Anda di halaman 1dari 11

Kebudayaan dan Peradaban Islam; Masjid Pusat Perkembangan Ilmu Pengetahuan dalam Islam

Dalam peradaban Islam, institusi dan pusat-pusat ilmiah menjadi perhatian luar biasa.
Peninggalan budaya yang sangat berharga dari abad ke abad mencerminkan kecemerlangan
peradaban Islam. Bahkan lembaga-lembaga itu dapat dikatakan sebagai pondasi utama
masyarakat Islam.
Pusat-pusat agama dan sosial seperti masjid, sekolah, akademi, perpustakaan dan Baitul Hikmah
dapat berdiri kokoh di tengah masyarakat, dan bahkan menjadi simbol perdamaian dan
kemajuan. Karena peradaban tinggi Islam itu, akademi-akademi dan perpustakaan berkembang
cepat. Selain itu, lembaga-lembaga yang ada menjadi pusat budaya di masa itu. Tujuan utama
pendirian pusatpusat budaya adalah menjadikan seseorang muslim sebenarnya yang
berwawasan luas.
Masjid menurut peradaban Islam, dapat disebut sebagai pusat sosial agama bagi umat Islam.
Rasulullah Saw membangun masjid pertama di kota Madinah dengan tujuan mencerahkan umat
dan mengenalkan risalah ilahiah. Untuk pertama kalinya, masjid dibangun di Madinah untuk
pusat kegiatan pendidikan, pencerahan, pengadilan dan pemerintahan untuk urusan politik,
militer dan budaya.
Setelah Rasulullah Saw, Imam Ali as juga melakukan hal yang sama dan menjadikan masjid
sebagai pusat pendidikan dan pencerahan. Imam Ali as dalam berbagai kesempatan
menyampaikan pencerahan keislaman dan melakukan diskusi ilmiah. Setelah Imam Ali as gugur
syahid, tradisi menghidupkan pusat-pusat pendidikan seperti perpustakaan dan sekolah
dilanjutkan para pengikut Ahlul Bait as. Tradisi ilmiah secara bertahap mengalami
perkembangan di Baghdad dengan berdirinya berbagai akademi, perpustakaan dan institusi
pendidikan seperti Baitul Hikmah.
Di masa Imam Jakfar Shadiq as, berbagai ilmu berkembang pesat. Bahkan Imam Jakfar Shadiq
as mempunyai banyak murid di bidang masing-masing. Sebagai contoh, Aban bin Taghlab
adalah murid Imam Jakfar yang pakar di bidang fikih. Imam Jakfar juga mempunyai murid yang
pakar di bidang teologi seperti Hisyam bin Hakam. Murid lain Imam Jakfar adalah Jabir bin
Hayyan yang merupakan pakar di berbagai bidang termasuk ilmu kimia. Semua murid Imam itu
beraktivitas di masjid dengan memberikan penjelasan sesuai dengan bidang masing-masing.
Imam Jakfar Shadiq as dapat disebut sebagai pendiri Mazhab Jakfari. Di Madinah, Imam Jakfar
mempunyai ribuan murid yang menuntut ilmu di berbagai bidang. Dalam sejarah disebutkan
bahwa lebih dari 4 ribu orang menjadi Imam Jakfar di bidang fikih dan ilmu-ilmu Islam.
Yang menariknya, Imam Jakfar pada umumnya, menyampaikan kajian di masjid. Para murid
Imam Jakfar juga menjadikan masjid sebagai tempat berdiskusi. Mereka biasanya membentuk
lingkaran-lingkaran diskusi di masjid dan masing-masing membahas kajian-kajian yang
disampaikan dalam kuliah Imam Jakfar. Masjid di masa itu merupakan pusat pendidikan dan
kajian ilmiah. Bahkan setelah itu, sekolah-sekolah yang dibangun mempunyai bentuk seperti
masjid. Ini menunjukkan hubungan erat antara sekolah dan masjid.

Meski sekolah-sekolah berkembang pesat dan berubah menjadi instansi pendidikan independen,
masjid tetap tidak kehilangan aspek mutifungsinya, termasuk pendidikan. Sebagai contoh, ada
sebuah masjid di Sistan yang dibangun di abad pertama hijriah. Pada masa itu, masjid Sistan juga
menjadi pusat pendidikan agama.
Di Bukhara juga ada beberapa masjid yang berfungsi untuk pendidikan hukum dan berbagai ilmu
agama. Adapun di Neishabour ada sejumlah masjid jami seperti Masjid Matarzi, Masjid Aqil dan
Masjid Qadim yang juga berfungsi sebagai pusat pendidikan.
Di awal perkembangan Islam, masjid-masjid dibangun di berbagai kota yang juga dilengkapi
dengan perpustakaan. Di antaranya adalah masjid-masjid seperti Masjid al-Aqsha, Masjid Jami
Umawi Damaskus, Masjid Jami al-Kabir Tunisia dan Masjid Jami al-Azhar Kairo. Semua masjid
itu mempunyai perpustakaan yang kemudian dikenal dengan Masjid Peradaban Islam.
Di kota-kota suci juga terdapat perpustakaan-perpustakaan besar. Diantara kota suci yang juga
diistilahkan dengan haram adalah Haram Makkah atau Masjidul Haram, Haram Nabawi di
Madinah, Haram Imam Ali as di Najaf, Haram Imam Musa bin Jakfar as di Kazhimain, dan
Haram Imam Ali ar-Ridho as di Mashad. Di samping itu ada perpustakaan besar di samping
makam-makam tokoh besar seperti makam Mowlana di Qunieh, makam Ghazan Khan di Tbriz,
makam Sheikh Ahmad Jaam di Turbat-e Jam. Tempat-tempat peribadatan sufi juga seringkali
difasilitasi dengan perpustakaan.
Selain pusat pendidikan, rumah sakit juga menjadi salah satu pusat peradaban sosial. Rumah
sakit selain berfungsi menyembuhkan para pasien, juga menjadi tempat riset para dokter. Lebih
dari itu, rumah sakit saat itu juga dillengkapi fasilitas perpustakaan. Rumah Sakit Qosath di
Mesir, AlKabir Mansouri di Kairo, Motadari di Baghdad dan Rumah Sakit Rey adalah di antara
rumah sakit terkenal dalam peradaban Islam.
Sekolah juga termasuk pusat pendidikan dunia Islam. Sekolah di berbagai negara Islam selalu
dilengkapi perpustakaan. Bahkan dapat dipastikan bahwa sekolah selalu dilengkapi
perpustakaan. Sekolah Nizamiya di Baghdad, Shamisatiah, dan Khasrawiyah di Damaskus,
Halawiyah dan Sharafiah di Halab, Soltaniyeh di Kairo dan ratusan sekolah lain adalah sekolahsekolah terkenal dalam peradaban Islam.
Meksi banyak perpustakaan menjadi bagian dari fasilitas masjid dan sekolah, tapi banyak juga
perpustakaan yang berdiri secara independen. Di antara perpustakaan terkenal di peradaban
Islam adalah Perpustakaan Darul Kutub dan Khazanah Al-Hikmah. Perpustakaan-perpustakaan
itu menjadi fasilitas umum yang melayani masyarakat. Khazanah al-Hikam milik Ali bin Yahya
Munajim.
Bersamaan dengan gerakan terjemah, ilmu-ilmu Islam juga berkembang pesat. Banyak
peninggalan berupa karya dan buku-buku hasil rampasan perang atau ghanimah di masa
peradaban Islam. Kondisi masa itu membuat pesatnya tradisi keilmuan di negara-negara Islam.
(IRIB Indonesia)
Suka Komentari

Ina Laviina, Yollandha Fagfyvut, Nur Puji Aisyah dan 6 lainnya menyukai ini.

Berita Politik Humaniora Ekonomi Hiburan Olahraga Lifestyle Wisata Kesehatan Tekno Media
Muda Green Jakarta Fiksiana Freez
Home
Humaniora
Sejarah
Artikel

Sejarah

Muhamad Zainal Mawahib


Selalu semangat untuk menghadapi hidup ini
Jadikan Teman | Kirim Pesan
0inShare

Mengembalikan Masjid sebagai Pusat


Peradaban
OPINI | 29 March 2014 | 02:57 Dibaca: 180
Komentar: 0
0
Islam lahir tidak dalam ruang dan waktu yang kosong, namun ia lahir dalam suatu peradaan yang
berkambang. Jauh sebelum Islam datang, sudah banyak agama yang berkembang di dalam
kehidupan masyarakat Arab pra Islam. Agama-agama yang berkembang pada saat itu antara
lain al-Watsaniyah (paganisme), Yahudi, Majusi, Hanifiyah dan Shabiah. Sebagai agama yang
datang belakangan, Islam secara tidak langsung terpengaruhi oleh peradaban yang berkembang
dalam masyarakat Arab yang mayoritas menyembah berhala.

Rumah ibadah umat Islam yang dinamakan masjid merupakan salah satu bukti akulturasi dari
kebudayaan pra Islam. Seperti istilah baitullah yang berarti rumah Allah. Istilah ini digunakan
masyarakat pra Islam untuk menyebut rumah ibadah. Hingga sekarang istilah ini digunakan oleh
umat Islam untuk menyebut Kabah. Bahkan istilah Kabah itu sendiri bagi masyarakat pra Islam
digunakan untuk menyebut rumah ibadah yang bentuk kubus. Di mana pada masa itu, para
pemuka penyembah banyak yang memiliknya. Namun istilah Kabah ini maknanya dipersempit
menjadi bangunan kubus yang ada di Mekkah.
Selain itu, demi menjaga rumah ibadah agar tetap terawat, maka masyarakat pra Islam memiliki
orang-orang khusus yang mengabdikan dirinya untuk merawat berhala (sadanah). Para penjaga
yang bertugas merawat masjid juga ada di Islam, mereka disebut sebagai tamir masjid.
Pada saat umat muslim hijrah ke Madinah, pertama yang dilakukan oleh Nabi adalah
membangun masjid. Nabi memfungsikan tidak hanya untuk shalat semata. Namun lebih dari itu,
fungsi sosial pun menjadi perhatian Nabi, bahkan masjid seperti bukan tempat yang sakral.
Sehingga keberadaan masjid pada masa Rasulullah menjadi tempat yang sentral dalam umat
Islam.
Praktik yang demikianlah tidak terlihat pada masyarakat pra Islam, sebab mereka mensakralkan
rumah ibadah mereka. Jawad Ali menjelaskan keyakinan yang dimiliki masyarakat pra Islam ini
lahir karena bagi mereka bahwa Tuhan yang mereka sembah bersemayam di dalam rumah ibadah
tersebut dan diyakini sebagai rumah Tuhan (baitullah). Hal ini senada dengan definisi tentang
tempat yang disakralkan menurut Joseph Chelhod. Dia mengartikan tempat yang disucikan
adalah tanah kawasan yang lepas dari alam profan, secara umum manusia dilarang memasukinya
karena ruh yang samar telah menampakkan diri di dalamnya dan menjadikannya sebagai tempat
tinggal.
Diakui atau tidak, fenomena banguan masjid pada masa Rasulullah sangat berbeda dengan
zaman sekarang. Model arsitektur masjid pada zaman sekarang kemegahannya tampak jelas di
tengah-tengah kota. Bentuk fisik yang menawan semakin hari semakin megah mencerminkan
kemajuan umat Islam.
Bentuk bangunan masjid pun sangat beragam, bahkan ada yang menyerupai rumah ibadah agama
lain. Menjadi konsekuensi bagi agama Islam ketika bertemu dengan kebudayaan untuk
beradaptasi. Lebih-lebih status agama Islam sebagai pendatang. Maka tak heran apabila
penyesuaian terhadap kebudayaan tersebut menjadi hal yang wajar. Salah satu adaptasi agama
Islam yang tampak jelas adalah bentuk bangunan masjid.
Kalaupun demikian kondisinya, maka menjadi ambigu ketika pemerintah Indonesia melalui
Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri mengeluarkan regulasi No. 8
tahun 2006 tentang Pendirian Rumah Ibadah. Di mana dalam pasal 1 ayat 3 disebutkan bahwa

Rumah ibadah adalah bangunan yang memiliki ciri tertentu yang khusus dipergunakan untuk
beribadat bagi para pemeluk masing-masing agama secara permanen, tidak termasuk tempat
ibadat keluarga.
Di balik kemegahan dan keanggunan masjid pada zaman sekarang seakan menjadi seperti
topeng belaka yang menutup keprihatinan. Pasalnya, umat Islam setengah hati memfungsikan
masjid. Alunan adzan dari sudut masjid yang selalu berkumandang setiap menjelang pelaksanaan
ibadah shalat belum menyentuh hati para jamaah. Sehingga tidak mustahil masjid yang megah
menjadi seperti kuburan cina yang sepi dari jamaah. Lebih dari itu, kehadiran jamaah yang ke
masjid hanya untuk menghilangkan kewajibannya sebagai orang Islam. Tanpa dilengkapi dengan
interaksi sosial yang baik untuk menciptakan kesejahteraan bersama sebagai wujud tanggung
jawab sosial.
Dengan kondisi yang demikian, umat Islam pada zaman sekarang seolah masjid dijadikan
sesuatu yang sakral. Apakah memang demikian eksistensi dari masjid yang dibangun sebagai
tempat untuk melakukan ibadah bersama? Apakah perlu masjid disakralkan di mana sebagai
tempat untuk menyembah Allah yang tidak terwujud? Lebih luas lagi apakah bangunan rumah
ibadah agama tertentu memiliki bentuk permanen? Padahal apapun bentuknya dari rumah ibadah
itu yang paling esensial adalah fungsinya
MASJID SEBAGAI PUSAT PERADABAN ISLAM
Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Proses menuju ke arah pemberdayaan umat dimulai dengan pendidikan dan pemberian pelatihanpelatihan. Masjid seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai tempat berlangsungnya proses
pemberdayaan tersebut, bahkan sebagai pusat pembelajaran umat, baik dalam bentuk pengajian,
pengkajian, seminar dan diskusi maupun pelatihan-pelatihan keterampilan, dengan peserta
minimal jamaah disekitarnya.
Pusat Perekonomian Umat
Soko guru perekonomian Indonesia katanya koperasi, namun pada kenyataannya justru koperasi
menjadi barang yang tidak laku. tidak ada salahnya bila masjid mengambil alih peran sebagai
koperasi yang membawa dampak positif bagi umat di lingkungannya. Bila konsep koperasi
digabungkan dengan konsep perdagangan ala pusat-pusat pembelanjaan yang diminati karena
terjangkaunya harga barang, dan dikelola secara professional oleh dewan pengurus maka masjid
akan dapat memakmurkan jamaahnya. Sehingga akhirnya jamaahnya pun akan memakmurkan
masjidnya.
Pusat Penjaringan Potensi Umat
Masjid dengan jamaah yang selalu hadir HANYA sekedar untuk menggugurkan kewajibannya
terhadap Tuhan bisa saja mencapai puluhan, ratusan bahkan ribuan orang jumlahnya. Masjid
dengan jamaah yang selalu hadir sekedar untuk menggugurkan kewajibannya terhadap Tuhan
bisa saja mencapai puluhan, ratusan bahkan ribuan orang jumlahnya. Dari berbagai macam usia,
beraneka profesi dan tingkat (strata) baik ekonomi maupun intelektual, bahkan sebagai tempat
berlangsungnya akulturasi budaya secara santun.

Pusat Ke-Pustakaan
Perintah pertama Tuhan kepada Nabi terakhir adalah "Membaca", dan sudah sepatutnya kaum
muslim gemar membaca dalam pengertian konseptual maupun kontekstual. Maka dengan
sendirinya hampir menjadi kemutlakkan bila masjid memiliki perpustakaan sendiri.
Join The Community

Follow Me!
Facebook Page
Subscribe via Email
Enter email

Ensiklo Counter
205353

Feedjit
EnsikloDitya
EnsikloDitya

Promosikan Halaman Anda Juga

Lencana Facebook
Aditya Lukman Pradana

Promosikan Halaman Anda Juga

Entri Populer

PENGAMALAN SILA-SILA DALAM PANCASILA

SISTEM KEUANGAN INDONESIA

Makalah Wacana Narasi

Resume Buku Manajemen Resiko

PENGERTIAN DAN ASAS-ASAS KOPERASI

Ensiklo Counter

My-Twitter

My Profile
Aditya Lukman Pradana

Buat Lencana Anda

Shout Yourself
<a href="http://www5.shoutmix.com/?alpradana">View shoutbox</a>
ShoutMix chat widget

Categories

Bahasa (4)
Download (3)

Ekonomi (14)

English (3)

Filsafat (2)

Manajemen (11)

My Gallery (3)

Organisasi (2)

Pemberitahuan (1)

Sains (5)

Sejarah (5)

Serba-serbi (11)

Sosial Politik (5)

Teknologi (1)

Blog Archive

2013 (1)

2012 (3)

2011 (28)
o

Desember (2)

November (2)

Oktober (3)

September (3)

Juli (1)

Mei (1)

April (6)

Maret (4)

Januari (6)

PENGAMALAN SILA-SILA DALAM PANCASILA

TOKOH NOMOR SATU PENGUBAH DUNIA (Nabi Muhammad


SAW...

Tanya-jawab Mengenai Fakta di Planet Mars

Sejarah Singkat Kota Jakarta (1527)

Fungsi Lain Dari Masjid (Masjid sebagai Pusat Pera...

Dongeng Pahlawan Yunani Kuno (Achilles)

2010 (9)

Beranda

Beranda

Selasa, 11 Januari 2011


Fungsi Lain Dari Masjid (Masjid sebagai Pusat Peradaban Islam)
Posted by Aditya Lukman Pradana on 23.42. Sejarah - No comments

Di dalam fakta yang kita jumpai sehari-hari banyak orang awam, khususnya orang non muslim
yang beranggapan bahwa masjid cuma merupakan tempat beribadah bagi umat Islam khususnya
shalat. Padahal, pada hakikatnya masjid berfungsi lebih luas dari pada sekedar tempat shalat
(beribadah). Pada awal berdirinya masjid memang belum bergeser dari fungsi utamanya, yaitu
sebagai tempat shalat. Akan tetapi perlu diketahui bahwa masjid di zaman nabi berfungsi sebagai
pusat peradaban. Bagaimana dengan fungsi masjid pada saat ini ? Tentu anda bisa menjawabnya.
Pada zaman nabi, masjid digunakan untuk mensucikan jiwa kaum muslimin, mengajarkan Al
Qur'an dan Al Hikmah, bermusyawarah untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan kaum
muslim pada zaman tersebut, membina sikap dasar kaum muslimin terhadap perang yang
berbeda agama atau ras, hingga upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan umat justru dari
masjid. Pada zamannya masjid dijadikan simbol persatuan umat Islam. Selama sekitar 700 tahun
sejak nabi mendirikan masjid pertama, fungsi masjid masih kokoh dan orisinil sebagai pusat
peribadatan dan peradaban. Pada dasarnya, sekolah-sekolah dan universitas-universitas pun
kemudian bermunculan justru dari masjid. Sebagai salah satu contoh adalah Masjid Al Azhar di
Kairo, Mesir. Masjid ini sangat dikenal luas oleh kaum muslimin Indonesia. Masjid ini mampu
memberikan beasiswa bagi para pelajar dan mahasiswa, bahkan pengentasan kemiskinan pun
merupakan program nyata yang secara kontinyu dilaksanakan masjid ini.
Tetapi lain halnya dengan saat ini, sekarang kita akan sangat sulit menemukan masjid-masjid
yang memiliki program nyata dibidang pencerdasan keberagamaan umat. Kita mungkin tidak
akan menemukan masjid yang memiliki kurikulum terprogram dalam pembinaan keberagamaan
umat, lebih-lebih lagi masjid yang menyediakan beasiswa dan upaya pengentasan kemiskinan.
Dalam perkembangan berikutnya muncul kelompok-kelompok yang sadar untuk mengembalikan
fungsi masjid sebagaimana mestinya. Kini mulai tumbuh kesadaran umat akan pentingnya
peranan masjid untuk mencerdaskan dan mensejahterakan jamaahnya. Menurut ajaran dalam
Islam, masjid memiliki dua fungsi utama yaitu :
1). Sebagai pusat ibadah ritual.

2). Sebagai pusat ibadah sosial.


Dari kedua fungsi tersebut titik sentralnya, bahwa fungsi utama masjid adalah sebagai pusat
pembinaan umat islam.
Diangkat dari : MATERI INSTRUKSIONAL (MKU PAI), Drs. H. A. A. Baderi, S.H., M.H dan
Syamhudian Noor, S.H.I, M.Ag.
Dengan pengubahan oleh : Aditya Lukman Pradana