Anda di halaman 1dari 6

SEKILAS TENTANG JABATAN FUNGSIONAL PERENCANA DAN PERANNYA DI

BBRSBD PROF. DR. SOEHARSO SURAKARTA


Diposting oleh : Administrator
Kategori: Suluh Rehabilitasi - Dibaca: 831 kali

I. Pendahuluan
Semua Lembaga pemerintah sebagai suatu organisasi pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai
sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing. Untuk mewujudkan tujuan tersebut diperlukan
konsep dan langkah-langkah yang tertuang dalam visi dan misi lembaga. Balai Besar
Rehabilitasi Sosial Bina Daksa ( BBRSBD ) Prof. Dr. Soeharso Surakarta berdasarkan Pasal 2
Keputusan Menteri Sosial RI Nomor : 55 / HUK / 2003, memiliki tugas pokok melaksanakan
pelayanan dan rehabilitasi sosial, resosialisasi, penyaluran dan bimbingan lanjut bagi
penyandang disabilitas tubuh agar mampu berperan dalam kehidupan masyarakat, rujukan
nasional, pengkajian dan penyiapan standar pelayanan, pemberi informasi serta koordinasi
dengan instansi terkait sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adapun visi
yang ingin dicapai terwujudnya kemandirian dan kesejahteraan Penyandang Disabilitas Tubuh,
dengan misi :
1. Melaksanakan rehabilitasi medis, sosial psikologis, karya dan pendidikan secara
komprehensif.
2. Menumbuhkembangkan motivasi dan kemampuan keluarga/ masyarakat.
3. Meningkatkan dukungan dan partisipasi baik instansi terkait maupun swasta
Sedangkan tujuan yang ingin dicapai adalah mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan para
penyandang disabilitas tubuh, Tujuan tersebut secara hiarkhis mengacu kepada tujuan negara
pada umumnya sebagaimana tertuang dalam alenia keempat Pembukaan UUD 1945, yaitu untuk
memajukan kesejahteraan umum yang menganut konsep welfare state. BBRSBD sebagai
lembaga pemerintah secara makro memiliki tujuan untuk mewujudkan kesejahteraan umum
khususnya para penyandang disabilitas tubuh, maka setiap kegiatan harus berorientasi pada
tujuan yang ingin dicapai, juga harus menjadikan aturan-aturan sebagai panglima dalam
pelaksanaan kegiatan di lapangan. Untuk merealisasikan tujuan tersebut perlu disusun suatu
rencana. Rencana adalah alat bagi setiap lembaga yang merupakan keseluruhan proses
pemikiran dan penentuan secara matang segala sesuatu yang akan dikerjakan di masa yang akan
datang. Dengan demikian keberadaan tenaga perencana khususnya fungsional perencana
pemerintah dalam hal ini sangat diperlukan, karena lembaga pemerintah sebagai suatu organisasi

dalam melaksanakan kegiatannya untuk mencapai tujuan perlu dituangkan dalam bentuk
rencana-rencana.
Eksistensi Jabatan fungsional perencana di antaranya seperti diatur dalam Keputusan Menpan
Nomor : 16/Kep/M.PAN/3/2001, tentang Jabatan Fungsional Perencana dan Angka Kreditnya
beserta peraturan pelaksana lainnya. Aturan ini merupakan bentuk pemberian kewenangan dan
prosedur pemberian kewenangan dari badan atau pejabat tata usaha negara kepada badan atau
pejabat lain baik secara vertikal maupun horizontal untuk penyelenggaraan pemerintahan. Ruang
lingkup keabsahan tindakan pemerintahan meliputi kewenangan, prosedur, dan substansi.
Substansi merupakan bagian penting yang tak terpisahkan dari tugas perencana untuk
menentukan tujuan negara/pemerintah.
II. Jabatan Fungsional Perencana
Jabatan Fungsional merupakan salah satu jalur karier yang dapat ditempuh oleh Pegawai Negeri
Sipil selain Jabatan Struktural. Jabatan Fungsional adalah kedudukan yang menunjukkan tugas,
tanggung jawab, wewenang dan hak seseorang Pegawai Negeri Sipil dalam suatu satuan
organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian dan/atau ketrampilan
tertentu serta bersifat mandiri. baik Jabatan Fungsional Perencana (JFP) maupun Jabatan
Struktural merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari manajemen kerja di Instansi/lembaga
Pemerintahan. Masing-masing memiliki tugas, tanggungjawab, dan wewenang sendiri untuk
melaksanakan kegiatan perencanaan dalam rangka pencapaian visi misi organisasi.
Menurut Undang-undang No. 43 Tahun 1999 jo Undang-undang No. 8 Tahun 1974 tentang
Pokok-pokok Kepegawaian, Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1994 tentang Jabatan
Fungsional Pegawai Negeri sipil dan Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999 tentang
Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil, mengatur bahwa Jabatan Fungsional adalah:
Kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak seseorang PNS
dalam suatu organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian dan atau
keterampilan tertentu serta bersifat mandiri.
Lebih lanjut secara tehniis administratif Jabatan Fungsional Perencana seperti diatur dalam
Keputusan Menpan No. 16/Kep/M.PAN/3/2001 dan SKB Kepala Bappenas dan Kepala Badan
Kepegawaian Negara Nomor Keputusan 1106/KEP/08/2001 tentang Jabatan Fungsional
Perencana dikemukakan bahwa Jabatan Fungsional Perencana atau disebut Perencana adalah
Pegawai Negeri Sipil yang bekerja di instansi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang
memiliki tugas perencanaan.
Substansi Keputusan Menteri Pendayagunaan pada prinsipnya memberikan kesempatan bagi
Pegawai Negeri Sipil untuk meningkatkan profesionalisme dan karirnya dalam jabatan
fungsional. Jabatan ini dikenal dengan Jabatan Fungsional Perencana (JFP). Dengan keputusan
pemerintah ini, setiap PNS yang memiliki tugas dan fungsi perencanaan diharapkan dapat
bekerja secara optimal dengan menggunakan seluruh potensi diri dan sumberdaya di institusinya.
Didalam pasal 4 Keputusan Menpan No. 16/Kep/M.PAN/3/2001 diatur bahwa perencana adalah
Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang untuk melaksanakan
kegiatan perencanaan di unit-unit perencanaan, yang memiliki tugas pokok untuk menyiapkan,
melakukan dan menyelesaikan kegiatan perencanaan yang meliputi :

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Identifikasi permasalahan.
Perumusan alternatif kebijakan perencanaan
Pengkajian alternatif
Penentuan Alternatif dan Rencana Pelaksanaan
Pengendalian pelaksanaan
Penilaian hasil pelaksanaan

Ruang lingkup pelaksanaan tugas pokok perencana pada dasarnya adalah meliputi kegiatan
perencanaan secara menyeluruh dari identifikasi masalah sampai penilaian hasil kegiatan,
Upaya untuk mewujudkan Jabatan Fungsional Perencana yang profesional, kita mesti
mendudukkan mereka sebagai pegawai yang memiliki profesional sebagai perencana dilengkapi
dengan hak dan kewajiban sesuai ketentuan yang berlaku. Hal ini akan dapat menumbuhkan
motivasi dan komitmen Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan untuk meningkatkan dan
memenuhi profesionalisme di bidang perencanaan. Dalam melaksanakan fungsinya pejabat
fungsional tidak mutlak harus bekerja sendiri, dia juga tidak dibantu oleh tenaga /pegawai atau
profesional yang lain. Namun tanggung jawab hasil pelaksanaan tugas dan kewenangan
pelaksanaan tugas tetap melekat pada pejabat fungsional tersebut. Hasil dari pelaksanaan tugas
disampaikan kepada instansi pembinanya, dan intansi di tempat pejabat fungsional tersebut
dipekerjakan.

III. Perencanaan
Rencana atau plan adalah dokumen yang digunakan sebagai skema untuk mencapai tujuan.
Rencana biasanya mencakup alokasi sumber daya, jadwal, dan tindakan-tindakan penting
lainnya. Rencana dibagi berdasarkan cakupan, jangka waktu, kekhususan, dan frekuensi
penggunaannya. Berdasarkan cakupannya, rencana dapat dibagi menjadi rencana strategis dan
rencana operasional. Rencana strategis adalah rencana umum yang berlaku diseluruh lapisan
organisasi sedangkan rencana operasional adalah rencana yang mengatur kegiatan sehari-hari
anggota organisasi.
Berdasarkan jangka waktunya, rencana dapat dibagi menjadi rencana jangka panjang dan
rencana jangka pendek. Rencana jangka panjang umumnya didefinisikan sebagai rencana dengan
jangka waktu tiga tahun, rencana jangka pendek adalah rencana yang memiliki jangka waktu satu
tahun. Tanpa adanya rencana, maka tidak ada dasar untuk melaksanakan kegiatan tertentu dalam
rangka usaha pencapaian tujuan.
Kemudian menurut Prajudi mengemukakan yang membedakan perencanaan menjadi 3 bagian :
1. Perencanaan informatif, yaitu rancangan estimasi mengenai perkembangan masyarakat
yang dituangkan dalam alternatif-alternatif kebijaksanaan tertentu. Rencana seperti ini
tidak memiliki akibat hukum bagi warganegara.
2. Perencanaan indikatif, yaitu rencana-rencana yang memuat kebijaksanaan- kebijaksanaan
yang akan ditempuh dan mengindikasikan bahwa kebijaksanaan itu akan dilaksanakan.

Kebijaksanaan ini masih harus diterjemahkan ke dalam keputusan-keputusan operasional


atau normatif. Perencanaan seperti ini mempunyai akibat hukum yang tidak langsung.
3. Perencanaan operasional atau normatif, yaitu rencana-rencana yang terdiri atas persiapanpersiapan, persiapan-persiapan, dan ketetapan-ketetapan. Contoh rencana-rencana
operasional dan normatif seperti ini di antaranya adalah rencana tata ruang, rencana
pengembangan perkotaan, rencana pembebasan tanah, rencana peruntukan, rencana
pemberian subsidi, dan lain-lain. Perencanaan seperti ini memiliki akibat hukum
langsung baik bagi pemerintah maupun warga negara5.
Di samping pembagian tersebut, perencanaan dibagi berdasarkan atas waktu, tempat, bidang
hukum, sifat, metode, dan sarana. Berdasarkan waktu, perencanaan ini dibedakan dalam rencana
jangka panjang, menengah, dan pendek. Berdasarkan tempat, perencanaan terdapat terdapat di
tingkat pusat, propinsi, kabupaten/kota. Di bidang hukum perencanaan terdiri atas rencana tata
ruang, ekonomi, sosial, kesehatan, dan bidang-bidang lainnya. Berdasarkan sifatnya,
perencanaan ini terdiri atas perencanaan sektoral dan integral. Berdasarkan metodenya dibedakan
atas perencanaan akhir dan perencanaan proses. Sedangkan berdasarkan sarananya pelaksanaan
rencana memerlukan instrumen yuridis, finansial dan organisasi.
Ada 2 pendapat yang kontroversial tentang bentuk perencanaan. Pendapat yang pertama
menyebutkan bahwa perencanaan itu adalah berbentuk hukum. Perencanaan adalah bentuk
tertentu tentang pembentukan kebijaksanaan, dinyatakan dalam bentuk hubungan timbal balik
antara kebijaksanaan dengan hukum, perencanaan adalah proses perbuatan kebijaksanaan. Proses
perencanaan dan perwujudan rencana merupakan bagian dari norma, dan tunduk pada hukum
positif. Beberapa bentuk hukum dari perencanaan mulai dengan bentuk undang-undang
(Undang-undang APBN), Peraturan Presiden (Rencana Jangka Panjang, Menengah, dan
Pendek), Peraturan Daerah (APBD, Rencana Tata Ruang, atau Rencana Pembangunan Daerah),
dan sebagainya. Stroink sebagaimana yang diterjemahkan oleh Ridwan, mengemukakan bahwa
sifat hukum rencana terdiri atas empat macam, yaitu:
1. Rencana adalah ketetapan atau kumpulan ketetapan.
1. Rencana adalah sebagian dari kumpulan ketetapan-ketetapan, sebagian peraturan,
peta dengan penjelasan adalah kumpulan keputusan-keputusan, penggunaan
keputusan memiliki sifat peraturan.
2. Rencana adalah bentuk hukum tersendiri.
3. Rencana adalah peraturan perundang-undangan.
Dengan merujuk pada pengertian peraturan perundang-undangan, peraturan kebijaksanaan,
keputusan dan atau ketetapan seperti di atas, serta dengan membandingkan bentuk hukum
terhadap rencana , maka tampak jelas bahwa rencana memiliki sifat dan bentuk hukum yang
beragam. Keragaman bentuk hukum dari rencana ini akan diketahui dengan melihat pada
lembaga yang membuat rencana, substansi rencana, dan sasaran dari rencana, yang kemudian
akan diketahui akibat-akibat hukumnya dan relevansi yang muncul dari rencana-rencana
tersebut.
Pendapat kedua mengemukakan bahwa rencana sebagai norma yang memiliki sifat umumabstrak, namun bukan peraturan perundang-undangan atau peraturan kebijaksanaan, karena tidak

semua rencana mengikat umum dan tidak selalu mempunyai akibat hukum secara langsung.
Rencana merupakan hasil penetapan lembaga pemerintahan pusat maupun daerah tertentu yang
dituangkan dalam bentuk ketetapan namun bukan merupakan beschikking.
IV. Peran Fungsional Perencana
Idealnya semua Fungsional Perencana khususnya di Kementerian Sosial RI melaksanakan tugas perencanaan mulai dari identifikasi
permasalahan, perumusan alternatif kebijakan perencanaan, pengkajian alternatif, penentuan alternatif dan rencana pelaksanaan, pengendalian
dan penilaian hasil pelaksanaan sebagaimana diatur dalam pasal pasal 4 Keputusan Menpan No. 16/Kep/M.PAN/3/2001. Dalam bahasa
lapangan/tehnisnya pejabat fungsional perencana mempunyai tugas menyusun dan menyiapkan bahan formulasi kebijakan, menyusun dan
menyiapkan bahan pelaksanaan perencanaan, memberikan masukan-masukan dan analisis kebijakan, menyusun rekomendasi dan rencana,
pemantauan dan evaluasi pelaksanaan yang dapat digunakan oleh pimpinan unit kerja beserta jajarannya untuk mengambil langkahlangkah/kebijakan lebih lanjut
Untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok BBRSBD Prof. Dr. Soeharso Surakarta mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan penyandang
disabilitas tubuh maka peran yang dilakukan oleh fungsional perencana sebagai berikut :

1. 1. Memahami dan mempelajari isi ketentuan-ketentuan / peraturan-peraturan yang


berlaku dan kebijakan yang diambil terkait dengan penyusunan rencana program dan
anggaran pelayanan rehabilitasi sosial BBRSBD Prof. Dr. Soeharso Surakarta. Kemudian
diimplementasikan isi ketentuan /peraturan tersebut dalam praktek penyusunan rencana
dan program BBRSBD.
2. 2. Melakukan kajian tentang pelaksanaan program rehabilitasi sosial BBRSBD, untuk
pengembangan pelayanan rehabilitasi bagi penyandang disabilitas pada masa yang akan
datang.
3. 3. Menyusun Standart Biaya Khusus (SBK) Kegiatan pelayanan penyandang disabilitas
tubuh di BBRSBD Prof. Dr. Soeharso Surakarta dan menelaah dengan Ditjen Anggaran
Kementerian Keuangan RI di Jakarta.
4. 4. Menyusun dan menelaah Rencana Kerja Anggaran Kementerian Lembaga ( RKA-KL
) kegiatan rehabilitasi sosial di BBRSBD. Prof. Dr. Soeharso Surakarta.
5. 5. Menyusun data dukung Rencana Kerja Anggaran Kementerian Lembaga(RKA-KL)
yang berupa Kerangka Acuan Kerja ( KAK )/Term Of Reference ( TOR ) dan Rincian
Anggaran Biaya ( RAB ) kegiatan rehabilitasi sosial dan data dukung lainnya.
6. 6. Mengolah dan menganalisa data pelayanan rehabilitasi sosial untuk mendukung
penyusunan rencana kegiatan pelayanan rehabilitasi di BBRSBD.
Tahapan Pelaksanaan Tugas :
1. 7. Melaksanakan konsultasi,rapat koordinasi dan pendampingan dengan pihak lain
yang terkait dalam rangka penyusunan data dukung usulan rencana kegiatan dan program
Dalam pelaksanaan tugasnya meliputi :
1. a. Melakukan konsultasi tentang analisis kerusakan bangunan dan penyusunan Rencana
Anggaran Biaya ( RAB ), peningkatan sarana fisik/gedung kantor ke Dinas Cipta Karya
dan Tata Ruang Provinsi Jawa Tengah.
2. b. Melakukan rapat koordinasi dengan unit kerja dilingkungan BBRSBD dalam
penyusunan spesifikasi bahan peralatan /data pendukung usulan rencana / program dan
penyusunan Term Of Reference ( TOR ), Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) program
pelayanan rehabilitasi sosial.

3. c. Melakukan pendampingan kepada unit kerja dilingkungan BBRSBD.dalam


penyusunan spesifikasi bahan peralatan /data pendukung usulan rencana / program dan
penyusunan Term Of Reference ( TOR ), Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) program
pelayanan rehabilitasi sosial.
4. d. Melakukan pendampingan kepada unit kerja dilingkungan BBRSBD.dalam
penyusunan Term Of Reference ( TOR ), Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) program
pelayanan rehabilitasi sosial.
5. e. Melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan kepada Kepala BBRSBD.

1. 8. Melaksanakan monitoring /pengendalian dan evaluasi pelaksanaan pelayanan


rehabilitasi sosial
Untuk mendukung pelaksanaan tugas tersebut diperlukan kerjasama dan koordinasi dengan pihak
lain sehingga diperoleh hasil yang optimal.
Daftar Pustaka
- Undang-undang No. 43 Tahun 1999 jo Undang-undang No. 8 Tahun 1974 tentang Pokokpokok Kepegawaian.
- Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri sipil
- Keputusan Menpan No. 16/Kep/M.PAN/3/2001, tentang Jabatan Fungsional Perencana dan
Angka Kreditnya.
- SKB Kepala Bappenas dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor Keputusan
1106/KEP/08/2001 tentang Jabatan Fungsional Perencana
- Prajudi Atmosudirdjo, 1988, Hukum Administrasi Negara, Ghalia Indonesia, Jakarta.
- Ridwan, 2003, Hukum Administrasi Negara, UII Press, Yogyakarta.
- Sukamto Satoto, Fungsi Jabatan Fungsional Prencana Dalam Menentukan Tujuan