Anda di halaman 1dari 4

Peduli Pendidikan Daerah, Cikal Bakal Kejayaan Indonesia

Pendidikan, apakah pendidikan itu dan seberapa pentingkah pendidikan itu sendiri???
Memang benar kata pepatah, bahwa Pendidikan adalah tonggak kemajuan bangsa.
Banyak makna yang dapat kita tafsir dari pepatah tersebut. Sadar atau tidak, percaya atau
tidak, peduli atau acuh. Pendidikan sudah mendarah daging bagi kehidupan manusia di jaman
global dengan persoalan yang semakin kompleks ini. Telah menjadi tonggak yang sangat
vital bila diacuhkan demi kemajuan suatu bangsa. Dapat kita bayangkan apa jadinya jika
suatu bangsa tidak sadar akan pendidikan maupun tidak mendapatkan pedidikan yang
selayaknya, bagaimana bangsa itu akan tumbuh dan berdiri di tengah menderanya masalah
global yang akhir-akhir ini terjadi. Menjadi bangsa yang tertindas?? TENTU TIDAK MAU!!!
Ironis memang, ketika kemewahan bagi sekolah-sekolah di kota besar diasosiasikan
dengan SPP mahal, tenaga pengajar asing, pun kelas internasional dengan fasilitas super
lengkap. Namun, fakta miris tentang pendidikan telah terjadi di pelosok Indonesia, bukan
hanya isapan jempol belaka. Fakta yang membuat mata terbelalak di tengah gencarnya
program wajib belajar sembilan tahun yang telah di gembor-gemborkan pemerintah. Tak usah
jauh-jauh di daerah saya sendiri, yang telah saya survei. Di Dusun Terangwatu Desa
Prunggahan Kulon Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban dan sekitarnya masih banyak di
jumpai anak yang putus sekolah dan yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya.
Lagi-lagi dilatar belakangi dengan masalah mahalnya biaya pendidikan. Pupus sudah
harapan anak bangsa harus berakhir dengan mengadu nasib dan peruntungan di ladang rizki
yang seharusnya menjadi kewajiban para orang tua.
Menurut data dari UPTD Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban bahwa Tahun
2012 triwulan I siswa SD di Kecamatan Semanding yang putus sekolah sebanyak empat belas
anak, sedangkan yang tidak dapat melanjutkan ke sekolah menengah pertama lebih dari dua
puluh anak. Yang disebabkan oleh berbagai hal, salah satu masalah yang lebih dominan
karena keterbatasan ekonomi. Biarpun telah di iklankan di televisi bahwa Sekolah Gratis,
para orang tua tetap enggan menyekolahkan anak-anaknya.
Namun dalam kenyataannya memang benar, sekolah gratis itu hanya pada biaya
operasionalnya saja, yang dibantu dengan Biaya Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah.
Sedang jenis pembiayaan di sekolah tidak hanya biaya operasional saja, melainkan ada biaya
investasi, biaya ini untuk pembangunan atau sering disebut insidental. Berupa peningkatan
sarana prasarana sekolah, seperti gedung, mebuler, perbaikan / peningkatan sarana prasarana
lainnya. Juga adanya biaya individu, seperti biaya kegiatan non akademik dan lainnya. Semua
ini membuat kecewa para orang tua yang dari financial kelas bawah.
Maka, jika masyarakat memahami hal sebenarnya tentang jenis-jenis pembiayaan
sekolah, sewajarnya akan paham, mengerti, dan bisa mendudukkan perkara dengan benar.
Papar Pak Tris, Kadisdikpora Tuban yang dikutip pada majalah AKBAR Juni 2011. Dari
pemaparan Kadisdikpora Tuban tersebut, dapat disimpulkan bahwa kurang pahamnya
sebagian masyarakat khususnya daerah pelosok mengenai biaya sekolah. Dan tidak adanya
sosialisasi langsung dari pemerintah untuk mengatasi masalah semacam ini.
Selain itu, bagi para orang tua yang kurang mempunyai kesadaran akan pentingnya
pendidikan juga melatar belakangi mengapa anak-anak bangsa tidak dapat melanjutkan
sekolah. Para orang tua lebih memilih agar anaknya membanting tulang daripada harus

melanjutkan sekolah. Karena menurut mereka di daerah terbelakang tersebut, yang terpenting
adalah ilmu terapan yang benar-benar di pakai untuk hidup dan kerja. Hal ini sangat
disayangkan sekali, karena pola pikir anak-anak tersebut masih dapat berkembang pesat
sesuai dengan kemajuan teknologi pada era globalisasi saat ini. Yang berpengaruh langsung
dalam perkembangan sebuah bangsa dan negara. Tidak bisa kita bayangkan bila tiap
tahunnya kurang lebih satu juta anak Indonesia harus putus sekolah hanya karena masalah
biaya. Padahal setiap anak berhak memiliki pijakan yang kuat dalam membangun potensi
dirinya lewat pendidikan. Bagaimana bangsa ini akan menjadi bangsa yang maju, bila para
penerus bangsa tidak dapat mengenyam pendidikan sesuai program yang telah di canangkan
oleh pemerintah??
Disamping itu, untuk anak-anak yang telah putus sekolah tidak ada sebuah pendidikan
lebih lanjut maupun sebuah pelatihan untuk pembekalan mereka dalam dunia kerja.
Kalau pun ada, itu pun tidak cuma-cuma. Dan harus mengeluarkan beberapa kocek,
yang bisa di bilang tidak murah. Disisi lain, pemerintah telah memprogramkan sebuah
perpustakaan keliling yang di kelola oleh perpustakaan umum daerah. Dalam
pendistribusian perpustakaan keliling di daerah Tuban belum merata. Mengapa
demikian? Karena setelah saya survei, dalam peta kunjungan perpustakaan keliling
yang ada di perpusatakaan umum daerah, telah terjadwal dan telah menjangkau tiaptiap daerah pelosok di seluruh kabupaten Tuban. Namun kenyataan dalam lapangan,
di salah satu sekolah dasar di kecamatan Semanding selama ini belum pernah
dikunjungi oleh perpusatakaan umum. Lagi pula perpustakaan ini hanya di khususkan
untuk para siswa bangku sekolah saja. Sedangkan untuk masyarakat umum tidak
dapat mengaksesnya. Perlu kita ketahui, bahwa masih banyak sekolah dasar di
kecamatan Semanding yang belum mempunyai sebuah perpustakaan dan terbatasnya
jumlah buku-buku bacaan berkualitas yang ada di sekolah-sekolah tersebut. Dari
empat puluh delapan sekolah dasar negeri yang ada di kecamatan Semanding, hanya
dua belas sekolah dasar saja yang memiliki sebuah perpustakaan. Hal ini disebabkan
karena terbentur dengan masalah biaya yang terbatas juga. Dibuktikan dari
pernyataan kepala SDN Gesing Kecamatan Semanding, karena keterbatasan biaya,
dan jika kita ingin membangun sebuah perpustakaan dengan pemungutan biaya dari
orang tua wali murid itu tentu tidak mungkin karena pungutan-pungutan tersebut
sudah dilarang oleh pemerintah.
Untuk itu, langkah konkrit yang ingin saya tempuh untuk membantu permasalahan
yang ada, khususya di daerah saya sendiri yaitu pertama saya ingin mengumpulkan para
relawan-relawan yang peduli akan nasib pendidikan Indonesia. Setelah itu, kami akan
membentuk sebuah Forum Peduli Pendidikan (FPP) di daerah kabupaten Tuban. Langkah
kedua yang akan saya tempuh yaitu, dari FPP ini kita membuat agenda kerja atau sering
disebut program kerja. Disini saya ingin mengagendakan sebuah sosialisasi dengan sasaran
para orang tua dan para anak-anak penerus bangsa yang berada di desa-desa pelosok, tentang
Betapa Pentingnya Pendidikan. Hal ini perlu kita galakkan, karena mayoritas masyarakat
pelosok kurang begitu sadar akan pentingnya pendidikan. Perlu kita tahu, apakah tujuan
pendidikan itu sendiri, khususnya pada pendidikan nasional? Salah satunya yang terlihat jelas
adalah mencerdaskan kehidupan bangsa tentu kita tahu, kata-kata ini telah termuat dalam
Pembukaan UUD 1945 yang merupakan cita-cita bangsa Indonesia sendiri. Bagaimana jika
para masyarakat masih saja menganggap kurang pentingnya sebuah pendidikan? Untuk itu

perlu kita lakukan sebuah sosialisasi untuk mengawali pengentasan masalah ini, agar
masyarakat bisa tahu dan sadar akan pentingnya pendidikan.
Langkah selanjutnya, kita merencanakan untuk membuat sebuah perpustakaan kecil
di desa. Untuk buku-buku bacaannya kita menggalang dari tiap-tiap sekolah yang berada di
perkotaan atau sekolah-sekolah yang terdomisili dari orang-orang mampu. Disini kita
mengumpulkan buku layak baca untuk anak-anak bangsa yang ada di sebuah desa terpencil.
Untuk penggalangan sebuah buku, kita juga dapat mencari para donatur untuk membantu
dengan ikhlas dan peduli akan nasib pendidikan Indonesia yang ada di daerah-daerah
terpencil.
Dimana pada perpustakaan tersebut dapat di akses oleh kalangan umum, mulai dari
anak-anak hingga orang dewasa. Disitu pula untuk tiap berapa hari sekali di adakan sebuah
pelatihan keterampilan dengan memanfatkan barang-barang bekas yang ada disekitar untuk di
daur ulang, kegiatan ini dapat diikuti anak-anak yang tidak dapat melanjutkan sekolah
maupun bagi masyarakat yang berminat lainnya sebagai pembekalan mereka dalam dunia
kerja. Tak lupa juga disana terdapat info-info tentang lowongan kerja untuk mereka yang
telah siap terjun dalam dunia kerja. Dengan tujuan agar mempermudah untuk mereka
mendapatkan sebuah informasi dalam dunia kerja.
Dari rencana kegiatan tersebut manfaat yang bisa diambil bagi masyarakat sekitar
adalah semakin mudahnya mereka dalam mengakses informasi melalui buku-buku bacaan
yang ada pada perpustakaan tersebut. Dan semakin mudahnya mereka dalam mencari infoinfo lowongan kerja yang telah di sediakan pada perpustakaan tersebut. Selain itu program
pelatihan ketrampilan yang ada berguna untuk mengasah potensi ketrampilan yang ada pada
diri mereka, sehingga dengan ketrampilan tersebut mereka dapat memproduksi suatu barang
dari limbah-limbah rumah tangga yang masih dapat di manfaatkan kembali dan bisa
diperjualkan sehingga dapat menambah pundi-pundi penghasilan mereka. Sedangakan
manfaat bagi anak-anak sendiri, mereka dapat dengan mudah membaca ketika di waktu
senggangnya. Sekaligus secara tidak langsung dengan adanya perpustakaan di desa tersebut
dapat membangkitkan minat membaca pada diri anak-anak bangsa. Karena dengan membaca
mereka dapat memperoleh banyak ilmu, informasi, kesenangan dan pengalaman-pengalaman
yang termuat dalam buku-buku tersebut.
Dalam hal ini pendidikan mempunyai tugas utama untuk menyiapakan sumber daya
manusia untuk pembangunan. Derap langkah pembangunan harus selalu diupayakan sesuai
dengan irama tuntutan zaman. Dalam perkembangan zaman selalu memunculkan persoalanpersoalan baru, sehingga ide untuk pendidikan di Indonesia adalah dengan meminimalisasi
akan permasalahan yang muncul dengan segera mungkin megatasi segala persoalan yang ada.
Sehingga dengan ini tak akan menumpuk segala persoalan pendidikan yang muncul. Dengan
itu pendidikan Indonesia akan lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala
bidang dengan semua negara di dunia sesuai era globalisasi saat ini. Karena kemajuan suatu
bangsa tidak boleh hanya diukur dari banyaknya sumber daya alam (SDA) yang di miliki
oleh mereka, akan tetapi kembali kepada bagaiamana kualitas sumber daya manusianya.
Sebab manusia yang berkualitas, akan mampu membawa bangsanya menuju tempat yang
terhormat dalam persaingan global.
Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang ingin di capai oleh setiap
negara di dunia. Sudah menjadi suatu rahasia umum bahwa maju tidaknya suatu negara di

pengaruhi oleh faktor pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan, sehingga suatu bangsa
dapat di ukur apakah bangsa itu maju atau mundur, karna seperti yang kita ketahui bahwa
suatu pendidikan tentunya akan mencetak sumber daya manusia yang berkualitas baik dari
segi spiritual, intelegensi dan skill, pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus
bangsa. Apabila output dari proses pendidikan ini gagal maka sulit dibayangkan bagaimana
dapat mencapai kemajuan.
Mari kita sukseskan pendidikan Nasional dengan peduli pendidikan daerah pelosok.
Kemajuan Indonesia tanggung jawab kita bersama