Anda di halaman 1dari 12

SALEP

DEFINISI DAN SEJARAH PERKEMBANGAN SALEP


Salep (Ointments) merupakan bentuk sediaan semi padat yang digunakan
untuk pemakaian luar yang diaplikasikan pada kulit (kulit sehat, sakit atau terluka) atau
membran mukosa (hidung, mata, rektal), Biasanya tapi tidak selalu mengandung
bahan obat atau zat aktif. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen di dalam
basis/pembawa. Salep dapat ditujukan untuk pengobatan lokal atau sistemik
Bentuk sediaan salep sudah dikenal sejak lama (dalam Papyrus Eber 1600
SM), dan sudah digunakan sebagai salah satu bahan penyembuh. Pada masa
Hipokrates dan Galenos, sediaan salep sudah lebih berkembang, yaitu dengan
menggunakan komponen minyak/lemak hewan (Lemak sapi dan domba) serta minyak
sumsum tulang sebagai basis/pembawa yang sekaligus berfungsi sebagai obat.
Pada abad pertengahan perkembangan salep terus mengalami kemajuan
dengan ditenukan dan digunakannya malam lebah, gom tumbuhan dan madu sebagai
basis. Perkembangan salep mengalami perkembangan yang luar biasa pada saat
ditemukan vaselin oleh Chesebrough (1878) dan dimurnikan oleh Liebreich (1885).
Perkembangan mutakhir dan sediaarsa1ep adalah bahwa salep telah diformulasikan
dengan mempertimbangkan kondisi kulit, penyakit dan faktor kimia-fisika yang
mengarah pada antar aksi antara medium/pembawa, bahan obat dan kulit yang
akhirnya mengarah pada Drug delivery system.
BASIS SALEP
Basis salep merupakan salah satu komponen dan faktor yang sangat penting
dalam sediaan salep. Basis salep merupakan komponen yang terbesar dalam sediaan
salep, yang sangat menentukan baik/buruknya sediaan salep tersebut. Salah satu hal
penting yang harus diperhatikan dalam memformulasikan sediaan salep adalah seleksi
basis salep yang cocok.
Basis berfungsi sebagai pembawa, pelindung, dan pelunak kulit, harus dapat
melepaskan obat secara optimum (tidak boleh merusak atau menghambat aksi terapi),
dan sedapat mungkin cocok untuk penyakit tertentu dan kondisi kulit tertentu.
Basis salep yang baik harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut (idealnya):

Tidak iritasi

Mudah dibersihkan

Tidak meninggalkan bekas

Universitas Gadjah Mada

Stabil

Tidak tergantung pH

Dapat bercampur dengan banyak obat

Secara terapi netral

Memiliki daya sebar yang baik/mudah dioles1an

Miskin mikrobakteri (< 102 /g), dan tidak ada Enterobakteri, Pseudomonas
aeroginosa, dan S. aureus.

Basis

salep

mempakan

faktor

yang

sangat

menentukan

kecepatan

pelepasan/aksi dan obat, yang nantinya akan mempengaruhi khasiat atau keberhasilan
terapi, sehingga salep harus diformulasikan dengan basis yang baik. Tidak semua
basis cocok/dapat digunakan untuk semua obat/zat aktif, semua jenis kulit, dan pada
semua tempat aplikasi serta pada semua penyakit, sehingga dibutuhkan pengkajian
yang mendalam tentang sifat-sifat kimia fisika basis dan bahan obat serta
penyakit/tujuan terapi.
Di dalam USP, basis salep dibagi menjadi 4 kelas. Tetapi di dalam diktat ini
basis salep dibagi menjadi 5 kelas seperti yang tercantum di dalam Remington (1995).
Perbedaannya adalah, di USP basis absorpsi tidak dibedakan antara basis absorpsi
anhidrous dengan basis absorpsi W/O tipe, sedangkan di Remington kedua macam
basis absorpsi tersebut diklasifikasi dalam kelas yang berbeda. Kelima macam basis
tersebut sebagai berikut:
1. Basis Hidrokarbon (Oleaginous)
Sifat-sifatnya adalah:
a. Emollient
b. Occlusive
c. Nonwater-washable
d. Hydrophobic
e. Greasy
Contoh: Vaselin, White Petrolatumlparaffin, White Ointment.
2. Basis Absorbsi (anhydrous) Sifat-sifatnya adalah:
a. Emollient
b. Occlusive
c. Absorb water
d. Anhydrous
e. Greasy
Contoh : Hydrophilic Petrolatum, Anhydrous Lanolin (adeps lanae).

Universitas Gadjah Mada

3. Basis Absorbsi (W/0 type)


Sifat-sifatnya adalah:
a. Emollient
b. Occlusive
c. Contain water
d. Some absorb additional water
e. Greasy
Contoh: Lanolin, Cold Cream
4. Basis Tercuci (01W type)
Sifat-sifatnya adalah:
a. water washable
b. nongreasy
c. can be diluted with water
d. nonocciusive
Contoh: Hydrophilic Ointment
5. Basis terlarut
Sifat-sifatnya adalah:
a. usually anhydrous
b. water soluble and washable
c. nongreasy
d. nonocciusive
e. hpidfree
Contoh: Polyethylen Glycol ointment
BASIS HIDROKARBON (OLEAGINOUS)
Basis salep hidrokarbon diklasifikasikan sebagai basis oleagenous (basis
berminyak), bersama dengan minyak tumbuhan dan lemak hewan. Basis hidrokarbon
bersifat melunakkan lapisan kulit (emollient) karena occlusive (meninggalkan lapisan
dipermukaan kulit) sehingga akan meningkatkan hidratasi kulit dengan menghambat
penguapan air pada lapisan kulit. Akibat hidratasi lapisan kulit, mungkin juga akan
meningkatkan aktivitas obat. Dan hasil penelitian memperlihatkan bahwa aktivitas
steroid meningkat akibat hidratasi lapisan kulit. Basis hidrokarbon juga dapat
digunakan untuk skin-moisturizing effect.

Universitas Gadjah Mada

Vaselin
Vaselin adalah campuran hidrokarbon setengah padat, yang diperoleh dan
minyak mineral. Vaselin dibuat pertama sekali tahun 1871 dan telah digunakan
sebagai dasar salep sampai saat ini. Vaselin terdapat dalam dua macam warna yaitu
putih dan kuning. Vaselin putih adalah vaselin yang sudah dimurnikan/dipucatkan
dengan asam sulfat, sehingga tidak boleh digunakan untuk basis salep mata.
Basis vasein digunakan bila dikehendaki adanya film penutup pada kulit yang
diobati. Kemampuan menyerap air cukup kecil yaitu sekitar 5%. Untuk menaikkan
kemampuan menyerap air dapat ditambahkan kholesterol.
Petrolatum/parafin:
Parafin adalah campuran hidrokarbon yang diperoleh dari minyak mineral, tidak
berasa, tidak berbau, berwarna putih bila telah diputihkan. Terdiri dari 2 bentuk, yaitu
bentuk padat dan bentuk cair. Parafin padat digunakan untuk mengeraskan salep
sebab titik lebur campuran akan naik. Parafin cair terdiri dari 2 macam yaitu yang
viskositasnya encer dan viskositas kental. Viskositas encer digunakan untuk
pembuatan Vanishing cream, viskositas kental digunakan untuk pembuatan cold
cream.
Contoh: White ointment USP
White petrolatum 95% (W/V)
White wax 5 %
Minyak tumbuhan
Minyak tumbuhan ditambahkan ke dalam dasar salep sebagai pelumas, untuk
melunakkan dasar salep, untuk mengurangi efek pengeringan dan untuk menurunkan
titik lebur. Minyak tumbuhan banyak dipakai dalam sediaan kosmetik seperti krim
pembersih dan pendingin, krim untuk kulit kering dan lotion. Contoh minyak tumbuhan
oleum sesami, oleum olivamm.
BASIS ABSORBSI (ANHYDROUS)
Basis absorbsi bersifat hidrofilik, dapat berupa bahan yang anhidrous atau
basis

hidrous

yang

mempunyai

kemampuan

untuk

mengabsorbsi

air

yang

ditambahkan. Basis anhidrous yang telah rnenyerap air dapat membentuk emulsi tipe
W/O. Kata absorbsi hanya menunjukkan pada kemampuan basis dalam menyerap air,
bukan pada kemampuan obat menembus kulit atau diabsorpsi oleh kulit. Contoh basis
absorbsi adalah anhidorus lanolin/adeps lanae.

Universitas Gadjah Mada

Adeps Ianae
Adeps Ianae merupakan lemak bulu domba, mengandung kholesterol kadar
tinggi dalam bentuk ester dan alkohol, sehingga dapat mengabsorbsi air. Bila
digunakan pada kulit dapat merupakan lapisan penutup dan melunakkan kulit. Tetapi
banyak yang alergi terhadap adeps Ianae. Disamping itu adeps Ianae bertendensi
menjadi tengik dan baunya kurang menyenangkan.
BASIS ABSORBSI (W/O tipe)
Basis absorbsi w/o tipe, sama dengan basis absorpsi anhidrous. Pada basis
absorbsi w/o tipe sudah menyerap air yang ditambahkan. Contoh basis absorbsi w/o
tipe adalah Lanolin dan Hidrophilic petrolatum
Lanolin
Lanolin adalah Adeps lanae yang telah menyerap air/mengadung air yang
ditambahkan. Lanolin mampu menyerap air sarnpai 30 %.
Hidrophilic petrolatum
Hidrophilic petrolatum digunakan sebagai pengganti adeps lanae, karena adeps lanae
cenderung berbau. Basis Hidrophilic petrolatum dapat mengabsorbsi air karena
mengandung kholesterol.
Contoh : Hidrophilic petrolatum USP
Cholesterol

30 g

Stearyl alkohol

30 g

White wax

80 g

White petrolatum

860 g
total

1000g

Adanya kholesterol memungkinkan dasar salep dapat menyerap air atau cairan
obat dalam air, hingga terbentuk suatu emulsi tipe W/O dan sukar dihilangkan dan
kulit.
Cold Cream (W/O) tipe, merupakan basis salep yang dibuat dengan menggunakan
emulgator lipofil. Basis salep yang dibuat dengan emulgator lipofil mempunyai
kemampuan menarik air, sehingga membentuk sistem emuls tipe W/O. Emulgator
yang biasa digunakan dalam cold cream (W/O) adalah adeps lanae, ester asam lemak
sorbitat, dan alkohol lemak teroksidasi rendah.
Contoh basis Cream W/O tipe (rose water ointment, NF 14)
Oleaginous phase
Spermaceti

Universitas Gadjah Mada

12,5 %

White wax

12,0 %

Almondoil

55,58%

Aguecus Phase
Sodium borate

0,5 %

Stronger rose water

2,5 %

Purifiedwater

16,5%

Aromatic
Rose oil

0,02 %

BASIS TERCUCI (O/W tipe)


Cold Cream (O/W) merupakan basis salep yang dibuat dengan menggunakan
emulgator hidrofil. Emulgator yang biasa digunakan dalam cold cream (O/W) adalah
emulgator stearat (mis. Polioksi 40 stearat), emulgator komplek (alkohol teremulsi/SeIf
emulsivying waxes/emulsivying waxes) mis. Lanette NR
Keuntungan dari salep dengan basis tipe 0/W:
Kemampuan penyebarannya pada kulit baik
Efek dingin, yang dihasiikan melalui penguapan lambat dari air pada kulit
Tidak ada penghambatan fungsi rambut secara fisiologis, terutama Respiratio
sensibilitis, karena tidak ada penutupan kedap pada perrnukaan kulit dan tidak
terjadi penyumbatan dari pori kulit
Tampak putih dan bersifat lentur-lembut (pengecualian untuk kream stearat)
Pelepasan obatnya baik
Karena kandungan air tinggi (sampai 70 %), sediaan salep tipe ini dapat terkena
suatu serangan mikrobial, namun dapat dihindari dengan penambahan bahan
pengawet (metil/propil paraben). Disamping itu diperlukan perlindungan terhadap
kehilangan air/penguapan air dengan memasukkan dalam kemasan tube. Kekurangan
basis tercuci (O/W) tipe adalah kurang cocok untuk obat yang larut dalam air dan
mudah terhidrolisa.
Contoh basis tercuci (Hidrophilic ointment, USP)
White petrolatum

25 % (w/w)

Stearyl alcohol

25 %

Propylene glycol

12 %

Sodium lauryl sulfat

1%

Methylparaben

0,025 %

Universitas Gadjah Mada

Propylparaben

0,0 15 %

Purified water

37%

Contoh basis cream O/W tipe


Oleagenous phase
Stearyl alcohol

15 %

Beeswax

8%

Sorbitan monooleat

1,25 %

Aqueous phase
Sorbitol solution,

70 % 7,5 %

Polysorbate

80 3,75 %

Methylparaben

0,025 %

Propylparaben

0,0 15 %

Purified water q.s ad.

100 %

Contoh basis cream O/W (Vanishing cream)


Oleagenous phase
Stearic acid

13 %

Stearyl alcohol

1%

Cetyl alcohol

1%

Aqueous phase
Glycerin

10 %

Methylparaben

0,1 %

Propylparaben

0,05 %

Potassium hydroxide

0,9 %

Purified water q.s ad.

100 %

BASIS TERLARUT
Basis terlarut adalah suatu basis yang dapat larut dalarn air atau dapat
membentuk gel. Contoh basis terlarut adalah basis salep yang dibuat dan
polietilenglikol. Polietilenglikol/Makrogol/poliglikol adalah produk polimerisasi dan
etilenoksida atau produk kondensasi dan etilenglikol. Tergantung pada pemilihan
persyaratan reaksinya, akan diperoleh produk dengan tingkat polimerisasi yang
berbeda, yang dinyatakan melalui keterangan molekul rata-rata. Rumus molekulnya
H(O-CH2-CH2)OH.

Universitas Gadjah Mada

Dengan naiknya ukuran molekul, konsistensinya makin meningkat. PEG


sampai massa molekul 600 menggambarkan cairan kental. Produk yang sampai
massa molekul 20000 bersifat sejenis malam.
Salep PEG dibuat dengan pencampuran dan peleburan bersama 2 jenis
PEG (cair dan padat/semi padat) dengan perbandingan tertentu sehingga akan
diperoleh suatu konsistensi yang dikehendaki.
Contoh basis terlarut (Poliethylene glycol ointment, USP)
PEG

4000

50 %

PEG

400

50%

Sifat-sifat dan salep basis PEG


PEG tidak merangsang
Memiliki kemampuan lekat dan distribusi yang baik pada kulit
Tidak mencegah pertukaran gas dan produksi keringat
Dapat dicuci dengan air dan dapat digunakan pada kulit yang berambut
PEG tidak dapat digunakan pada mata, karena aktivitas osmotik memungkinkan
kemampuan hisap yang tinggi
PEG memiliki bersifat bakterisida sehingga pada penyimpanan beberapa bulan
tidak perlu dikhawatirkan serangan bakteri
Karena PEG mempunyai daya hisap osmotik yang tinggi, maka salep basis
PEG dapat menyerap kelembaban dari udara dan dapat menyebabkan penguraian
otooksidasi dan PEG dan akan terbentuk hidroperoksida dari senyawa karbonil
sebagai produk sekunder (aldehida, asam). Sehingga dibutuhkan pengemasan yang
kedap udara dan terlindung cahaya.
Dari berbagai macam basis yang telah diuraikan diatas, tidak ada satu macam
basis pun yang cocok untuk semua obat/zat aktif, penyakit dan jenis kulit. Seleksi
pembawa yang optimum dan klasifikasi tersebut diatas memerlukan kompromi dalam
formulasi obat. Misalkan suatu obat, stabilitas dan aktivitas obat tersebut sangat tinggi
dalam basis hidrokarbon, tetapi basis hidrokarbon kurang nyaman/menyenangkan
karena berlemak dan kotor. Basis PEG yang larut air sangat menyenangkan, akan
tetapi glikol dapat menyebabkan iritasi pada jaringan yang trauma.
Pemilihan dasar salep yang tepat harus mempertimbangkan beberapa
faktor antara lain:
1. Laju pelepasan yang diinginkan bahan obat dan basis salep
2. Peningkatan absorbsi obat perkutan yang diinginkan

Universitas Gadjah Mada

3. Kelembaban kulit yang dikehendaki


4. Stabilitas obat dalam basis (jangka lama/pendek)
5. Pengaruh obat bila ada hambatan kekentalan
Dengan pemilihan basis salep yang baik/cocok diharapkan akan dapat
dihasilkan suatu bentuk sediaan salep yang baik pula.
Salep yang baik harus memenuhi ketentuan sbb:
a. Stabil : baik selama pemakaian maupun penyimpanan, karena dipengaruhi oleh
factor-faktor seperti. Suhu, kelembaban, dll.
b. Lunak : karena digunakan pada kulit, terutama salep untuk obat yang digunakan
pada kulit yang luka. Untuk itu salep harus mempunyai daya sebar yang baik.
c. Mudah dipakai : agar mudah dipakai maka konsistensinya harus tidak terlalu keras
dan tidak terlalu encer, serta dapat melekat pada kulit selama diperlukan.
d. Protektif: untuk salep tertentu diperlukan kemampuan melindungi kulit dari pengaruh
luar baik yang bersifat asam, basa, debu, sinar matahari, dli.
e. Basis yang cocok : tidak boleh menghambat kerja obat yang dikandung, tidak
mengiritasi atau efek lain yang tidak dikehendaki.
f. Homogen agar pada setiap pemakaian mempunyai kadar yang sama.
Salep dapat terbuat dari suatu basis salep yang dapat berupa sistem
sederhana yang hanya terdiri dan satu macam basis (mis. Vaselin) atau dari komposisi
yang lebih kompleks (mis. Sistem yang mengandung emulgator) dan bersama dengan
bahan aktif atau kombinasi bahan aktif serta bahan-bahan lain yang diperlukan
METODE PEMBUATAN SALEP
Baik dalam ukuran kecil maupun besar, salep dibuat dengan 2 metode
umum yaitu:
1. Metode pencampuranlincorporation
2. Metode peleburan
Metode pencampuran/incorporation:
Jika bahan obat larut dalam air/minyak, maka dapat dilarutkan dalam
air/minyak. Kemudian larutan tersebut ditambahkan (incorporated ke dalam bahan
pembawa (vehicle) bagian per bagian sambil diaduk sampai homogen.
Jika bahan obatnya tidak larut (kelarutannya sangat rendah), maka partikel
bahan obat harus dihaluskan, dan kemudian disuspensikan ke dalam bahan pembawa
(vehicle).

Universitas Gadjah Mada

Metode peleburan:
Metode peleburan dilakukan dengan meleburkan/memanaskan basis salep
yang padat, kemudian basis lain yang berbentuk cair dan obat dicampurkan ke dalam
basis sambil didinginkan dan terus diaduk.
PRESERVATIF SALEP
Preservatif/Pengawet ditambahkan pada salep untuk mencegah kontaminasi,
pengrusakan dan pembusukan oleh bakteri atau fungi, karena banyak basis salep
yang merupakan substrat mikroorganisme. Pemilihan bahan pengawet Harus
memperhatikan stabilitasnya terhadap komponen bahan yang ada dan terhadap
wadah, serta pengaruhnya terhadap kulit/tempat aplikasi. Beberapa bahan pengawet
dapat mengiritasi jaringan mukosa mata dan hidung.
Idealnya suatu pengawet mempunyai sifat-sifat seperti efektif pada konseritrasi
yang rendah, larut pada konsentrasi yang diperlukan, tidak toksik dan tidak mengiritasi
pada konsentrasi yang digunakan, kompatibel dengan dengan komponen dalam
formulasi dan dengan wadah, tidak berbau dan berwarna, stabil pada spektrum yang
Iuas, serta tidak mahal.
Contoh pengawet yang dapat digunakan untuk sediaan salep, seperti tercantum pada
tabel di bawah ini.
Tabel 1 - Topical Preservatives: Benefits and Risks26
Preservatives

Limitations relative to use in cosmetic/


dermatologic formulations

Quaternury ammonium coumpounds

a) Inactivated by numerous ingrvdieins


including arnonics, nonionics and
proteins

Organic mercurial compounds

a) Potentially toxic and many sensitize


the skin
b) Limited use in formulations used near
or in the eye

Formaldehyde

a) Volatile compound with an


objectionable odor
b) Irritating to the skin
c) High chemical reactivity

Halogenated phenols

a) Objectionable odor

hexachlorcphene, p-chloro-m-cresol

b) Often inactivated by nonionics,

Universitas Gadjah Mada

(PCMC)
p.chloro-m-xylenol (PCMX)

anionics or proteins
c) Limited gram-negative antibacterial

dichloro-rn-xylenol (DCMX)
Sorbic acid

activity a) pH-dependent (can be used only In

potassium sorbate

formulations below the pH of 8.5 to


7.0)
b) Higher concentrations are oxidized by
sunlight resulting In product
discoloration
c) Limited antibacterial activity

Benzoic acid

a) pH-dependent (limited to use in

sodium benzoate

formulations with p1-f of 5.5 or less)


b) Replaced by newer antimicrobials
because of its limited antimicrobial
activity

ANTIOKSIDAN
Antioksidan ditambahkan ke dalam salep bila diperkirakan terjadi kerusakan
basis karena terjadinya oksidasi. Sistem anti oksidan ditentukan oleh komponen
formulasi dan pemilihannya tergantung pada beberapa faktor: seperti toksisitas,
potensi, kompatibel, bau, kelarutan, stabilitas, dan iritasi. Seringkali digunakan 2
antioksidan untuk mendapatkan efek sinergis.
Contoh antioksidan adalah Butylated Hydroxyanisole ( BHA), Butylated
hydroxytoluene (BHT), Propyl gallate, dan Nordihydroguaiaretic acid (NCGA).
PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN
Wadah yang umum digunakan untuk tempat salep adalah tube baik yang
terbuat dan aluminium/seng maupun plastik, namun masih banyak juga salep dikemas
dalam bentuk kemasan pot salep. Beberapa salep juga dibeni tambahan kemasan
dengan alat bantu khusus bila salep akan digunakan melalui rektum.
Salep biasanya disimpan dalam kondisi suhu kamar (dibawah 30 C), untuk
mencegah agar salep tidak lembek apalagi kalau salep terbuat dari basis yang dapat
mencair pada suhu tinggi dan sedapat mungkin dibawah pemutusan udara (wadah
terisi sampai penuh). Bila mengandung bahan yang peka cahaya maka harus
terlindung dan cahaya.

Universitas Gadjah Mada

PENGUJIAN DAN EVALUASI TERHADAP SALEP


1.

Stabilitas zat aktif

2.

Stabilitas pembawa/basis

3.

Tampilan visual

4.

Warna

5.

Bau

6.

Viskositas

7.

Distribusi ukuran partikel

8.

pH

9.

Tekstur dan daya sebar serta kelekatan salep

10. Homogenitas
11. Air yang hilang/komponen volatil lainnya
12. Kontaminasi partikel asing
13. Kontaminasi mikrobakteria
14. Uji kemampuan proteksi
15. Uji pelepasan obat dan sediaan salep serta bioavailability
Macam-macam uji pelepasan obat dan salep:
Pengujian In-Vitro
1. Metode difusi pada gelose
2. Cara mikrobiologi
3. Metode difusi dengan mempergunakan membran
4. Metode difusi tanpa membran
Pengujian In-Vivo
1. Metode histologi
2. Metode dengan menggunakan trace yang dilabel dengan radio aktif
3. Metode penilaian pada aspek fisiologi tertentu
4. Analisispada cairan badan atau jaringan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pelepasan obat dan basis salep;
1. Kelarutan obat dalam basis
2. Konsentrasi obat
3. Koefisien difusi obat dalam basis
4. Medium pelepasan

Universitas Gadjah Mada