga menjadi bongkahan besar yang dapat membuat reaktor kehilangan
tekanan dan gradient panas terlokalisasi (hotspot). Hal ini biasanya diatasi dengan
mencampur komposisi batubara, sehingga pembentukan lelehan dapat dihindari.
Batubara dengan kadar ash yang tinggi lebih cocok untuk proses gasifikasi terlebih
dahulu, sehingga tidak terlalu mempengaruhi berjalannya proses.
Proses Pencairan Batubara Muda rendah emisi (Low Emission Brown Coal Liquefaction).
Tahapan proses pencairan batubara muda (Brown Coal Liquefacion):
1. Pengeringan/penurunan kadar air secara efficient
2. Reaksi pencairan dengan limonite katalisator
3. Tahapan hidrogenasi untuk menghasilkan produk oil mentah
4. Deashing Coal Liquid Bottom/heavy oil (CLB)
5. Fraksinasi/pemurnian light oil (desulfurisasi,pemurnian gas,destilasi produk)
2.3

Pencairan Batubara di Indonesia


Di

Indonesia,

pengembangan

batubara

cair

mulai

direspon

setelah

pemerintah mengeluarkan Inpres No. 2/ 2006 tentang batubara yang dicairkan. Saat ini
Indonesia memiliki cadangan sekitar 60 milyar ton batubara yang terdapat di seluruh
Indonesia. Dari sekian banyak itu hampir 85% adalah batubara muda (lignit) atau dengan kata
lain batubara dengan kualitas rendah karena 30% berisi kandungan air disamping itu juga
9

mengandung kalori rendah dengan nilai jual murah. Sedang batubara yang berkualitas atau
dikenal dengan Black Coal sebagian besar untuk di ekspor.
Batubara muda yang juga dikenal dengan nama brown coal akan dikembangkan
sebagai alternative pengganti minyak bumi. Pemerintah Jepang serta para pengusaha Jepang
yang tertarik dengan brown coal ini tengah bekerjasama dengan Badan Pengkajian
dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk mewujudkan impian tersebut. Rencananya BPPT
akan berupaya bernegoisiasi dengan Pemerintah Jepang untuk pembangunan pabrik BCL
(Brown Coal Liquefaction) sehingga tercipta gasoline dan solar dari batubara. Biaya yang
diperlukan untuk pabrik BCL ini mencapai 5,8 Milyar dolar Amerika. Hal ini karena para ahli
maupun teknologinya belum kita miliki.
Saat ini BPPT sudah mengadakan penelitian untuk BCL ini di daerah Sumatera
Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Diketahui bahwa 30.000 ton batubara
dapat menghasilkan sekitar 130.000 barel minyak per hari. Sebagai contoh pekerjaan Jepang
di Australia dan Jepang sendiri yang telah berhasil membuat master plan BCL ini. PT.
Tambang Batubara Bukit Asam rencananya akan membangun kilang batubara tercairkan di
Sumatera Selatan dengan investasi sebesar US$5.2 billion. South Africas Sasol Limited,
produsen

minyak

sintetis terbesar

di

dunia

telah

mulai

melakukan

negosiasi

pembangunan kilang batubara yang dicairkan senilai US$ 10 billion dengan PT Pertamina dan
PT. Tambang Batubara Bukit Asam.
Pada awal tahun 2010 telah ditandatangani MOU antara Pemerintah Indonesia
dengan Sasol (salah satu raksasa pemain CTL (coal to liquid) di dunia yang berasal dari
Afrika Selatan) untuk memulai kajian kelayakan pembangunan kilang. Diperkirakan kilang
tersebut mempunyai kapasitas produksi sebesar 1,1 juta barrels setara bahan bakar minyak
perhari. Bila semuanya berjalan sesuai rencana maka konstruksi kilang akan selesai pada
akhir tahun 2014 dan mulai produksi tahun 2015. Terdapat empat lokasi yang potensial
untuk pembangunan kilang batubara yang dicairkan meliputi Musi Banyuasin di Sumatera
Selatan yang memiliki cadangan sebesar 2,9 milyar ton dan Berau Kalimantan Timur dengan
cadangan sebesar 3 milyar ton Untuk suplai Batubara, Sasol akan mendapatkannya dari
PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA). Sementara itu, untuk bertindak sebagai
pembeli (off taker) adalah PT Pertamina (Persero).

10

BAB III
DAMPAK LINGKUNGAN
Penyebaran skala besar pabrik batubara cair dapat menyebabkan peningkatan yang
signifikan dari penambangan batubara. Penambangan batubara akan memberikan dampak
negatif yang berbahaya. Penambangan ini dapat menyebabkan limbah yang beracun dan
bersifat asam serta akan mengkontaminasi air tanah. Selain dapat meningkatkan efek
berbahaya terhadap lingkungan, peningkatan produksi batubara juga dapat menimbulkan
dampak negatif pada orang-orang yang tinggal dan bekerja di sekitar daerah penambangan.
Produksi batubara cair membutuhkan batubara dan energi dalam jumlah yang besar. Proses ini
juga dinilai tidak efisien. Faktanya, 1 ton batubara hanya dapat dikonversi menjadi 2 barel
bensin. Proses konversi yang tidak efisien, sifat batubara yang kotor, dan kebutuhan energi
dalam jumlah yang besar tersebut menyebabkan batubara cair menghasilkan hampir dua kali
lipat emisi penyebab global warming dibandingkan dengan bensin biasa. Walaupun karbon
yang terlepas selama produksi ditangkap dan disimpan, batubara cair tetap akan melepaskan
4 hingga 8 persen polusi global warming lebih banyak dibandingkan dengan bensin biasa.

Grafik 1. Emisi berbagai bahan bakar

11

Grafik 2. Emisi CO2 Coal to Liquid


Beberapa

ahli

menyatakan

bahwa

penggunaan

batubara

cair

termasuk

kategori

bersih karena bebas sulfur, namun saat batubara diubah menjadi bahan bakar transportasi,
dua aliran karbon dioksida terbentuk: satu dari pabrik produksi batubara cair dan satu dari
pipa pembuangan kendaraan yang membakar bahan bakar tersebut. Emisi dari pabrik
produsen batubara cair lebih besar daripada pabrik produsen dan pemurnian minyak mentah
untuk memproduksi bensin, diesel, dan bahan bakar transportasi lainnya.

Selain

berdampak negatif pada global warming, batubara cair juga memiliki dampak negatif lain
terhadap lingkungan. Lebih dari 4 gallon air dibutuhkan untuk setiap gallon bahan bakar yang
diproduksi. Hal ini akan mengancam persediaan air yang terbatas. Dampak-dampak di atas
menjelaskan bahwa penggunaan batubara sebagai bahan bakar alternatif berbahaya bagi
lingkungan dan tidak sejalan dengan pencarian solusi masalah global warming. Beberapa
pihak menilai dibandingkan dengan menggunakan batubara cair sebagai bahan bakar
alternatif, lebih baik berinvestasi untuk industri energi yang lebih ramah lingkungan dan
membantu kita menyelesaikan permasalahan global warming.

12

BAB IV
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
13

[1] http://rakhman.net/2013/07/chlorination-plant.html.
[2] http://www.manajemenenergi.org/2013/09/02-utility-organization.html
[3] Kajian Enjinering PLTGU Blok 2 UP Muara Karang, 2014
[4] Cepat dan Praktis Analisis Investasi, Toto Prihadi, PPM Manajemen, 2010

14

LAMPIRAN

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2006 TENTANG


PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN BATUBARA YANG DICAIRKAN SEBAGAI
BAHAN BAKAR LAIN
15

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,


Dalam rangka percepatan penyediaan dan pemanfaatan batubara yang dicairkan (liquefied
coal}sebagai Bahan Bakar Lain, dengan ini menginstruksikan :
Kepada :
1. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian;
2. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral;
3. Menteri Keuangan;
4. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara;
5. Menteri Perhubungan;
6. Menteri Perindustrian;
7. Menteri Dalam Negeri;
8. Menteri Negara Riset dan Teknologi;
9. Gubernur;
10. Bupati/Walikota;
Untuk :
PERTAMA : Mengambil langkah-langkah untuk melaksanakan percepatan penyediaan dan
pemanfaatan batubara yang dicairkan sebagai Bahan Bakar Lain sebagai
berikut :
1. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengkoordinasikan percepatan
pelaksanaan penyediaan dan pemanfaatan batubara yang dicairkan sebagai
Bahan Bakar Lain.
2. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral:
a. menetapkan dan melaksanakan kebijakan penyediaan dan pemanfaatan
batubara yang dicairkan sebagai Bahan Bakar Lain, yang antara lain
memuat jaminan ketersediaan batubara yang dicairkan serta jaminan
kelancaran dan pemerataan distribusinya;
b. menetapkan paket. kebijakan insentif dan tarif bagi pengembangan
batubara yang dicairkan sebagai Bahan Bakar Lain dengan
berkoordinasi dengan instansi terkait;
c. menetapkan standar dan mutu Bahan Bakar Lain yang berasal dari
batubara yang dicairkan;
d. menjamin ketersediaan pasokan batubara sebagai bahan baku batubara
yang dicairkan;
e. menetapkan sistem dan prosedur untuk pengujian mutu Bahan Bakar
Lain yang berasal dari batubara yang dicairkan;
f. menetapkan tata niaga batubara yang dicairkan sebagai Bahan Bakar
Lain ke dalam sistem tata niaga Bahan Bakar Minyak;
g. melaksanakan sosialisasi penggunaan batubara yang dicairkan sebagai
Bahan Bakar Lain;
h. mendorong pelaku usaha di bidang pertambangan batubara untuk
menyediakan bahan baku batubara yang dicairkan.
3. Menteri Keuangan mengkaji peraturan perundang-undangan di bidang
keuangan dalam rangka pemberian insentif dan keringanan fiskal untuk
penyediaan dan pemanfaatan batubara yang dicairkan sebagai Bahan Bakar
Lain.
4. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) :
16

a. mendorong BUMN bidang pertambangan batubara untuk mendukung


penyediaan bahan baku batubara yang dicairkan;
b. mendorong BUMN bidang energi untuk meningkatkan pemanfaatan
batubara yang dicairkan sebagai Bahan Bakar Lain
5. Menteri Perhubungan mendorong peningkatan pemanfaatan batubara yang
dicairkan sebagai Bahan Bakar Lain di sektor transportasi.
6. Menteri Perindustrian meningkatkan pengembangan produksi dalam negeri
peralatan pengolahan bahan baku batubara yang dicairkan dan mendorong
pengusaha untuk mengembangkan industri pencairan batubara
7. Menteri Dalam Negeri mengkoordinasikan pemerintah daerah dan
jajarannya dalam pelaksanaan kebijakan peningkatan penyediaan dan
pemanfaatan batubara yang dicairkan sebagai Bahan Bakar Lain
8. Menteri Negara Riset dan Teknologi mengembangkan teknologi,
memberikan saran aplikasi pemanfaatan teknologi pengolahan bahan baku
dan pemanfaatan batubara yang dicairkan sebagai Bahan Bakar Lain
9. Gubernur:
a. melaksanakan kebijakan untuk meningkatkan penyediaan batubara
sebagai bahan baku batubara yang dicairkan di daerahnya sesuai dengan
kewenangannya;
b. melaksanakan sosialisasi pemanfaatan batubara yang dicairkan sebagai
Bahan Bakar Lain di daerahnya;
c. melaporkan pelaksanaan instruksi ini kepada Menteri Dalam Negeri.
10. Bupati/Walikota:
a. melaksanakan kebijakan untuk meningkatkan penyediaan batubara
sebagai bahan baku batubara yang dicairkan di daerahnya sesuai dengan
kewenangannya;
b. melaksanakan sosialisasi pemanfaatan batubara yang dicairkan sebagai
Bahan Bakar Lain di daerahnya;
c. melaporkan pelaksanaan instruksi ini kepada Gubernur.
KEDUA :

Agar melaksanakan Instruksi Presiden ini sebaik-baiknya dengan penuh


tanggung jawab dan melaporkan hasil pelaksanaannya kepada Presiden secara
berkala.

Instruksi Presiden ini mulai berlaku pada tanggal dikeluarkan.


Dikeluarkan di Jakarta
pada tanggal 25 Januari 2006
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

17