Anda di halaman 1dari 15

eJournal Ilmu Administrasi Bisnis, 2014, 2 (2):245-259

ISSN 2355-5408, ejournal.adbisnis.fisip-unmul.ac.id


Copyright 2014

ANALISIS PENGENDALIAN MUTU (QUALITY CONTROL)


CPO (CRUDE PALM OIL) PADA PT. BUANA WIRA SUBUR
SAKTI DI KABUPATEN PASER
M. Fajar Wulan D1
ABSTRAK
M. Fajar Wulan D, Analisis Pengendalian Mutu (Quality Control) CPO
(Crude Palm Oil) pada PT. Buana Wirasubur Sakti di Kabupaten Paser. Di
bawah bimbingan Ir. Noercahyono, MM. selaku Pembimbing I dan Bapak Eko
Adi Widyanto, SE,. M.SA. selaku Pembimbing II.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengendalian mutu CPO
(Crude Palm Oil) pada PT. Buana Wirasubur Sakti. Analisis dilakukan dengan
cara mengolah data inspeksi kadar asam lemak bebas, kadar air, dan kadar
kotoran dengan menggunakan alat analisis pengendalian mutu diagram
histogram, grafik kendali, dan diagram sebab akibat. Hasil analisis dibandingkan
dengan standar pengendalian mutu yang ditetapkan BSN melalui SNI 01-29012006 dan standar mutu yang ditetapkan oleh konsumen PT. Buana Wirasubur
Sakti.
Berdasarkan analisis diagram histogram untuk kadar asam lemak bebas
dan kadar kotoran tidak terdapat data yang berada di luar batas, akan tetapi
pada kadar air terdapat 16 sampel berada di atas standar yang ditetapkan oleh
BSN yaitu 0,5%. Berdasarkan hasil analisis grafik kendali pengendalian mutu
CPO (Crude Palm Oil), jumlah sampel yang berada di luar batas kendali
menurut peta kontrol Xbar dan R untuk kadar asam lemak bebas sebanyak
sebelas sampel pada peta kendali Xbar dan dua sampel pada peta kendali R.
Kemudian, untuk kadar air terdapet lima sampel pada peta kendali Xbar dan dua
sampel pada peta kendali R. Serta untuk kadar kotoran terdapat tujuh sampel
apda peta kendali Xbar dan tiga sampel pada peta kendali R. Berdasarkan hasil
analisis diagram sebab akibat yaitu dilakukan dengan proses observasi lapangan
dan wawancara terdapat lima faktor yang mempengaruhi pengendalian mutu
CPO (Crude Palm Oil). Faktor itu sendiri meliputi bahan baku, lingkungan kerja,
mesin, bahan baku, manusia, dan metode karja.
Kata Kunci: analisis pengendalian mutu, diagram sebab akibat, dan grafik
kendali.
Pendahuluan
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia karena
kontribusinya terhadap perolehan devisa, peluang pengembangan pasar serta
penyerapan tenaga kerja, dan menjadikan Indonesia sebagai eksportir minyak
1

Mahasiswa, S1 Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Mulawarman, Email: Fajarwulan@yahoo.co.id

eJournal Ilmu Administrasi Bisnis, Volume 2, Nomor 2, 2014:245-259

kelapa sawit (Crude Palm Oil- CPO) nomor satu di dunia, sebagaimana dapat
dilihat pada Tabel berikut.
Tabel
Eksportir CPO Dunia Tahun 2013
No
Negara Eksportir
Total Ekspor (ton)
1
Indonesia
28.000.000
2
Malaysia
19.700.000
3
Thailand
1.700.000
4
Kolombia
950.000
5
Nigeria
860.000
(sumber: bisnis.com)
Produksi CPO di Indonesia selalu mengalami peningkatan dari tahun ke
tahun, sebagaimana dapat dilihat dalam Tabel di bawah ini.
Tabel
Total Produksi Sawit Indonesia
Tahun
Total Produksi (ton)
2008
17.539.788
2009
19.324.294
2010
21.958.120
2011
23.096.541
2012
26.015.518
(Sumber: Direktorat Jendral Perkebunan)
Era pengembangan kelapa sawit di Kalimantan Timur dimulai pada tahun
1982 yang dirintis melalui Proyek Perkebunan Inti Rakyat (PIR) yang dikelola
oleh PTP VI. Hingga tahun 2012, luas areal kelapa sawit mencapai 961.802 Ha,
yang terdiri dari 226.765 Ha sebagai tanaman plasma / rakyat, 17.237 Ha milik
BUMN sebagai inti, dan 717.825 Ha milik Perkebunan Besar Swasta. Adapun
produksi TBS (Tandan Buah Segar) pada tahun 2012 sebesar 5.734.464 ton atau
setara dengan 1.032.204 ton CPO (Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur,
2012)
PT. Buana Wirasubur Sakti merupakan satu dari 12 perusahaan perebusan
TBS (Tandan Buah Sawit) yang berada di Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser,
yang secara resmi didirikan pada tahun 1993. Pada awalnya perusahaan ini hanya
memfokuskan pada penanaman kelapa sawit yaitu pada tahun 1991 hingga tahun
2004 dengan luas areal lahan lebih dari 900 hektar. Pada tahun 2010 PT. Buana
Wirasubur Sakti melebarkan sayapnya pada bisnis pemrosesan TBS menjadi CPO
dengan kapasitas produksi perusahaan sebesar 30 TBS/jam yang dapat
menghasilkan 120 ton CPO, 30 ton karnel, dan 30 ton cangkang karnel per hari.
(tradezz.com_PT. Buana Wirasubur Sakti)
Pasokan kelapa sawit yang diolah menjadi CPO bersumber dari kebun
kelapa sawit milik PT. Buana Wirasubur Sakti sendiri serta pasokan yang
bersumber dari petani sawit di Kecamatan Kuaro. CPO yang dihasilkan kemudian
akan dijual ke pembeli utama yaitu PT. Wilmar, PT SMART, Tbk, dan PT. KIAT
246

Analisis Pengendalian Mutu (Quality Control) CPO (Crude Palm Oil) - Fajar

yang dikirim melalui Pelabuhan Tanah Merah di Desa Janju, Kecamatan Tana
Gerogot, Kabupaten Paser.
Kegiatan pengendalian mutu yang dilakukan oleh PT. Buana Wirasubur
Sakti untuk menghasilkan produk CPO mengacu pada standar mutu CPO yang
ditetapkan oleh pembeli/pelanggan.
Pemerintah sendiri melalui BSN telah menetapkan standarisasi mutu CPO
yang dimuat dalam SNI-01-2901-2006 yaitu:
Tabel
Standar Nasional Mutu Kelapa Sawit
No
Karakteristik
Keterangan
1
Kadar asam lemak bebas
< 5,00 %
2
Kadar air
< 0,50 %
3
Kadar kotoran
< 0,50 %
4
Bilangan Yodium
50-55 g / 100 g TBS
Jingga kemerah5
Warna CPO (crude palm oil)
merahan
(SNI, 2006)
Dalam praktiknya PT. Buana Wirasubur Sakti belum menetapkan
standarisasi mutu CPO perusahaan. Selama ini standar mutu yang digunakan oleh
PT. Buana Wirasubur Sakti mengikuti kontrak kerja yang ditetapkan oleh pembeli
utamanya, yaitu PT. Willmar. Standar mutu yang ditetapkan oleh PT. Willmar
mengikui standar mutu CPO yang ditetapkan oleh BSN melalui SNI-01-29012006. Akan tetapi jika mutu CPO yang dihasilkan melebihi standar kadar mutu
yang ditetapkan, maka PT. Buana Wirasubur Sakti akan memasarkannya kepada
pembeli lokal.
Salah satu cara untuk mengukur mutu produk ialah penerapan quality
conrol dengan peta kontrol (control charts). Fungsi penerapan quality control
tersebut adalah untuk melakukan pengendalian terhadap mutu dari input awal
berupa penyelesaian bahan baku, proses produksi , sampai kepada proses output
barang jadi (finished goods). Dengan adanya penerapan quality control maka
perusahaan dapat melakukan efesiensi proses produk, khususnya dalam industri
pengolahan CPO kelapa sawit. Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas,
peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai masalah
pengendalian mutu (quality control) dalam hal pengolehan buah sawit yang ada di
PT. Buana Wirasubur Sakti. Untuk itu pada penelitian ini peneliti mengambil
judul Analisis Pengendalian Mutu (Quality Control) CPO (Crude Palm Oil)
Pada PT. Buana Wirasubur Sakti
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka
perumusan masalah dalam penelitian ini adalah;
Apakah pengendalian mutu CPO yang dilakukan oleh PT. Buana
Wirasubur Sakti sudah memenuhi standar SNI yang ditetapkan oleh BSN.

247

eJournal Ilmu Administrasi Bisnis, Volume 2, Nomor 2, 2014:245-259

Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui proses pengendalian mutu CPO yang dilakukan oleh PT.
Buana Wirasubur Sakti.
2. Untuk mengetahui apakah tingkat mutu CPO yang dihasilkan oleh PT. Buana
Wirasubur Sakti sudah memenuhi standar mutu CPO sesuai dengan standar
SNI yang ditetapkan oleh BSN.
Kerangka Dasar Teori
Pengendalian Mutu (Quality Control)
Pengertian pengendalian mutu adalah kegiatan terpadu mulai dari
pengendalian standar mutu bahan, standar proses produksi, barang setengah jadi,
barang jadi, sampai standar pengiriman produk akhir ke konsumen agar barang
(jasa) yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi mutu yang direncanakan
(Prawirosentono, 2007:74).
Process Quality Control
Menurut Haming dan Nurnajamuddin (2012:208) SQC (Statistical
Quality Control) merupakan penggunaan metode statistic untuk mengukur kinerja
produksi sekaligus untuk meningkatkan mutu keluaran. Sebaliknya, SPC hanya
bermaksud untuk melakukan pengendalian kinerja proses dengan menggunakan
metode statistik. Sehubungan dengan itu, SPC merupakan bagian dari SQC.
Minyak Sawit Kasar
Minyak sawit kasar (Crude Palm Oil) merupakan minyak nabati berwarna
jingga kemerah-merahan yang diperoleh dari proses ekstraksi daging buah kelapa
sawit (mesocarp) tanaman Elais guinensis Jacq. Minyak sawit kasar terdiri dari
gliserida yang tersusun oleh serangkaian asam lemak. Komponen utama minyak
sawit adalah trigliserida dengan sebagian kecil digliserida dan mono gliserida.
Minyak sawit kasar berbentuk semipadat pada suhu kamar. Warna minyak sawit
kasar yang berwarna jingga kemerah-merahan disebabkan oleh komponen minor
yang dmiliki CPO berupa pigmen karoten (ipb.ac.id).
Metode Penelitian
Histogram
Histogram menunjukkan cakupan nilai suatu perhitungan dan frekuensi dari setiap
nilai yang terjadi. Histogram menunjukkan peristiwa yang sering terjadi dan juga
variasi dalam pengukuran (Heizer dan Render, 2004:268).
Bagan kendali
Peta Kendali
Peta Kendali Xbar digunakan untuk proses yang memiliki karakteristik yang
bersifat kontinu. Peta ini menggambarkan variasi harga rata-rata dari data yang
diklarifikasikan dalam satu kelompok. Dalam penelitian ini data dikelompokkan
berdasarkan satuan waktu hari dimana data ini diambil. Langkah langkah
penentuan peta kendali Xbar adalah dengan menentukan rentang rata-rata

248

Analisis Pengendalian Mutu (Quality Control) CPO (Crude Palm Oil) - Fajar

kemudian menentukan batas kontrol serta mengambarkan garis Xbar dan garis
batas kontrol.
Peta Kendali R
Peta kendali R merupakan peta untuk menggambarkan rentang data dari suatu sub
grup, yaitu data terbesar dikurangi data terkecil. Langkah langkah penentuan garis
central adalah dengan menentukan rentang rata-rata kemudian menentukan batas
kontrol serta mengambarkan garis R dan garis batas kontrol.
Menghitung X rata-rata dan R rata-rata (Haming dan Nurnajamuddin,
2012:208):
Perhitungan X rata-rata

Dimana:
: jumlah rata-tata dari nilai rata-rata subgrup
: nilai rata-rata subgrup ke-i
: jumlah subgrup
Perhitungan R rata-rata

Dimana:
: jumlah rata-rata rentang grup
: nilai rentang subgrup ke-i
: jumlah subgrup
Menentukan batas kontrol untuk pembuatan peta kendali X dan R (Haming
dan Nurnajamuddin, 2012:208):
X-Chart
Batas kontrol peta X: Batas kontrol atas (BKA) =
Batas kontrol bawah (BKB) =
Dimana:
BKA = Batas Kontrol Atas
BKB = Batas Kontrol Bawah
A2
= Nilai Koefisien
R
= Selisih Harga Xmaks dan Xmin
R-Chart
Batas kontrol peta R: Batas kontrol atas (BKA) = D4 . R
Batas kontrol bawah (BKB) = D3 . R
Dimana:
BKA = Batas Kontrol Atas
BKB = Batas Kontrol Bawah
D4,D3 = Nilai Koefisien
Diagram Sebab Akibat
Menurut Heizer dan Render (2004:265) pembuatan diagram sebab akibat pada
umumnya dimulai dengan 4 kategori yaitu material, mesin/peralatan, manusia,
249

eJournal Ilmu Administrasi Bisnis, Volume 2, Nomor 2, 2014:245-259

dan metode. Inilah yang disebut 4M yang merupakan penyebab. Penyebab


masing-masing dikaitkan dalam setiap kategori yang diikat dalam tulang ikan
yang diikat dalam tulang yang terpisah sepanjang cabang tersebut.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Histogram
Histogram Kadar Asam Lemak Bebas (ALB)
Dari hasil pengujian kadar Asam Lemak Bebas di atas, maka histogram
Kadar Asam Lemak Bebas dapat di lihat pada Gambar berikut:
Gambar
Hasil Uji Kadar Asam Lemak Bebas

sumber: data diolah


Berdasarkan hasil histogram untuk kadar asam lemak bebas, maka dapat
dilihat bahwa rata-rata kadar asam lemak bebas adalah 3,5%, dan tidak terdapat
yang berada di luar batas normal berdasarkan standarisasi yang ditetapkan oleh
BSN yaitu kadar Asam Lemak Bebas maksimum 5%.
Histogram Kadar Air
Dari hasil pengujian kadar Air di atas, maka histogram kadar Air dapat di
lihat pada Gambar berikut:
Gambar
Hasil Uji Kadar Air

250

Analisis Pengendalian Mutu (Quality Control) CPO (Crude Palm Oil) - Fajar

Sumber: data diolah


Berdasarkan hasil histogram untuk kadar air, dapat dilihat bahwa rata-rata
kadar air adalah sebesar 0,36%, dan terdapat 16 atau 16,66% data yang berada di
luar batas normal berdasarkan standarisasi yang ditetapkan oleh BSN yaitu kadar
Air maksimum 0,5%.
Histogram Kadar Kotoran
Dari hasil pengujian kadar Air di atas, maka histogram kadar Air dapat di
lihat pada Gambar berikut:
Gambar
Hasil Uji Kadar Kotoran

Sumber: data diolah


Berdasarkan hasil histogram untuk kadar kotoran, dapat dilihat bahwa
rata-rata kadar kotoran adalah 0,39% dan tidak terdapat data yang berada di luar
batas normal berdasarkan standarisasi yang ditetapkan oleh BSN yaitu kadar
kotoran maksimum 0,5%.
Analisis Grafik Kendali (SPC)
Analisis grafik kendali (SPC) digunakan untuk melakukan pengendalian kinerja
proses dengan menggunakan metode statistik. Di dalam grafik kendali terdapat
garis batas kendali atas (UCL) serta garis batas kendali bawah (LCL), kedua garis
ini berfungsi untuk menentukan batas kendali kandungan mutu CPO dalam
perhitungan statistik. Berikut tahapan pembuatan grafik kendali dan R untuk
Kadar Asam Lemak Bebas (ALB), Kadar Air, dan Kadar Kotoran:
Peta dan R untuk Kadar Asam Lemak Bebas (ALB)
1. Perhitungan Peta Kendali Xbar Kadar Asam Lemak Bebas.
UCL
= +
= 3,50 + 1,023 . 0,44
= 3,50 + 0,45351
= 3,95 %
LCL = = 3,50 1,023 . 0,44
251

eJournal Ilmu Administrasi Bisnis, Volume 2, Nomor 2, 2014:245-259

= 3,50 0,45251
= 3,05 %
2. Perhitungan Peta Kendali R Kadar Asam Lemak Bebas.
UCL
= D4 .
= 2,574 .0,44
= 1,13857 %
LCL
= D3 .
= 0 . 0,44
=0%
Gambar
Grafik kendali Xbar dan R Chart Asam Lemak Bebas
Xbar-R Chart of x1; ...; x3
1

4,5

Sample Mean

1
1

4,0

U C L=3,959
_
_
X=3,500

3,5

3,0

1
1

10

LC L=3,041
1

13

16
Sample

19

22

25

28

2,0

Sample Range

1,5
U C L=1,155

1,0

_
R=0,449

0,5
0,0

LC L=0
1

10

13

16
Sample

19

22

25

28

sumber: data diolah


Dari peta kendali Xbar dan R di atas terdapat data yang out of control,
yaitu pada data ke 1, 2, 6, 7, 8, 11, 13, 14, 17, 26, dan 28 pada peta kendali X bar.
Untuk peta kendali R terdapat pula data yang out of control yaitu pada data ke 24
dan 27.
Peta dan R untuk Kadar Air
1. Perhitungan Peta Kendali Xbar Kadar Asam Lemak Bebas
UCL
= +
= 0,36 + 1,023 . 0,18
= 0,55 %
LCL = = 0,36 1,023 . 0,18
= 0,18 %
2. Perhitungan Peta Kendali R Kadar Air
UCL
= D4 .
= 2,574 . 0,18
= 0,4676 %
LCL = D3 .
252

Analisis Pengendalian Mutu (Quality Control) CPO (Crude Palm Oil) - Fajar

= 0 . 0,18
=0%
Gambar
Grafik kendali Xbar dan R Chart Air
Xbar-R Chart of x1; ...; x3
1

U C L=0,5504

Sample Mean

0,5
_
_
X=0,3646

0,4
0,3
0,2

LC L=0,1787
1

0,1
1

10

13

16
Sample

19

22

25

28

Sample Range

0,60

U C L=0,4677

0,45
0,30

_
R=0,1817

0,15
0,00

LC L=0
1

10

13

16
Sample

19

22

25

28

sumber: data diolah


Dari peta kendali Xbar dan R untuk kadar air di atas terdapat data yang out
of control, yaitu pada data ke 10, 11, 13, 16, dan 29 pada peta kendali X bar. Untuk
peta kendali R terdapat pula data yang out of control yaitu pada data ke 15 dan 20.
Peta dan R untuk Kadar Kotoran
1. Perhitungan Peta Kendali Xbar Kadar Kotoran
UCL
= +
= 0,04 + 1,023 . 0,02
= 0,06 %
LCL
= = 0,04 1,023 . 0,02
= 0,02 %
2. Perhitungan Peta Kendali R Kadar Kotoran
UCL
= D4 .
= 2,574 . 0,02
= 0,05079 %
LCL
= D3 .
= 0 . 0,02
=0%

253

eJournal Ilmu Administrasi Bisnis, Volume 2, Nomor 2, 2014:245-259

Gambar
Grafik kendali Xbar dan R Chart Kotoran
Xbar-R Chart of x1; ...; x3
0,08

Sample Mean

1
1

0,06

U C L=0,05941
_
_
X=0,03922

0,04

0,02

10

13

16
Sample

19

22

LC L=0,01903

25

28

Sample Range

0,060
1

U C L=0,05080

0,045
0,030

_
R=0,01973

0,015
0,000

LC L=0
1

10

13

16
Sample

19

22

25

28

sumber: data diolah


Dari peta kendali Xbar dan R untuk kadar kotoran di atas terdapat data
yang out of control yaitu pada data ke 8, 10, 13, 18, 23, 26, dan 29. Untuk peta R
terdapat pula data yang out of control yaitu pada data ke 8, 10, dan 20.
Diagram Sebaba Akibat
Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan oleh PT. Buana Wirasubur Sakti adalah TBS
yang berasal dari kebun yang dimiliki oleh perusahaan dan TBS yang berasa dari
petani sawit di sekitar pabrik. Pemasok utama bahan baku (buah sawit) PT. Buana
Wirasubur Sakti adalah buah yang berasal kebun rakyat, hal ini disebabkan
perkebunan yan dimiliki perusahaan belum mampu memenuhi kebutuhan
perusahaan. Usia tanam buah sawit yang dimiliki oleh perusahaan masih muda.
Pasokan buah sawit yang dapat dipenuhi oleh perusahaan hanya 50 ton per-hari
sedangkan kapasitas produksi perharinya sebesar 500 ton. Oleh sebab itu
perusahaan untuk menutupi kekurangan pasokan bahan baku, perusahaan
menerima bahan baku yang dihasilkan oleh kebun masyarakat, dimana pasokan
bahan bakunya tidak bisa dikontrol jumlahnya.
Lingkungan Kerja
PT. Buana Wirasubur Sakti memiliki luas areal pabrik 2000 m2. Dimana
di dalamnya terdapat bagunan-bagunan pabrik yang terdiri dari pos pengamanan
yang berada di gerbang masuk pabrik, setelah itu terdapat jembatan timbang yang
digunakan untuk menimbang kendaraan yang membawa bahan baku (TBS),
kemudian terdapat ruang kantor dan laboratorium yang dimana digunakan untuk
kegiatan administrasi dan laboratorium yang digunakan untuk tempat pengujian
kadar CPO.
Loading ramp merupakan lokasi penumpukan bahan baku (TBS) yang
telah melalui proses penimbangan di jembatan timbang. Kondisi loading ramp
254

Analisis Pengendalian Mutu (Quality Control) CPO (Crude Palm Oil) - Fajar

yang dimiliki PT. BWS kurang terawat, jika hujan tempat penumpukan (loading
ramp) akan berlumpur dikarenakan loading ramp yang dimiliki PT. BWS belum
memiliki atap. Sehingga, TBS yang akan diolah menjadi kotor karena terkena
lumpur dan kadar air pada buahnya akan bertambah karena tekena air hujan.
Pada bagian produksi, sering terjadi keterlambatan pembuangan limbah
hasil produksi yang terdiri dari janjangan dan ampas TBS. Hal ini tentu saja
mempengaruhi kebersihan dari lokasi produksi.
Manusia
Karyawan memiliki peranan yang penting terhadap mutu produk yang
dihasilkan. Karyawan produksi yang bertugas atau operator yang bertugas harus
berkonsentrasi penuh dalam mengendalikan mesin dan peralatan yang digunakan
dalam proses pengolahan TBS menjadi CPO agar berfungsi sebagaimana
mestinya. Kedisiplinan dan ketelitian merupakan hal yang sangat penting untuk
dimiliki oleh karyawan laboratorium dalam menguji kadar asam lemak bebas,
kadar air, serta kadar kotoran CPO. Ketelitian dibutuhkan karena kegiatan
menguji ini merupakan pekerjaan yang memiliki tanggung jawab yang sangat
besar terhadap kelangsungan hidup produk yang dihasilkan. Selain itu pula
tingkat pengetahuan karyawan akan in process sangat mempengaruhi kinerja
karyawan dalam menjaga pengendalian mutu in process.
Mesin
Perawatan rutin mesin jarang dilakukan oleh perusahaan, seringkali
penanganan terhadap kerusakan mesin terlambat. Sehingga, menghambat kinerja
perusahaan yang berakibat pada terlambatnya pemrosesan bahan baku (TBS).
Mesin yang digunakan PT. Buana Wirasubur Sakti saat ini adalah mesin
baru, sebab perusahaan meningkatkan kapasitas produksinya yangg sebelumnya
30 ton/jam menjadi 45 ton/jam.
Metode Kerja
Pada metode kerja terdapat beberapa tahapan yang dilakukan, intinya
ialah merupakan proses perebusan TBS yang selanjutnya akan menghasilkan
CPO. Kualitas metode kerja juga menentukan hasil CPO yang diproduksi. Proses
ini dipengaruhi oleh bahan baku (TBS), setingan mesin, serta penampungan
sementara hasil prosuksi. Bahan baku (TBS) merupakan hal yang sangat penting
harus diperhatikan oleh karyawan bagian penyortiran, karena akan memberikan
efek domino terharap proses selanjutnya. Kemudian setingan mesin merupakan
hal yang juga penting harus diperhatikan oleh karyawan produksi, karena sangat
berpengaruh terhadap tinggi rendahnya asam lemak bebas yang akan dihasilkan
oleh CPO. Ketika kadar ALB tidak sesuai, maka dengan segera pihak
laboratorium akan melaporkan / menegur kepada pihak produksi untuk mengecek
/ merubah settingan mesin agar tetap menjaga kadar ALB seperti yang diinginkan.

255

eJournal Ilmu Administrasi Bisnis, Volume 2, Nomor 2, 2014:245-259

Gambar
Diagram Sebab Akibat Mutu CPO
LINGKUNGAN
KERJA

BAHAN BAKU
Kecanggi
Induk pohon
han Kematanga
Sampah
Performa
n yang
Mesin
sisa
mesin
Penanganan
tidak tepat
produksi
kurang
pasca panen
Lingkungan
Sortasi tidak
Kurang
kerja kotor
dilakukan dengan baik
Perawatan
MUTU
Lulusan
Perebusan CPO
Kelelahan
SMP dan
Pemisahan
tidak
dan kurang
Pengetah
SMA
berat jenis
maksimal
konsentrasi
Tingginya kadar
uan dan
kadar air
Kurangnya
Tangki
ALB
kedisipli
Kualita
ketelitian
penampun
nan
Performa
s
Timbanga
gan
Kuantitas
screw press
n
MANUSIA
rendah METODE KERJA
MESIN

(sumber: data diolah)


Penutup
Berdasarkan analisis serta pembahasan yang telah dilakukan, maka penulis
menyimpulkan:
Proses Pengendalian Mutu.
Standar proses pengendalian mutu yang dilakukan PT. Buana Wirasubur Sakti
sebenarnya telah baik. Akan tetapi dalam penerapannya terdapat bebrrapa
poelanggaran yang terjadi saaat pelaksanaannya. Pelanggaran tersebut antara lain:
1. Stasiun Penerima Buah
Terkadang buah yang diterima di stasiun penerima buah adalah buah yang di
bawah standar yang ditetapkan oleh pabrik, hal ini terpaksa dilakukan agar
perusahaan tetap berproduksi.
2. Stasiun Penggilingan dan Pemerasan
Komposisi air yang dimasukkan ke dalam mesin penggilingan dan pemerasan
terlalu banyak. Sehingga CPO yang dihasilkan memiliki kandungan air yang
tinggi.
3. Penampungan
Penampungan CPO hasil produksi hanya disimpan di dalam sebuah tanki
berkapasitas 150.000 liter. Sehingga, kadar CPO yang dihasilkan setiap kali
produksi dapat berubah-ubah apabila sampai di tempat penampungan akhir.
Tingkat mutu CPO yang dihasilkan PT. Buana Wirasubur Sakti.
1. Histogram
Berdasarkan analisis melalui diagram histogram tiga kadar yang terkandung di
dalam CPO yaitu kadar asam lemak bebas, kadar air dan kadar kotoran diketahui
bahwa, untuk kadar asam lemak bebas dan kadar kotoran tidak terdapat data yang

256

Analisis Pengendalian Mutu (Quality Control) CPO (Crude Palm Oil) - Fajar

berada di luar batas normal yang ditetapkan oleh BSN. Akan tetapi pada kadar air
terdapat 16 sampel berada di atas standar yang ditetapkan oleh BSN yaitu 0,5%.
2. SPC (Statistical Process Control)
Hasil analisis melalui peta X dan R, diketahui bahwa tingkat pencapaian mutu
CPO yang dihasilkan belum sepenuhnya tercapai. Dimana hasil pemeriksaan
sampel CPO melalui kadar asam lemak bebas, kadar air, dan kadar kotoran masih
terdapat jumlah produk yang berada di luar batas persyaratan mutu dan
penyimpangan kualitas. Yaitu pada pengujian kadar asam lemak bebas, kadar air,
dan kadar kotoran.
Jumlah sampel yang berada di luar batas kendali menurut peta kontrol Xbar dan R
untuk kadar asam lemak bebas sebanyak sebelas sampel pada peta kendali Xbar
dan dua sampel pada peta kendali R. Kemudian, untuk kadar air terdapet lima
sampel pada peta kendali Xbar dan dua sampel pada peta kendali R. Serta untuk
kadar kotoran terdapat tujuh sampel apda peta kendali Xbar dan tiga sampel pada
peta kendali R.
Dari analisis diagram sebab akibat dapat diketahui bahwa faktor penyebab
terjadinya penyimpangan kualitas CPO adalah faktor bahan baku, metode kerja,
manusia, mesin, metode kerja, serta lingkungan kerja. Di mana faktor yang secara
umum paling berpengaruh adalah bahan baku, metode kerja, serta manusia.
Berdasakan kesimpulan di atas, maka penulis menyampaikan beberapa saran
sebagai berikut:
Dalam penyortiran bahan baku (TBS), perusahaan sebaiknya lebih teliti dan
memberikan sanksi bagi pemasok yang membawa buah mentah atau yang terlalu
matang. Sanksinya bisa berupa potongan pembayaran buah sawit atau buah
dikembalikan.
Permasalahan pada lingkungan kerja yang dimiliki oleh perusahaan adalah
areal loading yang kurang terawat dan sampah sisa produksi yang berada di
sekitar lokasi produksi. Area loading sebaiknya dibuatkan atap agar buah yang
disimpan sementara sebelum diolah tidak terkena panas berlebih dan hujan.
Pembersihan sampah sisa produksi sebaiknya juga diperhatikan, penumpukan
sampah sisa produksi dapat mempengaruhi kinerja dan konsentrasi karyawan
dalam bekerja.
Dalam penerimaan karyawan baru, sebaiknya perusahaan lebih selektif. Agar
kedepannya sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan merupakan
sumber daya yang memiliki kedisiplinan dan pengetahuan yang baik.
Perawatan terhadap mesin merupakan hal pokok yang harus diperhatikan
perusahaan. Perawatan berfungsi untuk menjaga performa mesin tetap stabil,
karena mesin produksi adalha jantung dari sebuah perusahaan pengolahan kelapa
sawit.
Kedisiplinan karyawan dalam mematuhi metode kerja yang telah ditetapkan
oleh perusahaan harus ditingkatkan. Prosudur dan metode kerja yang tepat akan
menghasilkan CPO dengan kualitas yang baik pula.

257

eJournal Ilmu Administrasi Bisnis, Volume 2, Nomor 2, 2014:245-259

Perusahaan sebaiknya menerapkan standar mutu CPO perusahaan, sebab saat


ini perusaan belum memiliki standar mutu CPO.

Daftar Pustaka
Haming, Murdifin dan Mahfud Nurnajamuddin, 2007, Manajemen Produksi
Modern, Jakarta: Bumi Aksara
Handoko, T. Hani, 2000, Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi,
Cetakan Ketigabelas, Yogyakarta: BPFE
Heizer, Jay dan Barry Render, 2004, Manajemen Operasi, Edisi Bahasa
Indonesia, Buku Satu, Jakarta: Salemba Empat
Mangoensoekarjo, S dan H. Semangun, 2008. Manajemen Agrobisnis Kelapa
Sawit. Yogyakarta: UGM-Press
Sumarni, Murti dan John Soeprihanto, 2000, Pengantar Bisnis (Dasar-dasar
Ekonomi Perusahaan), Cetakan ketiga, Jakarta: Liberty
Prawirosentono Suyadi, 2007, Filosofi Baru Tentang Manajemen Mutu Terpadu
Abad 21, Jakarta: Bumi Aksara
Reksohadiprodjo, Sukanto, 1995, Manajemen Produksi dan Operasi, Yogyakarta:
BPFE
Zulian Yamit, 2001, Manajemen Kualitas Produk dan Jasa, Yogakarta:
Ekonomisia
Sumber Internet:
Badan Standarisasi Nasional, 2006, SNI Crude Palm Oil, Jakarta.
Company
introduction,
2010,
PT.
Buana
Wirasubur
Sakti,
(http://www.tradezz.com/corp_1333351_PT.-Buana-Wirasubur.htm)
diakses tanggal 18 Februari 2014)
Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur, 2012, Komoditi Kelapa Sawit.
(http://disbun.kaltimprov.go.id/statis-70-mitra-perusahaan-perkebunan.html, diakses tanggal 6 Februari 2014)
Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur, 2012, Mitra Perusahaan
Perkebunan. (http://disbun.kaltimprov.go.id/statis-70-mitra-perusahaanperkebunan-.html, diakses tanggal 6 Februari 2014)
Direktorat Jendral Perkebunan, 2012 Produksi Kelapa Sawit Menurut Provinsi di
Indonesia,
2008

2012.
(http://www.pertanian.go.id/infoeksekutif/bun/BUN-asem2012/ProduksiKelapaSawit.pdf diakses tanggal 18 Februari 2014)
Fakultas Teknologi Hasil Pertanian Institut Pertanian Bogor, Kajian Mutu
Minyak
Sawit,
(http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/53056?show=full diakses
tanggal 11 Februari 2014)
Julia, Hilda, 2009, Analisis Konsistensi Mutu Dan Rendemen CPO (crude palm
oil) di Pabrik Kelapa Sawit Tamiang PT. Padang Palma Permai. Medan:
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
258

Analisis Pengendalian Mutu (Quality Control) CPO (Crude Palm Oil) - Fajar

Kencana, Rudi, 2009, Analisis Pengendalian Mutu Pada Pengolahan Kelapa


Sawit Dengan Metode Statistical Quality Control (SQC) Pada PTP.
Nusantara IVPKS Adolina, Medan: Fakultas Teknin Universitas Sumatera
Utara
Sihombing
Martin,
2014,
(http://m.bisnis.com/industri/read/20130313/99/3377/produsen-cpoindonesia-masih-terbesar-di-dunia diakses tanggal 18 Februari 2014)
Wikipedia, 2014, Kelapa Sawit, (http://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa_sawit
diakses tanggal 21 Februari 2014)

259