Anda di halaman 1dari 9

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF

A. Biodata Klien
Inisial Klien

: Ny. K

Jenis Kelamin

: Perempuan

No. RM

: 02-55-34

Usia

: 62 th.

Diagnosa Medis

: Ca. Mammae Sinistra

Tindakan Op.

: MRM

Riwayat Op.

: Ada riwayat

Hari & Tanggal Op. : Kamis, 04 Desember 2014


B. Riwayat Penyakit & Tujuan Pembedahan
1. Ringkasan Riwayat Penyakit
Klien mulai mengalami benjolan pada payudara kanan sejak 2 tahun yang lalu.
Awalnya benjolannya kecil, kemudian membesar secara berkala hingga saat ini
sebesar telur puyuh. Sejak 5 bulan yang lalu, benjolan disertai luka pada
permukaan benjolan, tepatnya pada bagian puting susu klien.
2. Tujuan Pembedahan
Tujuan tindakan pembedahan MRM pada Ny. K yaitu untuk mengangkat seluruh
jaringan payudara yang terdiri dari seluruh stroma dan parenkhim payudara,
aerola dan puting susu serta kulit diatas tumornya disertai diseksi kelenjar getah
bening aksila ipsilateral level I, II/III secara end block tanpa mengangkat m.
pektoralis mayor dan minor.
C. Pre Operative Care
1. Persiapan Pre Operatif
a. Fisik

Identitas klien sesuai dengan gelang identitas dan rekam medik.

Informed concent telah ditandatangani klien dan keluarga di ruang


perawatan.

Pemeriksaan penunjang berupa X-ray thorax dan USG payudara.

Persediaan darah 6 bag.

Klien puasa makan dan minum mulai pukul 00.00 WITA dini hari
(04/12/2014).

Tidak ada riwayat alergi.

Riwayat penyakit tidak ada.

Tidak menggunakan implant/protesa medis dan alat bantu laiinya.

Penandaan area operasi yaitu pada area payudara kiri.

Telah terpasang IV cath no.18 dengan 28 tpm dari ruang perawatan.

Pakaian klien telah diganti dengan pakaian bedah khusus pasien.

TTV: TD 110/80 mmHg, Nadi 80x/i, Pernafasan 20x/i, Suhu: 36,30C.

Pre medikasi yang diberikan yaitu antibiotik Ceftriaxone 2gr via IV.

b. Psikologis

Klien mengatakan merasa cemas meskipun ini kedua kalinya klien


menjalani operasi.

Klien mengatakan mengetahui tindakan operasi yang akan dilakukan


karena telah dijelaskan oleh dokter.

Klien menangis saat dilakukan pengkajian pre-op

2. Analisa Data dan Diagnosa Keperawatan


a. DS :

Klien mengatakan merasa cemas meski yang kedua kalinya dioperasi.

Klien mengatakan ingin ditemani keluarganya.

DO :

Klien menanyakan terus waktu operasinya.

Klien nampak menangis.

Klien selalu menanyakan keluarganya.

Diagnosa keperawatan : Kecemasan


3. Rencana Intervensi
Diagnosa
kep.
Kecemasan

Tujuan & Kriteria Hasil

Intervensi

Tujuan :
Bina hubungan saling percaya.
Setelah dilakukan intervensi, klien Bantu pasien untuk
dapat mengontrol kecemasan.
mengefektifkan sumber
KH :
dukungan.
Klien tidak tampak tegang dan Menjelaskan prosedur dan
ketakutan.
tindakan operasi.

4. Implementasi dan Evaluasi


Diagnosa kep.
Kecemasan

Implementasi
Membina hubungan saling
percaya.
Menjelaskan kembali
mengenai rencana tindakan
operasi yang akan
dilakukan.
Membantu untuk
mengefektifkan sumber
dukungan.

Evaluasi
S:O:
Klien mau berbicara dengan
perawat.
Klien tampak rileks setelah
diberikan penjelasan.
Perawat membiarkan klien
ditemani oleh keluarga sebelum
masuk ruangan operasi.
A : Masalah teratasi.
P :-

D. Intra Operative Care


1. Ringkasan Pembedahan

Tindakan operasi dilaksanakan mulai pukul 10.00 WITA.

Klien dipindahkan ke meja operasi dengan posisi supine.

Klien dipasangi ETT, serta dibius dengan general anastesi oleh dokter
anastesi.

Area operasi didesinfeksi dengan antiseptik Betadine, kemudian dilakukan


drapping.

Dilakukan insisi Willy Meyer, kemudian dibuat flap ke atas sampai di bawah
klavikula, flap bawah sampai inflamammary fold, flap medial sampai
parasternal ipsilateral.

Dilakukan astektomi dimulai dari bagian medial menuju lateral sambil


merawat perdarahan, terutama cabang pembuluh darah interkostal di daerah
parasternal. Pada saat sampai pada tepi lateral m.pektoralis mayor, dengan
bantuan haak jaringan, mamma dilepaskan dari m. pektoralis minor dan
serratus anterior (mastektomi simpel).

Diseksi aksila dimulai dengan mencari adanya pembesaran KGB aksila Level
I (lateral m. pektoralis minor), Level II (di belakang m. Pektoralis minor) dan
level III ( medial m. pektoralis minor).

Lapangan operasi dicuci dengan larutan Nacl 0,9%.

Dipasang dua drain pada medial dan lateral.

Menjahit luka lapis demi lapis.

Luka ditutup dengan Supratulle dan kasa steril kemudian dilapisi dengan
balutan elastic 6 inci.

Operasi selesai jam 13.30 wita

2. Asuhan Keperawatan Intra Operatif


a. Pengkajian

TTV; TD : 136/78 mmHg, Nadi : 75 x/i, Resp: 27x/i, SpO2 : 100%

Tindakan operasi merupakan tindakan invasif.

Penggunaan instrumen bedah.

Penggunaan peralatan listrik (ESU).

Insisi pada mammae.

b. Analisa data dan diagnosa keperawatan


Faktor risiko :

Tindakan invasif.

Penggunaan instrumen bedah.

Insisi pada mammae sinistra.

Diagnosa keperawatan : Risiko infeksi


c. Rencana intervensi
Diagnosa
Tujuan & Kriteria Hasil
kep.
Risiko infeksi Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan
operasi, tidak terjadi transmisi
agen infeksius.
KH :
Alat dan bahan yang digunakan
tidak
terkontaminasi
agen
infeksius.
Risiko cedera Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan
operasi, klien tidak mengalami
cedera.
KH :
Tidak terjadi luka bakar.

Intervensi
Gunakan peralatan operasi yang
steril.
Pertahankan teknik aseptik dan
antiseptik.

Gunakan peralatan listrik (ESU)


sesuai aturan.
Atur tegangan listirk ESU
sesuai indikasi.
Kaji kulit setelah operasi.

d. Implementasi dan evaluasi


Diagnosa
kep.
Risiko
infeksi

Implementasi

Memberikan antibiotik
profilaksis.
Menguji kesterilan semua

Evaluasi
S:O:
Klien diinjeksi dengan

instrumen pembedahan.
Melakukan desinfeksi pada
area operasi dan sekitarnya.
Melakukan drapping.
Menggunakan peralatan yang
steril dan mempertahankan
kesterilannya pada saat
proses pembedahan.
Melakukan dressing setelah
operasi selesai.

antibiotik Ceftriaxone 2 gr.


Stiker indikator menunjukkan
kesterilan alat.
Area insisi dan sekitarnya
didesinfeksi dengan betadine.
Dilakukan prosedur drapping.
Instrumen bedah, jas operasi,
gloves dan drapping tidak
terkontaminasi oleh benda yang
tidak steril.
Luka ditutup dengan daryantul
dan kasa steril.
A : Masalah teratasi.
P:
Ganti balutan sesuai indikasi.
Berikan antibiotik sesuai
indikasi.

Menggunakan peralatan listrik


(ESU) sesuai aturan.
Mengatur tegangan listirk
ESU sesuai indikasi.
Mengkaji kulit.

S:O:
Neutral plate terpasang pada
kaki kanan klien.
Menggunakan tegangan 25 volt.
Tidak ada luka bakar pada kulit
setelah operasi.
A : Cedera terhindari.
P:-

Risiko
cedera

3. Identifikasi instrument
a. Persiapan perlengkapan ruang operasi

Operating table

: 1 unit

Anesthetic machine

: 1 unit

Patient monitor

: 1 unit

Elektro surgical unit

: 1 unit

Suction pump

: 1 unit

Mayo table

: 3 unit

Surgical lights

: 2 unit

Standing infus

: 2 unit

b. Instrument bedah
Instrumen dasar :

Surgical towels

: 4 lbr (kecil), 2 lbr (besar), 1 lbr (lubang)

Round bowl

: 3 buah

Kidney bowl

: 1 buah

Suction canul

: 1 buah

Suction hose

: 1 buah

Elektro surgical pencil : 1 buah (monopolar)

Sponge holding

: 1 buah

Towel clamp

: 5 buah

Haemostatic forcep

: 8 buah

Tissue scissor

: 1 buah

Thread scissor

: 1 buah

Anatomical forcep

: 2 buah

Tissue forcep

: 2 buah

Scalpel handle no. 4

: 1 buah

Neddle holder

: 3 buah

Elis klem

: 5 buah

Hak tumpul

: 2 buah

c. Bahan habis pakai (BHP)

Kasa steril

: 12 ikat

NaCl 0.9%

: 2500 cc

Betadine

: 400 cc

Formaline 10%

: 1000 cc

Darya-antulle

: 2 lbr

Gloves steril 61/2

: 1 buah

Gloves steril 7

: 2 buah

Gloves steril 71/2

: 3 buah

Gloves steril 8

: 1 buah

Scalpel blade no. 15

: 1 buah

Aquades 25 ml

: 1 botol

Needle 23 G

: 1 buah

Spoit 10 cc

: 2 buah

Lidocain

: 3 amp

Underpad non steril

: 1 buah

NGT no.16

: 2 buah

Dafilone 3/0 DS 24

: 1 buah

Dafilone 4/0 DS 19

: 1 buah

Safille 2/0 HR 26

: 1 buah

Safille 3/0 HR 26

: 1 buah

Silkam 2/0 DS 30

: 1 buah

Silkam 0 HR 30

: 1 buah

4. Prosedur Pelaksanaan Pembedahan

Mencuci tangan dengan teknik surgical.

Memasang jas operasi dan gloves steril.

Menyusun instrumen yang dibutuhkan di meja mayo.

Menyiapkan peralatan desinfeksi berupa sponge holding dan round bowl


yang telah diisi dengan larutan Betadine dengan bantuan circulating nurse.

Membantu operator dan asisten memakai jas operasi.

Menyiapkan towel drapping dan towel clamp.

Mendekatkan meja mayo yang berisi instrument bedah ke posisi sebelah


kanan pasien.

Menyiapkan elektro surgical pencil dan suction hose serta memasang suction
canulnya, serta membiarkan ujung lainnya untuk dipasang ke electro surgical
unit dan suction pump oleh circulating nurse.

Menyiapkan scalpel blade no.15 untuk insisi kulit.

Menyiapkan anatomical forcep dan kasa untuk mengabsorbsi perdarahan.

Menyiapkan retractor dan tissue scissor.

Setelah kelenjar mammae terlihat, kemudian menyiapkan allis clamp untuk


menarik kulit.

Setelah mastektomi dan kontrol perdarahan, kemudian menyiapkan larutan


NaCl 0,9% untuk mencuci lapangan operasi.

Menyiapkan NGT no.16 untuk drain.

Menyiapkan benang dan jarum untuk menutup luka.

Menyiapkan daryantul dan kasa steril untuk menutup luka post insisi.

Operasi selesai jam 13.30 wita alat dirapikan.

5. Peran Mahasiswa
Selama proses intra operatif, mahasiswa hanya sebagai circulating nurse.

E. Post Operative Care


1. Pengkajian

TTV ; TD : 129/60 mmHg, Nadi : 55 x/i, RR : 20 x/i, SpO2 : 100%.

Kesadaran composmentis dengan GCS 15 (E4M6V5).

Aldrete score awal masuk RR : 7 (rentang 0-10).

Suhu ruangan yang dingin sekitar 20-24 oC.

Klien tampak menggigil.

Klien masih dalam pengaruh anastesi.

Klien masih tampak lemah.

2. Analisa Data dan Diagnosa Keperawatan

DS : DO : Tampak luka insisi sepanjang 40 cm pada area dada kanan klien.


Diagnosa keperawatan : Kerusakan integritas kulit b/d insisi pembedahan.

Faktor risiko :
-

Suhu ruangan yang dingin sekitar 20-24 oC.

Diagnosa keperawatan : Risiko hipotermi

Faktor risiko :
-

Klien masih dalam pengaruh anastesi.

Klien masih tampak lemah.

Diagnosa keperawatan : Risiko cedera


3. Rencana Intervensi
Diagnosa
kep.
Risiko
hipotermi

Risiko
cedera

Tujuan & Kriteria Hasil


Tujuan :
Setelah dilakukan intervensi,
temperatur tubuh klien terkontrol.
KH :
Tidak terjadi hipotermi.
Tujuan :
Setelah dilakukan intervensi, klien
tidak mengalami cedera.
KH :
Klien dalam posisi nyaman dan
tidak terjadi cedera.

Intervensi
Ukur suhu tubuh klien.
Lindungi tubuh klien dari
kedinginan.
Tempatkan klien pada
brankar dengan posisi
nyaman.
Pasang restrai pada sisi kiri
dan kanan brankar.
Hitung aldrete score
sebelum keluar RR.

4. Implementasi dan Evaluasi


Diagnosa kep.
Risiko hipotermi

Risiko cedera

Implementasi
Mengukur suhu tubuh
klien.
Melindungi tubuh klien
dari kedinginan dengan
memasangkan selimut.
Menggunakan mesin
warmer untuk
menghangatkan tubuh
klien.
Menempatkan klien pada
brankar dengan posisi
supine yang nyaman.
Memasang restrai pada
sisi kiri dan kanan
brankar.
Menghitung aldrete score
sebelum keluar RR.

Evaluasi
S:O:
Suhu 350C.
Klien dipakaikan selimut
dan mesin warmer.
Klien tidak menggigil.
A : Masalah teratasi.
P:
Ukur suhu tubuh klien.
Lindungi tubuh klien dari
kedinginan.
S : Klien mengatakan sudah
nyaman dengan posisinya.
O:
Klien dalam posisi supine.
Restrai pada brankar
terpasang.
Aldrete score 10.
A : Masalah teratasi.
P:
Tempatkan klien pada brankar
dengan posisi nyaman.
Pasang restrai pada sisi kiri
dan kanan brankar.