Anda di halaman 1dari 4

KOLOID

Macam-macam koloid:
Diameter dari partikel larutan sejati, selalu lebih kecil dari 1 m. bila Diameter dalam
larutan terletak antara 1 100 m, system disebut koloid, dan bila lebih besar dari 100
m disebut campuran kasar atau dispers kasar. Jadi:
Larutan sejati mempunyai partikel < 1 m
Larutan koloid mempunyai 1 m < partikel < 100 m.
Campuran kasar mempunyai partikel > 100 m.
Koloid ada tiga jenis, tergantung dari jenis partikelnya, yaitu:
Dispers koloid
Larutan makromoekul
Koloid asosiasi
Dispers koloid: terdiri atas zat-zat yang tidak larut dengan partikel-partikel yang terdiri
dari gabungan banyak molekul, misalnya dispers koloid Au, As 2, S3, minyak dalam air,
dan sebagainya.
Larutan makromolekul: berupa larutan dari zat-zat dengan bentuk molekul yang besar,
hingga mempunyai ukuran koloid, misalnya protein, polivinil alcohol, larutan karet, atau
polimer-polimer lain dalam pelarit organik.
Asosiasi koloid: terdiri atas lautan zat-zat yang larut dengan B.M. rendah, tetapi
membentuk agregat-agregat, misalnya larutan sabun.
2.1. disperse koloid
Disperse koloid bersifat heterogen, terdiri atas dispers fase dan dispers medium.
Baik dispers fase ataupun dispers medium dapat berupa zat padat, cair dan gas, hingga
ada 9 bentuk system dispers. Dari ini direduksi menjadi 8, karena gas dan gas selalu
bercampur sempurna. Dari kedelapan jenis ini yang penting ialah: sol, emulsi, dan gel.
Dispers fase
Padat
Padat

Tabel 2. Jenis dispers koloid.


Dispers medium
Nama
Gas
Aerosol
Cair
Sol atau suspensoid

Padat
Cair
Cair

Padat
Gas
Cair

Cair
Gas
Gas
Gas

Padat
Gas
Cair
Padat

--Aerosol
Emulsi atau
Emulsoid
Gels
--foam
---

Contoh
Asap
AgCl, Al, As2, S3, S
dalam H2O
Gelas berwarna
Kabut
H2O dalam minyak
atau sebaliknya
Opal
--Buih sabun
Batu apung

2.1.1. Sol
Sol ialah disperse koloid zat padat dalam zat cair. Sol dibagi menjadi sol liofobik dan sol
liofilik.
Pada sol liofibik : butr-butir koloid tidak suka pelarut, misalnya sol logam-logam dan
garam-garam dalam air.
Pada sol liofilik : butir-butir koloid suka terhadap pelarut, misalnya koloid liofob yang
teah diberi gelatin, kanji, atau kasein.
Bila pelarutnya air disebut sol, hidrofob dan sol hidrofil. Sol dapat dibuat dengan dua
cara :
Kondensasi dari larutan sejati
Disperse dari dispers kasar.
Pada pembuatan sol, sol yang diperoleh basanya tidak muni tercampur dengan elektrolit.
Zat ini dapat dihilangkan dengan jalan: dialysis, elektrodialisis, atau ultrafiltrasi.
Dialysis berdasarkan kenyataan, bahwa elektrolit dapat melewati membrane yang porous,
seperti kertas perkamen, selofan atau kolodion sedang buti-butir koloid tidak. Dialysis
memerlukan waktu lama, karena merupakan proses yang lambat.
Elektro dialysis mempergunakan perbedaan potensial diantara membrane-membrannya,
hingga kecepatan elektrolit besar.
Ultra filtrasi sama dengan filtrasi biasa, hanya sebagai penyaring dipakai kertas saring
yang dilapisi kolodion, atau mempergunakan porselin yang porous atau gelas sinter.
Untuk mempercepat perlu diberi tekanan atau dihisap.
Sifat-sifat sol dapat dibagi atas:
1. sifat fisika
2. sifat koligatif
3. sifat optis
4. sifat kinetic
5. sifat listrik
a.sifat fisika
sifat-sifat fisika tergantung jenis koloidnya. Untuk koloid hidrofob, sifat-sifat seperti
rapat, tegangan muka, dan viskositas hamper sama dengan mediumnya. Pada koloid
liofilik, karena terjadinya salvation, sifat-sifat fisiknya sangat berbeda dengan
mediumnya. Vikositasnya lebih besar dan tegangan mukanya lebih kecil.
b.Sifat koligatif
Sol menunjukan sifat koligatif, tetapi lebih rendah daripada sifat koligatif larutan biasa.
Kecuali tekanan osmose, efek ini dapat diabaikan. Ini disebabkan karena butor-butir
koloid terdiri dari beribu-ribu molekul, sedang pengaruh terhadap sifat koligatif hanya
ditentukan oleh jumlah molekul.
c.sifat optis
bila seberkas cahaya sinar dilewatkan larutan sejati sebagian sinar diserap dan diteruskan,
sedikit sekali yang diserakkan. Sebaliknya bila seberkas sinar dilewatkan larutan koloid,
sebagian besar sinar diserakkan. Peristiwa ini disebut peristiwa Tyndall. Daya koloid
untuk menyerahkan sinar ini menjadi dasardari ultra mikroskop yang ditemukan oleh

Siedentopf dan Zsigmondy (1930). Dengan mikroskop ini, dapat dilihat adanya butir-butir
bercahaya diatas dasar hitam.
Besarnya butir-butir juga dapat dihitung. Massa dari butir-butir koloid ditentukan dengan
penguapan dan penimbangan. Jumlah partikel dihitung dibawah mikroskop (n). volume
masing-masing partikel:

m
n.d

volume 1 butir

d = rapat
4
r 3 , hingga :
3

4
m
r3
vm
3
n.d
3v
3 m
r3 m
4
4 nd
3v m
3v m
r3
3
4
4n.d
1 2r
1 23

3v m
3m
23
4n.d
4

logam-logam mulia dalam air: 0,2 0,6 .


d. Sifat kinetic
menurut graham, butir-butir koloid berdifusi sangat lambat besarnya koefisien difusi D
dinyatakan oleh:
D

RT
N

6r

D = jumlah mole koloid berdifusi melewati satu satuan luas per satuan waktu pada
konsentrasi gradian stu.
R = 8,34 . 107 erg mole-1 der-1
= Fiskositas medium dalam poise.
Butir-butir koloid selalu bergerak menjalani jalan-jalan zig-zag, gerakan ini disebut
gerakan brown; gerakan ini disebabkan karena benturan molekul-molekul pelarut
terhadap butir-utir koloid. Menurut Einstein, ada hubungan antara koefisien difusi dengan
, yaitu jarak rata-rata pindahnya butir-butir koloid sepanjang sumbu X pada waktu t.

Gb. 8.4 butir-butir koloid


2
D
2t

RT
d
N

6r

2 RT 1

2t
N 6r
2

RT
N

3r

t = waktu, misalnya 1 jam.


Sedimentasi:
Karena pengaruh gravitasi dispers koloid akan mengendap. Kalau rapat butir-butir = d,
rapat medium = dm, dan viskositas medium = , maka bila:
d > d m, butir-butir akan mengendap.
d < d m, butir-butir akan mengapung.
Menurut stokes: