Anda di halaman 1dari 16

BAB II

LANDASAN TEORI

1.

Pengertian

Kanker colon adalah suatu kanker yang yang berada di colon. Ca Colon atau kanker usus besar
atau disebut juga kanker kolorektal merupakan salah satu jenis kanker ganas yang tumbuh pada
permukaan usus besar (kolon) atau anus (rectum). Kanker usus besar adalah kanker yang amat
dipengaruhi lingkungan dan gaya hidup. Penyakit ini termasuk penyakit yang mematikan karena
penyakit ini sering tidak diketahui sampai tingkat yang lebih parah.

2.

Etiologi

Dewasa ini banyak orang terjangkit penyakit kanker usus. Penyebab kanker usus sendiri saat ini
belum diketemukan secara pasti. Namun seperti halnya kanker yang lain, para ahli kesehatan
menduga bahwa kanker usus disebabkan oleh gaya hidup yang buruk seperti konsumsi alkohol,
makanan berlemak tinggi dan merokok serta aktivitas bergadang yang berlebihan.
Penyebab dari pada kanker Colon tidak diketahui. Diet dan pengurangan waktu peredaran pada
usus besar (aliran depan feces) yang meliputi faktor kausatif. Petunjuk pencegahan yang tepat
dianjurkan oleh Amerika Cancer Society (The National Cancer Institute), dan organisasi kanker
lainnya.
Makanan-makanan yang pasti di curigai mengandung zat-zat kimia yang menyebabkan kanker
pada usus besar. Makanan tersebut juga mengurangi waktu peredaran pada perut, yang
mempercepat usus besar menyebabkan terjadinya kanker. Makanan yang tinggi lemak terutama
lemak hewan dari daging merah,menyebabkan sekresi asam dan bakteri anaerob, menyebabkan
timbulnya kanker didalam usus besar. Daging yang di goreng dan di panggang juga dapat berisi
zat-zat kimia yang menyebabkan kanker. Diet dengan karbohidrat murni yang mengandung serat

dalam jumlah yang banyak dapat mengurangi waktu peredaran dalam usus besar. Beberapa
kelompok menyarankan diet yang mengadung sedikit lemak hewan dan tinggi sayuran dan buahbuahan (e.g Mormons, seventh Day Adventists).
Makanan yang harus dihindari :
Daging merah
Lemak hewan
Makanan berlemak
Daging dan ikan goreng atau panggang
Karbohidrat yang disaring (example:sari yang disaring)
Makanan yang harus dikonsumsi:
Buah-buahan dan sayur-sayuran khususnya Craciferous Vegetables dari golongan kubis (seperti
brokoli,brussels sprouts)
Butir padi yang utuh
Cairan yang cukup terutama air
Karena sebagian besar tumor Colon menghasilkan adenoma, faktor utama yang membahayakan
terhadap kanker Colon menyebabkan adenoma. Ada tiga type adenoma Colon : Tubular, Villous
dan Tubulo Villous. Meskipun hampir sebagian besar kanker Colon berasal dari adenoma, hanya
5% dari semua Adenoma Colon menjadi manigna, Villous Adenoma mempunyai potensial tinggi
untuk menjadi manigna.
Faktor yang menyebabkan adanya adenoma benigna atau manigna tumor tidak diketahui,
poliposis yang bergerombol bersifat herediter yang tersebar pada gen autosom dominan. Ini di
karakteristikkan pada permulaan adematus polip pada colon dan rektum. Resiko dari kanker pada
tempat femiliar poliposis mendekati 100 % dari orang yang berusia 20 30 tahun.
Orang-orang yang telah mempunyai Ulcerative Colitis atau penyakit Crohns juga mempunyai
resiko terhadap kanker Colon. Penambahan resiko pada permulaan usia muda dan tingkat yang

lebih tinggi terhadap keterlibatan colon. Resiko dari kanker Colon akan menjadi 2/3 kali lebih
besar jika anggota keluarga menderita penyakit tersebut.

3.

Patofisiologi

Karsinoma Colon sebagian besar menghasilkan adenomatus polip. Biasanya tumor ini tumbuh
tidak terditeksi sampai gejala-gejala muncul secara berlahan dan tampak membahayakan.
Penyakit ini menyebar dalam beberapa metode. Tumor mungkin menyebar dalam tempat tertentu
pada lapisan dalam di perut,mencapai serosa dan mesenterik fat. Kemudian tumor mulai melekat
pada organ yang ada disekitarnya,kemudian meluas kedalam lumen pada usus besar atau
menyebar ke limpa atau pada sistem sirkulasi. Sistem sirkulasi ini langsung masuk dari tumor
utama melewati pembuluh darah pada usus besar melalui limpa,setelah sel tumor masuk pada
sistem sirkulasi,biasanya sel bergerak menuju liver. Tempat yang kedua adalah tempat yang jauh
kemudian metastase ke paru-paru. Tempat metastase yang lain termasuk :
- Kelenjar Adrenalin
- Ginjal
- Kulit
- Otak
Penambahan untuk infeksi secara langsung dan menyebar melalui limpa dan sistem sirkulasi,
tumor colon juga dapat menyebar pada bagian peritonial sebelum pembedahan tumor belum
dilakukan. Penyebaran terjadi ketika tumor dihilangkan dan sel kanker dari tumor pecah menuju
ke rongga peritonial.

4.

Manifestasi Klinik

Mula-mula gejalanya tidak jelas, seperti berat badan menurun (sebagai gejala umum keganasan)
dan kelelahan yang tidak jelas sebabnya. Setelah berlangsung beberapa waktu barulah muncul
gejala-gejala lain yang berhubungan dengan keberadaan tumor dalam ukuran yang bermakna di
usus besar. Makin dekat lokasi tumor dengan anus biasanya gejalanya makin banyak. Bila kita
berbicara tentang gejala tumor usus besar, gejala tersebut terbagi tiga, yaitu gejala lokal, gejala
umum, dan gejala penyebaran (metastasis).
a.

Gejala lokalnya adalah :

Perubahan kebiasaan buang air


v Perubahan frekuensi buang air, berkurang (konstipasi) atau bertambah (diare)
v Sensasi seperti belum selesai buang air, (masih ingin tapi sudah tidak bisa keluar) dan
perubahan diameter serta ukuran kotoran (feses). Keduanya adalah ciri khas dari kanker
kolorektal
v Perubahan wujud fisik kotoran/feses :
Feses bercampur darah atau keluar darah dari lubang pembuangan saat buang air besar
Feses bercampur lendir
Feses berwarna kehitaman, biasanya berhubungan dengan terjadinya perdarahan di saluran
pencernaan bagian atas
Timbul rasa nyeri disertai mual dan muntah saat buang air besar, terjadi akibat sumbatan
saluran pembuangan kotoran oleh massa tumor.
Adanya benjolan pada perut yang mungkin dirasakan oleh penderita.
Timbul gejala-gejala lainnya di sekitar lokasi tumor, karena kanker dapat tumbuh mengenai
organ dan jaringan sekitar tumor tersebut, seperti kandung kemih (timbul darah pada air seni,
timbul gelembung udara, dll), vagina (keputihan yang berbau, muncul lendir berlebihan, dll).

Gejala-gejala ini terjadi belakangan, menunjukkan semakin besar tumor dan semakin luas
penyebarannya.

b.

Gejala umumnya adalah :


Berat badan turun tanpa sebab yang jelas (ini adalah gejala yang paling umum di semua

jenis keganasan)

Hilangnya nafsu makan

Anemia, pasien tampak pucat

Sering merasa lelah

Kadang-kadang mengalami sensasi seperti melayang

c.

Gejala penyebarannya adalah :

Penyebaran ke Hati, menimbulkan gejala :

o Penderita tampak kuning


o Nyeri pada perut, lebih sering pada bagian kanan atas, di sekitar lokasi hati
o Pembesaran hati, biasa tampak pada pemeriksaan fisik oleh dokter

Timbul suatu gejala lain yang disebut paraneoplastik, berhubungan dengan peningkatan

kekentalan darah akibat penyebaran kanker.

Tingkatan / Staging / Stadium Kanker Kolon


Terdapat beberapa macam klasifikasi staging pada kanker kolon, ada klasifikasi TNM,
klasifikasi Dukes, namun yang akan saya jabarkan klasifikasinya adalah sebagai berikut (mirip
dengan klasifikasi Dukes) :

Stadium 1 : Kanker terjadi di dalam dinding kolon


Stadium 2 : Kanker telah menyebar hingga ke lapisan otot kolon
Stadium 3 : Kanker telah menyebar ke kelenjar-kelenjar limfa
Stadium 4 : Kanker telah menyebar ke organ-organ lain

5.

Penatalaksaan

Perawatan penderita tergantung pada tingkat staging kanker itu sendiri. Terapi akan jauh lebih
mudah bila kanker ditemukan pada stadium dini. Tingkat kesembuhan kanker stadium 1 dan 2
masih sangat baik. Namun bila kanker ditemukan pada stadium yang lanjut, atau ditemukan pada
stadium dini dan tidak diobati, maka kemungkinan sembuhnya pun akan jauh lebih sulit.
Di antara pilihan terapi untuk penderitanya, opsi Operasi masih menduduki peringkat pertama,
dengan ditunjang oleh kemoterapi dan/atau radioterapi (mungkin diperlukan).
Penatalaksanaan Medis
Pengobatan.
Bila sudah pasti ditemukan karsinoma kolorektal, maka kemungkinan pengobatannya adalah:
a. Pembedahan Reseksi.
Satu-satunya pengobatan definitif adalah pembedahan reseksi dan biasanya diambil sebanyak
mungkin dari kolon, batas minimal adalah 5 cm di sebelah distal dan proksimal dari tempat
kanker. Untuk kanker di sekum dan kolon asendens biasanya dilakukan hemikolektomi kanan
dan dibuat anastomosis ileo-transversal. Untuk kanker di kolon transversal dan di pleksura
lienalis, dilakukan kolektomi subtotal dan dibuat anastomosis ileosigmoidektomi. Pada kanker di
kolon desendens dan sigmoid dilakukan hemikolektomi kiri dan dibuat anastomosis kolorektal
transversal. Untuk kanker di rektosigmoid dan rektum atas dilakukan rektosigmoidektomi dan
dibuat anastomosis. Desenden kolorektal. Pada kanker di rektum bawah dilakukan
proktokolektomi dan dibuat anastomosis kolorektal.

b. Kolostomi
Kolostomi merupakan tindakan pembuatan lubang (stoma) yang dibentuk dari pengeluaran
sebagian bentuk kolon (usus besar) ke dinding abdomen (perut), stoma ini dapat bersifat
sementara atau permanen.

Penatalaksanaan Keperawatan

Dukungan adaptasi dan kemandirian.

Meningkatkan kenyamanan.

Mempertahankan fungsi fisiologis optimal.

Mencegah komplikasi.

Memberikan informasi tentang proses/ kondisi penyakit, prognosis, dan kebutuhan

pengobatan.

Penatalaksanaan Diet

Cukup mengkonsumsi serat, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Serat dapat

melancarkan pencemaan dan buang air besar sehingga berfungsi menghilangkan kotoran dan zat
yang tidak berguna di usus, karena kotoran yang terlalu lama mengendap di usus akan menjadi
racun yang memicu sel kanker.

Kacang-kacangan (lima porsi setiap hari).

Menghindari makanan yang mengandung lemak jenuh dan kolesterol tinggi terutama yang

terdapat pada daging hewan.

Menghindari makanan yang diawetkan dan pewarna sintetik, karena hal tersebut dapat

memicu sel karsinogen / sel kanker.

Menghindari minuman beralkohol dan rokok yang berlebihan.

Melaksanakan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur.

Prognosis pasien yang terkena kanker kolon lebih baik bila lesi masih terbatas pada mukosa dan
submukosa pada saat operasi; dan jauh lebih buruk bila telah terjadi penyebaran di luar usus
(metastasis) ke kelenjar limfe, hepar. paru, dan organ-organ lain.

6.

Komplikasi

Komplikasi pada pasien dengan kanker kolon yaitu:


a.

Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau lengkap.

b.

Metastase ke organ sekitar, melalui hematogen, limfogen dan penyebaran langsung.

c.

Pertumbuhan dan ulserasi dapat juga menyerang pembuluh darah sekitar kolon yang

menyebabkan hemorragi.
d.

Perforasi usus dapat terjadi dan mengakibatkan pembentukan abses.

e.

Peritonitis dan atau sepsis dapat menimbulkan syok.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

A.

Pengkajian

1.

Identitas Klien

Meliputui nama, umur, jenis kelamin, MR, pekerjaan.


2.

Riwayat Kesehatan

a.

RKD

Memiliki riwayat merokok, minum alkohol, masalah TD, perdarahan pada rektal, perubahan
feses.
b.

RKS

Biasanya alopesia,lesi,mual muntah, nyeri ulu hati, perut begah, pusing,


c.

RKK

Riwayat penyakit keluarga adanya riwayat kanker.


3.

Pemeriksaan Fisik

Pengkajian pada pasien dengan kanker kolon menurut Marilynn E. Doenges (1999)diperoleh
data sebagai berikut sbb:
a.

Aktivitas/istirahat

Pasien dengan kanker kolorektal biasanya merasakan tidak nyaman pada abdomen dengan
keluhan nyeri, perasaan penuh, sehingga perlu dilakukan pengkajian terhadap pola istirahat dan
tidur.
b.

Sirkulasi

Gejala: Palpitasi, nyeri dada pada pergerakan kerja. Kebiasaan: perubahan pada tekanan darah.
c.

Integritas ego

Faktor stress (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stress ( misalnya

merokok, minum alkohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan religius/ spiritual)

Masalah tentang perubahan dalam penampilan misalnya, alopesia, lesi, cacat,

pembedahan.

Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak merasakan,

rasa bersalah, kehilangan.

d.

Eliminasi
Adanya perubahan fungsi kolon akan mempengaruhi perubahan pada defekasi pasien,

konstipasi dan diare terjadi bergantian. Bagaimana kebiasaan di rumah yaitu: frekuensi,
komposisi, jumlah, warna, dan cara pengeluarannya, apakah dengan bantuan alat atau tidak
adakah keluhan yang menyertainya. Apakah kebiasaan di rumah sakit sama dengan di rumah.

Pada pasien dengan kanker kolerektal dapat dilakukan pemeriksaan fisik dengan observasi

adanya distensi abdomen, massa akibat timbunan faeces.

Massa tumor di abdomen, pembesaran hepar akibat metastase, asites, pembesaran kelenjar

inguinal, pembesaran kelenjar aksila dan supra klavikula, pengukuran tinggi badan dan berat
badan, lingkar perut, dan colok dubur.
e.

Makanan/cairan

Gejala: kebiasaan makan pasien di rumah dalam sehari, seberapa banyak dan komposisi setiap
kali makan adakah pantangan terhadap suatu makanan, ada keluhan anoreksia, mual, perasaan
penuh (begah), muntah, nyeri ulu hati sehingga menyebabkan berat badan menurun.
Tanda: Perubahan pada kelembaban/turgor kulit; edema
f.

Neurosensori

Gejala: Pusing; sinkope, karena pasien kurang beraktivitas, banyak tidur sehingga sirkulasi darah
ke otak tidak lancar.
g.

Nyeri/kenyamanan

Gejala: Tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi misalnya ketidaknyamanan ringan sampai nyeri
berat (dihubungkan dengan proses penyakit)
h.

Pernapasan
Gejala: Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seorang perokok).

Pemajanan asbes
i.

Keamanan

Gejala: Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen. Pemajanan matahari lama/berlehihan.


Tanda: Demam. Ruam ku1it, ulserasi
j.

Seksualitas

Gejala: Masalah seksual misalnya dampak pada hubungan peruhahan pada tingkat kepuasan.
Multigravida lebih besar dari usia 30 tahun Multigravida, pasangan seks multipel, aktivitas
seksual dini, herpes genital.
k.

Interaksi sosial

Gejala: Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung


Riwayat perkawinan (berkenaan dengan kepuasan di rumah, dukungan, atau bantuan).

B.

Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan berdasarkan analisa data menurut Marilynn E. Doenges (1999),Brunner


and Suddarth (2001), dan Lynda Juall Carpenito (1997).
1.

Ansietas / ketakutan berhubungan dengan krisis situasi (kanker)

2.

Nyeri b.d obstruksi tumor pada usus besar dengan kemungkinan menekan organ yang

lainnya

3.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipometabolik

berkenaan dengan kanker.


4.

Risiko

tinggi

terhadap

kekurangan

volume

cairan

berhubungan

dengan

kurang adekuatmasukan cairan.


5.

Keletihan berhubungan dengan perubahan kimia tubuh: efek samping obat- obatan,

kemoterapi.

C.
1.

Intervensi Keperawatan
Ansietas/ ketakutan berhubungan dengan krisis situasi (kanker)

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan ansietas dapat berkurang atau dapat dikontrol.
Kriteria Evaluasi : (1) Menunjukkan rentang yang tepat dari perasaan dan berkurangnya rasa
takut, (2) Dapat mengungkapkan rasa takutnya, (3) Tampak rileks dan melaporkan ansietas
berkurang, ( 4) Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif, ( 5) Dapat
mengungkapkan pikiran dan perasaannya.

Intervensi :
1.

Dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan.

2.

Berikan lingkungan terbuka dimana pasien merasa aman.

3.

Pertahankan kontak sering dengan pasien.

4.

Bantu pasien/ orang terdekat dalam mengenali rasa takut.

5.

Tingkatkan rasa tenang dan lingkungan tenang.

2.

Nyeri b/dobstruksi tumor pada usus besar dengan kemungkinan menekan organ yang

lainnya.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dapat melaporkan
penghilangan nyeri maksimal/kontrol dengan pengaruh minimal.
Kriteria Evaluasi: (1) Mengungkapkan nyeri hilang atau berkurang secara bertahap, (2)
Mengungkapkan rasa nyerinya, (3) Mengikuti aturan farmakologis yang ditentukan, (4)
Mendemonstrasikan ketrampilan relaksasi, (5) Dapat melakukan tekhnik relaksasi nafas dalam
jika nyeri timbul dan tekhnik pengalihan lainnya.
Intervensi
1.

Tentukan riwayat nyeri, misalnya lokasi nyeri, frekuensi, durasi, dan intensitas, serta

tindakan penghilang yang dilakukan.


2.

Berikan tindakan kenyamanan dasar dan aktivitas hiburan.

3.

Dorong ketrampilan manajemen nyeri misalnya teknik relaksasi napas dalam (dengan cara

tarik nafas melalui hidung tahan sampai hitungan sepuluh lalu hembuskan pelan -pelan melalui
mulut sambil dirasakan), tertawa, musik, dan sentuhan terapetik.
4.

3.

Evaluasi penghilangan nyeri/ kontrol.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik

berkenaan dengan kanker .


Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dapat mendemonstrasikan
berat badan stabil.
Kriteria Evaluasi: (1) Pengungkapan pemahaman pengaruh individual pada masukan adekuat, (2)
Berpartisipasi dalam intervensi spesifik, (3) Menunjukkan peningkatan berat badan secara
bertahap, ( 4) Tidak menunjukkan gejala mual dan muntah.

Intervensi :
1.
2.
3.

Pantau masukan setiap hari.


Timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi.
Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori dan kaya nutrien dengan masukan cairan

adekuat.
4.

Dorong pasien untuk makan dengan porsi kecil tetapi sering.

5.

Ciptakan suasana makan yang menyenangkan.

6.

Identifikasi pasien yang mengalami mual/muntah yang diantisipasi.

4. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kurang adekuatnya
masukan cairan.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kekurangan volume cairan tidak
terjadi.
Kriteria Evaluasi: (1) Menunjukkan keseimbangan adekuat dibuktikan oleh tanda-tanda vital
stabil, membran mukosa lembab. turgor kulit baik, (2) TTV dalam batas normal : TD 120/80
mmHg N 80-88 x/mnt RR 16-24 x/mnt S 36-37oC. (3) intake dan out put seimbang.

Intervensi :
1.

Pantau masukan dan keluaran dan berat jenis.

2.

Timbang berat badan sesuai indikasi

3.

Pantau TTV

4.

Dorong peningkatan masukan cairan sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi individu.

5.

Kaji turgor kulit dan membran mukosa

5. Keletihan berhubungan dengan perubahan kimia A tubuh: efek samping obat-obatan,


kemoterapi.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dapat melaporkan perbaikan
rasa berenergi.
Kriteria Evaluasi: ( 1) Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan pada tingkat kemampuan,
(2) Melakukan aktivitas secara bertahap, (3) Kebutuhan nutrisi terpenuhi.

Intervensi :
1.

Rencanakan perawatan untuk memungkinkan periode istirahat.

2.

Buat tujuan aktivitas realistis dengan pasien.

3.

Dorong pasien untuk melakukan apa saja bila mungkin.

4.

Pantau respons fisiologis terhadap aktivitas

5.

Dorong masukan nutrisi.

D.

Implementasi

Setelah rencana keperawatan disusun, selanjutnya dilakukan dalam tindakan yang nyata untuk
mengatasi masalah yang dihadapi klien. Tindakan tersebut harus dijelaskan secara terperinci
sehingga dapat dengan mudah diterapkan.

E.

Evaluasi

Merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan, dimana perawat mampu menilai apakah
tujuan dapat tercapai atau tidak.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall.2009. Diagnosis Keperawatan Aplikasi Pada Praktik Klinis Edisi
9.Jakarta : EGC
Doengoes, Mariliynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC
Hillman RS, Ault KA. Iron Deficiency Anemia. Hematology in Clinical Practice. A Guide to
Diagnosis and Management. New York; McGraw Hill, 1995 : 72-85.

Price, Sylvia. 2005. Patofisiologis : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC