Anda di halaman 1dari 4

MODEL PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DALAM PEMENUHAN

PRASARANA TRANSPORTASI PERDESAAN DAN WILAYAH PESISIR


(KOMUNIKASI PEMBANGUNAN GREEN INFRASTRUCTURE
PROVINSI SULAWESI TENGGARA)

Sinopsis 1:
Telah terbukti bahwa komoditi dari sumberdaya alam pesisir tahan terhadap krisis ekonomi
yang berkepanjangan. Di lain pihak eksploitasi terhadap sumberdaya tersebut telah menyebabkan
timbulnya masalah-masalah yang kompleks dan terlihat adanya indikasi telah terlampauinya
daya dukung ekologis. Dari permasalahan di wilayah ini telah diangkat 10 (sepuluh) isu-isu
pengelolaan dan isu pengelolaan pulau-pulau kecil oleh pihak-pihak yang berkepentingan
(stakeholders) di wilayah pesisir, yaitu:
1.

Rendahnya kualitas sumberdaya manusia

2.

Rendahnya penaatan dan penegakan hukum

3.

Belum adanya penataan ruang wilayah pesisir

4.

Degradasi habitat wilayah pesisir

5.

Pencemaran wilayah pesisir

6.

Kerusakan hutan, Taman Nasional, dan Cagar Alam Laut

7.

Potensi dan obyek wisata bahari belum dikembangkan secara optimal

8.

Belum optimalnya pengelolaan perikanan tangkap dan budidaya

9.

Rawan bencana alam (gempa, tanah longsor, banjir)

10. Ancaman intrusi air laut


11. Isu pengelolaan pulau-pulau kecil dan perairan sekitarnya
Untuk menangani isu-isu tersebut, diperlukan rencana strategis yang memuat visi, tujuan,
sasaran, dan strategi pengelolaan yang terpadu dan diakui bersama oleh stakeholders . Rencana
strategis pengelolaan wilayah pesisir ini disebut Renstra Pesisir.
Renstra ini disusun melalui proses yang cukup panjang dengan partisipasi aktif
stakeholders. Proses penyusunannya diawali dengan pembuatan Atlas Sumberdaya Wilayah
Pesisir suatu daerah, kemudian pelatihan-pelatihan untuk peningkatan kapasitas lembaga dan
perorangan, dan konsultasi publik dalam bentuk workshop, seminar dan diskusi-diskusi selama
survei lapang. Informasi yang didapatkan melalui proses penggalian isu-isu pengelolaan dikaji
secara seksama dengan melakukan cross-check (verifikasi) kepada stakeholders untuk
mendapatkan keabsahan dan penjelasan isu yang lebih rinci serta spesifik di kabupaten/kota
pesisir.

Renstra Pesisir adalah dasar dari pengelolaan secara terpadu, yang berisi landasan untuk
penyusunan perencanaan yang lebih rinci, seperti rencana zonasi (rencana tata-ruang pesisir),
rencana pengelolaan suatu kawasan, dan rencana-rencana aksi lintas lembaga untuk pemanfaatan
sumberdaya dan pembangunan di wilayah pesisir. Renstra ini menga-komodasi visi
pengelolaan pesisir dari beberapa kabupaten/kota pesisir di suatu propinsi. Renstra Pesisir ini
merupakan komitmen dari segenap stakeholders di wilayah pesisir suatu daerah untuk mengelola
sumberdaya secara optimum.

Oleh karena itu, keberhasilan pengelolaan tergantung dari

kesungguhan stakeholders sendiri.


Dokumen Renstra ini merupakan dokumen yang dinamis yang harus dikaji ulang setiap
tahun. Renstra ini perlu direview setiap tiga tahun, sesuai dengan kesepakatan para stakeholders,
untuk mengantisipasi perubahan dan penyesuaian akibat dari pembangunan.
Renstra adalah dokumen perencanaan milik masyarakat suatu daerah. Implementasi dari
rencana-rencana yang tertuang di dalamnya merupakan acuan dalam pengambilan kebijakan dan
implementasi program baik lembaga pemerintah maupun non-pemerintah.
Berdasarkan kesepakatan internasional, proses pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir
mengikuti suatu siklus pembangunan atau kebijakan (Gambar 5).

Gambar 5. Siklus Kebijakan Pengelolaan Pesisir Terpadu (Olsen et al, 1998)

Siklus tersebut terdiri dari lima langkah berikut:


1.

Identifikasi isu-isu pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir

2.

Persiapan atau perencanaan program

3.

Adopsi program dan pendanaan

4.

Pelaksanaan program

5.

Monitoring dan evaluasi