Anda di halaman 1dari 11

KOROSI OLEH MIKROBA

David Ferdy Pratama


Nim. K2511014
Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan
Pendidikan Tekik Mesin Universitas Sebelas Maret
Jl. Ahmad Yani No. 200 Surakarta, Tlp. (0271) 718419
ABSTRAK
Korosi dipengaruhi oleh mikroba merupakan suatu inisiasi atau aktifitas korosi akibat
aktifitas mikroba dan proses korosi. Korosi pertama diindentifikasi hampir 100 jenis dan
telah dideskripsikan awal tahun 1934. bagaimanapun korosi yang disebabkan aktifitas
mikroba tidak dipandang serius saat degradasi pemakaian sistem industri modern hingga
pertengahan tahun1970-an. Ketika pengaruh serangan mikroba semakin tinggi, sebagai
contoh tangki air stainless steel dinding dalam terjadi serangan korosi lubang yang
luas

pada

permukaan sehingga para industriawan menyadari serangan tersebut.

Sehingga saat itu, korosi jenis ini merupakan salah satu faktor pertimbangan pada
instalasi pembangkit industri, industri minyak dan gas, proses kimia, transportasi dan
industri kertas pulp Dari fenomena tersebut, banyak institusi mempelajari dan
memecahkan masalah ini dengan penelitian-penelitian untuk mengurangi bahaya korosi
tersebut.
A. Pendahuluan
Korosi dapat terjadi karena proses fisis, kimiawi, maupun biologis. Korosi oleh
mikrobiologi merupakan korosi yang disebabkan oleh mikroorganisme, khususnya oleh
bakteri, yang disebut juga dengan MIC (Microbiologically Influenced Corrosion). Korosi
jenis ini cukup berbahaya karena dapat terjadi pada kondisi range pH disekitar pH
netral, yaitu antara pH 4 sampai 9 dengan suhu lingkungan berkisar antara 10 C
hingga 50C. Korosi jenis ini biasanya terjadi pada tempat-tempat yang terbuat dari
logam

dengan

kondisi

konstan/stagnan. Logam-logam yang dapat terkorosi oleh

mikrobiologi antara lain baja karbon, stainless steel, dan logam paduan aluminium-tembaga.

B. Penyebab Korosi Mikrobiologi


Microbiologically influenced corrosion (MIC) adalah korosi yang diakibatkan
adanya aktifitas dan metabolisme mikrooganisme. Bakteri, jamur dan alga. Kasus korosi
jenis ini banyak terjadi pada paduan logam.
Mikroorganisme yang mempengaruhi korosi antara lain bakteri, jamur, alga dan
protozoa. Jenis-jenis mikroorganisme dengan spesies disebabkan oleh MIC termasuk
ganggang, jamur, dan bakteri. Alga dapat ditemukan di sebagian besar lingkungan air mulai
dari air tawar ke terkonsentrasi air asin. Mereka menghasilkan oksigen dengan adanya
cahaya (fotosintesis) dan mengkonsumsi oksigen dalam kegelapan. Ketersediaan
oksigen menjadi faktor utama dalam korosi logam di lingkungan air asin. Alga
berkembang di suhu 32-104 F dan tingkat pH 5,5-9,0. Jamur terdiri dari struktur
miselium, yang merupakan hasil dari sebuah sel tunggal atau spora.
Korosi ini bertanggung jawab terhadap degradasi material di lingkungan. Pengaruh
inisiasi atau laju korosi di suatu area, mikroorganisme umumnya berhubungan dengan
permukaan korosi kemudian menempel pada permukaan logam dalam bentuk lapisan tipis
atau biodeposit. Lapisan film tipis atau biofilm. Pembentukan lapisan tipis saat 2 4
jam

pencelupan

sehingga membentuk

lapisan

ini terlihat

hanya

bintik-bintik

dibandingkan menyeluruh di permukaan. Lapisan film berupa biodeposit biasanya


membentuk diameter beberapa centimeter di permukaan, namun terekspos sedikit di
permukaan sehingga dapat meyebabkan korosi lokal. Organisme di dalam lapisan
deposit mempunyai efek besar dalam kimia di lingkungan antara permukaan logam/film
atau logam/deposit tanpa melihat efek dari sifat bulk electrolyte. Mikroorganisme
dikatagorikan berdasarkan kadar oksigen yaitu :
1. Jenis anaerob, berkembang biak pada kondisi tidak adanya oksigen
2. Jenis Aerob, berkembang biak pada kondisi kaya oksigen.
3. Jenis anaerob fakultatif, berkembang biak pada dua kondisi.
4. Mikroaerofil, berkembang biak menggunakan sedikit oksigen
C. Bakteri Penyebab Korosi
Jenis-jenis bakteri yang korosif antara lain : Jenis-jenis bakteri yang korosif antara lain:
desulfovibrio desulfuricans, desulhotoculum, desulfovibrio vulgaris, D.salexigens, D.

africanus,D. giges, D. baculatus, D. sapovorans, D. baarsii, D. thermophilus, Pseudomonas,


Flavobacteriu, Alcaligenes, Sphaerotilus, Gallionella, Thiobacillus. Salah satu bakteri yang
paling sering menimbulkan korosi adalah bakteri pereduksi sulfat (SRB = Sulfate Reducing
bacteria).SRB menyebabkan korosi karena dapat mereduksi ion SO42- menjadi ion S2- yang
selanjutnya akan bereaksi denga ion Fe2+ membentuk FeS sebagai produk korosi.
Jenis-jenis bakteri yang berkembang yaitu :
1. Bakteri reduksi sulfat
Bakteri ini merupakan bakteri jenis anaerob membutuhkan lingkungan bebas oksigen atau
lingkungan reduksi, bakteri ini bersirkulasi di dalam air aerasi termasuk larutan klorin dan
oksidiser lainnya, hingga mencapai kondisi ideal untuk mendukung metabolisme. Bakteri ini
tumbuh pada oksigen rendah. Bakteri ini tumbuh pada daerahdaerah kanal, pelabuhan, daerah
air tenang tergantung pada lingkungannya. Bakteri ini mereduksi sulfat menjadi sulfit,
biasanya terlihat dari meningkatnya kadar H2S atau Besi sulfida. Tidak adanya sulfat,
beberapa turunan dapat berfungsi sebagai fermenter menggunakan campuran organik seperti
pyruvate untuk memproduksi asetat, hidrogen dan CO2, banyak bakteri jenis ini berisi enzim
hidrogenase yang mengkonsumsi hidrogen.
Bakteri memperoleh energi dari oksidasi Fe

2+

menjadi Fe

3+

yang terlihat pada

endapan. Mereka sebagian terlihat dalam pipa (khas seperti gundukan 1/2 lingkaran) di
atas lubang pada permukaan baja. Beberapa termasuk pengoksidasi besi mereka terdapat di
dalam sebagai lapisan protein yang panjang atau bentuk filamen.Bakteri pereduksi sulfat
(SRB) , merupakan salah satu mikrobia yang turut berperan dalam proses korosi adalah
bakteri pereduksi sulfat yang hidup secara anaerob.
Beberapa tipe bakteri aerob, dapat mengoksidasi sulfur menjadi asam sulfur, pada pH
dibawah 1, Desulfovibrio desulforicans adalah salah satu jenis bakteri pereduksi sulfat yang
sangat berperan dalam proses korosi. Bakteri ini termasuk gram negatif, fakultatif anaerob
yang hidupnya tidak tergantung tersedianya zat organik, tapi cukup gas CO2 yang dijadikan
sebagai sumber karbon, tetapi jika ada zat organik peran bakteri ini dalam proses korosi
meningkat. Clostridium nigrificans, bersifat gram negatif dan thermofil, juga berperan
sebagai bakteri pereduksi sulfat. Menurut Dexter bakteri pereduksi sulfat yang sangat

berperan dalam proses korosi pada besi dan baja yaitu dari genus Desulfovibrio,
Desulfotomaculum dan Desulfomonas, yang semuanya hidup secara anaerob. Peranan bakteri
pereduksi sulfat adalah sebagai aseptor yang akan menghasilkan H2S secara anaerob. Bakteri
pereduksi sulfat diduga kuat dalam proses korosi logam termasuk baja. Bakteri ini
ditemukan

hampir

pada semua tanah dan air,

terutama yang banyak

mengandung bahan organik .

Dalam

anaerob, asam sulfat (H2SO4)

suasana

akan direduksi oleh

bakteri

menghasilkan

H2S dan H2O.

gas

pereduksi

sulfat

Hidrogen sulfida yang terbentuk oleh mikrobia pada penguraian secara anaerob,
oleh mikrobia lain disintesa menjadi bagian bahan organik atau berubah menjadi
senyawa sulfida logam di alam. Baja banyak digunakan untuk membuat paku, kawat las,
ram kawat, beton bertulang, penyangga tangki - tangki, rak, pagar , pipa-pipa minyak,
tangki-tangki air, pipa-pipa gas dan tangki gas. Baja seperti halnya besi bila berada dalam
lingkungan yang korosif maka akan larut atau mengalami korosi.
2. Bakteri oksidasi sulfur-sulfida
Bakteri jenis ini merupakan bakteri aerob yang mendapatkan energi dari oksidasi sulfit
atau sulfur. Bebarapa tipe bakteri aerob dapat teroksidasi sulfur menjadi asam sulfurik dan
nilai pH menjadi 1. bakteri Thiobaccilus umumnya ditemukan di deposit mineral dan
menyebabkan drainase tambang menjadi asam.
3. Bakteri besi mangan oksida

Bakteri memperoleh energi dari oksidasi Fe

2+

atau Fe

3+

dimana deposit berhubungan

dengan bakteri korosi. Bakteri ini hampir selalu ditemukan di Tubercle (gundukan
Hemispherikal berlainan ) di atas lubang pit pada permukaan baja. Umumnya oksidaser
besi ditemukan di lingkungan dengan filamen yang panjang.

4. Jamur Penghasil Asam


Beberapa jamur menghasilkan asam organik yang dapat menyerang besi dan paduan
aluminium. Mirip dengan pembentuk lendir, mereka dapat menciptakan

lingkungan

yang cocok untuk spesies anaerob. Meluasnya korosi ini dapat diamati dalam tangki bahan
bakar dari bahan aluminium dalam pesawat yang disebabkan oleh organisme ini.

Masalah biokorosi di dalam suatu sistem lingkungan mempunyai beberapa variabelvariabel yaitu :
1. Temperatur, umumnya kenaikan suhu dapat meningkatkan laju korosi tergantung
karakteristik mikroorganisme yang mempunyai suhu optimum untuk tumbuh yang
berlainan
2. Kecepatan alir, jika kecepatan alir biofilm rendah akan mudah terganggu sedangkan
kecepatan alir tinggi menyebabkan lapisan lebih tipis dan padat
3. pH, umumnya pH bulk air dapat mempengaruhi metabolism
mikroorganisme
4. Kadar Oksigen, banyak bakteri membutuhkan O2 untuk tumbuh, namun pada
Organisme fakultatif jika O2 berkurang maka dengan cepat bakteri ini mengubah
metabolismenya menjadi bakteri anaerob
5. Kebersihan, dimaksud air yang kadar endapan padatan tinggi, padatan ini
menciptakan keadaan di permukaan untuk tumbuhnya aktifitas mikroba.
Pada korosi bakteri secara umum merupakan gabungan dan pengembangan sel
diferensial oksigen, konsentrasi klorida dibawah deposit sulfida, larutan produk korosi
dan depolarisasi katodik lapisan proteksi hidrogen.

terjadi dengan absennya biofilm. Biofilm menyediakan kondisi kondisi local lingkungan
misalnya pH yang rendah, sel diferensial oksigen untuk inisiasi atau propagasi aktifitas korosi.

2.3. Dampak Akibat Korosi Mikrobiologi


Korosi mikrobiologi berbahaya karena dapat terjadi pada rentang pH asam, basa, bahkan
netral. Korosi tersebut dapat terjadi dimana saja dengan kondisi lingkungan yang sesuai dengan
kebutuhan perkembangan mikroba penyebab korosi, termasuk pada berbagai jenis industri.
Korosi yang terjadi pada peralatan industri perlu dihindari karena dapat mempengaruhi kualitas
proses dan dapat menyebabkan kegagalan proses. Berikut adalah tempat-tempat yang biasanya
dapat terjadi korosi mikrobiologi pada beberapa jenis industri.

Pencegahan Terhadap Korosi Mikrobiologi


Cara terbaik dalam pencegahan MIC adalah mencegah pertumbuhan biofilm karena, setelah
biofilm terbentuk, akan lebih tahan terhadap biosida, dan dengan cepat dapat tumbuh jika tidak
sepenuhnya dihilangkan. Menjaga kebersihan sistem melibatkan pemantauan kualitas air, bahan
bakar, atau pelumas ada dalam sistem. Ini termasuk kandungan air dalam sistem bahan bakar dan
pelumasan.
Semua cairan harus dipantau dan untuk partikel yang mengandung solid, disaring untuk
mencegah terjadinya kontaminasi. Kontaminan meningkatkan kemungkinan terbentuknya
biofilm, karena mereka kadang-kadang dapat dapat digunakan sebagai nutrisi. Jumlah bakteri
memberikan informasi yang dapat membantu mengatur kadar biocides yang diberikan pada
sistem dengan konsentrasi yang optimal. Biocides secara luas digunakan dan efektif dalam
membunuh mikroorganisme planktonik. Biaya biosida cukup mahal selain itu biocides juga
cukup beracun. Penggunaan biocide yang efektif dapat mengurangi biaya serta meminimalkan
efek yang merusak pada lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Utomo, Budi. 2009. JenisKorosidanPenanggulangannya. KAPAL. Vol 6. No.2 Juni

2.
3.

2009.
RozenfeldI.L., 1981. Corrosion Inhibitor,McGraw-HillInc.
Permadi, Aditya, dkk. 2009. KorosiAkibatMikrobadanPenanggulangannya.Sumber:

4.

www.slideshare.com
Anggraini. 2012. Kimia Korosi. (Online) (kimia-korosiku.blogspot.com, diakses 22

5.

Desember 2013)
Microbiologically Influenced Corrosion Testing , Jeffrey R. Kearns,Dkk, American
Society For Testing And Materials, 1994.

Anda mungkin juga menyukai