Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Pemanfaatan sekam padi sampai saat ini masih terbatas untuk keperluan
konvensional. Dibeberapa daerah, biasanya sekam hanya ditumpuk, lalu dibakar dekat
penggilingan padi dan abunya dapat digunakan sebagai bahan abu gosok untuk
membersihkan alat-alat rumah tangga. Pada tempat pembuatan batu bata dan genteng, sekam
biasanya digunakan sebagai bahan bakar. Padahal, sekam dapat juga digunakan untuk
keperluan lain, misalnya sebagai sumber karbon, bahan pupuk, bahan pulp, media penyaring,
media penyerap dan media tanaman hidroponik (Simanjuntak, dkk., 1993).
Berbagai penelitian (Enymia dkk., 1998; Kalapathy dkk., 2000; Nuryono dkk., 2004)
melaporkan bahwa abu sekam secara umum mengandung silika yang cukup tinggi berkisar
antara 87-97 %. Oleh karena itu, abu sekam padi dapat dimanfaatkan sebagai sumber silika
pada pembuatan bahan berbasis silika. Silika gel yang beredar dipasaran pada umumnya
dibuat dengan menggunakan pasir (Scott, 1993) dan bahan kimia murni (Buckley dan
Greenbalt, 1994) sebagai sumber silikia dengan harga yang cukup tinggi. Oleh sebab itu,
sekam padi yang mengandung silika relatif tinggi merupakan alternatif lain untuk membuat
silika gel dari bahan yang murah, mudah didapat dan kelimpahannya tinggi.
Salah satu bahan berbasis silika yang dapat dibuat adalah silika gel. Silika gel telah
banyak digunakan sebagai adsorben pada proses adsorpsi. Hal ini disebabkan oleh adanya
gugus aktif silanol (Si-OH) dan siloksan (Si-OSi). Namun bahan ini belum efektif untuk
mengadsorpsi ion logam. Oleh karena itu, perlu adanya modifikasi permukaan silika gel.
Modifikasi dapat dilakukan secara fisik (impregnasi) dan kimia. Modifikasi secara kimia itu
sendiri terbagi atas dua metode, yakni: imobilisasi reagen silan dan imobilisasi melalui reaksi
homogen (proses sol-gel).
Pada makalah ini akan dilakukan perbandingan sintesis dan karakterisasi silika gel
dari abu sekam padi yang diimobilisasi dengan 3-(trimetoksisilil)-1-propantioldan dengan
menggunakan proses Sol-Gel yang telah terimobilisasi Dithizon dengan 3-kloropropiltrimetoksisilan. Dari kedua perbandingan tersebut maka akan didapatkan berbagai perbedaan
dari kedua proses.
I.2 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini adalah mengetahui perbedaan dari proses sintesis dan
karakterisasi silika gel dari abu sekam padi dengan proses yang berbedagel.
I.3 Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan pemahaman dan penambahan
wawasan terhadap pembaca tentang proses sistesis silika gel. Selain itu, pembaca juga dapat
membandingkan dari kedua proses yang telah dilakukan sehingga dapat mengetahui
keunggulan dan kekurangan dari masing-masing proses.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Sekam Padi
Sekam padi merupakan lapisan keras yang meliputi kariopsis, terdiri dari belahan
lemma dan palea yang saling bertautan, umumnya ditemukan di areal penggilingan padi. Dari
proses penggilingan padi, biasanya diperoleh sekam 20 30%, dedak 8 12 %, dan beras
giling 50 63,5% dari bobot awal gabah. Sekam padi sering diartikan sebagai bahan buangan
atau limbah penggilingan padi, keberadaannya cendrung meningkat yang mengalami proses
penghancuran secara alami dan lambat, sehingga dapat mengganggu lingkungan juga
kesehatan manusia. Sekam memiliki kerapatan jenis bulk density 125 kg/m3, dengan nilai
kalori 1 kg sekam padi sebesar 3300 k.kalori dan ditinjau dari komposisi kimiawi, sekam
mengandung karbon (zat arang) 1,33%, hydrogen 1,54%, oksigen 33,645, dan Silika (SiO2)
16,98%, artinya sekam dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kimia dan sebagai
sumber energi panas untuk keperluan manusia. Kadar selulosa sekam yang cukup tinggi
dapat memberikan pembakaran yang merata dan stabil, untuk memudahkan diversifikasi
dalam penggunaannya.

Gambar 1. Sekam Padi


II.3 Silika Gel
Silika gel adalah substansi-substansi yang digunakan untuk menyerap kelembaban
dan cairan partikel dari ruang yang berudara/bersuhu. Silika gel juga membantu menahan
kerusakan pada barang-barang yang mau disimpan.
Silika gel lebih sering digunakan dibandingkan activated carbon untuk beberapa
senyawaan, seperti :
1. Senyawaan polar, akan lebih mudah didesorpsi dari silica gel dibandingkan charcoal.
2. Senyawaan amina, senyawaan nitro dan beberapa senyawaan anorganik (contoh ;
Acid mist) tidak dapat dikumpulkan pada charcoal.

Gambar 2. Silika Gel


Salah satu kelemahan utama silica gel adalah higroskopis (mudah menyerap air).
Silica gel mempunyai afinitas yang tinggi terhadap air. Jika pengambilan sampel dilakukan
pada atmosfer yang lembab, maka uap air akan diadsorpsi pada silica gel, sehingga
mengurangi kapasitas adsorpsinya.Bahkan apabila kelembapan sangat tinggi, dank arena air
memiliki polaritas yang tinggi dapat menggantikan senyawaan yang kurang polar yang telah
teradsorpsi pada silica gel, sehingga hasil pengukuran menjadi berbeda.
Silika gel adalah suatu zat pengering yang mengikat air secara reversible, berguna
untuk mengeringkan udara agar didapat kelembapan udara yang cukuprendah. Penyerapan air
oleh silica gel cukup kuat meskipun telah banyak menyerap air,keadaan fisiknya masih tetap
dalam keadaan kering. Silica geljuga mempunyai satu kelebihan lain, yaitu sebagai zat inert
(sukar bereaksi) sehingga tidak merusak tempat sekitarnya.
II.3 Proses Sol-Gel
Proses sol-gel merupakan proses yang banyak digunakan untuk membuat keramik dan
material gelas. Pada umumnya, proses sol-gel, melibatkan transisi sistem dari sebuah liquid
sol menjadi solid gel. Melalui proses sol-gel, maka produksi keramik atau material gelas
dalam berbagai jenis dan bentuk dapat dilakukan. Ultra-fine or spherical shaped powder, thin
film coating, ceramic fibers, microporous inorganic membranes, monolithic ceramics and
glasses, extremely porous aerogel materials merupakan contoh variasi dari proses sol-gel.

Gambar 3. Proses Sol-Gel


3

Material yang digunakan dalam proses sol-gel biasanya adalah garam logam
inorganik (inorganic metal salt) atau campuran logam organik (metal organic compound )
misalnya metal alkoxide. Pada proses sol-gel, precursor menjadi subjek pada reaksi hidrolisis
dan polimerisasi untuk membentuk suspensi koloid, atau sol. Proses lebih lanjut dari sol
ini dapat dibuat meterial keramik dalam bentuk yang berbeda. Film tipis dapat diproduksi
dari selembar substrat dengan spin-coating atau dip-coating. Ketika sol di-cast ke mold,
sebuah gel basah akan terbentuk. Dengan pengeringan dan perlakuan panas, gel akan menjadi
keramik yang padat. Jika cairan dalam gel yang basah hilang dalam kondisi superkritis,
porositas yang tinggi dan material dengan densitas rendah akan didapatkan. Jika viskositas
sol di atur menjadi sesuai dengan yang diinginkan, ceramic fiber bisa didapatkan dari sol
tersebut. Ultra-fine dan uniform ceramic powder dibentuk melalui precipitation, spray
pyrolysis, atau emulsion techniques.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
III.1 Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
a. Sekam padi

h. Toluena (E.merck)

b. H2SO4

i. Piridin

c. HCl (E.merck)

j. Indikator universal

d. NaOH (E.merck)

k. Akuades

e. Dithizon

l. Na2EDTA

f. Kloropropil trimetoksisilan (Aldrich)


g. Propantiol trimetoksisilil
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
1. Seperangkat wadah plastik

11. Tanur

2. Kertas saring Whatman 42

12. Oven

3. Pengaduk magnet

13. Spektrofotometer FTIR

4. Pipet tetes

14. XRD

5. Corong

15. Penganalisis Luas Permukaan

6. Cawan porselin

(NOVA 1000)

7. Mortar
8. Ayakan 250 m
9. Gelas beaker
10. Neraca analitik

III. 2 Diagram Alir


START

PREPARASI
SPESIMEN

ABU SEKAM PADI DIAYAK


DENGAN AYAKAN 250 M

A
20 GRAM ABU SEKAM PADI
DICUCI DENGAN 120 ML HCL 6M
DAN DINETRALKAN AQUADES

PEMBUATAN
LARUTAN
NATRIUM
SILIKAT DARI
ABU SEKAM
PADI

20 GRAM ABU SEKAM PADI


DICUCI DENGAN 150 MLHCL 6M
DAN DINETRALKAN AQUADES

ABU SEKAM PADI YANG KERING DILARUTKAN DENGAN


NAOH 4M, DIDIHKAN SAMPAI MENGENTAL KEMUDIAN
DIDESTRUKSI PADA 5000 C SELAMA 30 MENIT DAN SETELAH
DINGIN TAMBAHKAN 200 ML AQUADES

B
A
PEMBUATAN
SILIKA GEL
TERIMOBILISA
SI DITHIZON
DAN
HIBRIDASI
SENYAWA
MERKAPTO

KARAKTERISASI
HASIL

20 ML LARUTAN NATRIUM SILIKAT DITAMBAHKAN 5


ML 3-KLOROPROPIL-TRIMETOKSISILAN DAN 50 MG
DITIHIZON YANG DILARUTKAN DALAM 100 ML
TOLUENA DAN SEDIKIT PIRIDIN

20 ML LARUTAN NATRIUM SILIKAT


DITAMBAHKAN8 ML3(TRIMETOKSISILIL)-1-PROPANTIOL

TAMBAHKAN HCL 3M BERTETES-TETES HINGGA TERBENTUK GEL


KEMUDIAN CUCI DENGAN AQUADES DAN KERINGKAN
DENGAN OVEN PADA 700 C KEMUDIAN DIAYAK DENGAN AYAKAN 250M

XRD

FTIR

ANALISIS LUAS
PERMUKAAN

ANALISIS DATA
DAN
PEMBAHASAN

END

KETERANGAN:
A: 3- (TRIMETOKSISILIL) -1-PROPANTIOL
B: 3-KLOROPROPIL-TRIMETOKSISILAN

BAB IV
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil dari sintesis dan karakterisasi silika gel dari abu sekam padiyang
diimobilisasi dengan 3-(trimetoksisilil)-1-propantiol didapatkan hasil sebagai berikut:
1. Hasil difraksi sinar-X dapat dilihat pada Gambar 4, tampak bahwa abu sekam
memiliki kristalinitas yang tinggi dengan puncak serapan yang tajam pada 2=19,82
21,960 (d=4,04 ). Pada umumnya fasa kristal dalam ASP sangat bergantung pada
temperatur pengabuan, silika dalam sekam terdapat dalam bentuk amorf dan akan
tetap dalam keadaan tersebut apabila sekam padi dibakar pada temperatur 500-6000C.
Pengabuan pada temperatur 8000C diperoleh puncak serapan yang tajam dengan
intensitas kristal pada 2 sekitar 21,76o (d=4,08 ), diidentifikasi sebagai silika
dalam bentuk kristal kristobalit (Nuryono, 2004). Hal ini dikarenakan temperatur
pengabuan 800C menghasilkan abu dengan kekristalan tinggi yang sukar didestruksi
sehingga mengakibatkan jumlah silika yang terdestruksi menurun.

Gambar 4. Difraksi sinar-X abu sekam padi


2. Natrium silikat (Na2SiO3) yang terbentuk larut dalam akuades (H2O) sehingga
menjadi larutan natrium silikat (Na2SiO3(aq)). Larutan natrium silikat yang
dihasilkan digunakan sebagai prekursor dalam pembuatan adsorben silika gel (SG)
dan hibrida merkaptosilika (HMS).
3. Pembuatan HMS dilakukan melalui proses sol-gel. Menurut Schubert dan Husing
(2000) proses solgel memungkinkan sintesis hibrida organik-anorganik melalui cara
yang sederhana dan pada kondisi yang lunak (soft). Pada pembuatan HMS ini
dilakukan penambahan senyawa organik aktif 3-(trimetoksisilil)-1- propantiol
(TMSP) pada larutan Na2SiO3 hasil peleburan abu sekam padi sebelum ditambah
HCl 3M untuk memodifikasi silika gel yang akan terbentuk menjadi hibrida
merkaptosilika (HMS). Dalam penelitian ini, pembuatan silika gel (SG) digunakan
sebagai pembanding dari hibrida merkapto-silika (HMS). Pada dasarnya pembuatan
SG menggunakan metode yang sama dengan pembuatan HMS. Perbedaannya hanya
pada pembuatan SG tidak ditambahkan senyawa organik aktif TMSP pada larutan
Na2SiO3. Gel yang terbentuk kemudian dikeringkan, digerus dan diayak 200 mesh.
Proses pengeringan berlangsung pada temperatur 120C selama 2 jam. Pada saat
penambahan HCl terjadi proses pembentukan gel yang diduga diawali dengan
protonasi terhadap oksigen, O pada gugus metoksi (-OCH3) dari senyawa TMSP dan
dilanjutkan dengan serangan siloksi, Si-O- terhadap atom Si pada senyawa TMSP

yang telah terprotonasi atom oksigen pada gugus metoksinya. Secara sederhana reaksi
tahapan proses sol-gel ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 5. Gambaran reaksi pembentukan hibrida merkapto-silika (Alex, 2005)


4. Dalam pembuatan adsorben silika gel (SG) dan hibrida merkaptosilika (HMS)
dihasilkan berat adsorben masing-masing seperti terlihat pada Tabel 1. Dari tabel 1
terlihat bahwa berat HMS semakin bertambah besar seiring dengan semakin besarnya
pula volume senyawa TMSP yang digunakan. Hal ini diduga karena adanya
penambahan gugus merkapto pada permukaan gel.

Jenis adsorben
SG
HMS

Tabel 1 Berat adsorben


Volume senyawa
Larutan
3-(trimetoksisilil)Na2SiO3 (mL)
1-propantiol (mL)
20
20
28

Volume
HCl 3 M
(mL)
16
19

Berat adsorben
(gram)
4,3591
7,5362

5. Karakterisasi adsorben silika gel (SG) dan hibrida merkapto-silika (HMS) dilakukan
dengan metode spektroskopi inframerah (FTIR) dan difraksi sinar-X (XRD) yang
masing-masing untuk identifikasi gugus fungsional dan struktur dari masing-masing
adsorben. Keberhasilan sintesis HMS diindikasikan dengan munculnya pita serapan
pada bilangan di sekitar 2931,6 cm-1 yang merupakan serapan akibat vibrasi CH dan
juga pita serapan di daerah 1407,9 cm-1 yang merupakan serapan akibat vibrasi CC- dari gugus metilen (-CH2-). Pita serapan SH yang diharapkan muncul pada
semua gel hibrida, ternyata tidak muncul. Vibrasi dari gugus aktif SH yang
diharapkan muncul pada daerah 2600-2450 cm-1 ternyata tidak teramati. Menurut
William dan Fleming pada Taslimah (2004), gugus SH menghasilkan pita serapan
yang lemah pada spektra inframerah, lebih lemah dari gugus OH , tetapi memberikan
serapan yang kuat di dalam spektra Raman. Vibrasi-vibrasi yang aktif di dalam
8

Raman dapat tidak aktif di dalam inframerah, demikian juga sebaliknya. Hal serupa
terjadi pada beberapa peneliti terdahulu yang mengkarakterisasi gugus fungsional
SH dengan spektroskopi inframerah (Nuzula, 2004; Alex, 2005; Hidayati, 2005;
Khasanah, 2006).

Gambar 6. Spektra FTIR silika gel (A) dan hibrida merkapto-silika (B)
6. Informasi mengenai struktur padatan diberikan oleh difraktogram sinar-X melalui
analisis pola difraksi sesuai dengan tingkat kristalinitasnya. Pola difraksi yang
dianalisis yaitu silika gel (SG) dan hibrida merkapto-silika (HMS). Hasil karakterisasi
menggunakan XRD menunjukkan bahwa SG dan HMS hasil sintesis mempunyai
struktur amorf bukan kristal. Adanya proses sol-gel dalam pembentukan SG dan
modifikasi SG dengan ligan organik menyebabkan perubahan struktur dari abu sekam
padi yang semula berstruktur kristal. Dan proses modifikasi dari SG dengan ligan
organik tidak menyebabkan perubahan struktur dari SG yaitu sama-sama amorf.

Gambar 7. Model struktur amorf silika

Sementara itu hasil dari sintesis dan karakterisasi silika gel dari abu sekam padi yang
diimobilisasi Dithizon dengan 3-kloropropil-trimetoksisilan dengan proses sol-gel
didapatkan hasil sebagai berikut :
1. Pada proses pembuatan larutan natrium silikat dari abu sekam padi mekanisme reaksi
yang terjadi adalah OH- akan menyerang atom Si yang bermuatan parsial positif dan
terbentuk intermediet SiO2OH- yang tidak stabil. Pada tahap ini akan terjadi
dehidrogenasi dan ion hidroksil yang terlepas akan berikatan dengan hidrogen
membentuk molekul air. Dua ion Na+ yang ada akan menyeimbangkanmuatan negatif
yang terbentuk.
2. Perkiraan mekanisme reaksi imobilisasi dithizon pada silika ditunjukkan pada
Gambar 8.

Gambar 8. Tahap lanjutan reaksi imobilisasi dithizon pada silika


Pada penelitian ini gel yang terbentuk disaring dan dicuci dengan akuades sampai pHnya netral. Dari hasil pengeringan diperoleh silika gel terimobilisasi dithizon yang
berwarna merah bata. Gambar silika gel terimobilisasi dithizon seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 9. Secara kasat mata warna silika gel terimobilisasi dithizon
50 mg, 1 dan 2 gram menunjukkan perbedaan yang spesifik. Dimana semakin banyak
jumlah dithizon maka warna merah bata akan semakin pekat.

Gambar 9. Silika gel termobilisasi dithizon a)50 mg b)1 gram c)2 gram d) tanpa dithizon
3. Berdasarkan hasil spektrum FTIR yang terlihat pada Gambar 10 dapat
diinterpretasikan seperti dalam Tabel 2. Berdasarkan hasil interpretasi spektrum FTIR
dari Tabel 2 maka dapat disimpulkan bahwa silika gel terimobilisasi dithizon telah
berhasil disintesis. Hal yang menunjukkan bahwa silika terimobilisasi dithizon
berhasil disintesis adalah adanya gugus amina, C=N, C-N, -SH dan C=S.
10

Gambar 10. Spektrum FTIR untuk a) silika gel, silika terimobilisasi dithizon;
b) 50 mg, c) 1 gram, dan d) 2 gram
Tabel 2. Interpretasi hasil spektrum FTIR

11

4. Gambar 11 (a) dan (b) mengindikasikan adanya impurities berupa NaCl yang tidak
tercuci saat dilakukan penetralan silika. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan
pencucian ulang pada adsorben kering tersebut. Secara umum disimpulkan bahwa
penambahan dithizon tidak menyebabkan perubahan kristalinitas silika yang
dihasilkan.

b
a

Gambar 11. Difraktogram sinar X dari a) silika gel, silika terimobilisasi dithizon
b) 50 mg, c) 1 gram, dan d)2 gram
5. Penentuan luas permukaan spesifik silika terimobilisasi dithizon dapat dilihat dari
hasil analisis dengan menggunakan penganalisis luas permukaan.
Hasilanalisis ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Data hasil analisis luas permukaan
No.
1.
2.
3.
4.

Jenis Adsorben
Silika gel
Silika terimobilisasi dithizon 50 mg
`Silika terimobilisasi dithizon 1 gr
Silika terimobilisasi 2 gr

Luas permukaan (m2/g)


38,27
15,50
17,81
40,82

Pada Tabel 3 terlihat bahwa luas permukaan spesifik menurun ketika ditambahkan
dithizon. Hal ini disebabkan karena senyawa dithizon yang diimobilisasi pada
permukaan silika akan menutupi pori sehingga ukuran pori semakin kecil dan
menghasilkan luas permukaan yang lebih kecil. Jadi semakin banyak senyawa
dithizon yang diiimobilisasikan maka makin kecil luas permukaan spesifiknya.
Namun, hal ini tidak berlaku untuk silika terimobilisasi dithizon 2 gr. Ini
menunjukkan bahwa pengikatan terhadap senyawa dithizondiduga tidak hanya terjadi
dalam pori melainkan di atas permukaan silika sehingga luas permukaannya lebih
besar dari silika gel.

12

BAB V
KESIMPULAN
1. Pada sintesis dan karakterisasi silika gel dari abu sekam padi yang diimobilisasi

2.

3.

4.

5.

6.
7.
8.

dengan 3-(trimetoksisilil)-1-propantiol, abu sekam padi dapat digunakan sebagai


sumber silika untuk membuat hibrida merkapto-silika (HMS) melalui proses sol-gel.
Pada dasarnya pembuatan SG menggunakan metode yang sama dengan pembuatan
HMS. Perbedaannya hanya pada pembuatan SG tidak ditambahkan senyawa organik
aktif TMSP pada larutan Na2SiO3.
Dalam pembuatan adsorben silika gel (SG) dan hibrida merkaptosilika (HMS)berat
HMS semakin bertambah besar seiring dengan semakin besarnya pula volume
senyawa TMSP yang digunakan. Hal ini diduga karena adanya penambahan gugus
merkapto pada permukaan gel.
Karakterisasi silika gel dan hibrida merkapto silika menggunakan spektrofotometri
inframerah menunjukkan perubahan spektrum bilangan gelombang antara keduanya,
sedangkan identifikasi struktur silika gel dan menunjukkan memiliki stuktur yang
sama, amorf. Tetapi terjadi perubahan struktur dari abu sekam padi yang semula
berstruktur kristal.
Pada sintesis dan karakterisasi silika gel dari abu sekam padi yang diimobilisasi
Dithizon dengan 3-kloropropil-trimetoksisilan dengan proses sol-gel. Pengolahan abu
sekam padi menjadi silika gel terimobilisasi dithizon dapat dilakukan melalui proses
sol-gel yakni suatu proses pelarutan pada temperatur kamar.
Silika gel terimobilisasi dithizon telah berhasil disintesis hal ini dibuktikkan dengan
adanya gugus amina, C=N, C-N, -SH dan C=S.
Secara umum disimpulkan bahwa penambahan dithizon tidak menyebabkan
perubahan kristalinitas silika yang dihasilkan.
Penambahan senyawa dithizon tidak mengubah kekristalan silika yang dihasilkan dan
mengakibatkan penurunan luas permukaan spesifik kecuali untuk silika terimobilisasi
dithizon 2 gr.

13

DAFTAR PUSTAKA
Hindryawati, Noor dan Alimuddin. 2010. Sintesis dan Karakterisasi Silika Gel dari Abu
Sekam Padi dengan menggunakan Natrium Hidroksida (NaOH).
Mujiyanti, Dwi Rasy dan Eko Sri K. N., 2010. Sintesis dan karakterisasi silika gel dari abu
Sekam padi yang diimobilisasi dengan 3-(trimetoksisilil)-1-propantiol.
Widiyani, Rakhma. 2010. sintesis dan karakterisasi silika gel dari abu sekam padi
pada berbagai harga ph dengan metode modifikasi sol gel.
Wogo, Hermania Em dkk. 2011. Sintesis Silika Gel Terimobilisasi Dithizon Melalui Proses
Sol-Gel.
Yanti, Septiana Dwi Putri. 2010. Sintesis Silika Gel dari Abu Sekam Padi dengan Amonium
Karbonat.
http://www.tumblr.com/tagged/kegunaan-silica-gel (Diakses pada tanggal 5 Desember 2012)
http://sariyusriati.wordpress.com/2008/10/21/sol-gel-technology/ (Diakses pada tanggal 5
Desember 2012)
http://riau.litbang.deptan.go.id/ind/images/stories/PDF/teknologibriket.pdf(Diakses pada
tanggal 5 Desember 2012)

14