Anda di halaman 1dari 3

Terima kasih atas pertanyaannya, saya coba jawab dengan kemampuan, pengetahuan, dan

pengalaman pribadi saya.

Menurut saya, jawaban Diana Kusumasari itu sudah lengkap dengan dasar hukumnya.

Sebelum menjawab lebih lanjut, sekarang saya akan gambarkan terlebih dulu sejarahnya
bagaimana SAMSAT (Satuan Administrasi Manunggal Satu Atap = Polisi, Dispenda dan Jasa
Raharja) itu terbentuk.

Jadi begini. Negara mewajibkan kendaraan bermotor yang menginjak jalan umum untuk
didaftarkan. Daftarnya ke Polisi sesuai ketentuan Pasal 5 ayat (3) huruf e

Undang-

Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU
Lantas).

Sebagai bukti atas pendaftaran kendaraan bermotor diberikanlah Buku Pemilik Kendaraan
Bermotor (BPKB), Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), dan Tanda Nomor Kendaraan
Bermotor (atau biasa kita sebut pelat nomer). Kendaraan yang tidak terdaftar bisa ditindak
secara hukum.

Dalam satu tahun sekali, STNK harus disahkan oleh Polisi (silakan lihat di STNK masingmasing, ada 4 kotak yang nanti diisi stempel setiap tahun. tidak ada kotak ke-5 sebab
setiap 5 tahun STNK akan diperbarui). Tujuan disahkan setiap tahun adalah untuk
mengecek apakah STNK benar dipegang oleh pemilik atau tidak (hilang, dicuri, digelapkan,
dsb).

Mengapa bisa dicek seperti itu? Karena pengesahan tahunan meminta pengendara
menunjukkan KTP pemilik asli, yang nanti dicek petugas, apakah cocok dengan identitas di
STNK. Kalau cocok, langsung dikasih stempel pengesahan. (logikanya, maling yang berhasil
mencuri kendaraan dan STNK, tidak memiliki KTP pemilik kendaraan yang asli. Kecuali si
maling berhasil juga mengambil dompet yang berisi KTP pemilik)

Di samping itu, negara juga mewajibkan pemilik kendaraan bermotor MEMBAYAR PAJAK.
Namun kalau warga tidak bayar pajak, tidak bisa ditindak secara hukum. Akhirnya banyak
yang malas bayar pajak.

Dalam kondisi seperti ini, terjadi dialog imajiner antara Dispenda dan Polri kira-kira seperti
ini:

Pak Polisi.. Gimana kalau kita kerja sama. Pengendara banyak banget nih yang males
bayar pajak. Gimana bisa membangun kota/kabupaten, kalau pajak kendaraan yang masuk
sedikit, padahal jumlah kendaraan yang nginjek jalan banyak? Masalah kantor saya yang
siapin, pak Polisi kerja aja, gimana?

Dan pak Polisi-pun menjawab, Deal!

Nah, begitulah sejarah pada awalnya, sehingga Polisi gabung sama Dispenda dalam satu
kantor namanya Samsat (Jasa Raharja datang melengkapi, karena sangat berkaitan dengan
santunan laka lantas).

Untuk MEMAKSA pengendara membayar pajak, proses PENGESAHAN STNK TAHUNAN OLEH
POLISI diletakkan SETELAH proses PEMBAYARAN PAJAK KEPADA DISPENDA. Jadi mau
tidak mau, masyarakat yang mau mengesahkan STNK tahunannya, harus bayar pajak dulu.

Jadi begitu ceritanya. Polisi sebenarnya tidak menilang masalah pajak, tapi stempel
pengesahan tahunannya. Kalau tidak disahkan setiap tahun, STNK itu dipandang tidak sah.

Begitu ceritanya pak. Kalau Bapak merasa janggal, ya memang janggal. Karena tidak
adanya satu suara di dalam lalu lintas masalah ini. Tidak semua Polantas memahami
sejarah ini, sehingga nyangkut di dasar hukum bahwa POLISI tidak ada hubungan dengan
PAJAK.

Jadi memang beragam di lapangan, ada yang tidak menilang, ada juga yang menilang.
Kalau saya saat jadi Kanit Patroli, saya tilangin pak. Saya tunjukkan bahwa yang saya tilang
adalah ketiadaan stempel pengesahan tahunannya bukan masalah pajaknya.

Saran saya, tidak perlu pusing-pusing mencari dasar ini, dasar itu. Cukup jalankan saja
kewajiban kita sebagai pengendara. Mematuhi peraturan lalu lintas, dan membayar pajak.
Warga bijak taat pajak. Bukan begitu, pak?

Dasar hukum:

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan


Jalan