Anda di halaman 1dari 34

KELOMPOK 2

Asmaul Husna
Dwi Mulyana
Fausiah Nurlan
A. Nailah Amirullah
Akhmadi Abbas
A. Musdalifah
Sekarwuni Manfaati Ifan Pratama Saldah
Chitra Dewi
Muhammad Asdar
Muhammad Afdal

Latar Belakang
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan
salah satu masalah kesehatan masyarakat secara
global, nasional dan lokal. Epidemi demam
berdarah pertama kali terjadi pada tahun 1779 di
Asia, Afrika, dan Amerika Utara (WHO

Asia menempati urutan pertama dalam jumlah


penderita DBD setiap tahunnya, penyakit ini
sering menyerang di Cina Selatan, Pakistan,
India, dan semua negara di Asia Tenggara

World Health Organization (WHO) mencatat


negara Indonesia sebagai negara dengan kasus
DBD tertinggi di Asia Tenggara

INDONESIA
Di Indonesia, Demam
Berdarah pertama kali
ditemukan di kota Surabaya
pada tahun 1968, dimana
sebanyak 58 orang terinfeksi
dan 24 orang diantaranya
meninggal dunia (Angka
Kematian (AK) : 413 %).

Anak-anak merupakan
kelompok usia yang paling
banyak menderita DBD,
dengan proporsi sekitar 30%
(Kemenkes RI, 2012).

Jumlah kasus di Indonesia pada


tahun 2010 sebanyak 156.086
kasus kemudian menurun pada
tahun 2011 sebanyak 49.868
kasus dengan IR 27,67 per
100.000 penduduk dan kembali
meningkat pada tahun 2012 pada
tahun 2012 sebanyak 90.245
kasus dengan IR = 37,27 per
100.000 penduduk

KEADAAN EPIDEMIOLOGI
DIDUNIA
ASIA
LUAR ASIA
Regional Pasifik Barat
Regional Amerika
Regional Afrika

Regional eropa

EPIDEMIOLOGI DEMAM BERDARAH DANGUE DI DUNIA

EPIDEMIOLOGI DBD DI ASIA

Grafik 1. Kasus DBD dan kematian di wilayah Asia Tenggara


menurut WHO tahun 2012

EPIDEMIOLOGI DBD DI ASIA

Grafik. insiden rate DBD per 100.000 penduduk dan CFR


(%) di Indonesia tahun 2006-2012
80
71.78
68.22

70
60

65.7

59.02
52.48

50
37.11

40
27.56

30

20
10
1.04

1.01

0.86

0.89

0.87

0.91

0.9

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

0
Sumber : Ditjen P2PL Kemenkes RI, 2013

Insiden
CFR

Grafik. insiden rate DBD per 100.000 penduduk dan CFR (%)
menurut provinsi di Indonesia tahun 2012
90
80

85
Insiden

CFR

70
60
50
40
11.11

30
20
10
0
Sumber : Ditjen P2PL Kemenkes RI, 2013

16.72

EPIDEMIOLOGI DBD DI AMERIKA

Tabel.Jumlah Kasus DBD Menurut Sub Regional Amerika


2013

Achievements of the epidemiological dengue


surveillance in the Americas

PASIFIK BARAT
Table 2. cases of dengue, including imported cases, and dengueattributed death in the western pasific region for 2011*

KEADAAN EPIDEMIOLOGI DI AFRIKA

SURVEILANS DBD MENURUT


PANDUAN WHO
Surveilans Penyakit (epidemiologi)

koleksi data yang dilakukan secara sistematis,


pencatatan,
analisis,
interpretasi dan penyebaran data

Surveilans Vektor

Sampling larva da pupa


Koleksi larva dan pupa pasif
Sampling populasi nyamuk dewasa
Koleksi landing
Koleksi resting
Koleksi perangkap sticky
Sampling populasi bertelur

Monitoring risiko lingkungan dan sosial

MAKSUD DAN TUJUAN SISTEM


SURVEILANS DBD

Mendeteksi epidemi cepat


untuk intervensi awal;

Mengukur beban penyakit


dan menyediakan data
untuk penilaian sosial
dan dampak ekonomi dari
dengue di masyarakat
yang terkena dampak;

Mengevaluasi efektivitas
program pencegahan dan
pengendalian dengue;

Memonitor tren distribusi


dan penyebaran demam
berdarah dari waktu ke
waktu dan
geografis;

Memfasilitasi
perencanaan dan alokasi
sumber daya berdasarkan
pelajaran dari
evaluasi program.

SURVEILANS DBD DI INDONESIA


O

Tahap Persiapan identifikasi faktor risiko DBD untuk


menggambarkan tingkat risiko suatu wilayah, yang telah diambil
sebelum musim penularan DBD hingga mulai terjadinya kasus melalui
kegiatan survey cepat.

O Tahap Pengumpulan Data


Pengumpulan dan pencatatan dilakukan setiap
hari, bila ada laporan tersangka DBD dan
penderita DD, DBD, SSD. Data tersangka DBD
dan penderita DD, DBD, SSD yang diterima
puskesmas dapat berasal dari rumah sakit atau
dinas kesehatan kabupaten/kota, puskesmas
sendiri atau puskesmas lain (cross notification)
dan puskesmas pembantu, unit pelayanan
kesehatan lain (balai pengobatan, poliklinik, dokter
praktek swasta, dan lain lain), dan hasil
penyelidikan epidemiologi (kasus tambahan jika
sudah ada konfirmasi dari rumah sakit / unit
pelayanan kesehatan lainnya).

Untuk pencatatan
tersangka DBD dan
penderita DD, DBD,
SSD menggunakan
Buku catatan harian
penderita DBD yang
memuat catatan
(kolom) sekurang
kurangnya seperti pada
form DP-DBD ditambah
catatan (kolom)
tersangka DBD.

Tahap analisis dan interpretasi data


analisis
Analisis dilakukan dengan
melihat pola maksimal-minimal
kasus DBD

Analisis juga dilakukan dengan


membuat ratarata jumlah
penderita tiap bulan selama 5
tahun, dimana bulan dengan
ratarata jumlah kasus terendah
merupakan bulan yang tepat
untuk intervensi karena
bulanberikutnya merupakan awal
musim penularan.

Interpretasi

Disamping menghasilkan
informasi untuk pihak
puskesmas dan DKK, informasi
juga harus disebarluaskan
kepada stakeholder yang lain
seperti Camat dan
lurah,lembaga swadaya
masyarakat, Pokja/Pokjanal
DBD dan lain-lain.
Penyabarluasan informasi dapat
berbentuk laporan rutin
mingguan wabah dan laporan
insidentil bila terjadi KLB.

Tahap Diseminasi dan Advokasi


Diseminasi
Melakukan penyiapan bahan
perencanaan, monitoring & evaluasi,
koordinasi kajian, pengembangan dan
diseminasi, serta pendidikan dan
pelatihan bidang surveilans epidemiologi
(BBTKLPP, 2013). Yang mana hasil
analisis dan interpretasi didiseminasikan
kepada orang-orang yang
berkepentingan dan sebagai umpan
balik (feedback) agar pengumpulan
data di masa yang akan datang menjadi
lebih baik. Diseminasi berguna kepada
orang-orang yang mengumpulkan data,
decision maker, orang-orang tertentu
(pakar) dan masyarakat. Pelaksanaan
diseminasi dapat berupa buletin dan
laporan, seminar, symposium serta
laporan

Advokasi

Melakukan penyiapan
bahan perencanaan,
monitoring & evaluasi,
koordinasi pelaksanaan
advokasi dan fasilitasi
kejadian luar biasa, serta
wabah dan bencana
(BBTKLPP, 2013).
Advokasi dilakukan
kepada Bupati / Walikota
dan DPRD.

Tahap evaluasi
Dengan adanya evaluasi program-program
kesehatan yang telah dilakukan diharapkan dapat
lebih mengefektifkan serta mengefisienkan
program pengendalian kasus DBD

program pengendalian yang dilakukan tidak hanya siasia dan dapat bermanfaat khususnya dalam
menurunkan jumlah kejadian kasus DBD di daerah
setempat.

SUMBER-SUMBER DATA SURVEILANS


Data Kematian
Data Kesakitan
Data Epidemik
Data Demografi
Data laboratorium (termasuk hasil test laboratorium)

Data kondisi Lingkungan


Laporan wabah
Laporan penyelidikan KLB
Laporan hasil penyelidikan kasus perorangan
Survei khusus (misal: data pengunjung RS, daftar penyakit, uji serologi)
Data hewan dan vektor sumber penyakit
Data dan informasi penting lainnya
(Kepmenkes RI No.1116/Menkes/SK/VIII/2003)

ATRIBUT SURVEILANS
Ketepatan waktu adalah ketepatan pencatatan kasus
atau peringatan dini terdeksi dilaporkan.
Sensitivitas adalah proporsi kasus atau tanda yang
terjadi di wilayah geografis atau populasi terdeteksi
oleh sistem.
PPV adalah probabilitas sinyal dengue dikonfirmasi
menjadi kasus atau epidemi dan tergantung pada
prevalensi latar belakang penyakit dalam penduduk.
NPV adalah probabilitas bahwa sistem surveilans
tidak menghasilkan signal dengue ketika tidak ada
wabah yang terjadi.

PENANGGULANGAN DBD
Penyelidikan epidemiologi
Kegiatan pencarian penderita DBD atau tersangka DBD lainnya dan
pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD di tempat tinggal penderita
dan rumah/bangunan sekitarnya, termasuk tempat-tempat umum
dalam radius sekurang-kurangnya 100 m.

Penanggulangan fokus
Kegiatan pemberantasan nyamuk penular DBD yang dilaksanakan
dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah
dengue (PSN DBD), larvadiasasi, penyuluhan dan penyemprotan
(pengasapan) menggunakan insektisisda sesuai kriteria.

Penanggulangan KLB
Upaya penanggulangan yang meliputi : pengobatan/perawatan
penderita, pemberantasan vektor penular DBD, penyuluhan kepada
masyarakat dan evaluasi/penilaian penanggulangan yang dilakukan
di seluruh wilayah yang terjadi KLB

Pemberantasan sarang nyamuk berdarah dangue


Kegiatan memberantas telur, jentik dan kepompong nyamuk
penular DBD (Aedes aegypti) di tempat-tempat
perkembangbiakannya

Pemeriksaan jentik berkala


Pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk
Aedes aegypti yang dilakukan secara teratur oleh petugas
kesehatan atau kader atau petugas pemantau jentik
(jumantik).

Program 3M plus
Pelaksanaan 3M Plus merupakan upaya Pemberantasan
Sarang Nyamuk yang sederhana dan efektif. Melalui program
ini, masyarakat dapat memutus rantai perkembang biakan
nyamuk Aedes Aegypti.

KOMPONEN SURVEILANS
EPIDEMIOLOGI DBD
Surveilans Berbasis event
Sistem Peringatan demam
Pelaporan Rutin
Klinik sentinel
System surveilans rumah sakit sentinel
Surveilnas laboratorium sentinel
Sistem pelaporan penyakit nasional

INDIKATOR DEMAM BERDARAH DANGUE

Indikator Epidemiologi
Angka penderita yang ditangani
Angka kasus baru demam berdarah dangue
Angka Kasus Kematian akibat demam berdarah

Indikator entomologi

Angka bebas jentik


House index
Container index
Bruteau Index

Angka Penderita yang diobati


Persentase penderita DBD yang ditangani
sesuai standar di satu wilayah dalam waktu 1
(satu) tahun dibandingkan dengan jumlah
penderita DBD yang ditemukan/dilaporkan
dalam kurun waktu satu tahun yang sama

Insidence rate
demam berdarah

Case fatality
Demam Berdarah

Jumlah kasus baru


demam berdarah
per jumlah
penduduk yang
berisiko pada kurun
waktu tertentu

Jumlah kematian
akibat demam
berdarah pada satu
tahun dibandingkan
dengan jumlah
penduduk yang
menderita demam
berdarah pada
tahun yang sama

Angka Bebas Jentik


persentase pemeriksaan jentik yang di lakukan di semua
desa/kelurahan setiap 3 (tiga) bulan oleh petugas puskesmas
pada rumah -rumah penduduk yang diperiksa secara acak.

House of Index
persentasi jumlah rumah yang di temukan jentik yang di
lakukan di semua desa/kelurahan oleh petugas puskesmas
setiap 3 (tiga) bulan pada rumah-rumah yang di periksa
secara acak.

Container Index
Persentase pemeriksaan jumlah container yang di periksa di
temukan jentik pada container di rumah penduduk yang dipilih
secara acak.

Bruteau Index
Persentase pemeriksaan jumlah container yang di periksa di
temukan jentik pada container di rumah penduduk yang dipilih
secara acak.

Brutaeu Index
Jumlah container yang terdapat jentik dalam 100 rumah.
Container adalah tempat atau bejana yang dapat menjadi tempat
perkembang biaknya nyamuk Ae.aegypti.