Anda di halaman 1dari 8

Laporan Teknologi Pengolahan

Kelas/kelompok : B-1/5

Dan Pengendalian Limbah

Waktu

: 07.00-11.00 WIB

Industri

Tanggal

: 18 Desember 2014

Dosen

: Ir. Haruki Agustina, Msc

Asisten

: 1. Bramtama Siahaan, A.Md


2. Frisca Rahmadiana, A.Md

LAPORAN KUNJUNGAN PT PINDO DELI PULP AND PEPER MILS 2 DAN


TPST BANTAR GEBANG

Isnaeni Fajrin
J3M112066

PROGRAM KEAHLIAN
TEKNIK DAN MANAJEMEN LINGKUNGAN
PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

Pada tanggal 3 Desember 2014 kami mengunjungi 2 tempat untuk memenuhi


praktikum mata kuliah teknologi pengolahan dan pemanfaatan limbah domestic dan
industri. Dua tempat tersebut ialah PT Pindo Deli Pulp And Peper Mils 2 dan TPST
Bantar Gebang. Kami memulai perjalanan ke PT Pindo Deli terlebih dahulu. Perjalanan
dimulai pada pukul 06.30 WIB, waktu yang ditempuh untuk sampai disana sekitar 3 jam
jadi, sekitar pukul 10.00 WIB kami tiba disana. Sesampai disana kami disambut baik
oleh pihak perusahaan dengan menempatkan kami di aula 1 yang luasnya kira-kira 150
m2 yang telah di desain sedemikian rupa sehingga kami nyaman untuk mendengarkan
penjelasan yang akan disampaikan.
Acara pun dimulai, acara dibuka oleh sambutan dari pihak PT Pindo Deli,
kemudian diteruskan dengan sambutan oleh Ibu Haruki sebagai wakil dari kami. Acara
kemudian disambung dengan penjelasan mengenai perusahaan Pindo Deli seperti
sejarah, visi, misi dan produksi yang disampaikan oleh divisi lingkungan PT Pindo Deli.
Pindo Deli sudah mendapatkan sertifikat ISO 9002 yang diperoleh pada 1995, dan
sertifikat ISO 14001 yang diperoleh atas komitmen perusahaan terhadap lingkungan. PT
Pindo Deli Pulp And Paper Mills (Pindo Deli atauPerseroan) didirikan pada tahun
1975 dan saat ini memiliki tiga pabrik yang berlokasi di Kelurahan Adiarsa, Karawang
Barat, di Desa Kuta Mekar, Karawang Timur dan di Perawang, Riau. PT Pindo Deli
diapit oleh Sungai Otarum dan parit irigasi, Pindo Deli menggunakan aliran Sungai
Citarum di sebelah perusahaan untuk memenuhi kebutuhan proses produksi. Air dari
Sungai Citarum digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestic di kawasan
perusahaan. Sebagian air limbah dan penggunaan domestic relah di-treatment sendiri
untuk kemudian digunakan kembali sebagai air baku.
Adapun alur pengolahan sistem pengolahan air limbah di PT Pindo Deli Pulp
and Paper terdiri dari Screening, Bak equalisasi, Koagulasi, Primary Clarifier, Bak
Aerasi, Secondary Clarifier, dan effluent.

Diagram 1 Proses Pengolahan Limbah Cair di PT Pindo Delli 2

Tahapan-tahapan tersebut merupakan gabungan antara unit proses fisika, kimia,


dan biologi. Dalam tahapan awal, influent atau limbah dari proses produksi masuk ke
dalam proses IPAL dan melewati proses secara fisika terlebih dahulu, yaitu dengan
Screening, dan ekualisasi. Screening berfungsi untuk menyaring padatan kasar yang
terdapat pada air limbah, sedangakan ekualisasi berfungsi untuk menghomogenkan sifat
air limbah hasil produksi.

Gambar 1 Bak Equalisasi


Setelah melewati tahap fisika, tahapan dilanjutkan dengan melewati tahapan
kimia. Tahapan kimia pada desain IPAL ini menggunakan koagulasi, dimana
didalamnya akan ada penambahan senyawa kimia. Pada tahapan penambahan bahan
kimia maka akan terbentuk proses koagulasi. Proses koagulasi yaitu proses dimana
terbentuknya gumpalan-gumpalan yang dapat diendapkan, disaring atau diapungkan
dari polutan-polutan yang tersuspensi koloid yang sangat halus di dalam air limbah
dengan penambahan bahan kimia yang ramah lingkungan dan tidak mengandung
limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun). Proses koagulasi ditujukan untuk
menghilangkan kekeruhan dan warna , umumnya berwujud koloid. Tahap selanjutanya
yaitu penurunan suhu air limbah dengan menggunakan cooling tower, proses ini harus
dilakukan dikarenkan pada proses sebelumnya dihasilkan limbah dengan suhu yang
cukup tinggi. Biasanya suhu melebih 400 C sehingga harus melalui proses pendinginan
di cooling tower.
Tahapan

kimia yang telah dilewati dilanjutkan dengan melewati primary

clarifier, dimana tahapan tersebut termasuk ke dalam

tahapan proses fisika. Bak

primari clarifier ini merupakan bak sedimentasi pertama, dimana berfungsi untuk
memisahkan padatan tersuspensi dari air limbah dengan pengedapan secara gravitasi.

Tahapan ini akan menghasilkan pengendapan lumpur yang akan ditransfer ke belt press.
Hasil dari proses belt press yaitu limbah padat berupa sludge. Sludge ini mengadung
bahan kimia, karena pada proses sebelumnya terdapat penambahan bahan kimia
didalamnya.
Proses sebelumnya dari hasil Clarifier menghasilakan cairan yang berikutnya
dimasukan ke dalam Cooling Tower sedangkan padatannya akan di tampung di bak
pengumpul sludge yang terdapat di bagian dasar bak Clarifier yang nantinya akan
dipompa ke Belt Press yang akan dihilangkan kadar air yang ada di lumpur tersebut.
Dalam proses biiologi dengan menggunakan aerasi, di bak ini kapasitas muatan
air limbahnya sebesar 25.800 m3. Jumlah MLSS berkisar antara 5.000-7000 mg/L,
Oksigen terlarut (DO) minimum 2mg/L dengan waktu tinggal selama 15-16 hours, dan
Food per material (F/M) sebesar 0.11.
Udara pada bak aerasi sangat berpengaruh dalam menurunkan nilai BOD5.
Udara berfungsi sebagai konsumsi bakteri agar dengan aktif dapat memakan kandungan
organik dalam limbah.Bakteri pengurai mengkonsumsi bahan-bahan organik sehingga
berurai menjadi bahan-bahan sederhana seperti CO2, CO dan H2O. Pada akhirnya
CO2akan ke udara dan H2O menyatu dengan air.

Gambar 2 Bak Aerasi


Kemudian akan dialnjutkan ke tahap selanjutnya yaitu (secondary clarifier).
Lumpur ini kemudian dihisap dengan pompa keluar, lalu dikeringkan oleh Belt Press
untuk mengurai kadar air yang terdapat di padatan tersebut. Padatan yang telah di prss
dengan belt press kemudian sebagian dikembalikan kembali ke bak aerasi sebagai
lumpur aktif. Pada bak aerasi terjadi penguraian zat organik secara biokimia oleh jasad
renik aerob dengan suplai oksigen yang cukup.Bak pengendap berfungsi untuk

memisahkan lumpur aktif (biomassa) yang berasal dari bak aerasi. Lumpur aktif yang
mengendap sebagian dikembalikan lagi ke bak aerasi dan sebagian yang lain di buang.
Pada prakteknya proses lumpur aktif adalah merupakan suatu pengolahan air
limbah, dimana air limbah bersama lumpur aktif masuk dalam bak aerasi, kemudian
diaerasi terus menerus. Air limbah (zat organik) akan dioksidasi oleh jasad renik
menjadi gas karbon dioksida dan sel baru. Banyaknya gas dan sel baru yang terbentuk
mengikuti persamaan reaksi oksidasi dan sintesis sel seperti diuraikan diatas. Jumlah sel
baru dalam tangki aerasi akan terus bertambah. Disisi lain sel-sel yang tua akan mati,
namun demikian jumlah sel baru yang terbentuk harus jauh lebih besar dari sel yang
mati. Hal ini untuk memungkinkan terjadinya positivenet growth (sel terus bertambah).
Secara umum proses lumpur aktif adalah sebagai berikut:
1. Lumpur aktif dimasukkan oleh konsentrasi MLSS.
2. Air limbah diaerasi melalui peralatan aerator sehingga oksigen banyak terserap.
3. Limbah air dialirkan ketangki pemisah dimana lupur mengendap pada jangka waktu
tertentu dan sebelah atas terdapat air bersih.
4. Air bersih secara grafitasi dapat dialirkan keperairan sebab sudah terhindar dari
bahan pencemar.
5. Lumpur yang mengendap kebagian dasar dibuang dan sebagian dikembalikan ke
reaktor.
Pada proses lumpur aktif ini perlu diperhatikan butiran lumpur dan waktu tinggal
lumpur dalam reaktor. Butiran lumpur yang keras sulit mengedap sehingga sulit
dipisahkan dari cairan. Bila lumpur ini terlalu banyak akan menutupi permukaan dan
menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme tidak baik. Oleh karena itu perlu diketahui
perbandingan volume lumpur dan berat lumpur yang disebut dengan Angka Volume
Lumpur (AVL) atau Sludge Volume Indeks (Ginting Perdana, 2008).

Gambar 3 Bak clarifier 2


Setelah melalui tahap secondary Clarifier peroses selanjutnya yaitu pengaliran air
lombah menuju bak effluen diman pada proses ini air akan di alirkan pada bak kontrol
dan badan air. Air limbah yang telah melewati tahap pengolahan IPAL PT PindoDeli
telah memenuhi baku mutu yang telah di tetpkan sehingga akan aman bagi ekosistem
prairan yang mengair kawasan tersebut.
PT Pindo Deli menghasilkan limbah B3 yang diantaranya yaitu oli bekas, tinta
Printing, Tinta Converting Tisue, Tintta Corrugated, sludge TSP, fly ask, sludge peper,
limbah H2SO4 70% , Accu bekas limbah lab dan poliklinik. Limbah limbah tersebut
sebagian dikeringkan. Limbah B3 yang tidak dapat di keringkn dan diolah oleh PT
Pindo Fdeli selnjutnya akan di proses oleh pihak ke 3.

Gambar 4
Keterangan Tempat Penyimpanan

Gambar 5
B3Limbah B3 yang di Keringkan

Sekitar pukul 12:00 kami diajak mengelilingi tempat produksi dan IPAL yang
terdapat disana.IPAL yang Perseroan miliki cukup lengkap dan begitu terintegrasi.

Pengenalan secara langsung bentuk dan proses IPAL dapat membantu kami lebih
memahami sistematika mengenai IPAL. Sekitar 1 jam kami diajak berkeliling,
selanjutnya diakhiri dengan sesi foto tepatnya berada di depan Bak Ekualisasi Plant 3.
Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju TPST Bantar Gebang.
Sekitar pukul 14.00 WIB kami tiba di TPST Bantar Gebang. Sebelumnya
pengelola TPST Bantar Gebang telah menunggu kehadiran kita. Namun karena terlalu
siang kita datangnya, pemberian materi digantikan oleh rekannya. Dikarenakan
pengelola tersebut ada urusan dan harus meninggalkan kami. Pengelolaan sampah di
Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang berada di Kota Bekasi
sudah menghasilkan sebanyak 60 ton pupuk kompos setiap hari yang kemudian siap
dijual. Pengolahan sampah dengan cara pengomposan dilakukan oleh TPST Bantar
Gebang dengan memanfaatkan sampah organik yang didapatkan dari sampah-sampah
pasar hal ini dikarenakan sampah-sampah yang bersumber dari pasar tradisional
memiliki kadar sampah organik yang tebih tinggi dibandingkan sumber sampah yang
lainnya. Sampah yang bersumber dari sampah pasar kemudian dipisahkan antara
sampah organik dan sampah pelastik hal ini untuk memudahkan proses pengolahan
kompos selanjutnya. Sampah organik tersebut kemudian di bulak-balikan selama 7-14
hari untuk menurunkan kadar C/N rasio pada sampah organik tersebut. sampah yang
telah dibulak-balikan kemudian dikeringkan secara berkala untuk menurunkan kadar air
yang berada di dalam sampah-sampah tersebut. setelah dilakukan pembalikan dan
pengeringan hingga mencapai C/N rasio yang diinginkan kemudian dilakukan
penggumpalan kompos untuk memudahkan penyebaran kompos dan mengurangi
terjadinya penguapan dari kompos-kompos tersebut. kompos yang telah digumpalkan
akan lebih memudahkan petani untuk menyebarkan kompos tersebut.

(a)

(b)

(c)

Gambar 6 Unit pengolahan kompos TPA Bantargebang (a) timbunan sampah


yang telah menjadi kompos; (b) alat penyaring kompos yang telah matang dari
plastik/bahan anorganik lain yang tidak terurai; (c) kompos yang dikemas dan siap
dijual.
TPST ini menerapkan metode Sanitary Landfill, Sanitary Landfill adalah
membuang dan menumpuk sampah ke suatu lokasi yang cekung, memadatkan sampah
kemudian menutupnya dengan tanah. Tanah yang dipakai adalah tanah merah karena
mempunyai kemampuan untuk menutup dengan rapat, sehingga tidak mudah tererosi
jika terkena hujan. Lapisan bawah Landfill sendiri dilapisi dengan dua lembar lapisan
sanitary. Selanjutnya kami menuju IPAL TPST Bantar Gebang. IPAL sederhana ini
dibangun untuk meminimalisir pencemaran air sungai dan air lindi sampah. Proses yang
digunakan hanya aerasi. Hingga akhirnya, outlet air yang dihasilkan pun masih
berwarna coklat. Kemudian kami ke tempat pembangkit listrik. Dulunya setelah ditutup
dengan tanah, sampah akan menghasilkan gas yang dialirkan melalui pipa agar dapat
keluar dan tidak meledak. Namun metode ini diketahui tidak ramah lingkungan. Gas
metan dihasilkan akan merusak lapisan ozon di atmosfer bumi. Oleh karena itu, sejak
April 2011 dilakukan pemanfaatan gas metan menjadi listrik. Tempat terakhir yang
dikunjungi adalah Landfill.
Setelah kami melihat-lihat pengolahan sampah yang terdapat di TPST Bantar
Gebang, kami kembali ke Bogor pada pukul 17:00 WIB dan tiba di Bogor pada pukul
20.00 WIB.