Anda di halaman 1dari 27

5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Remaja


2.1.1 Pengertian Remaja
Ada beberapa definisi dari masa remaja, yaitu sebagai berikut :
Menurut Zulkifli (2002) remaja adalah peralihan dari masa anak ke
masa dewasa yaitu saat-saat ketika anak tidak mau lagi diperlakukan
sebagai anak-anak tetapi dari pertumbuhan fisiknya ia belum dikatakan
dewasa. Menurut Yusuf (2002) remaja adalah segmen perkembangan
individu yang sangat penting yang diawali dengan matangnya organ-organ
reproduksi (seksual) sehingga mampu bereproduksi.

2.1.2 Periode Masa Remaja


1. Masa remaja sebagai periode yang penting
Ada beberapa periode yang lebih penting daripada lainnya, karena
akibatnya yang langsung terhadap sikap dan perilaku dan ada lagi yang
penting karena jangka panjangnya. Pada periode remaja baik akibat
langsung maupun akibat dan jangka panjang. Ada periode penting karena
akibat fisik dan ada lagi karena akibat psikologis. Perubahan fisik yang
cepat terutama pada awal masa remaja. Semua perkembangan itu
menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk
sikap, nilai dan minat baru.

2. Masa remaja sebagai periode peralihan


Peralihan tidak berarti terputus dengan atau perubahan yang telah terjadi
sebelumnya, melainkan lebih-lebih semua peralihan dari satu tahap
perkembangan ke tahap berikutnya. Bila anak-anak beralih dari masa
kanak-kanak ke masa dewasa, anak-anak harus meninggalkan segala
sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan dan juga harus mempelajari pola
perilaku dan sikap baru untuk mengganti perilaku dan sikap yang sudah
ditinggalkan. Dalam setiap periode peralihan, status individu tidaklah
jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. Pada masa
ini remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa.
3. Masa remaja sebagai periode perubahan
Segala awal masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat,
perubahan perilaku yang sama yang hampir bersifat universal. Pertama
meningginya

emosi

yang

intensitasnyabergantung

pada

tingkat

perubahan fisik dan psikologis yang terjadi. Kedua, perubahan tubuh


minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial untuk diperankan
untuk menimbulkan masalah baru. Ketiga, dengan kehendaknya minat
dan pola perilaku maka nilai-nilai juga berubah. Apa yang pada masa
kanak-kanak dianggap penting, sekarang setelah hampir dewasa tidak
penting lagi. Sekarang mereka mengerti bahwa kualitas lebih penting
daripada kuantitas. Keempat, sebagian besar remaja bersikap ambivalen
terhadap setiap perubahan. Mereka menginginkan dan menuntut
kebebasan, tetapi mereka sering takut bertanggung jawab akan akibatnya

dan meragukan kemampuan mereka untuk dapat mengatasi tanggung


jawab tersebut.
4. Masa remaja sebagai usia bermasalah
Setiap periode mempunyai masalahnya sendiri-sendiri, namun masalah
masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi. Terdapat dua
alasan bagi kesulitan tersebut. Pertama, sepanjang masa kanak-kanak
masih anak-anak sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru,
sehingga kebanyakan remaja tidak dapat pengalaman dalam mengatasi
masalah. Kedua, karena para remaja merasa telah mandiri, sehingga
mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua
dan guru.
5. Masa remaja sebagai masa mencari identitas
Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok
masih tetap penting. Lambat laun mereka mulai mendambakan identitas
diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan teman-teman dalam
segala hal, seperti sebelumnya. Identitas diri yang dicari remaja berupa
usaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa peranannya dalam
masyarakat.
6. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan
Banyak anggapan popular tentang remaja yang mempunyai arti yang
bernilai dan sayangnya, banyak diantaranya yang bersifat negatif.
Anggapan stereotip budaya remaja adalah anak-anak yang tidak rapi,
yang tidak dapat dipercaya dan cenderung merusak. Menyebabkan orang
dewasa harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja muda takut

bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja


yang netral.
7. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik
Remaja cenderung memandang kehidupan melalui kaca berwarna merah
jambu. Ia melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia
inginkan dan bukan sebagaimana adanya, terlebih dalam hal cita-cita.
Cita yang tidak realistik ini, tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga
bagi keluarga dan teman-teman, semakin tidak realistik cita-citanya
semakin ia menjadi marah. Remaja akan sakit hati dan kecewa apabila
orang lain mengecewakannya / kalau ia tidak berhasil mencapai tujuan
yang diterapkannya sendiri.
8. Masa remaja sebagai ambang dewasa
Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja
menjadi gelisah. Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata
belumlah cukup. Oleh karena itu remaja mulai memusatkan diri pada
perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok,
minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan dan terlibat dalam
perubahan seks.

2.1.3 Tahap masa remaja


Menurut FKUI (2002) masa remaja yaitu usia 1019 tahun, yang dibagi
menjadi 3 tahap yaitu :
1. Masa remaja awal atau puber (1012 tahun)
2. Masa remaja tengah (1315 tahun)

3. Masa remaja akhir (1619 tahun)


Menurut Depkes RI (2000) masa remaja dibedakan dalam :
1. Masa remaja awal atau puber (1013 tahun)
2. Masa remaja tengah (1416 tahun)
3. Masa remaja akhir (1719 tahun)

2.2 Konsep Adaptasi


2.2.1 Definisi Adaptasi
Adaptasi merupakan suatu proses perubahan yang menyertai individu
dalam merespon terhadap perubahan yang ada di lingkungan dan dapat
mempengaruhi keutuhan tubuh baik secara fisiologis maupun psikologis
yang akan menghasilkan perilaku adaptif. Hasil dari perilaku adaptif ini
dapat berupa semua dengan berusaha mempertahankan keseimbangan dari
suatu keadaan (A.Aziz Alimun Hidayat, 2007)
Istilah adaptasi disebut juga sebagai norma penyesuain pribadi.
Adaptasi adalah proses penyesuain diri seseorang yang berlangsung terus
menerus untuk memenuhi segala kebutuhan dengan memelihara hubungan
harmonis pada situasi lingkungannya. Proses adaptasi dibutuhkan
kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan
(Pieter,Zan Herri, 2010)
Selain itu respon adaptif juga merupakan suatu totalitas respons dari
manusia sebagai mahluk holistik, yang memerlukan waktu dalam proses
penyesuain dan setiap orang akan berbeda dalam proses penyesuain dan
setiap orang akan berbeda dalam proses penyesuain. Adakalanya orang
cepat dalam beradaptasi dan semua respon adaptif tidak selamanya cukup

10

dalam menghadapi perubahan akan tetapi terkadang dijumpai tidak adekuat


dan pada dasarnya respons adaptif itu melelahkan mengingat membutuhkan
tenaga dan sumber yang cukup (Hidayat,A.Aziz, 2007)
2.2.2 Macam-Macam Adaptasi
1. Adaptif fisiologi
Adaptif ini merupakan proses penyesuain tubuh secara alamiah
atau secara fisiologis untuk mempertahankan keseimbangan dari berbagai
faktor yang menimbulkan atau mempengaruhi keadaan menjadi tidak
seimbang contohnya masuknya kuman atau sudah masuk dalam tubuh.
Adaptif fisiologis dapat dibagi menjadi dua yaitu apabila kejadiannya
atau proses adaptasi bersifat lokal, maka disebut (local Adaptation
Syndrom)
Pada adaptasi fisiologi, melalui tiga tahap alarm reaction tahap resistensi
dan tahap akhir
a) Tahap alarm recation
Tahap ini merupakan tahap awal dari proses adaptasi dimana
individu siap untuk menghadapi stressor yang akan masuk kedalam
tubuh. Tahap ini dapat diawali dengan kesiagaan (Flight or plight)
dimana terjadi perubahan fisiologis yaitu pengeluaran hormone oleh
hipotalamus yang dapat menyebabkankelenjar adrenal mengeluarkan
adrenalis yang dapat meningkatkan denyut jantung dan menyebabkan
pernapasan menjadi cepat dan dangkal, kemudian hipotalamus juga
dapat melepaskan hormon ACTH (adrenokortikotropik) yang dapat
berlansung

adrenal

untuk

mengeluarkan

kartikoid

yang

akan

11

mempengaruhi berbagai fungsi tubuh, apabila respons tubuh terhadap


stressor mengalami kegagalan tubuh akan melakukan countershock
untuk mengatasinya.
b) Tahap Resistensi (stage of resistance)
Merupakan tahap kedua dari fase adaptasi secara umum di mana tubuh
akan melakukan proses penyesuaian dengan mengadakan berbagai
perubahan dalam tubuh akan melakukan proses penyesuaian dengan
mengadakan berbagai perubahan dalam tubuh yang berusaha untuk
mengatasi stressor yang ada, seperti jantung bekerja lebih keras untuk
mendorong darah yang pekat untuk melewati arteri dan vena yang
menyempit
c) Tahap Terakhir (stage of exhaustion)
Tahap ini dapat ditandai dengan adanya kelelahan, apabila selam proses
adaptasi tidak mampu mengatasi stressor yang ada, maka dapat
menyebar ke seluruh tubuh. Efeknya dapat menyebabkan kematian
tergantung dari stressor yang ada
2. Adaptasi Psikologis
Merupakan proses penyesuaian secara psikologis akibat stressor
yang ada, dengan cara memberikan mekanisme pertahanan diri dengan
harapan dan dapat melindungi atau bertahan dari serangan-serangan atau
hal-hal yang tidak menyenangkan. Dalam proses adaptasi secara
psikologi terdapat dua cara untuk mempertahankan diri dari berbagai
stressor yaitu dengan harapan dapat melindungi atau bertahan dari
serangan-serangan atau hal- hal yang tidak menyenangkan. Dalam proses

12

adaptasi secara psikologis terdapat dua cara untuk mempertahankan dri


dari berbagai stressor yaitu dengan cara melakukan koping atau
penanganan diantaranya berorientasi pada tugas (task oriented) yang
dikenal dengan problem solving strategi dan ego oriented atau
mekanisme pertahanan diri
a) Task Oriented Reaction (reaksi berorientasi pada tugas)
Reaksi ini merupakan koping yang digunakan dalam mengatasi
masalah dengan berorintasi pada proses penyelesaian masalah,
meliputi apektif (perasaan), kognitif dan psikomotor, reaksi ini dapat
dilakukan seperti : berbicara dengan orang lain tentang masalah yang
dihadapi untuk mencari jalan keluarnya mencari tahu lebih banyak
tentang keadaan yang dihadapimelalui buku bacaan, ataupun orang
ahli, atau juga dapat berhubungan dengan kekuatan supra natural,
melakukan latihan-latihan yang dapat mengurangi stress serta
membuat alternatif pemecahan
masalah dengan menggunakan strategi prioritas masalah.
b) Ego Oriented Reaction (reaksi berorientasi pada ego)
Reaksi ini dikenal dengan mekanisme pertahanan diri secara
psikologis agar tidak menganggu gangguan psikologis yang lebih dalam.
Di antara mekanisme pertahanan diri yang dapat digunakan untuk
melakukan proses adaptasi psikologi antara lain

13

(1) Rasionalisasi
Merupakan suatu usaha untuk menghindari dari masalah psikologis
dengan selalu memberikan alasan secara rasiional, sehingga masalah
yang dihadapi dapat teratasi.
(2) Displacement
Merupakan upaya untuk mengatasi masalah psikologis dengan
melakukan pemindahan tingkah laku kepada obje lain, sebagai
contoh apabila seseorang terganggu akibat situasi yang ramai, maka
temanya yang disalahkan.
(3) Kompensasi
Upaya untuk mengatasi masalah dengan cara mencari kepuasan pada
situasi yang lain seperti seseorang memiliki masalah karena
menurunya daya ingat maka akan menonjolkan kemampuan yang
dimilikinya
(4) Proyeksi
Merupakan mekanisme pertahanan diri dengan menempatkan sifat
batin sendiri kedalam sifat batin orang lain, seperti dirinya
membenci pada orang lain kemudian mengatakan pada orang bahwa
orang lain yang membencinya
(5) Represi
Upaya untuk mengatasi masalah dengan cara menghilangkan pikiran
masa lalu yang buruk dengan melupakannya atau menahan kepada
alam tidak sadar dan sengaja dilupakan

14

(6) Denial dihadapinya


Upaya mempertahankan diri dengan cara penolakan terhadap
masalah yang dihadaptasi atau tidak mau menerima kenyataan ang
3) Adaptasi sosial budaya
Merupakan cara untuk mengadakan perubahan dengan melakukan proses
penyesuian perilaku yang sesuai dengan norma yang berlaku di
masyarakat dalam kegiatan kemasyarakatan.
4) adaptasi spritual
Proses penyesuaian diri dengan melakukan perubahan perilaku yang
didasrkan pada keyakinan atau kepercayaan yang dimiliki sesuai dengan
agama yang dianutnya. Apabila mengalami stress, maka seseorang akan
giat melakukan ibadah, seperti rajin melakukan ibadah
c. proses adaptasi dan maladaptasi selalu digunakan sebagai tolak ukur
untuk menentukan keberhasilan seseorang selama rentang perkembangan
biopsikologi-nya, seperti
1.kemampuan menyesuaikan tugas perkembangan biopsikologi yang
berkenaan dengan aspek-aspek kebutuhan lingkungan
2. kemampuan untuk melakukan koordinasi terhadap penggunaan fungsifungsi pikiran, perasaan, dan psikologi motorik
3. kemampuan mereduksi setiap konflik diri tanpa mengabaikan
mekanisme pertahanan diri
4. kemampuan membuka diri terhadap setiap perubahan stimulus-stiaulus
baru, seperti sikap penerimaan pada perubahan tubuh

15

2.3 Konsep Pubertas


2.3.1 Pengertian Pubertas
Menurut Narendra, 2002 Pubertas adalah masa ketika seorang anak
mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual. Masa
pubertas dalam kehidupan kita biasanya dimulai saat berumur delapan
hingga sepuluh tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun.
Pada masa ini memang pertumbuhan dan perkembangan berlangsung
dengan cepat. Pada wanita pubertas ditandai dengan menstruasi pertama
(menarche), sedangkan pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah. Kini,
dikenal adanya pubertas dini pada remaja. Penyebab pubertas dini ialah
bahwa bahan kimia DDT sendiri, DDE, mempunyai efek yang mirip dengan
hormon estrogen. Hormon ini diketahui sangat berperan dalam mengatur
perkembangan seks wanita. Karakteristik anak puber antara lain: merasa diri
sudah dewasa sehingga anak sering membantah atau menentang, emosi
tidak stabil sehingga anak puber cenderung merasa sedih, marah, gelisah,
khawatir, mengatur dirinya sendiri sehingga terkesan egois, dan sangat
mengutamakan kepentingan kelompok atau genk sehingga mudah
terpengaruh oleh teman sekelompoknya. Anak mudah terpengaruh oleh
lingkungan dan budaya baru yang sering bertentangan dengan norma
masyarakat, serta memiliki rasa keingitahuan yang besar pada hal-hal baru
yang mengakibatkan perilaku coba-coba tanpa didasari dengan informasi
yang benar dan jelas (Narendra, 2002).

16

2.3.2

Ciri-Ciri Masa Pubertas (Narendra, 2002)


1. Periode tumpang tindih
Masa puber dianggap sebagai tumpang tindih karena mencakup
tahun-tahun akhir masa kanak-kanak dan tahun-tahun awal masa remaja.
2. Periode yang singkat
Dibandingkan dengan banyaknya perubahan yang terjadi di dalam
maupun diluar tubuh, masa puber relatif merupakan periode singkat,
sekitar dua sampai empat tahun.
3. Masa puber dibagi dalam tahap-tahap
Meskipun masa puber relatif merupakan periode yang singkat
dalam rentang waktu yaitu tahap prapuber, tahap puber dan tahap pacsa
puber.
4. Masa pertumbuhan dan perubahan yang pesat
Masa puber / pubertas adalah satu dari 2 periode dalam rentang
kehidupan yang ditandai oleh pertumbuhan yang pesat dan perubahan
yang mencolok dalam proporsi tubuh. Pesatnya pertumbuhan dan
perkembangannya yang terjadi selama masa puber pada umumnya
disebut sebagai pubertas tumbuh pesat karena agak mendahului /
terjadi bersamaan dengan perubahan-perubahan masa puber lainnya.
5. Masa negative
Istilah fase menunjukkan periode yang berlogis singkat ; negatif
berarti bahwa individu mengambil sikap anti terhadap kehidupan atau
kelihatannya kehilangan sifat-sifat baik yang sebelumnya sudah

17

berkembang. Terdapat bukti bahwa sikap dan perilaku negatif ini akan
berakhir bila individu secara seksual menjadi matang.

2.3.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Pubertas


1. Genetik
Program dasar genetiknya sudah tertanam sejak awal dalam sifat
dasar dari suatu spesies.
2. Hormon
Estrogen adalah jenis utama hormon perempuan, sedangkan
estradiol

adalah

jenis

estrogen

yang

berperan

penting

pada

perkembangan pubertas perempuan. Dengan meningkatnya kadar


estradiol, terjadilah perkembangan payudara, rahim dan perubahan tulang
pada kerangka tubuh.
3. Massa Tubuh
Menarche terjadi relatif ajeg saat anak perempuan mencapai berat
tubuh tertentu. Berat badan sekitar 103 sampai 109 pon dapat
mencetuskan menarche dan akhir dari lonjakan pertumbuhan pubertas.
Agar menarche dapat dimulai dan berlanjut 17 % berat badan remaja
harus terdiri dari lemak. (www.yahoo.com diakses pada tanggal 2 Juni
2009)
2.3.4 Akibat perubahan pada masa puber pada sikap dan perilaku
1. Ingin menyendiri
Kalau perubahan pada masa puber mulai terjadi, anak-anak
biasanya menarik diri dari teman-teman dan dari berbagai kegiatan

18

keluarga dan sehingga bertengkar dengan teman-teman dan dengan


anggota keluarga. Gejala menarik diri ini mencakup ketidakinginan
berkomunikasi dengan orang-orang lain.
2. Bosan
Anak puber bosan dengan permainan yang sebelumnya amat
digemari, tugas-tugas sekolah, kegiatan-kegiatan sosial dan kehidupan
pada umumnya. Akibatnya anak sedikit kerja sehingga prestasinya di
berbagai bidang menurun.
3. Inkoordinasi
Pertumbuhan pesat dan tidak seimbang mempengaruhi pola
koordinasi gerakan dan anak akan merasa kikuk dan janggal selama
beberapa waktu setelah pertumbuhan melambat, koordinasi akan
membaik secara bertahap.
4. Antagonisme sosial
Anak puber sering kali tidak mau bekerja sama, sering
membantah dan menentang pemusuhan terbuka antara dua seks yang
berlainan diungkapkan dalam kritik, dan komentar-komentar yang
merendahkan.
5. Emosi yang meninggi
Kemurungan, merajuk, ledakan marah dan kecenderungan untuk
menangis karena hasutan yang sangat kecil merupakan ciri-ciri bagian
awal masa puber. Pada masa ini anak merasakhawatir, gelisah dan cepat
marah. Sedih, mudah marah dan suasana hati yang negatif segera sering
terjadi selama masa prahaid dan awal periode haid.

19

6. Hilangnya kepercayaan diri


Anak remaja yang tadinya sangat yakin pada diri sendiri,
sekarang menjadi kurang percaya diri dan takut akan kegagalan karena
daya tahan fisik menurun dan karena kritik yang bertubi-tubi datang dari
orang tua dan teman-temannya.
7. Terlalu sederhana
Perubahan tubuh yang terjadi sebelum masa puber menyebabkan
anak menjadi sangat sederhana yang dialaminya dan memberi komentar
yang buruk.

2.3.5 Tahap Pubertas (Imron, 1998)


1. Tahap Pra Puber
Dalam tahap pra puber ciri-ciri seks sekunder mulai tampak tetapi organ
reproduksi belum sepenuhnya berkembang.
2. Tahap Puber
Kriteria kematangan seksual mulai muncul, terjadi haid pada anak
perempuan dan pengalaman mimpi basah pada anak laki-laki. Ciri-ciri
seks sekunder terus berkembang dan sel-sel diproduksi dalam organorgan seks.
3. Tahap Pasca Puber
Ciri-ciri seks sekunder telah berkembang baik dan organ-organ seks
mulai berfungsi secara matang.

20

2.3.6 Kondisi yang Menyebabkan Perubahan Pubertas


1. Peran Kelenjar Pituitary
Kelenjar pituitary mengeluarkan dua hormon yakni hormon
pertumbuhan yang berpengaruh dalam menentukan besarnya individu
dan hormon gonadotropik yang merangsang gonad untuk meningkatkan
kegiatan. Dalam keadaan demikianlah perubahan-perubahan pada masa
puber mulai terjadi
2. Peranan Gonad
Dengan pertumbuhan dan perkembangan gonad, organ seks yakni
ciri seks primer bertambah besar dan fungsinya menjadi matang dan ciri
seks sekunder seperti rambut kemaluan mulai berkembang.
3. Interaksi Kelenjar Pituitary dan Gonad
Hormon yang dikeluarkan oleh gonad yang telah dirangsang oleh
hormon gonadotropik yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitary bereaksi
terhadap kelenjar ini dan menyebabkan penurunan jumlah hormon
pertumbuhan secara berangsur-angsur dan sehingga menghentikan proses
pertumbuhan.

Interaksi

anatar

hormon

gonadotropik

dan

gonad

berlangsung terus sepanjang kehidupan reproduksi individu dan berkurang


menjelang wanita mendekati menopause dan pria mendekati klimakteric.
(Manuaba, 2009)

21

2.3.7 Ciri Seks Primer


1. Ciri Seks Primer pada Laki-Laki
Gonad atau testis yang terletak pada scrotum pada usia 14 tahun
baru sekitar 10 persen dari ukuran matang. Kemudian terjadi
pertumbuhan

pesat

selama

satu

atau

dua

tahun

setelah

itu

pertumbuhannya menurun. Testis sudah berkembang penuh pada usia 20


atau 21 tahun. Setelah pertumbuhan testis meningkat maka pertumbuhan
penis meningkat pesat. Yang mula-mula meningkat adalah panjangnya
kemudian berangsur-angsur dengan besarnya. Kalau fungsi organ
reproduksi pria sudah matang maka biasanya mulai terjadi mimpi basah.
2. Ciri Seks Primer pada Wanita
Berat uterus anak usia 11 atau 12 tahun berkisar 5,3 gram. Pada
usia 16 tahun rata-rata beratnya 43 gram. Tuba falopi, telur-telur dan
vagina juga tumbuh pesat pada saat ini. Petunujuk pertama bahwa
mekanisme reproduksi anak perempuan menjadi matang adalah
datangnya haid (Papalia, 2010)

2.3.8 Ciri Seks Sekunder


1. Ciri Seks Sekunder pada Laki-Laki
a. Tumbuhnya rambut kemaluan setelah testis dan penis mulai
membesar. Kemudian setelah pertumbuhan rambut kemaluan hampir
selesai timbullah rambut ketiak dan rambut di wajah.
b. Kulit menjadi lebih kasar, tidak jernih, warnanya pucat dan pori-pori
meluas.

22

c. Kelenjar lemak semakin membesar dan menjadi lebh aktif sehingga


dapat menimbulakan jerawat. Kelenjar keringat di ketiak mulai
berfungsi dan keringat bertambah banyak.
d. Otot bertambah besar dan kuat sehingga member bentuk bagi lengan,
tungkai kaki dan bahu.
e. Suara berubah menjadi serak.
f. Benjolan kecil di sekitar susu pria mulai timbul. Ini berlangsung
selama beberapa minggu dan kemudian menurun baik jumlahnya
maupun besarnya.
2. Ciri Seks Sekunder pada Perempuan
a. Pinggul menjadi bertambah lebar dan bulat sebagai akibat
membesarnya tulang pinggul dan berkembangnya lemak bawah kulit.
b. Payudara muali berkembang, putting susu membesar dan menonjol,
dan

dengan berkembangnya kelenjar susu payudara menjadi lebih

besar dan lebih bulat.


c. Rambut kemaluan timbul. Bulu ketiak dan bulu pada kulit wajah
mulai tampak.
d. Kulit menjadi lebih kasar, lebih tebal, agak pucat, dan lubang poripori bertambah besar.
e. Kelenjar lemak dan kelenjar keringat menjadi lebih aktif. Sumbatan
kelenjar

lemak dapat menyebabkan jerawat. Kelenjar keringat di

ketiak mengelurkan banyak keringat dan baunya menusuk sebelum


dan selama masa haid.

23

f. Otot semakin besar dan semakin kuat sehingga memberikan bentuk


pada bahu, lengan dan tungkai kaki.
g. Suara menjadi lebih penuh dan semakin merdu .papalia, (2009)

2.4 Konsep Cemas


2.4.1 Pengertian Cemas
Cemas adalah perasaan tidak pasti/tidak menentu terhadap
malapetaka atau ketakutan yang akan terjadi yang muncul tanpa alasan yang
jelas (Fayldestu, 2010). Sedangkan menurut. Kaplan, (1997) dalam
Trismiati, (2006) Cemas adalah emosi dan merupakan pengalaman
subyektif individual, mempunyai kekuatan tersendiri dan sulit untuk
diobservasi secara langsung. Perawat dapat mengidentifikasi cemas lewat
perubahan tingkh laku klien. Kecemasan adalah respon terhadap suatu
ancaman yang sumbernya tidak diketahui, internal, samar-samar atau
konfliktual
Menurut Capernito (2001) kecemasan adalah keadaan individu
atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan
aktivitas sistem saraf autonom dalam berespons terhadap ancaman yang
tidak jelas, nonspesifik. Kecemasan merupakan unsur kejiwaan yang
menggambarkan perasaan, keadaan emosional yang dimiliki seseorang pada
saat menghadapi kenyataan atau kejadian dalam hidupnya (Rivai, 2000).
Menurut Andaners, (2009) Empat tingkatan rasa cemas/gangguan
perasaan (anxiety) pada manusia:

24

1. Rasa cemas ringan : berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi


sehari-hari. Keadaan ini akan meningkatkan persepsi individu, yang
mengakibatkan orang akan berhati-hati/waspada dan mendorong manusia
untuk belajar serta kreatif.
2. Rasa cemas sedang : lapangan persepsi terhadap lingkungan menurun.
Individu lebih memfokuskan hal yang penting saat itu saja dan
mengesampingkan hal lainnya.
3. Rasa cemas berat : lapangan persepsi sangat menurun. Orang hanya
memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal lainnya. Individu
tak

mampu

berpikir

lagi,

dia

sudah

harus

diberi

pertolongan/tuntunan.lapangan persepsi sudah sangat sempit. Individu


tidak dapat mengendalikan diri lagi.
Menurut Sue, dkk dalam Trismiati, (2006) menyebutkan bahwa
manifestasi kecemasan terwujud dalam empat hal berikut ini.
1. Manifestasi kognitif, yang terwujud dalam pikiran seseorang, seringkali
memikirkan tentang malapetaka atau kejadian buruk yang akan terjadi.
2. Perilaku motorik, kecemasan seseorang terwujud dalam gerakantidak
menentu seperti gemetar.
3. Perubahan somatik, muncul dalam keadaaan mulut kering, tangan dan
kaki dingin, diare, sering kencing, ketegangan otot, peningkatan tekanan
darah dan lain-lain. Hampir semua penderita kecemasan menunjukkan
peningkatan detak jantung, respirasi, ketegangan otot dan tekanan darah
4. Afektif, diwujudkan dalam perasaan gelisah, dan perasaan tegang yang
berlebihan.

25

2.4.2 Faktor yang mempengaruhi kecemasan


Wangmuba

(2009)

menyebutkan

beberapa

faktor

yang

mempengaruhi kecemasan seseorang antara lain


1. Usia dan tahap perkembangan
Dimana akan timbul penyesuiaan dengan perubahanperubahan baik
yang terjadi secara fisik maupun secara emosional
2. Pengetahuan
Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang maka seseorang
tersebut akan lebih siap menghadapi sesuatu dan dapat mengurangi
kecemasan. Sedangkan menurut Soewandi (1997) mengatakan bahwa
pengetahuan yang rendah mengakibatkan seseorang mudah mengalami
stress. Ketidaktahuan terhadap suatu hal dianggap sebagai tekanan yang
dapat mengakibatkan krisis dan dapat menimbulkan kecemasan. Stress
dan kecemasan dapat terjadi pada individu dengan tingkat pengetahuan
yang rendah, disebabkan karena kurangnya informasi yang diperoleh.
3. Stres yang ada sebelumnya
Perubahan pekerjaan tertentu, kekhawatiran akan keadaan keuangan,
tempat tinggal, permasalahan keluarga, percerain dan permasalahan
lainnya membuat survivor berisiko mengalami kecemasan. Kecemasan
ini akan semakin tinggi jika dukungan yang diperoleh bersifat terbatas.
4. Dukungan sosial
Tidak adanya sistem dukungan sosial dan psikologis menyebabkan
seseorang berisiko mengalami kecemasan, karena tidak ada yang

26

membantunya dalam memaknai peristiwa serta menghadapi kenyataan


secara lapang untuk membangkitkan harga dirinya.
5. Kemampuan mengatasi masalah (coping)
Kemampuan coping yang buruk dan maladaptif memperbesar risiko
seseorang mengalami kecemasan.

2.4.3 Skala Kecemasan


Kecemasan dapat diukur dengan pengukuran tingkat kecemasan
menurut alat ukur kecemasan yang disebut HARS (Hamilton Anxiety Rating
Scale). Skala HARS merupakan pengukuran kecemasan yang didasarkan
pada munculnya symptom pada individu yang mengalami kecemasan.
Menurut skala HARS terdapat 14 syptoms yang nampak pada individu yang
mengalami kecemasan. Setiap item yang diobservasi diberi 5 tingkatan skor
antara 0 (Nol Present) sampai dengan 4 (severe).
Skala HARS pertama kali digunakan pada tahun 1959, yang
diperkenalkan oleh Max Hamilton dan sekarang telah menjadi standar
dalam pengukuran kecemasan terutama pada penelitian trial clinic. Skala
HARS telah dibuktikan memiliki validitas dan reliabilitas cukup tinggi untuk
melakukan pengukuran kecemasan pada penelitian trial clinic yaitu 0,93
dan 0,97. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengukuran kecemasan dengan
menggunakan skala HARS akan diperoleh hasil yang valid dan reliable.
Nursalam (2008) penilaian kecemasan terdiri dan 14 item, meliputi :
1. Perasaan Cemas
a.

Firasat buruk

27

b.

Takut akan pikiran sendiri

c.

Mudah tensinggung.

2. Ketegangan merasa tegang


a.

Gelisah

b.

Gemetar

c.

Mudah terganggu

d.

Lesu.

3. Ketakutan
a.

Takut terhadap gelap

b.

Terhadap orang asing bila tinggal sendiri

c.

Takut pada binatang besar.

4. Gangguan tidur
a.

Sukar memulai tidur

b.

Terbangun pada malam hari

c.

Tidur tidak pulas

d.

Mimpi buruk

5. Gangguan kecerdasan
a.

Penurunan daya ingat

b.

Mudah lupa

c.

Sulit konsentrasi

28

6.

Perasaan depresi
a.

Hilangnya minat

b.

Berkurangnya kesenangan pada hoby

c.

Sedih

d.

Perasaan tidak menyenangkan sepanjang hari.

7. Gejala somatic
a.

Nyeri path otot-otot

b.

Kaku

c.

Gertakan gigi

d.

Suara tidak stabil

e.

Kedutan otot

8. Gejala sensorik
a.

Perasaan ditusuk-tusuk

b.

Penglihatan kabur

c.

Muka merah

d.

Pucat serta merasa lemah.

9. Gejala kardiovaskuler
a.

Takikardi

b.

Nyeri di dada

c.

Denyut nadi mengeras

d.

Detak jantung hilang sekejap.

10. Gejala pemapasan


a.

Rasa tertekan di dada

b.

Perasaan tercekik

29

c.

Sering menarik napas panjang

d.

Merasa napas pendek.

11. Gejala gastrointestinal


a.

Sulit menelan

b.

Obstipasi

c.

Berat badan menurun

d.

Mual dan muntah

e.

Nyeri lambung sebelum dan sesudah makan

f.

Perasaan panas di perut.

12. Gejala urogenital


a.

Sering keneing

b.

Tidak dapat menahan kencing

c.

Aminore

d.

Ejakulasi dini

e.

Reksi lemah

f.

Impotensi

13. Gejala vegetatif


a.

Mulut kering

b.

Mudah berkeringat

c.

Muka merah

d.

Bulu roma berdiri

e.

Pusing atau sakit kepa

30

2.5 Kerangka Konsep


Remaja

Pubertas
1. kemampuan menyesuaikan
tugas
perkembangan
biopsikologi yang berkenaan
dengan
aspek-aspek
kebutuhan lingkungan
2. kemampuan
untuk
melakukan
koordinasi
terhadap penggunaan fungsifungsi pikiran, perasaan, dan
psikologi motorik
3. kemampuan mereduksi setiap
konflik
diri
tanpa
mengabaikan
mekanisme
pertahanan diri
4. kemampuan membuka diri
terhadap setiap perubahan
stimulus-stimulus baru,
seperti sikap penerimaan pada
perubahan tubuh

Perubahan Psikologis
Adaptasi masa pubertas

Ketidak tahuan tentang


perubahan fisik

Faktor faktor
Kecemasan
1. Usia dan tahap
perkembangan
2. Pengetahuan
3. Stres yang ada
sebelumnya
4. DukunganKererangan
Sosial
:
5. Gangguan mengatasi
masalah
6. Kepercayaan

Kecemasan

: Variabel yang di teliti


: Variabel yang tidak doteliti
Gambar 2.5 Hubungan adaptasi masa pubertas dengan tingkat kecemasan pada
siswi di SMPN 01 Dau Kabupaten Malang

31

2.6 Hipotesa
Hipotesis di dalam suatu penelitian berarti penelitian berarti jawaban
sementara penelitian, patokan duga atau dalil sementara yang kebenarannya
akan dibuktikan dalam penelitian tersebut (Notoatmodjo, 2003).
H 1 : Ada hubungan yang signifikan antara adaptasi pada masa pubertas
dengan tingkat kecemasan pada masa pubertas.