Anda di halaman 1dari 32

Laporan VII SIG Terapan

Topologi dan Editing Data Spasial (Format Vektor) Analisis Spasial


untuk Penentuan Lokasi Pengungsian

Nama : Enggar Budhi Suryo H.


NIM : 10/301628/TK/37078

Jurusan Teknik Geodesi


Fakultas Teknik

Universitas Gadjah Mada


2014

A. Topologi dan Editing Data Spasial


Data Spasial
Sebagian besar data yang akan ditangani dalam SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis, memiliki sistem koordinat tertentu sebagai dasar referensinya dan mempunyai dua bagian penting yang membuatnya berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi (spasial) dan informasi deskriptif (attribute) yang dijelaskan berikut
ini :
1. Informasi lokasi (spasial), berkaitan dengan suatu koordinat baik koordinat geografi (lintang dan bujur) dan
koordinat XYZ, termasuk diantaranya informasi datum (referensi titik ketinggian terendah) dan proyeksi.
2. Informasi deskriptif (atribut) atau informasi non spasial, suatu lokasi yang memiliki beberapa keterangan yang
berkaitan dengannya, contohnya : jenis vegetasi, populasi, luasan, kode pos, dan sebagainya.

Gambar 2. Data Grafis dan


Data Atribut

1.2.1

Format Data Spasial

Secara sederhana format dalam bahasa komputer berarti bentuk dan kode penyimpanan data yang berbeda antara file
satu dengan lainnya. Dalam SIG, data spasial dapat direpresentasikan dalam dua format, yaitu:
1.2.1.1 Data Vektor
Data vektor merupakan bentuk bumi yang direpresentasikan ke dalam kumpulan garis, area (daerah yang dibatasi oleh
garis yang berawal dan berakhir pada titik yang sama), titik dan nodes (merupakan titik perpotongan antara dua buah
garis).

Gambar 3. Data
Vektor
Keuntungan utama dari format data vektor adalah ketepatan dalam merepresentasikan fitur titik, batasan dan garis
lurus. Hal ini sangat berguna untuk analisa yang membutuhkan ketepatan posisi, misalnya pada basisdata batas-batas

kadaster. Contoh penggunaan lainnya adalah untuk mendefinisikan hubungan spasial dari beberapa fitur. Kelemahan
data vektor yang utama adalah ketidakmampuannya dalam mengakomodasi perubahan gradual.

Geoprocessing/Analisis Spasial
Geoprocessing/Analisis Spasial
Geoprocessing adalah suatu proses dalam SIG yang digunakan untuk mengolah/melakukan analisa terhadap data spasial, dimana pada akhirnya akan menghasilkan data dan informasi yang baru. Bisa dibilang geoprocessing ini adalah
aspek yang paling penting di dalam SIG, yang membedakannya dengan kartografi (kartografi hanya berkutat pada
teknik pembuatan peta saja). Geoprocessing dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu geoprocessing vector dan
geoprocessing
Sebagaimana telah dijelaskan di muka, struktur data dalam SIG terdiri dari struktur data raster dan vector. Struktur
data ini akan mempengaruhi bagaimana analisis dalam SIG dilakukan. Analisis data vector berbeda dengan raster,
demikian pula sebaliknya. Namun demikian, kedua jenis analisis dapat digunakan secara bersama dalam memecahkan
masalah keruangan (akan dibahas lebih lanjut di bab IX). Data vector banyak dipakai untuk memetakan fenomena permukaan bumi yang bersifat diskrit (batasnya terlihat jelas di lapangan). Contohnya antara lain jalan, sungai,
penggunaan lahan, batas wilayah.
Adapun yang termasuk dalam kelompok alat analisis data vector antara lain adalah
1.

Buffer

2.

Clip

3.

Overlay (Intersect & Union)

4.

Dissolve

5.

Query

Tinjauan Teoritis Buffer


Buffering adalah proses pembuatan zona dengan luasan tertentu disekeliling data masukan, sesuai dengan penentuan
jarak oleh operator. Buffering biasanya digunakan untuk menentukan area yang terpengaruh oleh adanya kenampakan
tertentu. Ilustrasi buffer ditunjukkan pada gambar di bawah.

Gambar1.2. Vektor Buffering


Studi Kasus Buffer
Dalam sebuah Pemetaan Sempadan Sungai yang melewati Kota Medan, kita diminta untuk memetakan daerah sempadan sungai yang ditentukan sepanjang 100 meter di kiri kanan sungai.

1.

Buka Quantum GIS, kemudian Add Layer Sungai Kota Medan di Folder C:\DiklatGIS\AnalisaVektor\Buffer

2.

Buka Menu Project, kemudian pilih Project Properties. Pilih Tab CRS, kemudian di menu filter masukkan angka
32647, kemudian klik OK. Proyeksi peta telah diubah dari proyeksi geografis ke UTM zona 47 N

Dari Menu Vector,


. klik Menu Geoprocessing Tools kemudian pilih Buffer. Kemudian pilih layer sungai_medan_utm
sebagai input, pilih buffer distance dan isikan 200, kemudian klik dissolve buffer result, kemudian simpan di folder
yang sama dengan data masukan sungai_medan_utm. Klik Ok

Hasilnya :

Tinjauan
Teoritis Clip
Clipping adalah pemotongan bagian tertentu dari suatu layer peta dengan menggunakan peta lain
sebagai bidang Pemotong. Clipping biasanya digunakan untuk memecah data peta besar menjadi
bagian bagian lebih kecil atau mengekstrak daerah tertentu dari suatu data peta untuk tujuan
tertentu. Ilustrasi clipping ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 1.3. Vektor Clip


Studi Kasus Clip
Melanjutkan studi kasus Buffer pada bagian sebelumnya, setelah kita mengetahui sebaran daerah
sempadan sungai, ita diminta untuk memetakan penggunaan lahan di sepanjang daerah sempadan
sungai.
. Melanjutkan project peta buffer pada langkah sebelumnya, buka Peta penggunaan Lahan Kota
Medan di Folder
C:\DiklatGIS\AnalisaVektor\Clip.

5. Dari menu Vector pilih Geoprocessing Tools kemudian Clip. Masukkan peta
penggunaan lahan sebagai input, buffer sungai sebagai layer clip, dan simpan lokasi di
folder C:\DiklatGIS\AnalisaVektor\Clip\.

Hasil Cliping berupa. penggunaan lahan di sepanjang sempadan sungai dapat dilihat pada gambar di bawah.

7. Dari hasil di atas, kita dapat memantau dan menyimpulkan bagaimana pemanfaatan lahan di kawasan
sempadan sungai, dan kemungkinan pelanggaranpelanggarannya, karena sempadang sungai adalah kawasan
lindung.

Tinjauan Teoritis Overlay.


Overlay adalah proses pentumpangsusunan dua layer peta atau lebih yang
menghasilkan data baru yang menginte- grasikan informasi dari kedua layer
penyusunnya. Overlay digunakan untuk misalnya apabila kita ingin mengetahui
misalnya dimana saja permukiman yang menempati lahan dengan kemiringan lereng
relatif datar. Untuk menjawab pertanyaan diatas kita perlu mengoverlaykan antara
peta penggunaan lahan dan peta kemiringan lereng, kemudian hasilnya di-query.
Ilustrasi overlay ditunjukkan seperti pada gambar di bawah.

Gambar 1.4. Vektor Overlay


Terdapat beberapa macam kategori overlay, namun dua yang paling penting adalah
intersect dan union. Intersect ada- lah penggabungan dua layer dengan hanya
menyisakan bagian yang overlap dari kedua layer tersebut sebagai keluarannya.
Sedangkan Union adalah penggabungan dua layer dengan tetap menyisakan seluruh
bagian dari kedua layer masukan. Untuk lebih jelasnya mengenai perbedaan intersect
dan union dapat dilihat pada gambar di bawah.

Gambar 1.5 . Intersect (kiri) dan Union (kanan)

Untuk studi kasus overlay, kita diminta memetakan permukiman rawan bencana
gunungapi di Kabupaten Garut Jawa Barat. Kondisi geografis Kabupaten Garut yang
dikelilingi beberapa gunung api aktif membuat daerah ini cukup rawan terhadap
ancaman letusan gunungapi. Kita akan memetakan permukiman yang rawan terkena
letusan gunung api menggunakan data masukan sebaran permukiman di Garut dan
Peta kawasan rawan bencana gunungapi.
1. Add layer Permukiman Garut dan Rawan Bencana Gunungapi di Folder
C:\DiklatGIS\AnalisaVektor\Overlay. Selain itu add juga layer raster basemap garut
di folder yang sama, tapi jangan ditampilkan dulu.

2. Dari menu Vector, klik geoprocessing tools, kemudian pilih intersect, jendela menu
intersect akan muncul. Masuk- kan layer permukiman sebagai input, dan rawan
gunungapi sebagai intersect layer (jangan tandai use only select- ed features).
Tentukan lokasi output di folder yang sama dengan input, kemudian klik OK,
proses intersect akan berjalan yang ditunjukkan dengan progress bar di kiri bawah.

3. kemudian layer permukiman garut di bawahnya dan layer basemap di urutan paling
bawah, seperti contoh pada gambar.
4. Dari hasil analisis kita bisa mengetahui permukiman mana yang rawan bencana,
sehingga bisa kita upayakan kegiatan penanggulangan bencananya.

TinjauanTeoritis Dissolve.
Dissolve adalah proses penyatuan berbagai kenampakan dari sebuah data menjadi satu berdasarkan atribut
tertentu. Salah satu proses dissolving adalah membuat Peta Admininstrasi Kecamatan dari Peta Administrasi
desa. Ilustrasi dis- solve dapat dilihat pada gambar di bawah.

Gambar 1.5. Vektor Dissolve


Untuk Studi Kasus Dissolve, kita akan membuat Peta Administrasi Kecamatan menggunakan Peta
Administrasi Desa sebagai sumber datanya.
1.

Buka data Administrasi Desa Sumatera Utara dari folder C:\DiklatGIS\AnalisaVektor\Dissolve\.

2.
Dari Menu Vector, klik Geoprocessing Tools, kemudian pilih Dissolve. Masukan Admin Desa sebagai
input, pilih
Kecamatan Sebagai Dissolve Field, kemudian simpan di folder Dissolve. Klik OK.

Hasil Dissolve berupa Peta Administrasi Kecamatan dapat dilihat pada gambar di bawah.

B. Analisis Spasial untuk Penentuan Lokasi Pengungsian


Kasus
Mari kita mulai proses dengan memutuskan suatu masalah untuk dipecahkan. Katakanlah
Anda seorang perencana tata kota, dan Anda harus menyediakan usulan terbaik untuk
sebuah lokasi Tempat Pengungsian Sementara untuk menampung pengungsi di sekitar
kota jakarta apabila suatu saat terjadi gunung meletus. Kriteria yang harus dipenuhi untuk
lokasi pengungsian ini adalah:
1. Berada di pemukiman yang ada di luar kawasan bencana daerah I,II dan III.
2. Berada di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut
3. Akses ke lokasi tersebut harus cukup mudah, sehingga jaraknya tidak lebih dari
300 meter dari jalan provinsi dan jalan lokal.
4. Dekat dengan fasilitas kesehatan
5. Luas pemukiman antara 40.000 50.000 m2

Data
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita akan membutuhkan data sebagai berikut:
1. Data administrasi kabupaten Garut : administrasi_garut_terproyeksi
2. Jalan-jalan di Garut beserta kelas jalannya: jaringan_jalan_terproyeksi
3. Lokasi fasilitas kesehatan : fasilitas_kesehatan_terproyeksi
4. Data ancaman : KRB_papandayan_terproyeksi
5. Data permukiman: pemukiman_terproyeksi

DIAGRAM ALIR PENENTUAN LOKASI PENGUNGSIAN GN. PAPANDAYAN KEC CIKAJANG KAB GARUT

Mulai

Layer Administrasi
Kabupaten Garut

Select by Attribut
Kec = Cikajang
Kab = Garut

Layer Fasilitas
Kesehatan Garut

Select by Location
Admin Layer that contain Fas_Kes
Jaringan Jalan

Buffer 2,5 km from Fas_Kesehatan

Intersect
Layer Pemukiman

Difference/ Disjoint

KRB Gn.Papandayan

Intersect

Calculate Area

Luas = 40000
- 50000 m2

selesai

Select Jalan Provinsi and Jalan


Lokal

Buffer 300 m

Cara kerja
1. Masukkan data (5 layer bahan)ke lembar kerja QGIS.
2. Mencari Kecamatan Cikajang
a. Klik kanan pada layer administrasi_garut_terproyeksi, kemudian pilih Filter
sehingga tampil jendela Query
Builder.
b. Klik dua kali pilihan Kecamatan pada Fields klik tanda = klik tombol
All di bawah kolom Values pilih Cikajang pada kolom Values, sehingga
tampilan menjadi seperti di bawah ini lalu klik OK.

c. Hasilnya, desa di Kecamatan Cikajang akan tampil.

3. Memastikan lokasi tempat pengungsian ini tidak terletak pada zona bahaya (dalam
hal ini Kawasan Rawan Bencana). Yang dapat anda lakukan adalah melakukan
seleksi: permukiman mana yang tidak terletak pada daerah Kawasan Rawan
Bencana. Untuk itu Anda dapat menggunakan Spatial Query. Caranya:
a. Klik menu Vector Spatial Query Spatial Query.
b. Masukkan pemukiman_terproyeksi pada bagian Select source features from.
Gunakan fungsi Is Disjoint pada Where the feature dan masukkan
KRB_papandayan_terproyeksi sebagai feature referensi. Atur pilihan sebagai
pilihan baru sehingga tampilan seperti gambar di bawah ini, lalu klik Apply.

c. Hasilnya:

Tampilan di lembar kerja QGIS:

d. Simpan hasil tersebut dengan klik kanan pada layer permukiman_terproyeksi


Save selection as tentukan nama (permukiman_aman) dan lokasi
penyimpanan OK.

e. Layer permukiman_aman sudah tampil. Hapus layer permukiman_terproyeksi.


Tampilan QGIS menjadi seperti di bawah ini.

4. Mencari jalan-jalan yang penting.


Selain fokus kecamatan dan lokasi yang aman, kita memiliki masalah yang sama dengan
jalan. Jalan yang kita pertimbangkan adalah hanya jalan-jalan utama.
a. Buatlah sebuah query untuk layer jalan_terproyeksi, seperti yang Anda lakukan
layer administrasi_garut_terproyeksi.
b. Kita hanya menginginkan jenis jalan lokal, dan provinsi, sehingga Anda perlu
membuat query seperti berikut:
"NAMA_UNSUR" = 'Jalan Propinsi' OR "NAMA_UNSUR" = 'Jalan Lokal'

Klik OK.

c. Hasilnya:

5. Mencari fasilitas kesehatan.


Adanya sebuah fasilitas kesehatan dapat mendukung suatu tempat pengungsian,
mengingat pengungsi sangat rawan terhadap penyakit maupun luka-luka. Anda akan
mencari fasilitas kesehatan yang berada di Kecamatan Cikajang. Gunakan cara Spasial
Query yang sama seperti sebelumnya untuk layer fasilitas_kesehatan_terproyeksi:
a. Gunakan perintah where the feature within antara layer
fasilitas_kesehatan_terproyeksi dengan administrasi_garut_terproyeksi.

Klik Apply sehingga hasilnya:

b. Simpan pada folder data untuk pelatihan/evakuasi bencana dengan nama


fasilitas_kesehatan_administrasi_garut.
c. Karena kita sudah membuat layer baru yang sudah terseleksi, maka layer
fasilitas_kesehatan_terproyeksi bisa di remove.
6. Menganalisis jarak dari puskesmas ke jalan.
a. Aktifkan layer jalan_terproyeksi, pemukiman_aman,
fasilitas_kesehatan_administrasi_garut untuk menyederhanakan tampilan.

b. Lakukan buffer terhadap layer jalan sejauh 300 meter dengan cara:
1) Klik perintah Vector Geoprocessing Tools Buffer(s).

2) Berilah tanda cross pada pilihan Dissolve buffer result untuk menghilangkah
potongan-potongan yang terjadi antar feature jalan.
3) Berilah nama hasil buffer sebagai jalan_buffer300.
4) Berilah tanda cross pada pilihan Add result to canvas.
5) Klik OK

Hasilnya:

c. Ulangi buffer untuk mencari lokasi yang jaraknya 2,5 kilometer (2500 meter)dari
fasilitas kesehatan di Kecamatan Cikajang

(fasilitas_kesehatan_administrasi_garut). Simpan hasil buffer tersebut dengan


nama fasilitas_kesehatan_buffer2,5.

Lakukan transparansi pada pengaturan simbol layer hasil buffer. Hasil dari proses
buffer tersebut:

d. Carilan daerah yang berada pada jangkauan layanan fasilitas kesehatan (2500
meter dari fasilitas kesehatan) dan dekat jalan (berada 300 meter dari jalan
terpilih). Lakukan overlay intersect untuk memperoleh lokasi tersebut.
1) Klik Vector Geoprocessing Tools Intersect.
2) Pilih layer jalan_buffer300 dan fasilitas_kesehatan_buffer2,5 sebagai
data masukan intersect.
3) Simpan hasil intersect dengan nama intersect_jalan_fas_kesehatan.

4) Klik OK. Hasilnya:

7. Memilih calon lokasi pengungsian. Calon lkasi pengungsian merupakan daerah


permukiman yang aman dari bencana (berada di luar KRB), dekat dengan jalan, dan
dekat dengan fasilitas kesehatan.
Untuk mendapatkan calon lokasi tersebut, lakukan overlay intersect antara lokasi
permukiman_aman dengan intersect_jalan_fas_kesehatan dengan cara seperti
sebelumnya. Simpan file hasil dengan nama calon_posko.
Setelah hasilnya tampil di lembar kerja QGIS, aktifkan hanya layer calon_posko, jalan,
dan fasilitas_kesehatan_administrasi_garut.

8. Memilih lokasi pengungsian. Setelah memperoleh lokasi pengungsian, tahapan


selanjutnya adalah memilih lokasi pengungsian yang memenuhi kriteria sebelumnya dan
memiliki luas yang idela untuk dijadikan sebagai lokasi pengungsian. Tahapannya:
a. Hitung terlebih dahulu luas setiap polygon calon_posko dengan cara:
1) Buka tabel data atribut layer calon_posko.
2) Klik Toggle Editing Mode (

) untuk memulai proses editing.

3) Klik Open Field Calculator (


) untuk membuat field baru sekaligus
mengisinya dengan fungsi tertentu.
4) Setelah tampil jendela baru, pilih Create a new field.
5) Ketikkan nama field atau kolom baru, yaitu luas_posko.
6) Pada Output field type pilih decimal number (real).
7) Isikan sehingga tampilan seperti di bawah ini.
Keterangan:
Kita akan menggunakan fungsi perhitungan luas yaitu $area yang
merupakan bagian dari fungsi Geometry.

8) Klik OK. Hasilnya:

b. Pilih lokasi dengan luas yang memenuhi syarat yaitu antara 40000 sampai
50000 m2. Untuk memilih lokasi tersebut gunakan fungsi query atau filter
seperti tahapan ketika mencari Kecamatan Cikajang. Tampilan jendela
query akan seperti di bawah ini.

c. Klik OK sehingga hasilnya akan tampil di lembar kerja QGIS.


d. Simpan hasil query tersebut dengan cara klik kanan layer calon_posko
kemudian pilih Save As lalu lakukan penyimpanan dengan nama file hasil
posko_terpilih. Buka tabel data atribut layer posko_terpilih.

Berikut adalah hasil akhir beserta layer layer terkait (yang berwarna merah)

Pertanyaan dan Jawaban :

1. Saat ini apakah masih ada permukiman di lokasi KRB?


Jawab:
Sudah Tidak Ada

2. B
a
n
d

ingkan tampilan ini dengan tampilan sebelum layer jalan diseleksi (difilter). Bagaimana
jumlah jalan yang terlihat setelah dilakukan query?
Jawab:
Jumlah Jalan berkurang menjadi 4588 yang terdiri dari jalan propinsi dan lokal
Sebelum Terseleksi:

Sesudah Terseleksi:

3. Berapa jumlah fasilitas kesehatan yang terpilih?


Jawab:
3 (Tiga) Fasilitas Kesehatan

4. Di desa apakah lokasi fasilitas kesehatan tersebut?


Jawab:
Di desa Cipangramatan, Cikandang dan Cibodas

5. Ada berapa jumlah lokasi yang memenuhi syarat sebagai lokasi pengungsian?
Jawab:
Ada 2(dua) lokasi pengungsian yang memenuhi syarat

6. Berapa luasnya masing-masing?


Jawab:
dan

7. Sebutkan desa tempat fasilitas kesehatan yang terdekat dari lokasi pengungsian tersebut!
Jawab :
Desa Cibodas

Kesimpulan
Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu alat yang dapat mendukung penetapan keputusan
dalam semua fase siklus bencana. Dengan kata lain adalah suatu kata yang menjelaskan tentang
semua jenis item dari data yang hendaknya mempunyai tingkat keakuratan yang tinggi terhadap suatu
lokasi atau dapat diukur dalam hal koordinat geografis. Pada awalnya focus dari SIG adalah terutama
pada respon bencana. Dengan perubahan paradigma aturan manajemen bencana telah berkembang
secara cepat. Proses harus berjalan menjadi suatu kejadian yang mengalir dari penyiapan hingga
mitigasi, perencanaan hingga prediksi dan kedaruratan hingga perbaikan. Tiap-tiap aktivitas diarahkan
menghasilkan keberhasilan penanganan bencana. Aturan yang dikembangkan termasuk cara yang
diambil dalam mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dan sejumlah keahlian tergambarkan dari
berbagai area yang berbeda. SIG dapat bertindak sebagai antar muka antara semua ini dan dapat
mendukung semua fase siklus manajemen bencana.
Geoprocessing adalah

suatu proses dalam SIG yang digunakan untuk mengolah/melakukan analisa


terhadap data spasial, dimana pada akhirnya akan menghasilkan data dan informasi yang baru. Bisa
dibilang geoprocessing ini adalah aspek yang paling penting di dalam SIG, yang membedakannya
dengan kartografi (kartografi hanya berkutat pada teknik pembuatan peta saja). Geoprocessing
dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu geoprocessing vector dan geoprocessing raster
Adapun yang termasuk dalam kelompok alat
analisis data vector antara lain adalah :
1. Buffer
2. Clip
3. Overlay (Intersect & Union)
4. Dissolve
5. Query