Anda di halaman 1dari 106

Ilmu Tafsir

ULUMUL QURAN & TAFSIR


I. Pengertian Al-Quran
Al-Quran adalah firman / kalam Allah yang merupakan mukjizat, diturunkan berupa wahyu
kepada Rasulullah Muhammad saw. dikumpulkan pada satu
mushaf mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat An-Naas dan dinukil kepada kita secara
mutawatir, membaca dan mempelajarinya nya merupakan ibadah yang mendapat pahala.
Nama atau sebutan lain bagi Al-Quran :
1. Al-Kitab buku yang tertulis- disebutkan dalam QS Ad-Dukhan, ayat 2 : Demi Kitab (AlQuran) yang menjelaskan
2. Adz-Dzikra peringatan- disebutkan dalam QS Al-Hijr, ayat 9 : Sesungguhnya kamilah yang
menurunkan adz-Dzikra (Al-Quran) dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.
3. Al-Qaul ucapan- disebutkan dalam QS Al-Qashash ayat 51 : Dan sesungguhnya telah kami
turunkan berturut-turut perkataan ini (Al-Quran) kepada mereka agar mereka mendapat
pelajaran.
4. Al-Kalam -firman- disebutkan dalam QS At-Taubah ayat 6 : Dan jika diantara orang-orang
musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat
mendengar Kalam Allah (Al-Quran), kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya.
Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengerti.
5. At-Tanzil yang diturunkan- disebutkan dalam QS Asy-Syuara ayat 192 : Dan
sesungguhnya (Al-Quran) ini benar-benar diturunkan oleh tuhan semesta alam.
6. Al-Furqan pembeda- disebutkan dalam QS Al-Furqan ayat 1 : Maha suci Allah yang telah
menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia memberi peringatan kepada
seluruh alam.
7. Ar-Ruh jiwa- disebutkan dalam QS Asy-Syura ayat 42 : Dan demikianlah Kami wahyukan
kepadamu Ruh (Al-Quran) dengan perintah Kami.
8. Al-Balagh penyampaian- disebutkan dalam QS Ibrahim ayat 52 : (Al-Quran) ini adalah
penyampaian yang cukup kepada manusia supaya mereka diberi peringatan dengan dia.
9. Al-Basahair pedoman- disebutkan dalam QS Al-Jatsiyah ayat 20 : (Al-Quran) ini adalah
pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.

10. Al-Bayan penerangan- disebutkan dalam QS Ali Imron ayat 138 : (Al-Quran) ini adalah
penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.
11. An-Nur cahaya- disebutkan dalam QS An-Nisa ayat 174 : Hai manusia sesungguhnya
telah datang kepadamu bukti kebenaran dari tuhanmu dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya
(Al-Quran) yang terang benderang.
12. Al-Huda petunjuk- disebutkan dalam QS At-Taubah ayat 33 : Dia lah yang telah mengutus
Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar.
Sebutan lain untuk Al-Quran yang berupa sifat :
1. Nur (cahaya) QS An Nisa : 174.
2. Huda (petunjuk), syifa (obat), Rahmat dan Mauizah (nasehat) QS Yunus : 57.
3. Mubin (yang menerangkan) QS Al-Maidah : 15.
4. Mubarak (yang diberkati) QS Al-Anam : 92.
5. Busyra (khabar gembira) QS Al-Baqoroh : 97.
6. Azis (mulia) QS Fussilat : 41.
7. Majid (yang dihormati) QS Al-Buruj : 21.
8. Basyir (pembawa khabar gembira) dan nadzir (pembawa peringatan) QS Fussilat : 3-4.
Perbedaan Al-Quran dengan Hadis Qudsi :
1. Al-Quran adalah mukjizat dan mengandung tantangan kepada seluruh manusia dan Jin yang
mereka semua tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Al-Quran walau satu ayat pun.
Sedangkan hadis qudsi bukan merupakan mukjizat dan tidak mengandung tantangan.
2. Seluruh isi Al-Quran dinukil secara mutawatir dan qothi, sedangkan hadis qudsi kebanyakan
adalah khabar ahad yang sebatas dzan (dugaan).
3. Al-Quran semuanya berasal dari Allah baik makna maupun redaksi lafalnya, sedangkan hadis
qudsi maknanya saja dari Allah, sedangkan redaksi lafalnya dari Rasulullah atau dari periwayat
hadis.
4. Perlakuan terhadap Al-Quran yaitu : dilarang menyentuhnya bagi yang berhadas kecil,
dilarang membacanya bagi yang ber hadas besar, tidak berlaku bagi hadis qudsi.
5. Membaca Al-Quran setiap hurufnya mendatangkan pahala, sedang membaca hadis qudsi
tidak.

Kandungan Al-Quran
1. Doktrin Itikad dan akidah.
2. Hukum-hukum ibadah, muamalah, munakahat, Uqubat (sanksi)
3. Hukum halal-haram.
4. Janji (khabar gembira) dan ancaman (peringatan).
5. Science Ilmiah.
6. Kisah kisah.
Pem-Wahyu-an Al-Quran
Wahyu adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada salah seorang Nabi/Rasul-Nya, mengenai
hukum syariat dan sejenisnya, yang bila tersusun dalam lembaran (luh/mushaf) disebut sebagai
kitab suci.
Cara turunnya wahyu kepada Rasulullah :
1. Melalui mimpi yang benar (ruyah shadiqah)
2. Dihembuskan oleh Malaikat Jibril kedalam hati Rasulullah.
3. Malaikat Jibril menjelma sebagai seorang laki-laki yang menyampaikan wahyu kepada
Rasulullah dengan kata-kata.
4. Malaikat Jibril menyampaikan wahyu dalam bentuknya yang asli (mempunyai 600 sayap).
5. Malaikat Jibril menyampaikan wahyu dalam bentuk seperti gemerincingnya lonceng. Ini cara
penerimaan wahyu yang paling berat, sampai-sampai Rasulullah berpeluh-keringat ketika
menerima wahyu berupa gemerincingnya lonceng ini.
6. Allah berbicara secara langsung dari balik tabir (saat Isra Miraj). Sebagaimana disebutkan
dalam firman Allah : Dan tiada seorang manusiaa pun Allah akan berbicara kepadanya, kecuali
dengan perantaraan wahyu atau dari balik tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu
diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Dia sungguh Maha Tinggi
dan Maha Bijaksana (QS Asy-Syura [42] : 51)
Semua ucapan Rasulullah adalah kebenaran, jaminan ini didasarkan pada firman Allah :
Apa yang diucapkannya itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya (QS AnNajm [53] : 4).

Katakanlah : Tidaklah patut bagiku untuk menggantikannya dari pihak diriku sendiri. Aku
tidak mengikuti kecuali yang diwahyukan kepadaku (QS Yunus [10] : 15).
II. Turunnya Al-Quran
Allah berfirman dalam Al-Quran :
Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia
dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dengan yang
batil (QS Al-Baqarah [2] : 185).
Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Quran) pada malam lailatul qodar (QS Al-Qadr
[97] : 1).
Sesungguhnya Kami menurunkan (Al-Quran) pada suatu malam yang diberkahi (QS AdDukhan [44] : 3)
Ketiga ayat diatas tidak bertentangan, karena malam yang diberkahi adalah malam lailatul qadr
dalam bulan Ramadhan. Tetapi zahir ayat-ayat ini bertentangan dengan kenyataan bahwa ayatayat Al-Quran turun kepada Rasulullah tidak selalu dalam waktu malam dan pada malam
lailatul qadr dan tidak selalu pada bulan Ramadhan.
Ada 3 (tiga) pendapat tentang cara turunnya Al-Quran :
Pertama : Pendapat Ibnu Abbas yang menyatakan Al-Quran diturunkan secara langsung dari
Lauhful Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia) secara sekaligus pada malam lailatul qadr di
bulan Ramadhan, kemudian sesudah itu Al-Quran diturunkan dari Baitul Izzah kepada
Rasulullah secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun.
Kedua : Pendapat Asy-Syabi, seorang tabiin besar, guru Imam Abu Hanifah. Yang dimaksud
Al-Quran diturunkan pada malam lailatul qadr yang diberkahi pada bulan Ramadhan adalah
permulaannya saja, kemudian turunnya itu berlanjut sesudah itu secara bertahap sesuai dengan
kejadian dan peristiwa-peristiwa selama kurang lebih 23 tahun
Ketiga : Pendapat sebagian mufasirin, Al-Quran diturunkan ke langit dunia selama 23 malam
lailatul qadr pada masing-masing tahun. Jadi pada satu malam lailatul qadr diturunkan Al-Quran
untuk masa genap satu tahun, demikian seterusnya tiap tahun sampai kurang lebih 23 tahun.
Pendapat pertama dan kedua dapat dikompromikan dan pendapat inilah yang dianut oleh jumhur
ulama.
Hikmah turunnya Al-Quran secara bertahap :
1. Menguatkan dan meneguhkan hati Rasulullah.
2. Mukjizat dan tantangan

3. Mempermudah hafalan dan pemahaman.


4. Kesesuaian dengan peristiwa-peristiwa dan pentahapan penerapan hukum.
5. Membuktikan Al-Quran datang dari sisi Allah. Selama rentang waktu turunnya Al-Quran
yang begitu panjang tetap ditemui keserasian dan keterkaitan antar ayat-ayatnya dan tidak
ditemukan pertentangan sedikitpun didalamnya.
Ayat yang pertama kali diturunkan :
1. Ayat yang pertama kali diturunkan di Makkah adalah surat Al-Alaq [96] dan yang pertama
kali diturunkan di Madinah adalah surat Al-Baqarah [2].
2. Ayat yang pertama kali diturunkan mengenai peperangan adalah surat Al-Haj [22] ayat 39.
3. Ayat yang pertama kali diturunkan mengenai khamr adalah surat Al-Baqarah [2] ayat 219.
4. Ayat yang pertama kali diturunkan mengenai sajdah (sujud tilawah) adalah surat An-Najm
[53].
5. Ayat yang pertama kali diturunkan mengenai mengatur makanan di Makkah adalah surat AlAnam [6] ayat 145.
6. Ayat yang pertama kali diturunkan mengenai mengatur makanan di Madinah adalah surat AlBaqarah [2] ayat 173.
Ayat yang terakhir kali diturunkan :
Ada beberapa pendapat yang berbeda mengenai ayat mana yang terkahir diturunkan, diantaranya
:
1. An-Nisa [4] ayat 176 tentang kalalah, berdasarkan atsar dari Barra Bin Azib yang
diriwayatkan oleh Bukhary dan Muslim.
2. Al-Baqarah [2] ayat 278 tentang riba, berdasarkan atsar dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan
oleh Bukhary.
3. Al-Baqarah [2] ayat 281, berdasarkan atsar dari Ibnu Abbas dan Said Bin Jubair yang
diriwayatkan oleh An-Nasai dan lain-lain.
4. Al-Baqarah [2] ayat 282 tentang menuliskan hutang, berdasarkan atsar dari Said Bin Al
Musayyab.
5. At-Taubah [9] ayat 128, berdasarkan atsar dari Ubay Bin Kaab dalam kitab Al-Mustadrak

6. Ali Imran [3] ayat 195, berdasarkan atsar dari Ummu Salamah yang diriwayatkan oleh Ibn
Mardawaih.
7. An-Nisa [4] ayat 93 tentang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, berdasarkan atsar
dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Bukhary dan yang lain.
Pendapat yang paling kuat dan banyak diikuti jumhur ulama adalah empat pendapat yang
pertama.
III. Sejarah Pembukuan Al-Quran
i. Masa Rasulullah
Pada masa Rasulullah ayat Al-Quran yang turun dihafal oleh beliau Sesungguhnya atas
tanggungan Kamilah mengumpulkannya (didadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya
(QS Al-Qiyamah [75] : 17-18). Oleh karena itu beliau merupakan hafidz (penghafal) Al-Quran
yang pertama dan maha guru pemberi contoh panutan paling baik bagi para sahabat dalam
menghafalnya. Dalam sahih Bukhary dalam tiga riwayat disebutkan ada tujuh hafidz dari
kalangan sahabat yang hafal Al-Quran, yaitu :
1. Abdullah bin Masud
2. Salim Bin Maqal maula Abu Huzaifah.
3. Muaz Bin Jabal.
4. Ubay Bin Kaab.
5. Zaid Bin Tsabit.
6. Abu Zaid Bin Sakan.
7. Abu Darda.
Ke-tujuh penghafal Al-Quran diatas adalah para sahabat yang hafal Al-Quran diluar kepala
yang menunjukkan hafalannya dihadapan Nabi dan sanadnya sampai kepada kita melalui riwayat
Bukhary. Sedangkan kenyataannya setelah Rasulullah wafat, jumlah penghafal (hafidz) AlQuran dikalangan sahabat terus bertambah. Untuk melukiskan hal itu dapat diketahui dari
keterangan Al-Qurtubi : Telah terbunuh tujuh puluh orang qari pada perang Yamamah; dan
terbunuh pula pada masa Nabi sejumlah itu dalam peristiwa pembunuhan di sumur Maaunah.
Rasulullah telah mengangkat beberapa penulis Al-Quran dari sahabat-sahabat terkemuka,
seperti : Ali Bin Abi Thalib, Muawiyah Bin Abi Sufyan, Ubay Bin Kaab dan Zaid Bin Tsabit.
Bila ayat Al-Quran turun beliau memerintahkan mereka menuliskannya dan menunjukkan
tempat ayat tersebut didalam surat, sehingga penulisan pada lembaran itu membantu penghafalan
didalam hati (diluar kepala). Disamping itu sebagian sahabat menuliskan ayat Al-Quran yang
turun itu dengan kemauan sendiri tanpa diperintah oleh Nabi. Mereka menuliskan ayat AlQuran pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit binatang atau kulit kayu, pelana,
potongan tulang belulang binatang. Dalam Al Mustadrak, Hakim meriwayatkan bahwa Zaid Bin
Tsabit berkata : kami menuliskan ayat-ayat Al-Quran pada kulit binatang (sanad sahih
menurut syarat Bukhary dan Muslim).

Pada masa Rasulullah Al-Quran belum dikumpulkan dalam satu mushaf, karena pada masa
kenabian wahyu masih turun dan Rasulullah masih selalu menanti turunnya ayat Al-Quran,
disamping itu terkadang pula terdapat ayat yang nasikh (dihapus). Susunan atau tertib penulisan
Al-Quran itu tidak menurut tertib nuzulnya, tetapi setiap ayat turun dituliskan ditempat
penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi, yaitu beliau menjelaskan bahwa ayat anu harus
diletakkan dalam surah anu. Al-Khattabi berkata : Rasulullah tidak mengumpulkan Al-Quran
dalam satu mushaf karena beliau senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukumhukum atau bacaannya.
ii. Masa Khalifah Abu Bakar Shidiq ra.
Setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar terpilih sebagai khalifah. Saat itu hampir seluruh kabilahkabilah Arab kembali murtad dan sebagian membangkang menolak membayar zakat, karena
mereka mengira kekuatan Islam sudah pudar setelah meninggalnya Rasulullah. Untuk mengatasi
kemurtadan dan pembangkangan khabilah-khabilah Arab itu Khalifah Abu Bakar mengirimkan
pasukan untuk menundukkan mereka dan menyeru kembali kepada Islam yang dikenal sebagai
perang ridah.
Disamping itu di daerah Yamamah Arab Selatan- muncul Musailamah Al-Khazab sang
pendusta- yang mengaku sebagai nabi. Khalifah Abu Bakar memeranginya yang dikenal sebagai
perang Yamamah. Pada berbagai peperangan-peperangan tersebut banyak qari dan pengahafal
Al-Quran dari kalangan sahabat nabi yang gugur. Umar Bin Khattab yang merupakan penasehat
utama Khalifah Abu Bakar merasa khawatir Al-Quran akan punah bersama banyaknya qari
yang gugur tersebut. Umar Bin Khattab mengusulkan agar Al-Quran dikumpulkan dalam satu
mushaf.
Mula-mula Khalifah Abu Bakar menolak usulan itu dengan alasan hal itu tidak dilakukan oleh
Rasulullah dan hal itu tidak diperintahkan oleh Rasulullah. Tetapi Umar terus membujuk
Khalifah Abu Bakar tentang perlunya pembukuan Al-Quran dalam satu mushaf, sehingga Allah
membukakan hati Abu Bakar untuk menerima usulan umar tersebut. Khalifah Abu Bakar
kemudian memanggil Zaid Bin Tsabit dan memerintahkannya untuk mengumpulkan Al-Quran
dalam satu mushaf.
Zaid Bin Tsabit berkata : Mengapa anda berdua ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah
dilakukan oleh Rasulullah ? Abu Bakar menjawab : Demi Allah, itu baik, Abu Bakar terus
membujukku sehingga Allah membukakan hatiku.
Maka Zaid Bin Tsabit mulai bekerja mengumpulkan tulisan manuskrip Al-Quran dengan sangat
teliti dan hati-hati. Zaid Bin Tsabit meneliti hafalan pemilik catatan Al-Quran dan mensyaratkan
harus ada 2 orang saksi yang menyaksikan bahwa tulisan manuskrip Al-Quran itu ditulis
dihadapan Rasulullah, padahal Zaid Bin Tsabit sendiri sudah hafal seluruh Al-Quran diluar
kepala. Dengan kerja keras, teliti dan hati-hati akhirnya seluruh Al-Quran berhasil dikumpulkan
dalam satu mushaf dengan tujuh huruf.
Setelah Abu Bakar wafat, Mushaf tersebut disimpan oleh Khalifah penggantinya yaitu Umar Bin
Khattab. Setelah Khalifah Umar meninggal, Mushaf tersebut disimpan oleh Hafsah Binti Umar.

C. Masa Khalifah Usman Bin Affan ra.


Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar dan Umar kaum muslimin telah melakukan
penaklukan ke negeri-negeri diluar jazirah Arab seperti, Syam, Iraq, Persia dan Mesir. Pada masa
Khalifah Usman penaklukan masih terus berlangsung.
Ketika terjadi perang penaklukan Armenia dan Azerbaijan, diantara mujahidin yang ikut
menyerbu itu adalah sahabat nabi Huzaifah Bin Al-Yaman. Beliau melihat banyak perbedaan
diantara pasukan kaum muslimin dalam cara-cara membaca Al-Quran. Sebagian bacaan itu
bercampur dengan kesalahan, tetapi masing-masing mempertahankan dan bersikukuh berpegang
pada bacaannya masing-masing dan bahkan sempat saling berselisih dan saling mengkafirkan.
Riwayat dari Anas, Huzaifah berkata kepada Usman : Selamatkanlah umat ini sebelum mereka
terlibat dalam perselisihan (masalah kitab suci) sebagaimana perselisihan orang-orang Yahudi
dan Nasrani.
Atsar dari Abu Qalabah berkata : Pada masa kekhalifahan Usman telah terjadi seorang guru
qiraat mengajarkan qiraat kepada seseorang dan guru yang lain juga mengajarkan qiraat yang
berbeda kepada anak yang lain. Dua kelompok anak-anak yang belajar qiraat ini pada suatu
ketika bertemu dan berselisih dan hal itu menjalar juga sampai kepada guru-guru mereka. Hal
itu akhirnya sampai terdengar kepada Khalifah Usman, maka ia berpidato : Kalian yang ada
dihadapanku teah berselisih paham dan salah dalam membaca Al-Quran. Penduduk yang jauh
dari kami tentu lebih besar lagi perselisihan dan kesalahannya. Bersatulah wahai sahabat-sahabat
Muhammad, tulislah untuk semua orang satu imam (mushaf pedoman) saja !.
Khalifah Usman kemudian meminjam mushaf yang ada pada Hafsah binti Umar dan
memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah Bin Zubair, Said Bin Ash dan Abdurrahman Bin
Haris untuk menyalinnya. Usman berkata kepada ketiga orang Quraisy itu : Bila kalian
berselisih pendapat dengan Zaid Bin Tsabit tentang sesuatu dari Al-Quran, maka tulislah dengan
logat Quraisy, karena Al-Quran diturunkan dalam bahasa Quraisy. Merekapun bekerja
menyalin Mushaf Abu Bakar menjadi beberapa mushaf. Setelah mereka selesai menyalinnya
menjadi beberapa mushaf, Khalifah Usman mengembalikan mushaf asli kepada Hafsah.
Selanjutnya Khalifah Usman mengirimkan kesetiap wilayah, masing-masing satu mushaf dan
memerintahkan agar semua manuskrip Al-Quran yang lainnya dibakar.
Ketika penyalinan mushaf telah selesai, Khalifah Usman menulis surat kepada semua penduduk
daerah yang isinya : Aku telah melakukan yang demikian dan demikian. Aku telah menghapus
apa yang ada padaku, maka hapuskanlah apa yang ada padamu.
Uraian diatas menunjukkan bahwa penyalinan mushaf pada masa Khalifah Usman ditulis dengan
satu huruf yaitu sesuai dengan dialek Quraisy dan meninggalkan enam huruf yang lainnya,
hal itu untuk keseragaman dan menghindari perselisihan. Mushaf Usmani inilah yang kemudian
dinukil turun temurun secara mutawatir sampai kepada kita sekarang ini.
Tertib Ayat dan Surah

Tertib susunan ayat Al-Quran menurut jumhur adalah taufiqi (ketentuan dari Allah) bukan
ijtihadi Rasulullah atau para penyusun Mushaf Al Quran. As Suyuthi berkata : Jibril
menurunkan beberapa ayat kepada Rasulullah dan menunjukkan kepadanya tempat dimana ayatayat itu harus diletakkan dalam surah atau ayat-ayat yang turun sebelumnya. Lalu Rasulullah
memerintahkan kepada para penulis wahyu untuk menuliskannya di tempat tersebut. Beliau
mengatakan kepada mereka : Letakkanlah ayat-ayat ini pada surah yang didalamnya disebutkan
begini dan begini, atau Letakkanlah ayat ini ditempat anu.
Mengenai tertib susunan surah, beberapa sahabat nabi ada yang mempunyai mushaf pribadi yang
berbeda tertib susunan surahnya dengan tertib surah mushaf Usmani. Mushaf Ali disusun
berdasarkan urutan nuzulnya, Mushaf Ibnu Masud dimulai dari surah Al-Baqarah tanpa surah
Al-Falaq dan An-Naas. Mushaf Ubay Bin Kaab dimulai Al-Fatihah, An-Nisa kemudian AliImran, namun demikian Mushaf pribadi sebagian sahabat tersebut tidak dapat dijadikan
pedoman.
Tertib susunan surah yang disepakati dan umat sudah Ijma (sepakat) adalah tertib susunan surah
mushaf Usman yang dikerjakan secara resmi oleh panitia khusus yang terdiri dari beberapa
sahabat nabi pilihan. Tentang tertib susunan surah Al-Quran, jumhur ulama mengatakan bahwa
tertib susunannya adalah taufiqi.
Al-Kirmani dalam kitab Al-Burhan mengatakan : Tertib surah seperti yang kita kenal sekarang
ini adalah menurut Allah pada Lauhful Mahfud, Al-Quran sudah menurut tertib ini. Dan
menurut tertib ini pula Nabi membacakan dihadapan Malakikat Jibril setiap tahun di bulan
Ramadhan apa yang telah dikumpulkannya dari Jibril itu. Pada tahun ke wafatannya Nabi
membacakannya dihadapan Jibril dua kali.
As-Suyuthi mengatakan tertib susunan surah Al-Quran itu taufiqi kecuali surah Al-Anfal dan
At-Taubah, berdasarkan riwayat Ibnu Abbas : Aku bertanya kepada Usman : Apakah yang
mendorongmu mengambil Anfal yang termasuk katagori masani dan Baraah (At-Taubah) yang
termasuk miin untuk kamu gabungkan keduanya menjadi satu tanpa kamu tuliskan diantara
keduanya Bismillahirrahmaanirrahim, dan kamu pun meletakaannya pada as-sabut tiwal (tujuh
surat panjang) ?, Usman menjawab : Telah turun kepada Rasulullah surah-surah yang yang
mempunyai bilangan ayat. Apabila ada ayat turun kepadanya, ia panggil beberapa penulis wahyu
dan mengatakan : Letakkanlah ayat ini pada surah yang didalamnya terdapat ayat anu dan anu.
Surah Anfal termasuk surah pertama yang turun di Madinah sedang surah Baraah termasuk
yang terakhir diturunkan. Kisah dalam surah Anfal serupa dengan kisah dalam surah Baraah,
sehingga aku mengirabahwa surah Baraah adalah bagian dari surah Anfal. Dan sampai wafatnya
Rasulullah tidak menjelaskan kepada kami bahwa surah Baraah merupakan bagian dari surah
Anfal. Oleh karena itu, kedua surah tersebut aku gabungkan dan diantara keduanya tidak aku
tuliskan Bismillahirrahmaanirrahim sera aku meletakkan pula pada as-sabut tiwal.
Surah-surah dan ayat-ayat Al-Quran
1. At-Tiwal : adalah tujuh surat awal yang panjang-panjang yaitu : Al-Baqarah, Ali Imran, AnNisa, Al-Maidah, Al-Anam, Al-Araf , ketujuh : Al-Anfal dan At-Taubah sekaligus, sebagian
ada yang mengatakan yang ke-tujuh surah Yunus.

2. Al-Miun : yaitu surah-surah yang ayat-ayatnya lebih dari seratur atau sekitar itu.
3. Al-Masani : yaitu surah-surah yang jumlah ayatnya dibawah Al-Miun. Dinamakan Masani,
karena surah itu diulang-ulang bacaannya lebih bnayak dari At-Tiwal dan Al-Miun.
4. Al-Mufassal : yaitu surah yang dimulai dari surah Qaf, ada pula yang mengatakan dimulai dari
surah Hujarat. Dinamai Mufassal karena banyaknya pemisahan fasl (pemisahan) dinatara surahsurah tersebut dengan basmallah. Mufassal dibagi menjadi tiga :
a. Mufassal Tiwal : dimulai dari surah Qaf atau hujurat sampai dengan Amma atau Buruj.
b. Mufassal Ausat : dimulai dari Amma atau Buruj sampai dengan Duha atau Lam Yakun.
c. Mufassal qisar : dimulai dari Duha atau Lam Yakun sampai dengan surah terakhir (An-Naas).
Rasm Usmani
Yang dimaksud dengan rasm Usmani adalah bentuk tulisan (khot) Al-Quran hasil kerja
beberapa sahabat Nabi pilihan dalam suatu panitia penyalin mushaf Al-Quran yang diketuai
oleh Zaid Bin Tsabit atas penunjukan Khalifah Usman. Mengenai penulisan Al-Quran dengan
rasm Usmani ini ada beberapa pendapat :
1. Rasm (bentuk tulisan) dalam mushaf Usmani adalah taufiqi yang wajib dipakai dalam
penulisan Al-Quran. Ini pendapat Ibnul Mubarak dan gurunya Abdul Azis ad-Dabbag.
2. Rasm Usmani bukan taufiqi, tapi cara penulisan yang diterima dan menjadi Ijma umat dan
wajib menjadi pegangan seluruh umat dan tidak boleh menyalahinya.
3. Rasm Usmani hanyalah istilah dan tatacara. Tidak ada dalil agama yang mewajibkan umat
mengikuti satu rasm tertentu dan tidak ada salahnya jika menyalahi bila orang telah
mempergunakan rasm tertentu untuk imla dan rasm itu tersiar luas diantara mereka. Ini adalah
pendapat Abu Bakar Al-Baqalani.
Jumhur ulama, diantaranya Imam Malik, Imam Ahmad melarang penulisan Al-Quran yang
menyalahi rasm Usmani.
Ijam (penambahan tanda titik, dll) Rasm Usmani
Mushaf Usmani tidak memakai tanda baca titik dan syakal, karena semata-mata didasarkan pada
watak pembawaan orang-orang Arab yang masih murni, sehingga tidak memerlukan syakal,
harokat dan titik. Ketika Islam sudah menyebar keluar jazirah Arab dan bahasa Arab mulai
mengalami kerusakan karena banyaknya percampuran dengan bahasa non Arab, maka para
penguasa merasa pentingnya ada perbaikan penulisan mushaf dengan syakal, titik, harokat dan
lain lain yang dapat membantu pembacaan yang benar. Banyak ulama berpendapat bahwa orang
pertama yang melakukan hal ini adalah Abul Aswad Ad-Duali, peletak pertama dasar-dasar
kaidah bahasa Arab atas petunjuk Khalifah Ali Bin Abi Thalib.
Perbaikan rasm Usmani berjalan secara bertahap. Pada mulanya syakal berupa titik : fathah
berupa satu titik diatas awal huruf, dammah berupa satu titik diatas akhir huruf dan kasrah

berupa satu titik dibawah awal huruf. Kemudian terjadi perubahan penentuan harakat yang
berasal dari huruf dan itulah yang dilakukan oleh Al-Khalil. Perubahan itu adalah fathah adalah
dengan tanda sempang diatas huruf, dammah dengan wawu kecil diatas huruf dan tanwin dengan
tambahan tanda serupa (double). Alif yang dihilangkan dan diganti, pada tempatnya dituliskan
dengan warna merah. Hamzah yang dihilangkan dituliskan berupa hamzah dengan warna merah
tanpa huruf. Pada nun dan tanwin sebelum huruf ba diberi tanda iqlab berwarna merah. Sedang
nun dan tanwin sebelum huruf tekak (halaq) diberi tanda sukun dengan warna merah. Nun dan
tanwain tidak diberi tanda apa apa ketika idgam dan ikkhfa. Setiap huruf yang harus dibaca
sukun (mati) diberi tanda sukun dan huruf yang di-idgam-kan tidak diberi tanda sukun tetapi
huruf sesudahnya diberi tanda syaddah; keculai huruf ta sebelum ta, maka sukun tetap dituliskan.
Para ulama pada mulanya tidak menyukai usaha perbaikan tersebut karena khawatir akan terjadi
penambahan dalam Al-Quran, berdasarkan ucapan Ibnu Masud : Bersihkan Al-Quran dan
jangan dicampuradukkan dengan apapun. Al-Halimi mengatakan : Makruh menuliskan
perpuluhan, perlimaan, nama-nama surah dan bilangan ayat dalam mushaf sedangkan
pemberian titik diperbolehkan karena titik tidak mempunyai bentuk yang mengacaukan antara
yang Al-Quran dengan yang bukan Al-Quran. Titik merupakan petunjuk atas keadaan sebuah
huruf yang dibaca sehingga dibolehkan untuk mempermudah pembacaan.
Kemudian akhirnya itu sampai kepada hukum boleh dan bahkan anjuran. Al Hasan dan Ibnu
Sirin keduanya mengatakan : Tidak ada salahnya memberikan titik pada mushaf. Rabiah Bin
Abi Abdurrahman mengatakan : Tidak mengapa memberi syakal pada mushaf. An-Nawawi
mengatakan : Pemberian titik dan pensyakalan mushaf itu dianjurkan (mustahab), karena ia
dapat menjaga mushaf daru kesalahan dan penyimpangan (pembacaan). Penyempurnaan itu
terus berlanjut hingga kini telah mencapai puncaknya dalam bentuk tulisan Arab (Al-Khattul
Araby).
Al-Quran Dengan Tujuh Huruf
Nash-nash sunah cukup banyak yang mengemukakan hadis mengenai turunnya Al-Quran
dengan tujuh huruf, diantaranya :
Dari Ibnu Abbas : Rasulullah berkata : Jibril membacakan (Al-Quran) kepadaku dengan satu
huruf. Kemudian berulang kali aku mendesak dan meminta agar huruf itu ditambah dan ia pun
menambahnya kepadaku sampai tujuh huruf.
Dari Ubay Bin Kaab : Ketika Nabi berada di dekat parit Bani Gafar, ia didatangi Jibril seraya
mengatakan : Allah memerintahkanmu agar membacakan Al-Quran kepada umatmu dengan
satu huruf. Beliau menjawab : Aku memohon kepada Allah ampunan dan maghfirallah-Nya,
karena umatku tidak dapat melaksanakan perintah itu. Kemudian Jibril datang lagi untuk kedua
kalinya dan berkata : Allah memerintahkanmu agar membacakan Al-Quran kepada umatmu
dengan dua huruf. Nabi menjawab : Aku memohon kepada Allah ampunan dan maghfirah-Nya,
umatku tidak kuat melaksanakannya. Jibril datang lagi untuk yang ketiga kalinya, lalu
mengatakan : Allah memerintahkanmu agar membacakan Al-Quran kepada umatmu dengan
tiga huruf. Nabi menjawab : Aku memohon kepada Allah ampunan dan maghfirah-Nya,
umatku tidak kuat melaksanakannya. Kemudian Jibril datang lagi untuk yang keempat kalinya

seraya berkata : Allah memerintahkanmu agar membacakan Al-Quran kepada umatmu dengan
tujuh huruf, dengan huruf mana saja mereka membaca, mereka benar.
Hadis-hadis berkenaan dengan Al-Quran dengan tujuh huruf sangat banyak. As-Suyuthi
menyebutkan bahwa hadits-hadits tersebut diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat.
Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam menetapkan kemutawatiran hadis mengenai Al-Quran dengan
tujuh huruf.
Perbedaan pendapat tentang pengertian tujuh huruf, diantaranya :
1. Tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa Arab mengenai satu makna yang sama, yaitu bahasa
suku Quraisy, Huzail, Saqif, Hawasin, Kinanah, Tamim dan Yaman. Sebagian memasukkan
Asad, Rabiah, Sad. Pendapat ini maksudnya satu kata boleh dibaca berbeda menurut dialek
masing-masing kabilah diatas selama maknanya masih tetap sama.
2. Tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa Arab dengan mana Al-Quran diturunkan, yaitu :
Quraisy, Huzail, Saqif, Hawasin, Kinanah, Tamim dan Yaman. Bedanya dengan yang pendapat
pertama adalah bahasa Al-Quran mencakup dari tujuh bahasa diatas yang paling fasih dan
berterbaran di seluruh Al-Quran
3. Tujuh wajah, yaitu : amr (perintah), hanyu (larangan), wad (janji), waid (ancaman), jadal
(perdebatan), qasas (cerita) dan amsal (perumpamaan)
4. Tujuh macam hal yang didalamnya terjadi ikhtilaf (perbedaan), yaitu ikhtilaf dalam : asma
(kata benda), irab (harakat akhir kata), tasrif, taqdim (mendahulukan), ibdal (penggantian),
penambahan-pengurangan dan lahjah (tebal-tipis, imalah-tidak imalah, idhar dan idgam).
5. Qiraat Tujuh.
Pendapat pertama adalah pendapat yang paling kuat dan banyak diikuti oleh jumhur ulama.
Hikmah Al-Quran dengan tujuh huruf :
1. Memudahkan bacaan dan hafalan bagi bangsa yang ummi, tidak bisa baca tulis, yang setiap
kabilah mempunyai dialek masing-masing.
2. Bukti kemukjizatan Al-Quran bagi naluri atau watak dasar kebahasaan orang Arab yang mana
seluruh orang Arab pada khususnya ditantang untuk membuat satu surah saja yang seperti AlQuran, ternyata seluruh orang Arab tidak mampu membuatnya.
3. Perbedaan bentuk lafaz pada sebagian huruf dan kata-kata memberi peluang penyimpulan
hukum yang berbeda. Para fukaha dalam menyimpulkan hukumdan ijtihad ber hujjah dengan
qiraat bagi ketujuh huruf ini.
IV. Ijaz (Kemukjizatan) Al-Quran

Kata mukjizat berasal dari kata ajaz (lemah).Ijaz dapat diartikan mukjizat, hal yang
melemahkan, yang menjadikan sesuatu atau pihak lain tak berdaya. Ijazul Quran adalah
kekuatan, keunggulan dan keistimewaan yang dimiliki Al-Quran yang menetapkan kelemahan
manusia, baik secara terpisah maupun berkelompok-kelompok, untuk bisa mendatangkan
minimal yang menyamainya. Kadar kemukjizatan Al-Quran itu meliputi tiga aspek, yaitu :
aspek bahasa (sastra, badi, balagah/ kefasihan), aspek ilmiah (science, knowledge, ketepatan
ramalan) dan aspek tasyri (penetapan hukum syariat).
Muhammad Ali Ash Shabumi dalam kitab At-Tibyan menyebutkan segi-segi kemukjizatan AlQuran sebagai berikut :
1. Susunan kalimatnya indah.
2. Terdapat uslub (cita rasa bahasa) yang unik, berbeda dengan semua uslub-uslub bahasa Arab.
3. Menantang semua mahkluk untuk membuat satu ayat saja yang bisa menyamai Al-Quran,
tapi tantangan itu tidak pernah bisa dipenuhi sampai sekarang ini.
4. Betuk perundang-undangan yang memuat prinsip dasar dan sebagian memuat detail rinci yang
mencakup seluruh aspek kehidupan manusia melebihi setiap undang-undang ciptaan manusia.
5. Menerangkan hal-hal ghaib yang tidak diketahui bila mengandalkan akal semata-mata.
6. Tidak bertentangan dengan pengetahuan ilmiah (ilmu pasti, science).
7. Tepat terbukti semua janji (ramalan) yang dikhabarkan dalam Al-Quran.
8. Mengandung prinsip-prinsip ilmu pengetahuan ilmiah didalamnya.
9. Berpengaruh kepada hati pengikut dan musuhnya
V. Munasabah (Korelasi)
Munasabah adalah ilmu yang membahas korelasi urutan antar ayat Al-Quran dan atau antar
surah Al-Quran. Pengetahuan tentang munasabah akan membantu memahami makna ayat AlQuran. Kadang ditemukan kaitan umum atau khusus diantara ayat-ayat Al-Quran baik yang
rasional, inderawi maupun imajinatif tanpa mengupas lafazh-lafazh menurut makna peristilahan
bahasa maupun pemikiran filosofis. Sebagian besar kaitannya berkisar sekitar sebab dan
musabab. Jika ayat-ayat itu tidak saling bertemu, tidak terdapat kecocokan, tentu berhadapan
dengan lawannya. misalnya menyebut rahmat setelah azab, menerangkan keadaan sorga dan
neraka, mengarahkan hati nurani serta membangkitkan akal pikiran dan memberikan peringatan
serta mengutarakan ketentuan hukum.
Ahli tafsir sangat sedikit mengetengahkan soal-soal seperti ini, bukan hanya karena rumit
semata, melainkan juga karena persoalannya dipandang oleh sebagian orang sangat tidak
dibutuhkan, disamping banyak menguras tenaga dan pikiran.

Orang pertama yang membahas munasabah dalam menafsirkan Al-Quran adalah Abu Bakar An
Naisaburi (wafat 324 H). As Suyuthi berkata : Setiap kali ia (An-Naisaburi) duduk diatas kursi,
apabila dibacakan Al-Quran kepadanya, beliau berkata : Mengapa ayat ini diletakkan
disamping ayat ini dan apa rahasia diletakkan surat ini disamping surat ini ?. Beliau mengkritik
para ulama Baghdad lantaran mereka tidak mengetahui.
Tindakan An-Naisaburi merupakan kejutan dan langkah barudalam dunia tafsir waktu itu. Beliau
mempunyai kemampuan untuk menyingkap- persesuaian, baik antar ayat ataupun antar surah,
terlepas dari segi tepat atau tidaknya, segi pro dan kontra terhadap apa yang dicetuskan beliau.
Satu hal yang jelas, beliau dipandang sebagai bapak ilmu munasabah.
Perkembangan selanjutnya munasabah meningkat menjadi salah satu cabang dari ilmu-ilmu AlQuran. Penulis yang membahas dengan baik masalah munasabah adalah Burhanuddin Al-Biqai
dalam kitabnya Nazhmud Durar fi Tanasubil Ayati was Suwar.
Manfaat munasabah dalam memahami ayat Al-Quran ada dua yaitu :
1. Memahami keutuhan, keindahan dan kehalusan bahasa.
2. Membantu dalam memahami kutuhan makna Al-Quran.
Untuk menemukan korelasi antar ayat,sangat diperlukan kejernihan rohani dan pikiran agar kita
terhindar dari kesalahan penafsiran.
VI. Fawatihus Suwar(Pembukaan Surat)
Fawatisus suwar berarti pembukaan surat karena posisinya yang mengawali perjalanan teks-teks
p-ada suatu surat. Apabila dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah dinamakan dengan ahruf
muqattaah (huruf-huruf terpisah), karena posisi huruf tersebut menyendiri dan tidak bergabung
membentuk suatu kalimat secara kebahasaan.
Ibnu Abi Al Asba menulis kitab yang secara mendalam membahas tentang bab ini yaitu kitab Al
Khaqatir Al Sawanih fi Asrar Al Fawatih, beliau membagi bentuk pembukaan surat dalam AlQuran dalam lima bentuk :
1. Pujian kepada Allah.
2. Huruf muqattaah, terdapat dalam 29 surat.
3. Kata seru (ahruhun nida), terdapat dalam 10 surat.
4. Kalimat berita, terdapat dalam 23 surat.
5. Sumpah, terdapat dalam 15 surat.
Pembahasan yang dilakukan para ulama menunjukkan bahwa pembukaan surat yang berbentuk
huruf muqattaah sering menimbulkan kontroversi diantara mereka. Sehingga tidak heran apabila

huruf-hurf muqattaah tersebut sering dikategorikan sebagai ayat-ayat mutasyabihat yang tidak
seorangpun mengetahui artinya kecuali Allah. Atau bahkan disebut sebagai salah satu rahasia
tuhan yang terdapat dalam Al-Quran.
VII. Qiraat dan Pengajaran Al-Quran
Dari segi bahasa kata qiraah berarti bacaan, masdar dari qaraa. Dari segi istilah, Az-Zaqrani
memberikan pengertian qiraah adalah sebagai suatu mazhab yang dianut oleh seorang qari
dalam membaca Al-Quran yang berbeda satu dengan yang lainnya dalam pengucapan AlQuran serta disepakati riwayat dan sanad-sanadnya, baik perbedaan itu dalam pengucapan huruf
maupun dalam pencucapan lafaznya.
Mazhab qiraah yang terkenal adalah qiraah sabah (tujuh), qiraah asyarah (sepuluh) dan
qiraah arbaa asyarah (empat belas). Perbedaan ini disebabkan oleh berbedanya kapasitas
intelektual dan kapasitas masing-masing sahabat dalam mengetahui cara membaca Al-Quran.
Hal ini juga berkaitan dengan tulisan Al-Quran dalam mushaf Usmani yang belum diberi baris
atau tanda baca apapun, sehingga bacaan Al-Quran dapat berbeda dari susunan huruf-hurufnya,
terutama pada saat wilayah Islam semakin meluas dan para sahabat yang mengajarkan Al-Quran
menyebar ke berbagai daerah.
Qiraah sabah (tujuh) adalah qiraah yang merujuk kepada tujuh imam yang masyhur, yaitu :
1. Ibnu Katsir dari Mekkah, yang nama lengkapnya adalah Abu Mabad Muhammad Abdullah
Bin Katsir Bin umar bin Zadin Ad-Dari Al Makki (45-120 H). Belajar qiraah kepada sahabat
Nabi Abu Said Bin Abdullah Bin Shaib Al Makhzumi.
2. Imam Nafi dari Isfahan (Madinah), yang nama lengkapnya adalah Abu Nuaim Nafi bin
Abdurrahman bin Abu Nuaim Al Laitsi Al Isfahani Al Madani(70-169 H). Belajar qiraah
kepada Zaid bin Qaqa Al Qurri Abu Jafar dan Abu Maimunah.
3. Imam Ashim bin Abi nujub bin Bahdalah Al Asadi Al Kufi (wafat 127 H). Belajar qiraah
kepada Saad bin Iyasy Asy Syaibani, Abu Abdurrahman Abdullah bin habib As Salami dan Zir
bin Hubaisy.
4. Imam Hamzah dari Kufah, nama lengkapnya adalahAbu Imarah Hamzah bin Habib Az Zayyat
Al Fardhi Attaimi (156-216 H). Belajar qiraah kepada Imam Ashim Imam As SabiI Abu
Muhammad Sulaiman bin Mahram Al Amari.
5. Imam Kuzai dari Kufah, nama lengkapnya adalah Abu Hasan Ali bin Hamzah bin Abdullah
bin Fairuz Al Farizi Al Kuzai An Nahwi (119-189 H). Belajar qiraah pada imam Hamzah dan
Imam Syubah bin Iyasy.
6. Imam Abu Amr dari Basrah, nama lengkapnya adalah Abu Amr Zabban bin Al Ala bin
Ammar Al Basri(70-154 H). Belajar qiraah kepada Al Baghdadi dan Hasan Al Basri.

7. Imam Abu Amir dari Damaskus, nama lengkapnya adalah Abu nuaim Abu Imran Abdullah
bin Amir Asy SyafiI Alyas Hubi (21-118 H). Belajar qiraah kepada Abu Darda dan Mughirah
bin Syubah.
Qiraah Asyarah (sepuluh) adalah qiraah tujuh diatas ditambah dengan tiga imam lagi, yaitu :
8. Imam Yaqub dari Basrah, nama lengkapnya Abu Muhammad Yaqub bin Ishaq Al Basri Al
Madhrami (wafat 205 H).
9. Imam Khalaf dari Kufah, nama lengkapnya Abu Muhammad Khalaf bin Hisyam bin Thalib Al
Makki Al Bazzaz (wafat 229 H).
10. Imam Jafar dari Madinah, nama lengkapnya Abu Jafar Yasid bin Al Qaqa Al Makhzumi
Al Madani (wafat 230 H).
Qiraah Arbaa Asyarah (empat belas) adalah qiraah sepuluh diatas ditambah empat imam
lagi, yaitu :
11. Imam Hasan Al Basri
12. Imam Ibnu Mahisy
13. Imam Yahya Al Yazidi
14. Imam Asy Syambudzi.
Para ahli sejarah menyebutkan bahwa orang yang pertama kali menuliskan ilmu qiraah adalah
Imam Abu Ubaid Al Qasim bin Salam (wafat 224 H). Beliau menulis sebuah kitab dengan nama
Al-Qiraat yang menghimpun 25 orang perawi.
Kriteria qiraah yang diterima :
1. Sesuai dengan kaidah bahasa Arab.
2. Sesuai dengan salah satu mushaf Usmani.
3. Sanadnya sahih.
Bila salah satu syarat dari ketiga syarat diatas tidak dipenuhi maka qiraat nya dinyatakan syadz
atau tidak sah dan ditolak.
Faedah perbedaan qiraah :
1. Mempermudah kabilah-kabilah yang berbeda logat / dialek, tekanan suara dan bahasanya
dengan bahasa Al-Quran.
2. Membantu dalam penafsiran dan ijtihad, karena perbedaan qiraat itu bisa jadi menjelaskan
apa yang mungkin masih global dalam qiraah lain. Seperti qiraah Ibnu Masud dalam surah Al

Maidah ayat 38 : was-sariqqu wassariqatu faqthau aidiyahuma, dalam qiraah lain dibaca
faqthau aimanahuma.
3. Menunjukkan terjaga dan terpeliharanya Al-Quran dari penyimpangan, padahal Al-Quran
tersebut mempunyai banyak segi bacaan.
4. Membuktikan kemukjizatan Al-Quran, baik dari segi makna atau lafaznya.
Tajwid
Tajwidul Quran adalah ilmu yang membahas cara membaca atau mengucapkan Al-Quran
dengan baik dan benar, yang meliputi tempat keluarnya (makharijul) huruf, cara berhenti
(waqaf), imalah, idgam, idhar, ikfak, iqlab, tarqiq, tafkhim, dsb.
Adab membaca Al-Quran :
1. Bersiwak sebelumnya.
2. Mempunyai wudhu.
3. Membaca ditempat yang suci dan bersih.
4. Membaca Taawudz sebelum mulai membaca Al-Quran
5. Membaca Basmallah pada permulaan awal surah, kecuali surah At-Taubah, sebab Basmallah
termasuk salah satu ayat Al-Quran.
6. Membaca dengan khusuk, tenang dan takzim.
7. Menghadirkan hati dan meresapi maknanya.
8. Membaca dengan tartil (pelan dan tenang) dan dengan tajwid yang benar.
9. Membaguskan suara.
10. Mengeraskan suara bacaan.
Keadaan suci ketika membaca dan menyentuh Al-Quran
A. Membaca Al-Quran dalam keadaan berhadats kecil.
Membaca Al-Quran dalam keadaan berhadats kecil dengan tanpa menyentuhnya, hukumnya jaiz
(boleh). Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah menyatakan bahwa Para ulama tidak berselisih
pendapat atau sepakat didalam masalah tersebut.
B. Membaca Al-Quran dalam keadaan berhadats besar (junub).

Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid mengatakan : Jumhur ulama
mengharamkannya.
Dalam Fiqhus Sunnah, karya Sayyid Sabiq terdapat keterangan : Imam Bukhary, ath-Thabrani,
Abu Daud dan Ibnu Hazm membolehkannya.
C. Membaca Al-Quran dalam keadaan haid atau nifas
Hadits Jabir dari Nabi, beliau bersabda :
Perempuan yang sedang haidh dan nifas tidak (boleh) membaca sesuatu dari Al-Quran (HR
ad-Daraquthni).
Hadits lain bersumber dari Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Turmudzi dan Ibnu
Majah dengan redaksi yang tidak jauh berbeda dengan hadis Jabir diatas. Dari situ jumhur ulama
mengharamkan wanita yang sedang haid atau nifas membaca Al-Quran.
Imam Syaukani dalam Nailul Autar berkata : Kedua hadits itu tidak patut untuk dijadikan hujjah
untuk hukum haram. (Kedua hadits tersebut masih diperselisihkan ke-sahihannya).
D. Menyentuh Al-Quran dalam keadaan ber hadats kecil dan besar.
Dalil yang mengharamkan menyentuh Al-Quran dalam keadaan ber hadats kecil maupun besar
masih diperselisihkan dan cenderung tidak kuat.
Dari segi untuk ke hati-hatian dan dari adab kesopanan sebaiknya ketika menyentuh dan
membaca Al-Quran sedapat mungkin dalam keadaan suci dan punya wudhu.
Menerima upah dari mengajarkan Al-Quran
Abu Laits Nashrun bin Muhammad as-Samarqandi dalam kitabnya Bustanul Arifin menyatakan
bahwa mengajarkan Al-Quran itu ada tiga macam :
1. Mengajarkan Al-Quran ikhlas karena Allah semata dan tidak meminta upah.
2. Mengajarkan Al-Quran dengan meminta upah.
3. Mengajarkan Al-Quran dengan tanpa syarat, jika dikasih upah diterima.
Macam pertama mendapat pahala Allah atas perbuatannya dan yang demikian itu meneladani
perbuatan para nabi.
Macam kedua diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama dahulu (mutaqaddimun)
menetapkan tidak boleh. Sedangkan sebagian ulama kemudian (mutaakhkhirun) menetapkan
Boleh seperti : Ashnan bin Yusuf, Nashrun bin Yahya dan Abu Nashr bin Salam.

Macam ketiga disepakati boleh oleh jumhur ulama.


VIII. Tema-Tema Dalam Al-Quran
8.1 Amsal (perumpamaan) dalam Al-Quran
Menurut Ibnu Qayyim, Amtsalul Quran adalah penyerupaan sesuatu dengan sesuatu yang lain
dalam hal hukumnya dan mendekatkan sesuatu yang abstrak dengan yang kongkrit.
Macam-macam Amtsal (perumpamaan) dalam Al-Quran :
1. Amtsal Musarrahah, ditunjukkan dengan lafazh pemisalan atau sesuatu yang menunjukkan
tasbih.
Contohnya : QS Al-Baqarah [2] : 17-20 :
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu
menerangi sekelilingnya, Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan
membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka ini bisu dan buta, maka
tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti orang-orang yang ditimpa
hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat. . Sesungguhnya Allah berkuasa
atas segala sesuatu
2. Amtsal Kaminah, yaitu tidak ditunjukkan dengan lafazh permisalan.
Contohnya : QS Al-Baqarah [2] : 68 :
Sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan dari itu
3. Amtsal Mursalah, kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafazh tasbih secara jelas,
tetapi kalimat-kalimat itu berlaku sebagai permisalan.
Contoh : QS [11] : 81 :
Bukankah subuh itu sudah dekat sebagai perumpamaan waktu yang udah dekat.
Kitab yang khusus membahas Amtsalul Quran diantaranya Amtsal Al-Quran karangan Ibnu
Qayyim Jauziah.
8.2. Qasam (sumpah) dalam Al-Quran
Bentuk sumpah ada dua, yaitu :
1. Qasam Zahir, yaitu disebutkan kata sumpah, contohnya QS [75] : 1-2 :

Aku bersumpah dengan hari kiamat. Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali
(dirinya sendiri)
2. Qasam Mudhmar, yaitu tidak disebutkan kata sumpah didalamnya, contohnya QS [3] : 186 :
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta dan dirimu
8.3. Jadal (perdebatan) dalam Al-Quran
Bentuk dan tujuan perdebatan dalam Al-Quran :
1. Membungkam lawan, contoh pada QS at-Tur [52] : 35-43 :
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka
sendiri ) ?. Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu ? Ataukah disisi mereka ada
perbendaharaan Tuhanmu ataukah mereka yang berkuasa ? Ataukah mereka mempunyai tangga
(ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib) ? Maka hendaklah orang
yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah
untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki ? Ataukah kamu meninta
upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan utang ? Apakah ada pada sisi mereka
pengetahuan tentangnya yang lalu mereka menuliskannya ? Ataukah mereka hendak melakukan
tipu daya ? Maka orang-orang kafir itu merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka
mempunyai tuhan selain Allah ? Mahasuci Allah dari apa yang mereka sebutkan.
2. Mengambil dalil penciptaan awal untuk argumen hari kebangkitan, contohnya pada QS atTarik [86] : 5-8 :
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan ? Ia diciptakan dari air yang
terpancar. Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.
Sesungguhnya Allah benar-benar berkuasa mengembalikannya (menghidupkan sesudah mati)
3. Membatalkan pendapat lawan dengan bukti kebenaran kebalikannya. Contohnya pada QS alAnam [6] : 91 :
Katakanlah siapa yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan
petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai,
kamu perlihatkans ebagiannya dan kamu sembunyikan sebagian besarnya; padahal telah
diajarkan kepada kamu apa yang kamu dan bapk-bapak kamu tidak mengetahuinya ? Katakan
lah : Allah-lah (yang menurunkannya), kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al-Quran
kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya
4. Menerangkan bahwa sesuatu itu bukanlah alasan hukum, contoh pada QS Al-Anam [6] : 143144 :
Delapan binatang yang berpasangan,sepasang dari domba dan sepasang dari kambing.
Katakanlah : Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua betina, ataukah yang

ada dalam kandungan dua betinanya ? Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan jika
kamu memang orang-orang yang benar. Dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu.
Katakanlah : Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua betina, ataukah yang ada
dalam kandungan dua betinanya ? Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini
bagimu ? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta
terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan ? Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim
5. Mematahkan hujjah lawan, contohnya pada QS Al-Anam [6] : 100-101 :
Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah
yang menciptakan jin-jin itu dan mereka berbohong (dengan mengatakan) : bahwasanya Allah
mempunyai anak lai-laki dan perempuan, tanpa berdasar ilmu pengetahuan. Mahasuci Allah dan
Mahatinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia
mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri ? Dia menjadikan segala sesuatu dan Dia
mengetahui segala sesuatu.
8.4. Qishosh (Kisah) dalam Al-Quran
Macam-macam kisah dalam Al-Quran :
1. Kisah Nabi-Nabi terdahulu, seperti Nabi Nuh, Hud, Ibrahim, Musa, Yusuf, dsb.
2. Kisah person tertentu, seperti Lukman, Dzulqarnain, Ashabul Kahfi, Maryam, dll.
3. Kisah peristiwa-peristiwa, seperti perang badar, perang uhud, perang ahzab, dsb.
IX. Ushul Tafsir
Ushul tafsir adalah cabang dari ilmu ulumul Quran yang membahas ilmu-ilmu dan kaidahkaidah yang diperlukan dan harus diketahui untuk menafsirkan Al-Quran. Ushul tafsir ini adalah
bagian dari ulumul quran yang paling penting karena sangat erat kaitannya dengan istinbath
(penyimpulan hukum) dalam fikih dan penetapan itikad (tauhid, akidah) yang benar.
Ibnu Taimiyyah dalam Muqaddimah fi Ushulit Tafsir menyatakan : Jika ada orang bertanya :
Apakah jalan yang terbaik untuk menafsirkan Al-Quran, maka jawabnya : Menafsirkan AlQuran dengan Al-Quran. Apabila ebgkau tidak mendapatkan penafsirannya pada Al-Quran,
maka tafsirkanlah dengan sunnah (hadits), karena sesungguhnya ia memberi penjelasan terhadap
Al-Quran. Apabila tidak engkau temukan tafsirnya dalam Al-Quran dan tidak pula dalam
sunnah, maka merujuklah kepada perkataan-perkataan sahabat Nabi SAW, karena mereka paling
mengetahui sesudah Nabi, mengingat mereka menyaksikan (sebagian) turunnya Al-Quran dan
situasi ketika ayat itu turun serta mereka memiliki pemahaman yang benar dari Nabi. Apabila
tidak ditemukan penafsiran dalam Al-Quran dan sunnah serta tidak ada pula penafsiran sahabat,
maka dalam hal ini para imam merujukperkataan tabiin
A. Tafsir Al-Quran dengan Al-Quran

Metode ini berdasarkan contoh dari Rasulullah. Ketika para sahabat membaca firman Allah :
Mereka yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanannya dengan kezaliman, mereka
itulah yang mendapat kemananan dan mereka mendapat petunjuk (QS [6] : 82}.
Para sahabat bertanya kepada Rasulullah : Wahai Rasulullah, siapakah diantara kita orang yang
tidak menzalimi dirinya sendiri ? Nabi menjawab : Tidak seperti yang kalian sangka,
kezaliman yang dimaksud adalah syirik. Tidakkah enkau membaca ucapan hamba yang saleh
(Luqman) : Sesungguhnya kemusyrikan adalah kezaliman yang sangat besar. (QS Luqman
[31] : 13).
Firman Allah dalam QS Al-Fatihah [1] : 6 :
Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat
Siapakah yang dimaksud orang-orang yang diberi nikmat ? maka tafsirnya ada pada ayat AlQuran yang lain, yaitu QS An-Nisa [4] : 69 :
Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan
orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi-Nabi, para Shiddiqin, orang-orang
yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
B. Tafsir Al-Quran dengan sunnah (hadits)
Peran (hadits) Rasulullah terhadap Al-Quran :
1. Menjelaskan bagian yang masih global (mujmal).
2. Mengkhususkan (men-takhsis) yang masih umum (amm).
3. Menjelaskan arti dan kaitan kata-kata tertentu.
4. Memberikan ketentuan tambahan dari aturan yang telah ada dalam Al-Quran.
5. Menjelaskan nasakh (menghapus) ayat.
6. Menegaskan hukum-hukum yang telah ada.
Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 43 :
dan dirikanlah shalat
Perintah mendirikan sholat tersebut masih kalimat global (mujmal) yang masih butuh penjelasan
bagaimana tata cara sholat yang dimaksud, maka untuk menjelaskannya Rasulullah naik keatas
bukit kemudian melakukan sholat hingga sempurna, lalu bersabda : Sholatlah kalian,
sebagaimana kalian telah melihat aku shalat (HR Bukhary).

C. Tafsir Al-Quran dengan perkataan sahabat Nabi (Qaul Sahabi).


Sahabat nabi adalah generasi terbaik yang beriman dan diridloi Allah, bertemu langsung dengan
Nabi dan ikut menyaksikan peristiwa yang melatarbelakangi turunnya suatu ayat dan keterkaitan
turunnya dengan ayat yang lain. Mereka mempunyai kedalaman pengetahuan dari segi bahasa,
saat bahasa itu digunakan, kejernihan pemahaman, kebenaran manhaj, kuatnya keyakinan,
apalagi jika mereka telah melakukan Ijma dalam suatu penafsiran.
Firman Allah dalam QS An-Nur [24] : 31 :
Hendaklah mereka tidak menampakkan kecantikannya, kecuali apa yang boleh tampak darinya
Ibnu Abbas menafsirkan yang boleh tampak itu adalah : wajahnya, kedua telapak tangan dan
cincin
D. Tafsir Al-Quran dengan perkataan tabiin.
Tabiin bertemu langsung dengan para sahabat Nabi dan mengambil ilmu dari mereka.
Di Mekkah berdiri perguruan Ibnu Abbas, diantara para tabiin yang menjadi muridnya adalah :
Said bin Jubair, Mujahid, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Tawus bin Kaisan Al-Yamani dan Ata
bin Abi Rabah.
Di Madinah Ubay bin Kaab lebih menonjol dibidang tafsir dari sahabat Nabi yang lain, diantara
muridnya dikalangan tabiin adalah : Zaid bin Aslam, Abu Aliyah dan Muhammad bin Kaab
al-Qurazi.
Di Kufah (Iraq) berdiri perguruan Ibnu Masud, yang dipandang oleh para ulama sebagai cikal
bakal mazhab ahli ray (akal). Tabiin yang menjadi muridnya antara lain : Alqamah bin Qais,
Masruq, Al-Aswad bin Yazid, Murrah Al-Hamazani, Amir Asy-Syabi, Hasan al-Basri dan
Qatadah bin Diamah as-Sadusi.
Sufyan Tsauri berkata : Jika datang padamu tafsir dari Mujahid, cukuplah itu bagimu.
Berkata Ibnu Taimiyah : Syafii, Bukhari dan ahli ilmu lainnya banyak berpegang kepada
tafsirnya.
Az-Sahabi berkata : Umat sepakat bahwa Mujahid adalah tokoh terkemuka yang kata-katanya
dijadikan hujjah, dan kepadanya Abdullah bin Kasir belajar.
Diantara tokoh-tokoh tabiin Mujahid merupakan yang paling menonjol dan perkataannya
banyak diikuti mufasirin sesudahnya. Tentunya harus diseleksi sanad-sanad atsar yang
disandarkan kepada mereka, bila sahih maka layak untuk diikuti.
E. Israiliyyat.

Setelah beberapa ulama Yahudi masuk Islam, seperti : Abdullah bin Salam, Kabul Ahbar, Wahb
bin Munabbih, Abdul Malik bin Abdul Azis bin Juraij; khabar dan kisah dari kitab-kitab Bani
Israil mulai menyebar di kalangan kamu muslimin. Sebagian mufasirin mengutip Israiliyyat ini
kedalam kitab tafsir mereka.
Israiliyyat ini dibagi menjadi tiga :
1. Yang sesuai dengan syariat Islam, maka bisa diterima.
2. Yang bertentangan dengan syariat Islam, maka harus ditolak.
3. Yang didiamkan, tidak diterima dan tidak ditolak, sebatas dijadikan wacana.
X. Makkiyah Madaniyah
Pokok-pokok bahasan ayat-ayat Makki-Madani adalah :
1. Ayat yang diturunkan di Mekkah.
2. Ayat yang diturunkan di Madinah.
3. Ayat yang diperselisihkan turun di Mekkah atau Madinah.
4. Ayat-ayat Makkiyah dalam surah madaniyah.
5. Ayat-ayat Madaniyah dalam surah Makkiyah.
6. Ayat yang diturunkan di Mekkah tapi hukumya Madaniah.
7. Ayat yang diturunkan di Madinah tapi hukumnya Makkiyah
8. Ayat yang serupa dengan yang diturunkan di Mekkah dalam kelompok Madaniyah.
9. Ayat yang serupa dengan yang diturunkan di Madinah dalam kelompok Makkiyah.
10. Yang dibawa dari Mekkah ke Madinah.
11. Yang dibawa dari Madinah ke Mekkah.
12. Yang turun diwaktu malam dan siang
13. Yang turun dimusim panas dan musim dingin.
14. Yang turun ketika menetap (mukim) dan dalam perjalanan (safar).
Perbedaan Makkiyah dan Madaniyah :
1. Berdarakan waktu, inilah yang paling populer dikalangan mufasirin bahwa telah menjadi
kesepakatan dikalangan mereka, bahwa surat atau ayat yang diturunkan sebelum hijrah adalah
Makkiyah, sedangkan yang diturunkan sesudah hijrah adalah Madaniyah. Dalam hal ini tempat
bukan menjadi ukuran. Misalnya QS Al-Maidah [5] : 3 adalah Madaniyah meskipun diturunkan
di Arafah Mekkah.
2. Berdasarkan tempat, jika diturunkan di Mekkah (meliputi Mina, Arafah, Hudaybiyah) berarti
Makkiyah. Jika diturunkan di Madinah (meliputi Badar dan Uhud) berarti Madaniyah.
3. Berdasarkan Khitab, yaitu seruan yang disampaikan. Jika ditujukan kepada penduduk Mekkah
maka Makkiyah. Jika ditujukan kepada penduduk Madinah maka berarti Madaniyah. Klasifikasi
ini bermasalah jika seruan tidak ditujukan kepada keduanya.

Ayat Makkiyah dan ciri-cirinya :


1. Setiap surat yang mengandung sajadah.
2. Setiap surat yang mengandung lafazf kalla.
3. Setiap surat yang mengandung ya ayyuhan nas.
4. Setiap surat yang mengandung kisah para Nabi kecuali surat Al-Baqarah
5. Setiap surat yang mengandung kisah Adam dan Iblis kecuali surat Al-Baqarah.
6. Setiap surat yang diawali dengan huruf muqattaah kecuali surat Al-Baqarah dan Ali-Imran
sedangkan surat Rad masih diperselisihkan.
7. Isinya mengajak kepada tauhid, celaan terhadap akidah musyrik dan budaya jahiliyah, khabar
surga dan peringatan neraka, kisah para Nabi dan umat terdahulu yang dibinasakan, kata-katanya
pendek, singkat tapi membekas dan berkesan.
Ayat Madaniyah dan ciri-cirinya :
1. Setiap surat yang berisi kewajiban atau sanksi.
2. Setiap surat yang didalamnya disebutkan orang-orang munafik, kecuali surat Al-Ankabut .
3. Setiap surat yang didalamnya terdapat dialog dengan ahli kitab.
4. Surah yang mengandung seruan Ya ayuhalladzina amanu
5. Isinya menjelaskan ibadah, muamalah, hukum dan perundang-undangan, seruan terhadap ahli
kitab untuk masuk Islam, menyingkap perilaku orang munafik, ayatnya panjang-panjang dan
memantapkan syariat.
Faedah mengetahui Makkiyah Madaniyah :
1. Mengetahui tempat dan waktu diturunkannya ayat Al-Quran, untuk membantu memahami
penafsiran yang benar serta analisa nasikh-mansukhnya.
2. Meresapi gaya bahasa Al-Quran dan memanfaatkannya dalam metode dan tahapan dakwah.
3. Memahami sirah nabawiyah dan periode periode dakwahnya.
XI. Asbabun Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat)
Turunnya ayat Al-Quran dibagi menjadi dua macam :
1. Tanpa sebab khusus (ibtida).
2. Dilatarbelakangi oleh suatu peristiwa atau adanya pertanyaan.
Untuk mengetahui asbabun nuzul satu-satunya cara adalah melalui riwayat yang dinyatakan oleh
para sahabat Nabi. Merekalah orang-orang yang mengerti betul kapan, dimana, kepada siapa dan
dalam konteks apa Al-Quran diturunkan. Walaupun demikian tidak semua riwayat dinyatakan
oleh para sahabat mengenai turunnya Al-Quran tersebut dikonotasikan asbabun nuzul.
Adapun mengenai riwayat yang berkaitan dengan asbabun nuzul :

1. Jika ada sahabat yang mengatakan : Sebab turunnya ayat ini adalah .
2. Jika sahabat menceritakan adanya sebuah pertanyaan yang kemudian turun ayat sebagai
jawaban atau reaksi dari pertanyaan tersebut.
3. Jika ada indikasi yang kuat (rajih) menunjukkan asbabun nuzul, contoh :
Rasulullah telah ditanya tentang ini, maka turunlah ayat .
4. Jika ada pernyataan sahabat : Ayat ini diturunkan dalam konteks ..
Maka itu bisa menunjukkan asbabun nuzul bisa menunjukkan penjelasan / penafsiran sahabat
terhadap suatu ayat, jadi masih perlu diteliti.
Bila ada perbedaan riwayat mengenai asababun nuzul suatu ayat maka harus diteliti untuk dipilih
mana yang paling kuat (ditarjih) atau kalau masih mungkin dikompromikan.
Contoh study asbabun nuzul :
Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 195 :
Dan belanjakanlah (harta bendamu) dijalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu
sendiri kedalam kebinasaan dan berbuat baiklah, karena sesungghuhnya Allah menyukai orangorang yang berbuat baik.
Ibnul Araby mengatakan, ada lima pendapat menafsirkan At-Tahlukah (kebinasaan), yaitu :
1. Janganlah engkau meninggalkan pemberian nafkah.
2. Janganlah engkau berjihad tanpa perbekalan.
3. Janganlah engkau meninggalkan jihad.
4. Janganlah engkau menggempur pasukan sedangkan engkau tidak mempunyai kekuatan untuk
menyerangnya.
5. Janganlah engkau putus asa dari ampunan Allah (karena merasa sudah terlalu banyak dosa).
Imam Ath-Thabari mengatakan : Maknanya umum mencakup semuanya, tidak kontradiktif satu
dengan yang lain
Imam Syaukani mengatakan : Yang dijadikan pegangan adalah keumuman lafazh bukan pada
kekhususan sebab (turunnya ayat).
Maka perlu disampaikan salah satu riwayat (atsar) yang menjelaskan asbabun nuzulnya ayat
tersebut, yaitu riwayat Imam At-Tirmidzi dari Yazid bin Abi Habib dari Aslam Abi Imran :
Waktu kami berada di negeri Romawi (Konstantinopel) sekelompok pasukan Romawi
menghadang kami, maka kaum muslimin menyambut mereka dengan pasukan sejumlah mereka
atau lebih banyak. Legiun Mesir dibawah komando Uqbah bin Amir dan pasukan lain yang

dipimpin Fadhalah bin Ubaid. Seorang tentara kaum muslimin menerjang barisan pasukan
Romawi sendirian, melihat itu banyak yang berteriak, Subhanallah ia menjerumuskan dirinya
menuju kebinasaan. Mendengar itu Abu Ayyub Al-Anshari (salah seorang sahabat Nabi)
berkata : Wahai saudara-saudara, kalian memehami ayat ini dengan penakwilan seperti itu ?
Ketahuilah, bahwa ayat ini turun kepada kami kaum Anshar. Ketika Allah memberikan izzah
(kejayaan) kepada Islam dan memperbanyak penolong-penolongnya, sebagian kami (kaum
Anshar) saling berkata secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui Rasulullah SAW,
Ketahuilah, bahwa harta kita sudah habis dan Allah telah memberikan kejayaan kepada Islam
dan memperbanyak pendukungnya, apakah tidak lebih baik kita untuk konsentrasi pada harta
kita dan kita dapat mengembalikan harta kita yang hilang. Maka Allah kemudian menurunkan
ayat ini (QS Al-Baqarah [2] : 195) kepada NabiNya sebagai jawaban kepada kami, arti dari AtTahlukah (kebinasaan) adalah konsentrasi terhadap harta (niaga, berkebun) dan pemanfaatannya
(berfoya-foya) yang berakibat meninggalkan perang (jihad). Abu Ayyub Al-Anshari senantiasa
berjihad fisabilillah sampai beliau dikebumikan di tanah Romawi (Konstantinopel), kuburan
beliau ada disana. (HR Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad, lafazh diatas adalah yang terdapat
pada riwayat Tirmidzi).
Walaupun ada kaidah Yang jadi pegangan adalah keumuman lafazh bukan pada kekhususan
sebab paling tidak dari riwayat diatas setidaknya dapat membantu penafsiran yang lebih spesifik
yaitu : Janganlah kamu menghentikan ber infaq membelanjakan harta dijalan Allah dan
janganlah kamu meninggalkan jihad fisabilillah yang dapat menyebabkan kamu binasa yaitu
lemah dan atau dikuasai musuh.
Manfaat mengetahui asbabun nuzul :
1. Mengkhususkan hukum dengan sebab turunnya ayat hukum..
2. Menghilangkan kaburnya pembatas (hashr) atas apa yang lahirnya menunjukkan pembatasan
3. Mengetahui hikmah disyariatkannya hukum.
4. Mengetahui latar belakang disyariatkannya hukum
5. Mengetahui tentang siapa ayat tersebut diturunkan, dan tidak diterapkan kepada orang lain
yang tidak semestinya.
Contoh : Ketika Marwam bin hakam menjabat Gubernur Hijaz (Mekkah-Madinah) pada
pemerintahan Muawiyah bin Abu Sofyan, Marwan berpidato yang intinya mengajak penduduk
Hijaz membaiat Yazid bin Muawiyah sebagai Khalifah sepeninggal ayahnya, Marwan berkata :
ini adalah sunah Abu Bakar dan Umar. Tiba-tiba Abdurrahman bin Abu Bakar menyahuti :
Itu sunnah Kisra (Persia) dan Kaisar (Romawi) seraya pergi ke rumah Aisyah (kakaknya).
Maka Marwan berkata : Itulah orang yang dikatakan dalam Al-Quran, Dan janganlah kamu
berkata kepada ibu-bapaknya : Cis, bagi kamu berdua . Perkataan Marwan itu sampai kepada
Aisyah, maka Aisyah membantah dan berkata : Marwan berdusta, Demi Allah, maksud ayat itu
tidaklah demikian, Sekiranya aku mau menyebutkan mengenai siapa ayat itu turun, tentulah aku
sudah menyebutkannya.
XII. Kaidah Kalimat Umum Dengan Sebab Khusus

Dikalangan umat Islam berkembang klaim universalitas dan supremasi Islam yang berlaku
melampaui dimensi ruang dan waktu, dengan Al-Quran sebagai sumber pedoman. Al-Quran
tidak turun dalam satu masyarakat yang hampa budaya. Dari sekian banyak ayat-ayatnya, para
ulama menyatakan harus dipahami dalam konteks asbabun nuzulnya, karena ayat tersebut
berinteraksi dengan kenyataan yang ada dan kenyataan tersebut mendahului atau paling tidak
bersamaan dengan turunnya ayat.
Dalam kaitannya dengan asbabun nuzul, sebagian besar ulama berpegang pada kaidah al
ibrahu bi umumil lafzh la bikhususin asbab (yang menjadi pegangan adalah keumuman lafazh
bukan pada kekhususan sebab), sedangkan sebagian kecil berpegang pada kaidah kebalikannya,
yaitu al ibratu bikhususus sabab la bi umumil lafzh: (yang menjadi pegangan adalah
kekhususan sebab bukan pada keumuman lafazh).
Apabila dijumpai ayat-ayat Al-Quran berkaitan dengan suatu hukum, yang konteks
pembicaraannya bersifat khusus terhadap kasus tertentu, sedangkan teksnya bersifat umum,
maka ketentuan itu tidak hanya terbatas pada kasus tersebut, tetapi berlaku umum pada setiap
kasus yang mempunyai persamaan dengan kasus khusus tersebut. Inilah maksud kaidah yang
menjadi pegangan adalah keumuman lafazh bukan pada kekhususan sebab.
Dalam memahami kaidah diatas, pendukung kaidah ini berpandangan bahwa asbabun nuzul pada
hakikatnya hanyalah salah satu sarana bantu yang menampilkan contoh untuk menjelaskan
makna redaksi ayat Al-Quran. Sedangkan redaksi yang bersifat umum itu ruang lingkupnya
tidak terbatas pada kasus khusus yang melatarbelakangi turunnya ayat.
Pemahaman semacam ini didasarkan atas kenyataan bahwa Al-Quran diturunkan untuk menjadi
petunjuk bagi setiap generasi, sejak masa turunnya sampai dengan hari kiamat, dalam setiap
tempat dan situasi.
Pendapat kaidah ini dipandang rajih (lebih kuat) dan lebih tepat, sesuai dengan umumnya
hukum-hukumsyariat dan telah diberlakukan oleh para sahabat dan imam mujtahid. Demikian
pendapat Ibnu Taimiyah.
Contoh penerapan kaidah tersebut dalam memahami ayat yang memiliki asbabun nuzul tertentu,
dalam hal ini QS An-nur [24] : 6, adalah sebagai berikut :
Dan orang-orang yang melemparkan tuduhan kepada istri-istri mereka, sedang mereka tak
punya saksi selain diri mereka sendiri, maka kesaksian orang itu empat kali sumpah (dengan
sekali bersumpah) demi Allah, bahwa sungguh dia berkata benar.
Ayat ini turun berkaitan dengan tuduhan yang dilemparkan Hilal Ibnu Umayyah kepada istrinya,
akan tetapi sebagai mana terlihat, bunyi ayat ini bersifat umum. Menurut penganut kaidah
keumuman lafazh bukan ke khususan sebab dengan demikian ketentuan hukumnya tidak
hanya berlaku bagi Hilal saja, tetapi juga berlaku bagi semua orang yang menuduh istrinya
berbuat zina tanpa saksi.

Adapun penganut kaidah kekhususan sebab bukan keumuman lafazh lebih menekankan
perlunya analogi (qiyas) untuk menarik makna dari ayat-ayat yang memiliki latar belakang
turunnya ayat (asbabun nuzul)itu, jika qiyas tersebut memenuhi syarat-syaratnya.
Allah berfirman dalam QS Al-Maidah [5] : 38-39 :
Adapun mengenai pencuri, laki-laki dan perempuan, potonglah tangannya sebagai hukuman
atas perbuatannya, sebagai pelajaran dari Allah. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Tetapi
barang siapa bertobat setelah berbuat jahat dan memperbaiki diri, maka Allah akan menerima
tobatnya, Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih.
Asbabun nuzul turunnya ayat tersebut, menurut riwayat Ahmad dan lain-lain yang bersumber
dari Abdullah bin Umar, bahwa seorang wanita mencuri di zaman Rasulullah, kemudian
dipotong tangannya yang kanan. Wanita tersebut bertanya, Apakah diterima tobatku, ya
Rasulullah ? Maka Allah menurunkan ayat berikutnya QS [5] : 39 yang menegaskan bahwa
tobat seseorang akan diterima Allah apabila ia memperbaiki diri dan berbuat baik.
Bila saklek berpegang pada kaidah keumuman lafazh bukan pada ke khususan sebabmaka
akan ada kecenderungan memahami ayat tersebut secara tekstual, bahwa ketetapan hukum
potong tangan bagi seorang pencuri itu berlaku umum disegala situasi dan tempat, dengan
mengabaikan konteks situasi sosial yang menjadi latar belakang turunnya ayat tersebut, sehingga
relevansi ketetapan hukum kurang mendapat perhatian. Padahal perubahan waktu dan situasi
yang meliputi meniscayakan perubahan hukum. Ketika ayat tersebut tidak diterapkan dalam
suatu masyarakat, seperti ijtihad Umar bin Khattab pada masanya, tidak memotong tangan
pencuri dimasa paceklik, apakah lantas dipahami bahwa Umar bin Khattab telah meninggalkan
ayat tersebut, atau ayat disesuaikan dengan situasi kondisi ?
Cara pandang ekstrim demikian akan muncul bila asbabun nuzul dipahami sebatas peristiwa dan
pelakunya. Apabila ia dipahami secara komprehenship, meliputi waktu, tempat, situasi dan
kondisi sosial-budaya yang melatarbelakangi turunnya ayat, kemudian dicoba dicari tujuantujuan syariah dan mashlahah mursalah yang menjadi ruh ayat tersebut, maka akan dapat
melahirkan perkembangan dalam penafsiran yang lebih tepat.
XIII. Nasikh Mansukh
Nasikh adalah penghapusan lafazh atau hukum suatu nash syara, sedangkan mansukh adalah
nash syara yang dihapus lafazh atau hukumya.
Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 106 :
Apa saja ayat-ayat yang kami nasakh, atau kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami
datangkan yang lebih baik daripadanya, atau kami datangkan yang sebanding dengannya.
Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Macam-macam naskh dalam Al-Quran :

1. Naskh lafaz dan hukum.


Riwayat Ismail bin Ahmad dari Abu Umamah bin Sahl bin Hanif, bahwa telah ada sekelompok
orang sahabat Nabi yang memberitahu dia tentang seorang laki-laki diantara mereka yang tidak
tidur pada tengah malam. Dia bermaksud untuk membuka catatan sebuah surah yang sebelumnya
dia hafal. Ternyata dia tidak menjumpai tulisan surah itu kecuali hanya tulisan
Bismillahirrahmanirrahim. Maka pada keesokan harinya dia datang ke rumah Nabi untuk
menanyakan hal tersebut. Ternyata ada juga beberapa orang yang datang kepada Nabi sehingga
mereka berkumpul menjadi beberapa orang. Mereka saling menanyakan antara yang satu dengan
yang lain. Mereka juga saling menceritakan pengalaman yang dialami masing-masing tentang
tulisan surat yang tiba-tiba hilang. Beberapa saat kemudian Nabi menerima mereka dan
mendengarkan penuturan mereka. Kemudian Nabi terdiam sejenak, setelah itu beliau bersabda :
Tadi malam surat tersebut telah di nasakh. Maka hafalan surah itupun dinasakh dari dada
mereka (yang telah hafal) dan juga dari benda apapun yang mengabadikan rasm (tulisan) surah
tersebut.
Riwayat dari Ibnu Masud : Telah diturunkan sebuah ayat Al-Quran kepada Rasulullah saw.
sehingga saya mencatatnya didalam mushafku. Namun pada suatu malam ternyata permukaan
mushaf itu hanya berwarna putih (hilang tulisannya), maka saya menceritakan hal tersebut
kepada Nabi, ternyata beliau bersabda : Tidakkah kamu tahu bahwa ayat tersebut telah diangkat
(dinasakh) tadi malam.
Muslim meriwayatkan dari Aisyah : Diantara yang diturunkan kepada beliau (Nabi) adalah
sepuluh susuan yang maklum itu menyebabkan muhrim. Lafazh Ayat tersebut telah dinasakh
dengan ayat Lima susuan yang maklum. Jadi lafazh Sepuluh susuan telah dinasakh dengan
ayat lain yang ber lafazh Lima susuan. Demikian juga hukum lima susuan telah menasakh
hukum sepuluh susuan yang menyebabkan menjadi muhrim.
2. Naskh lafaz sedang hukumnya tetap.
Yaitu lafazh ayat dihapus dari mushaf, tapi hukumnya tetap berlaku. Contohnya tentang hukum
rajam bagi pezina muhson.
Riwayat dari Said bin Al-Musayyab : bahwa Umar bin Khattab telah berkata : Mengenai
ayat tentang rajam, maka janganlah sampai kalian tidak mengetahuinya, karena sesungguhnya
Rasulullah saw. telah menerapkan hukuman rajam, begitu juga dengan kami, kami telah
mempraktekkannya. Ayat tentang rajam itu benar-benar telah diturunkan. Ayat rajam yang kami
baca, Orang tua laki-laki dan orang tua perempuan (maksudnya yang sudah menikah) jika
sampai melakukan perbuatan zina, maka rajamlah keduanya dengan pasti. Kalau bukan karena
khawatir orang-orang akan mengatakan Umar telah menambahkan sebuah ayat dalam kitab
Allah, pasti saya telah menulis ayat itu dengan tanganku sendiri (dalam mushaf Al-Quran).
3. Naskh hukum sedang lafaznya tetap.
Yaitu lafazh ayat yang dihapus (mansukh) masih tetap ada dalam mushaf, tapi hukumnya telah
dihapus oleh ayat yang menghapusnya (nasikh). Ulama terdahulu (abad 1 s.d. 3 H) memperluas
konsep nasakh hingga mencakup hal hal :

a. Penghapusan hukum yang ditetapkan terdahulu oleh hukum yang ditetapkan kemudian.
b. Pengecualian (taksish) hukum yang bersifat umum oleh hukum yang meng khususkannya.
c. Penjelasan yang datang kemudian terhadap hukum yang samar.
d. Penetapan syarat terhadap hukum terdahulu yang belum bersyarat.
Ulama Mutaakhkhirin mempersempit pengertian nasakh hanya bila meghapuskan hukum yang
terdahulu atau telah berakhirnya masa berlaku hukum yang terdahulu sehingga ketentuan yang
berlaku adalah hukum yang ditetapkan terakhir. Para ulama masih memperselisihkan adakah ayat
Al-Quran yang dinasakh hukumnya sedangkan lafazhnya masih ada dalam mushaf. Sebagian
berpendapat tidak ada, yaitu : Abu Muslim al-Ashfani, Fakhruddin ar Razi, Muhammad Abduh,
dll. Kelompok yang menolak adanya nasakh hukum, mereka mentawilkan kata ayat dalam QS
Al-baqarah : 106 dengan mukjizat jadi yang di nasakh adalah mukjizat bukan ayat Al-Quran.
Adapun kelompok yang menetapkan adanya nasakh, menafsirkan kata ayat dengan zahirnya,
diantaranya Imam Syafii, Imam Syaukani dan As-Suyuthi. Mengenai ayat-ayat yang dinasakh,
kelompok yang menetapkan adanya nasakh juga berbeda pendapat. As-Suyuthi menyebutkan ada
21 ayat Al-Quran yang dinasakh.
Pembagian Naskh
1. Naskh Al-Quran dengan Al-Quran. Semua ulama sepakat kebolehannya, bagi yang
menetapkan adanya naskh
2. Naskh Al-Quran dengan hadits
a. Naskh Al-Quran dengan hadits mutawatir.
Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad membolehkannya.
b. Naskh Al- dengan hadits Quran ahad.
Imam Syafii, Imam Ahmad dan jumhur ulama tidak membolehkan, berdasarkan ayat Apa saja
yang kami nasakh kan, atau kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih
baik atau yang sebanding dengannya (QS Al-Baqarah [2] : 106).
3. Naskh hadits dengan Al-Quran
Jumhur ulama sepakat membolehkan, contoh Arah kiblat ke Baitul Maqdis yang ditetapkan
dalam sunah dinasakh oleh ayat Al-Quran, QS Al-Baqarah [2] : 144 : Maka palingkanlah
mukamu ke arah Masjidil Haram
4. Naskh hadits dengan hadits
a. Naskh hadits mutawatir dengan hadits mutawatir
b. Naskh hadits ahad dengan hadits ahad

c. Naskh hadits ahad dengan hadits mutawatir


d. Naskh hadits mutawatir dengan hadits ahad
Tiga bentuk pertama dibolehkan, sedang bentuk ke-empat diperselisihkan.
5. Naskh berpengganti dan tidak berpengganti
a. Nasakh tanpa pengganti, contoh :
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul
hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu (QS
Al-Mujadalah [58] : 12).
Ketentuan ini dinasakh oleh ayat :
Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum
pembicaraan dengan Rasul ? Maka jika kamu tidak memperbuatnya dan Allah telah memberi
taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikan zakat. (QS Al-Mujadalah [58] : 13).
b. Nasakh dengan badal akhtaff, misalnya firman Allah :
Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu (QS
Al-Baqarah [2] : 187).
Ayat ini menghapus firman Allah :
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu (QS Al-Baqarah [2] : 183).
Karena maksud ayat QS Al-Baqarah [2] : 183 adalah agar puasa kita seperti ketentuan puasa
orang-orang terdahulu, yaitu dilarang bercampur dengan istri apabila mereka telah mengerjakan
shalat petang atau telah tidur.
c. Nasakh dengan badal mumasil, misalnya penghapusan arah Kiblat ke Baitul Makdis menjadi
menghadap ke Masjidil Haram.
Maka palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.. (QS Al-Baqarah [2] : 144).
d. Nasakh dengan badal asqal, seperi penghapusan hukuman penahanan rumah, dalam ayat :
Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, datangkanlah empat orang saksi
dari pihak kamu (untuk menjadi saksi). Kemudian apabila mereka telah memberi kesaksian,
maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai meninggal (QS An-Nisa
[4] : 15).
Ayat tersebut dinasakh dengan ayat tentang hukuman rajam bagi pezina muhson (sudah pernah
menikah) atau dera seratus kali bagi pezina yang belum pernah menikah.

Contoh-contoh naskh.
As-Suyuthi menyebutkan dalam Al-Itqan sebanyak dua puluh satu ayat, diantaranya :
1. QS Al-Baqarah [2] : 144 : Maka palingkanlah mukamu kearah Masjidil Haram
Ayat ini menasakh arah kiblat ke Baitul Maqdis yang ditetapkan dalam sunnah.
2. QS Al-Baqarah [2] : 180 : Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang diantara kamu
kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibubapak dan karib kerabatnya
Kewajiban berwasiat dalam ayat ini dinasakh oleh ayat tentang hukum waris dan diperkuat oleh
hadits. Sesungghuhnya Allah telah memberikan kepada setiap orang yang mempunyai hak akan
warisnya, maka tidak ada wasiat bagi ahli waris
3. QS Al-Baqarah [2] : 284 : Jika kamu melahirkan apa yang ada dalam hatimu atau kamu
menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang
perbuatanmu itu..
Ayat ini meng isyaratkan Allah akan membuat perhitungan terhadap perbuatan dan lintasan hati
manusia. Namun pertanggungjawaban lintasan hati ini dinasakh oleh QS Al-Baqarah [2] : 286
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
4. QS Al-Anfal [8] : 65 : Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka
dapat mengalahkan dua ratus orang musuh
Ayat ini melarang kaum muslimin mundur dari peperangan bila jumlah musuh kurang dari
sepuluh kali lipat, namun ayat ini di nasakh dengan QS Al-Anfal [8] : 66 :
Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia mengetahui bahwa padamu ada
kelemahan. Maka jika ada diantara kamu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat
mengalahkan dua ratus orang. Ayat ini membolehkan kaum muslimin mundur dari peperangan
bila jumlah musuh lebih dari dua kali lipat.
Namun kelompok yang tidak mengakui adanya nask hukum dalam mushaf Al-Quran tetap
memberikan argumentasi bahwa ayat-ayat tersebut bukan nasakh, melainkan hanya mentahsis
atau bisa dikompromikan atau berlaku menurut masa tertentu atau punya sebab berbeda sehingga
hukumnya berbeda.
Hikmah adanya Nasakh :
1. Memelihara kepentingan kaum muslimin.
2. Perkembangan tasyri menuju tingkat kesempurnaan sesuai dengan perkembangan dakwah dan
perkembangan kondisi umat manusia.
3. Cobaan dan ujian bagi mukallaf, yaitu apakah mengikuti (mempelajarinya) ataukah tidak.

4. Menghendaki kebaikan bagi umat. Jika nasakh beralih ke hal yang lebih berat maka
didalamnya terdapat tambahan pahala, dan jika beralih ke yang lebih ringan maka mengandung
kemudahan dan keringanan.
XIV. Muhkam (jelas) Mutasyabih (samar)
Ayat Al-Quran yang muhkam artinya : jelas dan mudah diketahui maknanya. Sedangkan ayat
Al-Quran yang mutasyabih artinya : samar dan tidak mudah diketahui maknanya.
Para ulama memberikan contoh ayat-ayat yang muhkam dengan ayat-ayat yang nasikh
(menghapus) dan masih berlaku hukumnya, ayat-ayat tentang halal-haram, akidah (rukun iman),
tauhid, hudud (hukuman), kewajiban (ibadah, rukun Islam), janji (pahala, ampunan, surga) dan
ancaman (dosa, laknat, azab neraka), itulah pokok-pokok agama (ushul) karena ayat-ayatnya
muhkam (jelas dan tidak diperselisihkan) maka menjadi perkara yang qothi (pasti).
Sedangkan contoh ayat-ayat yang mutasyabih adalah :
1. Ayat-ayat mansukh (yang dihapus) dan tidak diberlakukan hukumnya atau telah dihapus
lafadznya dari mushaf.
2. Ayat-ayat yang mengandung kata-kata yang sulit dipahami maksudnya.
Riwayat Abu Ubaid, dari Anas : Khalifah Umar pernah membaca ayat, wafakihatan wa abban
Dan buah-buahan dan rumput-rumputan (QS Abasa [80] : 31), lalu ia berkata : Kalau buahbuahan ini kami telah mengetahui, tetapi apakah yang dimaksud al-ab ?, kemudian Umar
berkata kepada dirinya sendiri : Hai Umar, sesungguhnya apa yang kamu lakukan itu benarbenar suatu perbuatan memaksakan diri.
Riwayat lain dari Muhammad bin Sad dari Anas : Umar berkata kepada dirinya sendiri : Ini
hal yang dipaksakan, tiada dosa bagimu bila tidak mengetahui.
3. Ayat-ayat tentang Asma Allah dan sifat-sifatNya yang menyerupai sifat mahkluk, contoh :
Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui, Maha Berfirman (Kalam), Maha
Hidup, dsb.
4. Ayat-ayat tentang perbuatan Allah yang menyerupai perbuatan mahkluk, contoh : Allah
bersemayam diatas Arsy, Allah turun ke langit dunia, Allah melempar, dan datang lah
Tuhanmu, dsb
5. Ayat-ayat tentang anggota tubuh Allah, contoh : Segala sesuatu pasti binasa kecuali
wajahNya, tangan Allah diatas tangan mereka, dsb
6. Hakikat sebenarnya tentang ayat-ayat metafisika (ruh, alam jin, alam malaikat, alam kubur,
surga-neraka, akhirat).
7. Huruf-huruf hijaiyah pada awal surat (huruf muqattaah).

Menurut Ibnu Abbas, tafsir ayat Al-Quran itu ada empat macam :
1. Tafsir yang dipahami oleh orang-orang Arab karena kelaziman bahasanya.
2. Tafsir yang harus diketahui oleh semua orang yaitu tentang akidah, ibadat dan halal-haram.
3. Tafsir yang hanya diketahui oleh ulama yang mendalam ilmunya.
4. Tafsir yang hanya diketahui oleh Allah.
Ayat-ayat mutasyabih termasuk dalam point ke-3 dan ke-4 yaitu ada yang diketahui tafsirnya
oleh ulama yang mendalam ilmunya dan ada yang hanya diketahui tafsirnya oleh Allah saja.
Ayat-ayat mutasyabih ini hanya sebagian kecil saja dari seluruh Al-Quran, sebagian besar ayatayat Al-Quran adalah muhkam.
Firman Allah dalam QS Ali-Imran [3] : 7
Dialah yang telah menurunkan Al-Quran kepadamu, diantaranya ada ayat-ayat muhkam yang
merupakan induk (agama) dan lainnya mutasayabih. Adapun orang-orang yang dalam harinya
condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih untuk
menimbulkan fitnah dan mencari-cari tawilnya, padahal tidak ada yang mengetahui tawilnya
kecuali Allah. Dan orang yang mendalam ilmunya berkata : Kami beriman kepada ayat-ayat
yang mutasyabih, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.
Imam Malik pernah ditanya tentang makna istiwa (bersemayam) nya Allah diatas Arsy, maka
beliau menjawab : maksud istiwa(bersemayam) telah kita ketahui, namun mengenai bagaimana
caranya kita tidak mengetahuinya. Iman kepadanya adalah wajib dan menanyakan bagaimana
caranya adalah bidah.
Hikmah adanya ayat Mutasyabih :
1. Menegaskan kemukjizatan Al-Quran, yaitu dalam balagah dan bayan.
2. Mendorong umat untuk menuntut ilmu yang banyak dan mendalam.
3. Merangsang penggunaan kemampuan berpikir.
4. Menjadi ujian bagi mukmin, apakah ada yang cenderung mengada-ada mencari tawilnya atas
dasar hawa nafsu.
XV. Kaidah Amr (perintah) Nahi (larangan)
Amr (perintah)
Amr berarti perintah atau suruhan dari pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada pihak yang
lebih rendah kedudukannya, yaitu dari Allah kepada manusia.
Hukum lafazh amr :
1. Asal dari suatu perintah itu adalah menunjukkan wajib.
2. Makna wajib bisa berpaling dari makna wajib ke makna lain, apabila terdapat petunjuk

(qarinah) yang menghendaki makna lain tersebut, baik qarinah tersebut berupa susunan bahasa
atau tuntutan maknanya secara keseluruhan maupun karena nash lain yang menuntut perpalingan
makna.
3. Asal dari suatu perintah tidak menuntut adanya pengulangan, kecuali bila terdapat dalil yang
menunjukkan kebalikannya. Misalnya QS Al-Maidah [5] : 6 : Dan jika kamu junub, maka
mandilah. Perintah mandi berlaku berulang bila penyebabnya yaitu junub berulang.
Bentuk bentuk amr :
1. Menggunakan kata kerja perintah (fiil amr), seperti pada QS [4] : 4 :
Dan berikanlah kepada perempuan (Dalam perkawinan) mas kawinnya dengan ikhlas; tetapi
jika dengan senang hati mereka memberikan sebagian darinya kepadamu, terimalah dan
nikmatilah pemberiannya dengan senang hati.
2. Menggunakan fiil mudhari dengan didahului lamul-amr, seperti dalam QS [3] : 104 :
Hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh
orang berbuat yang maruf dan melarang perbuatan mengkar. Mereka inilah orang yang
beruntung.
3. Bentuk isim fiil amr, seperti pada QS [5] : 105 :
Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi
mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.
4. Masdar pengganti fiil, seperti pada QS [2] : 83 :
Dan ingatlah ketika Kami menerima ikrar dari Bani Israil : tidak akan menyembah selain Allah,
berbuat baik kepada orangtua dan kerabat, kepada anak yatim dan orang miskin dan berbudi
bahasa kepada semua orang; dirikanlah shalat dan tunaikan zakat. Tetapi kemudian kamu
berbalik, kecuali sebagian kecil diantara kamu dan kamu (masih juga) menentang.
5. Kalimat berita yang mengandung arti perintah atau permintaan, seperti pada QS [2] : 228 :
Perempuan-perempuan yang dicerai harus menunggu tigak kali quru .
6. Kalimat yang mengandung kata amar, fardhu, kutiba, ala yang berarti perintah.
Kategori amr :
1. Amr menunjukkan wajib, seperti pada QS [4] : 77 :
Dirikanlah shalat dan keluarkanlah zakat.
Ayat tersebut menunjukkan shalat adalah wajib dan yang meninggalkannya adalah dosa.

2. Amr menunjukkan sunah, seperti pada QS [24] : 33 :


Buatlah perjanjian yang demikian, jika kamu ketahui mereka baik.
Ayat ini menunjukkan perintah tanpa kewajiban, tetapi baik sekali bila dikerjakan.
3. Amr tidak menghendaki pengulangan pelaksanaan, seperti pada QS [2] : 196 :
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.
Ayat ini mengandung pengertian bahwa mengerjakan haji dan umrah itu diwajibkan satu kali
saja seumur hidup.
4. Amr menghendaki pengulangan, seperti pada QS [5] : 6 :
Dan bila kamu sedang dalam keadaan junub maka bersihkan dengan mandi penuh.
5. Amr tidak menghendaki kesegeraan, seperti pada QS [2] : 184 :
Jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan, maka (berpuasalah) sebanyak hari
yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain.
6. Amr menghendaki kesegeraan, seperti pada QS [2] : 148 :
Masing-masing mempunyai tujuan, ke sanalah Ia mengarahkannya; maka berlombalah kamu
dalam mengejar kebaikan.
7. Perintah yang datang setelah larangan bermakna mubah, seperti pada QS [5] : 2 :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu langgar lambang-lambang Allah. Tetapi bila
kamu selesai menunaikan ibadah haji, berburulah.
B. Nahi (larangan)
Nahi berarti larangan atau cegahan dari pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada pihak
yang lebih rendah kedudukannya, yaitu dari Allah kepada manusia.
Hukum lafazh nahi :
1. Asal dalam larangan adalah menunjukkan haram.
2. Makna haram bisa berpindah ke makna lain apabila ada petunjuk (qarinah) yang menghendaki
peralihan ke makna lain tersebut, baik qarinahnya itu berupa tuntutan makna yang dapat
dipahami dari susunan bahasanya, maupundari nash lain yang menunjukkan tuntutan terhadap
perpalingan makna itu.

3. Lafazh nahi menghendaki larangan secara kekal dan spontan. Sebab yang dilarang itu tidak
terwujud kecuali apabila larangan itu bersifat kekal. Para ahli ushul menyebutkan : Menurut
asalnya nahi yang mutlak itu menuntut kesinambungan untuk semua masa.
Bentuk-bentuk Nahi :
1. Fiil nahi, seperti pada QS [17] : 31-34 :
Janganlah kamu bunuh anak-anakmu karena takut kekurangan Dan jangalah kamu mendekati
perbuatan zina; sungguh itu perbuatan keji dan jalan yang buruk. Dan janganlah kamu
menghilangkan nyawa yang diharamkan oleh Allah, kecuali demi kebenaran Janganlah kamu
dekati harta anak yatim, kecuali untuk memperbaikinya, sampai ia mencapai umur dewasa.
2. Menggunakan lafazh utruk (biarkanlah), seperti pada QS [44] : 24 :
Dan biarkanlah laut terbelah, sebab mereka tentara yang akan ditenggelamkan.
3. Menggunakan lafazh da (tinggalkanlah), seperti pada QS [33] : 48 :
Dan janganlah kau turuti orang-orang kafir dan kaum munafik, tinggalkanlah (janganlah kau
hiraukan) gangguan mereka; tetapi tawakallah kepada Allah; sebab cukuplah Allah sebagai
pelindung.
4. Menggunakah lafazh naha (dilarang), seperti pada QS [59] : 7 :
Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah, dan apa yang dilarang tinggalkanlah.
Bertaqwalah kepada Allah; Allah sangat keras dalam menjatuhkan hukuman.
5. Menggunakan lafazh harrama (diharamkan), seperti pada QS [7] : 33 :
Katakanlah, Tuhanku mengharamkan segala perbuatan keji, yang terbuka atau tersembunyi,
dosa dan pelanggaran hak orang tanpa alasan; mempersekutukan Allah, padahal Ia tak memberi
kekuasaan untuk itu, dan berkata tentang Allah yang tidak kamu ketahui.
Ragam pemakaian nahi beserta makna dan tujuannya :
1. Larangan yang menunjukkan haram, seperti pada QS [17] : 32
Dan janganlah kamu mendekati zina.
2. Larangan yang menunjukkan makruh, seperti pada HR Tirmidzi :
Janganlah kamu shalat dikandang unta (HR Tirmidzi).
3. Larangan yang mengandung perintah melakukan yang sebaliknya, seperti pada QS [31] : 13 :

Ingatlah ketika Luqman berkata kepada putranya sambil ia memberi pelajaran, Hai anakku !
Janganlah menyekutukan Allah; menyekutukan Allah sungguh suatu kedzaliman yang besar.
4. Nahi bermakna doa, seperti pada QS [2] : 286 :
Ya Tuhan kami, janganlah menghukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan; Ya
Tuhan kami, janganlah memikulkan kepada kami suatu beban berat seperti yang Engkau
bebankan kepada orang yang sebelum kami; Ya Tuhan kami, janganlah memikulkan kepada
kami beban yang tak mampu kami pikul.
5. Nahi bermakna bimbingan, seperti pada QS [5] : 101 :
Hai orang yang beriman! Janganlah tanyakan sesuatu, yang bila diterangkan menyusahkan
kamu.
6. Nahi menegaskan keputusasaan, seperti pada QS [66] : 7 :
Hai orang-orang kafir! Janganlah kamu berdalih hari ini! Balasan yang akan kamu peroleh
hanyalah atas apa yang kamu kerjakan.
7. Nahi untuk menenteramkan, seperti pada QS [9] : 40 :
Jangan sedih, Allah beserta kita.
XVI. Kaidah Wujuh (banyak makna) Nazhair (satu makna)
Wujuh adalah satu kata yang mempunyai banyak makna, sedangkan nazhair adalah kata yang
hanya mempunyai satu makna yang tetap.
Muqatil bin Sulaiman meriwayatkan yang disandarkan kepada Nabi : Seseorang tidak akan
benar-benar paham Al-Quran sebelum dia mengetahui makna yang beragam (wujuh) dari AlQuran.
Ibnu Asakir meriwayatkan sebuah hadits yang berasal dari Hammad Zaid, dari Ayyub, dari Abu
Qalabah, dari Abu Darda : Sesungguhnya engkau tidak akan benar-benar paham Al-Quran
sebelum engkau mengetahui makna-makna Al-Quran dalam berbagai ragam.
Diantara lafazh-lafazh yang termasuk dalam kategori wujuh adalah kata al-huda. As-Suyuthi
mengemukakan tujuh belas arti kata tersebut dalam berbagai tempat sebagai berikut :
1. Tsabat, tetap teguh
Teguhkanlah kami pada jalan yang lurus (QS Al-Fatihah [1] :6).
2. Al-bayan, menjelaskan

Merekalah yang berada dalam penjelasan tuhan dan mereka yang akan berhasil (QS AlBaqarah [2] : 5).
3. Ad-dien, agama
Katakanlah, Agama yang benar ialah agama . (QS [3] : 73).
4. Iman
Dan Allah menambah keimanan kepada mereka yang telah dikaruniai iman (QS [19] : 76).
5. Ad Dua, seruan
Dan orang-orang kafir berkata : Mengapa tidak diturunkan kepadanya sebuah ayat dari
Tuhannya ? Tetapi engkau adalah seorang pemberi peringatan, dan pada setiap golongan ada
seorang penyeru (QS [13] : 7).
6. Rasul dan kitab
Kami berfirman : Turunlah kamu sekalian dari sini. Maka apabila datang kepadamu Rasul dan
kitab Aku, siapapun mengikuti Rasul dan kitab-Ku tak ada kekhawatiran dan tak perlu sedih
(QS [2] : 38).
7. Al-Marifah, pengetahuan
Dan dia memancangkan diatas bumi gunung-gunung supaya tidak menggoyangkan kamu dan
sungai-sungai serta lorong-lorong supaya kamu mendapat petunjuk. Dan rambu-rambu dan
dengan bintang-bintang mereka mengetahui (QS [2] : 159).
8. Nabi Muhammad
Mereka menyembunyikan segala keterangan (ayat-ayat) dan Nabi yang kami turunkan setelah
dijelaskan dalam kitab kepada manusia, mereka mendapat laknat Allah dan laknat mereka yang
berhak melaknat. (QS [2] : 159).
9. Al-Quran
Itu hanya nama-nama yang kamu buat-buat sendiri, kamu dan moyang kamu, Allah tidak
memberi kekuasaan itu. Apa yang mereka ikuti hanyalah dugaan dan yang menyenangkan nafsu
sendiri. Padahal Al-Quran dari Tuhan sudah sampai kepada mereka. (QS [53] : 23).
10. Taurat
Dahulu telah kami berikan kepada Musa Taurat. Dan kami wariskan Kitab itu kepada Bani
Israil. (QS [40] : 53).
11. Al-Istirja, mohon perlindungan

Mereka berkata, bila ditimpa musibah Inna lillahi wa inna ilaihirojiun Kami milik Allah dan
kepadaNya pasti kami kembali. Mereka itulah yang mendapat karunia dan rahmat dari Tuhan
dan mereka itulah yang memohon perlindungan (QS Al-Baqarah [2] : 156-157).
12. Al Hujjah, argumen
Tidakkah tergambar olehmu orang yang berdebat dengan Ibrahim tentang Tuhannya karena ia
telah diberi kekuasaan ? Ibrahim berkata , Tuhanku Yang menghidupkan dan Yang
mematikan. Ia berkata : Akulah yang membuat hidup dan membuat mati. Ibrahim berkata,
Tapi Allah Yang menyebabkan matahari terbit dari Timur. Terbitkanlah kalau begitu, dari
Barat. Orang yang ingkar itu terkejut. Allah tidak memberi argumen kepada orang-orang yang
zalim. (QS Al-Baqarah [2] : 156-157).
13. Tauhid
Mereka berkata, Jika kami akan mengikuti ajaran tauhid bersamamu, tentulah kami akan diusir
dari tanah kami. (QS [28] : 57).
14. Sunnah, pedoman perilaku
Ataukah sudah Kami beri kitab kepada mereka sebelum itu, lalu mereka jadikan pegangan ?
Bahkan mereka berkata, Kami sudah melihat leluhur kami sudat menganut suatu agama, dan
kami berpedoman pada mereka. (QS [43] : 21-22).
15. Al-ishlah, pembenaran
Itulah supaya ia tahu bahwa aku tidak mengkhianatinya ketika ia tak ada, dan Allah tidak
membenarkan tipu muslihat para pengkhianat. (QS [12] : 52)
16. Ilham
Ia berkata : Tuhan kami ialah Yang telah memberikan setiap suatu (ciptaan) bentuk dan
kodratnya, kemudian mengilhaminya. (QS [20] : 50)
17. Taubat
Dan tetapkanlah untuk kami kehidupan yang baik, didunia dan diakhirat. Sungguh kami
bertobat kepadaMu, Ia berfirman, Azabku akan menimpa siapa-siapa yang Kukehendaki dan
rahmatKu meliputi segala sesuatu. Dan akan Kutetapkan (rahmatKu) untuk mereka yang
bertaqwa dan yang mengeluarkan zakat serta mereka yang beriman kepada ayat-ayat kami. (QS
[7] : 156)
Kata-kata lain yang termasuk wujuh adalah su, shalat, rahmah, fitnah, ruh, dzikr, din, dua.
Sedangkan contoh nazhair adalah kata al-barru yang selalu bermakna darat dan al-bahru
yang selalu bermakna laut. Misalnya dalam ayat :

1. QS Al-Anam [6] : 59
Dia mengetahui apa yang didarat dan dilaut.
2. QS Yunus [10] : 22
Dialah yang memungkinkan kamu menjelajahi daratan dan lautan.
3. QS Al-Isra [17] : 70
Kami telah memberi kehormatan kepada anak-anak Adam; Kami lengkapi mereka dengan
sarana angkutan di darat dan di laut.
Fenomena wujuh dalam Al-Quran merupakan fenomena kewahyuan, dimana seorang pembaca
Al-Quran akan mendapatkan bahwa ayat-ayatnya menampakkan wajah nya dari perpekstif dan
latar belakang ia membacanya, seperti permukaan berlian yang memberikan cahaya yang
beragam dari semua sudut pandang yang berbeda-beda.
XVII. Kaidah Isim (kata benda) Fiil (kata kerja)
Menurut As Suyuthi, isim menunjukkan tetapnya keadaan dan kelangsungannya. Sedangkan fiil
menunjukkan timbulnya sesuatu yang baru dan terjadinya suatu perbuatan. Masing-masing kata
tersebut mempunyai tempat tersendiri yang tidak bisa dipertukarkan satu dengan yang lain untuk
tetap menghadirkan makna yang sama. Hakikat makna yang dikandung ayat berbeda, dengan
perkataan kata yang digunakan.
A. Beberapa contoh ayat yang menggunakan isim :
1. QS Al-Kahfi [18] : 18 :
Engkau mengira mereka bangun, padahal mereka tidur dan kami bolak-balikkan mereka ke
kanan dan ke kiri; anjing mereka merentangkan kedua kaki depannya diambang pintu. Kalau
engkau melihat mereka, tentu engkau akan berbalik lari dari mereka dan penuh rasa takut.
Ayat tersebut menggambarkan tentang keadaan anjing ashabul kahfi ketika tidur didalam gua.
Anjing itu dalam keadaan kaki terentang selama mereka tidur. Keadaan demikian diungkapkan
dengan menggunakan isim (kata benda), tidak dengan fiil (kata kerja). Penggunaan isim tersebut
lebih menggambarkan tetapnya keadaan anjing sepanjang waktu itu.
2. QS Al Hujurat [49] : 15 :
Orang-orang yang mukmin ialah yang beriman kepada Allah dan RasulNya dan tak pernah ragu
berjuaang di jalan Allah dengan harta dan nyawa. Mereka itulah orang-orang yang tulus hati.
Iman adalah hakikat yang harus tetap berlangsung atau ada, selama keadaan menghendaki,
seperti halnya ketaqwaan, kesabaran dan sikap syukur. Penggunaan isim muminun

menggambarkan keadaan pelakunya yang terus berlangsung dan berkesinambungan. Ia tidak


terjadi secara temporer. Mukmin adalah sebutan untuk orang yang keberadadannya senantiasa
diliputi iman.
B. Beberapa contoh ayat yang menggunakan fiil :
1. QS Al-Baqarah [2] : 274 :
Mereka yang menyumbangkan harta, siang dan malam, dengan sembunyi atau terang-terangan,
pahala mereka pada Tuhan. Mereka tak perlu khawatir dan tak perlu sedih.
Kata yunfiqun (meng-infaq-kan) pada ayat diatas menunjukkan keberadaannya sebagai tindakan
yang bisa ada dan bisa juga tidak, sebagai sesuatu yang temporal. Manakala seseorang
melakukan pekerjaan ituia berolah pahala dan jika meninggalkan ia tidak memperolah pahala.
2. QS Asy-Syuara [26] : 78-82 :
Yang menciptakan aku, dan Dialah Yang membimbingku; Yang memberi aku makan dan
minum. Dan bila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku; Yang akan membuatku mati, dan
kemudian menghidupkan aku (kembali). Dan kuharapkan mengampuni dosa-dosaku pada hari
perhitungan.
Isim khalaqa dalam ayat tersebut menunjukkan telah terjadi dan selesainya penciptaan pada
waktu yang lampau, sedang fiil yahdi dan lain-lainnya dalam rangkaian ayat tersebut
menunjukkan terus berlangsungnya perbuatan itu waktu demi waktu berangsur-angsur hingga
sekarang.
XVIII. Kaidah Mufrad (tunggal) Jamak (berbilang)
Mufrad adalah sebutan untuk kata benda (isim) yang menunjukkan satu atau tunggal. Sedangkan
Jamak adalah sebutan untuk kata benda (isim) yang berarti lebih dari satu atau banyak.
Kaidah Mufrad-Jamak dalam Al-Quran :
1. Kata yang selalu disebutkan dalam bentuk mufrad (tunggal) misalnya : ardh (bumi), shirath
(jalan), nur (cahaya).
2. Kata-kata yang selalu disebutkan dalam bentuk jamak, misalnya : lubb-albab (orang orang
yang memikirkan), kub-akwab (piala-piala).
3. Kata yang dipergunakan dalam bentuk mufrad dan jamak untuk maksud atau konteks yang
berbeda. Kata-kata tersebut antara lain : Sama samawat, rih riyah, sabil subul, maghrib
magharib, masyriq masyariq.

Kata sama dalam bentuk jamak adalah untuk menyebut bilangan atau untuk menunjukkan
betapa luasnya. Dan dalam bentuk mufrad jika yang dimaksud adalah arah atas, sebagai lawan
bawah.
Kata rih biasanya disebutkan dalam bentuk mufrad jika digunakan dalam konteks azab dan
digunakan dalam bentuk jamak jika digunakan dalam konteks rahmat.
Kata sabil disebutkan dalam bentuk mufrad, jika digunakan dalam konteks kebenaran dan
disebutkan dalam bentuk jamak jika untuk jalan kesesatan.
Kata masyriq dan maghrib dimufradkan untuk menunjukkan arah, di jamak kan jika
menunjukkan dua tempat terbit dan dua tempat terbenam, yakni musim dingin dan musim panas.
Dijamakkan karena keduanya adalah tempat terbit dan tempat terbenam setiap hari.
XIX. Kaidah Dhamir (Kata Ganti), Tadzkir (penunjuk laki-laki) dan Tanits (penunjuk
perempuan).
Dhamir (kata ganti) berfungsi untuk menghindari pemborosan kata-kata, mempersingkat
perkataan, tanpa mengubah maknanya, contohnya :
Sungguh, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang taat, laki-laki dan
perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, tabah, laki-laki dan perempuan yang
khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa,
laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatan, laki-laki dan perempuan yang banyak
mengingat Allah, bagi mereka Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar (QS 33 : 35)
kata hum yaitu mereka pada akhir ayat menggantikan 25 kata yang disebutkan sebelumnya.
Dhamir mempunyai kata yang digantikan yang disebut isim zhahir (kata yang disebutkan dengan
jelas) dan isim marji (tempat kembali).
Dhamir terdiri atas tiga macam :
1. Kata ganti orang pertama, menggunakan dhamir mutakallim.
2. Kata ganti orang kedua, menggunakan dhamir mukhatab.
3. Kata ganti orang ketiga, menggunakan dhamir ghaib.
Tadzkir (penunjuk laki-laki) adalah kata-kata yang menunjukkan jenis gender laki-laki
(mudzakkar) dan tanits (penunjuk perempuan) adalah kata-kata yang menunjukkan jenis gender
perempuan (muannats). Untuk mendalami masalah ini silahkan mempelajari ilmu nahwu
(gramatika) Bahasa Arab.
XX. Kaidah Tarif (Isim Makrifah) dan Tankir (Isim Nakirah)
Isim Makrifah adalah kata benda tertentu, mempunyai beberapa fungsi, antara lain :

1. Tarif dengan isim dhamir (kata ganti) untuk meringkas kalimat, contoh QS 33 : 35 :
Sungguh, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang taat, laki-laki dan
perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, tabah, laki-laki dan perempuan yang
khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa,
laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatan, laki-laki dan perempuan yang banyak
mengingat Allah, bagi mereka Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar.
2. Tarif dengan nama diri berfungsi untuk beberapa maksud :
a. Menghadirkan pemilik nama itu dalam hati pendengar dengan cara menyebut namanya yang
khas, contoh QS 112 : 1-2 : Katakanlah, Dia lah Allah, Yang Maha Esa, Allah Yang Kekal,
Yang Mutlak
b. Memuliakan atau mengungkap identitas, contoh QS 48 : 29 : Muhammad adalah utusan
Allah, orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, kasih-sayang
antara sesamanya, akan kau lihat mereka rukuk dan sujud (dalam shalat), mencari karunia Allah
dan ridhaNya.
c. Menghinakan atau meremehkan, contoh QS 111 : 1 : Binasalah kedua tangan Abu Lahab,
binasalah dia.
3. Tarif dengan isim isyarah (kata penunjuk), untuk maksud tertentu
a. Menjelaskan yang ditunjuk itu dekat, dengan kata penunjuk hadza atau hadzihi, contoh
QS 31 : 11
b. Menjelaskan bahwa sesuatu yang ditunjuk itu jauh, dengan kata penunjuk : dzalika, tilka,
ulaika.
c. Menjelaskan keagungan yang ditunjuk dengan menggunakan kata penunjuk jauh : dzalika,
contoh QS 2 : 2.
d. Menghinakan dengan kata penunjuk dekat, contoh QS : 29 : 64.
4. Tarif dengan isim maushul karena beberapa alasan :
a. Karena tidak disukai penyebutan namanya untuk menutupi atau merendahkan, contoh QS 46 :
17
b. Untuk menunjukkan umum, contoh QS 29: 69.
c. Untuk meringkas kalimat, contoh QS 33 : 69.
5. Tarif dengan alif dan lam, antara lain berfungsi untuk :

a. Menunjukkan sesuatu yang sudah diketahui, karena sudah disebutkan sebelumnya.


b. Menunjukkan sesuatu yang sudah diketahui oleh pendengar.
c. Menunjukkan hakikat makna secara keseluruhan.
d. Menunjuk seluruh pengertian yang tercakup didalamnya.
6. Tarif dengan idhafah, antara lain berfungsi sebagai berikut :
a. Memuliakan, contoh QS 15 : 42.
b. Menunjuk pengertian umum, contoh QS 35 : 3.
Isim Nakirah adalah kata benda tak tentu, digunakan untuk beberapa fungsi, antara lain sbb :
1. Menunjukkan tunggal, contoh QS Yasin [28] : 20 : Dan seorang laki-laki datang tergesa-gesa
dari ujung kota. Kata rajulun maksudnya seorang laki-laki.
2. Menunjukkan ragam-macam, contoh QS Al-Baqarah [2] : 96 : Sungguh akan kau dapati
merekalah orang yang paling serakah ingin hidup. Yaitu ragam kehidupan, mencari tambahan
untuk masa depan.
3. Menunjukkan tunggal dan ragam sekaligus, contoh QS An-Nur [24] : 45 : Allah menciptakan
semua yang melata dari air. Maksudnya, setiap macam dari segala macam binatang itu berasal
dari suatu macam air dan setiap individu (satu) binatang itu berasal dari satu nutfah.
4. Mengagungkan atau memuliakan, contoh QS Al-Baqarah [2] : 279 : Jika kamu lakukan,
ketahuilah, suatu pernyataan perang dari Allah dan Rasulnya. Kata harb berarti peperangan
yang dahsyat .
5. Menunjukkan jumlah yang banyak, contoh QS Asy-Syuara [26] : 42 : Setelah ahli-ahli sihir
datang, mereka berkata kepada Firaun, Tentu kami akan mendapat imbalan bila kami yang
menang ?. Kata ajran ialah pahala yang banyak.
6. Mengagungkan dan menunjukkan arti banyak sekaligus, contoh QS Fatir [35] : 4: Kalau
mereka mendustakan engkau, Rasul-Rasul sebelummu pun sudah didustakan dan kepada Allah
segala persoalan dikembalikan. Maksudnya, Rasul-Rasul yang mulia dan banyak jumlahnya.
7. Untuk merendahkan, contoh QS Abasa [80] : 18 : Dari bahan apakah Ia menciptakan ? Dari
setetes air mani. Ia menciptakan, lalu membentuknya menurut ukuran.
8. Menyatakan jumlah yang sedikit, contoh QS At-Taubah [9] : 72 : Allah menjanjikan kepada
orang yang beriman, laki-laki dan perempuan (yaitu) taman-taman surga . Dan keridlaan Allah
lebih besar. Itulah kemenangan yang gemilang. Artinya ridla Allah yang sedikit itu lebih besar
daripada surga-surga yang ada, kerena merupakan pangkal kebahagiaan.
9. Menunjukkan pengertian umum jika nakirah tersebut mengandung unsur nafyi atau nahyi atau
syarth atau istifham, contoh QS 82 : 19 : Hari ketika tak seorang pribadi pun berkuasa atas

pribadi yang lain dan segala urusan hari itu hanyalah semata pada Allah. Kata nafs dalam ayat
tersebut bersifat umum, siapapun orangnya sama, tidak dapat membantu orang lain.
XXI. Kaidah Hadzful Maful (membuang obyek kalimat)
Kaidah hadzful maful adalah pembuangan obyek dalam kalimat. Apabila suatu kata kerja (fiil)
atau yang mengandung arti kata kerja, dihubungkan dengan suatu obyek tertentu, pengertiannya
menjadi terbatas hanya pada kata yang berkaitan. Akan tetapi jika obyek kata itu ditinggalkan
(tidak disebutkan) maka kata tersebut mengandung pengertian yang lebih luas dan umum.
Contoh-contoh :
1. QS Al-alaq [96] : 1-3
Bacalah dengan nama Tuhanmu dan Penjagamu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari
segumpal darah beku. Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah.
Dalam ayat diatas setelah kata Bacalah tidak ditemukan obyek (maful). Padahal lazimnya kata
kerja memerlukan obyek atau sasaran yang dikenai pekerjaan.
Suatu kaidah dari hadzful maful adalah bahwa satu kata yang dalam susunan redaksinya tidak
menyebutkan obyeknya, maka obyek yang dimaksud bersifat umum, mencakup segala sesuatu
yang dapat dijangkau oleh kata tersebut. Dalam contoh diatas, kata bacalah mencakup segala
yang dapat dibaca baik yang tersirat (tulisan) maupun yang tersurat (tanda-tanda/gejala alam
semesta).
2. QS An Nahl [16] : 43
Maka bertanyalah kepada ahl dzikr (ahli ilmu).
Kata bertanyalah diatas tidak dijelaskan obyeknya, bertanya tentang apa. Jadi diperintahkan
bertanya mengenai segala sesuatu yang belum diketahui.
XXII. Kaidah Istifham (pertanyaan mencari pemahaman)
Istifham adalah mencari pemahaman tentang sesuatu hal yang belum diketahui.
Kata tanya (adatul istifham) terbagi dalam dua kategori :
a. Huruf istifham, berupa hamzah dan hal yang artinya apakah.
Huruf hamzah, digunakan untuk menanyakan tentang apa atau siapa yang jawabannya
memerlukan ya atau tidak, seperti pada QS [5] : 116 :

Dan ingatlah ketika Allah berfirman, Hai Isa putra Maryam! Engkaukah yang berkata kepada
orang : Sembahlah aku dan ibuku sebagai tuhan selain Allah ? Ia berkata, Maha suci Engkau!
Tidak sepatutnya aku mengatakan apa yang bukan menjadi hakku.
Lafazh hal, adalah kata tanya untuk konfirmasi, yang memerlukan jawaban : Ya atau tidak,
seperti pada QS [76] : 1 :
Bukankah sudah berlalu pada manusia masa yang panjang dari waktu ketika dia bukan apa-apa
(bahkan) tidak disebut-sebut ?.
b. Isim istifham, yaitu semua kata tanya selain yang nomor 1, yaitu : apa (ma), siapa (man),
bagaimana (kaifa), kapan (mata), bilamana (ayyana), dari mana (anna), berapa (kam), dimana
(aina), apa, siapa (ayyu)
a. Lafazh ma (apa), digunakan untuk menanyakan sesuatu yang tak berakal, seperti pada QS [74]
: 42-43 :
Apa yangmembawa kamu kedalam api neraka ? Mereka berkata , Kami tidak termasuk
golongan orang yang shalat.
b. Lafazh man (siapa), untuk menanyakan makhluk berakal, seperti pada QS [2] : 245 :
Siapakah yang hendak meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, yang akan Ia lipat
gandakan gantinya dengan sebanyak-banyaknya? Allah akan memberi (kepadamu) kesempitan
dan kelapangan (rejeki), dan kepadaNya kamu dikembalikan.
c. Lafazh mata (kapan), digunakan untuk menanyakan waktu, baik yang lampau maupun yang
akan datang, seperti pada QS [2] : 241 :
Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga tanpa suatu cobaan seperti dialami
mereka sebelum kamu? Mereka mengalami penderitaan dan malapetaka dan jiwa mereka begitu
tergoncang, sehingga Rasul pun berkata bersama orang-orang yang beriman , Bilakah
datangnya pertolongan Allah? Ya, sungguh pertolongan Allah sudah dekat!
d. Lafazh ayyana (bilamana), digunakan untuk menanyakan sesuatu berkenaan dengan waktu
mendatang, seperti pada QS [75] : 6 :
Ia bertanya, Bilakah hari kiamat itu ?
e. Lafazh kaifa (bagaimana), untuk menanyakan keadaan sesuatu, seperti pada QS [3] : 101 :
Dan bagaimana kamu akan mengingkari padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu dan
ditengah-tengah kamu pun ada Rasul-Nya?
f. Lafazh anna (dari mana), untuk menanyakan asal-usul, seperti pada QS [19] : 8 :

Dia berkata, Tuhanku, bagaimana aku akan mendapatkan anak, sedang istriku mandul dan aku
sudah dalam usia renta ?
g. Lafazh kam (berapa), digunakan untuk menanyakan jumlah atau bilangan, seperti pada QS [2]
: 259 :
Atau seperti orang yang melewati sebuah dusun yang sudah runtuh sampai ke atap-atapnya, ia
berkata, Oh, bagaimana Allah menghidupkan semua ini setelah mati ? lalu Allah membuat
orang itu mati selama seratus tahun kemudian membangkitkannya kembali. Lalu Allah bertanya,
Berapa lama kamu tinggal disini ? Ia menjawab, Saya tinggal disini sehari atau setengah
hari. Allah berfirman, Tidak, bahkan seratus tahun.
h. Lafazh aina (dimana), digunakan untuk menanyakan tempat, seperti pada QS [81] : 26 :
Maka kemanakah kamu akan pergi ?
i. Lafazh ayyu, untuk menanyakan apa atau siapa, seperti pada QS [6] : 81 :
Manakah dari kedua golongan yang lebih berhak mendapat keamanan? (katakanlah) jika kamu
mengerti.
XXIII. Kaidah Tanya Jawab
A. Ragam Tanya Jawab
Suatu riwayat asbabun nuzul menyebutkan bahwa sekelompok orang bertanya kepada Nabi
Muhammad tentang bulan sabit, mengapa mula-mula terlihat kecil seperti benang, lalu
bertambah sedikit demi sedikit hingga purnama, kemudian berkurang lagi hingga kembali ke
keadaan semula. Untuk menjawab hal itu maka Allah menurunkan ayat QS Al-Baqarah [2] : 189
:
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan-bulan baru. Katakanlah, itu tanda-tanda waktu untuk
manusia dan untuk musim haji.
Jawaban yang diberikan tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang ditanyakan. Jawaban
demikian merupakan kehendak Allah. Maksudnya, jawaban itulah yang seharusnya ditanyakan.
Redaksi semacam ini oleh Al-Salaki, seperti dikutip As-Suyuthi disebut uslub hakim.
Adakalanya jawaban yang diberikan lebih luas dari yang ditanyakan, misalnya dalam QS [6] :
63-64 :
Katakanlah , Siapakah yang menyelamatkan kamu dari bahaya yang mengerikan di darat dan
di laut, kamu berdoa kepadaNya dengan rendah hati dan suara lembut. Sekiranya Dia
menyelamatkan kami dari (bahaya) ini tentulah kami akan bersyukur ? Katakanlah, Allah
akan menyelamatkan kamu dari segala bencana. Namun kamu kemudian mempersekutukannya
!

Adakalanya jawabannya lebih sempit cakupannya daripada yang ditanyakan. Misalnya pada QS
[10] : 15 :
Bila kepada mereka ayat-ayat Kami dibacakan dengan jelas, mereka yang tidak mengharapkan
bertemu dengan Kami berkata, Bawakanlah bacaan lain dari ini, atau gantilah ! Katakanlah,
Tiada semestinya aku menggantikannya atas kemauanku sendiri. Aku hanya mengikuti apa
yang diwahyukan kepadaku. Jika tidak mentaati Tuhanku aku takut akan azab hari maha dahsyat
(yang akan datang).
B. Bentuk-Bentuk Pertanyaan dan Jawaban Dalam Al-Quran
1. Jawaban bersambungan dengan pertanyaan, contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 215 :
Mereka bertanya kepadamu, apa yang mereka nafkahkan, Katakanlah : Apa saja yang baik yang
kamu nafkahkan hendaknya kepada ibu-bapak dan kearabat, kepada anak yatim dan orang
miskin dan kepada orang terlantar dalam perjalanan. Dan segala perbuatan baik yang kamu
lakukan, Allah mengetahuinya.
2. Jawaban terpisah, baik terdapat dalamsatu surat maupun dalam dua surat yang berlainan,
contohnya pada QS [25] : 7 :
Dan mereka berkata : Rasul macam apa ini, makan makanan dan berjalan di pasar-pasar ?
Kenapa tidak diturunkan seorang malaikat kepadanya dan bersama-sama memberi peringatan.
Jawabannya ada pada ayat yang berbeda, yaitu ayat 20 pada surat yang sama :
Dan Rasul-Rasul yang kami utus sebelummu, mereka memakan makanan dan berjalan-jalan di
pasar.
3. Dua jawaban dalam satu surat untuk satu pertanyaan, contohnya QS [43] : 31-32 :
Mereka berkata, Mengapa Al-Quran ini tidak diturunkan kepada orang penting dari kedua
kota ini ? Ataukah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu ? Kamilah yang membagibagikan penghidupan diantara mereka.
4. Jawaban lainnya ada pada QS [28] : 68 :
Dan tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Ia kehendaki. Bagi mereka tak ada pilihan.
5. Pertanyaan yang tidak diberikan atau tidak memerlukan jawaban, contohnya pada QS [47] : 14
:
Adakah orang yang berpegang pada (jalan) yang terang dari Tuhannya, sama dengan orang
yang menganggap indah perbuatannya yang buruk dan mengikuti hawa nafsu mereka ?
6. Jawaban yang disebutkan mendahului pertanyaan, contohnya pada QS [38] : 4

Shad, demi Al-Quran yang penuh peringatan.


Ayat diatas sebagai jawaban atas pertanyaan keheranan orang musyrik Mekkah yang disebutkan
lebih dahulu dari pertanyaan keheranan mereka pada ayat sesudahnya, yaitu QS [38] : 4 :
Mereka keheranan ada seorang pemberi peringatan datang dari kalangan mereka sendiri, orangorang kafir lalu berkata : dia seorang seorang tukang sihir dan pendusta.
XXIV. Kaidah Syarat Jawab
Dalam ilmu nahwu (tata bahasa Arab), kata-kata syarat (adawatusy-yarth) itu terbadi dalam dua
bagian :
1. Kata syarat yang menjazamkan fiil : in, idzma, ma, mata, man, kaifama, haitsuma, aina,
ayyana, ayyun dan mahma.
2 Kata syarat yang tidak menjazamkan : lau, laula, idza, kullama dan lamma.
Kalimat yang didahului dengan kata syarat dinamakan jumlah syarthiyyah.
Beberapa Contoh Kata Syarat Dalam Al-Quran :
1. In (jika) dalam QS Al-Baqarah [2] : 284.
2. Idza (bila, jika) dalam QS [110] : 1-3.
3. Man (barang siapa) dalam QS [4] : 110.
4. Mahma (apapun) dalam QS [7] : 132
5. Aina (dimana) dalam QS [4] : 78.
6. Ayyun (apa) dalam QS [17] : 110.
7. Lau (jikalau, kiranya) dalam QS [9] : 42.
Perbedaan Penggunaan In dan Idza :
Menurut ketentuan asal, mutakallim (orang pertama) tidak bisa memastikan terjadinya apa yang
disyaratkan di waktu mendatang. Untuk itu digunakan kata syarat in. Ia dipakai dalam kondisi
yang jarang terjadi dan harus bedampingan dengan lafazh mudhari (kata kerja sekarang atau
yang akan datang), sebab terdapat segi keraguan tentang terjadinya.
Adapun kata syarat idza, menurut asalnya dipakai dalam keadaan mutakallim optimis terjadinya
apa yang disyaratkan dimasa yang akan datang. Oleh karena itu, idza tidak dipakai kecuali dalam
beberapa keadaan yang banyak terjadi dan berdampingan dengan bentuk madhi (kata kerja

bentuk lampau), karena bentuk ini menunjukkan hal yang pasti terjadi, contohnya dalam QS [7] :
131 :
Bila mereka mangalami musim yang baik, mereka berkata, Inilah usaha kami. Tetapi jika
mereka ditimpa yang buruk, mereka melemparkan sebab-sebabnya pada Musa dan pengikutnya.
Ketahuilah, nasib mereka ditangan Allah; tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Hadzf Jawabusy Syarth
Menurut As Sadi yang dikutip Abd. Rahman Dahlan dalam bukunya Kaidah-Kaidah Penafsiran
Al-Quran, apabila jawabusy-syarth dari jumlah syartiyyah dibuang, itu menunjukkan
pentingnya masalah yang dibicarakan. Jika ia membicarakan masalah siksa maka itu
menunjukkan dahsyatnya siksaan tersebut, contohnya :
Sekiranya engkau dapat melihat ketika orang-orang jahat menundukkan kepala dalam-dalam
dihadapan Tuhan (sambil berkata), Tuhan, kami melihat dan mendengar. Maka kembalikanlah
kami (ke dunia); kami akan mengerjakan amal kebaikan. Sungguh, (sekarang) kami telah yakin.
(QS [32] : 12).
Sekiranya kau lihat ketika mereka dalam ketakutan, tapi tak dapat melarikan diri, dan keadaan
mereka ditangkap dari tempat yang dekat dan mereka berkata, Kami sekarang percaya (pada
kebenaran). Tapi bagaimana mereka akan beriman dari tempat yang jauh dan sebelumnya
mereka sudah menolaknya dan mereka (terus-menerus) melemparkan (penghinaan) kepada yang
ghaib dari tempat yang jauh. (QS [34] : 51-53).
XXV. Kaidah Petunjuk Kata (Dalalah Lafazh)
Petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna adakalanya berdasarkan pada bunyi (mantuq, makna
eksplisit yang tersirat) dan adakalanya pula berdasarkan pemahaman (mafhum, makna implisit
yang tersirat).
A. Mantuq
Mantuq adalah makna lahir yang tersurat (eksplisit) yang tidak mengandung kemungkinan
pengertian ke makna yang lain.
Mantuq terdiri atas 5 (lima) kategori :
1. Nash, ialah lafazh yang bentuknya sendiri telah dapat menunjukkan makna yang dimaksud
secara jelas (sharih), tidak mengandung kemungkinan makna lain. Contohnya pada QS AlBaqarah [2] : 196 :
Maka (wajib) berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang
kembali,
itulah sepuluh (hari) yang sempurna.

Penyifatan sepuluh dengan sempurna telah mematahkan kemungkinan Sepuluh ini


diartikan lain secara majaz (kiasan). Inilah yang dimaksud dengan nash.
2. Zahir, ialah lafazh yang menunjukkan sesuatu makna yang segera dipahami ketika ia
diucapkan tetapi disertai kemungkinan makna lain yang lemah (marjuh). Jadi zahir itu sama
dengan nash dalam hal petunjuk lafazhnya kepada bunyi yang tersurat. Namun dari segi lain ia
berbeda dengan nash, karena zahir masih disertai kemungkinan menerima makna lain meskipun
lemah. Misalnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 173 famanidlthurro ghaira baghi wa la ad.
Lafazh al-bagh digunakan untuk makna al-jahil (bodoh, tidak tahu) dan az-zalim
(melampaui batas, zalim). Tetapi pemakaian untuki makna kedua lebih tegas dan populer
sehingga makna inilah yang kuat (rajih), sedang makna yang pertama lemah (marjuh), Juga
dalam QS Al-Baqarah [2] : 222 :
Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka bersuci .
Berhenti haid dinamakan suci (tuhr), berwudhu dan mandi pun disebut tuhr. Namun
penunjukan kata tuhr kepada makna kedua (mandi) lebih tepat, jelas (zahir) sehingga itulah
makna yang rajih (kuat), sedangkan penunjukan kepada makna yang pertama (berhenti haid)
adalah marjuh (lemah).
3. Muawwal, adalah lafazh yang diartikan dengan makna marjuh karena ada sesuatu dalil yang
menghalangi dimaksudkannya makna yang lebih rajih. Muawwal berbeda dengan zahir; zahir
diartikan dengan makna yang rajih sebab tidak ada dalil yang memalingkannya kepada yang
marjuh, sedangkan muawwal diartikan dengan makna marjuh karena ada dalil yang
memalingkannya dari makna rajih. Akan tetapi masing-masing kedua makna ini ditunjukkan
oleh lafazh menurut bunyi ucapan yang tersurat. Misalnya dalam QS rendahkan SAYAP
4. Dalalah istida adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat terkadang
bergantung pada sesuatu yang tidak disebutkan. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] ; 184 :
Maka jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan, maka (wajiblah berpuasa)
sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain.
Ayat ini memerlukan suatu lafazh yang tidak disebutkan yaitu lalu ia berbuka, sebab
kewajiban qada puasa bagi musafir itu hanya apabila ia berbuka dalam perjalanannya itu.
Sedangkan jika ia tetap berpuasa maka baginya tidak ada kewajiban qada. Contoh yang lain pada
QS An-Nisa [4] : 23 :
Diharamkan atas kamu ibu-ibumu
Ayat ini memerlukan adanya adanya kata-kata yang tidak disebutkan, yaitu kata bersenggama,
sehingga maknanya yang tepat adalah diharamkan atas kamu (bersenggama) dengan ibuibumu.
5. Dalalah Isyarah adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat
berdasarkan kepada isyarat lafazh. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] ; 187 :

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka
adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui
bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan
memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutiah apa yang telah
ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga jelas bagi kamu benang putih dari
benang hitam, yaitu fajar
Ayat ini menunjukkan sahnya puasa bagi orang-orang yang pagi-pagi hari masih dalam keadaan
junub, sebab ayat ini membolehkan berc ampur sampai dengan terbit fajar sehingga tidak ada
kesempatan untuk mandi. Keadaan demikian menuntut atau memaksa kita berpagi dalam
keadaan junub. Membolehkan melakukan penyebab sesuatu berarti membolehkan pula
melakukan sesuatu itu. Maka membolehkan bercampur sampai pada bagian waktu terakhir dari
malam yang tidak ada lagi kesempatan untuk mandi sebelum terbit fajar, berarti membolehkan
juga berpagi dalam keadaan junub.
B. Mafhum
Mafhum adalah makna yang ditunjukkan oleh lafazah tidak berdasarkan pada bunyi ucapan yang
tersurat, melainkan berdasarkan pada pemahaman yang tersirat.
Mafhum terdiri atas 2 (dua) jenis :
a. Mafhum muwafaqah (perbandingan sepadan), yaitu makna yang hukumnya sepadan dengan
mantuq.
1. Fahwal khitab, yaitu apabila makna yang dipahami itu lebih harus diambil hukumnbya
daripada mantuq. Misalnya pada QS Al-Isra [17] : 23 :
Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya (orang tua) perkataan ah .
Ayat ini mengharamkan perkataan ah yang tentunya akan menyakiti hati kedua orang tua,
maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah), perbuatan lain seperti
mencaci-maki, memukul lebih diharamkan lagi, walaupun tidak disebutkan dalam teks ayat.
2. Lahnul Khitab, yaitu apabila mafhum sama nilainya dengan hukum mantuq. Misalnya pada
QS An-Nisa [4] : 10 :
Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka
itu menelan api sepenuh perutnya
Ayat ini melarang memakan harta anak yatim, maka dengan pemahaman perbandingan sepadan
(mafhum muwafaqah), perbuatan lain seperti : membakar, menyia-nyiakan, merusak,
menterlantarkan harta anak yatim juga diharamkan.
b. Mafhum Mukhalafah (perbandingan terbalik), yaitu makna yang hukumnya kebalikan dari
mantuq.

3. Mafhum sifat, yang dimaksud adalah sifat manawi, contohnya pada QS Al-Hujurat [49] : 6 :
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka
periksalah dengan teliti
Ayat ini memerintahkan bertabayun (memeriksa, meneliti) berita yang dibawa oleh orang
fasik. Maka dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) bahwa berita
yang dibawa oleh orang yang tidak fasik tidak perlu diperiksa, diteliti. Ini berarti berita dari
orang yang adil dan tsiqoh wajib diterima.
4. Mafhum syarat, yaitu memperhatikan syaratnya. Contohnya seperti pada QS At-Talaq [65] : 6
:
Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada
mereka nafkah.
Dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) berarti istri yang ditalak tidak
sedang dalam keadaan hamil, tidak wajib diberi nafkah.
5. Mafhum gayah (maksimalitas), misalnya pada QS Al-Baqarah [2] : 230 :
Kemudian jika suami mentalaknya (sesudah talak kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi
baginya hingga ia kawin dengan suami yang lain
Dengan pemahaman terbalik, maka bila mantan istri yang sudah ditalak tiga kali kemudian
menikah lagi dengan lelaki lain dan kemudian bercerai maka menjadi halal dikawin lagi.
6. Mafhum hasr (pembatasan, hanya), misalnya pada QS Al-Fatihah [1] : 5 :
Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan

Dengan pemahaman terbalik maka tidak boleh menyembah selain Allah dan tidak boleh
memohon pertolongan kepada selain Allah.
XXVI. Kaidah Makna Kata (lafazh)
A. Makna Hakikah (lahir)
Makna hakihah adalah makna lahir (harfiah/lughawiyah).
Hakikah diklasifikasikan menjadi :
1. Lughawiyyah Wadhiiyyah, yaitu kata yang digunakan untuk menunjukkan makna hakiki
berdasarkan konteks penggunaan asal kata tersebut. Selain itu biasa disebut pula dengan hakikah
al lughawiyyah saja. Misalnya kata rajul yang digunakan untuk menyebut laki-laki dewasa.

2. Lughawiyya Manqulah, yaitu kata yang digunakan untuk menunjukkan makna hakiki setelah
mengalami transformasi makna, baik yang dilakukan oleh ahli bahasa maupun pembuat syariat.
Kata jenis ini, bisa diklasifikasikan menjadi dua bagian, sebagai berikut :
a. Al-Urfiyyah, yaitu transformasi makna dari makna asal karena kebiasaan. Misalnya kata addabbah (hewan melata) menjadi makna lain yang lebih populer. Berdasarkan asal maknanya
mempunyai konotasi semua mahkluk hidup yang melata dimuka bumi, yang meliputi manusia
dan hewan. Kemudian digunakan orang Arab dengan konotasi hewan berkaki empat sehingga
makna asalnya ditinggalkan.
b. As-Syariyyah, yaitu kata yang mengalami transformasi makna dari makna asal kepada makna
lain yang digunakan oleh pembuat syariat. Karena yang melakukan transformasi adalah yang
membuat syariat, maka konotasi maknanya harus berdasarkan dalil syariat. Misalnya kata shalat,
zakat, shiyam (puasa), kafir, haji dan lain-lain.
B. Makna Majaz (kiasan)
Makna majaz adalah makna yang digunakan tidak sesuai dengan asal makna kata yang lahir
karena ada indikasi yang menghalangi diartikan dengan makna hakiki.
Klasifikasi makna majaz :
1. Istiarah, yaitu meminjam kata asal untuk digunakan dengan makna baru disebabkan adanya
persamaan diantara masing-masing, contohnya wajah yang elok dengan dengan bulan purnama :
wajah anda bagai bulan purnama.
Istiarah dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Istiarah Tashrihiyyah, untuk menjelaskan persamaan yang disamakan dengan persamaannya,
misalnya pada QS Ibrahim [14] : 1 :
Alif lam ra. (Ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan
manusia dari gelap-gulita menuju cahaya.
Kata gelap-gulita dipinjam sebagai kiasan untuk kesesatan, kekufuran dan kata cahaya
dipinjam sebagai kiasan untuk petunjuk, keimanan.
b. Istiarah Makaniyyah, obyek yang menjadi kiasan dibuang, kemudian digantikan dengan kata
yang mencerminkan sifatnya yang dominan, misalnya pada QS Al-Isra [17] : 24 :
Rendahkanlah sayapmu terhadap mereka berdua (ibu-bapak) dengan penuh kash sayang dan
ucapkanlah, Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah
mendidik aku waktu kecil.
Obyek yang menjadi kiasan yang sebenarnya adalah burung, namun kata burung dihilangkan
digantikan dengan sifat burung yang dominan yaitu sayap.

c. Istiarah Takhyiliyyah, menetapkan keberadaan obyek yang menjadi kiasan bagi yang
dijadikan kiasan, sehingga pihak yang diseru akan membayangkan bahwa yang dijadikan kiasan
tersebut sejenis dengan yang menjadi kiasan. Misalnya pada QS Al-Mulk : [67] : 8 :
Hampir-hampir (neraka) itu meledak-ledak lantaran marah. Setiap kali dilemparkan kedalamnya
sekumpulan (orang-orang) kafir, penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, Apakah
belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan ?
d. Istiarah Tamtsiliyyah, ini berupa susunan kata yang tidak digunakan pada tempatnya. Hal itu
disebabkan adanya hubungan persamaan, yaitu dengan dihilangkannya wujud persamaannya dari
beberapa perkara, misalnya pada QS Al-Mulk [67] : 22 :
Maka apakah orang yang berjalan dengan muka terjungkal itu lebih banyak mendapat petunjuk
ataukah orang yang berjalan tegap diatas jalan yang lurus ?
Orang yang berjalan tegap diatas jalan lurus adalah kiasan untuk orang-orang mukmin,
sedangkan orang yang berjalan dengan muka terjungkal adalah kiasan untuk orang-orang kafir.
3 Mursal, yaitu jika hubungan antara makna yang digunakan dengan makna yang diletakkan
pertama kali tidak mempunyai persamaan. Majaz Mursal dibagi menjadi empat :
a. Juziyyah, karena dengan menyebut sebagiannya, Misalnya QS Al-Muzammil [73] : 2
Bangunlah dimalam hari, kecuali sedikit (daripadanya).
Bangunlah maksudnya berdirilah, maksudnya berdiri untuk maksud keseluruhannya yaitu shalat,
jadi bangunlah adalah majaz untuk shalatlah.
b. Kulliyah, disebut keseluruhan untuk maksud sebagiannya. Contohnya QS Al-Baqarah [2] : 19
Mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya karena (mendengar suara) petir, sebab takut
akan mati.
Anak jari adalah keseluruhan jari-jari, padahal yang dimaksud adalah salah satu dari anak jari,
karena tidak mungkin seluruh anak jari dimasukkan untuk menyumbat telinga.
c. Sababiyah, menyebut sesuatu sesuai dengan sebutan sebabnya, misalnya pada QS Al-Baqarah
[2] : 194 :
Oleh sebab itu siapa saja yang menyerang kamu, maka seranglah (balaslah) ia seimbang dengan
serangannya terhadapmu.
Kata seranglah adalah kata yang sama dengan kata menyerang sebelumnya, padahal yang
dimaksud seranglah adalah balaslah.

d. Musabbabiyah, yang menjadi dasar penyebutan adalah akibatnya, contoh pada QS Al-Baqarah
[2] : 61 :
Oleh sebab itu, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami
dari apa yang bumi tumbuhkan, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang-putihnya, kacangadasnya dan bawang-merah nya.
Yang menumbuhkan tumbuhan adalah Allah, namun karena tempat tumbuhnya adalah di bumi
maka penyebutan apa yang bumi tumbuhkan, maksudnya adalah apa yang Allah tumbuhkan di
bumi itu.
C. Musytarak (ambigu)
Musytarak adalah kata yang mempunyai lebih dari satu arti. Bila dijumpai lafazh musytarak
sedapat mungkin dicari penjelasan (bayan) nya, dari ayat Al-Quran yang lain maupun dari
sunnah (riwayat hadits).
Contoh-contoh lafazh musytarak :
1. QS Al-Baqarah [2] : 228
Dan wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (ber iddah) tiga kali quru.
Kata quru bisa bermakna haid, bisa bermakna suci (mandi).
2. QS An-Nisa [4] : 43 :
Atau kamu telah menyentuh perempuan
Kata lamasa bisa bermakna sentuhan kulit, bisa bermakna bersetubuh.
3. QS Al-Maidah [5] : 38 :
Dan laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya
Kata yad bisa bermakna : tangan sampai pegelangan, tangan sampai siku, tangan sampai bahu.
XXVII. Kaidah Am (umum) Khas (khusus)
A. Lafazh am (umum)
Adalah lafazh yang maknanya luas meliputi satuan-satuan (juziyah) yang relevan dengan
cakupan makna itu tanpa batas.
Allah berfirman dalam QS Al-Ankabut [29] : 33 :

Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan keluargamu.


Berdasarkan keumuman lafazh keluarga pada firman Allah diatas yang maka Nabi Nuh
menagih janji Allah ketika banjir telah melanda dengan memohon kepada Allah agar
menyelamatkan anaknya yang termasuk keluarganya, hal itu dapat kita lihat pada QS Hud [11] :
45 :
Dan Nuh berseru kepada Tuhannya seraya berkata : Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku
termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji Engkau adalah benar.
Kemudian Allah menjawab permohonan nabi Nuh tersebut pada ayat lanjutannya, yaitu QS Hud
[11] : 46 :
Allah berfirman, Hai Nuh, sesungguhnya ia tidak termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan
diselamatkan).
Jawaban Allah ini mengecualikan anaknya dari keumuman kata keluargamu yang dijanjikan
akan diselamatkan.
Aneka Ragam bentuk Am :
1. Lafazh man (siapa), ma (apa saja), aina dan mata (kapan); yang terdapat dalam suatu kalimat
tanya (istifham) :
2. Lafazh ma (apa saja) dan man (siapa) yang mendapat jaminan balasan, seperti :
a. QS Al-Baqarah [2] : 272 :
Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (dijalan Allah), niscaya kamu akan diberi
pahalanya dengan cukup sedang kamu tidak sedikitpun dianiaya.
b. QS An-Nisa [4] : 123
Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan (sesuai) dengan
kejahatan itu.
3. Lafazh kullun (tiap-tiap) dan jamiun (seluruh)
a. QS Ali Imran [3] : 185 :
Tiap-tiap yang berjiwa akan mengalami mati.
b. QS Al-Baqarah [2] : 29 :
Dia lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.

4. Lafazh ayyun (mana saja) yang terdapat pada kalimat yang bersifat syarat.
Contohnya pada QS Al-Isra [17] : 110 :
Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai nama-nama yang baik.
5. Lafazh yang bersifat nakirah yang terdapat dalam susunan kalimat yang bersifat negatif (nahi)
atau dalam susunan larangan (nahi). Contohnya pada QS Al Bawarah [2] : 48 :
a. QS Al-Baqarah [2] : 48 :
Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela
orang lain, walau sedikitpun.
b. QS Al-Isra [17] : 23 :
Maka, sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah
kamu membentak mereka.
6. Lafazh masyara, maasyira, ammah, qatibah dan sairun :
a. QS Al-Anam [6] : 130 :
Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul Kami dari
golongan kamu sendiri, yang menyampaikan ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu
terhadap pertemuanmu dengan hari ini ?
b. QS At-Taubah [9] : 36 :
Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya, sebagaimana mereka pun telah memerangi kamu
semuanya.
7. Isim berbentuk jama yang diawali alif dan lam.
Contohnya pada QS Al-Maidah [5] : 42 :
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
8. Isim yang dinisbatkan (mudhaf)
Contohnya pada QS Ibrahim [14] : 34 :
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya.
9. Isim-isim yang berfungsi sebagai penyambung (al-maushulah) seperti ladzi, al-lati, al-ladzina,
al-lati dan dzu. Contohnya pada QS An-Nisa [4] : 10 :

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka
itu menelan api sepenuh perutnya.
10. Amr (perintah) dengan bentuk jama (plural)
Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 43 :
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku .
Macam-macam penggunaan lafazh am (umum) :
a. Am yang tetap dimaksudkan untuk keumumannya, contohnya pada QS Al-Kahfi [18] : 49 :
Dan tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun.
Kata ahadan tak seorangpun bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan.
QS An-Nisa [4] : 23 :
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu.
Kata ummhat ibu-ibumu bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan.
b. Am tetapi yang dimaksudkan adalah khas (khusus)
Contohnya pada QS Ali Imran [3] : 39 :
Kemudian malaikat memanggilnya (zakariya), sedang ia tengah berdiri bersembahyang di
mihrab.
Lafazh malaikat pada ayat diatas adalah umum tapi yang dimaksud adalah khusus, yaitu Jibril.
c. Am yang mendapat peng-khususan
Contohnya QS Ali-Imran [3] : 97 :
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah.
Ayat itu umum untuk semua manusia, tapi di ayat yang lain ada peng khususan yaitu bagi yang
mampu.
B. Khas (khusus) dan Takhsis (pengkhususan)
Khas merupakan kebalikan dari Am, yaitu lafazh yang hanya mengandung satu satuan
(juziyah) makna.

Takhsis adalah mengeluarkan sebagian kandungan yang dicakup oleh makna lafazh yang umum.
Macam-macam Mukhashshis (peng khusus).
1. Mukhashshish Muttashil (peng khusus yang bersambung)
a. Istitsna (pengecualian), contohnya pada QS An-nur [24] : 4-5 :
Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak
mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali
dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah
orang-orang yang fasik, kecuali orang-orang yang bertaubat
b. Sifat, contohnya pada QS An-Nisa [4] : 23 :
(Dan diharamkan bagi kamu untuk mengawini) anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu,
yaitu istrimu (itu) telah kamu campuri.
Anak tiri haram dinikahi, yaitu yang ibunya (yang menjadi istri) telah disetubuhi. Bila belum
disetubuhi kemudian bercerai, maka anak tiri itu boleh dikawini.
c. Syarat, contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 180 :
Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia
meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabat secara maruf,
(ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa.
Kalimat jika ia meninggalkan harta yang banyak adalah syarat, maka bila seseorang tidak
meninggalkan harta yang banyak, maka tidak wajib berwasiat.
d. Batas, contohnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 196 :
Dan janganlah kamu mencukur kepalamu, sebelum kurban sampai ditempat
penyembelihannya.
Kalimat sebelum kurban sampai ditempat penyembelihan merupakan batas larangan mencukur
rambut kepala saat haji.
e. Mengganti sebagian dari keseluruhannya, contohnya pada QS Ali-Imran [3] : 97 :
Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban manusia yang sanggup mengadakan perjalanan
kepadanya.
2. Mukhashshish Munfashil , yaitu peng khusus yang berada di tempat lain
a. Ayat Al-Quran yang lain.

QS Al-Baqarah [2] : 228 :


Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (ber iddah) tiga kali quru.
Ayat tersebut bersifat umum, berlaku bagi setiap wanita yang dicerai, baik yang sedang hamil
maupun tidak dan yang telah dicampuri. Kemudian ayat ini ditakhsis oleh dua ayat
(mukhashshish) yang lain :
QS Ath-Thalaq [65] : 4 :
Dan perempuan-perempuan yang sedang hamil, waktu iddah mereka adalah sampai mereka
melahirkan kandungannya.
Mukhashshish kedua, QS Al-Ahzab [33] : 49 :
Apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka
sebelum kamu mencampurinya, maka sekali-kali tidak wajib atas mereka iddah bagimu yang
kamu minta menyempurnakannya.
b. Hadits (men takhsis Al-Quran dengan hadits), contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 275 :
Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.
Dikecualikan dari jual-beli adalah jual-beli yang buruk seperti tersebut pada hadits berikut :
Dari Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah saw melarang mengambil upah dari persetubuhan
binatang jantan dengan binatang yang lain. (HR Bukhari).
Dalam riwayat lain disebutkan :
Dari Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah saw melarang jual-beli (binatang) yang akan
dikandung oleh yang (sekarang masih) didalam kandungan. Yang demikian itu adalah jual-beli
yang dilakukan oleh kaum jahiliyyah, yaitu seseorang membeli binatang sembelihan (dengan
bayar tempo) sampai unta itu beranak dan anak onta itu beranak pula. (HR Muttafaqun alaihi).
c. Ijma (men takhsis Al-quran dengan Ijma).
Contohnya pada QS An-Nisa [4] : 11 :
Allah mensyariatkan bgimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu, yaitu bagian
seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan.
Ayat tersebut dikecualikan secara ijma bagi laki-laki yang berstatus budak..
d. Qiyas (men takhsis Al-Quran dengan Qiyas)

Contohnya QS An-nur [24] : 2 :


Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari
keduanya seratus kali dera.
Ayat tersebut dikecualikan bagi budak dengan dasar analogi terhadap perempuan yang berstatus
budak yang dikecualikan dari ketentuan hukum dera bagi perempuan-perempuan yang berbuat
fahisyah sebagaimana tersebut dalam QS An-nisa [4] : 25 :
Jika mereka mengerjakan perbuatan keji, maka atas mereka setengah hukuman wanita-wanita
merdeka yang bersuami.
e. Akal (men takhsis Al-Quran dengan akal)
Contohnya pada QS Ar-Radu [13] : 6 :
Allah adalah pencipta segala sesuatu.
Akal menetapkan bahwa Allah bukan pencipta bagi diriNya sendiri.
f. Indera (men takhsis Al-Quran dengan indera)
Contohnya : QS An-Naml [27] : 23 :
Sesungguhnya aku menjumpai seseorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi
segala sesuatu, serta mempunyai singgasana yang besar.
Indera kita menetapakan segala sesuatu yang dianugerahkan kepada wanita (Ratu Balqis) tidak
seperti yang dianugerahkan kepada Nabi Sulaiman.
g. Siyaq (Mentakshis Al-Quran dengan siyaq)
Siyaq adalah keterangan yang mendahului suatu kalam dan yang datang sesudahnya.
Contohnya takhsis dengan siyaq adalah seperti pada QS Al-Araf [7] : 163 :
Dan tanyakanlah kepada mereka (Bani Israil) tentang kampung yang terletak di dekat laut .
?
Dalam ayat tersebut, dilukiskan bahwa yang dipertanyakan adalah tentang suatu kampung/desa,
Menurut siyaqul kalam bahwa yang dimaksud dengan desa itu adalah penduduknya.
Hukum lafazh am, khas dan takhsis :

1. Apabila didalam ayat Al-Quran terdapat lafazh yang bersifat khas (khusus), maka maknanya
dapat menetapkan sebuah hukum secara pasti, selama tidak terdapat dalil yang mentawilkannya
dan menghendaki makna lain.
2. Apabila lafazh itu bersifat am (umum) dan tidak terdapat dalil yang meng-khususkannya
(men-takhsis-nya), maka lafazh tersebut wajib diartikan kepada ke umumannya dan
memberlakukan hukumnya bagi semua satuan yang dicakup makna itu secara mutlak.
3. Apabila lafazh itu bersifat umum dan terdapat dalil yang men takhsis nya, maka lafazh itu
hendaknya diartikan kepada satuan makna yang telah dikhususkannya itu dan satuan yang
khusus itu dikeluarkan dari cakupan makna yang umum tersebut.
XXVIII. Kaidah Mujmal (global) Mufassar/Mubayyan (ditafsirkan/dijelaskan)
Lafazh mujmal adalah lafazh yang global, masih membutuhkan penjelasan (bayan) atau
penafsiran (tafsir).
Untuk memberikan penjelasan atau penafsiran terhadap lafazh yang mujmal maka tidak ada jalan
lain kecuali harus kembali kepada syari, karena memang Dia lah yang menjadikannya sebagai
lafazh yang mujmal.
Mubayyan adalah lafazh yang sudah dijelaskan dari keglobalannya.
Klasifikasi Mubayyan berdasarkan sumber yang menjelaskannya :
1. Mubayyan Muttashil, adalah mujmal yang disertai penjelasan yang terdapat dalam satu nash.
Misalnya dalam QS An-Nisa [4] : 176, lafazh kalalah adalah mujmal yang kemudian
dijelaskan dalam satu nash;
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, Allah memberi fatwa
kepadamu tentang kalalah, (yaitu) jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak
dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari
harta yang ditinggalkannya dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara
perempuan), jia ia tidak mempunyai anak, tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka
bagi keudanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Jika mereka (ahli
waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara
laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini)
kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Kalalah adalah orang yang meninggal dunia yang tidak mempunyai anak. Makna inilah yang
diambil oleh Umar bin Khtattab, yang meyatakan :
Kalalah adalah orang yang tidak mempunyai anak.

2. Mubayyan Munfashil, adalah bentuk mujmal yang disertai penjelasan yang tidak terdapat
dalam satu nash. Dengan kata lain, penjelasan tersebut terpisah dari dalil mujmal. Dalam hal ini
bisa berupa :
a. Dari ayat Al-Quran yang lain, misalnya dalam QS Ali Imran [3] : 7 :
Padahal tidak ada yang mengetahui tawilnya kecuali Allah dan orang yang mendalam
ilmunya berkata : Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih, semuanya itu dari sisi
Tuhan kami.
Kalimat Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya adalah mujmal karena ambigutias
huruf wawu, yaitu kata dan. Bisa berkonotasi kata penghubung (athaf) atau Kata depan
permulaan kalimat baru (istinaf). Jika kata dan dianggap sebagai kata penghubung, maka
konotasi kalimat tersebut adalah hanya Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya yang
mengetahui takwilnya. Namun, jika kata dan dianggap sebagai permulaan kalimat baru, maka
konotasinya adalah hanya Allah yang mengetahui takwilnya sedangkan orang-orang yang
mendalam ilmunya yang notabene tidak tahu takwilnya- berkata, kami beriman kepada ayatayat yang mutasyabih. Oleh karena itu, hal ini memerlukan penjelasan. Maka Penjelasannya
tidak terdapat dalam satu nash, diantaranya firman Allah pada QS An-Nahl [16] : 89 :
Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu.
Ayat ini menunjukkan Al-Quran diturunkan sebagai penjelasan segala sesuatu kepada manusia,
termasuk ayat-ayat yang mutasyabih. Jadi berdasarkan petunjuk (qarinah) dari ayat ini huruf
dan pada QS Ali-Imran [3] : 7 adalah sebagai kata penghubung sehingga konotasinya adalah
yang mengetahui tawil ayat-ayat mutasyabih hanyalah Allah dan orang-orang yang mendalam
ilmunya.. Demikian pendapat kelompok yang berpendapat demikian.
b. Dari Sunnah (hadits), contohnya pada QS Al-Anfal [8] : 60 :
Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi
Kata kekuatan pada ayat diatas masih mujmal, yang penjelasannya ada datang dari sunnah,
yaitu hadits riwayat Muslim dari Uqbah bin Amir :
Saya mendengar Rasulullah bersabda, -sementara itu beliau masih berada diatas mimbarSiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi, ingatlah,
sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. Ingatlah, sesungguhnya kekuatan itu adalah panah.
Macam-macam bayan (penjelasan) terhadap lafazh mujmal :
1. Penjelasan dengan perkataan (bayan bil qaul), contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 196 :
Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga
hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh
(hari) yang sempurna.

Ayat tersebut merupakan bayan (penjelasan) terhadap rangkaian kalimat sebelumnya mengenai
kewajiban mengganti korban (menyembelih binatang) bagi orang-orang yang tidak menemukan
binatang sembelihan atau tidak mampu.
2. Penjelasan dengan perbuatan (bayan fili)
Contohnya Rasulullah melakukan perbuatan-perbuatan yang menjelaskan cara-cara berwudhu :
memulai dengan yang kanan, batas-batas yang dibasuh, Rasulullah mempraktekkan cara-cara
haji, dsb.
3. Penjelasan dengan perkataan dan perbuatan sekaligus
Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 43 :
dan dirikanlah shalat
Perintah mendirikan sholat tersebut masih kalimat global (mujmal) yang masih butuh penjelasan
bagaimana tata cara sholat yang dimaksud, maka untuk menjelaskannya Rasulullah naik keatas
bukit kemudian melakukan sholat hingga sempurna, lalu bersabda : Sholatlah kalian,
sebagaimana kalian telah melihat aku shalat (HR Bukhary).
4. Penjelasan dengan tulisan
Penjelasan tentang ukuran zakat, yang dilakukan oleh Rasulullah dengan cara menulis surat
(Rasulullah mendiktekannya, kemudian ditulis oleh para Sahabat) dan dikirimkan kepada
petugas zakat beliau.
5. Penjelasan dengan isyarat
Contohnya seperti penjelasan tentang hitungan hari dalam satu bulan, yang dilakukan oleh
Rasulullah saw. dengan cara isyarat, yaitu beliau mengangkat kesepuluh jarinya dua kali dan
sembilan jari pada yang ketiga kalinya, yang maksudnya dua puluh sembilan hari.
6. Penjelasan dengan meninggalkan perbuatan
Contohnya seperti Qunut pada shalat. Qunut pernah dilakukan oleh Rasulullah dalam waktu
yang relatif lama, yaitu kurang lebih satu bulan kemudian beliau meninggalkannya.
7. Penjelasan dengan diam (taqrir).
Yaitu ketika Rasulullah melihat suatu kejadian, atau Rasulullah mendengar suatu penuturan
kejadian tetapi Rasulullah mendiamkannya (tidak mengomentari atau memberi isyarat
melarang), itu artinya Rasulullah tidak melarangnya. Kalau Rasulullah diam tidak menjawab
suatu pertanyaan, itu artinya Rasulullah masih menunggu turunnya wahyu untuk menjawabnya.
8. Penjelasan dengan semua pen takhsis (yang mengkhususkan).

Mufassar (sudah ditafsirkan)


Mufassar adalah lafazh yang menunjukkan kepada makna yang terperinci dan tidak ada
kemungkinan tawil yang lain baginya.
Apabila datang penjelasan (bayan) dari syari terhadap lafazh yang mujmal itu dengan bayan
yang sempurna lagi tuntas, maka lafazh yang mujmal tadi menjadi mufassar (ditafsirkan), seperti
bayan yang datang secara rinci terhadap lafazh shalat, zakat, haji dan lainnya.
Macam-macam mufassar :
1. Mufassar oleh zatnya sendiri
Yaitu lafazh yang sighat (bentuk) nya sendiri telah menunjukkan dalalah (petunjuk) yang jelas
kepada makna yang terinci dan pada lafazh itu terkandung sesuatu yang meniadakan
kemungkinan penakwilan terhadap makna yang lainnya. Contohnya pada QS An-nur [24] : 4 :
Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera.
Kata delapan puluh adalah lafazh mufassar dimana bilangan tertentu itu tidak mengandung
kemungkinan lebih atau kurang.
Contoh lain pada QS At-Taubah [9] : 36 :
Perangilah orang-orang musyrik itu semuanya.
Kata semuanya itu adalah mufassar.
2. Mufassar oleh lafazh lainnya
Yaitu lafazh yang bentuknya global, tidak terurai, lalu mendapat penjelasan dari nash yang lain
secara pasti dan terurai, sehingga tidak mengandung kemungkinan tawil lagi untuk makna yang
lainnya. Contohnya tentang lafazh : shalat, zakat, shiyam, haji. Kata-kata tersebut masih global
(mujmal), kemudian Rasulullah menjelaskan lafazh-lafazh tersebut dengan perbuatan dan
perkataan sehingga kita memahami artinya seperti yang sudah kita pahami bersama pengertian
dan tata caranya.
XXIX. Kaidah Mutlaq (tanpa batasan) Muqayyad (dengan batasan)
Mutlaq adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat tanpa suatu pembatas (qayid). Contohnya
dalam QS Al-Mujadalah [58] : 3 :
Dan orang-orang yang menzihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa
yang mereka ucapkan, maka (wajib atas mereka) memerdekakan seorang budak .

Lafazh budak diatas tanpa dibatasi, meliputi segala jenis budak, baik yang mukmin maupun
kafir.
Muqayyad adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat dengan suatu pembatas (qayid).
Contohnya dalam QS An-Nisa [4] :92 :
Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain) kecuali karena
tersalah (tidak sengaja). Dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah
(hendaknya) ia memerdekakan seorang budak yang beriman
Lafazh budak diatas dibatasi dengan yang beriman
Macam-macam mutlaq-muqayyad dan hukumnya masing-masing :
1. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya, selama tidak ada dalil yang meng-qayyidkannya (membatasinya). Jadi terdapat dalil yang memberi batasan (qayyid) maka dalil itu dapat
mengalihkan ke mutlaqannya dan menjelaskan pengertiannya.
Contohnya, pada QS An-Nisa [4] : 11 :
(Pembagian harta pusaka) tersebut sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat dan sesudah dibayar
hutangnya.
Wasiat yang dimaksud dalamayat diatas bersifat mutlaq, tidak dibatasi jumlahnya, minimalmaksimalnya, kemudian wasiat tersebut diberi batasan oleh nash hadits yang menegaskan
bahwa, Tidak ada wasiat lebih dari sepertiga harta pusaka. Oleh sebab itu maka wasiat dalam
ayat diatas menjadi tidak mutlaq lagi dan mesti diartikan dengan wasiat yang kurang dari batas
sepertiga dari harta pusaka.
2. Sebab dan hukumya sama, maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad.
Contohnya pada QS Al-Maidah [5] : 3 :
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah dan daging babi.
Lafazh darah pada ayat diatas adalah mutlaq tanpa ada batasan.
Pada QS Al-Anam [6] : 145 :
Katakanlah, Tidaklah aku peroleh dalam apa apa yang diwahyukan kepadaku (tentang) suatu
(makanan) yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu
bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi.
Lafazh darah pada ayat ini bersifat muqayyad karena dibatasi dengan lafazh yang mengalir.

Karena ada persamaan hukum dan sebab, maka lafazh darah yang tersebut pada QS Al-Maidah
[5] : 3 yang mutlaq wajib dibawa (diartikan) ke muayyad, yaitu darah yang mengalir.
3. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda, maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan
sesuai dengan ke mutlaqannya.
a. Sebab sama tapi hukum berbeda : dalam QS An-Nisa [4] : 43 :
.Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih), usaplah mukamu dan tanganmu
dengan tanah itu
Dalam hal tayamum lafazh (mengusap) tangan adalah mutlaq karena tidak dibatasi.
Namun mengenai wudhu, yaitu dalam QS Al-Maidah [5] : 6 :
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, basuhlah mukamu
dan tanganmu sampai dengan siku
lafazh (basuhlah) tanganmu sampai dengan siku adalah muqayyad karena dibatasi sampai
dengan siku.
Kedua nash diatas mempunyai sebab yang sama, yaitu bersuci tapi pada segi hukum terjadi
perbedaan yaitu : hukum pada QS An-Nisa [4] : 43 adalah mengusap tangan, sedangkan hukum
pada QS Al-Maidah [5] : 6 adalah membasuh tangan sampai ke siku.
b. Hukum sama tapi sebab berbeda : pada QS At-Thalaq [65] : 2 :
Apabila mereka (istri-istrimu) telah mendekati masa akhir iddahnya, maka rujukilah kepada
mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang
saksi yang adil diantara kamu.
Lafazh saksi pada ayat ini mutlaq tidak dibatasi.
Namun pada QS Al-Baqarah [2] : 282 :
Apabila kamu berhutang piutang untuk waktu yang tertentu, maka hendaklah kamu
menuliskannya dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki (diantara kamu).
Lafazh saksi pada ayat ini muqayyad karena dibatasi dengan laki-laki.
Kedua ayat diatas mempunyai persamaan hukum, yaitu mengadakan dua orang saksi. Tetapi
pada segi sebab terjadi perbedaan, sebab pada QS At-Thalaq [65] : 2 ialah rujuk pada istri
sedangkan sebab pada QS Al-Baqarah [2] : 282 adalah : hutang-piutang.
b. Hukum dan sebab keduanya berbeda : pada QS Al-Maidah [3] : 38 :

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya .
Bila dibandingkan dengan QS Al-Maidah [3] : 6 pada point a diatas, maka sebabnya berbeda,
pada ayat ini sebabnya pencurian dan hukumya juga berbeda, pada ayat ini tentang potong
tangan.
XXX. Terjemah, Tafsir dan Tawil
A. Terjemah (Translate)
Pengertian terjemah adalah memindahkan kalam dari suatu bahasa kepada bahasa yang lain.
Terjemah dibagi dua yaitu secara harfiah (litterlijk) dan secara tafsiriyyah (manawiyah).
Terjemahan secara harfiah (litterlijk) sangat tidak dianjurkan untuk orang awam yang umum,
kecuali untuk pelajar yang mempelajari bahasa.Terjemahan yang disarankan untuk orang awam
yang umum adalah terjemahan yang tafsiriyaah (manawiyah).
Contoh dalam QS Al-Qamar [54] : 13, bila diterjemahkan secara harfiyah adalah :
Dan kami bawa dia (Nabi Nuh) diatas yang mempunyai papan-papan dan paku-paku. Ia
berjalan dengan mata-mata Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang tidak dipercayai
maka terjemahan ini pasti membingungkan dan kurang bisa dipahami. Maka terjemahan yang
baik adalah secara manawiyyah, yaitu :
Dan kami, kendarakan dia (Nabi Nuh) diatas (bahtera yang terdiri dari) papan-papan dan pakupaku (supaya ia selamat dari topan yang hebat itu). Ia (kapal itu) berlayar dengan pengawasan
Kami, sebagai ganjaran bagi orang-orang yang tidak dipercayai (oleh sebagian besar kaumnya,
yakni kaum Nabi Nuh).
B. Tafsir dan Tawil
Ulama dahulu (mutaqaddimin) tidak membedakan antara tafsir sengan tawil, berkata Mujahid :
Sesungguhnya para ulama mengetahui tawil Al-Quran maksudnya yaitu tafsir maknanya.
Sedangkan ulama kemudian (mutaakhkhirin) membedakan antara tafsir dengan tawil.
Tafsir adalah penjelasan tentang makna yang lahir (zhahir) dari ayat Al-Quran sedangkan tawil
mengambil sebagian makna dari makna-makna yang dikandung Al-Quran.
Contoh, dalam QS at-Taubah [9] : 41 : Berangkatlah kamu (ke medan perang) baik dalam
keadaan merasa ringan ataupun merasa berat. Frasa kalimat merasa ringan ataupun berat di
tawil dengan dalam keadaan tua ataupun muda.
Menurut Ibnu Abbas, tafsir ayat Al-Quran itu ada empat macam :
1. Tafsir yang dipahami oleh orang-orang Arab karena kelaziman bahasanya.
2. Tafsir yang harus diketahui oleh semua orang yaitu tentang akidah, ibadat dan halal-haram.

3. Tafsir yang hanya diketahui oleh ulama yang mendalam ilmunya.


4. Tafsir yang hanya diketahui oleh Allah.
XXXI. Perkembangan Tafsir
A. Masa Sahabat
Ibnu Khladun dalam kitab Muqaddimah-nya menjelaskan : Al-Quran diturunkan dalam bahasa
Arab dan menurut uslub-uslub balagahnya. Karena itu semua orang Arab memahaminya dan
mengetahui makna-maknanya baik kosa kata maupun susunan kalimatnya.
Namun demikian mereka berbeda-beda tingkat pemahamannya, sehingga apa yang tidak
diketahui oleh seseorang diantara mereka boleh jadi diketahui oleh yang lain.
Riwayat Mujahid dari Ibnu Abbas : Dulu saya tidak tahu apa makna fatirus samawati wal ard
sampai datang kepadaku dua orang dusun yang bertengkar tentang sumur. Salah seorang mereka
berkata : Ana fatartuha, maksudnya ana ibtadatuha (akulah yang membuatnya pertama
kali).
Para sahabat dalam menafsirkan Al-Quran berpegang kepada :
1. Al-Quran, yaitu penafsiran ayat Al-Quran dengan ayat Al-Quran yang lain.
2. Penjelasan Nabi, mereka bertanya langsung kepada Nabi apabila menemui kesulitan dalam
memahami makna Al-Quran.
Riwayat dari Ibnu Masud : Ketika turun ayat Orang-orang yang beriman dan tidak
mencampuradukkan imannya dengan kezaliman (QS AlAnam [6] : 82). Hal ini sangat
meresahkan hati para sahabat, mereka bertanya : Ya Rasulullah, siapakah diantara kita yang
tidak berbuat zalim terhadap dirinya ?, Beliau menjawab : Kezaliman disini bukanlah seperti
yang kalian pahami. Tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan hamba yang saleh
(Luqman), Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah kezaliman yang besar (QS Luqman
[31 : 13), kezaliman disini sesungguhnya adalah syirik.
3. Pemahaman dan ijtihad. Diantara para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan Al-Quran
adalah empat khulafaur rasyidinh, Ibnu Maud, Ibnu Abbas, Ubay bin Kaab, Zaid bin Tsabit,
Abu Musa Al-Asyari, Abdullah bin Zubair, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Jabri bin
Abdullah, Abdullah bin Amr bin Ash dan Aiysah ummul mukminin.
B. Masa Tabiin
Setelah penaklukan Islam semakin meluas keluar dari Jazirah Arab, Pada era Khalifah Usman
sahabat-sahabat besar diijinkan keluar dari kota Madinah untuk mengajarkan agama di daerahdaerah taklukan, maka para sahabat menyebar ke berbagai daerah dan mengembangkan
madrasah di tempatnya masing-masing :

Di Mekkah berdiri perguruan Ibnu Abbas, diantara para tabiin yang menjadi muridnya adalah :
Said bin Jubair, Mujahid, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Tawus bin Kaisan Al-Yamani dan Ata
bin Abi Rabah.
Di Madinah Ubay bin Kaab lebih menonjol dibidang tafsir dari sahabat Nabi yang lain, diantara
muridnya dikalangan tabiin adalah : Zaid bin Aslam, Abu Aliyah dan Muhammad bin Kaab
al-Qurazi.
Di Kufah (Iraq) berdiri perguruan Ibnu Masud, yang dipandang oleh para ulama sebagai cikal
bakal mazhab ahli ray (akal). Tabiin yang menjadi muridnya antara lain : Alqamah bin Qais,
Masruq, Al-Aswad bin Yazid, Murrah Al-Hamazani, Amir Asy-Syabi, Hasan al-Basri dan
Qatadah bin Diamah as-Sadusi.
Pada masa ini sebagian ulama ahli kitab (Yahudi) ada yang masuk Islam, sebagian tabiin
menukil dari mereka Israiliyat yang kemudian dimasukkan ke dalam tafsir. Misalnya yang
diriwayatkan dari Abdullah bin Salam, Kabul Ahbar, Wahb bin Munabbih, Abdul Malik bin
Abdul Azis bin Juraij.
C. Masa Pembukuan
Pembukuan tafsir dimulai pada akhir pemerintahan Bani Umayyah dan awal pemerintahan Bani
Abbasyah. Tokoh-tokoh yang terkemuka diantara mereka adalah : Yazid bin Harun as-Sulami
(wafat 117 H), Syubah bin al-Hajjaj (wafat 160 H), Waki bin Jarrah (wafat 197 H), Sufyan bin
Uyainah (wafat 198 H0, Rauh bin Ubadah al-Basri (wafat 205 H), Aburrazaq bin Hammam
(wafat 211 H), Adam bin Abu Iyas (wafat 220 H) dan Abd bin Humaid (wafat 249 H). Kitab
tafsir pembukuan pertama ini tidak ada yang sampai kepada kita. Yang kita terima hanyalah
nukilan-nukilan pada kitab-kitab tafsir bil masur periode sesudahnya.
Generasi berikutnya setelah periode pertama diatas menulis tafsir secara independen serta
menjadikan ilmu tafsir yang berdiri sendiri dan terpisah dari hadits. Diantara mereka adalah : Ibn
Majah (safat 273 H), Ibn Jarir at-Tabari (wafat 310 H), Abu Bakar bin Munzir an-Naisaburi
(safat 318 H), Ibn Abi Hatim (wafat 327 H), Abusy Syaikh bin Hibban (safat 369 H0, Al-Hakim
(safat 405 H) dan Abu Bakar bin Mardawaih (safat 410 H).
Kemudian ilmu semakin berkembang pesat, pembukuannya mencapai kesempurnaan, cabangcabangnya bermunculan, perbedaan pendapat terus meningkat, masalah-masalah kalam
semakin berkobar, fanatisme mazhab menjadi serius dan ilmu-ilmu filsafat bercorak rasional
bercampurbaur dengan ilmu-ilmu naqli serta setiap golongan berupaya mendukung mazhabnya
masing-masing. Itu semua membuat tafsir ternoda oleh iklim yang tidak sehat tersebut, sehingga
para mufasir dalam menafsirkan Al-Quran berpegang pada pemahaman pribadi dan mengarah
pada berbagai kecenderungan. Ahli ilmu rasional hanya memperhatikan dalam tafsirnya katakata pujangga dan filosof, seperti Fakhruddin ar-Razi. Ahli fikih hanya membahas soal-soal
fikih, seperti Al-Jassas dan Al-Qurtubi. Sejarawan hanya mementingkan kisah dan berita seperti
As-Salabi dan Al-Khazin. Tafsir ahli kalam punya kecenderungan mendukung mazhabnya
seperti Al-Jubai, Qadi Abdul Jabbar dan Zamakhsyari dari Muzilah, Mala Muhsin al-Kasyi dari

Syiah al-Isna Asyriyah, Ibnu Arabi dari golongan Tasawwuf hanya mengemukakan maknamakna yang tersirat (isyari).
Kemudian datanglah masa modern yang memperhatikan masalah kotemporer (kekinian), aspek
sosial, keindahaln uslub dan kehalusan ungkapan, diantara mufasir kelompok ini adalah
Muhammad Abduh, Muhammd Rasyid Ridha, Muhammad Mustafa al-Maragi, Sayyid Qutub
dan Muhammad Izzah Darwazah.
Jenis-Jenis Tafsir
1. Tafsir bil Matsur
Yaitu tafsir yang didasarkan pada nukilan-nukilan yang sahih menurut urutan, yaitu : Al-quran,
hadits, pendapat sahabat, pendapat tabiin.
2. Tafsir bir-rayi (akal)
Yaitu tafsir yang didasarkan pada ijtihad sendiri berdasarkan akal semata
3. Tafsir Isyari (isyarat)
Yaitu tafsir yang didasarkan pada isyarat yang kadang tidak tertangkap dari tekstual lahirnya.
Contoh tafsir isyari adalah tentang ayat Apabila telah datang pertolongan Allah dan
kemenangan (QS an-Nasr [110] : 1) maka Ibnu Abbas menafsirkan itu adalah isyarat tentang
ajal Rasulullah yang sudah dekat.
Tafsir isyari ini banyak digunakan oleh kaum sufi berdasarkan kasyf atau ilham laduni dalam
memahami isyarat makna batin dari Al-Quran.
Menurut Ibnul Qayyim, tafsir isyari dapat diterima apabila memenuhi empat persyaratan :
1. Tidak bertentangan dengan makna lahir ayat.
2. Maknanya sendiri sahih (tidak batil).
3. Terdapat indikasi bagi makna isyarat tersebut.
4. Antara makna isyari dengan makna ayat terdapat hubungan yang erat dan dapat dipahami oleh
akal yang sehat.
4. Tafsir Tematik.
Yaitu tafsir yang hanya membahas pada tema-tema khusus tertentu, seperti yang berhubungan
dengan hukum (ahkam), majaz, Nasikh-Mansukh, Asbabul-Nuzul.
5. Tafsir Garib (janggal)

Yaitu penafsiran kata-kata yang asing atau ayat mutasyabih yang dipaksakan untuk ditafsirkan
maknanya, atau penafsiran berdasarkan rayu semata yang sulit diterima oleh akal sehat. Contoh
:
a. Firman Allah dalam QS An-Naziat [79] : 17 Pergilah engkau (Musa) kepada Firaun,
sesungguhnya dia telah melampaui batas. Kata Firaun ditafsirkan sifat buruk yang ada pada
setiap manusia.
b. Firman Allah dalam QS Al-Maidah [5] : 55 Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah,
Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya
mereka tunduk (kepada Allah).
Dikatakan bahwa makna orang-orang yang beriman adalah para Imam Syiah yang dua belas.
Kemudian mereka tunduk diartikan Sayyidina Ali.
32. Syarat dan Adab Bagi Mufasir
A. Syarat-syarat Mufasir :
1. Akidahnya benar.
2. Bersih dari hawa nafsu.
3. Menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran terlebih dahulu.
4. Mencari Penafsiran dari hadits.
Firman Allah dalam QS An-Nisa[16] : 44 :
Dan kami turunkan kepadamu ad-dzikr (Al-Quran) agar kamu menerangkan kepada umat
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan
5. Mencari penafsiran dari pendapat (atsar) sahabat, yaitu bila tidak dijumpai penafsiran dari
hadits nabi yang maqbul (diterima).
6. Mencari penafsiran dari pendapat tabiin, yaitu bila tidak dijumpai penafsiran dari para
sahabat Nabi.
7. Mengetahui bahasa arab dengan segala cabangnya, seperti : nahwu (gramatika), sharaf
(konyugasi), balagah (retorika), maani, bayan (kejelasan) dan badi (efektifitas bicara),
mengetahui irab (fungsi kata dalam kalimat), tasrif (konyugasi), masdar (kata dasar), musytaq
(bentuk kata turunan), serta mengetahui syair-syair Arab lampau yang terkenal untuk mengetahui
arti kata-kata sulit yang jarang digunakan.
Mujahid berkata : Tidak diperkenankan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir
untuk berbicara tentang Kitabullah (menafsirkan) apabila ia tidak mengetahui berbagai dialek
bahasa Arab.

8. Mengetahui ilmu ushul tafsir, yang meliputi seluruh pembahasan pada point VII. Ushul tafsir
diatas.
9. Mengetahui ilmu hadits, atsar sahabat dan tabiin.
10. Mengetahui ilmu fikih dan ushul fikih.
11. Pemahaman dan ketelitian yang cermat akan qarinah, dhalalah nash, serta tujuan tasyri
sehingga mampu menyimpulkan makna yang sejalan dengan syariat.
B. Adab Mufasir :
1. Berniat baik dan bertujuan benar.
2. Berakhlak baik.
3. Taat dan beramal.
4. Berlaku jujur, teliti dan obyektif.
5. Tawadu dan lemah lembut.
6. Berjiwa mulia dan menjaga muruah (kehormatan diri dan agama).
7. Berani dalam menyampaikan kebenaran.
8. Berpenampilan dan berperilaku yang baik.
9. Bersikap tenang dan mantap.
10. Menghormati pendapat orang lain yang lebih utama.
11. Mempersiapkan dan menempuh metode pnafsiran yang baik.
XXXIII. Kitab Kitab Tafsir yang Terkenal
A. Tafsir bil Masur
1. Tafsir yang disandarkan kepada Ibnu Abbas Tanwirul Miqbas min Tafsiri Ibn Abbasdisusun oleh Abu Tahir Muhammad bin Yaqub al-Fairuzabadi asy-Syafii.
2. Tafsir Ibn Jarir at-Tabari, Jamiul bayan fi tafsiril Quran.
3. Tafsir Ibn Abi Hatim
4. Tafsir Abusy Syaikh bin hibban.
5. Tafsir Abu Lais as-Samarqandhi, Bahrul-Ulum.
6. Tafsir Abu Ishaq, al-Kasyfu wal bayan an tafsiril Quran.
7. Tafsir Abu Fida Ibn Katsir, Tafsirul Quranil Adzim.
8. Tafsir Jalaluddin as-Suyuthi, ad-Durrul Mansar fil Tafsiri bil-Matsur.
9. Tafsir asy-Syaukani, Fathul Qadir.

B. Tafsir bir rayu


1. Tafsir Abu Ali al-Jubai (salah satu tokoh Mutazilah).
2. Tafsir Qadi Abdul Jabbar.
3. Tafsir Zamakhsyari, al-Kasysyaf an haqaiqi gawamidit tanzil wa uyunil aqawil fi wujuhit
tawil.
4. Tafsir Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Gaib.
5. Tafsir an-Nasafi, Madarikut tanzil wa haqaiqut tawil.
6. Tafsir Abu Hayyan, al-Bahrul Muhit.
7. Tafsir Al-Baidawi, Anwarut tanzil wa asrarut tawil.
8. Tafsir Jalalain, karya Jalaluddin al-Mahalli dan muridnya Jalaluddin as-Suyuthi.
9. Tafsir al-Qurtubi, Al-Jamili Ahkamil Quran.
C. Tafsir Isyari
1. Tafsir Gharaibul Quran wa Raghaibul Furqan, karya Syeikh Nizhamuddin al-Hasan bin
Muhammad al-Husain al-Khurasani an-Naisaburi.
2. Tafsir Al-Quranul Azhim, karya Abu Muhammad Sahl bin Abdullah bin Yunus bin Abdullah
at-Tustari
3. Tafsir Ruhul Maani, karya Syihabuddin as-Sayyid Muhammad al-Alusi al-Baghdadi.
4. Tafsir Haqaiqut Tafsir, karya Abu Abdurrahman Muhammad bin Husain bin al-Asad asSulami.
D. Tafsir Modern
1. Tafsir Al-Manar, karya Muhammad Rasyid Ridha.
2. Tafsir al-Maraghi, karya Ahmad Musthafa al-Maraghi.
3. Tafsir Fi Zilalil Quran, karya Sayyid Qutub.
4. Tafsir al-Jawahir, karya Thantawi Jauhari.
5. Tafsir Fathul Bayan, karya Shidiq Hasan Khan.

34. Biografi Singkat Beberapa Mufasir.


A. Ibnu Abbas
Beliau adalah putra paman Nabi yaitu Abbas bin Abdul Munthalib, dilahirkan ketika Bani
Hasyim berada di Syib, tiga atau tahun sebelum hijrah. Ketika Rasulullah meninggal Ibnu
Abbas baru berumur 13 tahun. Ketika perang siffin beliau berada di al-Maisarah, kemudian
diangkat sebagai gubernur Basrah oleh Khalifah Ali. Setelah Khalifah Ali terbunuh beliau
menetap di Mekkah.
Ibnu Abbas dikenal sebagai Turjumanul Quran (juru tafsir Al-Quran), Habrul ummah (tokoh
ulama umat) dan Raisul Mufassirin (pemimpin para mufasir). Dalam Mujam al-Bagawi dan
lainnya meriwayatkan dari Umar :
Bahwa Umar mendekati Ibnu Abbas dan berkata, sungguh saya pernah melihat Rasulullah
mendoakanmu, lalu membelai kepalamu, meludahi mulutmu dan berdoa, Ya Allah, berilah ia
pemahaman dalam urusan agama dan ajarkanlah kepadanya tawil.
Riwayat yang disandarkan kepada Ibnu Abbas mengenai tafsir tidak terhitung banyaknya, mulai
dari yang sahih, hasan, munqathi , dhaif sampai maudlu.
Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Masud : Juru tafsir Al-Quran yang terbaik adalah Ibnu
Abbas.
Abu Nuaim meriwayatkan dari Mujahid : Adalah Ibnu Abbas dijuluki dengan al-Bahr (lautan)
karena banyak dan luas ilmunya.
B. Mujahid bin Jabr
Beliau dilahirkan pada 21 H, masa Khalifah Umar. Mujahid adalah pemimpin atau tokoh utama
mufasir generasi tabiin, Ia belajar tafsir kepada Ibnu Abbas. Ia juga banyak meriwayatkan dari
Ali, Sd bin Abi Waqqas, empat orang Abdullah, Rafi bin Khudaij, Aisyah, Ummu Salamah,
Abu Hurairah, Suraqah bin Malik dan lainnya.
Sufyan Tsauri berkata : Jika datang padamu tafsir dari Mujahid, cukuplah itu bagimu.
Berkata Ibnu Taimiyah : Syafii, Bukhari dan ahli ilmu lainnya banyak berpegang kepada
tafsirnya.
Az-Sahabi berkata : Umat sepakat bahwa Mujahid adalah tokoh terkemuka yang kata-katanya
dijadikan hujjah, dan kepadanya Abdullah bin Kasir belajar.
C. Ibn Jarir at-Tabari

Lahir 224 H di Baghdad dan meninggal 310 H dikota yang sama. Ulama yang luas ilmunya,
banyak meriwayatkan hadits, ahli dalma pen-tarjih-an (seleksi yang lebih kuat) riwayat-riwayat,
banyak mengetahui sejarah tokoh dan kisah terdahulu.
Kitab tafsirnya Jamiul Bayan fi Tafsiril Quran merupakan kitab tafsir paling besar dan utama
serta menjadi rujukan penting para mufasirin bil masur.
Ibn Jarir mempunyai keistimewaan tersendiri berupa istimbath (penyimpulan) yang unggul dan
pemberian isyarat pada kata-kata yang samar irabnya. Imam Nawawi dalam Tahzibnya berkata :
Kitab Ibn Jarir dalam bidang tafsir adalah sebuah kitab yang belum seorangpun pernah
menyusun kitab yang menyamainya. Ibnu Katsir, tokoh mufasir yang sesudahnya banyak
menukil darinya.
D. Ibn Katsir
Nama lengkapnya Ismail bin Amr al-Qurasyi bin Katsir al-Basri ad-Dimsyaqi Imaduddin Abul
Fida al-Hafiz al-Muhaddits asy-Syafii. Lahir 705 H dan wafat 774 H.
Al-Hafidz Ibnu Hajar Atsqolani berkata : Beliau adalah seorang ahli hadits yang faqih,
karangan-karangannya tersebar luas diberbagai negeri semasa hidupnya dan dimanfaatkan orang
banyak setelah wafatnya.
Kitab tafsirnya Tafsirul Quranil Adzim merupakan tafsir paling masyhur meriwayatkan dari
mufasir generasi salaf dan menjelaskan makna-makna dan hukum-hukumnya serta menjauhi
pembahasan irab dan morfologi yang bertele-tele seperti yang dilakukan kebanyakan mufasir
juga menjauhi pembicaraan yang melebar pada ilmu-ilmu lain yang tidak significant. Tafsirnya
dimulai dengan menafsirkan ayat dengan ayat Al-Quran yang lain, kemudian dengan pendapat
sahabat, pendapat tabiin dan ulama salaf sesudahnya. Menukil Israiliyat yang relevan dengan
tetap memberi peringatan akan cerita-cerita Israiliyat yang munkar.
E. Fakhruddin ar-Razi
Lahir di Ray 543 H dan wafat di Harah tahun 606 H. Sangat menguasai ilmu mantiq (logika),
filsafat serta menonjol dalam ilmu kalam. Kitab tafsirnya Mafatihul Gaib berisi uraian mengenai
kedokteran, logika, filsafat dan hikmah serta membawa kepada persoalan-persoalan ilmu aqliah
yang bukan untuk itu nash diturunkan. Oleh karena itu kitab tafsir ini kurang memiliki ruh Islam,
seorang penilai mengatakan tentang kitab tafsirnya : Didalamnya terdapat segala sesuatu
kecuali tafsir itu sendiri.
F. Az-Zamakhsyari
Nama lengkapnya Abul Qasim Mahmud bin Umar al-Khawarizmi az-Zamakhsyari. Dilahirkan
tahun 467 H di Zamakhsar. Beliau sangat ahli dalam ilmu bahasa, mani dan bayan. Bagi orangorang yang membaca kitab-kitab imu nahwu dan balagah tentu sering menemukan keteranganketerangan yang dikutip dari kitab zamakhsyari sebagai hujjah. Misalnya mereka mengatakan
:Zamakhsyari telah berkata dalam kitab Al-Kasysyaf atau dalam Asasul Balagah-nya.

Beliau orang yang mempunyai pendapat dan hujjah sendiri dalam banyak masalah bahasa Arab.
Bukan type orang yang suka mengikuti langkah-langkah orang lain yang hanya menghimpun dan
mengutip saja, tetapi ia mempunyai pendapat orisinal yang jejaknya ditiru dan diikuti oleh orang
lain. Imam Zamakhsyari ber mazhab Hanafi dalam fikih dan ber akidah Mutazilah. Beliau
menafsirkan Al-Quran cenderung kepada mazhab dan akidahnya dengan cara yang hanya
diketahui oleh orang yang ahli.
G. As-Syaukani
Nama lengkapnya Qadi Muhammad bin Ali bin Abdullah asy-Syaukani as-Sanani, seorang
imam mujtahid. Dilahirkan di kampung Syaukan pada 1173 H dan meninggal tahun 1250 H.
Dalam fikih beliau ber mazhab Zaidiyah. Kitab tafsirnya Fathul Qadir menggabungkan antara
riwayat, penalaran dan istinbath atas nash-nash ayat.
Reference :
1. Studi ilmu-ilmu Al-Quran, author : Manna Khlail al-Qattan. Publisher : Lintera Antar Nusa.
2. Al-Quran dan ulumul Quran, author : Drs. Muhammad Chirzin, M.Ag. Publisher : Dana
Bhakti Prima Yasa.
3. Al-Quran sumber hukum Islam yang pertama, author : Drs. Miftah Faridl & Drs. Agus
Syihabudin. Publisher : Pustaka.
4. Ulumul Quran Praktis, author : Drs. Hafidz Abdurrahman, MA. Publisher : Idea Pustaka.

14 Comments
1. Pretty cool post. I just stumbled upon your blog and wanted to say
that I have really liked reading your blog posts. Anyway
Ill be subscribing to your blog and I hope you post again soon!
LnddMiles 23 Juli 2009 @ 16:44
2. pertama saya ucapkan hamdalah kpda ALlah swt, trmaksh pada kedua org tua sya. dan
tak lupa pada semua pihak..! saya sangt terbantu dgn aday artikel ini, smga
maslahat dunia akhirat,mien..
ari nuril basri 18 Oktober 2010 @ 14:29
3. Trima kasih atas catatan ringkasnya.
Amdjad 24 Oktober 2010 @ 01:13
4. Alhamdulillah meningkatkan pemahaman saya tentang Islam dan Al Quran

Ya Allah jika Saudaraku yang baik ini, sedang tidur, jagalah & segarkanlah bangunnya.
Jika sedang beribadah, terimalah ibadahnya.
Jika sedang berdoa, kabulkanlah doanya.
Jika sedang bekerja, ringankan kerjanya dan berkahilah kerjanya.
Jika sedang usaha, mudahkan, lancarkan, bimbinglah dan berkahilah usahanya.
Jika sedang kesulitan, berilah kesabaran, berilah petunjuk, bebaskanlah kesulitannya,
berilah dia pembimbing dan penolong dari sisi MU.
Jika sedang sakit tabahkanlah dan sembuhkanlah.
Jika sedang sedih, gembirakanlah.
Jika sedang cemas, tentramkanlah hatinya dan lapangkan dadanya.
Jika sedang lupa dan khilaf, ampunilah, maafkanlah dan sayangilah dia.
Jika sedang berbahagia, karuniakanlah rasa syukur.
Aamiin.
Terima kasih.
Wassalamualikum warahmatullahi wabarakatuh
Djokolono 28 Juni 2011 @ 08:15
5. Alquran sebagai kitab suci umat Islam yang memiliki tingkat keaslian serta keluasan
pembahasan dalam ilmu pengetahuan tidak akan pernah kering dari panafsiran, ibarat
lautan tanpa batas yang tidak akan pernah kering di minum oleh zaman, oleh karena itu
penafsiran dalam Al Quran tidak akan pernah mencapai titik akhir kecuali atas kehendak
Alloh, Al Quran sendiri diturunkan Alloh sebagai kitab terakhir bagi umat di alam
semesta artinya tidak akan ada lagi kitab suci yang akan di turunkan oleh Alloh SWT.
Walaupun Alloh mampu untuk menurunkannya, itulah janji Alloh.
Al Quran akan selalu di butuhkan oleh segenap umat manusia mulai awal di
turunkannya sampai nanti di akhir zaman, sebagai kitab yang menjadi dasar atau undangundang bagi umatnya tentunya memiliki makna yang abstrak dan berbentuk isyaratisyarat yang bisa di pahami oleh orang-orang tertentu yang mumpuni. Bagi umat muslim
Al Quran tempat kembali untuk semua masalah, walaupun sering terjadi penafsiranpenafsiran yang tidak bertangung jawab atas Al Quran seperti yang sering kita saksikan
saat ini, untuk mengantisipasi hal-hal tersebut adalah tugas kita umat Islam, modal awal
dalam masalah ini ialah dengan mengkaji kembali historis dari ilmu penafsiran Al Quran
dengan begitu wawasan kita tentang penafsiran Al Quran akan bertambah luas sehinga
mempermudah kita dalam menghadapi perkembangan peradaban manusia serta merta
kita bisa memperkecil segala bentuk konflik yang terjadi baik dalam bentuk sosial
maupun keilmuan.
Dalam makalah ini kami akan berusaha untuk menelusuri kembali sejarah perkembangan
tafsir Al Quran, dan juga sedikit membahas mengenai tarif, pembagian tafsir,
metodologi tafsir serta tokoh-tokoh tafsir (mufassir). Mudah-mudahan bisa
mempermudah kita di dalam memahami ilmu tafsir dari kajian historisnya yang akhirnya

bisa menambah wawasan kita di dalam memahami Kalamulloh tersebut dari segi sejarah
social, budaya, dan teknologi.
1. Sejarah Tafsir
Pada saat Al Quran di turunkan, Rosul SAW. yang berfungsi sebagai mubayyin
(pemberi penjelasan), menjelaskan kepada sahabat-sahabatnya tentang arti dan
kandungan Al Quran, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak di pahami dan samar
artinya. Keadaan ini berlangsung sampai dengan wafatnya Rosul. Walaupun harus di akui
bahwa penjelasan tersebut tidak semua kita ketahui akibat tidak sampainya riwayatriwayat tentangnya atau karena memang Rosul sendiri tidak menjelaskan semua
kandungan Al Quran.
Kalau pada masa Rosul para sahabat menanyakan persoalan-persoalan yang tidak jelas
kepada beliau, maka setelah wafatnya, mereka terpaksa melakukan ijtihad, khususnya
mereka yang mempunyai kemampuan seperti Aly bin Abi Tholib, Ibnu Abbas, Ubay bin
Kaab, dan Ibnu Masud.
Sementara sahabat ada pula yang menanyakan beberapa masalah, khususnya sejarah
Nabi-Nabi atau kisah-kisah yang tercantum dalam Al Quran kepada tokoh-tokoh ahlul
kitab yang telah memeluk agama Islam, seperti Abdullah bin Salam, Kaab Al Akhbar,
dan lain-lain. Inilah yang merupakan benih lahirnya Israiliyyat.
Disamping itu, para tokoh tafsir dari kalangan sahabat yang disebutkan di atas
mempunyai murid-murid para tabiin, khususnya di kota-kota tempat mereka tinggal.
Sehingga lahirlah tokoh-tokoh tafsir baru dari kalangan tabiin di kota-kota tersebut,
seperti: (a) Said bin Jubair, Mujahid bin Jabr, di Makkah, yang ketika itu berguru kepada
Ibnu Abbas. (b) Muhammad bin Kaab, Zaid bin Aslam, di Madinah, yang ketika itu
berguru kepada Ubay bin Kaab. Dan (c) Al Hasan Al Bashri, Amir Al Syabi, di Irak,
yang ketika itu berguru kepada Abdullah bin Masud.
Gabungan dari tiga sumber di atas, yaitu penafsiran Rosulullah, penafsiran sahabatsahabat, serta penafsiran tabiin, di kelompokkan menjadi satu kelompok yang dinamai
Tafsir bi Al-Matsur. Dan masa ini dapat di jadikan periode pertama dari perkembangan
tafsir.
Berlakunya periode pertama tersebut dengan berakhirnya masa tabiin, sekitar tahun 150
H, merupakan periode kedua dari sejarah perkembangan tafsir.
Pada mulanya usaha pentafsiran ayat-ayat Al Quran berdasarkan ijtihad masih sangat
terbatas dan terikat dengan kaidah-kaidah bahasa serta arti-arti yang di kandung satu kosa
kata. Namun sejalan dengan perkembangan zaman yang tak bisa di bendung lagi, Al
Quran terus memberikan peluang berbagai macam pentafsiran, seperti yang di katakan
oleh Abdulloh Darras dalam An-Naba Al-Azhim: Bagaikan intan yang setiap sudutnya
memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut yang
lain, dan tidak mustahil jika anda mempersilahkan orang lain memandangnya, maka ia

akan melihat lebih banyak dari apa yang anda lihat. Sehingga muncullah berbagai corak
penafsiran antara lain: (a) corak sastra bahasa; (b) corak filsafat dan teologi; (c) corak
penafsiran ilmiah; (d) corak fiqih atau hukum; (e) corak tasawuf; (f) corak sastra budaya
kemasyarakatan.
Dari segi perkembangan kodifikasi (penulisan) penafsiran dapat di golongkan menjadi
tiga periode: Periode I, yaitu pada masa Rosulullah SAW, sahabat, dan permulaan masa
tabiin, di mana tafsir belum tertulis dan secara umum periwayatan ketika itu tersebar
secara lisan. Periode II, bermula dengan kodifikasi hadist secara resmi pada masa
pemerintahan Umar ibn Abdul Aziz (99-101 H). Tafsir ketika itu ditulis bergabung
dengan penulisa hadist-hadist, dan dihimpun dalam satu bab seperti bab-bab hadist,
walaupun tentunya penafsiran yang ditulis itu umumnya adalah Tafsir bi Al Matsur. Dan
periode III, dimulai dengan penyusunan kitab-kitab tafsir secara khusus dan berdiri
sendiri, yang oleh sementara ahli diduga dimulai oleh Al Farra (w.207 H). dengan
kitabnya yang berjudul Maani Al quran.
Di lain segi, sejarah perkembangan tafsir dapat pula ditinjau dari sudut metode
penafsiran. Walaupun disadari bahwa setiap mufassir mempunyai metode yang berbedabeda dalam perincianya dengan mufassir lain. Namun secara umum dapat diamati sejak
periode ketiga dari penulisan kitab-kitab tafsir sampai tahun 1960, para mufassir
menafsirkan ayat-ayat Alquran secara ayat demi ayat, sesuai dengan susunan dalam
mushaf. Penafsiran yang yang berdasarkan perurutan mushaf ini dapat menjadikan
petunjuk-petunjuk Alquran terpisah-pisah , serta tidak disodorkan kepada pembacanya
secara utuh dan menyeluruh. Memang satu masalah dalam Al quran sering dikemukakan
secara terpisah dan dalam beberapa surat. Ambilah dalam masalah riba, yang
dikemukakan dalam surat Al Baqarah, Ali Imron, dan Ar Rum, sehinga untuk
mengetahui pandangan Al Quran secara menyeluruh dibutuhkan pembahasan yang
menyeluruh dan mencakup ayat-ayat tersebut dalam surat yang berbeda-beda. Disadari
pula oleh para Ulama khususnya AL-Syathibi (w. 1388 M), bahwa setiap surat walaupun
permasalahanya berbeda-beda, namun ada satu sentral yang mengikat dan
menghubungkan masalah-masalah tersebut. Dan pada bulan Januari 1960, Syaikh
Mahmud Syaltut menyusun kitab tafsirnya, Tafsir Al quran Al karim, dalam bentuk
penerapan ide yang dikemukakan oleh Al-Syahibi tersebut Syaltut tidak lagi menafsirkan
ayat demi ayat, tetapi membahas surat demi surat, atau bagian-bagian tertentu dalam
surat, kemudian merangkainya dengan tema sentral yang terdapat dalam satu surat
tersebut. Metode ini diberi nama (maudui).
Namun apa yang di tempuh oleh Syalthut belum menjadikan pembahasan mengenai
petunjuk Al Quran yang dipaparkan secara menyeluruh, karena seperti yang telah
dikemukakan di atas, bahwa satu masalah bisa ditemukan dalam berbagai surat. Atas
dasar ini timbul ide untuk menghimpun semua ayat yang berbicara tentang satu masalah
tertentu, kemudian mengaitkan satu dengan yang lain, dan menafsirkan secara utuh dan
menyeluruh. Ide ini di Mesir dikembangkan oleh Prof. Dr. Ahmad Sayyid Al Kumiy pada
akhir tahun 60 an. Ide ini pada hakekatnya merupakan kelanjutan dari metode
Mawdhuiy mempunyai dua pengertian: pertama, penafsiran menyangkut satu surat
dalam Al Quran dengan menjelaskan tujuan-tujuannya secara umum dan yang

merupakan tema sentralnya, serta menhubungkan persoalan-persoalan yang beranekan


ragam dalam surat tersebut antara satu dengan lainnya dan juga dengan tema tersebut,
sehingga satu surat tersebut dengan berbagai masalah-masalahnya merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan.
Kedua, penafsiran yang bermula dari menghimpun ayat-ayat Al Quran yang membahas
satu masalah tertentu dari berbagai ayat atau surat Al Quran dan yang sedapat mungkin
diurut sesuai dengan urutan turunnya, kemudian menjelaskan pengertian menyeluruh dari
ayat-ayat tersebut, guna menarik petunjuk Al-Quran secara utuh tentang masalah yang
dibahas itu.
Demikian perkembangan penafsiran Al-Quran darfi segi metode, yang dalam hal ini
ditekankan menyangkut pandangan terhadap pemilihan ayat-ayat yang ditafsirkan (yaitu
menurut urut-urutannya).
2. Pengertian tafsir
A. Menurut bahasa
Terjadi perbedaan pendapat, ada yang mengatakan bahwa tafsir berasal dari kata tafsiroh
yang berarti yang berarti statoskop, yaitu alat yang dipakai oleh dokter untuk memeriksa
orang sakit, yang berfungsi membuka dan menjelaskan, sehingga tafsir berarti penjelasan.
Mufasir dengan tafsirnya dapat membuka arti ayat, kisah-kisah dan sebab-sebab turunnya
(Az Zarkasyi, II, 1957: 147).
Menurut Syekh Mannaul Qoththan, kata tafsir mengikuti wazan tafil, dari kata
fasara yang berarti menerangkan, membukan dan menjelaskan makna yang maqul
(Mannaul Qaththan, 1971: 277).
Dari beberapa pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan, bahwa tafsir berarti
keterangan, penjelasan atau kupasan yang di pakai untuk menjelaskan maksud dari katakata yang sukar.
B. Menurut Istilah:
Pengertian tafsir menurut istilsh ada berbagai pendapat ulama:
1. Menurut Abu Hayyan
Tafsir adalah menerangkan cara baca lafat-lafat ayat dan irobnya serta menerangkan segi
segi sastra susunan Al-Quran dan isyarat isyarat ilmiahnya.
2. Menurut Imam Al-Zarkasyi
Tafsir ialah menjelaskan petunjuk- petunjuk Al-Quran dan ajaran-ajaran hukum-hukum
dan hikmah Allah di dalam mensyariatkan hukum-hukum kepada umat manusia dengan

cara yang menarik hati, membuka jiwa, dan mendorong orang untuk mengikuti petunjukNya. Pengertian inilah yang lebih layak disebut sebagai tafsir.
C. Persamaan dan Perbedaan Tafsir, Tawil, dan Tarjamah
Titik persamaannya: ketiga-tiganya menerangkan makna ayat- ayat Al-Quran. Titik
perbedaannnya adalah sebagai berikut:
Tafsir: menjelaskan makna ayat yang kadang kadang dengan panjang lebar, lengkap
dengan penjelasan hukum hukum dan hikmah yang dapat diambil dari ayat itu sering
kali disertai dengan kesimpulan kandungan ayat-ayat tersebut.
Tawil: lafadz lafadz ayat Al-Quran itu di alihkan dari arti yang dhohir dan rajih
kepada arti lain yang samar dan marjuh / tidak kuat.
Terjemah: hanya mengubah kata kata ayat dari bahasa arab ke dalam bahasa lain tanpa
memberikan penjelasan arti kandungan secara panjang lebar dan tidak menyimpulkan
dari isi kandungannya.
3. Pembagian Tafsir
I. Tafsir bi Al Royi
Yaitu cara menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang di dasarkan atas sumber ijtihad dan
pemikiran mufassir terhadap tuntutan kaidah bahasa Arab dan kesusastraannya, teori ilmu
pengetahuan setelah dia menguasai sumber-sumber tadi.
Ulama berbeda pendapat mengenai boleh tidaknya metode tafsir bi Al Royi. Sebagian
ulama melarang penafsiran Al-Quran dengan menggunakan metode ini, sebagian yang
lain memperbolehkannya. Rincian dari perbedaan ini hanyalah sebatas pada lafadz bukan
hakikatnya. Dan golongan pertama tidak sampai melewati batas-batas ketentuan
penafsiran. Sedangkan golongan kedua berpendapat bahwa tiap-tiap golongan telah
melewati batas, dengan alasan bahwa meniadakan mana dalam lafadz yang manqul
adalah suatu hal yang berlebihan dan membahas penafsiran bagi semua orang adalah
suatu perbuatan yang tercela. Akan tetapi kalau kita kaji lebih dalam perbedaanperbedaan mereka kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa semuanya sepakat tidak di
perbolehkannya menafsiri Al-Quran hanya dengan mengandalkan pendapat pribadi.
Sedangkan menurut Imam Al-Dzahabi dalam menanggapi permasalahan ini beliau
berkata: Tafsir bi Al-Royi ada dua:
dengan menggunakan kaidah bahasa arab, akan tetapi tetap mengikuti Al-Kitab dan
sunnah serta tetap mengikuti kaidah ilmu tafsir. Dan hal ini diperbolehkan.
tidak memakai kaidah bahasa arab dan kaidah-kaidah ilmu syariat serta tidak mengikuti
kaidah ilmu tafsir. Dan hal ini sangat dibenci dan tidak di terima oleh para ulama, seperti
yang di sampaikan oleh Ibnu Masud: akan ada suatu kaum yang mengajak untuk

memahami Al-Quran, akan tetapi mereka tidak mengamalkannya. Maka wajib bagi
kalian untuk mendalami Al-Quran, dan menjauhi segala bentuk bidah.
Kitab-kitab Tafsir bi Al-Rayi yang di Legalkan oleh Ulama
Perpustakaan islam telah banyak mengoleksi kitab-kitab tafsir bi Al-Royi yang di
perbolehkan, yang sebagiannya telah di bukukan pada masa-masa awal termasuk kitabkitab yang digunakan untuk mengalahkan ahli filsafah dan ahli kalam dan yang lain-lain.
Kitab-kitab tersebut antara lain:
1. Majazul Quran li Abi Abidah Muammar bin matsna at-Taimy (w. 210 H)
2. Mafatihul Ghoib li Rozi (w. 606 H)
3. Anwaruttanzil wa Asrorit Tawil lil Baidhowi (w. 685 H)
4. Al-Jami li Ahkami Al-Quran li Al-Qurthubi (w. 671 H)
Dan lain-lain
II. Tafsir bil Matsur
Tafsir bil matsur banyak disebut dalam Al quran antara lain penjelasan satu ayat dengan
ayat lain, perincian satu ayat dengan ayat lain, seperti yang terjadi dalam hal bacaan ,
banyak sekali satu bacaan menafsiri bacaan lain. Dan banyak disebut dalam hadist-hadist
Nabi seperti banyaknya ayat-ayat Al-Quran yang disebut secara umum dan penjelasanya
ada pada hadist Nabi maupun pendapat-pendapat yang dinukil dari para sahabat, jadi bisa
disimpulkan bahwa Tafsir bil Matsur adalah: Metode penafsiran ayat-ayat Al quran
yang didasarkan atas sumber penafsiran Al quran dari Hadist dan riwayat para sahabat.
Adapun sumber penafsiran yang berasal dari Tabiin terjadi perselisihan, menurut Ibn
Jarir dan para pengikutnya dikatakan sebagai tafsir yang menengahi antara keduanya.
Tafsir bil Matsur dibagi menjadi dua:
1. memiliki periwayatan dan dalil-dalil yang sah
2. memiliki periwayatan dan dalil-dalil yang tidak sah
Diantara kitab-kitabnya adalah:
1. Jamiul Bayan fi Tafsir Alquran ibn Jarir (w.310 H)
2. Bahrul Ulum Assamarkandi (w.373H)

3.Tafsir ibn Katsir (w.774 H)


Dan lain-lain.
4. Tokoh-tokoh Tafsir yang Terkenal
I. Abdulloh bin Abbas
Beliau dilahirkan di Syibi tiga tahun sebelum hijrah, ada yang mengatakan lima tahun
sebelum hijrah, dan wafat di kota Thoif pada tahun 65 H, dan ada yang mengatakan tahun
67 H, dan Ulama Jumhur mengatakan beliau wafat pada tahun 68 H.
Beliau telah banyak melahirkan beberapa tafsir yang tidak terhitung jumlahnya, dan
tafsiran beliau dikumpulkan dalam sebuah kitab yang diberi nama Tafsir ibnu Abbas. Di
dalam kitab ini terdapat beberapa riwayat dan metode yang berbeda-beda, namun yang
paling bagus adalah tafsir yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Tholhah Al Hasyimi.
II. Mujahid bin Jabr
Beliau dilahirkan pada tahun 21 H, pada masa ke pemimpinan Umar bin Khattob, dan
wafat pada tahun 102/103 H. sedangkan menurut Yahya bin Qhatton, beliau wafat pada
tahun 104 H.
Beliau termasuk tokoh tafsir di masa tabiin sehingga beliau dikatakan tokoh paling alim
dalam bidang tafsir di masa tabiin, dan pernah belajar tafsir kepada Ibnu Abbas
sebanyak 30 kali.
III. Atthobari
Nama asli beliau bernama Muhammad bin Jarir, di lahirkan di Baghdad pada tahun 224
H, dan wafat pada tahun 310 H.
Karangan-karangan beliau ialah Jamiul Bayan Fi Tafsiril Quran, Tarikhul Umam Al
muluk dan masih banyak lagi yang belum disebutkan.
IV. Ibnu Katsir
Nama asli beliau adalah Ismail bin Umar Al Qorsyi ibnu Katsir Al Bashri. Di lahirkan
pada tahun 705 H. dan wafat pada tahun 774 H. beliau termasuk ahli dalam bidang fiqih,
hadist, sejarah, dan tafsir.
Termasuk karangan-karangan beliau ialah Al Bidayah Wan Nihayah Fi Tarikhi, Al
Ijtihad Fi Tholabil jihad, Tafsirul Quran, dan lain-lainnya.
V. Fakhruddin Ar Rozi

Nama aslinya ialah Muhammad bin Umar bin Al Hasan Attamimi Al Bakri
Atthobaristani Ar Rozi Fakhruddin yang terkenal dengan sebutan Ibnul Khotib As
Syafii.
Beliau dilahirkan di Royyi pada tahun 543 H. dan wafat pada tahun 606 H. di harrot.
Beliau mengajar ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu pasti, dan juga beliau mendalami ilmu
filsafat dan mantiq.
Diantara karangan beliau ialah mafatihul Ghoib fi Tafsirul Quran, Al Muhasshol fi
Ushulil Fiqh, Tajizul Falasifah dan lain-lainya.
Dan masih banyak tokoh-tokoh tafsir yang belum kami sebutkan, karena keterbatasan
waktu yang kami miliki untuk menghimpun semuanya.
Perkembangan Metodologi Tafsir
Al-Quran merupakan sumber ajaran islam. Kitab Suci itu, menempati sentral, bukan saja
dalam perkembangan limu-ilmu keislaman, tetapi juga merupakan inspirator, pemandu
dan pemadu gerakan-gerakan umat Islam sepanjang empat belas abad sejarah pergerakan
umat ini.
Jika demikian itu halnya, maka pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Quran, melalui
penafsiran-penafsirannya, mempunyai peranan yang sangat besar bagi maju-mundurnya
umat. Sekaligus, penafsiran-penafsiran itu dapat mencerminkan perkembangan seta corak
pemikiran mereka.
Berikut ini akan dikemukakan selayang pandang tentang perkembangan metode
penafsiran, keistimewaan, dan kelemahannya, menurut tinjauan kaca mata kita yang
hidup pada abad ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), serta era globalisasi dan
informasi.
Corak dan Metodologi Tafsir
1. corak matsur (riwayat)
Bermacam-macam metodologi tafsir dan coraknya telah di perkenalkan dan di terapkan
oleh pakar-pakar Al-Quran. Kalau kita mengamati metode penafsiran sahabat-sahabat
Nabi SAW, ditemukan bahwa pada dasarnya setelah gagal menemukan penjelasan Nabi
saw. mereka merujuk pada penggunaan bahasa dan syair-syair Arab.
Setelah masa sahabat pun, para tabiin dan atba at-tabiin, masih mengadalkan metode
periwayatan dan kebahasaan seperti sebelumnya.
Kalaulah kita berpendapat bahwa Al-Farra(w. 310 H) merupakan orang pertama yang
mendiktekan tafsirnya Maaniy Al-Quran, maka dari tafsirnya kita dapat melihat bahwa
faktor menjadi landasan yang sangat kokoh. Demikian pula Al-Thabari (w. 310H) yang
memadukan antara riwayat dan bahasa.

Keistiwewaannya antara lain adalah:


1. Menekankan pentingnya bahasa dalam memahami Al-Quran.
2. Memaparkan ketelitian redaksi ayat ketika menyampaikan pesan-pesannya.
3. Mengikat mufasir dalam bingkai teks ayat-ayat, sehingga membatasi terjerumus dalam
subjektifitas berlebihan.
Di sisi lain, kelemahan yang terlihat dalam kitab-kitab tafsir yang mengandalkan metode
ini adalah:
1. Terjerumusnya sang mufassir dalam uraian kebahasaan dan kesusasteraan yang
bertele-tele sehingga pesan-pesan pokok Al-Quran menjadi kabur di celah uraian itu.
2. Seringkali konteks turunya ayat (uraian asbabal-nuzul atau sisi kronologis turunya
ayat-ayat hukum yang di pahami dari uraian nasikh/mansukh ) hampir dapat di katakan
terabaikan sama sekali, sehingga ayat-ayat tersebut bagaikan turun bukan dalam satu
masa atau berada di tengah-tengah masyarakat tanpa budaya.
Bahwa mereka mengandalkan bahasa serta menguraikan ketelitian adalah wajar. Karena,
di samping penguasaan dan rasa bahasa mereka masih baik, juga karena mereka ingin
membuktikan kemujizatan Al-Quran dari segi bahasanya . Namun, menerapkan metode
ini serta membuktikan kemujizatan itu untuk masa kini, agaknya sangat sulit karena
jangankan kita di Indonesia ini orang-orang Arab sendiri sudah kehilangan kemampuan
dan rasa bahasa itu. Disamping itu di butuhkan penyeleksian yang cukup ketat terhadap
riwayat-riwayat itu. Dan hal itu sangatlah sulit jika diterapkan untuk masa sekarang,
sehingga menggunakan metode riwayat membutuhkan pengembangan, di seleksi yang
cukup ketat.
Pengembangan ini tentunya dengan menggunakan nalar dan dari penalaran lahir metode
tafsir bi ar-royi.
3. Metode penalaran; pendekatan dan corak-coraknya.
a. Metode tahliliy
Banyak cara pendekatan dan corak tafsir yang mengandalkan nalar, sehingga akan sangat
luas apabila kita bermaksud menelusuri satu demi satu. Untuk itu, agaknya akan lebih
mudah dan efsien, bila bertitik tolak dari pandangan Al-Farmawi yang membagi metode
tafsir menjadi empat macam metode, yaitu tahliliy, ijmaliy, muqaran, dan mawdhuiy.
Yang paling populer dair keempat metode yang disebutkan itu adalah metode
tahliliy/tajziiy, yaitu :satu metode tafsir yang mufassirnya beusaha menjelaskan
kandungan ayat-ayat Al-Quran dari berbagai seginya dengan memperhatiakn runtutan
ayat-ayat Al-Quran sebagaimana yang tercantum di dalam mushaf.segala seg yang di

anggap perlu oleh seorang mufassir tahliliy/tajziiy di uraikan, bermula dari kosakata,
asbab al-nuzul, munasabah, dan lain-lain yang berkaitan dengan teks atau kandungan
ayat. Metode ini, walaupan di nilai sangat luas, namun tidak menyelesaikan satu pokok
bahasan, karena seringkali sau pokok bahasan di uraikan sisinya atau kelanjutannya, pada
ayat lain.
Kelemahan lain yang di rasakan dalam metode ini,dan yang masih pelu di cari
penyebabnya apakah pada diri kita atau metode mereka adalah bahwa bahasanbahasannya di rasakan sebagai mengikat generasi berikut. Hal ini mungkin karena sifat
penafsirannya amat teoritis, tidak sepenuhnya mengacu kepada penafsiran persoalanpersoalan khusus yang mereka alami dalam masyarakat mereka,sehingga uraian yang
bersifat teoritis dan umum itu mengesankan bahwa itulah pandngan Al-Quran untuk
setiap waktu dan tempat.
b. Metode Mawdhuiy
Istanthiq Al-Quran (Ajaklah Al-Quran berbicara atau biarkan ia menguraikan
maksudnya) konon itu pesan Ali ibn Abi Thalib.
Pesan ini antara lain mengharuskan penafsir untuk merujuk kepada Al-Quran dalam
rangka memahami kandungannya. Dari sini lahir metode mawdhuiy dimana mufassirnya
berupaya menghimpun ayat-ayat Al-Quran dari berbagai surat dan yang berkaitan
dengan persoalan atau topic yang ditetapkan sebelumnya. Kemudian, penafsir membahas
dan menganalisis kandungan ayat-ayat tersebut sehingga menjadi satu kesatuan yang
utuh.
Tafsir Dalam Era Globalisasi
Dr. Abdul Aziz kamil mantan Menteri Waqaf dan Urusan Al-Azhar Mesir
menyinggung tentang hal-hal yang menjadi penekanan sementara penulis Islam baik
muslim maupun non-muslim tentang apa yang dinamai Al-Islam Al-Iqlimiy. Hal itu
berarti bahwa setiap wilayah (kawasan atau lokasi) mengambil corak dan bentuk yang
berbeda dengan lainnya, akibat perbedaan agama dan peradaban yang pernah hidup dan
dianut oleh penduduk kawasan tersebut, sehingga pemahamannya terhadap Islam
dipengaruhi sedikit atau banyak dengan budaya setempat.
Kalau pendapat diatas dapat di terima, itu berarti bahwa Islam Indonesia dapat berbeda
dengan Islam Negara-negara lain, akibat perbedaan budaya dan peradaban.
Dari satu sisi, apa yang di tekankan diatas ada benarnya dan dapat di perkuat dengan
kenyataan yang berkaitan dengan Al-Quran yang di yakini sebagai berdialog dengan
seluruh manusia sepanjang masa. Dan tentunya, pemahaman manusia termasuk
terhadap Al-Quran akan banyak di pengaruhi oleh budaya dan perkembangan
masyarakatnya. Bahkan lebih dari itu, dalam Al-quran sendiri terdapat perbedaanperbedaan, akibat perbedaan masyarakat yang di tumuinya. Hal ini dapat di rasakan dari
adanya apa yang di namai Al-Ahruf As-Sabah yang oleh sementara ulama dipahami

sebagai adanya perbedaan bahasa atau dialek yang di benarkan oleh Allah akibat
kesulitan-kasulitan masyarakat (suku) tertentu dalam membacanya bila hanya terbatas
satu bahasa saja. Demikian juga, halnya dengan perbedaan qiraat yang di kenal luas
dewasa ini.
Namun demikian, hemat kami, tidaklah wajar untuk menonjolkan segi-segi perbedaan
tersebut, yang pada akhirnya menciptakan tafsir ala Indonesia, Mesir, atau kawasan lain.
Ketidakwajaran ini bukan saja di sebabkan oleh adanya sekian banyak persamaan dalam
bidang pandangan hidup umat Islam akidah, syariah, dan akhlak yang tentunya harus
mempengaruhi pemikiran-pemikiran mereka sehingga dapat melahirkan persamaan
pandangan dalam banyak bidang. Tetapi juga, dan yamg tidak kurang pentingnya, adalah
kita semua hidup dalam era informasi dan globalisasi yang menjadikan dunia kita
semakin menyempit dan penduduknya saling mempengaruhi.
Diakui bahwa setiap masyarakat mempunyai kekhususan-kekhususan. Nah, apakah cirri
masyarakat Indonesia, yang membedakannya dari masyarakat-masyarakat lain dan yang
mungkin akan menjadi bahan pertimbangan untuk meletakkan dasar-dasar penafsiran itu?
Ada yang berpendapat bahwa kekhususan tersebut adalah sebagai masyarakat plural.
Tetapi, walaupun hal tersebut benar, hal ini bukan merupakan sesuatu yang khas
Indonesia. Masyarakat Mesir, Syiria, dan India misalnya, juga merupakan masyarakat
plural di mana berbagai etnis dan agama hidup berdampingan dengan segala sukadukanya.
Menjadi kewajiban semua umaat Islam untuk membumikan Al-Quran, menjadikannya
menyentuh realitas kehidupan. Kita semua berkewajiban memelihara Al-Quran dan
salah satu bentuk pemeliharaannya adalah memfungsikannya dalam kehidupan
kontemporer yakni dengan memberinya inte-pretasi yang sesuai tanpa mengorbankan
kepribadian, budaya bangsa, dan perkembangan positif masyarakat.
NEXTBABII
Al-quran sebagaimana yang kita ketahui, merupakan sumber seluruh ilmu yang
merupakan suatu hikmah dari manapun kita memandangnya. Bukti secara empiris dapat
kita temukan dalam berbagai macam ilmu pengetahuan, keadaan sosial masyarakat dan
juga peradaban bisa terwarnai oleh Al-quran, bahkan sains modern yang baru
terpecahkan oleh kalangan intelektual telah disindir oleh Al-quran belasan abad yang
lalu. Ini mencerminkan betapa Al-quran adalah satu-satunya sumber hukum secara
aktual, yang pengaruhnya bisa dirasakan oleh berbagai kalangan, baik kalangan awam
ataupun kalangan cendikiawan.
Pada pembahasan ini, kami bahas tentang pengaruh Al-quran terhadap aspek kehidupan
manusia sejak alquran itu di turunkan dan kami paparkan pula, bagaimana Al-quran
menjadi central bagi pengetahuan dan peradaban. Sebagaimana kita ketahui bersama
bahwasannya alquran di turunkan kepada Rasulullah dan terhadap kondisi masyarakat
yang bobrok moralnya serta keadaan masyarakat yang terbelakang, namun demikian

keadaan masyarakat arab pada waktu itu sudah cukup maju, hal ini disebabkan
perdagangan yang sudah cukup terkenal di daerah-daerah jazirah arab, dan juga
masyarakatnya pada waktu itu sangat terkenal dalam budaya sastranya, lebih-lebih
masyarakatnya sangat menyukai syaur-syair puji-pujian terhadap dewanya atau hanya
sebagai ungkapan kekaguman terhadap keindahan alam, ada juga sebagai gambaran dari
perjuangan anggota suku yang sangat pemberani.tempat-tempat yang terkenal sebagai
pusat-pusat perlombaan syair adalah pasar-pasar perdagangan.
Jadi sangat tidak mengherankan jika mujizat terbesar nabi Muhammad adalah Al-quran,
dimana Al-quran adalah pedoman hidup bagi manusia yang disajikan dengan status sastra
yang sangat tinggi, hal inipun sebagai tandingan terhadap syair-syair yang sudah
berkembang pada saat itu,dan realitanya sampai saat ini tidak pernah ada syair yang bisa
mengalahkan keindahan sastra alquran ini sebagai hujjah kuat bahwa nabi Muhammad
dengan Al-quran sebagai pedoman hidup manusia serta aturan itu benar-benar datangnya
dari Allah swt sebagai penguasa tertinggi jagad raya ini. Dan juga kitab suci ini sangat
berpengaruh terhadap kehidupan manusia semenjak Al-quran itu di turunkan, terutama
terhadap ilmu pengetahuan, peradaban serta akhlak manusia, sepanjang sejarah keemasan
pada masa islam yang telah banyak menghasilkan karya yang monumental serta menjadi
tonggak sumber pengetahuan sampai saat ini adalah karena pengaruh dari kitab suci ini
yang menjadi inspirasi serta sumber yang sangat dalam kandunganya.
Harapan kami dengan adanya tulisan ini bisa menjadikan kita untuk lebih meyadari
bahwa agama islam memiliki khazanah keilmuan yang sangat dalam untuk
mengembangkan potensi yang ada di alam ini dan untuk menggali alquran sebagai
langkah berpijak kita serta merupakan langkah awal untuk membuka cakrawala keilmuan
kita, agar kita menjadi seorang muslim yang bijak sekaligus intelek amin
A.Pengertian Fenomenologis Al-quran
Fenomenologis berasal dari kata phenomenon yang mempunyai arti penampakan realitas
dalam kesadaran manusia, fakta-fakta dan gejala-gejalanya, peristiwa-peristiwa adat serta
bentuk keadaan yang dapat diamati dan dinilai lewat kacamata ilmiah. Dan logos yang
berarti penjelasan atau ilmu.
Adapun istilah fenomenologis secara terminologi adalah suatu ilmu penetuan kesimpulan
dari adanya gejala, atau arti lain aliran filsafat yang dipimpin oleh Edmun Husserl (18591938) tentang manusia dan kesadarannya, manusia yang tahu dan mengalami, atau
pengetahuan yang kita miliki hanya pengetahuan yang dapat dicapai oleh kesadaran
manusia.
Sedangkan kajian Al-quran dilihat dari segi fenomenologis adalah suatu pendekatan
pemahaman Al-quran yang didasarkan pada sejauh mana Al-quran yang notabenenya
sebagai sumber utama agama islam mempengaruhi peradaban islam khususnya dan
kepada seluruh umat manusia pada umumnya.
B.Pengaruh-Pengaruh Al-quran

1. Ideologi
Katakanlah ( hai Muhammad );dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah tuhan yang
kepadanya bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan,
dan tak ada apapun yang setara dengannya .(Qs :.Al-ikhlas,1-4)
Dialah Allah yang menciptakan segala sesuatu.( Qs :Ar-raad ayat 18 )
Dia (Allah) tidak terjangkau dengan penglihatan mata, namun Dia (Allah) menjangkau
semua penglihatan, dan Dialah yang maha lembut lagi maha mengetahui segala
kejadian.(Qs.Al-anam,103).
Ayat-ayat tersebut secara garis besar menggambarkan aqidah Ilahiyyah (keyakinan
tentang ketuhanan) didalam islam. Itulah aqidah paling sempurna yang dapat diterima
akal serta aqidah paling sempurna dalam agama.
Alam semesta adalah makhluk (ciptaan Allah), Allah yang menciptanya dan kembali
kepada Allah, lenyap dan adanya alam semesta tergantung pada kehendak Allah.
Demikianlah seorang muslim mengimani eksistensi tuhan.Akal tidak dapat mencapai
tingkat kepercayaan melebihi tingkat kepercayaan yang ada pada agama islam.
Orang-orang zaman dahulu atau sebagian dari mereka berpendapat bulat bahwa tandatanda cakrawala seperti matahari, bulan, bintang, dan planet-planet lainnya adalah kekal
dan tidak mungkin punah. Mengapa? Karena menurut mereka, semuanya itu berasal dari
cahaya, dan cahaya adalah suatu substansi (jauhar) sederhana. Sedangkan substansi
sederhana tidak terdiri dari beberapa unsur, karena itu ia tidak akan rusak atau punah.
Akan tetapi, dalam zaman kita dewasa ini kita dapat menyaksikan kenyataan, bahwa
semua materi terdiri dari molekul-molekul atom dapat terbelah dan pecah, dan kemudian
menjadi sinar atau cahaya,dari sinar atau cahaya itu terbentuklah elemen (anasir) dari
elemen terbentuklah materi dan dari materi terbentuklah warna, rupa, tahap, dan
keadaan.Semuanya adalah benda pertama atau materi yang dalam aliran filsafat kuno
dikatakan sebagai sumber kerusakan dan kehancuran.
Semua agama mempercayai adanya hubungan antara pencipta dan makhluk ciptaannya.
Akan tetapi membedakan hubungan antara Al-khalik dan makhluk-Nya dengan hubungan
antara sebab dan musabbab yang bersifat materil, atau hubungan mekanik antara
pendahuluan dan kesimpulan didalam analogi, sebab-sebab materil-betapapun hebatnyatidak melahirkan kepercayaan dan tidak pula menimbulkan ketentraman iman dihati
manusia
Al-quranulkarim dengan tegas menetapkan hubungan antara Alkhalik yang disembah
dan makhluk atau para hamba-Nya yang menyembah. Quran tegas pula dalam
memberikan dorongan kepada manusia supaya menolong diri sendiri, serta percaya
kepada kekuatan yang ada pada mereka sendiri. Disamping itu tentu percaya dan
bersandar pada kekuatan Ilahi yang diwujudkan dalam doa dan sholat. Allah tidak

menerima orang yang menyia-nyiakan kesanggupan dan kemampuan kerjanya, tetapi


bersamaan dengan itu Allah juga tidak melarang hamba-Nya mengharapkan pertolongan
kekuatan Ilahi pada saat ia sudah tidak berdaya lagi. Itulah batas terjauh mengenai
kesabaran dan harapan yang di berikan oleh agama kepada manusia
2. Sosial
Al-Quran adalah kitab suci yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW yang
mengandung petunjuk bagi umat manusia, Al-Quran diturunkan untuk menjadi pegangan
bagi mereka yang ingin mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, tidak di turunkan untuk
satu umat atau satu abad, tapi untuk seluruh umat manusia dan untuk sepanjang masa,
karena itu luas ajaran-ajarannya adalah sama dengan luasnya manusia.
Ajaran-ajarannya begitu luas serta ditujukan kepada umat manusia dalam perikehidupan
yang bagaimanapun juga, bagi kaum yang primitif maupun yang peradapannya tinggi.
Bagi yang kaya maupun yang miskin, yang pandai atau yang bodoh, dan pokoknya untuk
seluruh golongan masyarakat, meliputi segala lapangan kegiatan masyarakat.
Sewaktu Al-Quran di turunkan sekitar empat belas abad yang lalu, di dunia sudah
terdapat banyak agama dan kitab yang dianggap suci oleh pengikutnya. Pada masa itu
dunia berada pada jurang kehancuran, masa kebodohan yang sering disebut denagan
zaman jahiliah (dark age) sehingga dalam hal ini Al-Quran sebagai kitab suci yang dijaga
keotentikannya sangat urgen sekali kedudukannya dalam kehidupan.
Agama islam yang dibawa nabi Muhammad SAW yang berisikan undang-undang dari
Allah SWT. Yakni Al-Quran telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia
terutama bangsa arab dan mengeluarkan dari zaman kebodohan yang gemar menyembah
patung menjadi percaya kepada keesaan Allah, hari kebangkitan, hal-hal yang ghaib,dll.
Kitab suci Al-Quran benar-benar telah menghidupkan jiwa bangsa arab khususnya dan
seluruh dunia umumnya.
Salah satu yang luar biasa dan menarik, seorang umar ibn khattab yang dengan keras
menentang islam dapat luluh hatinya dan menyatakan islam hanya dengan membaca
salah satu ayat dari alquran. Lalu misalnya lagi ketika perutusan najasi (negus, sebutan
raja habsy) yang berkunjung ke madinah, itu terjadi setelah dan rombongan dari mekah
hijrah ke madinah. Waktu itu rasullah di hadapan tamu-tamu beliau membacakan surat
yasiin, tamu-tamu itu menangis lalu mengikrarkan keislamannya. Mereka bilang:
alangkah prsisnya ini dengan yang dulu di turunkan kepada isa.
Pada peristiwa yang lain yaitu seputar surat rasul pada raja negos,rosul mengirim surat
kepada raja negos setelah negos memebacanya ia menyuruh jafar abi thalib untuk
membacakan alquran di hadapan para rahib, jafar memebaca surat maryam, mendengar
itu orang-orang menangis dan menyatakan beriman kepada alquran .
Ada satu pengaruh lagi yang menunjol dari alquran, yaitu timbulnya kesadaran akan arti
pentingnya disiplin dan ketaatan . islam melalui undang-undang Alloh yaitu Al-Quran

meletakkan dasar-dasar umum masyarakat yang mengatur hubungan antara individu


dengan individu ,antara individu deangan masyarakat ,antara kelompok masyarakat
dengan dengan kelompok lain ,hukum keluarga sampai bernegara .islam pertama
mengangkat derajat wanita memeberihak pada wanita ,islam juga ju ga menegakkan
ajaran persamaan antara manusia dan memeberantas perbudakan.Al-Quran mengatur
tentang HAM (hak asasi manusia ) ,menetapkan adanya keistimewaan yang berbeda-beda
diantara manusia ,namun ketidaksamaan itu bukan disebabakan oleh fanatisme ras
,golongan, suku bangsa, ataupun derajat. Dalam hak dan kewajiban semua diatur sama
oleh islam (Al-Quran ).
Al-Quran juga menuntut adanya musyawarah dalam setiap pengambilan
keputusan,seperti halnya yang telah dipraktekkan oleh negara dan masyarakat kita yang
selalu mengedepankan musyawarah dalam pengambilan keputusan .
Dan perkara lain yang menunjukkan adanya pengaruh Al-Quran dalam kehidupan
masyarakat adalah banyaknya halaqoh-halaqoh pengajian Al-Quran dimasyarakat,
adanya madrasah-madrasah pendidikan Al-Quran disetiap permulaan dalam sebuah acara
seperti pernikahan dll.
3. Sains
Lebih dari satu diadalam Al-quran menjelaskan bahwa Allah menundukkan matahari
dan bulan bagi manusia. Hal ini memperpanjang harapan mereka dan memenuhi
ambisinya dalam menaklukkan ruang angkasa, mendayagunakan energi matahari, serta
mencapai bulan, bahkan suatu saat mendarat dimatahari. Allah berfirman
Dan Dia telah menundukkan ( pula ) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus
beredar ( dalam orbitnya ) ( Qs.Ibrahim:33 )
Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bintangbintang ditundukkan ( untukmu ) dengan perintahnya. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar ada tanda-tanda ( kekuasaan ) Allah bagi kamu yang memahaminya .(Qs.
An-nahl:12)
Selain berbicara tentang matahari dan bulan, gunung juga disebutkan secara eksplisit
dalam kitab suci Al-quran sebanyak 39 kali, dan secara implisit dalam 10 ayat
lainnya.Dari 49 ayat Quran tersebut, 22 diantaranya menggambarkan gunung sebagai
pasak atau tiang pancang yang memancangkan permukaan bumi kebawah dengan aman
serta mengokohkannya agar tidak bergetar sama sekali. Hal ini lalu tersingkap pada
penghujung akhir tahun 1960-an oleh pakar keilmuan dalam kerangka kerja teori
lempeng tektonik ( plate tetonics ).
Fakta bahwa kitab suci Al-quran yang telah diwahyukan 14 abad lalu yang
menggambarkan gunung sebagai pasak menyatakan secara tidak langsung bahwa
sebagian besar massa gunung berada dibawah permukaan bumi.Dan ilmu-ilmu bumi
modern mempunyai bukti-bukti bahwa akar gunung yang terhunjam dalam, dapat

mencapai 15 kali ketinggiannya diatas permukaan darat.Kembali, ayat-ayat Al-quran


menunjukkan peranan utama gunung sebagai stabilisator permukaan bumi agar tidak
bergetar sama sekali bersama kita. Teori ini telah diketahui oleh nabi Muhammad SAW
pada 14 abad lalu, sebagaimana sabdanya:
tatkala Allah menciptakan bumi, ia bergoyang dan menyentak lalu Allah
menstabilkannya dengan gunung.( Hadits Shoheh riwayat Ahmad/124 )
Bahwa gunung tidak saja merupakan peninggian yang terlihat pada permukaan bumi,
tetapi perpanjangannya kebawah didalam lapisan kulit bumi ( dalam bentuk tiang
pancang atau pasak ) sangat ditekankan. Baik yang tersembunyi didalam tanah maupun
batu, untuk memegang salah satu ujung tenda ke permukaan bumi, maka sebagian besar
gunung mestilah tersembunyi didalam lapisan perut bumi. Istilah tiang pancang atau
pasak atau akar digunakan bagi gunung dijelaskan didalam surat An-naba ayat 6dan7.
bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan ? dan gunung-gunung
sebagai pasak ?.
Didalam Al-quran juga disebutkan proses terjadinya hujan, awan itu bermacam-macam
dan sedikit diantaranya adalah awan yang menurunkan hujan menurut pakar observasion
( dengan alat-alat modern ).Salah satu awan tersebut adalah awan tebal ( cumulus clouds
) satu-satunya awan yang terkadang berkembang dengan izin Allah menjadi apa yang
disebut dengan awan tebal mengandung hujan ( cumulus rain clouds ).Al-quran telah
menjelaskan :
Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan .(QS.24:43)
Dalam bab Mujam Maqoyis Al-lughoh ( angin mengarak awan, angin mengiringnya
secara perlahan ), dan dengan semacam itu,Ibnu manshur berkata pada kitab lisan Alarab, bahwa Al-jauhari telah menafsirkan :aku mengarang sesuatu, yakni apabila aku
mendorongnya dengan perlahan. Ibnu katsir berkata: Allah SWT menyebutkan bahwa
Dia mengiring awan dengan kekuasaan-Nya, awal pertama kejadiannya dengan lemah (
perlahan-lahan ), itulah makna kata izjaaun ( mengarak ). Para mufassirin menetapkan
bahwa awan didorong oleh angin sedikit demi sedikit dan itu terjadi pada awal
pembentukan (kejadian) awan. Apa yang disebutkan Ibnu katsir itulah para pakar
meteorologi menetapkan awal kejadian awan tebal (cumulus clouds).
kemudian mengumpulkan antara bagian-bagiannya (Qs.24:43)
Lafadz yang digunakan pada Al-quran ini ( allafa ) yang menunjukkan kepada fase
kedua pada sistem pembentukan awan tebal( comulus clouds ) yang dibawahnya
mengandung makna ilmiah yang dibuktikan oleh para pakar meteorologi.
Pada fase ini, awan-awan yang berbilang-bilang berkumpul agar menjadi satu awan dan
pengumpulan antara awan-awan tersebut menjadikannya sebagai satu wujud awan saja.

Kata allafa menurut:


Ibnu al-jauzi:( menyatukan antara satu bagian dan lainnya )
At-thobari: Allah mengumpulkan air, maknanya bahwa ia mengumpulkan pecahanpecahannya.
Kemudian menjadikannya bertindih-tindih. Kata ar-rukamaau secara etimologi adalah
meletakkan sesuatu diatas yang lain (file up).
Al Isfahani berkata: kata al ilfu maknanya adalah berkumpul dengan kokoh dan kata al
muallifu adalah sesuatu yang dikumpulkan (disatukan) dari bagian-bagian yang
bermacam-macam dan diatur dengan baik, mendahulukan sesuatu yang mesti
didahulukan and mengakhiri sesuatu yang mesti diakhiri.
Pada fase ini, awan-awan berbilang-bilang berkumpul agar menjadi satu awan
danpengumpulan antar awan-awan tersebut menjadikannya sebagai satu wujud awan saja
. Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari cela-celanya (QS 24:43)
Kata alwadga (pada ayat tersebut) bermakna hujan, menurut jumhur (mayoritas)
mufassirin, Ibnu Katsir berkata makna dari yakhruju min khilalihi adalah keluar dari celacelanya,inilah yang diisyaratkan oleh ayat tersebut (QS 24:43), yang juga merupakan apa
yang telah ditetapkan oleh pakar mereorologi dari fase-fase (prases) turunnya hujan pada
awan tebal (cumulus cloud)
Dalam berbagai ayat, Al-Quran memberikan indikasi tentang jagat raya dengan segala
bagian-bagiannya (langit, bumi, segala benda mati dan mahkluk hidup yang ada, serta
serta berbagai fenomena jagat raya lainnya yang multidimensional). Isyarat-isyarat itu
menunjukkan bukti ( istidlal ) atas kekuasaan Allah yang tidak terbatas, ilmu dan hikmaNya yang sangat sempurna dalam menciptakan jagat raya in. Itu semua sebagai hujjah (
argumentasi ) terhadap orang-orang kafir, musyrik dan kaum skeptis, dan sekaligus
mengukuhkan hakikat uluhiyah Allah, Rab alm semesta. Atas dasar itulah, maka ayatayat Al-Qur,an yang berbicara tentang jagat raya tidak datang lewat berita-berita ilmiah
secara langsung, karena dua sebab
1. Bahwa al-Quran pada dasarnya adalah kitab hidayah (petunjuk), akidah, ahklak dan
muamalah. Hidayah , aqidah, ahklak dan muamalah itu merupakan bagian dari persoalan
yang konsep-konsepsinya yang saleh tidak mungkin bisa dicapai oleh seseorang dengan
upaya sendiri.
Tetapi didalam mencapainya manusia senantiasa butuh kepada hidayah robbaniyyah dan
wahyu samawi (dari langit).
2. Bahwa mengkaji jagat raya, meneliti sunnatullah yang ada dijagat raya, memfungsikan
ilmu pengatahuan dan sunnatullah dalam membangun kehidupan, serta menjalankan

kewajiban khalifa dimuka bumi, telah meninggalkan kesulitan bagi ijtihad manusia lewat
observasi sistematik dan deduksi dialektik dalam tempo yang cukup lama mengingat
kontiunitas Sunnatullah keterbatasan manusia dan watak akumulatif ilmu pengetahuan.
Mujizat Al-Quran masih terus dikisahkan dan ilmu dari waktu- kewaktu
menyingkapkan kepada kita tentang berbagai mujizat tersebut. Maha benar Allah dengan
firmannya:
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tentang bukti-bukti kebesaran kami dan
dalam diri meraka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa sesungguhnya Al-Qur;an
adalah kebenaran.(QS 41:53).
Kami telah menurunkan kitab kepadamu yang menjadi penjelasan terhadap segala
sesuatu, rahmat dan kabar gembira untuk ummat islam.(QS 16:89).
Fakta dan ayat-ayat ini betul-betul diyakini oleh para pendahulu kita dan ilmu
menyingkapkan kepada kita salah satu segi keajaiban ilahi dan keajaiban Al-Qur;an
dalam ayat-ayat ini. Auf bin Malik bin Abi Auf al-Asyjai r.a.telah beriman dengan AlQur;an Al-Karim dan dengan semua yang telah dibawanya. Diriwayatkan, bahwa pada
suatu waktu ia sakit, kepadanya ditanyakan apakah ia akan dirawat. Ia menjawab: Beri
saya air karena Allah telah berfirman :
Dan kami telah menurunkan air yang banyak manfaatnya dari langit .
(QS 50:9).
Beri saya madu karena Allah telah berfirman :
.Didalamnya terdapat kesembuhan untuk manusia (QS 16:69).
Kemudian dia mengatakan supaya diberi minyak zaitun karena Allah SWT telah
berfirman:
Dari pohon zaitun yang banyak manfaatnya.(QS24:35).
Semua permintaan ini lalu dikabulkan. Ia mencampurkan semua itu dan meminumnya ,
lalu ia sembu.
Tetapi karena Al-Quran itu kalamullah sedangkan yang menciptakan jagat raya adalah
Allah dengan segala ilmu hikmah dan kekuasaan-Nya yang mustahil bertentangan dengan
realitas penciptan-Nya, maka kandungan ayat-ayat Al-Quran yang memaparkan tentang
jagat raya dan bagian-bagiannya itu pasti mengandung fakta-fakta ilmia yang baku. Jika
kaum muslimin memahami dan memanfaatkan hal itu, niscaya mereka akan menjadi
pelopor dalam setiap penemuan ilmiah. Sekurang-kurangnya terdapat 461 ayat kauniyah
didalam Al- Quran yang membicarakan tentang bumi.

3. Ekonomi
Al-Quran diturunkan untuk memberikan hidayah, petunjuk, rahmat dan cahaya. Pada
dasarnya inti dari Al-Quran adalah mengajarkan aqidah, ibadah dan akhlak ,juga
mengandung hukum-hukum secara global. Pertama kali al-Qur,an diturunkan , telah
membawa panji-panji keadilan yang mewarnai segala aspek kehidupan, juga dalam
bidang bisnis , al-Quran menawarkan suatu bursa yang aman dan anti penipuan.
Sebagaimana disinggung dalam firman Allah SWT:
Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba ( QS. 1:275 ).
Ekonomi islam adalah ekonomi yang berdasarkan ketuhanan, sistem ini bertitik tolak dari
Allah, bertujuan akhir kepada Allah dan menggunakan sarana yang tidak lepas dari
syariat Allah.
Aktifitas ekonomi seperti produksi, distribusi, dan komsumsi ekspor impor ,tidak lepas
dari titik tolak ketuhanan dan bertujuan akhir untuk tuhan. Kalau seorang muslim bekerja
dalam bidang produksi maka itu tidak lain karena ingin memenuhi perinta Allah.
Sebagaimana firman-Nya :
Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu, maka berjalanlah disegala
penjurunya dan makanlah sebagian dari rezki-Nya dan hanya kepadanyalah kamu
(kembali setelah) dibangkitkan.
Berbicara tentang kajian sistem ekonomi islam ,pada dasarnya sistem ekonomi islam itu
dimulai sejak kedatangan islam itu sendiri yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW dari
Allah SWT, utamanya sejak agama islam didukung oleh sebuah negara di kota Madinah.
Sungguh sebuah fenomena sejarah menarik, ketika Rasulullah SAW telah sampai ke
Madinah, pekarjaan pertama yang beliau lakukan setelah membangun mesjid sebagai
gedung ibadah, pendidikan dan pemerintahan adalah membangun sebuah pasar untuk
kaum muslimin dengan tujuan melepaskan mereka dari menopoli kaum yahudi dan
penguasan mereka terhadap ekonomi kota Madinah, lalu Rasulullah SAW pengatur
perdagangan sesuai peraturan-peraturan baru seperti kebebasan dagang, keadilan,
pelarangan segala bentuk tipudaya, praktek menopoli , ketepatan timbangan dan segala
keburukan sistem perdagangan yang ditumbuhkan oleh kaum yahudi dimana hal itu
serupa dengan sistem ekonomi kapitalis modern.
Perbedaan islam dengan materialisme ialah bahwa islam tidak pernah memisahkan
ekonomi dengan etika, sebagaimana tidak pernah memisahkan antara ilmu dengan ahlak
,politik dengan etika, perang dengan etika dan kerabat sedarah sedaging dengan
kehidupan islam. Islam adalah risalah yang diturunkan Allah melalui rasul untuk
membenahi akhlak manusia. Nabi SAW bersabda : sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan ahklak mulia .

Islam juga tidak memisahkan agama dengan negara dan materi dengan spiritual
sebagaimana yang dilakukan eropa dengan konsep sekularismenya. Islam juga berbeda
dengan konsep kapitalisme yang memisahkan ahklak dengan ekonomi
Manusia muslim, indifidu maupun kelompok dalam lapangan ekonomi atau bisnis- disatu
sisi diberi kebebasan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya,namun disisi lain ia
terikat dengan iman dan etika, sehingga ia tidak bebas mutlak dalam menginvestasikan
modalnya atau membelanjakan hartanya.
Dalam sejarah ekonomi modern (barat) , era merkantilisme, ajaran negara sebagai
pedagang sama sekali tidak dapat dikatakan sebagai suatu mazhab ekonomi yang sadar
akan dirinya sendiri, kerena para tokoh-tokohnya lebih dahulu ahli-ahli politik praktis,
ahli-ahli negara dan pedagang pedagang yang menulis untuk mempertahankan politik
yang disukainya atau kepentingan yang meraka perjuangkan. Merkantilisme berkembang
di Eropa pada abad ke-16 dan 17, dan tokoh-tokohnya adalah Jean Babtiste Colbert
(1619-1683 M), Frederick agung dari Prusia, dan Cromwel dari Inggris, sedangkan aliran
Fisiokrasi (abad 18) dengan tokoh-tokohnya Francois Quesnay (1694-1774 M) juga tidak
dapat dikatakan sebagai sebuah sistem ekonomi yang utuh, namun sejarah ekonomi baru
dapat dikatakan berdiri ditangan Adam Smith (1723-1729 M).
Para pakar ekonomi non muslim mengakui keunggulan sistem ekonomi islam , menurut
mereka islam telah sukses menggabunkan etika dan ekonomi, sementara sistem kapitalis
dan sosialis memisahkan keduanya.
Menurut J. Perth, kombinasi antara ekonomi dan etika ini bukanlah hal baru didalam
islam. Sejak semula islam tidak mengenal pemisahan jasmani dan rohani. Prinsip
sekularisme yang dilahirkan kaum protestan dengan resainsnya di eropa tidak dikenal
dalam sejarah islam. Sebab, keuniversalan syriat islam melarang berkembangnya
ekonomi tanpa etika. Didalam sejarah islam , kita menemukan praktek- praktek bisnis
yang menggabungkan etika dan ekonomi, terutama ketika Al-Quran benar-benar
dujadikan pedoman utama dalam kehidupan sehari-hari.
Sebenarnya sudah banyak sistem ekonomi yang muncul dalam sejarah ummat manusia.
Seperti yang dikenal dalam ekonomi umum , sistem anarkisme,feodalisme, kapitalisme,
sosialisme, komunisme, fasisme.Dalam ini nampaknya terdapat kurangnya apresiasi
sejarawan barat dalam memandang keberadaan sistem ekonomi islam.
4.Politik
Pengaruh ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW yang terangkum didalam Al-quran
benar-benar merasuk kepada semua aspek kehidupan manusia, tak pelak lagi bidang
politik pun juga sangat terpengaruh oleh ajaran ini. Hal ini dapat dilihat dari sejarah,
bahwa bangsa arab sebelum islam, hidup bersuku-suku (kabilah-kabilah) dan berdiri
sendiri, satu sama lain kadang-kadang saling bermusuhan. Mereka tidak mengenal rasa
ikatan nasional, yang ada pada mereka hanya ikatan kabilah.Dasar perhubungan dalam
kabilah itu adalah pertalian darah Rasa Ashabiyah ( kesukuan ) amat kuat dan mendalam

pada mereka, serhingga bila mana terjadi salah seorang diantara mereka teraniaya maka
seluruh anggota-anggota kabilah itu akan bangkit membelanya. Semboyan mereka
tolong saudaramu baik dia menganiaya / teraniaya.
Sesudah bangsa arab memeluk agama islam kekabilahan itu ditinggalkan dan timbullah
kesatuan persaudaraan dan kesatuan agama yaitu kesatuan umat manusia dibawah satu
naungan panji kalimah syahadat. Dasar pertalian darah diganti dengan dasar pertalian
agama. Demikian bangsa arab yang sebelumnya hidup bercerai berai ,berkelompok.
Berkat agama islam mereka menjadi satu kesatuan bangsa, kesatuan umat yang
mempunyai pemerintahan pusat dan mereka tunduk kepada satu hukum yaitu hukum
Allah dan Rasul-Nya.
Hal ini amat sejalan dengan apa yang diterangkan Al-quran ketika awal daulah islam
yaitu tepatnya di Madinah, kedaulatan ini seluruhnya dipegang oleh Rasulullah SAW
baik pemerintah maupun keagamaan. Dan daulah ini sangat bersifat moral dan tidak ada
kaitannya dengan metode konversional tentang pemaksaan oleh negara. Dalam
pandangan ini, kepatuhan kepada negara islam semasa nabi bersifat sukarela. Setelah
kematian beliau, bagaimanapun juga otoritas politik yang memiliki kewenangan
memaksa tampaknya tidak dapat dihindarkan meskipun itu kepemimpinan dapat
terselesaikan dengan adanya kesepakatan yang layak isu-isu lain segera mengantarkan
pada perang saudara dan runtuhnya negara ideal.
Baru pada periode keempat penerus nabi (khulafaurrosyidiin) sebagai suatu periode
dimana hanya terdapat sedikit perbedaan antara yang ideal dengan yang nyata. Namun
dari keempat kholifah itu, hanya Abu Bakar (tahun 632-634 H) yangmeninggal dunia
dengan wajar. Umar ibn Khottob (634-644 H) dibunuh oleh budak kristen milik gubernur
Bashroh.yang ketiga adalah usman ibn affan (tahun 644-656 h) terbunuh dan rumahnya
dijarah oleh para pemberontak yang menganggap pemerintahannya tiranik.dan yang
terahir adalah aliibn thalib (656-661 h) menantu nabi di bunuh dalam perjalananya
menuju masjid pada saat masyarakat islam semakin terprcah belah ole perselisihan.
Setelah pemerintahan sayyidina ali inilah puncak pemerintahan berpindah kepada tangan
muawiyah dan pusat pemerintahan nya pun berpindah ke damaskus(syiria) ,sedangkan
ciri pemerintahan pada saat ini adlah bahwa orang-orang yang duduk dalam
pemerintahan adalah cenderung arab oriented,dan lebih menyinkirkan orang yang bukan
arab dan pada masa ini pula ilmu pengetahuan berkembang pesat.lambat laun akibat
kebijakan yang arab oriented ini memicu timbul nya pemberontakan dari abbasiah dan
akhir bani umayah pun hancur dan digantikan oleh bani abbasiah,adapun pusatn
pemerintahan berpindah ke bagdad.padsa masa inilah masa keemasan islam yang
berlangsung selama 3 abad sampai akhirnya sistem kekholifahan ini berahir dimasa turki
usmaniah tepatnya pada masa kekuasaan sultan mahmud II ( abad 18-19 ) pada abad 20
ini muncul pula tradisi untuk memunculkan kembali konsep kekholifahan dengan
berbagai cara. Salah satunya muncul di Mesir, Rasyid Ridho seorang reformis
mengajukan konsep tentang negara islam diajukan sebagai kesetaraan fungsional dari
kekholifahan dan ditempat-tempat lain didunia islam muncul gejala yang sama dari para

pemikir-pemikirnya diantara Hasan Al-banna dengan ikhwanul musliminnya sebagai


keadaannya Kartosuwiryo dengan Darul Islamnya (DI).
5.Seni dan Budaya
Seni adalah keindahan ia merupakan ekspresi ruh dan budaya manusia yang mengandung
dan mengungkapka keindahan. Ia lahir dari sisi terdalam manusia didorong oleh
kecendrungan seniman pada yang indah, apapun jenis keindahan itu. Dorongan tersebut
merupakan naluri manusia, atau fitra yang dianuhgrakan Allah kepada hamba-hambanya.
Adalah merupakan satu hal yang mustahil bila Allah menganugerahkan manusia potensi
untuk menikmati dan mengeksfresikan keindahan, kemudian Dia melarangnya. Bukankah
islam agama fitrah ? segala yang bertentangan dengan fitrah ditolaknya, dan yang
mendukung kesuciannya ditopangnya.
Kemampuan berseni merupan salah satu perbedaan manusia denga mahkluk lain. Jika
demikian islam pasti mendukung kesenian selama penampilannya lahir dan mendukung
fitrah manusia yang suciitu, dan karena itu pula islam bertemu dengan seni dalam jiwa
manusia, sebagaimana seni ditemukan oleh jiwa manusia didalam islam.
Tetapi mengapa selama ini ada kesan bahwa islam menghambat perkembangan seni dan
memusuhinya?
Islam dapat menerima semua hasil karya manusia selama sejalan dengan pandangan
islam menyankut wujud alam raya ini. Namun demikian wajar dipertanyakan bagaimana
sikap satu masyarakat dengan kreasi seninyayang tidak sejalan dengan budaya
masyarakatnya ?.
Dalam konteks ini, perlu digaris bawahi bahwa, Al-Quran memerintahkan kaum
muslimin untuk menegakkan kebajikan, memerintahkan perbuatan maruf dan mencegah
perbuatan mungkar.
Maruf merupakan budaya masyarakat sejalan dengan nilai-nilai agama, sedangkan
munkar adalah perbuatan yang tidak sejalan dengan budaya masyarakat .
Dari sini, setiap seorang muslim hendaknya memelihara budaya yang maruf dan sejalan
denga ajaran agama, dan ini akan mengantarkan mereka untuk memelihara hasil seni
budaya setiap masyarakat. Seandainya pengaruh~apalagi yang negetif~dapat merusak adt
istiadat serta kreasi seni dari satu masyarakat, maka kaum muslim didaerah itu harus
tampil mempertahankan maruf yang diakui oleh masyarakatnya, serta membendung
setiap usaha~dari manapun datangnya yang dapat merongrong maruf tersebut. Bukankah
Al-Qur;an untuk menegakkan ma;ruf?!
Kita dapat menyimpulkan bahwa Al-Quran sangat menghargai segala kreasi manusia,
termasuk kreasi yang lahir dari penghayatan rasa manusia terhadap seluruh wujud ini,
selama kreasi tersebut sejalan dengan fitra kesucian jiwa manusia.

Sedangkan budaya berasal dari bahasa sansekerta yakni budhi { buddhaya adalah bentuk
jamaknya } kebudayaan dapat diartikan pikiran dan akal.jadi kebudayaan adalah swegala
pikiran dan perilaku manusia secara fungsional dan dis fungsional ditata dalam
masyarakatnya .
Seperti telah kita ketahui bersama bahwa akhir-akhir ini seringkali mterjadi berbagai
macam peristiwa yang menurut pandangan islam sangat bertentengan denga apa yang
telah digariskan oleh islam .
Di indonesia yangmana penduduknya mayoritas memeluk agama islam dewasa ini serimg
kita melihat penduduknya dijakan sebagai langganan oleh orang-orang non islam untuk
mengikuti atau menerapkan kebudayaan mereka dikarenakan kelalaian kita sehingga
umat islam banyak yang meniru kebudayaan mereka menurut ajaran islam merupakan
suatu larangan yang harus kita hindari karena dikhawatirkan akan membawa dampak
negatif bagi orang islam .
Kalau kita ingin meneliti lebih mendalam tentang perilaku-perilaku menyimpang , tentu
tidak sulit bagi kita untuk mengetahuinya .Cukup dengan mengadakan riset dilimgkungan
sekitar kita maka kita pasti akan menemukan hal-hal yang bertentangan ajaran islam, baik
dari segi berperilaku, bergaul,berbusana, dan lain-lain.
Dizaman moderen ini dimana oraang orang bisa melakukan aktifitasnnya dngan mudah,
temasuk melakukan apa saja yang ingin dalakukannya ,suatu mi sal dengan adanya
komputer manusia dapat mengakses semua yang ada di bumi in I dengan mudah,
sehingga mereka mampu menciptakan hal-hal yang baru yang seseuai dengan
keinginannya.
Perlu diketahui bahwa semua kemodernan yang telah ditemukan tersebut tidak lain
merupakan anugerah dari Allah SWT,oleh karna itu kita wajib mensyukurinya.
Perlu digaris bawahi bahwa budaya asing yang kebanyakan akan merusak moral umat
islam sudah merajalela di negara kita, dimana mereka berusaha mentransferkan budaya
mereka melalui beberapa cara, diantaranya melalui medi menerapkan budaya mereka
sehingga pada saat ini bisa dikatakan bahwa umat islam tidak lagi berperilaku islami,
mereka mengaku umat islam tetapi mereka a cetak,medi
ia elektronik,media massa,dan lain-lain.Dengan mudah mereka tidak melaksanakan
ajaran islam dan akhirnya kita akan mengalami seperti yang telah difirmankan oleh Allah
dalam surat Ar-ruum, ayat 41:

Telah nampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari(akibat) perbuatan
mereka.

Adalah suatu kemustahilan, jika Al-quran adalah hasil rekayasa nabi Muhammad ,
seperti yang telah dituduhkan oleh musuh-musuh islam, suatu tuduhan yang tidak
mempunyai bukti-bukti rasional.
Oleh karena itu, pada makalah ini kami coba mengulas pengaruh-pengaruh Al-quran
dalam berbagai aspek kehidupan seperti idiologi, sosial,sains, ekonomi, politik, dan seni
budaya, akan tetapi tujuan utama makalah ini ialah kami hanya hendak membuktikan
kebenaran Quran ,bahwa Al-quran benar-benar terbukti sebagai pedoman yang datang
langsung dari Allah SWT yang dapat mencakup seluruh bidang kehidupan .
Mungkin jauh dari sempurna pada apa yang telah kami paparkan, namun bukankah baju
yang indah berasal dari satu benang yang digabungkan dengan benang-benang yang lain
? dan bukankah angka 10 berasal dari angka 1 yang ditambah angka-angka yang lain?
Kami merasa telah berhasil mencapai maksud yang kami inginkan , jika kami berhasil
meyakinkan bahwa masyarakat islam tetap memerlukan akidah dan mereka tidak akan
dapat memilih bagi diri mereka sendiri akidah lain yang lebih mudah, lebih longgar, dan
lebih baik dari pada akidah yang telah menjadi keyakinan mereka.
AL QURAN
Al-Quran dalam bentuknya yang kita kenal sekarang sebetulnya adalah sebuah inovasi
yang usianya tak lebih dari 79 tahun. Usia ini didasarkan pada upaya pertama kali kitab
suci ini dicetak dengan percetakan modern dan menggunakan standar Edisi Mesir pada
tahun 1924. Sebelum itu, Alquran ditulis dalam beragam bentuk tulisan tangan (rasm)
dengan teknik penandaan bacaan (diacriticalmarks) dan otografi yang bervariasi.
Hadirnya mesin cetak dan teknik penandaan bukan saja membuat Alquran menjadi lebih
mudah dibaca dan dipelajari, tapi juga telah membakukan beragam versi Alquran yang
sebelumnya beredar menjadi satu standar bacaan resmi seperti yang kita kenal sekarang.
Versi bacaan (qiraat) adalah satu jenis pembacaan Alquran. Versi ini muncul pada awalawal sejarah Islam (abad pertama hingga ketiga) akibat dari beragamnya cara membaca
dan memahami mushaf yang beredar pada masa itu. Mushaf adalah istilah lain dari
Alquran, yakni himpunan atau kumpulan ayat-ayat Allah yang ditulis dan dibukukan.
Sebelum Uthman bin Affan (thn 35 H), khalifah ketiga, memerintahkan satu standarisasi
Alquran yang kemudian dikenal dengan Mushaf Uthmani, pada masa itu telah beredar
puluhan kalau bukan ratusan mushaf yang dinisbatkan kepada para sahabat Nabi.
Beberapa sahabat Nabi memiliki mushafnya sendiri-sendiri yang berbeda satu sama lain,
perbedaan itu hanya berdasarkan perbedaan dialek antara suku-suku Arab, sehingga tidak
merubah Substansi dari Al Quran itu sendiri.
Ibn Masud, seorang sahabat dekat Nabi, misalnya, memiliki mushaf Alquran yang tidak
menyertakan surah al-Fatihah (surah pertama). Hal ini memancing perdebatan di

kalangan para ulama apakah al-Fatihah merupakan bagian dari Alquran atau ia hanya
merupakan kata pengantar saja yang esensinya bukanlah bagian dari kitab suci.
Salah seorang ulama besar yang menganggap al-Fatihah bukan sebagai bagian dari
Alquran adalah Abu Bakr al-Asamm (thn 313 H). Dia dan ulama lainnya yang
mendukung pandangan ini berargumen bahwa al-Fatihah hanyalah ungkapan liturgis
untuk memulai bacaan Alquran. Tetapi keyakinan tersebut berhasil dipatahkan oleh
Khlaifah Ustman dengan mengutip hadist Nabi : siapa saja yang tidak memulai sesuatu
dengan bacaan bismillah maka pekerjaannya menjadi sia-sia. Kat-kata Bismillah
memang menjadi pembuka ayat dalam surat Al Fatihah.
Setelah Uthman melakukan kodifikasi dan standarisasi, ia memerintahkan agar seluruh
mushaf kecuali mushafnya (Mushaf Uthmani) dibakar dan dimusnahkan. Alasan tersebut
dimungkinkan untuk penyeragaman dialek dan bacaan Al Quran serta susunan Ayat
yang menurut mushaf-Mushaf lainnya tidak teratur,dan tanda baca, sehingga bagi orang
yang tidak pernah mendengar bunyi sebuah kata dalam Alquran, dia harus merujuk
kepada otoritas yang bisa melafalkannya.
Otoritas bacaan bukanlah satu-satunya sumber yang menyebabkan banyaknya varian
bacaan. Jika otoritas tidak dijumpai, kaum Muslim pada saat itu umumnya melakukan
pilihan sendiri berdasarkan kaedah bahasa dan kecenderungan pemahamannya terhadap
makna sebuah teks. Dari sinilah kemudian muncul beragam bacaan yang berbeda akibat
absennya titik dan harakat (scripta defectiva). Misalnya bentuk present (mudhari) dari
kata a-l-m bisa dibaca yuallimu, tuallimu, atau nuallimu atau juga menjadi nalamu,
talamu atau biilmi.
Untuk mengatasi varian-varian bacaan yang semakin liar, dan untuk menertibkan dialeg ,
susunan surat serta tanda baca yang berbeda maka pada tahun 322 H, Khalifah Abbasiyah
lewat dua orang menterinya Ibn Isa dan Ibn Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w.
324 H) melakukan penertiban. Setelah membanding-bandingkan semua mushaf yang ada
di tangannya, Ibn Mujahid memilih tujuh varian bacaan dari para qurra ternama, yakni
Nafi (Madinah), Ibn Kathir (Mekah), Ibn Amir (Syam), Abu Amr (Bashrah), Asim,
Hamzah, dan Kisai (ketiganya dari Kufah).
Kondisi Jazirah Arab
Sebelum Al Quran diturunkan
A. Situasi Politik
Jazirah arab terletak sangat terisolasi baik dari sisi daratan maupun lautan, di kawasan
inilah Nabi Muhammad memperjuangkan risalah-ridalah ilahinya, perselisihan yang
membawa peperangan dalam sekala besar-besaran di setepa-setepa jazirah tersebut,
Arabia mwrupakan kawasan yang kecil, meskipun memiliki posisi yang cukup penting
sebagai kawasan penyangga dalam ajang perebutan kekuasan politik di timur tengah,
yang ketika itu di domisi oleh imperium raksasa Bizantium dan Persia.