Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

BUDIDAYA TANAMAN OBAT


PENGARUH PEMBERIAN FESES KAMBING TERHADAP JUMLAH DAUN,
TINGGI TANAMAN, DAN BOBOT TANAMAN
Andrographis paniculata

Disusun oleh:
Eky Sulistyawati (FA/08708)
Putri Kharisma (FA/08715)

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI
BAGIAN BIOLOGI FARMASI
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

A. TUJUAN
Mengetahui pengaruh pemberian pupuk feses kambing terhadap jumlah
daun, tinggi tanaman, dan bobot tanaman Andrographis paniculata
B. ALAT DAN BAHAN
1. ALAT
Penggaris (alat ukur)
Timbangan
Ember
Sabit
Cangkul
Alat semprot
Oven
2. BAHAN
Feses kambing
Sambiloto
Air

C. CARA KERJA
Setiap kelompok menanam 1 jenis tanaman yaitu 10 tanaman sambiloto budidaya
dalam satu bedeng

Setiap luasan tersebut dibuat lubang tanam dengan jarak antar lubang 30 cm

Setiap lubang ditanam satu individu tanaman

Penyiraman tanaman dilakukan setiap minggu

Pemupukan dilakukan dengan 1 macam pupuk menggunakan feses kambing

Selama pemeliharaan tanaman budidaya dilakukan pemberantasan gulma, hama


dan penyakit

Jenis-jenis gulma dicatat dan didokumentasikan

Selama pelaksanaan praktikum budidaya tumbuhan obat diukur tinggi tanaman


dan jumlah daunnya

Pemanenan dilakukan tanggal 7 Desember 2014

Pemanenan dilakukan pada seluruh bagian tanaman

Daun dipisahkan dari batang, kemudian dicuci dengan air hingga bersih

Selanjutnya dikering-anginkan

Daun diukur berat basahnya

Kemudian dimasukkan kedalam oven hingga kering

Hitung berat kering

Kemas dalam kertas dan diberi label

D. DATA
Kelompok 4 Golongan 1
Jenis tumbuhan

: Sambiloto

Tanggal tanam

: 15 September 2014 pagi

Jarak tanam

: 30 cm

Penyiraman dengan air: seminggu sekali


Pemupukan

: kotoran kambing 10 butir pertanaman

Bedengan
A

No
a
b.
c.
d.
e.
a.
b.
c.
d.
e.

Hari
22 Sept 2014

Hari-1 (cm)
7
26
8.5
16
30
14
13
18.5
14.5
18

Hari-2 (cm)
8
26
8.3
16.5
30
Mati
13.3
19
21
19

pH
3.45
3,75
4,2
4,3

Hari-3 (cm)
9
26
8.3
16.5
30
15.5
13.5
19
24.5
19

Kelembaban(%)
75
75
90
90

29 Sept 2014

6 okt 2014

4,2
4,2
3,5
3.75
4.5
3.5
3.75
4.2
3.75
3.75
3.5

75
100
75
90
75
80
90
75
90
90
100

Intensitas cahaya 22 september 2014 : 1300, 1600, 700, 700, 1000, 1000, 1100,
1300, 1600, 1500
Intensitas cahaya 29 september 2014 : 900, 1000, 700, 1800, 2200, 1500, 2400

Setelah panen
Jenis pengeringan

: oven

Suhu

: 40-50 C

Mulai dikeringkan

: 6 Desember 2014

Tanggal pengepakan : 9 Desember 2014


Jenis penyimpanan
Bedengan
A

No
1.
2.
3.

: kertas
Bobot basah (gram)
Daun
Batang
Akar
31.43
13.79
1.98
1.76
0.95
0.58
10.45
6.27
1.29

Bobot kering (gram)


Daun
Batang
Akar
64.860
37.381
2.954

4.
5.
1.
2.
3.
4.
5.

56.84
47.12
36.75
hilang
35.33
9.41
14.10

27.62
29.25
19.96
hilang
19.88
4.64
6.66

1.71
1.35
0.82
hilang
0.51
1.71
3.60

Gulma yang dijumpai pada tanaman

Rumput teki

Data kelompok 3 golongan 2


Nama tumbuhan : Andrographis paniculata
Ditanam pada
: 15 September 2014 09.00 WIB
Tempat
: Desa Blendengan, Brebah, Sleman, Yogyakarta
Sket bedengan :
1

5
3
Lama budidaya
Jarak penanaman
Penyiraman
Pupuk

7
10

: 3 minggu
: 25 cm
: 1 x sehari
: 1) Feses kambing kering 100 butir untuk tiap bedengan
2) Pupuk NPK 100 butir
Waktu pemberian pupuk : tanggal 15 September 2014

Jenis gulma : rumput liar, bayam, kenikir

Data Tinggi Tanaman (cm) dari nodus terdekat ke tanah :


22 September

29 September

6 Oktober

2014

2014

2014

13,5
19
10
16,7
17,2
6,4
17,2
11,5
21,3
22,5

13,7
18,2
11
18
18
7,5
30
10,4
20,5
23

14,5
19
11,5
18
19,5
8
31,3
10,4
21
23,3

No.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Data pH tanah, Rh tanah, dan Intensitas cahaya


pH tanah
Tanggal

22
September
2014
29
September
2014
6 Oktober
2014

No.

1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4

Rh tanah (%)

Sebelum

Setelah

Sebelum

Setelah

disiram

disiram

disiram

disiram

4,4
5,2
4,5
5,0
5,0
4,2
5,0
5,2
4,0
4,2
5,5
5,4
5,2
4,5

5,2
5,2
4,0
4,5
4,5
4,8
4,4
4,0
4,0
4,8
5,2
4,2
3,8
3,8

70
55
70
60
60
75
60
65
85
75
50
55
55
70

58
55
80
70
70
65
70
80
80
65
58
78
90
90

Intensitas
cahaya

4,5

70

70

Data bobot basah (gram) simplisia Daun Sambiloto (Kelompok 3 Golongan 2)


---Datanya hilang
Tanaman
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

4,8

Akar

Batang

Daun

Bunga

Data berat kering simplisia sambiloto (gram)


Tanaman
sambiloto
(digabung)

Akar

Batang

Daun

76,85 g

124,58 g

Bunga
-

E. PEMBAHASAN
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk dapat melakukan budidaya
tanaman obat, yaitu meliputi penanaman, pemeliharaan serta pemanenan.
Budidaya tanaman obat pada merupakan suatu cara pengelolaan sehingga
suatu tanaman obat dapat mendatangkan hasil tinggi dan bermutu baik.
Keadaan ini bisa terjadi jika tanaman dapat tumbuh pada lingkungan yang
sesuai, misal pada kesuburan tanah sepadan, iklim yang sesuai dengan
teknologi tepat guna. Pada praktikum ini dilakukan pada bedengan dengan
jenis tanaman yang ditanam adalah herba sambiloto atau Andrographis
paniculata Nees. Berikut klasifikasinya :
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Scrophulariales

Famili: Acanthaceae
Genus: Andrographis
Spesies: Andrographis paniculata Nees

(Anonim,

2012)
Penanaman dilakukan pada suatu bedengan dengan tujuan untuk
mengatur jarak tanam dan mencegah akar tanaman sambiloto tidak
tergenang air. Lebar bedengan untuk budidaya idealnya antara 100-120
cm. Sementara itu panjang bedengan tergantung pada kondisi lahan.
Tinggi bedengan hendaknya disesuaikan dengan musim. Saat musim
kemarau tinggi bedengan antara 30-40 cm dan saat musim penghujan
keyinggiannya dapat ditinggikan menjadi 50-70 cm. Jarak antar bedengan
adalah 50 cm atau 75 cm, tergantung dari musim. Jika musim penghujan,
jarak antar bedengan diperlebar. Fungsinya untuk menghindari penyebaran
bibit penyakit. Pada praktikum ini lebar bedengan antara 90-100 cm, tinggi
20-30 cm dengan panjang 200-250 cm. Keuntungan dari bentuk bedengan
adalah: Perawatan tanaman mudah dilakukan dan mudah dikontrol, karena
dedaunan tanaman dan buah terletak pada tempat yang mudah dilihat.
Pada areal lahan penanaman yang sempit, relatif lebih banyak dapat
menampung tanaman. Risiko rusaknya tanaman akibat teknis dan
gangguan hama pada buah relatif kecil. Sebab, tanaman tidak akan terinjak
saat melakukan penyerbukan buatan dan buah tidak terletak di atas permukaan tanah yang sangat disenangi hama dan penyakit.
Tahapan selanjutnya dalam budidaya tanaman obat adalah tahap
penanaman. Sambiloto termasuk dalam tanaman terma, yakni tanaman
berbatang basah, sehingga saat paling tepat untuk menanam sambiloto
adalah sebaiknya dilakukan pada sore hari. Hal ini akan memungkinkan
tanaman untuk beradaptasi terlebih dahulu (belum terkena sinar matahari
berlebih), sehingga pada saat pagi hari sudah siap untuk menerima sinar
matahari dari lingkungan. Selain itu juga untuk menghindari panas
matahari sewaktu siang hari yang dapat menyebabkan bibit layu.
Tahapan selanjutnya adalah pemupukan. Pupuk yang digunakan adalah
feses kambing. Kotoran kambing yang dianjurkan adalah kotoran kambing
yang telah dikomposkan dahulu sebelum digunakan hingga pupuk menjadi
matang. Ciri-ciri kotoran kambing yang telah matang suhunya dingin,

10

kering dan relatif sudah tidak bau. Kotoran kambing memiliki kandungan
K yang lebih tinggi dibanding jenis pupuk kandang lain. Pupuk ini sangat
cocok diterapkan pada paruh pemupukan kedua untuk merangsang
tumbuhnya bunga dan buah. Kotoran kambing merupakan jenis pupuk
panas dimana perubahan-perubahan dalam menyediakan unsur hara
tersedia bagi tanaman berlangsung cepat. Jasad renik melakukan
perubahan-perubahan aktif disertai pembentukan panas (Lingga, 2006).
Kotoran kambing mempunyai komposisi unsur hara sebagai berikut :
Wujud
(%)
Padat
Cair
Total

bahan

H2O

P2O5

K2O

(%)
(%)
(%)
(%)
67
60
0,75
0,50
0,45
33
85
1,35
0,05
2,10
69
0,95
0,35
1,00
( Sutedjo, 2002)
Pada praktikum ini digunakan feses kambing yang telah matang.
Pemupukan dilakukan setelah penanaman, dengan menaburkan pupuk
disekitar tanaman secara merata pada keseluruh area bedengan.
Selanjutnya dilakukan pemeliharaan dengan dilakukan
penyiraman secara rutin setiap minggunya. Penyiraman dilakukan
hanya sampai pada tahap membasahkan tanah, tanpa menggenangkan
tanah dengan air serta tak membasahi daun. Hal ini bertujuan untuk
menjaga bahwa penyerapan air optimal serta daun terhindar dari proses
pelukaan akibat adanya air yang menempel yang akan menyebabkan
daun menjadi terluka apabila air tersebut mendidih akibat terpapar
sinar matahari.
Tahap selanjutnya adalah pengukuran parameter tumbuh
tanaman, yakni antara lain: tinggi tanaman, pH, Rh, serta intensitas
cahaya matahari. Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan produksi tanaman adalah iklim meliputi cahaya,
curah hujan, suhu udara, lingkungan atmosfer (CO2, O2, kelembaban)
dan lingkungan perakaran (fisik, kimia, air). Oleh karena itu apabila
kondisi lingkungan tersebut kurang sesuai bagi pertumbuhan tanaman
perlu dilakukan modifikasi sehingga dicapai suatu tingkat toleransi
yang

diinginkan.

Selama

pertumbuhan

tanaman

sambiloto

11

menghendaki banyak sinar matahari. Namun demikian tanaman ini


masih tumbuh dan berproduksi dengan baik pada kondisi ternaungi
sampai 30%. Tetapi jika budidaya dilakukan dengan kondisi naungan
diatas 30%, mutu simplisia sambiloto cenderung menurun. Jenis tanah
Sambiloto mampu tumbuh hampir pada semua jenis tanah. Pada
habitat alamnya, sambiloto ditemui hutan-hutan pada kondisi solum
tanah yang dangkal. Namun demikian, untuk menghasilkan produksi
yang maksimal, diperlukan kondisi tanah yang subur, seperti Andosol
dan Latosol. Dari hasil pengukuran, tinggi tanaman adalah antara 7-30
cm, pH lingkungan rata-rata adalah 3,79 , Rh lingkungan rata-rata
adalah 89, serta intensitas cahaya rata-rata sebesar 1340.
Tahap terakhir yang dilakukan adalah pemanenan. Panen yang
baik dilakukan sebelum tanaman berbunga, yakni sekitar 2 - 3 bulan
setelah tanam. Panen dilakukan dengan cara memangkas batang utama
sekitar 10 cm diatas permukaan tanah. Panen berikutnya dapat
dilakukan 2 bulan setelah panen pertama. Biomas hasil panen
dibersihkan, daun dan batang kemudian dijemur pada suhu 40 - 50C
sampai

kadar

air 10 %. Penyimpanan ditempatkan dalam wadah tertutup sehingga


tingkat kekeringannya tetap terjaga. Pada praktikum panen dilakukan
setelah kurang lebih 2 bulan penanaman, panen dilakukan dengan
mencabut tanaman sampai pada akar, karena akan dilakukan
pengukuran parameter berupa bobot basah tanaman serta bobot kering
tanaman. Setelah dilakukan pemanenan, tanaman dihitung bobot
masing-masing daun, batang dan akar kemudian dikeringkan dengan
menggunakan oven suhu 400-500C selama 2 hari. Setelah kering
disimpan pada pengemas kertas dengan diberi label dan terlebih
dahulu ditimbang bobot kering tanaman.
Adanya perbedaan hasil pertumbuhan (dilihat dari tinggi
tanaman) dapat dikarenakan bibit awal yang memang tidak seragam
tingginya, atau hambatan tumbuh yang ditemui tanaman tertentu akibat
adanya gulma atau pengganggu yang lain.

12

Selain

mengamati

parameter

budidaya,

dilakukan

juga

pengamatan terhadap kualitas hasil budidaya, yakni dilakukan


perbandingan dengan teknik budidaya lain, yakni dengan perbedaan
pemberian pupuk. Pada praktikum ini dilakukan perbandingan dengan
teknik budidaya menggunakan pupuk NPK. Berdasarkan parameter
yang diamati yakni tinggi tanaman dan bobot kering serta bobot basah
tanaman, hasil lebih baik ditunjukkan oleh budidaya dengan
menggunakan pupuk NPK. Hal ini dapat dikarenakan adanya unsur
hara yang dimiliki oleh pupuk NPK lebih memadai sehingga mampu
memicu pertumbuhan tanaman sambiloto menjadi lebih optimal. Pada
hal ini pupuk NPK lebih baik digunakan pada budidaya tanaman
sambiloto.
Hal lain yang diamati pada budidaya tanaman obat adalah
adanya jenis gulma, serangga pengganggu, jamur dan bakteri serta
tingkat kesusahan organ tertentu. Gulma yang tumbuh disekitaran
bedengan adalah rumput, bayam, kenikir, kangkung serta gulma tak
teridentifikasi lain. Adanya gulma akan mempengaruhi pertumbuhan,
gulma akan menjadi pesaing dalam pengambilan unsur hara tanaman,
air serta lahan tumbuh. Sedang serangga pengganggu yang ditemui
adalah semut hitam dan belalang. Semut hitam tidak terlalu
berpengaruh pada perusakan tanaman, sedangkan belalang akan dapat
memakan tanaman budidaya. Pada praktikum tidak terlihat adanya
cemaran jamur dan bakteri secara makroskopi, serta secara umum
tidak terdapat kesulitan tertentu yang ditemui pada saat budidaya
dikarenaka sambiloto merupakan tanaman yang mampu tumbuh
dengan baik pada berbagai kondisi tumbuh (tidak rentan pada kondisi
tertentu).
I.

KESIMPULAN
1. Budidaya tanaman sambiloto dapat dilakukan pada kondisi dimana
intensitas sinar sebesar 1340, pH dan Rh tanah sebesar 3,79 dan 89,
serta dengan pemupukan menggunakan feses kambing.

13

2. Pupuk yang lebih optimal digunakan pada budidaya sambiloto


adalah pupuk NPK.
3. Walaupun ditemukan adanya beberapa gulma dan hama, namun
sambiloto tetap mampu tumbuh dengan baik.

II.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2012, Sambiloto

Andrographis

paniculata

http://www.plantamor.com/user/index.php?plant=96,
diakses 14 Desember 2014
Anonim,
2014,
Budidaya

Nees
diakses

Tanaman

Obat,

http://www.riyawan.com/2014/05/budidayatanamanobat.html#.
VI11ztgxhf4, diakses 14 Desember 2014
Anonim, 2014, Persiapan Lahan Untuk Budidaya Semangka,
http://tutorialbudidaya.blogspot.com/2014/01/persiapan-lahanuntuk-budidaya-semangka_3.html, diakses 14 Desember 2014
Lingga, Pinus., 2006, Petunjuk Penggunaan Pupuk, Penebar Swadaya,
Depok
Sutejo, Mul Mulyani, 2002, Pupuk dan Cara Pemupukan, PT. Rineka
Cipta, Jakarta

Yogyakarta, 15 Desember 2014


Praktikan,

Eky Sulistyawati FA/08708


Putri Kharisma FA/08715