Anda di halaman 1dari 20

6.

NILAI, NORMA DAN MORAL DALAM PANCASILA


A. PENGERTIAN NILAI
Ada beberapa pengertian dari nilai. Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu,
menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia yang pada hakikatnya melekat pada suatu
objek. Sesuatu mengandung nilai artinya ada sifat atau kualitas yang melekat pada sesuatu
itu. Nilai juga merupakan kenyataan tersembunyi dibalik kenyataan-kenyataan lainnya.
Menilai berarti menimbang, artinya suatu kegiatan manusia untuk menghubungkan
denagn sesuatu yang lain, kemudian untuk selanjutnya diambil keputusan denagn
menyatakan sesuatu itu baik atau buruk, benar atau salah, indah atau jelek, suci atau berdosa.
Nilai bagi manusia dipakai dan diperlukan untuk menjadi landasan alasan, motivasi
dalam segala sikap, tingkah laku dan perbuatannya. Karena pada kenyataannya bahwa ada
orang yang sengaja dan sadar melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kesadaran akan
nilai yang diketahui dan diyakini.
B. MACAM-MACAM NILAI
1. Walter G. Everet, menggolongkan nilai-nilai manusiawi menjadi 8 kelompok :
a. Nilai ekonomis
Ditunjukkan oleh harga pasar dan meliputi semua benda yang dapat dibeli. Misalnya :
emas atau logam mulia, mempunyai nilai ekonomis daripada seng.
b.Nilai kejasmanian
Mengacu

pada

kesehatan,

efisieni,

dan

kebugaran,kesehatan, kemulusan tubuh, dan kebersihan.

keindahan

badan.

Misalnya:

c. Nilai hiburan
Yaitu nilai-nilai permainan dan waktu senggang yang dapat menyumbang pada
pengayaan kehidupan. Misalnya : kenikmatan rekreasi, keharmonian musik, dan keselarasan
nada.
d. Nilai social
Berasal mula dari perbagai bentuk perserikatan manusia. nilai social dalam
masyarakat biasanya tumbuh berdasarkan status yang dimiliki orang tersebut. Misalnya :
kerukunan, persahabatan, persaudaraan, kesejahteraan, keadilan, kerakyatan, dan persatuan.
e. Nilai watak
Merupakan keseluruhan dari keutuhan kepribadian dan social yang diinginkan.
Misalnya : kejujuran, kesederhanaan, dan kesetiaan.
f. Nilai estetis
Yaitu nilai-nilai keindahan dalam alam dan karya seni. Misalnya : keindahan,
keselarasan, keseimbangan, dan keserasian.
g.Nilai intelektual
Merupakan nilai-ilai pengetahuan dan pengajaran kebenaran. Misalnya : kecerdasan,
ketekunan, kebenaran dan kepastian.
h.Nilai keagamaan
Yaitu nilai-nilai yang ada dalam agama. Misalnya : kesucian, keagungan Tuhan,
keesaanTuhan, dan keibadahan.

2. Notonagoro membagi nilai menjadi tiga, yaitu:


a. Nilai material
Yaitu, segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia. Misalnya: kebutuhan makan,
minum, sandang, papan, kesehatan, dll.
b.Nilai vital
Yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan
atau aktivitas. Misalnya: semangat, kemauan, kerja keras, ketekunan, dll.
c. Nilai kerohanian
Yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai kerohanian dapat
dibedakan menjadi empat:
a. Nilai kebenaran, Merupakan nilai yang bersumber pada akal (rasio, budi, cipta manusia)
b. Nilai keindahan (nilai estetis), Nilai yang bersumber pada perasaan.
c. Nilai kebaikan (nilai moral), Nilai yang bersumber dari kehendak manusia (will, wollen,
karsa manusia)
d. Nilai religius, Merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak, bersumber pada
kepercayaan dan keyakinan manusia.

3. Jenis-jenis nilai :
a. Nilai dasar

Nilai dasar masih bersifat abstrak karena masih dalam pemikiran manusia, sehingga
harus dijabarkan lebih lanjut agar dapat diterapkan dan dijadikan pedoman dalam kehidupan
nyata.
Dalam konteks hidup bernegara, Pancasila sebagai dasar Negara, dan asas kerohanian
Negara menjadi nilai dasar.
b.Nilai instrumental
Nilai instrumental merupakan penjabaran dari nilai dasar dengan cara interpretasi, dan
masih berupa rumusan umum yang berwujud norma-norma.
Nilai dasar dalam Pancasila dijabarkan lebih lanjut dalam nilai instrumental, yaitu
berupa UUD 1945 sebagai hukum dasar tertulis yang berisi norma-norma dalam mengatur
penyelenggaraan Negara.
c. Nilai praksis
Nilai instrumental dijabarkan lebih lanjut menjadi nilai praksis yang sifatnya konkrit
dan menunujuk pada sesuatu yang kontekstual, sehingga rumusan nilai praksis dapat diubah
dengan mudah disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Misalnya, pasal 28 UUD 1945
dijabarkan dalam Undang-Undang tentang Ormas dan Orsospol.

C. SISTEM NILAI DALAM PANCASILA


Sistem dapat diartikan sebagai rangkaian yang saling berkaitan antara unsur yang satu
dengan yang lain. Sistem nilai adalah konsep atau gagasan yang menyeluruh mengenai apa
yang hidup dalam pikiran seseorang. Pancasila sebagai system nilai mengandung serangkaian

nilai yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Kaelan mengatakan
bahwa niai-nilai Pancasila bersifat objektif, yaitu :
Rumusan dari sila-sila pancasila menunjkkan adanya sifat-sifat yang umum, universal
dan abstrak. Karena pada hakikatnya pancasila adalah nilai. Inti nilai-nilai Pancasila berlaku
tidak terikat oleh ruang. Artinya keberlakuannya sejak jaman dahulu, masa kini dan juga
untuk masa yang akan dating, untuk bangsa Indonesia boleh jadi untuk Negara lain yang
secara eksplisit tampak dalam adat istiadat, kebudayaan, tata hidup kenegaraaan dan tata
hidup beragama. Pancasila yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 memenuhi syarat
sebagai pokok kaidah negara yang fundamental, sehingga merupakan suatu sumber hukum
positif di Indonesia. Oleh karena itu hierarki suatu tertib hukum di Indonesia berkedudukan
sebagai tertib hukum tertinggi. Maka secara objektif tidak dapat diubah secara hukum,
sehingga melekat pada kelangsungan hidup Negara. Sebagai konsekwensinya jikalau nilainilai yang terkandung dalam pembukaa UUD 45 itu diubah maka sama halnya dengan
membubarkan Negara proklamasi 17 Agustus 1945. Darmodiharjo, mengatakan bahwa
Pancasila bersifat subjektif, yaitu :
1. Nilai-nilai Pancasila timbul dari bangsa Indonesia itu sendiri.
Nilai-nilai yang terdapat dalam pancasila merupakan hasil dari pemikiran, panilaian,
dan refleksi filosofis dari bangsa Indonesia sendiri. Ideologi pancasila berbeda dengan
ideologi-ideologi lain karena isi pancasila diambil dari nilai budaya bangsa dan religi yang
telah melekat erat, sehingga jiwa pancasila adalah jiwa bangsa Indonesia sendiri, sedangkan
ideologi lain seperti liberalis, sosialis, komunis, dan lain sebagainya merupakan hasil dari
pemikiran filsafat orang.
2. Nilai-nilai Pancasila merupakan filsafat bangsa Indonesia.

Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia menjadi pedoman bangsa untuk
mengatur aspek kehidupan berbangsa dan bernegara sekaligus menjadi cermin jati diri bangsa
yang diyakini sebagai sumber nilai atas kebenaran, keadilan, kebaikan, dan kebijaksanaan
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
3. Nilai-nilai Pancasila merupakan nilai-nilai yangs sesuai dengan hati nurani bangsa
Indonesia, karena bersumber dari kepribadian bangsa. Sehingga dalam perjalanannya akan
selaras dengan nilai-nilai pancasila. Dalam kehidupan bernegara, nilai dasar Pancasila harus
tampak dalam produk peraturan perundangan yang berlaku, dengan kata lain, peraturan
perundangan harus dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila, sehingga tidak boleh bertentangan
denagn nilai-nilai Pancasila.

D. NILAI DASAR PANCASILA


Nilai dasar Pancasila adalah nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai
kerakyatan, dan nilai keadilan.
1. Makna Nilai dalam Pancasila
a. Nilai Ketuhanan
Nilai ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa
terhadap adanya Tuhan sebagai pancipta alam semesta. Dengan nilai ini menyatakan bangsa
indonesia merupakan bangsa yang religius bukan bangsa yang ateis. Nilai ketuhanan juga
memilik arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama, menghormati
kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan serta tidak berlaku diskriminatif antarumat
beragama.

b. Nilai Kemanusiaan
Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran sikap dan perilaku
sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan
memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya.
c. Nilai Persatuan
Nilai persatuan indonesia mengandung makna usaha ke arah bersatu dalam kebulatan rakyat
untuk membina rasa nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persatuan
Indonesia sekaligus mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang
dimiliki bangsa indonesia..
d. Nilai Kerakyatan
Nilai

kerakyatan

yang

dipimpin

oleh

hikmat

kebijaksanaan

dalam

permusyawaratan/perwakilan mengandung makna suatu pemerintahan dari rakyat, oleh


rakyat, dan untuk rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga
perwakilan.
e. Nilai Keadilan
Nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia mengandung makna sebagai dasar
sekaligus tujuan, yaitu tercapainya masyarakat Indonesia Yang Adil dan Makmur secara
lahiriah atauun batiniah. Nilai-nilai dasar itu sifatnya abstrak dan normatif. Karena sifatnya
abstrak dan normatif, isinya belum dapat dioperasionalkan. Agar dapat bersifat operasional
dan eksplisit, perlu dijabarkan ke dalam nilai instrumental. Contoh nilai instrumental tersebut
adalah UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya. Sebagai nilai dasar, nilai-nilai
tersebut menjadi sumber nilai. Artinya, dengan bersumber pada kelima nilai dasar diatas
dapat dibuat dan dijabarkan nilai-nilai instrumental penyelenggaraan negara Indonesia
7

E. NORMA DALAM PANCASILA


1. PENGERTIAN NORMA
Norma atau kaidah adalah aturan-aturan tentang perilaku yang harus dan tidak boleh
dilakukan dengan disertai sanksi atau ancaman bila norma tidak dilakukan. Dalam kehidupan
manusia ada seperangkat aturan kelakuan yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh
penganutnya.
Pancasila adalah falsafah, jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia yang mengandung
nilai-nilai dan norma-norma yang luhur. Kita menyadari bahwa Pancasila sebagai norma
dasar dan nilai moral yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Nilai-nilai itu adalah Pandangan Hidup, Kesadaran dan Cita hukum, cita-cita mengenai
Kemerdekaan, Keadilan Sosial, Politik, Ekonomi, Keagamaan dll. Nilai-nilai inilah yang
dirumuskan dan disyahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 menjadi norma dasar
kita. Kita hidup dalam masyarakat yang beraneka ragam coraknya, maka harus kita amalkan
dalam kehidupan sehari-hari dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Setiap
masyarakat mempunyai norma dan aturan yang tidak boleh kita langgar, sebab bila dilanggar,
maka sanksinya tidak dihargai dan tidak diakui oleh masyarakat.
Norma yang terdapat dalam masyarakat terdiri dari 4 macam, yaitu:
Norma Agama bersumber dari Tuhan melalui utusannya yang berisikan peraturan hidup yang
diterima sebagai perintahperintah, larangan-larangan dan anjuran-anjuran yang berasal dari
Tuhan. Sebagian besar norma agama bersifat umum, jadi berlaku bagi seluruh golongan
manusia di dunia terlepas dari agama yang dianut. Contoh, semua agama mengajarkan agar
umatnya tidak berdusta; sanksinya adalah rasa berdosa .

Norma Kesusilaan yang dianggap sebagai aturan yang datang dari suara hati sanubari
manusia; dari bisikan kalbu atau suara batin yang diakui dan diinsyafi oleh setiap orang
sebagai pedoman dalam sikap dan perbuatannya. Misalnya, suara batin kita memerintahkan
Hendaknya engkau berlaku jujur. Penyimpangan dari norma kesusilaan dianggap salah atau
jahat sehingga pelanggarnya akan diejek atau disindir. Bila penyimpangan kesusilaan
dianggap keterlaluan maka pelakunya akan dikucilkan.
Norma Kesopanan merupakan peraturan hidup yang timbul dari pergaulan segolongan
manusia dan dianggap sebagai tuntunan pergaulan sehari-hari sekelompok masyarakat.
Misalnya menegaskan agar orang muda menghormati orang yang lebih tua. Bila dilanggarnya
sanksinya adalah dikucilkan dari pergaulan hidup bermasyarakat.
Norma Hukum adalah aturan tertulis maupun tidak tertulis yang berisikan perintah atau
larangan yang memaksa dan yang akan menimbulkan sanksi yang tegas bagi setiap orang
yang melanggarnya.
Keempat Norma ini berlaku dan terdapat pada masyarakat Indonesia yang masinng-masing
norma mempunyai perbedaan satu sama lain. Khusus Norma Hukum yang dibuat oleh
lembaga yang berwenang, untuk membuatnya (negara) dan dari segi sanksinya lebih tegas
dan jelas serta dapat dipaksakan dalam pelaksanaannya.
2. NILAI PANCASILA MENJADI SUMBER NORMA HUKUM
Upaya mewujudkan Pancasila sebagai sumber nilai adalah dijadikannya nilai nilai dasar
menjadi sumber bagi penyusunan norma hukum di Indonesia. Operasionalisasi dari nilai
dasar pancasila itu adalah dijadikannya pancasila sebagai norma dasar bagi penyusunan
norma hukum di Indonesia. Negara Indonesia memiliki hukum nasional yang merupakan satu
kesatuan sistem hukum. Sistem hukum Indonesia itu bersumber dan berdasar pada pancasila

sebagai norma dasar bernegara. Pancasila berkedudukan sebagai grundnorm (norma dasar)
atau staatfundamentalnorm (norma fondamental negara) dalam jenjang norma hukum di
Indonesia.
Nilai-nilai pancasila selanjutnya dijabarkan dalam berbagai peraturan perundangam yang ada.
Perundang-undangan, ketetapan, keputusan, kebijaksanaan pemerintah, program-program
pembangunan, dan peraturan-peraturan lain pada hakikatnya merupakan nilai instrumental
sebagai penjabaran dari nilai-nilai dasar pancasila.
Sistem hukum di Indonesia membentuk tata urutan peraturan perundang-undangan.
Tata urutan peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam ketetapan MPR
No. III/MPR/2000 tentang sumber hukum dan tata urutan perundang-undangan sebagai
berikut.
a. Undang-Undang Dasar 1945
b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
c. Undang-undang
d. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu)
e. Peraturan Pemerintah
f. Keputusan Presiden
g. Peraturan Daerah
Dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang pembentukan Peraturan
perundang-undangan juga menyebutkan adanya jenis dan hierarki peraturan

10

perundang-undangan sebagai berikut:


a. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
b. Undang-undang/peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perpu)
c. Peraturan pemerintah
d. Peraturan presiden
e. Peraturan daerah.
Pasal 2 Undang-undang No. 10 Tahun 2004 menyatakan bahwa Pancasila merupakan sumber
dari segala sumber hukum negara. Hal ini sesuai dengan kedudukannya sebagai dasar
(filosofis) negara sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945
Alinea IV.
3. Nilai Pancasila menjadi Sumber Norma Etik
Upaya lain dalam mewujudkan pancasila sebagai sumber nilai adalah dengan menjadikan
nilai dasar Pancasila sebagai sumber pembentukan norma etik (norma moral) dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai pancasila adalah nilai moral.
Oleh karena itu, nilai pancasila juga dapat diwujudkan kedalam norma-norma moral (etik).
Norma-norma etik tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam
bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bangsa indonesia
saat ini sudah berhasil merumuskan norma-norma etik sebagai pedoman dalam bersikap dan
bertingkah laku. Norma-norma etik tersebut bersumber pada pancasila sebagai nilai budaya
bangsa. Rumusan norma etik tersebut tercantum dalam ketetapan MPR No. VI/MPR/2001
tentang Etika Kehidupan Berbangsa, Bernegara, dan Bermasyarakat.
Ketetapan MPR No. VI/MPR/2001 tentang etika Kehidupan Berbangsa, bernegara, dan
11

bermasyarakat merupakan penjabaran nilai-nilai pancasila sebagai pedoman dalam


berpikir, bersikap, dan bertingkah laku yang merupakan cerminan dari nilai-nilai
keagamaan dan kebudayaan yang sudah mengakar dalam kehidupan bermasyarakat
a. Etika Sosial dan Budaya
Etika ini bertolak dari rasa kemanusiaan yang mendalam dengan menampilkan kembali sikap
jujur, saling peduli, saling memahami, saling menghargai, saling mencintai, dan tolong
menolong di antara sesama manusia dan anak bangsa. Senafas dengan itu juga menghidupkan
kembali budaya malu, yakni malu berbuat kesalahan dan semua yang bertentangan dengan
moral agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Untuk itu, perlu dihidupkan kembali
budaya keteladanan yang harus dimulai dan diperlihatkan contohnya oleh para pemimpin
pada setiap tingkat dan
lapisan masyarakat.
b. Etika Pemerintahan dan Politik
Etika ini dimaksudkan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih, efisien, dan efektif;
menumbuhkan suasana politik yang demokratis yang bercirikan keterbukaan, rasa tanggung
jawab, tanggap akan aspirasi rakyat; menghargai perbedaan; jujur dalam persaingan;
ketersediaan untuk menerima pendapat yang lebih benar walau datang dari orang per orang
ataupun kelompok orang; serta menjunjung tinggi hak asasi manusia. Etika pemerintahan
mengamanatkan agar para pejabat memiliki rasa kepedulian tinggi dalam memberikan
pelayanan kepada publik, siap mundur apabila dirinya merasa telah melanggar kaidah dan
sistem nilai ataupun dianggap tidak mampu memenuhi amanah masyarakat, bangsa, dan
negara.

12

c. Etika Ekonomi dan Bisnis


Etika ekonomi dan bisnis dimaksudkan agar prinsip dan perilaku ekonomi, baik oleh pribadi,
institusi maupun pengambil keputusan dalam bidang ekonomi, dapat melahirkan kiondisi dan
realitas ekonomi yang bercirikan persaingan yang jujur, berkeadilan, mendorong
berkembangnya etos kerja ekonomi, daya tahan ekonomi dan kemampuan bersaing, serta
terciptanya suasana kondusif untuk pemberdayaan ekonomi rakyat melalui usaha-usaha
bersama secara berkesinambungan. Hal itu bertujuan menghindarkan terjadinya praktikpraktik monopoli, oligopoli, kebijakan ekonomi yang bernuansa KKN ataupun rasial yang
berdampak negatif terhadap efisiensi, persaingan sehat, dan keadilan; serta menghindarkan
perilaku menghalalkan segala cara dalam memperoleh keuntungan.
d. Etika Penegakan Hukum yang Berkeadilan
Etika penegakan hukum dan berkeadilan dimaksudkan untuk menumbuhkan keasadaran
bahwa tertib sosial, ketenangan, dan keteraturan hidup bersama hanya dapat diwujudkan
dengan ketaatan terhadap hukum dan seluruh peraturan yang ada. Keseluruhan aturan hukum
yang menjamin tegaknya supremasi hukum sejalan dengan menuju kepada pemenuha rasa
keadilan yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat.
e. Etika Keilmuan dan Disiplin Kehidupan
Etika keilmuan diwujudkan dengan menjunjung tingghi nilai-nilai ilmu pengetahuan dan
teknologi agar mampu berpikir rasional, kritis, logis dan objektif. Etika ini etika ini
ditampilkan secara pribadi dan ataupun kolektif dalam perilaku gemar membaca, belajar,
meneliti, menulis, membahas, dan kreatif dalam menciptakan karya-karya baru, serta secara
bersama-sama menciptakan iklim kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Dengan adanya etika maka nilai-nilai pancasila yang tercermin dalam norma-

13

norma etik kehidupan berbangsa dan bernegara dapat kita amalkan. Untuk berhasilnya
perilaku bersandarkan pada norma-norma etik kehidupan berbangsa dan bernegara, ada
beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai berikut. a. Proses penanaman dan pembudayaan
etika tersebut hendaknya menggunakan bahasa agama dan bahasa budaya sehingga
menyentuh hati nurani dan mengundang simpati dan dukungan seluruh masyarakat. Apabila
sanksi moral tidak lagi efektif,
langkah-langkah penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan konsisten.
b. Proses penanaman dan pembudayaan etika dilakukan melalui pendekatan komunikatif,
dialogis, dan persuasif, tidak melalui pendekatan cara indoktrinasi.
c. Pelaksanaan gerakan nasional etika berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat secara
sinergik dan berkesinambungan yang melibatkan seluruh potensi bangsa, pemerintah ataupun
masyarakat.
d. Perlu dikembangkan etika-etika profesi, seperti etika profesi hukum, profesi kedokteran,
profesi ekonomi, dan profesi politik yang dilandasi oleh pokok-pokok etika ini yang perlu
ditaati oleh segenap anggotanya melalui kode etik profesi masing-masing.
e. Mengkaitkan pembudayaan etika kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat
sebagai bagian dari sikap keberagaman, yang menempatkan nilai-nilai etika kehidupan
berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat di samping tanggung jawab kemanusiaan juga
sebagai bagian pengabdian pada Tuhan Yang Maha Esa.

14

F. MORAL DALAM PANCASILA


1. PENGERTIAN MORAL
Moral berasal dari bahasa Latin "mos" (jamak: mores) yang berarti kebiasaan, adat.
Kata "mos" (mores) dalam bahasa Latin sama artinya dengan etos dalam bahasa Yunani. Di
dalam bahasa Indonesia, kata moral diterjemahkan dengan arti susila. Adapun pengertian
moral yang paling umum adalah tindakan manusia yang sesuai dengan ide-ide yang diterima
umum, yaitu berkaitan dengan makna yang baik dan wajar. Dengan kata lain, pengertian
moral adalah suatu kebaikan yang disesuaikan dengan ukuran-ukuran tindakan yang diterima
oleh umum, meliputi kesatuan sosial atau lingkungan tertentu. Kata moral selalu mengacu
pada baik dan buruknya perbuatan manusia sebagai manusia.
Berikut ini beberapa Pengertian Moral Menurut para Ahli:
1. Pengertian Moral Menurut Chaplin (2006): Moral mengacu pada akhlak yang sesuai
dengan peraturan sosial, atau menyangkut hukum atau adat kebiasaan yang mengatur
tingkah laku.
2. Pengertian Moral Menurut Hurlock (1990): moral adalah tata cara, kebiasaan, dan
adat peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya.
3. Pengertian Moral Menurut Wantah (2005): Moral adalah sesuatu yang berkaitan atau
ada hubungannya dengan kemampuan menentukan benar salah dan baik buruknya
tingkah laku.
Dari tiga pengertian moral di atas, dapat disimpulkan bahwa Moral adalah suatu
keyakinan tentang benar salah, baik dan buruk, yang sesuai dengan kesepakatan sosial, yang
mendasari tindakan atau pemikiran. Jadi, moral sangat berhubungan dengan benar salah, baik
buruk, keyakinan, diri sendiri, dan lingkungan sosial.

15

G. NILAI MORAL PANCASILA DAN PENGAMALANNYA


Menurut TAP MPR No. II/MPR/1978, Pancasila disebut EKAPRASETIA
PANCAKARSA. Ekaprasetia Pancakarsa berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya
TEKAD TUNGGAL UNTUK MELAKSANAKAN LIMA KEHENDAK. Sungguh indah
bahasa tersebut. Namun kemudian Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila
(Ekaprasetia Pancakarsa) dalam TAP MPR No. II/MPR/1978 dinyatakan tidak berlaku lagi
setelah dikeluarkannya TAP MPR No. XVIII/MPR/1998. Lihat TAP MPR No.
XVIII/MPR/1998. Dalam TAP MPR No. XVIII/MPR/1998 ini terdapat 45 butir pengamalan
Pancasila. Berikut ini 45 Butir Pengamalan Pancasila yang patut kita amalkan dalam
kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat:
a. Ketuhanan Yang Maha Esa
1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan
Yang Maha Esa.
2. Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan
agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab.
3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama
dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai
dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.

16

7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
kepada orang lain.
b. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
8. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya
sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
9. Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia,
tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin,
kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
10. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
11. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
12. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
13. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
14. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
15. Berani membela kebenaran dan keadilan.
16. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
17. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
c. Persatuan Indonesia
18. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa
dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
19. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
20. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
21. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
22. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial.
23. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.

17

24. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.


d. Kerakyatan

yang

Dipimpin

oleh

Hikmah

Kebijaksanaan

dalam

Permusyawaratan/Perwakilan
25. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai
kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
26. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
27. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan
bersama.
28. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
29. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil
musyawarah.
30. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil
keputusan musyawarah.
31. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi
dan golongan.
32. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
33. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada
Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai
kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan
bersama.
34. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan
pemusyawaratan.
e. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
35. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana
kekeluargaan dan kegotongroyongan.

18

36. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.


37. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
38. Menghormati hak orang lain.
39. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
40. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap
orang lain.
41. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya
hidup mewah.
42. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan
kepentingan umum.
43. Suka bekerja keras.
44. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan
kesejahteraan bersama.
45. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan
berkeadilan sosial.
Apabila Bangsa Indonesia benar-benar mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila, tentunya degradasi moral dan kebiadaban masyarakat kita dapat diminimalisir.
Kenyataannya setelah era reformasi, para reformator alergi dengan semua produk yang
berbau orde baru termasuk P4 sehingga terkesan meninggalkannya begitu saja. Belum lagi
saat ini jati diri Indonesia mulai goyah ketika sekelompok pihak mulai mementingkan dirinya
sendiri untuk kembali menjadikan negara ini sebagai negara berideologi agama tertentu.

19

H. HUBUNGAN NILAI, NORMA DAN MORAL DALAM PANCASILA


Nilai, norma, dan moral adalah konsep-konsep yang saling berkaitan. Keterkaitan
nilai, norma dan moral merupakan suatu kenyataan yang seharusnya tetap terpelihara di
setiap waktu pada hidup dan kehidupan manusia. Keterkaitan itu mutlak digarisbawahi bila
seorang individu, masyarakat, bangsa dan negara menghendaki fondasi yang kuat tumbuh
dan berkembang. Agar nilai menjadi lebih berguna dalam menuntun sikap dan tingkah
laku manusia, maka perlu dikongkritkan lagi serta diformulasikan menjadi lebih objektif
sehingga memudahkan manusia untuk menjabarkannya dalam tingkah laku secara kongkrit
Sebagaimana tersebut di atas maka nilai akan berguna menuntun sikap dan tingkah
laku manusia bila dikongkritkan dan diformulakan menjadi lebih objektif sehingga
memudahkan manusia untuk menjabarkannya dalam aktivitas sehari-hari. Dalam kaitannya
dengan moral maka aktivitas turunan dari nilai dan norma akan memperoleh integritas dan
martabat manusia. Derajat kepribadian itu amat ditentukan oleh moralitas yang
mengawalnya. Sementara itu, hubungan antara moral dan etika kadang-kadang atau
seringkali disejajarkan arti dan maknanya. Nilai, Norma, dan Moral penting untuk digunakan
sebagai panduan atau pun dasar dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Contoh
penggunaan dari nilai, norma dan moral dalam tindakan sehari-hari adalah, misalkan kita di
hadapkan pada situasi di mana pada saat kita jalan, kita menemukan sebuah dompet yang ada
uangnya sejumlah dan ada kartu identitas nya. Di sinilah moral kita akan terlihat. Bila moral
kita baik pasti kita akan memberikan dompet itu ke pada pihak yang berwajib atau pun yang
lebih baik kita langsung mengembalikan kepada yang punya.

20