Anda di halaman 1dari 10

REFLEKSI KASUS

RUPTUR PERINEUM
Oleh:
Monica Shendy

1018011080

KEPANITERAN KLINIK ILMU FORENSIK


RUMAH SAKIT UMUM DR. H. ABDUL MOELOEK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014

KASUS
Pasien ibu hamil G4P3A0 aterm datang dengan
keadaan fase aktif kala I.
Dari anamesis diketahui bahwa pasien memiliki
riwayat melahirkan normal/spontan pada
kehamilan-kehamilan sebelumnya, pasien tidak
memiliki riwayat hipertensi maupun kejang selama
kehamilan-kehamilan sebelumnya.
Riwayat melahirkan bayi besar (BBL >350gr).

ALASAN PENGAMBILAN KASUS


Ruptur perineum lebih sering terjadi pada
wanita primipara dibandingkan dengan
multipara.

Pemantauan yang ketat dan tatalaksana


yang adekuat seharusnya dapat
dilakukan sebagai upaya pencegahan
terjadinya ruptur perineum.

Seharusnya
episiotomi
segera
dilakukan ketika
penolong
melihat bahwa
perineum
sudah menipis
maksimal dan
akan robek.

Anamnesis
seharusnya
dilakukan
secara lebih
spesifik untuk
menghindari
mal-informasi
karena
perbedaan
persepsi.

PENANGANAN KASUS SESUAI


PROSEDUR YANG SEHARUSNYA

Fakta bahwa
sang ibu
multigravida
seharusnya
tidak
menghilangkan
indikasi
episiotomi pada
ibu yang akan
melahirkan.

PENANGANAN PADA KASUS TERSEBUT


DAN ALASANNYA
Pasien G4P3A0, dari
anamnesis diperoleh bahwa
ketiga anak pertamanya lahir
dengan normal/spontan.

Pada pasien ini, tidak dilakukan


episiotomi dengan pertimbangan
bahwa ibu tersebut sudah
pernah melahirkan bayi besar
dengan BBL >350 gr, sehingga
pada persalinan kali ini dimana
TBJ 340gr bayi akan dapat
keluar.

TINJAUAN ASPEK ETIKO-EKONOSOSIOKUTURAL

Etika
Beneficience: melakukan penanganan yang
menguntungkan pasien. Pada pasien ini,
seharusnya dilakukan episiotomi sehingga dapat
mencegah terjadinya ruptur perineum.
Non-maleficience: tidak melakukan perbuatan
yang memperburuk kondisi pasien.
Justice: memperlakukan pasien secara adil,
setiap pasien berhak mendapatkan penanganan
yang sama.
Autonomy: memberikan hak pasien untuk berpikir
secara logis dan membuat keputusan sendiri.

TINJAUAN ASPEK ETIKO-EKONOSOSIOKUTURAL

Ekonomi
Karena pembiayaan ditanggung oeh
BPJS, maka tindakan dapat dilakukan
tanpa memperhitungkan kondisi
ekonomi pasien. Namun meskipun
demikian, pihak pelayanan kesehatan
juga seharusnya tidak membedabedakan pelayanan terhadap pasien
pengguna BPJS dengan pasien
umum.

TINJAUAN ASPEK ETIKO-EKONOSOSIOKUTURAL

Sosiokultural
Episiotomi merupakan tindakan
pertolongan persalinan yang sudah
cukup sering dilakukan di
masyarakat sehingga bukan lagi
merupakan hal yang tabu untuk
dilakukan. Dengan demikian,
dilakukannya episiotomi diperkirakan
tidak mempengaruhi kondisi
sosiokultural pasien.

REFLEKSI JIKA MENDAPAT KASUS


SERUPA DIMASA MENDATANG

.
Kumpulkan
anamnesis sedetail
dan selengkap
mungkin dari pasien,
terutama tentang
riwayat persalinan
sebelumnya dan
riwayat penyakit yang
pernah diderita
pasien selama
kehamilan saat ini
dan sebelumnya.

Pasien multipara
juga memiliki
kemungkinan
untuk harus
dilakukan
tindakan
episiotomi.

Terima kasih.. ^_~

Anda mungkin juga menyukai