Anda di halaman 1dari 61

SUBDIT

TEKNIK
JEMBATAN
DIREKTORAT BINA TEKNIK
DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA

PERENCANAAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN

Makassar, 6 Mei 2013

MATERI BAHASAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

ACUAN
UMUR RENCANA DAN BAHAN
KONSEP PERANCANGAN
LANGKAH LANGKAH PERANCANGAN
GEOMETRI STR BAWAH JEMBATAN
KEPALA JEMBATAN
PILAR JEMBATAN
PEMBEBANAN
KOMBINASI BEBAN

1. ACUAN
Perancangan Bangunan bawah jembatan harus didasarkan
pada peraturan dan ketentuan yang berlaku:

Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan, BMS, 1992.

Pembebanan Untuk Jembatan (SK.SNI T-02-2005),

Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan (SK.SNI T-122004),

Perencanaan struktur baja untuk jembatan (SK.SNI T-032005),

Perencanaan Beban Gempa Untuk Jembatan, (Pd.T-04-2004-B ).

2. UMUR RENCANA DAN BAHAN


Bangunan Bawah Jembatan
Umur rencana
Umur rencana jembatan disyarankan tidak kurang dari 50 tahun. Umur rencana
dipengaruhi oleh material/bahan jembatan dan aksi lingkungan yang
mempengaruhi jembatan. Jembatan dengan umur rencana lebih panjang harus
direncanakan untuk aksi yang mempunyai periode ulang lebih panjang.

Bahan Jembatan
Bahan utama kepala dan pilar jembatan ditentukan berdasarkan bentuk dan
tinggi pilar/kepala jembatan, lokasi, dan umur rencana jembatan. Penggunaan
bahan khusus harus melalui uji material untuk mengetahui karakteristik dan
sifat-sifat fisiknya. Secara umum kepala dan pilar jembatan dapat
menggunakan bahan: Beton bertulang dan Baja
Mutu Beton ( fc ) ( Mpa)

25

30

40

50

60

Kuat Tekan (kg/cm2)

250

300

400

500

600

Jenis Baja

Tegangan putus min., fu [MPa]

Tegangan leleh min, fy [MPa]

BJ 37

370

240

BJ 41

410

250

BJ 50

500

290

3. KONSEP PERANCANGAN
1. Memiliki dimensi yang ekonomis
2. Terletak pada posisi yang Aman, terhindar dari
kerusakan akibat :Kikisan Arus air, penurunan
tanah, longsoran global dan gempa
3. Kuat menahan beban berat struktur atas , beban
lalu lintas ,beban angin dan beban gempa.
4. Kuat menahan tekanan air mengalir, tumbukan
benda hanyutan, tumbukan kapal, dan tumbukan
kendaraan

4. LANGKAH LANGKAH
PERANCANGAN
1. Menentukan letak Kepala jembatan dan pilar, berdasarkan Bentuk
penampang sungai, permukaan air banjir, jenis aliran sungai, dan
statigrafi tanah.
2. Menetukan bentuk dan dimensi awal kepala dan pilar jembatan yang
sesuai dengan ketinggian dan kondisi sungai.
3. Menentukan bentuk pondasi yang sesuai dengan kondisi tanah dibawah
kepala dan pilar jembatan
4. Menentukan beban-beban yang bekerja pada kepala dan pilar
jembatan.
5. Melakukan perhitungan mekanika teknik untuk mendapatkan gayagaya dalam.
6. Menentukan dimensi akhir dan penulangan berdasarkan gaya-gaya
dalam tersebut.

Diagram
alir disain
Bangunan
Bawah
Jembatan

SURVEY
PENGUMPULAN DATA
a.
Penampang sungai
b.
Permukaan air banjir dan normal
c.
Data sondir, boring dan NSPT

EVALUASI DATA

PRADESAIN
a. Type/model struktur
b Lebar jembatan
c. Bentang jembatan
d. Posisi / letak Pilar/pylon dan kepala jembatan
e. Bentuk Pilar/Pylon dan kepala jembatan
f. Posisi struktur atas terhadap MAB/HWS/bangunan lain yang ada dibawahnya
g. Bahan Pilar/Pylon dan dan kepala jembatan
h. Ukuran pilar/Pylon dan kepala jembatan

PENENTUAN BEBAN-BEBAN YANG BEKERJA


a.
Beban mati dan bean lalu lintas pada struktur atas
b.
Beban angin dan beban gempa pada struktur atas
c.
Beban air dan tumbukan pada Pilar jemabatan

Desain
akhir
Gambar kostruksi

Perhitunga
n struktur

Modifikasi

5. GEOMETRI STRK. BAWAH JEMBATAN


5.1 Penentuan Letak Jembatan
Peletakan jembatan didasarkan kepada:
Aliran air dan alur sungai yang stabil ( tidak berpindah-pindah)
Tegak lurus terhadap sungai
Bentang terpendek ( lebar sungai terkecil)
Bentuk Jembatan:
Tergantung bentang dan jenis sungai
Material yang digunakan

Bentang lebih pendek


Bentang lebih panjang

5.2 Bidang Datar, Tanjakan dan Clereance

Bidang Datar : min. 5 m


Tanjakan / Turunan :
1:30 untuk V > 100 km/jam
1:20 untuk V 60 s/d 100 km/jam
1:10 untuk V< 60 km/jam

Clearence / jagaan untuk banjir rencana 50 tahun


0,5 m ; Sungai pengairan
1,0 m ; Sungai alam yang tidak membawa hanyutan
1,5 m ; Sungai alam yang membawa hanyutan
2,5 m ; sungai alam yang tidak diketahui kondisinya

Clereance
Jembatan di atas laut atau diatas sungai yang dilewati kapal

Jembatan di atas jalan atau jalan layang

6. KEPALA JEMBATAN
Kepala jembatan adalah struktur penghubung antara jalan dengan
jembatan dan sekaligus sebagai penopang struktur atas jembatan.

Penentuan Letak Kepala Jembatan


Kepala jembatan sedapat mungkin diletakkan pada :
a. Pada lereng/dinding sungai yang stabil
b. Pada alur sungai yang lurus
c. Pada bentang yang pendek

Penentuan Bentang/jarak antar Kepala Jembatan


Penentuan jarak antara dua kepala jembatan (L) didasarkan kepada jenis sungainya.
L
Kepala
Jembatan

ab
l
2
Kepala
Jembatan

MAB
MAN

a
b

l b

Untuk Kondisi:
Bukan sungai limpasan banjir
Air banjir tidak membawa
hanyutan

Untuk Kondisi:
sungai limpasan banjir
Air banjir membawa hanyutan

6.1 Kriteria Desain Kepala Jembatan


Tidak ditempatkan pada belokan luar sungai
Tidak ditempatkan pada aliran air sungai
Tidak ditempatkan diatas bidang gelincir lereng
sungai.
Tidak ditempatkan pada lereng sungai jika
digunakan pondasi dangkal

Pondasai kepala jembatan diupayakan untuk


ditanam sampai kedalaman pengaruh
penggerusan aliran air sungai

6.2 Dimensi Kepala Jembatan


Bahan Kepala Jembatan

Pasangan batu kali : Type Gravitasi


Beton bertulang: Type T dan Type T dengan penopang

6.3 Detail kepala jembatan

Struktur kepala jembatan yang diperkuat dengan penopang

6.4 Gaya gaya yang bekerja


pada kepala jembatan

6.5 Masalah Pada Kepala Jembatan


Fungsi : - Penahan beban
struktur atas
- Struktur pembatas
antara jalan dengan
sungai
Penempatan: diusahakan untuk
tidak ditempatkan
pada belokan sungai
untuk menghindari
scouring
Jika terpaksa harus dilakukan
perbaikan dinding sungai dan
Dasar sungai pada bagian yang
akan terkena scouring

Perbaikan Dinding
dan dasar sungai
Perbaikan pada
dinding sungai

Perbaikan pada
dasar sungai

Perbaikan
Perbaikan dinding sungai
- Turap baja
- bronjong ( Pas. Batu
kosong dengan ikatan
kawat )
- dinding penahan ( pas.
batu kali , beton )
- dinding pelindung ( pas.
batukali ,lempengan plat
beton)

Perbaikan Dasar sungai


- Pasangan batu kali
- Beton
- Pas. Batu kosong
dengan tiang cerucuk

7. PILAR JEMBATAN

Fungsi : - Penopang struktur atas


- menyalurkan berat struktur atas ke tanah

Jenis :

- Pilar tunggal
- Pilar masif
- Pilar Perancah

Bahan : Pasangan batu kali, Beton dan Baja

Pilar tunggal
Pemakaian
h : 5 ~ 15m

Pilar masif
h : 5 s/d 25 m

Pilar Perancah / Portal


h : 5 s/d 15 m

h : 15 s/d 25 m

7.1 Jenis Jenis Pilar Jembatan

Pilar tunggal pada jembatan jalan raya

Pilar Masif

Pilar tunggal pada jembatan KA

Pilar Perancah

7.2 Kriteria Desain Kepala Jembatan


Tidak ditempatkan ditengah aliran air sungai
Jika pilar ditempatkan pada aliran sungai maka
pilar dibuat sepipih mungkin dan sejajar dengan
arah aliran air
Bentuk disarankan bulat atau lancip

Untuk daerah rawan gempa diupayakan untuk tidak


menggunaka pilar tunggal.
Jika menggunakan pondasi dangkal, pondasi
ditanam dibawah dasar sungai sampai batas
pengaruh gerusan aliran air sungai.

7.3 Pilar Jembatan Pasangan Batu Kali

d = 0,8 ( 0,8 + 0,12 h + 0,025 w )


0,5m

Permukaan air banjir

d = tebal dinding bagian atas pilar


Dinding semakin kebawah semakin
tebal dengan kemiringan 1:20
h = tinggi pilar dari dasar sungai
sampai tumpuan girder.

Lebar Jembatan

w = jarak dua tumpuan antara pilar


dengan kepal jembatan atau
antara pilar dengan pilar.

7.4 Pilar Jembatan Beton Bertulang

Pilar Perancah

Pilar Tunggal

7.5 Pilar Jembatan Baja


Pilar dari baja digunakan dengan
pertimbangan:
-Aliran air sungai cukup deras
-Mengurangi hambatan aliran air
-Mudah dikerjakan

7.6 Masalah Pada pilar Jembatan

Gaya aliran air pada pilar

Pilar tidak sejajar dengan arah aliran


air , menyebabkan local scouring

Kerusakan akibat scuoring

7.7 Perbaikan dan Pencegahan

7.8 Perbaikan dan Pencegahan

8. PEMBEBANAN

Pada Kepala dan pilar Jembatan


Kepala dan Pilar Jembatan harus diperhitungkan terhadap semua
beban yang mungkin terjadi pada jembatan tersebut, termasuk
tumbukan kapal pada pilar jembatan bila jembatan tersebut
berada diatas selat atau laut.
A. Beban tetap
- Berat mati dan beban mati tambahan
- Beban hidup atau beban Lalu lintas termasuk beban Rem
B. Aksi Lingkungan
- Beban Angin
- Beban Tumbukan Kendaraan
- Beban Tumbukan Kapal
- Beban Air Mengalir
- Beban Tumbukan Benda Hanyutan
- Beban Gempa
C. Beban Khusus
- Beban Sentripugal

8.1 BEBAN TETAP

Beban
Tetap

Beban
Mati

Berat sendiri konstruksi, sesuai dengan Berat


Jenis material pembentuk konstruksi:

Beban
Mati
Tambahan

Beban yang selalu ada yang tidak termasuk


struktur penahan beban kendaraan , pipa
drainasi, sandaran , tiang lampu, ornamen

Beban
Hidup

Beban lalu lintas yang bekerja


jembatan: orang dan kendaraan

diatas

8.1.1 Beban Lalu lintas


Orang : q = 0,5 ton/m2
Bekerja pada Trotoar

Beban Lalu lintas


Kendaraan

Beban lajur lalu lintas (D)


Beban merata :
Kendaraan kecil
Banyak diatas
Lantai jembatan
q = 0,9 ton/m2

Beban garis:
Kendaraan besar
( Truk Trailler)
Diatas lantai
jembatan
P = 4,9 ton/m

8.1.2 Beban lajur lalu lintas (D)

8.1.3 Beban Terbagi Rata (q)

Untuk : L 30m : q = 0,9 t/m


15

Ubtuk : L 30m : q = 0,9 0,5+ t/m


L

8.1.4 Penempatan Beban Lajur ( D )

8.1.5 Peninjauan Beban P dan q


Pada Kepala dan Pilar Jembatan
0,5(L1+L2)

Kepala Jembatan
Pilar

L2

L1

L1

Beban P dan q pada Pilar


0,5. L1

q
Kepala Jembatan
Pilar

L1

L2

L1

Beban P dan q pada Kepala Jembatan

8.1.6 Beban Rem


- Bekerja pada permukaan lantai
/lajur lau lintas searah .
- Bekerja arah horizontal pada
permukaan lantai jembatan ,
yang selanjudnya beban
didistribusikan ke struktur
penahan ( pilar dan kepala
jembatan ).
- Peninjauannya harus disertakan
dengan pengaruh beban lalu
lintas.
- Besarnya beban rem tergantung
pada bentang jembatan

Sendi

Gaya Rem
Kepala Jembatan

L1

= 0.15

SK.SNI T-02-2005 / Lajur (2.75m)

Rol

Sendi

Gaya Rem
Pilar

L2

L1

Rol

8.2 AKSI LINGKUNGAN


8.2.1 . Beban Angin (WL)
TEW 0, 0006.CW .(VW )2 .d (KN/m) ( bekerja pada jembatan )
TEW 0, 0012.CW .(VW )2 . (KN/m) ( bekerja pada kendaraan)
CW untuk kendaraan = 1,2
CW untuk jembatan tergantung perbandingan antara b dan d
b/d = 1,0 : Cw = 2,10
b/d = 2,0 : Cw = 1,50
b/d 6,0 : Cw = 1,25
Jika tidak dilakukan pengukuran Kecepatan angin (Vw)
Maka Vw dapat diambil:
V= 30 m/dt ; dekat dengan laut 5 km
V= 25 m/dt ; jauh dari laut > 5 km.

ASD

V= 35 m/dt ; dekat dengan laut 5 km


V= 30 m/dt ; jauh dari laut > 5 km.

LRFD an UD

Kerja Gaya Angin pada Girder (TEW)


TEW

TEW

Keadaan Dengan Beban Hidup


Keadaan Tanpa Beban Hidup

Kerja Gaya Angin pada Rangka (TEW)

TEW

TEW

Gaya Angin Bekerja Pada Pilar Jembatan

8.2.2. Beban Tumbukan benda hanyutan (TEF):

TEF

Permukaan air banjir

TEF

M .(Va ) 2

(KN)

M = massa batang kayu = 2 ton


Va = Kecep air permukaan
Va = 1,4 Vs
Jika tidak diketahui ; Va = 3 m/dt
d = lendutan statis : pilar beton masif
= 0,075 m
pilar beton perancah
= 0,150 m
pilar baja/kayu perancah = 0,300 m

8.2.3. Beban Tumbukan Kendraan (P):


Pada Jalan Layang

Beban akibat tumbukan kendaraan pada pilar jembatan jalan layang


Searah jalan : 100 ton ( tertubruk kendaraan )
Tegak luruas jalan : 50 ton ( kendaraan terguling kesamping )
Keduanya bekerja pada tinggi 1,8 m dari permukaan jalan

8.2.4 Beban Tekanan air mengalir (TEFW):


TEFW = 0,5 CD (Vs)2 AD (kN)
Permukaan air banjir

TEFW
h
0,6h

CD = Koefisien seret :

- pilar dinding lancip = 0,8


- Pilar dinding segi empat = 1,4
- Pilar dinding bulat = 0,7
- pilar bulat = 0,7

VS = kecepatan rata-rata = Va :1,4


jika tidak diketahui Va dapat diambil 3 m/dt
AD = Luas bagian yang tertekan air
Proyeksi tegak lurus terhadap aliran air.

Nilai Cd dab Cl

Luas Area Cd dan Cl

8.2.5 Beban tumbukan kapal


Jembatan yang menyeberangi laut, selat atau sungai yang besar
yang dilewati kapal, pilar dan pylon jembatan harus diperhitungkan
terhadap tumbukan kapal dari depan dan dari arah samping pilar dan
pylon

tumbukan kapal dari arah samping


Untuk menahan dan meruduksi energi tumbuk kapal, maka pada pilar
dan Pylon dipasang vender. Vender dapat dipasang terpisah dengan
pilar/pylon atau menyatu dengan pilar/pylon.

Tumbukan kapal dari depan diperhitungkan ekuivalen dengan gaya


tumbukan statis pada obyek yang kaku dengan rumus berikut :

TS ( DWT )1/ 2 (12,5 xV )


Keterangan :
TS
= gaya tumbukan kapal sebagai gaya statis ekuivalen (t)
DWT = tonase berat mati muatan kapal (t) = berat kargo, bahan
bakar, air dan persediaan
V
= kecepatan tumbukan kapal (m/s)
Untuk menahan
tumbukan ini diperlukan
fender terpisah yang
dipasang didepan pilar
atau pylon jembatan.

Untuk kapal yang membentur pilar atau pylon dari arah


samping dapat digunakan rumus sebagai berikut :
CH x0,5W (V ) 2
E
g

1
Wa d 2 L pp . a
4
a 1.03 t 3 , g = 9.81 m 2
m
dt

w DWT Wa

E = energi kinetik Tumbuk Kapal (tm)


CH = koefisien hidrodinamis masa air yang bergerak bersama kapal,
d = Tinggi bagian yang terendam dalam air (Sarat kapal)
W = tonase perpindahan kapal (t), berat total kapal pada beban penuh
Lpp = Panjang bagian yang terendam dalam air
0.8
0.7
0.6
0.5

C 0.4
0.3
0.2
0.1
0
1

1.05

1.1

1.15

CH

1.2

1.25

1.3

Untuk meredam tumbukan kapal yang membentur pilar/pylon


dari arah samping dapat dipergunakan fender dari karet yang
terpasang pada pilar.pylon.
CH x0,5W (V ) 2
E
g

Keterangan:
E sin = Energi kenitik yang diterima oleh fender
R
= Gaya statis yang didustribusikan oleh fender ke pilar atau pylon

TEBEL FENDER KARET TYPE V

8.2.6 Beban Gempa (TEQ):

TEQ

TEQ K h .I .WT (kN)


TEQ C.S .I .WT (kN)
C = Koefisien geser dasar, yang dipengaruhi oleh :
- Wilayah gempa dimana bangunan didirikan
- Waktu getar struktur yang ditinjau
- Jenis tanah dimana bangunan didirikan
I = Faktor kepentingan
S = Faktor tipe bangunan
WT Beban mati di tambah beban mati tambahan (kN)

Menghitung waktu getar


T 2

WTP
g.K p

WTP DL + DL tambahan + setengah berat pilar ( kN)


g percepatan gravitasi bumi = 9,81 (m/dt 2 )
K P = Kekakuan gabungan (kN/m)
12 EI
h3
n = Jumlah kolom dalam satu pilar
KP n

KP 3

KP

3EI
h3

h2

K2 n

h1

K1 n

12EI
h23

12EI
h13

12 EI
h3

1
1
Kp

K
K
1
2

Menentukan wilayah gempa dimana bangunan didirikan

Menentukan Nilai C
( Koefesien Dasar Gempa )

Menentukan Jenis Tanah dimana bangunan didirikan

JENIS TANAH
(a) Tanah Teguh
(b) Tanah Sedang
(c) Tanah Lunak

KEDALAM SIDIMEN TERHADAP TANAH KERAS ( SPT40)


0~3M
3,4 ~ 24,4 M
25 M

Menentukan Nilai I ( Faktor Kepentingan )

Menentukan Nilai S ( Faktor Tipe Bangunan )

Beban Gempa Pada Pilar Jembantan Yang Tinggi


Untuk pilar jembatan yang lebih tinggi dari 10 m, nilai Kh atau nilai C.S
Dikalikan dengan faktor seperti diagram dibawah
Untuk Pilar jembatan yang lebih tinggi dari 30 m diperlukan perhitungan
gempa cara dinamis

8.3 GAYA SENTRIFUGAL ( TTR)


Jembatan yang dibangun melengkung arah
horizontal harus diperhitungkan adanya gaya
sentrifugal kearah luar lengkung jembatan dan
bekerja di permukaan lantai jembatan tanpa
faktor beban dinamis. Beban ini bekerja
bersam-sama dengan beban D atau T

TTR bekerja kearah luar lingkaran


0, 006.V 2
TTR TR
( KN )
r
dimana : TR D . jarak antara pilar ( KN )
V = Kecepatan kendaraan diatas jembatan (Km /jam)
= 0,75 kecepatan rencana pada jalan.
r = jari-jari lengkung horizontal jembatan.(m)

9. KOMBINASI BEBAN
9.1 Batas Daya Layan (ASD)
Perhitungan berdasarkan ASD Tegangan berlebih diperbolehkan
Tegangan berlebihan yang diberikan dalam Tabel dibawah adalah
sebagai prosentase dari tegangan kerja yang diizinkan.

9.2 Beban Berfaktor (LRFD)


Untuk perhitungan cara LRFD tegangan yang digunakan
adalah tegangan leleh pertama dan bebannya dikalikan
dengan faktor beban.
Besarnya faktor beban disesuaikan dengan peraturan beton
dan baja yang digunakan
1.
2.
3.
4.
5.

U = 1.2 D + 1.2 C + 1.6 L


U = 0.9 D + 1.2 C + 1.2 L1.2 W
U = 0.9 D + 1.2 C 1.3 W
U = 0.9 D + 1.2 C 1.0 E
U = 1.2 D + 1,0 T + 1.6 L
1.
2.
3.
4.
5.
6.

D = Beban mati
C = Arus dan tumbukan benda hanyutan
L = Beban hidup
W = Beban angin
E = Beban gempa
T = Tumbukan kendaraan

9.3 Kekuatan Batas ( UD)


Untuk perhitungan cara UD tegangan yang digunakan adalah
tegangan PUTUS dan bebannya dikalikan dengan faktor
beban.
Besarnya faktor beban disesuaikan dengan peraturan beton
dan baja yang digunakan