Anda di halaman 1dari 23

PRESENTASI KASUS UJIAN BEDAH PLASTIK

SEORANG WANITA 50 TAHUN DENGAN COMBUSTIO AIR


RADIATOR 9 %

Oleh:
Agung Ismanuworo
G99122010

Pembimbing:
dr. Amru Sungkar, SpB, SpBP

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/ RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2014

BAB I
STATUS PASIEN

A. ANAMNESIS
I. Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis kelamin
Agama
Pekerjaan
Alamat
Tanggal Masuk
Tanggal Periksa
Status Pembayaran
Nomor rekam medis

: Ny. N
: 50 Tahun
: wanita
: Islam
: ibu rumah tangga
: Baturetno Wonogiri
: 21 Desember 2014
: 21 Desember 2011
: BPJS
: 001283363

II. Keluhan Utama


Kulit melepuh dan nyeri setelah tersiram air radiator
III. Riwayat Penyakit Sekarang
Kira-kira 2 jam sebelum masuk rumah sakit, pasien tersiram air radiator
mobil ketika mengalami kecelakaan di jalan raya. Pasien tertabrak dari arah
depan kap mobil sehingga tangki radiator mobil menyiram tubuh pasien.
Pasien jatuh terduduk, paha dan tungkai bawah pasien terguyur air panas
radiator hingga melepuh. Pasien segera di bawa ke puskesmas terdekat untuk
dilakukan pertolongan pertama. Disana pasien mendapat obat minum dan
salep topikal. Karena keterbatasan sarana pasien dirujuk ke RSDM.
IV. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat alergi obat
Riwayat hipertensi
Riwayat Diabetes Mellitus
Riwayat penyakit jantung
Riwayat trauma sebelumnya

: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal

V. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat alergi obat
Riwayat hipertensi
Riwayat Diabetes Mellitus
Riwayat penyakit jantung

: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
1

B. PEMERIKSAAN FISIK
I.
Primary Survey
a. Airway
: bebas
b. Breathing
: spontan, thoracoabdominal, pernafasan 20 x/menit
c. Circulation : tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 90 x/menit
d. Disability
:GCS E4V5M6, reflek cahaya (+/+), pupil isokor
e. Exposure
II.

(3mm/3mm)
: suhu 37,0 C

Secondary Survey
a. Kepala
b. Mata

: bentuk mesocephal.
: konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil
isokor (3mm/3mm), reflek cahaya (-/-), hematom

periorbita (-/-), diplopia (-/-).


c. Telinga: sekret (-/-), darah (-/-), nyeri tekan mastoid (-/-), nyeri tragus
d. Hidung

(-/-).
: bentuk simetris, napas cuping hidung (-), secret (-),

e. Mulut

keluar darah (-).


: gusi berdarah (-), lidah kotor (-), jejas (-),

f. Leher

maloklusi (-).
: pembesaran tiroid (-), pembesaran limfonodi (-),

g. Thorak
h. Jantung

nyeri tekan (-), JVP tidak meningkat.


: bentuk normochest, ketertinggalan gerak (-).

Inspeksi

: ictus cordis tidak tampak.

Palpasi

: ictus cordis kuat angkat.

Perkusi

: batas jantung kesan tidak melebar.

Auskultasi

: bunyi jantung I-II intenstas normal, regular, bising


(-).

i. Pulmo
Inspeksi

: pengembangan dada kanan sama dengan kiri.

Palpasi

: fremitus raba sama dengan kiri, nyeri tekan (-/-).

Perkusi

: sonor/sonor.

Auskultasi

: suara dasar vesikuler (+/+) normal, suara tambahan


(-/-).

j. Abdomen
Inspeksi

: distended (-)

Palpasi

: supel, nyeri tekan (-), defense muscular (-)

Perkusi

: timpani

Auskultasi

: bising usus (+) normal

k. Genitourinaria

: BAK normal, BAK darah (-), BAK nanah (-),

l. Muskuloskletal

nyeri BAK (-).


: nyeri (+) pada ekstremitas bawah sebelah kanan,
lemah (+) pada ekstremitas bawah sebelah kanan
ROM terbatas pada ekstremitas bawah sebelah
kanan.

m. Ekstremitas
Akral dingin
-

Oedema
-

Sianosis

CRT < 2

III. Status Lokalis


a. Ekstremitas inferior dekstra
Inspeksi
: terbalut perban dari regio femur sampai dengan regio
Palpasi

cruris, ROM terbatas


: nyeri tekan (+/+), krepitasi (-/-), NVD (-)

C. DIAGNOSIS
Combustio air radiator 9 %
D. DIAGNOSIS BANDING
Combustio kimia
Combustio elektrik
Eritema nodusum
E. PLANNING

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pasang infus 24 tpm


Injeksi ceftadizime 1gr/12 jam
Injeksi metronidazole 1gr/8 jam
Cek darah rutin.
Konsul jantung
Cito debridement

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi dan Fisiologi Kulit
Fungsi kulit secara umum antara lain yaitu, membungkus tubuh,
melindungi tubuh terhadap kuman, thermoregulator, absorpsi, pembentukan
pigmen, keratinisasi, membuat vitamin D, mendeteksi stimuli (rangsangan)
Kulit juga berfungsi sebagai alat eksresi karena adanya kelenjar keringat
(kelenjar sudorifera) yang terletak di lapisan dermis.
Kulit manusia terdiri dari epidermis dan dermis. Epidermis mempunyai
tebal antara 0,05 0,5 mm, tersusun atas lapisan tanduk (lapisan korneum)
dan lapisan Malpighi. Lapisan korneum merupakan lapisan kulit mati yang
dapat mengelupas dan digantikan oleh sel-sel baru. Lapisan Malpighi terdiri
atas lapisan spinosum dan lapisan germinativum. Lapisan spinosum berfungsi
menahan gesekan dari luar. Lapisan germinativum mengandung sel-sel yang
aktif membelah diri, menggantikan lapisan sel-sel yang terdapat pada lapisan
korneum. Lapisan Malpighi mengandung pigmen melanin yang member
warna pada kulit. Fungsi lapisan epidermis adalah proteksi mekanis, proteksi
biologis, sintesis mediator inflamasi, anti oksidan, melanin, dsb.
Lpisan dermis adalah lapisan di bawah epidermis yang jauh lebih tebal.
Lapisan ini mengandung pembuluh darah, akar rambut, ujung saraf, kelenjar
keringat, dan kelenjar minyak. Kelenjar keringat menghasilkan keringat.
Banyaknya keringat yang dikeluarkan dapat mencapai dua liter perhari,
tergantung pada kebutuhan tubuh dan pengaturan suhu.
Lapisan dermis disusun oleh bahan fibrous (kolagen, elastin, dan
retikulin) dan bahan sel

fibroblas, makrofag, sel-mast, leukosit. Fungsi

lapisan dermis adalah penopang struktur di bawahnya dan nutrisi. Dibawah


dermis terdapat lapisan subkutis atau jaringan lemak yang berfungsi sebagai
bantalan, cadangan makanan, mengatur suhu tubuh, dan menjaga kontur.
Vaskularisasi di kulit diatur oleh dua pleksus, yaitu pleksus superficial dan
pleksus profunda. Pleksus yang berada di demis mengadakan anastomose di
papil dermis, pleksus yang di subkutis dan pars papilare juga mengadakan
anastomosis dengan saluran getah bening.
B. Definisi Luka Bakar

Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi
seperti api, air panas, listrik, bahan kimia, radiasi, juga oleh sebab kontak
dengan suhu rendah (frost bite).
Luka bakar adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh yang
disebabkan oleh trauma benda tajam ataau tumpul, perubahan suhu, zat kimia,
ledakan, sengatan listrik atau gigitan hewan.
Luka bakar adalah kerusakan secara langsung maupun yang tidak langsung
pada jaringan kulit yang tidak menutup kemungkinan sampai ke organ dalam,
yang di sebabkan kontak langsung denagn sumber panas yaitu api, air/ uap
panas, bahan kimia, radiasi, arus listrik, dan suhu sangat dingin.
C. Etiologi Luka Bakar
Penyebab utama antara lain karena jilatan api (flash), kobaran api (flame),
air panas (scald), suhu sangat rendah (frost bite), arus listrik (electrical
current), bahan kimia, laser, radiasi, ,tersambar petir, dan ledakan.
Pertama adalah suhu, suhu itu sendiri bisa dari suhu yang suhu yang yang
terlalu dingin atau juga disebut frost bite atau panas (misal dari api, uap panas
maupun air panas). Penyebab luka bakar akibat suhu yang terlalu dingin
sering dijumpai pada orang yang bekerja dengan es beku. Pada suhu panas,
uapnya juga sangat berbahaya jika terhirup, karena dapat menimbulkan udem
(pembengkakan) saluran nafas sehingga dapat mengakibatkan obstruksi
(sumbatan) saluran nafas. Penyebab yang kedua adalah sengatan listrik, jika
arus sengatan listrik sangatlah besar (220-1000 volt) bisa mempengaruhi kerja
jantung sehingga bisa mengakibatkan henti jantung. Jika hal ini terjadi, maka
penanganannya tidak hanya pada luka bakarnya saja tetapi juga perlu
dilakukan tindakan segera untuk menyelamatkan jantung, Kemudian, kimia
yang berasal dari asam atau pun basa yang sangat kuat. Contohnya adalah
orang yang tersiram air aki dan pada orang yang bekerja di laboratorium atau
industri yang menggunakan bahan kimia asam atau basa kuat (pabrik kapur).
Keempat adalah oleh laser, laser CO2 dengan panjang gelombang 10.000 nm
bisa mengakibatkan luka bakar. Cara kerja laser CO2 adalah diabsorbsi oleh
air sehingga benda apapun yang mengandung air bisa terbakar. Yang terakhir
adalah radiasi. Radiasi ini bisa berupa sinar gamma, sinar X atau neutron.
Gejala yang tampak pada kulit, awalnya akan timbul eritem (kemerahan)
6

terrasa perih seperti terbakar tanpa ada riwayat tebakar, tersiram air panas
atau riwayat gigitan serangga. Kemudian gejala tadi menghilang dan
kemudian muncul lagi setelah 2 minggu berbentuk bula (melepuh) kemudian
kulit menjadi nekrosis (kulit mati dan menghitam) hingga menjadi ulkus.
Gejala lain adalah mual muntah (dosis 1-2 Gy), diare, demam, kerontokkan
rambut hingga kesadaran menurun. Pada orang yang terkena radiasi > 10 Gy
hanya akan bertahan hidup selama 2 minggu (setelah pemaparan).
D. Patofisiologi Luka Bakar
a. Fase luka bakar
1) Fase Awal/ Akut/ shock
a) Cedera Inhalasi
Mekanisme trauma dibagi tiga, yaitu inhalasi Carbon Monoksida (CO).
CO merupakan gas yang dapat merusak oksigenasi jaringan , dalam darah
berikatan dengan Hb dan memisahkan Hb dengan O2 sehingga akan menghalangi
penggunaan oksigen. Yang kedua adalah trauma panas langsung mengenai saluran
nafas. Sering mengenai saluran nafas bagian atas jarang mengenai bagian bawah
karena sebelum mencapai trachea secara reflek terjadi penutupan plica dan
penghentian spasme laryng. Edema mukosa akan timbul pada saluran nafas bagian
atas yang menyebabkan obstruksi lumen, 8 jam pasca cedera. Komplikasi trauma
ini merupakan penyebab kematian terbanyak. Dan yang terakhir adalah efek
samping sisa pembakaran, gas karosen dan aldehid akan mengiritasi mukosa
membran karena merupkan toksik yang iritan.
b) Cedera Termis
Menimbulkan gangguan sirkulasi keseimbangan cairan & elektrolit, sehingga
berakibat terjadi perubahan permeabilitas kapiler dan menyebabkan odema
selanjutnya terjadi syok hipovolemi. Kejadian ini akan menimbulkan
Paru
Perubahan inflamatorik mukosa bagian nafas bawah, akan menimbulkan
gangguan difusi oksigen Acquired Respiratory Distress Syndrome (ARDS), ini
akan timbul hari ke-4,5 pasca cedera termis
Hepar
SGOT, SGPT meningkat
Ginjal
ARF (Acute Renal Failure)
Lambung
Stres Ulcer
Usus
Illeus menyebabkan translokasi bakteri kemudian terjadi sepsis yang
menyebabkan
perforasi akhirnya terjadilah peritonitis
7

2) Fase Sub-Akut
Terjadi setelah shock teratasi, luka terbuka disini
akan menimbulkan :
Proses Inflamasi disertai eksudasi dan kebocoran protein
Terjadi reaksi inflamasi local yang kemudian berkembang menjadi
reaksi sistemik dengan dilepasnya zat-zat yang berhubungan dengan proses
imunologik, yaitu kompleks lipoprotein (lipid protein compex, burn toxin)
yang menginduksi respon inflamasi sistemik (SIRS).
Infeksi yang menimbulkan sepsis
Proses penguapan cairan tubuh disertai panas (evaporate heat loss) yang
menyebabkan gangguan proses metabolisme
3) Fase Lanjut
Terjadi setelah penutupan luka sampai terjadi maturasi. Masalah yang timbul
adalah jaringan parut (hipertrofik), kontraktur dan deformitas akibat kerapuhan
jaringan atau organ struktural (Viklund, 2009).
b. Pembagian zona kerusakan jaringan

1) Zona koagulasi
Zona yang langsung mengalami kerusakan (koagulasi
protein) akibat pengaruh
panas.
2) Zona statis
Berada di luar zona koagulasi, terjadi kerusakan endotel
pembuluh darah disertai
kerusakan trombosit dan leukosit, sehingga
terjadi gangguan perfusi (no flow
phenomenon), diikuti perubahan
permeabilitas kapiler dan respon inflamasi local.
Berlangsung 12-24
jam pasca cedera, kemungkinan berakhir dengan nekrosis jaringan.
3) Zona hiperemi
Reaksi berupa vasodilatasi tanpa banyak melibatkan reaksi
seluler. Zona
ini dapat sembuh spontan, berbah menjadi zona
statis bahkan zona koagulasi (Anto, 2007)
8

E. Penilaian Luka Bakar


1. Luka Bakar Derajat I (Superficial Skin Burn)

a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Ciri-cirinya antara lain;


Hanya reaksi inflamasi, kerusakan mengenai epidermis (superficial)
Kulit kering, merah (erithema)
Nyeri, karena ujung saraf sensorik teriritasi
Nyeri hilang dalam 48-72 jam.
Sembuh spontan 5 10 hari
Kulit intake
Tidak dijumpai bula

2. Luka Bakar Derajat II (partial skin burn)

Ciri-cirinya adalah;
a) Kerusakan epidermis dan sebagian dermis (inflamasi dan eksudasi)
b) Bula (+) , bila bula pecah terlihat luka basah kemerahan
c) Nyeri (+) , Pin prick test (+)
d) Sembuh dalam 2-3 minggu, tidak perlu flapping
e) Dasar luka merah atau pucat, terletak lebih tinggi diatas kulit normal
Dibedakan menjadi dua, yaitu :
Derajat II Dangkal (superficial)
o Kerusakan superfisial dari dermis
o Folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebacea masih
utuh
o Penyembuhan dalam 10-14 hari dengan tanpa parut atau
parut minimal.

10

o
o
o
o
o

Derajat II Dalam (Deep)


Kerusakan seluruh bagian dermis
Masih basah tapi tampak pucat,
Nyeri kurang dibandingkan derajat II superfisial.
Folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebacea masih utuh
Penyembuhan lebih lama, tergantung biji epitel yang tersisa, dapat
sembuh dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan disertai
jaringan parut.

11

3. Luka Bakar Derajat III (Full thickness skin burn)

12

Ciri-cirinya yaitu;
a) Kerusakan seluruh tebal dermis, bisa sampai subcutis, tidak ada epitel kulit
yang sehat.
b) Folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebacea rusak.
c) Koagulasi protein pada epidermis dan dermis disebut eskar sehingga
tampak epitel terkelupas dan, daerah putih. Eskar jika melingkar di dada
dapat menghalangi gerakan ekspansi rongga toraks

13

Bula (-), bila bula pecah lukanya kering warna abu-abu, letaknya lebih
rendah dibanding kulit sekitar
e) Nyeri (-), karena ujung saraf sensorik rusak, Pin prick test(-)
f) Tidak ada perfusi darah
g) Penyembuhan sulit karena tidak ada proses epitelisasi spontan dari dasar
luka perlu cangkok kulit (STSG) (Viklund, 2009)
d)

F. Penghitungan Luas Luka Bakar (TBSA-total body surface area)


Daerah yang hanya mengalami eritema (kemerahan) tanpa adanya
gelembung cairan (blister) tidak termasuk dalam penghitungan.
Dewasa menggunakan Hukum 9 (Rule Of Nines)
- Permukaan kepala
: 9%
- Permukaan pinggang
: 9%
- Permukaan setiap lengan : 9 %
- Permukaan paha
: 9%
- Permukaan dada
: 9%
- Permukaan betis
: 9%
- Permukaan perut
: 9%
- Perineum & genital
: 9%
- Permukaan punggung
: 9%
- Telapak tangan
: 1%
Anak menggunakan tabel Lund & Browder
Area

Usia (Tahun)
0-1

1-4

5-9

10-15

Kepala

19

17

13

10

Leher

Dada

13

13

13

13

Punggung

13

13

13

13

Pantat

Genetalia

Lengan
atas

Lengan
bawah

Tangan

14

Paha

Tungkai

Kaki

(EMS Professions Temple College, 2008)

15

G. Kategori Penderita dan Indikasi Rawat Inap


Kategori Penderita Luka Bakar :
1. Luka Bakar Berat / kritis
Derajat II III > 20% (usia < 10 thn atau > 50 thn)
Derajat II III > 25 % selain kelompok usia di atas
Mengenai muka, telinga, tangan, kaki, perineum
Cedera inhalasi
Luka bakar listrik
Disertai cedera lain (missal fraktur iga, dll).
2. Luka Bakar Sedang
Luas 15 25% dengan derajat III < 10% pada dewasa
Luas 10 20% (usia < 10 tahun atau > 50 tahun dengan derajat III < 10 %
Derajat III < 10% tidak mengenai muka, tangan, kaki dan perineum pada
anak dan dewasa
3. Luka Bakar Ringan
Luas < 15% pada dewasa
Luas < 10% pada anak dan usia lanjut
Derajat III < 2% pada segala usia, tidak mengenai muka, tangan, kaki dan
perineum
Kategori ini untuk kepentingan prognosis berhubungan dengan angka
morbiditas dan mortalitas.
Indikasi Rawat Inap :
1. Dewasa : Derajat II dengan luas 15 %, anak atau orang tua derajat II
luas 10 %
2. Derajat III 10 %
3. Penyebabnya kimia dan listrik
4. Menderita gangguan atau penyakit lain
(Anto, 2007)

H. Permasalahan Dalam Kasus Luka Bakar


1. Gangguan Pernapasan
Jika terjadi cedera inhalasi bisa mengakibatkan edema mukosa dan inflamasi
yang menyebabkan terjadinya disrupsi, nekrosis silia
, sloughing mucosa
cast dan obstruksi sehingga dapat berakhir menjadi ARDS.
2. Gangguan Sirkulasi
o Peningkatan permeabilitas kapiler
o Perpindahan cairan dari intra vaskular ke interstisiel
o Gangguan perfusi (syok seluler) menjadi hipoksemia
3. Gangguan Gastrointestinal
Terjadi hipoperfusi splangnikus :
o Gangguan mekanisme digesti
o Perdarahan saluran cerna
o Translokasi bakteri
o Paralisis otot polos
16

o Perubahan suasana dalam lumen


o Kerusakan hepatosit
4. Gangguan sel sel otak (edema serebri) dan gangguan autoregulasi
5. Gangguan ginjal
6. Gangguan sel sel otot
7. Gangguan jantung dan hematologi
8. Gangguan elektrolit
9. Kontraktur dan parut hipertrofik
(EMS Professions Temple College, 2008)
I. Penanganan Luka Bakar
Secara sistematik dapat dilakukan 6c : clothing, cooling, cleaning,
chemoprophylaxis, covering and comforting (contoh pengurang nyeri). Untuk
pertolongan pertama dapat dilakukan langkah clothing dan cooling, baru
selanjutnya dilakukan pada fasilitas kesehatan
Clothing : singkirkan semua pakaian yang panas atau terbakar. Bahan
pakaian yang menempel dan tak dapat dilepaskan maka dibiarkan untuk
sampai pada fase cleaning.
Cooling : - Dinginkan daerah yang terkena luka bakar dengan
menggunakan air mengalir selama 20 menit, hindari hipotermia
(penurunan suhu di bawah normal, terutama pada anak dan orang tua).
Cara ini efektif samapai dengan 3 jam setelah kejadian luka bakar Kompres dengan air dingin (air sering diganti agar efektif tetap
memberikan rasa dingin) sebagai analgesia (penghilang rasa nyeri) untuk
luka yang terlokalisasi - Jangan pergunakan es karena es menyebabkan
pembuluh darah mengkerut (vasokonstriksi) sehingga justru akan
memperberat derajat luka dan risiko hipotermia - Untuk luka bakar karena
zat kimia dan luka bakar di daerah mata, siram dengan air mengalir yang
banyak selama 15 menit atau lebih. Bila penyebab luka bakar berupa
bubuk, maka singkirkan terlebih dahulu dari kulit baru disiram air yang
mengalir.
Cleaning : pembersihan dilakukan dengan zat anastesi untuk mengurangi
rasa sakit. Dengan membuang jaringan yang sudah mati, proses
penyembuhan akan lebih cepat dan risiko infeksi berkurang.
Chemoprophylaxis : pemberian anti tetanus, dapat diberikan pada luka
yang lebih dalam dari superficial partial- thickness (dapat dilihat pada
tabel 4 jadwal pemberian antitetanus). Pemberian krim silver sulvadiazin
untuk penanganan infeksi, dapat diberikan kecuali pada luka bakar
superfisial. Tidak boleh diberikan pada wajah, riwayat alergi sulfa,
perempuan hamil, bayi baru lahir, ibu menyususi dengan bayi kurang dari
2 bulan
Covering : penutupan luka bakar dengan kassa. Dilakukan sesuai dengan
derajat luka bakar. Luka bakar superfisial tidak perlu ditutup dengan kasa
17

atau bahan lainnya. Pembalutan luka bakar (yang dilakukan setelah


pendinginan) bertujuan untuk mengurangi pengeluaran panas yang terjadi
akibat hilangnya lapisan kulit akibat luka bakar. Jangan berikan mentega,
minyak, oli atau larutan lainnya, menghambat penyembuhan dan
meningkatkan risiko infeksi.
Comforting : dapat dilakukan pemberian pengurang rasa nyeri.
Dapat diberikan penghilang nyeri berupa :
Paracetamol dan codein (PO-per oral)- 20-30mg/kg
Morphine (IV-intra vena) 0,1mg/kg diberikan dengan dosis titrasi bolus
Morphine (I.M-intramuskular) 0,2mg/kg
(EMS Professions Temple College, 2008)
1. Primary Survey
A (airway)
: jalan napas.
Penilaian adanya trauma inhalasi (awasi 24 jam)
Mempertahankan patensi jalan nafas (intubasi dgn ET atau tracheostomi sedini
mungkin)
B (breathing)
: kemampuan bernapas.
Menilai kemungkinan keracunan CO
Melakukan eskarotomi bila terdapat eskar melingkar di dinding dada.
Memberikan oksigen dan ventilasi
C (circulation)
: status volume pembuluh darah.
Akses vena yang adekuat
Monitoring tanda-tanda vital
Monitor produksi urin tiap jam
Dewasa : 30-50 mL/jam
Anak
: 1.0 ml/kg/jam
D (disability)
: status neurologis pasien.
E (Exposure)
: pengawasan suhu tubuh pasien (Viklund, 2009)
2. Perawatan Luka
Derajat I :
- Cuci NaCl 500 cc
- Zalf Bioplasenton untuk mencegah kuman masuk/infeksi
Derajat II :
- Cuci lar savlon 5 cc dalam NaCl 500 cc
- Sufratul
- Tutup verband steril tebal , ganti tiap minggu
Derajat III :
- Cuci lar savlon 5 cc dalam NaCl 500 cc tiap hari
- Debridemen tiap hari
- Escharektomi
- Dermazin/Burnazin (sulfadiazin) tiap hari

18

Hari ke-7 dimandikan air biasa, setelah mandi daerah luka didesinfektan
sol savlon 1 : 30
Luka dibuka 3 4 hari jika tidak ada infeksi / jaringan nekrose
Posisi Penderita :
o Ekstremitas sendi yang luka posisi fleksi / ekstensi maksimal
o Leher & muka defleksi, semi fowler (bantal di punggung)
o Eskarektomi dilakukan bila luka melingkar atau berpotensi
penekanan
Skin Graft dilakukan bila :
Luka grade II dalam 3 minggu tak sembuh
Luka grade III setelah eksisi
Terdapat granulasi luas ( diameter > 3 cm)
Medikasi :
Antibiotika ( bila < 6 jam) diberikan Sefalosporin generasi III
Analgetika
Antasid (H2 blocker ) , untuk mencegah stress ulcer
ATS / Toxoid
Nutrisi dan Roborantia
TKTP diberikan oral secepat mungkin
Kebutuhan kalori menurut Formula Curreri :
Dewasa = 25 cal/KgBB + 40 cal% LB
Anak
= 60 cal/KgBB + 35 cal% LB
Roboransia vit C (setelah 2 minggu), vit b, vit A 10.000 U
Pemeriksaan Laboratorium :
Hb, Ht, albumin pada hari I, II, III
Elektrolit setiap hari pada minggu I
RFT & LFT pada hari ke II dan setiap minggu
Kultur kuman hari I, II, III
Lain-lain
Bila terjadi Ileus, stop makan/minum, pasang NGT
LB > 40%, pasang CVP selama 4 hari, bila sampai 1 minggu ganti kateter
Oliguri , berikan cairan cukup (CVP normal) dilakukan tes terapi manitol
Dewasa = 10 cc/10-20 menit diulang tiap 6 jam
Anak = 0,2 mg/KgBB / 14-20 menit

3. Terapi Cairan dan Elektrolit


Diberikan pd luka bakar derajat II/III>25 % dan pasien tdk dpt minum.
a. Kebutuhan cairan menurut Evans
Hari I

BB x % luka bakar x 1 cc (elektrolit/NaCl)

BB x % luka bakar x 1 cc (koloid)

2000 cc Glukosa 10 %
Hari II

BB x % luka bakar x cc (elektrolit/NaCl)

19

BB x % luka bakar x cc (koloid)


2000 cc Glukosa 10 %
Monitor urine : - 1 cc/jam
b. Kebutuhan cairan menurut Baxter
4 cc/24jam x BB x %LB
Cara pemberian :
Untuk anak-anak :

< 1 tahun
1 3 tahun
3 5 tahun
Kebutuhan total =

- 8 jam pertama 50% (sejak kejadian Luka bakar)


- 16 jam kedua 50%
2 cc x BB x % LB = a cc

: BB x 100 cc
: BB x 75 cc
: BB x 50 cc = b cc
a x b , memakai lar RL : Dextran = 17:3

20

DAFTAR PUSTAKA
1. Hettiaratchy, S., Dziewulski, P. ABC of burns Pathophysiology and types
of burns. British Medical Journal, 2004; volume; 328, pp. 1427-9
2. Benson, A., Dickson, W., Boyce, D. ABC of wound healing burns. British
Medical Journal, 2006; volume; 332, pp. 649-652
3. Church et al. Burn Wound Infection. American Society for Microbiology,
2006; volume; 19, nomor; 2, pp. 404-426
4. Dai et al. 2010. Topical Antimicrobials for Burn Wound Infections. Recent
Pat Antiinfect Drug Discov.volume; 5, nomor; 2, pp. 124151
5. Hettiaratchy, S., Papini, R., ABC of Burns: Initial management of a major
burn : IIassessment and resuscitation. British Medical Journal, 2004;
volume; 329, pp. 101-3
6. Papini, Remo. ABC of Burns: Management of burn injuries of various
depths. British Medical Journal, 2004; volume: 329, pp. 158-160
7. Devgan, L., Bhat, S., Aylward, A., and Spence, R. Modalities for the
Assessment of Burn Wound Depth. Journal of Burns and Wounds, 2006;
volume; 5, pp. 7 - 15
8. Ullrich, P., Askay, S., and Patterson, D. Pain, Depression, and Physical
Functioning Following Burn Injury. Rehabil Psychol, 2009; volume; 54
nomor; 2, pp. 2116
9. Namdar, T., Stollwerck, P., Stang, F., Siemers, F., Mailander, P, Lange, T.
Transdermal fluid loss in severely burned patients. German Medical
Science, 2010; volume; 8, pp. 1-5
10. Jeschke et al. Burn size determines the inflammatory and hypermetabolic
response. Critical Care, 2007; volume; 11, nomor; 4, pp. 1-11
11. Dries, David. Management of burn injuries recent developments in
resuscitation, infection control and outcomes research. Scandinavian
Journal of Trauma, Resuscitation and Emergency Medicine, 2009;
volume; 17, nomor; 4, pp. 1-13
12. Hettiaratchy, S., Papini, R. ABC of Burns: Initial management of a major
burn : I - overview. British Medical Journal, 2004; volume; 328, pp. 15557
13. Spanholtz, T., Theodorou, P., Amini, P., Spilker, G. Severe Burn Injuries,
Acute and Long-Term Treatment. Deutsches Arzteblatt International,
2009; volume; 106, nomor; 38, pp. 607-13
21

14. Hudspith, J., Rayatt, S. ABC of Burns: First aid and treatment of minor
burns. British Medical Journal, 2004; volume; 328, pp. 1487-9
15. Sharar et al. Applications of virtual reality for pain management in burninjured patients. Expert Rev Neurother. 2008; volume; 8, nomor;11, pp.
16671674
16. Branski et al. Emerging Infections in Burns. Surgical Infection, 2009;
volume; 10, nomor; 5, pp. 389-99
17. Williams et al. The leading causes of death after burn injury in a single
pediatric burn center. Critical care, 2009; volume; 13, nomor; 6, pp. 1-7
18. Agarwal, P., Prajapati, B., and Sharma, D. Evaluation of skin graft take
following post-burn raw area in normovolaemic anaemia. Indian J Plast
Surg, 2009; volume; 42, nomor; 2, pp.195198
19. Goel, A., and Shrivastava, P. Post-burn scars and scar contractures. Indian
J Plast Surg, 2010; volume; 43 pp.(Suppl): S63S71
20. Haberal, M., A. Abali, E., and Karakayali H. Fluid management in major
burn injuries. Indian J Plast Surg, 2010; volume; 43, pp.(Suppl): S29-S36.
21. Schwacha et al. Impact of Thermal Injury on Wound Infiltration and the
Dermal Inflammatory Response. J Surg Res, 2010; volume; 158, nomor; 1,
pp. 1-15.

22