Anda di halaman 1dari 8

ACARA V

RETENSI ENERGI PAKAN IKAN

Oleh :
Nama

: Muhammad Rivaldi

NIM

: B0A013046

Kelompok : 7 (Tujuh)
Asisten

: Tito Widayanto

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PEMBUATAN DAN PEMBERIAN


PAKAN

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PROGRAM STUDI DIII PENGELOLAAN SUMBERDAYA
PERIKANAN DAN KELAUTAN
PURWOKERTO
2014

HASIL
Hasil yang di dapatkan dari praktikum restensi energy pakan ikan:

Gambar 2.1. Penghalusan pakan /


penumbukkan pakan

Gambar 2.3. Pakan yang sudah berbentuk


tablet

Gambar 2.5. Pakan di lilitkan ke kabel wol

Gambar 2.2. Pencetakan pakan menjadi tablet

Gambar 2.4. Menimbang pakan

Gambar 2.6. Pakan di masukan ke dalam


home sampling

Gambar 2.8. Home sampel di masukkan ke dalam


bom kalori meter
Gambar 2.7. Home sampling di beri Oksigen murni

Gambar 2.9. Bom kalori meter di operasikan

Gambar 2.10. Data diperoleh setelah menunggu


8 menit

Perhitungan:

pakan yang di konsumsi

= 2,5% x hari pemeliharaan x BB ikan awal


= 2,5% x 30 hari x 3gr
= 2.25

energy pakan

= pakan yang di konsumsi x e. bom pakan


= 2.25 x 4685.4052
=10542.1617

energy ikan awal

= bobot kering ikan awal x e. bom ikan awal


= 0.43 x 6066.3665
= 2608.5376

energy ikan akhir

= bobot kering ikan akhir x e. bom ikan akhir


= 0.5 x 6561.1253
= 3280.5627

=
x 100%
= 0.0637 x 100%
= 6.37 %

Tabel Hasil Retensi Energi


No.

Prosentase Protein

Retensi Energi

Herbivora : 20%

6034,3398 cal/gr

Omnivora : 25%

5557,4397 cal/gr

Karnivora : 30%

4685,4052 cal/gr

PEMBAHASAN
Pakan merupakan faktor yang memegang peranan sangat penting dan menentukan
dalam keberhasilan usaha perikanan dan ketersediaan pakan merupakan salah satu
faktor utama untuk menghasilkan produksi maksimal. Syarat pakan yang baik adalah
mempunyai nilai gizi yang tinggi, mudah diperoleh, mudah diolah, mudah dicerna,
harga relatif murah, tidak mengandung racun. Jenis pakan disesuaikan dengan bukaan
mulut ikan, dimana semakin kecil bukaan mulut ikan maka semakin kecil ukuran
pakan yang diberikan, dan juga disesuaikan dengan umur ikan (Khairuman, 2003).
Pakan buatan bersifat mengapung di air karena mengandung bahan perekat yang
berasal olahan tepung kanji menjadi cairan kental seperti lem yang memiliki daya
serap air cukup tinggi tetapi minim air. Semakin rendah mutu perekat yang digunakan
akan semakin mudah hancur dan tenggelam di dasar kolam, maka pakan ini
memmiliki mutu rendah. Berdasarkan bahan bakunya tergolong menjadi dua, yaitu:
Pakan Basah dan Pakan Kering (Afrianto et al, 2005).
Dalam pembuatan pakan buatan penambahan air sangat baik karena tidak
mengandung unsur-unsur yang dapat mempengaruhi komposisi ransum, misalnya
perubahan nilai energy dan lainnya. Namun air juga merupakan tempat tumbuh yang
baik bagi kehidupan mikroorganisme (jamur), dengan adanya penambahan air saat
pencampuran bahan pakan maka kadar air pada pakan pellet juga akan naik, sehingga
pakan pellet juga akan naik, sehingga pakan pellet dapat mudah menjadi tempat
tumbuh jamur dan juga mudah hancur (Kushartono, 1996). Oleh karena itu bila tidak
segera digunakan atau akan digunakan dalam waktu yang sangat lama, sebaiknya
dikeringkan dahulu hingga kadar airnya kurang dari 15%. Pengeringan pellet bisa
dilakukan dengan 2 cara yaitu pengeringan dengan sinar matahari (dijemur) dan
pengeringan dengan bantuan alat mesin pengering (Kushartono, 1996).
Laju pertumbuhan spesifik adalah laju pertumbuhan harian atau persentase
pertambahan bobot ikan setiap harinya. Peningkatan pertumbuhan dapat diketahui
melalui peningkatan laju pertumbuhan dan laju pertumbuhan spesifik. Pertumbuhan
ikan erat kaitannya dengan ketersediaan protein dalam pakan, karena protein
merupakan sumber energi bagi ikan dan protein merupakan nutrisi yang sangat
dibutuhkan ikan untuk pertumbuhan. Sesuai dengan Widayati (2009), yang
menyatakan bahwa jumlah protein akan mempengaruhi pertumbuhan ikan. Tinggi
rendahnya protein dalam pakan dipengaruhi oleh kandungan energi non-protein yaitu
yang berasal dari karbohidrat dan lemak.
Sesuai hasil penelitian Wilson dalam Stickney dan Novell (1997); bahwa pakan
dengan kandungan kabohidrat sebanyak 2,5-10% dari berat pakan menghasilkan

peningkatan pertambahan berat yang nyata namun bila kandungan karbohidrat


ditingkatkan menjadi 15-20% dari berat pakan maka pertambahan berat akan
menurun. Para ahli pakan menganjurkan untuk mengkombinasi pakan alami dengan
pakan buatan agar tercipta keseimbangan asam amino di dalam tubuh benih ikan
(Afrianto dan Liviawaty, 2005).
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat pencetak, timbangan
analitik, mortat dan pestel, serta rangkaian bomb calorimeter.

Mortar dan porselin alat yang di gunakan untuk menghaluskan pellet yang
akan di ujikan

Alat pencetak di gunakan untuk mencetak pakan menjadi bentuk tablet

Timbangan analitik di gunakan untuk menimbang pellet yang sudah dibentuk


menjadi tablet

Rangkaian bomb calorimeter :


o Bomb calorimeter untuk mengukur kalori yang dimiliki pellet tersebut
o Kawat wolfram digunakan untuk melilit pellet yang di ujikan yang
nantinya akan dialirkan panas dan di masukkan ke dalam home sampel
o Home sampel tempat untuk menaruh pellet yang akan di uji calorinya
o Waterhandling digunakan untuk pertukaran air yang ada di dalam
bomb calorimeter
o Tabung Oksigen untuk mengalirkan oksigen murni ke dalam home
sampel

Berdasarkan hasil yang diperoleh, menunjukkan bahwa pellet yang telah


dibuat oleh praktikan memiliki tekstur yang halus dan baik, karena dalam proses
pembuatannya mengalami pengayakan secara berulang-ulang. Selain itu, daya apung
yang baik dan mempunyai waktu tenggelam yang cukup lama dari waktu penebaran.
Menurut Murdinah (1989), beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas pakan
dalam air, seperti kehalusan bahan baku pakan dan proses pencampuran bahan dalam
proses pembuatan pakan. Semakin halus bahan pakan, semakin baik pula pakan yang
dihasilkan. Bahan pakan akan tercampur merata sehingga menghasilkan produk yang
lebih kompak dan stabil di dalam air. Menurut Semakin lama pelet tersebut hancur,
semakin baik dan berkualitas pelet tersebut (Handajani dan Wahyu, 2010). Praktikum
yang telah dilakukan oleh praktikan sesuai dengan referensi.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang di dapatkan dari praktikum ini adalah hasil pellet yang yang
telah dibuat berupa pellet apung. Faktor yang mempengaruhi pengapungan pellet
adalah campuran tepung aci dengan air ke dalam bahan-bahan yang akan di jadikan
pellet, serta kecilnya pori-pori yang ada di pellet. Adanya penambahan air membuat
pakan menjadi baik akan tetapi air juga merupakan tempat atau media tumbuhnya
mikroorganisme (jamur), oleh sebab itu pada beberapa pellet ditemukan adanya
beberapa jamur dan tidak baik apabila digunakan. Retensi energi yang diperoleh
adalah 4685,4052 cal/gr dengan persentasi pellet 30%.

DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, E dan E. Liviawaty. 2005. Pakan Ikan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Hal
26-65
Hanjani, S. dan Wahyu, P. 2010. Studi Pembuatan Pakan Ikan dari Campuran Ampas
Tahu, Ampas Ikan, Darah Sapi Potong, dan Daun Keladi yang Disesuaikan
dengan Standar Mutu Pakan Ikan. Jurnal Sains Kimia 10: 40-45.
Khairuman dan K. Amri. 2003. Membuat Pakan Ikan Konsumsi. Agromedia Pustaka.
Jakarta. Hal 17
KUSHARTONO, B . 1996 . Pengendalian Jasad Pengganggu Bahan Ternak Selama
Penyimpanan . Prosiding Lokakarya Fungsional Non Peneliti . Pusat Penelitian
dan Pengembangan Peternakan . Bogor H 94-97.
Murdinah, Siti. 1989. Makanan Ikan. Jakarta:Penebar Swadana.
Widyati, W. 2009. Kinerja Pertumbuhan Ikan Nila (Orechromis niloticus) yang
Diberi Berbagai Dosis Enzim Cairan Rumen Pada Pakan Berbasis Daun
Lamtorogung Leucaena leucophala. Skripsi. Program Studi Teknologi dan
Manajemen Perikanan Budidaya. Institutut Pertanaian Bogor.