Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR II

SEMESTER II
2012

Disusun Oleh :
FAMANIL YULYENTRI
11/313279/PA/13666
GEOFISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA
MEI 2012
YOGYAKARTA

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR II


OSILOSKOP II

I.

II.

PENDAHULUAN
Osiloskop adalah serangkaian alat elektronik untuk melihat bentuk sinyal
tegangan, mengukur harga tegangan, dan mengukur durasi atau frekuensi bila
sinyal tegangannya berulang secara periodic. Alat elektronik ini digunakan
dimana-mana dalam berbagai macam bidang. Keunggulannya yaitu osiloskop
dapat menunjukkan perilaku atau gerak mekanis dari suatu gelombang.
Saat ini macam osiloskop yang beredar banyak sekali. Mulai dari yang
paling sederhana hingga yang paling rumit. Pabrik-pabrik yang mengeluarkan
dan memproduksi osiloskop pun tidak banyak. Tapi bagaimanapun beranekaragamnya osiloskop yang diproduksi mempunyai satu sifat dasar yang sama,
yaitu semua osiloskop mampu menuliskan kelakuan tegangan listrik.
Dalam melakukan suatu percobaan lain yaitu berkaitan dengan
elektronika biasanya praktikan menggunakan alat ini sehingga pengetahuan
penggunaan osiloskop ini sangat penting bagi para praktikan. Pada praktikum
pertama ini, praktikan menggunakan osiloskop yang majemuk, yaitu hanya
melukiskan satu peristiwa, namun pada saat yang sama dua peristiwa
sekaligus.
Semua alat ukur elektronik bekerja berdasarkan sempel data. Semakin
tinggi sempel data, semakin akurat peralatan elektronik tersebut. Osiloskop
pada umumnya juga mempunyai sempel data yang sangat tinggi, oleh karena
itu osiloskop merupakan alat ukur elektronik yang mahal.jika sebuah osiloskop
mempunyai sampai rate 10 sk/s (10 kilosample/second = 10.000 data per
detik), maka alat ini akan melakukan pembacaan sebanyak 10.000 kali dalam
sedetik.
TUJUAN
1) Mengoperasikan osiloskop berkas dua.
2) Mengukur dua tegangan.
3) Mengukur dua tegangan yang identik.
4) Mengukur dua tegangan yang berbeda.
5) Mengukur frekuensi.
6) Mengamati beda fase.

III. DASAR TEORI


Osiloskop merupakan alat yang digunakan untuk menganalisa tingkah
laku besaran yang berubah-ubah terhadap waktu yang ditampilkan pada layar.
Dalam osiloskop terhadap tabung panjang yang disebut tabung sinar katoda
atau Cathode Ray Tube (CRT). Bagian-bagian pokok CRT seperti tampak pada
gambar.1.
Electron dipancarkan dari katoda akan menumbuk bidang gambar yang
dilapisi zat yang bersifat flourecent. Bidang gambar ini berfungsi sebagai
anoda. Arah electron ini dapat dipengaruhi oleh medan listrik dan medan yang

mempengaruhi gerak electron magnetic. Umumnya osiloskop kearah anoda.


Medan sinar katoda mengandung medan gaya listrik dihasilkan lempeng
kapasitor yang dipasang secara vertical, maka akan terbentuk garis lurus
vertical pada bidang atau dinding gambar. Selanjutnya jika pada lempeng
horizontal dipengaruhi tegangan periodic, maka electron yang padanya
bergerak secara vertical kini juga bergerak secara horizontal dengan laju tetap,
sehingga pada gambar terbentuk grafik sinusoida.

2 3 4

10

Gambar.1. Bagian-bagian pokok tabung sinar katoda

Keterangan:
1. Pemanas atau filament
2. Katoda
3. Kisi pengatur
4. Anoda pemusat
5. Anoda pemercepat
6. Pelat untuk simpanan horizontal
7. Anoda untuk simpangan vertical
8. Lapisan logam
9. Berkas sinar katoda
10. Layar fluorgensi
IV. METODE PERCOBAAN
A. Peralatan
1. Osiloskop Trio CS-1022 26 MHz
2. Dua buah osilator AG-202A
3. 3 buah Resistor (1 k

4. 1 buah Capasitor (10


5. 1 buah CT
6. Kabel
B. Skema Percobaan
1. Percobaan pengoperasian osiloskop berkas dua

GND

OUT

CH1
CH2

GND

Gambar.2. Rangkaian percobaan pengoperasian osiloskop berkas dua

2. Percobaan pengukuran dua tegangan

GND

OUT

CH1
CH2

GND

Gambar.3. Rangkaian percobaan pengukuran dua tegangan

3. Percobaan pengukuran dua tegangan yang identic

GND

OUT

CH1

CH2

GND

Gambar.4. Rangkaian percobaan pengukuran dua tegangan yang identic

4. Percobaan pengukuran dua tegangan yang berbeda

GND

Cara 1

OUT

CH1
GND

CH2

R1

R2

Gambar.5. Rangkaian percobaan pengukuran dua tegangan yang berbeda


menggunakan cara 1

GND

Cara 2

OUT

CH1
GND

CH2

R1

R2

Gambar.6. Rangkaian percobaan pengukuran dua tegangan yang berbeda


menggunakan cara 2

GND

Cara 3

OUT

CH1
CH2

R1

GND

R2

Gambar.7. Rangkaian percobaan pengukuran dua tegangan yang berbeda


menggunakan cara 3

5. Percobaan pengukuran frekuensi

GND

OUT

GND

OUT

CH1
CH2

GND

Gambar.8. Rangkaian percobaan pengukuran frekuensi

6. Percobaan pengamatan beda fase

CH1
GND

OUT

CH2

Gambar.9. Rangkaian percobaan pengamatan beda fase

C. Tata Laksana
1) Pengukuran osiloskop berkas dua
a. Rangkaian dirangkai sesuai dengan skema Gambar.2
b. GND disambungkan pada osilator ke GND osiloskop
c. Output disambungkan pada osilator ke CH2 (sinyal B)
d. Output disambungkan pada CH1 osiloskop (sinyal A)
e. F diatur hingga 50 Hz
f. Dipasang sebesar 5 volt/DIV
g. Saklar dikasar pada AC

GND

h. Trigger time diatur dengan cara diubah-ubah

2) Pengukuran dua tegangan


a. Rangkaian dirangkai sesuai dengan skema Gambar.3
b. Saklar dipasang pada AC
c. F diatur sebesar 50 Hz
d. Diatur sebesar 5 time/div pada CH1 (sinyal A)
e. Diatur sebesar 2 volt/div pada CH2 (sinyal B)
f. Output generator diatur untuk menghasilkan A sebesar 1
3) Pengukuran dua tegangan yang identic
a. Rangkaian dirangkai sesuai dengan skema Gambar.4
b. F diubah menjadi 1 KHz
c. CH1 diatur pada 5 volt/div
d. CH2 diatur pada 5 volt/div
e. Trigger time diubah dan disesuaikan dengan gambar
dilayar positive atau negative
f. Gelombang sinyal A dipastikan 1 cm pada garis tengah dan
sinyal B dibawah garis tengah
g. Sinyal A dilepaskan dari CH1, kemudian peredarannya
diamati
h. Apabila sinyal B dilepaskan, amati perubahannya
i. Setiap perubahan gelombangnya diamati
4) Pengukuran dua tegangan yang berbeda
Cara 1:
a. Rangkaian dirangkai sesuai dengan skema Gambar.5
b. Output pada asilator disambungkan ke R1 (1 k
c. GND pada osilator dihubungkan ke R2 (1,5 K
d. GND pada osilator dihubungkan ke GND osiloskop
e. Output pada osilator dihubungkan ke CH2 (sinyal B)
f. Resistor dihubungkan ke CH1
g. Rangkaian diamati apakah sudah terpasang dengan benar
atau tidak
h. Gelombang pada layar diamati dan digambar
Cara 2:
a. Rangkaian dirangkai sesuai dengan skema Gambar.6
b. GND pada osilator dihubungkan ke R2 (1,5 k
c. Output pada osilator dihubungkan ke R1 (1 k
d. R2 dihubungkan ke CH2 (sinyal B)

e. R1 dihubungkan ke GND pada osiloskop


f. Resistor dihubungkan ke CH1
g. Rangkaian diperhatikan apakah sudah terbasang dengan
benar atau belum
h. Gelombang pada layar diamati dan digambar
Cara 3:
a. Rangkaian dirangkai sesuai dengan skema Gambar.7
b. Output pada asilator disambungkan ke R1 (1 k
c. R1 dihubungkan dengan CH1 (sinyal A)
d. GND dihubungkan pada osilator ke R2 (1,5 k
e. R2 dihubungkan ke CH2 (sinyal B)
f. GND dihubungkan ke osiloskop
g. Rangkaian diamati apakah sudah terpasang dengan benar
h. Gelombang pada layar diamati dan digambar
5) Pengukuran frekuensi
a. Rangkaian dirangkai sesuai dengan skema Gambar.8
b. Output pada osilator 1 dihubungkan ke CH2
c. GND pada osilator 1 dihubungkan pada osiloskop
d. Output pada osilator 2 dihubungkan pada CH1 (sinyal A)
e. GND pada osilator 2 dihubungkan ke GND pada osiloskop
f. Pada pengukuran ini yang diubah adalah frekuensinya
g. Frekuensi diatur dengan perbandingan yang sudah
ditentukan
h. Diatur 5 volt/div pada sinyal A
i. Diatur 5 volt/div pada sinyal B
j. Rangkain diperhatikan dan diamati apakah sudah
terpasang dengan benar
k. Gelombang pada layar diamati dan digambar
6) Pengamatan beda fase
a. Rangkaian dirangkai sesuai dengan skema Gambar.9
b. Yang diukur adalah beda fase menggunakan transformator
c. Output pada osilator dihubungkan ke transformator
d. GND pada osilator dihubungkan ke transformator
e. Dihubungkan ke R1
f. GND dihubungkan pada osiloskop
g. Dihubungkan ke C
h. C dihubungkan ke CH2 (sinyal B)
i. Dihubungkan ke CH1 (sinyal A)
j. Mode diubah ke X-Y
k. Volt/div diatur menjadi 5 pada sinyal A
l. Volt/div diatur menjadi 5 pada sinyal B
m. F diatur sebesar 50 Hz
n. Rangkaian diamati apakah sudah benar
o. Gelombang pada layar osiloskop diamati dan digambar

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Grafik dan Perhitungan
1. Pengoperasian Scope Berkas Dua
Volts/div
Sweep time/div
Frekuensi

:1V
: 5 mS
: 50 x 1 Hz

Grafik 1.1 Pengoperasian Scope Berkas Dua

Volts/div
Sweep time/div
Frekuensi

:1V
: 5 mS
: 20 x 10 Hz

Grafik 1.2 Pengoperasian Scope Berkas Dua

Volts/div
Sweep time/div
Frekuensi

:1V
: 5 mS
: 20 x 10 Hz

Grafik 1.3 Pengoperasian Scope Berkas Dua


2. Pengukuran Dua Tegangan

Volts/div
Sweep time/div
Frekuensi
Hz

:1V
: 5 mS
: 50 x 1

Grafik 2.1 Pengukuran Dua Tegangan

Volts/div

Sweep time/div
Frekuensi

: CH1 : 1 V
CH 2: 0.5 V
: 5 mS
: 50 x 1 Hz

Volts/div
Sweep time/div
Frekuensi

:1V
: 5 mS
: 50 x 1 Hz

Grafik 2.2 Pengukuran Dua Tegangan


3. Pengukuran Dua Tegangan yang Identik

Grafik 3.1 Pengukuran Dua Tegangan yang Identik


4. Pengukuran Dua Tegangan yang Berbeda

Cara 1
Volts/div
Sweep time/div
Frekuensi

:1V
: 0.5 mS
: 50 x 1 Hz

Grafik 4.1 Pengukuran Dua Tegangan yang Berbeda menggunakan


cara 1

Cara 2
Volts/div
Sweep time/div
Frekuensi

:1V
: 0.5 mS
: 50 x 1 Hz

Grafik 4.2 Pengukuran Dua Tegangan yang Berbeda mengguakan


cara 2

Cara 3
Volts/div
Sweep time/div
Frekuensi

:1V
: 0.5 mS
: 50 x 1 Hz
: 2 div
: 4 div

Grafik 4.3 Pengukuran Dua Tegangan yang Berbeda menggukana


cara 3

Cara Kapasitor

Volts/div
Sweep time/div
Frekuensi

: CH1 : 1 V
CH2 : 2 V
: 5 mS
: 50 x 1 Hz
: 1 div

Grafik 4.4 Pengukuran Dua Tegangan yang Berbeda cara


mengguanakan cara Kapasitor
5. Pengukuran Frekuensi

Perbandingan 1:1
Volts/div
Sweep time/div
Frekuensi
T1
T2
Grafik 5.1 Pengukuran Frekuensi perbandingan 1:1

Perbandingan 1:2

:1 V
: 0.5 mS
: O1: 30 Hz
O2: 30 Hz
: 6 x 0.5 = 3
: 6 x 0.5 = 3

Volts/div
Sweep time/div
Frekuensi
T1
T2

:1V
: 0.5 mS
: O1 : 30 Hz
O2 : 60 Hz
: 6 x 0.5 = 3
: 3 x 0.5 = 1.5

Grafik 5.2 Pengukuran Frekuensi perbandingan 1:2

Perbandingan 1:3
Volts/div
Sweep time/div
Frekuensi
T1
T2

:1V
: 0.5 mS
: O1 : 30 Hz
O2 : 90 Hz
: 6 x 0.5 = 3
: 2 x 0.5 = 1

Grafik 5.3 Pengukuran Frekuensi perbandingan 1:3

Perbandingan 2:3

Volts/div
Sweep time/div
Frekuensi
T1
T2

:1V
: 0.5 mS
: O1 : 20 Hz
O2 :30 Hz
: 9 x 0.5 = 4.5
: 6 x 0.5 = 3

Grafik 5.4 Pengukuran Frekuensi perbandingan 2:3


6. Pengukuran Beda Fase
Volts/div
:1V
Sweep time/ div : 0.5 mS
Frekuensi
: 20 x 1 Hz
A. Pembahasan
1. Pengoperasian Scope Berkas Dua
Pada eksperimen ini untuk pengoperasi scope berkas dua
setelah mengikuti tata laksana yang ada dan skema yang ada maka
dilayar scope akan tampil dua grafik (berkas dua) yang memiliki
bentuk dan kelakuan yang sama. Dapat dilihat pada grafik
gelombang siosinida yang dihasilkan sama. Hal ini disebabkan

kedua input berasal dari sumber yang sama yaitu osilator. Pada
CH1 atau sinyal A dihubungkan ke output osilator begitu juga pada
CH2 atau sinyal B dihubungkan pada output osilator. Pada
eksperimen ini menghasilkan gelombang berjalan. Ini merupakan
percobaan yang pertama dari pengoperasian scope berkas dua.
Dengan mengatur volt/div = 5 pada CH1 (sinyal A) dan CH2 (sinyal
B) dan memiliki frekuensi 50 Hz. Dengan mode di auto dan
geserlah coupling pada AC. Maka terbentuklah dua grafik (berkas
dua) sesuai dengan gambar grafik yang ada. Pada eksperimen ini
juga berarti dapat membuktikan pada tujuan pertama
mengoperasikan scope berkas dua.
2. Pengukuran Dua tegangan
Untuk eksperimen kedua ini mengukur dua tegangan pada
CH1 (sinyal A) dan CH2 (sinyal B), perlu dibuat dalam keadaan
atau kondisi yang sama antara CH1 dan CH2. Caranya dengan
memberikan tegangan frekuensi yang sama pada CH1 dan CH2
sebesar 50 Hz untuk kedua sinyal tersebut. Dengan kondisi yang
sama, akan mengakibatkan terbentuknya kedua berkas yang sama,
akan mngakibatkan terbentuknya kedua berkas yang sama dan
berkelakuan sama pula. Ketika volt/div pada CH2 (sinyal B)
divariasikan dari 1 ke volt grafik Yb akan semakin membesr.
Perbesaran ini akan sebanding dengan perbandingan terhadap
nilai awal. Artinya grafik Yb berada di tempat semula. Skala
perbandingan yang dihasilkan antara Ya dan Yb adalah 2. Dengan
factor perbesaran gambar Yb terhadap Ya (antara gelombang atas
dengan yang bawah) dapat dihitung sebagai berikut:

Keterangan:
Ya = Amplitudo Gelombang Atas = 2
Yb = Amplitudo Gelombang Bawah = 4
Hal ini sesuai dengan prinsip untuk mencari tegangan pada
scope yaitu volt = volt/div x amplitude dimana tegangan input
pada eksperimen ini adalah tetap sama.
3. Pengukuran Dua Tegangan yang Identik
Pada eksperimen ini digunakan volts/div sebesar 1 volt,
sweep time/div sebesar 5 ms dan frekuensi 50x1. Dalam pengukuran
dua tegangan yang identic ini, pengoperasian scope berkas dua lebih
diuji sehingga dapat lebih diperjelas kegunaan scope yang
menampilkan dua berkas. Pada pengukuran dua tegangan yang
identic ini berkas yang ditampilkan di layar sama besarnya, input
tegangan yang dipasang pun sama besarnya. Kedua hal ini tidak
terlihat pengaruhnya karena tegangannya sama. Dan jika sinyal A

dibuang/dihilangkan, berkas pada layar tidak akan sama lagi, karena


pada A tidak ada tegangan yang masuk.
4. Pengukuran Dua Tegangan yang Berbeda
Dalam eksperimen pengukuran dua tegangan yang identic
ini digunakan 3 cara dan satu cara kapasitor. Pada cara satu untuk
dapat mengukur tegangan yang ada pada rangkaian ini, pertama perlu
ditinjau lebih dahulu skema rangkaian tersebut. Jika dianalisa, terlihat
bahwa Ya mewakili R1 dan R2 karena melewati keduanya. Dan Yb
mewakili resistor. R1 pada ujung Ya terdapat nilai V total atau Vpp
karena sudah melewati kedua resistor (R1 dan R2). Sedangkan pada
ujung Ya hanya memiliki nilai V2 karena hanya melewati resistor R2.
Lalu menggunakan persamaan sederhana, dapat diketahui nilai V1
melalui persamaan Vpp=V1+V2. Pada cara pertama, didapatkan:
Volts/div
:1V
Sweep time/div : 0.5 mS
Frekuensi
: 50 x 1 Hz
Ya
:2
Yb
:5
CH 1 R2 V2
CH 2 R1 + R2 V1 + V2 = Vpp
V1 = Vpp + V2
Dengan meninjau rangkaian yang ada, dapat diketahui
bahwa rangkaian dua ini merupakan kebalikan dari rangkaian satu.
Pada rangkaian ini yang Ya terhubung pada kedua resistor (R1 dan
R2) sedangkan ujung Yb hanya terhubung pada R2. Selain itu, hal ini
dapat dibuktikan melalui bentuk gelombang yang tampak pada layar
scope. Gelombang CH1 pada rangkaian dua berbentuk lebih kecil
dibandingkan dengan pada rangkaian satu dan gelombang CH2
berbentuk lebih kecil dibandingkan dengan pada rangkaian dua.
Namun, nilai V1 dan V2 ini tidak mempengaruhi nilai Vpp karena
untuk mencari Vpp adalah menjumlahkan V1 dan V2. Pada cara dua,
didapatkan:
Volts/div
:1V
Sweep time/div : 0.5 mS
Frekuensi
: 50 x 1 Hz
Ya
:3
Yb
:5
CH 1 R1 V1
CH 2 R1 + R2 V1 + V2 = Vpp
V2 = Vpp V1
Pada cara ketiga, konsep yang terdapat pada rangkaian ini
masih sama seperti rangkaian-rangkaian sebelumnya. Skema
menunjukan bahwa Ya mewakili R1 dan Yb mewakili R2. Ujung Ya
bernilai V1 dan ujung Yb bernilai V2, sehingga dapat diperoleh Vpp
dan penjumlahan keduanya. Pada cara ketiga, didapatkan:
Volts/div
:1V

Sweep time/div : 0.5 mS


Frekuensi
: 50 x 1 Hz
Ya
:3
Yb
:2

:2

:4
CH 1 R1 V1
CH 2 R2 V2
Untuk cara keempat, mode yang digunakan berbeda dengab
eksperimen-eksperimen sebelumnya yaitu penggeseran dari normal
ke X-Y, sebenarnya hal ini untuk mempermudahkan kita untuk
menghitung beda fase nya. Tapi tidak menuntut kemungkinan dengan
mode Normal tidak dapat menghitung beda fase. Tegangan pada
ujung-ujung C sama dengan tegangan total V. demikian pula besar
tegangan pada ujung-ujung R adalah pengukuran besar arus yang
melalui saluran rangkaian, dan yang melalui kapasitor C. Pada cara
keempat ini, didapatkan:
Volts/div
: CH 1 : 1 V
CH 2 : 2 V
Sweep time/div : 0.5 mS
Frekuensi
: 50 x 1 Hz

:1
5. Pengukuran frekuensi
Pada eksperimen pengukuran frekuensi ini, digunakan dua
buah osilator dimana yang dihubungkan ke scope agar dapat terlihat
perbedaan masukan antara osilator pertama dan kedua yang akan
ditampilkan pada layar. Pada eksperimen ini digunakan empat
perbandingan masukkan frekuensi, yaitu 1:1, 1:2. 1:3, dan 2:3,
sehingga input yang dimasukkan adalah 30 Hz:30 Hz, 30 Hz:60 Hz, 30
Hz:90 Hz, dan 20 Hz:30 Hz. Dengan begitu dapat dilihat perbedaan
yang sangat jelas sehingga pengukuran frekuensi pun dapat dilihat
dan diukur dengan jelas. Pada berkas yang dihasilkan di layar,
dihitung jarak antara puncak gelombang, yang disebut T1 (jarak antar
puncak pada gelombang pertama CH1 ) dan T2 (jarak antar puncak
pada gelombang kedua CH2). T1 dan T2 dihitung dengan rumus:

Setelah keempat perbandingan diuji, didapatkan hasil


sebagai berikut:
1:1
T1 = 6 x 0.5 = 3
T2 = 6 x 0.5 = 3

1:2
T1 = 6 x 0.5 = 3
T2 = 3 x 0.5 = 1.5
1:3
T1 = 6 x 0.5 = 3
T2 = 2 x 0.5 = 1
2:3
T1 = 9 x 0.5 = 4.5
T2 = 6 x 0.5 = 3
Sedangkan akan didapatkan hasil yang jika diuji
menggunakan rumus berikut:

Maka, didapatkan:
1:1
T1 = 1/30 = 0.033
T2 = 1/30 = 0.033
1:2
T1 = 1/30 = 0.033
T2 = 1/60 = 0.016
1:3
T1 = 1/30 = 0.033
T2 = 1/90 = 0.011
2:3
T1 = 1/20 = 0.050
T2 = 1/30 = 0.033
6. Pengukuran Beda fase
Pengukuran beda fase ini berbeda dengan eksperimeneksperimen sebelmnya. Pada eksperimen ini menggunakan trafo
sebagai transformator. Namun pada eksperimen ini juga digunakan
scope, osilator, resistor, dan kapasitor, sama seperti eksperimeneksperimen sebelumnya. Besaran input tegangan, time, dan frekuensi
divariasikan hingga dihasilkannya berkas berupa lingkaran atau elips
pda layar. Namun pada saat diuji, berkas yang didapatkan tidak jelas
dan tidak berbentuk. Hal ini terjadi karena adanya distorsi. Distorsi
adalah peristiwa kesalahan yang diakibatkan oleh alat ataupun
praktikan.
VI. KESIMPULAN

A. Pada praktikum osilokop, perlu diperhatikan lebih mendalam terutama


mengenai kalibrasi alat serta cara menggunakan scope. Karena beberapa
peralatan elektronika terkadang cukup sensitive saat digunakan sehingga
dapat memberikan hasil yang kurang objektif.
B. Manfaat utama osiloskop yang memiliki dua electron dan dua lubang
input yaitu mampu menampilkan secara tepat berkas-berkas yang
mewakili tegangan dari dua sumber berbeda baik yang identic maupun
yang berbeda.
C. Semakin kecil setelah volts/div, maka berkas yang dihasilkan akan
semakin besaramplitudonya, begitu juga sebaliknya.
D. Osiloskop dapat digunakan untuk mengetahui suatu frekuensi sumber
yang belum diketahui dengan menetapkan frekuensi standard dari
sumber lain.
E. Pada Pengukuran Beda Fase terjadi distorsi yang dikarenakan kesalahan
pada alat, baik pada osiloskop, generator, resistor, kapasitor, ataupun
trafo yang digunakan.
VII. DAFTAR PUSTAKA
Staf Laboratorium Fisika Dasar. 2011. Panduan Praktikum Fisika
Dasar II. Yogyakarta : Laboratorium Fisika Dasar UGM.
id.wikipedia.org/wiki/osiloskop
VIII. PENGESAHAN

Asisten,

(Arief Gunawan)

Yogyakarta, 23 Mei 2012


Praktikan,

(Famanil Yulyentri)
11/313279/PA/13666