Anda di halaman 1dari 5

Fisiologi Proses Nutrisi

Produksi Telur
Oleh:
Andre Wowor / 090415025

Fakultas Peternakan
Universitas Sam Ratulangi
Manado
2012

Produksi Telur
Rata-rata karakteristik produksi dari ayam petelur modern bervariasi,
terutama menurut bibitnya, faktor lingkungan dan penyakit-penyakit. Petelur
coklat yang sekarang mencakup 90% dari unggas nasional, menunjukkan
beberapa hasil tipikal. Saat melahirkan anak ayam dengan berat 35 g dan
berkembang hingga 2 kg pada dewasa kelamin (telur pertama), mencapai umur
160 hari. Bobot tubuh meningkat pesat mengacu pada dewasa kelamin yang
mencerminkan pengelolaan reproduksi dan sel-sel yang berkaitan, tapi setelah
dewasa rata-rata perkembangan menurun dan bobot tubuh mencapai 2,20 kg di
hari ke 500. Pada bobot tubuh maksimal, massa protein diperkirakan 6.260 dan
300g; dan berat lemak 2.300 dan 500g pada 1.160 dan 500 hari.
Telur yang ditelurkan secara sukses pada hari sebelumnya, dipisahkan
secara tipikal berdasarkan satu hari dimana ayam tidak bertelur. Rata-rata
produksi adalah 270 sampai 280 telur per ayam hingga 500 hari, standarnya
berkisar 56 hingga 60 telur. Bagaimanapun juga, distribusi ini kacau akibat
proporsi dari unggas yang jarang bertelur atau tidak sama sekali. Pada saat
dewasa kelamin telur beratnya adalah 48 g naik hingga 66 g hingga akhir
periode bertelur, jadi diperkirakan 16 hingga 17 kg dari material telur
diproduksi dari setiap unggas.
Nutrisi yang dikeluarkan oleh telur telihat pada table 15.1. Nilai-nilai ini
memberikan beberapa ide dari material yang didapat dari produksi telur. Hasil
kandungan protein dari telur produksi satu tahun (17kg) equival untuk delapan
kali total protein, hampir sama dengan contoh untuk lemak dan kalsium menjadi
5,72 dan 32. Perbandingan dengan beberapa hewan lain rata-rata material yang
didapat dari produksi telur sangat tinggi.
Nilai pada table 15.1 bisa dipertimbangkan sebagai nilai syarat nutrisi
untuk produksi telur dan menyediakan poin awal untuk menjabarkan hubungan
antara diet dan performans hewan. Dengan menggabungkan nutrisi koefisien
yang sesuai untuk efisiensi dari efektifitas nutrisi dan dengan perawatgan sel-sel
tubuh dan fungsinya, perhitungan faktorial yang dikenal bisa ditulis sebagai
berikut:

= Nutrisi yang digunakan untuk perawatan + Konten nutrisi produk


Efisiensi dari efektifitas nutrient
Konsentrasi nutrien di dalam diet yang dibutuhkan untuk mensuplai dalam
tingkat ini yang diperlukan adalah perhitungan yang sederhana dari makanan
yang didapat:
Konsentrasi diet yang diperlukan (massa per massa)
= Nutrisi yang dibutuhkan / makanan yang didapat
Karena ayam petelur diberikan makanan yang normal ad libitum, pengetahuan
dari makanan yang didapat dibawah kondisi yang berbeda adalah penting untuk
memahami hubungan antara diet dan performan hewan.
Protein dan Asam Amino
Hanya ada beberapa perbedaan kecil metabolisme protein antara
unggas dan mamalia. Sejauh ini perbedaan yang muncul adalah asosiasi utama
dari mode uricotelic dari eksresi nitrogen.
Protein yang dicerna adalah karakteristik dari diet dan oleh
pencampuran makanan dari tipe normal menggunakan jarak dari 0,80 hingga
0,85 (koefisien dari kecernaan) dan dari 0,85 sampai 0,90 (kecernaan
sebenarnya). Nilai biologis dari protein di dalam makanan diperkirakan 60.
Tipikal keseimbangan N untuk ayam petelur yang protein didapat adalah hanya
cukup untuk memenuhi N yang diambil 1,42 g/hari; N faecal 0,90 g/hari,
0,56g/day; urinary N hilang, 1,42 g/hari; produksi N 0,90 g/hari.
Konsep dari syarat pengaturan untuk protein mempunyai beberapa
kelemahan teoritis. Tetapi, studi terhadap ayam pejantan dewasa menunjukkan
bahwa nol keseimbangan N bisa di atur oleh 250mg N tercerna per kg per hari
(1.56 g protein tercerna) dan ini konsisten dengan nilai dari 2g protein kasar per
kg per hari yang di sarankan dengan memberikan eksperimen kepada ayam

betina. Hasil dari keseluruhan harga pengaturan, di jabarkan dalam cara ini, yang
diperkirakan dua kali kehilangan yang signifikan. Untuk asam amino ARC
menyarankan syarat pengaturan: lysine 60, methionine 40 metionin + sistin 60;
triptofan, 10 (mg/kg bobot tubuh per hari).
Efektifitas asam amino untuk produksi telur tidak bisa di gerakan
langsung dan variasi dari rata-rata yang rumit dari ayam petelur. Bagaimanapun
juga, untuk ayam betina di awal fase bertelur (sampai umur 40 minggu).
Koefisien efisiensi nampak menjadi relatif konstan dan bervariasi untuk asam
amino yang berbeda hanya antara 0,80 dan 0,85. Nilai ini berasal dari analisa
dari hasil eksperimen pemberian makanan dan di definisikan sebagai rasio asam
amino di dalam telur yang digunakn untuk produksi telur.
Ini sangat penting untuk mengenali batasan syarat perhitunan.
Batasan tersebut mengacu pada ayam betenia yang bertelur selama awal fase
produksi; dan berasumsi tidak ada periode yang di titik beratkan; menolak
variasi dari komposisi telur. Akhirnya asam amino bisa digunakan secara
langsung kepada hewan individual untuk menerima syarat populasi dari hewan.
Beberapa tahun belakangan telah nampak bahwa model perhitungan
faktor linear sederhana bisa di rekonsilasi dengan kurva non-linear, dengan
menimbang indivual dan populasi secara terpisah. Teori elemen ini terdapat
pada figure 15.1 yang nampak model faktor linear untuk unggas, dan bagaimana
model linear individual dikombinasikan untuk memberikan model non-linear
untuk populasi jika variasi di E dan W diambil kedalam akun.
Untuk saat ini, asumsi paling penting adalah efisiensi dari pentingnya
asam amino untuk produksi telur. Saat hal ini nampak benar, kualifikasi penting
adalah pentingnya menolak perkembangan dan modelnya tidak bisa dihitung di
unggas dewasa. Dengan kata lain, asam amino sederhana di tolak dan pentingnya
nampak dalam hasil dari hasil dibawah 50%.
Untuk bertelur pada unggas dibawah rata-rata harus ada siklus
psikologis antara fase bertelur dan fase tidak bertelur dan sintesis protein untuk
produksi telur secara kontinu. Saat sintesis protein berhenti, tidak ada lagi utilasi
dari die asam amini untuk produksi telur dan lewat dari period, efisiensi akan
mulai dari nol, saat tidak ada telur yang diproduksi, untuk 0,80 sampai 0,85 di

50% produksi telur adau lebih. Sejak ayam yang kurang bertelur meningkat, ini
menyediakan kepuasan untuk menjelaskan efisiensi asam amino.
Dengan jarak dari makanan di penggunaan normal, asam amino
esensial yang diperlukan bertemu dengan 17 sampai 19 g protein per hari dan
non asam amino non esensial atau total protein yang keluar. Ini penting
bagaimana mengetahui total protein yang tersuplai daripada suplai individual
menjadi faktor limit. Ini tidak bisa di determinasi secara baik untuk ayam petelur
dengan estimasi 12 sampai 16g per hari.