Anda di halaman 1dari 9

1

VI. ELEKTROPLATING DAN FOTOKIMIA


Kemajuan elektroplating sudah meliputi segala aspek kehidupan masyarakat. Hal ini
terbukti dengan adanya aneka produk yang diplating untuk tujuan keindahan, ketahanan
bahan terhadap korosi, keausan dan daya tahan terhadap weathering (kerusakan karena cuaca)
6.1 Pengertian elektroplating
Salah satu aplikasi industri yang penting dari elektrolisis adalah plating logam pada
permukaan logam lainnya (elektroplating). Elektroplating adalah elektrodeposisi suatu pelapis
(coating), yaitu logam yang melekat ke alektroda untuk menjaga substrak dengan cara
memberikan permukaan yang mempunyai sifat dan dimensi berbeda dari logam dasarnya.
Proses elektroplating sebenarnya sama dengan pemurnian logam scara elektrolisis.
Objek yang akan dilapisi dijadikan sebagai katoda dalam elektrolit yang mengandung
campuran logam bahan plating. Selama arus listrik mengalir, campuran ini direduksi dan
terendap pada permukaan katoda. Elektroplating terjadi karena lewatnya sejumlah arus listrik
diantara logam atau bahan konduktor lainnya melalui suatu larutan, dan menyebabkan
terjadinya kutub positif dan negatif dalam sirkuit DC (arus searah). Aliran arus
mengakibatkan terjadinya endapan pada kutub negatif (katoda).
Larutan elektrolit diklasifikasikan menjadi tiga: 1) larutan asam (bak tembaga asam),
2) larutan alkali (bak tembaga sianida) dan 3) latutan netral (bak zink sianida). Larutan plating
relatif pekat, agar ion logam tidak mudah lari dari daerah katolit (di daerah katoda). Jumlah
arus listrik yang mengalir melalui elektrolit tergantung pada dua faktor utama, yaitu besarnya
voltase yang diberikan dan hambatan dalam elektrolit yang menentang aliran arus. Semakin
besar hambatan oleh elektrolit, semakin kecil arus mengalir.
Hukum Faraday menyatakan hubungan listrik dengan reaksi kimia dalam elektrolit
pada suatu reaksi elektrokimia. Hukum Faraday digunakan untuk menentukan jumlah logam
yang diendapkan (W) dengan pemberian arus listrik (I), yaitu berdasarkan rurmus:
W

I .t.e
96500

(6.1)
di mana t adalah waktu elektrolisis dan e adalah berat atom bagi valensi. Karena proses
transfer yang menyebabkan terjadinya reaksi oksidasi dan reduksi ini ditunjukkan oleh hukum
Faraday, maka proses elektroplating dinamakan proses Faradic.

Teknik Kimia UNSYIAH

Jumlah ekivalen logam tidak selalu terendapkan atau terplating untuk setiap 96500
coulomb listrik, karena seringkali dihasilkan gas selama proses elektroplating. Jika semua
produk dari reaksi elektrolit terjadi, akan didapat bahwa hukum Faraday I tepat. Perbandingan
jumlah logam sebeanrnya yang terendapkan pada katoda dengan jumlah logam yang
diendapkan menurut teori oleh pemberian arus listrik dinamakan efisiensi katoda.
6.2 Persiapan Elektroplating
sebelum logam objek diplating, terlebih dahulu logam tersebut dibersihkan dari lemak
dan lapisan karat dengan cara pencucian dan perendaman dalam larutan asam, campuran asam
(pickling). A) kotoran lemak dibersihkan dengan sabun atau pelarut organik, b) lapisan karat
dapat dihilangkan dengan amplas dan/atau pelarut asam encer (HCl, H 2SO4, campuran asam,
oksalat dan perhidrol (H2O2).
6.3 Pengendapan Logam Plating
faktor-faktor utama yang mempengaruhi penempilan logam yang terendapkan adalah:
kerapatan arus, konsentrasi elketrolit, temperatur, sifat elektrolit dan sifat logam dasarnya.
6.3.1 Kerapatan arus listrik
Jumlah total perubahan kimia pada elektroda (akibat arus) sebanding dengan jumlah
arus listrik yang lewat. Tetapi sering yang diperlukan hanyalah perubahan kimia tertentu,
sedangkan perubahan kimia lainnya dianggap terbuang. Pada elektroplating, yang ditinjau
adalah jumlah logam yang terdeposisi pada katoda atau lenyap di anoda, reaksi terjadinya gas
lain dianggap terbuang. Jadi efisiensi arus adalah berat logam yang terendapkan (aktual)
terhadap berat yang dihitung dari hukum Faraday (teoritis), dianggap tanpa reaksi samping.
Efisiensi Arus =

Aktual
x 100%
Teoritis

(6.2)

Pada elektroplating, yang lebih diperlukan selain berat total logam di katoda, juga
tebal dan distribusi endapan di katoda. Jadi yang penting bukan arus total, melainkan rapat
arus. Sebenarnya arus tidak terdistribusi secara merata ke seluruh permukaan katoda. Arus
cendrung mengumpul pada titik tonjolan dan tepi runcing permukaan. Agar plating seragam,
katoda harus ditempatkan sedemikian rupa dalam bak, atau bentuk katodanya dimodifikasi
sesuai keperluan.
Pada kerapatan arus rendah, pembebasan ion-ion terjadi lambat, sehingga laju
pertumbuhan dasar kristal akan melampaui laju pemebentukan ion-ion baru, deposit yang
dihasilkan pada kondisi ini dapat berstruktur kristal kasar. Namun jika kerapatan arus terlalu
Teknik Kimia UNSYIAH

tinggi akan terjadi gelembung-gelembung pada deposit yang dihasilkan, sehingga deposit
berpori seperti bunga karang. Perbedaan ion-ion hidrogen seringkali menyebabkan larutan
disekitar katoda menjadi basa.
6.3.2 Konsentrasi Elektrolit
Pengaruh konsentrasi elektrolit dan kerapatan arus saling berhubungan erat. Dengan
peningkatan konsentrasi larutan, kerapatan arus yang lebih tinggi dapat digunakan selama
deposit kasar belum terbentuk, atau sebelum gelembung hidrogen terjadi mengiringi bentuk
deposit. Kenaikan konsentrasi larutan akan mencegah kekosongan ion-ion di dekat katoda
sehingga terbentuk deposit yang lebih baik.
6.3.3 Temperatur
Kenaikan temperatur menyebabkan naiknya laju difusi ion-ion menuju ktoda. Hal ini
mencegah terbentuknya deposit tidak merata yang dikarenakan oleh kekosongan ion-ion pada
katoda. Namun laju pertumbuhan kristal meningkat sehingga cenderung terjadina deposit
kasar. Secara umum, temperatur yang sesuai cenderung menaikkan kualitas elektrodeposit.
6.3.4. Sifat Elektrolit
Sifat anion dan valensi logam sangat berpengaruh terhadap bentuk dan sifat deposit
yang terbentuk. Kenyataan menunjukkan bahwa deposit-deposit halus biasanya dihasilkan
dari larutan ion-ion komplek, terutama sianida.
6.3.5 Pengaruh Dasar Logam
Meskipun bentuk deposit logam jarang dipengaruhi oleh logam dasar yang digunakan
sebagai katoda, bukti-bukti menunjukkan bahwa logam dasar juga berpengaruh pada
pertumbuhan kristal. Tabel 6.1 dapat dibandingkan daya tereduksi di antara logam-logam.
Tabel 6.1 Daftar ggl atau potensial reduksi beberapa logam
Elektoda
K+ + e Ca2+ +2e
Na+ + e
Al3+ + 3e
Zn2+ + 2e
Cr2+ + 3e
Fe2+ + 2e

K
Ca
Na
Al
Zn
Cr
Fe

Potensial
-2,92 V
-2,870 V
-2,715 V
-1,670 V
-0, 762 V
-0,740 V
-0,441 V

Elektroda
Cd2+ + 2e
Ni2+ + 2e
Sn2+ + 2e
Pb2+ + 2e
2H+ + 2e
Cu2+ + 2e
Au+ + e

Cd
Ni
Sn
Pb
H2
Cu
Au

Potensial
-0,402 V
-0,250 V
-0,136 V
-0,128 V
-0,000 V
+0,340 V
+1,500 V

6.3.6 Ketebalan Deposit


Ketebalan deposit rata-rata yang terjadi ditentukan dengan rumus dengan asumsi
logam terendapkan secara merata pada permukaan katoda.
K = V/A

Teknik Kimia UNSYIAH

(6.3)

di mana K adalah ketebalan (cm), V adalah volume dari logam yang terendapkan (cm 3) dan A
adalah luas katoda (cm2). Volume logam yang terendapkan dapat dihitung dengan:
V = W/

(6.4)

di mana adalah berat jenis deposit (Cu = 8,92 g cm-3).


6.3.7 Daya Lontar (throwing power)
Daya lontar diartikan sebagai kemampuan larutan panyalut untuk menghasilkan
ketebalan merata tertentu sejalan dengan bertambahnya jarak antara anoda dan katoda selama
pelapisan. Dalam kenyataan, sulit memperoleh elektrodeposit bertebal sama di seluruh
permukaan katoda, karena ujung dan pinggir terkenai rapat arus yang lebih besar daripada
yang lain.
Hasil plating dapat merata apabila bentuk yang dilapisi secara geometris sederhana
dan tidak mempunyai lubang. Potensial dalam lubang sangat rendah, sehingga tebalnya
endapan logam penyepuhan dalam lubang sangat sedikit. Sebaliknya bagian katoda yang
paling dekat ke anoda, diperoleh lapisan yang paling tebal. Pada waktu penyepuhan
berlangsung, potensial harus dijaga konstan. Menurunnya potensial menyebabkan hasil
plating kurang baik. Penurunan potensial larutan sebanding dengan panjang jalan yang
ditempuh oleh arus, semakin panjang jalan yang ditempuh oleh arus semakin besar penurunan
potensial. Bagian katoda yang terdekat dengan anoda mengalami penurunan potensial paling
kecil. Sehingga pada bagian ini akan terbentuk lapisan paling tebal. Bagian yang terdekat
dengan anoda mempunyai kelebihan potensial yang lebih besar.
6.4 Korosi Logam
Korosi adalah penurunan mutu logam akibat reaksi elektrokimia dengan lingkungannya. Penurunan mutu logam tidak hanya melibatkan reaksi kimia, namun juga reaksi elektrokimia, yakni antara bahan-bahan bersangkutan terjadi perpindahan elektron.
Kenaikan temperatur menyebabkan laju korosi lebih tinngi, sesuai pers. Arrhenius.
Laju korosi bertambah dengan faktor 1,5 untuk setiap kenaikan suhu udara 5 0C. lingkungan
yang menyebabkan korosi antara lain:
1. Udara basah lebih menyebabkan korosi daripada udara kering
2. Udara panas lebih menyebabkan korosi daripada udara dingin
3. Udara berpolusi lebih menyebabkan korosi daripada udara bersih
4. Air panas lebih menyebabkan korosi daripada air dingin
5. Asam lebih menyebabkan korosi daripada basa

Teknik Kimia UNSYIAH

6. Air garam lebih menyebabkan korosi daripada air biasa


7. Korosi tidak terjadi pada ruang vakum meskipun pada suhu yang sangat tinggi.
6.5 Fotokimia
6.5.1 Energi Matahari
Sumber energi yang berjumlah sangat besar dan besifat kontinyu yang tersedia bagi
umat manusia adalah energi elektromagnetik yang dipancarkan sinar matahari. Energi ini
tidak bersifat polusi, tidak habis dan cuma-cuma.
Dalam hubungan dengan sinar matahari dikenal suatu konstanta (konstanta solair)
yang besarnya 1.350 W m-2, yang berasal dari energi yang diterima per menit oleh suatu
tempat di atmosfir seluas 1 cm2 sebesar 1,94 kal. Jika jari-jari bumi sebesar 1,5 x 1011 m,
maka penyinaran yang diterima oleh bumi sebesar 3,8 x 1026 W atau 1,8 x 1017 J detik-1. Harga
ini ekuivalen dengan pembakaran 5,4 juta ton carbon (C) per detik.
Energi sinar matahari dapat dikonversi secara langsung menjadi bentuk energi lain
dengan tiga proses, yaitu proses heliochemical, helioelectrical dan heliothermal. Reaksi
heliochemical yang utama adalah proses photosintesis. Proses heliothermal adalah adsorpsi
radiasi matahari dan pengkonversian energi ini menjadi energi termal.
Seorang ahli fisika jerman bernama Max Planck menemukan suatu persamaan yang
menentukan besarnya energi yang dipancarkan sinar matahari, yaitu:
E = h.v =

h.c

di mana E = energi yang dipancarkan oleh setiap photon, h = konstanta Planck (6,6256 x 1034
J det-1), v = frekwensi radiasi, c = cepat rambat cahaya (3 x 1010 cm det-1) dan = panjang
gelombang.
6.5.2 Fotokimia
Fotokimia adalah ilmu yang mempelajari reaksi-reaksi kimia yang diinduksi oleh sinar
secara langsung atau tidak langsung. Reaksi fotokimia menerima energi pengaktifannya dari
penyerapan photon cahaya oleh molekul-molekulnya. Tahap pengaktifan dalam reaksi
fotokimia lebih selektif dibandingkan pengaktifan reaksi biasa (termal, akibat tumbukan antar
molekul). Dalam fotokimia terdapat dua hukum dasar. Hukum I (Grotthus, 1817 dan Draper,
1843) menyatakan perubahan fotokimia hanya dapat ditimbulkan oleh cahaya yang diserap.

Teknik Kimia UNSYIAH

Hukum II (Stark dan Einstein, 1908-1912) menyatakan molekul yang menyerap satu kuantum
sinar masuk menjadi teraktifkan. Energi dari satu foton diberikan dengan = hv
A + hv

A*

(6.5)

Bilangan Avogadro dari foton dinyatakan sebagai 1 einstein, seperti halnya dengan bil.
Avogadro dari elektron yang disebut 1 faraday.
Proses fotokimia membutuhkan penyerapan dari foton atau disebut kombinasi fotonfoton yang mengandung energi sehingga menghasilkan foton dalam jumlah yang sangat besar.
Pada awal reaksi, suatu foton diserap oleh molekul-molekul sehingga menghasilkan molekul
yang tereksitasi. Molekul-molekul ini akan berintegrasi dengan molekul lain secara
sistematik. Secara umum reaksi fotokatalitik dapat diperlihatkan di bawah ini:
A +

hv

A* (tereksitasi)

(6.5)

A* + S

A + S* (tereksitasi)

(6.6)

S* + S*

produk reaksi

(6.7)

di mana A adalah penyerap (katalis) dan S adalah reaktan. Besarnya produk yang dihasilkan
tergantung pada banyaknya foton yang diserap saat terjadinya reaksi. Setelah menyerap energi
molekul akan bergetar, berotasi dan dibawa ke keadaan energi elektronik.
Penyerapan energi dari foton dalam spektrum sinar matahari biasanya dinyatakan
dengan perpindahan sebuah elektron dari posisi normalnya. Pada sinar infra merah,
penyerapan energi terjadi karena perpindahan atom-atom dalam molekul atau bernotasi dari
molekul. Walaupun demikian hanya perubahan elektronik yang menghasilkan perubahan
kimia. Setelah aktivasi dari molekul oleh suatu foton dalam daerah energi, phenomena berikut
akan terjadi.
1) Molekul yang teraktivasi akan memindahkan energinya ke molekul lain dengan cara
bertumbukan, menaikkan energi translasinya atau menaikkan suhunya. Pada proses ini
energi radiasi dapat diubah langsung menjadi panas tanpa adanya perubahan kimia
2) Molekul yang teraktivasi akan memutuskan ikatan kimia molekul dan menguraikannya
menjadi atom-atom atau kelompok atom
3) Molekul yang teraktivasi secara elektronik akan mentransfer energinya ke sebuah molekul
dari beberapa senyawa kimia yang lain secara bertumbukan dan molekul lain akan
berubah sifat kimianya.
4) Pancaran (emisi) flourescence dari radiasi sinar yang diserap mungkin terjadi, tetapi sinar
yang dipancarkan akan berbeda panjang gelombangnya bila dibandingkan dengan radiasi
rangsangan
Teknik Kimia UNSYIAH

6.5.3 Reaksi Oksidasi Photokatalitik Asam Formiat


Secara umum persamaan oksidasi fotokatalitik dapat dituliskan sebagai berikut
s ) P
R + O2 hv , ( fotokatali

Photokatalis adalah bahan semikonduktor yang mempunyai pita valensi dan pita
konduksi. Kedua pita tersebut terdapat perbedaan energi sebesar E g. bila energi fotokatalis ini
menerima cahaya sebesar hv di mana pada saat itu hv > Eg, maka pada pita valensi akan
timbul hole h+, sedangkan pada pita konduksi akan terbentuk e-. terjadinya eksitasi yang
berpasangan ini yang berperan dalam reaksi oksidasi photokatalitik.
Bahan fotokatalitis semikonduktor yang sering dipakai antara lain: TiO2, Pt, CdS,
Fe2O3, dan SrTiO3. Penggunaan katalis tersebut antara lain pada penangganan asam asetat
(TiO2 dan Pt/TiO2), asam propionat (Pt/TiO2), asam butanoat (Pt/TiO2), asam laktat (Pt/CdS)..
Dari data tersebut dapat dilihat bahwa TiOs banya digunakan. Ini disebabkan bahannya stabil,
murah dan tidak mengganggu lingkungan
Untuk oksidasi fotokimia dapat dilakukan baik dalam sistem homogen maupun
heterogen. zat padat dapat berfungsi sebagai reaktan ataupun fotokatalis. Hal ini dapat
dilakukan dalam reaktor slurry. Persamaan reaksi fotokimia asam formiat oleh oksigen
dengan bantuan fotokatalis adalah
TiO2

HCOOH + O2

hv

CO2 + H2O

Reaksi ini dapat berlangsung apabila: 1) adanya sinar matahari atau lampu yang intensitasnya
besar, 2) adanya reaktan yang akan bereaksi dan 3) adanya fotokatalitik. Apabila salah satu
dari ketiganya tidak terdapat, maka reaksi tidak akan berlangsung (Rachimullah, 1990).
Menurut Rachimullah (1990), apabila menggunakan Cu2+ sebagai fotokatalis
kecepatan reaksinya adalah sama dengan nol, sebaliknya apabila menggunakan Fe3+
kecepatan reaksinya sama dengan 120 x 10-4 mol liter-1 jam-1. Ketergantungan dapat dilihat
pada tabel berikut.
HCOOH
x
x
x
x
x
x
x
x
x

O2
x
x
x
x

Teknik Kimia UNSYIAH

Sinar
x
x
x
x
x
x

TiO2
x
x
x
x
x

Cu2+
x
x
x
x
x
x
x

Rv x 10-4 m/lt
0
0
0
0
0
0
0
120
140

Cara-cara untuk melakukan pengukuran intensitas sinar dapat dilakukan dengan tiga
cara: 1) sistem thermopil-galvanometer, 2) phototube dan 3) aktinometer. Aktinometer adalah
suatu metoda fotokimia untuk mengukur intensitas yang diabsorpsi oleh larutan. Prinsipnya
adalah mengukur jumlah foton yang jatuh ke suatu larutan yang sudah dikenal terlebih dahulu
rendemen kuatiknya. Biasanya larutan yang sering dipakai adalah larutan kalium ferri oksalat
untuk pita absorpsi antara 250 475 nm, ataupun uranyl oxalat untuk pita absorpsi antara 200
435 nm.
1. Aktinometer dengan larutan kalium ferri oksalat
Aktinometer dengan larutan ini dilakukan dalam suasana asam pada daerah 250 475
nm. Setelah terjadi penyinaran, ion ferri akan direduksi menjadi ion ferro menurut reaksi
berikut:
2Fe(C2O4)33- + hv

2Fe(C2O4) + 3C2O42- + CO2

harga rendemen kuantik dari reduksi ini adalah 1,2. Untuk mengontrol ion ferro dalam larutan
tersebut, maka ke dalamnya ditambahkan larutan o-phenatrolin, yang kemudian diukur
dengan spektrometer pada panjang gelombang 510 nm, sedemikian sehingga konsentrasi ion
ferro diketahui dalam larutan. Dengan mengetahui harga densiti optik (DO), maka jumlah mol
Fe (II) dapat dihitung. Pengukuran DO adalah
DO = . c . 1 atau

c = (DO) / ( . 1)

di mana = absortifitas molar (1,15 x 104 l/cm mol), c = konsentrasi Fe (mol) dan 1 = ukuran
kuvet (1 cm). Pengukuran jumlah mol Fe : n Fe(II) = x . V, dimana V = volume total larutan.
Intensitas yang diadsorpsi oleh larutan adalah
Iabs = nFe(II) / . t

di mana = rendemen kuantik (1,2) dan t = waktu radiasi.

Pada panjang gelombang 250 475 nm, intensitas sinar diabsorpsi 100% oleh larutan
sehingg:
Ioleh sumber sinar = Iabs oleh larutan
I disini dinyatakan dalam Einstein/detik, yang berarti jumlah setiap foton yang dipancarkan.
2. Aktinometer dengan larutan uranyl oksalat
Dengan menggunakan larutan ini, maka reaksi fotokimia terjadi pada panjang gelombang
antara 200- 435 nm, yang berkorelasi dengan aktifitas dari ion uranyl (UO22+), yaitu:
UO22+ + hv

(UO22+)*

Dari reaksi ini akan terjadi perpindahan energi oleh UO 22+ ke molekul asam oksalat, sehingga
akan terjadi peruraian:
Teknik Kimia UNSYIAH

H2C2O2

H2O + CO2 + CO

Harga rendemen kuantik dari reaksi ini adalah sama dengan 0,54. Untuk mengukur kecepatan
reaksi dekomposisi dari asam oksalat dilakukan titrasi dengan KMNO 4 dalam suasana asam.
Untuk melakukan perhitungan, maka lebih dahulu perlu dihitung kecepatan dissosiasi dari
asam oksalat (rv), yang dinyatakan dalam mol terdissosiasi per jam liter, sedemikian sehingga:
Iabs =

rv .v
3600..t

(einstein/detik)

di sini = rendemen kuantik (0,54).


Bentuk Reaktor Fotokatalis
Ada dua susunan dasar dalam memilih reaktor fotokatalis. Sistem pertama adalah
dengan penyinaran dari luar dan pada kedua penyinaran dari dalam reaktor. Sedangkan secara
operasi reaktor fotokatalitik dapat dijalankan secara batch ataupun kontinyu. Bentuk reaktor
secara batch dan kontinyu seperti gambar berikut.

Teknik Kimia UNSYIAH