Anda di halaman 1dari 21

Kelapa sawit (Elaeis guinensis) adalah tanaman perkebunan penting penghasil minyak

makanan, minyak industri, maupun bahan bakar nabati (biodiesel). Indonesia adalah
penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia. Diperkirakan pada tahun 2009,
Indonesia akan menempati posisi pertama produsen sawit dunia. Untuk meningkatkan
produksi kelapa sawit dilakukan kegiatan perluasan areal pertanaman, rehabilitasi kebun yang
sudah ada dan intensifikasi.
Mengingat prospek yang besar dari tanaman kelapa sawit maka pemahaman tentang
kelapa sawit sangat penting bagi mahasiswa. Didaerah-daerah di Indonesia perkebunan
kelapa sawit yang diusahakan oleh rakyat secara pribadi makin bertambah, tetapi perkebunan
ini pada saat ini tidak semuanya berhasil . Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa
faktor antara lain kurangnya pengetahuan tentang teknik budidaya tanaman kelapa sawit baik
tentang bibit yang baik cara perawatan dan lain sebagainya.
Kakao merupakan tumbuhan tahunan (perennial) berbentuk pohon. Tanaman kakao
memiliki batang utama yang tumbuh sebelum tumbuh cabang-cabang primer. Batangnya
berukuran besar dan bulat memanjang. Perawatan tanaman kakao perlu dilakukan agar
produktivitas hasilnya optimum. Perawatan tanaman kakao meliputi membuat piringan,
membersihkan gulma, pemupukan, pemangkasan, dan pemangksan.
Kakao merupakan salah satu komoditi unggulan Indonesia yang telah memberikan
sumbangan devisa bagi negara karena telah lama menjadi komoditi ekspor Indonesia.
Di pasar

dunia, keberadaan Indonesia

sebagai

produsen

kakao

utama

di

dunia

menunjukkan bahwa kakao Indonesia cukup diperhitungkan dan berpeluang untuk


menguasai pasar global. Dengan demikian, seiring terus meningkatnya permintaan pasar
terhadap kakao maka perlu dilakukan usaha untuk meningkatkan ekspor dengan lebih
meningkatkan lagi produksi nasional. Upaya peningkatan produksi kakao mempunyai arti
yang stratigis karena pasar ekspor biji kakao Indonesia masih sangat terbuka dan pasar
domestik masih belum tergarap.
Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi
pohon dewasa mencapai 7,5 meter. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki
percabangan yang tinggi di atas. Bunga betina dan bunga jantan terdapat dalam satu karangan
bunga (inflorescentia) yang sama. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal
dengan nama lateks.
Tanaman karet merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menduduki posisi cukup
penting sebagai sumber devisa non migas bagi Indonesia, sumber pendapatan, kesempatan
kerja yang dapat

mendorong pertumbuhan ekonomi sentra baru di wilayah sekitar

perkebunan karet maupun pelestarian lingkungan dan sumberdaya hayati.sehingga memiliki


prospek yang cerah. Oleh sebab itu upaya peningkatan produktifitas usahatani karet terus
dilakukan terutama dalam bidang teknologi budidayanya.

Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak,
minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan
keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi
perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di
dunia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan
Sulawesi.
Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun,
kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat
digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keunggulan sifat yang dimilikinya
yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak
larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak
menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik.
Produktivitas kelapa sawit dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kesuburan tanah
merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada tingkat produktivitas. Tanah
yang kurang baik akan menyebabkan kekurangan hara pada tanaman. Tanaman yang
kekurangan unsur hara tertentu akan menimbulkan gejala, selain itu akan menyebabkan
gangguan pada proses fisiologis tanaman.

Tanaman kelapa sawit (Palm oil) termasuk tanaman monokotil yang secara
taksonomi dapat diklasifikasikan sebagai berikut, yaitu :
Ordo : Palmales
Famili : Palmae
Subfamili : Cocoidae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensis (Pardamean 2008).
Daun kelapa sawit seperti tanaman palma lainnya, daunnya merupakan
majemuk. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda.
Penampilannya sangat mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang
tidak terlalu keras dan tajam. Bentuk daunnya termasuk majemuk menyirip, tersusun
rozet pada ujung batang (Anonimd, 2009).

Abidin, Zainal. 2008. Analisis Ekspor Minyak Kelapa sawit (CPO) Indonesia. Jurnal
Aplikasi Manajemen Volume 6 Nomor 1. Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya.
Malang.
Ayu, Ria. 2006. Teknik Pengendalian Hama PBK Pada Tanaman Kelapa Sawit. Jurnal
Pertanian. 1(2):170-178.
Lay, The Chong. 2006. Integrated Pest Management of Leaf-Eating Caterpillars of Oil Palms
in Sabah. The Planter. 7(2) : 395 405.

Imadata Instiper. 2007. Kelapa Sawit (Oil Palm). http://imadatainstiper.com/. Diakses


tanggal 17 Desember 2009.
Mahmud, Z. 2008. Pemberdayaan petani kelapa dengan sistem usaha tani kelapa terpadu.
Prosiding Konferensi Nasional Kelapa V. Tembilahan, 22-24 Oktober 2002. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor. hlm. 115124.
MARWAN. 2009. Budidaya Kelapa Sawit. http://elearning.unej.ac.id. Diakses pada tanggal
6 Juni 2010.
Pardamean, M., 2008. Panduan Lengkap Pengelolaan Kebun & Pabrik Kelapa Sawit.
Agromedia Pustaka, Jakarta.

Setyamidjaja, D., 2006. Kelapa Sawit. Kanisius, Yogyakarta.


Tim Bina Karya Tani. 2009. Pedoman Bertanam Kelapa Sawit. Yrama Widya. Bandung.

Praktikum kali ini identifikasi alat reproduksi tanaman kelapa sawit meliputi identifikasi
bunga jantan dan bunga betina. Bunga jantan kelapa sawit terletak di luar pelepah daun
sedangkan bunga betina kelapa sawit terletak diantara pelepah daun. Bagian-bagian dari
bunga jantan terdiri dari serbuk sari, kelopak sari, tangkai sari, dan tangkai bunga. Bagianbagian dari bunga betina terdiri dari batang poros, cabang meruncing, dan putik. Pada
tanaman kelapa sawit penyerbukan yang terjadi adalah penyerbukan dengan bantuan angin,
air, manusia, dan serangga. Penyerbukan dengan bantuan angin biasanya terjadi pada
tanaman yang letak bunga jantan di atas bunga betina. Penyerbukan dengan bantuan air
terjadi bila terdapat hujan sehingga serbuk sari terjatuh atau menyebar.
Identifikasi buah kelapa sawit meliputi warna, bagian-bagian buah, dan kriteria
pemanenan. Warna buah kelapa sawit yang mentah adalah ungu kehitaman sedangkan
warna buah kelapa sawit yang matang adalah oranye atau oranye kecoklatan. (Tim
Bina Karya Tani 2009)warna buah kelapa sawit dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu
sebagai berikut:
a. Nigrescens. Ciri-cirinya: buah muda berwarna ungu kehitam-hitaman, sedangkan
buah yang masak berwarna jingga kehitam-hitaman.
b. Virescens. Ciri-cirinya: buah muda berwarna hijau, sedangkan buah yang masak
berwarna jingga kemerah-merahan (tetapi ujung buah tetap hijau).

c. Albescens. Ciri-cirinya: buah muda berwarna keputih-putihan, sedangkan buah


yang masak berwarna kekuning-kuningan dan ujungnya ungu kehitaman.
Tanaman kelapa sawit siap dipanen bila tanaman telah menghasilkan buah yang matang dan
sudah ada buah yang terjatuh dari tandan kurang lebih sebanyak 4 buah. Bagian-bagian dari
buah kelapa sawit adalah epikarpium (kulit terluar), mesokarpium (CPO), endokarpium
(cangkang), endosperm (karnel), dan lembaga. MENURUT (Mahmud 2003).Bunga dan
buahnya berupa tandan, serta bercabang banyak. Buahnya kecil dan apabila masak, berwarna
merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandungi minyak.
Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Hampasnya
dimanfaatkan untuk makanan ternak, khususnya sebagai salah satu bahan pembuatan
makanan

ayam.

Tempurungnya

digunakan

sebagai

bahan

bakar

dan

arang

333333...
Piringan merupakan sarana yang terpenting dari produksi dan perawatan.
Piringan berfungsi sebagai tempat untuk menyebarkan pupuk. Selain itu,
piringan juga merupakan daerah jatuhnya buah kelapa sawit (Muaddin 2009)
Sasaran pemupukan: 4 T ( Tepat jenis, dosis, waktu dan metode). Yaitu dosis
pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman, hasil analisa daun, jenis tanah,
produksi tanaman, hasil percobaan dan kondisi visual tanaman. Juga waktu
pemupukan ditentukan berdasarkan sebaran curah hujan (Sasrosayono, 2003).
Sasrosayono, S. 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Pada tanaman kelapa sawit dibedakan menjadi dua fase, yaitu tanaman
belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM). Pada masa
TBM merupakan masa pemeliharaan yang banyak memerlukan tenaga dan
biaya, karena pada dasarnya merupakan penyempurnaan dari pembukaan

lahan dan persiapan tanaman, selain itu pada masa ini sangat menentukan
keberhasilan pada masa TM. Pekerjaan-pekerjaan dalam pemeliharaan
tanaman TBM adalah sebagai berikut:
a.

Konsolidasi,

b. Pemeliharaan jalan, benteng, teras, parit dan lain-lain,


c.

Penyulaman,

d. Pengendalian gulma,
e.

Pemupukan,

f.

Pemeliharaan tanaman penutup tanah,

g.

Kastrasi/ablasi,

h. Penyerbukan (polinasi),
i.

Pengendalian hama dan penyakit (Matsumoto, 1998).

Matsumoto, P. 1998. In Selected Tropics On Prospects in Palm Industry. The Lowa State.
University Press. USA.
Melihat betapa banyaknya manfaat kelapa sawit bagi kehidupan manusia maka sangat
penting kita untuk mengetahui budidaya kelapa sawit agar produktifitasnya semakin
meningkat. Salah satu usaha untuk peningkatan produksi adalah dengan cara melakukan
perawatan tanaman kelapa sawit. Melalui praktikum acara Perawatan pada Tanaman
Kelapa Sawit ini kita dapat mengetahui teknik perawatan yang benar.Penyulaman
dilakukan untuk mengganti tanaman yang mati atau tumbuh kurang baik.Saat menyulam
yang baik adalah pada musim hujan.Bibit yang digunakan harus seumur dengan tanaman
yang disulam yaitu bibit berumur 10 14 bulan.Banyaknya sulaman biasanya sekitar 3
5 % setiap hektarnya. Cara melaksanakan penyulaman sama dengan cara menanam bibit
(Darsoko, 2001).
Maksud tempat penyebaran pupuk adalah tempat dimana pupuk dapat ditaburkan.Ada
yang didalam bokoran ditempat yang bersih dari gulma lunak masing-masing
tumbuh. Tempat penaburan pupuk dibedakan atas sifat masing-masing seperti
nitrogen sebaiknya ditaburkan antara batang tanaman sampai ujung bokoran,
P2O5 & MgO (Phosphate & Magnesium) dibaturkan sekitar 25 cm dari tanaman
sampai ujung bokoran. Namun apabila Rock phosphate yang digunakan, tempat
penaburan pupuknya adalah digawangan dipinggir rumpukan pelepah dan diatas
guma lunak yang tumbuh disana.K2O (Kalium), ditaburkan diujung bokoran
(Guiltinan, 2000).

Darsoko. 2001. Pemanfataan Pelepah Kelapa Sawit untuk Pembuatan Pulp dan Kertas Cetak.
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit. 9 (2-3) : 63-77
Guiltinan. 2000. Mediated Transformation and Efficient Regeneration of Plants. Agropress.
United States

TANDDA

Carararararar.....
Kadar hara dalam tanaman biasanya menurun sejalan dengan pertumbuhan
dan apabila penurunan ini cukup banyak maka laju pertumbuhan menjadi kurang
daripada tanaman yang berkadar hara lebih tinggi. Kadar hara yang menyebabkan
laju pertumbuhan tanaman mulai menurun dibandingkan dengan tanaman yang
mempunyai kadara hara lebih tinggi selagi faktor-faktor tumbuh lainnya berada
dalam keadaan memuaskan dinamakan kadar hara genting (critical nutrient
concennatrion). Secara kuantitatif dapat dikatakan, bahwa kadar genting ialah
suatu kadar hara yang menurunkan pertumbuhan tanaman sebanyak 10 %
dibandingkan dengan pertumbuhan maksimum. Makin lama tanaman berada di
bawah kadar genting dan makin awal hal ini terjadi pada musim tumbuh, makin
berkuranglah pertumbuhan atau hasilnya dan makin besar kebolehjadian tanaman
memperlihatkan tanggapan terhadap pemupukan. Jadi dengan analisa jaringan
orang dapat menduga apakah pengadaan hara dalam tanah sesuai dengan keperluan
tanaman akan hara. Dengan analisa jaringan yang dirancang secara berulang
sepanjang masa tumbuh tanaman, orang memperoleh serentetan gambaran tentang
keadaan pengadaan hara dalam tanah masing-masing saat selama musim tumbuh
itu
(Notohadiprawiro 2006).

Gejala defisiensi hara atau kahat hara secara visual umumnya telah cukup membantu dalam
mendiagnosis gangguan hara, terutama bila dilakukan oleh ahlinya. Apabila tanaman
tidak menerima hara yang cukup maka pertumbuhannya akan lemah dan
perkembangannya tampak abnormal. Diagnosis defisiensi hara pada tanaman dapat
dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan dengan diagnosis gejala visual
dan analisis tanaman.
Ayu, Ria. 2006. Teknik Pengendalian Hama PBK Pada Tanaman Kelapa Sawit. Jurnal
Pertanian. 1(2):170-178.
Tanaman tingkat tinggi membutuhkan 3 jenis hara esensial yang terdiri atas
kelompok hara makro dan mikro, meskipun pengelompokan tersebut masih
diperdebatkan karena hara mikro tertentu dapat menjadi hara makro untuk tanaman
lain. Diagnosis berdasarkan gejala visual di lapangan sangat komplek dan sulit,

terutama bila kejadian kahat lebih dari satu hara mineral secara simultan atau kahat
hara tertentu bersamaan dengan toksik hara yang lain. Salah satu metode untuk
menentukan unsur hara esensial bagi tanaman adalah dengan menganalisis secara
kimia semua unsur yang dikandung oleh tumbuhan sehat (Wijayani 2008).
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis) saat ini merupakan salah satu
jenis tanaman perkebunan yang menduduki posisi penting di sektor pertanian
umumnya dan sektor perkebunan khususnya. Hal ini disebabkan dari sekian
banyak tanaman yang menghasilkan minyak atau lemak, kelapa sawit yang
menghasilkan nilai ekonomi terbesar per hektar didunia pertanian. Kelapa
sawit tergolong tanaman yang kuat. Walaupun begitu tanaman ini juga tidak
luput dari serangan dan penyakit, baik yang kurang maupun yang
membahayakan. (Sastrosayono, 2009).
Sastrosayono, Selardi. 2001. Kelapa Sawit Usaha Budidaya, Pemanfaatan Hasil, dan Aspek
Pemasaran. Penebar Swadaya. Jakarta.
Kesuburan tanah merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada
tingkat produktivitas. Tanaman yang kekurangan unsur hara tertentu akan menimbulkan
gejala, selain itu akan menyebabkan gangguan pada proses fisiologis tanaman.

Warna daun yang hijau gelap merupakan cIri keadaan tanaman yang
baik. Sementara bila warnanya berubah menjadi hijau pucat atau kekuningkuningan maka di pastikan tanaman mengalami defisiensi dan/atau pengaruh
faktor lingkungan seperti temperatur yang ekstrim, penyakit, atau kesalahan
penyemprotan. 00000 Cara paling mudah untuk melihat tanda dan gejala
defisiensi adalah dengan membandingkandaun dengan foto tanaman yang
mengalami defisiensi (Moenandir. 2001).

Moenandir. 2007. Persaingan Tanaman Budidaya Dengan Gulma. Rajawali pers.


Jakarta.
Unsur N, P dan K mempunyai peran yang sangat penting terhadap
pertumbuhan dan produksi tanaman, dimana ketiga unsur ini saling berinteraksi
satu sama lain dalam menunjang pertumbuhan tanaman, unsur nitrogen dapat
diperoleh dari pupuk Urea dan ZA. unsur P dari pupuk TSP/SP-36, sedangkan K
dalam KCI dan ZK. Sumber N sekitar 78% beasal dari udara. Nitrogen masuk ke

Bisfera disebabkan oleh jasad renik pengikat N yang dapat hidup bebas dan bekerja
sama sehingga terjadilah protein dalam bentuk atau mengandung asam amino yang
lalu diubah atau ditransformasikan menjadi bentuk yang tersedia bagi tanaman,
yaitu NH4+ dan NO3- (Sutedjo, 2008).
Sutedjo, M. M. 2008. Pupuk dan Cara Pemupukan. Jakarta : Rineka Cipta.

a. Identifikasi Defisiensi Unsur Hara Tanaman Kelapa Sawit


Tanaman kelapa sawit memerlukan tanah yang gembur, subur dan kaya
bahan organik. Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah
yang drainase dan aerasi baik dengan pH sekitar 5,5 - 7,0. Bahan organik yang
terkandung dalam tanah akan diuraikan oleh mikroorganisme dan menghasilkan
unsur hara yang bermanfaat bagi tanaman.
Defisiensi unsur hara, atau kata lain kekurangan unsur hara, bisa
menyebabkan pertumbuhan pohon tidak stabil atau pertumbuhan tanaman yang
tidak normal. Defisiensi tersebut dapat disebabkan oleh adanya defisiensi satu atau
lebih unsur hara, gangguan dapat berupa gejala visual yang spesifik. Gejala visual
tersebut yang dipakai untuk identifikasi defisiensi unsur hara. Gejala defisiensi
bersifat relatif, seringkali defisiensi salah satu atau beberapa unsur hara bersamaan
dengan kelebihan unsur hara lainnya.
Kelapa sawit juga merupakan yang dapat terkena hama penyakit juga tetapi
saat perawatanpun juga perlu diperhatikan dalam pemberian dosis dan frekuesi

pemberian pupuk, sebab tanaman kelapa sawit dapat mengalami gejala kekurangan
ataupun gejala kelebihan hara makro dan mikro. Tanda-tanda tanaman yang
mengalami defisiensi unsur nitrogen antara lain. Penyusunan protein, klorofil dan
berperanan terhadap fotosintesa
Kekurangan Nitrogen menyebabkan daun berwarna kuning pucat dan menghambat
pertumbuhan. Kelebihan Nitrogen menyebabkan daun lemah dan rentan
terhadap penyakit/hama, kekahatan Boron, White Stripe dan berkurangnya buah
jadi. Penyebab defisiensi Nitrogen: Terhambatnya mineralisasi Nitrogen, aplikasi
bahan organik dengan C/N tinggi, gulma, akar tidak berkembang, pemupukan
Nitrogen tidak efektif. Upaya: Aplikasi secara merata di piringan, tambah Urea
pada tanaman kelapa sawit, aplikasi Nitrogen pada kondisi tanah lembab,
kendalikan gulma.
Basrimah. 2011. Pupuk dan unsur hara pupuk. Dalam http://distan.riau.go.id/. Diakses pada
24 Mei 2014 pukul 17.26 WIB

Fosfor merupakan komponen penyusun beberapa enzim, protein, ATP,


RNA, dan DNA. ATP penting untuk proses transfer energi, sedangkan RNA dan
DNA menentukan sifat genetik tanaman. Unsur P juga berperan pada pertumbuhan
benih, akar, bunga, dan buah. Dengan membaiknya struktur perakaran sehingga
daya serap nutrisi pun lebih baik. Bersama dengan kalium, fosfor dipakai untuk
merangsang pembungaan. Hal itu wajar sebab kebutuhan tanaman terhadap fosfor
meningkat tinggi ketika tanaman akan berbunga.
Gejala kekurangan dimulai dari daun tua menjadi keunguan
cenderung kelabu. Tepi daun cokelat, tulang daun muda berwarna hijau
gelap. Hangus, pertumbuhan daun kecil, kerdil, dan akhirnya rontok. Fase
pertumbuhan lambat dan tanaman kerdil.
Rindengan, 2004. Adaptasi Varietas Kelapa Sawit Pada Lahan Kering Marginal. Jurnal Litri
Vol. 13. No. 12 : 73. Penelitian dan Pengembangan Tanaman Perkebunan.
Tanda-tanda tanaman yang mengalami defisiensi unsur Kalium antara
lain Aktifitas stomata, aktifitas enzim dan sintesa minyak. Meningkatkan
ketahanan terhadap penyakit serta jumlah dan ukuran tandan. Kekurangan
K menyebabkan bercak kuning/transparan, white stripe, daun tua kering dan
mati. Kekurangan K berasosiasi dengan munculnya penyakit seperti
Ganoderma. Kelebihan K merangsang gejala kekurangan B sehingga rasio
minyak terhadap tandan menurun. Penyebab kekurangan K yaitu K di dalam
tanah rendah, kurangnya pupuk K, kemasaman tanah tinggi dengan
kemampuan tukar kation rendah. Upaya yang dapat dilakukan adalah

aplikasi K yang cukup, aplikasi tandan kelapa sawit, perbaiki kemampuan


tukar kation tanah dan aplikasi pupuk K pada pinggir piringan.
Hermanto. 2011. Penetapan Bahan Diagnosis Status Hara Npk Pada
Jaringan Tanaman ks. Jurnal Pertania Bogor Vol. 22 (2): [64-79]

Tanda-tanda tanaman yang mengalami defisiensi unsur Magnesium antara


lain penyusun klorofil dan berperanan dalam respirasi tanaman, maupun
pengaktifan enzim. Kekurangan Mg menyebabkan daun tua berwarna hijau
kekuningan pada sisi yang terkena sinar matahari, kuning kecoklatan lalu kering.
Penyebab defisiensi Mg: Rendahnya Mg didalam tanah, kurangnya aplikasi Mg,
ketidak seimbangan Mg dengan kation lain, curah hujan tinggi (> 3.500
mm/tahun), tekstur pasir dengan top soil tipis. Upaya: Rasio Ca/Mg dan Mg/K
tanah agar tidak melebihi 5 dan 1,2, aplikasi tandan kelapa sawit, gunakan Dolomit
jika kemasaman tinggi, pupuk ditabur pada pinggir piringan.
Defisiensi zat besi sesungguhnya jarang sekali terjadi. Terjadinya gejalagejala pada bagian tanaman terutama daun yang kemudian dinyatakan sebagai
kekurangan tersedianya zat Fe (besi) adalah karena tidak seimbang tersedianya zat
Fe dengan zat kapur pada tanah yang berkelebihan kapur dan yang bersifat alkalis.
Jadi masalah ini merupakan masalah pada daerah-daerah yang tanahnya banyak
mengandung kapur. Gejala-gejala yang tampak pada daun muda, mula-mula secara
setempat berwarna hijau pucat atau hijau kekuningan-kuningan, sedang tulangtulang daun tetap berwarna hijau serta jaringan-jaringannya tidak mati. Selanjutnya
pada tulang-tulang daun terjadi klorosis yang tadinya berwarna hijau berubah
menjadi warna kuning dan ada pula yang menjadi putih. Gejala selanjutnya yang
paling hebat terjadi pada musim kemarau, daun-daun muda yang banyak yang
menjadi kering dan berjatuhan. Tanaman kopi yang ditanam didaerah-daerah yang
tanahnya banyak mengandung kapur, sering tampak gejala-gejala demikian.

b. Perawatan Tanaman Kelapa Sawit, Kakao dan Karet


Perawatan untuk tanaman kakao yang berada di lahan Jumantono terdiri
dari penyiangan,

pengendalian hama, pemupukan dan pemangkasan. Tujuan

penyiangan adalah untuk mencegah persaingan dalam penyerapan air dan unsur
hara, mencegah hama dan penyakit. Penyiangan dilakukan secara rutin, yaitu
dengan menggunakan cangkul, sabit, manual (dicabut dengan tangan), maupun
dengan herbisida. Mencegah hama dan penyakit terlebih dahulu dilakukan dengan
melakukan pengawasan tanaman sehingga dapat diantisipasi.
Pemangkasan ditujukan pada pembentukan cabang yang seimbang dan
pertumbuhan vegetatif yang baik. Pemangkasan ada beberapa macam yaitu :
1) Pangkas Bentuk
Dilakukan umur 1 tahun setelah muncul cabang primer (jorquet) atau sampai
umur 2 tahun dengan meninggalkan 3 cabang primer yang baik dan letaknya
simetris.
2) Pangkas Pemeliharaan
Bertujuan mengurangi pertumbuhan vegetatif yang berlebihan dengan cara
menghilangkan tunas air (wiwilan) pada batang pokok atau cabangnya.
3) Pangkas Produksi

Bertujuan agar sinar dapat masuk tetapi tidak secara langsung sehingga bunga
dapat terbentuk. Pangkas ini tergantung keadaan dan musim, sehingga ada
pangkas berat pada musim hujan dan pangkas ringan pada musim kemarau.
4) Pangkas Restorasi
Memotong bagian tanaman yang rusak dan memelihara tunas air atau dapat
dilakukan dengan side budding.
Pemangkasan yang dilakukan pada praktikum di lahan Jumantono adalah
pemangkasan pemeliharaan yang dilakukan dengan memotong cabang-cabang
kakao sehingga pertumbuhan vegetatifnya baik dan pembentukan cabangnya
seimbang.
Pemupukan dilakukan untuk menjaga kesuburan tanah tetap terjaga maka
usaha mengganti atau mengembalikan unsur hara yang telah diambil oleh tanaman
perlu dilakukan secara rutin. Pemupukan dilakukan dengan membuat alur sedalam
10 cm di sekeliling batang kakao dengan diameter kira-kira tajuk. Waktu
pemupukan di awal musim hujan dan akhir musim hujan. Pemupukan untuk
tanaman kakao di Jumantono yang berumur sekitar 2,5 tahun diberikan dosis per
pohon per tahun yaitu Urea 100 gram, SP-36 75 gram dan KCl 75 gram.
Pemberantasan hama dilakukan dengan penyemprotan pestisida dalam dua
tahap, pertama bertujuan untuk mencegah sebelum diketahui ada hama yang
benarbenar menyerang. Kadar dan jenis pestisida disesuaikan. Penyemprotan
tahapan kedua adalah usaha pemberantasan hama, di mana jenis dan kadar
pestisida yang digunakan juga ditingkatkan. Contoh pestisida yang digunakan
untuk pemberantasan hama dan penyakit, yaitu Deltametrin (Decis 2,5 EC),
Sihalotrin (Matador 25 EC), Sipermetrin (Cymbush 5 EC), Metomil (Nudrin 24
WSC/Lannate 20L), dan Fenitron (Karbation 50 EC).
Hama yang sering menyerang tanaman kakao antara lain adalah belalang
(Valanga Nigricornis), ulat jengkal (Hypsidra talaka Walker.), kutu putih
(Planoccos lilaci), penghisap buah (Helopeltis sp.), dan penggerek batang (Zeuzera
sp.). Insektisida yang sering digunakan untuk pemberantasan belalang, ulat jengkal,
dan kutu putih antara lain adalah Decis, Cupraycide, Lebaycide, Coesar, dan
Atabron. Penghisap buah dapat diberantas dengan Lebaycide, Cupraycide, dan
Decis. Penyakit yang sering ditemukan dalam budidaya kakao, yaitu penyakit
jamur upas dan jamur akar. Penyakit tersebut disebabkan oleh jamur Oncobasidium

thebromae. Selain itu, juga sering dijumpai penyakit busuk buah yang disebabkan
oleh Phytoptera sp.
Perawatan tanaman karet dilakukan dengan membersihkan gulma,
pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta pemangkasan batang.
Pemberantasan hama pada sekitar pohon karet dikerjakan dengan menggunakan
peralatan mekanis yaitu cangkul, sabit, ataupu secara kimiawi menggunakan
herbisida. Selain hama dan penyakit, gulma juga perlu untuk dikendalikan.
Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman karet secara rutin dilakukan
pengamatan tingkat serangan. Untuk mengetahui akan terjadinya serangan hama
maupun penyakit dilakukan pengontrolan tanaman terlebih dahulu untuk
mengidentifikasi tingkat serangan dan cara pengendalian yang akan dilakukan.
Adapun penyakit yang sering menyerang tanaman karet adalah jamur akar putih.
Sedangkan hama yang ditemui di tanaman karet di lahan Jumantono adalah
belalang (Valanga Nigricornis), ulat jengkal (Hypsidra talaka Walker.) yang
memakan daun sehingga dapat mempengaruhi proses fotosintesis tanaman.
Pemupukan dilakukan untuk mempercepat tanaman mencapai matang sadap
menjadi tanaman menghasilkan (TM). Sebelumnya pupuk dasar telah diberikan
pada saat penanaman, program pemupukan secara berkelanjutan pada tanaman
karet harus dilakukan dengan dosisi yang seimbang dua kali pemberian dalam
setahun. Jadwal pemupukan pada semester I yakni pada Januari atau Februari dan
pada semester ke II yaitu Juli atau Agustus.
Seminggu sebelum pemupukan, gawangan terlebih dahulu digaru dan
piringan tanaman dibersihkan. Biasanya pupuk yang digunakan adalah pupuk
dengan unsur N, P, K. Pemberian SP-36 biasanya dilakukan dua minggu lebih
dahulu dari Urea dan KCL. Pemupukan untuk tanaman karet di lahan Jumantono
diberikan dengan dosis 100 gram Urea, 50 gram SP-36 dan 50 KCl per pohon per
tahun. Pengamatan pengaruh pupuk dilakukan 1-2 minggu setelah pemberian
pupuk dilakukan. Hasilnya tanaman tampak tumbuh lebih baik dengan indikasi
daun yang berwarna hijau.

Penunasan atau pemangkasan daun merupakan kegiatan pemotongan


pelepah daun tua atau tidak produktif.

Penunasan bertujuan untuk

mempermudah kegiatan panen, pengamatan buah matang, penyerbukan alami,


pemasukan cahaya dan sirkulasi angin, mencegah brondolan buah tersangkut

di pelepah, sanitasi dan menyalurkan zat hara ke bagian lain yang lebih
produktif (Anonimc, 2009).
Anonimb. 2009. Budidaya Kelapa Sawit. http://infosawit.wordpress.com. Diakses pada
tanggal 6 Juni 2010.
Kelapa sawit termasuk tanaman monokotil maka batangnya tidak memiliki
kambium dan umumnya tidak bercabang. Batang kelapa sawit tumbuh tegak lurus
(phototropy) dibungkus oleh pelepah daun. Laju pertumbuhan tinggi batang
dipengaruhi oleh komposisi genetik dan lingkungan. Tanaman kelapa sawit secara
umum menghendaki lama penyinaran matahari rata-rata 5-7 jam/hari. Curah hujan
tahunan
1.500-4.000 mm. Temperatur optimal 24C-28C. Ketinggian tempat
yang ideal antara 1-500 mdpl. Kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses
penyerbukan (Abdoellah 2007).
Abdoellah 2007. Beberapa Metode Penentuan Jenis Tanah Pada Kelapa sawit. J. Pertanian.
Vol. 12 (26): 34-56.
Melihat betapa banyaknya manfaat kelapa sawit bagi kehidupan manusia maka sangat penting
kita untuk mengetahui budidaya kelapa sawit agar produktifitasnya semakin meningkat. Salah
satu usaha untuk peningkatan produksi adalah dengan cara melakukan perawatan tanaman kelapa
sawit. Melalui praktikum acara Perawatan pada Tanaman Kelapa Sawit ini kita dapat mengetahui
teknik perawatan yang benar.Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang mati atau
tumbuh kurang baik.Saat menyulam yang baik adalah pada musim hujan.Bibit yang digunakan
harus seumur dengan tanaman yang disulam yaitu bibit berumur 10 14 bulan.Banyaknya
sulaman biasanya sekitar 3 5 % setiap hektarnya. Cara melaksanakan penyulaman sama dengan
cara menanam bibit (Darsoko, 2007).
Pemupukan kelapa sawit dilakukan dengan membuat piringan 20 cm
dimulai dari lingkaran luar kanopi masuk ke dalam menuju titik pusat
lingkaran batang. Hal ini dilakukan sebab penyerapan unsur hara yang optimal
dilakukan oleh jaringan akar meristematik yang terletak di bagian luar
lingkaran kanopi. Lebar piringan yang dibuat 20 cm karena untuk
memudahkan pembuatan alur yang melingkar kanopi sehingga pupuk dapat
dengan mudah ditempatkan dalam piringan yang dibuat. Hal ini dilakukan
untuk memudahkan dalam aplikasinya dan pupuk yang diberikan dapat
ditimbun dengan tanah lapisan atasnya sehingga pupuk tidak hilang melalui
penguapan atau terbawa air ke tempat lain. Kekurangan salah satu atau
beberapa unsur hara akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak
sebagaimana mestinya yaitu ada kelainan atau penyimpangan-penyimpangan
dan banyak pula tanaman yang mati muda yang sebelumnya tampak layu dan
mengering (Riwandi 2005).
Penyebaran pupuk adalah tempat dimana pupuk dapat ditaburkan.Ada yang didalam
bokoran ditempat yang bersih dari gulma lunak masing-masing tumbuh. Tempat
penaburan pupuk dibedakan atas sifat masing-masing seperti nitrogen sebaiknya
ditaburkan antara batang tanaman sampai ujung bokoran, P2O5 & MgO (Phosphate &
Magnesium) dibaturkan sekitar 25 cm dari tanaman sampai ujung bokoran. Namun
apabila Rock phosphate yang digunakan, tempat penaburan pupuknya adalah digawangan
dipinggir rumpukan pelepah dan diatas guma lunak yang tumbuh disana.K2O (Kalium),
ditaburkan diujung bokoran (Guiltinan, 2000).
Darsoko. 2001. Pemanfataan Pelepah Kelapa Sawit untuk Pembuatan Pulp dan Kertas Cetak.
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit. 9 (2-3) : 63-77

Guiltinan. 2000. Mediated Transformation and Efficient Regeneration of


Agropress. United States

Plants.

Piringan merupakan sarana yang terpenting dari produksi dan perawatan.


Piringan berfungsi sebagai tempat untuk menyebarkan pupuk. Selain itu,
piringan juga merupakan daerah jatuhnya buah kelapa sawit (Muaddin 2009)

Sasaran pemupukan: 4 T ( Tepat jenis, dosis, waktu dan metode). Yaitu


dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman, hasil analisa daun, jenis
tanah, produksi tanaman, hasil percobaan dan kondisi visual tanaman. Juga
waktu pemupukan ditentukan berdasarkan sebaran curah hujan (Sasrosayono,
2003).
Sasrosayono, S. 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Pada tanaman kelapa sawit dibedakan menjadi dua fase, yaitu tanaman
belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM). Pada masa
TBM merupakan masa pemeliharaan yang banyak memerlukan tenaga dan
biaya, karena pada dasarnya merupakan penyempurnaan dari pembukaan
lahan dan persiapan tanaman, selain itu pada masa ini sangat menentukan
keberhasilan pada masa TM. Pekerjaan-pekerjaan dalam pemeliharaan
tanaman TBM adalah sebagai berikut:
j.

Konsolidasi,

k. Pemeliharaan jalan, benteng, teras, parit dan lain-lain,


l.

Penyulaman,

m. Pengendalian gulma,
n. Pemupukan,
o.

Pemeliharaan tanaman penutup tanah,

p. Kastrasi/ablasi,
q. Penyerbukan (polinasi),
r.

Pengendalian hama dan penyakit (Matsumoto, 2012).

Matsumoto, P. 2012. In Selected Tropics On Prospects in Palm Industry. The Lowa State.
University Press. USA.

pembahasan
Pada praktikum kali ini, komoditas yang digunakan untuk budidaya tanaman
tahun adalah kelapa sawit, kakao, dan karet. Tanaman tahunan (perennial plants)
merupakan tumbuhan yang siklus hidupnya memerlukan waktu lebih dari dua tahun
dan tumbuhan tersebut dapat meneruskan kehidupannya setelah berproduksi.
Banyak tanaman tahunan berupa pohon, meskipun terdapat pula terna ataupun
semak. Pada kehidupannya, tanaman selalu dipengaruhi lingkungan. Namun,
tanaman tahunan mengembangkan strategi untuk bertahan hidup dalam mengatasi
tantangan lingkungan, seperti menggugurkan daunnya, mengubah morfologi, atau
menghasilkan senyawa tertentu yang membuat sel-selnya mampu bertahan pada
perubahan ligkungan yang ekstrim.

Karet merupakan salah satu komoditi pertanian yang penting di


Indonesia dalam penunjang perekonomian negara. Saat ini, Indonesia
menduduki peringkat ke-2 penghasil karet terbesar di dunia. Hal ini terbukti
dengan tersebar luasnya perkebunan karet yang terdapat di Indonesia. Namun
luasnya perkebunan tidak diimbangi oleh produktivitas dan mutu yang
dihasilkan. Tanaman karet (Hevea brasiliensis) sebagai penghasil karet alam
merupakan salah satu komoditas perkebunan penting bagi Indonesia dillihat
dari banyaknya petani, tenaga kerja, dan pengusaha yang terlibat dalam
pengusahaan karet alam (Nurhaimi-Haris 2008).
Tanaman karet merupakan salah satu komoditi perkebunan yang
menduduki posisi cukup penting sebagai sumber devisa non migas bagi
Indonesia, sehingga memiliki prospek yang cerah. Oleh sebab itu upaya
peningkatan produktifitas usahatani karet terus dilakukan terutama dalam
bidang teknologi budidayanya (Mulyana, 2007).

Secara umum permasalahan utama perkebunan karet rakyat adalah


masih rendahnya produktivitas kebun (sekitar 610 kg/ha/tahun) bila
dibandingkan dengan produktivitas tanaman karet perkebunan besar yang
mencapai sekitar 1100-1200 kg/ha/th. Rendahnya produktivitas tersebut antara
lain disebabkan sebagian besar kebun petani (>60%) masih menggunakan
bahan tanam non-unggul dan masih luasnya areal karet tua rusak yang perlu
segera diremajakan. Masalahnya, proyek pengembangan karet berbantuan
dengan pembiayaan dari pemerintah pusat atau pinjaman luar negeri sudah
sulit diadakan. Oleh karena itu perlu didorong upaya-upaya untuk melakukan
percepatan

pengembangan

peremajaan

karet

secara

mandiri

melalui

peningkatan partisipasi dan pemberdayaan petani serta masyarakat (Supriadi,


1997).
Penyakit-penyakit yang ditemui pada tanaman karet adalah penyakit
embun tepung, penyakit daun, penyakit jamur upas, penyakit cendawan akar
putih-dan penyakit gugur dawn. Pencegahannya dengan menanam klon yang
sesuai dengan lingkungan dan lakukan pengelolaan , tanaman secara tepat dan
teratur (Cottrell, 2009).
Produksi lateks dari tanaman karet disamping ditentukan oleh keadaan tanah dan
pertumbuhan tanaman, klon unggul, juga dipengaruhi oleh teknik dan manajemen
penyadapan. Penyadapan adalah mata rantai pertama dalam proses produksi karet.
Penyadapan pertama dilakukan setelah tanaman berumur 5-6 tahun. Penyadapan dapat
dilakukan selama 25-35 tahun. Tinggi bukaan sadap pertama 130 cm dan bukaan
sadap kedua 280 cm di atas pertautan okulasi. Waktu pelaksanan penyadapan
dilakukan sepagi mungkin agar mendapatkan lateks yang tinggi, karena bila
penyadapan dilakukan pada waktu pagi hari, turgor pembuluh lateks masih tinggi dan
keluarnya lateks dari pembuluh yang terpotong berlangsung dengan aliran yang kuat
(Hanum 2008).
Hanum Chairani 2008. Teknik Budidaya Tanaman Jilid 3. Jakarta. Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.

Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu tanaman


perkebunan yang dikembangluaskan dalam rangka peningkatan sumber devisa
negara dari sektor nonmigas. Tanaman kakao tersebut merupakan salah satu
anggota

genus

Theobrama
f

dibudidayakan (Anonim , 2008).

dari

familia

Sterculaieeae

yang

banyak

Bahan tanam kakao merupakan modal dasar untuk mencapai produksi


kakao yang tinggi. Kesalahan pemilihan dan penggunaan bahan tanam akan
mengakibatkan kerugian dalam jangka panjang. Karena itu, pemilihan bahan
tanam merupakan tindakan awal yang sangat penting dalam budidaya kakao.
Pemilihan dan penggunaan bahan tanam kakao unggul perlu diikuti dengan
tindakan kultur teknis yang baik. Antara lain meliputi pembibitan, perawatan
tanaman di lapangan, dan penanganan pasca panen sehingga usaha budidaya
kakao membawa hasil yang optimal dan memuaskan (Indriana et al., 2010).
Penanaman kakao sebaiknya menggunakan benih yang memiliki daya
kecambah minimal 80% karena benih ini merupakan benih yang baik
pertumbuhannya.

Kesalahan

dalam

penggunaan

benih

maka

akan

mempengaruhi produksi tanaman nantinya. Jika benih yang digunakan untuk


penanaman adalah benih yang kualitasnya baik, memiliki daya kecambah yang
tinggi, serta perawatan dan pemeliharaan dalam budidaya tanaman kakao
dilakukan dengan baik maka tanaman kakao tersebut mampu menghasilkan
produksi buah kakao yang maksimal (Siswoputranto, 2007).
Anonima. 2009. Budidaya Karet. http://wongtaniku.wordpress.com. Diakses tanggal 11 Juni
2010.
Anonimb. 2009. Budidaya Kelapa Sawit. http://infosawit.wordpress.com. Diakses pada
tanggal 6 Juni 2010.
Anonimc. 2009. Budidaya Kelapa Sawit. http://elearning.unej.ac.id. Diakses pada tanggal 6
Juni 2010.
Anonimd. 2009. Elaeis guineensis (Kelapa Sawit). http://toiusd.multiply.com. Diakses tanggal
6 Juni 2010.
Anonime. 2009. Kelapa Sawit. http://id.wikipedia.org. Diakses tanggal 6 Juni 2010.
Anonimf. 2008. Kakao. http://www.tanindo.com. Diakses tanggal 6 Juni 2010.
Anwar, C. 2001. Budidaya Karet. Pusat Penelitian Karet. Medan.
Ayu, Ria. 2006. Teknik Pengendalian Hama PBK Pada Tanaman Kelapa Sawit. Jurnal
Pertanian. 1(2):170-178.
Cottrell, A. 1990. Smallholder Rubber Planters In South Sumatra: A Case Study In
Technological Change. Department of Anthropology and Sociology. University of
Queensland.
Effendi, Sulaiman., F.G Winarno, M Anwar N.W dan S. Hardjo. 2001. Pengaruh Kondisi
Pengolahan Terhadap Mutu Biji Cokelat (Theobroma cacao L) di Perkebunan
Bunisari. Jurnal Warta Vol. 51 (2) : 47-56.
Entwistle, P.F. 2002. Pest of Cocoa. Longman Group. London. p 448-473.

Fauzi, Y., Yustina E.W., Eman S., dan Rudi Hartono. 2002. Pemanfaatan Hasil Limbah
Kelapa Sawit dan Analisis Usaha. J. Agrobisnis. 28(2):101-120.
Indriana, I. Y, dan A. Sugiyanto. 2002. Pengaruh Dosis Pupuk Organik Cair dan Dosis Urea
terhadap Pertumbuhan & Produksi Kakao (Theobroma cacao). Jurnal Ilmu-ilmu
Hayati. Vol. 10 (2) : 23-26.
Lay, The Chong. 2006. Integrated Pest Management of Leaf-Eating Caterpillars of Oil Palms
in Sabah. The Planter. 7(2) : 395 405.
Matsumoto, P. 1998. In Selected Tropics On Prospects in Palm Industry. The Lowa State.
University Press. USA.
McGregor. 2006. Insect Pollination Of Cultivated Crop Plants. USDA. Virtual Book.
California. US.
Moenandir. 2001. Persaingan Tanaman Budidaya Dengan Gulma. Rajawali pers. Jakarta.
Mulyana, A. 2003. Kajian Model Subsisi Bunga Giro Pemerintah Daerah Sebagai Salah Satu
Alternatif Upaya Pembangunan Perkebunan Karet Rakyat. Agribisnis dan Industri
Pertanian Vol. 2 (2): 1-9.
Pangudiyatno. 2005. Cara Bertanam Tanaman Kakao.
ttgp.komoditi.com. Diakses pada tanggal 6 Juni 2010.

http://www.kpel.or.id.

Prawirosukarto, S. 2006. Development of Cordycepsaff.militaris fungus on the rice bran


medium and their pathogenicity againts pupae of Setothosea asigna can Eccke. J. The
Journal Of Indonesian Oil Palm Research Institute. 5 (3) :70-90.
Rindengan, 2004. Adaptasi Varietas Kelapa Sawit Pada Lahan Kering Marginal. Jurnal Litri
Vol. 13. No. 12 : 73. Penelitian dan Pengembangan Tanaman Perkebunan.
Sasrosayono, S. 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Sastrosayono, Selardi. 2001. Kelapa Sawit Usaha Budidaya, Pemanfaatan Hasil, dan Aspek
Pemasaran. Penebar Swadaya. Jakarta.
Siswoputranto. P.S. 1993. Kakao Internasional dan Indonesia. Kanisius. Yogyakarta.
Supriadi, M. 1997. Adopsi Teknologi Usahatani Karet Oleh Petani di Dua Tipe Desa. J.
Penelitian Karet Vol. 15 (2): 97- 118.
Toruan, N. 1980. Defisiensi Unsur N Tanaman Kelapa Sawit Melalui Kultur Jaringan.
Pengaruh Berbagai dan Intensitas Cahaya. J. Balai Penelitian Perkebunan Bogor.
48(3) : 71 74.
Pola tanam erat kaitannya dengan keoptimuman jumlah pohon per hektar,
keoptimuman peranan pohon pelindung, dan meminimumkan kerugian yang
timbul pada nilai kesuburan tanah, serta biaya pemeliharaan. Ada empat pola
tanam yang dianjurkan, yaitu pola tanam cokelat segi empat dan pohon
pelindung segi empat, pola tanam cokelat segi empat dan pohon pelindung segi
tiga, pola tanam cokelat berpagar ganda dan pohon pelindung segi tiga, pola
tanam cokelat berpagar ganda, pohon pelindung segi empat (Soetomo 2005).
Pengelolaan penaung yang baik akan memacu pertumbuhan pohon kakao
yang sehat dan memperbaiki hasilnya. Jumlah penaung yang terlalu sedikit
akan berakibat pohon kakao tidak sehat dan munculnya masalah gulma. Jumlah
penaung yang terlalu banyak akan meningkatkan masalah hama dan penyakit.
Keduanya mengakibatkan produksi kakao rendah (Daniel 2009).

Daniel R 2009. Pengelolaan Hama dan Penyakit Terpadu untuk Produksi Kakao
Berkelanjutan. http://www.ag.gov.au/cca. Diakses pada tanggal 18 Oktober 2013.
Riwandi 2005. Rekomendasi Pemupukan Kelapa Sawit Berdasarkan Analisis Tanah dan
Tanaman. J. Akta. 5 (1): 27-34.
Soetomo 2005. Pengaruh berbagai Stimulan terhadap Pertumbuhan Tanaman Kakao. J.
Agrifor. 6 (3): 22-37.