Anda di halaman 1dari 7

1.

Jelaskan mengapa gerakan air reservoir minyak biasanya merupakan reservoir


minyak tak jenuh ?
2. Apa manfaat dan kerugian dari menggunakan choke down-hole diatas choke
Wellhead ?
3. Apa peran dari seorang Oil Production Engineer ?
4. Apakah nominal diameter tubing lebih dekat dengan diameter luar tubing atau
diameter dalam tubing ?
5. Apakah angka dalam spesifikasi tubing mewakili ?
6. Apa manfaat choke wellhead ?
7. Apa manfaat separator dan pompa dalam operasi produksi minyak ?

Production

KERUSAKAN FORMASI SUMUR

Kontak antara formasi dengan fluida lain adalh dasar yang menyebabkan kerusakan
formasi. Adapun yang dimaksud fluida disini adalah lumpur pemboran, fluida workover,
fluida perforasi ataupun dari fluida reservoir itu sendiri dimana karakteristik reservoirnya
telah berubah. Beberapa kemungkinan mekanisme terjadinya kerusakan formasi
meliputi :

1. Penyumbatan yang berasosiasi dengan padatan.


Penyumbatan oleh padatan dapat terjadi pada permukaan formasi, lubang perforasi
atau pada formasi itu sendiri. Penyumbatan oleh padatan tersebut berupa material
pemberat, clay, material loss circulation, pengendapan scale dan asphalt.
2. Padatan sangat kecil.
Padatan yang dimaksud berupa oksida besi atau partikel silikat lain. Padatan ini sering
terbawa oleh aliran dan akhirnya terendapkan dalam pori-pori pada permeabilitas relatif
formasi dan akan berkembang menjadi penyumbat yang serius.
Klasifikasi Mekanisme Kerusakan Formasi

Mekanisme yang menyebabkan terjadinya kerusakan formasi dapat diklasifikasikan


sebagai berikut :
1. Penyumbatan partikel pada ruang pori
Ketika partikel-partikel halus melalui media berpori, seringkali terendapkan di saluran
rongga pori yang mengakibatkan penurunan permeabilitas. Partikel-partikel besar yang
tertransport ke permukaan media porous akan menutup pori-pori permukaan dan
membentuk filter cake eksternal. Partikel kecil yang melewati media porous dapat
menempel pada permukaan badan pori yang menyebabkan penurunan kecil
permeabilitas atau dapat menutup rongga pori yang secara efektif menyumbat ruang
pori. Penutupan dapat terjadi ketika partikel kira-kira berukuran 1/3 hingga 1/7 dari
rongga pori atau lebih.
2. Migrasi partikel halus
Partikel halus yang menyebabkan penymbatan dapat berasal dari luar atau media
porous itu sendiri. Pergerakan partikel halus kemungkinan disebabkan oleh perubahan
komposisi kimia air atau secara mekanik yaitu karena gaya gesek pergerakan fluida.
Kerusakan formasi sering disebabkan oleh dispersi partikel lempung halus ketika
salinitas air konat menurun atau komposisi kimia berubah.
3. Presipitasi kimia
Presipitasi padatan dari garam (senyawa anorganik) atau minyak mentah (senyawa
organik) dalam formasi dapat menyebabkan kerusakan formasi hebat ketika padatan
tersebut menymbat ruang pori. Presipitasi dapat juga terjadi akibat perubahan tekanan
dan temperatur di sekitar lubang sumur atau alterasi komposisi fasa oleh fluida injeksi.
Presipitasi anorganik dikarenakan adanya ion bivalen seperti kalsium atau barium, yang
berkombinasi dengan karbonat atau sulfat. Ion-ion dalam larutan air konat di reservoir
mula-mula berada pada kesetimbangan kimia dengan mineral formasi. Perubahan
komposisi air garam/formasi menyebabkan presipitasi.
Awalnya air formasi jenuh dengan kalsium bikarbonat, peningkatan konsentrasi pada
sisi kiri persamaan di atas atau penurun konsentrasi pada sisi kanan akan mendorong
reaksi ke kanan dan kalsium karbonat terpresipitasi.
Penambahan ion kalsium dan penghilangan CO2 akan menyebabkan presipitasi. Jadi
injeksi fluida dengan kandungan kalsium tinggi seperti fluida komplesi CaCl 2 pada
reservoir dengan konsentrasi bikarbonat tinggi akan menimbulkan kerusakan formasi.
Begitu juga dengan penurunan tekanan di sekitar lubang sumur yang menyebabkan
pembebasan CO2 dari air formasi sehingga terjadi presipitasi.
Senyawa organik yang biasa menyebabkan kerusakan formasi adalah wax/lilin (parafin)
dan aspaltin. Presipitasi wax terjadi ketika temperatur turun atau komposisi kimia
minyak berubah karena pembebasan gas akibat penurunan tekanan. Aspaltin
merupakan golongan aromatik dengan berat molekul tinggi dan senyawa naftena yang

terdispersi secara koloid dalam minyak mentah (Schechter, 1992). Kondisi koloid stabil
dengan adanya resin dalam minyak mentah, ketika resin hilang, aspaltin terflokulasi
hingga menciptakan partikel yang cukup menyebabkan kerusakan formasi. Perubahan
kimia dalam minyak yang menurunkan konsantrasi resin yang dapat menimbulkan
pengendapan aspaltin.
4. Emulsi, perubahan permeabilitas relatif dan wetabilitas
Kerusakan formasi dapat disebabkan oleh perubahan fluidanya sendiri seperti
perubahan viskositas minyak atau permeabilitas relatif. Namun sifatnya sementara
karena fluida bergerak dan secara teoritis dapat digerakkan dari sekitar lubang sumur.
Emulsi air dalam minyak di sekitar lubang sumur dapat menyebabkan kerusakan
formasi karena viskositas emulsi lebih besar daripada viskositas minyak. Biasanya
emulsi terbentuk oleh percampuran secara mekanik minyak dan air, yang merusak
salah satu fasanya dalam bentuk gelembung kecil yang terdispersi dalam fasa lainnya.
Pembentukan emulsi mungkin secara kimia melalui pemasukan surfactan atau partikel
halus yang cenderung menstabilkan gelembung kecil.
Peningkatan saturasi air di sekitar lubang sumur dapat menurunkan permeabilitas
minyak sehingga menimbulkan kerusakan formasi, yang disebut blok air. Unsur kimia
tertentu dapat mengubah wetabilitas formasi sehingga merubah permeabilitas relatif
secara keseluruhan dalam formasi. Jika formasi water wet berubah menjadi oil wet
maka permeabilitas relatif minyak mengalami penurunan besar di sekitar lubang sumur.
5. Mekanik
Kerusakan formasi dapat juga diakibatkan penghancuran fisik atau kompaksi batuan
saat perforasi, ataupun keruntuhan material formasi lemah di sekitar lubang sumur.
Keruntuhan tersebut mungkin terjadi pada formasi yang rapuh atau formasi yang
menjadi lemah karena acidizing.
6. Biologis
Sumur yang diinjeksi air akan rentan terhadap kerusakan formasi akibat bakteri di
lingkungan sekitar lubang sumur. Bakteri yang terinjeksi, terutama anaerobik dapat
tumbuh cepat dalam formasi dan menyumbat ruang pori dengan bakteri itu sendiri atau
dengan presipitasi yang dihasilkan oleh aktifitas organisme. Untuk mencegah
kerusakan formasi biologis tersebut maka air injeksi dirawat dengan bactericides.
Penyebab Terjadinya Kerusakan Formasi
Adanya formation damage (kerusakan formasi) dan pengurasan permeabilitas efektif
minyak pada zona produktif disekitar lubang bor akan menyebabkan kerusakan formasi.
Kerusakan ini dapat terjadi pada waktu pemboran, well completion, dan operasi
produksi. Penurunan permeabilitas ini akibat adanya material lain yang masuk kedalam

porositas batuan dan naiknya produksi air dan gas (Schechter R.S., 1992; Allen T.O.,
1982).
1. Kerusakan Formasi Akibat Operasi Pemboran
Untuk menahan dinding lubang bor agar tidak runtuh pada saat operasi pemboran
digunakan lumpur pemboran. Pada beberapa kasus lumpur pemboran masuk kedalam
formasi. Masalah yang akan timbul adalah untuk formasi yang mengandung clay
sehingga akan terjadi reaksi kimia antara filtrat lumpur pemboran dengan clay disekitar
lumpur pemboran. Akibat reaksi kimia ini akan menyebabkan pengembangan, dehidrasi
atau terdepresinya sebagian lempung yang mengakibatkan tertutupnya porositas
batuan. Hal ini sering disebut dengan clay blocking.
Kerusakan formasi lain akibat operasi pemboran yaitu berupa invasi partikel padatan
pemboran kedalam formasi. Invasi lumpur pemboran dapat dibagi tiga yaitu:
A. Filtrasi Dinamik
Filtrasi dinamik adalah filtrasi yang terjadi pada saat sirkulasi lumpur serta pada saat
drill string berotasi. Filtrasi ini mengandung air filtrat yang paling dominan hingga
mencapai 10% 90% dari volume filtratnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya
filtrasi dinamik adalah:
Kecepatan aliran lumpur
Jenis lumpur
Tekanan filtrasi
Viskositas lumpur
Temperatur lumpur
Dengan adanya sirkulasi lumpur maka lumpur akan bersifat dinamik sehingga akan
mengikis transisi dari shear strength rendah antara mud cake dan lumpur. Hal yang
dimikian akan menyebabkan terjadinya pengendapan dari hasil kikisan sebelumnya.
B. Filtrasi Statik
Filtrasi statik adalah filtrasi dimana tidak terjadi sirkulasi lumpur pemboran dan rotasi
drill string. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya filtrasi statik adalah:
Jenis lumpur
Tekanan filtrasi
Viskositas lumpur
Temperatur lumpur
Terinvasinya filtrat lumpur kedalam formasi yang paling serius adalah pada saat
permulaan dimana mud cake belum terbentuk. Terinvasinya filtrat lumpur pemboran
disebut Surge Loss. Filtrasi pada saat pemboran akan melalui tiga tahap yaitu:
1. Periode surge, yaitu sebelum terbentuknya cake pada dinding sumur.
2. Periode transisi, yaitu filtrat cake sudah terbentuk tetapi belum sempurna
(tekanan
gradien rekah belum sempurna).

3. Periode gradien, yaitu saat volume filtrat sudah tetap atau tebal mud cake
sudah stabil.
C. Filtrasi Dibawah Bit
Filtrasi dibawah bit adalah filtrasi dinamik yang terinvasi melalui bawah bit, yang
sebenarnya dianggap tidak serius. Invasi dibawah bit ini tergantung pada beberapa
faktor:
Kecepatan lumpur pemboran
Porositas batuan
Permeabilitas
Perbedaan tekanan bit dengan formasinya
Radius sumur
2. Kerusakan Formasi Akibat Operasi Komplesi
Pada saat sumur selesai dikomplesi akan disertai adanya kerusakan formasi antara lain
semen, perforasi, dan formation fracturing. Adanya invasi semen diakibatkan karena
adanya rate sirkulasi yang tinggi, tidak adanya mud cake (disini lubang sumur
dibersihkan dari mud cake sebelum operasi penyemenan dimulai), tekanan hidrostatik
serta viskositas semen. Penurunan laju produksi sumur dapat diakibatkan oleh adanya
penymbatan lubang perforasi oleh ion organik maupun anorganik sehingga tekanan
turun dan temperatur naik.
Tingkat kekerasan formasi bertambah dengan adanya beban pada casing, semen serta
runtuhnya formasi. Untuk formasi yang bersifat unconsolidated pada saat komplesi,
pasir akan ikut terproduksikan bersama fluida hidrokarbon.
3. Kerusakan Formasi Akibat Operasi Produksi
Kerusakan formasi pada saat produksi dapat diakibatkan oleh beberapa faktor yang
meliputi:
A. Endapan Organik
Untuk jenis hidrokarbon berat seperti asphalt akan terendapkan didalam tubing, lubang
perforasi, dan formasi karena adanya penurunan tekanan dan temperatur disekitar
lubang bor selama proses produksi berlangsung. Fraksi hidrokarbon yang terendapkan
akan membentuk kristal. Sebab lain adalah penurunan temperatur sehingga
menyebabkan reaksi kimia antara minyak mentah dan asam organik.
B. Endapan Silt dan Clay
Untuk formasi unconsolidated, problem sumur berupa terikutnya partikel padatan yang
menyebabkan rusaknya formasi itu sendiri serta rusaknya peralatan produksi.
C. Gas Blocking
Dengan diproduksikannya minyak akan diikuti dengan turunnya tekanan reservoir
sampai dibawah tekanan bubble point (Pb) minyak sehingga akan menyebabkan gas

lebih banyak keluar dari larutannya. Keluarnya gas dari larutan akan sebanding dengan
laju produksi. Akumulasi gas pada lubang perforasi disebut dengan Gas Blocking.
D. Water Blocking
Water blocking dan water encroshment akan menyebabkan naikknya water oil ratio.
Water encroshment dipengaruhi oleh permeabilitas batuan khususnya yang berlapislapis yang akan menyebabkan air terproduksi ke sumur bersama-sama dengan minyak.
Water coning sensitif terhadap rate produksi serta stabil seiring dengan kenaikan
permeabilitas terhadap saturasi air. Water coning akan terjadi melalui lapisan semen
yang rekah, akibat adanya water blocking.
Penyebab Terjadinya Kerusakan Sumur
Problem mekanis yang terjadi pada suatu sumur perlu diperhatikan karena hal ini akan
mempersulit pengontrolan sumurnya, sehingga apabila tidak diatasi sejak dini akan
menimbulkan kafatalan.
Secara garis besar penyebab terjadinya kerusakan sumur dapat diklasifikasikan
menjadi dua, yaitu kerusakan yang terjadi pada bawah permukaan dan kerusakan yang
terjadi pada atas permukaan.
1. Kerusakan yang Terjadi pada Bawah Permukaan
Kerusakan ini pada umumnya adalah:
a. Kebocoran casing/tubing
Penyebab terjadinya kebocoran casing/tubing ini adalah proses korosi dan collapse
(sambungan pada casing). Korosi pada casing/tubing disebabkan adanya kandungan
H2S, CO2, HCl, mud acid atau perbedaan potensial/kontak dua macam fluida yang
berbeda kegaramannya sehingga menyebabkan pengikisan kimiawi (non-abrasi) pada
dinding casing terutama bagian dalamnya, sehingga makin lama makin tipis dan
akhirnya bocor.
Kebocoran casing itu selanjutnya dapat mengakibatkan terjadinya komunikasi zonazona lain dengan zona produktif dan akan mengakibatkan laju produksi minyak turun.
b. Kerusakan primary cementing
Primary cementing adalah penyemenan pertama yang dilakukan langsung setelah
casing dipasang begitu operasi pemboran selesai.
Tujuan primary cementing adalah:
Memisahkan lapisan yang akan diproduksi dengan yang tidak
Mencegah mengalirnya fluida dari satu lapisan ke lapisan yang lain
Melindungi pipa dari tekanan formasi
Menutup zona loss circulation
Mencegah proses korosi pada casing oleh fluida formasi
Sebab-sebab terjadinya kerusakan primary cementing adalah adanya tekanan yang
besar pada operasi workover atau kualitas semen dan pengerjaannya yang kurang
baik.

c. Kerusakan peralatan produksi bawah permukaan


Kerusakan peralatan produksi bawah permukaan antara lain:
Tubing atau packer bocor
Kerusakan pada casing atau tubing
Kesalahan atau kerusakan pada artificial lift
Kerusakan pada plug
Adapun problem di atas harus ditangani sejak dini dengan melakukan recompletion
(komplesi kembali secara keseluruhan sehingga baik/sempurna).
2. Kerusakan yang Terjadi pada Atas Permukaan
a. Penggantian atau modifikasi X-ma tree
Pekerjaan ini dilakukan untuk meningkatkan laju produksi dimana diinginkan hasil yang
optimum dan efisien, serta diinginkannya produksi melalui dual completion.
b. Penggantian jenis bean atau choke