Anda di halaman 1dari 44

GANGGUAN PERILAKU PADA ANAK

LBM 5

STEP 1
VACUM EKSTRAKSI tindakan persalinan dengan cara menarik bagian kepala dengan
menggunakan alat (vacum ekstraktor)
KONSENTRASI
memusatkan perhatian

STEP 2
1. Mengapa pasien jika diberi tugas tidak pernah selesai???
2. Mengapa pasien dikelas semaunya sendiri, tidak bisa konsentrasi dan suka
mengganggu temannya???
3. Apa hubungannya kebiasaan menciumi kertas (amplop) dengan keluhan???
4. Adakah hubungan riwayat persalinan dengan keluhan???
5. Mengapa pasien menyukai permainan yang mengandalkan fisik???
6. Mengapa pasien memiliki daya ingat kuat???
7. mengapa kebiasaan pasien yang suka memukul benda yg menghasilkan bunyi
berulang-ulang???
8. Apakah hubungan pasien terlambat bicara dengan keluhan???
9. Penatalaksanaan yang perlu diberikan???
10. DD???

STEP 3
1. Mengapa pasien jika diberi tugas tidak pernah selesai???
Karena ada gangguan konsentrasi, adanya inatensi (penurunan NE), ada gangguan kognitif
(perkembangan penalaran kemmapuan berpikir dan memberikan rasional termasuk
persepsi, dan memperhatikan, orientasi) kognitif erat kaitannya oleh fx. Otak
karena kemampuan pasien untuk berpikir dipengaruhi kondisi otak
2. Mengapa pasien dikelas semaunya sendiri, tidak bisa konsentrasi dan suka
mengganggu temannya???
Adanya gangguan perilaku

Penyebab tidak bisa konsentrasi :


- Anak tidak mau konsentrasi NE normal, ada gang. Tingkah laku akibat gang.
Psikososial
- Anak tidak mampu konsentrasi NE berkurang
- Tidak konsen karena adanya disregulasi dopamin n NE akibat gang.
Metabolism katekolamin di korteks cerebral. Neuron yg hasilkan dopamine &
NE brasal dari mesencephalon. Nucleus system dopaminergik adalah
substansia nigra dan tigmentum anterior dan nucleus system NE adalah locus
ceroleus.
3. Apa hubungannya kebiasaan menciumi kertas (amplop) dengan keluhan???
Adanya gangguan sensoris : adanya sugesti yang masuk akan diingat di hippocampus
mempengaruhi system sensoris timbul gangguan sensoris
4. Adakah hubungan riwayat persalinan dengan keluhan???
Persalinan tidak spontan (vacuum ekstraksi termasuk mekanik) adanya defek
merusak otak (lobus frontal) mengakibatkan kelainan inhibisi timbul gejala inatensi
5. Mengapa pasien menyukai permainan yang mengandalkan fisik???
Adanya gangguan kognitif (IQ rendah) tidak suka permainan yang
mengandalkan otak
Gangguan atensi tidak bisa konsen mudah bosan dalam pelajaran bermain
terus
NE turun dan juga adanya disfungsi dopaminergik anak jadi hiperaktif
6. Mengapa pasien memiliki daya ingat kuat???
Pada anak2 yg mempunyai gangguan hiperaktif, mempunyai kemampuan viskomotor
/kognitif yg tidak biasa / prekok kemmpuan ini dapat ada bahkan didalam keseluruhan
fungsi yang mengalami retardasi yang disebut splinter function/ islet of precocity.
Biasanya kemampuan daya ingat konsentrasi dan berhitung lebih menonjol dibandingkan
anak normal sebayanya
7. mengapa kebiasaan pasien yang suka memukul benda yg menghasilkan bunyi
berulang-ulang???
Adanya hiperaktifitas stereotip mengarah ke autisme

8. Apakah hubungan pasien terlambat bicara dengan keluhan???


Ada 4 faktor :
-

Gang. Pemusatan perhatian


Gang. Pendengaran
Retardasi mental
Pengaruh kurangnya stimulasi lingkungan ( ortu kaku membatasi pergaulan
anak padahal anak belajar bicara dari memperhatikan orang lain/ teman)

Scenario : adannya gang. Atensi jadi penyebabnya adalah gang. Pemusatan perhatian
anak menciptakan dunia nya sendiri tidak mau berkomunikasi dengan orang lain
DSM IV anak autis ada gang. Kualitatif pada interaksi social, gang. Kualitatif pd
komunikasi verbal n non verbal, gang. Pola repetitive dan stereotip ug kaku pd tingkah
laku, minat, dan aktivitas
Anak kurang mandiri (sekolah masih ditunggu) kemampuan/ ketrampilan jadi
terganggu
TAMBAHAN :
Pada autism bisa jadi IQ nya retardasi tetapi perilaku autism
9. Perbedaan ADHD dengan autism???
10. DD??
AUTISME
ADHD
RETARDASI MENTAL

STEP 4

Faktor Psikososial

Faktor Biologis

Disfungsi system dopaminergik


dan adrenergik

Gangguan Perilaku

Keterlambatan bicara &


gangguan interaksi sosial

Inatensi, hiperaktif,
impulsif

ADHD

AUTISM
E

IQ < 70

RETARDASI
MENTAL

STEP 5

SEMUANYA JADI LEARNING ISSUE

STEP 6

BELAJAR MANDIRI!!!!!!!!!!!!!!!!!

STEP 7
1. Mengapa pasien jika diberi tugas tidak pernah selesai???

Inatensi adalah bahwa sebagai individu penyandang gangguan ini tampak


mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatiannya. Mereka sangat mudah
teralihkan oleh rangsangan yang tiba-tiba diterima oleh alat inderanya atau oleh
perasaan yang timbul pada saat itu. Dengan demikian mereka hanya mampu
mempertahankan suatu aktivitas atau tugas dalam jangka waktu yang pendek,
sehingga akan mempengaruhi proses penerimaan informasi dari lingkungannya.
Faktor neurobiologis

Beberapa dugaan dari penemuan tentang neurobiologis diantaranya bahwa


terdapat persamaan antara ciri-ciri yang muncul pada gangguan perhatian dengan
yang muncul pada kerusakan fungsi lobus prefrontl.
Temuan melalui MRI (pemeriksaan otak dengan teknologi tinggi)menunjukan ada
ketidaknormalan pada bagian otak depan. Bagian ini meliputi korteks prefrontal
yang saling berhubungan dengan bagian dalam bawah korteks serebral secara
kolektif dikenal sebagai basal ganglia.
Bagian otak ini berhubungan dengan atensi, fungsi eksekutif, penundaan respons,
dan organisasi respons. Kerusakan-kerusakan daerah ini memunculkan ciri-ciri
yang serupa dengan ciri-ciri gangguan perhatian

Sugihartono dkk. (2007). Psikologi pendidikan.Yogyakarta: UNY Press.


Hal itu menandakan adanya gejala inatensi seperti dibawah ini
Inatensi menetap dan berlangsung sedikitnya 6 bulan sampai ke tingkat maladaptif dan
tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak;

Sering gagal memberikan perhatian yang baik terhadap hal-hal yang rinci atau
sering melakukan kesalahan yang tdk seharusnya atau ceroboh terhadap pekerjaan
sekolah dan atau pekerjaan lain.

Sulit dalam mempertahankan pemusatan perhatian dalam melakukan tanggung


jawabnya atau kegiatan bermain

Tampak acuh seterti tidak mendengar saat diajak bicara

Tidak mampu mengikuti aturan, instruksi dalam pekerjaan atau tugas

Kesulitan dalam mengorganisasikan tugas tanggung jawab atau aktivitas


keseharian

Menghindar, menolak, atau tidak suka melakukan tugas konsentrasi lama, seperti
tugas sekolah

Sering kehilangan barang-barang yang dimilikinya seperti mainan, pensil, buku


atau peralatan lain

Mudah teralih perhatian dengan rangsangan dari luar

Mudah lupa kegiatan yang dilakukan dalam keseharian

Hal itu bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Belum diketahui dengan pasti penyebab
GPPH,

penelitian-penelitian

menunjukkan

banyak

faktor

yang

mempengaruhi

diantaranya genetik, struktur anatomi dan neurokimiawi otak. Dilaporkan terdapat


pengecilan lobus prefrontal kanan (fungsinya sebagai proses editing perilaku, mengurangi
distraktibilitas, membantu kesadaran diri dan waktu seseorang), nukleus kaudatus kanan
dan globus palidus kanan (berperan menghambat respon otomatik yang datang pada
bagian otak, koordinasi rangsangan tetap optimal), serta vermis / bagian dari cerebelum
(mengatur keseimbangan). Orang tua yang menderita GPPH kemungkinan anaknya
GPPH 50%, saudara kandung dengan GPPH mempunyai 5 7 kali lebih besar mengalami
GPPH, kembar identik 55 92% akan menderita gangguan yang sama jika satu anak
tersebut GPPH. Neurotransmiter dopamin meningkat di limbik dan lobus prefrontal yang
berakibat anak GPPH kesulitan dalam menjalankan fungsi eksekutifnya, berupa kontrol
diri yang buruk dan gangguan dalam menginhibisi perilaku, keadaan tersebut karena
adanya hiperaktivitas transporter dopamin sehingga anak GPPH menunjukkan :

Gangguan Non-Verbal Working Memory, dengan gambaran berupa:

Kehilangan rasa kesadaran akan waktu


Ketidak mampuan menyimpan informasi di dalam otaknya
Persepsi tidak sesuai terhadap suatu obyek/kejadian
Perencanaan dan pertimbangan yang buruk

Gangguan internalisiation of self directed speech, berupa;


Kesulitan mengikuti peraturan yang berlaku
Tidak disiplin
Self guidance dan self questioning yang buruk

Gangguan regulasi, motivasi dan tingkat ambang kesadaran diri yang buruk.,
gejalanya seperti;
Kesulitan menyensor semua bentuk reaksi emosi, ambang toleransi frustasi
yang rendah
Hilangnya regulasi diri dalam bidang motivasi dan dorongan kehendak

Gangguan merekontruksi berbagai perilaku yang sudah di observasi dalam usaha


untuk membangun suatu bentuk perilaku baru untuk mencapai tujuan dari suatu
kegiatan yang sudah di targetkan, berupa;
Keterbatasan menganalisis perilaku-perilaku dan melakukan sintesis ke
dalam bentuk yang baru
Ketidak mampuan untuk menyelesaikan persoalan sesuai dengan taraf
usianya

Dilaporkan juga komplikasi perinatal (perdarahan antepartum, persalinan lama, nilai


APGAR rendah dalam menit pertama kelahiran, dll) ada kaitan timbulkan GPPH.
Penelitian lain melaporkan ibu yang merokok selama kehamilan lebih beresiko GPPH
(Milberger at all, 1997). Bayi dengan BBLR disertai kerusakan subtansia alba bereiko
lebih tinggi GPPH (Whitaker at all, 1997).
Kondisi organik lain yang diperkirakan berpengaruh resiko GPPH yaitu; alergi, diet,
pengaruh logam berat. GPPH mungkin bertambah berat pada anak dengan dengan
penyakit organik tertentu seperti abnormalitas fungsi tyroid, infeksi telinga berulang, dan
tuli sensorineural.

Hiperaktivitas

Tidak bisa diam, kaki atau tangannya bergerak terus

Tidak mampu duduk diam dimana anak diharapkan duduk diam

Sering berlari atau memanjat secara berlebihan pada situasi yang tidak sesuai
(seperti pada remaja atau dewasa)

Sering sulit dalam bermain atau kegiatan yang menyenangkan bersama yang
memerlukan ketenangan

Bergerak terus seperti digerakkan mesin

Berbicara berlebihan

Impulsivitas

Menjawab sebelum selesai pertanyaan

Sulit menunggu giliran

Sering menginterupsi atau mengintrusi orang lain (misal orang lain sedang
berbicara atau bermaib)

2. Mengapa pasien dikelas semaunya sendiri, tidak bisa konsentrasi dan suka
mengganggu temannya???
Gangguan perilaku pada anak denga gejala gangguan pemusatan perhatian-impulsif
hiperaktif
Kesulitan mengatur perhatiannya, hambatan dalam fokus terhadap stimulus spesifik
tertentu karena sering terpecah perhatiannya pada stimulus lain yang tidak relevan
disekitarnya

neuropsychological meyakini pentingnya kortek frontal dan rantai sirkui ke ganglia


basalis memiliki fungsi penting dalam atensi dan pengaturan atau pembatasan
exercise
cortex in persons with ADHD strongly support decreased activation (low arousal)
weakened activity in the right inferior prefrontal cortex and left caudate

the catecholamines are the main neurotransmitters with frontal-lobe function.


dopaminergic and noradrenergic neurotransmission appear to be the main targets for
medications used to treat ADHD.

Konsentrasi adalah bagaimana anak fokus dalam mengerjakan atau


melakukan sesuatu sehingga pekerjaan itu mampu dikerjakan dalam waktu
tertentu.
Ada tiga hal yang menyebabkan terjadinya kesulitan
berkonsentrasi, yaitu:

Faktor eksternal : lingkungan dan Pola pengasuhan yang permissive

Faktor psikologis

Faktor internal karena adanya gangguan perkembangan otak dan hormon


yang dihasilkan lebih banyak sehingga anak cenderung menjadi hiperaktif.
Jika anak lamban/lambat disebabkan karena hormone yang dihasilkan oleh
neurotransmitter-nya kurang. Sehingga bisa mengakibatkan lambannya
konsentrasi.

Konsentrasi atau perhatian biasanya berada di otak daerah frontal


(depan) dan parientalis (samping). Gangguan di daerah ini bisa
menyebabkan kurang atensi atau perhatian. Jadi, karena sistem di otak
dalam memformulasikan fungsi-fungsi aktivitas, seperti penglihatan,
pendengaran, motorik, dan lainnya, di seluruh jaringan otak itu
terganggu, maka anak tidak dapat berkonsentrasi karena input yang
masuk ke otak terganggu, Gangguan ini bukan merupakan bawaan
melainkan bisa didapat misalnya karena terkena infeksi otak.

Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2002). Tumbuh Kembang Anak Dan

Dewasa. Jakarta : Sagung Seto.


3. Apa hubungannya kebiasaan menciumi kertas (amplop) dengan keluhan???
Perasaan sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa dari
mulai ringan sampai berat. Menggigit, menjilat atau mencium mainan atau benda apa
saja. Bila mendengar suara keras, menutup telinga. Menangis setiap kali dicuci
rambutnya. Merasakan tidak nyaman bila diberi pakaian tertentu. Tidak menyukai
rabaan atau pelukan, Bila digendong sering melepaskan diri dari pelukan.
Efendi, M. 2006. Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit mainan atau
benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga, tidak menyukai rabaan
dan pelukan, dan sebagainya
QUANTUM SPECIAL NEED TRAINING CENTER: PEDOMAN DIAGNOSIS
4. Adakah hubungan riwayat persalinan dengan keluhan???

Ekstraksi forcep

2.3. Pengaruh Teknik-Teknik Melahirkan Terhadap Kecerdasan Anak


Saat ini banyak berkembang asumsi bahwa anak yang dilahirkan dengan operasi caesar memiliki
kecerdasan IQ yang lebih tinggi daripada bayi yang dilahirkan secara normal atau persalinan pervaginam
dengan bantuan alat seperti secara Ekstraksi Vacum dan Ekstraksi Forceps, walaupun kebenarannya
masih dipertanyakan hingga kini.
Dari beberapa penjelasan secara singkat diatas, dapat dinyatakan bahwa setiap teknik
persalinan memiliki resiko masing-masing terhadap bayi yang dilahirkan, tak terkecuali pada kecerdasan
anak. Karena, kecerdasan anak juga dapat dipengaruhi saat dalam kandungan maupun saat melalui
proses persalinan seperti lingkungan setelah bayi dilahirkan yang justru memberi andil besar terhadap
kecerdasan anak .

Berdasarkan responden yang telah mengisi angket (pada lampiran) yang diberikan pada remaja
usia 16 tahun keatas ,menyatakan bahwa sekitar 67 % anak yang dilahirkan secara normal memiliki IQ
sekitar 105 keatas, sedangkan untuk operasi caesar sekitar 16% yang memiliki IQ 104-105 dan untuk
yang dilahirkan dengan Ekstraksi Vacum sekitar 10 %memiliki IQ sekitar 105 dan 2% untuk forceps tidak
diketahui datanya. Hal ini karena adanya keterbatasan responden.
Untuk lebih menguatkan sejauh mana pengaruh teknik melahirkan terhadap kecerdasan anak
dapat diambil penelitian dari Seidman dkk, yang penelitiannya dilakukan di West Yerussalem Hospital
menyebutkan bahwa anak yang dilahirkan spontan mempunyai inteligen skor 105,kelahiran dengan
forseps 104,anak yang dilahirkan dengan ekstraksi vacuum 105 dan dengan operasi Caesar 103 (Andalas,
2008)
.

Dari rentang IQ yang tidak berbeda jauh tersebut dapat dilihat bahwa memang terdapat
pengaruh antara teknik melahirkan dengan kecerdasan, namun tidak terlalu mencolok perbedaannya.
Kemungkinan perbedaan tersebut, dikarenakan ada kesalahan teknis saat melahirkan. Seperti saat
menyangkut masalah kontraksi, atau tenaga ahli yang tidak mendukung.
Dari berbagai penelitian yang telah dijelaskan diatas, dapat disimpulkan bahwa teknik persalinan
yang digunakan memberi pengaruh terhadap kecerdasan anak yang dilahirkan walaupun kisaran IQnya
tidak jauh berbeda. Dari pernyataan diatas juga sekaligus membantah pernyataan bahwa melahirkan
secara operasi caesar membuat anak yang dilahirkan menjadi lebih pintar. Karena pada kenyataannya
justru, banyak resiko yang harus ibu atau anak tanggung apabila saat melahirkan tidak menggunakan
teknik yang tepat. Apalagi, kecerdasan IQ lebih dipengaruhi lingkungan daripada faktor genetika

5. Mengapa pasien menyukai permainan yang mengandalkan fisik???

6. Mengapa pasien memiliki daya ingat kuat???


FUNGSI INTELEKTUAL
Kemampuan visuomotor atau kognitif yang tidak biasa atau prekoks terjadi pada beberapa
anak autistic. Kemampuan ini, yang dapat ada bahkan di dalam keseluruhan fungsi yang
mengalami retardasi, disebut sebagai splinter functions atau islet of precocity. Mungkin
contoh yang paling menonjol adalah pelajar autistic atau idiot, yang memiliki daya ingat
menghafal atau kemampuan berhitung yang luar biasa, biasanya di luar kemampuan
sebayanya yang normal. Kemampuan prekoks lainnya pada anak autistic yang masih kecil
mencakup hiperleksia, kemampuan awal membaca yang baik (meskipun mereka tidak
mengerti apa yang mereka baca), mengingat dan menceritakan kembali, serta kemampuan
musical (bernyanyi atau memainkan nada atau mengenali karya music).

Menurut Penelitian di Virginia University di Amerika Serikat diperkirakan 75-80


% penyandang autis mempunyai kemampuan berpikir di bawah rata-rata/retardasi
mental, sedangkan 20 % sisanya mempunyai tingkat kecerdasan normal ataupun di
atas normal untuk bidang-bidang tertentu.
Sebagian kecil mempunyai daya ingat yang sangat kuat terutama yang berkaitan
dengan obyek visual (gambar)
Sebagian kecil memiliki kemampuan lebih pada bidang yang berkaitan dengan angka.

7. mengapa kebiasaan pasien yang suka memukul benda yg menghasilkan bunyi


berulang-ulang???

Karena pada saat anak tersebut melakukan hal tersebut ada suatu kepuasan tersendiri
dan perhatiannya tertuju pada benda tersebut. Merupakan ciri ciri gangguan perilaku

8. Apakah hubungan pasien terlambat bicara dengan keluhan???


Gangguan bicara dan keterlambatan pada anak dapat disebabkan karena kelainan
organik yang mengganggu beberapa sistem tubuh seperti otak, pendengaran dan
fungsi motorik lainnya. Beberapa penelitian menunjukkan penyebab ganguan bicara
adalah adanya gangguan hemisfer dominan. Penyimpangan ini biasanya merujuk ke
otak kiri. Beberapa anak juga ditemukan penyimpangan belahan otak kanan, korpus
kalosum dan lintasan pendengaran yang saling berhubungan
Penyebab keterlambatan bicara :
Retardasi mental
Gangguan pendengaran [Hearing loos]
Gangguan maturitas [Developmental language delay]
Afasia perkembangan ekspresif [Expressive language disorder, developmental
expressive aphasia]
Autisme
Aphasia reseptif
Cerebral palsy.
9. Perbedaan ADHD dengan autism???

autis termasuk salah satu gangguan pervasif (komunikasi), sedang ADHD


termasuk salah satu gangguan hiperaktif,
autis suka melakukan kegiatan yang sama dan berulang, serta mengucapkan
kata berulang (ecolalia), sedangkan ADHD bosan melakukan aktifitas yang
sama, serta tidak mengulang kata,

autis tidak dapat berinteraksi dengan orang lain, sedang ADHD bisa,
autis lebih mudah diidentifikasi setelah anak usia tiga tahun, sebelum tiga tahun
termasuk ke dalam gangguan pervasif, sedang ADHD muncul setelah anak
merasa ketakutan/cemas akan memiliki adik baru sehingga perhatian
berkurang,
autis diterapi dengan mengatur pola makan, pemberian obat, motorik, dan
konseling orang tua dan guru; sedangkan ADHD dengan mengatur pola makan,
pemberian obat psikotropika, konseling orang tua dan guru, anak dapat diajak
berinteraksi dan dimodifikasi perilakunya,
Autis agak sulit untuk diterapi karena anak memiliki dunianya sendiri, sedang
ADHD lebih mudah yakni dengan mengalihkan hiperaktifitas anak ke hal
motorik yang dapat membuang energinya.

Tahap perkembangan normal pada anak dalam pekembangan psikiatri?

Perkembangan adalah perubahan psikologis sebagai hasil dari proses pemantangan


fungsi psikis dan fisik pada diri anak, yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses
belajar dalam peredaran waktu tertentu menuju kedewasaan dari lingkungan yang
banyak berpengaruh dalam Perkembangan PSYCHO-SOSIAL
Menurut ERICK ERICKSON perkembangan Psycho-sosial atau perkembangan jiwa
manusia yang dipengaruhi oleh masyarakat dibagi menjadi 8 tahap:
1. Trust >< Mistrust (usia 0-1 tahun)
Tahap pertama adalah tahap pengembangan rasa percaya diri.
Fokus terletak pada Panca Indera, sehingga mereka sangat memerlukan sentuhan dan
pelukan.
2. Otonomi/Mandiri >< Malu/Ragu-ragu (usia 2-3 tahun)
Tahap ini bisa dikatakan sebagai masa pemberontakan anak atau masa 'nakal'-nya.
sebagai contoh langsung yang terlihat adalah mereka akan sering berlari-lari dalam
Sekolah Minggu.
Namun kenakalannya itu tidak bisa dicegah begitu saja, karena ini adalah tahap dimana
anak sedang mengembangkan kemampuan motorik (fisik) dan mental (kognitif),
sehingga yang diperlukan justru mendorong dan memberikan tempat untuk
mengembangkan motorik dan mentalnya.
Pada saat ini anak sangat terpengaruh oleh orang-orang penting di sekitarnya (Orang
Tua - Guru Sekolah Minggu)kehidupan anak menuju dewasa ( Frida Fidayanti: 2011).
3. Inisiatif >< Rasa Bersalah (usia 4-5 tahun)
Dalam tahap ini anak akan banyak bertanya dalam segala hal, sehingga berkesan

cerewet. Pada usia ini juga mereka mengalami pengembangan inisiatif/ide, sampai pada
hal-hal yang berbau fantasi.
Mereka sudah lebih bisa tenang dalam mendengarkan Firman Tuhan di Sekolah Minggu.
4. Industri/Rajin >< Inferioriti (usia 6-11 tahun)
Anak usia ini sudah mengerjakan tugas-tugas sekolah - termotivasi untuk belajar.
Namun masih memiliki kecenderungan untuk kurang hati-hati dan menuntut perhatian.
Sesuai dengan batasan usia Sekolah Minggu pada umumnya, maka empat tahap
berikutnya (Usia diatas 11 tahun) tidak dibahas dalam kolom ini.
Perkembangan Emosi berdasarkan periode perkembangan
1. Infant (masa bayi 0-2 tahun)
Pada waktu lahir, emosi tampak dalam bentuk sederhana, dan reaksi emosional dapat
ditimbulkan oleh berbagai macam rangsangan. Pola emosional yang lazim pada masa
bayi yaitu kemarahan, rasa ingin tahu, kegembiraan, dan kesenangan akan sesuatu.
Mendukung perkembangan emosi anak

Tetapkan waktu bermain dengan anak. Beri kesempatan pada anak untuk
menentukan apa yang diinginkan.

Luangkan waktu untuk memecahkan masalah bersama anak. Membantu anak


dalam menyelesaikan masalahnya, mencari penyebabnya dan memberi masukan
untuk jalan keluar dari maslahnya.

Melihat masalah dari sudut pandang anak. Misalnya pada anak yang sedang
mengamuk atau marah, orang tua harus mendengarkan apa yang anak inginkan.

Meminimalkan masalah. Sebagai orang tua atau pendidik menunjukan penyebab


masalah yang dialami anak.

Berikan batasan. Berikan batasan dan bimbingan kepada anak.

2. Early childhood (masa kanak-kanak awal)

Pada masa kanak-kanak awal emosi sangat kuat. Saat ini merupakan saat
ketidakseimbangan karena anak-anak keluar dari focus, dalam arti bahwa ia mudah
terbawa ledakan-ledakan emosional sehingga sulit dibimbing dan diarahkan.
3. Late childhood (masa kanak-kanak akhir)
Pada kanak-kanak akhir merupakan ungkapan menyenangkan. Adanya ledakan amarah
dan menderita kekhawatiran serta perasaan kecewa.
4. Early Adolescence
Masa remaja awal secara tradisional dianggap sebagai periode badai dan tekanan,
dimana masa itu emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Pada
masa remaja awal anak berusaha menyesuaikan diri terhadap pola perilaku baru dan
harapan social yang baru.
5. Late adolescence (masa remaja akhir)
Cirri-ciri emosional akhir yaitu pemberontakan karena perubahan dari masa kanakkanak awal menuju masa kanak-kanak akhir yang mengalami konfilk dengan orang tua
mereka, sering kali melamun, dan memikirkan masa depan mereka ingin menjadi apa.
6. Masa dewasa awal
Perkembangan emosinya mulai stabil dan mampu mengendalikan emosi.
7. Masa dewasa madya (40-60 tahun)

Emosi laki-laki, lebih banyak berkonsentrasi ke karir, waktunya habis dipekerjaan,


kondisi emosionalnya melatarbelakangi pekerjaannya.

Emosi perempuan, (mengalami menopause) emosi menjadi tidak stabil dan mudah
tersinggung dan menjadi sangat sensitive.

8. Masa dewasa akhir (usia lanjut)

Emosi sedikit menurun, seperti anak kecil yang mudah tersinggung dan mudah marah
serta biasanya segala keinginannya ingin terpoenuhi.
E. Perubahan Perkembangan dalam Emosi

Bayi memulai dengan sedikit dasar emosi dan dengan perlahan menambah perasaan
baru.

Bayi merespon emosi dari orang disekitarnya.

Anak-anak belajar menunjukan perbuatannya berdasarkan ekspresi emosional orang


lain.

Anak-anak mengembangkan kemampuan mengendalikan emosi.

Bertambahnya reflex emosi pada anak.

Secara perlahan anak-anak dan remaja belajar untuk mengatur emosinya.

Memperhatikan perasaan orang lain.

Pada tahun akhir sekolah membawa kecemasan baru dan tekanan.

10. DD??
AUTISME
PENGERTIAN AUTISME
Autisme berasal dari kata autos yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri.
Dalam kamus psikologi umum (1982), autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan
sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri
daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme
sering disebut orang yang hidup di alamnya sendiri. Dulu anak-anak yang mengalami
gangguan ini telah dideskripsikan dalam berbagai istilah seperti chilhood schizophrenia (Bleuer),
sedangkan Margareth Mahler (1952) menyebutnya dengan symbiotic psychotic children dengan
gejala-gejala tidak dapat mengembangkan self-object differentiation. Belakangan istilah psikosis
cenderung dihilangkan dan dalam Diagnostic and QUANTUM SPECIAL NEED TRAINING
CENTER: PEDOMAN DIAGNOSIS 2

Statistical Maunal of Mental Disorder edisi IV (DSM-IV) Autisme digolongkan sebagai


gangguan perkembangan pervasif (pervasive developmental disorders), secara khas gangguan
yang termasuk dalam kategori ini ditandai dengan distorsi perkembangan fungsi psikologis dasar
majemuk yang meliputi perkembangan keterampilan sosial dan bahasa, seperti perhatian,
persepsi, daya nilai terhadap realitas, dan gerakan-gerakan motorik. Autisme atau autisme
infantil (Early Infantile Autism) pertama kali dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 seorang
psikiatris Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada
anakanak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner (untuk membedakan
dengan sidrom Asperger atau autis Asperger). Ciri yang menonjol pada sindrom Kanner antara
lain ekspresi wajah yang kosong seolah-olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit
sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi.
GEJALA-GEJALA YANG NAMPAK
Gejala autisme infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak gejala
gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir. Chris Williams dan Barry Wright (2007)
mengemukakan beberapa simptom autistik yang mungkin sudah muncul diusia 18 bulan, seperti:
A. Tidak melakukan kontak mata.
B. Tidak merespon segera jika dipanggil nama.
C. Tampak berada didunianya sendiri.
D. Mengalami hambatan perkembangan bahasa.
E. Kehilangan kemampuan berbahasa.
F. Tidak menggunakan sikap tubuh.
G. Memegang tangan orang dewasa dan menaruhnya pada sesuatu yang
ingin dia buka.
H. Tidak memahami sikap tubuh orang lain.
I. Tidak bermain pura-pura.
J. Lebih tertarik pada bagian-bagian permainan.
K. Menghabiskan banyak waktu untuk membariskan benda-benda.
L. Dan melakukan gerakan-gerakan tidak umum (ex. Jalan jinjit).
M. Memaksa membawa dua benda, satu disetiap tangan, seringkali dengan bentuk dan warna
sama.

Mengingat di Indonesia belum ada suatu alat tes yang baku untuk mengetahui gangguan pada
anak, maka untuk tujuan tersebut dapat dilakukan dengan membandingkan perkembangan anak
dengan indikator perkembangan yang normal. Dibawah ini disajikan tabel perkembangan
motorik dan perkembangan bahasa pada anak normal.

Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas saat anak telah
mencapai usia 3 tahun, yaitu:
A. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat bicara,
mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat dimengerti, echolalia, sering
meniru dan mengulang kata tanpa dimengerti maknanya, dan seterusnya.
B. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindari kontak mata, tidak melihat jika
dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain sendiri, dan seterusnya.
C. Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perilaku yang berlebih (excessive)
dan kekurangan (deficient) seperti impulsif, hiperaktif, repetitif namun dilain waktu terkesan
pandangan mata kosong, melakukan permainan yang sama dan monoton .Kadang-kadang ada
kelekatan pada benda tertentu seperti gambar, karet, boneka dan lain-lain yang dibawanya
kemana-mana.
D. Gangguan pada bidang perasaan atau emosi, seperti kurangnya empati, simpati, dan toleransi;
kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang nyata dan sering mengamuk tanpa
kendali bila tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
E. Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit mainan atau benda,
bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga, tidak menyukai rabaan dan pelukan,
dan sebagainya.
F. Gejala-gejala tersebut di atas tidak harus ada semuanya pada setiap anak autisme, tergantung
dari berat-ringannya gangguan yang diderita anak.
KRITERIA DIAGNOSTIK
Autistik (Autistic Disorder) berbeda dengan gangguan Rett (Retts Disorder), gangguan
disintegatif masa anak (Childhood Disintegrative Disorder) dan gangguan Asperger (Aspergers
Disorder). Secara detail, menurut DSM IV, kriteria gangguan autistik adalah sebagai berikut:
A. Harus ada total 6 gejala dari (1), (2) dan (3), dengan minimal 2 gejala dari
(1) dan masing-masing 1 gejala dari (2) dan (3):

1. Kelemahan kwalitatif dalam interaksi sosial, yang termanifestasi dalam sedikitnya 2 dari
beberapa gejala berikut ini:
a. Kelemahan dalam penggunaan perilaku non-verbal, seperti kontak mata, ekspresi wajah, sikap
tubuh, gerak tangan dalam interaksi sosial.
b. Kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya sesuai dengan tingkat
perkembangannya.
c. Kurangnya kemampuan untuk berbagi perasaan dan empati dengan orang lain.
d. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.
2. Kelemahan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus ada 1 dari gejala berikut ini:
a. Perkembangan bahasa lisan (bicara) terlambat atau sama sekali tidak berkembang dan anak
tidak mencari jalan untuk berkomunikasi secara non-verbal.
b. Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak digunakan untuk berkomunikasi.
c. Sering menggunakan bahasa yang aneh, stereotype dan berulangulang.
d. Kurang mampu bermain imajinatif (make believe play) atau permainan imitasi sosial lainnya
sesuai dengan taraf perkembangannya.
3. Pola perilaku serta minat dan kegiatan yang terbatas, berulang.

Minimal harus ada 1 dari gejala berikut ini:


a. Preokupasi terhadap satu atau lebih kegiatan dengan fokus dan intensitas yang abnormal atau
berlebihan.
b. Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik atau rutinitas
c. Gerakan-gerakan fisik yang aneh dan berulang-ulang seperti menggerak-gerakkan tangan,
bertepuk tangan, menggerakkan tubuh.
d. Sikap tertarik yang sangat kuat atau preokupasi dengan bagianbagian tertentu dari obyek.

B. Keterlambatan atau abnormalitas muncul sebelum usia 3 tahun minimal pada salah satu
bidang (1) interaksi sosial, (2) kemampuan bahasa dan komunikasi, (3) cara bermain simbolik
dan imajinatif.
C. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Anak.

PEDOMAN DALAM MELAKUKAN OBSERVASI UNTUK KEPERLUAN

DIAGNOSIS ANAK DENGAN GANGGUAN AUTIS.


Ada beberapa gejala yang harus diperhatikan sebagai pedoman dalam melakukan diagnosis,
sebagai berikut:
A. Kemungkinan simptom atau gejala diusia 3-5 tahun
1. Tidak melakukan kontak mata dengan baik.
2. Tidak tertarik dengan orang lain dan lebih suka bermain sendirian.
3. Menunjukka respon yang tidak biasa yang mengganggu orang lain.
4. Menggunakan bahasa yang berbeda dengan anak-anak lain (sangat sedikit berbahasa,
berbahasa dengan baik tapi diulang-ulang, mengulangi kata-kata dari film, video atau program
TV, ekolalia, sulit mengerti perkataan orang lain.
5. Punya sedikit atau tidak tertarik dengan permainan imajinasi.
6. Tidak tertarik bergabung dalam permainan kelompok.
7. Sangat terpaku pada beberapa permainan atau permainan tertentu.
8. Perilaku sangat rutinitas.
9. Membuat gerakan tidak biasa seperti berputar atau berayun.
10. Sangat senditif dengan suara
11. Sangat sensitif dengan bau-bauan.
12. Sangat sensitif dengan sentuhan.
B. Kemungkinan simptom atau gejala diusia 6 11 tahun
1. Melakukan kontak mata yang buruk.
2. Tidak suka menggunakan sikap seperti menunjuk, memberi tanda, melambai.
3. Tidak punya teman sebaya.
4. Tidak menunjukkan pekerjaannya kepada guru meskipun diminta.
5. Lebih sulit berbagi dengan anak-anak lain.
6. Sulit untuk saling bergantian, dan selalu ingin menjadi yang pertama.
7. Tampak tidak peduli dengan perasaan anak-anak lain.
8. Mengatakan hal yang sama berulang-ulang.
9. Tidak ingin dan tidak menikmati permainan berpura-pura.
10. Tidak mudah berbicara dengannya, tentang apa yang ingin anda bicarakan.
11. Bicara dengan cara yang tidak biasa (intonasi).
12. Ingin bermain dengan benda yang sama selama periode waktu yang panjang.

13. Mengepakkan tangannya atau membuat gerakan aneh saat kesal atau bersemangat.
C. Kemungkinan simptom atau gejala diusia 12 17 tahun
1. Sulit membuat kontak mata.
2. Membuat ekspresi wajah yang datar atau tidak biasa.
3. Sulit memiliki atau mempertahankan teman.
4. Menunjukkan pemahaman buruk atas kebutuhan orang lain dalam pembicaraan.
5. Mengalami kesulitan memperkirakan apa yang orang lain pikirkan.
6. Menunjukkan sikap yang tidak dapat diterima secara sosial.
7. Menunjukkan kebutuhan obsesif atau rutinitas.
8. Menunjukkan sikap kompulsif.
PENYEBAB AUTISME
Sampai dengan saat ini belum ada ketentuan yang pasti tentang penyebab gangguan autism ini,
ada beberapa anggapan sebagai berikut:
A. Teori Psikoanalitik (efrigerator mother). Menurut teori ini, Autism disebabkan pengasuhan
ibu yang tidak hangat (Bruno Bettelheim).
B. Teori berpandangn kognitif (Theory of Mind). Menurut teori ini, Autis disebabkan ketidak
mampuan membaca pikiran orang lain mindblindness (Baron-Ohen, Alan Leslie).
C. Autisme sebagai gejala neurologis atau gangguan Neuro-Anatomi dan Bio-Kimiawi Otak.
Menurut penelitian yang ada, 43% dari penyandang autism mempunyai kelainan yang khas
didalam lobus parientalisnya (menyebabkan keterbatasan perhatian terhadap lingkungan),
menurut Eric Courchesne dari Department of Neurososciences, School of Medicine, University
of California, SanDiego, para penyandang autisme memiliki cerebellum yang lebih kecil
(bertanggung jawab terhadap proses sensori, daya ingat, berpikir, bahasa, dan perhatian).
D. Teori Biologi, Menurut teori ini, Autis disebabkan oleh Faktor genetik.
E. Teori Imunologi, Menurut teori ini, Autis disebabkan oleh infeksi virus.
BEBERAPA GANGGUAN YANG MENYERTAI AUTIS
A. Gangguan sulit tidur dan makan.
B. Gangguan afek dan mood.

C. Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.


D. Gangguan kejang (10 25 %).
E. Kondisi fisik yang khas (anak autis 2 -7 tahun lebih pendek dibanding anak seusianya).
PENGGOLONGAN AUTISM
A. Autism (autisme masa anak-anak).
B. Autisme atipikal atau Pervasive Develompmental Disorder-Not Otherwise Specified atau
PDD-NOS (Diagnosis ini dibuat jika anak tidak memenuhi semua kriteria untuk diagnosis autis
dan asperger, tapi ada kecacatan parah dan menetap di area yang dipengaruhi ASD.
C. High Functioning Autism (Autisme dengan IQ tinggi).
D. Low Functioning Autism (Autisme dengan IQ rendah).
PENANGANAN
Autisme adalah gangguan yang tidak bisa disembuhkan (not curable), namun bisa diterapi
(treatable). Maksudnya kelainan yang terjadi pada otak tidak bisa diperbaiki namun gejala-gejala
yang ada dapat dikurangi semaksimal mungkin sehingga anak tersebut nantinya bisa berbaur
dengan anakanak lain secara normal. (Wenar, 1994)
Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
A. Berat ringannya gejala atau berat ringannya kelainan otak.
B. Usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat dimulainya
terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.
C. Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya
D. Bicara dan bahasa, 20 % penyandang autis tidak mampu berbicara seumur hidup, sedangkan
sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang berbeda-beda. Mereka dengan
kemampuan bicara yang baik mempunyai prognosis yang lebih baik.
E. Terapi yang intensif dan terpadu.

TERAPI YANG TERPADU


Penanganan atau intervensi terapi pada penyandang autisme harus dilakukan dengan intensif dan
terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4-8 jam sehari. Selain itu seluruh
keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasidengan anak. Penanganan penyandang autisme

memerlukan kerjasama tim yang terpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain
psikiater, psikologneurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik. Beberapa terapi yang harus
dijalankan antara lain:
A. Terapi medikamentosa. Obat-obatan yang sering dipakai di Indonesia adalah:
1. Vitamin (Efek samping: Hiperaktivitas, marah-marah, agresif, sulit tidur dan lain sebagainya).
2. Obat-obatan untuk memperbaiki keseimbangan neorutransmitter serotonin dan dopamin (Efek
samping: Ngiler,ngantuk, kaku otot).
B. Terapi Wicara
C. Terapi Perilaku
D. Terapi Okupasi
E. Terapi Edukatif atau Pendidikan Khusus.

ADHD
Definisi
Adalah Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADD, ADHD)adalah perhatian
buruk atau pendek dan impulsiv tidak sesuai pada umur anak; beberapa anak juga
menunjukkan hiperaktif.
Etiologi
Hingga saat ini penyebab ADHD belum dapat dipastikan. Terdapat berbagai
teori tentang penyebab ADHD, sebuah teori mengasumsikan konsumsi gula
atau zat aditif yang berlebihan dalam makanan sebagai penyebabnya.
Sedangkan teori yang lain menyatakan bahwa faktor genetis adalah penyebab
utama.
ADHD bisa diwarisi. Penelitian terkini menunjukkan bahwa gangguan
disebabkan oleh kelainan di neurotransmitters (bahan yang meneruskan gerak
impuls syaraf dalam otak).
Manifestasi klinis
Semua tanda belum tentu sebagai didiagnosa Attention deficit/hyperactivity
disorder (ADHD). Tetapi, tanda kurangnya perhatian selalu harus ada untuk
diagnosa.Tanda harus ada di dua atau lebih tempat (misalnya, rumah dan
sekolah) dan harus mengganggu masalah sosial atau fungsi akademis.
Tanda-tanda tidak perhatian.
Sering lalai memberi perhatian seksama pada detail.
Mempunyai kesukaran mempertahankan perhatian pada kerja dan
bermain.
Tidak tampak mendengarkan kalau berbicara secara langsung.

Sering tidak melaksanakan perintah dan lalai menyelesaikan tugas.


Sering mempunyai kesukaran melakukan tugas dan aktivitas.
Sering menghindar, sebel, atau enggan untuk terlibat dalam tugas
yang memerlukan usaha mental terus-menerus.
Sering kehilangan barang.
Dengan mudah dialihkan dengan hal yang tak ada hubungannya
dengan rangsangan.
Sering pelupa.

Tanda-tanda hiperaktiv
Sering memain-mainkan tangan atau kaki atau menggeliat.
Sering meninggalkan tempat duduk di ruang kelas dan tempat
lainnya.
Sering berlari kesana-kemari atau merambat naik seacara berlebihan.
Sulit untuk bermain atau terlibat dalam aktivitas yang diam.
Sering bergerak atau bertingkah seolah-olah digerakkan oleh mesin.
Sering berbicara berlebihan.

Tanda-tanda impulsiv
Sering mengucapkan jawaban tanpa berpikir sebelum pertanyaan
komplit.
Sering mempunyai kesukaran menunggunya giliran.
Sering menyela atau mengganggu orang lain.

Diagnosis
Diagnosa berdasarkan jumlah, frekuensi, dan keparahan gejala.
Gejala harus ada sedikitnya dua lingkungan yang berbeda (biasanya, rumah
dan sekolah) - kejadian gejala tepat di rumah atau di sekolah saja dan tidak
mana-mana tidak memenuhi syarat sebagai ADHD.
Seringkali, diagnosa sulit karena bergantung pada pendapat pengamat.
Tidak ada tes laboratorium bagi ADHD.
Pertanyaan tentang berbagai aspek prilaku bisa menolong dokter membuat
diagnosa. Karena mempelajari kecacatan hal yang biasa, banyak anak
menjalankan pemeriksaan psikologis baik untuk menolong memutuskan
adanya ADHD maupun untuk mengetahui adanya ketidakmampuan belajar
yang spesifik.
RETARDASI MENTAL
1. Definisi
a. Definisi menurut NOYES :
Individu yang mempunyai keterbatasan kepribadian, sehingga
mengakibatkan kegagalan untuk mengembangkan kapasitas intelektualnya,

yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan lingkungannya, menjadi seseorang


yang mandiri. Keterbatasan kemampuan intelektual ini dapat terjadi oleh
karena gangguan perkembangan otak akibat pengaruh genetic, malnutrisi,
penyakit-penyakit tertentu, trauma pada otak baik sebelum lahir, pada
waktu proses kelahiran maupun segera setelah kelahiran. Keterbatasan
intelektual dapat juga terjadi oleh karena konsekuensi dari gangguan
perkembangan akibat kurangnya stimulasi lingkungan, baik yang berasal dari
lingkungan keluarga ataupun lingkungan sosialnya.
b. Definisi menurut ROAN :
Individu dengan keadan keterbatasan kemampuan atau terhentinya
proses perkembangan otak, yang berakibat terhentinya proses
maturasi,sehingga individu tersebut tidak mampumenyesuaikan
dirinyaterhadap lingkungannya atau terhadap harapan dari masyarakatnya,
supaya dapat mempertahankan hidupnya tanpa dukungan dan bantuan dari
luar. Yang penting disini ialah, terhentinya perkembangan fugsi intelek
seseorang paa masa tumbuhnya yang ditandai oleh gangguan kemampuan
belajar, penyesuaian social atau malnutrisi.
c. Definisi menurut MARAMIS :
Individu dengan keadaan intelegensi yang kurang (subnormal) sejk
masa perkembangannya (sejak lahir atau anak-anak). Biasanya terdapat
perkembangan mental yang kurangsecara keseluruhan (seperti juga pada
demensia), tetapi gejala utama ialah intelegensi yang terbelakang.
d. Definisi menurut PPDGJ-II :
Individu dalam keadaan yang terdiri dari :
(1) fungsi intelektual umum di bawah rata-rata yang cukup bermakna
(2) yang mengakibatkan, atau berhubungan dengan kekurangan atau
hendaya dalam perilaku adaptif
(3) timbul sebelum usia 18 tahun.
Keadaan ini ditegakkan tanpa menghiraukan apakah terjadi bersamaan
atau tidak dengan gangguan mental atau fisik yang lain.
2. Klasifikasi
a. Menurut Noyes
RM ringan : IQ 55-69

RM sedang : IQ 40-54
RM berat : IQ 25-39
RM sangat berat : IQ < 25
b. Menurut Roan dan menurut Maramis
RM taraf perbatasan : IQ 68-85
RM ringan : IQ 52-67
RM sedang : IQ 36-51
RM berat : IQ 20-35
RM sangat berat : IQ < 20
c. PPDGJ III
RM ringan : IQ 50-69
RM sedang : IQ 35-49
RM berat : IQ 20-34
RM sangat berat : IQ < 20
a. Retardasi mental ringan
IQ berkisar 50 69
Pemahaman dan penggunaan bahasa cenderung terlambat pada
berbagai tingkat dan masalah kemampuan berbicara yang
mempengaruhi perkembangan kemandirian dapat menetap sampai
dewasa
Walaupun mengalami keterlambatan dalam kemampuan bahasa tetapi
sebagian besar dapat mencapai kemampuan berbicara untuk
keperluan sehari-hari. Kebanyakan juga dapat mandiri penuh dalam
merawat diri sendiri dan mencapai keterampilan praktis dan
keterampilan rumah tangga, walaupun tingkat perkembangannya agak
lambat daripada normal
Kesulitan utama biasanya tampak dalam pekerjaan sekolah yang
bersifat akademik dan banyak masalah khusus dalam membaca dan
menulis
Etiologi organik hanya dapat diidentifikasi pada sebagian kecil
penderita
Keadaan lain yang menyertai : autisme, gangguan perkembangan lain,
epilepsi, gangguan tingkah laku atau disabilitas fisik dapat ditemukan
dalam berbagai proporsi
b. Retardasi mental sedang
IQ biasanya berada dalam rentang 35 49

Umumnya ada profil kesenjangan (disparency) dari kemampuan,


beberapa dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam
keterampilan visuo-spasial daripada tugas-tugas yang tergantung
pada bahasa, sedangkan yang lainnya sangat canggung namun dapat
mengadakan interaksi sosial dan percakapan sederhana
Tingkat perkembangan bahasa bervariasi : ada yang dapat mengikuti
percakapan sederhana, sedangkan yang lain hanya dapat
berkomunikasi seadanya untuk kebutuhan dasar mereka
etiologi organik dapat diidentifikasi pada kenbanyakan penyandang
retardasi mental sedang
autisme masa kanak atau gangguan perkembangan pervasif lainnya
terdapat pada sebagian kecil kasus dan punya pengaruh besar pada
gambaran klinis dan terapinya
c. Retardasi mental berat
IQ biasanya berada dalam rentang 20 34
Pada umumnya mirip dengan retardasi metal sedang dalam hal :
Gambaran klinis
Terdapatnya etiologi organik
Kondisi yang menyertai
Tingkat prestasi yang rendah
Kebanyakan retardasi mental berat menderita gangguan motorik
yang mencolok atau defisit lain yang menyertainya, menunjukkan
adanya kerusakan atau penyimpangan perkembangan yang bermakna
secara klinis dari susunan saraf pusat
d. Retardasi mental sangat berat
IQ biasanya di bawah 20
Pemahaman dan penggunaan bahasa terbatas, paling banter mengerti
perintah dasar dan mengajukan permohonan sederhana
Keterampilan visuo-spasial yang paling dasar dan sederhana tentang
memilih dan mencocokkan mungkin dapat dicapainya dan dengan
pengawasan dan petunjuk yang tepat penderita mungkin dapat
sedikit ikut melakukan tugas praktis dan rumah tangga
Suatu etiologi organik dapat diidentifikasi pada sebagian besar
kasus
Biasanya ada disabilitas neurologik dan fisik lain yang berat yang
mempengaruhi mobilitas seperti epilepsi dan hendaya daya lihat dan
daya dengar
e. Retardasi mental lainnya

Kategori ini digunakan bila penilaian dari tingkat retardasi mental


dengan memakai prosedur biasa sangat sulit atau tidak mungkin
dilakukan karena adanya gangguan sensorik atau fisik misalnya buta,
bisu, tuli dan penderita yang perilakunya terganggu berat atau
fisiknya tidak mampu
f. Retardasi mental yang tidak tergolongkan
Jelas terdapat retardasi mental tetapi tidak ada informasi yang
cukup untuk menggolongkannya dalam salah satu kategori di atas
PPDGJ III

3. Epidemiologi
Prevalensi retardasi mental pada suatu waktu diperkirakan adalah kira-kira 1
persen dari ppulasi. Insiden retardasi mental sulit untuk dihitung karena
kesulitan mengenali onsetnya. Pada banyak kasus retardasi mental mungkin
laten selama waktu yang panjang sebelum keterbatasan seseorang diketahui
atau karena adaptasi yang baik .insiden tertinggi adalah pada anak usia
sekolah dengan puncak usia 10 sampai 14 th. Retardasi mental kira-kira 1,5 %
lebih sring pada laki-laki dari pada wanita. Pada usia lanjut prevalensi lebih
sedikit, karena mereka yg memiliki reardasi mental berat atau sangat berat
memiliki angka mortalitas yg tinggi yg disebabkan dr pnyulit gangguan fisik
yg menyertai.
4. Etiologi
Berdasarkan waktu terjadinya
1) Faktor pembawaan
a) Sebab yg tdk diketahui
b) Perkawinan yg terlalu dekat
c) Pertumbuhan ootak yang tdk sempurna
d) keturunan
2) Penyakit2 kandungan
a) Infeksi virus pd ibu
b) Darah ibu dan darah janin tdk cocok
c) Ibu terlalu byk mendapat sinar rontgen
d) Obat2an yg diminum ibu dan mempengaruhi janin
3) Kekerasan pada waktu lahir
a) Kelahiran dng tindakan dan mempergunakan alat2
b) Bayi yg lahir dng kesulitan bernafas

c) Bayi yg lahir lama, misalnya dng kesempitan panggul


d) Bayi yg lahir prematur
4) Penyakit pd waktu anak2
a) Penyakit pd otak atau selaput otak
b) Kekerasan pada kepala
c) Penyakit yang diderita anak terlalu lama
d) Kekrangan gizi atau vitamin2
Etiologi menurut Noyes
1) Akibat infeksi
a) Cytomegalic inclusion body disease
b) Congenital rubella
c) Influenza
d) Sifilis congenital
e) Toxoplasmosis
2) Akibat intoksikasi
a) Bilirubin encephalopathy (kernicterus)
b) Karbon mono-oksida dan post-vaksinasi encephalitis
3) Akibat trauma atau pengaruh fisik
4) Akibat ggn metabolism, pertumbuhan atau nutrisi
a) Lipoidoses (Sphingolipoidoses) : terjadinya penimbunan
lemak pd jaringan otak atau alat2 viscera yg lain, misalnya
: hepar, lien, limponodi atau sumsum tulang
b) Aminoacidurias : phenilketonuria, maple syrup urine

disease, hiperammonemia herediter

c) Ggn metabolism karbohidrat : galaktosemia dan


glikogenesis
d) Gargoylisme : ditandai dng adanya lipochondrodystrophy,
yaitu suatu keadaan adanya timbunan2 mucopolysacharida
pd organ2 tertentu dan jaringan ikat. Apabila timbunan2
ini terjadi pd jaringan otak atau jaringan ikat otak, maka
akan terjadi ggn dr pertumbuhan dan perkembangan otak
yg dapat mengakibatkan terjadinya retardasi mental
e) Hypothyroidisme
5) Akibat pertumbuhan abnormal
a) Tuberosclerois : trias tuberosclerosis adalah epilepsy,
RM, dan nodulud sub-cutaneus. Pd jaringan ikat di otak
didapatkan kelainan dari sel2 glia yg bentuknya berubah

6) Akibat mutasi kromosom


a) Downs syndrome
b) Sindrom klinefelter
c) Sindroma turner
7) Akibat pengaruh prenatal yg tdk diketahui
a) Biasanya berhubungan dengan kelainan atau anomaly dari
otak dan cranium termasuk kraniostenois dan mikrosefali
8) Deprivasi psikososial

Etiologi

Kondisi genetik ( kromosom dan bawaan )

Pemaparan pranatal dengan infeksi dan toksin rubella, penyakit


inklusi sitomegali, sifilis, toxoplasmosis, herpes simpleks, AIDS,
sindroma alkohol janin, pemaparan zat pranatal ( opiat dan heroin )

Trauma perinatal ( seperti prematuritas ) bayi prematur dan bayi


dengan berat badan lahir rendah berada dalam risiko tinggi mengalami
gangguan neurologis dan intelektual. Perdarahan intrakranial atau
tanda2 iskemik serebral terutama rentan terhadap kelainan kognitif

Kondisi yang didapat infeksi, trauma kepala, masalah lain

Faktor sosiokultural

5. Gambaran Klinis
RM Ringan.
Jenis ini masuk dalam kategori mampu didik dan mampu latih. Kelompok
ini merupakan kelompok yang terbesar dalam retardasi mental. 80% dari
individu dengan retardasi mental jenis ini dapat memngembangkan
ketrampilan social dan komunikasi dalam masa prasekolah (usia 0-5tahun),
hendayanya (gangguannya) minimal dalam segi sensorimotor, serta seringkali
tidak dapat dibedakan dengan anak normal sampai usia lebih lanjut. Menjelang
akhir usia remaja mereka dapat mempelajari ketrampilan akademik sampai
kira-kira setaraf kelas 6 SD. Dalam usia dewasa, meraka dapat mencapai
ketrampilan social dan pekerjaan yang cukup adekuat untuk mendiri, akan
tetapi mungkin membutuhkan bimbingan apabila mengalami stress social atau
ekonomi.
RM Sedang.

Jenis ini masuk dalam kategori tidak mampu didik mampu latih. Merreka
dalam taraf ini dapat berbicara atau belajar berkomunikasi selama masa
prasekolah, akan tetapi kesedaran mereka tentang norma social adalah
buruk.mereka dapat mengambil manfaat dari latihan ketrampilan bekerja dan
merawat diri sendiri di bawah supervise yangsedang. Dalam masa usia sekolah
mereka data mengambil manfaat dari latihan ketrampilan social dan
pekerjaan, akan tetapi niasanya tidak mungkin untuk maju lebih lanjut dari
taraf kelas dua SD. Merek mungkin dapat nelajar bepergian sendiri ke
temapat yang sudahdikenalnya. Dalam usia dewasa mereka dapat membantu
upaya mandirinya dengan bekerja kasar atau setengah kasar di bawah
suervisi dalam bengkel kerja. Mereka memerlukan pengawasan dan bimbingan
apabila mengalami stress social atau ekonomi yang ringan.
RM berat.
Kelompok ini masuk dalam kategori tidak mampu didik tidak mampu latih.
Selama periode prasekolah jelas ada perkembangan motorik yang buruk dan
kemampuan bicara yang minimal. Dan mereka hanya mampu mengembangkan
sedikit atau tidak sama sekali pembicaraan komunikatif. Dalam usia sekolah
mereka mungkin dapat belajar bicara dan dapat dilatih dalam ketrampilan
kesehatan dasar. Pada umumnya, mereka tidak dapat mengambil manfaat dari
latihan kerja. Dalam usia dewasa mereka mungkin mampu mengerjakan tugastugas sederhana di bawah pengawasan yang ketat.
RM sangat berat.
Selama periode prasekolah anak ini menunkukkan kapasitas minimal dalam
fungsi sensori motor. Mereka membutuhkan suatu lingkungan yang sangat
teratur, selalu perlu bantuan dan supervise.dalam periode sekolah dapat
timbulperkembangan motorik lebih lanjut. Anak ini dapat menanggapi latihan
minimal atau terbatas untuk merawat diri. Dalam usia dewasa mungkin dapat
timbul perkembangan lebih lanjut dari kemampuan bicara dan perkembangan
motorik. Kemampuan merawat diri sangat terbatas di dalam suatu lingkungan
yang sangat teratur, dan haru disertai bantuan dan supervise yang terus
menerus.
6. DD
Anak-anak dari keluarga yang sangat melarat dengan deprivasi rangsangan yang
berat (retardasi mental ini reversibel bila diberi rangsangan yang baik secara
dini). Kadang-kadang anak dengan gangguan pendengaran atau penglihatan dikira
menderita retardasi mental. Mungkin juga gangguan bicara dan cerebral palsy
membuat anak kelihatan terbelakang, biarpun intelegensianya normal. Gangguan

emosi dapat menghambat kemampuan belajar sehingga dikira anak itu bodoh.
early infantile dan skizofrenia anak juga sering menunjukkan gejala yang mirip
retardasi mental.1
www.jevuska.com/2007/01/19/retardasi-mental/
7. Diagnosis
Kriteria Diagnostik untuk RM:
1. Fungsi intelektual yg secara bermakna dibawah rata2 I.Q kira2 70
atau kurang,yang dilakukan secara individual.
2. Adanya deficit atau gangguan yang menyertai dalam fungsi adaptif
sekarang pada sekurang2nya dua bidang ketrampilan berikut :
komunikasi, merawat diri sendiri, dirumah, ketrampilan
social/interpersonal, menggunakan sarana masyarakat, mengarahkan
diri sendiri, ketrampilan akademik fungsional, pekerjaan, liburan,
kesehatan dan keamanan.
3. Onset sebelum usia 18tahun.
Pemeriksaan Fisik
1. Bentuk wajah pasien : tulang hidung datar, alis mata yg menonjol, lidah
yg menonjol, telinga yang letaknya rendah.
2. Ekspresi wajah pasien : penampilan dungu.
Pemeriksaan Neurologis
1. Gangguan sensorik : 10% mengalami gangguan pendengaran, gangguan
penglihatan dan gangguan kejang.
2. Gangguan motorik : hipotonia,hiperrefleksi dan gerakan involunter.
8. Terapi
Terapi pada anak dengan retardasi mental meliputi 4 aspek:
1. Terapi terhadap aspek fisik
Sasaran terapi ditujukan terhadap kelainan atau gangguan fisik. Terapi ini
meliputi:
1.1. Terapi simptomatik

Semua kelainan-kelainan fisik yang dapat diatasi atau ditolong dengan terapi ini,
misalnya: fenilketonuria, galaktosemia, kejang-kejang dengan obat-obatan yang
sesuai untuk itu.
1.2. Koreksi terhadap cacat
Oleh karena pada anak dengan retardasi mental sering didapatkan kecacatan,
maka koreksi terhadap cacat ini paling tidak membebaskan penderita dan
kekurangannya. Yang paling sering, koreksi terhadap alat-alat gerak, defek
panca indra, dan yang koreksi lain yang berhubungan dengan kosmetik, untuk
memperbaiki fungsi dan penampilan diri.
2. Terapi terhadap, aspek psikologik/psikiatrik
Sasaran terapi ditujukan terhadap kelainan atau gangguan yang berhubungan
dengan emosi dan gangguan tingkah laku serta terhadap kondisi psikologis
keluarga. Terapi ini meliputi.
2.1. Terhadap emosi dan tingkah laku penderita.
Emosi dan tingkah laku penderita, terutama yang hiperaktif dapat diberikan
obat-obatan golongan ansiolotik, misalnya: diazepam, khlordiazepokside atau
yang lain. Bila hal mi belum menolong, dapat dipertimbangkan pemberian anti
psikotik atan neuroleptika dalam dosis awal yang kecil dulu, secara bertahap,
bila belum baik dapat dinaikkan.
2.2. Terhadap kondisi psikologis keluarga
Terhdap keluarga dapat diberikan konsultasi dan bimbingan sampai kepada
psikoterapi dan terapi keluarga. Tidak selamanya keluarga memerlukan bantuan
psikologis terus menerus. Bantuan yang teratur dalam periode 3 bulan sekali
dapat mempertahankan keseimbangan psikologis keluarga. Hanya pada keadaan
atau periode krisis dalam keluarga, bantuan psikologis mi sangat penting artinya.
Periode krisis dalam keluarga meliputi keadaan-keadaan sebagai berikut:
- Kecurigaan pertama adanya retardasi mental, terutama pada waktu diagnosa
belum dapat ditegakkan
- Pada waktu diagnosa sedang dipelajari secara seksama.
- Periode penderita akan masuk sekolah, memilih sekolah yang sesuai dan usaha
usaha untuk membantu penderita.

- Persoalan penyesuaian dengan saudara kandung dan dengan teman sebaya


- Timbulnya krisis keluarga, dan tingkat pertengkaran sama ke tingkat
perceraian
- Timbulnya problem-problem seksual pada penderita, biasanya pada waktu
penderita telah memasuki usia remaja
- Setelah penderita selesai sekolah, dan timbul keinginan penderita atau
keluanganya untuk bekerja
- Apabila ada rencana penderita akan menikah
- Adanya suatu penyakit atau gangguan lain, yang mengharuskan penderita
dirawat masuk ke rumah sakit
- Adanya rasa bersalah dari orang tua sesudah melakukan suatu tindakan
terhadap penderita.
3. Terapi terhadap aspek pendidikan
Pendidikan bagi seorang anak merupakan suatu kebutuhan utama dalam proses
perkembangannya. Tidak terkecuali bagi anak dengan retardasi mental. Yang
perlu diperhatikan di sini adalah derajat kemampuan yang ada pada anak.
Berdasarkan kemampuan yang ada pada anak, maka pendidikan ini dibagi menjadi
3 kelompok:
3.1. Kelompok yang mampu didik dan mampu Iatih
Terutama ditujukan kepada anak dengan retandasi mental taraf ringan. Di sini
dilakukan pendidikan secara perlahan-lahan dan secara bertahap dengan
memperbanyak latihan-latihan dibandingkan dengan sekolah atau pendidikan
normal lainnya.
3.2. Kelompok yang tidak mampu didik dan mampu latih
Terutama ditujukan kepada anak dengan retandasi mental taraf sedang. Di sini
dilakukan latihan-latihan, terutama latihan untuk dapat melakukari aktifitas
sehari-hari, tanpa bantuan orang lain. Misalnya: kesehatan perorangan,
kebersihan, pekerjaan-pekerjaan kasar yang tidak memerlukan pemikiran dan
bersifat rutin.
3.3. Kelompok yang tidak mampu didik dan tidak mampu latih

Terutama ditujukan kepada anak dengan retardasi mental taraf berat. Di sini
hanya dilakukan perawatan secara terus menerus dan pencegahan dari bahaya.
4. Terapi terhadap aspek sosial
Tujuan dan terapi ini adalah mengoptimalkan kemapuan penderita dalam
bermasyaralat. Hal ini untuk menghilangkan stigma masyarakat, bahwa anak atau
orang dengan retardasi mental tidak ada gunanya sama sekali. Dengan
pemberian tugas-tugas dalani masyarakat yang dapat dilakukan sesuai dengan
kemampuan penderita akan menimbulkan perasaan pada penderita bahwa dirinya
masih diperlukan oleh orang lain, sehingga hal ini mempertinggi rasa percaya
dirinya.
Contohnya: menjadi petugas kebersihan kampung, pengantar surat-surat,
membantu masalah keamanan dan sebagainya.
Kadang-kadang anak dengan retardasi mental, memerlukan perawatan baik di
rumah sakit atau di panti-panti pendidikan penampungan anak Anak-anak
dengan retardasi mental yang mempunyai indikasi perawatan antara lain:
Mempunyai kecacatan yang ganda (multiple handicap)
Mempunyai gangguan fisik yang berat
Penderita retardasi mental dalam usia tua
Penderita dengan gangguan emosi berat
Anak-anak yang memerlukan pendidikan khusus yang jauh dan jangkauan
rumah.
Dengan terapi yang adekuat, dan meliputi semua aspek, diharapkan penderita
dapat berfungsi secara optimal baik dan segi fisik, psikologik, pendidikan dan
sosial.
SINDROM RETT'S
Sindrom Rett adalah penyakit degeneratif, ketidakmampuan yang semakin hari
semakin parah (progresif). Hanya menimpa anak perempuan. Pertumbuhan normal
lalu diikuti dengan kehilangan keahlian yang sebelumnya telah dikuasai dengan baikkhususnya kehilangan kemampuan menggunakan tangan yang kemudian berganti
menjadi pergerakan tangan yang berulang ulang (seperti mencuci tangan) mulai

pada umur 1 hingga 4 tahun.


Gejala dapat dimulai usia 6 bulan hingga usia 18 bulan
* Pertumbuhan kepala lambat
* Kehilangan kemampuan menggunakan gerakan tangan
* Berkembang seperti gejala khas autism
GANGGUAN DISINTEGRATIF PADA KANAK-KANAK (Childhood Disintegrative
Disorder /CDD)
Pertumbuhan yang normal pada usia 1 sampai 2 tahun kemudian kehilangan
kemampuan yang sebelumnya telah dikuasai dengan baik.
Anak berkembang normal dalam usia 2 tahun pertama(seperti : kemampuan
kominukasi, sosial, bermain dan perilaku), namun secara bermakna kemampuan itu
terganggu sebelum usis 10 tahun, yang tergangggu diantaranya adalah kemampuan :

Bahasa
Kemampuan sosial
Kemampuan buang air besar dan buang air kecil di toilet
Bermain
Kemampuan motorik

Gejala tambahan, menunjukkan fungus abnormal sedikitnya dua hal dari :

Interaksi sosial
KomunikasiCommunication
Pola perilaku terbatas : perhatian dan aktifitas

SINDROM ASPERGER'S
Asperger's Syndrome gejala khas yang timbul adalah gangguan intteraksi sosial
ditambah gejala keterbatasan dan pengulangan perilaku, ketertarikan dan aktifitasis.
Mempunyai gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, sedikitnya dua gejala dari :

Ditandai dengan gangguan penggunaan beberapa komunikasi non


verbal (mata, pandangan, ekspresi wajah, sikap bada, gerak
isyarat)
Tidak bisa bermain dengan anak sebaya
Gangguan dalam menikmati minat atau keberhasilan
kurangnya hubungan sosial dan emosional